Kisah “Penembak Pintu” Helikopter CH-53D Dalam Misi Rahasia di Laos, September 1970

Operasi Tailwind adalah sebuah operasi rahasia yang dilakukan oleh unit kecil Angkatan Darat Amerika Serikat dan pasukan sekutu mereka asal suku Montagnard yang dilakukan di wilayah Laos tenggara selama Perang Vietnam antara tanggal 11-14 September 1970. Tujuan dari Operasi ini adalah untuk menciptakan sebuah serangan pengalihan dari ofensif Tentara Kerajaan Laos dan untuk memberi tekanan pada pasukan pendudukan asal Tentara Rakyat Vietnam (PAVN-Vietnam Utara), yang selama ini menjadikan wilayah netral Laos sebagai jalur logistik mereka ke Vietnam Selatan. Dalam operasi ini sebuah elemen pasukan Komando Pasukan Khusus AS/Baret Hijau dan komando Montagnard (Pasukan Hatchet) seukuran kompi dari Military Assistance Command, Vietnam Studies and Observations Group (MACV-SOG or SOG) ditugaskan untuk menjalankan misinya. Dalam menjalankan misi rahasia, pasukan ini didukung oleh satuan helikopter berat milik Marinir Amerika. Berikut adalah kisah operasi ini dari sudut pandang crew penembak pintu helikopter Marinir, yang menjadi tipikal dari operasi serbu udara helikopter yang dilakukan militer Amerika dalam Perang Vietnam.

Meskipun sejak 23 Juli 1962 telah dinyatakan sebagai wilayah netral oleh Vietnam Utara dan Amerika, namun karena Hanoi tidak pernah mengindahkan perjanjian yang dibuat dan terus menggunakan wliayah Laos sebagai wilayah pendukung aktivitas militernya di Vietnam Selatan, maka cukup lama militer Amerika telah melaksanakan misi rahasia memerangi tentara komunis di Laos. (Sumber: https://www.history.com/)

LATAR BELAKANG

Sersan Marinir Larry Groah, seorang penembak pintu (door gunner) pada helikopter besar milik USMC, baru saja kembali dari misi rahasia pada bulan September 1970 ketika dia dipanggil ke meja petugas intelijen dan menyerahkan selembar kertas untuk dibaca dan ditandatangani. Sersan berusia 23 tahun itu diberi tahu bahwa jika ia pernah membahas misi itu, ia akan masuk penjara selama 10 tahun dan membayar denda yang besar. Misi rahasia, yang bernama Operation Tailwind ini, dilakukan di Laos oleh skuadron helikopter marinir, pesawat Angkatan Udara, pasukan Pasukan Khusus AS dan pasukan milisi dari suku Montagnard di lokasi sekitar, yakni etnis minoritas di Vietnam Selatan. Sebagian besar dari kisah operasi ini tidak diketahui selama beberapa dekade. Sampai pada akhirnya Operasi ini memperoleh ketenaran saat dimuat dalam berita CNN / Time bulan Juni 1998, yang secara keliru menyatakan penggunaan gas syaraf yang telah dilarang penggunaannya oleh pasukan AS selama operasi Tailwind. Setelah laporan CNN ditayangkan, misi itu kemudian diklasifikasikan tidak lagi menjadi rahasia. Groah dan yang personel lainnya akhirnya bisa menceritakan kisah mereka dalam misi rahasia ini. Pada bulan Juli 1970, Groah bertugas sebagai mekanik struktural, atau seperti yang dia sebut, “metal bender,” di Skuadron Helikopter Marinir ke-463, yang ditempatkan di Fasilitas Udara Marble Mountain dekat Da Nang. HMH-463 menerbangkan banyak jenis misi, termasuk memasok kembali, memasukkan / mengekstraksi pasukan dan mengangkut pertunjukan USO ke unit-unit di lapangan. Groah adalah penembak pintu di helikopter bermesin ganda CH-53 D Sea Stallion, helikopter terbesar dan terkuat di inventaris Marinir. 

Sikorsky CH-53D Sea Stalion, helikopter terbesar dalam inventaris Marinir Amerika dalam Perang Vietnam. (Sumber: Pinterest)

Sebulan sebelum waktu RTD (waktu pulang ke rumah) baginya, pada 4 September 1970, skuadron Groah menerima “perintah siaga,” bersiap-siap untuk menjalankan Misi 72, kode untuk setiap misi udara Marinir ke wilayah Laos. Nama kode misi khusus ini adalah Operation Tailwind, sebuah serangan darat yang dipimpin oleh Pasukan Khusus AS dengan dukungan dari lima Sea Stallion dari HMH-463 dan empat helikopter tempur AH-1G Cobra dari skuadron helikopter serang ringan, HML-367. Pasukan khusus Baret Hijau yang akan memimpin serangan bermarkas di Kontum, sebuah kota di dataran tinggi pegunungan Vietnam Selatan di sepanjang perbatasan dengan Laos dan Kamboja. Pada sore hari tanggal 7 September, skuadron Groah mendapatkan pesan “turn and burn,” untuk melakukan penerbangan ke Kontum. Para crew Marinir menghabiskan malam di sana, dan setelah makan pagi, para kru udara menuju helikopter-helikopter mereka dan menjalankan pemeriksaan preflight, sementara para perwira menerima pengarahan misi. Helikopter-helikopter itu rencananya akan membawa 16 pasukan Baret Hijau AS dan lebih dari prajurit 100 Montagnard yang diorganisir menjadi “Pasukan Hatchet” – unit komando milisi lokal yang terlatih dengan baik yang diarahkan oleh Baret Hijau dalam misi rahasia ke wilayah musuh, tempat mereka melakukan penyergapan, menghancurkan persediaan logistik dan kalau tidak, menyerang Tentara Vietnam Utara dan Viet Cong. Pasukan Hatchet sering pergi ke Kamboja dan Laos, yang resminya merupakan negara netral, dimana pasukan tempur A.S. tidak diizinkan untuk masuk, meskipun NVA telah melakukan operasi di dari sana untuk mendukung para petempur komunis di Vietnam Selatan. Menggunakan helikopter angkat berat yang lebih besar dan lebih kuat dalam misi ini dianggap masuk akal karena tiga Sea Stallion, dengan kapasitas angkutnya dirancang untuk masing-masing bisa membawa 55 prajurit, akan dapat membawa seluruh personel Pasukan Hatchet yang berjumlah 136 orang dan membawanya ke daerah target. Pemilihan satuan Marinir juga bukan kebetulan, karena pada tahun-tahun sebelumnya, para penerbang Korps Marinir dari HMH-463 telah terlibat dalam operasi-operasi utama SOG di wilayah Laos, dan para petinggi Marinir tahu bahwa misi angkut pasukan tempur dan pasokan ke Laos akan selalu mengakibatkan helikopter tertembak oleh tembakan musuh. Dalam misi semacam ini penembak pintu seperti Groah akan segera membawa amunisi tambahan serta menempatkan “Stinger” — penembak pintu Marinir yang biasanya dipersenjatai dengan senapan mesin M-60 kaliber 7.62mm atau senapan mesin berat Browning kaliber .50 — di pintu belakang CH-53D. Dalam misi ini Groah mengganti senapan mesin kaliber .50 dengan senapan mesin serbaguna M-60 karena itu senapan ini menawarkan lebih banyak kemampuan manuver dan, “Jika kita tertembak, aku bisa membawanya untuk melawan musuh, layaknya senapan mesin infanteri, dibanding senapan mesin kaliber .50 yang terlalu berat untuk dibawa. ” demikian pikir Groah.

Penembak pintu belakang helikopter CH-53. (Sumber: https://www.etsy.com/)

Rencana Operasi Tailwind meminta helikopter di skuadron Groah untuk menurunkan pasukan Baret Hijau dan Montagnard di zona pendaratan dekat Chavane, sekitar 60 mil di dalam wilayah Laos. Awak helikopter diberitahu untuk bersiap menghadapi tembakan musuh yang hebat — dan kemungkinan akan jatuh banyak korban. Operation Tailwind adalah respons terhadap aksi lain yang didukung AS di Laos, Operation Gauntlet yang dijalankan CIA. Operation Gauntlet CIA diluncurkan pada 3 September 1970, dengan 5.000 pasukan non reguler yang tujuannya adalah untuk menyerang jalur komunikasi musuh di Laos selatan dan untuk membersihkan tepi timur dataran tinggi, menurut laporan Departemen. Dalam operasi ini CIA juga bermaksud untuk mengirimkan senjata dan bantuan lainnya kepada unit gerilyawan dari suku-suku pegunungan Hmong di Laos yang sedang memerangi NVA untuk menguasai medan utama di bagian selatan negara itu. Tetapi operasi CIA itu kenapa menghadapi pasukan NVA yang tangguh, dan karenanya militer AS dipanggil untuk membantu. Pasukan Hatchet dari Operasi Tailwind, mendarat tepat di selatan unit pasukan CIA, dan akan menyerang pasukan NVA di daerah itu, memaksa pihak Vietnam Utara untuk mengalihkan sebagian tentara mereka dari wilayah pertempuran dengan pasukan CIA. Misi Pasukan Hatchet juga termasuk ditugaskan untuk menghancurkan simpanan amunisi dan mengumpulkan dokumen dan intelijen lainnya yang dapat digunakan untuk melawan musuh. 

Prajurit non reguler asal Suku Montagnard dalam Perang Vietnam. (Sumber: Pinterest)

PERSIAPAN

Setelah heli lepas landas dari Kontum pada 8 September, mereka terbang ke utara ke daerah persiapan operasi di lapangan terbang Angkatan Darat di Dak To. Mereka menunggu lampu hijau untuk terbang pergi ke Laos tetapi ketika diberitahu bahwa terdapat cuaca buruk di zona pendaratan, hal ini menunda pelaksanaan misi Pasukan Hatchet. Ketika Marinir berkeliaran di sekitar helikopter mereka, sekelompok anak-anak muncul entah dari mana. Mereka tidak tahu dari mana anak-anak ini berasal, karena Marinir berada di tanah yang tak bertuan. Groah dan krunya membuka beberapa kotak ransum C dan membagikan permen. Tiba-tiba, anak-anak pergi secepat mereka tiba — yang seharusnya menjadi petunjuk bahwa ada sesuatu yang terjadi. Groah, berharap untuk tidur dapat siang, dengan berbaring di kursi pasukan dalam helikopternya, dengan menggunakan jaket antipeluru sebagai bantal. Dia baru saja akan tertidur ketika sebuah ledakan menyentaknya. Dia melompat dan melihat awan putih besar asap, tidak jauh dari helikopter Marinir. Groah berlari dengan senapan M16-nya, mencari perlindungan, ketika dia menyadari bahwa dia lupa membawa bandolier amunisi pelurunya. Dia berlari kembali ke dalam helikopter untuk mengambilnya. Ketika Groah keluar, dia melihat salah satu anak buahnya mencoba berlindung di bawah helikopter lainnya. “Jangan berlindung di sana,” teriak Groah. “NVA sedang mencoba untuk menembaki helikopter kita!” 

Crew Skuadron HMH-463 di Pangkalan Udara Marble Mountain-Da Nang, Vietnam Selatan tahun 1968. (Sumber: Pinterest)

Marinir berada di tempat terbuka, tanpa tempat untuk berlindung. Groah melihat beberapa pria berkerumun di sekitar pohon dan berteriak agar mereka menyebar. Dia melompat ke sebuah lubang kawah tua di dekat garis pohon, berjongkok dan menghitung ada lima roket melewati kepalanya. Groah mengingat apa yang dikatakan ayahnya tentang pengalamannya dalam Perang Dunia II: “Nak, jika ada satu (peluru mortir) yang tidak kamu dengar, itu yang akan mengenaimu.” Marinir beruntung bahwa tidak ada yang terluka atau terbunuh, tetapi sebuah helikopter Cobra Angkatan Darat yang diparkir di landasan terbang telah terkena tembakan, dan amunisinya mulai “berletusan,” membuat semua orang berlarian mencari perlindungan. Akhirnya lampu hijau untuk misi Operasi Tailwind tidak datang hari itu, dan Marinir terbang kembali ke Marble Mountain. Mereka berencana untuk mencobanya lagi pada tanggal 11 September. Groah adalah penembak pintu kiri pada helikopter pencari dan penyelamat (SAR), dengan nomor YH-20, yang dijuluki “Bits and Pieces” oleh kepala kru Sgt. Lonny Spalding. Yang juga ada di helikopter itu adalah pilot Letnan Mark McKenzie sebagai HAC (Helicopter Aircraft Commander), co-pilot Letnan Satu Raul Bustamante, penembak pintu kanan Sgt. Ron Whitmer dan Kapten Henry “Chip” Cipolla, asisten petugas pemeliharaan skuadron, yang ingin ikut pergi dalam penerbangan dan membantu dalam menemukan posisi musuh. 

Helikopter tempur Bell AH-1G, tipikal helikopter pengawal pada misi serbu udara pada bagian akhir Perang Vietnam. (Sumber: https://www.goodfon.com/)

Awak YH-20 adalah tim penyelamat untuk awak udara yang helikopternya jatuh karena tembakan musuh atau kegagalan mekanik. Dalam operasi penyelamatan, para kru akan menjatuhkan tangga aluminium setinggi 120 kaki yang terpasang di pintu belakang YH-20, dan pasukan di darat yang akan diselamatkan akan menghubungkan cincin “D” harness mereka sehingga mereka dapat ditarik ke tempat yang aman, tergantung di bawah helikopter seperti ekor layang-layang. Berlatih sebelum misi, para pilot melayang-layang di ketinggian 100 kaki sementara kru melemparkan tangga keluar. Kemudian mereka naik menanjak 50 kaki dan dengan dengan lembut turun untuk mensimulasikan membawa prajurit yang tergantung dari tanah. Sekitar pukul 8 pagi pada 11 September, perwira helikopter diberi pengarahan oleh Letnan Kolonel Harry Sexton, komandan skuadron Cobra, yang telah memiliki Call Sign “Scarface” yang intimidatif. Helikopter-helikopter Cobra akan menyediakan perlindungan saat pendaratan dan penjemputan. Untuk misi semacam ini, masing-masing Cobra memiliki dua peluncur roket kaliber 2.75 yang bisa menembakkan 19 roket atau dua pod roket dengan tujuh tembakan, satu minigun 7,62mm yang menembakkan 6.000 peluru per menit, dan sebuah peluncur granat kaliber 40 mm. Dengan persenjataan semacam ini, tim udara ini dinilai cukup memiliki daya tembak yang mumpuni. Sekitar pukul 11.55 pagi, marinir mendapat lampu hijau untuk “mengirimkan paket.” alias menjalankan operasi sesuai rencana.

PENGIRIMAN PASUKAN

Helikopter meninggalkan Dak To dan menuju zona pendaratan 60 mil di dalam wilayah Laos. Namun, zona pendaratan itu hanya cukup besar untuk menampung satu CH-53 pada suatu waktu. Itu berarti periode pendaratan akan berlangsung lebih lama — dan memberi kesempatan penembak musuh mendapatkan cukup banyak waktu untuk menembaki pasukan yang turun. Helikopter-helikopter tempur Cobra akan “membersihkan” zona pendaratan dengan menembaki dengan gencar tempat itu untuk menekan pasukan musuh sebelum helikopter Marinir datang untuk menurunkan Pasukan Hatchet. Meski begitu, helikopter yang mendekati zona pendaratan satu per satu tetap diserang terus-menerus. Ko-pilot pesawat pemimpin, Letnan Satu Bill Beardall, mengenang, “Ketika kami melakukan pendekatan ke LZ, tembakan musuh benar-benar semakin kuat dan saya dapat mengatakan bahwa helikopter-helikopter kami ditembaki dengan gencar, dan kemudian kami menghitung ada 50 tembakan yang menghantam sembilan helikopter Marinir yang mengambil bagian dalam misi ini. ” Setelah mendaratkan Pasukan Hatchet, Marinir terbang kembali ke Kontum untuk mengikuti briefing ulang. Whitmer dan Groah memperbaiki kerusakan akibat pertempuran sebanyak yang mereka bisa, memastikan bahwa semua helikopter siap terbang lagi. Marinir kemudian kembali ke Marble Mountain dan ditempatkan dalam kondisi siaga selama satu jam. 

Hatchet Force masuk ke dalam helikopter dalam Operasi Tailwind. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

Menjelang sore hari berikutnya, 12 September, Marinir mendapat kabar bahwa tentara Pasukan Hatchet sedang dalam kesulitan dan perlu untuk diselamatkan. Helikopter-helikopter Marinir segera menuju ke Kontum. Dalam briefing sekitar jam 7 pagi pada tanggal 13 September, pilot helikopter di Kontum diberitahu bahwa pasukan darat telah menghadapi pasukan besar di sebuah markas musuh dan menderita banyak korban yang membutuhkan medevac (evakuasi medis lewat udara). Tapi sekali lagi, cuaca buruk membuat Marinir bersiaga. Sekitar pukul 10.45 pagi, para pilot mengetahui bahwa misi itu diberi lampu hijau untuk “Jalan.” Mereka terbang ke Dak To, mengisi bahan bakar dan berangkat ke lokasi ekstraksi. Groah kembali terbang dengan helikopter SAR, YH-20. Dia mengawaki senjata di sebelah kiri, dan Whitmer di sebelah kanan. Pilotnya adalah Letnan Satu Mark McKenzie, dan Bustamante adalah co-pilot. Tepat sebelum helikopter meluncur keluar dari Kontum, Cipolla, petugas pemeliharaan, melompat ke atas, mengatakan dia tidak ingin ketinggalan aksi.

EVAKUASI PERTAMA

Setelah tiba di lokasi pickup Hatchet Force, helikopter Marinir berputar-putar di area evakuasi mereka, sementara pesawat pengawas Angkatan Udara OV-10 Bronco menandai lokasi ekstraksi dengan peluru asap. Pada ketinggian 4.000 kaki pilot Bronco menyadari bahwa zona pendaratan itu kecil, mengingat ukuran besar dan kuat dari helikopter CH-53. Meski begitu, Sexton, pemimpin flight Cobra, memandu helikopter Marinir ke tempat terbuka itu. Para awak pesawat diberi penjelasan bahwa gas CS (gas air mata) akan digunakan pada pasukan musuh selama proses ekstraksi dan mereka diminta menyiapkan masker pelindung mereka. Helikopter Marinir pertama, YH-14, dipiloti oleh perwira eksekutif skuadron, Mayor J. Carol (nama depan tidak tersedia), dengan Beardall sebagai ko-pilot. Awak crew terdiri dari Sersan Henderson (nama depan tidak tersedia), Sersan George Follin dan Kopral Mario Quesada. Juga ada Kolonel Angkatan Darat, John Sadler, komandan dari unit Pasukan Khusus dengan kode nama “Crossbow”, dan perwira medis Angkatan Darat. Ketika helikopter pemimpin mulai melakukan melakukan pendekatan ke zona pendaratan, co-pilot Beardall kemudian mengingat, “kami menjadi dekat dengan tembak menembak, dan masker gas saya membatasi pandangan saya.” 

Crew Helikopter Cobra di Dak To, bersiap mendukung Operasi Tailwind. (Sumber: https://imgur.com/)

Carol mendapati zona itu terlalu sempit dan berusaha untuk terbang keluar, tetapi bilah baling-balingnya menabrak pohon, dan tembakan senjata ringan menghantam helikopter dari segala arah. Sebelum Carol bisa mencapai ketinggian, pasukan NVA menembakkan dua roket B-40 (RPG-2 versi Vietnam Utara) yang menghantam perut helikopter, memotong saluran bahan bakar dan hidrolik. Follin berteriak kepada pilot untuk menurunkan helikopter, dan Beardall mengontak via radio, “Mayday! Mayday! Kami akan turun. ” Helikopter SAR Groah segera terbang untuk beraksi, dan Sexton kembali ke daerah pendaratan untuk memimpin helikopter ke lokasi kecelakaan. Ketika pilot McKenzie mendengar panggilan darurat, ia memerintahkan kru nya untuk “mengenakan masker gas.” Groah mengenakan masker gas penerbangannya yang terhubung ke kabel sistem interkom. Tetapi hanya beberapa detik kemudian, masker gas McKenzie tidak berfungsi, dan Groah diperintahkan untuk memberikan maskernya kepada pilot, jadi dia harus mengenakan masker gas M17 tua tanpa kemampuan interkom. Meskipun Groah telah membersihkan dan memeriksa maskernya setidaknya seratus kali, dia takut “muntah” di dalamnya. Lebih mengkhawatirkan, ia kini tidak bisa berkomunikasi dengan kru lainnya. Jantungnya berdebar kencang, tetapi Groah dan senapan mesin M60-nya siap menghadapi musuh. 

Dalam misi-misi rahasia ke Laos, crew helikopter Marinir sudah bisa memprediksi akan adanya tembakan gencar musuh saat helikopter mencoba mendarat di Zona Pendaratan yang umumnya dikepung oleh musuh. (Sumber: Pinterest)

Ketika helikopternya turun ke lokasi kecelakaan, Groah meletakkan jarinya pada pelatuk dan bisa melihat bahwa daerah itu dikelilingi oleh asap yang ditimbulkan oleh tembakan helikopter-helikopter Cobra pimpinan Scarface, bersama dengan tembakan dari roket mereka dan peluncur granat 40 mm untuk melindungi awak helikopter yang jatuh. Ketika helikopter Groah melayang-layang sekitar 25 yard dari orang-orang  yang ada di atas tanah, dia mendengar “Bam! Bam! Bam! ” ketika sisinya dari pesawat itu dihantam tembakan dari senjata anti-pesawat NVA kaliber .51 — kilatan moncongnya menyala besar, pelurunya seolah-olah seukuran bola basket. Groah menekan pelatuk senapan mesin M60 nya dan tidak berhenti sampai dia membungkam kru senjata musuh itu. Ketika helikopter nya mulai bergoncang-goncang, dia tahu helikopter itu terkena masalah. Di dalam kokpit, para pilot dan kopilot berjuang untuk mempertahankan YH-20 tetap terbang di udara. Sementara itu, Whitmer mengawaki M60-nya di sisi kanan helikopter, saat helikopter-helikopter Cobra menembakkan lebih banyak tembakan perlindungan. 

Saat Zona Pendaratan menjadi terlalu “panas” oleh tembakan musuh, helikopter-helikopter Cobra menembakkan lebih banyak tembakan perlindungan dengan menggunakan roket dan senapan mesin yang dibawanya. (Sumber: Pinterest)

Cipolla dan Spalding melemparkan tangga ke bawah untuk para awak helikopter yang jatuh. Mereka semua berkumpul ke sana dan diangkat keluar dari zona pendaratan. Penyelamatan itu hanya membutuhkan waktu beberapa menit, tetapi bagi Groah itu seperti seumur hidup — semuanya bergerak seolah-olah dalam gerakan lambat. Saat helikopter rusak Groah meninggalkan lokasi penjemputan, helikopter itu terbang bergoncang tidak karuan ke seluruh penjuru langit. Para kru tidak tahu sejauh mana kerusakannya, tetapi baling-baling utama mengeluarkan suara yang terdengar seperti seseorang memukul drum, menandakan bahwa ada sesuatu yang sangat salah. Sekarang mereka khawatir apakah mereka akan berhasil kembali dengan selamat, para kru tentu tidak ingin jatuh dengan orang-orang yang baru diselamatkan masih bergantungan pada tangga. McKenzie menghubungi komandan Cobra, Sexton, memberi tahu kolonel itu bahwa ia perlu turun, memeriksa kerusakannya dan membiarkan orang-orang yang baru diselamatkan turun dari tangga. Helikopter-helikopter terbang menjauh dari lokasi penjemputan selama sekitar 10 menit, dan kemudian Cobra menyiapkan sebuah tempat mendarat terbuka. 

Aset udara yang digunakan pasukan Amerika di Vietnam untuk mendukung pasukan daratnya yang terkepung di zona pendaratan tidak hanya berasal dari helikopter seperti Cobra, namun juga dari pesawat pembom tempur AD-1 Skyraider. (Sumber: https://www.aviationarthangar.com)

McKenzie terbang rendah sehingga para crew yang diselamatkan bisa turun dari tangga. Mereka dijemput oleh helikopter Marinir lainnya. Spalding melakukan pengecekan dengan cepat dan memastikan bahwa helikopter itu bisa terbang ke Dak To. Kembalinya helikopter itu disambut dengan sorak-sorai, toss dan banyak wajah tersenyum. Sekarang setelah mendarat dengan aman di darat, para kru menyadari betapa seriusnya kerusakan helikopter mereka. Banyak peluru musuh telah memotong jalur hidrolik ke rotor ekor, dan satu peluru kaliber .51 hampir memotong setengah poros penggerak rotor ekor helikopter. Awak Helikopter Groah sangat beruntung. Groah dan Whitmer menghabiskan sisa hari memperbaiki kerusakan apa yang mereka bisa perbaiki, sambil menunggu dua helikopter lain dari Marble Mountain untuk membawa bagian-bagian sparepart pengganti yang diperlukan dan helikopter lain untuk menggantikan YH-14 yang jatuh. Helikopter itu telah dihancurkan di lokasi kecelakaan oleh pesawat pembom tempur AD-1 Skyraider milik Angkatan Udara, yang dipersenjatai dengan bom dan senapan mesin, untuk mencegah musuh mengambil bagian yang dapat digunakan, seperti senjata di atas helikopter, dan peralatan radio rahasia.

Selain memantau pasukan di darat pesawat OV-10 Bronco juga bisa ditugaskan untuk menjadi pesawat serang. (Sumber: Pinterest)

Setelah jatuhnya helikopter Marinir, evakuasi medis yang direncanakan pada 13 September dibatalkan. Cuaca menyedihkan sekarang telah menjadi faktor utama yang mengganggu evakuasi Pasukan Hatchet ketika badai tropis yang kuat pindah ke wilayah udara di atas lokasi pickup. 14 September akan menjadi kesempatan terakhir untuk mengeluarkan Pasukan Hatchet dari Laos. Masalah lain: Pasukan Khusus dan pasukan Montagnard telah sangat kekurangan amunisi dan berisiko dikalahkan oleh NVA yang semakin bergerak maju. Seorang “pengendali udara garis depan,” yang terbang dengan OV-10 Bronco Angkatan Udara yang mengawasi pergerakan musuh di medan tempur, mengatakan kepada komandan pasukan darat (baret hijau), Capt. Eugene McCarley, bahwa pesawat-pesawat Skyraider sedang dalam perjalanan untuk menjatuhkan gas air mata pada posisi tentara musuh. “Dia bisa melihat pasukan NVA bergerak maju.” McCarley mengatakan kepada penyelidik Departemen Pertahanan yang meninjau Operasi Tailwind setelah siaran CNN. “Kami hampir kehabisan amunisi. Kami kelelahan. Dia bisa membayangkan bahwa begitu mereka sampai di zona ekstraksi, mereka akan dikepung. Pesawat FAC dipanggil untuk melemparkan gas. ” 

EVAKUASI KEDUA

Kondisi cuaca masih buruk, tetapi awak helikopter marinir tidak bisa menunggu diam saja. Mereka harus segera mengevakuasi Pasukan Hatchet sekarang. Lima helikopter CH-53 siap berangkat — empat untuk mengangkut pasukan darat dan satu untuk bertugas sebagai helikopter penyelamat. Groah tidak ditugaskan untuk misi ekstraksi. Helikopter nya tidak bisa digunakan, dan dia sibuk memperbaiki kerusakan akibat pertempuran ketika seorang sersan staf mendekat. Pria itu dijadwalkan untuk kembali ke Amerika dalam waktu beberapa hari (sebenarnya tidak jauh beda dengan Groah) dan menanyakan apakah Groah dapat mengambil posisinya dalam misi tersebut. Hal ini sudah menjadi kewajaran dalam pengalaman prajurit-prajurit Amerika di Vietnam jelang kepulangan mereka ke Amerika, dimana mereka tidak akan mengambil risiko mengikuti misi-misi berbahaya. Groah setuju dan ia akan menjadi penembak pintu kiri pada helikopter pemimpin, YH-16. Dia membawa senapan mesinnya sendiri untuk yang dipasang di helikopter itu, karena Groah lebih percaya pada senjata yang selama ini ia rawat sendiri, ketimbang menggunakan senjata orang lain. HAC pada YH-16 adalah LtCol R.Leisy dan Capt Art Picone sebagai co-pilot. Ssgt Baker sebagai penembak kanan dan Groah di sebelah kiri. Sersan Edmonds dan Meng adalah dua anggota kru lainnya. Lima helikopter Sea Stalion dengan kru mereka yang memakai topeng gas, lalu berangkat dari Dak To dan menuju ke lokasi ekstraksi yang direncanakan di Laos. Tapi pendaratan itu dibatalkan karena pasukan NVA yang besar mengejar pasukan Hatchet di bawah. Helikopter-helikopter ini menunggu hingga pasukan darat pindah ke lokasi pickup alternatif. Komandan skuadron Letnan Kolonel Robert Leisy, di helikopter Groah, memberi perintah untuk bersiap “go in hot,” dengan memerintahkan crew senjata menembakkan tembakan penekan. Mendekati lokasi penjemputan, para kru melihat personel-personel Baret Hijau dan Montagnard berkumpul di sebuah tempat terbuka kecil yang terdiri dari 45 hingga 50 orang, menunggu untuk naik begitu para helikopter mendarat.

Dalam Operasi Tailwind, helikopter CH-53D Sea Stalion beserta crew marinirnya menunjukkan ketangguhan di medan tempur. (Sumber: https://sofrep.com/)

Sementara itu, pasukan NVA bergegas untuk sampai ke sana terlebih dahulu. Groah mulai menembaki mereka, dan Sersan. Carl Meng, penembak pintu kanan, menghabiskan semua amunisi senapan mesin M60-nya untuk membungkam posisi musuh. Ketika YH-16 mendarat dan menurunkan pintu belakangnya, pasukan di darat berlari ke atas helikopter. Meskipun helikopter itu terus-menerus menerima serangan, helikopter itu bertahan cukup lama untuk memuat mereka. Dirancang untuk mengangkut 37 pasukan, Sea Stallion Marinir sekarang mengangkut 55 personel Montagnard di dalamnya. Groah kehabisan amunisi, tetapi dua prajurit Montagnard yang berjongkok di dekatnya menyerahkan senapan AR-15 mereka. Dia menggunakannya untuk melindungi helikopter dan pasukan di dalamnya saat helikopter itu terbang menanjak melampaui jangkauan senjata kaliber kecil musuh. Helikopter nomor dua kemudian datang dan melaporkan bahwa mereka tertembak tetapi bisa keluar dari Landing Zone dengan baik. Helikopter nomor tiga, YH-18, dengan Letnan Don Pershy sebagai HAC, dan co-pilot Letnan Satu Bill Battey di kokpitnya, bersama anggota kru Stevens, Snipes, dan Bell, melakukan pendekatan ke LZ dan melaporkan bahwa mereka menghadapi tembakan hebat. Sementara di LZ mereka memuat pasukan Baret Hijau dan Montagnard terakhir, mereka kehilangan sebuah mesin, ketika mencoba untuk mendapatkan ketinggian, mereka kehilangan sebuah mesin lainnya. Meskipun benar-benar kehilangan kekuatan, dua pilot ahli itu berhasil melakukan manuver helikopter dan melakukan pendaratan darurat yang keras, tetapi aman. Semua dari 40 anggota Pasukan Hatchet dan lima awak di atas helikopter selamat dan berhasil diangkut oleh helikopter penyelamat, YH-04, yang dipiloti oleh pilot Letnan 1 Albert Arnold dan co-pilot Letnan Satu Jack Tucker. 

AKHIR KISAH DAN SKANDAL CNN

Skuadron Sea Stallion HMH-463 kembali ke Marble Mountain pada awal 14 September. Dua marinir terluka. Satu tertembak di betis oleh tembakan rekan sendiri di Dak To. Yang lain tertembak di leher selama operasi ekstraksi dan dipindahkan ke rumah sakit Angkatan Darat di Pleiku. Beberapa minggu kemudian, sebuah undangan pesta datang melalui jalur rahasia, dari Special Force CCC (Command & Control Central) di Kontum. Mereka mengundang Crew helikopter Marinir untuk menikmati BBQ dengan banyak; bir dingin untuk menunjukkan terima kasih khusus atas peran personel marinir dalam operasi di Laos. Para Marinir lalu dijadikan anggota kehormatan Pasukan Khusus, diberi Baret Hijau dengan lambang dan lampu kilat dan juga pisau Tentara Swiss. Selama pertempuran dalam Operasi Tailwind, 16 personel Baret Hijau dan 33 Montagnard terluka. Tiga Montagnard terbunuh. Meski demikian Hatchet Force berhasil menghancurkan sejumlah besar material musuh. Selain itu, unit tersebut juga menyita sejumlah besar dokumen yang menurut para ahli di Saigon adalah informasi intelijen terbaik selama perang. Operasi pengalihan yang dijalankan Tailwind juga memungkinkan operasi CIA untuk mendesak NVA dari dataran strategis pada akhir September 1970. Leroy B. Vaughn (penulis) bertugas di Marinir dari tahun 1965 hingga 1969. Dia dan Larry Groah berlatih bersama di Korps Perekrutan Marinir di San Diego pada tahun 1965. Setelah Groah membaca sebuah artikel yang ditulis Vaughn untuk majalah Leatherneck pada tahun 2015, kedua orang itu berhasil terhubung kembali, dan Groah menceritakan pada Vaughn tentang kisah Operasi Tailwind seperti kisah diatas.

Meskipun mendapat tudingan miring yang tidak benar dari media seperti CNN, namun para personel Operasi Tailwind akhirnya mendapat penghargaan yang selayaknya mereka terima dalam Perang Vietnam. (Sumber: https://www.stripes.com/)

Pada bulan Juni 1998 CNN menyiarkan sebuah program yang diberi nama “NewsStand” dengan paparan investigasi berjudul “Valley of Death” yang dipandu oleh jurnalis pemenang Hadiah Pulitzer Peter Arnett. Acara itu kemudian membuat serangkaian tuduhan keras tentang misi di Laos. CNN mengklaim tentara Pasukan Khusus dikirim untuk membunuh para pembelot militer Amerika, dan selama misi mereka menghancurkan sebuah desa, membunuh wanita dan anak-anak, dan menjatuhkan gas sarin yang mematikan, sebuah senjata kimia yang dilarang berdasarkan hukum internasional, menurut pemeriksaan rinci dari laporan tersebut oleh Departemen Pertahanan. Klaim yang sama diterbitkan oleh majalah Time CNN dalam sebuah cerita yang ditulis oleh Arnett dan April Oliver, seorang produser CNN. Sekretaris pertahanan pada waktu itu, William Cohen, memerintahkan para pemimpin Angkatan Darat, Angkatan Udara dan Angkatan Laut serta ketua Kepala Staf Gabungan untuk melakukan penyelidikan skala penuh mereka sendiri, termasuk mewawancarai para saksi dan menggali catatan militer. dan arsip sejarah. Hasil Investigasi Pentagon menyangkal klaim kisah “Lembah Kematian” tersebut. CNN dan Time kemudian juga melakukan tinjauan internal dan setelah temuan mereka didapat, mereka mencabut kisah yang mereka publikasikan. Insiden itu menjadi salah satu skandal media terbesar pada akhir 1990-an dan memicu serangkaian tuntutan hukum terhadap CNN. Arnett, yang terkenal karena liputannya dari Perang Vietnam dan Operasi Badai Gurun, ditegur dan kemudian dipecat dari CNN demikian juga Oliver. Setelah skandal itu, unit Military Assistance Command Studies and Observations Group yang terlibat, menerima penghargaan presidential citation pada tahun 2001 untuk aksi kepahlawanannya mereka di Vietnam dari tahun 1964-1972, yang setara dengan penghargaan Distinguished Service Cross untuk semua baret hijau yang terlibat disana.

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

Flying into a Firestorm: A Secret Mission Inside Laos by Leroy B. Vaughn; October 2019

The media scandal surrounding Operation Tailwind by Travis Tritten

https://www.stripes.com/the-media-scandal-surrounding-operation-tailwind-1.488849

OPERATION TAILWIND by SgtMajor Larry Groah, USMC (ret)

http://www.popasmoke.com/story/operation-tailwind/

OPERATION TAILWIND (PT. 1): SOG WARRIORS PREPARE TO AID CIA OP DEEP INSIDE LAOS by John Stryker Meyer; Oct 2, 2015

https://sofrep.com/news/operation-tailwind-anniversary-part-1/

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Operation_Tailwind

6 thoughts on “Kisah “Penembak Pintu” Helikopter CH-53D Dalam Misi Rahasia di Laos, September 1970

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *