Kiprah Jet Tempur F-15 Eagle Dalam Dinas Operasional AU Kerajaan Arab Saudi (1981-Sekarang)

Angkatan Bersenjata Kerajaan Arab Saudi diketahui memprioritaskan Angkatan Udara dan Satuan Pertahanan Udaranya sebagai kekuatan utama militernya. Terdapat beberapa alasan mengapa mereka melakukan hal ini. Yang pertama adalah bahwa hanya dengan kekuatan udara mereka dapat melawan kekuatan musuh yang menyerang dari darat, laut dan udara. Kedua, kekuatan udara dapat dipusatkan dan dikerahkan dengan cepat dan dimana saja, yang memungkinkan Saudi mendapatkan fleksibilitas maksimum untuk mengatur kekuatannya dalam menghadapi ancaman yang ada. Ketiga, berdasarkan pengalaman, ancaman langsung pada pemerintah Riyadh sejauh ini berasal dari udara, seperti pemboman Mesir pada tahun 1960an, misi penerobosan wilayah udara Saudi oleh Israel pada tahun 1970-80an (termasuk dalam Operasi Babylon saat menyerang reaktor nuklir Irak di Osirak 1981), dan pertempuran udara antara Saudi dan Iran di teluk Persia pada tahun 1984. Keempat, sebuah Angkatan Udara yang kecil namun kuat dan modern, pada teorinya dapat menggantikan kebutuhan Saudi akan Angkatan Bersenjata yang besar, dimana Saudi sendiri jelas kekurangan Sumber Daya Manusia. Kelima, lingkungan gurun yang banyak dijumpai di Saudi menyediakan medan yang tepat untuk melancarkan serangan udara melawan kekuatan darat, sekaligus mengontrol udara sangatlah krusial dalam melaksanakan operasi militer ofensif dan defensif. Keenam Royal Saudi Air Force (RSAF), telah menjadi tempat prestise bagi Pangeran-pangeran Arab yang melihat menjadi Pilot pesawat tempur modern sangatlah menyenangkan dan meningkatkan prestise. Dan faktor yang terakhir, Kerajaan Saudi ingin membangun AU yang kecil namun kompeten, dimana loyalitasnya lebih mudah dipastikan, ketimbang memelihara Angkatan Darat yang besar. Dengan alasan semacam ini, maka tidak mengherankan bila AU Saudi dilengkapi dengan pesawat-pesawat tempur dan peralatan pendukung terbaik yang bisa mereka beli dari Barat, selaku sumber tradisional pembelian senjata mereka. Di masa sekarang misalnya, AU Saudi dilengkapi dengan pesawat tempur kelas satu Eurofighter Typhoon asal Eropa dan pesawat tempur F-15 Eagle buatan Amerika. Khusus untuk F-15 Eagle yang telah melengkapi AU mereka sejak tahun 1981, mereka berhasil meyakinkan Amerika untuk menjual pesawat tempur eksklusifnya ini setelah melewati tentangan dan upaya konsisten dari Israel untuk membatasi dan menjegak peningkatan kekuatan udara Arab Saudi lewat lobby-lobby nya di Pemerintah Amerika. Kini Saudi, pada akhirnya malah bisa memiliki armada F-15 Eagle yang jauh lebih besar dari yang dimiliki AU Israel, yakni sekitar 198 unit berbanding 83 unit. Berikut adalah kisah lika-liku pembelian dan karir tempur pesawat F-15 Eagle di tangan Angkatan Udara Kerajaan Saudi Arabia.

Armada F-15 Eagle, tulang punggung kekuatan udara Kerajaan Arab Saudi. Dalam perjalanannya pengadaan F-15 Saudi selalu berusaha dirintangi oleh Israel yang memandang Kerajaan itu sebagai musuh potensialnya. (Sumber:https://www.airspace-review.com/)

LATAR BELAKANG PENGADAAN EAGLE SAUDI

Al Quwwat al Jawwiya as Saudiya (Royal Saudi Air Force/RSAF/AU Kerajaan Saudi Arabia) adalah pengguna penting pesawat tempur F-15 Eagle buatan McDonnel Douglas (kini Boeing), Amerika Serikat. Pemerintah Arab Saudi di Riyadh awalnya memesan 46 unit F-15C (Nomor seri 80-0062/0106 dan 81-0002) dan 16 F-15D (Nomor seri 80-0107/0121 dan 81-0003) di bawah proyek Penjualan Militer Asing (Foreign Military Sales/FMS) “Peace Sun” sebagai pengganti pesawat tempur pencegat BAC Lightning buatan Inggris. Pengiriman F-15 ke Arab Saudi senantiasa selalu kontroversial, karena Israel dan pendukungnya di Kongres AS tidak senang dengan adanya keberadaan pesawat tempur canggih di tangan musuh potensialnya. Penjualan F-15 ke Israel dan Arab Saudi telah disetujui pada tahun 1978, yang kemudian disusul oleh Jepang, suatu keistimewaan yang akan bertahan cukup lama hingga awal abad ke-21 saat F-15 akhirnya dijual juga ke negara semacam Singapura dan Korea Selatan. Meskipun Kongres AS akhirnya menyetujui penjualan tersebut, namun suatu batasan diberlakukan pada tahun 1980 yang membatasi Arab Saudi untuk bisa memiliki tidak lebih dari 60 unit F-15 Eagle di negara itu pada suatu waktu, namun 2 diantaranya telah jatuh sehingga terdapat penggantian untuk keduanya. Kontroversi penjualan ke Arab Saudi kemudian agak berkurang setelah adanya jaminan dari Saudi bahwa pesawat itu akan digunakan hanya untuk pertahanan udara negaranya, dan pada akhirnya pembatasan kepemilikian 60 unit F-15 ini kemudian mulai ditinggalkan. Namun, selain itu, pada awalnya terdapat juga pembatasan yang diterapkan pada pengiriman tangki bahan bakar konformal Eagle ke Arab Saudi, yang jika diloloskan tentunya akan membawa wilayah Israel dalam jangkauan serangan armada Eagle Saudi. Pemerintahan Reagan pada 31 Maret 1981 mengumumkan bahwa mereka telah memutuskan untuk menjual peralatan militer tambahan ke Arab Saudi sebagai bagian dari kebijakan menghentikan ”pemburukan situasi serius ” yang mengancam kepentingan keamanan Barat di Timur Tengah dan Teluk Persia. Reagan menambahkan bahwa ada ” ancaman yang berkembang ” di wilayah tersebut yang berasal dari Uni Soviet, Pemerintahnya telah memutuskan, dengan mengesampingkan keberatan Israel dan banyak anggota Kongres, untuk menyediakan peralatan guna meningkatkan jangkauan dan kekuatan tempur 62 jet tempur F -15 yang akan dibeli oleh Saudi.

Pesawat tempur English Electric Lightning RSAF. Pengadaan pesawat tempur F-15 Eagle di Arab Saudi adalah untuk menggantikan keberadaan Lightning yang telah menua dan ketinggalan jaman. (Sumber:https://abpic.co.uk/)

Kedutaan Besar Israel lewat Duta Besar Ephrain Evron kemudian memberi tahu Departemen Luar Negeri Amerika tentang ” kekecewaan dan keprihatinannya atas keputusan ini. ” Menurut mereka dengan menyediakan peralatan baru ke Arab Saudi ” hanya akan memperburuk perlombaan senjata di wilayah Timur Tengah dan meningkatkan ancaman bagi Israel, ‘ kata Duta Besar Israel itu. Departemen Luar Negeri Amerika mengatakan bahwa mereka menyadari kekhawatiran Israel dan siap memberikan negara itu $ 300 juta kredit tambahan untuk pembelian peralatan militer pada tahun fiskal 1983 dan 1984. Saat itu, Israel telah menerima bantuan sekitar $ 2,2 miliar per tahun, di mana $ 1,4 miliar nya dalam bentuk kredit militer. Dari jumlah itu, $ 500 juta dalam bentuk pinjaman yang tidak harus dilunasi. Departemen Luar Negeri juga mengatakan bahwa Israel telah diyakinkan bahwa Amerika Serikat berkomitmen untuk tetap mempertahankan ” kualitatif ” keunggulan  (Israel) dari pasukan militer Arab di wilayah tersebut. Israel, bagaimanapun, tidak puas dengan tawaran kredit tambahan, mengatakan bahwa mereka tidak dapat mengambil hutang lebih banyak lagi. Israel telah membayar pinjaman ke Amerika Serikat dengan nilai $ 700 juta per tahun. Namun Orang Israel akhirnya senang dengan pernyataan pejabat Amerika bahwa Amerika Serikat akan lebih fleksibel dalam mengizinkan Israel untuk menjual pesawat tempur Kfirnya ke luar negeri. Izin Washington diperlukan karena Kfir memiliki mesin General Electric J-79 Amerika. Israel waktu itu telah berusaha memperluas ekspor industri penerbangannya. 

Pesawat tempur Kfir buatan Israel. Salah satu insentif yang diberikan Amerika untuk Israel dengan diloloskannya ijin pembelian Eagle Saudi adalah diperbolehkannya ekspor Kfir yang menggunakan mesin J-79 buatan Amerika ke luar negeri. (Sumber:https://www.goodfon.com/)

Saat itu Israel juga sudah memesan 40 unit F-15, yang sebagian telah mulai mereka terima. Sementara itu Saudi akan menerima rudal udara-ke-udara jarak pendek yang kemampuannya telah ditingkatkan, yang dikenal sebagai rudal AIM-9L Sidewinder. Tipe ini adalah rudal jarak pendek berpenjejak inframerah yang memiliki sistem panduan dan hulu ledak yang lebih baik daripada versi lama yang telah dijual ke Saudi. Sidewinder yang lebih baru, yang merupakan seri paling canggih di angkatan bersenjata Amerika saat itu – juga telah dijual ke Israel – dapat mengunci pesawat musuh dari segala sudut serangan, tidak hanya dari belakang, seperti rudal inframerah lama. Keharusan untuk menyerang dari belakang adalah keterbatasan dari Sidewinder versi yang lebih tua. Berkaitan dengan Pesawat pendukung patroli udara, Departemen Luar Negeri mengatakan bahwa Amerika Serikat pada prinsipnya juga setuju untuk menjual pesawat peringatan dini seperti Awacs –  Boeing 707 yang dilengkapi dengan radar. Beberapa pesawat elektronik ini yang telah berada di Arab Saudi, selama ini diterbangkan oleh personel Angkatan Udara Amerika, untuk berjaga-jaga setelah pecahnya perang Irak-Iran September tahun 1980. Amerika Serikat juga pada prinsipnya setuju untuk memberikan Arab Saudi kemampuan pengisian bahan bakar udara, tetapi saat itu belum ada pengumuman tentang penjualan terkait.

Ijin pembelian F-15 Eagle oleh Saudi lewat program “Peace Sun” juga diikuti dengan ijin pembelian pesawat peringatan E-3 Sentry AWACS. (Sumber:https://militarywatchmagazine.com/)

Saudi juga telah meminta diberikan rak bom untuk F-15 untuk memungkinkannya untuk melakukan serangan terhadap sasaran darat. Departemen Luar Negeri kemudian mengatakan bahwa Amerika Serikat harus melakukan ” studi teknis ” dengan Saudi untuk menentukan kebutuhan senjata udara-ke-darat yang bisa mereka dapatkan ” yang utamanya dimaksudkan untuk bertahan melawan ancaman invasi. ” Departemen Luar Negeri mengatakan bahwa mereka punya perjanjian untuk menjaminan tidak akan menjual peralatan yang bisa mengancam Israel pada tahun 1978, namun mereka menyatakan bahwa ” fakta-fakta yang ada saat itu telah berubah secara dramatis. ” “Invasi Soviet ke Afghanistan, kekacauan revolusi Iran, perang Iran-Irak dan kehadiran Soviet di Yaman Selatan dan Ethiopia menunjukkan ketidakstabilan di kawasan itu bisa mendorong penetrasi dan eksploitasi yang dilakukan oleh Soviet,” kata departemen Luar negeri AS, yang pernyataan yang dibacakan oleh William J. Dyess, juru bicara pers. Israel telah menyatakan ketidaksetujuan yang kuat dengan analisis strategis dari Pemerintahan Reagan dan telah menegaskan bahwa Arab Saudi tidak menghadapi ancaman langsung dari Soviet, tetapi bahwa peralatan militer tambahan justru “dapat membahayakan keseimbangan strategis di Timur Tengah” antara Israel dan Arab. “Harus ditekankan bahwa Arab Saudi bukan negara moderat sejauh menyangkut hubungan Arab-Israel,” kata Israel. Dikatakan bahwa Arab Saudi telah menentang perjanjian Camp David 1978 yang meresmikan perdamaian Mesir-Israel dan telah memberikan dukungan kepada Organisasi Pembebasan Palestina  (PLO) “dan untuk semua negara dan pihak yang secara aktif memusuhi Israel.” Namun Pemerintah AS tidak bergeming atas keputusan yang telah mereka ambil.

Invasi Soviet, Desember 1979 dijadikan salah satu alasan Amerika untuk mengijikan Saudi memperkuat kekuatan militernya dengan membeli peralatan tempur dari Amerika untuk menyeimbangkan kekuatan di Kawasan Teluk Persia. (Sumber:http://historyisfun1111.blogspot.com/)

F-15 EAGLE DALAM DINAS AU ARAB SAUDI

Dengan menggunakan tanda pengenal AS, beberapa Eagle RSAF awalnya dioperasikan di Luke AFB bersama 555th TFTS untuk melatih para kadet udara dan kru darat Saudi. Pesawat F-15C / D pertama mencapai IOC  (Initial Operating Capability) dengan unit RSAF pada Agustus 1981. Di Arab Saudi, F-15C dan D dioperasikan di Skuadron No 5 di King Fahad AFB di Taif, Skuadron No 6 di King Khaled AFB di Khamis Mushayt, dan Skuadron No 13 di King Abdul Aziz AFB di Dhahran. Pada 5 Juni 1984, Eagle RSAF dari Skuadron No 6 terlibat dalam pertempuran udara dengan F-4E Phantom yang dikemudikan oleh Pilot Iran yang mengancam ladang minyak Saudi. Dua penyusup berhasil ditembak jatuh oleh rudal Sparrows, menandai pertempuran pertama (dan mungkin satu-satunya sampai sejauh ini) di mana pesawat yang sama-sama buatan McDonnell Douglas saling bertarung di udara. Meskipun RSAF jelas amat puas dengan kinerja F-15C / D, namun adanya oposisi Kongres AS terhadap pengiriman pesawat tempur ini lebih lanjut ke Arab Saudi dan keinginan Kerajaan itu sendiri untuk mendiversifikasi pasokan perangkat keras militernya menyebabkan datangnya keputusan untuk memesan pesawat serang Panavia Tornado IDS dan versi pencegat ADV nya dari Inggris. 

Jet tempur Tornado dan F-15 RSAF bermanuver dalam aksi demonstrasi udara. Pembatasan penjualan tambahan F-15 Eagle mendorong Arab Saudi untuk mengakuisisi pesawat tempur Tornado dari Inggris pada akhir 1980an. (Sumber:https://militarywatchmagazine.com/)
F-15C RSAF dengan camo minimal. (Sumber:https://theaviationgeekclub.com/)

Pada tahun 1989, Arab Saudi kembali mencoba untuk membeli F-15, dan persetujuan Kongres segera dicari untuk bisa meloloskan pengiriman 12 unit F-15C / D (terdiri dari 9 unit F-15 C dan 3 unit F-15 D) tambahan pada tahun 1991-92. Namun, kepekaan politik pada saat itu sedemikian rupa sehingga persetujuan akhirnya tidak diberikan. Invasi Irak ke Kuwait pada 2 Agustus 1990 pada akhirnya mengubah segalanya. Batasan hanya boleh ada enam puluh pesawat F-15 di negara itu pada satu waktu dengan cepat dibatalkan, dan 24 unit F-15C / D Eagle dikirimkan ke RSAF dari unit-unit bekas USAF. Beberapa perangkat countermeasures sensitif telah dilepas dari pesawat ini sebelum pengiriman. Pesawat-pesawat ini kemudian menjadi inti dari Skuadron 42 yang baru terbentuk di Dhahran. Selama Operasi Desert Shield / Desert Storm, F-15 RSAF berbagi misi patroli udara tempur bersama dengan pesawat-pesawat Tornado F. Mk.3 Inggris dan  F-15C Amerika. 

Berikut adalah skuadron-skuadron RSAF yang tercatat mengoperasikan F-15 Eagle:

No. 2 Wing (King Abdullah Aziz AB)

  • No. 5 Squadron (F-15C/D)
  • No. 34 Squadron (F-15C/D)

No. 3 Wing (King Abdullah Aziz AB)

  • No. 13 Squadron (F-15C/D)
  • No. 92 Squadron (F-15S)

No. 5 Wing (King Khalid AB)

  • No. 6 Squadron (F-15S)
  • No. 55 Squadron (F-15S)

No. 7 Wing (King Faisal AB)

  • No. 2. Squadron (F-15C/D)

CATATAN KEMENANGAN UDARA F-15 SAUDI

Pembelian F-15, selain merupakan bagian dari kebijakan AS untuk memperkuat Saudi dari lawan-lawan potensialnya, juga merupakan sebuah upaya bersama dengan pihak monarki Saudi untuk menutup celah dalam hal kapabilitas antara RSAF dan Angkatan Udara Republik Islam Iran (IRIAF), yang telah memiliki pesawat tempur Grumman F-14 Tomcat. Catatan kemenangan pertama RSAF dengan menggunakan F-15 juga terjadi di tengah meningkatnya ketegangan dengan Iran, dan dilakukan dengan cara yang luar biasa. Memang, kemudian muncul kontroversi seputar insiden tersebut sampai hari ini, seperti yang diungkap pada kisah berikut. Pada tanggal 5 Juni 1984, pesawat P-3F Orion IRIAF mendeteksi adanya kapal dagang yang berlayar di Teluk Persia di sepanjang sisi Saudi, tepatnya di selatan Pulau Lavan. Pada saat itu, Iran sedang melakukan perang atrisi terhadap tanker minyak Irak sebagai bagian dari Perang Iran-Irak, dan IRIAF telah diperintahkan untuk menyerang kapal-kapal dagang yang melalui pelabuhan Arab Saudi dan Kuwait juga – kedua negara ini diam-diam mendukung Irak dalam perang melawan Iran. Seperti dijelaskan oleh Steve Davies dalam bukunya F-15C Eagle Units In Combat, dua pesawat tempur F-4E Phantom II IRIAF dari satuan TFB 6 (TFW ke-61) diarahkan untuk menyerang kapal dagang itu, hanya untuk kemudian segera dideteksi setelah lepas landas oleh pesawat peringatan dini E-3 AWACS Angkatan Udara AS (USAF) yang beroperasi di Arab Saudi. Sementara itu, dua pesawat tempur Eagle RSAF (satu F-15C dan satu F-15D) dari Skuadron No 6 sedang mengudara untuk melakukan penerbangan latihan dengan pesawat tanker KC-10A Extender USAF. Sadar bahwa kapal dagang tersebut berada dalam bahaya, awak pengontrol AWACS segera menginstruksikan Eagle untuk meninggalkan penerbangannya mendekati pesawat tanker dan mengarahkannya ke flight F-4 Iran yang mengancam. 

keberadaan F-15 Eagle di tangan RSAF juga dimaksudkan untuk mengcounter ancaman F-14 Tomcat yang dimiliki oleh AU Iran. Pada kenyataannya kedua pesawat tidak pernah benar-benar bertarung satu sama lain. (Sumber:https://21stcenturyasianarmsrace.com/)

Bisa mendapatkan pilot Eagle RSAF untuk mencegat kedua F-4E bukanlah hal yang mudah. Dipercayai bahwa pengendali yang berada di atas AWACS harus memohon pilot Eagle untuk melakukan apa yang mereka minta. Memang, hanya setelah instruktur USAF, Kapten Bill Tippin, yang duduk di kursi belakang F-15D, mendorong pilot-pilot Saudi untuk melakukan penyergapan, mereka akhirnya menerima tugas tersebut. Ketika kedua F-4E mendekati pulau milik Saudi Arabia – sekitar 48 mil di utara pangkalan angkatan laut al-Jubayl – dari arah selatan, kedua Eagle menghadapi kedua Phantom secara berhadapan. Di bawah bimbingan Tippin, dan panduan dari seorang perwira Saudi di atas AWACS, pilot Eagle akhirnya mengunci radar pada sasaran yang memungkinkan masing-masing untuk menembakkan rudal AIM-7 Sparrow. Kedua rudal itu berhasil menembak salah satu F-4E dalam sebuah ledakan besar dan merusak Phantom satunya lagi. Pesawat yang terakhir tertatih-tatih rusak berat, tetapi pilotnya berhasil mendarat di landasan darurat di tempat yang sekarang menjadi resor liburan Iran di Pulau Kish. Awak F-4 yang hilang, adalah 1Lts Hamayoun Hekmati dan Seyed-Cyrus Karimi, mereka tidak berhasil mengeluarkan diri dan tewas dalam ledakan itu.

Pesawat tempur F-4E Phantom II milik AU Iran. Pada tanggal 5 Juni 1984, 2 unit F-4 Phantom Iran ditembak jatuh dan dirusakkan oleh F-15 Eagle Arab Saudi diatas perairan Teluk Persia. Kemenangan ini dicatat sebagai kemenangan perdana dari F-15 milik RSAF. (Sumber:https://theaviationgeekclub.com/)

Menyusul penyadapan lalu lintas radio antara kedua F-15 dan pesawat AWACS, Iran kemudian mengklaim – dan masuk akal juga – bahwa pilot di atas kedua Eagle bukanlah pilot Saudi, melainkan pilot Amerika! Insiden itu tidak pernah sepenuhnya dijelaskan oleh pemerintah Saudi atau AS, tetapi banyak orang mulai bertanya-tanya apakah Kapten Bill Tippin mungkin memiliki peran yang lebih besar dalam pertempuran itu, lebih daripada yang sebenarnya diakui. Spekulasi bahwa Tippin mungkin benar-benar telah menerbangkan F-15D selama pertempuran bisa jadi benar, meskipun tidak ada penjelasan mengenai bagaimana ia bisa menembakkan senjata dari kursi belakang Eagle model-D. Tidak diragukan bahwa hal itu hanya bisa dilakukan oleh pilot di depan untuk menembakkan AIM-7 dan mencetak skor kill. Rincian lebih lanjut dari pertempuran ini kemudian diungkapkan oleh Jenderal Spencer M. “SAM” Armstrong, pilot USAF yang punya catatan lebih dari 4.500 jam terbang, yang adalah merupakan komandan Tim Pelatihan Militer AS pada Angkatan Udara Saudi Arabia dari bulan Juli 1983 hingga Juli 1985. Pada masa inilah pertempuran udara antara F-15 Eagle Saudi dan Iran F-4E Phantoms terjadi. Ketika sang jenderal ditanya tentang keterlibatan pilot USAF, dia dengan cepat merespons. “Singkatnya, tidak ada pilot USAF yang terlibat kecuali dalam meninjau film (pertempuran itu)yang direkam oleh RSAF.” Jenderal Armstrong lebih lanjut menyatakan dia tahu nama-nama pilot F-15 USAF dalam komandonya dan tidak bisa mengingat adanya seorang yang bernama Kapten Bill Tippin. Narasi berikut adalah kisah mengenai peristiwa 5 Juni 1984 yang dipaparkan oleh Jenderal Armstrong kepada Donald J. McCarthy, Jr dalam bukunya “The Raptors All F-15 and F-16 aerial combat victories”:

F-15C RSAF bersiap untuk melakukan pengisian bahan bakar di udara pada pesawat KC-135. Pada peristiwa 5 Juni 1984, kedua F-15 RSAF sedang dalam proses latihan pengisian bahan bakar di udara saat diarahkan oleh pesawat E-3 AWACS USAF untuk mencegat datangnya pesawat F-4 Phantom Iran. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

“Perang antara Iran dan Irak benar-benar panas selama dua tahun penugasan saya (disana). Tak lama setelah saya sampai di sana, Iran menenggelamkan sebuah kapal tanker minyak Irak di Teluk dan Irak membalas dengan menembakkan rudal udara-ke-permukaan Exocet buatan Prancis milik mereka — dalam apa yang dikenal sebagai “perang kapal tanker”. Orang-orang Iran waktu itu tidak memiliki orang-orang kita lagi untuk bisa merawat pesawat mereka, sehingga peralatan mereka dalam kondisi yang buruk. Irak segera mendapat keuntungan dalam perang di Teluk ini. Sementara itu Saudi khawatir Iran mungkin akan menyerang fasilitas minyak atau pabrik desalinasi air di Teluk karena Saudi membantu Irak. Mereka ingin mempertahankan F-15 mereka dalam melakukan Combat Air Patrol [CAP], tetapi membutuhkan pengisian bahan bakar dalam penerbangan. Kami berkewajiban mengirimkan dua pesawat tanker KC-10 dan misi 24 jam CAP dimulai. “Beth [Mrs. Armstrong] dan saya sedang makan siang dalam penginapan di Dhahran ketika kepala detasemen penasihat di Dhahran bergegas datang. Dia membawa saya ke samping dan mengatakan bahwa mereka memiliki alasan untuk meyakini bahwa telah terjadi penembakan di Teluk. Bersama-sama kami bergegas ke pusat operasi taktis [TOC], tempat personel AS mengoperasikan radar pengintai. Dia mengatakan kepada saya di jalan bahwa dua F-15 telah menembak jatuh satu atau dua F-4 Iran. Saya menemukan Kolonel [Pangeran] Turki berdiri di dekat layar radar, berbicara dengan beberapa awak pesawat tempur F-5 RSAF. Helikopter Iran saat itu tengah berada di perairan Teluk di sisi Saudi, tampaknya sedang mencari awak yang mungkin selamat. Saudi mendapatkan banyak informasi mereka dari orang-orang yang ada di anjungan minyak di teluk, dan salah satu dari mereka melaporkan helikopter itu tampaknya memiliki rudal. Saya cukup yakin mereka mengira skid helikopter sebagai rudal, karena helikopter ini adalah helikopter yang kami jual kepada Iran bertahun-tahun sebelumnya. Turki menatapku dan bertanya apakah kita harus memerintahkan F-5 untuk menembak jatuh helikopter tersebut. Otoritas untuk melakukan hal ini telah didelegasikan ke Turki, meskipun ia tidak harus menggunakannya. Aku menggelengkan kepala dan Turki memerintahkan F-5 untuk mengusir helikopter itu. “

F-15C RSAF melintasi wilayah gurun di Arab Saudi. Pihak AS membantah klaim Iran bahwa pilotnyalah yang menembak jatuh F-4 Phantom Iran dalam insiden 5 Juni 1984. (Sumber:https://theaviationgeekclub.com/)

“Ketika pilot F-15 kami berkesempatan untuk meninjau kembali rekaman-rekaman (seputar pertempuran) itu, beberapa fakta menarik keluar. Dua F-14 Iran ternyata langsung menuju Dhahran dari Busheir, sementara dua F-4 datang di ujung utara Teluk dan menuju sisi Saudi pada ketinggian rendah. Crew Saudi di atas pesawat AWACS AS memerintahkan Blue Flight untuk mencegat F-4 dan memerintahkan Yellow Flight — yang baru lepas landas dari Dhahran — untuk mencegat F-14. Penerbangan pemimpin di Yellow Flight RSAF dengan cepat mengukur geometri dan memerintahkan Blue Flight untuk menghadapi F-4. Ternyata F-14 itu hanya menggertak, karena mereka kemudian berbalik dan pulang pada penerbangan di tengah Teluk. “Dua letnan RSAF berbelok tajam ke kiri dan turun untuk melakukan penyergapan langsung. Kecepatan mereka sekitar 1.200 mph. Wingman F-15 menembakkan rudal dari jarak maksimum rudal sementara pilot pemimpin pasti mengalami kasus “buck fever,” karena ia lupa untuk membuang tanki bahan bakar cadangan dan menembakkan rudal pada jarak minimum efektivitasnya. Mereka melihat adanya dua ledakan, tetapi mereka tidak bisa memastikan apakah rudal benar-benar menghantam F-4 atau hanya jatuh pada perairan Teluk. Karena kontak radar kedua F-4 hilang maka diperhitungkan bahwa kedua F-15 berhasil mencetak kill. Perairan di tempat pesawat jatuh dangkal, tetapi kondisi yang sangat gelap sehingga mencegah untuk bisa ditemukannya puing-puing. Mereka hanya menemukan bantal kursi dari F-4. Setiap pilot RSAF itu kemudian dihadiahkan Mercedes 500 SEL sebagai bentuk apresiasi dari raja. Kemudian di Taif, Pangeran Sultan bertanya kepada saya apakah mereka menembak jatuh satu atau dua pesawat. Saya menjawab bahwa yang pasti satu dan mungkin bisa jadi keduanya. Dia menjawab bahwa mereka hanya mengklaim satu karena mereka tidak ingin mengecewakan orang Iran lagi daripada yang seharusnya. ”

Kapten Ayyad Salah al-Shamrani, pilot Saudi yang menembak jatuh dua pesawat tempur Mirage F1EQ Angkatan Udara Irak (IrAF) pada tanggal 24 Januari 1991. (Sumber: twitter)

Sementara itu 7 tahun kemudian pada tanggal 24 Januari 1991, seperti yang dijelaskan oleh Steve Davies dalam bukunya F-15C Eagle Units In Combat, RSAF mencetak satu-satunya kemenangan udara-ke-udara selama Operasi Badai Gurun, ketika Kapten Ayyad Salah al-Shamrani, seorang pilot F-15 dari Skuadron No 13, terlibat dalam pertempuran udara dan menghancurkan dua pesawat tempur Mirage F1EQ Angkatan Udara Irak (IrAF). Rincian dari pertempuran itu tidak jelas, tetapi dari sumber-sumber A.S. telah memberi tahu Davies bahwa Salah diarahkan menuju kedua Mirage segera setelah mereka terdeteksi lepas landas dan menuju kapal angkatan laut koalisi di Teluk Persia. Laporan menunjukkan bahwa pesawat AWACS USAF memberikan panduan yang baik pada Eagle RSAF, tetapi diduga, Salah harus berjuang untuk bisa menyelesaikan pencegatan. Jarak saat itu sudah sangat dekat sebelum kedua Mirage itu berada dalam jarak serang dari rudal anti-kapal Exocet yang mereka bawa yang jelas mengancam keberadaan kapal-kapal angkatan laut sekutu, Salah kemudian berbicara, selangkah demi selangkah, hingga akhirnya pesawatnya ada di posisi belakang dari pesawat-pesawat Irak buatan Prancis itu. Dia kemudian menggunakan dua rudal AIM-9P Sidewinder, yang keduanya terbang tepat menghantam ke target mereka.

Mirage F1 AU Irak. Pada saat ditembak jatuh tanggal 24 Januari 1991, kedua Mirage Irak sangat dekat dengan posisi kapal-kapal perang koalisi di Teluk Persia. (Sumber: Pinterest)

Seperti dituliskan oleh Donald J. McCarthy, Jr dalam bukunya “The Raptors All F-15 and F-16 aerial combat victories,” setelah pertempuran Salah menyatakan dalam wawancara media: “Mereka mulai berpencar di depan saya, tetapi itu sudah terlambat. Itu adalah hariku. ” Seorang mantan pilot F-15 mengamati: “Ada beberapa pertanyaan yang sangat valid untuk ditanyakan tentang kemenangan udara ini. Pertama, mengapa pilot pesawat terbang yang dirancang untuk membukukan kill secara BVR (Beyond Visual Range) harus melakukan penerbangan hingga jangkauan visual sebelum melepaskan tembakan? Kedua, di mana wingman nya selama itu? Ketiga, dia menembakkan kedua rudal saat mereka masih ‘dalam kuncian’, jika saya ingat dengan benar. ” Seperti dijelaskan oleh Davies, ‘melepas’ seeker dari radar sebelum menembak adalah praktik standar, karena memungkinkan pilot untuk memvalidasi bahwa perangkat penjejak inframerah pada rudalnya sudah melacak targetnya. Kegagalan dalam melakukan prosedur itu sering dianggap sebagai kesalahan dalam komunitas pilot pesawat tempur. Tidak mengherankan, jika F-15 RSAF dijauhkan dari tugas penting selama Operasi Desert Storm, dengan kebanyakan menerbangkan misi yang disebut ‘Goalie CAPs’ selama masa perang. Yakni misi CAP yang dilaksanakan agak jauh di belakang perbatasan Irak / Saudi, yang secara efektif menempatkan pesawat-pesawat F-15 Eagle RSAF dalam posisi di mana mereka tidak terlibat dalam misi-misi udara AU Koalisi lainnya. Sementara itu satu pilot USAF yang terbang dalam tur pertukaran pilot dengan RSAF pada tahun 1990-an mengatakan kepada Davies bahwa dua pilot Saudi F-15 yang terlibat dalam pertempuran itu adalah pilot Eagle terbaik yang pernah ia temui, dari sisi profesionalisme, kemampuan dan menjadi kebanggaan di antara para pilot-pilot RSAF. Singkatnya mereka adalah yang terbaik diantara pilot-pilot mediocre.

F-14 Tomcat AL AS yang dipersenjatai dengan rudal AIM-9 Sidewinder dan AIM-7 Sparrow melintasi gurun pasir pada saat Operasi Desert Storm 1991. Menurut informasi kabar bahwa pesawat-pesawat F-14 Tomcat Angkatan Laut AS, dikatakan berada dalam posisi yang sama baiknya untuk terlibat dalam pertempuran tanggal 24 Januari 1991, dan dapat dipercaya melakukannya dengan lebih baik, lebih tepat waktu dan lebih kompeten. (Sumber:https://www.defensemedianetwork.com/)

Hampir dapat dipastikan bahwa kemenangan atas kedua Mirage ini didorong atas arahan politik yang dirancang untuk menarik negara Arab itu ke pusat perhatian. Tentu saja ada bukti kuat untuk mendukung teori ini, yang paling jelas adalah adanya kabar bahwa pesawat-pesawat F-14 Tomcat Angkatan Laut AS (harap diingat bahwa di tengah-tengah armada kapal-kapal perang koalisi tentunya terdapat kapal-kapal induk yang membawa armada pesawat pengawal seperti Tomcat), dikatakan berada dalam posisi yang sama baiknya untuk terlibat dalam pertempuran itu, dan dapat melakukannya dengan lebih baik, lebih tepat waktu dan lebih kompeten. Laporan yang ada menunjukkan bahwa F1 hanya terpaut dalam beberapa menit saja untuk dapat menyerang target mereka sebelum mereka jatuh. Sementara itu secara keseluruhan selama Perang Teluk 1991, para komandan sekutu menilai bahwa RSAF, dan khususnya pilot-pilot F-15 mereka adalah unit yang paling kompeten dalam militer Saudi. Karena menjadi satuan favorit dalam Angkatan Bersenjata Saudi, pilot-pilot Saudi (banyak diantaranya adalah Pangeran-pangeran Kerajaan), sering mendapat kucuran dana dan jam training, sebagai akibatnya, mereka bisa lebih banyak mengudara dibanding rekan-rekan NATO nya (untuk disadari juga biaya jam terbang dan pengoperasian F-15 tidak bisa dibilang murah juga). Pilot-pilot Amerika yang pernah terbang bersama (baik sebelum dan setelah perang) mereka umumnya menilai pilot-pilot F-15 Saudi jago dalam pertempuran jarak dekat (Dogfight), namun sayangnya buruk dalam menjalankan misi penyerangan, serangan skala besar dengan formasi lebih besar dari level skuadron, dan dalam misi pengintaian.

PESANAN LANJUTAN & PERANG DI YAMAN

Pada pertengahan 1991, McDonnell mulai memenuhi pesanan pembelian untuk dua belas unit F-15 yang telah diajukan oleh Arab Saudi sebelum Perang Teluk dimulai. Sembilan dari mereka adalah tipe F-15C, sementara 3 unit adalah F-15D. Arab Saudi kemudian juga tertarik mengakuisisi  tipe F-15E, tetapi pesawat itu dianggap terlalu sensitif teknologinya untuk diekspor. Sebagai alternatif, Arab Saudi sempat meminta pengiriman 24 F-15F, yang mirip dengan F-15E tetapi tanpa adanya kru kedua dan tanpa beberapa perangkat avionik canggih yang dianggap terlalu sensitif untuk ekspor, namun hal ini ditolak konggres AS, demikian pula versi downgrade dari Strike Eagle yang diberi kode F-15H. Namun, pada 10 Mei 1993, Angkatan Udara Kerajaan Saudi akhirnya diberi izin untuk membeli 72 unit versi downgrade dari F-15E Strike Eagle, yang awalnya diberi kode sebagai F-15XP, tetapi sekarang dikenal sebagai F-15S. F-15S dibuat berdasarkan airframe dari pesawat F-15E, tetapi terutama akan dilengkapi dengan sistem serupa dengan F-15C / D (yang telah digunakan oleh RSAF sebelumnya) untuk kemudahan perawatan. Mesin yang digunakan adalah sepasang mesin turbofans Pratt & Whitney F100-PW-229. 48 unit dari F-15S yang dipesan akan dioptimalkan untuk misi udara-ke-darat, dengan sisanya dioptimalkan untuk peran intersepsi. F-15S akan menggunakan radar APG-70 yang “berbeda” dan lebih disederhanakan dibanding dengan kemampuan radar APG-63 yang digunakan oleh F-15C / D, dan tidak akan memiliki kemampuan untuk melakukan pemetaan terkomputerisasi dan di downgrade perlengkapan pertahanan dirinya. Selain itu, F-15S tidak akan dilengkapi dengan kemampuan untuk membawa tangki bahan bakar komformal (CFT) dan pylon senjata seperti F-15E. Namun, Arab Saudi akan menerima 48 unit perangkat LANTIRN versi downgrade dari Martin Marietta, yang turut menampilkan perangkat pod penargetan Sharpshooter AN / AAQ-19 dan pod navigasi Pathfinder AN / AAQ-20. Namun sumber lain mengklaim bahwa pesawat ini awalnya telah dikirim dengan CFT tipe Dash-1, yang berarti bahwa perangkat ofensif harus ditempatkan di centerline pesawat dan pylon sayap, biasanya dengan multiple-ejector racks, tetapi Saudi toh kemudian benar-benar menerima CFT Dash-4 yang bisa dipasangi berbagai cantelan tambahan. Jelas seperti biasa muncul keributan di Kongres AS mengenai penjualan F-15S ke Arab Saudi, yang pada akhirnya mendorong penjualan F-15I ke Israel sebagai penyeimbang. Prototype pertama F-15S melakukan penerbangan perdananya pada tanggal 19 Juni 1995. Empat F-15S Eagle dikirim pada tahun 1995. Pada 10 November 1999 pesanan terakhir dari 72 pesawat F-15S dikirim ke Arab Saudi. Pada November 1995, Arab Saudi juga membeli 556 unit GBU-15 Guided Bomb Units (termasuk enam unit untuk latihan), yang dikombinasi dengan pengadaan rudal udara darat AGM-65 D/G Maverick, AIM-9 M/S Sidewinder, submunisi CBU-87, GBU-10/12 Laser Guided Bomb, 48 pod data link, pelatihan personil dan peralatan pelatihan, serta elemen-elemen pendukung logistik lainnya yang terkait. Perkiraan biaya yang mereka keluarkan adalah $ 371 juta. Arab Saudi rencananya menggunakan GBU-15 untuk meningkatkan kemampuan serangan stand-off dari pesawat F-15S yang mereka miliki, terhadap target-target potensial di Irak seperti instalasi nuklir dan instalasi teroris di Iran dan Yaman. 

F-15 AU Israel. Pembelian kembali F-15 oleh Arab Saudi pada pertengahan tahun 1990an, memicu ijin pembelian kembali F-15I kepada AU Israel. Meski demikian kini Arab Saudi telah mengoperasikan F-15 jauh lebih banyak dari AU Israel. (Sumber:https://militarywatchmagazine.com/)

Pada Oktober 2010, Arab Saudi memesan 84 pesawat tempur F-15SA (Saudi Advanced), dan sebuah program peningkatan armada F-15S yang telah mereka miliki menjadi standar F-15SA, beserta peralatan serta senjata terkait melalui skema FMS. Pada tanggal 29 Desember 2011, AS menandatangani kontrak senilai $ 29,4 miliar untuk menjual 84 F-15SA baru, serta Program Ugrade armada eksisting F-15S Saudi. Kontrak FMS untuk upgrade 68 F-15S ke F-15SA ditandatangani dengan Boeing pada Juni 2012. Penerbangan pertama dari F-15SA produksi baru dilakukan pada 20 Februari 2013. F-15SA (Saudi Advanced) adalah versi baru dari F-15 untuk RSAF. F-15SA memiliki sistem kontrol penerbangan fly-by-wire modern menggantikan sistem elektronik / mekanik hybrid yang digunakan pada semua F-15 varian sebelumnya. Varian tersebut menggunakan radar APG-63 (v) 3 active electronically scanned array (AESA), sistem peperangan elektronik digital (DEWS), sistem pencarian dan pelacakan inframerah (IRST), dan sistem canggih lainnya. Versi ini menampilkan kokpit yang didesain ulang yang awalnya ditujukan untuk F-15SE. Sistem fly-by-wire akan memungkinkan pengangkutan senjata di  pylon senjata pada sayap luar yang sebelumnya tidak pernah digunakan.

F-15 SA, varian Eagle paling canggih milik Arab Saudi. (Sumber: Pinterest)

Pada tanggal 26 Maret 2015, pesawat-pesawat tempur F-15S Saudi, bersama dengan pesawat tempur koalisi Arab lainnya, mulai menyerang sasaran di Yaman sebagai bagian dari intervensi yang dipimpin Arab Saudi di Yaman, dalam operasi militer yang diberi nama Operation Decisive Storm. Melawan pasukan gabungan yang terdiri dari mantan pemberontak Houthi dan pasukan Angkatan Darat Yaman, serangan itu, setidaknya pada awalnya, hanya dihadapi oleh tembakan anti-pesawat yang tidak efektif. Serangan awal Koalisi Saudi ditujukan pada situs-situs pertahanan udara, Markas Besar Angkatan Darat, bandara militer, depot rudal balistik, dan peluncurnya. Selama serangan-serangan ini, sebuah F-15S Saudi jatuh di Teluk Aden setelah berputar-putar di atas laut; kedua pilotnya bisa melontarkan diri dengan selamat dan ditemukan di laut oleh helikopter penyelamat HH-60G milik USAF; Laporan dari pihak koalisi Arab menyatakan bahwa pesawat itu jatuh bukan karena tembakan musuh, meski sumber-sumber Houthi dan Iran mengklaim bahwa mereka telah menembaknya jatuh. Sementara itu pada tanggal 8 Januari 2018, sebuah F-15S RSAF dilaporkan ditembak jatuh oleh rudal darat-ke-udara Houthi; sebuah video yang dirilis oleh Houthi menunjukkan kecepatan F-15 yang meningkat dan pesawat itu sempat melepaskan umpan suar sebelum terkena proyektil dan tampaknya mengalami kerusakan besar. Beberapa hari kemudian, media Houthi, Al-Masirah, mengumumkan bahwa F-15 itu telah mengalami kerusakan tetapi tidak jatuh. Selama Perang Saudara di Yaman (2015-sekarang), Houthi dikabarkan telah menggunakan rudal udara ke udara R-27T (AA-10 Alamo buatan Russia) yang dimodifikasi sebagai rudal darat-ke-udara. Pada video menunjukkan bahwa R-27T yang dimodifikasi itu mengenai F-15 Saudi. Sumber-sumber Houthi awalnya mengklaim telah menjatuhkan F-15, meskipun hal ini kemudian diperdebatkan, karena meski rudalnya meledak dekat, namun F-15 terus terbang dalam lintasannya yang tampaknya tidak terpengaruh. Pada 8 Januari, Saudi mengakui kehilangan pesawat tetapi karena “Alasan Teknis”. Pada 21 Maret 2018, pemberontak Houthi merilis video di mana mereka menyerang dan mungkin menembak jatuh F-15 Saudi di provinsi Saada. Pasukan Saudi kemudian mengkonfirmasi serangan itu, sambil mengatakan jet itu mendarat dengan selamat di pangkalan Saudi. Sumber resmi Saudi mengkonfirmasi insiden itu, melaporkan bahwa peristiwa itu terjadi pada pukul 3:48 sore waktu setempat setelah rudal pertahanan darat-ke-udara diluncurkan dari dalam bandara Saada pada jet tempur mereka. 

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

Service of F-15 with Saudi Arabia

http://www.joebaugher.com/usaf_fighters/f15_14.html

U.S. DECIDES TO SELL EQUIPMENT TO SAUDIS TO BOLSTER F-15 JETS By Bernard Gwertzman; March 7, 1981

The strange case of the first kills scored by RSAF (or USAF?) F-15 pilot by Dario Leone; Jun 4, 2018

https://theaviationgeekclub.com/the-strange-case-of-the-first-kills-scored-by-rsaf-or-usaf-f-15-pilots/amp/

THE CONTROVERSIAL KILLS SCORED BY SAUDI F-15s DURING OPERATION DESERT STORM by Dario Leone; Jan 19, 2018

https://theaviationgeekclub.com/controversial-kills-scored-saudi-f-15s-operation-desert-storm/amp/

Arabs at War, Military Effectiveness, 1948-1991 p 428-436 by Kenneth M. Pollack; 2002

Encyclopedia of Modern Military Aircraft Ed. by Paul Eden, p 114 -115; January 1, 2006

McDonnell Douglas F-15 Eagle

https://www.f-15.nl/hist.html

F-15 Eagle

https://fas.org/man/dod-101/sys/ac/f-15.htm

F-15 In Service by Greg Goebel

http://www.faqs.org/docs/air/avf15_2.html

https://en.m.wikipedia.org/wiki/McDonnell_Douglas_F-15E_Strike_Eagle#F-15S_and_SA

https://en.m.wikipedia.org/wiki/McDonnell_Douglas_F-15_Eagle

7 thoughts on “Kiprah Jet Tempur F-15 Eagle Dalam Dinas Operasional AU Kerajaan Arab Saudi (1981-Sekarang)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *