Keberanian, Loyalitas, Kehormatan dan Kisah Tragis dari 81st Airborne Ranger Group ARVN yang Bertarung Sampai Akhir

Rangers Vietnam, yang dikenal dalam bahasa Vietnam sebagai Biệt Động Quân dan umumnya dikenal sebagai Rangers ARVN, adalah salah satu infanteri ringan dari Angkatan Darat Republik Vietnam. Dilatih dan dibantu oleh penasihat Pasukan Khusus dan Ranger Amerika, Rangers Vietnam kerap menyusup ke luar garis pertahanan dan masuk ke wilayah musuh dengan berani dalam menjalankan misi mencari dan menghancurkan musuh. Awalnya dilatih sebagai pasukan infantri ringan kontra-pemberontakan dengan memindahkan kompi keempat dari masing-masing batalion infantri yang ada, mereka kemudian berkembang menjadi pasukan mobile yang mampu melakukan operasi konvensional maupun kontra-pemberontakan, dan diandalkan untuk merebut kembali daerah-daerah yang direbut musuh. Kemudian selama proses Vietnamization, mereka dipindahkan dan diintegrasikan sebagai Batalyon penjaga Perbatasan yang bertanggung jawab untuk mengelola pos-pos terpencil di Dataran Tinggi Tengah. Rangers sering dianggap sebagai salah satu unit Vietnam Selatan paling efektif dan paling baik dalam ARVN dan membentuk bagian unit respon reaksi cepat yang sangat mobile beroperasi di area-area utama yang kritis. Unit ini bersama dengan satuan Airborne dan Marinir adalah unit terbaik dari Tentara Vietnam Selatan, dimana mereka juga mendapat prioritas utama peralatan terbaru seperti senapan serbu M-16 disaat unit-unit lainnya masih menggunakan senapan tua M-1 Garand. Salah satu unit yang menonjol dan punya kisah heroik adalah satuan Grup Ranger ke-81 yang terus bertempur hingga hari-hari terakhir perang. Berikut adalah kisah epic mereka.

Pasukan Ranger adalah salah satu unit terbaik dalam militer Vietnam Selatan. (Sumber: Pinterest)

LATAR BELAKANG

Grup Ranger ke-81 adalah unit khusus yang unik dari satuan Rangers Angkatan Darat Republik Vietnam Selatan. Awalnya dibentuk sebagai bagian dari kekuatan reaksi cepat Proyek DELTA. Dibentuk pada tanggal 1 November 1964 sebagai Batalyon Airborne Ranger ke-91 dan terdiri dari tiga kompi orang-orang suku Montagnard. Kompi keempat ditambahkan pada tahun 1965. Kompi ini kemudian direorganisasi pada tahun 1966 sebagai Batalyon Ranger ke-81 dengan “membersihkan personel non-Vietnam” agar lebih “efektif”. Seperti diketahui, orang-orang Montagnard saat itu tidak dianggap sebagai bagian integral dari warga Vietnam Selatan. Batalion ke-81 terdiri dari enam kompi yang semuanya berasal dari orang-orang Vietnam Selatan. Secara resmi satuan ini ada di bawah komando LLDB (Lực Lượng Đặc Biệt Quân Lực Việt Nam Cộng Hòa atau Pasukan Khusus Vietnam Selatan) dan bukan dibawah Komando Ranger. Mereka sebenarnya juga di bawah kendali langsung Proyek DELTA (utamanya digerakkan oleh US Special Force) meskipun dua kompinya tetap tersedia untuk LLDB. Misi utamanya adalah untuk memberikan pasukan reaksi cepat yang bisa diangkut lewat udara untuk membantu dalam proses ekstraksi tim pengintaian dan melakukan serangan eksploitasi langsung pada target yang ditemukan oleh tim. Satuan ini juga sering digunakan untuk memperkuat kamp SF (Special Force) yang sedang dikepung oleh musuh. Selama dan setelah  serangan Tet, Ranger ke-81 juga bertempur di Saigon dan terbukti mampu beradaptasi pada kondisi pertempuran perkotaan dengan cukup baik. Batalyon Ranger ke-81 kemudian diperluas menjadi tujuh kompi dan akhirnya berganti nama menjadi Grup Ranger ke-81 yang dihasilkan dari merger Tim Delta dengan tiga Kompi Ranger yang ada. Seluruh unit dilatih terjun dengan parasut dan berada di bawah kendali langsung unit G-2 (Intelijen) ARVN. 

Ranger ARVN pada saat Serangan Tet Tahun 1968. (Sumber:http://vnafmamn.com/)

Pada tahun 1975 markas pusatnya berada di Trang Lon, Tay Linh, dan terdiri dari Markas Besar, tujuh kompi Ranger dan satu kompi Pathfinder. Kekuatan satuan ini bervariasi antara 920 hingga 1200 orang. Batalion ke-91/81 terus mengenakan Baret Hijau LLDB lama alih-alih menggunakan Baret Ranger berwarna Brown / Maroon, untuk menandakan asal dan warisan sejarah satuannya. Satuan ini tercatat memberikan banyak kontribusi besar pada Perang Vietnam; dengan berpatroli di sepanjang perbatasan barat Vietnam Selatan dan terlibat dalam banyak pertempuran sengit di berbagai daerah mulai dari Lembah Ashau, Saigon, Hue, An Loc, Nha Trang dan banyak lokasi lainnya. Sepanjang tahun 1974, Grup Airborne Ranger ke-81 ditugaskan untuk beroperasi di bawah komando Daerah Militer III sebagai kekuatan reaksioner. Unit ini telah dibagi menjadi banyak kelompok untuk memenuhi persyaratan situasi militer yang ada. Sebagai bagian dari satuan kelompok intelijen militer, Ranger ke-81 menempatkan banyak tim pengintai jauh ke dalam area yang dikontrol musuh di sepanjang perbatasan antara Vietnam dan Kamboja untuk memantau pergerakan musuh. Tim yang diterjunkan biasanya beranggotakan enam orang dan diperlengkapi dengan ringan agar bisa melakukan bermanuver dengan lebih mudah di dalam garis musuh. Area tanggung jawab mereka meliputi zona militer Duong Minh Chau, zona “D”, hutan Tay Ninh, Binh Duong, Binh Long, Phuoc Long, Binh Tuy, Phuoc Tuy, Phuoc Tuy, Long Khanh, dan Bien Hoa. Meskipun Ranger ke-81 bertugas terutama sebagai unit pengintai, mereka pada kenyataannya banyak terlibat dalam pertempuran konvensional menyesuaikan dengan kondisi militer yang ada, seperti saat mereka terlibat dalam Serangan Tet di Hue dan Saigon 1968, An Loc 1972, dan Quang Tri pada 1973. Mereka terus bertempur hingga perang berakhir pada tahun 1975. Pada akhir tahun 1974, kondisi militer Vietnam Selatan sudah kritis, dimana bantuan militer dari Amerika sudah jauh makin berkurang, dan Washington sendiri sudah tidak ada niatan untuk melibatkan diri mereka lebih jauh dalam konflik di Asia Tenggara. Dilain sisi, Vietnam Utara terus memperkuat militernya dari hari-ke-hari, dimana kekuatan mereka yang berantakan tahun 1972-73 akibat invasi mereka yang gagal dan gempuran udara Amerika, sekarang telah kembali ke kekuatan normal mereka, dan bahkan lebih diperkuat. Hanoi di akhir 1974 telah siap untuk meluncurkan ofensif pamungkasnya didalam perang. Kini Vietnam Selatan harus berjuang sendiri untuk kelangsungan hidupnya. Hari-hari terakhir unit Ranger Ke-81 mulai dihitung, namun kiprah heroik mereka masih terentang panjang hingga kehancuran mereka.

MATI-MATIAN DI PHUOC LONG

Pada tanggal 12 Desember 1974, Korps Angkatan Darat ke-4 PAVN (Vietnam Utara) meluncurkan kampanye mereka melawan provinsi Phước Long dengan target untuk mencapai tiga tujuan utama mereka. Pertama, para pemimpin Vietnam Utara ingin menguji reaksi Pemerintah Amerika Serikat, untuk melihat apakah mereka benar-benar akan menepati janji-janji mantan Presiden Richard Nixon tentang pembalasan militer terhadap Vietnam Utara, jika berani menginvasi Vietnam Selatan lagi seperti yang Hanoi lakukan pada bulan April 1972. Kedua, komandan lapangan PAVN ingin menguji kesiapan tempur ARVN. Dan ketiga, orang-orang Vietnam Utara ingin menyelesaikan masalah logistik mereka sekali dan untuk selamanya, dengan merebut distrik Phước Long dan rute transportasi penting di sekitarnya. PAVN membuka kampanyenya melawan Phước Long pada 12 Desember 1974, menggunakan Batalion ke-4 dari Resimen Infanteri ke-165 untuk menyerang pos terdepan Vietnam Selatan yang terletak di Rute 14, yang dipertahankan oleh satu kompi keamanan Vietnam Selatan. Menghadapi serangan besar ini, pada 1 Januari 1975, Ranger ke-81 menerima perintah paling menantang mereka sejauh ini dalam perang, yakni untuk menyelamatkan kota Phuoc Long, yang diserang berat dan dikepung oleh tiga divisi musuh. Perintah ini datang ditengah operasi mereka di Black Virgin Mountain (Nui Ba Den) untuk menekan ancaman musuh pada pusat komunikasi relay dari Corp III di kota perbatasan Tay Ninh. Tiga ratus Airborne Rangers, dipimpin yang oleh LTC Vu Xuan Thong dan Mayor Nguyen Son, diangkut oleh helikopter ke kota Phuoc Long yang nyaris tanpa harapan pada 4 Januari 1975.

Pada 4 Januari 1975, personel 81st Airborne Ranger diperintahkan melakukan operasi serbuan dengan helikopter untuk mempertahan kota Phuoc Long yang nyaris tidak ada harapan. (Sumber: Pinterest)

Pada hari itu Para Ranger melindungi mata mereka sementara helikopter-helikopter angkut UH-1 Huey perlahan melayang turun ke zona pendaratan, menghembuskan debu merah ke mana-mana. Setiap tubuh kecil prajurit Ranger itu membawa sebanyak tiga atau empat tabung senjata peluncur roket anti tank ringan M-72 LAW selain harus menanggung beban tempur standar mereka. Wajah mereka semua tampak muram, namun semangat tempur mereka menyala siap untuk menghadapi pertempuran terakhir mereka. Mereka tahu apa yang mereka hadapi; banyak dari mereka mungkin tidak akan bertahan hidup beberapa jam ke depan. Mereka adalah sekelompok prajurit yang tangguh menurut standar angkatan darat mana pun. Seandainya hasil Perang Vietnam berbeda, Rangers ke-81 mungkin akan selamanya diingat dalam sejarah sebagai salah satu unit tempur terbesar di era modern. Tetapi orang-orang yang berjongkok di samping Hueys yang akan mendarat pada tanggal 4 Januari 1975 itu sedang bersiap menghadapi serbuan demi serbuan masif angkatan darat konvensional Vietnam Utara (NVA) yang sedang berusaha merebut ibu kota provinsi Phuoc Long dengan tiga divisi yang dilengkapi dengan satuan lapis baja dan artileri. Pasukan ARVN yang sebelumnya telah mempertahankan kota itu menunjukkan diri bahwa mereka sudah bertempur dengan sangat baik, memukul balik gelombang demi gelombang serangan lapis baja selama berminggu-minggu. Tapi sekarang garis pertahanan mereka sudah bisa ditembus, dan sekali lagi satuan Ranger ke-81 akan dilemparkan ke medan tempur yang nyaris tanpa harapan. 

Peta serangan NVA dan pengiriman satuan Airborne Ranger ke-81 di kota Phuoc Long. (Sumber:https://en.wikipedia.org/)

Situasi sulit ini bukanlah hal yang baru bagi Rangers ke-81. Di An Loc selama Ofensif Paskah 1972 dan di Quang Tri pada tahun 1973, mereka telah berhadapan dengan NVA yang diperlengkapi lebih baik. Di Quang Tri mereka telah menghadapi NVA dalam pertempuran jalanan yang seru, melumpuhkan beberapa tank NVA dengan senjata tidak lebih dari peluncur roket LAW, granat dan kenekadan mereka. Jadi, ketika mereka mendapat perintah untuk melakukannya lagi dua tahun kemudian di Phuoc Long, orang-orang ini siap. Tapi situasinya kini sudah beda dari dua tahun sebelumnya, orang-orang Amerika sekarang sudah pergi; ARVN dibiarkan berjuang sendiri. Tidak akan ada serangan B-52 untuk mengimbangi keunggulan Vietnam Utara dalam hal jumlah dan daya tembak. Saat itu NVA telah meluncur di jalur Rute 1, merebut Dong Ha, Hue dan Da Nang secara berturut-turut, banyak unit ARVN yang sudah tercerai berai. Rasanya…inilah saatnya….mereka menyongsong takdir mereka.

Pada tahun 1975, Vietnam Selatan sudah tidak bisa mengharapkan lagi bantuan kekuatan udara Amerika seperti yang mereka terima dalam menghentikan ofensif Vietnam Utara pada April 1972. (Sumber:https://en.wikipedia.org/)

Pesan yang membingungkan dari Presiden Nguyen Van Thieu sama sekali tidak membantu. Unit-unit di Wilayah Militer 1 (Corps I di wilayah utara) telah mempersiapkan diri mereka dalam posisi pertahanan yang sangat baik, tetapi Presiden Thieu yang panik telahbmemerintahkan wilayah itu ditinggalkan tanpa perlawanan. Selain itu, dia terlambat dalam memberi perintah untuk melakukan penarikan pasukan dengan tertib, dan akibatnya tentara ARVN hancur ketika mereka meninggalkan posisi pertahanan mereka dan berusaha mundur ke selatan. NVA telah memulai serangannya di Provinsi Phuoc Long pada bulan Desember 1974, dan pada awal Januari 1975, ibukota provinsi itu dikepung. Thieu mengadakan pertemuan darurat dengan Staf Umum Gabungannya, yang sepakat bahwa divisi ARVN Airborne dan Marinir tidak akan dapat memperkuat Phuoc jauh sebelum kota itu jatuh. Pasukan Airborne dan Marinir telah mengalami banyak kerugian besar selama meninggalkan Wilayah Militer 1. Satu-satunya pilihan yang tersisa adalah unit Rangers ke-81 yang sangat disegani, tetapi Staf Umum Bersama ragu-ragu untuk melibatkan unit terbaiknya dalam sebuah misi yang menawarkan sedikit harapan untuk sukses. Kota Phuoc Long benar-benar dikepung dan menjadi sasaran pemboman artileri sebanyak 300-tembakan setiap hari, yang biasanya diikuti oleh serangan gabungan lapis baja / infanteri darat. Jadi, keputusan kemudian dibuat untuk membagi sedikit Grup Ranger ke-81 yang kondisinya sendiri sudah sangat menyedihkan dengan menciptakan sebuah markas taktis yang diawaki oleh dua kompi penjaga, yang dilengkapi dengan peluncur roket LAW dan senjata recoilless 90mm. Namun, tanpa kekuatan udara A.S., senjata ini akan kesulitan untuk mengalahkan tank T-54. 

Seperti di tahun 1972, pada ofensif akhir mereka pada tahun 1975, NVA mengerahkan banyak Tank T-54 buatan Soviet dalam melumat pertahanan Vietnam Selatan yang telah kocar-kacir. (Sumber: https://www.baodanang.vn/)

Meski demikian Ranger ke-81 tidak begitu saja pasrah pada nasibnya, sebelumnya pada tahun 1968 mereka sudah pernah dikerahkan di seluruh bagian kota Saigon selama Serangan Tet yang brutal, misi ini bukanlah yang pertama. Tidak seperti Divisi Lintas Udara ARVN, yang sebenarnya tidak lebih merupakan penjaga istana untuk Presiden Thieu, Personel Rangers ke-81 terbiasa melawan NVA dan VC di mana pun dan kapan pun dibutuhkan. Mereka adalah prajurit profesional dan mematikan, dan tidak pernah terlihat membawa M-16 mereka yang berharga dengan memegang gagang pembawanya, mereka selalu siap bertempur dengan senjata apapun yang mereka pegang. Personel Ranger juga tidak mengenakan seragam kamuflase yang sangat ketat yang khas unit ARVN lainnya. Personel-personel dari Rangers ke-81 naik helikopter untuk melakukan serangan lintas udara yang putus asa ke Phuoc Long, mereka semuanya sudah ditinggalkan oleh sekutu-sekutunya. Sementara ada laporan yang menyatakan bahwa para penasihat militer Soviet turut menyertai divisi lapis baja NVA. Ranger ke-81 adalah bagian dari upaya terakhir Vietnam Selatan untuk menahan Phuoc Long, dengan harapan bahwa Amerika akan kembali membantu mereka yang telah terpojok. Banyak personel Ranger telah bertempur sejak pertengahan 1960-an dan berada di dalamnya untuk jangka waktu panjang. Thieu dan para komandannya berharap bahwa mereka dapat menahan ofensif NVA sampai gencatan senjata dapat dicapai dengan bantuan Amerika Serikat. Setidaknya hal ini diharapkan dapat memastikan masa depan Vietnam Selatan, bahkan meski luas negeri ini hanya tinggal menjadi daerah di sekitaran Saigon saja. 

Menghadapi gelombang serbuan artileri dan tank dari NVA, pasukan Ranger ke-81 bertahan mati-matian dengan senjata yang mereka miliki. Nampak pada gambar pasukan Ranger sedang dalam pergerakan. (Sumber:https://www.flickr.com/)

Gelombang pertama Ranger menyerang ke Phuoc Long pada siang hari pada 4 Januari, dipimpin oleh Letnan Kolonel Vu Xuan Thong. Tetapi begitu kelompok pertama Batalyon Ranger ke-81 mendarat di daerah Dac Song, mereka dengan cepat dihantam oleh artileri PAVN, dengan unit tersebut segera menderita kerugian setara dengan dua kompi. Sisa-sisa Batalyon Ranger kemudian segera terhubung dengan garnisun ARVN dan segera dikerahkan di posisi sekitar kantor polisi. Sembilan puluh lima persen dari Phuoc Long sudah direbut oleh NVA ketika sekelompok Ranger sampai disitu. Komando Korps Angkatan Darat ke-4 PAVN lalu segera merespons dengan memerintahkan Resimen ke-16 untuk mengamankan Dac Song dan jembatan terdekatnya di Dac Lung, mengejar unsur-unsur yang masih tersisa dari Batalyon Ranger ke-81. Tank-tank komunis yang didukung oleh pasukan infanteri segera menyerang posisi Ranger ARVN, mendorong mereka kembali ke Jembatan Dak Lung. Angkatan Udara Vietnam Selatan yang masih mampu mengumpulkan beberapa jet F-5 untuk serangan udara berhasil menghancurkan beberapa tank dan memaksa NVA untuk mundur. Para Ranger menembak dan bermanuver kembali ke pusat kota dan diserang sekali lagi. Pertempuran sengit berkecamuk ketika satuan Ranger berhasil menghancurkan empat tank T-54, terlepas dari tank itu telah dipasangi armor skirt yang diperkuat. Para Ranger naik ke atas tank dan membuka di pintu palka mereka dalam aksi putus asa untuk melemparkan granat ke dalamnya. Jalanan kota yang sempit menawarkan mereka keuntungan ketika kru tank T-54 terjebak di dalamnya. Tim kecil bersembunyi sampai sebuah tank mengikuti atau melewati posisi mereka. Dimana kemudian itu mereka berebut dengan gila untuk menghancurkan atau melumpuhkannya dengan menyemprotkan tembakan gencar senapan ke dalam lubang senjata atau menjatuhkan granat ke dalam lubang palka.

Peluncur roket anti tank ringan M-72 LAW yang kerap digunakan tentara Vietnam Selatan untuk menghancurkan tank-tank NVA. (Sumber: Pinterest)

Ketika hari semakin larut, para Ranger mencoba untuk berkonsolidasi dan mengatur ulang posisi mereka. Namun, pada tahap itu garis pertahanan Vietnam Selatan di Phước Long telah menyempit, hanya menyisakan pusat administrasi dan pasar lokal masih di bawah kendali Vietnam Selatan, sementara sebagian besar kota telah jatuh ke PAVN. Pada saat ini, semua Roket LAW mereka telah digunakan. Senjata recoilless terbukti tidak efektif melawan T-54, dan para Ranger itu meragukan bahwa mereka akan mampu bertahan sepanjang malam. Tidak ada serangan yang datang, tetapi pada pagi hari tanggal 5 Januari, Ranger ke-81 dihajar oleh artileri dan serangan roket yang gencar. Pasukan kemudian bersiap untuk menghadapi serangan penghabisan, tetapi sekali lagi, tidak ada serangan darat yang muncul. Serangan Artileri berlanjut hingga tanggal 6 Januari, ketika suara tank kemudian muncul. Anggota Ranger ke-81 dengan cepat berdiri dan menunggu apa yang mereka yakini sebagai pertempuran terakhir mereka. Kelompok kecil Ranger mengumpulkan amunisi apa pun yang mereka miliki dan berjongkok di antara reruntuhan neraka kota Phuoc Long. Tetapi pada menit terakhir, perintah akhirnya datang untuk menarik mereka keluar dari kota. Sekitar 100 orang dari 300 personel awalnya berhasil diselamatkan oleh helikopter Angkatan Udara Vietnam. 

Beberapa Tank T-54 NVA hancur akibat perlawanan alot unit-unit ARVN pada ofensif tahun 1975. (Sumber: Pinterest)

Sekembalinya dari Phuoc Long, COL Phan Van Huan, Komandan Ranger ke-81, menyusun ulang unitnya menjadi tiga “detasemen”, yang masing-masing terdiri dari sekitar seribu tentara. Detasemen ini akan lebih mandiri, bergerak dan dapat bereaksi lebih cepat terhadap situasi militer yang terus berubah. Detasemen Operasi Taktis Pertama (TOD) diperintahkan oleh LTC Vu Xuan Thong, TOD kedua oleh MAJ Nguyen Son, dan TOD ketiga oleh MAJ Pham Chau Tai. Sementara waktu, personel-personel Ranger ke-81 terus menjalankan operasi pengintaian normal mereka di hutan-hutan wilayah III Corp. Pada tanggal 10 Maret 1975, Vietnam Utara melancarkan ofensif umum mereka dengan menyerang kota Ban Me Thuot di Dataran Tinggi Tengah, Wilayah Militer II Corps. NVA lalu merebut Ban Me Thuot dalam waktu dua hari, dan kemudian mengalihkan target mereke Pleiku dan Kontum. Presiden Thieu yang panik lantas memerintahkan pasukan ARVN untuk mundur dari wilayah Dataran Tinggi Tengah. Garis pertahanan baru kini berada di Provinsi Phan Rang, tetapi ketika Phan Rang jatuh, Jendral Nguyen Vinh Nghi, Jendral Sang dan staf mereka mundur jauh ke dalam hutan Wilayah III Corp. Ranger ke-81 kemudian diperintahkan untuk membentuk tim khusus untuk melakukan misi penyelamatan. Tim penyelamat rencananya akan mengenakan seragam NVA dan dipimpin oleh Letnan Nguyen Van Minh, namun operasi lantas dibatalkan pada menit-menit terakhir ketika Markas Besar Korps III menyatakan bahwa Jenderal Nghi dan Sang telah ditangkap oleh VC di Phan Rang. 1LT Minh dan timnya kemudian dipindahkan ke misi pengintaian lain di wilayah militer zona “D”. Ini adalah misi terakhirnya; tim pengintaian ini akhirnya ditangkap oleh VC pada tanggal 14 Mei ketika sedang dalam perjalanan mundur dari Hutan Dai An, nyaris 2 minggu setelah Vietnam Selatan jatuh.

PERTEMPURAN AKHIR DI SAIGON

Phuoc Long bukan bab akhir dari aksi Rangers ke-81. Mereka sekali lagi mempertahankan kehormatan ARVN dan Vietnam Selatan lewat aksi mereka dan perlawanan mati-matian mereka melawan serangan NVA yang terakhir di Saigon. Pada tanggal 26 April 1975, COL Huan diperintahkan mengerahkan salah satu unit markas taktisnya memperkuat pertahanan Markas Staf Umum Gabungan ARVN yang berlokasi di dekat Bandara Tan Son Nhut di Saigon. Mayor Tai dan unit taktis ketiganya ditugaskan untuk misi ini. Dia memposisikan pasukannya di gedung-gedung tinggi di seberang Markas Staf Umum Bersama dengan tentara ARVN lainnya (di sebelah bekas rumah sakit American Third Field) dan area perimeter di sekitar Tan Son Nhut Airport. Kolonel Huan dan dua unit markas taktis lainnya ditempatkan di ujung utara Bandara Bien Hoa. Pada siang hari, Jendral Nguyen Van Toan, komandan Corp III, menelepon melalui radio menghubungi COL Huan untuk mengikuti pertemuan militer darurat. Hadir dalam pertemuan itu adalah Kolonel Luu Yem, Kepala Staf provinsi Bien Hoa, LTC Lo, komandan Batalyon Lintas Udara ke-7, dan sekitar dua puluh staf staf lain dari kantor pusat III Corp. Jenderal Toan memberi perintah kepada mereka untuk meninggalkan Bien Hoa pada tanggal 29 April. Semua unit pasukan gabungan harus mundur dari Bien Hoa untuk membentuk garis pertahanan baru di Thu Duc. Airborne Ranger ke-81 ditugaskan sebagai pasukan pengaman garis belakang dalam urutan Operasi pengunduran ini. Misi mereka adalah untuk menghancurkan jembatan di Jalan Raya Korea dekat Bandara Bien Hoa untuk menghentikan tank NVA. 

Peta serangan akhir ke Saigon tahun 1975. (Sumber:https://www.loupiote.com/)

Setelah COL Huan kembali dari pertemuan, ia segera memindahkan pasukannya ke Bandara Bien Hoa. Divisi Angkatan Udara Ketiga telah meninggalkan bandara itu beberapa hari sebelumnya. Malam itu, pasukan Vietnam Utara menyerang dan merebut pos unit lapis baja di dekatnya. Ranger ke-81 lalu menyerang balik untuk merebut kembali pos pada hari berikutnya, pada tanggal 29 April. Pada saat yang sama, dua pesawat jet membombardir persediaan bom di bandara; Ranger ke-81 dipaksa berlindung selama lebih dari lima jam dalam ledakan besar ini dan menderita beberapa korban. Saat malam tiba, para personel Ranger ke-81 mulai mundur dari bandara. COL Huan memerintahkan CPT Hien untuk memimpin konvoi dengan membawa semua alat berat dan tentara yang terluka melalui rute berbeda ke markas besar Ranger ke-81 di Hoc Mon, dekat Saigon. Ketika konvoi tiba di Jembatan Binh Phuoc sekitar jam 0300 pada 30 April; pasukan bersenjata lokal di Binh Phuoc memberi tahu mereka bahwa musuh telah merebut Markas Besar mereka dan sebagian besar pos militer di daerah itu. CPT Hien lalu mengarahkan kembali konvoinya keatas jembatan Binh Trieu untuk menemukan jalannya ke Markas Staf Umum Gabungan ARVN, tempat detasemen taktis ke-81, yang dipimpin oleh MAJ Tai, ditempatkan. Pukul 05.30 tanggal 30 April, CPT Hien dan konvoinya bergabung dengan detasemen ke-3 dari Airborne Rangers ke-81 di Markas Staf Umum Gabungan ARVN. Sementara itu, detasemen utama ke-81 bergerak di sepanjang Jalan Raya Korea untuk menghindari musuh; mereka meledakkan jembatan di sepanjang rute untuk menunda pengejaran musuh. Pada saat itu, stasiun radio Saigon menyiarkan permintaan oleh MR. Vu Van Mau, Perdana Menteri Vietnam Selatan yang baru, agar orang Amerika (yang tengah melakukan evakuasi personel staff kedutaan dan warga sipil Amerika) menarik semua pasukannya dari Vietnam dalam waktu dua puluh empat jam. 

Pangkalan udara Tan Son Nhut, tempat markas ARVN berada saat diserang NVA, 29 April 1975. (Sumber: Pinterest)

Di tengah-tengah berbagai peristiwa yang mengejutkan ini, COL Huan memutuskan untuk memindahkan pasukannya jauh ke dalam hutan Co Mi. Dia kemudian mencoba melakukan kontak dengan atasannya dan pasukan kawan lainnya di wilayah tersebut, tetapi tidak berhasil. Semua frekuensi radio sudah mati. Pada jam 02.00 pada tanggal 30 April, pasukan NVA menyerang gerbang belakang markas Staf Umum Gabungan ARVN. Kompi ke-811 dari Ranger ke-81, yang dipimpin oleh CPT Truong Viet Lam, yang segera terlibat dalam pertarungan jarak dekat dengan tentara musuh. Pertempuran berlangsung intens dengan granat dan bahan peledak besar. Pertempuran itu berlangsung sekitar 90 menit sebelum musuh harus mengundurkan diri dari pertarungan pada jam 0600 tanggal 30 April. Pada jam 07.00, satu regu pasukan Ranger ke-81 dengan menggunakan roket anti tank M72 LAW menghancurkan sebuah tank T-54 tepat di gerbang depan Markas Staf Umum Gabungan ARVN, tetapi mereka semua kemudian terbunuh oleh tembakan tank kedua yang langsung menembak ke arah mereka. Pertempuran lain pecah di Bay Hien Junction yang terletak di antara base camp Divisi Airborne dan Bandara Tan Son Nhut. Pada pukul 07:15 tanggal 30 April, Resimen ke-24 PAVN (Vietnam Utara) mendekati persimpangan Bay Hien (koordinat 10,793 ° LU 106,653 ° BT), satu setengah kilometer dari gerbang utama markas. Tank T-54 yang memimpin didepan terkena tembakan senjata recoilless M67, dan kemudian T-54 berikutnya ditembak oleh peluru dari tank M48 ARVN. Infantri PAVN bergerak maju dan bertarung melawan tentara ARVN gabungan dari unit Divisi Lintas Udara dan Divisi ke-81 dalam pertempuran dari rumah ke rumah, dan mendesak mereka untuk mundur ke pangkalan pada pukul 08:45. PAVN kemudian mengirim tiga tank dan satu batalion infantri untuk menyerang gerbang utama dan mereka segera berhadapan dengan tembakan senjata anti-tank dan senapan mesin intensif yang menghancurkan 3 tank dan menewaskan sedikitnya 20 tentara PAVN. Tentara PAVN berusaha untuk menggerakkan kedepan sebuah senjata anti-pesawat terbang berkaliber 85mm tetapi tentara ARVN menghancurkannya sebelum dapat mulai menembak. Divisi ke-10 PAVN  lalu memerintahkan 8 tank lagi dan satu batalion infantri untuk bergabung dengan serangan itu, tetapi ketika mereka mendekati persimpangan Bay Hien mereka terkena serangan udara dari jet RVNAF yang beroperasi dari Pangkalan Udara Binh Thuy yang berhasil menghancurkan dua tank T-54. Enam tank yang masih tersisa tiba di gerbang utama pada pukul 10:00 dan memulai serangan mereka, dengan 2 lagi lalu dihancurkan oleh tembakan antitank di depan gerbang dan yang lainnya dihancurkan ketika berusaha melakukan manuver yang mengapit. 

Pasukan Airborne bersama dengan pasukan Ranger tetap bertahan hingga hari-hari terakhir pertempuran di Saigon, April 1975 (Photo by Francoise De Mulder/Roger Viollet/Getty Images/https://www.warneverdies.com/)

Pada jam 09.00 pagi tanggal 30 April 1975, Presiden Republik Vietnam memerintahkan semua tentara ARVN untuk meletakkan senjata mereka. Pada jam 10:30, MAJ Tai, Komandan Markas Besar Operasi Taktis ke-3 dari Grup Ranger Lintas Udara ke-81, setelah mendengar himbauan presiden untuk meletakkan senjata menghubungi Istana Presiden dari jabatannya di Staf Umum Gabungan. Dia melaporkan kepada Jendral Nguyen Huu Hanh, Komandan Angkatan Bersenjata, dan Presiden Duong Van Minh tentang situasi pertempuran di sekitar pangkalan udara TSN, pelanggaran terhadap gencatan senjata oleh musuh, dan pertempuran sengit yang masih terjadi di daerahnya. Jenderal Minh, kemudian mengatakan kepadanya untuk bersiap menyerah. Pham menjawab dengan mengatakan kepada Minh, “Jika tank-tank Viet Cong memasuki Istana Presiden, kami akan datang ke sana untuk menyelamatkan anda, Tuan.” Minh menolak saran Pham dan Pham kemudian menyuruh anak buahnya untuk mundur dari gerbang pangkalan. Musuh kemudian menembus pangkalan udara TSN dan meningkatkan pemboman yang intens dari markas besar Angkatan Bersenjata. CPT Nguyen Huu Hung, asisten Mayor Tai, dan CPT Hien memutuskan untuk memimpin konvoi kembali ke Bien Hoa dengan harapan dapat terhubung dengan detasemen utama Grup ke-81. Delapan konvoi tank M-41 dan M-113 APC dan sekelompok tentara yang baru saja mundur dari pangkalan udara TSN bergabung dengan mereka. Ketika konvoi bergerak di sepanjang Jalan Vo Di Nguy, mereka disergap musuh tiga kilometer dari Bandara TSN. CPT Hung dan 1LT Hien memerintahkan pasukannya untuk meninggalkan konvoi, dan mereka menghilang ke kerumunan orang banyak untuk menghindari penangkapan. Di Tay Ninh, 1LT Lai Dinh Hoi, Komandan Kompi  ke-813 dari Airborne Ranger ke-81, memindahkan pasukannya ke Saigon dalam upaya untuk menyatukan unit utamanya dengan Markas Besar Grup ke-81. Pada 2100 jam, 1 Mei 1975, mereka dicegat oleh musuh dan harus meninggalkan senjata berat mereka. Untungnya, mereka berhasil sampai ke markas besar Ranger ke-81 dari sekitar Tengah hari pada tanggal 2 Mei dan membubarkan semua pasukannya.

Pada 30 April 1975, Jenderal Duong Van Minh (kiri), Presiden Vietnam Selatan yang terakhir mengumumkan penyerahan tanpa syarat Republik Vietnam Selatan ke tentara Komunis Vietnam Utara. (Sumber:https://www.flickr.com/)

Di Hutan Co Mi, COL Huan mengumpulkan pasukannya untuk terakhir kalinya. Dua ribu tentara berdiri diam di depannya. Dia menghadapi keputusan yang sangat sulit: apakah akan memimpin pasukannya dalam perlawanan panjang dari tempat persembunyian di hutan seperti yang telah direncanakan oleh Ranger ke-81 atau mematuhi perintah Presiden Minh sebagai kepala negara untuk meletakkan semua senjata mereka. Setelah bertemu dengan stafnya, ia berbicara kepada pasukannya, “Kita tinggal di (Vietnam) Selatan, berjuang untuk Kebebasan Selatan, tetapi situasinya tidak memungkinkan kita untuk terus bertempur. Kita harus mematuhi perintah Presiden kita. Jangan takut. Anda tidak bersalah dalam tindakan ini, Anda hanya mengikuti perintah saya. Jika musuh ingin menembak seseorang, mereka akan melihat saya terlebih dahulu. Karena kita adalah unit yang sangat disiplin, kita akan berbaris dalam empat formasi-line. Saya akan memimpin kalian untuk bertemu pemegang otoritas yang baru untuk menyerahkan senjata kita; kita tidak bisa membiarkan musuh memandang rendah kita. ” Keluar dari Hutan Co Mi, empat barisan prajurit dari Airborne Ranger Group ke-81 dengan peralatan tempur lengkap dengan senjata mereka yang tidak diisi peluru dengan laras diturunkan, berbaris tanpa suara untuk terakhir kalinya menuju ibu kota mereka, Saigon melewati Jalan Raya Korea, dengan mengabaikan semua keributan di sekitar mereka. Bekas Pasukan Selatan serta tentara Vietnam Utara yang bertebaran di jalan raya memandangi mereka dengan heran. Beberapa kru televisi merekam mereka berbaris. Akhirnya, sisa pasukan Ranger itu dicegat oleh delegasi perwira Vietnam Utara. Semua prajurit Ranger kemudian disuruh pulang dengan tetap diperbolehkan mengenakan seragam kebanggaan mereka. Para Ranger telah bertempur dengan gagah berani dari bulan Januari hingga awal Mei, 1975, sampai akhirnya mereka memutuskan meletakkan senjata. Hingga akhir mereka tetap mempertahankan kehormatan dan kebanggaan mereka sebagai prajurit Vietnam Selatan.

Pasukan Vietnam Selatan, sebagian berupaya mengganti seragam dengan pakaian sipil, digiring oleh tentara pemenang saat Saigon jatuh, April 1975. Berbeda dengan kebanyakan satuan lain, personel Airborne Ranger ke-81 ARVN tetap berusaha menjaga kehormatan satuannya hingga akhir dengan berbaris tertib, berseragam sebelum menyerahkan diri. (Photo credit should read AFP/AFP/Getty Images/https://www.usnews.com/)

AFTERMATH

Sementara itu enam tim pengintai dari Ranger ke-81 masih tetap bertugas jauh di wilayah Duong Minh Chau Zone. Mereka kehilangan kontak radio dengan markas Operasi Ranger ke-81 pada tanggal 29 April 1975 karena semua stasiun relay komunikasi ditutup. Tim-tim ini bahkan tidak tahu bahwa Vietnam Selatan telah runtuh. Tiga tim saling menghubungi dengan radio dan menggunakan peta dan kompas untuk berjalan kembali ke Tan-Uyen. Pasokan makanan 5 hari mereka telah dikonsumsi dan mereka semua kelaparan dalam perjalanan ke Tan Uyeno. Pada tanggal 5 Mei 1975 ketika 18 prajurit Airborne Rangers mendekati desa Dai-An, mereka meminta makanan dari warga sipil setempat. Tetapi tentara Komunis mengepung tentara yang kelaparan ini, melucuti senjata mereka dan memasukkan mereka ke penjara tanpa memberi mereka makanan atau air. Mereka kemudian menembak mati 18 Airborne Rangers yang malang ini dan membuang mayat mereka di Sungai Dong Nai. Beberapa hari kemudian jenazah mereka yang telah rusak dikuburkan oleh warga sipil setempat. Delapan mayat dimakamkan di sumur kosong; mayat-mayat lainnya dimakamkan di sepanjang tepi sungai. Tapi ada satu prajurit Airborne Ranger yang ditemukan terluka parah, bernama Duc. Hidupnya diselamatkan oleh pasangan tua yang menyembunyikan dan memberinya makan. Setiap tahun setelahnya Duc terus kembali mengunjungi pasangan lansia ini sampai tahun 1995 ketika pasangan itu meninggal. Tiga tim lainnya lantas juga ditangkap antara tanggak 7-15 Mei 1975, tetapi beruntung mereka terhindar dari kematian. Mereka semua dikirim ke penjara selama bertahun-tahun. Sersan Tim, Vo Van Hiep dan anggota tim bernama Nguyen Van Son disiksa sampai mati ketika berada di penjara. COL Huan dan seluruh stafnya dibebaskan sebentar. Kemudian mereka ditangkap dan dikirim ke penjara di Vietnam Utara selama bertahun-tahun. Banyak dari mereka meninggal di penjara. Colonel Huan baru dibebaskan setelah tiga belas tahun mendekam di kamp “pendidikan ulang Komunis”. Dia dan sebagian besar stafnya  sekarang telah bermukim kembali di Amerika Serikat. Mereka telah membentuk Keluarga Asosiasi Ranger ke-81 sebagai jaringan yang mendukung untuk satu sama lain dan teman-teman mereka yang masih tinggal di Vietnam.

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

ARVN 81st Airborne Ranger Group by Eli C. Renshaw

81st AIRBORNE RANGERS II

http://macvteam162.com/wp-content/uploads/2013/12/81st-ABN-RANGERS-II.pdf

https://en.m.wikipedia.org/wiki/81st_Ranger_Group_(South_Vietnam)

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Vietnamese_Rangers

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Battle_of_Ph%C6%B0%E1%BB%9Bc_Long

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *