Mengenal Varian Kapal Selam Serang Type 209, Yang Masih Menjadi Andalan TNI AL

Kapal selam serang diesel elektrik Tipe 209 adalah produk persenjataan Jerman Barat berorientasi ekspor yang memungkinkan angkatan laut dengan anggaran terbatas mengoperasikan kapal selam berteknologi modern dengan harga terjangkau. Desain kapal selam yang kompak ini memiliki perpaduan ideal dari sisi efektivitas biaya, kesenyapan, daya tembak, dan kinerja menyelam bagi pembeli yang menginginkan sebuah kapal selam yang memiliki kemampuan jelajah jarak jauh. Dengan total pesanan sebanyak 64 kapal untuk kelas ini meskipun hanya 61 yang benar-benar diselesaikan dengan tiga unit dibatalkan, menunjukkan popularitas dan kehandalan dari kapal ini. Pada tahun 2014, masih terdapat 59 kapal selam Type 209 yang dioperasikan di seluruh dunia, sementara pesanan dari varian ini masih dibuat di berbagai galangan kapal di dunia.

Kapal Selam Serang Diesel Elektrik Tipe 209 adalah salah satu kapal selam serang konvensional yang paling banyak dibuat di dunia hingga kini. (Sumber: https://www.asiapacificdefensejournal.com/)

DESAIN & PENGEMBANGAN

Kapal selam diesel-elektrik asal Jerman Type 209 adalah kapal selam ekspor dengan rekor penjualan paling populer di dunia pada awal 1970-an hingga tahun-tahun pertama abad ke-21. Kapal selam Tipe 209 sendiri dibuat murni untuk tujuan ekspor menggantikan kapal selam Type 206 yang telah dibangun untuk AL Jerman Barat dari tahun 1968 hingga 1975 dan berjumlah delapan belas unit. Pada tahun 1967, galangan kapal Kieler Howaldtswerke (sekarang Howaldtswerke-Deutsche Werft AG) menandatangani kontrak untuk pengiriman empat kapal selam dengan bobot sekitar 1.000 ton ke Angkatan Laut Kerajaan Yunani (Yunani menjadi republik pada tahun 1975). Kontrak itu adalah yang pertama dari sekian banyak pesanan kapal selam yang oleh Kementerian Pertahanan Jerman Barat (saat itu masih terpecah dua antara timur dan barat) disebut sebagai kapal selam “Tipe 209” dan kemudian menjadi kelas kapal selam non-nuklir buatan Barat yang paling banyak dibuat. Pada awal tahun 1970-an, banyak angkatan laut mendapati diri mereka perlu  untuk mengganti kapal selam masa pra dan pasca Perang Dunia II mereka. Pesanan tambahan kemudian mulai diterima pada tahun 1969 dari Argentina, 1970 dari Peru dan Kolombia, 1971 dari Turki, dan 1972 dari Venezuela. Desain kapal selam ini awalnya didasarkan pada kapal selam yang dibuat untuk Angkatan Laut Jerman Barat. Konstruksi lambung tunggal dirancang dengan sederhana – seorang perwira yang menggunakan periskop dapat melihat sepanjang kapal selam dari tabung torpedo di haluan hingga ke ujung buritan ruang mesin. Di bawah dek tunggal, terdapat ruang baterai besar yang mengambil sekitar 25% dari total bobot kapal. Motor listrik berkecepatan rendah berkekuatan 5.000 tenaga kuda yang dipasang langsung melekat pada poros (tanpa reduction gears) dan dapat menggerakkan kapal hingga kecepatan lebih dari 20 knot.

Kapal selam serang Type 206 milik AL Jerman. Proyek kapal selam Type 206 membuka jalan bagi kesiapan pabrik untuk meluaskan kapasitas produksi memenuhi kebutuhan ekspor kapal selam Type 209. (Sumber: http://www.seaforces.org/)

Desain kapal kemudian berkembang ketika kapal selam ini kemudian dirancang untuk menjalankan misi yang lebih beragam. Sistem propulsi, awalnya dilengkapi dengan mesin tipe suction diesel engine, lalu diubah ke tipe mesin supercharged yang menghasilkan peningkatan kinerja yang luar biasa. Ketika pesanan diterima dengan tujuan penggunaan termasuk misi operasi di perairan Karibia atau Asia Tenggara yang beriklim tropis, menjadi penting untuk mengembangkan dan menginstal fasilitas pendingin udara yang memadai untuk awak dan sistem elektronik kapal. Bobot kapal tergantung pada persyaratan khusus yang dipesan oleh pelanggan yang berbeda, ukuran kapal selam bisa meningkat dari bobot asli 1000 ton, dalam beberapa kasus dapat meningkat hingga sekitar 50%. Ukuran dan ruang tambahan diperlukan untuk mengakomodasi peningkatan jangkauan, tempat tinggal awak, lebih banyak peralatan elektronik dan dalam beberapa kasus meningkatkan kedalaman menyelam. Kapasitas baterai juga ditingkatkan baik dalam penggunaan daya rendah maupun tinggi, sehingga jarak berlayar dalam keadaan semi menyelam dan kecepatan maksimum tetap mampu dipertahankan meskipun ada peningkatan ukuran lambung dan bobot kapal. Berbagai modifikasi dan varian dari Tipe 209 dikenal dari perbedaan bobotnya (bobot kerap dibulatkan angkanya). Setidaknya ada beberapa varian dalam kelas Tipe 209 yang dikenal, yakni model 1100, 1200, 1300, 1400, dan 1500.

Rancangan desain sederhana dari kapal selam Type 209. (Sumber: https://abarky.blogspot.com/)

Keberhasilan ekspor kapal selam ini sebagian besar disebabkan oleh kontrak pada tahun 1969 untuk membuat kapal selam Tipe 206 (tipe kapal selam yang lebih kecil dari Type 209) untuk Angkatan Laut Jerman Barat yang diberikan berdasarkan Prinsip Kontraktor Umum yang berarti bahwa galangan konstruksi sebagai Kontraktor Umum bertanggung jawab atas fungsi kapal selam secara keseluruhan, termasuk pengujian dan uji coba dan kesuksesan menembakkan Torpedo latihan. Kontrak ini mampu mempersiapkan galangan kapal untuk melengkapi personel, sumber daya material, dan pengalaman yang diperlukan untuk mengambil peran dan tanggung jawab yang diperlukan oleh Kontraktor Umum untuk melayani pesanan ekspor. Dengan minat yang terus-menerus dari angkatan laut berbagai negara di luar Jerman akan kapal selam berdesain dasar Tipe 209 telah mengarahkan pada lebih banyak pesanan, serta dengan adanya kemajuan dalam bidang elektronik yang berjalan dengan sangat cepat, sehingga kapal ini perlu untuk segera beradaptasi dengan peralatan baru. Lebih dari itu banyak pembeli memiliki persyaratan khusus, sebagian besar karena keinginan mereka untuk menggunakan peralatan dari sub-kontraktor khusus dengan alasan logistik. Dengan demikian, di satu sisi peralatan dasar kapal diperbarui, dan di sisi lain pengalaman baru diperoleh dengan melakukan kerjasama dengan subkontraktor baru. Misalnya, penyesuaian pada sistem pengendali penembakan yang diproduksi oleh perusahaan asal Amerika, Singer Librascope atau perlengkapan buatan perusahaan Ferranti asal Inggris, sementara itu Atlas yang tidak hanya membuat sistem sonar tetapi juga mulai mengkhususkan diri dalam membuat sistem senjata yang lengkap terintegrasi, dimana sistem “IUS” yang dibuatnya ini dipasang pada beberapa kapal selam Type 209 terbaru. Penggabungan peralatan baru dari sistem senjata yang berbeda secara otomatis menyebabkan perubahan konfigurasi di tempat lain pada kapal selam, karena perubahan tersebut menyiratkan kebutuhan ruang yang berbeda, pasokan listrik yang berubah, serta perubahan pada fasilitas pendingin lainnya.

Mesin MTU 12V 396 yang menjadi sumber tenaga dari kapal selam Type 209. (Sumber: http://en.eagle-engine.com/)

Seperti yang telah disebutkan diatas sistem propulsi awalnya dilengkapi dengan mesin suction diesel kemudian diganti dengan mesin supercharged, yang meningkatkan kinerja mesin. Dengan dimensi kapal yang berbeda-beda semuanya didukung dengan kombinasi yang menampilkan format 4 x mesin diesel-listrik MTU 12V 396 menghasilkan kekuatan 2.8MW, dengan empat alternator yang dibubungkan dengan satu motor 3.7MW Siemens, yang menggerakkan satu poros tunggal untuk beroperasi di permukaan laut dan baterai dengan format 4 x 120-sel untuk pengoperasian di bawah laut. Semua kecuali versi 1500 memiliki output kekuatan sekitar 5.000 tenaga kuda, sementara mesin kapal versi 1500 memiliki output kekuatan sekitar 6.100shp dengan format baterai 4 x 132-sel bukannya 120-sel seperti versi lainnya. Dengan bantuan dari dua produsen baterai yang disebutkan sebelumnya, kualitas baterai bisa ditingkatkan baik dalam kondisi daya rendah dan daya tinggi, sehingga jangkauan berlayar dalam kondisi menyelam dan kecepatan maksimumnya tetap dapat dipertahankan meskipun terdapat peningkatan ukuran kapal selam. Dengan adanya pesanan untuk kapal selam yang dapat dioperasikan di perairan Karibia atau Asia Tenggara, sehingga perlu untuk dibuat dan dikembangkan fasilitas pendingin udara yang memadai untuk awak dan perangkat elektronik, dengan tingkat redundansi yang sesuai dengan iklim tempat kapal selam dioperasikan. Tergantung pada persyaratan khusus yang dipesan oleh pembeli yang berbeda, ukuran kapal selam bisa berbeda antara satu dengan yang lainnya. Hasil akhirnya adalah munculnya “keluarga Tipe 209” yang terdiri dari kapal selam yang sangat bervariasi. Salah satu tujuan konstan dalam pengembangan berkelanjutan teknologi kapal selam adalah pengurangan kebisingan. Berkat banyaknya pesanan yang ada hampir setiap tahunnya, setiap kontrak pembuatan kapal baru diuntungkan dari hasil penelitian dan teknologi terbaru, dengan setiap perbaikan diuji selama uji coba laut yang kemudian dapat dimasukkan ke dalam proyek pembuatan kapal berikutnya. Hal ini secara mengejutkan mampu membuat desain kapal yang berevolusi ini bisa mencapai tingkat kesenyapan yang baik selama snorkeling maupun dalam perjalanan menyelam. 

Kapal selam Type 209, TCG Batıray milik AL Turki. Kapal selam Type 209 dikenal cukup senyap digunakan di kelasnya. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Kecepatan umum dari kapal selam Type 209 adalah sekitar 11 knot (20,372 km/jam) di permukaan, sementara pada saat menyelam di bawah permukaan laut, kecepatannya dapat dibesut hingga 22,5 knot (41,67 km/jam). Jangkauan jelajah Kapal ini dapat mencapai jarak hingga 11.000 mil laut (20.372 km) saat menyelam di kedalaman snorkel dengan daya tahan melautnya sekitar 50 hari sebelum membutuhkan pasokan ulang. Kapal-kapal type 209 telah diuji untuk dapat menyelam hingga kedalaman 500 meter dibawah permukaan laut. Seperti halnya semua kapal selam diesel-listrik lainnya, kapal selam Type 209 membutuhkan kapal untuk naik ke permukaan guna mengisi ulang persediaan baterai dan mengambil pasokan oksigen segar. Lambung kapal Type 209 rata-rata memiliki panjang 62 m, lebar 7,6 m dan tinggi 5,8 m. Total awak kapal tipe ini berkisar dari 31 personel di versi 1100 hingga 36 personel di versi 1500. Persenjataan untuk kapal kelas ini sama di seluruh varian, yakni 8 tabung peluncur torpedo kaliber 533mm dengan empat belas torpedo cadangan yang dapat dibawa. Kapal-kapal tersebut juga dilengkapi kemampuan untuk menyebar ranjau laut dan peralatan opsional yang memungkinkan untuk mendukung peluncuran rudal anti-kapal UGM-84 “Harpoon”.

Persenjataan utama Kapal Selam Type 209 adalah torpedo kaliber 533 mm. (Sumber: https://www.indomiliter.com/)

Tipe 209 kini mulai digantikan oleh kapal selam Type 212 yang baru setelah memasuki dinas operasional dengan angkatan laut Jerman pada September 2003 dan dengan angkatan laut Italia pada Oktober 2004. Pengguna kapal selam Tipe 209 termasuk adalah Argentina (2 Tipe 209/1200); Peru (6 Tipe 209/1200); Kolombia (2 Tipe 209/1200); Venezuela (2 Tipe 209/1200); Equador (2 Tipe 209/1200); Indonesia (2 Tipe 209/1200); Chili (2 Tipe 209/1400); India (4 Tipe 209/1500); Brasil (3 Tipe 209/1400); Korea (9 Tipe 209/1200); Turki (6 Tipe 209/1200, 8 Tipe 209/1400); Yunani (4 Tipe 209/1100, 4 Tipe 209/1200); Mesir (4 Tipe 209/1400). Operator terbesar kapal selam ini adalah Turki dengan total empat belas kapal (termasuk secara lisensi), yang paling baru mulai beroperasi pada tahun 2007 (“Birinci Inonu”). Karena popularitas globalnya, kapal selam Tipe 209 diizinkan untuk dibuat secara lisensi lokal oleh galangan kapal asing di luar dari Howaldtswerke-Deutsche Werft dan Nordseewerke di Jerman. Kapal selam ini dibuat juga Arsenal de Marinha dari Brasil, Mazagon Dock Limited India, Daewoo Shipbuilding and Marine Engineering dari Korea Selatan, dan Golcuk Naval Shipyard di Turki. Dengan banyak kapal Type 209 yang masih beroperasi hingga hari kini, kapal jenis ini nampaknya akan tetap menjadi persenjataan vital di masa mendatang. Meskipun tidak sekuat atau sefleksibel kapal selam nuklir milik negara-negara seperti Amerika Serikat, Inggris, Prancis, dan Rusia, kapal selam Type 209 masih menawarkan kemampuan tempur bawah air yang sangat dibutuhkan dengan biaya yang relatif murah (tanpa limbah lingkungan) dibanding kapal-kapal selam serang nuklir.

VARIAN

Kapal selam Type 209 dikembangkan menjadi berbagai varian yang umumnya ditentukan oleh bobot dari kapal selam dan pesanan dari masing-masing pembeli, dimana secara umum terdiri dari:

Varian Dasar

Lima varian kapal selam ini telah diproduksi yakni: Tipe 209/1100, Tipe 209/1200, Tipe 209/1300, Tipe 209/1400 dan Tipe 209/1500. Sementara itu U-209PN yang dipesan oleh Angkatan Laut Portugal sebenarnya adalah Tipe 214. Tiga kapal selam kelas Dolphin pertama yang dibangun untuk Angkatan Laut Israel sebenarnya juga didasarkan pada Tipe 209 meskipun telah dimodifikasi secara luas dan diperbesar. Beberapa modifikasi juga telah dibuat pada kelas ini yang menghasilkan beberapa varian termasuk pemasangan mesin diesel yang lebih baru. Fitur AC dan perangkat elektronik baru telah ditambahkan untuk mengakomodasi pesanan dari negara-negara di kawasan Amerika Selatan. Tim dari Ingenieur Kontor Lübeck (IKL) dan Howaldtswerke-Deutsche Werft (HDW) sempat mengusulkan kapal selam Tipe 209 yang diperbesar, Tipe 2000, untuk program kapal selam kelas Collins. Desain yang diusulkan kira-kira 500 ton lebih berat dari Type 209/1500 untuk AL India, namun kemudian kalah tender dengan desain Type 471 dari Kockums, yakni kapal selam kelas Västergötland yang telah diperbesar asal Swedia. Kelas Thomson yang dibangun untuk Angkatan Laut Chili memiliki pintu keluar yang dipasang di ruang torpedo dan mesin. Pintu keluar tambahan di belakang buritan juga dipasang dengan akses ke bagian mesin. Kapal tipe ini juga dilengkapi dengan menara yang lebih tinggi untuk mengimbangi kondisi gelombang laut di sekitar kawasan Chili. Kelas Tikuna yang dibuat untuk angkatan laut Brasil adalah Tipe 209/1400 yang telah dimodifikasi. Kapal ini lebih panjang 0,85 m dan dilengkapi dengan mesin diesel dengan daya yang lebih tinggi, motor listrik, baterai, elektronik, dan sensor yang berbeda. Kelas Shishumar, kapal selam type 209 yang dibuat untuk dan oleh India cukup unik karena memiliki wahana untuk melarikan diri terintegrasi yang dirancang oleh IKL. Wahana itu mampu mengakomodasi untuk seluruh awak dengan pasokan udara selama delapan jam. Sementara itu Kelas Sabalo yang dibuat untuk Venezuela sedikit diperpanjang selama modernisasi di HDW pada awal tahun 1990-an. Peningkatan panjang ini disebabkan oleh penambahan kubah sonar baru yang mirip dengan model yang dipasang pada kapal selam Type 206 milik Jerman. 

Kapal selam Type 209/1400, Charlotte Maxeke milik AL Afrika Selatan bersama dengan HMS Portland pada tahun 2014. Afrika Selatan diketahui mengoperasikan 3 kapal selam type 209. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Antara tahun 2004 dan 2006, kapal selam tipe 209/1300 kelas Cakra milik Indonesia sedang menjalani perbaikan oleh Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering di Korea Selatan. Kapal selam yang telah diperbarui ini menampilkan baterai baru, mesin yang diremajakan, dan sistem tempur modern. STN Atlas-Elektronik CSU 3-2 sonar suite kedua kapal selam yang ada digantikan dengan L-3 ELAC NautikbLOPAS 8300 sistem sonar pasif dan sistem CMS MSI-90U MK2 buatan Kongsberg. Pada tahun 2009, Daewoo memenangkan orderan lain untuk memperbarui kapal selam Nanggala, asal Indonesia yang selesai pada awal 2012. Kapal Selam Type 209 juga memungkinkan untuk diperbarui dengan sistem Air-independent propulsion (AIP) terbaru yang mampu menambah daya tahan kapal dalam menyelam lebih lama sebelum harus mengisi baterai di permukaan. Kapal pertama yang menerima peningkatan kemampuan ini adalah tiga kapal dari kelas Yunani Poseidon Tipe 209/1200 di bawah program peningkatan Neptunus II. Mereka harus ditingkatkan dengan memotong setengah kapal dari bagian ruang kontrol dan menambahkan plug sepanjang 6 m dengan sistem AIP Siemens 120 kW ke kapal. Program ini dibatalkan pada tahun 2009 karena pembatalan Proyek Archimedes (Tipe 214), tetapi tidak sebelum Okeanos (S118) menyelesaikan upgrade. Setelah penyelesaian Proyek Archimedes tercapai, diputuskan bahwa alih-alih meningkatkan dua Tipe 209 yang tersisa, dua kapal Tipe 214 tambahan dipesan, tetapi kesepakatan itu dibatalkan oleh Howaldtswerke-Deutsche Werft. Pembaruan AIP Angkatan Laut Turki untuk kelas Atılay (209 Tipe 1200) juga dibatalkan guna mengakuisisi kapal selam Tipe 214 yang lebih baru.

Varian Upgrade Kelas Chang Bogo

Kapal selam kelas Chang-Bogo (Hangul: 장보고 급 잠수함, Hanja: 張 保 皐 級 潛水 艦) asal Korea Selatan dilaporkan telah banyak ditingkatkan kemampuannya pada abad ke-21, yang jika benar-benar dilakukan seharusnya mencakup perluasan lambung kapal secara domestik dari bobot 1.200 ton menjadi 1.400 ton dan penambahan perangkat Torpedo Acoustic Counter Measures (TACM) yang dikembangkan di dalam negeri. Beberapa peningkatan mungkin terpengaruh atau diubah karena masalah ekonomi Korea pada akhir 1990-an, yang memodifikasi rencana lain untuk memperoleh sembilan kapal berbobot 1.500 ton dengan fitur AIP atau meningkatkan enam kapal dengan bobot 1.200 kapal menjadi Kapal berbobot 1.500 ton yang dilengkapi AIP, meskipun rencana yang lebih ambisius untuk memperoleh sembilan kapal selam tipe 214 AIP seberat 1.800 ton telah ditetapkan dan dikembangkan, yang sedikit banyak terbantu oleh pemulihan cepat ekonomi Korea Selatan pada tahun 1999, yang dilaporkan akan diselesaikan pada tahun 2018 ketika semua kapal selam tipe ini dijadwalkan untuk dioperasikan. LIG Nex1 mulai memproduksi TACM untuk jenis kapal selam ROKN yang tidak jelas tipenya pada tahun 2000. Baterai lead-acid pada Tipe 209 diganti untuk baterai lithium-ion berkapasitas lebih tinggi yang memperpanjang jangkauan Chang Bogo dan daya tahan dibawah air.

Galangan Kapal Daewoo, Korea Selaran membuat kapal selam Type 209 versi mereka sendiri yang dikenal sebagai kapal selam kelas Chang Bogo. Indonesia merupakan pembeli satu-satunya kapal selam kelas Chang Bogo diluar AL Korea Selatan. (Sumber: https://asiapacificdefencenews.com/)

Modernisasi ini juga melengkapi kapal selam dengan kapabilitas peluncuran rudal Sub-Harpoon, sebagai bagian dari upgrade yang dimaksud, dan tampaknya telah dilakukan pada beberapa kapal selam pada tahun 2008. Mereka dapat juga dilengkapi dengan torpedo berat White Shark, dan mungkin juga dapat dilengkapi dengan rudal anti-kapal Hae Sung yang dapat diluncurkan kapal selam nantinya. Meskipun kelas ini terlalu kecil untuk menampung rudal yang diluncurkan secara vertikal, delapan tabung torpedo-nya dapat menembakkan rudal serang permukaan yang dimodifikasi untuk peluncuran lewat tabung torpedo. Rudal anti kapal seperti Harpoon ini ditembakkan dari tabung torpedo kapal selam di dalam kontainer kedap air yang meluncurkan di udara setelah kontak dengan permukaan air dilakukan untuk kemudian terbang ke sasaran seperti rudal anti kapal biasa. AIP dan sonar array pada bagian sisi badan direncanakan untuk dimodernisasi di masa depan. Pada bulan Desember 2011, Daewoo memenangkan kontrak untuk membuat bagi Angkatan Laut Indonesia tiga kapal selam kelas Chang Bogo seberat 1.400 ton dengan harga $ 1,07 miliar. Pembuatan kapal selam akan dimulai pada Januari 2012, dimana pengirimannya akan dilakukan pada tahun 2015 dan 2016, untuk kemudian dioperasikan pada paruh pertama tahun 2018. Kapal selam tersebut dideskripsikan sebagai model buatan Korea, yang lebih besar dan lebih modern daripada Type 209/1300 milik Indonesia yang telah diperbaharui sebelumnya. Awalnya kapal selam yang ditawarkan adalah kapal selam bekas ROKN yang siap pakai. Penjualan akan dilakukan tanpa keterlibatan perusahaan asal Jerman. Korea Selatan saat ini adalah satu-satunya negara di luar Jerman yang secara independen menawarkan kapal selam Tipe 209 untuk dijual. Indonesia juga ditawari dua kapal selam tipe 209 yang dibangun dengan lisensi yang diproduksi oleh perusahaan Turki (SSM – Undersecretariat untuk Industri Pertahanan) dan perusahaan Jerman (HDW / ThyssenKrupp), kesepakatan yang dilaporkan bernilai $ 1 miliar. SSM juga menawarkan sewa kapal selam Tipe 209 sampai kapal selam baru dapat diselesaikan. Tetapi tawaran-tawaran lain sejak saat itu telah digantikan oleh kontrak kapal selam buatan DSME. Tiga kapal selam baru kabarnya akan dilengkapi dengan sistem tempur Kongsberg MSI-90U MK2, sistem RESM Pegaso Indra dan radar Aries-S LPI.

PERLENGKAPAN SENSOR DAN PERSENJATAAN

Karena kapal selam Type 209 memiliki banyak varian, maka dari itu sukar ditentukan jenis perlengkapan sensor dan persenjataan dasar dari kapal selam jenis ini. Berikut adalah beberapa catatan mengenai peralatan sensor dari kapal selam kelas Manthatisi (Type 209/1400) yang dimiliki oleh AL Afrika Selatan untuk membantu memberi gambaran singkat tipikal dari peralatan elektronik pendukung kapal selam Type 209.

Komando dan kontrol 

Sistem sensor bawah air terintegrasi Atlas Electronic ISUS 90 menyediakan kontrol penembakan untuk torpedo. Selain menyediakan kontrol penembakan dan senjata secara otomatis, sistem ini juga mampu melakukan manajemen sensor serta fungsi navigasi dan dukungan secara otomatis. 

Konsol kontrol Sistem Sensor Atlas Electronic ISUS 90. (Sumber: Twitter)

Sensor 

Kapal selam ini dilengkapi dengan perangkat yang dipasok oleh Carl Zeiss Optronics. Perangkat ini mengintegrasikan sensor optronic dengan kamera TV warna beresolusi tinggi dan thermal imager generasi ketiga. Kamera distabilkan secara gyroscopically pada berbagai ketinggian dan azimuth. Rakitan perangkat sensor dipasang di unit yang dapat ditarik keluar di luar lambung bertekanan kapal selam. Pengamatan dan pengoperasian perangkat ini dikontrol dengan menggunakan konsol. Sistem perangkat optronics ini berfungsi secara otomatis penuh untuk pengawasan dan pengamatan yang sangat cepat sehingga periode paparan perangkat di atas permukaan laut sangatlah singkat. Radar pencarian permukaan beroperasi di frekuensi I-band. Sonar suite mencakup Atlas Electronik CSU 90 sonar array pasif aktif untuk fungsi pencarian-dan-serangan. Sonar ini diatas kertas memiliki jangkauan hingga 44,4 km.

Countermeasures

Kapal selam ini dilengkapi dengan sistem dukungan elektronik Saab Grintek Avionics. Sistem intelijen elektronik ELINT kapal selam adalah Saab S/UME-100 tactical electronic support measures yang menyediakan analisis intelijen elektronik dan kemampuan menemukan arah amplitudo. S / UME-100 terdiri dari antena ESM, antena penerima peringatan radar, unit distribusi sinyal dan pengontrol peperangan elektronik. Antena ESM taktis S / UME-100 terhubung langsung dengan perangkat optronics dan periskop serang.

Persenjataan

Seperti juga peralatan elektronik pendukung, tipe persenjataan yang dibawa masing-masing kapal selam Type 209 di banyak negara juga beragam. Umumnya tipe persenjataan standarnya adalah torpedo (versinya juga macam-macam) dengan opsi tambahan di beberapa negara (sesuai request), kapal selam Type 209 mereka dirancang untuk dapat menembakkan rudal anti kapal permukaan Harpoon. Dalam artikel ini dipilih 2 produk persenjataan, yakni torpedo SUT asal Jerman dan rudal Harpoon asal Amerika.

AEG SUT 264 

Merupakan torpedo kelas berat berukuran 21 inci (53,34 cm) yang diproduksi oleh Altas Elektronik asal Jerman, torpedo ini mulai dioperasikan pada tahun 1967. SUT sendiri merupakan kependekan dari Surface and Underwater Target (Target di permukaan dan bawah air). Torpedo ini merupakan senjata dengan platform serbaguna yang dapat diluncurkan dari kapal, kapal selam, dan peluncur di tepi laut. Dengan panduan sonar aktif dan pasif, torpedo ini dapat menjangkau jarak hingga 28km dengan kecepatan 23knot dan 12km dengan kecepatan 35 knots.

2 Torpedo yang melengkapi persenjataan kapal Type 209 dan variannya, yakni AEG SUT 264 dan Black Shark. (Sumber: https://www.indomiliter.com/)

UGM-84 Harpoon

Harpoon adalah tipe rudal anti-kapal segala-cuaca jarak jauh yang dikembangkan dan diproduksi oleh McDonnell Douglas (sekarang Boeing Defense, Space & Security). UGM-84, merupakan versi Harpoon yang dapat ditembakkan dari kapal selam dilengkapi dengan pendorong roket berbahan bakar padat dan dikemas dalam kontainer untuk memungkinkan peluncuran dari bawah air melalui tabung torpedo. Bobot tipe ini adalah 1.523 lb (691 kg) dengan booster. Rudal berbobot 488 pound (221 kg) ini memiliki panjang 15 kaki (4,6 m), lebar 13,5 in (34 cm), sehingga dapat ditembakkan dari tabung torpedo standar 21 inchi. UGM-84 Harpoon memiliki jangkauan 140 km (75 nmi) yang dapat terbang dengan kecepatan subsonik tinggi, sekitar 850 km / jam (460 knot, 240 m / s, atau 530 mph). 

Rudal UGM 84 Harpoon menjadi persenjataan opsional yang bisa dibawa oleh kapal selam Type 209. (Sumber: https://free3d.com/)

DINAS OPERASIONAL

Negara-negara yang mengoperasikan Tipe 209 termasuk Argentina, Brasil, Chili, Kolombia, Ekuador, Yunani, India, Indonesia, Peru, Afrika Selatan, Korea Selatan, Turki, dan Venezuela. Semua kapal selam Tipe 209 hingga kini tetap beroperasi kecuali untuk ARA San Luis yang dipensiunkan pada tahun 1997 setelah perombakan yang tidak lengkap dan Glavkos yang dinonaktifkan pada tahun 2011. Iran sebenarnya telah menempatkan pesanan untuk enam kapal selam Tipe 209 yang dibatalkan oleh Grand Ayatollah Khomeini pada tahun 1979, setelah Revolusi Iran. Pengguna pertama kapal selam Type 209 adalah Angkatan Laut Yunani yang membeli empat kapal selam Tipe 209/1100 dan empat kapal selam Tipe 209/1200. Operator terbesar dari Tipe 209 adalah Angkatan Laut Turki yang mengoperasikan enam kapal selam Tipe 209/1200 (memasuki dinas operasional antara 1976 dan 1989) dan delapan kapal selam Tipe 209/1400 (memasuki dinas operasional antara 1994 dan 2007). Saat ini, Angkatan Laut Turki juga menjadi operator terbesar kapal selam yang dirancang Jerman di dunia. 

TNI AL merupakan salah satu pengguna lama kapal selam Type 209, dimana kini membeli juga versi Chang Bogo dari Korea Selatan. (Sumber: https://weaponews.com/)

Tiga kapal selam Type 209/1400 baru dikirim ke Afrika Selatan pada tahun 2006, masing-masing seharga $ 285 juta. Tipe 209 sering dilengkapi dengan desain kapal selam lainnya atau dijadwalkan untuk diganti dengan kapal selam yang baru. Argentina misalnya menerima dua kapal selam kelas-TR-1700 (kelas Santa Cruz) selama tahun 1980-an. Sepuluh kapal selam kelas diesel listrik Kilo juga dibeli oleh India pada 1980-an dan 1990-an (kelas Sindhughosh), bersama dengan kapal selam kelas Akula INS Chakra pada 2011. Sementara itu dua kapal selam kelas Scorpène telah dioperasikan oleh Chili, dimana Brasil memiliki empat dan India memiliki enam kapal yang sedang dalam pesanan atau sedang dibuat. Sembilan kapal selam Tipe 214 (kelas Son Won-il) juga telah dioperasikan, sedang dibuat, atau direncanakan dibuat oleh Korea Selatan untuk menambah armadanya, sementara Yunani mengganti kapal selam Type 209 kelas Glavkos yang menua dengan empat kapal selam Tipe 214 (kelas Papanikolis), dan Turki akan menggantikan lebih awal Kelas kapal Atılay dengan enam kapal selam Tipe 214. 

kapal selam Argentina Tipe 209/1200 ARA San Luis (S32) sempat melakukan misi tempur dalam Perang Falkland 1982, dengan nyaris mampu menenggelamkan kapal perang Inggris tanpa terdeteksi. (Sumber: https://www.quora.com/)

Selama Perang Falklands, kapal selam Argentina Tipe 209/1200 ARA San Luis (S32) melakukan misi patroli perang. Saat dalam perjalanan ke area yang ditugaskan, komputer pengontrol penembakannya rusak. Meski demikian kapal ini tetap melanjutkan misi ke medan pertempuran, dan berhasil menembakkan setidaknya 3 torpedo SST-4 mod0 yang dipandu kabel ke armada Inggris. Torpedo  yang dilepaskan mengalami berbagai masalah, dengan kabel pemandu terputus satu menit setelah peluncuran dan torpedo keluar dari jalur penembakan yang ditentukan. Pemeriksaan setelah perang mengungkapkan bahwa giroskop listrik torpedo telah rusak, hal ini mendorong untuk dilakukan perbaikan menyeluruh atas stok torpedo Argentina, dan konversi sebagian dari stok ini dari Mod0 ke Mod1, yang dilakukan oleh perusahaan yang memproduksi senjata-senjata ini, yakni AEG. Selain masalah torpedo ini, patroli San Luis sebagian besar tidak terdeteksi. Kapal selam Argentina ini dikabarkan mampu mendekat ke posisi kapal-kapal perang Inggris hingga jarak 7.000 meter, jarak yang riskan terhadap ancaman penembakan torpedo.

AL Mesir merupakan salah satu pengguna kapal selam Type 209 terakhir yang mengakuisisi kapal selam serang asal Jerman ini. Tercatat Mesir memesan 4 kapal pada tahun 2011 dan 2014. (Sumber: https://www.navalnews.com/)
Para pengguna lama Kapal Selam Type 209 seperti Yunani, Turki dan Korea Selatan kini telah mulai beralih mengakuisisi kapal selam Type 214 yang lebih canggih. (Sumber: http://www.mdc.idv.tw/)

Mesir awalnya memesan dua kapal selam Type-209 / 1400mod pada tahun 2011 dan kemudian memesan dua lagi pada tahun 2014. TKMS mulai membuat kapal selam pertama S41 (861) pada bulan Maret 2012, kapal ini lalu diluncurkan pada bulan Desember 2015 setelah 57 bulan pekerjaan konstruksi. Angkatan Laut Mesir menerima S41 pada bulan Desember 2016, kapal selam kedua S42 diluncurkan pada bulan yang sama. Pada April 2017, S41 tiba di pelabuhan yang akan menjadi pangkalannya di Alexandria dan secara resmi memasuki dinas operasional, setelah melalui perjalanan panjang dari Kiel, Jerman. Sebelum mencapai pangkalan angkatan lautnya, S41 melakukan latihan angkatan laut pertamanya dengan unit-unit lain dari Angkatan Laut Mesir, memastikan kesiapannya untuk bergabung dengan armada AL Mesir. Kapal selam Mesir ini memiliki tabung torpedo 8 x 21-inci (533 mm) dan mampu membawa dan meluncurkan hingga 14 rudal dan torpedo, di samping menyebarkan ranjau laut. Mereka akan dilengkapi dengan torpedo SeaHake mod 4 dan rudal Harpoon UGM-84L Block II.

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

Type 209

https://www.globalsecurity.org/military/world/europe/type-209.htm

NAVY Type 209 (class) Diesel-Electric Attack Submarine

https://www.militaryfactory.com/ships/detail.asp?ship_id=Type-209

SSK Manthatisi Class (Type 209/1400) Attack Submarine

CSU 90 Hull (DBQS-40)

http://cmano-db.com/sensor/4214/

Fact file: AEG SUT 264 heavyweight torpedo

Kapal Selam Serang Konvensional Kelas Oberon, andalan Inggris, Kanada dan Australia saat Perang Dingin.

How a German-Built Submarine Could Have Sunk a British Aircraft Carrier During the Falklands War by Caleb Larson

https://nationalinterest.org/blog/buzz/how-german-built-submarine-could-have-sunk-british-aircraft-carrier-during-falklands-war

https://id.m.wikipedia.org/wiki/SUT_torpedo

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Type_209_submarine

6 thoughts on “Mengenal Varian Kapal Selam Serang Type 209, Yang Masih Menjadi Andalan TNI AL

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *