Kebangkitan Pertahanan Udara Terintegrasi Vietnam Utara Pada Fase Awal Perang Vietnam (1959-1965)

Pada tanggal 5 Agustus 1964, pesawat Angkatan Laut AS menyerang empat pangkalan kapal torpedo Vietnam Utara dan depot bahan bakar di Vinh, sekitar 160 mil di selatan Hanoi. Dua dari 64 pesawat yang dikirimkan untuk melakukan serangan hilang karena tembakan senjata anti-pesawat. Aksi serangan udara Amerika ini diluncurkan sebagai pembalasan atas serangan kapal torpedo Vietnam Utara terhadap kapal perusak AS, USA Maddox di Teluk Tonkin pada 2 Agustus 1964. Operasi Pierce Arrow, demikian operasi ini diberi kode memiliki tujuan politis yang nyata untuk menunjukkan kekuatan Amerika kepada pihak Vietnam Utara supaya mencegah agresi lebih lanjut dan sebagai bentuk dukungan tambahan Amerika bagi pemerintah Saigon dalam perjuangan mereka melawan pemberontakan di Vietnam Selatan yang dilancarkan oleh gerilyawan komunis yang diduga didukung oleh Hanoi. Tetapi sebaliknya berbeda dengan pemikiran para pemimpin AS, para pemimpin Hanoi malah menyimpulkan bahwa respon Amerika yang dinilai berskala kecil ini relatif menunjukkan bahwa intervensi Amerika di Vietnam akan terbatas, dan tidak menentukan. Lebih penting lagi, hal ini malah memberi semangat dan menyatukan kepemimpinan politik Hanoi di belakang pemimpin partai baru, Le Duan, yang telah mengambil alih kekuasaan pada bulan Januari dengan menepikan tokoh moderat Partai Komunis yang dipimpin oleh Ho Chi Minh dan Jenderal Vo Nguyen Giap pada pertemuan partai di bulan Desember. Le Duan segera memerintahkan “dimulainya kembali perjuangan bersenjata di Vietnam Selatan” dan meminta bantuan dari dua sekutu besar Vietnam Utara, yakni Cina dan Uni Soviet. Dia menempatkan militer menuju langkah berperang pada tanggal 6 Juli dan mulai memobilisasi semua komponen masyarakat untuk perang yang akan datang. Mobilisasi dan dukungan dari negara-negara Komunis lainnya kemudian memungkinkan Vietnam Utara untuk membangun pertahanan udara terintegrasi terkuat di dunia pada saat itu. 

Le Duan, pemimpin de facto Partai Komunis Vietnam jelang keterlibatan secara penuh militer Amerika di Vietnam tahun 1965. Le Duan naik ke tampuk kepemimpinan Vietnam Utara dengan menepikan tokoh-tokoh lama seperti Ho Chi Minh dan Jenderal Vo Nguyen Giap. Berbeda dengan pendahulunya yang cenderung moderat, Le Duan adalah pemimpin yang keras dan ingin membawa Hanoi untuk berkonflik terbuka melawan Amerika. (Sumber:https://alchetron.com/)

BANTUAN DARI CHINA DAN SOVIET

Beijing mengirim dengan cepat bantuan ke Vietnam Utara pada awal 1964. Dukungan Cina datang pada saat terjadi kompetisi antara Tiongkok dan Soviet untuk memperebutkan kepemimpinan gerakan Komunis global, dan hal ini kemudian mendorong Moskow untuk menyediakan perlengkapan teknologi tinggi, senjata yang lebih baik, dan paket pelatihan yang lebih besar daripada yang ditawarkan Cina. Soviet juga mengirim lebih dari 8.000 penasihat dan teknisi militer, yang diperintahkan untuk mengenakan seragam Vietnam guna menyembunyikan identitas kewarganegaraan mereka. Pada saat yang sama, ratusan orang Vietnam dikirimkan ke sekolah-sekolah pelatihan militer Soviet. Selain itu, Moskow juga mengirim radar, artileri anti-pesawat dan peralatan pertahanan pantai ke Hanoi. Tidak mau kalah dengan saingannya, Beijing mempercepat program pelatihan untuk 30 pilot Vietnam Utara yang sedang dilatih menggunakan jet tempur Mikoyan-Gurevich MiG-17 yang disumbangkan oleh Soviet di Son Dong Airfield, China sejak awal 1963. China juga menyumbangkan pesawat pelatih ke Hanoi dan memulai program pelatihan bagi sekitar 200 pilot lainnya. Pilot-pilot itu, bagaimanapun, tidak diharapkan bisa siap untuk menjalankan misi tempur sebelum akhir 1964 atau awal musim semi 1965.

China menyanggupi permintaan bantuan dari Hanoi dengan menyediakan pelatihan bagi kadet pilot-pilot Vietnam Utara untuk bisa mengawaki jet tempur semacam MiG-17 Fresco yang disuplai oleh Soviet. (Sumber:https://baomoi.com/)

Bantuan Tiongkok dan Soviet sangat penting bagi pasukan pertahanan udara Vietnam Utara. Meskipun Hanoi telah meningkatkan pertahanan udaranya secara bertahap sejak 1957, sistem itu masih sangat tidak memadai dalam menghadapi kampanye pengeboman modern. Untuk menyederhanakan komando dan kontrol pertahanan udara, Hanoi menggabungkan Angkatan Pertahanan Udara, yang mengelola sistem anti-pesawat darat, dan Angkatan Udara Vietnam Utara menjadi satu komando pada tanggal 23 Oktober 1963. Pada waktu itu, pertahanan udara Hanoi terdiri dari 22 radar pencarian dan satu radar pengarah tembakan tipe Wurzburg yang telah disediakan Beijing pada tahun 1954 untuk mengendalikan 16 baterai senjata anti-pesawat buatan Jerman kaliber 88mm era Perang Dunia II, yang dipasok oleh Soviet. Sementara itu sekitar 600 senjata anti-pesawat ringan yang dimiliki negara itu tidak memiliki sistem radar pengendali tembakan. Selain itu, angkatan udaranya juga tidak memiliki jet tempur pencegat atau pilot jet tempur yang berkualitas. 

KELAHIRAN SATUAN PESAWAT TEMPUR VIETNAM UTARA

Angkatan Udara Vietnam Utara, yang didirikan pada bulan Maret 1956, telah dibangun dari nol. Tidak banyak orang Vietnam yang pernah melihat pesawat terbang sebelum program pelatihan pilot dimulai tahun itu (bahkan kurang dari 10 persen rekrutan pernah melihat mobil, Ace MiG-17 Nguyen Van Bay sendiri mengakui kalau dia belajar menerbangkan pesawat sebelum bisa mengendarai mobil). Hanoi mengirim 110 kandidat penerbang ke Uni Soviet pada bulan itu dan jumlah yang sama dikirimkan setiap tahun hingga tahun 1962. Program ini awalnya mengalami tingkat kecelakaan tinggi. Kurang dari 1 dalam 5 peserta pelatihan yang dapat menyelesaikan kursus pelatihan dasar di Uni Soviet, dan hanya 30 orang yang berhasil mencapai kualifikasi pilot dasar pada akhir tahun 1958 setelah dua tahun pelatihan. Hanoi juga mulai mengirim sejumlah kecil calon pilot ke Cina untuk pelatihan. Namun, sebelum 1962, sebagian besar pilot yang dilatih Cina hanya memenuhi syarat untuk menjadi pilot pesawat transportasi atau pesawat utilitas. Pada Desember 1959, Hanoi telah memiliki 90 pilot yang memenuhi syarat, meskipun hanya sekitar 40 yang mampu menerbangkan jet. Hanoi mendirikan sekolah pelatihan penerbangan domestik pertamanya pada bulan itu juga, dengan menggunakan pesawat latih Yak-18. Setahun kemudian, Hanoi telah memiliki lebih dari 140 pilot yang memenuhi syarat, dan mereka kemudian memilih 82 diantaranya untuk melakukan pelatihan jet tempur tingkat lanjut — 52 dikirim ke Uni Soviet dan 30 ke Cina.

Pesawat pengintai RF-101C Voodoo melintas di atas pangkalan udara Kep tahun 1966. Pada awal tahun 1960an, Vietnam Utara cuma punya sedikit Pangkalan Udara yang bisa digunakan untuk mengoperasikan pesawat jet. Ho Chi Minh kemudian memerintahkan program perluasan lapangan terbang yang akan menyelesaikan 44 lapangan udara pada tahun 1965. (Sumber:https://en.wikipedia.org/)

Vietnam Utara saat itu tidak memiliki landasan pacu dan dukungan perawatan untuk operasi udara. Mereka hanya memiliki sedikit lapangan terbang, dan dalam sebuah studi yang dilakukan pada tahun 1959 menemukan bahwa hanya dua yang bisa digunakan oleh pesawat jet. Sebagai tanggapan, pemimpin partai, Ho Chi Minh memerintahkan program perluasan lapangan terbang yang akan menyelesaikan 44 lapangan udara pada tahun 1965. Itu adalah proyek besar yang mempekerjakan lebih dari 30.000 orang, membutuhkan lebih dari 200.000 meter kubik beton dan melibatkan pemindahan hampir 1 juta ton tanah. Seperti program pelatihan pilot, organisasi pemeliharaan dan logistik harus memulai dari awal. Negara ini hanya memiliki sekitar selusin “teknisi,” dan pengalaman mereka terbatas hanya pada menangani mesin piston pada pesawat-pesawat era Perang Dunia II. Tidak ada diantaranya yang memenuhi syarat menangani mesin jet. 200 teknisi pemeliharaan penerbangan pertama kemudian dikirim ke Moskow untuk mengikuti pelatihan pada tahun 1956 dan mereka lalu memenuhi syarat untuk menangani perawatan pesawat kargo dan pesawat latih pada tahun 1959. Yang terbaik dari mereka menerima pelatihan tambahan untuk bisa menangani pesawat jet.

Selain mengirim calon pilot Jet Tempur ke China dan Soviet, Hanoi mengirimkan juga calon-calon teknisi pemeliharaan pesawat jet ke Moskow. (Sumber:https://baomoi.com/)

Meskipun Vietnam Utara berkomitmen untuk melatih para pilot, namun Hanoi tidak pernah meluluskan lebih dari 40 pilot jet per tahun, dan para pilot itu belum akan menerima pesawat tempur pertama mereka sampai bulan Februari 1964. Tetapi mereka yang menyelesaikan program ini adalah yang pilot-pilot yang bermotivasi tinggi, berkomitmen tinggi dan pekerja keras. Salah satu kelompok pilot pesawat tempur awal Vietnam Utara, Nguyen Van Be, mencetak kemenangan udara pertama Angkatan Udara Vietnam Utara saat menerbangkan pesawat North American T-28 bekas AU Laos, yang membelot — yang pada dasarnya adalah pesawat latih bersenjata. Ketika itu ia menjatuhkan pesawat Fairchild C-123 milik Amerika di atas udara Laos pada tanggal 16 Februari 1964. Pada waktu itu juga Uni Soviet telah mengirimkan 36 jet tempur MiG-17 yang pertama, bersama dengan empat pesawat latih dua kursi MiG-15UTI, hanya 13 hari sebelumnya. Hanoi menugaskan mereka ke unit tempur pertamanya, Resimen Pesawat tempur Sao Dao 921, yang dibentuk di Pangkalan Udara Phuc Yen (juga sering disebut sebagai Pangkalan Udara Noi Bai, dekat Hanoi). Para Pilot segera memulai pelatihan pengenalan yang setara dengan latihan manuver tempur udara AU negara-negara Barat. Resimen pesawat tempur kedua, Resimen ke-923, dibentuk di Cina dan akan tiba ke tanah air pada September 1965, dengan dilengkapi jet tempur MiG-17 buatan Soviet yang telah digunakan oleh para pilot saat dilatih di Cina. 

PENGEMBANGAN SISTEM PERTAHANAN UDARA VIETNAM UTARA

Komando dan kontrol pertahanan udara tetap menjadi masalah bahkan setelah Angkatan Udara Vietnam Utara dimasukkan ke dalam organisasi gabungan angkatan udara dan pertahanan udara. Vietnam Utara tidak memiliki sistem pertahanan udara yang terpusat. Mereka memang memiliki beberapa radar pencari era Perang Dunia II — buatan Amerika yang diberikan pada Partai Nasionalis anti-Komunis China dan kemudian diambil oleh pihak Komunis setelah kemenangan mereka di Cina daratan tahun 1949. Tetapi alat-alat ini tidak dapat diandalkan, berjangkauan pendek dan hampir tidak berguna selama hujan deras yang sering terjadi. Sensor deteksi pertahanan udara yang utama milik mereka adalah jaringan 40 pos pengawasan visual yang melaporkan pengamatan mereka ke “pusat filter” mereka di Hanoi. Informasi itu kemudian dikirim ke setiap markas distrik yang mengendalikan senjata anti-pesawat. Metode transmisi yang digunakan adalah memakai telepon atau kode Morse. Pada November 1963, Vietnam Utara tidak memiliki kapasitas teknologi dan industri untuk menahan kampanye pengeboman Amerika yang terkonsentrasi. Untuk mengubah perimbangan itu, Le Duan mengirim ribuan personel Vietnam Utara ke Uni Soviet untuk berlatih sistem komunikasi, elektronik, dan senjata buatan Soviet. Sementara itu, akademisi di negara itu ditekan untuk mempelajari segala yang mereka bisa tentang budaya, media, sistem politik, dan militer Amerika. Pelajaran bahasa Inggris diwajibkan untuk mengajarkan bahasa tersebut kepada siswa yang paling menjanjikan. Skala program sangat besar, instruksi yang diberikan amat intens dan menuntut. Pada tahun 1969, mereka yang terbaik sudah cukup bagus untuk bisa mengganggu sistem komunikasi Amerika dan membuat panggilan radio palsu yang meyakinkan. Intelijen militer mengejar setiap sumber informasi yang memungkinkan, baik secara terbuka maupun rahasia, untuk meneliti proses politik Amerika dan “cara mereka menjalankan perang”, dari peralatan militer hingga taktik dan operasi. Pejabat partai dan simpatisannya diarahkan untuk dapat melakukan kontak dengan media Barat dan juru bicaranya. 

Sekelompok penasehat militer Soviet yang ditugaskan ke resimen rudal udara – permukaan ke-368 Tentara Rakyat Vietnam (Sumber:https://mronline.org/)
Sekelompok Advisor Soviet dengan mengenakan helm tentara Vietnam Utara. (Sumber:https://forums.spacebattles.com/)

Le Duan juga memperluas langkah Ho Chi Minh untuk mengembangkan sistem komunikasi yang aman, mengacak kode dan menggunakan peralatan pemantauan sinyal. Dia memperluas program penelitian dan produksi, mencari solusi berbiaya rendah untuk masalah pertahanan udara dan mengembangkan rencana penipuan untuk mempersulit pengerahan kekuatan, penargetan, dan penilaian kerusakan akibat serangan udara yang dilakukan oleh Amerika. Untuk meminimalkan dampak pemboman Amerika, ribuan orang Vietnam Utara dikerahkan dan dilatih, dengan bantuan Cina, untuk dengan cepat membangun kembali jalan, jembatan, dan infrastruktur yang rusak. Menyadari bahwa perang politik akan memainkan peran penting dalam konflik yang akan datang, Le Duan memasukkannya ke dalam perencanaan pertahanan udara. Dia mengembangkan strategi untuk tidak hanya mengurangi efektivitas kampanye pemboman A.S. tetapi juga merusak kepercayaan diri mereka dalam kampanye itu. Tujuan utamanya adalah mengurangi dukungan publik untuk itu — baik di komunitas internasional dan juga di Amerika Serikat. Bantuan dari China dan Soviet dipercepat setelah Operasi Pierce Arrow. Senjata dan amunisi anti-pesawat merupakan bagian terbesar dari bantuan awal Tiongkok dan Soviet untuk sistem pertahanan udara, yakni dalam bentuk campuran artileri berat (kaliber 85-130mm), sedang (kaliber 57mm) dan ringan (kaliber 23mm) lengkap dengan radar pencarian dan pengontrol penembakan senjata terkait. Artileri berat akan mengganggu gelombang serangan udara yang masuk, sementara artileri sedang dan ringan akan berkonsentrasi menjatuhkan pesawat pemimpin penerbangan saat pesawat-pesawat Amerika mendekati target mereka. Ratusan pria dan wanita, bahkan siswa sekolah menengah, mengikuti pelatihan pertahanan udara dalam waktu secepatnya. Pasukan pertahanan udara Vietnam Utara pada tahun 1963, dibekali dengan 6 resimen AA dan 2 satuan radar, yang kemudian tumbuh dengan pesat dari tahun 1965 dan seterusnya. Pada tahun 1964 ada sekitar 700 senjata AA dari semua jenis dan 20 set radar peringatan dini. Pertahanan udara yang terbatas melindungi populasi kunci atau situs militer. Senjata-senjata ini efektif pada ketinggian 20.000 kaki atau lebih rendah. Pada bulan September 1964, DRV memiliki sekitar 1.400 senjata anti-pesawat terbang, 22 radar peringatan dini, dan empat radar pengendali penembakan.

DILEMA KAMPANYE UDARA AMERIKA

Tetapi serangan besar-besaran A.S. yang di khawatirkan Hanoi dan sekutunya setelah insiden Teluk Tonkin tidak muncul hingga akhir tahun 1964, sementara itu Vietcong diperkirakan telah mengontrol 2/3 hingga 3/4 wilayah Vietnam Selatan. Tahun itu adalah tahun pemilihan, dan Presiden Lyndon B. Johnson khawatir bahwa kampanye pemboman yang komprehensif dan peningkatan eskalasi konflik di Vietnam akan merusak peluangnya terpilih kembali. Dia juga prihatin tentang dampak konflik di Vietnam pada undang-undang “Great Society” yang diharapkannya akan mengatasi masalah kemiskinan, meningkatkan hak-hak sipil dan program domestik lainnya. Johnson meninggalkan perencanaan untuk kampanye pemboman kepada para pembantu utamanya. Arahan satu-satunya yang diberikannya adalah: Turunkan biayanya! Ketika Menteri Pertahanan Robert McNamara menafsirkan instruksi presiden, misi pemboman harus dilakukan dengan kekuatan minimum yang diperlukan untuk membujuk Hanoi agar menghentikan agresi. McNamara memberi sedikit panduan dalam rekomendasinya kepada Kepala Staf Gabungan, karena merasa militer tidak memiliki gambaran apapun dalam hal politik selain melaksanakan perang total. Hal ini sama sekali tidak membantu, selain masing-masing pejabat Amerika merekomendasikan taktik yang berbeda-beda. Di antara para pemimpin sipil, Menteri Luar Negeri Dean Rusk berbagi pandangan McNamara dan Penasihat Keamanan Nasional McGeorge Bundy mendukung pendekatan secara bertahap, membatasi serangan pada awalnya untuk hanya sekedar menunjukkan kepada Hanoi bahwa Amerika Serikat “serius.” 

President Lyndon B. Johnson khawatir konflik di Vietnam akan mengganggu undang-undang dan anggaran Program “Great Society” nya yang diharapkannya akan mengatasi masalah kemiskinan, meningkatkan hak-hak sipil dan program domestik lainnya di Amerika. Hal ini kemudian memicu pemerintah Amerika untuk melancarkan kebijakan militer terbatas di Vietnam. (Sumber:https://www.nationalreview.com/)

Kelompok yang terpecah itu memberi Johnson tiga pilihan: Opsi A, yakni kampanye skala besar yang akan menghancurkan Vietnam Utara; Opsi B, kampanye singkat tetapi intensif lewat serangan “cepat (dan belum diterapkan)” pada target kunci untuk memberikan “pukulan keras” yang akan menunjukkan bahwa Amerika Serikat serius; dan Opsi C, pendekatan awal-kecil-kecilan, yang bisa ditambahkan seiring berjalannya waktu. Presiden Johnson lalu memilih Opsi C pada 1 Desember 1964. Rencana itu terdiri dari serangkaian penyerangan, mulai dari sasaran di Laos, kemudian meluas ke Vietnam Utara dan selatan dan pada akhirnya akan bergerak lebih jauh ke utara jika Hanoi tidak menghentikan dukungannya kepada Viet Cong. Setelah serangan tanggal 7 Februari 1965 oleh Viet Cong, di Pleiku di wilayah tengah Vietnam Selatan (yang menewaskan 8 orang dan melukai 126 personel Amerika, serta menghancurkan dan merusak 24 helikopter dan pesawat), Johnson pada awalnya menanggapi dengan serangan balasan terbatas dalam bentuk Operasi terbatas yang diberi nama Operasi Flaming Dart I-II dan kemudian pada 13 Februari 1965 menyetujui apa yang kemudian akan dikenal sebagai Operation Rolling Thunder, kampanye pemboman selama tiga tahun terhadap Vietnam Utara. Takut akan memicu perang dunia atau intervensi Cina, McNamara bersikeras membatasi di mana dan kapan pasukan AS dapat menyerang berbagai target di wilayah geografis tertentu, dan presiden bersikeras bahwa kepemimpinan sipil mengendalikan pemilihan target serangan. Komando Pasifik AS di Hawaii menominasikan target. Kemudian Kepala Staff Gabungan akan memilihnya dan mengirimkan daftar target yang masuk kriteria ke presiden di sesi “Tuesday Cabinet,” bersama sekelompok penasihat sipil Johnson yang paling terpercaya (McNamara, Rusk, Wakil Sekretaris Negara George Ball, Penasihat Keamanan Nasional McGeorge Bundy, penasihat Departemen Luar Negeri Walt Rostow dan sekretaris pers Bill Moyers). Ketua Gabungan Kepala Staff dan direktur CIA juga hadir dalam pertemuan itu. Ulasan tentang target awalnya dilakukan setiap hari tetapi diubah menjadi mingguan pada musim panas 1965. Perencanaan operasional berjalan dengan lancar, meskipun dukungan intelijen menghadapi banyak tantangan. Dengan tuntutan yang bersamaan untuk bisa memantau kegiatan Komunis di Kuba dan Eropa Timur, komunitas intelijen Amerika memiliki sedikit sumber daya yang tersedia untuk mengumpulkan informasi tentang Vietnam Utara. Tidak seperti Hanoi, Washington hanya melakukan upaya kecil, terutama yang berfokus pada militer untuk mempelajari tentang musuh yang akan diserangnya. Materi akademik dan semuanya yang dapat diakses dari publik diabaikan. 

Untuk menjalankan strategi perangnya, termasuk langkah-langkah dan penentuan target sasaran pemboman di Vietnam Utara, Presiden Johnson mengandalkan para penasehat sipil maupun militer Amerika. Uniknya, terkadang alasan politis lah yang lebih diutamakan ketimbang pertimbangan-pertimbangan militer, yang pada akhirnya membatasi efektifitas militer Amerika di medan perang. (Sumber:https://www.archives.gov/)

Sumber utama A.S. akan informasi Vietnam Utara sebelum tahun 1965 adalah lewat pemantauan sinyal intelijen jarak jauh, penerbangan pengintaian udara, dan pengumpulan sinyal elektronik yang dilakukan oleh kapal-kapal. Personel pengumpul sinyal-intelijen yang dikerahkan ke Vietnam Selatan pada tahun 1964 diambil dari pos-pos yang ada di Eropa dan ditambah dengan penterjemah ke bahasa Inggris dari Vietnam Selatan, dimana beberapa di antaranya kemudian terbukti sebagai agen Viet Cong. Bahkan dengan masalah-masalah yang mereka hadapi dan sumber daya manusia mereka yang terbatas di Vietnam Utara, ketiga badan intelijen utama Amerika — CIA, Badan Intelijen Pertahanan (DIA) dan Biro Intelijen Departemen Luar Negeri — bisa mengeluarkan penilaian bahwa pemboman saja tidak akan mampu menghentikan kehendak politik Hanoi. Setelah beberapa penundaan yang disebabkan oleh cuaca, Rolling Thunder dimulai pada 2 Maret 1965, dengan sebuah penyerangan ke Depot Amunisi Xom Bong di utara Zona Demiliterisasi. Lima pesawat Amerika berhasil ditembak jatuh. Jumlah senjata anti-pesawat musuh dan keefektifan tembakan mereka ternyata mengejutkan. Awak pesawat Amerika tidak mengetahui tentang peningkatan pertahanan udara Vietnam Utara yang telah dilakukan. Vietnam Utara telah menghabiskan bulan-bulan terakhir tahun 1964 untuk meningkatkan persiapannya dalam menghadapi pembom Amerika. China mengirimkan empat Shenyang F-4 (MiG-15 yang dibuat di bawah lisensi Soviet) dan 36 F-5 (MiG-17) ke Pangkalan Udara Phuc Yen pada akhir Agustus 1964. China dan Vietnam Utara juga membentuk sistem peringatan udara bersama di September 1964, yang memungkinkan Hanoi untuk memonitor dan mengidentifikasi lalu lintas udara di Teluk Tonkin dan Laos. Hanoi juga telah meminta Moskow untuk mengirimkan sistem rudal darat-ke-udara, bersama operator dan para pelatihnya, dimana pada bulan September 1964 Soviet setuju untuk menyediakan SAM dan para personelnya. Para personel Soviet sekali lagi mengenakan seragam Vietnam untuk memberi Moskow alasan penyangkalan yang masuk akal tentang kehadiran mereka di Vietnam Utara. Mereka segera mengoperasikan sistem yang dipasok Soviet dan melatih awak pertahanan udara Vietnam, untuk menjadi operator radar, teknisi, dan perwira. 

PERBANDINGAN TAKTIK VIETNAM UTARA VS AMERIKA

Pada Desember 1964, Vietnam Utara telah membuang semua peralatan era Perang Dunia II dan telah menggandakan baterai anti-pesawat terbang dan radarnya. Jumlah situs radar dan senjata hampir dua kali lipat dari jumlah radar dan senjata yang tersedia untuk ditempatkan Hal ini memungkinkan pasukan pertahanan udara untuk memindahkan unit, peralatan, dan “senjata tiruan” di antara beberapa lokasi untuk mempersulit upaya penargetan dari pesawat penyerang A.S. Kesenjangan dalam jangkauan radar di negara ini juga telah menyusut dengan cepat karena jumlah radar meningkat dan radar yang lebih tua digantikan oleh yang modern. Hanoi menyelesaikan integrasi jaringan pertahanan udara domestiknya pada Januari 1965, dan mendirikan markas mereka di Lapangan Terbang Bac Mai di Hanoi di sebuah gedung dekat markas angkatan udara. Awalnya gedung ini berisi dua bagian: Pusat Situasi Udara, yang menerima dan memproses informasi pertahanan udara, dan Staf Kontrol Senjata Udara, yang menyelesaikan ambiguitas data pelacakan dan kemudian mengoordinasikan penyergapan Pesawat tempur terhadap pesawat udara musuh. Kontroler senior akan menentukan target mana yang akan dihadapi. Sistem sinyal-intelijen memberi informasi penting kepada pusat tentang aktivitas dan niat pesawat musuh. Pilot pesawat tempur akan dalam kondisi siaga untuk terbang ketika pesawat musuh mendekat sekitar 90 mil dari Hanoi. Kalah jumlah dengan lawan yang unggul secara teknologi, Angkatan Udara Vietnam Utara berniat untuk melawan dengan menggunakan taktik setara dengan gerilya udara. Pertarungan jarak dekat yang berkepanjangan harus dihindari. Sebaliknya, pilot akan mencegat pesawat AS yang terisolasi ketika ada peluang untuk melakukan serangan dan kemudian melarikan diri. Dalam taktik yang lebih disukai, akan dibagi dua flight, yakni  “flight pencegat” pesawat Vietnam Utara yang akan menyerang pesawat musuh, sementara “flight pelindung” yang berukuran serupa akan melindungi pencegat rekannya dari serangan pesawat pengawal Amerika. MiG dilarang terbang ke zona pertahanan anti-pesawat terbang atau situs SAM (untuk menghindari tertembak kawan sendiri), hal ini adalah peraturan yang terbukti sangat sulit untuk dipatuhi dalam lingkungan taktis udara yang bergerak cepat.

Berbagai tipe senjata pertahanan udara Vietnam Utara yang memberikan pihak Hanoi pertahanan udara paling rapat pada masanya. (Sumber:https://www.writework.com/)

Salah satu dari beberapa perkiraan intelijen Amerika, pada awal 1965 menunjukkan bahwa Vietnam Utara memiliki setidaknya 1.039 senjata artileri anti-pesawat terbang: 322 unit dari kaliber 14,5 mm dan 37 mm, 709 dari kaliber 57 mm, dan delapan dengan kaliber 85 mm. Senjata-senjata anti pesawat ini disebar pada 298 situs antipesawat, dimana 161 di antaranya dianggap telah aktif. Situs-situs tersebut terutama terletak di sekitar daerah Hanoi-Haiphong dan di sepanjang jalur kereta api penting, jalan, dan jembatan di utara dan selatan kedua kota. Kekhawatiran Kekuatan Udara AS tentang pertahanan antipesawat utara itu semakin meningkat. Kemudian dengan berjalannya perang, kekhawatiran itu terbukti karena artileri anti pesawat (AAA) Vietnam Utara jauh lebih berbahaya dan mengancam pesawat-pesawat serang Amerika, dengan mengklaim menembak jatuh 2/3 hingga 3/4 pesawat Amerika yang berhasil ditembak jatuh pertahanan udara mereka. Umumnya tembakan anti pesawat berlangsung gencar hingga ketinggian 4.500 kaki (1.372 meter) dimana pesawat akan menghadapi tembakan mulai dari senapan mesin hingga kanon kaliber 37 mm. Antara ketinggian 5.000 sampai 10.000 kaki (1.524 – 3.048 meter) meriam kaliber 57 mm dan 85 mm akan menjadi ancaman, sementara meriam kaliber 100 mm bisa mencapai hingga ketinggian 20.000 kaki (6.096 meter), semua meriam ini diarahkan dengan radar pengontrol. Pada akhir tahun 1965, Vietnam Utara telah menempatkan lebih dari 2.000 senjata artileri berpengontrol radar semacam ini. Hingga pertengahan 1965, artileri anti pesawat Vietnam Utara telah menjatuhkan 50 pesawat Amerika. Untuk menghindari kerugian akibat tembakan artileri anti pesawat, pesawat-pesawat Amerika harus terbang di ketinggian 25.000 kaki (7.620 meter). Akan tetapi terbang diatas ketinggian 5.000 – 7.000 kaki saja akurasi pengeboman menjadi berkurang. Untuk menghindari tembakan artileri anti pesawat kaliber kecil, AU dan AL Amerika memerintahkan pemboman untuk dilakukan di ketinggian 4.000 dan 5.000 kaki. Melawan artileri anti pesawat yang diarahkan dengan radar, pesawat-pesawat serang Amerika hanya bisa mengandalkan manuver, dengan tiba-tiba mengubah arah, kecepatan, dan ketinggian terbang saat senjata anti pesawat musuh ditembakkan. Manuver sporadis semacam ini bisa saja dilakukan asal setelah itu pilot harus bisa menstabilkan pesawat jalur penerbangannya lagi untuk bisa melakukan penyerangan yang akurat atas targetnya. Setelah pesawat melepas bom, pilot akan bermanuver kembali untuk menghindari segala bentuk penguncian radar musuh.

Rapatnya pertahanan Udara Vietnam Utara telah memaksa pilot-pilot pesawat penyerang, seperti A-6 Intruder AL AS ini untuk sering bermanuver menjelang dan setelah melepaskan bom nya diatas target. (Sumber:https://commons.wikimedia.org/)

Para pilot kemudian menyadari bahwa melintas diatas target yang dipertahankan dengan kuat oleh artileri anti pesawat selama beberapa kali bukanlah ide yang baik, mereka kemudian membatasi serangan bom dalam sekali lintasan saja, jika memungkinkan, selain menyerang dari berbagai arah dalan waktu singkat secara bersamaan untuk membingungkan dan menyusahkan radar anti pesawat Vietnam Utara melakukan penguncian. Meski demikian, banyak target mereka sangat dilindungi dengan ketat oleh personel Vietnam Utara yang mengandalkan tembakan gencar, dengan mengarahkan senjata ke lokasi-lokasi dimana bomber-bomber lawan akan menjatuhkan bom nya, sehingga membuat semacam “tirai baja” yang harus ditembus pesawat-pesawat Amerika. Berdasarkan pengembangan ini, selama paruh pertama tahun 1965, unit dan subunit artileri antipesawat dan senapan mesin biasanya menempati posisi di sepanjang jalur penerbangan favorit menuju target. Setelah menembaki pesawat, subunit ini akan menerima ‘tugas baru dan pindah ke daerah yang berbeda. Dengan metode “gerilya” melawan musuh udara ini, “penyergapan” efektif sering dilakukan dengan mengubah posisi penembakan yang memungkinkan menembak pesawat AS dengan sejumlah kecil artileri antipesawat dan unit senapan mesin.

Artileri Anti Pesawat (AAA) Vietnam Utara diklaim bertanggung jawab atas ditembak jatuhnya 2/3 hingga 3/4 pesawat Amerika yang dijatuhkan selama perang Vietnam. (Sumber:https://www.wisconsinhistory.org/)

Sekutu dan dinas intelijen Hanoi memang berusaha memberi personel pertahanan udara negara itu battle space awareness yang terbaik. Agen intel rahasia akan menyusup ke pangkalan udara Amerika di Vietnam Selatan, sementara pos pengamatan dan pendengaran ditempatkan di dekat pangkalan udara AS di Thailand dan Laos untuk melaporkan penerbangan yang melintasi diatas udara Laos. Beijing dan Moskow juga sepakat untuk memberikan informasi intelijen tentang operasi pesawat terbang A.S. di Laut Cina Selatan. Situs sinyal Vietnam Utara juga diarahkan untuk melaporkan komunikasi pesawat sekutu utama melalui jalur darat ke Pusat “filter informasi” Udara dan stasiun penyadapan kontrol darat yang berkaitan. Tujuannya adalah untuk memastikan pilot Vietnam Utara memiliki semua informasi yang mereka butuhkan untuk menjalankan taktik mencegat, serang dan lari mereka. Persiapan intelijen utara jauh lebih baik daripada dukungan intelijen yang dipersiapkan untuk awak pesawat Amerika pertama yang terbang di atas Vietnam Utara. 

Untuk mengganggu kinerja radar pertahanan udara Vietnam Utara, Amerika mengerahkan varian elektronik dari pembom B-66 Destroyer yang diberi kode EB-66C. (Sumber: https://www.nationalmuseum.af.mil/)

Data intelijen Amerika, khususnya data intelijen elektronik, hanya bergantung pada segelintir pesawat pembom Angkatan Udara Douglas EB-66B Destroyer, pesawat tempur EF-10 Skynight Marinir dan pesawat penyerang Angkatan Udara Douglas EA-1 Douglas dan pembom Skywarrior EA-3. Satu-satunya jangkauan radar Amerika di ruang udara Vietnam Utara dalam sebagian besar tahun pertama Operasi Rolling Thunder berasal dari Situs di Monkey Mountain di luar Da Nang, kapal-kapal Angkatan Laut dan pesawat/pesawat peringatan dini Grumman E-1 Tracer yang berbasis di kapal induk. Cakupan radar dan sinyal-intelijen dari Monkey Mountain hanya terbatas sekitar 80 mil di utara DMZ. Sementara itu Radar Angkatan Laut, yang dirancang untuk mendeteksi target di atas air, tidak efektif dalam melacak target yang terbang rendah dan bergerak di atas hutan atau yang terbang dibawah cover medan pegunungan. Cakupan radar mereka paling jauh hanya bisa menembus sekitar 35 mil ke daratan. Karena tidak memiliki perangkat radar canggih seperti era sekarang, pesawat Angkatan Laut dan Udara AS yang beroperasi di Vietnam Utara saat itu hanya bisa mengandalkan mata pilot dan kru mereka saat terbang diluar jangkauan radar-radar pendukung mereka. Pada akhir tahun 1965, untuk mengurangi efektifitas dari meriam-meriam anti pesawat yang dipandu radar, pesawat elektronik EB-66C “Brown Cradle” dikirim ke Vietnam untuk mengganggu radar pengontrol tembakan Vietnam Utara dengan memancarkan sinyal elektronik kuat ke frekuensi radar musuh. Radar Vietnam Utara akan menerima pancaran gelombang elektronik ini yang nampak seperti “titik salju” di layar operator radarnya. Hal ini akan mengganggu sinyal pantulan radar dari pesawat-pesawat penyerangnya. EB-66C digunakan dengan dua cara, yakni digunakan untuk mengawal bomber sepanjang jalan menuju target atau terbang dari jarak aman dan mengacaukan radar lawan.

SISTEM SAM SA-2 DAN GENERASI AWAL PENANGKALNYA

Pada 5 April 1965, dari foto yang diambil oleh pesawat mata-mata U2 AU AS dan RF-8 AL AS, mengkonfirmasikan hal yang sudah lama mereka prediksi, yakni proses konstruksi situs Rudal Anti Pesawat (SAM). Untuk melengkapi bagian kedua dari sistem pertahanan udara terintegrasi, Soviet membangun sistem rudal SA-2 (kode NATO: Guideline) yang mengelilingi situs-situs penting hingga jangkauan hinggal 24 mil (sekitar 38 km). Meskipun situs rudal yang sedang dibuat jelas-jelas menjadi ancaman nyata bagi pesawat-pesawat Amerika, tapi tempat-tempat ini dilarang diserang karena khawatir akan membunuh teknisi-teknisi Soviet yang membantu membangun dan melatih para kru Vietnam Utara. Baterai rudal SA-2 dapat meluncurkan rudal sebesar tiang telepon yang dipandu dan dikontrol oleh radar serta meledak dengan detonator type proximity fuze, yang akan meledak dari radius tertentu saat mendekati target. Radar kontrol SA-2, yang memiliki kode NATO Fan Song, efektif dalam memandu rudal dari ketinggian antara 3.000 sampai 60.000 kaki (914 – 18.288 meter). Pada 24 Juli 1965, Amerika harus belajar dari cara-cara yang tidak menyenangkan mengenai kapabilitas dari rudal SAM. Sebuah rudal SA-2 yang ditembakkan dari arah barat laut Hanoi menghantam flight pesawat F-4C AU AS, sebuah F-4C hilang dan tiga sisanya rusak berat karena ledakan jarak dekat.

Sistem Rudal SA-2 Guideline Vietnam Utara. (Sumber:https://www.airspacemag.com/)

Kehadiran SA-2, secara dramatis mengubah taktik penyerangan Amerika. Setelah kehilangan F-4C di bulan juli, pesawat-pesawat yang menyerang target didalam area situs SAM, terbang hanya beberapa ratus kaki diatas tanah, dan tetap berada di ketinggian dibawah 3.000 kaki, dibawah ketinggian tembak minimum dari sistem rudal SA-2. Pesawat baru akan menanjak beberapa saat dekat target untuk sekedar membidik dan melepaskan bom. Solusi sementara ini, tidaklah ideal, karena dengan taktik terbang seperti itu, mereka malah kembali dalam ketinggian tembak efektif dari artileri anti pesawat. Meski demikian, menyerang dengan kecepatan tinggi dan ketinggian rendah serta manuver setidaknya hanya akan memberi sedikit waktu bagi penembak untuk bereaksi dan mempersulit pembidikan. Sementara itu dengan tergesa-gesa, Amerika meluncurkan program untuk menyediakan pesawat taktis dengan perangkat elektronik aktif dan pasif yang diharapkan mampu menangkal ancaman jaringan rudal SA-2, radar pengarah dan pembidik senjata artileri udaranya. Pada bulan November 1965, AU AS mengerahkan sebuah pesawat F-100F Super Sabre yang telah dimodifikasi ke Pangkalan Udara Korat di Thailand. Dengan diberi kode “Wild Weasel I”, pesawat dua kursi ini dilengkapi dengan perangkat pendeteksi radar yang sensitif (Radar Homing And Warning Receiver/RHAW). Perangkat RHAW memungkinkan Wild Weasel untuk mendeteksi dan memetakan lokasi radar pengontrol tembakan S-Band Fan Song dari sistem rudal SA-2 serta sekaligus memberi peringatan para pilot ketika rudal akan ditembakkan. 

Sistem penempatan baterai Rudal SAM SA-2 Guideline sekitar tahun 1966. (Sumber:https://www.ausairpower.net/)
Sistem pertahanan udara Vietnam Utara yang berlapis dan terintegrasi memberikan dilema bagi pilot-pilot pesawat penyerang AS, karena senjata anti pesawat memiliki jangkauan jangkauan ketinggian yang berbeda-beda, sementara pesawat MiG mengancam di berbagai ketinggian. (Sumber: Pinterest)

Sebagai tambahan perangkat RHAW mampu mendeteksi dan menemukan lokasi dari radar C-band dari senjata artileri anti pesawat dan radar X-band dari pesawat-pesawat pencegat musuh. Perangkat RHAW ini kemudian dipasang pada banyak pesawat tempur dan penyerang milik AU/AL/Marinir Amerika. Dengan perangkat RHAW, pesawat penyerang mampu sekali lagi menembus area yang dilindungi SAM dengan terbang dari ketinggian diatas 4.500 kaki, menghindarkan mereka dari ketinggian efektif senjata anti pesawat musuh, sementara masih cukup rendah dari ketinggian efektif minimum dari rudal SA-2. Dengan cukup panduan peringatan dari Pesawat EB-66C, pilot dapat memiliki peluang bagus terbang dari ketinggian antara 4.500 hingga 15.000 kaki dengan tetap mampu melihat rudal SA-2 yang akan diluncurkan dan menghindarinya dengan manuver menukik spiral. Ketika radar Fan Song mengoreksi arah penerbangan rudal SA-2 pada pesawat yang bermanuver itu, pesawat tersebut dapat kembali terbang menanjak, sementara rudal SA-2 menyasar sasaran yang salah. Teorinya setidaknya seperti itu. Sementara itu kombinasi dari artileri anti pesawat, SAM, dan pesawat tempur MiG milik Vietnam Utara diintegrasikan dalam jaringan pertahanan yang ketat oleh sistem radar peringatan dini dan stasiun pengamat visual. Jaringan semacam ini senantiasa mampu menyebabkan pesawat-pesawat penyerang untuk selalu dalam ancaman untuk diserang berbagai sistem senjata pertahanan udara Vietnam Utara. Meskipun artileri anti pesawat menjadi senjata paling efektif dalam sistem jaringan pertahanan udara, namun efektifitasnya akan menurun dengan bertambahnya ketinggian terbang pesawat musuh. Sebaliknya dengan bertambahnya ketinggian terbang, potensi ancaman sistem SAM meningkat karena rudal terbang semakin cepat mendekati kecepatan maksimumnya. Sementara itu pesawat-pesawat tempur MiG menjadi ancaman di berbagai ketinggian terbang dan kadang juga meningkatkan keefektifan elemen pertahanan udara lainnya, dengan memancing pesawat-pesawat tempur Amerika masuk ke dalam perangkap SAM dan senjata artileri anti pesawat Vietnam Utara atau dengan mengusir pesawat jammer EB-66C dan pesawat Wild Weasel. Pada akhir tahun 1965, kombinasi jaringan pertahanan udara Vietnam Utara telah menjatuhkan 80 pesawat Amerika.

AFTERMATH

Sebuah F-105D Thunderchief Angkatan Udara AS berusaha menghindari rudal V-750V SAM yang diluncurkan dari sistem SA-75 Dvina, Vietnam Utara. (Sumber:https://www.allworldwars.com/)

Sementara itu, para pemimpin Hanoi telah memobilisasi seluruh negara mereka untuk mendukung upaya perang yang menggabungkan dimensi politik dan militer dalam perang. Rencana, operasi, dan taktik pertahanan udara Vietnam Utara merupakan komponen integral dari upaya perang mereka. Menyadari bahwa hal itu tidak dapat mencegah atau mengalahkan kampanye pemboman Amerika secara militer, Hanoi menetapkan tujuan-tujuan kunci untuk Pasukan Pertahanan Udara sesuai dengan visi strategis Le Duan: menggagalkan rencana AS untuk menggunakan kekuatan udara untuk memaksa Hanoi meninggalkan tujuannya mereka untuk menaklukkan Vietnam Selatan, dan mengganggu operasi pemboman Amerika untuk mengurangi keakuratannya sementara menimbulkan kerugian yang cukup besar pada armada udara Amerika untuk merusak kemauan politik mereka. Ketika pelantikan Presiden Johnson pada Januari 1965 telah mendekat, para pemimpin Vietnam Utara merasa bahwa mereka masih membutuhkan waktu setahun lagi untuk siap menghadapi kampanye pemboman besar-besaran Amerika. Masih banyak yang harus dilakukan. Para Pilot dan pengontrol berbasis darat yang tugasnya membimbing pesawat-pesawat tempur ke target mereka, saat itu baru saja mulai mempraktikkan taktik mereka. Prosedur dukungan untuk sinyal intelijen baru juga dilakukan. Sementara kru senjata anti-pesawat baru mulai mengasah keterampilan mereka pada senjata yang baru tiba, dan personel pertahanan udara Soviet juga baru mulai tiba di negara itu. SAM SA-2 yang kemudian akan terkenal masih perlu berminggu-minggu lagi untuk bisa selesai dikirimkan dan butuh beberapa bulan lagi untuk siap secara operasional. Peralatan dan persenjataan pertahanan udara terus berdatangan setiap harinya, tetapi program pelatihan krunya masih jauh dari lengkap. Setelah dua bulan berlalu, pada akhir Juni 1965, baru hanya ada empat situs SAM yang sedang dibangun, tiga di antaranya hampir selesai (termasuk yang dimulai pada akhir Maret) dan satu di antaranya masih baru setengahnya dibangun. Hanya satu situs pada saat itu sudah disuplai dengan peralatan terkait rudal. Jumlah situs akan meningkat secara dramatis, dari 9 pada akhir musim panas 1965 menjadi lebih dari 25 pada awal Desember 1965. Antara 22 hingga 24 sistem SA-2 telah beroperasi selama periode pengujian Wild Weasel I pada akhir 1965. Para pemimpin Vietnam Utara khususnya sempat khawatir tentang kemungkinan pengerahan dari pembom B-52 Stratofortress Amerika dalam kampanye udara mereka karena pihak Hanoi belum memiliki sistem senjata yang dapat melawan pembom-pembom ini, meskipun sekutu Soviet mereka dan laporan media kemudian menunjukkan bahwa kekhawatiran mereka terlalu berlebihan. Para pemimpin Vietnam Utara memasuki tahun 1965 dengan percaya diri akan persiapan dan strategi mereka. Pada akhir tahun 1966, saat Presiden Johnson mengumumkan penghentian sementara pemboman udara di Vietnam Utara, kerugian Amerika dalam Kampanye udara di Asia Tenggara telah memakan korban hingga 379 pesawat. Korban terbesar adalah dari tipe F-105 Thunderchief, dimana pembom tempur ini menderita 126 pesawat hancur, 111 diantaranya diatas udara Vietnam Utara. 4 ditembak oleh SAM, 3 oleh MiG, dan sisanya akibat tembakan senjata anti pesawat dari darat. Pada tahun 1965, SAM Vietnam Utara tercatat menembak jatuh 13 pesawat Amerika sementara di tahun 1966 jumlahnya melonjak menjadi 35 pesawat. Hal ini terbukti baru merupakan babakan awal saja dalam perang udara di atas Vietnam. Sepuluh tahun kemudian militer Hanoi akan memasuki Saigon dan mengambil kendali penuh atas Vietnam Selatan. Strategi perang udara, kemudian menjadi salah satu kontributor utama dari kesuksesan mereka.

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

The Rise of North Vietnam’s Air Defense by Carl O. Schuster

Air Warfare in the Missile Age by Lon O. Nordeen, page 11 – 17; 1985

Vietnam Air Warfare: The Story of the Aircraft, the Battles, and the Pilots Who Fought page 84, by Robert F. Dorr & Chris Bishop; 2002

Air Defenses

https://www.globalsecurity.org/military/world/vietnam/nva-ad.htm

AAA Anti-Aircraft Artillery

https://www.globalsecurity.org/military/world/vietnam/nva-ad-aaa.htm

Surface-to-Air Missiles (SAMs)

https://www.globalsecurity.org/military/world/vietnam/nva-ad-sam.htm

One thought on “Kebangkitan Pertahanan Udara Terintegrasi Vietnam Utara Pada Fase Awal Perang Vietnam (1959-1965)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *