Konferensi Jenewa 1954: Kemenangan di medan pertempuran vs Kekecewaan di meja perundingan.

Konferensi Jenewa

Konferensi Jenewa 1954 (26 April – 20 Juli 1954), selain membahas penyelesaian Perang Korea juga membahas soal Perdamaian di Indochina. Kemenangan Vietminh di Dien Bien Phu 7 Mei 1954, menjadi modal yang berharga bagi delegasi komunis Vietminh/DRV (Democratic Republic of Vietnam) dalam perjuangan mereka di meja perundingan. Pada konferensi ini selain delegasi Prancis (PM Pierre Mendes, awalnya dipimpin George Bidault)) dan DRV (diwakili Pham Van Dong), hadir pula beberapa pihak, diantaranya dari China (Menlu Zhou En lai), Amerika (awalnya John Foster Dulles, lalu digantikan oleh Jenderal Walther Bedel Smith), Inggris (Anthony Eden), Soviet (Vyaceslav Molotov) dan Vietnam Selatan (yang diwakili oleh adik PM Ngo Dien Diem, yakni Ngo Dien Nhu, dimana dia ditunjuk oleh Kaisar Bao Dai). Lewat perundingan yang alot, akhirnya dicapai kesepakatan, yakni utamanya sebagai berikut:

  1. Penghentian pertempuran di wilayah Indochina (Vietnam, Laos, dan Kamboja)
  2. Untuk ‘sementara’ Vietnam dibagi menjadi 2 bagian berdasarkan garis batas 17 derajat pararel
  3. Akan diadakan pemilihan umum diseluruh Vietnam untuk menentukan bentuk reunifikasi Vietnam Selatan dan Vietnam Utara.

Bagi Vietminh, hasil ini merupakan sebuah akhir yang pahit karena mereka telah memenangkan pertempuran secara gemilang di Dien Bien Phu seharusnya mereka bisa memperoleh hasil yang lebih baik di meja perundingan, akan tetapi karena tekanan dari negara2 yang terlibat perundingan, termasuk dari negara yang seharusnya menjadi sekutu mereka seperti Soviet dan China (yang sementara waktu enggan melanjutkan konfrontasi dengan pihak barat selepas Perang Korea) mereka terpaksa menerima keputusan konferensi tersebut. Sementara bagi Pierre Mendes, hasil konferensi Jenewa merupakan sebuah ‘kesuksesan’ tersendiri sebagai seorang politisi, dimana dia bisa memperoleh hasil yang lebih bagi Prancis di Meja perundingan, dibandingkan yang dapat para Jenderal2 Prancis hasilkan di medan pertempuran.

PM Pierre Mendes (Prancis) & Menlu Zhou En Lai (RRC)

Masing2 delegasi negara yang terlibat menandatangani persetujuan kecuali wakil dari Amerika dan Vietnam Selatan. Wakil2 pihak komunis selain Vietminh-DRV, seperti China dan Soviet, dengan melihat kepentingan masing2, menyetujui hasil konferensi Jenewa. Langkah mereka ini, utamanya dari pihak China yang diwakili oleh Zhou sangat mengecewakan Pham Van Dong, ketika meninggalkan konferensi, Pham menggerutu, sambil berucap: “He has double-crossed us”.

George Bidault

Bagaimana Konferensi Jenewa ini bisa menjadi hasil yang tidak menguntungkan bagi Vietminh padahal mereka baru saja memperoleh kemenangan militer gemilang di Dien Bien Phu? Untuk jelasnya mari kita simak  sikap negara2 wakil (diluar Prancis, yang telah mendapatkan hasil lebih baik dalam perundingan dibandingkan di medan tempur) konferensi Jenewa 1954 yang sehingga menghasilkan 3 keputusan diatas.

Inggris

Anthony Eden

Inggris yang diwakili Anthony Eden, tidak memiliki kepentingan yang terlalu besar di Indochina, akan tetapi menjelang konferensi, pihak USA melalui John Foster Dulles mencoba melobby PM Churchill agar inggris dapat berpartisipasi lebih dalam konflik Indochina. Disisi AS, meski Presiden Eisenhower memiliki keinginan untuk melakukan intervensi, akan tetapi dia menolak apabila AS bergerak tanpa ada sekutu, dia sempat berkata dalam salah satu meeting dengan staffnya:”Without allies and Assosiates, Leader is just adventurer, like Genghis Khan”. Akan tetapi Churchill menyatakan bahwa Inggris tidak bisa melakukan intervensi sebelum menunggu hasil dari konferensi Jenewa, jd pada intinya mereka lebih bersikap pasif. Satu-satunya hal positif dari upaya Dulles adalah Inggris berjanji akan berpartisipasi dalam pembentukan organisasi pertahanan bersama yang nantinya akan terwujud dalam Southeast Asia Treaty Organization (SEATO).

Amerika

John Foster Dulles

konflik korea telah “memberikan” gambaran akan bahaya perluasan pengaruh komunis di Asia, kekalahan Prancis di Dien Bien Phu semakin menambah keyakinan Amerika bahwa komunis harus dibendung. Sikap ketidaksukaan wakil Amerika terhadap wakil pihak komunis di Jenewa, ditunjukkan oleh Dulles, dengan menolak untuk berjabat tangan dengan Zhou En Lai…dengan menggerutu dia mengungkapkan bertemu dengan Zhou mungkin hanya terjadi jika mobil mereka bertabrakan di jalan. Ketika Dulles kemudian digantikan oleh Walther Bedel Smith di Jenewa, posisi Smith ada dalam posisi yang tidak menguntungkan, dikarenakan kegagalan pemerintah Eisenhower menggalang dukungan, sehingga alasan Amerika untuk menentang/menolak permintaan delegasi komunis menjadi kehilangan substansi/kurang kuat. Apa yang bisa dilakukan Amerika adalah memastikan langkah-langkah wakil dari pihak Prancis tidak merugikan kepentingan Amerika, utamanya mencegah agar jangan sampai terjadi persetujuan pengakuan sebuah negara Vietnam bersatu dibawah kekuasaan Vietminh.

Walther Bedel Smith, pengganti Dulles dalam konferensi

Soviet

Vyacheslav Molotov

Delegasi soviet hadir di Jenewa di “tengah suasana suksesi” kepemimpinan, setelah meninggalnya diktator Soviet Stalin, pemerintah soviet ingin menampilkan citra sebagai pihak yang “mendukung perdamaian”. Mereka berharap langkah mereka ini dapat ‘meredakan ketegangan’ di benua Eropa, diantaranya mencegah bergabungnya Prancis ke komunitas keamanan Eropa (NATO) dan mencegah rencana AS mempersenjatai kembali Angkatan Bersenjata Jerman barat guna memperkuat NATO. Soviet, lewat Molotov baru mulai berperan pada konferensi Jenewa di saat2 terakhir, pada tanggal 20 Juli 1954, ia mengadakan pertemuan dengan semua wakil negara2, dengan perkecualian Bedell Smith (AS) dan wakil Bao Dai. Pada pertemuan tersebut hadir Mendes (Prancis), Zhou (China), Eden (Inggris) dan Pham Van Dong, mereka saling melakukan tawar menawar. Di tengah tekanan wakil negara2 besar tersebut, Pham Van Dong dengan berat hati menyetujui pembagian Vietnam, dia menerima garis batas 16 derajat (awalnya meminta garis 13 derajat), akan tetapi Mendes kukuh pada pendirian 18 derajat, Molotov lalu berkata : “Ok ayo kita setujui 17 derajat”. Kemudian pembahasan bergeser pada waktu pelaksanaan pemungutan suara, Mendes menginginkan waktu yang elastis. Pham menginginkan waktu 6 bulan, kemudan menawarkan setahun, dan mungkin 18 bulan. Molotov dengan wajah tanpa ekspresi, melemparkan kalimat retoris: “akankah kita setuju 2 tahun?” Demikianlah peran Soviet, yang meski baru aktif di menit2 akhir, akan tetapi “saran2” mereka cukup menjadi dasar penentuan nasib Vietnam dikemudian hari lewat Geneva Aggrement.

The partition of French Indochina that resulted from the Conference. Three successor states were created: the Kingdom of Cambodia, the Kingdom of Laos, and the Democratic Republic of Vietnam, the state led by Ho Chi Minh and Viet Minh. The State of Vietnam was reduced to the southern part of Vietnam. The division of Vietnam was intended to be temporary, with elections planned for in 1956 to reunify the country.

China

China, yang diwakili oleh Zhou Enlai, mungkin merupakan salah satu pihak yang paling berkepentingan dalam konferensi ini, banyak hal menarik yang yang bisa kita amati dari langkah2 delegasi China ini. Zhou yang saat itu berusia 56 tahun, merupakan gabungan pejabat klasik China dan Komisar Komunis, dia juga memiliki ketertarikan pada Prancis, mengingat pada masa mudanya pernah tinggal di Paris. Ketika datang ke Jenewa, China baru saja menderita hampir 1 Juta korban dalam Perang Korea, dimana perang hampir merembet ke perbatasannya (Lihat kasus MacArthur). Tujuan utama Zhou di Jenewa adalah menciptakan dan memastikan persetujuan yang akan menghindari Intervensi AS secara langsung di Indochina dan mengancam China lagi, seperti pada pengalaman Perang Korea. Meskipun hal tersebut akan mengorbankan kepentingan Vietminh, akan tetapi Zhou jelas lebih memprioritaskan kepentingan China terlebih dahulu. Disamping itu, secara Tradisional selama berabad-abad kebijakan China senantiasa memastikan Bangsa2 di Asia Tenggara tetap terpecah-pecah, sehingga dengan sendirinya China dapat mempengaruhi masing2 negara satu demi satu. Kebijakan inilah yang terus dijalankan China lewat Zhou. Vietnam yang terbagi lebih baik bagi China, ketimbang sebagai sebuah negara tetangga yang bersatu-terutama sebagai sebuah negara yang selama hampir 2000 tahun bertentangan dengannya. Demikian pula China akan berupaya membatasi ambisi Vietnam di Laos dan Kamboja.

Negarawan legendaris RRC Zhou Enlai

Dengan membatasi ambisi Vietminh, Zhou juga berharap hal ini dapat “menunjukkan” sikap moderatnya kepada India, Indonesia, dan negara2 nonblok di Asia lainnya. Penampilan Zhou di Jenewa adalah merupakan “panggung” pembuka baginya sebelum konferensi di Bandung setaun kemudian, yang utamanya mengedepankan prinsip2 perdamaian. Pada 18 Mei 1954, beberapa hari setelah konferensi dimulai, salah satu wakil Zhou menjelaskan kepada delegasi Prancis saat makan malam bahwa “kehadiran kita disini untuk menciptakan perdamaian bukan untuk mem-back up Vietminh”. Beberapa waktu kemudian, Zhou meyakinkan Bidault (wakil prancis) dan Anthony Eden (Inggris), bahwa dia menentang upaya Vietminh untuk mengontrol Laos dan Kamboja. Ia kemudian lebih lanjut membuat tidak nyaman para pemimpin Vietminh dengan mengadakan kunjungan ke India dan Burma, dimana kedua pemerintahan itu tidak mengakui Vietminh. Dalam perjalanan itu, dia sempat bertemu dengan Ho Chi Minh di China Selatan, dengan jelas ia mengatakan bahwa jangan berharap mendapatkan bantuan ekonomi, kecuali Vietminh lebih bersifat fleksibel di Jenewa. Kemudian kembali ke konferensi, Zhou menekankan penghentian upaya Vietminh untuk masuk ke wilayah Kamboja dan Laos, dan lebih dari itu yang mengejutkan, dia menyatakan kemungkinan adanya “dua Vietnam”….sebuah pukulan langsung pada impian Vietminh akan tercapainya mimpi Unifikasi Vietnam.

Ngo Dinh Luyen, saudara Ngo Dinh Diem

Jelas posisi China disini adalah menghindarkan diri dari kemarahan pihak AS, jika pihak Komunis menuntut terlalu banyak di Jenewa, hingga membuat AS terjun langsung ke wilayah IndoChina dengan membuat pangkalan militer di situ seperti yang mereka lakukan di Korea, yang mana senantiasa menjadi ancaman bagi China. Maka bukan suatu yang luar biasa bila Pham Van Dong kemudian menganggap Zhou telah menghianati Vietminh….hal yang lebih buruk dan menyakitkan bagi Vietminh adalah pada malam hari saat berakhirnya konferensi, sekaligus acara perpisahan, Zhou menyambut anggota delegasi Bao Dai, yakni Ngo Dinh Luyen, saudara paling muda dari Ngo Dinh Diem (calon presiden Vietnam Selatan pertama), hal ini sangat menyakitkan Pham, bagaimana bisa seorang rekan ‘komunis’ mengundang seorang ‘boneka’ Prancis. Akan tetapi Zhou tidak perduli dan menunjukkan sikap bahwa China lebih berharap pembagian permanen atas Vietnam, dia bahkan mengatakan kepada Luyen akan kemungkinan pembukaan wakil misi diplomatik antar pemerintahan di Saigon dan Beijing, katanya: “Tentu saja Pham Van Dong lebih dekat pada kita dari sisi ideologis, akan tetapi ia bukan merupakan representasi dari rakyat (vietnam) Selatan. Lebih dr itu bukankah kalian berdua adalah rakyat Vietnam, dan kita berdua adalah orang Asia?”……briliant…..

Vietminh

Pham Van Dong sebagai wakil Vietminh datang di jenewa dengan konfidensi tinggi pasca kemenangan militer Vietminh pimpinan Jenderal Giap di Dien Bien Phu. Pihak Vietminh menghindari untuk bertemu dengan wakil Bao Dai, wakil Kamboja, wakil Laos, bahkan juga memboikot keberadaan wakil Prancis. Pada awalnya dengan berbekal kemenangan di Dien Bien Phu, Vietminh menuntut penyelesaian secara politik terlebih dahulu, dengan tuntutan agar prancis meninggalkan Vietnam dan membiarkan rakyat Vietnam menentukan nasib mereka sendiri-sebuah tuntutan yang membuat panik rezim boneka Bao Dai, serta menggaransi kemenangan pihak Komunis. Selain hal tersebut, Vietminh juga mengajukan tuntutan lebih lanjut, yakni adanya pengakuan terhadap Pathet Lao di Laos dan gerakan Free Khmer di Kamboja, dimana mereka harus diakui secara legal dan berhak mengontrol wilayah mereka sendiri. Hal ini jelas ditentang oleh Prancis dan membuat perundingan menjadi buntu.

Pham Van Dong, orang paling “tidak bahagia” dalam konferensi Jenewa 1954

Akan tetapi upaya dan tuntutan ini ternyata tidak didukung pula oleh wakil2 negara komunis lain yang hadir di konferensi tersebut (lihat posisi Soviet dan China diatas). Hal ini kemudian disadari oleh Pham Van Dong, meski dengan berat hati. Berikutnya mengenai pembagian wilayah, menurut Pham, garis pembagi harus ditarik dari garis 13 derajat, dimana akan memberi Vietminh 2/3 wilayah Vietnam. Sementara wakil Prancis meminta garis diambil dari posisi 18 derajat pararel, seperti yang kita tahu kemudian bahwa kesepakatan yang disetujui adalah 17 derajat pararel seperti usul molotov. Begitu pula mengenai waktu pemilihan umum di Vietnam, dengan tekanan negara2 peserta konferensi, Vietminh akhirnya menyetujui waktu 2 tahun. Demikianlah hasil yang didapat oleh wakil Vietminh di konferensi ini.

wakil Kaisar Bao Dai (Non Komunis Vietnam)

Ngo Dinh Diem PM Vietnam (Non Komunis)

Inilah wakil paling lemah dari segi power dan influence pada konferensi ini, mereka datang tanpa memiliki kemampuan untuk mendiktekan hasil dan mengajukan tuntutan bagi kepentingan mereka. Pihak ini lebih menanti hasil kesepakatan Vietminh dengan negara2 besar, untuk kemudian menentukan langkah-langkah mereka selanjutnya. Sebuah sikap ambigu, yang mirip dengan figur Kaisar Bao Dai sendiri, serta menjadi sebuah bom waktu dimasa mendatang, dikarenakan hal ini secara tidak langsung menunjukkan bahwa mereka adalah pihak yang tidak merepresentasikan dan memiliki legitimasi di tengah rakyat Vietnam, sebuah karakter bawaan yang akan diwariskan kepada rezim antikomunis di selatan (Baca: Pemerintah Vietnam Selatan) di masa mendatang. Hal yang ‘cukup penting’ yang dilakukan oleh Bao Dai di tengah konferensi ini, adalah menunjuk Ngo Dinh Diem, tokoh nasionalis dan anti komunis Vietnam sebagai Perdana Menteri nya yang baru.

Kesimpulan

Konklusi dari Konferensi Jenewa ini kemudian menjadi salah diinterpretasikan, kalau tidak bisa juga dianggap salah dimengerti di tahun2 setelahnya. Satu2nya dokumen yang ditandatangani adalah poin gencatan senjata di Vietnam, Kamboja, dan Laos. Perjanjian antara Prancis dan Vietminh kemudian terbukti bukanlah penyelesaian politik seperti yang ditekankan Pham Van Dong di awal konferensi. Keputusan yang ada hanya berupa pembagian sementara Vietnam hingga diadakannya pemilihan pada musim panas 1956, Dengan kesepakatan ini maka Prancis menarik diri dari wilayah Vietnam utara, sementara Vietminh dari wilayah Vietnam Selatan. Kecuali pihak Amerika dan Rezim Saigon (selatan), masing2 peserta konferensi menyetujui deklarasi keputusan konferensi Jenewa. Bagi Amerika penolakan ini adalah sebagai refleksi sikap mereka terhadap apa yang mereka sebut sebagai bahaya agresi komunis, sebuah sikap yang akan terus menjadi dasar pemerintahan Kennedy kemudian untuk menjustifikasi dukungan Amerika terhadap rezim Ngo Dinh Diem. Diem juga menolak perjanjian Jenewa, yang menyebabkan separuh Vietnam berada pada kontrol komunis.

Sumber:

Anticommunist Vietnamese refugees moving from a French LSM landing ship to the USS Montague during Operation Passage to Freedom in August 1954.

Vietnam a History – Stanley Karnow, bab VI “The Light that Fail halaman 198-205.

7 thoughts on “Konferensi Jenewa 1954: Kemenangan di medan pertempuran vs Kekecewaan di meja perundingan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *