Kemenangan Udara Pilot-Pilot Marinir Amerika atas MiG Vietnam Utara (1967-1972)

United States Marine Corps Aviation adalah unit udara dari Korps Marinir Amerika Serikat. Unit penerbangan Korps Marinir ini memiliki misi dan operasi yang sangat berbeda dari unit penerbangan darat dan udara, dimana dengan demikian mereka memiliki sejarah, tradisi, istilah, dan prosedurnya sendiri. Unit penerbangan di dalam Korps Marinir utamanya ditugaskan untuk mendukung Satuan Tugas Udara-Darat Marinir, sebagai elemen udara pendukung, dengan menyediakan enam fungsi utama, yakni : dukungan serangan, menangkal kekuatan udara lawan, dukungan udara ofensif, peperangan elektronik, pengendalian pesawat dan rudal, dan pengintaian udara. Korps Marinir Amerika juga mengoperasikan helikopter dan pesawat sayap tetap terutama untuk menyediakan transportasi dan dukungan udara jarak dekat ke pasukan daratnya. Namun, tidak menutup kemungkinan jenis pesawat lain juga digunakan dalam menjalankan berbagai peran dukungan dan tujuan khusus. Meski kekuatan udara Marinir Amerika tergolong unik, dimana mereka adalah satu-satunya marinir dalam Angkatan Bersenjata di Dunia yang dilengkapi dengan pesawat-pesawat tempur yang punya kemampuan serupa dengan pesawat-pesawat tempur beberapa Angkatan Udara negara lain, namun pesawat-pesawat tempur Marinir Amerika lebih difokuskan untuk mendukung pasukan darat Marinir dan bukan untuk memperoleh keunggulan udara melawan pesawat-pesawat tempur musuh. Meski demikian beberapa pilot Marinir pernah memiliki pengalaman dan catatan dalam menghadapi pesawat-pesawat musuh dan mencetak beberapa kemenangan udara dalam peperangan sesungguhnya, termasuk dalam Perang Vietnam.

Emblem Unit Penerbangan Marinir Amerika. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

LATAR BELAKANG

Gambaran umum dari Korps Marinir AS di Vietnam adalah para Leathernecks (sebutan Marinir Amerika) bertahan di darat untuk menahan — dan memukul mundur — kekuatan musuh yang lebih besar. Tetapi Marinir Amerika di Asia Tenggara yang bertempur di Vietnam melakukan, seperti yang dinyanyikan dalam himne Korps Marinir Amerika, bahwa mereka bertempur tidak hanya “di darat dan laut” tetapi juga “di udara”. Para penerbang marinir di Vietnam melanjutkan tradisi lama yang dimulai sejak munculnya pertempuran udara dalam sejarah kedirgantaraan. Selama Perang Dunia I, Letnan dua Marinir Ralph Talbot dan Gunnery Sgt. Robert G. Robinson, yang kembali dari misi pemboman di daerah Flanders-Belgia dengan pesawat biplane D.H. 4 Liberty, bertempur melawan selusin pesawat tempur Fokker D.VII Jerman pada tanggal 14 Oktober 1918, dan keduanya kemudian diberi penghargaan medali Medal of Honor. Sementara itu dalam perang tersebut yang kurang beruntung adalah Letnan dua Charles F.Nash, yang menerbangkan pesawat tempur Spad XIII saat bertugas secara terpisah dengan Skuadron Aero ke-93 Angkatan Udara AS ketika ia ditembak jatuh dan ditawan oleh Leutnant Fritz Gewert dari Jagdstaffel 19 Jerman pada tanggal 13 September 1918. Kemudian dalam Perang dunia berikutnya menjadi perang di mana pilot pesawat tempur Marinir benar-benar menunjukkan kemampuan tempur mereka dan memberi contoh bagi para penerbang tempur yang akan mengikuti jejak mereka. Aksi pilot-pilot tempur Marinir Amerika dimulai sejak pertahanan heroik mereka di Pulau Wake hingga kampanye di Kepulauan Solomon dan kemudian partisipasi mereka dalam Pertempuran Okinawa dengan terbang dari pangkalan darat dan kapal-kapal induk Angkatan Laut, para pilot tempur Marinir dalam Perang Dunia II membuktikan diri mereka mampu dalam melawan pasukan udara Jepang. Dalam Perang Dunia II Joseph J.Foss, ace-of-ace Marinir dengan 26 kemenangan udara, menerima Medal of Honor, seperti halnya ace (dengan menembak jatuh lawannya mulai dari sembilan hingga 25 pesawat) Marinir lainnya Robert M. Hanson, Gregory Boyington, Kenneth A.Walsh, John Lucian Smith , James E. Swett, Harold W. Bauer, Robert E. Galer dan Jefferson J. DeBlanc. Medali Medal of Honor di masa Perang Dunia II lainnya yang diterima Marinir diberikan kepada Kapten Marinir Henry T. Elrod, yang berjasa dalam menghancurkan dua pembom Jepang dan menenggelamkan kapal perusak Kisaragi. Ketika F4F-3 Wildcat miliknya dan semua pesawat AS lainnya di Pulau Wake rusak, Elrod lalu ikut bertempur di darat sampai dia terbunuh pada tanggal 23 Desember 1941. Aksi heroik Elrod menjadi contoh dari skill, etos kerja dan semangat tempur pilot-pilot Marinir Amerika.

Lukisan aksi Letnan dua Marinir Ralph Talbot dan Gunnery Sgt. Robert G. Robinson dengan pesawat biplane D.H. 4 Liberty di Flanders-Belgia pada tanggal 14 Oktober 1918. Keduanya kemudian diberi penghargaan medali Medal of Honor. (Sumber: https://www.facebook.com/USMCMuseum/)
Joe Foss Ace Paling Top Marinir dalam Perang Dunia II dengan 26 kemenangan udara. (Sumber: http://doodyduty.tripod.com/)
Mayor John F. Bolt, Ace Marinir dalam Perang Korea yang menerbangkan F-86F Sabre bersama Unit Angkatan Udara. (Sumber: http://donhollway.com/)

Dalam perang-perang berikutnya, misi penerbangan pilot-pilot Marinir lebih difokuskan pada misi serangan udara terhadap pasukan darat musuh atau memberi dukungan tembakan udara untuk pasukan darat AS daripada melakukan pertempuran udara melawan pesawat-pesawat tempur musuh. Penerbang-penerbang marinir yang menjadi pilot pesawat tempur umumnya terbang dengan cabang layanan lainnya, biasanya pada Angkatan Udara. Selama Perang Korea, Mayor John F. Bolt, yang sebelumnya sudah menjadi ace dalam Perang Dunia II dengan enam kemenangan udara, menerbangkan jet tempur F-86F Sabre dengan 51st Fighter Interceptor Wing asal Angkatan Udara pada pertengahan tahun 1953 dan kemudian menambahkan enam pesawat tempur MiG-15 China ke dalam skor kemenangannya. Pilot pertukaran asal Marinir lainnya di unit Angkatan Udara yang sama, adalah Mayor John Glenn, yang dicatatkan dengan tiga kemenangan udara — dan Gleen akan menjadi lebih terkenal pada tahun 1962 sebagai astronot Amerika pertama yang mengorbit Bumi. Dalam Perang Vietnam, seperti di Korea, sebagian besar pilot Marinir terlibat dalam misi serangan terhadap target darat, bahkan termasuk para penerbang yang menerbangkan pesawat pembom tempur F-4 Phantom II yang serbaguna. Namun demikian, beberapa Marinir sempat mendapat kesempatan untuk menunjukkan kemampuan mereka dan saling menembakkan rudal melawan pilot-pilot MiG Vietnam Utara. Pertemuan pertama mereka dengan pesawat musuh terjadi pada tanggal 17 Desember 1967, saat puncak dari Operasi Rolling Thunder, yakni kampanye pemboman yang dilancarkan Presiden Lyndon B. Johnson antara bulan Maret 1965-Oktober 1968 terhadap target-target Vietnam Utara. Pada hari itu, 32 pesawat pembom tempur F-105D Thunderchief Angkatan Udara dan pengawal F-4 Phantom-nya sedang dalam perjalanan untuk mengebom Jembatan kereta api Lang Lao di sebelah barat Hanoi ketika mereka kemudian diserang oleh tiga pesawat tempur MiG-21 Fishbed buatan Soviet dari Resimen Tempur ke-921 Angkatan Udara Vietnam Utara, yang segera mencerai-beraikan armada pembom dan mengklaim  bahwa tiga pesawat Amerika berhasil ditembak jatuh. 

KEMENANGAN UDARA PERTAMA PILOT MARINIR DALAM PERANG VIETNAM

Amerika sebenarnya hanya kehilangan satu pesawat, yakni sebuah F-4D dari Skuadron Tempur Taktis ke-497, Wing Tempur Taktis ke-8. Awak Angkatan Udara, Mayor Kenneth R. Fleenor dan Letnan Satu Terry Lee Boyer, yang terbang dalam Phantom malang itu berhasil melompat keluar dan ditawan musuh. Mereka tidak akan dibebaskan sampai tanggal 14 Maret 1973, saat perang berakhir untuk pasukan Amerika. Sementara itu, empat pesawat tempur MiG-17 Fresco dari Resimen ke-923 lepas landas dari lapangan terbang Gia Lam Hanoi dengan perintah untuk menghadapi pesawat Amerika yang dilaporkan ada di sebelah barat Hanoi. Sepuluh menit kemudian, di ketinggian 11.500 kaki, pilot Luu Huy Chao melihat empat Phantom mendekati lapangan terbang Yen Bai di bagian utara-tengah Vietnam Utara. Membawa MiG-nya ke kecepatan maksimum, dia mendekati ke ekor salah satu Phantom, menembakkan tiga semburan tembakan kanon 37 mm dan 23 mm dan melihat pesawat lawannya itu jatuh. Tiga MiG-17 lainnya kemudian menyerbu ke formasi pesawat-pesawat tempur Amerika. Bui Van Suu menembakkan tiga semburan kanon ke arah sasarannya dan melaporkan bahwa dia melihat sebuah Phantom jatuh. Le Hai juga melepaskan tiga semburan kanon, menghantam badan pesawat dan sayap kanan buruannya, meski gagal menjatuhkannya. Tapi MiG keempat, yang diterbangkan oleh Nguyen Hong Thai, hilang, seperti yang dilaporkan oleh Chao. Apa yang terjadi dengan Thai? Dia rupanya telah ditembak jatuh dan terbunuh oleh sebuah F-4D Phantom II dari Skuadron Tempur Taktis ke-13, Wing Pengintai Taktis ke-432 asal Angkatan Udara Amerika. Pilot F-4D tersebut adalah Kapten Marinir Doyle D. “Pappy” Baker, yang sedang bertugas dalam rangka pertukaran pilot antar skuadron. Sementara awak lainnya dari pesawat tersebut adalah Letnan Satu John D. Ryan Jr. asal Angkatan Udara, seorang pilot berkualifikasi yang kali ini terbang di kursi belakang Phantom sebagai operator sistem persenjataan. 

Kapten Marinir Doyle D.Baker menerbangkan F-4D Phantom (No 66-8719) dari Skuadron Tempur Taktis ke-13 Angkatan Udara ketika ia menjatuhkan MiG-17 pada tanggal 17 Desember 1967. (Sumber: Kolonel Doyle D.Baker via Peter Mersky/https://www.historynet.com/)
Setelah menyelesaikan dinas militernya Doyle D. “Pappy” Baker menjadi pilot sipil. Salah satu customer dari “Pappy” adalah pasangan aktor dan aktris Hollywood, Bruce Willis dan Demi Moore. Doyle D. “Pappy” Baker meninggal dunia pada tanggal 21 Februari 2016. (Sumber: https://www.legacy.com/)

Doyle lahir di Cherokee, OK, pada tanggal 14 Oktober 1940, dan lulus dari Helena High School, Helena, OK, pada tahun 1958. Setelah dua tahun di Oklahoma State University, ia masuk Program Kadet Penerbangan Korps Marinir Amerika Serikat di Pensacola, FL dan ditugaskan sebagai Letnan Dua Korps Marinir di Beeville, TX pada tahun 1962. Pada bulan November 1962, “Pappy” ditugaskan ke Marine Fighter / Attack 513 3rd Marine Air Wing, El Toro, CA, sebagai pilot pesawat tempur F-4. Ia dan skuadron-nya kemudian ditugaskan ke Atsugi, Jepang dan DaNang, Vietnam dari bulan November 1964 hingga November 1965. Pada September 1966, ia terpilih sebagai Perwira yang mengikuti Pertukaran personel antara Korps Marinir dengan Sq Fighter Taktis ke-16, Eglin AFB, FL hingga Oktober 1967, sebelum kemudian dipindahkan ke Pangkalan Udara Udorn Royal Thai AFB, Thailand, di mana dia masih bertugas dalam program Exchange Duty, dengan ditugaskan ke Tactical Fighter Sq ke-13, dimana dia mencatat kemenangan udaranya tanggal 17 Desember seperti yang telah diceritakan diatas, sebagai kemenangan udara pertama pilot Marinir Amerika dalam Perang Vietnam. Doyle lalu menyelesaikan 243 misi tempur selama dua kali turnya di Vietnam. Sekembalinya ke Amerika Serikat, “Pappy” bertugas sebagai Instruktur Penerbangan Tingkat Lanjut di Kingsville, TX, dari bulan November 1968 hingga Agustus 1969, dan kemudian masuk ke Angkatan Udara Amerika Serikat melalui program transfer antar-layanan. Setelah itu, ia ditugaskan ke Headquarters, Tactical Air Command, Langley AFB, VA hingga Agustus 1975. Dari bulan September 1981 hingga Agustus 1982, Pappy ditugaskan sebagai Kepala Divisi Pengembangan Pelatihan, Markas Besar, Komando Udara Taktis, Langley AFB, VA dan kemudian kuliah di Sekolah Tinggi Industri Angkatan Bersenjata dari bulan Agustus 1982 hingga Juni 1983 di Ft. McNair, Washington DC. Dari sana ia menjabat sebagai Deputy Commander for Operations, 37th Tactical Fighter Wing Wild Weasels, George AFB, CA pada bulan Juli 1983 dan tetap di George AFB sampai pensiun dari tugas aktif pada tanggal 1 Mei 1986. Setelah pensiun Pappy segera terjun ke dunia korporat dan menghabiskan 18 tahun berikutnya menerbangkan para selebriti dan pebisnis kaya di seluruh dunia dengan pesawat-pesawat eksklusif seperti Gulfstreams (II, III dan IV), Learjets, dan lainnya. Salah satu customer dari “Pappy” adalah pasangan aktor dan aktris Hollywood, Bruce Willis dan Demi Moore. Pappy adalah seorang pilot dengan pengalaman total lebih dari 6600 jam terbang dan merupakan orang pertama yang mencapai 5000 jam terbang dan merupakan pilot F-4 dengan jam terbang tertinggi kedua. Penghargaan dan dekorasi militernya termasuk Legion of Merit, Distinguished Flying Cross, Meritorious Service Medal dengan dua Oak Leaf Clusters dan Air Medal dengan 20 Oak Leaf Clusters. Doyle D. “Pappy” Baker meninggal dunia pada tanggal 21 Februari 2016.

KEMENANGAN KEDUA

Sementara itu, butuh waktu hampir lima tahun sebelum pilot-pilot Marinir lainnya berkesempatan bertempur lagi dengan angkatan udara Vietnam Utara — dalam situasi yang jauh berbeda. Pada bulan April 1972, Angkatan Darat Vietnam Utara telah melancarkan invasi ke Vietnam Selatan, dan Presiden Richard Nixon menanggapinya dengan melancarkan kampanye pemboman besar-besaran kedua yang dilancarkan AS dalam perang tersebut, yakni Operasi Linebacker I, yang berlangsung antara bulan Mei-Oktober 1972. Pada tanggal 12 Agustus 1972, lima pesawat tempur Phantom dari Skuadron Tempur Taktis ke-58, Wing Pengintai Taktis ke-432, lepas landas dari Pangkalan Udara Kerajaan Thailand di Udorn dalam misi penerbangan untuk menentukan apakah kondisi cuaca saat itu tepat untuk melancarkan serangan pemboman di wilayah Vietnam Utara. Memimpin flight dengan F-4E, yang persenjataannya termasuk kanon 20 mm “built in” pertama yang dipasang ke dalam Phantom, adalah Kapten Marinir Lawrence G. Richard. Terbang di sebelah kanannya adalah sebuah pesawat pengintai RF-4C Phantom. Tiga pesawat lainnya adalah tipe F-4E. Richard saat itu sedang menjalankan misi pertukaran dengan Angkatan Udara. “Kami dikirim ke Udorn selama enam bulan di bawah apa yang disebut sebagai ‘Program Bantuan Musim Panas’, ketika kekuatan udara Thailand diperkuat pada musim panas tahun 1972,” katanya. Sementara itu operator sistem senjatanya Richard, Lt. Cmdr. Michael J. Ettel, pernah bertugas di Skuadron Pengamat Cuaca ke-10 Angkatan Udara, yang telah tidak beroperasi lagi. “Dia dibiarkan tanpa pekerjaan,” Richard menjelaskan, “jadi dia pergi ke berbagai skuadron berharap untuk bisa ditugaskan lagi. Skuadron kami setuju untuk menerbangkannya di kursi belakang sampai dia mendapat pengalaman di pesawat kami, dan dia terbang bersama saya hampir sepanjang waktu sampai dia memenuhi syarat sebagai komandan pesawat. Upaya ini berhasil dengan sangat baik, karena kami berdua mengikuti pertukaran tugas dengan Angkatan Udara. ” 

Pada tahun 1972, F-4E Phantom II telah dilengkapi dengan kanon, sehingga cukup mampu untuk berduel dalam jarak dekat dengan MiG-MiG Vietnam Utara yang lebih lincah. (Sumber: https://fineartamerica.com/)

Richard dan flight-nya sedang berada di atas Sungai Merah Vietnam Utara, sekitar 60 atau 70 mil sebelah barat Hanoi, ketika markas mereka memberi tahu lewat radio bahwa beberapa pesawat tempur musuh berada “di posisi jam enam (belakang), jarak 30 mil, dan dalam posisi menyerang!” Richard kemudian memimpin flight-nya ke arah selatan sampai dia melihat sekumpulan MiG dari jarak sejauh 4 mil, melaju dengan kecepatan supersonik. “MiG-21 yang memimpin berwarna perak, sementara wingman-nya memiliki kamuflase hijau belang-belang … pesawat yang sangat cantik,” kenang Richard. “Saya memberi kode ‘tallyho’, dan kami membuang tangki bahan bakar eksternal di sayap kami, saat elemen saya mulai menyongsong mereka.” Dengan dua F-4E menanjak untuk menjaga ekor pesawatnya, Richard mengikuti sebuah MiG dalam belokan kiri yang lambat sampai dia mendapatkan peringatan radar lock pada pesawat MiG yang memimpin dan menembakkan rudal jarak menengah AIM-7E-2 Sparrow yang dipandu radar dalam jarak sekitar 1½ mil (jarak minimum penembakan Sparrow) dari MiG itu. Rudal itu sedang terbang setengah jalan menuju targetnya ketika MiG pemimpin Flight Vietnam Utara itu melihatnya dan tiba-tiba berbalik ke arah penyerangnya. Rudal AIM-7 hanya terbang melewati kokpit pesawat tempur musuh tanpa meledak. “Dia melewati saya, kanopi ke kanopi, tidak lebih dari beberapa ratus kaki jauhnya,” kata Richard, “berguling-guling ke arah belakang saya dan menukik menjauh dari pandangan.” Kini mengalihkan perhatiannya ke MiG kedua, Richard menembakkan Sparrow lagi. Rudal itu mengenai tepat di depan ekor targetnya, yang kemudian putus dan mengirim MiG yang malang itu jatuh dalam putaran vertikal. “Salah satu aspek lucu dari misi ini adalah bahwa pilot Phantom pengintai (RF-4C) di Wing saya tidak tahu bahwa kami sedang bertempur melawan pesawat-pesawat MiG,” kata Richard. “Saat kami berbalik, dia mengira kami hanya sedang terbang untuk kembali ke pangkalan…. Sampai dia melihat rudal Sparrow lepas dari pesawat saya, dia tidak tahu bahwa kami sedang bertempur. ” 

Letnan Cmdr. Michael J. Ettel, kiri, dan Kapten pilot Marinir Lawrence G. Richard terbang dengan F-4E Phantom Angkatan Udara ketika mereka menjatuhkan sebuah MiG pada 12 Agustus 1972. (Sumber: US Navy / USMC / https://www.historynet.com/)
F-4D Phantom no 71-5811 dari Marine Fighter-Attack Squadron 232, yang sedang melakukan pengisian bahan bakar dari pesawat tanker KC-130F Hercules saat melintasi Pasifik ke Vietnam, adalah korban serangan MiG pada tanggal 26 Agustus 1972. (Sumber: Angkatan Laut AS/https://www.historynet.com/)
Letnan Jenderal Nguyen Doc Soat, Ace Vietnam Utara yang klaim kemenangan udaranya bisa dikonfirmasikan dengan catatan dari pihak-pihak Amerika.(Sumber: https://en.wikipedia.org/)

Bulan Agustus sendiri bukanlah bulan yang baik bagi angkatan udara Vietnam Utara, yang kehilangan empat pesawat tempur MiG-21 dan dua pilotnya. Satu-satunya kesuksesan Angkatan Udara komunis datang pada tanggal 26 Agustus ketika Nguyen Duc Soat dan Le Van Kien dari Kompi ke-3, Resimen Tempur 927, melihat adanya dua Phantom sekitar 9 mil dari perbatasan Laos. Soat menembakkan rudal R-3S (kode NATO: AA-2A Atoll) yang menghantam mesin kanan salah satu Phantom dan meledakkannya dari langit. Soat sendiri adalah salah satu ace langka Vietnam Utara yang catatan kemenangannya tak terbantahkan dimana keenam tembakannya dapat dilacak sesuai dengan kerugian pesawat yang diderita pihak Amerika. Korban Soat pada 26 Agustus itu adalah 1st Lts. Sam Gary Cordova dan Darrell L. Borders dari Marine Fighter Attack Squadron VMFA-232, Marine Aircraft Group 15, satu-satunya pesawat tempur Marinir Amerika yang ditembak jatuh di atas Indochina dalam pertempuran udara-ke-udara. Pesawat mereka, adalah satu dari dua pesawat yang lepas landas dari Nam Phong, Thailand, meledak di bagian timur Laos. Kedua crew Phantom Marinir itu berhasil melompat keluar, dan Borders dengan cepat diselamatkan. Sementara itu Cordova, dengan menggunakan radio penyelamatnya, mengatakan bahwa dia jatuh di jurang dan musuh yang mengejarnya mendekat. Tembakan gencar dari desa terdekat di Laos yang dikuasai oleh Viet Cong di Ban Na Ca Tay mencegah helikopter penyelamat mencapai posisi Cordova. Nasib Cordova tidak diketahui selama beberapa dekade sampai pihak Vietnam menemukan jenazahnya dan mengembalikannya ke Amerika Serikat pada tanggal 15 Desember 1988. Identitasnya berhasil dikonfirmasikan pada bulan Maret 1989.

BALASAN

Pada tanggal 11 September 1972, Marinir membalas dengan melakukan serangan balasan terhadap pesawat-pesawat tempur Vietnam Utara. Dan kali ini Leathernecks menerbangkan misi yang dijalankan sepenuhnya dengan pesawat dan awak Marinir. Empat F-4J Phantom dari Skuadron VMFA-333, yang telah beroperasi dari kapal induk USS America sejak tanggal 14 Juli, sedang dalam patroli udara tempur mencari potensi aktivitas musuh di timur laut fasilitas pelabuhan utama Vietnam Utara di Pelabuhan Haiphong. Setiap MIGCAP Phantom ini dipersenjatai dengan empat rudal AIM-7 sparrow dan empat rudal AIM-9 sidewinder, serta tangki bahan bakar eksternal 600 galon. Pemimpin flight Phantom Marinir itu adalah perwira eksekutif skuadron tersebut, Letnan Kolonel Lee T. “Bear” Lasseter, yang telah membantu mendirikan Marine Aviation Weapons and Tactics Squadron di Yuma, Arizona, yang mengajarkan taktik manuver pertempuran udara seperti yang dikembangkan dalam Program Top Gun Angkatan Laut Amerika di Miramar Naval Air Station, California. Awaknya yang terbang menuju Haiphong juga telah menerima pelatihan serupa. Lasseter memastikan bahwa teknologi F-4 miliknya yang diberi nama SHAMROCK 201 (Buno 155526) siap untuk bertarung. Radar pencarian dan pelacakan AWG-10 yang digunakan oleh skuadron itu, untuk memandu rudal jarak menengah AIM-7 Sparrow dan rudal jarak pendek AIM-9 Sidewinder termasuk di antara yang paling andal di medan pertempuran saat itu. Semua ini juga berkat upaya dari Kapten John D. “Li’l John” Cummings, yang terbang bersama  dengan Lasseter sebagai petugas radar intercept officer, yang bertanggung jawab atas sistem persenjataan pesawat. Prospek mereka untuk terlibat Dalam pertempuran udara nampaknya cukup bagus. Sebelumnya pada tanggal 11 September, serangan bom Angkatan Udara di Hanoi turut telah memancing dua pesawat tempur MiG-21 dari Resimen Tempur ke-927 yang terbang dari lapangan terbang Noi Bai, Hanoi untuk mencegat empat Phantom yang menjatuhkan “chaff” logam untuk membingungkan fasilitas radar Vietnan Utara di dekat lapangan udara Kep, di timur laut kota. Pada kesempatan itu pilot Vietnam Utara, Le Thanh Dao menembak jatuh sebuah F-4E yang diterbangkan oleh Kapten Angkatan Udara. Brian M. Ratzlaff dan Jerome D. Heeren dari Skuadron Tempur Taktis ke-335, Wing Tempur Taktis ke-4. Keduanya berhasil melompat dan ditawan. Mereka kemudian dibebaskan pada tanggal 29 Maret 1973. 

SHAMROCK 201 (Buno 155526), F-4J Phantom II yang digunakan oleh Letnan Kolonel Lee T. “Bear” Lasseter. (Sumber: https://www.pinterest.de/)

Pada sore hari, Flight Lasseter diberitahu bahwa beberapa MiG sedang mengitari lapangan terbang Phuc Yen dekat Hanoi. Ketika Cummings mendeteksi mereka di radarnya, MiG-MiG itu berada pada jarak 19 mil jauhnya. Pada jarak 6 mil wingman Lasseter, Kapten Andrew Scott Dudley, melihat sebuah MiG-21 berwarna perak terbang di ketinggian rendah. Pengejaran segera dimulai. Target pesawat-pesawat Marinir itu, yang lalu berhasil diidentifikasi setelah perang, adalah sebuah pesawat latih MiG-21U yang tak bersenjata dari Resimen Tempur 921 dengan penasihat asal Soviet, Vasily Motlov, di kursi belakang pesawat. Dia dan pilot Vietnam Utara, Dinh Ton sedang kembali dari penerbangan pelatihan tempur ketika kru radar di darat memperingatkan bahwa terdapat empat Phantom sedang mengendap-endap sekitar 5 mil dari Noi Bai. Segera setelah itu, Lasseter meluncurkan dua rudal AIM-7E-2 Sparrow, tetapi Motlov berhasil menghindarinya dengan manuver yang indah. Pertempuran udara liar segera pecah di atas Phuc Yen, sementara artileri anti-pesawat menyerang pesawat-pesawat Amerika. Lasseter melepaskan dua rudal Sparrow lagi, tapi gagal lagi (menunjukkan betapa payahnya performa rudal ini dalam Perang Vietnam). Dia kemudian menembakkan dua rudal pencari panas AIM-9D Sidewinder, yang ternyata juga berhasil dihindari oleh MiG itu, dimana semakin jelas menunjukkan bahwa skill awak MiG itu tidak bisa diremehkan. Pada saat itu Dudley, yang bahan bakarnya pesawatnya tinggal sedikit, melepaskan diri dari pertempuran. Secara kebetulan, Motlov sendiri melihat bahan bakar MiG-nya turun hingga ke level 100 liter (22 galon) —tidak cukup baginya untuk bisa kembali ke Phuc Yen. Dia lalu memerintahkan Ton untuk melompat keluar. Untuk mempersiapkan proses ejeksi, Motlov membalikkan arah pesawat dan membawa MiG-nya menanjak tajam, hanya untuk kemudian merasakan mesinnya padam pada ketinggian sekitar 1.600 kaki. Beberapa saat kemudian Lasseter, dengan dua AIM-9 yang masih dimilikinya, menembakkan satu rudal ke lawannya yang sulit ditaklukkan itu. “Geraman nada Sidewinder cukup keras untuk membuatmu keluar dari kokpit,” kata Cummings kemudian dalam sebuah wawancara, “dan rudal itu benar-benar berhasil menjalankan tugasnya menghantam MiG itu. Semua yang ada di belakang kokpitnya hilang. ” Tapi Ton dan Motlov berhasil lolos dari ledakan itu. Mereka terlontar tepat sebelum rudal menghantam dan mendarat dengan selamat. 

MiG-21U Mongol, versi Fishbed untuk fungsi pelatihan berkursi ganda. (Sumber: https://cz.pinterest.com/)
Rudal jarak menengah AIM-7 Sparrow dalam Perang Vietnam memiliki reliabilitas yang buruk, sehingga kerap gagal mengenai sasaran. (Sumber: https://forum.warthunder.com/)

Lasseter kemudian melihat apa yang tampak seperti MiG-21 berwarna hitam menyerang Phantom yang dipiloti Dudley. Ia lalu meluncurkan rudal Sidewinder terakhirnya, dan melihatnya mengarah ke MiG itu, yang menukik dengan meninggalkan jejak asap — mungkin rudal itu berhasil mengenai, tapi keberhasilan tembakan itu tidak dapat dikonfirmasi. Bahkan dengan tidak ada lagi pesawat-pesawat MiG di sekitar, Lasseter dan Dudley masih harus berurusan dengan dua senjata lain yang termasuk dalam tiga serangkai sistem pertahanan udara Vietnam Utara, yakni rudal permukaan-ke-udara (SAM) dan artileri anti-pesawat. Saat mereka terbang langsung menuju ke kapal induk dan harus terbang di atas kota Hanoi, sebuah rudal SA-2 SAM meledak di dekat sayap kanan Lasseter. Meskipun dia berhasil mendapatkan kembali kendali pesawatnya, hal terbaik yang bisa dilakukan komandan skuadron itu adalah membawa pesawatnya yang terkena efek tembakan SAM, terbang sejauh mungkin ke arah laut sebelum mesin pesawat itu mati, pada saat itu dia dan Cummings akan melompat keluar. Beberapa menit kemudian senjata antipesawat menghantam Phantom Dudley, menyebabkan bahan bakar habis. Seperti rekan-rekan mereka, Dudley dan perwira radar intercept officer-nya, Letnan Satu James W. Brady, melakukan ejeksi di atas Teluk Tonkin. Meskipun kedua Phantom berakhir dengan jatuh di laut, setidaknya mereka telah membersihkan wilayah udara di dekat pantai musuh sehingga unit pencarian dan penyelamatan dari kapal induk dapat mengambil keempat awak yang mengapung di laut itu tanpa mengalami banyak hambatan. Dengan selamat berada di atas Kapal induk USS America, mereka merayakan kemenangan udara “all-Marine” pertama dan satu-satunya diatas udara Vietnam dengan berhasil menembak jatuh MiG yang dikemudikan Motlov, serta kemungkinan mereka telah menimbulkan kerusakan pada sebuah MiG-21 berwarna “hitam”. Lasseter kemudian dianugerahi medali Silver Star atas aksinya hari itu (Sayangnya bagi Lee T. “Bear” Lasseter, ia tidak berumur panjang selepas perang, pada tahun 1980, ia meninggal dunia karena infeksi setelah operasi yang ia jalani). Jadi, penghitungan terakhir kemenangan yang dicetak oleh para pilot Marinir selama perang tersebut adalah tiga kemenangan udara — yang diperoleh Baker (dengan Ryan dari Angkatan Udara) pada tanggal 17 Desember 1967; Richard (dengan personel Angkatan Laut, Ettel) pada tanggal 12 Agustus 1972; dan yang didapat duo marinir Lasseter-Cummings pada tanggal 11 September 1972. Sementara seorang crew Marinir, Cordova, tewas beberapa saat setelah ditembak jatuh pada tanggal 26 Agustus 1972.

LAST KILL SO FAR….

Setelah Perang Vietnam, pilot-pilot tempur Marinir kembali ke peran mereka dalam melakukan serangan darat seperti biasanya — untuk sebagian besar penugasannya. Namun satu pengecualian lagi muncul selama masa Perang Teluk tahun 1991, ketika seorang pilot Marinir kembali bertugas di skuadron Angkatan Udara. Pada tanggal 17 Januari 1991, hari pertama pertempuran dalam perang melawan pasukan pemimpin Irak Saddam Hussein, Amerika melancarkan serangan udara untuk membersihkan langit di atas Irak. Dalam pertempuran itu Kapten Angkatan Udara John J.B. Kelk, yang menerbangkan sebuah F-15C Eagle dari 58th Tactical Fighter Squadron, 33rd Tactical Fighter Wing, berhasil menembak jatuh sebuah MiG-29 untuk mencatat kemenangan udara pertama dalam perang tersebut. Kemudian dalam misi tersebut, pilot F-15 asal Marinir, Kapten Charles Magill, lulusan program Top Gun yang bergabung dengan TFS ke-58, yang memimpin sebuah skuadron melihat adanya dua pesawat tempur MiG-29 di sebelah barat Baghdad. Setelah Kapten Angkatan Udara Rhory Draeger menembak jatuh salah satu dari mereka, Magill menembakkan rudal Sparrow, yang kemudian diikuti oleh rudal lainnya. Tapi rudal yang pertama langsung berhasil, menghancurkan MiG kedua itu (menunjukkan bahwa Sparrow versi baru sudah membuat banyak perbaikan dibanding Sparrow era Perang Vietnam). Kembali ke pangkalan sementara TFS ke-58 di Pangkalan Udara Raja Faisal di Arab Saudi, Magill dengan bangga mengecat bintang hijau di bawah kokpit Eagle miliknya. Mengingat kurangnya perlawanan udara selama beberapa dekade sejak bentrokan yang tidak sebanding di Irak, aksi Magill ini mungkin telah menandai akhir era bagi pilot tempur Marinir bisa merasakan pertempuran udara ke udara… meski tentu saja kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi di masa mendatang…

Dalam Perang Teluk tahun 1991, pilot F-15C asal Korps Marinir, Kapten Charles Magill menembak jatuh sebuah MiG-29 Fulcrum Irak pada tanggal 17 Januari 1991. (Sumber: https://theaviationgeekclub.com/)

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

Marines Rack Up Kills in the Air by Jon Guttman; October 2019

Doyle D. Baker 1940 – 2016

https://www.legacy.com/obituaries/dailypress/obituary.aspx?n=doyle-d-baker&pid=177841355&fhid=13740

Bruce Willis/Demi Moore Chief Pilot Wins Jury Verdict of $53 Million; August 5, 2007, 10:15AM.

https://www.google.com/amp/s/www.lawyersandsettlements.com/legal-news/employment/willis-moore-pilot-01237.amp.html

https://en.m.wikipedia.org/wiki/United_States_Marine_Corps_Aviation

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Lee_T._Lasseter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *