Kisah Helikopter Pengintai Ringan Bell OH-58 Kiowa: Kesempatan Itu (Akan) Datang Dua Kali

Helikopter ringan Bell OH-58 Kiowa telah menjalani masa penugasan yang panjang dan sukses serta kini masih digunakan di beberapa negara sejak pertama kali diperkenalkan pada bulan Mei tahun 1969. Tipe ini merupakan pengembangan lebih lanjut dari helikopter Bell Model 206 “JetRanger” / “LongRanger varian sipil. Ditujukan untuk “Platform helikopter multi-peran”, helikopter ini pertama kali terbang pada tanggal 8 Desember 1962. Bell 206 terbukti sangat sukses dalam pasaran sipil sehingga sekitar 7.300 unit akhirnya diproduksi. Angkatan Darat AS memilih Bell 206 sebagai dasar untuk seri Kiowa lewat program Helikopter Pengintai Ringan mereka, seleksi ini pada gilirannya menghasilkan versi militer yang sama suksesnya dengan versi sipilnya dan dikenal sebagai OH-58 “Kiowa Warrior”. Sekitar 2.200 unit Kiowa akhirnya dikirim ke Angkatan Darat AS dan pasukan sekutu Amerika di seluruh dunia. Helikopter semacam ini telah terbukti sangat diperlukan dalam mengisi peran pengintaian bersenjata, peran observasi artileri, dan juga ketika harus bekerja bersama dengan formasi kavaleri yang bergerak cepat yang melawan kendaraan tempur infanteri musuh.

OH-58D Kiowa Warrior, salah satu helikopter pengintai tersukses. (Sumber: http://successinfuture.com/)

SEJARAH DAN LATAR BELAKANG DESAIN

Pada tahun 1960, Angkatan Darat AS memulai kompetisi “Light Observation Helicopter (LOH)” untuk memperoleh pengganti dari helikopter Bell Model 47 / H-13 “Sioux” dan helikopter bermesin piston ringan lainnya dalam peran sebagai helikopter pengintai dan utilitas. Selusin perusahaan kemudian mengajukan proposal, dengan Bell menawarkan “OH-4A”, Hiller dengan “OH-5A”, dan Hughes dengan desain “OH-6A”. Angkatan Darat lalu memesan lima prototipe masing-masing, semuanya akan didukung oleh satu mesin turboshaft Allison T63. OH-4A menunjukkan beberapa pengaruh desain dari Bell Model 47 klasik, meskipun berbeda dalam wujud badan pesawat seutuhnya dan tentu saja mesin penggerak turboshaft-nya. OH-4A mempertahankan konfigurasi rotor utama klasik dari Bell, dengan bilah kembar dan “teeter bar” yang melintang. Angkatan Laut AS yang mengelola program tersebut dengan cepat menolak proposal OH-4A: karena rancangan lebih fokus pada peran observasi, dengan kaca yang lebar, tetapi tidak memiliki kemampuan angkut untuk benar-benar bisa menjalankan peran utilitas. Hughes OH-6A juga ditolak; karena meski helikopter ini sangat lincah, tetapi dinilai terlalu ringan untuk digunakan dalam pertempuran. Dengan ini Hiller OH-5A dinyatakan sebagai pemenang – meski hanya sebatas teori. Sementara Angkatan Laut telah menyimpulkan OH-5A adalah helikopter terbaik untuk kebutuhan tersebut, Angkatan Darat memiliki pemikiran lain, sebagian karena Howard Hughes, bos dari Hughes Aircraft, berusaha keras untuk mendapatkan kesepakatan lain. Berkaitan ini terdapat cerita tentang “ketidakwajaran” dalam lobi Hughes ini; namun cerita seperti ini jelas sulit untuk dibuktikan – tetapi di antara berbagai tuduhan, menunjukkan bahwa Hughes memang kerap memenangkan kontrak dari Angkatan Darat.

Prototype Bell OH-4A. (Sumber: https://www.thisdayinaviation.com/)
Hughes OH-6A. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)
Hiller OH-5A. (Sumber: http://jetav.com/)

Sementara itu Bell tidak begitu saja membuang desain OH-4A setelah kehilangan kontrak program LOH, dan bahkan setelah mempertimbangkan alasan penolakan tersebut, mereka secara substansial memperbarui desain dengan badan pesawat yang baru, lebih lebar, dan jauh lebih panjang. Reaksi umum terhadap tampilan OH-4A adalah bahwa penampilan helikopter itu buruk, dan meskipun penampilan tidak terlalu menjadi masalah bagi militer, style jelas merupakan pertimbangan bagi pasaran sipil. Sebuah prototipe dari “Model 206A JetRanger” yang kemudian dihasilkan – nama yang diambil dari tipe helikopter Bell bermesin piston Model 47J Ranger yang populer – mengudara untuk pertama kalinya pada tanggal 10 Januari 1966. JetRanger kemudian memperoleh sertifikasi sipil pada bulan Oktober 1966, dengan produksi pertamanya dikirimkan sebelum tahun itu berakhir. Kedua produsen helikopter itu adalah pabrikan Agusta dari Italia yang kemudian produksinya dikenal sebagai “AB 206A”. Agusta kemudian turut memproduksi subvarian berikutnya dari JetRanger. Model 206A adalah helikopter dengan konfigurasi rotor konvensional, dengan rotor utama dua bilah – tanpa bilah teeter seperti helikopter bell versi lama, dimana Bell telah menyempurnakan desain rotornya untuk menghilangkan perangkat tersebut – dan rotor ekor dua bilah. JetRanger didukung oleh mesin turboshaft tunggal Allison 250-C18A dengan kekuatan 236 kW (317 SHP), dimana mesin Allison 250 adalah versi komersial dari mesin T63. Model 206A memiliki roda pendaratan model skid, dengan memiliki kursi untuk lima orang, yang terdiri dari dua kursi tunggal di depan dan tiga kursi di belakang. Ada dua pintu berengsel depan di setiap sisi. Terdapat juga kompartemen bagasi di belakang kompartemen penumpang, dengan pintunya di sebelah kiri. Pemasangan Ponton atau pelampung udara adalah opsional, begitu pula kontrol ganda dan kait perut eksternal dengan kapasitas muat beban maksimum 545 kilogram (1.200 pon).

Bell Model 206A JetRanger yang populer di pasaran sipil. (Sumber: https://www.jetphotos.com/)

JetRanger dengan cepat laku di pasaran sipil, dan Bell akhirnya juga berhasil mendapatkan kontrak militer AS. Angkatan Laut AS sedang membutuhkan helikopter latih dan ingin mendapatkan tipe helikopter siap pakai; Bell 206A tampak menjadi pilihan yang tepat, dan pada akhir bulan Januari 1968 Angkatan Laut memberikan Bell kontrak untuk pembuatan 40 helikopter tipe “TH-57 SeaRanger”. Versi ini hampir memiliki konfigurasi sama dengan Model 206A, selain dari adanya kontrol ganda dan beberapa perangkat avionik militer. Kontrak ini ternyata hanyalah “pemanasan”. Setelah mendapatkan Hughes OH-6A, pemerintah AS menjadi semakin sadar bahwa Howard Hughes telah terlalu banyak menjanjikan pada produk mereka, sementara pengiriman pesanannya jauh di belakang jadwal dan Hughes berusaha untuk menaikkan harga. Kongres kemudian terlibat; kontrak Hughes dihentikan; dan pada tahun 1967, Angkatan Darat memulai kembali kompetisi LOH. Para pejabat Hiller – pada saat itu, perusahaan telah menjadi bagian dari Fairchild – menganggap kompetisi pertama sebagai pengalaman yang sangat tidak menyenangkan dan menolak untuk berpartisipasi di babak kedua kompetisi, meskipun kemungkinan besar mereka akan menang. Ketiadaan mereka adalah keuntungan bagi Bell, dengan Angkatan Darat lalu memilih Model 206A yang dimiliterisasi, sebagai “OH-58A Kiowa”, pada tanggal 8 Maret 1968. Pengiriman awal pesanan pertama dilakukan pada tahun berikutnya, tahun 1969.

TH-57 Sea Ranger membuka kesuksesan keluarga Bell JetRanger di militer AS. (Sumber: https://www.helis.com/)

OH-58A berbeda dari Model 206A terutama dengan menampilkan rotor utama yang lebih lebar – 10,77 meter versus 10,16 meter (35 kaki 4 inci versus 33 kaki 4 inci) dan mesin turboshaft Allison T63-A-700 dengan kekuatan 235 kW (315 SHP) ). Tentu saja OH-58A dilengkapi dengan avionik militer, serta tata letak yang dimodifikasi, dengan kursi untuk dua orang dan sisa kabin disediakan untuk kargo. Pengiriman dimulai pada bulan Mei 1969, dan Kiowa segera digunakan berperang di Vietnam. Sebanyak 2.200 unit OH-58A dikirimkan hingga tahun 1973. Rupanya beberapa akhirnya diantaranya dijual ke pengguna sipil dengan sedikit perubahan di bawah kode penunjukan “Model 206A-1”. Sementara itu Angkatan Bersenjata Kanada telah memperoleh 74 Kiowa pada tahun 1971, yang kemudian dikenal sebagai “COH-58A”, yang lalu kode penamaannya diubah menjadi “CH-136”. Helikopter-helikopter ini sebenarnya berasal dari kontrak Angkatan Darat AS yang dialihkan, dengan sebagai gantinya Angkatan Darat mengeluarkan kontrak baru untuk menutupi kekurangan tersebut. Selusin Kiowa juga dikirim ke Austria pada tahun 1976; mereka pada dasarnya adalah OH-58A tetapi mendapat beberapa perubahan kecil, dan kemudian diberi nama “OH-58B”. Pada tahun 1976, di bawah arahan Angkatan Darat, Bell meningkatkan kemampuan OH-58A dengan memasang panel kanopi datar “tanpa kilauan”, kokpit yang ditingkatkan kompatibel dengan penggunaan kacamata night vision (NVG), penerima peringatan radar (RWR) AN / APR-39, pengurangan penjejakan panas pada knalpot, dan mesin Allison T63-A-720 yang lebih bertenaga dengan kekuatan 315 kW (420 SHP). Uji coba berjalan dengan baik, dua prototipe konversi dibuat lagi, dan kemudian sejak bulan Maret 1978 Bell meningkatkan total 425 OH-58A ke konfigurasi baru, dengan helikopter yang ditingkatkan diberi nama sebagai “OH-58C”. 150 lebih OH-58A yang ada dalam dinas Angkatan Darat di Jerman Barat kemudian ditingkatkan ke spesifikasi OH-58C oleh Israel Aircraft Industries (IAI).

Mulai tahun 1969, OH-58A dikirim bertempur di Vietnam. (Sumber: http://richardudden.blogspot.com/)

Pada pertengahan 1980-an, menindaklanjuti pembelian TH-57A SeaRanger pertama, Angkatan Laut AS memperoleh batch lain dari helikopter latih berdasarkan helikopter tipe JetRanger III, dalam bentuk “TH-57B / TH-57C SeaRanger” – baik TH-57B dan TH-57C menampilkan kontrol ganda, tetapi terdapat perangkat tambahan bagi TH-57C untuk penerbangan instrumen (IFR) atau pelatihan “penerbangan buta”. Angkatan Laut memperoleh 51 TH-57B dan 89 TH-57C. Pada tahun 2007, Angkatan Laut memulai program dengan L3 Communications untuk memperbarui 128 unit TH-57B dan TH-57C yang masih ada untuk menjadi versi “Standar Umum TH-57D”, dengan helikopter yang kemampuannya ditingkatkan menampilkan beberapa perubahan seperti: 

  • Sebuah perangkat “glass cockpit” dengan layar multifungsi ganda berwarna(MFDs).
  • Sebuah sistem “stick-shaker” untuk memperingatkan pilot bahwa mesinnya dalam batas kemampuannya. 
  • Proteksi kantung udara bagi awak, bersama dengan kursi penyerap benturan. 
  • Kompatibilitas dengan kacamata lihat malam (NVG).

Semua TH-57D yang telah diupgrade dikirim ulang pada tahun 2014. Program ini dimaksudkan untuk menyediakan helikopter latih yang jauh lebih representatif bagi peserta pelatihan penerbangan yang akan mereka menggunakan. Peningkatan tersebut diharapkan dapat menghilangkan kebutuhan akan dua varian helikopter latih, yang pada akhirnya akan menyederhanakan kurikulum pelatihan dan memangkas biaya pemeliharaan – terutama melalui pengurangan keausan mesin melalui penggunaan stick-shaker system. 

Bell TH-67A Creek. (Sumber: https://www.helis.com/)

Seperti yang diharapkan, Angkatan Laut sangat menyukai SeaRanger. Pada awal 1990-an, Angkatan Darat AS yang dipengaruhi oleh pengalaman Angkatan Laut mendapatkan Model 206B-3 untuk peran pelatihan, dengan versi yang dinamai “TH-67A Creek”. Angkatan Darat memperoleh total 183 TH-67A, dengan pengiriman awal pada tahun 1993; bagian dari pembelian itu termasuk helikopter yang dikonfigurasi untuk pelatihan IFR, dengan sebutan “TH-67A +”. Namun, SeaRanger sekarang sedang dalam proses untuk dipensiunkan, dengan penggantian secara off-the-shelf mulai dipilih pada 2019, dan SeaRanger akan resmi dipensiunkan dari Angkatan Laut AS pada tahun 2023. Sementara itu Angkatan Laut Chili juga memperoleh varian “Model 206AS”, yang dalam beberapa sumber digambarkan mampu membawa torpedo atau persenjataan lain untuk pertempuran laut; namun, foto yang bermunculan tidak menunjukkan kustomisasi yang signifikan selain paket perangkat apung, sehingga konfigurasi spesifik dari tipe ini tidaklah jelas. Pada tahun 2014, Angkatan Darat AS memutuskan untuk menyingkirkan TH-67A, dan menggantikannya dalam peran pelatihan dengan Airbus UH-72 Lakota, yang dikonfigurasi sebagai helikopter latih dengan kendali ganda. Hal ini untuk menyederhanakan pengoperasian dan logistik, sebelumnya Lakota telah dipilih menjadi helikopter utilitas ringan standar Angkatan Darat. Sementara itu TH-67A Yang dipensiunkan diteruskan ke layanan lain, organisasi sipil, pengguna komersial, dan Kolombia – dengan beberapa negara Amerika Latin lainnya untuk mendapatkannya juga. Angkatan Darat sekarang masih mempertahankan sekitar 20 TH-67A untuk mendukung latihan di lapangan.

OH-58D KIOWA WARRIOR

Pada bulan September 1981, Bell memenangkan kontrak dari Angkatan Darat AS untuk “Program Peningkatan Helikopter Angkatan Darat (AHIP)”, yang menetapkan pengadaan helikopter pengintai baru dengan avionik tempur modern. Kompetisi ini, kebetulan, diikuti juga oleh Helikopter Hughes 500, keturunan dari Hughes OH-6; yang menjadi semacam “deja vu” dari kompetisi di tahun 1960-an. Desain Bell, yang awalnya dikenal sebagai “OH-58D Aeroscout”, adalah pembaharuan dari OH-58A / C dengan menggunakan mesin turboshaft Allison T703-AD-720 berkekuatan 485 kW (650 SHP), untuk menggerakkan rotor utama komposit empat bilah dengan hub rotor yang dimodernisasi, dan dilengkapi dengan pembidik yang dipasang di tiang rotor (MMS/mast-mounted sight), dipadukan dengan kontrol kokpit dan sistem display baru. Pekerjaan pengembangan awal dilakukan sejak Maret 1983 menggunakan body LongRanger III yang dilengkapi dengan rotor empat bilah dan mesin turboshaft Allison 250-C30, tipe ini dinamai “Model 406LM”. Penerbangan awal pertama dari lima prototipe OH-58D dilakukan pada tanggal 6 Oktober 1983, yang kemudian berlanjut ke pengiriman operasional pertama pada bulan Maret 1986. Prototipe dan semua helikopter OH-58D Angkatan Darat AS merupakan konversi dari tipe OH-58A/C. Tidak jelas berapa banyak OH-58D yang awalnya diperoleh Angkatan Darat, beberapa sumber menunjukkan jumlahnya berkisar antara 300 hingga 500 unit. OH-58D mudah dikenali dengan menampilkan bilah pemotong kabel dan perangkat elektronik MMS yang dalam konfigurasi berbentuk bola yang dipasang tinggi di atas hub rotor untuk memungkinkan kru mengawasi keadaan sekitar saat terbang di bawah pepohonan. Bola elektronik tersebut berisi TV imager dan forward-looking infrared (FLIR) imager, bersama dengan laser rangefinder / target designator. Perangkat itu juga berisi “Optical Boresight System (OBS)” otomatis yang bahkan bisa menyelaraskan pencitraan dan sistem laser dalam penerbangan. MMS dipasangi sistem anti-getaran, dengan bola yang dapat berputar dari depan ke belakang pada bidang horizontal dan +/- 30 derajat pada bidang vertikal. Kokpit di dalam helikopter kemudian menampilkan layar dan sistem kontrol untuk MMS. Sebuah kait pengangkut kargo pada OH-58D Kiowa Warrior mampu membawa muatan hingga 2.000 lb (907,2 kg), dimana untuk misi evakuasi korban darurat dapat dilakukan dengan mengangkut dua korban dengan tandu (tandu), ditambah lebih dari 320kg perbekalan hingga radius operasi lebih dari 185 km. Kiowa juga dapat digunakan untuk mengangkut hingga enam pasukan untuk misi keamanan di titik yang kritis. Dua Kiowa dapat diangkut dengan pesawat C-130. Untuk pengangkutan, pivot sirip ekor vertikal, bilah rotor utama, dan penstabil horizontal dapat dilipat, sementara perangkat penglihatan yang dipasang di tiang utama, antena IFF dan pemotong kawat bawah dapat dilepas. Roda pendaratan/skid juga bisa diturunkan untuk mengurangi ketinggian.

Layout Bell OH-58D Kiowa Warrior. (Sumber: https://thelexicans.wordpress.com/)

OH-58D pada awalnya tidak dipersenjatai, misinya adalah untuk menemukan dan menunjukkan target untuk aset penyerang lainnya, terutama helikopter tempur AH-64 Apache. Namun, pada tahun 1987, ketika Angkatan Laut AS mengawal kapal tanker minyak di Teluk Persia di bawah Operasi EARNEST WILL untuk mencegah serangan oleh Iran, Angkatan Darat memulai program jalur cepat dengan nama sandi PRIME CHANCE agar dapat memasang persenjataan ringan ke OH-58D, dengan batch 15 helikopter dengan cepat dilengkapi dengan pylon senjata di setiap sisi helikopter. Awak udara Angkatan Darat kemudian dilatih untuk mengoperasikan helikopter angkatan laut dan bertugas sebagai bagian dari tim pengawalan konvoi Teluk Persia. Hasilnya modifikasi ini kemudian disebut “OH-58D (Armed)”, tetapi juga secara informal disebut sebagai “PRIME CHANCE OH-58D” atau “AH-58D”. Persenjataan khas yang dibawa di setiap pylon adalah termasuk dua rudal anti-armor Hellfire; pod roket tanpa pemandu dengan tujuh munisi kaliber 70 milimeter, dengan kapasitas 7 roket; senapan mesin Gatling Minigun General Electric (GE) kaliber 7,62 milimeter (0,30-caliber); senapan mesin Browning 12,7 milimeter (0,50-kaliber); atau dua rudal udara-ke-udara (AAM) Stinger. Foto-foto yang ditunjukkan jarang menunjukkan jenis senjata apa pun yang dipasang pada helikopter kecuali rudal Hellfire atau pod roket tanpa pemandu, tetapi nampaknya helikopter yang ditugaskan untuk pengawal konvoi umumnya terbang berpasangan, dengan satu unit dilengkapi dengan dua rudal Hellfire dan senapan mesin, sementara yang lain membawa pod roket tanpa pemandu dan dua rudal anti pesawat Stinger. Tampaknya mereka melepaskan beberapa tembakan selama Operasi EARNEST WILL, tetapi Pentagon tidak merasa perlu untuk berbicara banyak tentang Operasi tersebut. Pemberitaan resminya jelas mengecilkan fakta bahwa Amerika dan Iran saling menyerang.

OH-58D dalam Operasi Prime Chance. (Sumber: https://alchetron.com/)

Program PRIME CHANCE berhasil dengan baik, dan pada tahun 1989 Angkatan Darat memutuskan untuk meningkatkan sebagian besar armada OH-58D ke konfigurasi helikopter bersenjata – dengan beberapa perbaikan kecil, seperti penambahan diffuser knalpot mesin untuk membuat helikopter kurang terdeteksi oleh misil pencari panas. “OH-58D bersenjata” kemudian dikenal dengan nama “Kiowa Warrior”, dengan 411 unit selesai dikonversi pada tahun 1999. Kiowa Warrior tercatat bertugas dalam Operasi JUST CAUSE, invasi AS di Panama, pada tahun 1989; Operation DESERT SHIELD / DESERT STORM, selama Perang Teluk Pertama, pada tahun 1991; Operation RESTORE HOPE, misi penjaga perdamaian AS yang bernasib malang di Somalia, pada 1993; dan Operation UPHOLD DEMOCRACY, yakni misi penjaga perdamaian AS di Haiti, pada tahun 1994. Bahkan sebelum pengiriman akhir OH-58D, peningkatan lain kembali dilakukan, ke sebagian atau seluruh armada, dalam beberapa hal, yaitu: 

  • Upgrade mesin yang dilengkapi dengan “kontrol mesin digital otoritas penuh (FADEC)” sebagai pengganti kontrol mesin hidro-mekanis sebelumnya, yang meningkatkan kinerja dalam kondisi “Hot & High”.
  • Display “glass cockpit” penuh, bersama dengan prosesor yang ditingkatkan dan datalink baru. 
  • Sistem countermeasures, termasuk penambahan perangkat AN / APR-39 RWR, satu set perangkat peringatan laser AN / AVR-2, dan jammer rudal pencari panas AN / ALQ-144 “disco light”. 
  • Datalinks untuk bisa terhubung dengan satelit dan drone. 
  • Senjata baru, termasuk pemasangan senapan mesin Gatling tiga barel GAU-19 12,7 milimeter (kaliber 0,50) dan FN Herstal M3P. 

Sejumlah 18 OH-58D juga dikonfigurasi ulang dengan fitur “siluman”, termasuk bentuk hidung yang didesain ulang dan lebih panjang ditambah lapisan pada kaca depan, tampaknya untuk mencegah sinyal radar memasuki kokpit, dan kemudian dinamai sebagai “Optimized Aircraft (OH-58D OA) ) “- sepertinya awalnya dikenal juga sebagai” OH-58X “. Penerbangan pertama versi ini dilakukan pada tahun 1990. Bell kemudian mengonfigurasi satu OH-58D dengan fitur serupa dan kit modern lainnya yang diperbarui yang dinamai sebagai “OH-58D Variant” nama ini diberikan untuk mendemonstrasikan kemungkinan penambahan fitur-fitur baru tersebut untuk OH-58D yang telah ada. Dalam masa pengoperasiannya OH-58D Kiowa Warrior adalah kunci untuk mengkoordinasikan upaya Joint Air Attack Team (JAAT) bersama dengan pesawat serang A-10 Thunderbolt II dan helikopter serang AH-64 Apache. Bekerja sebagai pos komando udara, stasiun relai komunikasi, dan helikopter observasi, OH-58D dapat memberi tahu pesawat A-10 dan helikopter AH-64 tentang target, medan, pergerakan musuh, potensi masalah dengan pasukan darat dan konflik lalu lintas udara. OH-58D mampu menyampaikan data target secara “real time” melalui tautan data digital antara OH-58D, A-10 dan AH-64. Dengan perangkat ini OH-58D dapat langsung menyampaikan informasi penerbangan penting seperti vektor, jarak dan posisi musuh ke pesawat penyerang. Helikopter ini juga lebih pas digunakan untuk konflik skala kecil daripada pesawat AWACS yang mahak, selain itu OH-58D juga merupakan pesawat observasi yang mumpuni dan dapat mendarat di lapangan terbang darurat. Helikopter ini sangat lincah bermanuver, OH-58D jelas melengkapi dan meningkatkan kemampuan dari aset udara seperti pesawat A-10 dan helikopter AH-64 Apache.

OH-58X Kiowa, prototipe OH-58D yang dimodifikasi. Perbedaan terlihat pada area hidung, tutup link pitch, dan area penutup mesin. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)
Bell 406CS Combat Scout milik Arab Saudi. Yang paling membedakan versi ini dengan OH-58D adalah dengan menukar bidikan yang dipasang di tiang dengan perangkat pembidik SAAB-Emerson HeliTOW yang dipasang di atap untuk mendukung pemasangan rudal anti-tank berpemandu kabel TOW. (Sumber: https://www.dstorm.eu/)

Satu-satunya pembeli versi ekspor untuk OH-58D adalah Taiwan, yang membeli total 26 unit, dengan pengiriman awal pada tahun 1993. Namun, Bell juga menawarkan untuk pasar ekspor versi “detuned” dari OH-58D yang lebih murah, yang dikenal sebagai “Model 406CS. “, yang paling membedakan diantara keduanya adalah dengan menukar bidikan yang dipasang di tiang dengan perangkat pembidik SAAB-Emerson HeliTOW yang dipasang di atap untuk mendukung pemasangan rudal anti-tank berpemandu kabel TOW. Arab Saudi adalah satu-satunya pembeli, dengan 15 helikopter dikirim dari tahun 1990. OH-58D diberi tugas berat dalam Operasi ENDURING FREEDOM, invasi AS ke Afghanistan, pada tahun 2001; dan Operasi IRAQI FREEDOM, invasi AS ke Irak, dari tahun 2003. Pengurangan jumlah akibat penggunaan operasional telah menurunkan armadanya menjadi 326 helikopter; untuk mengembalikan ke kekuatan semula yang ditentukan yakni 368 unit, Bell mendapatkan kontrak untuk meningkatkan versi OH-58A / C menjadi spesifikasi OH-58D, dengan helikopter yang kemampuannya telah ditingkatkan pertama kali dikirim pada tahun 2012. Meskipun setidaknya terdapat 23 peningkatan penggantian dilakukan, dengan program tersebut juga menyertakan versi rakitan yang benar-benar baru, namun tidak jelas apakah program penggantian itu pernah selesai, karena OH-58 sekarang telah dihapus dari dinas operasional Angkatan Darat AS. Terdapat upaya untuk menggantikan OH-58D dengan versi yang lebih baik, “ARH-70” – yang akan dijelaskan dibawah – tetapi program itu gagal. Program upgrade kemudian dilakukan untuk menjaga armada Kiowa yang ada tetap bisa terbang, dengan pengerjaan “OH-58F” yang ditingkatkan, pertama kali diluncurkan pada akhir tahun 2012. Rencana awalnya adalah untuk mengubah semua versi OH-58D menjadi OH-58F, tetapi pada tahun 2014 keputusan telah dibuat, sehubungan dengan pemotongan dana, untuk membatalkan program upgrade OH-58D, dan semua pekerjaan berkaitan OH-58F dihentikan. OH-58D secara resmi pensiun dari dinas operasional Angkatan Darat AS pada musim semi tahun 2017. Armada OH-58 – termasuk versi OH-58A, OH-58C, dan OH-58D – telah dialihkan ke pengguna lain, dengan 24 unit OH-58D dijual ke Tunisia, dan 16 dijual ke Kroasia; sebagai helikopter bersenjata, helikopter-helikopter ini tidak dapat digunakan untuk tujuan komersial. Helikopter-helikopter ini diperbarui sebelum dikirimkan, sehingga pihak Kroasia menggambarkan helikopter yang mereka terima sebagai “kondisi baru”. Sejauh masalah penggantian OH-58D, masalah ini sepertinya harus diselesaikan cepat atau lambat.

BELL MODEL 407

Pada tahun 1993, Bell mulai mengerjakan versi baru dari seri keluarga helikopter Jet Rangernya, yang kemudian diberi nama Model 407. Model 407 terlihat sangat mirip dengan versi LongRanger kecuali untuk versi ini menggunakan rotor komposit empat bilah, dan juga memiliki badan pesawat yang direvisi dengan lebar nya bertambah 18 sentimeter (8 inci) dan jendela penumpang yang lebih besar. Skema pintu asimetris dari versi LongRanger tetap dipertahankan. Model 407 ditenagai oleh mesin turboshaft Rolls-Royce / Allison 250-C47 tunggal dengan kekuatan 520 kW (700 SHP). Tampaknya sempat dipertimbangkan untuk menggunakan cincin rotor ekor pada Model 407, tetapi pada akhirnya tidak dilakukan. Kemampuan versi ini sangat mirip dengan turunan kontemporer lainnya dari JetRanger, dengan Model 407 memiliki kemampuan membawa beban sling maksimum 1.200 kilogram (2.646 pon). Pada tahun 2011, Bell memperkenalkan dua versi dari Helikopter Model 407nya yang baru, yakni:

  • “Model 407AH” merupakan varian bersenjata untuk pasukan keamanan sipil, seperti polisi perbatasan. Varian ini dapat membawa Minigun jenis Gatling kaliber 7,62 milimeter dan roket kalibar 70 milimeter. Versi ini juga memiliki turret FLIR di bawah hidung, dengan sistem avionik kokpit Garmin yang menyediakan display interface. Pintu geser yang digunakan masih standar, sementara perangkat countermeasures defensif nya bersifat opsional. Bell menjual 407AH sebagai alternatif yang lebih murah dari helikopter yang sepenuhnya dimiliterisasi.
  • “Model 407GX” adalah varian sipil mewah, dengan Glass Cockpit Garmin G1000, yang dibangun di sekitar dua layar besar, serta menawarkan “terrain awareness” dan pencatatan parameter penerbangan untuk bisa diunduh kemudian. Versi ini juga juga dilengkapi kamera yang dapat digunakan pilot untuk melihat penghalang yang mungkin mengenai rotor ekor. 

Versi tempur dari 407GX, “Model 407GXT”, diperkenalkan pada tahun 2013, dengan turret penanda laser dan perangkat pencitraan siang-malam yang dipasang di dagu, serta dudukan untuk membawa senjata. Sejak tahun 2015, Northstar Aviation of the United Arab Emirates juga telah menawarkan versi tempur dari 407GX, “407 Multi-Role Helicopter (MRH)”, untuk bisa bertindak sebagai helikopter transport, pengintai, atau tempur, dengan pasukan UEA mendapatkan beberapa lusin dari versi ini. Penyempurnaam dari 407GX, yakni “Model 407GXP”, diperkenalkan pada tahun 2015, yang menampilkan peningkatan bertahap dalam hal kemampuan angkut dan kinerja, ditambah avionik kokpit yang disempurnakan, termasuk sistem pengenalan suara. Varian yang lebih ditingkatkan, yakni “Model 407GXi”, diperkenalkan pada tahun 2018, dengan avionik Garmin G1000H yang menampilkan layar sentuh, interior yang diperbarui, dan mesin turboshaft Rolls-Royce M250-C47E / 4 dengan FADEC ganda. Versi yang diperbarui ini mampu memberikan peningkatan 4% dalam hal jangkauan dan penghematan bahan bakar.

Bell Model 407GX. (Sumber: https://www.defenseworld.net/)

Pada tahun 2005, Bell memenangkan kontrak Angkatan Darat AS untuk pembuatan “Helikopter Pengintai Bersenjata (ARH)” untuk menggantikan OH-58D Kiowa Warrior. “ARH-70”, bagaimana helikopter baru ini disebut, menampilkan badan dari Model 407 tetapi bagian belakang seperti Model 427 ditambah dengan penggunaan mesin turboshaft Honeywell HTS900 baru yang menghasilkan kekuatan 690 kW (925 SHP). “Arapaho”, demikian namanya secara informal, membawa seorang pilot dan pengamat / penembak, bersama dengan sensor canggih dan perangkat defensif countermeasures. Lockheed Martin sebenarnya adalah merupakan kontraktor utama, yang menyediakan integrasi avionik dan sistem tempur. Angkatan Darat ingin mendapatkan 368 helikopter jenis ini, dengan biaya per unit nya sebesar $ 6 juta USD. Beberapa penawar lain dalam kompetisi awal menolak tag harga sebesar itu sebagai “tidak realistis”, yang kemudian benar-benar terjadi pada tahun 2008 ketika adanya pembengkakan biaya memaksa pembatalan program tersebut. Angkatan Darat lalu memulai kembali kompetisi ARH dengan nama “Armed Aerial Scout (AAS)”, tapi program itu juga dibatalkan, sementara keputusan telah dibuat untuk mempensiunkan OH-58. Program AAS kemungkinan akan dihidupkan kembali dalam beberapa wujud baru, tetapi tidak ada yang tahu kapan akan benar-benar terlaksana. 

Bell ARH-70 Arapaho. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

Bell juga disebut membuat versi sipil dari ARH-70, yang diberi nama “Model 417″, tapi tidak pernah dilanjutkan. Sebagai kompensasi atas kegagalan program ARH, pada tahun 2009 Bell menerima kontrak untuk memasok 24 Model 407GX ke Angkatan Udara Irak, dengan opsi untuk pembelian 26 unit lagi. Helikopter tersebut dimodifikasi oleh NorthStar dari Abu Dhabi menjadi konfigurasi “Helikopter Multi-Peran (MRH)” militer, yang menampilkan:

  • Kokpit militer yang kompatibel dengan NVG
  • Turret pencitraan siang-malam di dagu, dengan perangkat penanda target laser. 
  • Persenjataan yang dipasang pada stub-mount termasuk Minigun kaliber 7,62 milimeter, chain gun kaliber 12,7 milimeter, pod roket kaliber 70 milimeter, dan rudal Hellfire. 

Beban persenjataan tipikal yang dibawa dari tipe ini adalah dua Minigun dan dua buah pod roket dengan kapasitas 9 roket masing-masing. Tampaknya Uni Emirat Arab juga telah memperoleh 30 atau lebih versi MRH ini, beberapa di antaranya pernah digunakan bertempur di Yaman.

VERSI-VERSI MILITER LAINNYA

Selain beberapa versi diatas, Bell yang bekerja sama dengan Northrop Grumman membuat turunan drone dari Model 407 untuk penggunaan militer, dengan nama demonstrator “Fire-X” yang melakukan penerbangan pertamanya pada akhir tahun 2010. Sementara itu Angkatan Laut AS telah mengerjakan program “MQ-8B” Helikopter tak berawak Fire Scout, yang didasarkan pada helikopter Schweizer 330SP, tetapi mereka memutuskan bahwa Fire Scout tidak cukup besar. Angkatan Laut lalu memperoleh versi produksi Fire-X sebagai “MQ-8C”, basis perangkatnya tetap sama karena Fire-X memanfaatkan perangkat lunak dan sistem kontrol dari Fire Scout. MQ-8C bersama dengan avionik drone dan sistem sensornya, memiliki tangki bahan bakar tambahan dan mesin turboshaft Rolls-Royce M250-C47E yang telah ditingkatkan. Penerbangan awal dari prototipe lengkapnya pertama dilakukan pada tanggal 31 Oktober 2014, untuk kemudian diikuti dengan pengiriman versi produksi untuk evaluasi operasional tahun berikutnya, dan rencananya MQ-8C diperkenalkan ke dinas operasional pada tahun 2019. Bersama dengan tugas pengawasan di permukaan, MQ-8C juga ditujukan untuk bertugas dalam perang anti-kapal selam dan peran berburu ranjau. Pada awal tahun 1960-an, Bell sempat membangun prototipe Model 207 untuk helikopter tempur, yang pada dasarnya menambahkan badan depan baru untuk helikopter bertenaga piston Bell Model 47J Ranger. Badan helikopter baru ini menampilkan tempat duduk tandem untuk pilot dan penembak, serta turret di bagian bawah untuk senapan mesin kembar M60 kaliber 7,62 milimeter (kaliber 0,30). “Sioux Scout”, demikian sebutan dari Model 207 ini, tidak pernah lebih dari versi demonstrator, dan nyaris tidak ada niatan untuk memasukkannya ke dalam jalur produksi – tetapi konsepnya kemudian digunakan untuk perancangan helikopter tempur Bell AH-1 Cobra yang sangat sukses.

Drone MQ-8C Fire Scout. (Sumber: https://conceptbunny.com/)
Helikopter eksperimental Bell 207. (Sumber: https://id.pinterest.com/)

AVIONIK & PERSENJATAAN

Dalam menjalankan fungsinya sebagai helikopter pengintai bersenjata, Kiowa dilengkapi dengan perangkat-perangkat avionik yang memiliki kapabilitas sebagai berikut:

Countermeasures

Perangkat countermeasures Kiowa mencakup pengacau inframerah AN / ALQ-144, penerima peringatan radar terhadap gelombang pulse dan gelombang kontinu, serta detektor peringatan laser. Perangkat ini dikembangkan oleh Sanders Associates pada 1970-an untuk melawan ancaman rudal permukaan ke udara berpemandu infra merah seperti 9K32 Strela-2 buatan Soviet. Meskipun umpan flare efektif untuk menghentikan ancaman rudal pemandu infra merah generasi pertama, tetapi flare hanya efektif untuk waktu yang singkat. Jika sebuah pesawat terbang perlu berkeliaran di area berisiko tinggi atau terbang lambat (seperti yang dilakukan helikopter), mereka akan membutuhkan sejumlah besar suar untuk memikat setiap rudal yang ditembakkan ke arahnya. IRCM semacam AN / ALQ-144 kemudian mengatasi problem ini dengan memberikan perlindungan konstan terhadap ancaman peluru kendali infra merah.

Rudal panggul 9K32 Strela-2. (Sumber: https://id.pinterest.com/)
AN / ALQ-144, perangkat countermeasures pada OH-58D Kiowa Warrior. (Sumber: https://fas.org/)

Kontrol Penembakan dan Observasi 

Perangkat Penglihatan yang dipasang di tiang khusus (MMS) dari Boeing, terletak di atas baling-baling, memungkinkan Kiowa Warrior untuk beroperasi pada waktu siang dan malam hari dan untuk menyerang musuh pada jarak maksimum sistem senjata dan dengan eksposur helikopter yang minimum, seperti bersembunyi di balik pepohonan dengan hanya memunculkan rotor dan tiang MMS. MMS sendiri berisi serangkaian sensor yang meliputi: kamera televisi resolusi tinggi untuk deteksi target jarak jauh; sensor pencitraan termal untuk navigasi, akuisisi target, dan pengarah; pengintai / penanda laser untuk lokasi target dan panduan rudal Hellfire dan pengarah untuk peluru artileri Copperhead; serta perangkat boresight yang menyediakan penyelarasan sensor dalam penerbangan. Laser rangefinder / designator juga bisa digunakan untuk membantu helikopter AH-1 Cobra dalam menembakkan rudal TOW. MMS pada prinsipnya digunakan untuk mengumpulkan citra dan data target di medan perang pada siang atau malam hari, dalam kondisi yang penuh tantangan. Perangkat AIM-1 MLR (dan DLR), laser inframerah (IR) kelas IIIb, memberikan deteksi berupa berkas cahaya yang tidak terlihat dengan mata telanjang. Sinarnya dikatakan efektif untuk membidik jarak hingga 3 km. Perangkat ini dirancang untuk beroperasi bersama dengan perangkat night vision standar (sehingga titik benturan sinarnya bisa terlihat). Laser AIM-1 boresight ke titik sejauh 2,8 inci secara vertikal di atas laras senapan mesin kaliber .50 memiliki garis tengah pandang pada jarak 500 inci, memberikan kemampuan offset yang tepat untuk bisa menembak pada jarak 1000 meter. 

Perangkat MMS pada OH-58D Kiowa Warrior. (Sumber: https://www.flickr.com/)

DRS Technologies saat ini bertanggung jawab untuk menyediakan perangkat sensor dan, pada bulan Maret 2004, dianugerahi kontrak senilai $ 8,2 juta untuk memutakhirkan sistem pencitraan termal pada MMS. Peningkatan sistem pencitraan termal (TISU) memberikan kemampuan deteksi dan jangkauan target yang telah ditingkatkan. Pengiriman pertama dimulai pada bulan Agustus 2005 dan selesai pada awal tahun 2006. Kontrak tersebut merupakan bagian dari kontrak master pengiriman tak terbatas / kuantitas tak terbatas (IDIQ) lima tahun senilai $ 514 juta yang diberikan kepada DRS pada bulan Desember 2003. Pada bulan Februari 2006, Komando Penerbangan dan Rudal Angkatan Darat AS (AMCOM) memberikan kontrak TISU lainnya senilai $ 33 juta. Pengiriman dimulai pada bulan Februari 2006 dan selesai pada bulan Desember 2008. Kontrak lima tahun baru (Januari 2009-Desember 2013) senilai $ 913 juta kemudian diberikan kepada DRS pada bulan Februari 2009 untuk mendukung pemeliharaan, perbaikan dan layanan MMS pada armada OH-58D Kiowa Warrior. Hal ini adalah kelanjutan dari kontrak senilai $ 514 juta sebelumnya. Berdasarkan kontrak, DRS mendapatkan kontrak sebesar $ 110 juta untuk memasok komponen suku cadang, perbaikan dan layanan program untuk MMS pada bulan April 2009. Kontrak tersebut mencakup pengiriman suku cadang baru dari bulan Juni 2009 hingga Maret 2013 dengan layanan perbaikan dan pemeliharaan yang dijadwalkan mulai bulan Juni 2009 hingga Januari 2012.

Navigasi dan komunikasi 

OH-58D Angkatan Darat AS dilengkapi dengan perangkat attitude heading reference system (AHRS) buatan Litton dan perangkat Sistem Pemosisian Global dan Sistem Navigasi Inersia terintegrasi, GPS / INS. Modul pemuatan data memungkinkan penyimpanan data sebelum misi dari data titik arah navigasi dan frekuensi radio. Peralatan misi ini termasuk modem data yang ditingkatkan untuk komunikasi medan perang digital, (IDMDBC). Sistem komunikasi yang digunakan didasarkan pada radio anti-jam Have-Quick UHF dan SINCGARS FM.

Tampilan kokpit OH-58D Kiowa Warrior. (Sumber: https://thaimilitaryandasianregion.wordpress.com/)

Persenjataan

Dalam misi pengintaian bersenjata, Kiowa Warrior mampu membawa beberapa persenjataan sebagai berikut:

AGM-114 Hellfire

AGM-114 Hellfire (AGM singkatan dari Air to Ground Missile/Rudal udara-ke-darat) adalah rudal udara-ke-permukaan (ASM) yang pertama kali dikembangkan untuk fungsi anti-lapis baja, tetapi model ini kemudian dikembangkan untuk menjalankan serangan drone presisi terhadap target lain dan telah digunakan dalam sejumlah aksi yang bertujuan untuk “menghancurkan target bernilai tinggi.” Awalnya dikembangkan dengan nama laser Heliborne, rudal dengan konsep tembak dan lupakan (penembak dapat bebas bermanuver setelah melepaskan rudal, tanpa perlu memandu, karena rudal secara mandiri akan mengarahkan diri untuk menghantam sasaran), yang kemudian mengarah ke nama “Hellfire” yang menjadi nama resmi dari rudal tersebut. Rudal ini memiliki kemampuan untuk melakukan serangan presisi multi-misi, multi-target, dan dapat diluncurkan dari berbagai platform udara, laut, dan darat, termasuk drone Predator. Rudal Hellfire adalah senjata presisi udara-ke-darat utama kelas 100-pound (45 kg) untuk angkatan bersenjata Amerika Serikat dan banyak negara lainnya. Setiap Hellfire memiliki berat 104 pound (47 kg), termasuk hulu ledaknya yang memiliki berat 20 pound (9 kg), serta memiliki jangkauan antara 4,4–6,8 mil (7,1–11 km) tergantung pada lintasan penembakan, target dan medan yang dihadapi. Kecepatan maksimum dari Hellfire adalah Mach 1.3 (995 mil per jam, 1,601 km/jam).

Rudal AGM-114 Hellfire II. (Sumber: https://www.turbosquid.com/)

AIM-92 Stinger

AIM-92 Stinger atau ATAS (Air To Air Stinger) adalah rudal udara-ke-udara yang dikembangkan dari sistem rudal portable FIM-92 Stinger yang bisa diluncurkan dari bahu, untuk digunakan pada helikopter seperti AH-64 Apache, Eurocopter Tiger dan juga UAV, seperti MQ-1 Predator. Rudal itu sendiri identik dengan Stinger yang diluncurkan dari bahu. Angkatan Darat AS telah menggunakan varian ATAS pada helikopter OH-58D Kiowa Warrior dan UH-60 Black Hawk dalam peran udara-ke-udara. Dalam sebuah uji coba pada tanggal 19 November 1996, rudal Stinger (ATAS) Block-1 diluncurkan dari OH-58D di Yuma Proving Ground dan berhasil menghancurkan helikopter drone QUH-1 dalam melakukan tindakan pencegahan pada jarak lebih dari 2,8 mil (4.500 m) . Semua rudal Air-to-Air Stinger (ATAS) Block II rencananya akan dimodifikasi rudal Stinger RMP (FIM-92C) yang sudah ada. Blok II akan menggabungkan berbagai peningkatan termasuk seeker array IR baru, baterai baru, dan kemampuan pemrosesan sinyal tingkat lanjut. Penjejak rudal yang digunakan mengizinkan helikopter untuk dapat menyerang target di area berkontur hingga jangkauan maksimum 5,0 mi (8 km), juga memiliki peningkatan dalam hal akurasi dan kemampuan IRCCM, dan akan memberikan kemampuan untuk beroperasi secara penuh di malam hari. Seperti Hellfire, Stinger juga bertipe Fire and Forget. Rudal berbobot 16 kg ini memiliki hulu ledak sebesar 3 kg (6.6 lb) tipe HE blast fragmentation dan mampu terbang hingga kecepatan maksimum Mach 2.2 (750 m/s (1,700 mph; 2,700 km/h)).

Tabung ganda rudal AIM-92 Stinger pada pod terluar pylon helikopter Eurocopter Tiger milik Jerman. (Sumber: https://www.amazon.com/)

Roket Hydra 70

Roket Hydra 70 adalah roket tanpa pemandu yang distabilkan oleh sirip berdiameter 2,75 inci (70 mm) dan digunakan terutama dalam peran penembakan udara-ke-darat. Roket ini dapat dilengkapi dengan berbagai hulu ledak, dan dalam versi yang lebih baru, sistem panduannya mendukung untuk melakukan serangan presisi. Hydra banyak digunakan oleh AS dan pasukan sekutunya, bersaing dengan roket CRV-7 asal Kanada, yang secara fisik dapat saling dipertukarkan. Roket ini memiliki jangkauan efektif 8,700 yards (8,000 m) dan jangkauan maksimum 11,500 yards (10,500 m).

Roket Hydra 70. (Sumber: https://www.globalsecurity.org/)

Senapan Mesin M3P 

M3P adalah senapan mesin yang dikembangkan dari senapan M2 kaliber 12.7 mm buatan Browning. Seri M3 yang digunakan oleh militer AS memiliki dua versi, yakni M3M dan M3P. Versi penembakan jarak jauh, FN M3P, digunakan juga pada Sistem Pertahanan Udara Avenger, dan saat ini juga digunakan pada helikopter OH-58D, melengkapi senapan mesin sistem XM296 kaliber. 50. M3 memiliki kecepatan tembak tinggi 1,200–1,300 peluru/menit dengan jarak tembak efektif 1,800 m (2,000 yd) dan jarak maksimumnya 7,400 m (8,100 yd).

Senapan mesin FN M3P. (Sumber: https://laststandonzombieisland.com/)

M-134 Minigun

M134 Minigun adalah senapan mesin enam laras kaliber 7,62 × 51mm NATO dengan kecepatan tembak tinggi (2.000 hingga 6.000 peluru per menit). Fitur ini didapat dari penggunaan sistem multilaras model Gatling dengan sumber daya eksternal, biasanya motor listrik. “Mini” pada namanya digunakan sebagai pembeda dengan desain kaliber yang lebih besar yang menggunakan desain laras gatling, seperti M61 Vulcan kaliber 20 mm buatan General Electric. M134 memiliki bobot kosong 85 lb (39 kg) dan 41 lb (19 kg) untuk model ringannya. Senjata ini mampu digunakan untuk menghantam target hingga sejauh maksimal 3,280 ft (1,000 m; 1,090 yd), dengan suplai amunisi sabuk peluru berkapasitas antara 500-5,000 peluru tergantung platform yang digunakan.

M134 Minigun. (Sumber: https://www.123rf.com/)

DINAS OPERASIONAL DAN PENGALAMAN TEMPUR

Mayor Jenderal John Norton, commanding general of the Army Aviation Materiel Command (AMCOM), menerima OH-58A Kiowa pertama dalam sebuah upacara di pabrik Bell Helicopter’s Fort Worth pada bulan Mei 1969. Dua bulan kemudian, pada tanggal 17 Agustus 1969, Produksi pertama helikopter Kiowa OH-58A tiba di Vietnam Selatan, dengan ditemani oleh Tim Pelatihan Peralatan Baru (NETT) dari Angkatan Darat dan dari Bell Helikopter. Meskipun kontrak produksi Kiowa telah menggantikan kontrak LOH dengan Hughes, OH-58A tidak secara otomatis menggantikan OH-6A yang telah beroperasi sebelumnya. Selanjutnya, Kiowa dan Cayuse akan terus beroperasi di medan yang sama sampai perang di Vietnam berakhir. Pada tanggal 27 Maret 1970, sebuah OH-58A Kiowa (s / n 68-16785) ditembak jatuh di Vietnam Selatan, dan menjadi salah satu kerugian pertama OH-58A dalam perang. Pilotnya, Warrant Officer Ralph Quick, Jr., sedang menerbangkan Letnan Kolonel Joseph Benoski, Jr. dalam misi pengintaian artileri. Setelah menyelesaikan misi penilaian kerusakan pertempuran dalam misi penembakan sebelumnya, helikopter itu rusak oleh tembakan senapan mesin kaliber .51 (13 mm) dan jatuh, menewaskan seketika kedua awaknya. Sekitar 45 helikopter OH-58A hancur selama Perang Vietnam karena aksi musuh dan kecelakaan tempur. Salah satu kehilangan terakhir adalah OH-58A (s / n 68-16888) dari A Troop, Kavaleri 3-17, yang diterbangkan oleh Letnan Satu Thomas Knuckey. Pada tanggal 27 Mei 1971, Letnan Knuckey yang juga sedang menerbangkan misi penilaian kerusakan pertempuran, helikopternya terkena tembakan senapan mesin dan meledak. Knuckey dan pengamatnya, Sersan Philip Taylor, keduanya tewas dalam ledakan itu. 

Bell OH-58A di Nui Dat-Vietnam tahun 1971. Sebanyak 45 Kiowa hancur karena berbagai sebab di Vietnam. (Sumber: http://www.161recceflt.org.au/)

Pada awal tahun 1988, diputuskan bahwa helikopter bersenjata OH-58D (AHIP) dari Satuan Tugas Penerbangan ke-118 akan ditempatkan secara bertahap untuk menggantikan tim SEABAT (yang menggunakan helikopter AH-6 / MH-6) dari Satgas 160 untuk melaksanakan Operasi Prime Chance, yakni misi pengawalan kapal tanker minyak selama Perang Iran-Irak. Pada tanggal 24 Februari 1988, dua helikopter AHIP melapor ke Mobile Sea Base Wimbrown VII, dan tim helikopter (tim “SEABAT” nama panggilan mereka) yang ditempatkan di sebuah kapal barang. Selama beberapa bulan ke depan, helikopter AHIP di Wimbrown VII berbagi tugas patroli dengan tim SEABAT. Koordinasi sulit dilakukan, tetapi meskipun sering ada permintaan dari TF-160, tim SEABAT tidak segera digantikan oleh detasemen AHIP hingga bulan Juni 1988. Awak helikopter OH-58D yang terlibat dalam operasi tersebut menerima pelatihan pendaratan di dek dan bertahan hidup di bawah air dari pihak Angkatan Laut. Pada bulan November 1988, jumlah helikopter OH-58D yang mendukung Satgas 118 berkurang. Namun, helikopter mereka terus beroperasi dari Mobile Sea Base Hercules milik Angkatan Laut, fregat Underwood, dan kapal perusak Conolly. Operasi OH-58D terutama melibatkan penerbangan pengintaian di malam hari, dan tergantung pada persyaratan pemeliharaan dan penjadwalan kapal, helikopter Angkatan Darat biasanya dirotasi dari pangkalan laut bergerak dan kapal kombatan lainnya ke pangkalan darat setiap tujuh hingga empat belas hari. Pada tanggal 18 September 1989, sebuah OH-58D jatuh selama latihan penembakan malam dan tenggelam, tetapi tanpa kehilangan personelnya. Ketika Mobile Sea Base Hercules dinonaktifkan pada bulan September 1989, semua kecuali lima helikopter OH-58D ditempatkan kembali ke benua Amerika Serikat. 

OH-58D Kiowa Warrior aktif bertugas dalam berbagai Operasi Militer sepanjang tahun 1980-2000an. (Sumber: https://discovermilitary.com/)

Pada tahun 1989, Kongres mengamanatkan bahwa Pengawal Nasional Angkatan Darat akan mengambil bagian dalam Perang melawan Narkoba negara itu, yang memungkinkan mereka untuk membantu badan-badan penegak hukum federal, negara bagian dan lokal dengan “hak kongres khusus”. Sebagai tanggapan, Biro Pengawal Nasional Angkatan Darat menciptakan Reconnaissance and Aerial Interdiction Detachments (RAID) pada tahun 1992, yang terdiri dari berbagai unit penerbangan di 31 negara bagian dengan 76 helikopter OH-58A yang dimodifikasi khusus untuk menjalankan peran pengintaian / pemblokiran dalam perang melawan obat-obatan terlarang. Selama tahun 1994, 24 negara bagian melakukan lebih dari 1.200 misi pengintaian dan pemblokiran obat-obatan terlarang, dimana mereka melakukan banyak dari misi ini pada malam hari. Akhirnya, program ini diperluas untuk mencakup 32 negara bagian dan terdiri dari 116 helikopter, termasuk helikopter latih khusus di Situs Pelatihan Penerbangan Angkatan Darat Barat (WAATS) di Marana, Arizona. Misi program RAID kini telah diperluas untuk mencakup perang melawan terorisme dan mendukung kegiatan Patroli Perbatasan AS dalam mendukung pertahanan tanah air. Area Operasi (AO) unit National Guard RAID adalah satu-satunya di Departemen Pertahanan yang sepenuhnya beroperasi  di dalam perbatasan Amerika Serikat. Selama Operation Just Cause tahun 1989, tim yang terdiri dari helikopter OH-58 dan helikopter serang AH-1 Cobra menjadi bagian dari Satuan Tugas Penerbangan selama pengamanan Fort Amador di Panama. Sebuah OH-58 ditembaki oleh tentara Angkatan Pertahanan Panama dan jatuh 100 yard (90 m) jauhnya, di Teluk Panama. Pilotnya berhasil diselamatkan tetapi co-pilot meninggal. Pada tanggal 17 Desember 1994, Army Chief Warrant Officers (CWO) David Hilemon dan Bobby Hall meninggalkan Camp Page, Korea Selatan dalam misi pelatihan rutin di sepanjang Zona Demiliterisasi (DMZ). Penerbangan mereka dimaksudkan untuk menuju ke sebuah titik yang dikenal sebagai Checkpoint 84, di selatan “zona larangan terbang” DMZ, tetapi OH-58C Kiowa mereka tersesat hampir enam kilometer ke Provinsi Kangwon, di dalam wilayah udara Korea Utara, akibat kesalahan dalam menavigasi medan yang tertutup salju dan berbatu. Helikopter itu ditembak jatuh oleh pasukan Korea Utara dan CWO Hilemon tewas. CWO Hall ditawan dan pemerintah Korea Utara bersikeras bahwa kru helikopter tersebut telah memata-matai mereka. Setelah lima hari negosiasi Korea Utara menyerahkan tubuh Hilemon kepada otoritas AS. Negosiasi sempat gagal untuk mengupayakan pembebasan segera Hall. Setelah 13 hari di penahanan, Hall dibebaskan pada tanggal 30 Desember, tanpa cedera. 

OH-58D Kiowa Warrior dalam Operasi Desert Shield, 1990. Dalam Perang Teluk I, Kiowa Warrior memiliki tingkat kesiapan operasi yang sangat tinggi, mencapai 92%. (Sumber: https://nara.getarchive.net/)

Selama Operasi Badai Gurun, 115 helikopter OH-58D yang dikerahkan berpartisipasi dalam berbagai misi tempur kritis dan sangat penting untuk keberhasilan misi pasukan darat. Selama Operasi Desert Shield dan Desert Storm, Armada Kiowa terbang hampir selama 9.000 jam dengan tingkat kemampuan menjalankan misi penuh hingga level 92 persen. Kiowa Warrior memiliki rasio jam perawatan dan jam terbang terendah dibandingkan helikopter tempur manapun dalam perang Amerika. Angkatan Darat AS juga telah menggunakan OH-58D selama Operasi Iraqi Freedom di Irak dan Operasi Enduring Freedom di Afghanistan. Dalam kedua operasi tersebut karena pertempuran dan kecelakaan, lebih dari 35 helikopter telah hilang, dengan 35 pilot nya tewas. Kehadiran mereka juga membantu menyelamatkan nyawa, dimana mereka telah digunakan untuk menyelamatkan prajurit-prajurit yang terluka di medan tempur meskipun helikopter itu sendiri berukuran kecil. Dalam sebuah catatan pertempuran pada  tanggal 24 Agustus 2009, dikisahkan bahwa 30 pasukan zeni Angkatan darat AS menghadapi sekitar 100 pasukan musuh yang dipersenjatai dengan senapan mesin berat, tembakan senjata kecil, dan granat berpeluncur roket. Kolonel Mike Morgan, komandan tim helikopter Kiowa yang bertugas bersama Divisi Airborne ke-82 di kawasan Kandahar, Afghanistan berulang kali menggerakkan helikopternya di dekat tembakan granat berpeluncur roket dan tembakan senapan mesin berat, dimana aksinya ini memungkinkan dia untuk menyerang dan menghancurkan posisi musuh, sekaligus menyelamatkan nyawa para prajurit zeni. Dua kali, selama pertempuran yang berlangsung enam jam, tim dua helikopter pimpinan Kolonel Morgan mengisi bahan bakar, dipersenjatai kembali, dan kembali bertempur. Tim mereka tetap bertahan di tengah pertempuran bahkan setelah kehabisan roket dan amunisi kaliber .50 dua kali. Sebagai pilot utama, dia dan sebuah Kiowa yang mengikuti membuat dua kali terbang melintas langsung di atas musuh, untuk menarik perhatian tembakan dari pasukan musuh di darat. Atas tindakannya Kolonel Morgan dianugerahi Medali Silver Star, yang merupakan medali masa perang tertinggi ketiga yang bisa diberikan untuk keberanian dalam menjalankan tugas. Medali ini diberikan kepada Kolonel Morgan oleh Menteri Pertahanan Robert Gates di Kandahar Airfield pada bulan Maret 2010. Selain Silver Star, Kolonel Morgan juga mendapatkan dua medali Distinguished Flying Cross dan satu Army Commendation Medal with Valor.

OH-58D di Kandahar-Afghanistan tahun 2011. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Sementara itu di kesempatan lain, crew Kiowa juga unjuk gigi di Afghanistan. Dari Forward Airbase Salerno, Chief Warrant Officers Keith Lacy dan David Fleckenstein sedang memburu tim mortir pemberontak Taliban diatas langit ketika berita datang melalui radio. Sebuah pasukan sedang diserang. Dua pria, yang menyamar sebagai pekerja pemeliharaan menara seluler di puncak gunung di luar desa Musa Khel, Afghanistan, dan sempat berjabat tangan dan berbagi makanan dengan Peleton Pertama Kompi Charlie, Infanteri 1/26. Tetapi ketika para tentara dari kompi itu mulai berjalan menuruni bukit pada malam tanggal 1 Agustus, para pekerja reparasi itu mulai melemparkan granat ke bawah gunung dibawah mereka. Sedikitnya empat tentara terluka. Seorang sersan staf AS, Lani Abalama, terkena pecahan peluru di satu tangan dan kedua kakinya. Para prajurit Amerika itu terjepit di sisi punggung bukit dengan sudut yang buruk untuk melakukan tembakan balasan. Mereka jelas membutuhkan dukungan udara. Sekarang, Lacy dan Fleckenstein, yang sedang menerbangkan sepasang OH-58 Kiowa Warriors, berlomba ke lokasi serangan. Tidak sulit untuk menemukannya – mereka sudah memiliki pos pengamatan terdekat yang dipetakan, dan menara itu “terisolasi di puncak bukit,” jelas Lacy. “Tidak ada desa atau qalat lain (kompleks pemukiman) di sekitarnya, dan kami akan dapat (melihat) orang lain di luar kompleks itu dengan sangat mudah.” Fleckenstein dengan cepat menembakkan dua roket ke sisi selatan menara seluler untuk menekan musuh. Peleton Amerika di darat berada “sangat dekat” dengan tembakan helikopter itu. Para prajurit berjongkok di sisi utara lereng, hanya sekitar 150 kaki menuruni lereng dan 50 kaki lagi ke sisi puncak. Dekatnya jarak mereka ini membutuhkan bidikan yang sangat hati-hati dari para pilot. Tapi para prajurit itu terus dilempari granat.

Sebuah OH-58D Kiowa Warrior menembakkan roket selama uji terbang di Afghanistan timur pada 1 Maret 2012. Di Afghanistan, OH-58D tidak hanya menjalankan operasi pengintaian, namun juga bantuan udara ringan bagi pasukan darat yang terjebak kontak senjata dengan musuh. (Sumber: ERIC PAHON / US ARMY / https://www.stripes.com/)

Fleckenstein harus menyerang. “Saya sedikit gugup,” jelas Fleckenstein, seorang pria berusia 28 tahun yang tampak muda dengan sikap yang tenang. “Tapi strobo (penanda yang terlihat dengan perlengkapan penglihatan malam) yang kami jatuhkan segera membantu untuk mengidentifikasi posisi mereka, serta karena kami telah berada di area itu berkali-kali dan memahami helikopter yang kami gunakan, kami cukup paham di mana kami bisa menembak.” Lacy lalu menelepon kembali ke markasnya di Pangkalan Operasi Aju Salerno, sekitar 15 mil ke tenggara, di jantung provinsi Khost, pesannya: ini adalah waktunya untuk “membawa” helikopter medevac guna menyelamatkan yang terluka. Setelah serangan roket Fleckenstein, Lacy menukik dari sisi utara punggung bukit, melepaskan semburan peluru dari senapan mesin kaliber .50-nya. Dengan kacamata penglihatan malam mereka, kedua pilot dapat melihat samar-samar sinar penargetan inframerah berwarna hijau – yang berasal dari senjata prajurit di darat – melintasi struktur, serta percikan dan kilatan peluru yang memantul dari dinding menara seluler. Sepasang helikopter Kiowa itu bergantian menembaki musuh. Satu helikopter akan menembak saat yang lain bermanuver untuk melakukan penembakan senjata berikutnya mendekati punggung bukit. Ketika Fleckenstein keluar dari posisinya untuk menembakkan tembakan roket, komandan Tim Bravo, Kapten Joshua Simpson, yang ada di sebelah kirinya menembakkan senapan M-4 keluar dari sisi terbuka helikopter untuk mempertahankan tekanan ke pihak musuh. Segera setelah mereka mencapai sasaran, Lacy menukik dan menembakkan lebih banyak peluru senapan mesin kaliber .50, diikuti oleh dua roket lagi dari Fleckenstein. Kebingungan akibat dari ledakan dan peluru memiliki efek yang diinginkan. Peleton Pertama tidak lagi menerima kontak dari dua prajurit pemberontak, dan helikopter akhirnya medevac memiliki ruang untuk terbang dan mengevakuasi mereka yang terluka. Sekali lagi Kiowa menunjukkan kemampuannya sebagai helikopter pengintai bersenjata ringan, yang selain dapat menjalankan misi pengintaian, juga dapat menjalankan peran gunship ringan.

Meski memiliki body kecil, namun kalo diperlukan OH-58D Kiowa Warrior dapat membantu mengevakuasi prajurit dari medan tempur. (Sumber: https://id.pinterest.com/)

Di Irak, OH-58D menerbangkan 72 jam misi terbang per bulan, sedangkan di Afghanistan, mereka terbang 80 jam per bulan. Pada tahun 2013, Bell menyatakan bahwa OH-58 telah memiliki 820.000 jam tempur, dan tingkat kemampuan menjalankan misi hingga 90%. Upaya pertama untuk menggantikan OH-58 adalah lewat program RAH-66 Comanche dari Light Helicopter Experimental, yang kemudian dibatalkan pada tahun 2004. Umur airframe dan kerugian yang jatuh menyebabkan program Helikopter Pengintai Bersenjata baru dijalankan, yang kemudian berwujud dalam Bell ARH-70, namun program ini kemudian dibatalkan pada tahun 2008 karena pembengkakan biaya. Sementara itu Analisis Alternatif (AoA) untuk program AAS menemukan bahwa Kiowa yang beroperasi bersama drone RQ-7 Shadow UAV adalah solusi yang paling terjangkau dan mumpuni; disamping itu mereka juga mengatakan bahwa AH-64E Apache Guardian adalah solusi “langsung” yang paling baik untuk peran helikopter pengintai. Namun dalam studi menyatakan bahwa Apache harganya 50 persen lebih mahal daripada Kiowa untuk bisa beroperasi dan membutuhkan lebih banyak perawatan; studi menunjukkan bahwa jika Apache digunakan sebagai pengganti Kiowa di Irak dan Afghanistan, total biaya operasi akan menjadi $ 4 miliar lebih besar, tetapi akan menghemat $ 1 miliar per tahun dalam hal biaya operasi dan pemeliharaan. AoA 2010 menemukan bahwa Apache yang bekerja sama dengan UAV adalah pilihan yang optimal; dengan jumlah operasional yang telah dikurangi, total 698 Apache dapat mengisi peran tersebut. Dana untuk mengupgrade Apache dalam peran ini akan diambil dari penghematan yang didapat dari penghentian pengoperasian Kiowa.

Setelah program RAH-66 Comanche dibatalkan tahun 2004, hingga kini pengganti OH-58D belum secara dfinitif diputuskan. (Sumber: https://www.super-hobby.com/)

SPESIFIKASI UMUM OH-58D KIOWA WARRIOR

Crew : 2 – pilot dan co-pilot / observe

Penerbangan Perdana : 6 Oktober 1983

Panjang termasuk rotor : 42 ft 2 in (12.85 m)

Lebar termasuk rotor : 35ft (10.67 m)

Tinggi keseluruhan : 12 ft 10 in (3.93 m)

Berat kosong : 3,829lb (1,737 kg)

Bobot kotor : 5,500lb (2,495 kg)

Mesin : 1 x T703-AD-700 gas turbine engine, berkekuatan 650hsp

Rotor : 4-blade main rotor dan 2-blade anti-torque rotor

Ketinggian jelajah : 15,000ft (4,575 m)

Jarak jangkauan : 161 mil (556 km, 140 nmi)

Kecepatan Maximum : 149mph (240 km/jam, 129 kn)

Kecepatan jelajah : 111kn (205.7 km/jam)

Kecepatan menanjak : 100ft/min (30.48 m/menit)

PERSENJATAAN

Rudal : Rudal Anti Tank AGM-114 Hellfire dan Rudal Udara ke Udara AIM-92 Stinger

Roket: Roket Hydra 70

Senapan Mesin: Senapan mesin M296 .50-calibre (kaliber 12.7mm) modifikasi dari senapan mesin Browning M2

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

The Bell JetRanger Family By v1.1.1 / 01 mar 19 / greg goebel

http://www.airvectors.net/avb206.html#m8

OH-58D Kiowa Warrior Armed Reconnaissance Helicopter

OH-58D Kiowa Warrior

https://fas.org/man/dod-101/sys/ac/oh-58.htm

Inside Afghanistan’s Deadly Copter War By Bill Ardolino, 08.26.11 6:30 AM

https://www.google.com/amp/s/www.wired.com/2011/08/afghanistans-copter-war/amp

OH-58 Kiowa

https://www.globalsecurity.org/military/systems/aircraft/oh-58.htm

Bell OH-58 Kiowa Armed Scout and Reconnaissance / Light Attack Helicopter 

https://www.militaryfactory.com/aircraft/detail.asp?aircraft_id=1

BELL HELICOPTER HONORS OH-58 “KIOWA WARRIORS” IN THE FIRST OF THE “HEROES OF AVIATION” SERIES PAINTINGS

https://investor.textron.com/news/news-releases/press-release-details/2011/Bell-Helicopter-Honors-OH-58-Kiowa-Warriors-in-the-first-of-the-Heroes-of-Aviation-Series-paintings/default.aspx

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Bell_OH-58_Kiowa

https://en.m.wikipedia.org/wiki/AGM-114_Hellfire

https://en.m.wikipedia.org/wiki/AIM-92_Stinger

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Hydra_70

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Minigun

https://en.m.wikipedia.org/wiki/M2_Browning

https://en.m.wikipedia.org/wiki/AN/ALQ-144

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *