Kapal Cepat Rudal Kelas Komar, Pengubah Taktik Pertempuran Laut, Yang Sempat Dimiliki TNI AL

Kapal Proyek 183R asal Soviet, yang lebih dikenal sebagai kelas Komar, dalam kode NATO-nya, yang berarti “nyamuk”, adalah kelas kapal cepat rudal, yang pertama dari jenisnya, yang dibangun antara tahun 1950-an dan 1960-an. Kapal ini adalah yang pertama dalam sejarah sebagai kapal yang berhasil menenggelamkan kapal lain dengan rudal anti-kapal pada tahun 1967. Tepatnya pada 21 Oktober 1967, dua kapal kelas Komar milik AL Mesir di Port Said berhasil mengkaramkan destroyer Israel INS Eilat (K40). Selain karam, 47 awak INS Eilat ikut tewas. Sementara itu, Indonesia tercatat juga sempat mengoperasikan sejumlah kapal cepat rudal kelas Komar untuk memperkuat ALRI pada awal tahun 1960-an, mengikuti jejak beberapa negara klien Uni Soviet lainnya.

Kapal Serang Cepat Berudal Kelas Komar. (Sumber: https://www.naval-encyclopedia.com/)

LATAR BELAKANG KONSEP DESAIN

Uni Soviet pada masa awal perang dingin dengan tegas berupaya berinovasi untuk mengimbangi inferioritas mereka secara numerik dengan lawannya Amerika cs yang memiliki kekuatan kapal laut permukaan lebih kuat dan banyak dengan mengeluarkan seri Kapal Cepat (FAC) kelas Komar, yang mengusung rudal antikapal, sebagai salah satu solusi masalah mereka itu. Angkatan Laut Soviet di era pasca kematian Stalin jelas tidak cukup kuat untuk bisa bersaing dengan armada laut NATO dan pasukan gabungan mereka. Salah satu cara untuk membalikkan keseimbangan adalah dengan mengembangkan teknologi rudal, untuk digunakan termasuk dalam armada green water navy mereka, yang lebih punya sifat defensif untuk menjaga kawasan pantai, sebagai cara yang dinilai murah dan efisien untuk bisa menyerang kapal musuh dari jarak yang aman pada era kapal beradar (sesuatu yang tidak bisa dilakukan lagi oleh armada Motor Torpedo Boat/MTB konvensional). Idenya adalah cukup dengan menukar persenjataan torpedo MTB dengan Rudal. Berkaitan denngan hal ini, Angkatan Laut Soviet adalah yang pertama melakukan ini. Dalam prosesnya yang kemudian terwujud menjadi kapal cepat kelas Komar, Kapal ini menjadi Fast Attack Craft (FAC) pertama di dunia yang operasional. Kapal kelas Komar dilengkapi dengan rudal, untuk membedakannya dengan MTB klasik. Kapabilitas dari kelas Komar hanya mungkin didapat berkat pengembangan rudal P-15 Termit (kode NATO: SS-N-2 “Styx”), yang memberikan jangkauan serang hingga 80 kilometer (50 mil), suatu hal yang belum pernah terdengar pada kapal MTB yang hanya bersenjatakan torpedo dan kanon atau senapan mesin berat. 

Ide dari pembuatan Kapal Cepat Berudal Kelas Komar adalah dengan membekali kapal cepat kecil dengan senjata rudal yang mampu menghancurkan kapal-kapal yang lebih besar dari jenis, Fregat, Destroyer dan Penjelajah lawan. (Sumber: twitter)

Dengan kehadiran Kapal Cepat Berudal Kelas Komar, keberadaan MTB dengan cepat segera menjadi usang, meskipun faktanya, Angkatan Laut Soviet memiliki salah satu armada kapal MTB yang paling besar. Kesuksesan Kapal Cepat Kelas Komar dari sisi ekspor, dapat dimengerti, karena kapal jenis ini mampu memberikan beberapa angkatan laut kecil dengan anggaran terbatas di atas kertas suatu cara yang murah untuk melawan kapal yang jauh lebih besar dan mahal, seperti kapal perusak, fregat dan kapal penjelajah. Angkatan Laut Soviet akhirnya menciptakan kembali pola perang asimetris di lautan, hampir seabad setelah penemuan torpedo. Dibangun dalam jumlah ratusan (untuk Uni Soviet, negara-negara satelit pakta Warsawa, dan China dengan lisensi, serta banyak negara sahabat lainnya), FAC ini sangat populer dan bertugas dengan baik sampai akhir perang dingin, terlepas dari kenyataan bahwa pada era akhir perang dingin rudal P-15 Termit sudah benar-benar dianggap usang oleh karena kemunculan teknologi Chaff baru, ECM, jamming,  kanon tembak cepat dan karena keakuratannya yang terbatas akibat perangkat optik dan sistem pemandu yang primitif. 

SELAYANG PANDANG MTB HINGGA FAC SOVIET

Sejak didefinisikan oleh Stalin dalam rencana angkatan laut lima tahun pertamanya, Angkatan Laut Soviet tidak dalam kondisi siap untuk masuk dalam konsep Blue Water Navy konvensional yang siap bersaing dengan kapal-kapal AL negara-negara besar (seperti Inggris, Prancis, Amerika, Jepang) di perairan laut lepas dan samudera, dimana kemudian mereka terpaksa harus berkonsentrasi pada pertahanan pantai sebagai prioritas. Hanya pada saat menjelang pecahnya Perang Dunia II, Angkatan Laut Soviet mulai membangun kapal tempur dan kapal-kapal besar lainnya. Sementara itu, sebelum kemunculan kapal-kapal perang permukaan utama ini, AL Soviet berkonsentrasi pada penggelaran kapal-kapal yang lebih kecil, khususnya kapal selam, dimana mereka kemudian tercatat memiliki armada kapal selam terbesar di seluruh dunia pada tahun 1939. Sementara itu, alternatif lain yang lebih murah untuk kapal selam tentu saja adalah dengan membuat dan menggelar kapal-kapal torpedo dalam jumlah besar, yang dalam bentuk modernnya disebut sebagai kapal motor torpedo (dalam bahasa Rusia моторные торпедные катера ) seperti kapal motor torpedo kelas Sh-4, G-5 dan D3.

Berbagai jenis Kapal Motor Torpedo, yang sempat diproduksi Soviet sebelum lahirnya Kapal Serang Cepat Kelas Komar, mulai dari seri P2 (Projekt 200), P4 (123K) dan P6-P10 (Projekt 183). (Sumber: Credits: warboats.org/https://www.naval-encyclopedia.com/)

Dengan cara yang sama setelah kematian Stalin pada tahun 1953, kepala angkatan laut dipercayakan oleh Perdana Menteri Nikita Kruchtchev untuk menghentikan rencana sebelumnya dalam membangun kapal-kapal penjelajah, dan kapal penjelajah tempur konvensional, untuk kemudian berkonsentrasi pada inovasi baru. Salah satu bidang dari inovasi ini tentu saja adalah dengan pengembangan teknologi rudal yang sebenarnya secara konsep sudah diuji coba oleh Jerman dan Amerika sebelum Perang Dunia II berakhir dengan hasil baik. Terobosan inovasi rudal Soviet akhirnya dicapai pada tahun 1956 dengan diperkenalkannya rudal antikapal P-15 Termit. Hal yang kemudian tersisa adalah tinggal menemukan cara yang tepat dan murah untuk meluncurkan rudal itu. Angkatan Laut Soviet kemudian menganggap bahwa kapal Proyekt 183 MTB, yang pertama kali dirancang pada tahun 1945 dan sudah diproduksi lebih dari 600 kapal, sebagai platform yang kokoh dan tepercaya. Platform yang dipilih kemudian tidak berasal dari desain P4, Proyek 123 bis (dan varian M123 bis dan 123K Komsomolec), buatan tahun 1945 yang agak kecil dan sudah diproduksi sampai tahun 1951 hingga 349 unit. Kapal berbobot 22 ton yang dipilih merupakan turunan langsung dari P3 dan G3, MTB standar masa perang yang desainnya berasal dari kapal MAS/Motoscafo armato silurante Italia (Kapal Torpedo Italia dalam masa antar perang). Kapal P6 yang baru harus jauh lebih besar, mengikuti model MTB British Fairmile dan American Elco yang lebih serbaguna.

Kapal Torpedo MAS asal Italia yang turut mempengaruhi desain kapal serang cepat Soviet. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

P6 dan turunannya P8 dan P10 adalah kapal berbobot 66,5 ton (saat bermuatan penuh), ditenagai oleh empat mesin diesel dengan output gabungan 4800 bhp, memberikan kecepatan tertinggi hingga 44 knot (dua kali lebih banyak dari P4) dan bisa menjangkau hingga lebih dari 1000 nm pada kecepatan 14 knot, dibandingkan dengan hanya 400 nm pada P4. Hal ini membuat mereka lebih cocok untuk melakukan patroli pantai dalam jangka waktu panjang, dan menyebabkan Angkatan Laut menolak tipe tersebut digunakan lebih lanjut sebagai kapal pengejar kapal selam, yang disebut MO-VI (Proyekt 199), yang lewat modifikasi secara minimal dengan memasang sonar Tamir-10. Kapal ini sempat mereka gunakan pada tahun 1955, dengan 60 unit sempat dibuat, yang dengan total keseluruhan, gabungan kapal-kapal cepat torpedo semacam ini diproduksi hingga 674 unit dalam berbagai varian dan penugasan.

DESAIN KELAS KOMAR

Kelas “Mosquito/Nyamuk” (Komar) dirancang untuk bisa menjangkau hingga jarak 800 mil laut dengan kecepatan 25 knot atau untuk dapat “berlari” dengan kecepatan 30 knot sejauh 400 mil laut pada saat terakhir mendekati target atau pada saat melarikan diri. Kemampuan ini  jauh lebih unggul dari model sebelumnya. Sementara itu, Rudal “Styx” (kode yang diberikan NATO) menambahkan jangkauan ekstra sejauh 18 mil. Hulu ledak konvensional dari rudal ini yang seberat 1100 pon cukup untuk bisa menghancurkan lambung kapal jika diledakkan tepat di atas permukaan air. Pabrik kapal ALMAZ bertanggung jawab atas desain akhir dari kapal cepat ini. Basis awal untuk kapal cepat ini disebut sebagai proyek 183R (“R” untuk “Raketa”). Sesuai dengan persyaratan baru yang lebih tinggi dari sebelumnya dalam hal, persenjataan, kemampuan navigasi dan kemampuan operasional akhirnya diputuskan untuk menggunakan lambung baja. Kelas Komar secara umum merupakan turunan dari kapal motor standar Soviet P 6 – Proyek 183. Ia memiliki lambung kayu semi-planing yang sama karena dinilai ekonomis. Desain kapal ini dinilai efisien, fleksibel, ringan namun solid, dapat diandalkan dan tahan lama pada saat yang bersamaan. Desain asli dari kapal Proyek 183 memiliki dua tabung torpedo pada dudukan samping yang berkaliber 533 mm (21 in) dan dua torpedo untuk pengisian ulang serta cukup lapang untuk bisa juga membawa kanon kembar kaliber 25 mm. Konfigurasi semacam ini sendiri berasal dari desain kapal torpedo kelas P 4 yang memiliki lambung aluminium. P 6-class yang disebut juga sebagai “Proyek 183 Bolshevik” bertugas bersama dengan P 4 dan hadir dengan atau tanpa radar (183T dan 183). 

P6 MTB milik PLAN (China) yang berasal dari desain Soviet. (Sumber: https://www.naval-encyclopedia.com/)

P 6 jauh lebih besar dari kelas P 4 dengan kapasitas tiga kali lipat dan persenjataan yang jauh lebih berat. Torpedonya diganti dari kaliber 18-in menjadi 21-in dengan ditambah dudukan kanon kembar kaliber 25 mm sebagai pengganti dudukan senapan mesin kaliber 14,5 mm. P 6 memang merupakan peningkatan yang cukup mumpuni dari kapal torpedo P 4. Untuk lambung kapal cepat Proyek 183R diperkuat di bagian belakang, tabung torpedo dihilangkan, dudukan kanon 25 mm sedikit berubah dan dua dudukan / peluncur besar model hangar untuk rudal P15 Termit dipasang di belakang, yakni di belakang dan agak ke samping anjungan. Kedua peluncur mengarah ke luar dari sumbu axis dan dua anak tangga menjorok ke samping di atas lambung di belakang peluncur. Dek belakang tentu saja bebas dari semua superstruktur untuk mengantisipasi efek blast saat peluncuran rudal. Rel peluncur dipasang dengan kokoh pada sudut 11,5 °. Peluncur awalnya dibuat dengan panjang 4,5 meter, lalu diperpendek menjadi 2,75 m. Berat peluncur adalah 1.100 kg. Di bawah proyek kapal 183P, kapal ini dirancang untuk dapat menembakkan rudal saat berlayar pada kecepatan dari 15 hingga 30 knot dan kondisi laut hingga laut state 4. Proses pengisian ulang rudal pada peluncur dilakukan di pangkalan, dimana pengisian ulang satu rudal menghabiskan waktu sekitar 30 menit .

MESIN 

Mesin yang digunakan untuk kapal cepat kelas Komar tentu saja jauh lebih besar dari pada yang digunakan P4, dan sama digunakan di semua model (selain tipe P10), yakni dengan menggunakan empat mesin diesel Zvezda M-50F, V12 62 liter. Mereka semua mampu menghimpun kekuatan gabungan hingga 4.800 hp (3.600 kW), dimana masing-masing menggerakkan sebuah poros. Model ini relatif “ringan” dibandingkan dengan mesin Zvezda M503 yang terkenal digunakan pada FAC kelas Osa. Mesin yang terakhir itu memang berasal dari M501 yang dikembangkan untuk pembom strategis yang dibatalkan; M503 memiliki kekuatan 4.000 hp sedangkan M-504B dapat mencapai kekuatan hingga 5.000 hp.

Mesin Zvezda M-50F, yang digunakan oleh Kapal Serang Cepat Berudal Komar Class. (Sumber: Youtube)

PERSENJATAAN 

Kelas Komar dipersenjatai oleh dua rudal, tanpa isi ulang, dan dua kanon kembar anti pesawat (AA) kaliber 25 mm.

Rudal P-15 Termit

P15 termit berbobot 2.580 kg (5.690 lb), dengan panjang serta diameternya berukuran 5,8 m (19 kaki) x 0,76 m (2 kaki 6 inci). Lebar Sayap dari rudal adalah 2,4 m. Termit membawa hulu ledak konvensional tipe hollow charge HE 454 kg (berbobot 1.001 lb). Mesinnya memiliki roket propelan cair dengan pendorong roket berpropelan padat. Jangkauan operasional dari rudal ini mencapai sekitar 80 kilometer (50 mil), dengan ketinggian penerbangannya antara 25-100 meter (82 hingga 328 kaki). Kecepatan puncak dari rudal ini adalah Mach 0.95. Sistem pemandu rudal bertipe autopilot (panduan inersia), radar homing aktif, homing inframerah. Di luar kapal cepat kelas Komar, rudal model ini (juga digunakan secara masif oleh China dengan beberapa tipe copy an-nya), digunakan juga pada kapal kelas Osa, Tarantul, Nanuchka, Koni, Kotor, Kildin, dan Kashin. 

Rudal Anti Kapal Rudal SS-N-2 Styx (kode NATO dari P-15 Termit). (Sumber: Pinterest)

Mode operasi dari Sistem Rudal SS-N-2 (kode NATO dari P-15 Termit) dalam konsep operasi Soviet, membutuhkan pesawat atau kapal lain untuk menemukan target dan mengarahkan kapal patroli penyerang, hingga mereka dapat menangkap target dengan radar mereka sendiri. Rentang deteksi radar dari  kapal kelas Osa dan Komar sama, yakni karena dibatasi oleh ketinggiannya, hanya mencapai jarak maksimum sekitar 20 mil. Radar dari kapal kelas Komar digunakan untuk menemukan target, dan menyediakan data penembakan rudal. Radar itu juga bisa menilai tingkat kerusakan pada target setelah serangan dilakukan. Jangkauan efektif dari rudal ini secara teori dapat diperluas dengan menggunakan radar pantai yang menyediakan data deteksi dan lokasi. Rudal itu juga bisa diarahkan berdasarkan data yang disediakan oleh sistem optik, yang digunakan sebagai cadangan jika sistem elektronik tidak dapat digunakan. Booster roket akan mendorong rudal keluar dari peluncur ke udara dan memungkinkan rudal untuk mencapai ketinggian serta kecepatan jelajah standar. Untuk opsi pemandu, radar biasanya didukung perangkat Electronic Support Measures (ESM). Radar Garpun kemudian akan menuntun rudal antara jarak 5,5 Km dan 27 km dari batas target. Sensor pembidik pada rudal sendiri akan aktif mulai jarak 11 km dari target sasaran, pada saat itu posisi rudal akan turun 1-2 derajat dari target. Rudal biasanya akan terbang dengan kecepatan Mach 0,9 dan ketinggian antara 300 dan 1.000 kaki serta akan terbang pada ketinggian yang lebih rendah pada saat terakhir sebelum menghantam target, yang hanya menyisakan waktu satu menit bagi pihak yang diserang untuk bereaksi. Untuk mendukung operasional rudal, di Komar Class terdapat perangkat elektronik MR-331 rangout radar dan Nikhrom IFF (identification friend or foe).

Proses pengisian ulang rudal Rudal SS-N-2 di pangkalan membutuhkan waktu sekitar 30 menit. Karena ukuran kapalnya yang kecil, Kelas Komar tidak dibekali dengan rudal cadangan. (Sumber: https://id.wikipedia.org/)

Tentu saja, cara terbaik untuk menangkal serangan semacam ini adalah dengan menyerang kapal patroli itu sendiri sebelum mereka dapat meluncurkan rudalnya sebagai satu-satunya solusi, jika mereka bisa terdeteksi maka dapat segera dikirimkan sebuah rudal untuk menghancurkan mereka. Namun setelah peluncuran biasanya kapal patroli rudal akan segera bergegas pergi dengan kecepatan penuh, sementara dengan kecepatan rudal itu sendiri, ketinggian penerbangan yang rendah, dan penampang radarnya yang kecil ditambah sistem penanggulangan elektronik bawaan pola penyerangan dengan menggunakan kapal ini dinilai efisien untuk digunakan saat itu. Selain itu Rudal Styx bisa ditembakkan dalam keadaan laut level state 4. Tentu saja dalam jangka panjang seiring berkembangnya teknologi, rudal Styx segera usang dengan cukup cepat. Kelemahan dari rudal ini adalah ketika jarak target terlalu dekat, dibawah lima mil, maka target itu tidak dapat diserang karena karakteristik rudal yang memiliki mekanisme homing dan aktivasi hulu ledak yang lambat. Selain itu juga jika dua target terdeteksi, radar pengarah tidak dapat memilih target yang menjadi prioritas dan rudal ini sangat sensitif dengan gangguan elektronik. Radar Komar juga diketahui rentan terhadap cuaca ekstrim, di bawah 4 ° F atau di atas 104 ° F. Rudal juga tidak efisien untuk digunakan menghantam target empat mil di lepas pantai karena pantulan kontur tanah pada radar pelacak yang digunakan.

Rudal P15 Termit digunakan juga pada kapal kelas Osa, Tarantul, Nanuchka, Koni, Kotor, Kildin, dan Kashin. (Sumber: http://idpsa.blogspot.com/)

Kanon kembar kaliber 25 mm 

Tipe kanon yang digunakan adalah tipe 2M3-M 25mm / 38 dalam dudukan senjata kembar (dengan kapasitas magazine 1.000 peluru), di depan dan di belakang anjungan. Didasarkan pada tipe 84-KM era Perang Dunia II, kanon ini dikembangkan pada tahun 1945, hingga tahun 1947. Uji coba senjata dimulai dari tahun 1949, dan diterima dalam dinas operasional pada tahun 1953. Versi yang dikenal oleh pabrikan sebagai 110-PM yang dibuat hingga tahun 1984. Kanon ini disuplai oleh sabuk 65 peluru atau klip 7 peluru untuk model terdahulu. Kanon ini dipasang bertumpukan satu di atas yang lain. Awalnya dikenal sebagai tipe 2M-3, kemudian dimodifikasi dan ditingkatkan menjadi 2M-3M untuk dipasang pada kapal Kelas Komar. Mekanisme penembakannya diubah menjadi berdasar sistem operasi gas dan laju penembakannya kemudian meningkat menjadi 470 – 480 rpm, meski dalam prakteknya hanya 270 peluru per menit. Kanon ini didinginkan dengan mengalirkan air laut selama 15 detik pada saat pengisian ulang. Untuk membidik target, masih dilakukan secara manual dengan dukungan pembidik iron ring sight. Kehandalan kanon ini dapat dilihat dari jangkauan tembak permukaan yang bisa mencapai 3.250 meter, dan jarak tembak obyek udara mencapai 2.770 meter. Secara teori, jangkauan tembak maksimum bisa mencapai 3.400 meter. 

Kanon kembar 2M3-M 25mm/38 yang melengkapi Komar Class. (Sumber: https://indomiliter.wordpress.com/)
Pada Kelas Komar, kanon kembar kaliber 25 mm dipasang di bagian depan anjungan. (Sumber: https://indomiliter.wordpress.com/)

DINAS OPERASIONAL

Dalam episode Krisis rudal Kuba tahun 1962, lewat Operasi “Anadyr” Angkatan Laut Soviet memberi AL Kuba sekitar delapan kapal kelas Komar, sedangkan stok persediaan rudalnya dibawa dengan menggunakan kapal lain. Mereka ada di perairan Kuba selama krisis berlangsung, tetapi tidak dapat beroperasi di luar zona eksklusif. Meski demikian, Armada AL Amerika tidak berani untuk mendekati perairan pesisir Kuba karena keberadaan mereka. Mereka menjamin setiap upaya pendaratan baru seperti operasi di Teluk Babi beberapa waktu sebelumnya akan berakhir dengan petaka. Pada Perang Atrisi Mesir vs Israel pada bulan Oktober 1967, kapal perusak Israel Eilat dihancurkan oleh rudal anti-kapal ‘Styx’, yang diluncurkan dari kapal kelas Komar milik Mesir. Peristiwa ini menjadi ajang promosi yang sangat baik bagi Uni Soviet yang kemudian segera menandatangani kontrak ekspor lusinan kapal tipe Komar dan Osa. Kapal kelas Komar dan Osa lalu semakin banyak digunakan di angkatan laut Pakta Warsawa dan negara-negara klien Soviet. Dari sisi teknologi dan sejarah pertempuran laut, hal ini adalah yang pertama di dunia, bagi rudal antikapal permukaan-ke-permukaan menghancurkan kapal perang musuh dalam konflik bersenjata. Peristiwa itu terjadi pada tanggal 21 Oktober 1967 saat kapal kelas Komar Mesir (dan beberapa kapal kelas Osa) melihat kapal perusak Israel, Eilat di lepas pantai Port Said. Kapal-kapal Mesir kemudian menembakkan beberapa rudal SS-N-2 yang hanya menyisakan sedikit peluang bagi kapal perusak Israel itu untuk bereaksi. Eilat sendiri yang merupakan kapal perusak kuno buatan Inggris era Perang Dunia II, tidak ubahnya merupakan sebuah target stasioner yang rentan. Sebelum dibeli Israel, INS Eilat adalah kapal perang Inggris HMS Zealous R39. Destroyer ini memang rentan terkena serangan rudal, karena hanya dibekali 4 meriam 4.5 inchi, 4 meriam 40 mm, dan delapan peluncur torpedo. Beberapa hantaman meledakkan lambung kapal itu dan dia segera tenggelam dengan cepat. 

Komar Class milik AL Mesir berpatroli di Suez tahun 1975. Di tangan Mesir, Komar Class dan rudal SS-N-2 Styx naik daun setelah berhasil mengkaramkan kapal perusak INS Eilat (K40) milik Israel pada 21 Oktober 1967. (Sumber: https://www.naval-encyclopedia.com/)
Destroyer milik Israel, INS Eilat. (Sumber: Reddit)

Eilat waktu itu sedang berpatroli di lepas pantai Mesir untuk mencegah infiltrasi laut di Sinai. Dia saat melakukan tugasnya, seperti banyak kapal perang Israel lainnya sejak bulan Juni sehabis Perang 6 Hari, kerap berlayar dalam jangkauan pertahanan Mesir. Eilat diketahui sudah beberapa kali masuk ke daerah itu. Serangan itu datang sebagai kejutan yang nyata, dan ketika terkena tembakan, Eilat diperkirakan berada di pinggiran batas teritorial 12 mil yang diklaim oleh Mesir. Awak Israel sebenarnya telah mengetahui adanya potensi serangan yang akan datang karena mereka sempat terlihat oleh radar Mesir yang berbasis darat, tetapi awak Israel gagal mendeteksi adanya kapal FAC di daerah itu. Ketika 3-4 rudal terbang ke arahnya, akhirnya kapal-kapal itu terlihat berada sekitar enam mil. Penembak pada Eilat mencoba menembak jatuh rudal yang datang, tetapi tidak berhasil. Dihantam oleh dua rudal, Eilat lumpuh total dan setelah listrik mati, dan mengapung tak berdaya di air selama hampir dua jam. Para kru mencoba menyelamatkannya ketika serangan kedua datang, dan kali ini serangan yang ketiga menghancurkan dan mungkin yang keempat membuatnya tenggelam. Dari 199 awak, 47 diantaranya tewas dalam peristiwa ini.

Diagram Penembakan INS Eilat oleh FAC Komar Class, 21 Oktober 1967. (Sumber: http://steeljawscribe.com/)

Selama Perang Vietnam, sekitar tahun 1967-73 kapal cepat kelas Osa milik China telah terlihat di Laut China Selatan dan dikerahkan dari Pulau Hainan, ke daerah Teluk Tonkin. Mereka tidak pernah ikut campur dalam perang. Tidak ada kapal cepat Soviet atau China yang dikirim ke Vietnam Utara. Padahal Armada kapal AL Amerika sebenarnya rentan terhadap serangan diam-diam dengan menggunakan kapal-kapal cepat semacam ini. Kapal-kapal cepat AL Vietnam Utara dapat disebar di banyak pulau dan jalur air di sepanjang garis pantai. Sulit untuk dideteksi (ditambah dengan fakta bahwa orang Vietnam adalah jagoan untuk melakukan kamuflase) dimana mereka bahkan kerap dapat saja menyamar sebagai pengamat dengan berlayar dalam armada kapal penangkap ikan yang tidak berbahaya. Satu-satunya insiden pertempuran laut antara AL Amerika dan Vietnam Utara yang terjadi dalam perang adalah saat USS Maddox diserang oleh tiga MTB kelas P4 pada tanggal 2 Agustus 1964. 

Kapat Motor Torpedo tipe P4 yang digunakan AL Vietnam Utara untuk menyerang USS Maddox, 2 Agustus 1964 di teluk Tonkin. Dalam Perang Vietnam, pihak Vietnam Utara tidak memanfaatkan potensi untuk menyerang armada kapal AL Amerika dengan kapal-kapal cepat, kemungkinan hal ini dihindari untuk tidak memprovokasi Amerika secara terbuka dalam pertempuran laut. (Sumber: https://www.militarytimes.com/)

Dalam Perang Yom Kippur tahun 1973, Rudal P-15 digunakan oleh angkatan laut Mesir dan Suriah, tetapi terbukti tidak efektif dalam melawan angkatan laut Israel. Yang terakhir ini telah mengoperasikan kapal FAC kelas Sa’ar yang baru dan modern yang lebih cepat, lebih kecil, lebih gesit dan lebih baik dipersenjatai dengan perangkat counter measures yang sangat baik daripada lawan mereka. Namun demikian, jangkauan rudal P-15 dua kali lebih jauh dari rudal IAI Gabriel, yang memungkinkannya  untuk menembak lebih dulu. Tapi gangguan radar / chaff / ECM telah menurunkan akurasinya. Pertempuran Latakia dan Pertempuran Baltim, menyebabkan beberapa lusin P-15 ditembakkan, namun tanpa hasil. Selain itu, kapal-kapal arab memiliki kanon atau meriam yang lebih kecil dibandingkan dengan senjata yang digunakan oleh musuh-musuh Israel mereka. Dua kapal rudal kelas Komar Angkatan Laut Suriah bersama dengan sebuah kapal cepat rudal kelas Osa I dan sebuah kapal torpedo K-123 serta sebuh kapal penyapu ranjau kelas T43 tidak berhasil melawan empat kapal rudal kelas Sa’ar 3 Angkatan Laut Israel dan satu kapal rudal kelas Sa’ar 4 dalam Pertempuran Latakia. Kapal cepat rudal milik Suriah lainnya menembakkan rudal dari dalam pelabuhan secara keliru atau karena kerusakan malah menghantam kapal sipil di pelabuhan. Dalam pertempuran ini masing-masing sebuah kapal penyapu ranjau berbobot 560 ton (kelas T34), Komar, dan Osa ditenggelamkan oleh Rudal Gabriel yang dilepaskan oleh kapal FAC Israel, sedang sebuah Komar dan kapal Torpedo tipe K-123 lainnya dihancurkan dengan meriam Oto Melara kaliber 76 mm kapal-kapal Israel tersebut.

Peta Pertempuran Latakia tanggal 7 Oktober 1973, saat kapal cepat AL Israel menghancurkan kapal-kapal AL Syria. Dalam insiden ini setidaknya 2 kapal cepat kelas Komar ditenggelamkan Israel. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)
Kapal Cepat Sa’ar 3 yang digunakan Israel dalam Pertempuran Latakia. Sa’ar 3 dibekali dengan Rudal Anti Kapal Gabriel Buatan Israel dan meriam serbaguna Oto Melara kaliber 76 mm. Dalam pertempuran di Latakia, 7 Oktober 1973, AL Israel menggunakan kedua senjata itu dalam menenggelamkan kapal-kapal cepat AL Syria. (Sumber: https://commons.wikimedia.org/)
Rudal anti kapal Gabriel buatan Israel. Meski memiliki jangkauan dan hulu ledak yang lebih kecil dari Rudal P15 Termit, namun Gabriel dilengkapi dengan perangkat elektronik yang lebih canggih. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

Sementara itu di tahun 1960-an, TNI AL (dulu ALRI), juga sempat diperkuat oleh kapal cepat kelas Komar. Bila kecepatan kapal kini menjadi dilema di Satuan Kapal Cepat (Satkat) TNI AL, dimana proyek Kapal Cepat Rudal (KCR 40/60) yang digadang-gadang menjadi tulang punggung armada kapal cepat rudal malah tidak punya kemampuan melaut dengan kecepatan diatas 30 knot, maka dahulu justru kebalikannya. Di era tahun 60-an, tepatnya saat menyongsong operasi Trikora, TNI AL (dulu ALRI) sudah benar-benar mengoperasikan jenis kapal yang memang benar-benar masuk kualifikasi kapal cepat. Kala itu ada dua jenis kapal cepat, yakni MTB (Motor Torpedo Boat) Jaguar Class buatan galangan kapal Lursen & Kroger di Bremen, Jerman Barat. Dan, jenis kedua KCR (Kapal Cepat Rudal) Komar Class buatan Uni Soviet. Baik MTB Jaguar Class dan Komar Class bisa disebut kapal cepat sejati, pasalnya kedua kapal mampu melaju dengan kecepatan diatas 40 knot, MTB Jaguar yang naik pamor dalam insiden KRI Matjan Tutul sanggup ngebut di perairan dangkal hingga 42 knot, sementara Komar Class yang amat ditakuti pada masanya, mampu melejit hingga 44 knot. Jika disetarakan dengan kondisi Satkat TNI AL saat ini, maka kemampuan soal kecepatan hanya bisa disandingkan dengan KCR Mandau Class buatan Korea Selatan. Bila dirunut dari sejarah kehadirannya di Indonesia, kapal yang di daulat untuk mengkaramkan destroyer Belanda ini, mulai berdatangan pada periode 1961 hingga 1965. Dari 112 unit yang diproduksi, 12 unit diantaranya dioperasikan oleh TNI AL. Kapal-kapal yang masuk keluarga Komar adalah KRI Kelaplintah 601, KRI Kalmisani 602, KRI Sarpawasesa 603, KRI Sarpamina 604, KRI Pulanggeni 605, KRI Kalanada 606, KRI Hardadedali 607, KRI Sarotama 608, KRI Ratjabala 609, KRI Tritusta 610, KRI Nagapasa 611, dan KRI Gwawidjaja 612. Dari kuantitasnya, armada Komar Class menyamai jumlah FPB-57 yang total diproduksi PT PAL juga 12 unit. Sangat disayangkan, tak satu pun sisa Komar Class TNI AL yang diabadikan sebagai monumen atau museum untuk kenangan sejarah. Informasi yang cukup mengejutkan, sejumlah Komar Class ternyata masih operasional hingga tahun 1978. Walau untuk soal fungsi dari rudal Styx diyakini sudah out of service. Sumber dari Jane’s Fighting Ship bahkan menyebut Komar Class baru pensiun dari armada TNI AL pada tahun 1985. Kini yang tersisa dari kapal kelas Komar adalah kanon kembarnya, yang dari beberapa dokumentasi yang sempat beredar dilungsurkan pada beberapa kapal perang TNI AL.

ALRI (TNI AL) sempat mengoperasikan 12 unit kapal cepat rudal kelas Komar antara tahun 1960-1980an. (Sumber: https://www.naval-encyclopedia.com/)
Yang tersisa dari Kapal Kelas Komar TNI AL adalah kanon kembarnya yang dilungsurkan pada beberapa kapal cepat yang masih digunakan hingga kini. (Sumber: https://www.indomiliter.com/)

Dimulai pada tahun 1960-an ketika model-model terbaru akan memasuki dinas operasional, dan pabrik mengarahkan produksinya untuk keperluan ekspor, Angkatan Laut Soviet memberikan kapal kelas Komar, yang langsung laris karena kemampuan anti-kapalnya yang unik pada saat itu, kepada banyak angkatan laut negara-negara lain, termasuk pada negara-negara dunia ketiga yang bermunculan. Secara bertahap, seluruh seri kapal ini terjual. Mungkin pengguna operasional yang paling terkenal sejauh ini adalah oleh Angkatan Laut Mesir. Cina kemudian menjadi pengguna terbesar kedua dari jenis tersebut, dengan turut membuatnya dalam jumlah sangat besar secara lokal. Berdasar beberapa catatan Angkatan Laut Nasional Aljazair memiliki 6 kapal (mulai 1967), Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat Cina, 8 kapal (sejak 1961), dengan 40 lebih dibuat dengan lisensi dan turunannya yang menggunakan lambung baja, yakni Tipe 024 FAC. Angkatan Laut Revolusioner Kuba memakai 18 kapal (sejak 1965?), sementara Angkatan Laut Mesir membeli 7 unit antara tahun 1962–67. Pada tahun 1990-an Mesir membeli 6 kapal turunan dengan senjata dan perangkat elektronik buatan barat, yang dikenal sebagai kapal kelas Oktober. Berturut-turut kemudian adalah Angkatan Laut Indonesia yang membeli 12 kapal (antara tahun 1961–65), Angkatan Laut Irak: 3 kapal (1972), Angkatan Laut Myanmar: 6 kapal yang disumbangkan antara tahun 1969-1974, dimana terakhir pensiun pada tahun 2002. Angkatan Laut Tentara Rakyat Korea Utara: 10 kapal, Angkatan Laut Arab Suriah: 9 kapal, dan Angkatan Tentara Laut Rakyat Vietnam: 4 kapal. Secara total sebanyak 112 kapal cepat rudal kelas Komar dibuat antara tahun 1956 dan 1965 dan bertugas di Angkatan Laut Soviet, bersama dengan beberapa angkatan laut sekutu, hingga tahun 1980-an, ketika mereka digantikan oleh kapal serang cepat yang lebih baru dan lebih mumpuni.

112 Unit Kapal Cepat Berudal Kelas Komar sempat diproduksi untuk memperkual AL Soviet dan negara-negara kliennya. (Sumber: https://www.indomiliter.com/)

SPESIFIKASI

Dimensi: 25.4 x 6.24 x 1.24m (83.4 x 20.6 x 4 ft)

Bobot : 61.5 (standar) 66.5 ton (muatan penuh)

Awak : 17

Mesin : 4 shaft M-50F diesels 4,800 hp (3,600 kW)

Kecepatan : 44 knots (81 km/h; 51 mph)

Jarak jangkau : 600 nmi (1,100 km; 690 mi) pada kecepatan 32 knot

Persenjataan : 2 rudal SS-N-2 Styx SSN, 2×2 kanon kembar 25 mm AA 2M-3M

Perangkat Elektronik : MR-331 Rangout radar, Nikhrom IFF

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

Komar class FACs (1960)

https://www.google.com/amp/s/www.naval-encyclopedia.com/ussr/coldwar/komar-class-facs/amp/

Komar Class: Generasi Awal Kapal Cepat Rudal TNI AL oleh Haryo Adjie

Project 183R PTG Komar Class

https://www.globalsecurity.org/military/world/russia/183r.htm

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Komar-class_missile_boat

https://en.m.wikipedia.org/wiki/HMS_Zealous_(R39)

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Battle_of_Latakia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *