Matahari Terbit di Pulau Jawa

Awal Januari 1942 Dr. Van Mook wakil Gubernur Hindia Belanda berada di Washington selama dua minggu. Ia berbicara dengan Jenderal Marshall tentang realisasi bantuan militer Amerika terhadap Hindia Belanda. Marshall benar2 disudutkan dalam dilema sebab negara2 yang terlibat dalam peperangan mendesak Amerika untuk memberikan bantuan, padahal Angkatan Bersenjata Amerika sendiri, khususnya di Pasifik telah lumpuh sebagian. Belanda melalui pemerintahan pengasingan di London, telah mengeluarkan biaya 200 juta US Dollar untuk membeli perlengkapan militer guna mempertahankan Hindia Belanda. Ternyata pesanan itu harus menunggu antrian yang panjang, sedang bahaya Jepang sudah begitu dekat mengancam Hindia Belanda.

Serangan Jepang di Pearl Harbor, 7 Desember 1941 telah melumpuhkan sebagian armada pasifik milik Amerika

Pertemuan van Mook dengan Marshall itu hanya menghasilkan komitmen AS untuk segera mengirimkan kapal induk USS Langley dengan 32 pesawat tempur jenis Curtiss P-40 diatasnya. ABDA (America, British, Dutch, Australia) secara moral berwajib membantu Hindia Belanda sebanyak mungkin. Hal ini juga dalam rangka mempertahankan Australia dari ekspansi Jepang yang terus menyelatan itu. Tanggal 4 februari 1942 Jenderal Archibald Wavell telah mendarat di Kemayoran. Tanggal 15 Januari 1942 Jenderal Wavell dilantik sebagai panglima ABDA di Batavia. Tiga hari kemudian ia memindahkan markas besarnya ke Lembang.

Amerika berjanji untuk mengirimkan 40 pesawat tempur Curtiss P-40 ke Hindia Belanda dengan kapal induk USS Langley

Wavell langsung sibuk pada hari-hari pertamanya. Jepang mengancam akan membunuh tawanan perangnya apabila Belanda membakar instalasi minyak Balikpapan. Awal Februari, pasukan Australia di Ambon tak mampu menahan serangan Jepang dan menyerah. Sebentar kemudian gerilya Hindia Belanda di sana pun menyerah dan pasukan Jepang pun sudah mendaratkan marinirnya di Makasar. Kekuatan jepang semakin tak terbendung lajunya. Di Johor, Inggris sudah menarik pasukannya untuk mempertahankan bandar penting Singapura. Tetapi tanggal 15 februari 1942 Inggris akhirnya menawarkan gencatan senjata dan kemudian menyerah tanpa syarat pada Jepang. Jatuhnya Singapura bagi sekutu sudah dianggap sebagai awal hilangnya Jawa dan mungkin Australia pada akhirnya. Tetapi Belanda tetap bersikeras mempercayai ilusi bahwa Jawa dapat dipertahankan sebagai bastion terakhir. Panglima AS dan Inggris tak melihat kemungkinan itu karena tak adanya pangkalan laut yang cukup besar di Jawa, sementara Australia sendiri memiliki sarana itu. Hal inilah yang sedikit banyak melandasi alasan kenapa wilayah nusantara, kecuali bagian timur laut seolah olah diabaikan oleh para perencana strategi sekutu dalam mendesak Jepang, setelah titik balik peperangan di kawasan Pasifik.

Jatuhnya Singapura 15 Februari 1945 membuat mempertahankan Pulau Jawa menjadi opsi yang tidak menarik bagi sekutu, kecuali Belanda sendiri.

Perpecahan ABDA

Perpecahan ABDA tak dapat dielakkan lagi. Apalagi setelah pulau Bawean yang tak dijaga dengan mudah direbut Jepang. Dari Lembang, Jenderal Wavell segera mengirim pesannya kepada Churchill: “ABDA tak bisa berlanjut lagi dan pertahanan di jawa tak dapat bertahan lama lagi. Saya tak melihat adanya kemungkinan untuk melakukan penjagaan di Jawa. Saya disudutkan untuk membuat pilihan meninggalkan markas. Sebenarnya saya juga tidak senang meninggalkan orang2 Belanda yang keras kepala dan sok tahu untuk bertempur sampai titik darah terakhir”.

Churchill menyetujui keputusan itu. Pagi hari tanggal 25 februari 1942 Wavell diterbangkan dengan sebuah pesawat kecil menuju pos nya yang baru di Birma. Perpecahan ABDA ini juga menunjukkan cuci tangan dan upaya penyelamatan muka sekutu setelah jatuhnya Singapura. Kekuatan ABDA yang ditinggal pun kemudian diambil alih oleh perwira2 Belanda. Panglima Angkatan Laut dijabat oleh Admirall Helfrich, Panglima Angkatan Darat oleh Letnan Jenderal Ter Poorten dan Panglima Angkatan Udara oleh Mayor Jenderal van Oyen.

Suggested by the Chinese, endorsed by the Americans, commanded by the British, and presented as a fait accompli to the Dutch and Australians, ABDACOM – American-British-Dutch-Australian Command – was the first attempt at combined Allied military theater command in World War II. Lasting about two months, it became a textbook example of how not to run a supreme headquarters. 

Kekuatan militer yang ditinggalkan sekutu hanyalah sejumlah kapal kecil Inggris dan Amerika, beberapa pesawat terbang Amerika dan Australia, sekitar 500 prajurit Amerika dan 7000 tentara Inggris-Australia yang tergabung dalam “Black Force”. Kapal induk USS Langley yang ditunggu ternyata tak mampu memperkuat pertahanan yang rapuh itu. Pada tanggal 27 Januari 1942, kapal induk yang membawa 32 pesawat tempur itu ditenggelamkan Jepang di lepas pantai Cilacap.

Pertempuran Laut Jawa

Pertempuran laut yang terkenal dengan nama “The Battle of Java Sea” ini menjadi tak terelakkan ketika pada tanggal 26 februari 1942 Jepang telah mengumpulkan seluruh kekuatan armada lautnya di Laut Jawa. Armada ketiga muncul di Selat Malaka dibawah pimpinan Laksamana Madya Takahashi yang membawa satuan perusak Flottila ke-5: terdiri dari penjelajah ringan Natori dan 12 perusak dari jenis Mutsuki dan Kamikaze, 6 kapal selam berikut sebuah kapal depot, 46 kapal pengangkut, 12 penyapu ranjau, 6 kapal ranjau, dan 12 kapal patroli. Armada ini ditambah lagi dengan armada penyerbu timur pimpinan Laksamana Madya Nishimura yang berada di atas kapal Naka, sebuah penjelajah ringan. Armada ini terdri dari 6 kapal perusak, 41 kapal pengangkut dan kapal2 barang. Armada ini merapat di Balikpapan untuk menjemput detasemen Sakaguchi yang terkenal itu.

Dari utara datang sebuah armada pimpinan Laksamana Takagi yang membawa 3 penjelajah, 7 perusak dan beberapa lainnya dengan membawa serta pasukan divisi ke – 48 angkatan darat pimpinan Mayor Jendral Tsuchihashi. Dari selat Bangka bergerak pula Armada Ekspedisi Selatan pimpinan Laksamana Madya Ozawa yang berada di kapal bendera Chokai, sebuah penjelajah ringan. Armada ini membawa serta panglima Angkatan Darat 16, Letnan Jenderal Hitoshi Imamura, dan satuan divisi ke 38 pimpinan Mayor Jenderal Sano. Imamura berada di atas kapal penjelajah Haru meminta tambahan pengawalan dari Armada barat pimpinan Laksamana Kurita yang segera mengirimkan kapal induk induk ringan, beberapa penjelajah ringan, dan beberapa perusak. Armada Kurita sendiri terdiri dari kapal induk Ringan Ryujo, 4 kapal penjelajah berat, 3 penjelajah ringan, 25 kapal perusak dan 50-60 kapal pengangkut.

Kapal induk Ryujo turut memperkuat armada Laksamana Takeo Kurita yang dikirimkan ke Hindia Belanda

Beberapa pesawat pengintai sekutu tak dapat melakukan apa2 melihat armada kapal yang luar biasa besarnya. Para penerbang pengintai itu bahkan tak berani mendekat, sehingga mereka tak tahu bahwa apa yang tampak oleh mereka sebagai kapal layar ternyata adalah kapal pengangkut yang dikamuflase dengan layar. Kekuatan Armada Laut Jepang yang luar biasa itu memang sangat tak sebanding dengan armada sekutu yang tinggal. Apalagi Helfrich melakukan kesalahan dengan “mengusir” sekelompok kapal kecil Inggris ke Srilanka. Kapal2 Inggris itu dipergoki oleh armada jepang di Selat Bangka. Mereka berhasil melarikan diri hingga Tanjungpriok. Tetapi segera setelah mengisi bahan bakar, Helfich segera memerintahkan mereka pergi ke Cilacap karena khawatir pembom Jepang akan memburu mereka dan menghancurkan Tanjungpriok. Perintah ini diubah lagi ketika kapal2 ini mencapai selat Sunda. “terus ke Srilanka!’ perintah Helfrich yang kemudian mendapat banyak kecaman. Seorang sejarawan Laut Amerika menulis: itulah sebabnya sepertiga kekuatan laut sekutu tidak ikut bertempur di laut Jawa. Hindia Belanda ternyata tidak integratif.

Laksamana Helfrich (kanan) membuat keputusan fatal jelang pertempuran laut Jawa dengan memerintahkan kapal-kapal kecil Inggris langsung pergi ke Srilanka dan tidak memperkuat armada sekutu di Jawa.

Pukul 15.00 tanggal 27 Februari 1942, Laksamana Karel Doorman berdiri di anjungan kapal bersama nakoda kapal penjelajah De Ruyter, kapten E.E.B Lacomble. Doorman sedang memimpin kekuatan tempur armada lautsekutu kembali ke Surabaya setelah patroli 37 Jam yang meletihkan. Ketika mereka bersiap memasuki pagar ranjau di depan Tanjungperak, telegrafis de Ruyter menerima pesan Helfrich dari Lembang. Pesan itu memberitahu Doorman adanya gerakan armada jepang di timur pulau Bawean. “serang!” perintah Helfrich. “sasaran utama adalah kapal-kapal pengangkut”. Doorman segera memberi perintah untuk menghubungi kapal-kapal lainnya. “Ikuti saya! Musuh berada dalam jarak 90 mil.” Hampir semua awak terkejut mendengar instruksi itu. Sebagian besar sudah berada dalam titik jenuh, dilanda frustasi.

Laksamana Karel Doorman, komandan AL ABDA dalam pertempuran Laut Jawa

Penjelajah Exeter dibawah pimpinan kapten Gordon yang mendengar instruksi itu segera bergabung. Dengan kecepatan 25 knot, kapal perusak Belanda Kortenaer pun ikut bergebung. Formasi pun segera dibuat. De Ruyter memimpin di depan, HMS Exeter, USS Houston, HMAS Perth di belakang bersama HNLMS Java. Para penjelajah ini diapit 3 perusak Inggris Electra, Encounter dan Jupiter. Di bagian lain diapit oleh kapal2 perusak Amerika: John D Edwards, John D Ford, Alden dan Paul Jones. Pengiring armada adalah kapal2 perusak Belanda: Witte de With dan Kortenaer. Jadi total ada 14 kapal perang sekutu

Laut tenang sore itu. Lima menit setelah pukul empat, nakoda Electra mengirim laporan kepada Doorman tentang cerobong asap kapal-kapal musuh yang sudah tampak olehnya. Di atas Exeter, Gordon pun melihat beberapa kapal musuh yang terpisah dari armadanya. Ia segera memerintahkan untuk mengarahkan meriam pada kapal-kapal terpisah yang ternyata adalah kapal perusak.

HMS Exeter is portrayed fighting her last battle on 1st March 1942, after being trapped by Japanese forces in the Java Sea.  ( James A Flood
Maritime Artist & Historian )

Pukul 16.12 radio berderak di kapal bendera. “ satu penjelajah, sejumlah kapal perusak pada arah 330 derajat, kecepatan 18 knot”, lapor nakoda Electra. Kapal-kapal yang ditampaknya itu ternyata adalah eskader perusak pimpinan Laksamana Tanaka, yaitu Jintsu dan 7 kapal perusak. Sedangkan yang terlihat Exeter adalah bagian dari Eskader ke empat pimpinan Laksamana Madya Shoji Nishimura dengan 6 kapal perusak. Tetapi baik Electra maupun Exeter tidak memperhatikan 2 kapal besar lainnya, yaitu penjelajah Nachi dan Haguro. Pertempuran laut pun tak terhindarkan. Nachi . Peluru meriam ukuran 8 inchi (203 mm) itu mendesing melewati De Ruyter dan mengenai sasarannya, kapal penjelajah berat sekutu Exeter. Exeter miring ke kiri. Kapal-kapal dibelakang yang menyangka Exeter bermanuver ke kiri, ikut pula berbalik ke kiri. De Ruyter tetap maju ke depan.

Cruiser Haguro

Walaupun belum ada perintah dari Doorman, tetapi exeter yang terluka segera membalas tembakan. Houston pun ikut menyerang Nachi. De Ruyter pun kemudian ikut menembak. Tetapi sekalipun beberapa peluru meriam mengenai tubuh Nachi, kapal jepang yang kuat ini terus maju dan bahkan mendekat. Houston, Exeter, dan De Ruyter diserang. Exeter tambah miring dihajar meriam. Baku tembak berlangsung terus di senja itu. Meriam-meriam di kapal sekutu ternyata tak cukup jangkauannya untuk mencapai kapal Jepang. Sedang Jepang dengan meriamnya yang lebih ampuh dengan mudahnya memiringkan beberapa kapal sekutu.

Dengan kapal bendera Naka, Nishimura berhasil membawa 7 kapal perusak menerobos pertahanan sekutu. Formasi sekutu menjadi kacau. Beberapa kapal sekutu yang membentuk barisan jadi sasaran. Doorman mulai bingung karena instruksinya tidak ditaati lagi. “ semua kapal ikuti saya!” perintah Doorman akhirnya untuk mundur ke Tenggara. Sambil mundur armada sekutu ini sempat merusak Asagumo. De Ruyter mendekati Exeter, maksudnya untuk melindungi. Doorman memerintahkan Gordon untuk segera kembali ke Surabaya. Atas ijin Doorman, Electra, Encounter, dan jupiter mengadakan penyerangan terpisah. Tetapi Electra dicegat Jintsu dan dikaramkan dengan 6 torpedo. Encounter dan Jupiter sempat membuat tabir asap untuk menyelamatkan diri. Kedua kapal ini kemudian bergabung dengan Witte de With mengawal Exeter pulang ke Surabaya.

Peta Pertempuran Laut Jawa

Kekuatan Doorman tinggal tersisa Perth, Houston, dan Java, ditambah kapal perusak John D Edwards, Paul Jones, John D Ford dan Alden. Tetapi mereka maju terus mendekati Nachi dan Haguro dari belakang. Pertempuran jarak pendek berlangsung seru. Tabir-tabir asap menghalangi pemandangan. Empat torpedo dari Jintsu berhasil mengenai de Ruyter. Doorman segera memerintahkan kekuatannya menuju selatan. Tetapi hubungan telah menjadi kacau sama sekali. Pada pukul 18.06 kapal John D Edwards menerima sinyal dari De Ruyter untuk mengadakan serangan balasan. Tetapi tak lama kemudian dari beberapa kapal perusak lainnya tampak isyarat lampu untuk membatalkan serangan. Sementara itu dari kapal lain tampak pula isyarat untuk memasang tabir asap. Lelah, kacau, bahan bakar tipis, torpedo habis, akhirnya Nakoda Edwards memutuskan mundur. “kali ini saya tak akan mengikuti si Doorman lagi. Belanda ini hanya bermain dengan keberanian tidak dengan otak”, katanya jengkel.

Jupiter yang mengikuti Edwards tiba-tiba meledak. Ada yang mengatakan terkena torpedo kapal selam. Tetapi dalam mahkamah militer kemudian diketahui bahwa Jupiter terkena pagar ranjau yang dipasang Belanda sebelumnya. Doorman tak menyadari bahwa kekuatannya semakin menipis. Diatas kapal bendera De Ruyter itu, ia seakan-akan tidak menyadari saat-saat terakhirnya. Hubungannya dengan Helfrich ternyata tak menghasilkan bala bantuan.

Hr. Ms de Ruyter

Bulan purnama, pukul 23.22 Doorman melihat kapal-kapal melaju dalam jarak 8.000 yard. Ia pun maju untuk menyerang. Tetapi Nachi dan Haguro yang melihat kedatangan De Ruyter segera mengirimkan torpedo. Torpedo itu tepat mengenai gudang amunisi De Ruyter. Kapal bendera itu meledak berkeping-keping. Nakoda Perth dan Houston hanya melihat dengan menganga. Sementara itu Java yang ingin membalas maju berhasil dikaramkan pula. Pada saat-saat terakhirnya Doorman masih sempat memerintahkan Perth dan Houston kembali ke Batavia.

USS Houston

Pertempuran sia-sia

Apa gunanya “Battle of Java Sea” yang telah menggugurkan banyak korban? Suatu pertempuran dan pertahanan terhadap musuh raksasa tentu hanya berguna bila pertempuran itu dapat menghambat agresi Jepang dan memberi waktu kepada Australia untuk mempersiapkan diri. Amerika Serikat pun memerlukan waktu itu. Tetapi “Battle of Java Sea” tidak menghambat apa-apa. Belanda dan sekutu tidak banya melukai armada Jepang. Sekutu pun tidak melakukan penenggelaman kapal-kapal pengangkut yang penuh tentara. Setidaknya, penenggelaman kapal-kapal pengangkut itu akan menunda niat Jepang.

Dalam episode pertempuran di laut Jawa itu tampak sekali bahwa Belanda memang sudah kalap. Selain perlengkapan yang sudah ketinggalan jaman, juga Belanda menggunakan strategi tradisional dalam perang laut: kapal perang melawan kapal perang! Kekonyolan itulah yang agaknya menjadi sebab utama pecahnya ABDA dan hengkangnya Wavell dari Lembang, selain karena para peringgi2 sekutu sudah tidak melihat adanya peluang untuk menghambat agresi Jepang di pulau Jawa.

Tanggal 28 Februari 1942, Perth dan Houston yang lelah meninggalkan Tanjungpriok. Keduanya tak ingin lagi berperang dan ingin keluar Selat Sunda dan berlayar aman di samudera Hindia. Tetapi itu ternyata mimpi belaka. Perth dan Houston dicegat armada barat pimpinan Laksamana Kurita di Selat Sunda. Kapal perang Fubuki menembakkan peluru sinar keatas dan bersamaan dengan itu melepaskan sembilan torpedo. Tak ada pilihan lain bagi Perth dan Houston yang lelah. Sambil zig-zag, mereka pun melepaskan tembakan. Empat kapal pemgangkut kena tembakan mereka. Dua diantaranya langsung karam. Panglima Tentara ke 16, Letnan Jenderal Imamura ikut di atas kapal Hara ikut terlempar ke laut dan berenang ke pantai. Perth dan Houston memang berhasil menewaskan 300 tentara jepang, tetapi kemudian bulan purnama malam itu menyaksikan kedua kapal malang itu karam. Jepang yang membabi buta menghabiskan banyak torpedo hanya untuk menghajar kedua kapal itu

USS Houston, survivor pertempuran Laut Jawa akhirnya mengikuti jejak de Ruyter dengan tenggelam dihajar armada Jepang di Selat Sunda pada 1 Maret 1942

Malam itu juga Ekspedisi Selatan di bawah pimpinan Laksamana Ozawa membuang jangkar di Teluk Banten. Sebagian dari armada yang datang dari arah barat itu kemudian juga menuju ke Indramayu. Pada saat yang bersamaan iring-iringan kapal yang muncul dari selat Makasar telah tiba pula di lepas pantai Kragan, Jawa Timur. Pesawat pembom sekutu yang melihat pendekatan kapal-kapal Jepang di Kragan ini sempat menenggelamkan sebuah kapal pengangkut Jepang, membunuh lebih dari 150 tentara. Serangan ini membuat 15 pesawat zero jepang mengudara keesokan harinya untuk membalas. Malam harinya radio NIROM menyiarkan peristiwa kekalahan armada sekutu di Laut Jawa.

Jatuhnya Kalijati

Kapal2 pengangkut Jepang di Teluk Banten kini menurunkan pasukannya pada tanggal 1 Maret 1942. Pasukan pendarat yang dipimpin Kolonel Nasu itu terdiri dari 1 Batalyon dari resimen infanteri ke – 16, 1 kompi panser berikut 1 unit penangkis udara, 1 kompi tank, kesatuan pemandu ke-2, 1 kompi pasukan bersepeda, 1 batalyon artileri lapangan dan 1 kompi artileri udara. Pada waktu yang bersamaan mendarat pula pasukan Jepang di merak yang dipimpin oleh kolonel Fukushima. Kekuatannya terdiri dari 1 batalyon dari resimen infanteri ke-4, 1 batalyon panser berikut 2 kompi penangkis udara, 1 batalyon artileri lapangan dan 1 batalyon artileri udara. Kedua pendaratan ini berjalan mulus karena Lembang masih sibuk mengikuti pertempuran di selat Sunda.

Tentara Jepang mendarat di Pulau Jawa

Kekuatan Angkatan Darat Jepang yang terlibat dalam pertempuran di Jawa adalah kesatuan pimpinan panglima wilayah 16 Letnan Jenderal Hitoshi Imamura, yang diantaranya membawahi Divisi ke-2 AD pimpinan Mayor Jenderal Masao Maruyama dan Detasemen Shoji di bawah komando Kolonel Toshinari Shoji. Pada dini hari tanggal 1 maret itu juga Detasemen Shoji mengadakan pendaratan di Eretan Wetan (dekat cirebon). Detasemen yang ditugasi untuk merebut pangkalan udara Kalijati itu tertahan oleh pasukan tank pihak yang bertahan. Tetapi pagi itu juga pesawat-pesawat tempur Zero dikirim untuk menghujani Kalijati dan tempat penting di pantai utara Jawa dengan bom. Serangan yang datang begitu mendadak itu membuat sekutu panik. Beberapa pesawat yang tak sempat tinggal landas dirusaknya sendiri agar tak digunakan Jepang. Batalyon Wakamatsu yang datang dengan sepeda kemudian berhasil menguasai Kalijati.

Shoji segera mengusulkan kepada unit udara ke – 3 AD agar menggunakan Kalijati sebagai markas. Usul diterima, dan segera 27 pesawat tempur didaratkan disana. Usaha sekutu untuk merebut kembali Kalijati berhasil digagalkan. Mayor Sandberg yang dikirim Jenderal Schilling dengan pasukan artilerinya dihantam ketika mereka baru tiba di Padalarang. Detasemen Sato dan Fukushima yang mendarat di Merak segera mendapat perintah menguasai ke Batavia dari darat. Pada tanggal 2 maret, Detasemen Nasu bergerak menuju Jasinga dan tiba di tempat itu pada malam hari. Tetapi ketika akan melanjutkan serangan ke Leuwiliang, detasemen ini ternyata telah ditunggu oleh Batalyon Black Force yang dipimpin Brigadir Jenderal Blackburn. Di Leuwiliang ini Jepang memang berhasil dikalahkan. Tetapi Schilling menyayangkan tindakan Blackburn yang tidak membantu pertahanan KNIL di Tangerang.

Peta Pendaratan Jepang di Pulau Jawa

Sementara itu Imamura telah berhasil menguasai Serang dan menjadikannya sebagai markas. Jawa Barat sudah tersungkup dalam suasana peperangan. Beberapa jalur penting telah berhasil dipotong kekuatan Jepang. Satu jam setelah pendaratan Shoji di Eretan, panglima armada ke ketiga AL Jepang, Laksamana Takahashi yang memimpin armada kapal perang di muara Kali Kragan memberi isyarat bahwa pendaratan dapat dimulai.Kekuatan pertahanan sudah porak poranda. Surabaya jatuh. Surakarta jatuh. Sragen jatuh. Boyolali jatuh. Pertempuran berlanjut terus di Magelang, Yogya, Wonosobo, Purwokerto, sampai nanti datang perintah gencatan senjata total di Bandung.

Bandung pun jatuh

Helfrich telah pergi. Batavia pun menjadi kota terbuka. Bandung menjadi pusat pengungsian. Selain masyarakat yang datang dari Batavia dan Bogor, juga orang-orang Inggris, Australia dan Amerika yang sejak jatuhnya Singapura berada di Batavia. Jalan raya antara Bogor-Bandung macet total akibat arus pengungsian.’ Tanggal 5 maret itu Gubernur Jenderal Hindia Belanda Tjarda van Starkenborgh Stachouwer mengangkat Jenderal Ter Poorten sebagai panglima Angkatan Bersenjata Hindia Belanda. Pengangkatan ini sesuai dengan instruksi pemerintah pelarian di London. Pengangkatan Ter Poorten ini sekali lagi kelihatan sebagai move penyelamatan muka. Cepat atau lambat Jepang akan menguasai wilayah kekuasaan Hindia Belanda. Dan untuk itu militer harus bertanggung jawab.

Sementara itu kolonel Shoji sudah merebut Ciater, beberapa kilometer dari Lembang. Pertempuran berkobar terus di sekitar Ciater. Semua kekuatan terpusat di Lembang dengan dua Jenderal. Pada malam itu juga tiga pesawat Lockheed dan sebuah Dakota membawa kelompok pengungsi. Karena Tjarda menolak ikut, kelompok ini dipimpin oleh Dr. van Mook dan Dr. van der Plas. Pengungsian ke Australia ini tidak saja membawa personil Belanda dan sekutu, tetapi juga beberapa orang Indonesia yang menjadi pegawai pemerintah Hindia Belanda seperti Abdulkadir Widjojoatmodjo, PAA Sujono dan Hilman Djajadiningrat. Meraka sengaja dibawa untuk mendirikan pemerintahan pelarian di Australia. Beberapa tokoh masyarakat Indonesia ketika itu juga ditawari untuk mengungsi, seperti Sri Sultan Hamengkubuwono IX, tetapi menolak.

Sore hari tanggal 7 maret terjadi pertempuran udara di atas lembang. Pintu pertahanan memasuki Bandung itu diserang hebat. Letnan Kolonel Altena yang berada di garis pertahanan dipukul mundur. Detasemen Shoji yang sudah bergabung kemudian hanya memerlukan waktu setengah jam untuk memasuki Lembang. Schilling segera memerintahkan pasukannya mundur ke arah Cipatat.Tetapi di front lain, Detasemen Nasu sudah menghalau kekuatan pertahanan di Padalarang dan siap memasuki Cimahi.

Belanda Menyerah di Kalijati

Pukul sembilan malam, kolonel Shoji yang sudah memasuki Lembang menerima laporan bahwa seorang utusan Hindia Belanda ingin menemuinya untuk membicarakan gencatan senjata. Perundingan itu memang menghindarkan bandung dari pertumpahan darah. Pada malam hari tanggal 7 maret 1942 terdengar suara terakhir dari penyiar radio NIROM yang menggunakan bahasa Belandanya yang terakhir: Wij sluitern nu, vaarwel tot betere tijden. Leve de Koningin”. Siaran kami tutup sekarang, selamat berpisah sampai masa yang lebih baik. Hidup Sri Ratu!……………

Sumber: Majalah Mutiara Maret 1982

One thought on “Matahari Terbit di Pulau Jawa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *