Karir Panjang Tank Amphibi PT-76 Yang Masih Jadi Andalan Korps Marinir Indonesia

Secara sekilas melihat kendaraan tempur PT-76 yang merupakan tank ringan amfibi buatan Soviet dengan lapisan baja tipis dan senjata yang tidak mengesankan merupakan suatu keanehan teknologi alutsista Soviet di era Perang Dingin yang terkenal karena tampilan gaharnya. Tentu saja tank ini juga menghadapi tantangan yang tidak kecil saat dikerahkan ke medan perang modern yang penuh dengan senjata dan tank yang lebih berat. Tapi dalam karir tempurnya PT-76 yang bisa mengarungi air ini ternyata menorehkan rekor tempur yang luar biasa, seperti membawa tentara Gurkha India ke dalam pertempuran melawan tentara Pakistan, menenggelamkan kapal bersenjata di Delta Gangga, berduel dengan tank Patton AS yang kuat di Vietnam, dan meluncurkan serangan amfibi mendadak di perang Timur Tengah, baik digunakan oleh Mesir maupun Israel. Sementara itu di Indonesia, PT-76 yang telah dimodernisasi (dikabarkan dilakukan oleh perusahaan Nimda asal Israel) masih terus menjadi andalan Korps Marinir. Di Indonesia PT-76 telah berjasa saat digunakan dalam berbagai operasi militer, termasuk di Timor-Timur dalam menghadapi gerilyawan Fretilin. Selain di India, Mesir, Vietnam dan Indonesia, PT-76 juga telah banyak diekspor ke negara-negara sahabat Soviet lainnya, seperti Irak, Suriah, dan Korea Utara. Secara keseluruhan, sekitar 25 negara menggunakan PT-76. Berikut adalah kisah pengembangan dan spesifikasi dari PT-76 beserta kiprah tempurnya yang terentang panjang di berbagai belahan dunia.

Hingga kini tank ringan amfibi PT-76 masih aktif digunakan di berbagai negara, termasuk oleh Korps Marinir Indonesia. (Sumber: https://www.quora.com/)

LATAR BELAKANG

PT-76 (dinamai menurut kaliber meriam utamanya) adalah tank ringan berkemampuan amfibi baru Soviet pasca perang dunia II. Uni Soviet pertama kali membuat tank amfibi ringan dimulai sejak mengadaptasi secara lokal kendaraan amfibi Vickers-Carden-Loyd buatan Inggris dan kemudian dilanjutkan dengan membuat tank T-37A dan T-38 sebelum perang dunia II pecah serta T-40 pada masa perang dunia II, semuanya diproduksi secara massal. Tetapi kendaraan-kendaraan ini terbukti cukup lambat saat digunakan di dalam air dan jelas memerlukan perbaikan. Kendaraan-kendaraan tersebut juga hanya berawak dua orang dengan lapisan baja ringan dan semuanya dipersenjatai dengan satu senapan mesin, dianggap tidak cocok melawan Panzer Jerman yang menyerang pada tahun 1941. Dalam waktu enam bulan pertama invasi, sebagian besar tank ringan ini hilang atau hancur dan digantikan oleh kendaraan yang lebih berat. Setelah Perang, di kompleks pabrik Leningrad ChTz (Chelyabinsk) VNII-100, “Obyekt 740” yang dirancang oleh insinyur N. Shashmurin dipresentasikan pada tahun 1949. Awalnya tank ringan ini dirancang bersama dengan Zh. Kotin dari Pabrik Kirov dan tes pertama dari kendaraan yang dirancang terbukti berhasil. Tank ringan ini memiliki kinerja keseluruhan yang baik dan sistem desain water jet yang inovatif. Rancangan awal ini kemudian diikuti oleh prototipe terakhir nya dibangun di Pabrik Kirov pada tahun 1950, dan setelah uji coba kedua, kendaraan tersebut diadopsi pada tanggal 6 Agustus 1951, sebagai tank PT-76. Tank ini dikenal dalam bahasa Rusia sebagai Плавающий Танк, Plavayushchiy Tank (secara harfiah berarti “tank apung”). Pada tahun 1964 Amerika Serikat berhasil memperoleh PT-76 dengan cara yang tidak mereka ungkapkan. Tank tersebut kemudian dievaluasi oleh Tank-Automotive Center pada bulan Februari, dan dianggap lebih inferior dari tank-tank Amerika, sebuah kesimpulan yang nantinya terbukti prematur setelah melihat karir PT-76 di medan tempur.

Tank Amfibi Ringan Vickers-Carden-Loyd A4E11 di Hindia Belanda, 1930-an. Tank serupa, kemudian diadaptasi oleh Soviet untuk menjadi basis tank ringan berkemampuan amfibi milik mereka. (Sumber: https://id.pinterest.com/)
Tank T-37TU Command Tank milik Soviet. (Sumber: https://hobbymodels.com/)

DESAIN PT-76 

Desain PT-76 sangat sederhana, seolah-olah seperti desain tank ringan T-40 yang diperbesar. Dengan posisi pengemudi ditempatkan di depan, kompartemen tempur di tengah dan mesin di belakang. Komandan tank ditempatkan di kiri dan loader meriam ditempatkan di sisi kanan meriam utama. Komandan tank selain bertugas untuk menembakkan meriam juga merangkap bertindak sebagai petugas radio, sehingga hal ini mengurangi kemampuan pengamatannya. Bagian atas turret dilengkapi dengan palka ganda berbentuk oval yang besar. Pengemudi duduk di bagian tengah depan kendaraan, dengan memiliki satu palka, dengan dilengkapi tiga blok penglihatan dan periskop yang terletak di bagian atas lereng glacis di bawah meriam utama. Di bawahnya terdapat pintu darurat. Periskop pengemudi utama dilengkapi dengan perangkat penglihatan malam tipe TVN-28 yang memberinya pengamatan yang baik pada jarak 60m. Turret itu berbentuk seperti kerucut terpotong, dengan cupola komandan yang dapat diputar dengan tangan di sisi kiri palka ganda utama. Yang terakhir bisa terbuka secara frontal (bertindak juga sebagai perisai proteksi) atau ke belakang. Cupola komandan memiliki tiga blok pengamatan tipe TPKU-2B dan dua periskop TNP. Di bagian komandan, juga terdapat pembidik optik dengan perbesaran 4X yang disandingkan dengan meriam utama, dan perangkat pembidik / pengintai TShK-66. Sementara itu loader memiliki perangkat observasi tipe MK-4 di palka utamanya.

Tank Ringan Amfibi era Perang Dunia II, T-40, yang menjadi pendahulu PT-76. (Sumber: https://www.super-hobby.com/)

Lambungnya terbuat dari baja tipe cold rolled welded steel, yang seluruhnya kedap air. Lapisan baja pada turret adalah setebal 20 mm dengan kemiringan 35 ° di depan, setebal 16 mm di samping, 11 mm di belakang dan 8 mm di bagian atas. Sementara itu lapisan baja pada lambung adalah sekitar 10/13 mm dengan sudut 80 ° pada bidang miring glacis depannya, pada bagian sisi 14 mm, belakang setebal 7 mm dan bagian dasar 5 mm. Lapisan baja tipis ini hanya efektif menghadapi tembakan senjata ringan seperti senapan, tapi tidak mempan terhadap senapan mesin kaliber 12,7 mm atau pecahan peluru artileri berat. Peralatan komunikasi didalam tank termasuk perangkat interkom, kompas gyro, radio tipe 10-RT-26E dengan antena yang dapat diperpanjang, serta dua lampu depan di bagian depan lambung dan lampu sorot turret di sebelah kanan. Kurangnya perangkat NBC pada PT-76 menjadi problem dibandingkan dengan kendaraan Soviet lainnya, tetapi kekurangan ini diatasi dengan hadirnya PT-76B. Mesin utama 6 silinder, 4-stroke water-cooled yang digunakan pada PT-76 adalah mesin diesel yang diperoleh dengan memodifikasi mesin V12 standar dari seri tank T-54/55. Modifikasi ini menghasilkan mesin berkekuatan 240 hp (179 kW) pada kecepatan 1.800 rpm, dengan sistem pendingin dan pemanas awal. Kemampuan lintas medan tank ini biasa-biasa saja (bagian lambung nantinya akan ditinggikan nantinya pada versi produksi lanjutan), tetapi setidaknya dapat mendaki pada kemiringan 52 ° melintasi rintangan vertikal setinggi 1,1 m dan parit selebar 2,8 m. Sistem transmisi manualnya memiliki 5 pilihan kecepatan (5 maju/ 1 mundur) yang berasal dari desain tank T-34 / 85. Pada bagian kemudi dilengkapi dengan kopling samping yang memungkinkan tank untuk melakukan belokan tajam dan dilengkapi juga dengan sebuah rem tangan. Mesin disuplai oleh tangki bahan bakar biasa tetapi empat tangki tambahan (dua tipe flat dan dua drum) dapat dipasang di bagian belakang, atas, dan di pelat belakang. Dengan tangki tambahan ini mampu meningkatkan jangkauan PT-76 dari 370–400 km menjadi 480–510 km. Wheeltrain kendaraan terdiri dari enam roda besar yang dilapisi karet dengan jarak yang sama yang dipadukan pada lengan torsi tunggal, sproket penggerak di belakang dan idler di depan, tanpa roller back. Kendaraan dengan bobot seberat 14,6 ton ini juga memiliki mobilitas segala medan yang baik di darat berkat penggunaan suspensi model Christie (desain asal penemu Amerika J. Walter Christie yang telah ada sejak era sebelum perang dunia II dan digunakan juga pada Tank T-34 Soviet yang terkenal) dan peredam kejut hidraulik, meskipun PT-76 tidak termasuk gesit, namun tank ini memiliki kecepatan maksimum hingga 27 mil per jam (43,45 km/jam), cukup standar untuk tank keluaran tahun 1950-an).

Desain PT-76 dibuat simple, yakni sebagai tank ringan yang bisa mengapung di air dan dipersenjatai dengan persenjataan yang cukup kuat di masanya. (Sumber: https://www.pinterest.co.kr/)
Konsep Suspensi Model Christie yang turur digunakan oleh PT-76 sehingga memiliki mobilitas segala medan yang baik di darat. (Sumber: https://id.pinterest.com/)

Dalam mode amfibi, daya dorong mesin dapat diarahkan ke dua water jet di bagian belakang, setelah menyalakan dua pompa listrik, dan mengangkat trim vane yang biasanya ditempatkan di bagian haluan tetapi juga bisa berfungsi sebagai lapisan armor tambahan. Dikombinasikan dengan bentuk haluan bersudut tinggi, PT-76 mampu berenang dengan kecepatan 6 mil/jam (9,6 km/jam) seperti kapal pendarat cepat. Saluran masuk tambahan water jet ditempatkan di atas roda terakhir di bagian belakang lambung, yang memungkinkan kontrol yang lebih baik di dalam air, atau bahkan saat bergerak mundur, dengan dikombinasi perangkat water jet utama. Sebuah peningkatan besar dibandingkan model sebelumnya dengan menggunakan poros dan kemudi, yang dirancang oleh N. Konowalow, sistem ini juga diadopsi kemudian oleh kendaraan lapis baja angkut personel amfibi BTR-50. Namun karena daya apung membutuhkan permukaan yang besar dan ringan, selanjutnya, body PT-76 menjadi luar biasa besar untuk sebuah tank ringan, terutama dengan proteksi semacam itu. Persenjataan utama dari PT-76, yang diperbaiki selama masa produksi, adalah meriam standar berulir tipe D56T kaliber 76,2 mm. Dengan panjang kaliber 42, meriam ini praktis memiliki jangkauan hingga 1500 m dan kecepatan tembak 6-8 peluru per menit. Meriam ini memiliki depresi -4 dan +30 derajat dan bisa menembak saat berenang, sehingga mampu menambah firepower pasukan pendaratan amfibi. Terdapat 40 butir peluru yang bisa dibawa yang terdiri dari campuran tipe OF-350 Frag-HE, AP-T dan BK-350M HEAT. Yang terakhir memiliki karakteristik yang lebih baik dan dapat menembus lapisan baja setebal 280 mm hingga jarak 1000 m, dengan jangkauan optimalnya 650 m, dengan munisi semacam ini, PT-76 dapat menjadi ancaman bagi tank yang lebih berat di eranya, meski pada jarak yang lebih pendek. Tipikal amunisi yang dibawa oleh PT-76 dalam penugasan biasanya terdiri dari 24 x OF-350 Frag-HE, 4 x AP-T, 4 x API-T dan 8 x BK-350M HEAT (dengan peluru AP-T diganti dengan HVAP jika tersedia). Meriam dipasang di turret berbentuk kerucut terpotong berbentuk piringan oval dengan sisi datar dan miring yang dipasang di atas roda kedua, ketiga, dan keempat. Model awal PT-76 tidak memiliki sistem stabilisasi senjata sama sekali, sedangkan dua versi yang lebih baru memiliki 1 sumbu, kemudian meningkat menjadi 2 sumbu pada PT-76B. Persenjataan sekunder pada PT-76 yakni senapan mesin kaliber 7,62 mm SGMT memiliki jangkauan hingga 1000 m, yang berkurang menjadi 500 di siang hari saat bergerak dan kurang dari 600 di malam hari. Jangkauan maksimum senapan ini adalah 1.500 meter. Senapan mesin ini ditembakkan dengan semburan pendek 2 hingga 10 peluru, pada kecepatan 250 peluru per menit dengan membawa oleh 1000 peluru, termasuk peluru pelacak. Pada tahun 1967 senapan ini diganti dengan tipe PKT yang berkaliber sama.

Untuk ukuran tank ringan di masanya kanon D56T kaliber 76 mm milik PT-76 dinilai cukup mumpuni untuk menghadapi tank-tank yang lebih berat dari PT-76. Akan tetapi dengan berkembangnya kaliber meriam tank, persenjataan PT-76 dinilai tidak lagi cukup tangguh menghadapi tantangan di era modern. (Sumber: https://www.super-hobby.com/)

PRODUKSI & MODIFIKASI

Produksi PT-76 dimulai pada tahun 1953 di Stalingrad Tractor Factory (STZ). Model pertama memiliki multi-slotted muzzle brake, tidak ada bore evacuator, dan tidak ada ekstraktor asap hasil penembakan meriam. Pada tahun 1957, meriam utama D-56T versi awal digantikan oleh D-56TrM dengan double-baffle muzzle brake, fume dan bore extractor. Ketinggian lambung tank kemudian dinaikkan 13 cm untuk meningkatkan kinerja lintas medan dan memiliki perangkat pengamatan dan komunikasi yang benar-benar baru, serta dilengkapi dengan perangkat penglihatan malam untuk pengemudinya. Kemudian diadopsi juga sistem stabilisasi meriam 1 sumbu dan sistem pembuat asap termo TDA. Oleh karena itu tank-tank seri sebelumnya diretrofit kembali dengan perbaikan serupa. Pada tahun 1959, modifikasi ketiga dan terakhir diadopsi sebagai versi PT-76B. Versi ini memiliki perangkat perlindungan CRBN lengkap (R singkatan dari radiologis) yang disebut PAZ (protivo-atomnaya zashchita), perangkat penglihatan tipe TShK-2-66 yang lebih baik, sistem ventilasi filtrasi, peralatan listrik dan observasi yang lebih baik, dan STP-2P “Zarya”, yakni sistem stabilisasi 2 sumbu yang dipadukan dengan meriam D-56TS yang telah ditingkatkan kemampuannya. Dengan peningkatan ini, PT-76 sekarang bisa juga menembakkan peluru AP (anti personel) berkaliber rendah pada jarak 2000 m. PT-76B juga memiliki mesin diesel baru, V-6B 6-silinder segaris berpendingin air yang meningkatkan kekuatan mesin dibanding versi sebelumnya dengan daya total 263 hp pada kecepatan 1800 rpm dan tangki berkapasitas 400L baru dengan desain kompartment dan perlindungan yang diperbaiki. Versi terakhir ini tetap berproduksi hingga tahun 1967 ketika sekitar 12.000 kendaraan telah dibuat. Menjelang runtuhnya tembok Berlin dan Uni Soviet, PT-76 yang masih beroperasi diretrofit, dalam dua tipe, yakni:

PT-76B, versi perbaikan dari varian awal PT-76. (Sumber: https://www.super-hobby.co.uk/)

PT-76A 

Tipe ini memiliki mesin diesel V-6M baru yang mendongkrak powernya hingga 300 hp (224 kW), dengan kecepatan gerak dan kemampuan berenang yang lebih baik, serta rasio power-to-weight sebesar 19,5 hp / t. 

PT-76 milik NVA dalam Pertempuran Ben Het tahun 1969. (Sumber: https://tanks-encyclopedia.com/)

PT-76E 

Modernisasi habis-habisan terbaru ini mencakup penggantian turret dengan tipe AU-220M yang baru, persenjataan autocannon kaliber 57 mm dengan peningkatan rpm (kecepatan tembak), jangkauan (mampu menaklukkan lapisan baja 100 mm pada jarak 1120 m), dilengkapi dengan peluru pelacak splinter dan pelacak lapis baja, dan digabungkan dengan pelacak AA (Anti Pesawat) dengan ketinggian jangkau hingga 6 km. Lambungnya didesain ulang dengan memasang mesin diesel berpendingin air injeksi airless-injection UTD-20 V6 4-tak, dengan kapasitas 15,8 liter dan punya kekuatan hingga 300 hp (224 kW) pada kecepatan 2.600 rpm ditambah dengan penambahan transmisi seperti yang digunakan pada BMP-1. Mesin ini bisa diganti dengan tipe UTD-23 atau V-6BF sebagai opsi untuk pasar ekspor. 

PT-76E dengan kanon otomatis kaliber 57 mm. (Sumber: https://live.warthunder.com/)

VARIAN-VARIAN

Prototipe 

PT-71 merupakan prototype yang dipasangi peluru kendali 9M14 “Malyutka” AT (NATO AT-3 Sagger) tetapi hanya mencapai tahap prototipe. Sementara itu, PT-76M adalah kendaraan amfibi yang dikembangkan untuk marinir tetapi akhirnya tidak diadopsi. Ada juga PT-85 yang dipersenjatai dengan meriam kaliber 85 mm tipe D-58 (dua prototipe dibuat), dan PT-90, yang diuji menggunakan meriam 90 mm tipe D-62. PT-76 yang digunakan sebagai IFV juga diuji seperti Ob’yekt 911 (kendaraan beroda) dan Ob’yekt 914 dengan persenjataan dua MG PKT ekstra di lambung. Yang terakhir diturunkan sebagai Object 765, sebagai perangkat uji prototipe untuk seri kendaraan tempur BMP-1. 

Prototype PT-76 yang dipasangi peluru kendali 9M14 “Malyutka” AT (NATO AT-3 Sagger). Versi ini tidak pernah diproduksi. (Sumber: https://forum.warthunder.com/)

PT-76A 

Ini adalah subvarian untuk PT-76 dan PT-76B yang dipasangi senapan mesin berat DShK 1938/46 kaliber 12,7 mm pada turret yang dapat diputar. 

PT-76K 

Merupakan versi komando yang dilengkapi dengan antena jarak jauh ekstra dan generator listrik tambahan yang dipasang di dek belakang. 

PT-85 

Varian yang dibuat dalam jumlah sedikit ini memiliki turret cor baru dan meriam kaliber 85 mm tipe D-58, dan tampaknya turut digunakan selama invasi ke Cekoslovakia tahun 1968.

PT-85 dengan meriam D-85 kaliber 85 mm. (Sumber: https://aw.my.games/)

PT-76RKh 

Varian amfibi lengkap yang dilindungi perangkat NBC dengan kubah kupola dan bendera penanda di bagian belakang.

Versi lokal lain 

Sebuah PT-76M dikembangkan di Belarus oleh Minotor-Service di Minsk. Versi ini memiliki mesin UTD-20 baru yang memiliki kekuatan 300 hp (224 kW), dengan kemudi dan rem baru. Sementara itu Type 60 di China kemudian disempurnakan dan dimodifikasi sebagai Type 63, selain itu ada juga versi komando K1 milik Jerman Timur, PT-76 (M) dan TAPIR (Tank Amphibi Peluncur Incendiary Rocket – “Amphibious Incendiary Rocket Launcher Tank”) dari Indonesia, Type 82 dari Korea Utara, versi Polandia dengan modifikasi lokal, dan versi peningkatan PT-71 (beda dengan PT-71 Soviet) dari Israel. Yang terakhir dilakukan oleh Nimda Group Ltd. dengan menggunakan PT-76 yang dirampas dari lawan-lawannya. Perbaikan yang dilakukan termasuk pemasangan meriam Cockerill kaliber 90 mm dengan sistem kontrol penembakan baru, Senapan Mesin baru, pencari jarak laser, perangkat night vision baru dan mesin diesel berkekuatan 300 hp. 

Tank Ringan Amfibi Type 63 buatan China yang dikembangkan dari PT-76. (Sumber: https://www.radarmiliter.com/)

Derivatif lain

BTR-50P APC amfibi dengan roda rantai ini (Dibuat dari tahun 1954) didasarkan pada sasis PT-76. 

BTR-50PK, APC Amfibi yang dikembangkan dari PT-76. (Sumber: https://www.super-hobby.com/)

ASU-85 Airborne assault gun (Dibuat dari tahun 1958) merupakan versi Meriam serbu berpenggerak mandiri untuk pasukan payung dengan menggunakan banyak komponen PT-76. 

ASU-85, meriam serbu untuk pasukan airborne yang banyak menggunakan komponen PT-76. (Sumber: https://www.aliexpress.com/)

ZSU-23-4 SPAAG kendaraan lapis baja pertahanan udara yang terkenal ini (Dibuat dari tahun 1962, 6500 unit sempat diproduksi) didasarkan pada sasis turunan GM-575. 

ZSU-23-4 Shilka. (Sumber: https://www.goodfon.com/)

SPU 2P2 merupakan kendaraan peluncur untuk roket taktis 2K1 “Mars” (FROG-2) yang dibantu oleh transloader tipe TZM 2P3, keduanya memiliki basis yang sama. 

1S91 merupakah Kendaraan pemandu untuk sistem rudal SAM 2K12 Kub (kode NATO SA-6 Gainful). 

Kendaraan Radar 1S91, pendukung Sistem Rudal SAM SA-6 gainful. (Sumber: https://www.militaryimages.net/)

DINAS OPERASIONAL PT-76 

Dalam kariernya yang panjang, PT-76 telah digunakan di berbagai belahan dunia, termasuk dalam konflik-konflik militer skala besar seperti di Vietnam, india, dan Timur Tengah berikut adalah kiprah tempur PT-76 di berbagai negara.

Soviet/Russia

Secara taktis, PT-76 ditugaskan dengan sub-unit tank pengintai dan divisi mekanis dari Tentara Merah dan marinir Soviet. Di sana PT-76 digunakan untuk pendaratan, menyeberangi sungai besar untuk operasi pengalihan atau daerah berawa yang tidak bisa dilalui kendaraan tempur biasa. PT-76 Soviet turut berpartisipasi dalam invasi ke Cekoslovakia pada tahun 1968. Karena dianggap sudah hampir ketinggalan jaman pada tahun 1970-an PT-76 secara bertahap digantikan oleh BMP-1 dan BRM-1. Meskipun telah digantikan di garis depan oleh BMP-1, namun PT-76 masih dapat ditemukan di beberapa kompi pengintai, batalyon pada beberapa resimen dan divisi senapan serta tank, serta di unit infanteri angkatan laut. Selain karena peran pengintaiannya, PT-76 juga digunakan untuk melintasi rintangan air pada gelombang pertama serangan dan sebagai pendukung tembakan artileri selama pembentukan sebuah tempat berpijak di pantai. Kelemahan utama BMP-1 dan BRM-1 jika dibandingkan dengan PT-76 adalah pada persenjataan utama yang kurang kuat dibanding pendahulunya. Namun, BRM-1 dilengkapi dengan peralatan pengintaian yang lebih modern. Selain itu, kedua kendaraan tersebut memiliki pelindung di bagian depan yang lebih kuat dan fitur mobilitas yang lebih superior, serta BMP-1 dapat membawa hingga 8 tentara berperalatan lengkap di dalamnya. Disamping itu dalam serangan langsung, lambung PT-76 yang besar dan berongga dengan lapisan baja tipis tentu dapat menjadi sasaran empuk. Secara bertahap bertahap di dinas militer Soviet, PT-76 dipensiunkan, dijual, dan sisanya dimodernisasi, hanya empat brigade yang masih sesuai dengan versi pabrikan asli yang masih beroperasi hingga akhir perang Chechnya. PT-76 juga masih digunakan dalam perang Chechnya ke-2 tahun 1999. Pasukan infanteri angkatan laut Rusia baru mempensiunkan 30 unit PT-76E yang telah diupgrade pada tahun 2015. Tipe ini memiliki meriam otomatis 57 milimeter dengan fungsi ganda, mesin baru, dan sistem pembidik modern. 

Seorang Prajurit infanteri angkatan laut Soviet berdiri dengan lengan bertumpu pada tank ringan amfibi PT-76 pada Agustus 1989. Perhatikan palka ganda berbentuk oval besar (terbuka), lampu sorot di sisi kanan atas turret dan antena radio pada sisi kiri turret. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Vietnam

Dari tahun 1959 hingga 1975, PT-76 yang terhitung masih baru ini berpartisipasi dalam Perang Vietnam. Pasukan Vietnam Utara awalnya memperoleh 150 unit (dipesan pada tahun 1958 dan dikirim hingga tahun 1960) dan 100 lagi didapat pada tahun 1971-72. Dalam paruh pertama Perang Vietnam, Vietnam Utara membangun armada tanknya yang sederhana tanpa mengerahkannya ke medan perang. Namun, akhirnya mereka mengerahkan juga “kendaraan lapis bajanya” untuk bertempur selama Serangan Tet tahun 1968, ketika pasukan Angkatan Darat Vietnam Utara mendukung gerilyawan Viet Cong dalam serangan habis-habisan ke kota-kota besar dan pangkalan militer di seluruh Vietnam Selatan. Hanoi selama perang memasok kebutuhan perang gerilyawan Viet Cong, salah satunya melalui jalur Ho Chi Minh Trail, yang melewati wilayah Laos. Untuk memantau aktivitas “ilegal” Hanoi ini, di jalan setapak tersebut, pemerintah Laos mengirim 700 personel dari Batalyon Gajah BV-33 untuk menjaga pos terdepan di kota Ban Houei Sane. Pos terdepan ini juga melindungi lebih dari 2.000 pengungsi. Pada tanggal 23 Januari 1968, seminggu sebelum Serangan Tet dimulai, Resimen ke-24 NVA menyerang kamp Ban Houei Sane pada malam hari, dengan didukung oleh sekompi tank PT-76 dari Batalyon Lapis Baja ke-198. Mereka sebelumnya telah menempuh perjalanan sejauh 800 mil menyusuri jalur Ho Chi Minh untuk bergabung dalam pertempuran. Hal ini kemudian akan menjadi aksi tank pertama NVA. Keterlibatan pertama PT-76 Vietnam Utara tidak sepenuhnya berjalan mulus. Tank-tank PT-76 macet beberapa kali saat melintasi rawa-rawa, menyebabkan infanteri – yang tidak terbiasa bertempur bersama tank kawan – untuk menyerang Batalyon Gajah terlebih dahulu. Tapi begitu PT-76 memasuki pertempuran, pasukan Laos mundur dalam keadaan kacau. Pasukan Vietnam Utara menyerbu kamp selama tiga jam sebelum bala bantuan pasukan Laos dapat tiba, dan tentara serta pengungsi yang selamat melarikan diri ke timur, akhirnya menemukan tempat berlindung di kamp Pasukan Khusus Lang Vei di Vietnam Selatan. 

Pasukan Vietnam Utara mulai menerima tank ringan PT-76 pertama kali pada akhir tahun 1950-an. (Sumber: https://id.pinterest.com/)

Namun, kemalangan para penyintas ini ternyata baru saja dimulai. Dua minggu kemudian, menjelang tengah malam pada tanggal 7 Februari, satu batalion pasukan NVA yang dipelopori oleh 11 hingga 13 tank PT-76 dari pasukan ke-198 menyerang Lang Vei. Lima ratus milisi sipil dan petempur Montagnard mempertahankan garis perimeter kamp, dengan didukung oleh 350 tentara Batalyon Gajah yang masih hidup dan 24 personel Baret Hijau Angkatan Darat AS yang dipimpin oleh Kapten Frank Willoughby. Meskipun telah ada laporan intelijen yang memperingatkan keberadaan tank NVA di daerah tersebut, pasukan AS dikejutkan oleh serangan itu. Walau demikian, salah satu dari dua senjata recoilless M40 kaliber 106 milimeter berhasil melumpuhkan tiga kendaraan PT-76 yang berlapis baja tipis itu, salah satunya ditinggalkan oleh seorang awak tank wanita NVA. Namun, hal ini tidak menghalangi sisa awak tank Vietnam Utara lainnya, saat mereka menghancurkan pagar, ranjau anti-personil dan kawat berduri yang mengelilingi kamp, membuka jalan untuk masuknya pasukan infanteri. Senjata kaliber 76 milimeter dari tank tersebut menghancurkan senjata recoilless pihak yang bertahan, dan mulai meledakkan satu demi satu bunker lawan yang telah diperkuat. 

Pasukan Baret Hijau Amerika dikejutkan oleh serangan NVA yang didukung oleh tank-tank PT-76. Mereka hanya dapat melawan dengan roket anti tank M72 LAW dan senjata Recoiless kaliber 106 mm. (Sumber: https://www.pinterest.ca/)

Pasukan Komando AS kemudian mulai menembakkan roket anti-tank sekali pakai M72 LAW kaliber 66 milimeter dari jarak dekat. Senjata-senjata itu seharusnya dengan mudah menembus lapisan baja tank ringan itu, tetapi malah berulang kali gagal menembak, meleset, atau gagal memberikan efek apa pun saat mengenai. Satu tim dilaporkan menembak sebuah tank yang sama dengan sembilan roket tanpa hasil berarti. Tim pemburu tank lainnya akhirnya berhasil membakar sebuah PT-76 dengan serangan langsung ke lapisan baja nya yang ada di bagian belakang – menjadi tank yang keempat dan terakhir yang hancur dalam pertempuran. Pada pukul 2:30 pagi, tank-tank ringan PT-76 NVA berkeliaran bebas di sekitar tengah kamp, meledakkan meriam dan senapan mesin pasukan Amerika dan mengepung para perwira Amerika yang terperangkap di bunker komando. Baik serangan artileri dan udara, maupun serangan balik oleh pasukan Laos yang dipimpin oleh dua perwira Pasukan Khusus Amerika, tidak dapat berhasil mengusir para penyerang. Sementara itu, Pangkalan Marinir terdekat di Khe Sanh yang seharusnya mendukung kamp dalam keadaan darurat, menolak untuk mengirim bala bantuan karena pengepungan yang sedang berlangsung di Khe Sanh sendiri. Pasukan Vietnam Selatan, Amerika dan Laos yang masih hidup kemudian melarikan diri keesokan sorenya setelah sisa kamp jatuh ke tangan NVA, pertempuran ini menyebabkan lebih dari 300 orang tewas di pihak mereka. 

PT-76 yang ringan menemui lawan berat di Vietnam dalam wujud tank Medium M-48 Patton yang lebih kuat dari sisi proteksi maupun persenjataan. (Sumber: https://www.pinterest.ca/)

Dalam pertempuran Lang Vei NVA telah secara efektif menggunakan PT-76 untuk mengalahkan target yang tidak memiliki senjata anti-tank yang memadai. Namun, tank mereka ini akhirnya menghadapi lawan yang menakutkan dalam wujud tank M-48 Patton Amerika yang beratnya tiga kali lipat dan memiliki senjata kaliber 90 milimeter dan lapisan baja turretnya mencapai 175 milimeter. Bentrokan pertama antara kedua kendaraan itu jelas tidak berlangsung dengan cara biasa. Tiga bulan setelah jatuhnya Lang Vei, sebuah pesawat observasi melihat kru sebuah PT-76 sedang mencuci kendaraan mereka di Sungai Ben Hai. Pesawat itu kemudian mengirimkan koordinat tank musuh lewat radio ke tank M48 dari Batalyon Lapis Baja ke-3 Marinir AS di Con Thien, yang kemudian mengangkat laras meriamnya tinggi-tinggi ke udara untuk menyerang dengan metode tembakan tidak langsung. Tank Patton memang sering berfungsi sebagai artileri ad-hoc di Vietnam, tetapi jarang dalam konflik apa pun sebuah tank menargetkan tank lain dengan cara seperti ini. Peluru Peledak tinggi ketiga mendarat tepat di tank PT-76 NVA, menyebabkan kru nya meninggalkan kendaraan, yang kemudian terkena serangan udara dari pesawat-pesawat F-4 Phantom. 

PT-76 NVA yang rusak setelah pertempuran Ben Het tahun 1969. (Sumber: https://www.wargamesillustrated.net/)

Tahun berikutnya pada tanggal 3 Maret 1969, Tank-tank PT-76 NVA mempelopori serangan malam dari Resimen ke-66 di kamp Pasukan Khusus Amerika di Ben Het, yang memiliki baterai senjata self-propelled M107 kaliber 175-milimeter yang berukuran sangat besar. Satu peleton tank yang terdiri dari tiga tank Patton dari Kompi B, Batalyon 1, Resimen Lapis Baja ke-69 turut menjaga kamp dan bercokol di belakang karung pasir di perimeter bersama dengan dua kendaraan anti-pesawat M42 Duster. Mendengar adanya suara tank mendekat di tengah larut malam, pemimpin tank M48 menyalakan lampu sorot nya yang berkekuatan setara satu juta lilin. Tiba-tiba, salah satu dari empat tank PT-76 yang mendekati kamp meledakkan ranjau anti-personel, memperlihatkan tank-tank mereka berbentuk siluet akibat cahaya ledakan. Pertempuran malam segera meletus ketika tank Amerika dan Vietnam saling bertukar peluru yang mampu menembus lapis baja. Satu tank Patton menghancurkan sebuah PT-76 pada tembakan kedua. Sementara itu, komandan kompi Kapten John Stovall sedang bertengger di turret tank komando, dengan diterangi oleh lampu sorot Xenon, ketika peluru kaliber 76 milimeter menghantam kendaraannya, meledakkan Stovall dan komandan tank dari turret dan menewaskan dua awaknya. Awak tank bantuan segera menggantikan mereka dan membawa tank Patton itu kembali beraksi. Pangkalan militer Amerika di Ben Het kemudian meminta serangan mortir kaliber 81 milimeter dan pesawat gunship AC-47, sedangkan tank-tank M48 menghabiskan semua peluru anti-tank mereka dan beralih ke tipe peluru high explosive. Akhirnya, peleton kedua Patton berhasil menyelamatkan pangkalan itu, dan menyebabkan NVA mundur. Keesokan paginya, pasukan AS menemukan dua tank PT-76 yang hancur dan sebuah kendaraan lapis baja angkut personel BTR-50PK di sekeliling kamp. Pertempuran ini menandai satu-satunya pertempuran antara tank AS dan Vietnam Utara selama Perang Vietnam.

Huey dengan sistem senjata XM-26 yang membawa rudal anti tank TOW menjadi penjagal PT-76 di babakan akhir perang Vietnam. (Sumber: https://trendingnewscyberwarfare.blogspot.com/)
Tank Type-63 buatan China milik NVA mendobrak gerbang istana presiden Vietnam Selatan di Saigon, April 1975. (Sumber: https://iconicphotos.wordpress.com/)

Pangkalan Ben Het kemudian akan didatangi kembali oleh tank-tank amfibi Vietnam Utara tiga tahun kemudian pada bulan Juni 1972 – tetapi kali ini pasukan Amerika akan melakukan balas dendam yang mematikan dan bersejarah. Hanya sebulan sebelumnya, unit pengujian operasional helikopter UH-1B yang dilengkapi dengan rudal anti-tank BGM-71 TOW yang baru telah tiba di Vietnam. Mereka kemudian hadir untuk membantu kamp yang diserang, di mana mereka menembakkan rudal berpemandu kawat dari peluncur XM26 tiga tabung mereka, menghancurkan tiga buah PT-76 dan mengusir sisanya. Huey pemburu tank menghancurkan lima PT-76 lagi di sekitar Kontum pada minggu berikutnya. Rudal TOW versi awal ini dapat menembus lapisan baja 430 milimeter, sehingga baja 25 milimeter pada bagian depan turret PT-76 tidak menawarkan banyak perlindungan terhadap serangan rudal ini. Dengan demikian, PT-76 mendapat catatan sebagai salah satu tank pertama yang dihancurkan oleh rudal anti-tank yang ditembakkan helikopter – meskipun, ironisnya, persenjataan yang jauh lebih ringan kemungkinan sudah cukup untuk melumpuhkan satu tank ringan semacam ini. Saat AS mundur dari Vietnam, awak tank Vietnam Utara lebih banyak menggunakan tank T-54 yang lebih berat, seperti Tipe 59 dan tank M-41 Walker Bulldog yang dirampas dari pasukan ARVN bersama dengan beberapa PT-76 dalam pertempuran sengit seperti Loc Ninh dan An Loc pada tahun 1972. Unit lapis baja ini juga mempelopori ofensif akhir Hanoi selama perang yang menyebabkan jatuhnya Saigon pada tahun 1975. Hingga hari ini, militer Vietnam masih menyimpan ratusan PT-76 yang ditingkatkan kemampuannya, serta Type 63 buatan China dalam dinas aktifnya.

India

PT-76 juga sebagian besar digunakan dalam Perang Indo-Pakistan tahun 1965 dan 1971. Kavaleri Ringan ke-7 India adalah unit Angkatan Darat India pertama yang menerima PT-76, pada akhir Agustus 1965. Kavaleri ke-7 saat itu telah mempensiunkan tank ringan Stuart M-3 buatan Amerika yang sudah tua. Pada awal September, pelatihan konversi untuk kru telah dimulai, dengan diawasi oleh tiga perwira resimen yang telah belajar di Uni Soviet. Pada hari saat resimen itu akan mensetting meriam tank barunya, mereka diperintahkan untuk menghadapi tentara-tentara Pakistan yang melintasi perbatasan. Tanpa pengenalan yang cukup dan tanpa senjata utama yang mampu membidik dengan baik, crew tank India pergi berperang. Pengenalan tank baru secara tiba-tiba juga menyebabkan kebingungan yang cukup besar di antara unit-unit India lainnya yang bahkan belum pernah melihat PT-76 dan mengira mereka sebagai tank Patton. Saat Skuadron ‘C’ bergerak maju di Chattanwala pada tanggal 17 September, tujuh PT-76 (termasuk tank komandan skuadron, Mayor Chopra) terjebak di tanah yang kokoh dan tampak sukar ditembus. Proses recovery memakan waktu seharian dan tank Chopra terpaksa harus ditinggalkan. Sebuah patroli kemudian menghancurkan tank Chopra dengan peledak pada pukul 02.00 keesokan harinya. (Satuan Senapan Benggala Timur Pakistan lalu merampas tank yang rusak itu dan menyimpannya sebagai souvenir di pusat pelatihan mereka. Kavaleri ke-7 India merebutnya kembali di Chittagong pada Perang tahun 1971 dan membawanya kembali ke kamp mereka setelah pertempuran. Nantinya, Korps Persenjataan India akan datang untuk mengambilnya, sekarang yang masih tersisa dari tank ini hanyalah plakat kuningan buatan Pakistan yang dirampas, kini benda tersebut dipasang di Mess Perwira Kavaleri ke-7). 

PT-76B India, dari masa perang Indo-Pakistan tahun 1965, seperti yang dipajang di museum perang Barhat. (Sumber: https://tanks-encyclopedia.com/)

Pada tanggal 21 September, Skuadron ‘C’ bertempur dengan pasukan tank Sherman dan sekali lagi dengan tank Patton dekat Thatti Jai-mal Singh, sampai pasukan tank Centurion India datang untuk mengejar pasukan Pakistan. Meskipun saling menembak di jarak 600m, hanya satu Sherman, satu Patton, dan satu PT-76 yang rusak akibat tembakan pada hari itu. Setelah konflik tahun 1965, tentara India menempatkan dua resimen PT-76 dan dua skuadron mobil lapis baja di bawah kendali Korps XXXIII di wilayah Nagaland-Mozoram untuk operasi COIN. Pada tahun 1969, mereka memusatkan ketiga resimen PT-76 di timur (Satuan Kavaleri ke-45, Satuan Kavaleri ke-63, dan Armor ke-69) dan pada minggu pertama Agustus 1970, mereka berada di bawah kendali HQ 3rd Independent Light Armored Brigade yang baru dibentuk. Setelah itu, Kavaleri ke-69 mengoperasikan tank medium T-55 dan PT-76-nya dilimpahkan ke dua skuadron lapis baja lainnya. 

Gerilyawan Mukti Bahini asal Bangladesh. Saat Pakistan Timur (Bangladesh) bergolak tahun 1971, India tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk menyokong gerakan kemerdekaan lokal sekaligus “menghukum” militer Pakistan dalam perang skala penuh. (Sumber: https://www.localguidesconnect.com/)

Pada musim gugur tahun 1971, militer India secara aktif membantu pemberontakan Mukti Bahini di Pakistan Timur (kini Bangladesh) yang mengangkat senjata menyusul penumpasan brutal oleh pemerintahan Pakistan Barat awal Maret tahun itu. Pemerintah India dibawah pimpinan Indira Gandhi memperkirakan bahwa perang skala penuh akan pecah – dan untuk itu mereka membutuhkan cara untuk memberikan dukungan lapis baja bagi pasukannya meskipun secara geografis Delta sungai Gangga menghalangi dukungan ini dapat diberikan secara maksimal. Di Pakistan Timur (Bangladesh), di tiga sisi yang berbatasan dengan negara bagian India terbagi oleh tiga sungai besar, daratannya umumnya berawa dan tidak dapat dilalui dari bulan Mei hingga Oktober. Kondisi ini sangat menguntungkan bagi pihak yang bertahan. Akibatnya, Angkatan Darat India memusatkan dukungan yang dapat mereka berikan pada dua resimen tank PT-76 di daerah tersebut – Resimen Kavaleri ke-45 dan Resimen Lapis Baja ke-69, serta dua skuadron independen, ke-1 dan ke-5. Menghadapi mereka terdapat lima skuadron tank ringan M24 Chaffee Pakistan, yang seluruhnya berjumlah 66, serta tiga peleton PT-76, beberapa di antaranya direbut dari India selama perang tahun 1965. 

Dua tentara India berpose untuk difoto di atas tank ringan M-24 Chafee Angkatan Darat Pakistan yang direbut setelah Pertempuran Boyra pada tanggal 21 November 1971. Dalam menghadapi pasukan India di Pakistan Timur, tentara Pakistan mengandalkan armada tank M-24 buatan Amerika. (Sumber: https://www.sify.com/)

Sebelum konflik bersenjata secara resmi dimulai, Angkatan Darat India pada tanggal 21 November menyusupkan 800 orang dari Batalyon Punjab ke-14 melintasi perbatasan dekat dusun Garibpur untuk mengamankan jalan raya utama menuju Jessore. Empat belas tank PT-76 dari Skuadron C/Resimen Kavaleri ke-45 ikut mendukung gerakan ini. Tentara Pakistan yang menyadari kehadiran pasukan India, kemudian melakukan serangan balik keesokan paginya dengan brigade berkekuatan penuh 2.000 tentara, dengan didukung oleh lusinan tank M24 Chaffee. M24 sendiri adalah tank ringan era Perang Dunia II Amerika yang dipersenjatai dengan meriam kaliber 75 milimeter – sama dengan yang digunakan tank Sherman – dan dilindungi oleh lapisan baja tipis dengan ketebalan tidak melebihi 38 milimeter. Untuk kali ini, PT-76 menghadapi lawan kekuatan lapis baja yang relatif seimbang. Namun, Pasukan Pakistan mengungguli jumlah pasukan India kira-kira tiga banding satu. Meski demikian, elemen kejutan adalah segalanya dalam peperangan, dan crew tank India untungnya telah mengantisipasi serangan itu, dengan memasang kendaraan mereka dalam posisi penyergapan dan menyiapkan senjata anti-tank recoilless. Saat tank-tank Pakistan melewati kabut pagi yang tebal, awak tank India bergegas ke kendaraan mereka di bawah komando Mayor D.S. “Chiefy” Narag. M24 yang mendekat hanya terlihat pada jarak sejauh 30 atau 50 meter. Tank-tank PT-76  India melepaskan tembakan, yang menghancurkan 10 Chaffee selama pertempuran 30 menit yang intens. 

Tentara India berjalan di samping tank PT-76 dalam Perang Indo-Pakistan tahun 1971. (Sumber: https://defenceforumindia.com/)

Tank Pakistan berjuang untuk mencari musuh mereka di tengah kabut. Narag sendiri menghancurkan dua tank sebelum terbunuh oleh semburan tembakan senapan mesin. Tank-tank India kemudian memusnahkan serangan kedua yang dilakukan oleh satu peleton tank M24. Pada saat kabut hilang di sore hari, skuadron tank India menghitung adanya 14 tank Chaffee yang hancur atau ditinggalkan dengan pihak India sendiri kehilangan enam tank amfibi. Sementara itu pasukan Infanteri India yang menyertainya dan senjata recoilless mereka menimbulkan kerugian lebih lanjut dan memukul mundur pasukan Pakistan. Jet-jet tempur F-86 Sabre Pakistan kemudian hadir ke medan pertempuran untuk memberikan dukungan udara. Tapi pesawat tempur Gnat India mencegat armada Sabre Pakistan pada pukul 3:00 sore itu, dan menembak jatuh dua pesawat Pakistan serta merusak yang ketiga. Kemenangan pasukan India yang kalah jumlah di Garibpur kemudian meningkatkan moral pasukan India bahkan sebelum perang diumumkan secara resmi. 

Dalam Perang Indo-Pakistan, pesawat-pesawat tempur F-86 Sabre milik Pakistan kerap membantu pasukan darat mereka yang bertempur melawan tentara India. (Sumber: https://nation.com.pk/)

Pertempuran resmi lalu dimulai dengan sungguh-sungguh setelah Pakistan melakukan serangan pendahuluan yang gagal pada tanggal 3 Desember 1971. Pasukan darat India kemudian menerjang perbatasan Pakistan Timur, dengan dibantu oleh gerilyawan lokal Mukti Bahini. Tentara Pakistan telah bercokol di kota-kota yang mereka bentengi, dipisahkan oleh sungai-sungai besar yang jelas menjadi penghalang besar bagi satuan tank dan senjata berat India. Meskipun demikian, India bermaksud untuk melancarkan kampanye gaya Blitzkrieg dengan serangan cepat untuk memotong dan mengepung benteng-benteng pertahanan Pakistan, dengan mengandalkan helikopter angkut Mi-4 dan tank-tank PT-76 untuk mengangkut pasukan melintasi sungai yang sangat besar. Namun, tidak semua upaya India untuk menggunakan kemampuan amfibi PT-76 berhasil. Tank dari Skuadron ke-5 berulang kali mengalami kemacetan di rawa-rawa dan tertinggal di belakang pasukan infanteri. Ketika mereka mencoba mengarungi Sungai Meghna pada 12 Desember, segel pada lambung tank PT-76 terbukti bocor, memaksa mereka untuk mengambil rute darat sebagai gantinya. Selain itu, kendaraan lapis baja ringan itu juga menderita kerugian akibat senjata recoilless kaliber 106 milimeter milik Pakistan, meski serangan mereka berhasil. 

Meski tidak selalu sesuai rencana, namun pilihan penggunaan tank PT-76 India dalam perang di Pakistan Timur cukup tepat mengingat medannya yang didominasi oleh sungai-sungai dan rawa-rawa. (Sumber: https://medium.com/)

Di tempat lain, tank amfibi India menunjukkan nilainya. Ketika pasukan India tertahan di Gobindganj oleh satu batalyon Pakistan yang diperkuat dengan tank dan artileri, Batalyon ke-63 kemudian melakukan manuver mengapit melintasi 55 kilometer sungai dan medan berawa. Di atas masing-masing tank PT-76 terdapat regu 12 orang dari pasukan Gurkha Nepal yang terkenal karena keterampilan bertarung jarak dekat mereka dengan pisau kukri mereka melengkung. Tidak hanya tim gabungan tank-infanteri ini sukses mengambil alih kota itu dalam serangan mendadak, namun mereka juga melumpuhkan sebuah tank Chaffee dan merebut sebuah baterai howitzer kaliber 105 milimeter, disamping itu sebuah skuadron PT-76 juga memblokir jalan di belakang garis pertahanan musuh, dan menangkap para prajurit Pakistan saat mereka mencoba melarikan diri. Sebelumnya, tank dari Skuadron 1 juga berhasil mengusir satu kompi infanteri Pakistan yang keras kepala dari kota Mian Bazar pada 4 Desember, dengan kehilangan empat kendaraan karena senjata recoilless Pakistan dalam prosesnya. 

Pasukan India berkendara diatas tank PT-76. (Sumber: https://defenceforumindia.com/)

Lima hari kemudian, unit yang sama menyerbu dermaga kota Chandpur, lagi-lagi dengan Gurkha menumpang diatasnya, di mana mereka menemukan tiga kapal bersenjata Pakistan di Sungai Meghna. Tank-tank India kemudian menenggelamkan ketiga kapal tersebut dalam baku tembak yang sengit, dan akhirnya menyelamatkan 180 orang yang selamat dari 540 tentara dan awak di dalam kapal-kapal itu. Dua hari kemudian, tank-tank PT-76 India kembali menemukan kapal bersenjata lain dan menghantamnya dengan 54 peluru kaliber 76 milimeter hingga kandas di daratan. Tank-tank amfibi India kemudian mulai mengangkut pasukan infanteri dan peralatan bolak-balik melintasi sungai yang luas, meskipun mesin mereka kadang-kadang terlalu panas di tengah air, sehingga perlu ditarik oleh kapal-kapal sipil. Tank-tank Pakistan pada akhirnya benar-benar memiliki kesempatan untuk membalas dendam pada Skuadron A/Resimen Kavaleri ke-45 pada 9 Desember saat satuan tank India ini mendekati kota Kushtia. Mayor Sher Ur Rahman dari Pakistan menempatkan dua peleton tank M24 dan sebuah kompi infanteri pendukung dalam posisi penyergapan menghadap jalan di tanggul yang ditinggikan yang dikelilingi oleh tanah terbuka. Enam tank PT-76 India yang menyertai satu batalion infanteri Rajput ke-22 maju ke zona maut yang terbuka itu. Meriam-meriam Pakistan tiba-tiba melepaskan tembakan gencar, meledakkan salah satu tank India di tembakan voli pembuka. Empat dari tank PT-76 bertahan, merusak sebuah tank M24 sebelum dihancurkan satu demi satu, sementara kendaraan terdepan mundur dengan kecepatan tinggi, menebarkan kepanikan pada pasukan infanteri yang menyertainya. Butuh dua hari bagi Angkatan Darat India untuk mengatur serangan penuh ke Kushtia – hanya untuk menemukan bahwa para tentara Pakistan diam-diam telah meninggalkan kota itu. 

Selain menggunakan PT-76, tentara India juga menggunakan tank Centurion yang jauh lebih berat. (Sumber: https://defenceforumindia.com/)

Pasukan Kavaleri ke-45 kemudian segera kembali beraksi, berenang menyusuri Sungai Bhairab untuk merebut tempat penyeberangan kapal feri di Syamganj, yang berhasil menangkap 3.700 pasukan musuh yang melarikan diri. Lambung tank-tank mereka basah lagi ketika Skuadron A menyeberangi Sungai Madhmuti pada malam tanggal 14 Desember dengan pasukan infanteri di atasnya untuk merebut tempat penyeberangan kapal feri di Kumarkhali, dan mendapat 393 tahanan lagi dalam prosesnya. Dua hari kemudian, komandan pasukan Pakistan di Pakistan Timur menyerahkan ibu kota Dacca, yang kemudian melahirkan pembentukan negara baru Bangladesh. Selama perang Angkatan Darat India telah maju dengan kecepatan yang mengejutkan melintasi Delta sungai-sungai Gangga, untuk memperoleh kemenangan dengan didukung oleh PT-76. Tank berlapis baja ringan ini menderita kerugian besar – salah satu sumber mengklaim 30 tank hancur atau rusak – dan tidak selalu terbukti dapat diandalkan. Namun, dengan secara agresif mengapit posisi musuh, memotong pasukan yang mundur, dan bekerja sama erat dengan pasukan infanteri, awak tank India mendapatkan hasil yang mengesankan dengan menggunakan tank berlapis baja tipis milik mereka.

Tank PT-76 India bergerak merebut kota Dacca. (Sumber: https://medium.com/)

PT-76 India biasanya diturunkan dalam kekuatan skuadron (Pakistan biasanya mengerahkan pasukan yang hanya terdiri oleh tiga tank) dan menyerang target pada jarak di bawah jarak 1.000 m. Meskipun hal ini membuat tank-tank India pada jarak sangat dekat dengan senjata Anti Tank Pakistan, ancamannya tidak seperti yang terlihat. Laras meriam M24 Chaffee era Perang Dunia II milik Pakistan sudah usang, sehingga akurasi diatas jarak 1.000 meter sukar didapat. Sementara itu jarak maksimum senjata recoilless kaliber 106mm milik Pakistan terhadap target diam pada saat itu adalah 800m, sedangkan M20 bazooka malah di bawah 300. Sementara meriam kaliber 75mm M24 yang usang masih bisa merepotkan PT-76 India, munisi HEAT recoilless 106mm Pakistan tidak banyak menyebabkan malapetaka, hal ini mungkin karena pemakaian yang buruk oleh tentara Pakistan. Ada juga desas-desus bahwa senjata ini dikirim tanpa dilengkapi manual. Faktor lainnya adalah bahwa perang itu terjadi di era sebelum RPG-7 dipakai secara luas oleh Pakistan. Meski Pakistan saat itu memiliki bazoka M20 kaliber 3,5 inci buatan AS, senjata ini tampaknya belum banyak digunakan. Militer India mengawinkan satuan infanteri dengan satuan tank mereka, yang memungkinkannya melakukan eksploitasi cepat dari setiap celah yang mereka buat di garis pertahanan Pakistan. Dek lebar dari PT-76 dapat dengan mudah menampung skuad berukuran 12 orang, dan bahkan sebuah pleton dapat dijejalkan diatas tank saat melakukan penyeberangan di sungai yang tidak dijaga tentara Pakistan. Hal ini memungkinkan satu kompi infanteri dibawa oleh sebuah skuadron yang terdiri dari sepuluh tank. Penggunaan kemampuan amfibi dari PT-76 yang telah digunakan berulang kali oleh Angkatan Darat India telah memungkinkan mereka melewati rintangan daratan dan perairan yang akan mengganggu unit lapis baja yang dilengkapi T-55. Bahkan pada tahun 1971, teknologi PT-76 sudah mendekati usang tetapi, PT-76 India telah bertindak seperti seperti pepatah “Di negeri orang buta, pria bermata satu adalah raja.”

Timur Tengah

Suriah dan Mesir juga menurunkan PT-76 dalam perang mereka mereka melawan Israel, dimana mereka kehilangan 29 tank PT-76 dalam Perang Enam Hari. Tapi Kairo tetap berinvestasi lebih banyak lagi pada tank-tank amfibi, karena mereka memiliki peran khusus dalam pikiran Jendera-jenderal Mesir untuk digunakan berpartisipasi dalam penyeberangan terusan Suez yang memisahkan perbatasan yang dibentengi oleh Israel dalam serangan pembukaan Perang Yom Kippur. Namun pada kenyataannya, PT-76  hanya memiliki peran terbatas dalam operasi penyeberangan 90.000 tentara Mesir dan hampir 1.000 tank mereka. Setelah pemboman artileri Mesir yang berat, pada pukul 14.00 tanggal 6 Oktober 1973, 20 tank PT-76 dari Brigade Marinir ke-130 berenang menyeberangi Great Bitter Lake, mengawal seribu marinir yang dibawa kendaraan pengangkut personel lapis baja amfibi BTR-50. Karena Tentara Israel tidak membangun benteng atau benteng pasir di pantai seberang danau, jadi marinir Mesir berhasil menyeberang tanpa perlawanan pada pukul 2:40 siang itu dan mulai membersihkan ladang ranjau di dekatnya. Dua jam kemudian, marinir Mesir menangkis serangan balik oleh sebuah kompi lapis baja Israel, melumpuhkan dua tank dan tiga APC dengan bantuan rudal anti-tank Sagger. 

PT-76B Mesir dalam Perang Tahun 1967. (Sumber: https://tanks-encyclopedia.com/)

Brigade mekanis Mesir itu kemudian melanjutkan untuk melakukan serangan ke pangkalan udara Israel Bir El Thamada dan stasiun radar terdekat. Batalyon Marinir ke-603 dari brigade tersebut lalu pergi untuk merebut dan mempertahankan Benteng Putzer, yang kemudian merebut posisi kosong tersebut pada tanggal 9 Oktober dan mempertahankannya hingga akhir perang meskipun terdapat serangan balik berulang kali. Sementara itu, Batalyon ke-602 bergerak ke timur, di mana mereka mengalami nasib buruk karena bertemu dengan sebuah batalion yang terdiri dari 35 tank Patton Israel pada larut malam di Jalan Artileri. Pertarungan malam ini tidak berjalan dengan baik untuk 10 tank PT-76 milik batalion itu yang kalah senjata, dan dibutakan oleh lampu sorot Xenon tank-tank Patton. Tank-tank Israel menghancurkan batalion tersebut, dan memaksa para penyintas mundur kembali ke garis pertahanan Mesir. 

Israel juga turut menggunakan PT-76 yang dirampasnya dari negara-negara Arab (Sumber: http://idf-sp.tripod.com/)

Namun, kisah PT-76 dan Terusan Suez tidak berakhir di sana, karena Pasukan Israel yang memiliki dua lusin PT-76 yang dirampas selama Perang Enam Hari mengoperasikannya kembali dengan mesin dan senapan mesin buatan Amerika. Beberapa dilaporkan digunakan dalam Operasi Raviv pada tahun 1969, sebuah serangan amfibi singkat dengan menggunakan kendaraan lapis baja rampasan terhadap stasiun radar baru Mesir dan situs rudal permukaan-ke-udara di kanal Suez selama Perang Attrisi. Sementara itu pada Perang Yom Kippur, seminggu setelah penyeberangan Mesir, IDF telah menstabilkan garis depan Suez tetapi masih menghadapi sebagian besar Tentara ke-3 Mesir di sisi terusan yang dikuasai Israel. Alih-alih menghadapi pasukan Mesir secara langsung, Jenderal Ariel Sharon menyerang sayapnya, memaksa ujung tombak satuan lapis baja Mesir kembali ke kanal sehingga dia bisa menyeberang ke sisi Mesir. Tujuh tank PT-76 dan delapan kendaraan BTR-50 amfibi milik IDF dari Brigade Lapis Baja ke-14 berenang menyeberangi kanal pada 14 Oktober. Begitu mereka sampai di pantai seberang, mereka mulai menyusuri barisan instalasi pendukung Mesir, meledakkan pangkalan logistik yang dipertahankan dengan ringan, situs radar dan rudal permukaan ke udara Mesir, yang kemudian memungkinkan kekuatan udara Israel untuk bertindak leluasa sepenuhnya. Sebuah laporan CIA bahkan mencatat bahwa tank-tank tersebut menggunakan pengemudi yang bisa berbahasa Arab dan tanda-tanda satuan Mesir untuk menyebarkan kebingungan di belakang garis musuh dengan lebih baik. Kendaraan-kendaran kemudian itu segera bergabung dengan banyak tank Israel yang lebih berat yang menyeberang menggunakan dua rakit bermotor yang berhasil direbut. Aksi ini kemudian berlanjut dengan pengepungan Tentara ke-3 Mesir di minggu-minggu berikutnya, yang mendorong Amerika Serikat untuk memberlakukan gencatan senjata yang mengakhiri perang pada tanggal 25 Oktober. 

Indonesia

Sementara itu lebih dari setengah abad, tentara Indonesia menggunakan PT-76 miliknya untuk menyerang Timor Leste pada tahun 1975, berpatroli melawan separatis Aceh tahun pada tahun 2003, dan meredam kerusuhan di pulau Ambon. Tank amfibi PT-76 secara resmi masuk ke dalam jajaran kesatuan kavaleri APRI sejak tahun 1962. Namun karena berkemampuan amfibi maka sebagian besar tank ini lebih banyak dioperasikan oleh Batalyon Panser Amfibi Korps Komando Angkatan Laut (KKO AL), atau yang sekarang dikenal sebagai Batalyon Kendaraan Pendarat Amfibi Korps Marinir TNI AL. Awalnya ranpur ini dipersiapkan untuk menunjang pelaksanaan operasi kampanye militer terbesar dalam sejarah Indonesia, yaitu Operasi Jayawijaya, yang akan digelar dalam rangka pembebasan Irian Barat. Pada perkembangan selanjutnya, PT-76 secara aktif dilibatkan dalam berbagai kegiatan operasi keamanan di dalam negeri dan operasi militer seperti Dwikora (1964-1965) di perbatasan Indonesia–Malaysia, Operasi Seroja (1975-1979) di Timor Timur. Kiprah paling dikenal PT-76 Indonesia memang di medan tempur Timor-Timur, dimana PT-76 benar-benar menjalankan fungsi utamanya sebagai tank Amfibi, berikut adalah kisah mengenai Tank PT-76 yang dikutip dari tulisan Wartawan Perang Hendro Subroto. Pada tanggal 5 Oktober 1975, aksi pelanggaran wilayah RI yang dilakukan oleh Fretilin baik berupa penyusupan dan perampokan serta serangan mortir telah mengakibatkan penduduk dan pengungsi Timor Timur menjadi ketakutan. Sebuah LCM (Landing Craft Mechanized) yang dipersenjatai dengan mortir tampak berlayar di dekat wilayah Indonesia di lepas pantai Batugade. Kolonel (Inf). Dading Kalbuadi, perwira senior yang bermarkasi di Motaain, memerintahkan tank PT-76 Marinir yang bersiaga di perbatasan untuk melepaskan tembakan guna menghalaui LCM bersenjata itu. Tembakan pertama yang dilepaskan menyebabkan beberapa orang dalam LCM itu melompat ke laut dan LCM membuat gerakan zig zag. Setelah lima tembakan dilepaskan, maka LCM pun menyingkir. Hal ini melegakan hati petugas di perbatasan. Pos peninjau Fretilin yang berada di atas bukit juga ditembak dengan meriam kaliber 76 mm tank amfibi PT-76 dengan peluru HE (High Explosive). Di kemudian hari, ternyata tembakan itu diketahui menewaskan dua orang Fretilin.

PT-76 Indonesia yang dikamuflase. (Sumber: https://www.indomiliter.com/)

Pada tanggal 6 Desember 1975, sore hari, BTP-5/Infantri Brigade -1/Pasrat Marinir turun dari Atabae dan segera masuk ke dalam LST (Landing Ship Tank) KRI Teluk Bone bernomer lambung 511 di pantai Tailcao untuk persiapan pendaratan amfibi di Dili pada pukul 05.00 keesokan harinya. Dalam persiapan pendaratan, tank PT-76 dan pansam BTR-50 perlu dilakukan pemeriksaan teknis. Pelaksanaan pemeriksaan dengan cermat pada mesin tank amfibi PT-76 dan pansam BTR-50 agar layak digunakan dalam penyeberangan laut menuju pantai. Uji kelayakannya juga dilakukan penelitian terhadap kebocoran dengan jalan langsung masuk ke laut. Bila ternyata terdapat kebocoran yang tampak berupa gelembung-gelembung udara, maka untuk mengatasinya ditambal dengan kain kanvas dan aspal. BTP-5/Infantri Marinir hanya mempunyai waktu satu jam untuk melakukan uji coba di Tailaco, sebelum tank dan pansam masuk ke dalam LST KRI Teluk Bone. Pada tanggal 9 Desember 1975 – malam – unsur Brigade-2/Pasrat Marinir di bawah pimpinan Letnan Kolonel (Mar) Suparno naik ke LST KRI Teluk Langsa yang berlabuh di lepas pantai Dili untuk melakukan pendaratan amfibi di laga sekitar 20 Km Timur Baucau. Pelaksanaan operasi ini dipimpin oleh Kolonel Dading Kalbuadi, Asisten Intelijen Kogasgab. Menurut penuturan Djumaryo (wartawan Antara) yang berada di LST KRI Teluk Bone dan dan M Tampubolon yang berada di LST KRI Teluk Kau, waktu yang digunakan untuk menyeberang laut sejak turun dari LST sampai ke pantai lebih dari dua jam. Catatan tangan dari Kolonel Laut (P) R. Kasenda menyebutkan pasukan amfibi turun dari LST pada pukul 03.32 dan mencapai pantai pada pukul 05.52. Berarti waktu yang diperlukan untuk mencapai pantai ialah 2 jam 20 menit. Memperhitungkan kecepatan dan waktu (kecepatan maksimum tank PT-76 dan pansam BTR-50 di laut ialah 11 Km per jam), maka paling sedikit jarak yang ditempuh dari garis awal di laut sampai ke tumpuan pantai atau beach head lebih dari 20 Km.

PT-76 dalam Operasi Seroja. (Sumber: https://www.indomiliter.com/)

Dalam pendaratan amfibi di Laga pada 10 Desember 1975 itu, ternyata Fretilin tidak memiliki artileri pertahanan pantai. Angkatan Darat Portugal hanya mengandalkan kanon untuk dua Detasemen Artileri yang masing-masing terdiri dari tiga pucuk kanon Pak. 40 buatan Jerman model lama. Keenam kanon kaliber 75 mm dengan jarak tembak 8 Km, itu seluruhnya ditempatkan di Dili. Saat paling kritis bagi tank dan pansam dalam melakukan pendaratan amfibi ialah pada waktu mencebur ke laut dari LST. Kekuatan lapis baja amifibi masing-masing dengan tank ringan PT-76 seberat 14 ton dan pansam BTR-50 seberat 14,5 ton akan tenggelam ke dalam laut untuk beberapa detik sesaat meninggalkan LST, kemudian baru muncul ke atas permukaan laut. Meskipun operasi pendaratan amfibi di Laga tidak mendapat perlawanan, tetapi sebuah BTR-50 mengalami kecelakaan di laut yang memakan korban jiwa.

Suasana penembakan di bibir pantai Dili sebelum pendaratan. (Sumber: https://www.indomiliter.com/)
Crew PT-76 dalam Operasi Seroja. (Sumber: https://www.indomiliter.com/)

Setelah 30 tahun masa pengabdian, sudah tentu kondisi PT-76 Indonesia telah jauh menurun, apalagi wilayah operasinya di perairan laut menyebabkan komponen-komponennya mulai aus termakan korosi. Dari segi kemampuan ofensifnya pun, meriam D-56TM kal 76mm boleh dibilang sudah mandul untuk ukuran pertempuran modern. Dengan hulu ledak sebatas HEF (High Explosive, Fragmentation) dan kaliber kecil, tank amfibi yang banyak jasanya ini membutuhkan penyegaran baru. Disamping itu versi angkut pasukan dari PT-76 yaitu BTR-50 pun memerlukan retrofit dan rekondisi karena kondisinya sebelas dua belas dengan PT-76. Proses rekondisi, retrofit, dan rearmament tersebut kemudian dikerjakan oleh perusahaan Israel, Nimda. Israel yang berpengalaman merebut berbagai tipe kendaraan tempur milik Mesir dan Suriah yang dibuat oleh Rusia tentunya memiliki pengalaman ekstensif dalam memodifikasinya dengan suku cadang buatan Barat. 

PT-76 dalam defile HUT ABRI 1978. Terlihat meriam belum mengalami retrofit. (Sumber: https://www.indomiliter.com/)
Situs perusahaan Nimda, mereka masih menawarkan proses upgrade terhadap BTR-2000 dan PT-2000, yang didalamnya menyertakan gambar-gambar proses refurbish terhadap PT-76 dan BTR-2000. Walaupun pada sebagian besar gambar tersebut identitas pemilik BTR-50 dan PT-76 sudah dihapus, tetapi dalam salah satu gambar, masih ada nomor seri pengenal kendaraan milik TNI AL di lambung kanan BTR-50. (Sumber: http://www.nimda.co.il/)

Nimda mengerjakan proyek refurbish PT-76 dan BTR-50 dengan kode PT-2000 dan BTR-2000, dimulai pada tahun 1990an. Kunci utama modifikasi difokuskan pada dua aspek: mobilitas dan kemampuan tempur. Sebagai pengganti mesin diesel 4 silinder V-6 digantikan dengan mesin Detroit Diesel 6V92T dengan 290 daya kuda. Didalam negeri, proses retrofit dikerjakan oleh PT.API pada medio 1985-1990. Dengan mesin baru tersebut, PT-76 bisa melaju dengan kecepatan 58km/ jam di jalan raya. Sementara kapabilitas ofensifnya diperbaiki dengan pemasangan meriam Cockerill Mk III A-2 kaliber 90mm. Kanon 90mm tersebut mampu melontarkan munisi APFSDS (Armor Piercing Fin Stabilised Discarding Sabot) untuk melawan MBT dengan kulit baja yang keras, dengan daya penetrasi 300mm RHA pada jarak 1.000 meter. Pada PT-76, meriam 90mm tersebut mampu didongakkan 36 derajat dan sudut depresi 6 derajat. Senapan mesinnya yang tadinya DShK digantikan dengan FN GPMG. Sementara itu, BTR-2000 menerima mesin serupa dengan PT-76, panel meter indikator baru, dan teropong inframerah pada posisi disamping kanan pengemudi. Didalam situs perusahaan Nimda, mereka masih menawarkan proses upgrade terhadap BTR-2000 dan PT-2000, yang didalamnya menyertakan gambar-gambar proses refurbish terhadap PT-76 dan BTR-2000. Walaupun pada sebagian besar gambar tersebut identitas pemilik BTR-50 dan PT-76 sudah dihapus, tetapi dalam salah satu gambar, masih ada nomor seri pengenal kendaraan milik TNI AL di lambung kanan BTR-50.

Medan tempur lain

PT-76 juga terlibat dalam banyak konflik lainnya. Di Afrika PT-76 Angola berduel dengan kendaran lapis baja Ratel Afrika Selatan dalam Perang Saudara Angola. Setidaknya satu PT-76 menjadi korban mobil lapis baja Ratel-90 yang diawaki oleh pasukan Afrika Selatan selama Operasi Moduler. Dalam perang berkepanjangan antara tahun 1966-1990 di Angola itu, PT-76 digunakan baik oleh pasukan Angola maupun Kuba. PT-76 Irak juga beraksi melawan pasukan Iran pada 1980-an, kemudian selama operasi Desert Storm pada tahun 1991 dan lagi pada tahun 2003. Turunan PT-76 asal China, Type 63, bertempur di Vietnam selama perang Sino-Vietnam tahun 1979, dan menderita kerugian besar akibat granat berpeluncur roket. Tipe 63 juga mengenyam pertempuran dalam perang saudara Sri Lanka. Di Eropa, PT-76 Yugoslavia beraksi dalam perang Sepuluh Hari dengan digunakan oleh orang Serbia Krajina di Slovenia, juga dalam Perang Kemerdekaan Kroasia dan perang Bosnia pada tahun 1991 hingga 1995. Ratusan PT-76 tetap beroperasi di seluruh dunia saat ini, jadi nampaknya kisah tentang tank berusia 60 tahun ini mungkin masih belum berakhir.

PT-76 Kuba di Angola. (Sumber: https://commons.wikimedia.org/)
Ratel 90 asal Afrika Selatan yang sempat berduel dengan PT-76. (Sumber: https://tanks-encyclopedia.com/)

OPERATOR 

Lebih dari 2000 unit PT-76 & PT-76B diekspor ke 25 negara dan banyak lagi yang dibuat dan dimodifikasi secara lokal. Masa pakai kendaraan ini luar biasa karena masih digunakan di banyak bagian dunia saat ini, termasuk Rusia dalam versi modernnya (masih ada sekitar 30 unit hingga tahun 2012). Daftar operator dari PT-76 meliputi beberapa negara sebagai berikut: 

Afrika (sebagian besar masih beroperasi) seperti Angola (68 unit diketahui beroperasi per tahun 1975, sudah terbukti kemampuannya dalam pertempuran), Benin (20 unit per tahun 1982), Kongo (3 unit sejak tahun 1972), Mesir (250 unit diperoleh antara tahun 1965-70), Guinea (20, per tahun 1977), Guinea-Bissau (20 unit per tahun 1978), Madagascar (32 unit sejak tahun 1983, kemungkinan besar masih ada.), Mali (? Satu batalion dan satu lagi dengan versi Type 63 buatan China), Mozambik (16 unit, tanggal diperoleh tidak diketahui), Uganda (50 unit sejak tahun 1975, 20 unit masih ada), Zambia (50 unit per tahun 1983, 30 unit masih ada). 

PT-76 milik Kamboja. (Sumber: https://i47.photobucket.com/)

Wilayah Asia: Afghanistan (50 unit sejak tahun 1958, sisanya rampasan, 60 unit masih ada), Kamboja (20 unit diperoleh pada tahun 1985 & 1988, kemungkinan masih ada), India (178 unit dipesan pada tahun 1962, sudah pensiun), Indonesia (hingga 170 unit diperoleh dari tahun 1962 hingga 1980, 60 Unit diperkirakan masih ada), Laos (30 unit sejak 1996, masih digunakan), Korea Utara (hingga sekarang mencapai 550 unit), Pakistan (62 unit sejak tahun 1970), Vietnam (total 500 unit, masih 300 dalam dinas aktif). Sebuah kendaraan diuji oleh China yang dikembangkan menjadi Type 63 yang kemudian dibuat hingga 1.500 unit. Namun, Type 63 China bukanlah tiruan mentah-mentah, karena menggunakan sistem propulsi yang dikembangkan secara lokal dan menggunakan meriam kaliber 85 milimeter yang lebih besar.

PT-76 milik Laos. (Sumber: http://defense-studies.blogspot.com/)

Eropa (semuanya sudah pensiun) Belarus (8 unit), Bulgaria (250 unit diperoleh tahun 1964), Finlandia (15 unit diperoleh tahun 1961), Jerman Timur (170 unit diperoleh tahun 1957), Hongaria (100 unit diperoleh tahun 1959), Polandia (300 unit dari tahum 1955), Yugoslavia (100 unit dari tahun 1955), Ukraina (50 bekas pasukan Soviet, sudah pensiun).

Timur Tengah: Irak (47 diperoleh antara tahun 1968-70, ditambah 200 unit lagi didapat pada tahun 1984, 100 masih dalam beroperasi pada tahun 1990, sekarang sudah pensiun) 

Amerika Selatan / Karibia: Kuba (60 unit sejak tahun 1971, aktif di Angola) Nikaragua (22 unit sejak tahun 1983, 10 unit masih ada)

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari: 

PT-76 light tank (1952) – Tank Encyclopedia

https://tanks-encyclopedia.com/coldwar/USSR/soviet_PT-76.php

India’s Armored Cavalry Rolled — And Swam — Into Bangladesh By Sebastien A. Roblin; Mar 18, 2017

https://medium.com/war-is-boring/indias-armored-cavalry-rolled-and-swam-into-bangladesh-90b3281b2099

The PT-76 Was the Little Soviet Amphibious Tank That Could By Sebastien A. Roblin; Mar 17, 2017

https://medium.com/war-is-boring/the-pt-76-was-the-little-soviet-amphibious-tank-that-could-42d677a5e694

ARMOR May-June 2001

https://www.benning.army.mil/armor/eARMOR/content/issues/2001/MAY_JUN/ArmorMayJune2001web.pdf

PT-76 Dan BTR-50: Duet Maut Ranpur Amfibi Di Timor Timur

PT-76 – Kisah Tank Amfibi Tua TNI-AL

Antara PT-76/BTR-50, Indonesia dan Israel

BTR-50 and PT-76

http://www.nimda.co.il/image/users/199098/ftp/my_files/btr-50/BTR-50.pdf?id=9409600

http://www.nimda.co.il/199098/BTR-50-PT76

https://en.m.wikipedia.org/wiki/PT-76

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *