Kesatuan Lapis Baja serta tantangannya pada Perang Indochina dan fase awal Perang Vietnam

Angkatan Darat Amerika pada awal tahun 1960an hanya memiliki sedikit informasi mengenai penggunaan kendaraan lapis baja di Vietnam, dan sebagian besar datang dari catatan pertempuran milik Prancis yang hanya ada sedikit informasi mengenai jumlah penggunaan, kondisi dan pemakaian kendaraan lapis baja di Indochina. Pada tahun 1954, setelah empat tahun mendapat bantuan militer Amerika, armada kendaraan lapis baja Perancis terdiri dari 452 tank dan tank destroyer dan 1.985 Scout cars, half · track, dan kendaraan amfibi, tetapi kendaraan-kendaraan lapis baja ini tersebar di area seluas 228.627 mil persegi. Sebagai perbandingan, pada Juni tahun 1969, Armada lapis baja Amerika di Vietnam memiliki sekitar 600 tank dan 2.000 kendaraan lapis baja lainnya yang digunakan di area kurang dari sepertiga ukuran itu. Semua peralatan Amerika yang digunakan oleh Perancis diproduksi sebelum tahun 1945. Secara umum kendaraan lapis baja itu tidak cocok untuk pergerakan lintas-medan di Vietnam dan karena usianya yang seringkali membuatnya tidak bisa dioperasikan lagi. Selain itu adanya masalah pada sistem logistik, dimana keterlambatan pasokan bisa terjadi dalam jangka waktu enam hingga dua belas bulan, menghambat pengoperasian dengan mempersulit pemeliharaan. Helikopter juga tidak tersedia dalam jumlah besar hanya terdapat 10 unit pada tahun 1952, dan 42 pada tahun 1954; semua khusus dikembangkan dan digunakan untuk kepentingan suplai logistik dan evakuasi medis. Para komandan Perancis dipaksa berimprovisasi dengan segala cara, bertempur dengan peralatan terbatas di area yang luas, dalam kondisi semacam ini mengerahkan satuan-satuan lapis baja menjadi problem yang berat.

Penyergapan Grup Mobile 100 di pembukaan film “We Were Soldier” (Sumber: Youtube)

Dengan keterbatasan yang ada unit-unit lapis baja menjadi terfragmentasi, banyak pos-pos terpencil kecil hanya memiliki sedikit, sekitar dua atau tiga kendaraan lapis baja. Penyebaran kekuatan seperti itu mencegah pengumpulan atau pembentukan satuan cadangan kendaraan lapis baja untuk mendukung batalion-batalion infanteri yang sudah terlalu banyak memiliki beban kerja. Ketika unit-unit lapis baja Prancis digunakan, praktis pergerakan mereka sangat bergantung pada jaringan jalan. Jalan-jalan menentukan arah pergerakan dan banyak pertempuran dilakukan untuk mempertahankan jalan dan area di sekitar seratus meter atau lebih di kedua sisi jalanan. Sementara itu musuh bebas berkeliaran di pedesaan karena unit lapis baja umumnya ditugaskan untuk mendukung Pasukan infanteri, kecepatan dan kemampuannya beroperasi secara mandiri, tidak dapat digunakan. Semua pengalaman mereka ini dituliskan oleh militer Prancis dalam bahasa mereka yang jujur, komprehensif, dan kadang-kadang apa adanya dalam laporan-laporan yang mereka buat. Di Amerika Serikat, karena satu dan lain hal, tidak ada yang tertarik mempelajari pengoperasian satuan lapis baja Prancis di Indocina. Praktis di kalangan militer Amerika tidak ada yang memiliki pengetahuan militer yang cukup di Vietnam. Apa yang mereka ketahui malah bukan berasal catatan militer Prancis, tetapi malah dari buku-buku yang ditulis oleh penulis sipil, yang paling menonjol di antara literatur itu adalah buku klasik tulisan Bernard B. Fall yang berjudul “Street Without Joy”. Salah satu tulisan di buku itu yang sangat memengaruhi pemikiran militer Amerika mengenai penggunaan satuan lapis baja di Vietnam adalah pada bab 9 yang berjudul “End Of A Task Force”, yang menceritakan pengalaman pahit Grup Mobile 100 Prancis yang dihancurkan pasukan Vietminh di sebuah tempat terpencil di Vietnam Tengah (lihat penggambarannya dalam adegan pembuka film “We Were Soldier”). Kisah ini tidak salah, namun bisa memberi impresi yang menyesatkan mengenai nasib satuan lapis baja saat menghadapi pasukan gerilya dengan mobilitas tinggi. Orang juga banyak yang tidak menyadari bahwa Grup Mobile 100 sama sekali bukanlah sebuah unit lapis baja, tapi satu gugus tugas infanteri yang terdiri dari 2.600 personel, yang diorganisasikan ke dalam 4 batalion infanteri yang diangkut dengan truk, diperkuat dengan satu batalion artileri dan sepuluh tank ringan. Sayangnya kisah kegagalan dan bencana ini menutupi keberhasilan-keberhasilan yang pernah dicatat unit-unit lapis baja Prancis di Vietnam. Hal ini pula yang turut menyebabkan militer Amerika terhitung lambat dalam mengerahkan satuan-satuan lapis baja di Vietnam.

Buku klasik tentang Perang Indochina Pertama karya penulis sipil Bernard B. Fall yang turut mempengaruhi pemikir-pemikir militer Amerika dalam rencana menggelar Satuan Lapis Baja di Vietnam. (Sumber: https://www.overdrive.com/)

Pengalaman satuan Lapis Baja Prancis di Indochina

Tank Renault FT, kendaraan lapis baja pertama yang dikirim Prancis di Indochina pada Januari 2019. (Sumber: https://thereaderwiki.com/)

Satuan Lapis Baja Prancis pertama yang tiba di Indocina adalah lima tank FT Renault pada Januari 1919, milik 16 Bataillon de Chars Légers (Batallion Kendaraan Ringan ke-16), yang dikomandani oleh Kapten de Cuverville. Uji coba pertama berhasil dan menunjukkan bahwa tank-tank itu bisa sangat berguna di wilayah koloni – dan, jumlah mereka dengan cepat naik menjadi 30 unit. Pada 1928, sudah ada kompi tank di Indocina, yang didukung oleh armada mobil-mobil lapis baja, seperti White Mle 1918 , AM White-Laffly dan Peugeot Mle 1925. Satuan Lapis Baja ini sebagian besar lebih digunakan untuk “unjuk kekuatan” di berbagai daerah, di mana mereka biasanya diangkut dengan kapal saat menuju lokasi operasi. Pada tahun 1938, unit-unit lapis baja Prancis di Indocina direorganisasi menjadi tiga Détachements Motorisés – satu berlokasi di Hanoi, satu lagi di Ting dan ketiga di Saigon. Ketiga unit ini memiliki infanteri sepeda dan kendaraan transport lapis baja Renault UE31R yang melekat pada mereka, tetapi pada saat itu, kondisi kendaraan lapis baja itu sudah dalam kondisi buruk, itulah sebabnya mengapa mereka tidak berpartisipasi dalam bentrokan perbatasan dengan Thailand antara tahun 1940 dan 1941. Jenderal Billote melaporkan dalam salah satu laporannya, satuan lapis baja Saigon hanya digunakan sekali setahun pada parade tanggal 14 Juli, sementara satuan lapis baja Tonkin malah tidak dapat digunakan sama sekali – karena pada dasarnya banyak yang sudah berkarat dan tidak dapat diperbaiki lagi. Sejak pertengahan 1940, gubernur jenderal Indocina, Jenderal Decoux, meminta bala bantuan dari Prancis dalam bentuk sedikitnya 100 tank Renault R-35, tetapi harapannya tidak pernah terwujud. Maka, ketika pada bulan Maret 1945 Prancis berselisih dengan Jepang atas kendali Indocina, mereka kemudian mendapati satuan lapis baja nya dihancurkan sama sekali oleh Jepang.

Karena kondisi yang buruk, satuan lapis baja Prancis tidak turut serta dalam Perang Prancis-Thailand, Oktober 1940-9 Mei 1941. (Sumber: https://alchetron.com/)

Saat Perang Dunia II usai, Prancis kembali menaruh minat pada koloni-koloninya di seberang lautan. Namun pada saat mau menancapkan kembali hegemoninya di Vietnam, Prancis segera mendapat perlawanan sengit dari gerakan kemerdekaan lokal yang dimotori oleh Vietminh. Tanggapan cepat segera datang dari Prancis. Tak lama kemudian, unit CEFEO pertama (CEFEO – Korps Ekspedisi Prancis di Timur Jauh) mendarat di Saigon dan mulai secara sistematis mendorong keluar pasukan Ho Chi Minh dari wilayah perkotaam. Inti dari unit-unit ini ada pada Divisi Lapis Baja ke-2 yang terkenal dalam Perang Dunia II, pimpinan Jenderal Leclerc, yang juga menjadi komandan unit militer Prancis pertama di Indocina. Kekuatan lapis baja juga hadir di sini, diorganisasikan dalam “Taskforce Massou” (Groupement Massou), dinamai sesuai komandannya (nama resmi adalah Groupement de Marche de la 2e Division Blindée). Pasukan ini terdiri dari kompi pengintai (dari Resimen Infanteri Marocco Spahi ke-1 – 1er Resimen de Marche de Spahis Marocains), yang terdiri dari peleton komando dan tiga peleton tempur, masing-masing dengan 4 kendaraan lapis baja M8 Greyhound, 4 Jeep, 1 halftrack dan 1 M8 “Scott” HMC. Gugus tugas ini juga memiliki satu kompi tank ringan M5A1 Stuart (Kompi ke-4 dari Resimen Kendaraan Tempur ke-501) dan berbagai macam satuan infanteri, yang mengendarai halftracks dan Kendaraan pengintai M3A1. Pertempuran juga berlangsung di daerah-daerah Indocina lainnya, seperti di Laos dan Kamboja. Tetapi pasukan pemberontak di wilayah-wilayah ini lemah dan biasanya hanya dibutuhkan beberapa unit pasukan kolonial dan Legiun asing untuk memulihkan ketertiban seperti masa sebelum perang. Di Laos, setengah brigade SAS Prancis, yang dilatih oleh Inggris mengambil bagian dalam pertempuran – mereka dilengkapi dengan Jeep bersenjata senapan mesin. Kamboja dengan mudah jatuh ke tangan Prancis. Di Phnom Penh, 9 tank Jepang berhasil dirampas – Tipe 89B, Tipe 95 dan Tipe 94. Pasukan Prancis juga menemukan empat traktor UM31 dari masa sebelum perang dan melengkapi mereka dengan senapan mesin. Bersama-sama, bermacam-macam tipe kendaraan lapis baja ini membentuk Commando Blindée du Cambodge. Pembentukan unit semacam ini dapat dianggap menunjukkan tanda-tanda kelemahan militer Perancis, karena sampai harus menggunakan peralatan rampasan, tetapi pada bulan Maret 1947, mereka setidaknya diperkuat dengan tank ringan H-39 Hotchkiss, dengan 20 lagi ditambahkan pada tahun 1948 juga. Prancis juga menerima beberapa lusin kendaraan lapis baja Panhard 178B (dengan turret tipe FL-1).

Tank rampasan Jepang dari satuan Commando Blindé du Cambodge (armored commando of Cambodia) di Phnom Penh, 1946. (Sumber: http://ftr.wot-news.com/)
Panhard 178B “Fontenoy” dari satuan 5e Régiment de Spahis Marocains di Kamboja, Juni 1952. (Sumber: http://ftr.wot-news.com/)

Mengingat sudut pandang Amerika yang saat itu sangat anti-kolonial, Prancis menerima sebagian besar persenjataannya dari Inggris, sehingga unit kavaleri Prancis, yang digunakan sebagai pengintai untuk satuan infantri, dilengkapi dengan kendaraan Pengangkut Universal Carrier, Mobil-mobil Scout Humber dan mobil lapis baja Coventry Mk.I yang bagus tapi cukup berat (orang Prancis membeli hampir seluruh produksi). Unit mobil lapis baja Prancis dengan demikian terdiri dari empat escadron, masing-masing dengan 13 Humber dan 19 Coventry dan dibagi menjadi 6 peleton. Unit-unit ini banyak digunakan untuk perlindungan dalam misi patroli dan konvoi. Kendaraan beroda memang membatasi kendaraan tempur Prancis dalam pergerakan mereka di wilayah Indocina. Prancis mencoba menghancurkan pasukan musuh dengan serangkaian operasi bersenjata gabungan dengan menggunakan pasukan utama yang terdiri dari unit mobil udara elit, sementara unit lapis baja memberikan perlindungan dari belakang. Operasi seperti itu yang terbesar (hingga saat itu) adalah Operasi Lea (kisah Operasi ini dapat dibaca di artikel lain di blog ini) dilakukan di Bac Khan (7-8 Oktober 1947), tempat markas besar Ho Chi Minh diduga berlokasi. “Paman Ho” sendiri berhasil lolos hanya karena keberuntungan belaka, pasukan terjun payung hampir menangkapnya di tendanya.

Kendaraan Coventry Mk.I buatan Inggris dari unit 5 Régiment de Cuirassiers “Royal Pologne” (Sumber: http://ftr.wot-news.com/)
Humber Scout Car buatan Inggris (Sumber: Pinterest)

Menjadi jelas bahwa Pasukan Perancis terlalu lemah untuk bisa mengendalikan seluruh wilayah Indocina. Prancis berhasil merebut dan mempertahankan kota-kota serta jalan-jalan utama, tetapi sebagian besar alat transportasi mereka adalah truk-truk sederhana dengan radius operasional terbatas. Kurangnya transportasi lapis baja menyebabkan situasi di mana Prancis terpaksa memberi tambahan pelat baja pelindung pada truk (Dodge WC62 dan GMC) untuk memberikan perlindungan tambahan. Prancis juga mulai membangun benteng/benteng kecil, masing-masing dengan kompi infanteri, dua meriam dan beberapa mobil lapis baja. Unit utama, lapis baja berat dan mekanis berada di pangkalan utama dan menyediakan inti dari pasukan cadangan, yang akan dikirim untuk membantu titik-titik pertahanan yang diserang musuh. Viet Minh bereaksi terhadap hal ini dengan berpura-pura menyerang salah satu titik kuat pertahanan kecil Prancis, untuk memancing keluar unit lapis baja Prancis dan iring-iringan ini kemudian menjadi target utama serangan Vietminh. Karena gerilya Vietminh tidak memiliki senjata anti-lapis baja, mereka terpaksa berimprovisasi ketika menyerang barisan kendaraan lapis baja Prancis. Penyergapan biasanya terjadi di daerah berhutan lebat, di mana orang-orang Vietnam akan menggunakan bom molotov dan bahan peledak tangan untuk melumpuhkan kendaraan lapis baja Perancis. Jalan-jalan juga sering dipasangi rintangan untuk mencegah kendaraan Prancis lewat. Ranjau juga semakin banyak digunakan di sepanjang konflik.

Truk GMC dengan kanon Bofors 40 mm (Sumber: https://webkits.hoop.la/)
Kolonel Dang Van Viet memeriksa kendaraan Prancis yang hancur disergap Vietminh. (Sumber: https://www.quora.com/)

Salah satu medan perang yang paling sulit adalah dataran dengan banyak rawa-rawa besar di selatan Saigon, tempat dimana satuan Resimen Kavaleri Legiun Asing ke-1 (1er Régiment Etrangers de Cavalerie) digunakan. Unit-unitnya, yang terdiri dari Escadron ke-1 dan ke-2, adalah yang pertama yang menerima kendaraan amfibi M-29C Weasel buatan Amerika pada tahun 1947 (Perancis menyebutnya sebagai “Crabe”). Kendaraan-kendaraan tersebut dilengkapi dengan senapan mesin buatan Prancis Chaterrault M1924/29 atau senapan mesin buatan Amerika Browning M1919 serta dengan senjata recoilless 57mm. Awalnya, penggunaan kendaraan ini tidak berhasil, karena mereka dikemudikan oleh orang-orang yang tidak terlatih dan menggunakan taktik yang salah serta dikerahkan tanpa dukungan infantri. Kerugian diantara mereka sangat besar dan seperti yang dilaporkan oleh komando Prancis, “kendaraan mereka yang terbakar menutupi seluruh dataran”. Namun pada akhirnya, para legiuner berhasil menggunakan dan menguasai cara pemakaiannya setelah beberapa bulan pertempuran, tetapi efektifitas nyata pasukan lapis baja di medan rawa baru didapat ketika Prancis menerima kendaraan lapis baja amfibi berat buatan Amerika tipe LVT-4 Alligator dan LVT (A) – 4 dengan senjata howitzer pendek kaliber 75mm pada tahun 1950. Penggunaan Aligator memungkinkan untuk mengerahkan unit infantri yang lebih kuat dengan kapasitas angkutnya yang lebih besar dibanding Weasel. Pada bulan September 1951, unit komposit pertama (1er Groupement Autonome) didirikan, yang terdiri dari dua escadron Weasels (masing-masing 33 unit), tiga escadron LVT-4 (masing-masing 11 unit) dan satu peleton bantuan tembakan dari 6 LVT (A) -4 75mm howitzer self-propelled. Bahkan unit-unit Weasel dipersenjatai dengan berat – dalam satu peleton, lima unit dilengkapi dengan senapan mesin, dua dilengkapi dengan senjata recoilless M18A1 kaliber 57 mm dan satu unit dilengkapi dengan mortir 60mm. Setiap Alligator membawa empat senapan mesin – dua kaliber .50 dan dua kaliber .30. Beberapa bahkan memiliki dudukan untuk senjata recoilless. Kemudian, unit kedua yang dibuat di Tonkin – yang memiliki beberapa LVT-4, dimodifikasi kembali di pangkalan perbaikan angkatan laut di Haiphong untuk bisa membawa meriam Bofors 40mm dan dua senapan mesin. Kedua unit lapis baja ini aktif berpartisipasi dalam operasi di delta Mekong (selatan) dan Sungai Merah (utara) dan dalam mendukung operasi-operasi pendaratan di pantai-pantai Vietnam.

A crew of Weasel M29 “Crab” GA 2 (2nd Amphibious Group) of the 1st REC (Foreign Regiment of Cavalry) is ready to start for a new mission during the operation “Auvergne”. June 1954. Photo Credit ECPAD
LVT-4 dalam Operasi Camargue, 1953 (Sumber: http://ftr.wot-news.com/)
Sebuah LVT-4 bersenjata kanon pendek 75 mm dan 2 LVT-4 bersenjata senjata recoilless. (Sumber: http://ftr.wot-news.com/)
LVT-4 dengan senjata bofors 40 mm (Sumber: http://ftr.wot-news.com/)

Berdirinya Republik Rakyat Cina (setelah menendang keluar kekuatan nasionalis dari daratan China) dan hasil Perang Korea turut mengubah sifat perang di Vietnam juga. Apa yang sebelumnya dilihat sebagai perang kolonial menjadi perjuangan untuk menghentikan agresi komunisme. Di sisi lain, bagi Viet Minh, berkat masuknya pasokan senjata baru dari Cina (hasil rampasan tentara KMT dan Perang Korea), sekarang dapat mengumpulkan unit seukuran resimen atau bahkan divisi (unit ini siap pada akhir tahun 1950), dan membuktikan kualitas mereka selama pertempuran di dekat perbatasan Cina di Cao Bang. Kerugian yang sangat tinggi di daerah ini telah mengejutkan komando Prancis dan perubahan segera dilakukan. Untungnya bagi Prancis, Jenderal de Lattre de Tassigny kemudian diangkat sebagai komandan baru di wilayah Indochina. Dia segera mengubah struktur pasukan lapis baja untuk membuatnya lebih praktis dan lebih mudah digunakan di lingkungan lokal. Perubahan juga termasuk dengan adanya pengiriman baru senjata dari Amerika, yang terbaik di antaranya adalah tank ringan M24 Chaffee, untuk menggantikan Stuart yang sudah usang – Chaffe memiliki daya tembak yang baik dengan meriam 75 mm sambil tetap mampu menjaga bobotnya tetap ringan.

Tank M5A1 Stuart dari satuan 5e Régiment de Spahis Marocains di Kamboja, Juni 1952. (Sumber: http://ftr.wot-news.com/)
M-24 Chaffe (Sumber: Pinterest)

Waktu itu ada beberapa kekhawatiran bahwa Prancis di Indochina mungkin akan melawan tank T-34 dan IS-2 milik Cina. Untuk mengatasinya, pada akhir tahun 1950, resimen tank baru didirikan – Resimen Kolonial Lapis Baja Timur Jauh (Régiment Blindé Colonial d’Extreme-Orient), dipersenjatai dengan tank medium M4 Sherman dan tank destroyer M36B2 Jackson. Namun serangan Cina tidak pernah datang dan kendaraan ini kemudian digunakan untuk mendukung pasukan infanteri. Menurut rencana General de Tassigny, tiga jenis unit yang berbeda (tetapi saling melengkapi) harus dibuat:

  • Unit lapis baja (Sous-groupements Blindeés), yang terdiri dari peleton komando, kompi tank (17 tank), tiga kompi infantri bermotor dengan truk dan satu dengan halftrack (dalam kenyataannya unit ini hanya memiliki satu kompi tank dan dua kompi infantri)
  • Unit pengintaian (Groupes d’Escadrons de Reconaissance), yang terdiri dari satu kompi kendaraan lapis baja (15 M8 Greyhounds), sebuah kompi tank, satu peleton M8 HMC dan sebuah detasemen infanteri.
  • Grup Mobil (Groupes Mobiles) dengan tiga kompi infantri bermotor, satu baterai howitzer 105mm, sebuah kompi tank (kebanyakan dari tipe Stuart) dan satu detasemen pengaman.
Tank Destroyer M36B2 “Jackson” milik Régiment Blindé Colonial d’Extreme Orient tahun 1952. (Sumber: http://ftr.wot-news.com/)

Unit-unit tempur mobile pada akhirnya menjadi unit tempur utama Prancis selama perang, tetapi fakta menunjukkan bahwa penggunaan truk untuk transportasi membatasi mobilitas dan kemampuan mereka untuk beroperasi. Namun terbukti juga berkali-kali bahwa hanya dengan sedikit tank sudah cukup untuk menghancurkan unit-unit Vietminh (suatu hal yang akan berulang saat perang Vietnam), membuktikan bahwa unit lapis baja memiliki nilai penting di tengah medan yang mobilitasnya terbatas, dalam hal ini daya tembak/firepower lebih menentukan hasil pertempuran. Dalam satu serangan semacam itu, pada tanggal 25 September 1953, Vietminh menyerang satu barisan 1st Horse Regiment. Serangan itu berhasil dipukul mundur berkat beberapa unit tank Chaffee dan Vietminh kehilangan 180 personelnya. Namun demikian, moral Vietminh senantiasa tinggi, di kesempatan lain dengan didukung oleh kesuksesannya di Cao Bang, komandan pasukan Vietnam, Jenderal Vo Nguyen Giap, merencanakan serangan umum ke arah Hanoi. Pada 13 Januari 1951, divisi-divisi Vietnam ke-308 dan ke-312 menyerang Vinh Yen dan menyerbu ke posisi defensif Grup Mobile 1 dan 3. Namun Unit-unit Vietminh melakukan kesalahan dengan meninggalkan hutan menuju tempat terbuka dan segera dibantai oleh tembakan gencar pasukan Perancis, tembakan artileri dan pemboman udara (kesempatan ini adalah pertama kalinya napalm digunakan melawan Vietminh). Setelah empat hari pertempuran sengit, de Tassigny mengerahkan cadangan Grup mobile ke-2 dan menghancurkan divisi Vietminh. Vietnam kehilangan 6000 hingga 9000 orang, 6000 lainnya terluka, Perancis juga menawan 500 tahanan.

Selama Vietminh bertempur di medan terbuka, Pasukan Prancis senantiasa memiliki peluang untuk menghancurkannya dengan besarnya firepower yang mereka miliki termasuk yang berasal dari satuan lapis baja. (Sumber: https://alphahistory.com/)

Namun pasukan Giap tidak pernah berhenti menyerang (terlepas dari periode hujan musim dingin) dan pada akhir Mei 1951, unit-unitnya berusaha melakukan serangan lebih lanjut di sekitar Ninh Binh. Namun serangan ini berhasil dihancurkan oleh Grup Mobile 1 dan 3, yang berhasil meremukkan Divisi ke-320 Vietminh. Kegagalan ini membuat jenderal Vietnam yang ambisius itu terdiam, dan setelah kehilangan ribuan orang dan perlengkapan, terpaksa mulai mundur. Sekarang orang Prancis memegang inisiatif dan mereka memulai ofensif, tetapi hanya butuh dua bulan bagi Viet Minh untuk merespons dengan serangan balik mereka sendiri. Posisi Prancis satu demi satu jatuh karena taktik brutal gelombang manusia digunakan Vietminh, menyerbu posisi-posisi Prancis dengan tidak memperhatikan kerugian-kerugian mengerikan yang diderita. Pertarungan semacam itu terjadi di kota kecil Tu Vu, yang dipertahankan oleh dua kompi tentara Senegal dan satu pleton yang terdiri dari 5 tank Stuart. Pada malam hari tanggal 10 Oktober 1951, lima batalyon Vietminh menyerang. Prajurit-prajurit Senegal melawan dengan keras dengan dukungan tank dan senapan mesin mereka membunuh puluhan Vietminh, tetapi setelah beberapa jam pertempuran paling brutal yang bisa dibayangkan, posisi Prancis akhirnya jatuh. Prajurit-prajurit Prancis, termasuk para kru tank, berjuang hingga prajurit terakhir, dan akhirnya semua tank Stuart dihancurkan, terbakar dengan kru mereka masih di dalamnya.

Komandan Pasukan Prancis di Indochina, Jenderal de Lattre de Tassigny dan pura tunggalnya, Bernard. Gugurnya Bernard dalam pertempuran melawan Vietminh amat memukul de Lattre, yang lalu meninggal karena sakit tidak lama kemudian. (Sumber: https://alchetron.com/)

Kerugian-kerugian besar memaksa Prancis untuk mulai meninggalkan posisi-posisi pertahanan mereka. Yang lebih buruk lagi, de Tassigny jatuh sakit (putra satu-satunya, Bernard juga gugur dalam pertempuran mempertahankan posisi pertahanan pasukan Prancis di Ninh Binh) dan harus kembali ke Prancis. Ia digantikan oleh seorang jenderal yang tidak begitu bersemangat, Raoul Salan. Salan fokus pada mempertahankan Tonkin dan hanya sedikit bertindak ofensif. Giap melanjutkan ofensifnya dan pada musim semi 1953, bahkan mulai memasuki wilayah Laos untuk memecah konsentrasi pasukan Prancis. Sebagai jawaban aksi Giap itu, komandan Perancis yang baru, Jenderal Henri Navarre (Salan digantikan pada Januari 1953 setelah kinerja yang buruk). Navarre, meskipun bukan perwira lapangan, segera kembali ke strategi perang mobile. Tujuan utamanya adalah untuk mengakhiri konflik dengan cepat sehingga pemerintah Prancis dapat menangani wilayah koloni ini lewat jalur politik dengan hasil yang lebih menguntungkan. Navarre merencanakan pertempuran menentukan dengan pasukan Vietminh di lembah Dien Bien Phu. Unit Prancis terbaik dipindahkan ke sini – mereka memiliki dukungan udara dan dukungan lapis baja (10 tank M24 Chaffe). Tank-tank ini dipindahkan ke unit khusus yang disebut Escadron de Marche du 1er Régiment de Chasseurs á Cheval dan dipimpin oleh kapten Yves Hervouët. Mereka dibagi menjadi tiga peleton dan mereka berjuang sampai akhir. Mereka menembakkan sekitar 15.000 peluru meriamnya dalam pengepungan panjang yang terjadi sebelum pasukan Vietminh akhirnya menguasai perbentengan Dien Bien Phu pada Mei 1954, hampir semuanya sudah usang dan rusak parah pada saat pertempuran usai. Pada akhirnya, para awak tank Perancis sebenarnya berpotensi dapat menentukan hasil pertempuran, tetapi mereka jelas tidak dapat menentukan hasil perang – mereka terlalu sedikit untuk melakukan itu.

Tank M-24 di Dien Bien Phu. Kesuksesan Prancis dalam menggunakan kendaraan lapis baja di Indochina tertutupi oleh kisah-kisah kegagalan mereka disana. (Sumber: https://pathannay.wordpress.com/)

Apa yang dipelajari oleh Prancis adalah diperlukan modifikasi taktik tempur saat menghadapi taktik gerilya musuh. Dalam hal ini, taktik konvensional tidak bisa diterapkan dalam peperangan yang tidak konvensional seperti gerilya. Namun mereka juga belajar dengan baik mengenai taktik senjata gabungan, yang tetap merupakan organisasi tempur terbaik meski setiap Angkatan Darat perlu tetap fleksibel untuk melakukan modifikasi jika diperlukan disesuaikan dengan tipe misi, musuh dan medan yang dihadapi. Dan yang paling penting adalah mereka membuktikan bahwa tank dapat digunakan di hampir semua medan dan agar satuan tank dapat melaksanakan tugasnya dengan sempurna, diperlukan jumlah yang memadai disesuaikan dengan tugas yang diberikan. Terlalu sedikit akan membuat keunggulan-keunggulan yang dimiliki tank menjadi sia-sia dan mengurangi efektifitasnya. Prancis juga berpendapat bahwa satu kompi tank (terdiri dari 17 tank) adalah jumlah minimum yang mestinya disediakan per batalion infanteri untuk bisa mencapai efektifitas tempur yang diharapkan.

Potensi penggunaan satuan lapis baja di Vietnam oleh Amerika

Sementara itu pengalaman militer Amerika (yang kemudian menggantikan posisi Prancis di Vietnam setelah tahun 1954) dalam menggunakan kekuatan lapis baja di wilayah Asia Pasifik baik selama dan setelah Perang Dunia II amat terbatas pada pengalaman-pengalaman di Pulau-pulau Pasifik saat PD II dan pada saat perang korea tahun 1950-an. Dari kedua pengalaman itu, serta pengalaman Prancis banyak menunjukkan terbatasnya kegunaan kendaraan lapis baja di medan hutan-hutan dan pegunungan. Dalam perang di Pasifik pergerakan pasukan di daratan sangat lambat di area-area hutan hujan tropis di pulau-pulau pasifik. Tidak ada divisi lapis baja independen yang dikirimkankan melawan pasukan-pasukan Jepang dengan melintasi pulau-pulau Pasifik. Taktik blitzkrieg dengan menggunakan kendaraan lapis baja tidak bisa digunakan disini, medan ini adalah medan pertempuran infanteri. Unit-unit lapis baja memang dikirimkan ke Pasifik, namun fungsinya lebih ke sebagai pendukung infanteri, dan penggunaannya tidak banyak dipublikasikan dan dipelajari. Bagi banyak prajurit pada umumnya hutan dipandang sebagai medan yang “gelap” dan harus dihindari bagi formasi-formasi unit lapis baja. Sialnya gambaran medan berhutan, berawa, dan bersawah ini melekat kuat saat mereka mendengar kata Vietnam.

Pengalaman Amerika dalam menggunakan kendaraan lapis baja di medan perang Asia terbatas pada pengalamannya di medan Pasifik saat PD II. (Sumber: Pinterest)

Di sisi lain, Perang Korea memberi pengalaman tambahan yang turut menjadi pertimbangan militer Amerika saat akan menggelar pasukan ke Vietnam. Korea memiliki iklim muson yang memiliki perubahan iklim berkala mengakibatkan adanya perubahan arah angin, dengan wilayah lepas pantai yang dingin, sementara wilayah daratan yang panas. Hujan musim panas di Korea adalah pengalaman yang tidak akan pernah dilupakan mereka yang pernah bertugas disana. Hujan yang deras membuat pergerakan dalam pertempuran sulit dilakukan, jika boleh dibilang tidak mungkin. Daerah sawah yang luas tergenang di Korea bagian barat menambah rintangan dalam pergerakan kendaraan lapis baja selama musim menanam padi. Ketika diketahui bahwa Vietnam adalah sebuah negara dengan iklim muson dan punya budaya menanam padi, orang Amerika yang pernah bertugas di Korea teringat bahwa mereka pernah mengalami hujan musim panas yang membuat wilayah pedesaan tidak mungkin dijelajahi hampir selama setengah tahun. Namun harus disadari bahwa musim hujan Vietnam sangat berbeda dari yang ada di Korea dan tidak memaksakan pembatasan yang sama pada pergerakan kendaraan lapis baja. Wilayah menanam padi di Vietnam juga terbatas pada “sabuk sempit” dataran rendah di sepanjang pantai dan wilayah luas di Delta Mekong.

Medan persawahan di Korea cukup membatasi penggunaan kendaraan lapis baja Amerika selama perang. (Sumber: Pinterest)

Setengah dari Vietnam adalah wilayah pegunungan, hal ini mengingatkan akan wilayah pegunungan yang tidak bisa dilewati dari pulau-pulau Pasifik dan Korea, dan kesulitan ekstrim yang dimiliki kendaraan lapis baja dalam beroperasi di kedua tempat itu, banyak perencana menyimpulkan bahwa pegunungan di Vietnam mungkin sama beratnya dengan yang ada di Korea dan ditutupi dengan hutan setebal hutan-hutan yang ada di pulau-pulau Pasifik. Asumsi-asumsi yang diambil ini memberi bukti tambahan bahwa kendaraan lapis baja tidak akan memiliki tempat di Vietnam. Manual penggelaran satuan lapis baja yang digunakan militer Amerika hingga November 1961 masih didasarkan pada penggunaan di medan seperti Afrika Utara dan Eropa yang turut mencatat wilayah-wilayah yang sukar untuk digelar satuan lapis baja seperti di wilayah hutan, rawa-rawa dan danau. Pada wilayah-wilayah semacam ini, para komandan lapangan disarankan untuk mem-by pass dan menetralisir wilayah-wilayah itu dengan membiarkan satuan-satuan infanteri untuk membereskannya.

Susunan geografi Vietnam Selatan yang beragam (Sumber: https://history.army.mil/)

Faktanya, Vietnam bukanlah negeri yang sepenuhnya tidak bersahabat dengan konsep peperangan lapis baja. Saat medan di Vietnam diperiksa secara terperinci pada tahun 1967, tim perwira satuan lapis baja AS, menemukan bahwa lebih dari 46 persen tanah di Vietnam dapat dilalui sepanjang tahun dengan kendaraan lapis baja. Selama Perang Vietnam, operasi-operasi militer yang melibatkan unit-unit lapis baja telah dilakukan di hampir setiap tipe area geografis yang ada di Vietnam, pembatasan paling besar ada di Delta Mekong dan di wilayah pegunungan yang ada di tengah Vietnam Selatan. Delta Mekong, seringkali ada di bawah permukaan laut dan jarang tingginya lebih dari 4 meter di atas permukaan laut, basah, subur, dan banyak digunakan untuk bertani. Daerah ini memiliki drainase yang buruk hingga wilayah ujung selatan negara itu, Semenanjung Ca Mau yang memiliki banyak rawa-rawa dan hutan bakau rendah dan seperti wilayah delta banyak diselingi oleh sungai, dan kanal, sehingga lalu lintas terpaksa harus mengikuti tanggul, bendungan, dan beberapa jalan yang dibangun disana.

Kondisi geografis di kawasan Delta Sungai Mekong yang banyak dialiri sungai kecil dan rawa-rawa memang membatasi gerak satuan lapis baja, namun geografi Vietnam Selatan tidak semuanya seperti di Delta Mekong. (Sumber: http://pzzzz.tripod.com/)
Wilayah Vietnam Selatan yang bisa dan tidak bisa digunakan oleh kendaraan lapis baja saat musim penghujan. (Sumber: https://history.army.mil/)

Berbeda dengan wilayah delta, wilayah dataran tinggi di bagian tengah berbukit pegunungan kecil dan termasuk dari rantai pegunungan Annamite, dengan puncaknya mencapai ketinggian 2.600 meter, berhutan lebat dengan bambu dan tumbuhan hijau. Daerah ini memang menjadi rintangan yang sulit tetapi bukan berarti tidak mungkin dilalui oleh kendaraan lapis baja. Di daerah ini jalannya buruk dan pusat populasinya sedikit serta tersebar. Saat satuan lapis baja digunakan pertama kali di wilayah dataran tinggi, unit lapis baja ditugaskan untuk membersihkan jalan dan mengawal konvoi. Kemudian, pasukan musuh yang besar muncul, satuan senjata gabungan infanteri-lapis baja beroperasi di wilayah gunung dan hutan-hutan. Sementara itu daerah lain di Vietnam Selatan, yakni wilayah pesisir pantai dan perbukitan, secara umum ditandai dengan medan yang berkontur atau berbukit. Vegetasi berkisar dari tumbuhan semak belukar di sepanjang pantai sampai daerah persawahan dan ladang yang dibudidayakan, serta perkebunan, dengan hutan bambu, dan pohon jarum konifer serta hutan-hutan. Pada daerah ini kendaraan lapis baja dapat digunakan hampir 80 persen waktu sepanjang tahun dan telah banyak dilalui oleh pasukan lapis baja Perancis dan Vietnam Selatan sebelum kedatangan tentara Amerika.

Armada tank M551 Sheridan dan APC M113 di medan Vietnam. Untuk kendaraan lapis baja ringan, mayoritas wilayah Vietnam Selatan mampu mereka lalui sepanjang tahun. (Sumber: Pinterest)
Wilayah Vietnam Selatan yang bisa dan tidak bisa digunakan oleh kendaraan lapis baja saat musim kering. (Sumber: https://history.army.mil/)

Vietnam memiliki 2 musim utama, yakni musim panas dan musim penghujan. Musim panas dimulai pada bulan juni sampai dengan bulan September, sedangkan musim penghujan berlangsung dari bulan November hingga bulan Februari. Selama masa transisi periode musim basah dan kering dan pada periode musim kering itu sendiri, pertempuran dengan menggunakan kendaraan tempur dapat dilakukan di sebagian besar wilayah di Vietnam. Bahkan di musim penghujan, unit lapis baja terbukti mampu beroperasi dengan relalif mudah di banyak wilayah yang sebelumnya dianggap tidak mampu dilewati. Pada tahun 1967, dalam sebuah studi berjudul Mechanized and Armor Combat Operations Vietnam (MACOV) yang dilakukan untuk mengetahui efek iklim muson di Vietnam pada pergerakan unit-unit kendaraan lapis baja. Meskipun sebelumnya para insinyur Angkatan Darat telah melakukan survei, namun laporan mereka ternyata dianggap terlalu konservatif dalam perkiraan mereka. Dari penelitian yang dilakukan, tim baru ini menghasilkan peta Vietnam yang dapat digunakan untuk musim kemarau dan musim hujan. Laporan tim ini menunjukkan bahwa tank dapat bergerak dengan dukungan organik di 61 persen wilayah negeri selama musim kemarau dan 46 persen selama musim penghujan. Sementara itu kendaraan lapis baja pengangkut personel dapat bergerak di 65 persen wilayah Vietnam (selatan) sepanjang tahun. Studi ini mengkonfirmasi apa yang sudah diketahui oleh orang-orang Vietnam sebelumnya bahwa sebagian besar wilayah Vietnam cocok untuk mengoperasikan kendaraan lapis baja. Tetapi hasil penelitian ini tidak kunjung selesai sampai hampir dua tahun setelah kedatangan unit tempur darat pertama Amerika datang ke Vietnam. Selama dua tahun itu banyak unit dikirim ke Vietnam tanpa tank dan kendaraan pengangkut personel lapis baja mereka. Beberapa unit bahkan dikonversi dari infanteri mekanik ke infanteri sebelum penempatan. Penelitian sebelumnya telah menjadi dasar utama penentuan kebijakan militer di tahun 1965 dan 1966.

Lawan di Vietnam

Pasukan musuh dari Amerika-Vietnam Selatan sering digambarkan sebagai bandit, pemberontak, atau pihak yang memiliki ketidakpuasan politik. Namun setelah diamati lebih dekat terungkap bahwa musuh adalah pasukan yang terorganisir dengan baik yang metodenya tidak jauh beda seperti pasukan Vietminh yang melawan Perancis. Mereka dilengkapi dengan perlengkapan ringan dan mampu beroperasi di jaringan jalan yang primitif, serta mampu bergerak cepat dengan dengan berjalan kaki. Pasukan Viet Cong jelas terbukti lebih dari mampu untuk menandingi pasukan Vietnam Selatan yang gerakannya terbatas dengan jaringan jalan. Pada tahap pertama, Viet Cong menghindari kontak langsung dengan unit-unit besar dari Tentara Republik Vietnam dan lebih beroperasi sebagai gerilyawan yang melakukan operasi sabotase, pemboman, terorisme, dan pembunuhan yang menjadi ciri khas mereka. Kecepatan, keamanan, kejutan, dan pengelabuan adalah kunci keberhasilan mereka. Viet Cong terbagi menjadi 3 elemen utama: Pasukan reguler (utama), pasukan tingkat provinsi (regional), dan milisi desa (gerilya). Setelah tahun 1959, unit-unit kecil Viet Cong mulai mengorganisir diri dalam satuan setingkat kompi dan batalion, taktik gerilya adalah lebih sebagai taktik pelengkap. Kekuatan gerilya mulai tumbuh, dan pangkalan-pangkalan rahasia didirikan di seluruh Republik Vietnam, khususnya di Delta Mekong yang lebih rendah, daerah utara Saigon dan di dataran tinggi terpencil di sebelah utara. Serangan pendadakan dan bahkan serangan setingkat batalion kemudian menjadi lebih sering dilakukan. Operasi-Operasi skala besar ini secara terpusat diarahkan oleh Lao Dong, cabang Partai Komunis Vietnam Utara, melalui Kantor Pusat Vietnam Selatan nya, yang biasa disebut COSVN.

Vietcong bukanlah gerilya amatir yang tidak terorganisasi. Mereka terlatih dan punya tujuan jelas. (Sumber: https://www.wikiwand.com/)

Rute infiltrasi ke Vietnam Selatan mulai beroperasi pada tahun 1960 dan terus diperbaiki dan diperluas selama perang. Cuaca muson amat mempengaruhi volume aliran bantuan dan menghasilkan efek jelas di sepanjang jalur yang digunakan dan besaran logistik yang bisa dikirimkan. Pada musim kemarau dan periode transisi antara musim hujan, arus manusia dan material meningkat secara dramatis, seringkali bisa hingga empat sampai lima kali volume biasanya. Keteraturan karakteristik ini pada gilirannya menentukan intensitas pertempuran di Vietnam Selatan. Efek musiman cuaca ini akan benar-benar terjadi dan diakui pada akhir 1960-an sebagai faktor dominan dalam skema operasi musuh. Pasokan musuh terbatas pada awalnya relatif terbatas pada persenjataan yang tidak canggih dan secara kuantitas jumlahmnya terbatas. Personel Viet Cong awalnya biasa diambil dari bekas warga Vietnam Selatan, yang memilih pindah ke utara setelah tahun 1954, diindoktrinasi oleh Vietnam Utara sebagai pengganti kerugian unit-unit Viet Cong yang sudah ada di selatan. Ketika golongan ini mulai berkurang, pasukan reguler Vietnam Utara mulai dikirimkan sebagai pengganti di unit-unit Viet Cong. Hadirnya personel-personel Angkatan Darat Vietnam Utara ini di medan Vietnam Selatan menandai perubahan ke fase akhir perang, di mana akan terjadi bentrokan antar tentara modern, meski kegiatan gerilya Viet Cong terus berlanjut.

Volume pergerakan logistik di jalur Ho Chi Minh Trail amat ditentukan oleh siklus musim tahunan. (Sumber: https://elevenmyanmar.com/)

Viet Cong dan tentara reguler Vietnam Utara selalu menggunakan taktik mengikuti formula sederhana yang aslinya diadopsi dari doktrin tempur asal Cina ciptaan Mao Tse Tung, yang dirangkum: Saat musuh bergerak, kita mundur; ketika musuh bertahan, kita ganggu; saat musuh kelelahan, kita serang; ketika musuh mundur, kita kejar. Dari formula ini, mereka menambahkan teknik pertempuran “one slow, four quick,” yang dipraktikkan dengan ketelitian yang luar biasa dalam hampir setiap situasi. One slow, berarti persiapan dilakukan secara perlahan; sebuah rencana dibuat menyeluruh dengan mempertimbangkan berbagai kemungkinan yang bisa terjadi saat dilakukan. Setiap tindakan dipelajari berulang-ulang hingga setiap pemimpin dan individu yang terlibat terbiasa dengan medan dan pekerjaan spesifiknya. Hanya ketika komandan yakin bahwa latihan itu sempurna, operasi dilaksanakan.

Setiap serangan NVA/NVA umumnya selalu menerapkan pola “one slow, four quick” dengan disiplin tinggi. (Sumber: Twitter)

Eksekusi operasi dilakukan dalam empat langkah cepat (four quick), yang pertama adalah maju dengan cepat. Viet Cong akan bergerak dari area yang relatif aman relatif menuju ke lokasi dan akan segera melanjutkan langkah kedua, yakni menyerang dengan cepat. Saat menyerang mereka akan mencoba memastikan adanya unsur kejutan, dan kemudian akan menyerang dengan volume daya tembak yang besar pada sasaran mereka. Mereka dengan cepat akan mengeksploitasi kesuksesan yang berhasil dibuat dan mengejar musuh, membunuh atau menangkap mereka. Langkah ketiga, adalah membersihkan medan perang dengan cepat, yang terdiri dari mengumpulkan dan membawa pergi semua persembunyian, amunisi, dan peralatan, serta menghancurkan apa pun yang tidak dapat mereka bawa. Viet Cong akan berupaya sedapat mungkin mengevakuasi korban luka-luka dan meninggal diantara mereka. Akhirnya, dengan tertib mereka akan melaksanakan langkah keempat, yakni mundur dengan cepat. Pasukan akan bergerak mundur melewati rute yang telah mereka rencanakan sebelumnya, dengan unit-unit besar dengan cepat akan membagi diri menjadi kelompok-kelompok kecil, dan dengan cepat “menghilangkan diri” di area seluas mungkin. Kemudian kelompok-kelompok yang tersebar ini akan bersatu kembali di sebuah area yang aman.

Area yang dikuasai Vietcong di tahun 1961 dan 1965. Pihak komunis bisa saja memiiki taktik yang berbeda-beda di masing-masing 44 Provinsi di Vietnam Selatan. (Sumber: https://www.readex.com/)

Mungkin teknik pertempuran Viet Cong yang tidak umum dan tidak begitu disadari oleh orang awam adalah mereka bisa menerapkan taktik perang yang berbeda di masing-masing 44 provinsi Vietnam Selatan. Para prajurit Vietnam Selatan yang bertahan di dataran tinggi utara menghadapi taktik musuh yang amat berbeda dengan yang digunakan di delta-delta selatan yang luas. Bahkan uniknya intensitas konflik di setiap provinsi bisa berbeda-beda. Seringkali satu provinsi bisa secara simultan mengalami serangan mobile skala besar dan gangguan gerilyawan, sementara provinsi tetangganya sebagai dibiarkan tidak terganggu. Intensifikasi perang selektif yang dilakukan oleh Viet Cong ini telah membingungkan para pengamat Amerika dan menyembunyikan sifat asli dari perang ini. Gambaran pihak Amerika tentang musuh mereka sebagai kelompok bandit atau gerilyawan yang terorganisir adalah kesimpulan yang salah. Musuh memiliki rencana dan mengerjakan rencananya dengan amat baik dan pada tahun 1964 mereka siap melakukan transisi ke fase konflik terakhir dengan melakukan perang mobile skala besar.

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

Armored Combat in Vietnam by Donn A. Starry; June 1, 1982

French Armor in Indochina Part I & II by Silentstalker, June 26, 2014

http://ftr.wot-news.com/2014/06/26/french-armor-in-indochina-part-i/

http://ftr.wot-news.com/2014/06/27/french-armor-in-indochina-part-ii/

Armor In Vietnam (Illustrated Edition), Frederick Eugene Oldinsky

https://books.google.co.id/books?id=NipvCwAAQBAJ&pg=PT23&lpg=PT23&dq=french+armor+force+in+vietnam&source=bl&ots=A6DDiReES_&sig=ACfU3U2QSWBx6Qjpbzs5MtYXqdU0kFrJYg&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwjpqt6C2NTmAhVn7XMBHYOrCdUQ6AEwGHoECAoQAQ#v=twopage&q=french%20armor%20force%20in%20vietnam&f=false

https://en.m.wikipedia.org/wiki/M24_Chaffee

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Bernard_de_Lattre_de_Tassigny

4 thoughts on “Kesatuan Lapis Baja serta tantangannya pada Perang Indochina dan fase awal Perang Vietnam

  • 8 July 2020 at 4:32 am
    Permalink

    I抳e read a few good stuff here. Definitely worth bookmarking for revisiting. I wonder how much effort you put to create such a magnificent informative website.

    Reply
  • 8 July 2020 at 5:09 am
    Permalink

    Hi, I think your blog might be having browser compatibility issues. When I look at your blog site in Chrome, it looks fine but when opening in Internet Explorer, it has some overlapping. I just wanted to give you a quick heads up! Other then that, very good blog!

    Reply
    • 8 July 2020 at 4:39 pm
      Permalink

      Tks for your information

      Reply

Leave a Reply to GuQin Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *