Kegagalan Invasi CIA di Teluk Babi Untuk Menggulingkan Fidel Castro, April 1961

“Biarkan saya memberi tahu Anda sesuatu,” Presiden John F Kennedy mengatakan kepada Clark Clifford di bulan April 1961. “Saya telah mengalami dua hari penuh neraka – saya belum tidur – ini telah menjadi periode paling menyiksa dalam hidup saya. Saya ragu kepresidenan saya bisa selamat dari bencana lain seperti itu. ” Bencana yang dimaksud Kennedy itu adalah sebuah upaya gagal oleh sekelompok imigran Kuba, yang didukung oleh pemerintah AS, untuk menginvasi Kuba di Teluk Babi, sebuah jalan masuk di pantai selatan negara pulau itu, sekitar 90 mil di tenggara ibukota Havana. Tujuan mereka adalah untuk memprovokasi sebuah pemberontakan yang akan mendorong penggulingan Fidel Castro, pemimpin sayap kiri yang telah merebut kekuasaan lewat pemberontakan bersenjata pada tahun 1959. Seorang penasihat yang mengintip ke kamar tidur Gedung Putih ketika operasi ini gagal mengamati bahwa JFK sempat menangis di pelukan istrinya Jackie. Dia memanggil ayahnya untuk meminta nasihat setiap jam, namun ironisnya, ia tidak menerima dukungan dari ayahnya yang ia harapkan. “Oh, sial,” Joseph Kennedy memberi tahu putranya, “jika itu yang kamu rasakan (perasaan gagal), berikan (saja) pekerjaan ini pada Lyndon (Wakil Presiden saat itu)”.

Kegagalan Invasi di Teluk Babi, April 1964 benar-benar memukul JFK yang baru beberapa bulan memimpin Amerika. (Sumber: https://npg.si.edu/)

Sementara itu, pada pagi hari tanggal 18 April 1961, para pembaca koran New York Times dikejutkan dengan judul yang mengejutkan: “Unit Anti-Castro telah mendarat di Kuba; dilaporkan mereka sedang bertempur di tepian pantai; (Dean) Rusk Berkata bahwa A.S. tidak akan melakukan intervensi. Castro Mengatakan Pasukannya Bertempur Secara Heroik untuk Mengusir Pasukan Penyerang. ” Penulis artikel itu, Tad Szulc, adalah orang kepercayaan Presiden John F. Kennedy, menuliskan bahwa pasukan anti-Castro telah mendarat di daerah berawa di Kuba di Provinsi Las Villas, dengan didukung oleh perlindungan udara dari pihak Amerika. Artikel itu mengatakan pemberontak yang tak dikenal itu telah membuat kemajuan besar di tempat pendaratan mereka dan bahwa Perdana Menteri Fidel Castro telah lolos dari cedera dalam serangan udara selama awal pertempuran. Judul utama lain dalam edisi yang sama dari surat kabar itu melaporkan bahwa “Moscow Blames US For Attack.” Kedua headline ini membingungkan para pembaca, yang tidak yakin apa yang sedang terjadi di Kuba, negara yang didominasi komunis dan hanya berjarak 90 mil dari pantai Florida. Jika para pembaca Times benar-benar tahu apa yang sedang terjadi, mereka akan lebih terkejut. Serangan di Teluk Babi yang awal April pagi telah dikerjakan selama berbulan-bulan, dimana perencanaannya telah dimulai pada tahun terakhir pemerintahan Eisenhower. Tujuan keseluruhan dari serangan, yang dilakukan oleh pasukan anti-Castro yang dilatih dan dilengkapi oleh Amerika Serikat, ini adalah untuk menggulingkan rezim Castro dan menggantinya dengan kekuatan yang loyal kepada Amerika Serikat. 

JATUHNYA FULGENCIO BATISTA 

Invasi Teluk Babi adalah merupakan bagian dalam konfrontasi Perang Dingin antara Uni Soviet dan Amerika Serikat, tetapi akarnya dapat ditarik kembali sejak keterlibatan AS dalam masalah di Kuba yang telah dimulai pada akhir abad ke-19. Diktator Kuba Fulgencio Batista telah memerintah pulau itu dengan tangan besi, menekan rakyat, menggunakan ekonomi negara yang sedang berkembang tersebut dengan mengalihkan jutaan dolar  keuntungan ekonomi untuk keperluan pribadinya, dan membuat perjanjian rahasia dengan para Mafia Amerika yang menjalankan kasino-kasino yang menguntungkan di Kuba untuk kemudian menerima potongan besar dari keuntungan kasino mereka. Kalau kita penikmat film dan pernah menonton film “The Godfather Part II” (1974), kolusi antara Para Mafioso dengan Rezim Batista diperlihatkan sekilas dalam adegan-adegan jelang kejatuhan rezim Batista, yang akan segera terjadi ini. Pada tahun 1950-an, pemerintah Kuba sejalan dengan sikap anti-komunis dari pemerintahan Eisenhower, yang menjadikan Kuba nya Batista sebagai tempat yang nyaman untuk menghadapi ancaman komunis yang mengancam akan menyebar ke seluruh Amerika Tengah dan Selatan. Eisenhower sebenarnya tahu detail kotor dari pemerintahan Batista yang kejam tetapi memilih untuk menutup mata. Central Intelligence Agency, di bawah arahan Allen Dulles, telah membuat perjanjian dengan Batista agar sang diktator melakukan apa yang diinginkan oleh dinas rahasia Amerika ini. Lyman Kirkpatrick, inspektur jenderal CIA, melakukan kunjungan menemui Batista pada tahun 1956 untuk melakukan pembicaraan dari hati ke hati. Pasukan kejam rezim Batista saat itu telah meneror siapa pun yang bahkan tidak begitu menentang sang diktator, dan Amerika Serikat sudah muak dengan sikap tangan besinya. Amerika bersikeras agar Batista melonggarkan kebijakannya yang menindas. Tetapi Batista, yang lebih tergiur dengan dolar dari para Mafia, memilih untuk tidak mematuhinya. 

Fulgencio Batista, diktator Kuba telah cukup lama menjadi rekanan mafia Amerika dalam menjalankan bisnis kasino di Kuba. (Sumber:https://www.nydailynews.com/l)
Adegan film “The Godfather Part II” (1974) saat Fulgencio Batista menerima hadiah telepon emas dari rekanan mafia. (Sumber:https://futuresight.eu/)

Amerika Serikat kemudian memutuskan untuk mengakhiri dukungan panjangnya pada rezim represif ini. Setelah keputusan itu, rezim Batista kemudian melemah, dan revolusi pecah, dengan dipimpin oleh sekelompok pemberontak yang bersembunyi di daerah Sierra Maestra di Kuba tengah. Seorang pengacara terkenal yang bernama Fidel Castro telah bangkit untuk memimpin para pemberontak, dibantu oleh saudaranya Raul dan seorang revolusioner asal Argentina bernama Ernesto “Che” Guevara. Setelah beberapa kemenangan pemberontak, yang sebenarnya jumlahnya kecil melawan sekitar 30.000 prajurit Rezim Batista, Batista dan keluarganya melarikan diri dari Kuba ke Republik Dominika pada Hari Tahun Baru 1959, dengan membawa bersama mereka setidaknya $ 300 juta dalam bentuk uang tunai. Setelah menjabat, Fidel segera menjanjikan awal baru bagi rakyat Kuba. Lewatlah sudah tirani rezim Batista yang dibenci, untuk digantikan oleh pemerintah yang responsif terhadap kehendak rakyat, setidaknya itulah gambaran orang awam Kuba waktu itu. Kenaikan Castro ke kekuasaan di Havana segera diwaspadai oleh pemerintahan Eisenhower, yang berharap Castro tidak akan mengubah bangsanya menjadi basis bagi pengaruh komunis di Belahan Barat. Pada tanggal 7 Januari 1959, Amerika Serikat secara resmi mengakui rezim Castro. Hal itu kemudian akan menjadi keputusan yang akan segera disesali oleh para pemimpin Amerika. 

KEPUTUSAN UNTUK MENGGULINGKAN CASTRO

Salah satu langkah pertama yang diambil Castro setelah mengambil alih kekuasaan adalah menutup kasino yang dikelola oleh para Mafia. Ini adalah pertanda positif, tetapi Castro kemudian melanjutkan dengan tindakan yang lebih meresahkan: ia mendeportasi para pembangkang, memenjarakan musuh-musuh politiknya, menasionalisasi sejumlah pabrik milik Amerika, dan melakukan pendekatan diplomatik ke Uni Soviet. Terlepas dari langkah-langkah ini, Departemen Luar Negeri AS terus meyakinkan Castro tentang niat baik rakyat Amerika yang berkelanjutan kepada Kuba. Sementara itu, direktur CIA, Dulles berusaha meyakinkan para senator yang skeptis dalam pertemuan tertutup, dengan mengatakan bahwa Castro tidak memiliki kecenderungan komunis. Namun bulan berikutnya, Dulles membalik pandangannya, dengan memberi tahu presiden bahwa Castro telah bergerak cepat untuk mengubah Kuba menjadi negara komunis. Pada pertengahan April, Castro melakukan kunjungan yang sangat dipublikasikan ke Amerika Serikat dengan harapan untuk bisa bertemu langsung dengan Eisenhower. Presiden Eisenhower, bagaimanapun, tidak tertarik untuk berada di dekat Castro, dan dia meninggalkan Washington segera setelah Castro mendarat. Sebagai gantinya, Castro pergi ke Kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York City, di mana ia berpidato di hadapan para delegasi yang berkumpul dengan mengumumkan kemerdekaan revolusioner barunya dari pengaruh Amerika Serikat. Castro lalu melakukan perjalanan seperti pahlawan penakluk melalui jalan-jalan Harlem, menawan banyak orang dengan kharisma pribadinya, jika bukan pandangan politiknya. Eisenhower lalu menyuruh Wakil Presiden Richard Nixon untuk berbicara empat mata dengan Castro di New York. Pertemuan antara dua orang pragmatis yang keras kepala itu segera penuh pertengkaran, dengan masing-masing saling menilai satu sama lain. Kembali di Washington, Nixon mengatakan kepada presiden bahwa menurut pendapatnya Castro berada di bawah pengaruh komunis “atau setidaknya sangat naif pandangannya tentang Komunisme.” Setelah pertemuannya dengan Castro, Nixon menjadi yakin bahwa Amerika Serikat harus menyingkirkan Castro dari kekuasaan, dengan satu atau lain cara. 

Kemenangan kudeta Castro (tengah) di Kuba segera membuat waspada Amerika akan langkah-langkah politiknya dalam memimpin Kuba. (Sumber: Pinterest)
Castro disambut bagai selebriti di Amerika, 1959. (Sumber:https://www.nytimes.com/)

Sementara itu, begitu ia memperkuat kekuasaannya, Castro mulai dengan kejam menghilangkan semua orang sisa-sisa rezim Batista yang dibencinya. Rangkaian eksekusi dari puluhan mantan polisi dan pejabat militer terjadi. Sekitar 50.000 warga Kuba yang ketakutan lalu pergi ke Miami, untuk melarikan diri dengan putus asa setelah meningkatnya kekerasan di Kuba. Pada bulan Februari 1960, Kuba menandatangani perjanjian untuk membeli minyak dari Uni Soviet. Ketika kilang milik AS di negara itu menolak untuk memproses minyak yang dibeli, Castro segera mengambil alih perusahaan tersebut. Pertikaian diantara kedua negara semakin meruncing, dimana pada bulan Juni, Castro semakin membuat meradang Amerika Serikat ketika ia mengambil alih beberapa bisnis Amerika yang terkemuka di Kuba, termasuk pertanian besar yang dimiliki oleh United Fruit Company. Konfrontasi besar antara Amerika Serikat dan Kuba kini nyata sudah. Rekonsiliasi damai apa pun sekarang mustahil. Hal yang terjadi kemudian segera berlangsung dengan cepat. Di Washington, CIA memulai serangkaian pertemuan tingkat tinggi yang intensif. Pada tanggal 11 Desember, J.C. King, kepala Divisi Belahan Barat CIA, menulis sebuah memorandum kepada Richard Bissell, wakil direktur Perencana (kepala dinas rahasia, dengan kata lain), dan Direktur Dulles. Memo itu menyatakan bahwa Castro telah mengubah Kuba menjadi sebuah pemerintah diktator sayap kiri dan telah menebar ancaman untuk memberikan dukungan Kuba pada aktivitas revolusioner di seluruh Amerika Latin. Memo itu mengatakan bahwa “tindakan kekerasan” adalah satu-satunya cara untuk menghancurkan cengkeraman-cengkeraman kekuasaan Castro dan bahwa “lewat pertimbangan menyeluruh diputuskan bahwa Fidel Castro harus dieliminasinya.” Kata “eliminasi” adalah kata sandi untuk pembunuhan, sebuah kebijakan yang akan menghantui pemerintah Amerika dalam upayanya untuk menyingkirkan Castro dari kekuasaan.

OPERASI PLUTO 

Pada Maret 1960, pemerintahan Eisenhower memulai sebuah rencana rahasia untuk menjatuhkan rezim Castro. Bissell diberi wewenang untuk membentuk satuan tugas yang disebut “Kelompok Khusus” untuk menyusun rencana aksi anti-Castro. Satuan Tugas Kuba kemudian dibuat dan dokumen resmi disiapkan untuk para anggotanya. Dokumen itu mencantumkan sejumlah tujuan: penciptaan oposisi Kuba yang bersatu dengan pihak anti rezim Castro di luar Kuba, penggunaan komunikasi massa dalam upaya propaganda yang kuat; pengembangan organisasi intelijen rahasia di Kuba yang akan responsif terhadap perintah dari pihak oposisi di pengasingan; dan pengembangan pasukan paramiliter di luar Kuba untuk aksi gerilya di masa depan di pulau itu. Pada 17 Maret, Eisenhower menandatangani instruksi rahasia Dewan Keamanan Nasional yang memberi lampu hijau bagi pelaksanaan program tersebut, yang diberi nama sandi Operasi Pluto. Salah satu masalah yang paling merepotkan dalam pemerintahan Eisenhower adalah bagaimana mengatur berbagai kelompok anti-Castro agar bisa bersatu. Dewan Revolusi Kuba (CRC) lalu dibentuk sebagai kelompok payung untuk semua operasi anti-Castro. Pemerintah A.S. masih mengalami kesulitan merekonsiliasi berbagai kepentingan kelompok dan menjadikan para pemimpin mereka yang berbeda pandangan dan tujuan menjadi satu kesatuan yang terorganisir. 

Bagian integral lain dari perencanaan menggulingkan Castro adalah operasi propaganda intensif yang dilakukan oleh CIA. Badan tersebut mendirikan stasiun radio klandestin bernama Radio Swan, sebuah stasiun penyiaran berkekuatan 50 kilowatt yang terletak di Pulau Swan di Karibia, dekat pantai Honduras. Radio Swan menyiarkan acara berita, hiburan, dan pidato anti-Castro, semua ditulis oleh CIA. Seperti yang direncanakan semula, pasukan militer awalnya akan terdiri dari 25 pengungsi Kuba yang dilatih dalam teknik sabotase dan komunikasi dan kemudian disusupkan ke Kuba. Jika perlu, jumlahnya akan meningkat menjadi 75, tetapi tidak boleh lebih. Para petempur ini akan meniru konsep operasi bawah tanah pada era-Perang Dunia II. Begitu berada di dalam Kuba, tujuan utama mereka adalah untuk berhubungan dengan pasukan anti-Castro lainnya dan melakukan serangan serang-lari skala kecil terhadap sasaran militer terpilih. Pada bulan April 1960, beberapa personel CIA melakukan perjalanan ke Miami, Florida. Mereka mencari anggota Frente Revolucionario Democratico (FRD), sebuah kelompok aktif di komunitas pengasingan Kuba yang melarikan diri dari Kuba ketika Castro berkuasa. Para revolusioner ini adalah individu-individu yang ideal untuk memimpin pemberontakan di Kuba, dan CIA, yang dibekali dengan anggaran $ 13 juta, nantinya akan merekrut hingga 1.400 orang dari mereka. Banyak sukarelawan adalah mantan tentara profesional di bawah Rezim Batista, tetapi CIA berhati-hati menjaga agar kroni-kroni Batista tidak ditempatkan di level pimpinan kelompok perlawanan, karena mereka tidak ingin gerakan itu dikaitkan dengan diktator lama.

PELATIHAN RELAWAN ANTI CASTRO 

CIA mulai melatih sekitar 300 orang di kamp-kamp militer di Pulau Useppa, Florida dan Louisiana sebelum memindahkan mereka ke wilayah Zona Terusan Panama. Segera setelah itu peserta pelatihan dipindahkan ke Guatemala berdasarkan penjanjian yang dibuat dengan Presiden Miguel Ydigoras. Sebuah kamp dan lapangan terbang, yang diberi nama Base Trax, disediakan untuk para peserta berlatih dengan kemiripan seperti perkebunan kopi yang mewah di Sierra Madre (Kuba) di wilayah Retalhuleu, dekat dengan Pantai Pasifik. Pada bulan Agustus, anggota brigade mulai berdatangan dalam jumlah yang semakin besar; pada akhir Agustus, lebih dari 160 orang telah berlatih di kamp. Para sukarelawan anti-Castro mendirikan barak dan berlatih di bawah pengawasan ketat dari 20 instruktur CIA, banyak dari mereka adalah karyawan kontrak, termasuk asal Eropa timur, Meksiko, dan Cina (Taiwan?). Timbul suasana yang tidak nyaman antara karyawan kontrak dan anggota brigade. Banyak pejabat CIA yang tidak bisa berbahasa Spanyol, dan gangguan komunikasi berikutnya sering kali menghambat instruksi yang diberikan. Pada 8 September, Carlos Rodriguez Santana, seorang anggota brigade, tewas dalam kecelakaan pelatihan di Pangkalan Trax. Untuk menghormatinya, nomor penugasannya, 2506, menjadi nama resmi pasukan tersebut — yakni Brigade 2506. 

Pelatihan pasukan anti Castro yang akan dilibatkan dalam invasi ke Kuba tahun 1961. (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/)

Agar invasi berhasil, sebuah wing udara diperlukan, dan CIA mulai membuat perencanaan rahasia, dengan mengambil kendali perusahaan penerbangan yang sudah tua, Southern Air Transport. Dengan menggunakan pesawat kargo tua tipe C-46, para pilot mengangkut peserta pelatihan antara Florida dan Guatemala. CIA kemudian mulai memasok brigade itu dengan pesawat tempur untuk digunakan dalam invasi. Angkatan udara ad hoc, yang berbasis di Retalhuleu, terdiri dari 15 pembom B-26, lima pesawat angkut C-46, dan tujuh C-54. Dengan mengabaikan perintah Presiden Eisenhower bahwa tidak boleh ada orang Amerika yang terlibat dalam invasi, sekitar 80 orang Amerika bergabung dengan pasukan pemberontak, meningkatkan risiko lain dalam misi tersebut. Selain kekuatan udara, CIA juga menyediakan armada kapal mereka sendiri kepada pasukan invasi. Dua kapal pendarat infantri tua (LCI) yang mampu menampung 250 ton peralatan dan 200 orang ditambahkan ke satuan invasi yang terus bertambah ini. Bagian lain yang lebih kecil dalam perang rahasia ini adalah pengiriman pasokan ke kelompok-kelompok anti-Castro yang bersembunyi di Pegunungan Escambray di Kuba. Sekitar 68 penerbangan rahasia lepas landas dari Retalhuleu, tetapi hanya tujuh dari pengedropan yang berhasil. Tanpa sepengetahuan para pelatih, meskipun kemungkinan mereka juga curiga, di antara para calon rekrutan anti Castro terdapat beberapa agen ganda, yang bekerja sama untuk Castro, yang kemudian berbagi informasi intelijen yang mereka kumpulkan mengenai kemungkinan invasi yang akan datang.

PENDARATAN SKALA PENUH 

Ketika bulan-bulan berlalu, diputuskan di markas CIA untuk memperluas cakupan Operasi Pluto secara keseluruhan. Pemerintah Kuba waktu itu telah membuat perjanjian dengan Uni Soviet untuk mensuplai mereka dengan jet tempur baru, dan teknisi Soviet telah mulai melatih awak pesawat asal Kuba. Menghadapi perkembangan ini, Invasi harus dilakukan sebelum tambahan kekuatan militer Kuba yang baru ini dapat dikerahkan secara efektif. Divisi Belahan Barat CIA lalu memerintahkan pasukan invasi untuk diperbesar menjadi 800 orang dan rencana invasi yang sama sekali baru diberlakukan. Operasi baru ini akan menjadi operasi militer skala penuh, dengan pendaratan amfibi gaya Perang Dunia II. Setelah pendaratan berhasil, para pemimpin pengasingan akan dibawa ke darat untuk membentuk pemerintahan sementara dan secara resmi meminta bantuan Amerika. Jose Miro Cardona, mantan perdana menteri Kuba, adalah pemimpin yang ditunjuk untuk menunggu suksesnya pendaratan. 

Pasukan anti Castro berlatih di pegunungan Guatemala. (Sumber:https://warfarehistorynetwork.com/)

Pada tanggal 3 Januari 1961, Eisenhower akhirnya setelah merasa memiliki cukup persiapan operasi anti-Amerika Castro akhirnya memutuskan hubungan diplomatik resmi dengan Kuba. Membalas hal ini, Castro segera beralih ke Uni Soviet untuk memperoleh bantuan militer dan ekonomi. Para pembantu Presiden terpilih John F. Kennedy kemudian mengatakan kepada orang-orang buangan bahwa mereka akan bekerja sendirian — tidak akan ada pasukan Amerika yang akan membantu mereka dalam pendaratan mereka. Tidak digunakannya pasukan Amerika sangat penting bagi pemerintahan Kennedy yang baru, sebuah keputusan yang kemudian akan memiliki konsekuensi yang vital ketika brigade pemberontak Kuba mendarat di pantai selatan Kuba. 

PELUANG KESUKSESAN YANG LUMAYAN 

Pada 28 Januari, selama minggu pertamanya sebagai presiden, Kennedy meminta Kepala Staf Gabungan untuk membuat penilaian awal dari rencana invasi Kuba. Para perencana mengatakan kepada komandan baru mereka bahwa dalam pendapat mereka invasi memiliki “peluang sukses yang lumayan” jika pemberontakan dapat mengilhami perlawanan yang meluas di kalangan penduduk Kuba. Terlepas dari kata-kata optimis yang samar-samar, presiden masih memiliki keraguan tentang invasi tersebut. Sementara itu, Presiden Guatemala telah mendesak Washington untuk segera mempercepat invasi; karena dia tidak ingin brigade itu menghabiskan lebih banyak waktu di negaranya. Kennedy tahu bahwa jika dia tidak bertindak cepat, dia akan memiliki masalah yang sama di tangannya di masa mendatang. Jika ia membatalkan invasi, anggota brigade akan dibawa kembali ke Amerika Serikat, dan tidak ada yang tahu apa yang akan mereka katakan kepada pers atau yang lain tentang pelatihan rahasia mereka di Guatemala dan peran rahasia Amerika Serikat dalam rencana untuk menggulingkan rezim Kuba. Pada bulan Maret, Bissell memberi Kennedy dan penasihat utamanya sebuah briefing lengkap tentang invasi. Pendaratan dijadwalkan berlangsung di bagian wilayah Trinidad Kuba, tidak jauh dari Pegunungan Escambray, sarang perlawanan anti-Castro. CIA percaya bahwa jika invasi gagal, orang-orang itu akan dapat menyusup ke pegunungan dan melakukan serangan hantam-lari melawan pasukan Castro. Namun, ada satu kelemahan utama di wilayah Trinidad, yakni lapangan terbang di dekatnya tidak mampu mengoperasikan pembom B-26 yang sangat penting bagi keberhasilan misi. Perlindungan udara harus diterbangkan dari lokasi lain di Amerika Tengah, sehingga membuatnya lebih sulit bagi pasukan invasi begitu mereka mendarat di pantai.

Pembom B-26 yang disamarkan dengan tanda pengenal AU Kuba. (Sumber:https://en.wikipedia.org/)

Kennedy khawatir tentang sifat spekulatif dari rencana pendaratan Trinidad. Ketika dia melihatnya, invasi itu semakin kelihatan seperti serangan yang disponsori Amerika, satu hal yang dia ingin dengan sangat jelas tidak boleh terjadi. Presiden lalu memerintahkan pihak militer untuk membuat rencana pengganti, rencana yang akan berpusat pada pelaksanaan invasi di malam hari, dan bukan serangan di siang hari. Sebagai bagian untuk mencoba meredam desas-desus tentang invasi AS yang akan segera terjadi di Kuba, presiden dengan agak tidak jujur mengatakan pada konferensi pers, “Tidak akan ada, dalam kondisi apa pun, intervensi di Kuba oleh angkatan bersenjata Amerika Serikat.” Sebuah lokasi invasi baru kemudian dipilih: yakni daerah Teluk Babi di Provinsi Las Villas di Kuba selatan, 90 mil tenggara Havana. Daerah baru ini memiliki landasan udara yang cukup panjang untuk bisa mengoperasikan pembom B-26 yang datang dari Amerika Tengah. Rencana yang direvisi merencanakan pasukan pemberontak untuk merebut tiga pantai di sepanjang 40 mil dari garis pantai Kuba, melintasi rawa yang luas, dan membuat jalan mereka ke pegunungan 50 mil jauhnya. Para penerjun payung akan diterjunkan untuk merebut daerah-daerah kunci tertentu dan menahan pasukan Castro. Rencana baru ini diberi nama kode Zapata. Rencana tersebut turut melibatkan pasukan pengalih sebanyak sekitar 160 orang yang akan mendarat di Kuba timur dua hari sebelum invasi utama. Serangan udara juga akan ditambahkan, yang disebut dilakukan oleh pilot-pilot  “pembelot” Kuba.

Latihan parasut anggota Brigade 2506. (Sumber:https://en.wikipedia.org/)

Sementara perencanaan militer berlanjut, di Gedung Putih, presiden punya satu opsi terakhir terbuka baginya: dia bisa membatalkan invasi hingga 24 jam sebelum serangan. Waktu penyerangan itu direncanakan mulai dari tanggal 12 April hingga 17 April. Karena perubahan rencana, Brigade 2506 tidak berangkat dari Guatemala, melainkan dari Puerto Cabezas, Nikaragua. Armada itu terdiri dari dua kapal CIA, Blagar dan Barbara J. Lima, sementara kapal lainnya disewa oleh Garcia Shipping Line untuk mengangkut orang ke Teluk Babi. Anggota Brigade lalu berkemas dari Pangkalan Trax dan menuju Kuba. Ketika persiapan terakhir untuk pendaratan berlangsung, Angkatan Laut AS segera memperkuat pangkalan Amerika yang telah lama digunakan di Guantanamo, Kuba seandainya Castro melakukan pembalasan setelah invasi dimulai. Laksamana Robert Dennison memerintahkan sejumlah kapal Angkatan Laut untuk membantu anggota brigade ketika mereka mendekati pantai Kuba. Kapal induk Essex akan menjadi kapal bendera bagi kelompok penyerbu; pesawat-pesawatnya akan menyediakan perlindungan udara jika diperlukan. Dua kapal perusak, Eaton dan Murray, akan bertindak sebagai pemimpin konvoi dan akan mengawal kapal-kapal brigade pemberontak sedekat mungkin ke Teluk Babi. Kapal AL lainnya, San Marcos, membawa kapal pendarat untuk para penyerbu. Pemilihan tempat pendaratan baru di Teluk Babi sebenarnya mengandung beberapa kelemahan, diantaranya, Teluk Babi adalah salah satu tempat memancing favorit Castro. Dia amat mengenal wilayah itu seperti punggung tangannya. Dia sering berlibur di sana dan berinteraksi dengan para petani Kuba di sekitar teluk, yang secara tidak langsung akan memupuk kesetiaan dan kekaguman mereka. Selain itu, Pegunungan Escambray, tempat pelarian yang direncanakan, berjarak 50 mil dan harus melewati wilayah yang bermusuhan. Teluk itu juga jauh dari komunitas besar warga sipil, yang merupakan modal utama yang diperlukan untuk bisa menggalang pemberontakan, dan yang mungkin merupakan titik kelemahan yang paling diperdebatkan, adalah karena teluk Babi dikelilingi oleh rawa terbesar di Kuba, sehingga secara fisik mustahil bagi setiap warga Kuba yang ingin bergabung dengan pemberontakan untuk benar-benar bisa melakukannya.

“KAMI BERTAHAN SEKUAT TENAGA”

Brigade 2506 sempat menerima kunjungan dari Luís Somoza, diktator Nikaragua, yang sambil tertawa meminta mereka untuk membawakannya sehelai rambut dari jenggot Castro. Mereka kemudian naik kapal yang berbeda dan berlayar pada tanggal 13 April. Aksi pertama operasi penjungkalan Castro terjadi melalui udara, ketika angkatan udara brigade pemberontak melakukan operasi untuk menghancurkan angkatan udara Castro dengan menggunakan 6 bomber B-26 (Setiap pesawat dipersenjatai dengan dua bom 250kg dan sepuluh bom 125kg, serta delapan senapan mesin, yang dipasang di hidung) yang dipiloti oleh orang-orang Kuba, yang menyerang 2 pangkalan udara AU Kuba, 3 markas militer dan Bandara Antonio Maceo. Skenario agar serangan seolah-olah dilakukan oleh Pilot Pembelot AU Kuba dibuat. Pesawat-pesawat yang digunakan telah dimodifikasi agar sesuai dengan milik FAR (AU Kuba); masing-masing dilengkapi dengan bom, roket, dan senapan mesin. Sekitar 90 menit kemudian seorang pilot “pembelot”, yang sebenarnya merupakan anggota Brigade 2506, lepas landas dengan pesawat buatan Amerika itu, menyamar sebagai pesawat FAR. Agar nampak natural detail pesawat yang digunakan, bagaimanapun, mendapat perhatian ekstra. Kotoran digosok pada tanda pengenal pesawat agar terlihat usang. Log penerbangan palsu ditempatkan di kokpit bersama dengan berbagai barang lain yang biasanya ditemukan di pesawat militer Kuba. Akhirnya, untuk menyempurnakan penyamaran, karena layaknya seorang pembelot yang menembaki markasnya sendiri, kemungkinan besar akan menghadapi perlawanan, pesawatnya lalu dibuat penuh dengan lubang peluru. B-26 ini, kemudian agar terlihat seperti pesawat Kuba yang bertujuan “membelot” setelah menyerang segera menuju Bandara Internasional Miami. Si pilot akan mengirimkan sinyal bahaya “may day” di lepas pantai Florida dan memberi tahu otoritas AS bahwa dia membelot dari Angkatan Udara Kuba, mengalami masalah mesin, dan meminta izin untuk mendarat. Setelah mendarat, ia ditahan oleh Bea Cukai dan Imigrasi kemudian akan menaturalisasinya sebagai warga AS. Sambil si pilot “membacakan” narasi cerita, yang menjelaskan bahwa ia membelot dari Kuba, tetapi sebelum melakukannya, ia sempat menyerang pangkalan udara miliknya dan bahwa dua rekannya juga membelot dan menyerang pangkalan udara Kuba lainnya. Angkatan udara Castro saat itu kecil, pada tahun 1959, hanya terdiri dari setidaknya sembilan (dari 12 yang awalnya dikirim) pembom B-26C Invader, 12 pesawat tempur Sea Fury FB.1 dan dua pesawat tempur F-47D Thunderbolt, empat (dari delapan) jet latih tempur T-33A, serta satu pesawat patroli laut OS2U-3 Kingfisher, satu pesawat transportas C-46 dan tiga (dari empat masih utuh) C-47, dan satu pesawat Beech C-45. Serangan terbatas pada pesawat-pesawat ini terjadi pada tanggal 15 April, yang mengakibatkan hancurnya lebih dari setengah pesawat Castro. Penilaian kerusakan akibat serangan udara bervariasi, tetapi diyakini bahwa 80 persen dari pesawat tempur Castro berhasil dinonaktifkan. Dengan asumsi Castro memiliki inventaris paling banyak 30 pesawat tempur, sehingga diperkirakan masih ada sekitar enam pesawat yang berfungsi pada hari invasi di Teluk Babi. 

Selain B-26, AU Kuba juga memiliki beberapa pesawat tempur Hawker Sea Fury, yang nantinya akan berperan penting saat invasi Teluk Babi. (Sumber:http://www.urrib2000.narod.ru/)

Sementara itu dari sisi FAR, Lt. Alberto Fernández, yang menerbangkan pesawat latih tempur T-33A yang dipersenjatai dengan dua senapan mesin M3, adalah pilot pertama yang terbang di udara selama serangan di San Antonio dan satu-satunya pilot dengan peluang yang memungkinkan untuk mengejar pesawat yang menyerang. Ia sedang stand by ketika ledakan pertama terjadi, ia berlari menuju pesawat nomor  ‘715’, tetapi serangan langsung menghancurkan pesawat tersebut di depan matanya. Beralih ke pesawat kedua, dia dapat mengudara secepat mungkin tetapi pesawat B-26 telah menyerang dengan keras dan cepat kabur, serta sudah berada di luar jangkauan visual sebelum dia dapat mencegatnya. Letnan Gustavo Bourzac, seorang pilot Sea Fury FB.11, mungkin akan mencatat sejarah pertempuran udara dengan menjadi orang pertama yang berebut melawan pasukan musuh yang hanya mengenakan celana tidur. Terbangun dari tidur nyenyak, ia membuang-buang banyak waktu untuk mencari setelan pakaian terbang dan parasutnya dan kemudian hanya berlari ke jalur penerbangan dan melompat ke pesawat pertama yang tersedia. Seperti Fernández, meskipun dia terbang mencari ke selatan sampai ke Isle of Pines (sekarang Isle of Youth), dia sudah terlambat. Yang luar biasa, bagi pihak Kuba, tidak ada lagi serangan udara lainnya yang menyusul. Faktanya, pasukan invasi utama tidak tiba di pantai-pantai pantai selatan Kuba sampai tanggal 17, memberikan waktu FAR dua hari penuh untuk mempersiapkan pertarungan yang akan datang. Sementara pilot siap duduk di kokpit pesawat yang masih dapat digunakan – sebuah T-33A, 2 B-26, dan 2 Sea Fury – staf teknis lainnya bekerja dengan cepat untuk membawa pesawat lain yang tersisa layak terbang. Pada akhir konflik, 4 Sea Fury, 5 B-26, dan 5 T-33A sempat terlihat dalam pertempuran.

Peta invasi Teluk Babi. (Sumber:https://en.wikipedia.org/)

Begitu Brigade 2506 mendarat di pantai, para penyerbu itu akan dibiarkan sendirian. Sementara itu, Castro dengan keras menyangkal bahwa serangan terhadap lapangan terbangnya dilakukan oleh anggota FAR yang memberontak dan segera menyalahkan AS. Dia juga dengan cepat menyimpulkan bahwa serangan ini merupakan indikasi dari sesuatu yang lebih besar akan segera terjadi. Setelah serangan udara awal terjadi, Castro segera memobilisasi 200.000 orang milisinya dan menangkap ribuan pembangkang yang mungkin membantu para penyerbu begitu mereka menyeberang ke daratan. Para pembangkang ini dikumpulkan dan ditahan di berbagai Theater, Stadion dan markas-markas militer. 

B-26 AU Kuba yang asli berhidung kaca. (Sumber:https://threader.app/)

Mengikuti perintah Castro, Raul Roa, Menteri Luar Negeri Kuba, mengadakan sidang darurat Komite Politik dan Keamanan PBB di New York pada sore hari tanggal 15 April. Sesi tersebut dihadiri oleh Duta Besar AS untuk PBB, Adlai Stevenson. Stevenson menampilkan foto-foto pesawat yang digunakan, ketika dia dengan tegas menyatakan bahwa AS tidak ada hubungannya dengan serangan udara di Kuba itu. Dia bersikeras bahwa serangan itu dilakukan oleh pembelot dari angkatan udara Castro sendiri. Namun, sialnya foto-foto itu terbukti malah mengungkapkan kelemahan dari klaimnya. Pada pemeriksaan dari dekat, seseorang bisa melihat bentuk hidung logam di pesawat diterbangkan oleh pembelot; sementara hidung pesawat B-26 FAR adalah terbuat dari plexiglass. Duta Besar Stevenson, yang tidak mengetahui detail operasi rahasia itu, sangat marah ketika kebenaran terungkap. Akibatnya CIA yang sempat meminta serangan udara lain untuk menghancurkan sisa Angkatan Udara Kuba tidak mendapat ijin dari Presiden Kennedy, setelah penyamarannya terbongkar, permintaan pribadi oleh Menteri Luar Negeri Dean Rusk tidak bisa membujuk presiden untuk mengizinkan serangan udara lain dilakukan. Menjelang sore 16 April, Kennedy membuat keputusan untuk membatalkan serangan udara yang direncanakan untuk menghancurkan armada pembom Kuba yang tersisa. Keputusan itu hadir di menit-menit terakhir sehingga pilot Brigade 2056 yang sudah duduk kokpit pesawat di landasan pacu, siap lepas landas, seketika mereka diminta untuk membatalkan penerbangan. Ironisnya, bagaimanapun, dukungan udara yang dijadwalkan untuk memberikan perlindungan kepada pasukan Brigade yang menyerang di pantai tetap berjalan sesuai rencana. Pembatalan pada menit terakhir ini memaksa para pemimpin operasi untuk bekerja dengan keras selama tengah malam, mengerjakan ulang dan merevisi rencana mereka, berpacu dengan matahari yang naik ke langit yang tak berawan di pagi hari 17 April 1961 saat D-Day.

Counter attack tentara Kuba yang didukung oleh Tank T-34/85 di Playa Giron selama invasi Teluk Babi. (Sumber:https://en.wikipedia.org/)

Di Kuba, begitu Castro menyadari bahwa Teluk Babi adalah target utama, dia segera mengerahkan sejumlah tank T-34/85 buatan Rusia dan pasukan ke daerah itu untuk mengusir pasukan invasi. Sementara itu, resimen parasut Brigade 2506 telah mendarat 16 mil ke pedalaman, tetapi kehilangan sebagian besar amunisinya dalam proses pendaratan tersebut. Semuanya segera mulai menjadi berantakan bagi pasukan invasi. Para penyerbu direncanakan mendarat di Red Beach, yang terletak di daerah paling utara Teluk Babi; Green Beach, sekitar 20 mil timur; dan Blue Beach, lebih jauh ke timur. Kapal pendarat segera mengalami masalah ketika mereka menabrak terumbu karang yang seharusnya tidak ada di sana. Menjelang fajar pada 17 April, sebagian besar pasukan penyerbu telah berhasil tiba di Blue Beach dengan didukung oleh 5 tank ringan M-41, tetapi tanpa 72 ton amunisi, yang awalnya direncanakan untuk dibawa. Amunisi dan kapal pasokan yang masih ada lepas pantai, kini ada dalam jangkauan angkatan udara Kuba. Dengan menggunakan dua serangan terkoordinasi, pesawat-pesawat Sea Fury Castro menyerang kapal-kapal USS Houston dan USS Rio Escondido dengan roket dan senapan mesin, yang merusak dan menenggelamkan keduanya. Kapal-kapal tersebut membawa berton-ton pasokan, serta 130 orang dari Batalyon ke-5. Mereka yang selamat berenang ke pantai dan dijemput oleh kapal-kapal Angkatan Laut AS. Rio membawa semua perangkat komunikasi brigade dan bensin untuk pesawat udara. Kini meskipun landasan udara yang direncanakan berhasil direbut, namun karena bahan bakarnya tidak ada, berarti landasan itu tidak dapat digunakan. Pembom yang digunakan hanya bisa beroperasi selama empat puluh menit sebelum dipaksa kembali ke Amerika Tengah untuk mengisi bahan bakar. Setelah serangan udara, pendaratan di Green Beach dibatalkan dan pasukan yang tersisa diperintahkan untuk bertemu dengan kapal Angkatan Laut di lepas pantai. Meski demikian, Brigade 2506 juga mencatat beberapa keberhasilan. Beberapa penerjun payung berhasil mencapai target mereka dan mampu menahan posisi mereka dan memblokir jalan selama dua hari. Pilot Brigade yang memberikan 99dukungan perlindungan udara berhasil menghancurkan beberapa tank dan kendaraan lapis baja lainnya dan menghentikan kemajuan kadet milisi Kuba.

AU Kuba beraksi menghantam armada invasi. (Sumber: https://thejfkpresidency.weebly.com/)
USS Houston terbakar akibat serangan Sea Fury AU Kuba. (Sumber:http://www.urrib2000.narod.ru/)

Pada hari-H plus 2, pasukan utama Castro telah memerangkap anggota brigade pemberontak di berbagai front di sekitar Playa Larga. Kendaraan lapis baja berat dan ribuan unit pasukan reguler membuat semua pasukan penyerbu terkepung. Pada hari kedua, B-26 pemberontak menyerang pasukan Castro tetapi tidak menyebabkan kerusakan nyata. Lebih buruk lagi, empat penerbang warga sipil Amerika — Riley Shamburger, Wade Grey, Willard Ray, dan Leo Baker — ditembak jatuh dan terbunuh dalam serangan itu. Ketika pasukan Castro melakukan serangan, anggota kontingen di Red Beach bergabung dengan pasukan dari Blue Beach dalam upaya yang berani untuk melawan pemboman yang terus-menerus. Unit-unit brigade airborne juga mundur menuju Blue Beach. Pada sore hari tanggal 17 April, Kepala Staf Gabungan memerintahkan pihak militer untuk mendirikan tempat bernaung yang aman bagi kapal-kapal brigade yang masih tersisa dengan perlindungan udara Amerika, tetapi dengan adanya perintah terbatas untuk beroperasi 50 mil dari pantai Kuba di perairan internasional. Juga tidak ada pesawat Amerika yang diizinkan beroperasi dalam jarak 15 mil dari posisi tumpuan pantai. Ketika laporan suram masuk ke Gedung Putih, presiden mengatakan kepada saudaranya, Jaksa Agung Robert Kennedy, “Saya berpikir apa yang terjadi tidak berjalan sebagaimana mestinya.” Sementara brigade itu berjuang untuk hidupnya, kepala CIA, Allen Dulles telah meninggalkan Washington untuk mengadakan pembicaraan di Puerto Rico, meninggalkan Bissell dan bawahannya untuk memantau peristiwa di Kuba. Sekembalinya ke Baltimore, Dulles bertemu dengan seorang kolega yang memberitahunya berita yang tidak menyenangkan, “Kami bertahan dengan kuku jari kami.” 

PERLAWANAN BERAKHIR DI BLUE BEACH 

Di Washington, Kennedy menghadiri resepsi kongres tahunan. Pada tengah malam, dia pergi untuk menghadiri pertemuan mendadak di ruang kabinet. Masih mengenakan pakaian formal, presiden bertemu dengan Wakil Presiden Lyndon Johnson; Menteri Rusk; Menteri Pertahanan Robert McNamara; Jenderal Lyman Lemnitzer, ketua Kepala Staf Gabungan; Admiral Arleigh Burke; dan Walt Rostow, penasihat keamanan nasional JFK. Selama pertemuan, presiden mengizinkan satu upaya terakhir untuk menyelamatkan situasi yang memburuk. Dia mengizinkan penerbangan enam jet tanpa tanda pengenal dari kapal induk Essex untuk terbang di atas Teluk Babi satu jam setelah fajar pada hari berikutnya untuk berfungsi sebagai pelindung bagi serangan udara pesawat B-26 yang terbang dari Nikaragua. Namun mereka dibatasi untul tidak boleh terlibat dalam pertempuran udara dan menyerang sasaran darat. Pembatasan ini bukan masalah yang utama, yang jadi problem adalah waktunya. Pesawat-pesawat itu seharusnya terbang di atas pantai antara pukul 6:30 dan 7:30 pagi. Namun, karena situasi kacau, mereka datang terlalu dini, dan akibatnya dua dari pesawat B-26 ditembak jatuh. Sebagai upaya terakhir, presiden mengatakan kepada Laksamana Burke untuk memberi tahu CIA bahwa, jika kekalahan pada brigade mulai mendekat, “disarankan bagi mereka untuk menjadi gerilyawan dan menuju lokasi yang mereka ketahui untuk dapat disuplai melalui udara.”

Anggota Brigade 2506 di Pegunungan Escambry saat invasi yang gagal di Teluk Babi. (Sumber:https://warfarehistorynetwork.com/)
Milisi Castro berpesta setelah kemenangan mereka dalam menggagalkan invasi di Teluk Babi. (Sumber:https://warfarehistorynetwork.com/)

Anggota Brigade 2506 yang tersisa mundur kembali ke Blue Beach, di mana semua perlawanan lebih lanjut berakhir. Di Washington, para pejabat militer secara intens memantau pertempuran di pantai-pantai yang berdarah. Jose “Pepe” San Romain, salah satu pemimpin brigade, menelepon Washington dan dengan suara putus asa yang bisa didengar oleh semua orang di ruangan itu, mengatakan: “Saya tidak punya apa-apa lagi untuk bertempur. Aku menuju rawa-rawa. ” Beberapa menit kemudian radionya mati. Sekitar 114 anggota brigade terbunuh, 1.189 lainnya ditangkap. Setelah menyerah, para tahanan dipindahkan ke penjara di sekitar Kuba. Beberapa dari mereka diinterogasi secara langsung di televisi. Castro sendiri datang ke studio untuk menanyai para anggota brigade dan menjawab pertanyaan mereka ketika dia memilih untuk melakukannya. Dia dilaporkan memberi tahu para tahanan bahwa mengeksekusi mereka semua hanya akan mengurangi kemenangan besar mereka. Dia kemudian mengusulkan pertukaran dengan Presiden Kennedy: para tahanan dibarter dengan traktor dan buldoser. Para tahanan ini akan tetap di penjara Castro selama 18 bulan lagi sebelum akhirnya ditebus oleh Amerika Serikat dengan obat-obatan dan makanan senilai $ 62 juta. Yang pasti prestise Castro semakin meningkat setelah, sedangkan Kennedy mengalami krisis kepercayaan diri.

AKIBAT DARI INVASI TELUK BABI 

Beberapa hari setelah bencana itu, Kennedy bertemu dengan Eisenhower di Camp David, di mana kedua pria itu berdiskusi dari hati ke hati tentang berbagai peristiwa di Kuba terjadi. Eisenhower terperanjat saat mengetahui Amerika Serikat tidak memberikan perlindungan udara bagi para pemberontak. “Bagaimana kamu bisa berharap dunia percaya bahwa kita tidak ada hubungannya dengan itu?” dia bertanya dengan tidak percaya. Kennedy menjawab bahwa orang-orang Amerika “tidak akan pernah menyetujui intervensi militer langsung oleh pasukan mereka sendiri, kecuali di bawah provokasi terhadap kami yang begitu jelas dan sangat serius sehingga semua orang akan memahami perlunya tindakan (pada Kuba).” Setelah kegagalan itu, Kennedy memecat Dulles; Bissell; dan Jenderal C. Pierre Cabell, orang kedua setelah Dulles, menggantikan Dulles dengan pengusaha asal Partai Republik, John McCone. Tak lama setelah kegagalan memalukan ini berakhir, Kennedy menunjuk sebuah komisi yang dipimpin oleh Jenderal Maxwell Taylor untuk mencari fakta-fakta di balik Peristiwa Teluk Babi. Komisi ini mengadakan 20 kali kegiatan dengar pendapat dan bertemu dengan sejumlah orang, termasuk orang-orang militer Amerika dan anggota brigade yang selamat. Setelah melalui proses yang panjang, panitia menyimpulkan bahwa kegagalan itu “dikaitkan dengan kepercayaan yang keliru bahwa operasi besar ini dapat dilakukan dengan penyangkalan yang masuk akal; kurangnya koordinasi antara badan-badan AS; dimana mereka mencoba untuk memerintah dari kejauhan, dengan kantor pusat di Washington. ” CIA sendiri melakukan penyelidikan rahasianya sendiri atas kegagalan tersebut. Laporan ini, yang baru-baru ini diungkap, menunjukkan fakta-fakta keterlibatan CIA dan perannya dalam kegagalan Teluk Babi dan menyimpulkan bahwa semua asumsi tentang kelemahan rezim Castro adalah asumsi yang lemah dan pelatihan pasukan pemberontak yang buruk serta kurangnya koordinasi antara berbagai badan militer telah menyebabkan apa yang oleh seorang penulis disebut “kegagalan yang sempurna.” 

Setelah kegagalan di Teluk Babi, direktur CIA, Allen Dulles mengundurkan diri. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

Teluk Babi memunculkan beberapa pertanyaan sejarah yang penting. Seperti mengapa Kennedy mendukung rencana yang kegagalannya begitu buruk? Apakah dia punya alasan kuat untuk berpikir bahwa operasi itu akan berhasil? Jika itu masalahnya, seperti yang sering diklaim oleh para pendukung Kennedy, bahwa meskipun Teluk Babi adalah sebuah kesalahan serius di pihak JFK, tapi hal itu adalah “hal yang dapat dimengerti”, karena hampir semua penasihatnya mendesaknya untuk mengotorisasi operasi. Beberapa jawaban muncul, diantaranya sebagai berikut. Kennedy memutuskan untuk melanjutkan invasi dengan berbagai alasan. Pertama-tama, hal itu mencerminkan ideologi kebijakan luar negerinya sendiri, yang didasarkan pada gagasan bahwa negara demokrasi seperti Amerika Serikat harus mengembangkan kekuatan militer yang besar dan menunjukkan ketangguhan tanpa kompromi ketika berhadapan dengan kediktatoran yang agresif, seperti Kuba di Kuba dan Rusia pimpinan Nikita Khrushchev. Keyakinan ini berasal dari analisis Kennedy sebagai mahasiswa di Harvard atas sikap kompromi Inggris terhadap Nazi Jerman menjelang pecah Perang Dunia II. Bagi JFK muda, pelajaran tahun 1930-an jelas: berhadapan dengan diktator totaliter, jangan dengan cara menghindarinya. Itulah tepatnya yang direncanakan Kennedy untuk dilakukan dengan memerintahkan invasi Teluk Babi. Dia juga percaya bahwa jika Castro tetap berkuasa dia akan mempromosikan serangkaian revolusi komunis di seluruh Amerika Latin. Dalam pikiran presiden baru itu, Kuba nya Castro mewakili perpanjangan pengaruh Rusia yang berbahaya dan tidak dapat diterima di halaman belakang Amerika sendiri. Selain itu, Kennedy telah mengambil sikap yang kuat terhadap Castro dalam kampanye presiden tahun 1960, dengan mencerca saingannya dari Partai Republik, Richard Nixon karena dianggapnya menjadi bagian dari pemerintahan (dimana Nixon jadi Wakil Presiden) yang gagal mencegah kaum revolusioner Kuba berkuasa. JFK berjanji untuk mengambil tindakan tegas untuk menggulingkan Castro jika terpilih sebagai presiden dan, begitu ia memenangkan pemilihan itu, ia merasa terdorong untuk menghormati janjinya dengan mendukung rencana CIA, yang diwariskan oleh pemerintah sebelumnya.

18 bulan setelah invasi Teluk Babi, pecah Krisis Rudal Kuba yang nyaris membawa dunia dalam Perang Nuklir. (Sumber:https://en.wikipedia.org/)

Invasi Teluk Babi menjadi titik nadir dari masa kepresidenan Kennedy. Peristiwa itu mendorong kebijakan garis kerasnya yang berlebihan yang sering dia lakukan sebelum krisis rudal Kuba Oktober 1962 delapan belas bulan kemudian. Pada waktu itu, Amerika Serikat dan Uni Soviet nyaris menuju perang nuklir setelah Soviet diam-diam menempatkan rudal jarak menengah di Kuba untuk mencegah serangan anti-Castro di masa depan. Krisis selama 13 hari pada bulan Oktober 1962 berakhir dengan damai setelah Amerika Serikat menempatkan karantina angkatan laut di sekitar Kuba dan perdana menteri Soviet Nikita Khrushchev setuju untuk memindahkan rudal itu dengan imbalan pemindahan rudal serupa milik AS di Turki. Siapa yang menyetujui usul itu pertama kali sampai kini masih diperdebatkan. Sadar akan bahaya krisis rudal Kuba, Kennedy kemudian mengadopsi pendekatan yang lebih lunak dengan urusan internasional, dengan menandatangani Perjanjian Larangan Uji Coba Nuklir pada tahun 1963 dan mendesak Amerika Serikat dalam pidatonya yang terkenal di Universitas Amerika untuk mengubah sikapnya terhadap rakyat Rusia dan Perang Dingin. Kedewasaan yang diperlihatkan oleh Kennedy pada tahun terakhir kepresidenannya, bersama dengan kenangan akan kegagalannya dalam menangani operasi Teluk Babi, membuat pembunuhannya pada November 1963 menjadi tragedi yang begitu disesali oleh Rakyat Amerika.

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

Fiasco at the Bay of Pigs by Peter Kross

https://warfarehistorynetwork.com/2016/10/14/fiasco-at-the-bay-of-pigs/

The Bay of Pigs Invasion

https://www.cia.gov/news-information/featured-story-archive/2016-featured-story-archive/the-bay-of-pigs-invasion.html

Bay of Pigs: The Men and Aircraft of the Cuban Revolutionary Air Force By Doug MacPhail – LAAHS Canada and Chuck Acree – LAAHS USA

https://web.archive.org/web/20160809040410/http://www.laahs.com/content/19-Bay-of-Pigs-The-Men-and-Aircraft-of-the-Cuban-Revolutionary-Air-Force

Bay of Pigs invasion: Kennedy’s Cuban catastrophe by Mark White

https://www.historyextra.com/period/20th-century/bay-of-pigs-invasion-kennedys-cuban-catastrophe/

Cuba: The Bay of Pigs Invasion

Kennedy’s Cuban Fiasco By Christopher Minster

https://www.thoughtco.com/cuba-the-bay-of-pigs-invasion-2136361

Clandestine US Operations: Cuba, 1961, Bay of Pigs By Tom Cooper; Sep 1, 2003, 11:28

https://web.archive.org/web/20141227232049/http://www.acig.org/artman/publish/article_154.shtml

6 thoughts on “Kegagalan Invasi CIA di Teluk Babi Untuk Menggulingkan Fidel Castro, April 1961

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *