Kisah Aksi Tank Ringan M-41 “Walker Bulldog” Vietnam Selatan Dalam Perang Vietnam (1965-1975)

Selama Perang Vietnam, tank M-41 menjadi tank utama yang digunakan oleh pasukan lapis baja Republik Vietnam Selatan (RVN), ratusan tank tipe ini digelar ke medan perang Vietnam dan terlibat dalam berbagai pertempuran sengit melawan pasukan komunis Vietnam Utara. Tank yang pernah dianggap sebagai salah satu tank ringan terbaik yang ada di dunia ini, yang dari awalnya hanya digunakan oleh rezim pemerintahan Vietnam Selatan sebagai pasukan penekan ancaman kudeta dan pergolakan di dalam negeri Vietnam Selatan, kemudian dengan berjalannya waktu dilibatkan dalam berbagai pertempuran hingga jatuhnya pemerintahan Vietnam Selatan pada bulan April tahun 1975. Dalam pemakaiannya di Angkatan Darat Vietnam  Selatan, tank-tank ringan M-41 yang kerap harus menghadapi tank-tank Vietnam Utara yang secara teknis lebih unggul dalam hal proteksi dan daya tembak, terbukti memiliki catatan tempur yang cukup baik.

Sepasang tank M-41A3 selama pertempuran Cholon di Confucius Boulevard, Saigon, 1 Juni 1968. Tank ringan M-41 milik ARVN beroperasi tanpa henti sejak tahun 1965 hingga perang Vietnam berakhir tahun 1975. (Sumber: https://mikesresearch.com/)

LATAR BELAKANG

Operasi Lam Son 719 telah membawa pasukan Vietnam Selatan masuk jauh ke dalam wilayah Laos pada bulan Februari tahun 1971. Bermaksud untuk memotong Jalur Ho Chi Minh, pasukan Angkatan Darat Republik Vietnam (ARVN) menemui sedikit perlawanan di awal dan segera mendirikan beberapa Zona Pendaratan (LZ) untuk mendukung operasi mereka. Salah satunya, yang dikenal sebagai LZ31, kemudian menjadi tempat pertempuran sengit ketika Tentara Vietnam Utara (NVA), setelah berhasil memusatkan pasukannya, melakukan serangan balik pada tanggal 19 Februari. Pasukan NVA yang melakukan serangan balik terdiri dari pasukan infanteri yang didukung oleh sejumlah besar tank T-54 dan PT-76. Sementara itu untuk memperkuat pertahanan ARVN di LZ31, lima tank M-41A3 Bulldog Walker dikirim sebagai bala bantuan. Penghancuran pertama tank musuh, yakni tank T-54 milik NVA, dilakukan oleh tank M-41A3 milik Sersan Nguyen Xuan Mai dari Skuadron 1, Kavaleri Lapis Baja ke-11 ARVN. Seiring berjalannya waktu, serangan gencar NVA terus menghantam prajurit Vietnam Selatan yang bertahan, tetapi dalam prosesnya para kru tank M-41 berhasil melumpuhkan enam tank T-54 dan 16 PT-76 tanpa menderita kerugian akibat tembakan tank lawan, hanya empat tank M-41 yang hancur dalam pertemuan yang sama, sebagian besar karena ranjau darat dan tembakan granat berpeluncur roket pihak musuh. Dalam pertempuran tank-lawan-tank besar pertama dalam perang Vietnam, mereka telah membuktikan bahwa mereka dapat bertahan melawan tank-tank NVA dalam jumlah yang lebih besar. Ini sangat penting mengingat keunggulan T-54 dalam hal daya tembak (kaliber meriam lebih besar dari M-41) dan perlindungan lapis bajanya (lebih tebal dari M-41). Sementara, meski Operasi Lam Son 719 tidak akan berakhir dengan baik untuk ARVN secara keseluruhan, namun pertempuran di LZ31 adalah catatan yang bagus dalam karier tank M-41. 

Tank M-41A3 dengan dikamuflase dedaunan membawa pasukan ARVN maju ke arah barat di sepanjang Rute 9 menuju ke Laos dalam Operasi Lam Son 719, Februari tahun 1971. Tank-tank M-41 diketahui menjadi tulang punggung kekuatan dalam invasi pasukan Vietnam Selatan ke Laos ini. (Sumber: https://mikesresearch.com/)

Tank ringan M-41, seperti layaknya sebagian besar senjata milik ARVN, memulai karirnya sebagai bagian dari sistem senjata Amerika yang kemudian didistribusikan ke luar negeri di bawah Program Bantuan Militer. Bagian terbesar dari dinas operasional tempur tank ini terjadi di Vietnam. M-41 adalah tank utama ARVN sejak kedatangannya pada tahun 1965 hingga tank menengah M-48 yang lebih besar mulai memasuki dinas operasional di Vietnam pada tahun 1970-an. Kisah tank Walker Bulldog sendiri dimulai pada bulan Juli tahun 1946. Menurut doktrin waktu itu, tank ringan digunakan untuk fungsi pengintaian. Ketika Angkatan Darat A.S. melakukan peninjauan terhadap pengalaman aktual awak tank selama Perang Dunia II, ditemukan bahwa unit tank ringan telah menghabiskan 97 persen waktunya dalam peran non-pengintaian, termasuk menjalankan operasi ofensif dan defensif. Meskipun pihak angkatan darat ingin mempertahankan tank ringan untuk peran pengintaian, mereka mulai menerima kenyataan bahwa desain baru tank ringan mereka akan membutuhkan persenjataan yang lebih berat untuk menghadapi pasukan musuh apa pun yang mungkin dihadapinya.

Tank M-41 Walker Bulldog adalah buah perbaikan konsep tank ringan era Perang Dunia II. Dengan daya tembak dan kelincahannya, M-41 menjadi salah satu tank ringan terbaik pada masanya. (Sumber: https://www.goodfon.com/)

Tank eksperimental baru yang mereka buat kemudian diberi nama T-37 dan memiliki fitur-fitur yang tergolong canggih pada masanya, termasuk perangkat pengukur jarak optik dan penggerak turret serta elevasi meriam. Tank itu juga dipersenjatai dengan meriam 76mm berkecepatan tinggi yang cukup kuat untuk mengalahkan tank utama Soviet saat itu, T-34/85. Disamping itu Tank ringan baru ini juga dapat diangkut dengan udara. Seiring pengembangan yang berkelanjutan, perubahan lalu dibuat dalam desain turret, termasuk penghapusan perangkat pengukur jarak eksperimental. Versi terakhir kemudian didesain ulang menjadi T-41. Prototipe tank baru ini siap untuk diuji coba pada tahun 1949. Setelah uji coba dilakukan, Angkatan Darat pada tahun 1950, yang sedang terdesak untuk membangun kembali kekuatan lapis baja nya untuk digunakan dalam Perang Korea, memesan 1.000 T-41. Tank-tank tersebut dibuat oleh Cadillac di fasilitas mereka di Cleveland, Ohio. Julukan “Little Bulldog” telah diberikan ke tank ini, tetapi lalu diubah menjadi “Walker Bulldog” untuk menghormati Letnan Jenderal Walton M. Walker, yang terbunuh di Korea pada tanggal 23 Desember 1950. Unit-unit Amerika mulai menerima tank ini pada akhir-akhir tahun 1951, dan pada bulan Mei 1953, tank itu diberi penamaan standar sebagai tank ringan M-41. 

M-41 WALKER BULLDOG BERANGKAT KE VIETNAM

Pasukan Amerika umumnya menyukai M-41. M-41 terbukti dapat diandalkan, cepat dan mudah untuk disembunyikan atau disamarkan di medan tempur. Beberapa tank sempat dikirim ke Korea untuk melakukan uji tempur tetapi hanya beraksi dalam beberapa misi patroli saja. Sisi negatifnya, mesin M-41 terhitung bising dan ukurannya yang kecil berarti interiornya cukup sempit bagi para awaknya. Tingkat konsumsi bahan bakarnya juga buruk, meskipun kelemahan itu kemudian diperbaiki sebagian dengan modifikasi yang ditambahkan selanjutnya. Sementara sekitar 5.500 M-41 telah diproduksi, namun tidak ada yang pernah digunakan bertempur oleh unit-unit Amerika. Tank M-41 sendiri telah dihapus dari inventory Amerika sebelum negeri ini memasuki Perang Vietnam. Tank ini tidak memiliki karir yang panjang di dinas operasional Amerika Serikat, bagaimanapun, sebagian besar karena fakta bahwa tank itu terlalu besar untuk misi pengintaian dan tidak memiliki daya tembak yang mencukupi untuk melawan tank. Lebih dari setengah M-41 yang dibuat didistribusikan ke sekitar dua lusin negara di bawah Program Bantuan Militer. Awalnya, pasukan lapis baja Vietnam Selatan yang masih muda dilengkapi dengan tank M-24 Chaffee buatan Amerika. M-24, yang juga dipakai oleh pasukan Prancis di Indochina telah menjadi tank ringan yang efektif pada tahun 1945, tetapi pada pertengahan tahun 1960-an, Chaffee ARVN sudah tergolong usang dan suku cadangnya semakin langka.

Tank ringan M-24 Chaffee milik ARVN. Kehadiran M-41 di Vietnam adalah untuk menggantikan tank M-24 yang sudah tergolong usang. (Sumber: https://www.awm.gov.au/)

Seperti layaknya kebanyakan kendaraan lapis baja, M-41 mengalami berbagai modifikasi yang menghasilkan nama pengenal varian yang ditambahkan ke nomor modelnya. Tank Walker Bulldog yang pertama kali dikirimkan ke ARVN pada bulan Januari 1965 adalah varian M-41A3, dengan panjang 19 kaki 1 inchi (5,81 meter) dan tinggi 8,9 kaki (2,71 meter). Setiap M-41 memiliki berat 51.796 pound (23,49 ton) dan memiliki kecepatan jalan tertinggi 44 mph (70,8 km/jam). Tank ini didukung oleh mesin bensin tipe AOS 895-5 enam silinder sistem injeksi bahan bakar yang memiliki 500-tenaga kuda dan memiliki jangkauan 100 mil (161 km). Terdapat empat orang awak, yang terdiri dari seorang komandan, penembak, pemuat peluru dan pengemudi. Tank M-41A3 membawa 65 butir amunisi tipe high-explosive, white phosphorous, armor-piercing, high-velocity armor piercing (HVAP) dan / atau amunisi high-explosive antitank (HEAT) untuk meriam kaliber 76mm-nya. Sebuah senapan mesin kaliber .30 dipasang secara koaksial di samping meriam utama, dan senapan mesin kaliber .50 dipasang di atap turret. Tank ini dapat dilengkapi dengan peralatan penglihatan malam inframerah.

Kiprah tempur pertama tank M-41 di tangan pasukan ARVN adalah saat tank ini dikirim untuk memecah kepungan di kamp Pasukan Khusus di Plei Mei, Oktober 1965. (Sumber: https://worldoftanks.eu/)

Kiriman pertama Tank M-41 ARVN dilakukan pada bulan Januari 1965. Proses training para instruktur yang dilakukan oleh sebuah unit training mobile dari Divisi Infantry ke-25 di Hawaii, yang kemudian diselesaikan pada tanggal 17 April. Pada akhir tahun 1965, lima skuadron kavaleri lapis baja ARVN telah dilengkapi dengan tank M-41A3. Tank-tank M-41 terbukti sangat populer di kalangan awak tank Vietnam Selatan, yang umumnya bertubuh lebih kecil daripada rekan-rekan Amerika mereka dan tidak mengalami ketidaknyamanan yang sama saat beroperasi di dalam ruang interior tank yang terbatas. Tank-tank tersebut memasuki medan pertempuran pada bulan Oktober 1965, ketika 15 tank M-41 bergabung dengan pasukan bala bantuan untuk memecah kepungan pada kamp Pasukan Khusus di Plei Mei. Namun, keterlibatan Amerika yang meningkat di Vietnam ditambah dengan sifat politis dari unit-unit lapis baja ARVN, berarti bahwa tank-tank yang bernilai tinggi tersebut relatif jarang digunakan dalam pertempuran. Karena unit ARVN juga tidak diperlengkapi dengan baik untuk pertempuran antitank sehingga tank lebih dihargai karena kemampuannya untuk membantu menghancurkan ancaman kudeta dan kerusuhan politik lainnya. Para komandan unit lapis baja dipilih juga lebih karena kedekatan politik mereka dengan penguasa daripada kemampuan komando mereka. 

DARI UNIT ANTI KUDETA KE MEDAN PERANG DI LAOS

Selama Pemberontakan Umat Buddha pada bulan Mei 1966, beberapa unit ARVN di sektor Korps I juga memberontak. Sebagai tanggapan, tank-tank M-41 yang bersenjata lengkap dibawa ke pangkalan udara Tan Son Nhut dekat Saigon di mana mereka dimuat dengan pesawat C-133 Cargomaster Angkatan Udara AS. Didalam pesawat awak tank tetap berada di dalam kendaraan mereka, duduk dalam posisi normal mereka. Mereka tidak bisa bergerak selama penerbangan karena takut mengganggu keseimbangan muatan pesawat. C-133 itu kemudian terbang ke Da Nang, tempat tank-tank M-41 diturunkan dari landasan dan langsung menuju tempat dimana kekacauan berada. Tank-tank tersebut memainkan peran penting dalam meredam pemberontakan, memberikan dukungan vital bagi pasukan loyalis pemerintah. Setelah itu, serangan Tet 1968 kemudian mulai banyak mengubah sifat politis dari unit-unit tank ARVN. Awak Tank M-41 ARVN kemudian mengalami banyak pertempuran dalam upaya mendukung unit infanteri, terutama di kota-kota dan daerah-daerah yang berpenduduk padat seperti Saigon. Tank-tank Walker Bulldog sering bergerak dalam jarak dekat dan meledakkan pasukan NVA atau Viet Cong yang bertahan kuat pada posisinya untuk memaksa mereka keluar dari gedung-gedung. Awak tank M-41 ARVN terbukti melakukan tugas mereka dengan cukup baik, bertempur dengan menggunakan keterampilan dan tekad mereka. Setelah Serangan Tet, pimpinan ARVN menyadari bahwa unit lapis baja perlu dimanfaatkan lebih dari sekedar pasukan “penjaga istana”. 

Tank M-41A3 dari Skuadron 1, Resimen Kavaleri Lapis Baja ke-5 (ACR) maju melalui jalan-jalan di kota Da Nang selama Pemberontakan Umat Buddha, bulan Mei 1966. Pada masa awalnya tank M-41 lebih banyak digunakan sebagai kekuatan pengaman rezim Saigon ketimbang untuk memerangi pasukan komunis. (Sumber: https://mikesresearch.com/)
Sebuah M-41A3 menghancurkan sebuah mobil saat tank tersebut bergerak melalui bagian kawasan Cholon yang hancur karena perang di Saigon, 3 Juni 1968. Selama Serangan Tet tahun 1968, tank-tank M-41 berperan penting dalam menghancurkan pasukan komunis yang bersembunyi di kawasan berpenduduk padat perkotaan Vietnam Selatan. (Sumber: https://mikesresearch.com/)

Sampai Operasi Lam Son 719, sebagian besar penugasan unit lapis baja ARVN adalah dalam mendukung operasi pasukan infanteri. Selama Operasi Lam Son 719, pasukan ARVN awalnya memperoleh perkuatan yang didukung oleh beberapa skuadron tank M-41A3 yang memiliki kekuatan lebih rendah dari seharusnya. Operasi ini adalah kampanye ofensif yang dilakukan di bagian tenggara Laos yang dilakukan oleh ARVN antara tanggal 8 Februari dan 25 Maret 1971. Tujuan dari kampanye militer terbatas ini adalah untuk mencegah kemungkinan serangan di masa depan oleh PAVN (tentara Vietnam Utara) yang jalur pasokannya berada di Laos dan dikenal sebagai Jalur Ho Chi Minh Trail, dengan menghancurkan sebanyak mungkin pasokan yang ditimbun di sana sekaligus menimbulkan kerugian besar bagi kekuatan militer Vietnam Utara disana. Pada tanggal 8 Februari 1971, Brigade Lapis Baja ke-1 dengan 2 batalion Airborne ARVN, dan Resimen kavaleri ke-11 dan 17 yang didukung oleh 17 tank M-41 melintasi perbatasan menuju ke Laos pada pukul 10.00. Mereka bergerak 9 km kearah barat di sepanjang rute Highway 9. Data intelijen menyatakan bahwa kondisi geografis di rute itu cocok untuk operasi satuan lapis baja. Faktanya rute tersebut sudah terbengkelai selama 40 tahun, hanya punya satu jalur yang diapit dataran tinggi di kanan kirinya, serta hanya punya sedikit ruang untuk bermanuver. Unit-unit ARVN yang bergerak masuk Laos mendapati area yang mereka masuki penuh lubang kawah akibat pemboman yang tidak terlihat dari foto udara karena lebatnya rerumputan dan kerimbunan bambu. Satuan lapis baja, oleh karenanya hanya terbatas bisa bergerak di jalanan saja. Terlepas dari kekalahan awal NVA di kawasan LZ31, pasukan komunis terus menyerang, memaksa pasukan ARVN mundur setelah lima hari menjalankan pertempuran. Tank-tank M-41, unit-unit artileri, dan dukungan udara dekat terus menghantam posisi-posisi pasukan NVA selama beberapa minggu berikutnya. Sekitar tengah hari tanggal 25 Februari, Skuadron Kavaleri dari Resimen Lapis Baja ke-17 ARVN dengan lima tank M41 dan dua kompi pasukan Airborne menerima perintah untuk meringankan beban yang dialami pasukan ARVN di LZ31 yang diserang oleh pasukan musuh besar-besaran. Satgas bantuan ini mulai bergerak dari A Luoi di Rute 9 dan maju ke utara menuju LZ31. Ketika satuan tugas mencapai sungai kering beberapa km di utara A Luoi, dua tank PT-76 NVA yang menunggu dalam posisi penyergapan melepaskan tembakan dan menghantam dua APC M113 di mana satu M113 hancur dalam aksi tersebut. Pasukan Infanteri ARVN kemudian melakukan serangan balik dan memaksa musuh untuk mundur meninggalkan satu truk Molotova (GAZ) yang berisi beras dan sebuah tank PT-76 yang tertembak namun masih dapat dioperasikan. 

Operasi Lam Son 719, Februari 1971. (Sumber: https://mikesresearch.com/)
Tank M-41A3 ARVN bergerak ke barat di sepanjang Rute 9 melewati Lang Vei dalam perjalanan ke perbatasan Laos. Perhatikan panel pengenalan warna udara warna merah yang menutupi turret. (Sumber: https://mikesresearch.com/)

Dini hari tanggal 27 Februari, pasukan ARVN di bukit yang berdekatan melihat ke seberang ke LZ31 yang tampak sepi. Ada beberapa pergerakan pasukan tetapi tidak jelas apakah mereka adalah pasukan kawan atau musuh. Untuk menguji, peleton tank M-41 menembakkan sebuah peluru kaliber 76mm ke LZ31 dan pasukan yang berada di dalam pangkalan segera melemparkan penanda asap warna kuning yang menunjukkan bahwa mereka pasukan kawan tetapi komandan skuadron meminta markas brigade tersebut untuk mengkonfirmasi hal ini. Saat brigade mengonfirmasi bahwa musuh telah merebut LZ31, gugus tugas melihat sebuah kompi tank NVA bergerak dari timur laut menuju garis depan Skuadron Resimen Lapis Baja ke-17. Mereka maju dalam formasi garis lurus menuju posisi yang dipertahankan oleh peleton tank M-41. Perintah segera diberikan kepada unit-unit tank M-41 untuk menembak langsung ke tank T-54 terdepan. Peluru meriam kaliber 76mm pertama berhasil menembus titik lemah tank T-54 musuh dan meledakkannya menjadi kobaran api. Kemudian tank NVA lainnya secara sistematis dihancurkan oleh tembakan meriam 76mm dari tank-tank M-41 ARVN yang ada dalam posisi pertahanan yang bagus. Pada pukul 13.00, lima tank NVA sudah dihancurkan. Sekitar satu jam kemudian, pertempuran tank lain terjadi dan sisa tank NVA di LZ31 dihancurkan oleh peleton tank M-41 dari Skuadron Resimen Kavaleri Lapis Baja ke-11. Segera setelah tembakan musuh berakhir, pesawat pengamat melaporkan sekitar 15 tank NVA lainnya bergerak dari timur laut ke arah barat daya menuju area pertempuran untuk memberikan bala bantuan. Sebuah permintaan dikirim ke markas besar untuk mengirimkan konsentrasi tembakan pada tank-tank NVA ini, tetapi sebaliknya sebuah flight B-52 diarahkan untuk mengebom area tersebut. Bom-bom dari B-52 menghancurkan sebagian besar tank musuh dan tank yang tersisa berbalik dan melarikan diri kembali ke arah utara. Gabungan kekuatan di pihak Vietnam Selatan, pada sore hari tanggal 27 Februari kemudian tercatat bersama-sama telah menghancurkan sekitar 15 tank musuh (12 PT-76 dan 3 T-54, serta 2 truk molotova) dengan kerugian 3 kendaraan lapis baja ACAV (Armored Cavalry Assault Vehicle, sebuah modifikasi kendaraan lapis baja angkut pasukan M-113 yang dipersenjatai, sebagai kendaraan serbu).

Serangan NVA pada LZ31 selama Operasi Lam Son 719. (Sumber: https://mikesresearch.com/)
Resimen Kavaleri ke-17 membawa tank PT-76 rampasan dari NVA kembali ke A Luoi sebagai trofi perang. (Sumber: https://mikesresearch.com/)
Kemenangan pasukan lapis baja ARVN hanya berumur pendek. Pasukan NVA berhasil merebut LZ31. Tiga tank T-54 berhasil mencapai garis batas pangkalan sehingga membuka jalan bagi pasukan infanteri untuk menyerbu pangkalan. Pasukan NVA ini sedang bergerak maju menuju tank M-41A3 yang mungkin rusak terkena tembakan artileri. (Sumber: https://mikesresearch.com/)

Kemudian pada tanggal 1 Maret, masih di selatan LZ31, satuan kavaleri ARVN menyerang lagi. Dalam pertempuran ini yang berlangsung hingga malam harinya, kekuatan gabungan lapis baja di darat dan kekuatan udara berhasil menghancurkan 15 tank lagi, dengan kerugian di pihak satuan kavaleri ARVN adalah 6 kendaraan ACAV. Namun pada pertengahan bulan Maret, ARVN telah menjadi jelas kewalahan menghadapi serangan NVA. Meski sudah direkomendasikan oleh para penasehat Amerika yang ada di Brigade Lapis Baja ke-1, komandan Divisi Airborne ARVN gagal mendukung Resimen Kavaleri ke-17 atau membantu penarikan mundurnya. Pada tanggal 3 Maret, Pasukan Kavaleri dikepung dari tiga sisi oleh pasukan lapis baja NVA dan rute mundur mereka diblokir tembakan langsung tank musuh. Komandan pasukan lapis baja ARVN akhirnya diperintahkan menarik mundur Resimen Kavaleri ke-17 mundur ke selatan menuju posisi yang lebih bisa dipertahankan. Dari situ mereka melakukan berbagai aksi penundaan dan bergabung dengan Brigade ke-1 di Aloui. Bagaimanapun aksi penarikan diri dari Laos dengan cepat berubah menjadi kekalahan, di mana sejumlah besar peralatan ARVN ditinggalkan, termasuk sejumlah tank M-41 dan kendaraan lainnya. Selama gerak mundur itu, satu formasi ARVN disergap oleh pasukan NVA saat melintasi sungai di timur kota tujuan Aloui. Satu unit lapis baja ARVN kemudian meninggalkan empat tank M-41 di tengah sungai, di mana mereka kemudian malah memblokir rute yang akan digunakan oleh unit yang bergerak di belakangnya, termasuk unit Kavaleri Lapis Baja ke-11 yang bertempur di LZ31. Ketika unit-unit infanteri mereka terus mundur tanpa mereka, pasukan kavaleri dibiarkan bertempur selama tiga jam sebelum akhirnya bisa memindahkan dua tank yang ditinggalkan ke samping. Kavaleri Lapis Baja ke-11 terpaksa harus meninggalkan 17 kendaraannya lagi. NVA segera mengambil alih tank dan kendaraan lain yang ditinggalkan, dan menggunakannya sebagai pertahanan stasioner sampai dihancurkan oleh serangan udara. Beberapa tank Walker Bulldog yang ditemukan oleh NVA setelahnya, kemudian dipajang di Hanoi. Laporan menyatakan bahwa ARVN masuk ke wilayah Laos dengan 62 tank dan 162 APC M113 dan kemudian kembali dengan hanya membawa pulang 25 tank dan 64 M113.

Pasukan ARVN yang terluka dibawa dengan tandu di sepanjang Rute 9. Perhatikan T-54 NVA yang tertinggal di latar belakang. Gerak mundur selama Operasi Lam Son 719 segera berakhir menjadi kekacauan karena lemahnya kepemimpinan dan koordinasi antar unit-unit ARVN. (Sumber: https://mikesresearch.com/)
Pasukan NVA dengan tank M-41A3 rampasan selama gerak mundur pasukan ARVN dari Laos. (Sumber: https://mikesresearch.com/)

Operasi Lam Son 719 kemudian meninggalkan beberapa catatan mengenai penggunaan tank oleh satuan lapis baja Vietnam Selatan. Kegagalan untuk mempertahankan penarikan mundur secara kohesif telah menyebabkan unit infanteri individu atau mekanis ARVN dibiarkan tanpa dukungan satuan lapis baja, sehingga bisa dipotong dan dikepung oleh pasukan tank PAVN. Komandan ARVN yang menyatakan bahwa mereka tidak memiliki cukup tank atau senjata anti-tank untuk menghilangkan ancaman kekuatan lapis baja NVA, ternyata telah diremehkan selama perencanaan operasi tersebut. Untuk sebagian sisa masa operasi tersebut, tank-tank M-41 lebih ditugaskan ke posisi bertahan dan pada dasarnya digunakan sebagai artileri statis. Hal ini mencegah ARVN mengambil keuntungan penuh dari kemampuan mobilitas mereka, dan unit-unit di tempat lain terpaksa harus bergantung hanya pada dukungan udara tepat waktu dari pesawat-pesawat pembom Vietnam Selatan atau Amerika untuk mencegah serangan tank pasukan NVA. Sementara itu, bala bantuan lapis baja yang akhirnya dikirim untuk membantu memperkuat pasukan ARVN di Laos, tiba sedikit demi sedikit dan tidak jelas berapa banyak M-41 tambahan yang benar-benar bisa mencapai wilayah operasional. Karena sebagian dari perintah yang diberikan saling bertentangan, penarikan mundur ARVN terakhir dari Laos, dilakukan dalam kondisi dikejar oleh unit-unit tank T-54 NVA. Gerak mundur yang tidak teratur ini telah mengakibatkan sejumlah M-41 ditinggalkan utuh oleh para awaknya.

MENAHAN INVASI VIETNAM UTARA TAHUN 1972

Pada tanggal 29 Maret 1972, Vietnam Utara melancarkan Serangan Paskah. NVA sekarang telah memiliki sejumlah besar tank T-54/55 dan versi produksi China-nya, Type 59, yang lebih kuat dibanding tank Walker Bulldog ARVN. Namun meskipun berstatus sebagai tank kelas ringan, tank M-41A3 terbukti secara konsisten mampu menghancurkan tank musuh yang lebih besar, karena tercatat beberapa M-41 menunjukkan tajinya selama pertempuran di sepanjang Garis Dong Ha pada bulan April. Tank-tank M-41 ARVN juga turut membantu merebut kembali wilayah yang direbut musuh di provinsi Quang Tri, bertahan di Kontum dan bergabung dengan pasukan bantuan untuk membebaskan kota An Loc yang babak belur. Pada tanggal 23 April 1972, satu regu tank M-41A3 dari unit Kavaleri Lapis Baja ke-14 diketahui beroperasi di daerah Tan Canh. Pasukan NVA kemudian menyerang dengan menggunakan salah satu senjata terbarunya, yakni rudal antitank berpemandu 9M-14M Malyutka, dengan nama sandi AT-3 Sagger menurut pengkodean NATO. Tank M-41 pertama tertembak saat kembali ke markasnya melalui gerbang utama. Awak tank awalnya mengira mereka terkena roket B40 yang ditembakkan oleh senjata RPG-2 di luar perimeter pertahanan. Namun para penasihat AS tidak berpikir bahwa hal itu mungkin, karena B40 hanya memiliki jangkauan efektif sekitar 100 meter dan musuh berada lebih dari 500 meter dari posisi tank berada. Para penasehat yakin bahwa tembakan itu adalah hanya bisa dilakukan oleh jenis roket baru yang dikendalikan oleh kabel dengan jangkauan maksimum 2.500 meter dan mampu menembus lapis baja setebal 400mm, prediksi mereka tepat, tank itu terkena tembakan rudal Sagger. Lapisan baja M-41 terlalu tipis untuk bisa menahan hantaman rudal baru itu dan skuadronnya lalu secara efektif dihancurkan, membuka jalan bagi serangan lapis baja NVA yang menyusul. Serangan rudal anti tank Sagger di Vietnam ini terjadi sekitar 18 bulan sebelum rudal itu digunakan pasukan Arab untuk melawan kekuatan lapis baja Israel selama perang Yom Kippur. Pada sore itu, lima tank M-41A3 di pangkalan dan beberapa bunker dihancurkan oleh rudal itu. 

Ofensif Paskah dari Pasukan NVA di sekitar DMZ pada bulan April 1972. (Sumber: https://mikesresearch.com/)
Dalam Ofensif tahun 1972, pasukan Vietnam Utara mengerahkan sistem rudal anti tank portable AT-3 Sagger yang masih baru. Selama ofensif rudal-rudal Sagger NVA berhasil menghancurkan beberapa tank M-41 ARVN. Penggunaan ini 18 bulan mendahului kesuksesan pasukan negara Arab dalam melawan pasukan tank Israel, Oktober 1973. (Sumber: https://mikesresearch.com/)
Setelah mempertahankan garis pertahanan di sepanjang Sungai Dong Ha selama lebih dari seminggu, Brigade Lapis Baja ke-1 ARVN akhirnya kalah jumlah dan terpaksa mundur ke selatan. Pasukan NVA merampas tank M-41A3 ini dari ACR ke-11 di dekat kota Dong Ha pada tanggal 19 April 1972. (Sumber: https://mikesresearch.com/)

Pada jam 03.00 tanggal 24 April, pasukan pertama, Peleton ke-2, Pasukan Kavaleri ke-1/14 ARVN memiliki lima M-41 di daerah Ben Het dan diperintahkan untuk pindah ke Tan Canh untuk menyerang musuh. Di menit-menit terakhir, satu tank dengan masalah mesin ditinggalkan. Empat tank yang tersisa tanpa dukungan pasukan infanteri melakukan perjalanan di sepanjang Route 512 menuju ke Tan Canh. Dalam perjalanan, tank lain mengalami kerusakan tetapi para kru dapat memperbaikinya dan kembali ke Ben Het. 3 tank yang tersisa melanjutkan perjalanan tapi kemudian masuk ke dalam penyergapan. Setelah pertempuran sengit, peleton tank itu terpaksa mundur kembali ke Ben Het. Sekitar pukul 06.30, pasukan komunis berhasil menembus garis pertahanan timur laut Dak To II dengan didukung oleh tank dan infanteri pendukungnya. Pada saat yang sama, sekitar satu batalion PAVN dan satu peleton tank T-54 menyerang perimeter barat laut. Setelah menerima perintah dari komandan pasukan, peleton tank 3/1 dengan tank M-41 di Dak To II bergerak ke ujung utara Lapangan Udara Phuong Hoang dan menyerang musuh. Setelah itu, peleton tersebut kehilangan komunikasi dengan kompinya. Dua tank T-54 NVA kemudian nampak maju ke arah lapangan terbang dan kemudian berpencar ke dua arah. Satu pergi ke sisi barat lapangan terbang, memblokir rute bantuan ARVN yang datang dari Ben Het. Sedangkan T-54 lainnya pergi ke utara ke tengah lapangan udara untuk menyerang posisi pertahanan Resimen Infantri ke-47 ARVN. Segera dua tank M-41 dari pasukan itu bergerak dan menembak, masing-masing tank M-41 menembakkan tiga peluru meriam kaliber 76mm ke sisi tank T-54. Tank T-54 itu terkena dan terbakar tetapi tidak bisa dihentikan. T-54 dengan lapisan baja tebal dengan cepat pulih dan melakukan serangan balik, melumpuhkan satu tank M-41 dengan dua peluru meriam kaliber 100mm-nya dan kemudian segera menghancurkan tank M-41 kedua dengan tembakan yang ketiga. Setelah itu, kru NVA meninggalkan T-54 mereka dan meninggalkan area tersebut.

Peta pertempuran di sekitar kawasan Dak To tahun 1972. (Sumber: https://mikesresearch.com/)
Tank T-54 nomor 377 yang ditinggalkan di Dak To II pada 24 April 1972. (Sumber: https://mikesresearch.com/)
Tank nomer 377 yang dijadikan Monumen Kemenangan Dak To – Tan Canh (Distrik Dak To, Kontum). Prasasti pada monumen ini menggambarkan pertempuran bersejarah itu sebagai pertempuran “1 lawan 10”. (Sumber: https://mikesresearch.com/)

Mengenai pertempuran ini muncul juga informasi lain dari sumber-sumber Vietnam Utara, dimana menurut versi ini, Peleton tank NVA yang terdiri dari tiga T-54 (nomor: 377, 354, 369) dan satu unit artileri pertahanan udara berpenggerak mandiri ZSU-57-2 nomor 472 diperintahkan untuk bergerak ke Dak To II. Karena Rute 18 yang menghubungkan Tan Canh dan Dak To II rusak, hal ini membuat manuver menjadi sangat sulit dan jarak antar tank kemudian melebar. Tank T-54 nomor 377 adalah tank pertama yang mencapai Dak To II dan segera menghadapi dua tank M-41 ARVN. Pada saat yang sama, tank nomor 354 dan 369 menyerang pasukan infanteri ARVN tetapi kemudian dihancurkan oleh pesawat-pesawat Amerika yang membantu. Tidak diketahui secara pasti berapa banyak kemenangan yang dicetak tank nomor 377 hari itu, tetapi setelah pertempuran sembilan tank M-41 dikabarkan tertinggal, di mana tujuh di antaranya berada di sekitar tank nomor 377. Awak tank nomor 377 kemudian tewas dengan gagah berani pada tanggal 1 Mei 1972 (mungkin akibat serangan udara Amerika). Di tempat lain, Brigade Lapis Baja Pertama ARVN dengan Divisi Lintas Udara dan satuan Marinir kemudian sukses merebut kembali Quang Tri pada tanggal 16 September 1972. Selama Serangan Paskah tahun 1972, pasukan NVA mengalami kerugian besar akibat serangan udara AS yang pada akhirnya menyelamatkan Vietnam Selatan dari kekalahan total. Selama Serangan Paskah NVA tahun 1972, tank-tank M-41 lagi-lagi kembali kerap bertahan dalam posisi statis, dan biasanya terlibat menyerang tank T-54 atau Type 59 di posisi yang tetap. Karenanya, taktik ini telah mengorbankan kemampuan manuver tank M-41 yang superior, sehingga tank NVA bisa meresponnya dengan melakukan gerakan mengapit yang mengepung dan menyerbu  tank M-41 ARVN sebelum mereka bisa bermanuver. Sementara itu setelah invasi mereka yang gagal tahun 1973, di sepanjang tahun 1973 dan 1974, NVA terpaksa harus membangun kembali dan mengatur ulang kekuatan lapis baja mereka. Di pihak lain dengan meningkatnya penggunaan senjata-senjata terbaru yang digunakan oleh NVA, Amerika mulai memasok tank medium M-48A3 miliknya yang lebih berat ke ARVN. 

Sejumlah besar M41 surplus bergegas dikirimkan dari AS ke Vietnam untuk menggantikan kerugian yang diderita ARVN. Pesawat kargo Lockheed C-5A Galaxy ini sedang menurunkan tank M-41A3 ini. Perhatikan kotak tambahan di dek mesin yang membawa suku cadang dan perlengkapan eksternal untuk tank ini. (Sumber: https://mikesresearch.com/)

KISAH PENUTUP

Antara tahun 1965 dan 1972 total sebanyak 580 unit tank M-41A3 bekas telah melengkapi berbagai unit tank ARVN dan mengganti kerugian yang mereka derita selama pertempuran. Pada tahun 1973, dipercaya masih ada lebih dari 200 tank M-41 Bulldog Walker yang digunakan oleh unit-unit lapis baja ARVN. Menurut catatan SIPRI, antara tahun 1972 dan 1974 ARVN hanya menerima pengiriman tank medium M-48 Patton saja, yang secara bertahap menggantikan M41 sebagai tank utama dalam dinas operasional Angkatan Darat Vietnam Selatan. Sementara itu menurut MACV, Vietnam Selatan kemudian telah menerima kembali 19 tank M-41 selama tahun 1974. Per tanggal 1 Oktober 1974, Vietnam Selatan diketahui memiliki 197 unit tank M-41 dalam dinas operasional, 156 dalam perbaikan dan 18 dalam kondisi tidak beroperasi. Meski sudah ada tank medium M-48, namun M-41, bagaimanapun, tetap menjadi tank yang lebih banyak jumlahnya sampai Vietnam Utara menyerang lagi dengan kekuatan penuh pada bulan Maret 1975. Pada bulan Januari 1973, Amerika, Vietnam Utara dan Selatan, serta Vietcong menandatangani perjanjian damai di Paris, yang mengakhiri keterlibatan militer AS dalam Perang Vietnam. Namun bahkan sebelum pasukan AS terakhir meninggalkan Vietnam pada tanggal 29 Maret 1973, pihak komunis melanggar perjanjian gencatan senjata dan pada awal tahun 1974 perang skala penuh antara Vietnam Utara dan Selatan telah dilanjutkan. Tanpa dukungan AS, kalah jumlah dan dengan kepemimpinan yang membingungkan serta tidak efektif, ARVN hanya memiliki sedikit kesempatan untuk bisa melawan invasi yang berskala penuh itu. Saat pasukan NVA mendesak ke selatan di sepanjang garis pantai, mereka merebut banyak tank-tank M-41, kebanyakan dari mereka ditinggalkan begitu saja karena kekurangan bahan bakar. Tank-tank ini kemudian digunakan untuk bertempur oleh pasukan Vietnam Utara. Tank ARVN terakhir yang dihancurkan dalam pertahanan Vietnam Selatan kalah dalam duel senjata dengan dua tank T-54 pertama yang kemudian menabrak gerbang di Istana Kepresidenan di Saigon. Dalam kemenangannya NVA merampas banyak tank dan kendaraan ARVN, sebagian dari kendaraan rampasan ini terlihat pada parade selama jatuhnya Saigon pada tanggal 30 April 1975. 

Tank M-41 di jalan mengikuti seorang gadis kecil dengan sepedanya yang melarikan diri di dekat Lai Khe, 1973. Sepanjang tahun 1973-1975, Vietnam Utara dan Selatan tidak menurunkan tensi ketegangan, meski sudah menandatangani perjanjian damai di Paris tahun 1973. (Sumber: https://mikesresearch.com/)
Pasukan NVA memasuki Saigon, April 1975 dengan tank M-41 dan kendaraan APC M-113 rampasan. (Sumber: https://mikesresearch.com/)
Bekas tank M-41A3 milik ARVN yang hancur di jalaanan kota Ho Chi Minh, Juli 1975. Menjadi pengingat bahwa perang belum lama berakhir. (Sumber: https://mikesresearch.com/)

Ketika Vietnam menginvasi Kamboja pada 1978, tank-tank M-41A3 yang dirampas tiga tahun sebelumnya turut menyertai pasukan Vietnam yang menyerbu. Namun kurangnya suku cadang, bagaimanapun, segera membatasi operasi tempur Walker Bulldog yang terakhir ini. Setelah menjalani masa tugas yang efektif selama beberapa waktu, mereka secara bertahap dimasukkan ke dalam penyimpanan jangka panjang, mengalami nasib yang sama dengan senjata Amerika lainnya karena kurangnya suku cadang. Hanya sedikit yang masih menjalani peran di unit-unit pelatihan. Meski tidak terlibat langsung dengan unit garis depan dalam militer Vietnam, namun tank M41 digunakan secara efektif untuk tugas tersebut. Meski dalam keadaan terbatas, namun berkat perawatan yang baik, kendaraan ini akan dapat beroperasi kembali secara penuh, jika diperlukan. Namun, meningkatkan ke standar yang lebih tinggi tidaklah mungkin dilakukan lagi, karena tank ini relatif sudah ketinggalan jaman dalam peperangan di era modern. Namun, ada beberapa pendapat yang menyatakan bahwa Vietnam harusnya menjual tank-tank ini untuk mengumpulkan uang guna membeli kendaraan lapis baja yang lebih canggih. Tank-tank ini sebenarnya bisa dibeli oleh kolektor dengan harga hampir $ 300.000, sementara kendaraan lapis baja BTR-80 bekas sendiri hanya berharga $ 200.000. Sebagian dari tank ini diketahui juga menjadi koleksi beberapa museum di seluruh Vietnam, seperti di Ho Chi Minh City, Hanoi, Cu Chi Tunnel hingga bekas markas marinir Amerika masa perang di Khe Sanh, baik dalam kondisi masih bagus maupun sudah hancur.

Deretan tank M-41 rampasan ARVN dari masa perang ada dalam tempat penyimpanan dan masih dirawat oleh militer Vietnam hingga kini. (Sumber: https://id.pinterest.com/)
Tank M-41 dalam Museum Kota Ho chi Minh City. (Sumber: Dokumentasi Pribadi ca. 2019)

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

This Light Tank Was a Mainstay of ARVN Armored Units by Christopher Miskimon 

M41 Walker Bulldog in combat by mike1960research

https://www.google.com/amp/s/mikesresearch.com/2019/03/24/m41-walker-bulldog/amp/

Armored Combat in Vietnam by Donn A. Starry; June 1, 1982; p 45, p 191-197.

M41 Walker Bulldog Light Tank of the Vietnam People’s Army by KienThuc; 31 Desember 2019

http://defense-studies.blogspot.com/2019/12/m41-walker-bulldog-light-tank-of.html?m=1

This forgotten bulldog was an American light tank that worked by Harold C. Hutchison Posted On November 01, 2018 21:33:29

https://en.m.wikipedia.org/wiki/M41_Walker_Bulldog

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *