Krisis di Kuwait Tahun 1961: Klaim Pertama Irak Atas Kedaulatan Kuwait

Operasi Vantage adalah sebuah operasi militer yang dilancarkan Inggris pada tahun 1961 untuk mendukung negara Kuwait yang baru merdeka melawan klaim teritorial yang dilakukan oleh tetangganya, Irak. Inggris dengan cepat segera bereaksi terhadap permintaan perlindungan dari Sheikh Abdullah III Al-Salim Al-Sabah dari Kuwait, dan pasukan udara, laut, dan darat Inggris kemudian ditempatkan ke Kuwait dalam beberapa waktu. Irak pada akhirnya tidak menyerang Kuwait dan keberadaan pasukan Inggris segera digantikan oleh pasukan asal Liga Arab. Dalam kelanjutannya Irak lalu mengakui kemerdekaan Kuwait pada tahun 1963. Namun bara konflik antara kedua negara tetaplah ada, dimana hampir 30 tahun kemudian, Irak benar-benar menginvasi dan menganeksasi Kuwait. Meski berjalan singkat pendudukan Irak atas Kuwait telah mengubah kondisi geopolitik kawasan Timur Tengah untuk selama-lamanya.

Ancaman Irak atas Kuwait pada tahun 1961, menimbulkan reaksi cepat dari militer Inggris lewat Operasi Vantage. (Sumber: http://gallery.commandoveterans.org/)

KUWAIT DAN REZIM QASSEM IRAK

Pada tahun 1899 – jauh sebelum sumber minyak yang besar ditemukan di Kuwait – pemerintah Raja dan Penguasa Kuwait menandatangani perjanjian tentang pertahanan negara kecil tersebut dengan pihak Turki Ottoman. Kuwait kemudian akan tetap berada di bawah kendali nominal dari Kekaisaran Ottoman sampai tahun 1918, hingga diberikan status Syekh independen, yang diperintah oleh keluarga al-Sabah, dengan pihak Inggris yang mengalahkan Turki menangani urusan luar negerinya. Setelah negosiasi lebih lanjut pada bulan Juni 1961, sebuah perjanjian baru ditandatangani, di mana Inggris akan membiarkan Kuwait untuk merdeka, tetapi mencantumkan juga dalam perjanjian tersebut bahwa pasukan Inggris akan membantu Emir al-Sabah, penguasa Kuwait, jika diminta sewaktu-waktu. Lewat pertukaran surat yang dilakukan pada bulan Juni 1961 antara Shaikh Abdullah III dan Sir William Luce, United Kingdom’s Political Resident, tercapailah kesepakatan yang mengubah hubungan internasional antara kedua negara. Saat itu, Inggris secara eksplisit setuju untuk memberikan bantuan militer kepada Kuwait jika keluarga kerajaan yang berkuasa memintanya. Perjanjian pertahanan ini kemudian akan tetap menjadi penggerak perencanaan kontinjensi Inggris sampai berakhirnya perjanjian pada bulan Mei 1971, meskipun untuk sementara dalam kurun waktu itu Inggris membujuk Pemerintah Kuwait untuk menerima segala bentuk modifikasi respon militer yang akan diberikannya. 

Peta Kuwait di Era Ottoman. Keberadaan Kuwait yang pernah bergabung dengan wilayah provinsi Basra di Era Ottoman, menimbulkan klaim Irak di kemudian hari atas kedaulatan Kuwait. (Sumber: https://id.pinterest.com/)
Perangko era 1958 bergambar Shaikh Abdullah III, penguasa pertama Kuwait yang merdeka. (Sumber: https://www.123rf.com/)

Sementara itu antara tahun 1958, ketika Abdul Karim Qasim merebut kekuasaan di Irak, dan semakin mendekatnya waktu berakhirnya komitmen pertahanan formal Inggris ke Kuwait pada tahun 1971, Komite Intelijen Gabungan (Joint Intelligence Committee/JIC) Inggris ditugaskan untuk memberikan peringatan tentang potensi adanya aksi permusuhan dari Irak terhadap Kuwait. Antara pertengahan tahun 1958 dan pertengahan 1961, Penilaian JIC berfokus pada bahaya ketidakstabilan internal di Kuwait dan Irak dan kemungkinan reaksi negara-negara lain di kawasan ini terhadap kemungkinan intervensi Inggris. Ketakutan terbesar Inggris adalah kemungkinan adanya kerusuhan di dalam negeri, terutama di Kuwait dan juga di Irak, dapat membahayakan aliran pasokan minyak ke Inggris Raya. Akibatnya, perencanaan militer Inggris berfokus pada intervensi untuk melindungi ladang-ladang minyak. Untuk mendukung perencanaan kontingensi militer, JIC juga membahas mengenai kemampuan Irak untuk menginvasi Kuwait, tetapi laporannya secara jelas dan berulang kali mengabaikan kemungkinan adanya agresi. Skenario seperti itu belum mendorong perencanaan militer Inggris pada saat itu. 

Perdana Menteri Irak, Abdul Karim Qasim yang mengklaim kedaulatan wilayah Kuwait sebagai bagian dari Irak. (Sumber: https://en.wikiquote.org/)

Tak lama setelah kudeta Qasim pada 1958, JIC menilai rezim baru akan netral dan bersekutu erat dengan Republik Persatuan Arab (UAR). Meskipun  “tidak diragukan lagi (rezim baru) akan mempertahankan klaim Irak” atas Kuwait, JIC menyimpulkan bahwa Qasim tidak mungkin menyerang. Sebaliknya, Irak akan menaruh harapan mereka pada aktivitas subversi dari dalam Kuwait. Namun, JIC bahkan meragukan skenario ini. Anggotanya menilai bahwa Perkiraan Special National Intelligence AS pada waktu itu melebih-lebihkan bahaya tentang ketidakstabilan di Kuwait. Sementara itu, analis Inggris percaya bahwa revolusi Irak akan memiliki “dampak yang cukup besar” di Kuwait, tetapi mereka menilai bahwa keluarga kerajaan Kuwait akan bertekad untuk menghindari nasib serupa dengan keluarga kerajaan Irak yang dibunuh selama revolusi. Segera setelah mengevaluasi kemampuan orang-orang Kuwait untuk menyabotase ladang minyak mereka sendiri dan menilai kondisi di mana Inggris mungkin akan terpaksa untuk melakukan campur tangan di Irak, JIC mengalihkan perhatiannya kembali ke perbandingan kekuatan Irak-Kuwait. Pada bulan Maret 1959, perencana militer Inggris meminta JIC untuk membahas kemungkinan Irak menginvasi Kuwait. Dalam studi yang dihasilkan, JIC menyimpulkan bahwa pasukan invasi Irak akan terdiri dari tidak lebih dua kelompok brigade dan sebuah resimen lapis baja yang mungkin terdiri dari 70 tank. Sekitar 300 pasukan terjun payung mungkin juga akan berpartisipasi, meskipun hal ini kecil kemungkinannya. Serangan itu akan menerima dukungan udara menengah. Sementara itu, ketidakmampuan Irak untuk mempersiapkan pesawat terbang, satuan lapis baja, dan alat transportasi bermotor kemungkinan besar dinilai cukup tinggi. Baik Soviet atau UAR bisa jadi akan memberikan dukungan materiel dan penasehat untuk invasi. Akhirnya, JIC memberikan peringatan: “Pemerintahan Kuwait mungkin hanya akan memiliki waktu kurang dari empat hari sebagai peringatan ketika pasukan penyerang berkumpul di daerah Basrah, tetapi, setelah pasukan invasi siap, mereka tidak akan pernah tahu kapan invasi itu akan dilakukan.”

Sheik Abdullah menandatangani dokumen kemerdekaan Kuwait, 19 Juni 1961. Dalam perjanjian antara Kuwait dengan Inggris tercantum klausul mengenai jaminan perlindungan Inggris atas kedaulatan Kuwait yang berlaku hingga tahun 1971. (Sumber: https://www.kpc.com.kw/)

Sementara itu pada tanggal 25 Juni 1961, diktator Irak saat itu Abd al-Qarim Qassem secara sepihak benar-benar mengumumkan bahwa Kuwait akan dianggap sebagai wilayah Irak dan menawarkan “untuk membebaskan penduduk Kuwait”. Alasan sikap pemimpin Irak ini sampai kini masih bisa diperdebatkan, tetapi selain keuntungan politik yang diperoleh dari kemungkinan kampanye militer yang sukses, aset Kuwait pada saat itu, termasuk kemungkinan adanya cadangan minyak (kemudian ternyata benar) dan potensi untuk mengamankan akses ke laut, yang tidak dimiliki Irak, hal-hal tersebut bisa jadi menjadi pendorong penguasa Irak menyatakan klaimnya atas Kuwait. Keesokan harinya setelah pengumuman Qassem, beberapa pasukan Irak mulai berkumpul di sepanjang perbatasan dengan Kuwait. Namun saat itu, militer Irak belum sekuat militer mereka beberapa tahun kemudian dan sebagian besar pasukan harus melakukan perjalanan jauh dari Baghdad ke perbatasan selatan negara itu. Oleh karena itu pembangunan kekuatan Irak sangat lambat. Ada beberapa alasan untuk situasi ini – yang sebagian besar dapat dengan mudah diilustrasikan pada contoh kondisi Angkatan Udara Irak saat itu. 

ANGKATAN UDARA IRAK TAHUN 1961

Angkatan Udara Irak pada tahun 1961 sedang berada dalam proses transisi. Setelah kudeta berdarah al-Rashid dilakukan pada tanggal 14 Juli 1958, di mana Raja muda Feisal III dan Putra Mahkota Abdul Illah dari Irak – bersama dengan Menteri Pertahanan Irak dan mantan Perdana Menteri Yordania – dibunuh di Baghdad oleh unsur-unsur militer Irak, banyak perwira bekas Angkatan Udara Kerajaan Irak itu yang dipenjarakan dan jadwal pelatihan masa damai yang normal dilakukan (biasanya dilakukan dengan standar RAF penuh), dihentikan. Misalnya, Panglima RIrAF di Habbaniyah, Wg.Cdr. Abdul-Razzak, harus mendekam di penjara dari tahun 1958 hingga 1962. Banyak pilot lain juga telah meninggalkan negara itu dan tidak akan pernah kembali. Padahal sebelumnya RIrAF (AU Kerajaan Irak) tahun 1950-an adalah pasukan yang terlatih dengan baik, mereka mengoperasikan 12 pesawat tempur Vampire FB.Mk.52, enam Vampire T.Mk.55, dan 19 pesawat tempur Venom FB.Mk.1 dan FB.Mk.50, serta 15 pesawat tempur Hunter F .Mk.6. Khusus pesawat tempur Hunter, pesawat ini dibeli dengan bantuan keuangan dari AS dalam dua gelombang, yang pertama – terdiri dari lima pesawat – dikirim pada bulan April 1957. Gelombang kedua, terdiri dari sepuluh pesawat, tiba pada bulan Desember 1957. Sesaat sebelum kudeta pada tahun 1958 Amerika Serikat juga memasok lima unit pesawat tempur North Americam F-86F Sabre ke Irak; Namun, ketika pesawat-pesawat tempur Hunter memasuki dinas operasional dengan Squadron Nomor 6, yang berbasis di Tahmouz / Habbaniyah AB, pesawat-pesawat Sabre tidak pernah terlihat bertugas bersama AU Irak: mereka dibiarkan diparkir di dalam hanggar di al-Rashid AB, dan ditinggalkan di sana untuk beberapa waktu sebelumnya lalu dikembalikan ke Amerika Serikat. 

Pesawat tempur Vampire milik Irak tahun 1957. (Sumber: http://iraqimilitary.org/)
Hawker Hunter AU Irak. (Sumber: https://www.flying-tigers.co.uk/)

Sementara itu, Abd al-Qarim Qassem sendiri bukanlah seorang Ba’athist (Partai Ba’ath nasionalis dan sosialis Irak memiliki ideologi dasar yang mirip dengan Partai Ba’ath Suriah, tetapi berbeda terlalu banyak dalam detailnya sehingga tidak layak dinilai sebagai partai yang “sama”), tapi dia adalah pendukung setia Republik Arab Bersatu yang pro-Soviet. Karena itu, dia dengan cepat meminta bantuan militer dari Uni Soviet. Pada tahun 1958, 14 unit MiG-17F pertama serta beberapa pesawat lainnya dipasok oleh Soviet. Kedatangan MiG-17 dan perlengkapan untuk Sqn No. 5 IrAF menghasilkan proses penggantian peralatan pada sebagian besar squadron-squadronnya. Sqn No.1 sedang dalam proses konversi dari Hawker Fury FB.Mk.11 ke Venom dari No.5 Squadron; Skuadron No.2 dikonversi untuk mengoperasikan helikopter Mil Mi-4; Skuadron No. 3 akan beralih menggunakan pesawat angkut Antonov An-12B; Skuadron No.4 dikonversi kembali untuk mengoperasikan Fury FB.Mk.11 bekas Skuadron No.1; sementara Skuadron No. 6 terus menerbangkan Hunter F.Mk.6. Pada gilirannya Skuadron No.7 – yang terutama terlibat dalam operasi militer memerangi orang-orang Kurdi di utara negara itu, yang sebelumnya dilengkapi dengan Fury – diperlengkapi kembali dengan pesawat tempur MiG-17. Demikian pula, “Skuadron Pengebom” lama Irak, No. 8, sedang dalam proses menerima kiriman pertama dari 12 pesawat pembom ringan Ilushin Il-28. Akhirnya, Skuadron No. 9 yang baru dibentuk sedang menunggu kedatangan pesawat pencegat MiG-19 yang pertama. Secara total, pada bulan Juni 1961, kekuatan IrAF terdiri dari sebagai berikut:

  • Skuadron No.1, yang mengoperasikan pesawat tempur Venom FB.Mk.1, bermarkas di Habbaniyah AB, dengan komandan Capt. A.-Mun’em Ismaeel 
  • Skuadron No.2, yang dilengkapi helikopter Mi-4, bermarkas di Rashid AB, dengan komandannya Mayor Wahiq Ibraheem Adham 
  • Skuadron No.3, yang mengoperasikan pesawat angkut An-12B, bermarkas di Rashid AB, dengan komandannya Kapten Taha Ahmad Mohammad Rashid 
  • Skuadron No.4, yang dilengkapi dengan pesawat tempur Fury FB.Mk.11, yang bermarkas di Kirkuk AB, dengan komandannya Mayor A. Latif 
  • Skuadron No.5, yang mengoperasikan pesawat tempur MiG-17F, berbasis di Rashid AB, dengan komandannya Mayor Khalid Sarah Rashid 
  • Skuadron No.6, yang menggunakan pesawat tempur Hunter, bermarkas di Habbaniyah AB, dengan komandannya Capt. Hamid Shaban 
  • Skuadron No.7, mengoperasikan MiG-17F, berbasis di Kirkuk, dengan komandannya Mayor Ne’ma Abdullah Dulaimy 
  • Skuadron No.8, yang mengoperasikan Il-28, bermarkas di Rashid AB, dengan komandannya Mayor Adnan Ameen Rashid 
  • Skuadron No.9, yang MiG-19, sedang dalam proses pembentukan.
Pada tahun 1961, AU Irak masih mengoperasikan beberapa pesawat tua Hawker Fury buatan Inggris. (Sumber: https://www.flying-tigers.co.uk/)
Jelang pecahnya Krisis Kuwait tahun 1961, AU Irak sedang dalam proses konversi ke peralatan tempur buatan Soviet, seperti MiG-17 Fresco. (Sumber: https://www.flying-tigers.co.uk/)
Uni Soviet juga memasok AU Irak dengan Bomber Ilyushin Il-28 Beagle. (Sumber: https://live.warthunder.com/)

Ketika “keadaan darurat” meletus, IrAF dengan demikian sedang dalam proses kualifikasi ulang sejumlah besar awak penerbang dan unit darat dari pesawat-pesawat Inggris ke pesawat Soviet. Kecuali satu skuadron yang dilengkapi dengan pesawat tempur Hunter, tidak ada unit lain yang beroperasi penuh. Selain itu, Irak tidak memiliki sistem pertahanan udara dan tidak memiliki radar pada saat itu, disamping terdapat situasi yang tidak pasti mengenai pasokan suku cadang untuk jet buatan Inggrisnya. Akhirnya, lapangan terbang IrAF terdekat pada saat itu adalah bekas lapangan udara RAF (AU Inggris) di Shaibah, dekat Basrah, tempat Akademi Udara Irak ditempatkan: tidak ada satu pun pesawat tempur yang ditempatkan di sana, dimana Akademi disana harus melatih tidak kurang tiga unit tempur utama dan satu unit transport di periode antara tahun 1958 dan 1961. Struktur organisasi IrAF juga melemah, dengan loyalitas pilot dan perwira terbagi antara kelompok komunis (yaitu pro-pemerintah) dan nasionalis Arab (anti-pemerintah). Panglima Angkatan Udara pada tahun 1961, adalah Brigadir Jalal Jaffar Awqati, yang bukan merupakan pilot karir, tetapi ditempatkan di posisinya hanya karena ia seorang komunis, dan kemampuannya untuk menjaga angkatan udara di bawah kendali yang sangat ketat. Sementara IrAF jelas tidak dalam kondisi untuk mampu berpartisipasi dalam operasi skala besar apa pun, dan tidak ada unitnya yang dikerahkan ke lapangan udara mana pun yang lebih dekat ke Kuwait, di lain pihak Angkatan Darat Irak juga tidak dalam kondisi yang lebih baik. Mereka juga sedang dalam proses konversi ke peralatan yang dipasok oleh Soviet, dan tidak memiliki pelatihan memadai untuk melakukan segala jenis operasi yang serius, terutama operasi skala besar. Pihak Irak juga tidak berharap bisa untuk mengirimkan pasukan mereka ke wilayah perbatasan selatan negara itu dan kemudian membiarkannya bertempur di Kuwait di tengah musim panas.

ASSESMENT KEKUATAN MILITER IRAK TAHUN 1961

Menanggapi persyaratan lebih lanjut dari Staf Perencanaan Bersama, JIC kemudian membuat penilaian jangka panjang lain atas Irak pada bulan Maret 1961 — sekitar tiga bulan sebelum intervensi militer Inggris. Penilaian ini lagi-lagi hanya memberikan beberapa informasi mengenai kemungkinan invasi selama tahun depan mengingat saat itu retorika anti-Kuwait yang berasal dari Baghdad mulai berkurang. JIC menyimpulkan bahwa Angkatan Darat Irak hanya mampu untuk melakukan peran keamanan internal dalam negeri Irak. Selain itu, JIC mencatat bahwa Qasim sedang berusaha untuk mendorong peningkatan hubungan antar negara-negara Arab secara umum dan tidak mungkin baginya untuk membalikkan kebijakan ini tiba-tiba ketika ia mulai mencapai kesuksesan. Namun, secara signifikan, studi JIC menunjukkan bahwa pengambilan keputusan pemerintah di Irak berpusat di sekitar pribadi Qasim, yang sayangnya mereka anggap menderita “kurangnya keseimbangan mental, yang membuat tindakannya tidak dapat diprediksi dan memberi kesan kepada banyak orang yang menemuinya bahwa dia sedang menuju kegilaan.” 

Seperti negara-negara klien Soviet lainnya, angkatan darat Irak juga dipasok dengan tank T-54. (Sumber: https://id.pinterest.com/)
Kekuatan AL Irak di tahun 1961 tidaklah signifikan, mereka hanya dilengkapi dengan beberapa kapal cepat torpedo P-6 buatan Soviet. (Sumber: https://imgur.com/)

Penilaian di bulan Maret 1961 melukiskan gambaran rinci tentang kekuatan militer Irak. Angkatan Darat Irak terdiri dari sekitar 60.000 tentara, yang terdiri dari satu divisi lapis baja (Divisi Lapis Baja ke-4) dan empat divisi infanteri (Divisi Infanteri ke-1, ke-2, ke-5 dan Divisi Infanteri Gunung ke-2) yang ditempatkan di wilayah Irak tengah dan utara. Irak juga memiliki sebuah unit pasukan payung yang memiliki kekuatan 550 personel. Dari kekuatan itu, hanya Grup Brigade Independen ke-15 yang ditempatkan di dekat Kuwait. Sekitar 75 persen peralatan tentaranya berasal dari Soviet. Angkatan Darat Irak memiliki 260 tank tipe T-34 dan T-54 rancangan Soviet — lebih dari separuh kekuatan lapis bajanya — dan 15 tank lainnya asal AS / Inggris. Peralatan asal Soviet juga termasuk 300 hingga 400 kendaraan pengangkut personel lapis baja, 120 senjata self-propelled SU-100, dan 400 meriam lapangan dan anti-tank. Terlepas dari arus masuk peralatan ini, JIC mencatat bahwa kesiapan tentara Irak terhalang oleh kurangnya perwira terlatih dan pengalaman tempur, logistik yang lemah, dan banyaknya asal sumber senjata. Masalah-masalah ini kemudian akan mengganggu Angkatan Darat Irak selama tahun 1960-an. Angkatan Udara dan Angkatan Laut Irak juga dinilai cuma akan berkontribusi sedikit jika invasi terjadi. Angkatan Udara Irak seperti yang telah dijelaskan diatas setidaknya memiliki satu skuadron pembom IL-28 Beagle, dua skuadron MiG-17, dan dua skuadron Hunter dan Venom dari Inggris. Mereka sedang mulai mengintegrasikan pesawat-pesawat tempur MiG-19. Pesawat-pesawat tempur Irak sebagian besar berbasis di Irak tengah dan utara. JIC menilai bahwa angkatan udara Irak memiliki kemampuan “sedang-sedang saja” dalam peran utamanya sebagai pendukung kekuatan darat. Kemampuan pertahanan udara secara keseluruhan “kurang meyakinkan” karena kurangnya pilot berpengalaman dan operator radar yanf terlatih. Sementara itu, Angkatan Laut Irak terdiri dari sembilan kapal patroli torpedo P-6 bekas Soviet dan empat kapal sungai bermeriam. Enam dari P-6 secara rutin dioperasikan di perairan Teluk. Meskipun tidak menilai tinggi Angkatan Laut Irak, namun JIC kemudian tetap memperingatkan potensi bahaya peranjauan atau serangan kapal kecil dan torpedo oleh kapal-kapal patroli cepat. 

INTERVENSI INGGRIS

Pada tanggal 25 Juni, Irak mulai mengkritik keras pertukaran surat Anglo-Kuwait yang baru tentang kerjasama pertahanan. Sir Humphrey Trevelyan, Duta Besar Inggris di Baghdad, dan atase militernya mengeluarkan beberapa laporan yang mengungkapkan Irak bersiap untuk memindahkan satuan lapis bajanya dari Baghdad selatan menuju ke Kuwait. Kantor Luar Negeri Inggris melaporkan pada tanggal 1 Juli bahwa bukti yang diterima dari sejumlah sumber selama beberapa hari sebelumnya menunjukkan bahwa kendaraan lapis baja dan satuan infanteri tambahan sedang bergerak ke selatan dari Baghdad. Mengutip informasi persiapan pergerakan satuan lapis baja ke Al Basrah (pertama kali dilaporkan pada tanggal 27 Juni); mengenai langkah-langkah administratif yang dilakukan Irak untuk “operasi seperti (persiapan) perang”; konsentrasi kendaraan dan / atau transporter kereta api di Baghdad; dan (pada tanggal 30 Juni) pergerakan satuan lapis baja ke arah selatan dengan menggunakan jalur rel dan jalan raya. 

Sir Humphrey Trevelyan, Dubes Inggris untuk Irak pada saat pecah krisis Kuwait tahun 1961. (Sumber: https://www.researchgate.net/)

Karena semakin khawatir akan potensi kemungkinan invasi, Inggris meningkatkan status kewaspadaannya pada tanggal 28 Juni. Keesokan harinya, Political Resident Inggris untuk Teluk Persia mengirim pesan yang mengkhawatirkan: “Qasim telah berkomitmen secara terbuka dan (janjinya) tidak dapat ditarik kembali untuk mendeklarasikan bahwa Kuwait akan dimasukkan ke dalam wilayah Irak…. Dia sedang dalam proses memindahkan resimen lapis baja ke daerah Basrah di mana brigade infanteri sudah ditempatkan. Dia akan berada dalam posisi untuk menyerang Kuwait dalam (waktu) tiga hari ke depan…. Kita berurusan dengan pria yang tidak seimbang yang tindakannya tidak dapat diprediksi. Kami menyimpulkan bahwa ancaman terhadap kemerdekaan Kuwait sama berat dan sangat dekat, dan bahwa kita sudah berada dalam periode peringatan empat hari seperti yang digambarkan dalam Vantage Plan”. Mempertimbangkan perkembangan yang berlangsung cepat, JIC menghasilkan serangkaian penilaian intelijen yang meyakinkan Pemerintah Inggris bahwa risiko invasi terhitung tinggi dan Irak mungkin akan menyerang tanpa peringatan. Penilaian ini memicu pengiriman unit militer Inggris ke Kuwait selama bulan Juli 1961.

HMS Bulwark, kapal induk Inggris yang segera dikirim ke teluk Persia setelah pecahnya krisis Kuwait, Juni 1961. (Sumber: https://web.archive.org/)

Reaksi Inggris sangat cepat. Di bawah nama kode Operasi “Vantage”, Inggris telah jauh-jauh hari merencanakan intervensi dalam situasi seperti itu. Rencana ini termasuk pengerahan pasukan tambahan dari Inggris, Siprus dan Jerman. Secara teknis Inggris sangat siap untuk datang membantu Kuwait, namun masalahnya, mereka tidak dapat memperoleh hak terbang di banyak negara dalam perjalanan, sehingga tidak mungkin untuk menerbangkan pasukan ke daerah tersebut secara langsung. Pasukan Inggris di wilayah itu telah disiagakan pada tanggal 26 Juni 1961, hanya sehari setelah pernyataan Qassem. Kapal induk komando kelas Centaur HMS Bulwark (dengan Batalyon Komando ke-42 diatasnya) dan pengawalnya, yang terdiri dari tiga fregat sedang melakukan kunjungan di pelabuhan Karachi, Pakistan. Sementara itu satu unit Marinir Kerajaan sudah ada di Bahrain, bersama dengan beberapa pasukan Angkatan Darat, sementara unit lainnya tersedia di Bahrain, Sharyah, Aden, Kenya, dan Siprus. RAF juga memiliki dua skuadron Pemburu Hawker, yang berbasis di Aden, Yaman dan di Nairobi, Kenya. Pesawat angkut berat, angkut ringan, dan pesawat penghubung telah berada di Aden. Cadangan tambahan juga ada yang berbasis di Bahrain dan Kenya. Sementara itu, fasilitas di Kuwait sangat terbatas meskipun ada satu lapangan udara, instalasinya sangat buruk dan tidak ada radar. Demikian pula, fasilitas pelabuhan hanya dapat menerima kapal yang lebih kecil. Secara total, meski pada pengamatan pertama pasukan Inggris yang tersedia terpencar di berbagai wilayah yang luas, pada tanggal 29 Juni, Inggris sudah mulai menggerakkan mereka. HMS Bulwark dan pengawalnya meninggalkan Karachi dan menuju Teluk Persia dengan kecepatan terbaik mereka. Depot perbekalan di Bahrain dibuka dan dua Sqn Hunter (No.8 208 Sqn) disiapkan untuk dikirim ke Bahrain.

Intervensi militer Inggris di Kuwait tahun 1961 adalah sebagai tanggapan atas ancaman dari Irak. Pasukan Komando ke-42 RM ‘Charlie’ adalah yang pertama mendarat dari HMS Bulwark dengan helikopter-helikopter Whirlwind Skuadron Udara Angkatan Laut No-848. (Sumber: http://www.commandoveterans.org/)

Pada tanggal 30 Juni 1961, Kuwait secara resmi meminta bantuan dan satu skuadron Hunter segera dikerahkan dari Eastleigh ke Khormaksar, bahkan meski Turki dan Sudan menolak untuk memberikan hak penerbangan. Sementara itu di Bahrain sudah ada dua pesawat Avro Shackleton MR.2 dari Sqn No.37, dan pesawat pertama dari Sqn No.88 dikerahkan dari RAFG Wildenrath. Staf dari brigade Infanteri ke-24 juga telah diterbangkan dari Kenya menggunakan pesawat angkut Argonaut dan Komet. Sqn No.3 dari Angkatan Udara Rhodesia menyediakan beberapa pengangkutan udara juga. Pada tanggal 1 Juli, kapal induk HMS Bulwark sudah berada jauh di Teluk Persia dan helikopter-helikopter Whirlwind dari 848 NAS mulai mengerahkan tentara dari satuan Commando No. 42 ke Kuwait. Pesawat-pesawat pembom tempur Hunter dikerahkan ke lapangan udara “Kuwait New”, dekat Farwania, sementara pesawat-pesawat angkut Bristol Britania dari Skuadron No.99 dan 511 membawa pasukan dari 45 Commando Royal Marines dan resimen Hussars ke-11 dari Aden. Pada hari-hari berikutnya unit tambahan tiba di daerah tersebut. Empat pembom pengintai Canberra dari Sqn No.88 dan delapan pesawat dari Sqn No. 213 mendarat di Bahrain, sementara pesawat-pesawat transport RAF menerbangkan lebih banyak lagi pasukan. Pesawat-pesawat Canberra segera beraksi, menerbangkan penerbangan pengintaian jauh di atas Irak. Pada tanggal 3 Juli, enam hari setelah peringatan awal dari sumber intelijen di darat, pesawat pengintai RAF, Canberra PR 9 secara rutin menerbangkan misi pengintaian fotografi di sepanjang perbatasan Irak-Kuwait; namun, kabut yang parah sering kali merusak jangkauan pencitraan kamera samping Canberra dan misi mereka gagal menemukan adanya tank. Orang-orang Irak mengamati aktivitas ini beberapa kali, tetapi tidak bisa berbuat banyak terhadapnya. IrAF tidak dapat mencegat salah satu dari pembom Inggris itu karena kurangnya jaringan radar yang berfungsi. 

Pangkalan RAF di Sharyah sangatlah penting bagi militer Inggris di Timur Tengah tahun 1950-60an, nampak pada gambar pesawat Beverley dan Pioneer. (Sumber: https://web.archive.org/)

Pada tanggal 4 Juli 1961, pesawat angkut Komet dari Sqn No. 216 dan pesawat angkut Britannia menerbangkan elemen dari Batalyon Lintas Udara ke-2, sementara pesawat-pesawat angkut Hastings dan Beverly bergegas untuk membawa peralatan berat milik pasukan yang dikerahkan. Dari Kenya, Batalyon Pertama Royal Inniskillings juga diangkut ke Kuwait. Turut juga dikerahkan adalah pesawat recce Canberra PR.7. Ketika pasukan tiba, pasukan pertama sudah mulai bergerak ke Kuwait, sehingga tekanan terhadap penggunaan instalasi di Bahrain mulai berkurang. Bagi pasukan di Kuwait situasinya jauh dari menyenangkan. Setelah mengambil posisi di sepanjang punggung bukit Mittla – di barat laut negara itu – mereka harus mengatasi suhu hingga 50 ° C dan badai pasir yang mengurangi jarak pandang menjadi kurang dari 300m. Sebuah Hunter dari Sqn No. 208 jatuh dan menewaskan pilotnya. Namun, karena sebagian besar pasukan yang dikerahkan sudah terbiasa dengan keadaan seperti itu, akhirnya hanya ada lebih sedikit masalah yang dihadapi. Namun demikian, Inggris sangat menjaga pasukan yang dikerahkan untuk terus dirotasi antara pangkalan di Kuwait dan di HMS Bulwark, agar mereka dapat beristirahat. Kapal induk ini juga bertindak sebagai stasiun yang ditempatkan di garis depan, oleh karenanya kemudian ia membawa radar dengan jangkauan deteksi 150 km dan bertindak sebagai pusat komunikasi. Terutama untuk fungsi terakhir sangat penting, karena markas besar operasi tetap mereka berada di Bahrain, lebih dari 550 km jauhnya dari Kuwait. Jarak yang sangat jauh juga memaksa Inggris untuk berimprovisasi dengan radio komunikasi. Ketika tidak ada solusi lain yang ditemukan untuk menangani masalah sinyal komunikasi di seluruh medan operasi, mereka kemudian mengerahkan pengebom Canberra antara Aden dan Bahrain, sementara Pembrokes RAF dari A-Flight No.152 Squadron digunakan untuk tugas penghubung antara Bahrain, Sharyah dan Aden. Masalah tambahan lainnya adalah bahwa pesawat-pesawat RAF menggunakan komunikasi VHF, sedangkan Royal Navy menggunakan UHF, sehingga di sini juga diperlukan beberapa improvisasi untuk memungkinkan komunikasi timbal balik. 

HMS Victorious mengambil bagian dalam Operasi Vantage untuk mendukung Kuwait pada bulan Juli 1961. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)
Pesawat pencegat segala cuaca Sea Vixen yang melengkapi HMS Victorious. (Sumber: https://www.goodfon.com/)

Hanya dengan kedatangan kapal induk kelas Illustrious yang lebih besar, HMS Victorious, memperbaiki situasi secara signifikan. Dilengkapi dengan pesawat Gannet AEW dan pencegat segala cuaca Sea Vixen, pasukan Inggris kemudian memperoleh peningkatan besar dalam kesadaran situasionalnya. Radar dengan jarak jangkau 270km di atas kapal, kemudian semakin meningkat dengan adanya pesawat-pesawat Gannet. Akhirnya, pada 18 Juli, RAF mampu memasang radar darat pertama di Kuwait. Radar darat Tipe SC 787, meski tidak dapat mengukur ketinggian di mana benda-benda yang akan dideteksinya terbang, tetapi tetap mampu membantu untuk memilah dan meningkatkan kontrol lalu lintas udara di wilayah tersebut. Setelah hari libur nasional Irak, pada 14 Juli, berlalu tanpa tindakan apapun, Inggris merasa jauh lebih aman dan kemungkinan konflik bersenjata – jika memang ada – mulai berkurang. Inggris sejauh itu juga tidak pernah melihat adanya pergerakan pasukan Irak di selatan Basrah. Kesimpulannya tidak ada satupun unit Angkatan Darat Irak yang ditempatkan di sepanjang perbatasan ke Kuwait. Dengan demikian, pada tanggal 20 Juli Komando Nomor 42 dan Satuan Para ke-2 ditarik kembali ke Bahrain, sementara Komando nomor 45 kembali pulang ke Aden. Pesawat-pesawat Hunter dari Sqn No.208 juga ditempatkan kembali ke Bahrain. Pasukan Inggris yang tersisa mundur dari Kuwait pada akhir bulan September.

Pesawat Gannet AEW.Mk.3 dari NAS 849 A-Flight terlihat saat diluncurkan dari HMS Victorious. Gannets terbukti sangat berharga sebagai pesawat peringatan dini bagi Satuan Tugas Inggris di Teluk Persia dan pasukan Inggris di Kuwait. (Sumber: Museum Armada Udara/https://web.archive.org/)

Pada akhir Juli 1961 HMS Victorious digantikan oleh HMS Centaur. Pada pertengahan Agustus 1961, JIC hanya bisa mengatakan bahwa laporan mengenai pergerakan resimen lapis baja ke Ad Diwaniyah di selatan Baghdad belum bisa dikonfirmasi. Sir Humphrey berpendapat bahwa satuan tugas Irak telah kembali ke wilayah pedalaman Irak. Pada puncaknya, kekuatan Inggris di Kuwait mencapai hingga 7.000 personel. Dengan menurunnya ketegangan, semua pesawat angkut telah meninggalkan daerah itu hingga awal bulan Agustus, dan pada bulan Oktober 1961 hampir tidak ada jejak intervensi Inggris yang tersisa. Pasukan terakhir berangkat pada 19 Oktober. Sementara itu, pasukan dari Liga Arab telah menggantikan pasukan Inggris untuk menjaga keamanan dan kemerdekaan Kuwait. Liga Arab memang dengan cepat membalas intervensi Inggris dengan mengerahkan pasukannya sendiri, yang dimaksudkan untuk menjamin kemerdekaan Kuwait – dari ancaman Irak dan Inggris Raya. Kontingen Liga Arab ini mundur dari Kuwait hanya setelah rezim Qassem Irak digulingkan dan dibunuh, pada bulan Februari 1963. Pemerintah baru Irak kemudian membuat perjanjian dengan Kuwait, mengakui kemerdekaannya dan menegaskannya dengan melakukan pertukaran Duta Besar. Sehubungan dengan peristiwa ini, Pemerintah Inggris mulai mempertimbangkan kembali komitmennya di Kuwait. Namun, dapat disimpulkan bahwa meskipun serangan Irak ke emirat untuk saat itu kecil kemungkinannya, namun situasi di Irak tidak cukup stabil untuk bisa diandalkan dalam jangka panjang.

Satuan Pengamat Artileri Kerajaan Inggris dari Resimen Lapangan ke-29 terlihat saat turun dari LCT di Kuwait, pada tahun 1961. (Foto: IDR via Born in Battle/https://web.archive.org/)

Meski pada tahun 1963 Irak telah mengakui perbatasan Kuwait-Irak, namun sampai bulan Oktober 1968, Irak masih memiliki satu brigade infanteri dan satu batalion tank di dekat perbatasan dengan Kuwait yang dapat melakukan serangan cepat. Unit-unit ini, bagaimanapun, dapat didukung oleh kekuatan angkatan udara Irak yang terus berkembang. Pesawat-pesawat pembom IL-28 dan TU-16 yang beroperasi dari Habbaniyah (dekat Baghdad) dan sekitar 60 persen pesawat tempur Irak — sebanyak 229 pesawat tempur — dapat dikirim ke daerah Basrah / Zubayr dalam waktu singkat. Di medan tempur, Angkatan Udara Kuwait yang sedang berkembang “harus” dapat menunda serangan, meskipun Kepala Staf  Kuwait menyebut kemampuan pertahanannya sebagai “biasa-biasa saja”. Namun Kementerian Pertahanan telah mengesampingkan skenario yang lebih menakutkan — serangan skala penuh oleh setidaknya satu divisi infanteri dan brigade lapis baja — selama masalah Irak dengan Kurdisan dan konflik Arab-Israel masih belum terselesaikan. Namun, pada pertengahan 1970, JIC melaporkan bahwa kehadiran militer Irak di sepanjang perbatasan dengan Kuwait telah meningkat menjadi satu brigade infanteri mekanis, dua resimen lapis baja (terdiri dari 90 tank), dan dukungan artileri yang “cukup”. Sekitar 70 pesawat serang darat dan hampir 60 pesawat pertahanan udara bersama dengan 19 pembom TU ‑ 16 dan IL-28 yang dimiliki Irak menjadi ancaman udara bagi Kuwait. Sementara itu, Kuwait, dengan hanya memiliki dua brigade infanteri dan satu brigade lapis baja, dinilai kemungkinan akan kesulitan untuk menghentikan serangan yang telah dibayangkan oleh intelijen Inggris. Terlepas dari kesimpulan ini, indikator bahaya yang akan segera terjadi tidak ada dan pasukan Inggris meninggalkan Teluk pada tahun 1971 sesuai rencana.

KESIMPULAN

Hingga saat ini tidak ada bukti bahwa Irak pernah benar-benar berencana untuk menginvasi Kuwait pada tahun 1961. Tentu saja, ancaman tersebut memang dikeluarkan oleh pemerintah yang berbeda di Baghdad berkali-kali, tetapi orang Irak tidak pernah melakukan tindakan dengan menggunakan militer mereka. Pada saat itu dalam “krisis” Kuwait ini, militer Irak sama sekali tidak dalam posisi untuk dapat melancarkan invasi. Situasi ini paling baik dijelaskan oleh fakta bahwa mengenai “episode” ini tidak pernah disebutkan bahkan dengan satu kata pun dalam publikasi resmi sejarah militer Irak – karena menurut mereka tidak ada yang perlu dilaporkan. Oleh karena itu, komentar umum yang menyatakan bahwa “intervensi Inggris dengan cepat membantu menstabilkan situasi” tidak banyak artinya. Namun demikian, Inggris dan AS telah belajar banyak dari berbagai pengalaman intervensi di Timur Tengah (termasuk intervensi di Lebanon dan Yordania tahun 1958) tentang penggelaran pasukan jarak jauh, masalah komunikasi yang terkait, dan pengaturan awal persediaan perbekalan. Terutama depot perbekalan yang berbasis di wilayah tersebut terbukti sangat berharga dalam keberhasilan petualangan Inggris, yang memungkinkan mereka untuk menyebarkan dan mendukung pasukan besar dalam periode waktu yang lebih lama. Militer AS juga menarik pelajaran penting dari fakta ini dan bersiap untuk bereaksi cepat hampir 30 tahun kemudian, ketika Irak benar-benar menginvasi Kuwait, pada musim panas 1990. Hasil penting lainnya dari krisis ini adalah terbentuknya Angkatan Bersenjata Kuwait. Sementara itu, setelah krisis, orang Irak segera mulai membeli peralatan militer tambahan dari Uni Soviet. Misalnya, pada tahun 1962 yang pertama dari kiriman 40 MiG-19 akhirnya tiba, yang diikuti oleh 12 pesawat tempur MiG-21F-13 pertama. Jika akuisisi ini benar-benar datang sebagai reaksi terhadap konfrontasi dengan Inggris atas Kuwait, pada musim panas 1961, maka jelaslah bahwa Irak menyimpulkan bahwa kekuatan militer mereka yang tersedia pada saat itu tidak mencukupi untuk operasi yang diperlukan. Tentunya, dengan melihat ke belakang, harus diperhatikan bahwa Irak setelah itu tidak pernah lagi berada dalam posisi militer atau diplomatik yang buruk saat menghadapi Kuwait.

Krisis Kuwait tahun 1961, pada akhirnya cuma menunda aksi Irak untuk mengklaim wilayah kedaulatan Kuwait. Hampir 30 tahun kemudian, pada tanggal 2 Agustus 1990, Irak benar-benar menginvasi dan mencaplok Kuwait sebelum diusir oleh pasukan koalisi 6 bulan kemudian. (Sumber: https://www.pinterest.co.uk/)

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

Kuwait “Emergency”, 1961 By Tom Cooper & Stefan Kuhn, with Brig.Gen. Ahmad Sadik (IrAF); Sep 9, 2003, 05:48

https://web.archive.org/web/20060613022805/http://www.acig.org/artman/publish/article_203.shtml

Gauging the Iraqi Threat to Kuwait in the 1960s, UK Indications and Warning by Richard A. Mobley

https://www.cia.gov/library/center-for-the-study-of-intelligence/csi-publications/csi-studies/studies/fall_winter_2001/article03.html

he Kuwait Crisis of 1961 and its Consequences for Great Britains Persian Gulf Policy By Helene von Bismarck

https://www.helenevonbismarck.com/wp-content/uploads/2018/01/von-Bismarck_Kuwait-Crisis.pdf

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Operation_Vantage

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *