Karabin SKS, Senapan Stopgap Asal Soviet Yang Nggak Ada Matinya

Senapan paling ikonik pada abad ke-20 adalah AK-47. Sedangkan salah satu senapan paling ikonik dari Perang Dunia II – hal ini lebih bisa diperdebatkan dibanding beberapa kandidat lain seperti M1 Garand, Lee Enfield, K98, etc- adalah Mosin-Nagant. Keduanya sama-sama dikembangkan di Rusia. Di tengah-tengsn senapan infanteri yang tersohor itu, muncullah senapan SKS, yang merupakan kependekan dari Self-Loading Carbine dari Sistem Simonov, dimana senapan ini adalah salah satu senapan yang unik. Dikembangkan sebagai senapan interim antara Mosin-Nagant dan AK-47, senapan karabin semi-otomatis karya Sergei Simonov, meski hanya memiliki kotak peluru internal untuk 10-peluru, sudah merupakan sebuah peningkatan dari desain senapan bolt-action Mosin dari abad ke-19 yang hanya dibekali dengan lima peluru. SKS menggunakan peluru kaliber 7,62 × 39-milimeter yang sama dengan AK-47, tetapi magazine 30-peluru yang mudah dilepas pasang, memberikan Kalashnikov keunggulan daya tembak yang segera dibutuhkan oleh Tentara Merah pada tahun-tahun pasca perang. Akibatnya, SKS hanya digunakan secara terbatas oleh militer Soviet mulai pada tahun 1949 – dan lebih digunakan terutama di tangan unit seremonial, perbatasan dan cadangan. Namun SKS tetaplah merupakan senjata yang mudah beradaptasi, andal, dan bertenaga tinggi. Sedemikian rupa karakteristik dan persebarannya, sehingga SKS tetap bertahan dalam perang abad ke-21, meskipun AK-47 telah menjadi senjata yang secara keseluruhan lebih baik untuk digunakan di berbagai negara. Salah satu alasan utama kenapa SKS tetap digunakan secara luas, adalah karena Cina, dan negara-negara sekutu Soviet mulai memproduksi SKS secara massal pada pertengahan 1950-an setelah menerima teknologi dari Uni Soviet, akibatnya persebaran dan penggunaan SKS menjadi tidak terbendung.

Senapan SKS koleksi Armémuseum, Stockholm, Sweden. Sebagai senapan infanteri stopgap, karabin SKS terbukti berumur panjang. (Sumber:https://en.m.wikipedia.org/)

LATAR BELAKANG

Pengalaman yang diperoleh selama bagian pertama dari Perang Dunia II menunjukkan terdapat beberapa kekurangan dari senapan yang ada, baik yang dioperasikan secara manual (tipe bolt action yang harus dikokang sebelum ditembakkan) maupun semi-otomatis. Senapan-senapan itu terbukti terlalu panjang dan berat, dan menembakkan peluru yang terlalu kuat dan memiliki daya tolak balik berlebihan serta jangkauan efektif hingga 2000 meter, sementara sebagian besar pertempuran berada pada jarak tidak lebih dari 600-800 meter. Dari pengalaman ini muncul ide pembuatan senjata api yang lebih kompak yang dapat menembakkan peluru berkekuatan menengah, yang memiliki jangkauan efektif sekitar 500-800 meter atau lebih. Konsep ini diambil oleh Soviet dan Jerman, dan sementara Jerman berkonsentrasi hanya pada satu jenis senjata seperti itu, Maschinen Karabiner, yang kemudian menjadi SturmGewehr, atau Assault Rifle (Stg 44), Rusia berencana untuk membangun sebuah keluarga senjata infanteri, yang dirancang di untuk bisa menembakkan peluru M43 kaliber 7.62x39mm yang baru dikembangkan. Peluru M43 yang adalah versi pemendekan dari peluru 7.62×54 mmR, rencananya akan digunakan sebagai peluru senapan standar Soviet yang akan dibuat itu. Keluarga dari senjata-senjata yang akan dibuat untuk menembakkan peluru baru ini termasuk adalah senjata bertipe sebagai berikut: carbine bolt action ringan – sebuah ide yang kemudian tidak pernah meninggalkan tahap prototipe; karabin yang dapat diisi sendiri; senapan serbu dengan pilihan mode penembakan; dan senapan mesin ringan – senjata otomatis tingkat regu. Seperti yang dikatakan di atas, versi senapan bolt action kaliber 7.62 × 39 tidak pernah berjalan lebih jauh dari tahap prototipe (kemungkinan karena dianggap sudah ketinggalan jaman dan fungsinya bisa diambil versi senapan serbu atau senapan isi sendiri). Versi Senapan serbu kemudian menjadi Kalashnikov AK-47 yang terkenal. Sementara Senapan otomatis Regu menjadi Degtyarov RPD. Dan self-loading carbine menjadi Simonov SKS. 

Sergei Simonov, perancang senapan SKS. (Sumber:https://guns.fandom.com/)
Senapan standar infanteri Soviet di awal Perang Dunia II, Mosin Nagant (yang dibawa prajurit di sebelah kiri), terbukti terlalu kuat dan berjangkauan jauh dibanding dengan rata-rata penggunaan senapan infanteri di medan tempur. (Sumber:https://ww2db.com/)
Peluru M43 kaliber 7.62x39mm, yang menjadi munisi standar berbagai senapan infanteri Soviet setelah Perang Dunia II. (Sumber:https://en.wikipedia.org/)

SKS (Samozaryadnyj Karabin Simonova = Simonov Self-loading Carbine) dirancang oleh perancang senjata Rusia yang terkenal, Sergei Gavrilovich Simonov, yang telah merancang senapan self-loading AVS-36 dan senapan anti-tank PTRS, untuk menggantikan senapan bolt-action Mosin-Nagant, senapan isi sendiri AVS-36 (desain Simonov yang lain), dan SVT-40. Simonov mendasarkan desain senapan barunya ini berdasarkan prinsip kerja senapan yang telah digunakan dalam senapannya, yakni AVS-36 dan senapan anti-tank PTRS-41 (meskipun keduanya dianggap tidak memuaskan oleh Angkatan Darat Soviet), dan kemudian hampir bisa dikatakan bahwa senapan ini adalah sebuah “scaled-down” dari desain AVS-36 untuk bisa menembakkan tipe peluru yang baru. Pengerjaan senjata baru berjalan relatif cepat, dan sejumlah besar contoh pra-produksi senapan SKS-45 yang telah dibuat dikirim ke Angkatan Darat Soviet pada tahun 1944. Meskipun SKS-45 segera digunakan untuk melawan tentara Axis pada hari-hari terakhir Perang Dunia II di Front Belorusia Pertama, namun hanya sejumlah kecil yang mencapai garis depan, dan laporan dari pihak yang menguji senapan baru itu merekomendasikan bahwa pengembangan lebih lanjut masih dibutuhkan. Namun, pengembangan lebih lanjut dari SKS-45 agak terlambat pada periode akhir 1940-an, karena prioritas industri Uni Soviet saat itu lebih mengutamakan proses rekonstruksi negara ketimbang program pengembangan senapan. Produksi skala penuh dan adopsi senapan ini pada Angkatan Darat Soviet akhirnya secara resmi dilakukan pada tahun 1949, pada saat kode “-45” didrop dari kode versi senapan yang telah diperbaiki. Pada tahun 1949 senapan itu secara resmi diadopsi oleh Angkatan Darat Soviet sebagai “7.62mm Samozaryadnyj Karabin Simonova obr. 1945 goda – SKS”. SKS masuk ke dinas operasional bersamaan dengan senapan serbu Kalashnikov AK-47, dan keduanya akan banyak digunakan selama dua atau tiga dekade pertama pasca-perang dunia ke II. 

Senapan AVS-36, yang menjadi dasar pengembangan karabin SKS. (Sumber:https://www.wikiwand.com/)
Senapan SKS dikerahkan dalam jumlah sedikit jelang berakhirnya Perang Dunia II. (Sumber:https://www.thearmorylife.com/)

Meskipun demikian, seperti halnya dengan SKS, pengembangan AK-47 masih membutuhkan berbagai perbaikan, dan sementara itu SKS yang dikembangkan sepenuhnya berfungsi sebagai senapan stop gap sambil menanti sempurnanya desain AK-47. AK-47 belum akan mencapai pengoperasian luas sampai tahun 1954. Yang kemudian lisensi produksinya diteruskan ke beberapa negara Komunis lainnya sejak tahun itu dan seterusnya. Dengan meningkatnya jumlah AK-47 dan AKM yang digunakan, jumlah SKS di dinas operasional garis depan secara bertahap menurun, tetapi beberapa SKS masih digunakan oleh unit-unit non-infanteri dan lini kedua Angkatan Darat Soviet hingga akhir tahun 1980-an dan bahkan 1990-an. SKS juga menjadi senapan standar yang digunakan oleh Pasukan Pertahanan Udara Soviet untuk menjaga situs Anti-Pesawat hingga setidaknya akhir 1980-an. Pada saat ini sebagian besar stok SKS Angkatan Darat Russia disimpan atau dijual sebagai barang surplus di pasar domestik dan luar negeri, dimana dari penggunaannya kini, peran SKS yang paling menonjol adalah dengan masih digunakannya senapan ini sebagai senapan seremonial dari berbagai Pasukan Penjaga Kehormatan Rusia.

DESAIN DAN PRINSIP KERJA

Senapan SKS bagian konstruksi utamanya semuanya terbuat dari baja, dan sementara AK-47 dikenal dengan menggunakan receiver yang dibuat dengan teknik stamped/cetak, receiver pada SKS menggunakan teknik forged/tempa; sebuah fitur yang mahal dan bisa dibilang berlebihan, yang merupakan salah satu alasan mengapa produksi SKS dihentikan. Setiap SKS diproduksi dengan furnitur kayu, meskipun jenis kayu yang digunakan tergantung pada pabriknya. Sementara semua senapan SKS Rusia menggunakan kayu Birch Rusia, varian Cina menggunakan kayu Catalpa, dan senapan SKS Yugoslavia seri-M59 menggunakan kayu Elm, Beech, atau Walnut. M59 yang diekspor ke Mozambik diproduksi secara lokal dengan kayu Jati, sementara versi yang diproduksi di Mesir, Vietnam Utara, Korea Utara, Irak, dan negara-negara lainnya menggunakan jenis kayu yang tidak diketahui jenisnya. SKS adalah senapan yang dioperasikan dengan menggunakan sistem operasi menggunakan gas piston (gas operated), peluru disuplai dengan magazine, dengan peluru dalam magazine dapat mengisi sendiri menggunakan prinsip pengisian menggunakan pegas. Senapan ini menggunakan piston gas stroke pendek dengan pegasnya yang dapat berbalik sendiri, dan sistem penguncian tilting bolt, di mana bolt turun untuk mengunci ke receiver. Sistem SKS merupakan sebuah proses perantara dalam proses menuju pengembangan sebuah senapan serbu sejati, ukuran senapan ini lebih pendek dan kurang kuat hantamannya daripada senapan semi-otomatis yang mendahuluinya, seperti SVT-40 Soviet, tetapi lebih panjang (10 cm atau 4in) daripada Senapan AK-series yang menggantikannya. Hasilnya, muzzle velocity nya sedikit lebih tinggi daripada senapan AK yang menggantinya, meski lebih inferior dari senapan bolt action yang digantikannya. Charging handle dari SKS terpasang di sisi kanan bolt carrier dan bergerak ketika senapan ditembakkan. Receiver senapan ini terbuat dari baja. Sementara model senjata Soviet generask awal setelah (1949-1950) memiliki pin penembakan pegas, yang menjauhkan pin dari primer peluru sampai terkena hantaman bolt, sebagian besar varian SKS memiliki pin penembakan mengambang bebas di dalam bolt. Karena desain ini, perawatan harus dilakukan dengan seksama selama pembersihan untuk memastikan bahwa pin penembakan dapat bergerak bebas dan tidak menempel pada posisi maju di dalam bolt. Pin penembakan SKS yang macet di posisi maju telah diketahui menyebabkan “slamfires” (senapan menembak sendiri tanpa menarik picu dan dikokang) tanpa disengaja.

Detail part senapan karabin SKS. (Sumber:https://modernfirearms.net/)

SKS diisi dengan 10-peluru integral, yang dapat dimuat dari atas dengan membuka bolt dan memasukkan peluru dengan menggunakan klip stripper khusus berkapasitas 10 peluru atau bisa juga diisi peluru satu-persatu. Klip stripper memasukan peluru ke bagian depan bolt carrier. Lekukan pemandu di bagian depan receiver menahan klip di tempatnya sementara amunisi didorong ke bawah ke dalam magazine, di mana klip kemudian dilepas. Tidak seperti beberapa senjata api lain yang menggunakan metode reload semacam ini, klip stripper pada SKS sendiri tidak turut dimasukkan ke dalam senjata. Tuas pelepas magazine terletak di depan magazine, dan membukanya pada bagian engsel saat membongkar dan membersihkan. Beberapa varian SKS (dan beberapa senapan milik pribadi) telah menghapus magazine SKS lama yang tidak mudah dilepas, dan menggantinya dengan magazine yang dapat dilepas pasang. Senapan semacam ini bisa menggunakan magazine gaya AK, meskipun beberapa senapan hanya dapat menerima magazine tipe khusus. SKS memiliki perangkat bolt catch device, fitur penting untuk senjata api apa pun yang pelurunya diisi menggunakan klip. Magazine dapat dengan aman dan cepat dapat dikosongkan dengan membuka penutup magazine. Magazine ini tidak dapat dilepas kecuali senjata sedang dibongkar, dan dilepas melalui port ejeksi. SKS adalah senapan yang ditembakkan dengan pin pemukul. Tuas pengaman terletak di dalam triggerguard. SKS memiliki popor kayu single-piece, pembidik depan menggunakan tipe post-hooded dan pembidik belakang memiliki pengukur jarak yang dapat disesuaikan. Rentang jarak bidik dapat disesuaikan melalui sistem ladder yang terdiri dari settingan mulai 100 m hingga 1.000 m, dengan peningkatan tiap 100 m. Pengaturan jarak bidik “pertempuran” standarnya (dengan ditandai huruf Sirilik “П”) adalah untuk jarak 300 m. Karabin SKS versi militer dilengkapi dengan bayonet yang tidak dapat dilepas, yang dapat dilipat ke bawah dan ke belakang saat tidak digunakan. Karaben versi Soviet, Jerman Timur, dan Yugoslavia menggunakan bayonet berbentuk bilah pisau, sedangkan karabin Cina Tipe-56 menggunakan bayonet berbentuk spike seperti pada senapan Mosin Nagant, yang sedikit lebih panjang daripada bilah berbentuk pisau. Bayonet tergantung pada blok yang terletak di dekat moncong senjata, dan dikunci dalam sudut 180 derajat ketika tidak digunakan, bilah itu tersimpan ke dalam furnitur kayu di depan hand guard. Bayonet dilepas kunciannya dengan menarik gagang pegas ke arah blade, yang memungkinkannya berputar ke depan, dan dipasang dengan meraih pengunci di bagian depan engsel, dan menjepitnya pada moncong laras senapan. Melepas bayonet dilakukan dengan menarik gagang ke arah pisau sekali lagi, kemudian memutarnya kembali 180 derajat ke posisi terlipat; disini pengguna harus berhati-hati untuk menghindari memegang bagian depan senjata sambil melipat bayonet, karena pisau dapat menyebabkan cedera ketika terkunci kembali ke posisi terlipat. Pemasangan bayonet kadang-kadang dilepas pada senapan yang dijual di pasar sipil, meskipun bisa jadi ini adalah sebuah kesalahan; karena pengoperasian senjata yang sangat sensitif terhadap keseimbangan longitudinal keseluruhannya, melepaskan bayonet bisa mempengaruhi akurasinya. Secara umum, SKS adalah senjata serba guna yang luar biasa yang menawarkan jangkauan yang sedikit lebih jauh dan akurasi yang lebih baik daripada Kalashnikov AK-47, tetapi, untuk penggunaan militer, senapan ini memiliki kapasitas magazine yang terbatas dan tidak memiliki fitur menembak selektif atau bisa ditembakkan dengan mode otomstis. Tetapi untuk penggunaan sipil, senapan ini masih sulit dikalahkan, terutama dari sisi biaya akuisisi dan efektivitas penggunaan.

Metode pengisian Magazine SKS yang terhitung ketinggalan jaman dengan menggunakan klip Stripper. (Sumber:https://modernfirearms.net/)
Magazine SKS harus dibongkar jika akan dibuka. (Sumber:https://kids.kiddle.co/)
SKS versi China dengan bayonet model spike. (Sumber:https://gun.deals/)
Pengatur jarak setting bidikan pada senapan SKS yang dapat diatur dari jarak 100 meter hingga 1000 meter dengan setingan umumnya ada di 300 meter. (Sumber:https://www.huntinggearguy.com/)

Sementara klasifikasi resminya menyatakan bahwa SKS adalah sebuah karabin, namun klasifikasi yang tepat untuk kelas senjata ini adalah senapan laras panjang yang panjangnya tidak lebih dari 30 inci (762 mm). Sementara faktanya, varian SKS versi militer jauh lebih panjang (biasanya 40 inci, atau 1.020 mm), yang secara efektif menjadikannya senapan, hanya lebih “pendek” dibandingkan senapan seperti M14 atau Lee-Enfield Mk.III. Dengan panjang 880 mm, bahkan AK-47 – resminya disebut “senapan” laras panjang – lebih pendek dari SKS! Meski demikian seperti banyak senapan yang lebih dikenal lainnya, seperti FAL, AK-47, M14, dan CETME, SKS dapat diandalkan, dan akan mampu menembak secara normal dalam kondisi yang mana bisa menyebabkan banyak senapan lain macet. Bahkan ketika kotoran, pasir, lumpur, atau air memasuki sistem senjatanya, atau jika senjata itu menjadi sangat kotor setelah digunakan lama, senapan itu umumnya akan dapat beroperasi secara normal. Namun SKS jelas membutuhkan perawatan dan pembersihan rutin; beberapa pengguna yang ceroboh telah menemukan bahwa sifat korosif bubuk dan primer dari amunisi surplus kaliber 7,62×39 mm dapat  merusak sistem kerja senjata, jika senjata itu dibiarkan tidak bersih selama beberapa minggu. SKS mudah dibongkar dan dipasang kembali tanpa alat khusus. Senapan memiliki kit pembersih yang disimpan di ruang dalam popornya, dengan batang pembersih ada di bawah laras, yang prinsipnya sama dengan AK-47. Tutup untuk kit pembersih juga berfungsi sebagai pemandu batang pembersih, untuk melindungi senapan dari kerusakan selama pembersihan. Badan kit pembersih juga berfungsi sebagai pegangan batang pembersih. Secara umum sama dengan beberapa desain era Soviet lainnya, senapan ini menukar akurasi untuk ketangguhan, keandalan, kemudahan perawatan, kemudahan penggunaan, dan biaya produksi yang rendah.

SKS DI BERBAGAI NEGARA

Seperti banyak senjata soviet lainnya pada periode pasca perang, lisensi desain SKS dijual atau diberikan kepada beberapa negara yang sahabat-Soviet, seperti Cina, DDR (Jerman Timur), Yugoslavia, Albania dan beberapa lainnya. Negara-negara ini lalu membuat sejumlah besar SKS dengan beberapa perbedaan kecil dari desain aslinya. Menurut catatan, C.J. Chivers  dalam buku nya tahun 2010 “The Gun”, entah benar atau tidak, delegasi China yang berkunjung ke Uni Soviet sangat marah saat melihat SKS diproduksi disana, sementara Uni Soviet sampai saat ini masih saja memasok Cina sebagian besar dengan karabin bolt action M44. Tetapi terlepas dari apa yang sebenarnya terjadi, China akhirnya mendapatkan teknologi yang mereka inginkan dan lantas memproduksi jutaan SKS. Meskipun kemudian kegagalan dalam Perang Sino-Vietnam tahun 1979 mengungkapkan keterbatasan senjata itu dan memaksa tentara China untuk mengupgrade senjata standarnya menjadi senapan Tipe 81, senapan dengan kombinasi desain AK-47 / SKS / Dragunov. Situasinya waktu itu sudah berbeda dengan masa tahun 1950-an dan 1960-an, yang pada saat itu, SKS cocok untuk digunakan sesuai doktrin militer Maois Tiongkok yang menempatkan prioritas pada keterampilan dasar menembak senapan, serangan penembak jitu, dan penyergapan. Sementara meski SKS memiliki kapasitas amunisi terbatas 10 butir peluru, ini bukan masalah besar – kader Maois yang ditugaskan untuk mempertahankan daratan Cina diperkirakan akan bertempur dengan beban yang lebih ringan dengan membawa SKS.

SKS Yugoslavia yang dapat dipasangi dengan pelontar granat senapan. (Sumber: https://modernfirearms.net/)
SKS yang dilepas bayonetnya. Karena pengoperasian senjata yang sangat sensitif terhadap keseimbangan longitudinal keseluruhannya, melepaskan bayonet bisa mempengaruhi akurasi senapan. (Sumber:https://modernfirearms.net/)

Untuk alasan yang sama, SKS tetap hingga hari ini tetap ada di inventaris para gerilyawan – dan di beberapa angkatan bersenjata – di seluruh dunia, dan telah terlihat digunakan baru-baru ini di Suriah dan Irak, meskipun karaben ini sekarang lebih jarang digunakan dibanding sebelumnya. Karaben SKS buatan ex Yugoslavia juga sering muncul, meskipun versi ini memiliki beberapa kekurangan. SKS Yugoslavia tidak memiliki laras berlapis krom – yang akan mengurangi keandalannya ketika digunakan untuk menembakkan amunisi yang korosif – tetapi tipe ini bisa ditambahi fitur peluncuran granat senapan terintegrasi. Ini dapat menjadi sebuah bonus jika kaum pemberontak hanya memiliki sedikit munisi granat senapan, tetapi bagi kebanyakan penembak, penambahan ini membuat senjata sederhana ini menjadi lebih berat dan lebih rentan terhadap daripada yang seharusnya, selain itu SKS Yugoslavia memiliki sistem gas yang lebih rumit.

KOLEKTOR SIPIL

SKS juga memiliki posisi yang aneh di pasaran sipil. Karena Cina memproduksi begitu banyak – dan mengekspor begitu banyak juga – karabin ini telah menjadi senjata berburu dan olah raga yang murah dan populer di dunia Barat. Dan karena seorang pemilik harus memodifikasi SKS agar dapat membawa lebih dari 10 peluru, versi pabrik sedikit lebih mudah diperoleh di negara bagian tertentu sementara negaranya sendiri membatasi senapan dengan magazine berkapasitas lebih tinggi. Amerika Serikat juga menerapkan pembatasan impor dari pabrikan Cina Norinco pada tahun 1993, yang menjadikan SKS cukup langka di Amerika dibanding senapan militer lainnya.  Sebaliknya, senapan ini bisa dibilang lebih mudah diperoleh di Kanada, yang tidak memberlakukan pembatasan serupa – asalkan Anda memiliki lisensi yang tepat. Bagi para kolektor, karabin yang memiliki nilai sejarah dan militer tambahan akan dihargai lebih tinggi, dimana versi Soviet menjadi yang paling didambakan mengingat produksi terbatas yang mereka buat. Selain itu, terdapat beberapa versi bayonet yang menyatu yang terintegrasi dengan laras meskipun tipe-tipenya tergantung dari negara asal. Jika Anda suka bayonet yang terintegrasi, belilah versi Cina. Jika Anda mencari bayonet tipe pisau, carilah versi SKS Yugoslavia. Akan sulit untuk mengatakan bahwa SKS adalah karabin yang paling unggul pada masanya. Karabin ini adalah pesaing asal Soviet untuk senapan Gewehr 42 Jerman dan Garand M1 Amerika – tetapi lebih andal daripada Gewehr sementara jauh lebih murah dan lebih mudah diperoleh di abad ke-21 daripada Garand. Senapan ini tidak sempurna. Seperti sudah disinggung diatas, sistem Free-floating firing pin SKS, jika tidak dibersihkan dan bekerja dengan benar, dapat menyebabkan senjata semi-otomatis ini mengalami problem “slamfire,” yang berarti ia bisa tiba-tiba menembak secara otomatis tanpa ada cara untuk menghentikannya – yang sangat berbahaya. Tetapi hanya sedikit yang akan menyangkal jika SKS mampu bekerja dengan baik, di banyak tempat, dan lama dari yang Sergei Simonov – ia meninggal pada Mei 1986 pada usia 92 – bisa bayangkan. Di tangan sipil, senapan ini dapat digunakan untuk berbagai fungsi, seperti: berburu, menembak sasaran bebas, sampai pertahanan diri. Berbagai macam aksesoris aftermarket juga tersedia mulai dari popor, pembidik dan dudukannya, magazine berkapasitas besar, bipod, dll.) Hal ini membantu menjaga senjata ini tetap bertahan di pasaran.

Di beberapa negara senapan SKS dapat dimiliki oleh pihak sipil yang memenuhi persyaratan. Senapan SKS versi sipil biasanya digunakan untuk berburu dan olehraga menembak. (Sumber: youtube)

DINAS OPERASIONAL 

Produksi skala penuh SKS di Uni Soviet cukup singkat, berlangsung mulai dari tahun 1949 hingga 1958, meskipun demikian jutaan senapan ini telah sempat diproduksi selama jangka waktu yang pendek ini. Senapan ini diproduksi di Pabrik Senjata Tula dari tahun 1949 hingga 1955 dan Pabrik Mekanis Izhevsk pada tahun 1953 dan 1954. Banyak senapan dan sub-varian SKS lainnya yang diproduksi di luar negeri hingga tahun 1960-an, meskipun berakhirnya waktu produksi SKS tidak jelas, diyakini bahwa lebih dari 15 juta senapan ini (beserta variannya) telah diproduksi. Dalam hal jumlah produksi, SKS adalah desain senapan self-loading yang paling banyak dibuat kesembilan dalam sejarah. Konflik pertama yang menggunakan SKS produksi massal adalah pada saat Perang Korea. SKS digunakan secara luas oleh tentara PLA, tetapi jumlah mereka yang banyak membuat tidak mungkin melengkapi semua tentara PLA dengan SKS, sementara KPA (Korea Utara) menerima relatif sedikit. Sebagian besar tentara Tiongkok menggunakan varian senapan bolt action Mosin-Nagant atau SMG PPsH-41 sebagai gantinya. SKS meskipun kinerja tembakan jarak jauhnya lebih baik daripada AK-47, namun bukan tandingan M1 Garand di medan yang luas dan terbuka lebar di pedesaan Korea. Sementara itu, SKS juga digunakan dengan baik oleh pasukan komunis Vietnam Utara dan oleh Viet Cong selama Perang Vietnam melawan Amerika, meskipun senapan ini tidak memiliki daya tembak sekuat M14 atau mudah digunakan seperti M16. 

Pasukan Jerman Timur berjaga-jaga dengan menyandang senapan SKS. (Sumber:https://www.thearmorylife.com/)
Pasukan Vietnam Utara memeriksa kendaraan lapis baja M113 yang rusak. Pria di sebelah kanan membawa karaben SKS (atau Tipe 56 Cina). (Sumber:https://www.thearmorylife.com/)

Khusus di Cina, yang merasa cocok dengan gaya perang mereka sendiri, yakni “Perang Rakyat” dimana model taktiknya sangat gerilya, gerilyawan yang mandiri dan milisi pedesaan harus mampu melindungi desa mereka sendiri. Dalam filosofi “Perang Rakyat”, penekanannya adalah pada taktik penembakan dari jarak jauh, serangan pengganggu, dan penyergapan. Untuk itu, tentara Tiongkok lebih menyukai versi domestiknya sendiri dari SKS (karabin Tipe 56) daripada senapan AK. Sejak diperkenalkan pada tahun 1956, Tipe 56 / SKS tetap menjadi senapan tulang punggung Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) selama 30 tahun. Pada tahun 1968, tentara mereka secara singkat dilengkapi kembali dengan senapan serbu baru Type 63 yang tidak begitu berhasil digunakan, meski dimaksudkan untuk menggabungkan daya tembak yang besar dari varian AK-47 pertama China (secara membingungkan disebut juga sebagai “senapan serbu Type 56”) dengan metode penembakan semi-otomatis dari karaben SKS / Type 56 dan dimaksudkan untuk mengganti kedua senapan yang berbeda itu. Namun, pada pertengahan 1970-an, segala macam masalah mengganggu senapan Tipe 63 yang menjadikannya tidak bisa diandalkan. Pasukan mereka lalu meminta untuk diberikan kembali senapan karabin mereka, yang kemudian didistribusikan kembali ke unit-unit milisi lokal, dan staf militer yang lantas meninggalkan senapan Tipe 63 dan menggunakan kembali karabin Type 56 (SKS) dan senapan serbu Type 56 (AK-47) dalam dinas operasional. Praktik standar yang digunakan PLA adalah pemimpin regu dan asisten pemimpin regu akan membawa senapan serbu sementara sebagian besar prajurit lainnya membawa senapan karabin, sehingga regu infanteri garis depan akan menerjunkan prajurit dengen membawa dua senapan serbu, dua senapan mesin ringan, dan tujuh karaben. Namun, setelah dimulainya perang perbatasan Tiongkok tahun 1979 dengan Vietnam, unit-unit tempur Tiongkok menemukan bahwa kapasitas karabin SKS untuk penembakan presisi jarak jauh tidak banyak berguna di hutan pegunungan di wilayah perbatasan; akibatnya unit-unit itu dengan cepat dilengkapi kembali dengan senapan serbu. Senapan dari keluarga AK (termasuk Type 56 tentara Cina dan AK-47 dan AKM dari tentara Vietnam) karena alasan struktural yang relatif tidak akurat, dan karena tentara China secara historis lebih menyukai tembakan presisi (walaupun umumnya menggunakan senjata api yang tidak cocok untuk tugas itu), perang Sino-Vietnam secara langsung mempercepat pengembangan senapan serbu Tipe 81 PLA. Pada saat konflik perbatasan pecah lagi antara Cina dan Vietnam pada tahun 1983, militer Tiongkok telah menjadi sepenuhnya dilengkapi dengan senapan serbu Type 81 yang lebih akurat dan presisi. Meski demikian karabin Tipe 56 masih akan tetap beroperasi dengan milisi Tiongkok dan pasukan cadangan. Tipe 56 juga digunakan di garis depan sebagai senapan latihan dan upacara.

Milisi wanita China berlatih menggunakan senapan SKS (Type 56 Carbine). (Sumber:https://www.flickr.com/)
Pelaut PLAN berbaris dengan menyandang senapan karabin Type 56. (Sumber:https://en.m.wikipedia.org/)

SKS juga digunakan secara luas dalam konflik lainnya selama Perang Dingin di seluruh Afrika, Asia, dan Amerika Tengah, dan merupakan pemandangan umum di setiap pasukan yang dipasok oleh Uni Soviet. Sebaliknya, mereka juga banyak digunakan untuk melawan pasukan Soviet selama Perang Soviet-Afghanistan. Pabrikan asing  yang berlisensi untuk memproduksi SKS termasuk Albania, Cina, Jerman Timur, Korea Utara, Vietnam Utara, Polandia, Rumania (model 56), dan Yugoslavia, sementara pabrikan tanpa lisensi diketahui membuatnya di Afghanistan, Kongo, Mesir, Irak, Laos, Libanon, Mongolia, Maroko, dan Yaman Selatan. Beberapa varian menggunakan kontrol port gas, pembidik malam flip-up, dan peluncur granat yang dapat dipasang di ujung larasnya (versi M59 / 66 Yugoslavia, dan mungkin Tipe 63 Korea Utara). Secara fisik, semuanya sangat mirip, meskipun peluncur granat 22mm spesifikasi NATO dari versi Yugoslavia, dan stok yang lebih banyak dari versi Albania secara visual berbeda. Banyak bagian yang lebih kecil, terutama pembidik dan gagang pengisian, berbeda antara produksi negara satu dengan yang lainnya. Jumlah negara yang mengoperasikan SKS sangat mengejutkan, termasuk digunakan di – tetapi mungkin tidak terbatas pada -Afghanistan, Albania, Aljazair, Angola, Bangladesh, Belarus, Benin, Bulgaria, Kamboja, Cape Verde, Republik Rakyat Cina, Komoro, Kroasia, Kuba, Jerman Timur, Mesir , Guinea Ekuatorial, Guinea, Guinea-Bissau, Guyana, Hongaria, Indonesia, Irak, Kazakhstan, Kosovo, Kirgistan, Laos, Libya, Makedonia, Mali, Moldova, Mongolia, Mozambik, Korea Utara, Oman, Palestina, Polandia, Rhodesia, Rumania , Rusia, Rwanda, Sao Tome dan Principe, Serbia, Seychelles, Sierra Leone, Slovenia, Yaman Selatan, Uni Soviet, Sri Lanka, Sudan, Suriah, Tajikistan, Tanzania, Turkmenistan, Uganda, Ukraina, Uzbekistan, Vietnam, Yaman, Yugoslavia , dan Zimbabwe. Jenis senjata itu juga menjadi favorit khususnya di Afrika bagian selatan, di mana senjata itu digunakan oleh sejumlah pasukan pemberontak yang berjuang untuk menggulingkan pemerintahan kolonial di Angola, Rhodesia (Zimbabwe), dan Afrika Barat Daya (Namibia). SKS juga digunakan dalam jumlah kecil oleh uMkhonto we Sizwe (MK), kelompok militan anti-apartheid di Afrika Selatan. Sejumlah varian Cina Tipe 56 diperoleh dan digunakan bersama AK-47 oleh Tentara Republik Irlandia (IRA) selama konflik di sana.

Pasukan Mali dengan senapan SKS. (Sumber:https://medium.com/)

Sementara itu di Indonesia, senapan SKS Type 56 (kerap dikenal dengan sebutan senapan Chung buatan China), sempat menghebohkan di sekitar peristiwa Gerakan 30 September 1965. Guna mendukung pembentukan Angkatan Kelima, Perdana Menteri Cina, Zhou En Lai, saat itu menawarkan bantuan 100.000 senjata ringan kepada Indonesia, dan jenis senjata itu adalah senapan laras panjang Chung. Senjata copy-an dari Simonov SKS buatan Uni Soviet ini memang tak sepenuhnya tiba di Indonesia dalam jumlah 100 ribu pucuk, lantaran baru 25 ribu pucuk yang masuk ke Indonesia, menurut Hendro Subroto, dalam bukunya “Dewan Revolusi PKI: Menguak Kegagalannya Mengkomuniskan Indonesia (2007)”. Dalam tulisan Taomo Zhou, “Tiongkok dan G30S” di buku G30S dan Asia: Dalam Bayang-Bayang Perang Dingin menyebut, pada 13 September 1965 Menteri/Panglima Angkatan Udara, Marsekal Omar Dani berjumpa atase militer Cina di Jakarta. Ia berharap Angkatan Udara bisa menerima 25.000 pucuk sebagai bagian dari 100.000 pucuk seperti janji Zhou. “Ia sekali lagi mengatakan senjata-senjata itu akan digunakan untuk mempersenjatai buruh dan tani di sekitar Pangkalan Udara Halim,” tulis Taomo Zhou. Pada 16 September 1965, Omar Dani kembali berangkat ke Cina. Para pemimpin Cina bisa saja menyetujui permohonan AURI untuk membawa 25.000 pucuk itu. “Akan tetapi karena terbatasnya ruang-waktu dan kesempatan antara kunjungan Omar Dani dan meletusnya G30S, secara logistik sangat sukar bagi AURI untuk mengatur dan menerima pengiriman senjata-senjata itu,” tulis Taomo. Selain itu, janji senjata dari Zhou itu butuh proses perakitan dan pengepakan. Belum lagi pengiriman. Jika harus dikirimkan sekitar 25.000 senjata sebelum 30 September 1965, hal itu tidak mungkin. Senjata-senjata yang dipakai milisi dalam G30S di sekitar Pangkalan Halim sangat minim. Jadi Taomo berpendapat, besar kemungkinan senjata-senjata itu belum sampai ke Indonesia ketika G30S meletus. Jadi tidaknya pengiriman puluhan ribu senjata Chung itu tidak jelas, namun penemuan beberapa pucuk senjata buatan Cina ini berdampak buruk bagi Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) yang dipimpin Omar Dani. Apalagi, dalam peristiwa penculikan yang terjadi di subuh 1 Oktober 1965 itu, ada pasukan penculik bersenjata Chung pula. Menurut Abdul Syukur, dalam artikelnya “CIA dan G30S 1965” di buku Malam Bencana 1965 Dalam Belitan Krisis Nasional: Bagian I Rekonstruksi dalam Perdebatan (2012), AURI dituduh ikut serta dalam pembunuhan Yani dan kawan-kawan. Sudah tentu Cina juga kena tuduh terlibat dalam G30S. Tak heran jika sempat terjadi pemutusan hubungan diplomatik di awal-awal Orde Baru.

Polemik senapan Chung (Type 56 Carbine) di sekitar peristiwa G30S/PKI tahun 1965 di Indonesia. (Sumber:https://tirto.id/)
Mujahidin Afghanistan dengan senapan karabin tipe 56 tahun 1989. (Sumber:https://www.thearmorylife.com/)

Sementara itu, meskipun dibayangi oleh AK-47 di mana-mana melalui sebagian besar keberadaannya, SKS tetap memenuhi banyak peran khusus karena dengan senapan serbu yang lebih kuat saja terbukti tidaklah memadai. Misalnya, Angkatan Darat Soviet menganggap AK-47 terlalu pendek jarak tembaknya untuk latihan tembak senapan, dan kurang cocok untuk mempersenjatai penjaga di tempat-tempat umum, sementara PLA lebih menyukai SKS daripada AK-47 selama bertahun-tahun karena taktik mereka menekankan pada penembakan dari jarak jauh yang akurat dalam doktrin infanteri mereka. Senapan ini juga masih digunakan untuk tujuan seremonial di angkatan bersenjata dan / atau pasukan polisi dari sebagian besar negara tersebut (seperti halnya Senapan M14 di Amerika Serikat) dan masih banyak digunakan di militer negara-negara berkembang di seluruh dunia. SKS juga masih terus muncul dalam baku tembak di seluruh dunia, termasuk konflik baru-baru ini seperti Perang Afghanistan, Perang Irak, Perang Sipil Suriah, Perang Ukraina, dan Perang Narkoba di Meksiko. Senapan ini juga diproduksi lebih banyak dari senapan serbu paling kontemporer yang beredar di dunia. Menjadi senapan yang mudah dan efektif untuk digunakan dan tersedia secara luas dalam jumlah besar, senapan ini juga populer di kalangan kelompok-kelompok militan tanpa-negara, seperti Hamas dan ISIS. Dengan demikian, SKS akan tetap menjadi persenjataan reguler dalam konflik besar di seluruh dunia, dan kemungkinan akan terus muncul di medan perang selama beberapa waktu. Kini tidak ada lagi produksi SKS baru selama beberapa dekade, makanya tidak ada alasan untuk menghidupkan kembali lini produksi senapan legendaris ini. Senapan-senapan SKS yang berkualitas baik biasanya dijual seharga sekitar US $ 400 di pasar sipil, menjadikannya alternatif yang sangat populer untuk senapan pemburu yang bisa mengisi sendiri atau olahraga menembak.

SPESIFIKASI

Type: Karabin semi otomatis

Designer: Sergei Gavrilovich Simonov

Varian:

Chinese Type 56; Yugoslav PAP; Romanian SKS; Albanian SKS; East German SKS; (North) Vietnamese SKS; North Korean SKS

Spesifikasi umum:

Bobot kosong: 3.85 kg (8.5 lb)

Panjang: 1,020 mm (40 in), M59/66: 1,120 mm (44 in)

Panjang laras: 520 mm (20 in), M59/66: 558.8 mm (22.00 in)

Peluru: 7.62×39mm M43

Sistem kerja: Short stroke gas piston, tilting bolt, self-loading

Kecepatan tembak: Semi-otomatis 35–40 (peluru/menit)

Muzzle velocity: 735 m/s (2,411 ft/s)

Jarak tembak efektif: 400 metres (440 yd)

Sistem pengisian peluru: 10 peluru dengan stripper clip, internal box magazine.

Pembidik: Hooded post front sight, tangent notch rear sight dengan settingan jarak 100 sampai 1,000 meter.

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

The SKS Is the Cockroach of Weapons, March 12, 2017 by Robert Beckhusen

The SKS Is the Cockroach of Weapons

SKS Simonov by Maxim Popenker

https://modernfirearms.net/en/military-rifles/self-loading-rifles/russia-self-loading-rifles/simonov-sks-eng/

SKS Semi-automatic rifle by BLACKTAIL

http://www.military-today.com/firearms/sks.htm

Tentang Pasokan Ribuan Senjata dari Cina pada 1965 – Tirto.ID oleh Petrik Matanasi, 25 September 2017

https://tirto.id/tentang-pasokan-ribuan-senjata-dari-cina-pada-1965-cxeo

Mengenal “Chung” Type56 – Nyaris Jadi Senjata Angkatan Kelima oleh Gilang Perdana

https://en.m.wikipedia.org/wiki/SKS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *