Mengenang Nguyen Van Bay, Ace Vietnam Utara yang bersahaja

Nguyen Van Bay menghabiskan masa tuanya di pedesaan nan damai yang dulunya pernah terkena dampak dari peperangan dengan menanam sayuran, memelihara ikan dan hidup layaknya petani biasa. Tempat yang ditinggalinya telah mengalami perubahan yang luar biasa selama hampir satu dekade. Desa tempat Bay tinggal memiliki sistem lalu lintas yang baik, jaringan listrik, dan pasokan air bersih. Pada saat beberapa penulis Vietnam mengunjunginya, mobil mereka hanya bisa berhenti sekitar dua kilometer dari rumah Bay. Bay harus mengendarai sepeda motornya untuk membawa rombongan tamunya ke rumahnya. Memasuki rumah, di meja telah tersedia teh yang siap diminum dan Bay sendiri membawa sekotak bir. Bay mendesak istrinya untuk membawakan makanan. Ketika salah satu dari tamunya menunjukkan sikap segan, Bay berkata bahwa, “Anda semua datang ke sini untuk menemui saya, jadi saya harus memperlakukan Anda dengan baik. Itu adalah tradisi kami. “

Setelah pensiun Bay kembali ke daerah kelahirannya di dekat Saigon dan menekuni kegiatan sebagai petani sederhana.

Meskipun matanya telah menunjukkan usia penuaan, namun tutur katanya masih sangat jelas. Bay masih ingat setiap peristiwa yang telah terjadi bertahun-tahun sebelumnya. Bay nampak bersemangat menceritakan kembali kenangan di masa mudanya. Dia berbicara dengan mata, wajah, dan tangannya. Dia ingat bahwa dia tidak pernah menyelesaikan sekolah dasar. Namun, toh ia kemudian berhasil melanjutkan studinya dan menjadi pilot jet tempur. Bay mengatakan bahwa leluhurnya dan bahkan orang tuanya tidak pernah bermimpi untuk menerbangkan pesawat jet dan menekankan bahwa jika Negaranya tidak percaya padanya dan mempercayakan dia menerbangkan MiG-17, ia mungkin tidak memiliki kesempatan untuk menjadi pahlawan. Pekan lalu, pahlawan Vietnam yang bersahaja itu meninggal pada tanggal 22 September 2019 jam 9 malam, di Rumah Sakit Militer 175 di Kota Ho Chi Minh setelah selama seminggu mendapat perawatan intensif. Bay dipindahkan ke rumah sakit pada 16 September dalam keadaan koma yang disebabkan oleh pendarahan otak. Dia pingsan saat bekerja di kebun rumahnya di provinsi Delta Mekong, Dong Thap. Bay meninggal dunia pada usia 84 tahun.

Pahlawan udara asal Vietnam Utara ini telah tiada. Bay meninggal 22 September 2019 lalu di usia 83 tahun.

Awal karier

Bay lahir pada tahun 1937 di dekat Saigon, sebagai anak ketujuh dari 11 bersaudara. Dia pergi ke utara pada usia 16 tahun untuk bergabung dengan Vietminh dan turut berperang melawan Prancis. Ketika perang itu berakhir pada Juli 1954 dengan perjanjian damai yang memecah belah negaranya, dia memilih untuk tetap tinggal di utara. Disaat ini ia kehilangan kontak dengan keluarganya. Dia kemudian mengajukan diri untuk mengikuti pelatihan penerbangan pada tahun 1962 dan termasuk di antara pilot pertama Vietnam Utara yang dikirim ke Cina untuk belajar menerbangkan pesawat tempur. Bay mengatakannya, bahwa dia “langsung beralih dari belajar mengendarai sepeda ke belajar menerbangkan pesawat.” Dia baru belajar mengendarai mobil lama setelah dia memulai pelatihan penerbangan. Para siswa mulai belajar terbang dengan pesawat Yak-18, lalu beralih ke MiG-15, dan akhirnya terbang dengan MiG-17. “Butuh empat tahun untuk berlatih, semuanya di Cina,” kata Bay. “Kami memiliki instruktur Rusia.” Peserta pelatihan lainnya, termasuk Do Huy Hoang, yang bergabung pada saat yang sama dengan Bay dan pergi bersamanya ke Cina, mengikuti tahun pertama pelatihan di Cina dan dilanjutkan dua tahun kemudian di Rusia. Seperti pilot AS, pilot Vietnam Utara biasanya menghabiskan waktu 200 jam terbang dalam pelatihan sebelum pergi bertempur. Kadet Bay, Chao, dan Hoang mendapatkan pengalaman sekitar seratus jam terbang di MiG-17.

Pilot-pilot AU Vietnam Utara belajar taktik perang udara.
Paska Insiden teluk Tonkin 1964, VPAF memilih untuk menahan diri untuk tidak menantang kekuatan udara Amerika sembari menambah jumlah pilot mereka.

Mendapatkan wing terbang tidaklah mudah bagi Bay. “Saya sakit sepanjang waktu di bagian awal pelatihan,” katanya, “jadi saya memotong separuh bola sepak, mengikatnya dengan tali, dan menggantungkannya di leher saya ketika saya terbang. Setiap kali saya muntah, saya akan memuntahkannya ke tempat itu. ” Bay masih dalam pelatihan pada tahun 1964, tahun pertama Vietnam Utara diserang oleh pesawat A.S. Pada tanggal 5 Agustus, dua kapal induk A.S. meluncurkan serangan terhadap sasaran di pantai, dalam serangan yang disebut sebagai pembalasan atas serangan kapal torpedo Vietnam Utara terhadap kapal perusak AS yang mengumpulkan sinyal intelijen di Teluk Tonkin. Waktu itu VPAF baru saja menerima sekitar 36 pesawat tempur MiG-17 dan jet latih MiG-15UTI dari Uni Soviet, tetapi pihak Vietnam Utara takut menyia-nyiakan pesawat terbang dan pilot baru mereka untuk melawan serangan AS. Mereka memilih diam dan merekrut lebih banyak pemuda untuk dilatih terbang. Tahun berikutnya, Bay kembali ke Vietnam, saat itu pesawat A.S. telah memulai kampanye pemboman berkelanjutan yang diberi nama Operasi Rolling Thunder, kali ini VPAF siap untuk mengirim MiG menyerang mereka. Dari April hingga Desember 1965, pesawat VPAF menantang pesawat-pesawat tempur AS dalam 156 pertempuran udara dan mengklaim 15 kemenangan.

Setelah Amerika melancarkan Operasi Rolling Thunder VPAF mulai berani menurunkan MiG dan para pilotnya untuk melawan serangan udara Amerika.

Karir tempur

Pertempuran pertama Bay datang pada 6 Oktober 1965. Waktu itu ia diserang oleh F-4 Angkatan Laut AS yang hampir pasti dipiloti oleh Dan McIntyre dan Radar Intercept Officer Alan Johnson, yang melaporkan menembakkan rudal AIM-7D pada MiG-17 dan mengklaim sebuah “kemungkinan.” Bay teringat sebuah rudal yang meledak dari sayap kirinya. “Saya merasakan panas dari ledakan,” katanya. “Pesawat itu menukik dan mulai bergetar.” Dia segera terbang berbalik ke arah lapangan terbang Noi Bai, tepat di utara Hanoi, dan mempertahankan pesawatnya hingga mendarat dengan aman. Di darat, ia menghitung terdapat 82 lubang di pesawatnya. “Saya merasa seperti seorang petinju kelas ringan yang dengan penuh percaya diri berjalan ke atas ring dan mencoba untuk melumpuhkan petinju kelas berat,” kata Bay. “Itu bukan pertarungan tunggal tetapi lusinan pertarungan dogfight terjadi disana. Kami kalah jumlah empat atau lima banding satu. Pikiran kami saat itu adalah bagaimana bertahan hidup, tidak lebih. ” Luu Huy Chao ingat bahwa kemungkinan berjumpa dengan F-4 mendominasi pemikirannya dalam pelatihan. Chao, seperti juga Bay, ia juga pernah memerangi Prancis dan belajar menerbangkan pesawat terbang sebelum ia belajar mengendarai mobil. “Pelatihan kami mencakup banyak diskusi tentang bagaimana melawan F-4,” ingatnya, “yang dianggap sebagai ancaman paling buruk karena kecanggihannya.” “Pesawat tempur Amerika dapat terbang lebih cepat dari milik kita,” kata Bay. “Kami harus memaksa mereka untuk berbelok. Ketika mereka berbelok, kecepatannya tidak lagi menjadi masalah. Kita bisa memanfaatkan kemampuan berbelok pesawat kami yang lebih lincah dan memotong manuver melingkar mereka untuk kemudian masuk dalam jarak tembak efektif dari kanon kami. ”

Nguyen Van Bay Ace Vietnam Utara dengan 7 kemenangan udara, semuanya dengan menggunakan MiG-17 Fresco.

Kanon MiG Bay pertama kali efektif digunakan pada akhir April 1966. Waktu itu, jaringan radar Vietnam Utara mengindikasikan bahwa pesawat AS mendekati Bac Son dan Dinh Ca, distrik-distrik di dekat pantai tempat pesawat-pesawat penyerang Amerika sedang menuju. Seorang perwira memimpin empat MiG-17 untuk menemui mereka: Bay, Chao, dan Tran Triem mengikuti jejak Ho Van Quy. Tak lama setelah lepas landas, Bay melihat delapan F-4. Salah satu dari mereka terbang melebar ketika formasi penyerang berbalik. Bay memotongnya dan menutup jarak tembak. “Ketika saya melihat seluruh F-4 di kaca windscreen, saya menembak,” katanya, “dan F-4 itu jatuh.” Dia kemudian menulis kepada pengantin barunya, seorang mahasiswa akuntansi di universitas di Hanoi, bahwa ini adalah ” pesawat Amerika pertama yang saya tembak jatuh. “

F-4 Phantom turut menjadi korban dalam kemenangan udara Nguyen Van Bay.

Bay telah menikah lebih dari seminggu waktu itu, ingatnya. Pernikahannya hanya memakan waktu 15 menit. “Saya melepas baju terbang, mengenakan pakaian sipil, mengikuti upacara, dan punya waktu untuk menghisap sebatang rokok,” kata Bay. “Lalu aku kembali mengenakan baju terbangku dan kembali bertugas. Saya terbang bertempur selama 12 hari berturut-turut sebelum saya melihatnya lagi. ” Chao ingat bahwa para pilot terkadang tidur di bawah sayap pesawat mereka ketika mereka dalam keadaan siaga. “Pada hari-hari biasa, kami berada di pesawat pada pukul 8 atau 8:30 pagi dan bersiap-siap untuk terbang sewaktu-waktu,” katanya. “Kadang-kadang perintah terbang datang dengan menembakkan suar. Di waktu lain, bel digunakan. “Lonceng dibuat dari casing bom A.S. yang bahan peledaknya telah dilepaskan. Lonceng kemudian digantung di pohon dan palu digunakan untuk membunyikan alarm untuk siap terbang. ” Pada musim panas 1966, pasukan A.S. meluncurkan serangan reguler terhadap Hanoi, Pelabuhan Haiphong, pusat militer dan industri lainnya di Vietnam utara, dan MiG-21 mulai bergabung dalam pertempuran.

Nguyen Van Bay (kanan) dan rekan-rekannya.

Bay menembak jatuh pesawat lainnya, sebuah F-105, pada bulan Juni dan ingat apa yang ia dan rekan-rekannya pikirkan ketika gelombang pesawat A.S. terus datang: “Orang-orang Amerika dilengkapi dengan sangat baik. Pesawat mereka lebih modern dan jumlahnya lebih besar. Kita semua tahu kekuatan mereka. Kelemahan mereka adalah mereka harus terbang dari jauh. Mereka semua juga merasakan ribuan mata menatap mereka dan ribuan senjata siap menembak mereka dari bawah. Mata mereka tidak bisa berkonsentrasi 100 persen pada pesawat kami; karena itu kami biasanya lebih dulu menemukan mereka sebelum mereka [menemukan kami]. ” Bay menjelaskan strateginya. “Yang paling penting adalah menemukan musuh terlebih dahulu,” katanya, “untuk mendapatkan kecepatan dan terbang lebih tinggi, untuk mendapatkan posisi yang lebih baik. Kami belajar banyak pelajaran dan mempelajari banyak taktik dogfight terkenal dari jaman Perang Dunia II antara Soviet dan Jerman, dan juga dogfight di Pasifik yang masih menggunakan pesawat baling-baling dan kanon. Siapa pun yang menembak terlebih dahulu, dialah yang menang. “

Nguyen Van Bay tercatat menjatuhkan sebuah F-105D.

Pilot VPAF mendapat panduan penyerangan mereka oleh instalasi radar Ground Control Intercept (GCI) yang terletak di pinggiran kota Hanoi dan dekat dengan pantai di dekat Haiphong. Radar menunjukkan gambaran pertempuran udara yang sedang berlangsung dengan petugas kontrol darat, yang mengelola misi intersep dari van radar primer di Hanoi. Petugas kontrol darat memerintahkan penyergapan, menjaga rudal permukaan-ke-udara, atau SAM, agar tidak menembaki pesawat VPAF, dan membuat keputusan akhir tentang apakah perlu melibatkan pesawat dalam serangan. Mereka amat membantu tetapi juga bisa keliru. Bay ingat ketika kembali ke lapangan terbang Kep bersama empat pesawat lainnya ketika ia melihat SAM datang ke arah mereka. “Kami pikir rudal itu ditembakkan untuk melindungi kami dari para fighter Amerika yang dilaporkan ada di belakang kami,” kata Bay. “Rudal itu meledak tepat di MiG yang memimpin didepan. Pilotnya segera eject.

Untuk penyergapan, Bay dan rekan-rekan banyak dipandu oleh kontrol dari darat (GCI).

” Pada 5 September 1966, petugas senior kontrol darat yang adalah mantan pilot MiG-17, Le Thanh Chon (diucapkan “lay tan chon”) mengarahkan Bay dan wingman-nya Vo Van Man keluar dari lapangan terbang Gia sekitar pukul 4 sore. menuju target yang tidak diketahui ke selatan. Ketika Bay menuju ke selatan, ia melihat sekilas pesawat jet serang A-4 yang menjauh dari jembatan yang berasap. Tepat di depannya, dia melihat dua F-8 mendekati A-4 dari kanan awan kumulus besar ke arah mana Bay dan Man menuju. MiG membuang drop tank mereka sebagai persiapan untuk pertempuran. “[F-8] berguling ke arah A-4 dan mengambil posisi di belakang mereka untuk mengawal mereka dari daerah target,” katanya. Seluruh penyerang mulai bergerak di sekitar sisi kiri awan. Chon melihat semua ini terjadi pada radar GCI, memerintahkan Bay untuk terus lurus ke depan, melewati sisi kanan awan, dan memberi izin kepada Bay untuk menyerang. Bay menyerang mengikuti jejak F-8. “Saya membuat dua tembakan, yang kedua dari jarak 80 hingga 100 meter jauhnya,” kenang Bay. “Saya memperhatikan peluru tracer dan menyesuaikan bidikan saya. Peluru itu mengenai Crusader di dekat kanopi. Pesawat mulai pecah. Potongan-potongan datang kembali ke arah saya. ”Bay menarik diri dan bermanuver untuk ketika ia melihat pilot F-8 eject dan pesawat itu jatuh. Pertarungan itu hanya berlangsung 45 detik. Ketika Bay mendarat, kru maintenance menemukan potongan-potongan Plexiglas di saluran masuk mesinnya. Dia kemudian mengetahui, bahwa pilot F-8 itu berhasil ditangkap. (Catatan Angkatan Laut AS melaporkan bahwa pada 5 September 1966, Wilfred Keese Abbott ditembak jatuh di Vietnam Utara ketika menerbangkan F-8 Crusader di lokasi yang tepat seperti dijelaskan oleh Bay. Abbott ditangkap dan selamat hingga akhir perang.)

Wilfred Keese Abbott

Pada 16 September 1966 Alarm terdengar berdering di lapangan udara Gia Lam dekat Hanoi pada sore hari. Bay menerbangkan pesawat ketiga dalam flight empat pesawat, yang dipimpin oleh Ho Van Quy (dilafalkan “ho von kee”), yang memiliki catatan “kill” atas satu F-4. Pada saat ini, Bay sudah memiliki catatan “kill” yang terdiri dari: Sebuah F-4, sebuah Vought F-8 Crusader Angkatan Laut, dan Republic F-105 Thunderchief. Luu Huy Chao (diucapkan “loo wee chow”) terbang sebagai lead wingman. Chao juga mengklaim tiga “kill” hingga saat itu dan akhirnya akan menjadi Ace. Bay adalah yang pertama kali menemukan flight Major John “Robbie” Robertson. Ketika dia meminta izin untuk menyerang, Quy menyatakan keraguan bahwa MiG yang lebih lambat bisa mengejar F-4 di depan. Tetapi ketika MiG mencoba dengan sia-sia untuk menutup jarak, Bay melihat Phantom-Phantom itu melakukan kesalahan. Dia melihat mereka mulai mendaki. Menurut Hubert Buchanan, backseater dari Robbie, pesawat mereka juga terbang di posisi nomor 3 dalam penerbangan mereka. Itu adalah misi tempur ke-17 Buchanan yang melihatkan salah satu kelompok penyerang yang paling besar yang pernah dia ikuti. “Kami berusaha menghindari deteksi radar,” katanya. “Kami terbang agak rendah, tapi tidak terlalu rendah sehingga kami bisa mendapatkan tembakan dari darat, dan waktu itu serangan besar sedang berlangsung. Banyak pesawat beterbangan di tempat itu. Dan di suatu tempat antara Haiphong dan Hanoi, saya kira lebih ke arah Hanoi, salah satu anggota penerbangan kami berteriak bahwa ada MiG, pada arah jam enam jam. “Pada saat itu, kami semua menjatuhkan semua persenjataan dan tangki bahan bakar yang kita miliki, dan mulai berbelok menanjak ke kiri… itu bukan rencana yang baik. MiG mulai memotong jalur penerbangan kami dan menanjak juga. “

Van Bay disambut para crew setelah membukukan kill atas pesawat tempur Amerika. Bay kemudian dikenal sebagai favorit Ho Chi Minh dan beberapa kali diundang untuk makan malam bersama.

Bay memiliki ketiga kanonnya siap digunakan saat ini. “Aku berguling di belakang Phantom,” katanya. “Alat bidik kami buruk. Apa yang harus saya lakukan adalah mendekat pada jarak hampir 100 hingga 150 meter dan mulai menembak. Saya akan membuat penyesuaian penembakan dengan melihat arah tracer. ” Buchanan ingat sempat memberi tahu Robertson, “Orang ini mendekati kita. Dia siap menembak kapan saja sekarang! ” Pada saat itu, salvo peluru kanon sebesar bola golf berwarna oranye melintas di atas kanopi Buchanan. Robertson berusaha menjauh tapi Buchanan melihat MiG bisa menjaga jarak lagi. Dia berkata, “Akhirnya inilah dia, dia berhasil menyelesaikan masalahnya. ” Bay membuntuti, menembak lagi, dan melihat sebuah pecahan menggelinding dari bawah sayap F-4 dan melintas melewati kanopinya. Bagi Buchanan, semuanya terlihat gelap. “Bisa jadi ini karena banyak G force yang menarik darah dari mataku, aku tidak terlalu yakin,” katanya. “Helm saya menghantam sesuatu. Saya benar-benar tidak memiliki ingatan yang jelas tentang bagaimana saya eject; Namun, saya merasa menarik pegangan F-4 yang ada di antara kakinya. Hal berikutnya yang saya tahu, parasut saya terbuka. Ketika saya turun, saya bisa melihat orang-orang berlarian di bawah di sebuah desa kecil. Saya bisa melihat seorang pria di sebelah kanan, tampak seperti dia mengenakan seragam dan senapan, berlari ke arah saya. ” Buchanan ditangkap dan tetap menjadi tahanan sampai tahun 1973. Bay melaju menjauh dari Phantom yang terbakar, lalu berguling kembali untuk melihat apa yang terjadi. Dia menyaksikan pesawat terbang dalam api. “Aku melihat satu parasut,” katanya. Robbie tidak berhasil lolos dari maut waktu itu.

MiG-17 Fresco yang dipiloti Nguyen Van Bay.

Meskipun panduan radar GCI telah memberi Bay banyak keuntungan dalam pertempuran, pada 21 September 1966, GCI mengecewakannya. Dikomandoi oleh petugas kontrol darat ke arah target 10 mil di depan flight empat pesawat yang dipimpinnya, Bay, setelah terbang sekitar tujuh menit, melihat dua F-105 dari ketinggian sekitar 10.000 hingga 13.000 kaki. Dia kemudian membelok untuk melakukan pengejaran, lalu keluar dari belokan tepat di belakang salah satu pasangan F-105 itu tetapi masih jauh dari jangkauan tembakannya. Mengetahui bahwa Thunderchief biasanya terbang dalam formasi empat pesawat, Bay kemudian mengamati langit untuk mencari yang lainnya. Biasanya mereka mudah dikenali — asap hitam panjang biasanya keluar dari mesin mereka. Kamuflase hijau dan coklat gelap dari Thunderchief, sulit untuk dilihat dengan latar belakang hutan. Tapi Bay tidak melihat apa pun. Setelah yakin tidak ada pesawat lainnya, ia memberikan izin kepada wingman-nya, Do Huy Hoang, untuk menyerang salah satu dari dua Thuds itu. Pilot Amerika, yang terbang tanpa panduan dari radar darat, cenderung untuk tetap bersama dalam formasi yang mereka sebut “welded wing” —sebuah posisi defensif yang mengharuskan seorang wingman untuk tetap dekat dengan pemimpinnya untuk menutup bagian belakang formasi, sementara pemimpin berkonsentrasi pada apa yang ada di depan dan melakukan penembakan. Namun, taktik untuk memisahkan memisahkan wingman dengan pemimpinnya agar terpaksa beroperasi secara terpisah sudah menjadi prosedur biasa di VPAF. Hoang terbang melebar ke kiri, terbang di belakang F-105 kedua, dan, dengan Bay, menunggu targetnya untuk berbelok. Tiba-tiba kedua Thuds membuat belokan rendah. “Kami disergap,” kata Bay.

Terbang rendah — terlalu rendah untuk ditangkap oleh radar GCI — dan jauh di belakang elemen utama F-105 adalah pesawat yang dipiloti Letnan Satu Karl Richter dan Kapten Ralph J. Beardsley. Ketika elemen utama penyerang bermanuver untuk mencari situs SAM untuk diserang, Richter dan wingman-nya tetap terbang rendah, bersiap untuk mengikuti mereka ke arah target. Kemudian Richter melihat adanya MiG. Dia kemudian menulis dalam majalah Airman edisi November 1967, “Mereka meluncur di depan kita dengan indah — sekitar satu setengah atau dua mil. Ini lucu. Kami hanya memiliki sedikit kesempatan untuk bertemu [dengan MiG], mungkin diperlukan satu detik penuh sebelum mengingatkan anda…. (MiG) Itu bukan pesawat terbang seperti yang biasa kita terbangkan. ” Richter membuang pod roketnya, dan mempersiapkan kanon Gatling M-61-nya, dan memposisikan diri di sebelah kiri MiG. “Dia berbelok dengan mudah,” tulis Richter. “Saya memindahkan pipper [alat pembidik] tepat di depannya dan mulai menembak.” Richter terus menembakkan kanon 20-mm dengan kecepatan 100 peluru per detik. “Saya pikir, ini akan memalukan jika saya gagal menjatuhkannya ini, kemudian Beardsley memanggil,” Kamu mengenainya! Kamu mengenainya! ‘”Richter melihat percikan api keluar dari ujung MiG,” tapi dia sepertinya masih bergerak dengan baik di langit. ” Sementara itu Hoang mendengar bunyi berdebum. Pesawat oleng. Karena khawatir, dia menyalakan afterburner ketika pesawat terus berputar ke kanan sementara dia mencoba untuk mendapatkan kembali kendali pesawatnya. Pesawat itu merespons, tetapi jelas ada yang tidak beres. Hoang melihat sekeliling dan melihat bagian luar sayap kirinya compang-camping. “Aku masih terbang, jadi aku hanya berkonsentrasi untuk tetap bisa terkendali.” Richter menembak lagi saat Hoang baru saja selesai memeriksa instrumen mesinnya. Turbojet VK-1A bekerja dengan baik. “Saya pikir saya akan baik-baik saja, ketika tiba-tiba pesawat mulai berantakan.” Panel instrumen hancur. Hoang merasakan sakit di sisi tubuhnya dan punggungnya. Dia meraih di antara kedua kakinya untuk tuas eject. Ketika Richter kehabisan amunisi, sayap kanan MiG terputus. Potongan-potongan metal terbang dari ekor dan sepotong besar lainnya lepas dari pesawat. Ketika Richter mengangkat pesawat untuk menghindari puing-puing, dia melihat pilot MiG berhasil eject dan mendengar Beardsley mengumumkan, “Parasutnya berfungsi dengan baik.” Kedua Thunderchief itu segera beranjak dengan kecepatan tinggi.

Karl W Richter, pilot F-105 yang menjatuhkan wingman Bay, Do Huy Hoang.

Sementara itu satu flight F-4 memasuki medan pertempuran. Sendirian, Bay menghindari satu rudal ke rudal lainnya yang dilepaskan pesawat-pesawat Phantom itu. Dia menggunakan manuver-manuver menikung tajam untuk mengalahkan para penyerang, tetapi manuver-manuver itu mengorbankan ketinggian terbang dan bahan bakar. “Saya bisa menghindari rudal,” katanya, “tetapi berada dalam situasi yang sangat serius. Bahan bakar hampir habis. Pada awalnya saya bermaksud untuk eject, tetapi ketika saya turun lebih rendah, tiba-tiba saya melihat pesawat-pesawat Amerika terbang menjauh. Lalu saya melihat [Vo Van] Man di depan saya. Saya mengikuti Man [dan mendarat dengan selamat]. ” Hoang mendarat di sawah. Ketika dia berteriak bahwa dia ada di pihak mereka, penduduk desa setempat mendengar aksen selatannya dan mengira dia adalah pilot Vietnam Selatan, yang bahkan lebih dibenci daripada orang Amerika. “Mereka menanggalkan pakaian terbang saya dan mengikat tangan saya ke belakang,” kata Hoang. “Seorang petani mulai memukuli saya sampai para prajurit membuatnya berhenti.” Hoang tidak bisa berjalan, jadi para prajurit meletakkannya di kereta kerbau roda dua untuk ditarik ke kota. Butuh satu jam bagi mereka yang menangkapnya untuk memverifikasi identitasnya. Begitu mereka melakukannya, mereka dengan cepat melepaskan ikatannya dan membawanya ke rumah sakit. Setelah pulih dari cedera, Hoang mulai menerbangkan MiG-21 dan ditembak jatuh lagi pada tanggal 29 September 1967. Lengan dan tenggorokan kiri Hoang masih menunjukkan bekas luka dari serangan Richter. Richter sendiri terbunuh 10 bulan kemudian.

F-105 Thunderchief, Fighter Bomber dan “MiG” killer.

Dalam bulan April tahun 1967, Bay mengklaim tiga pesawat AS lagi. Pada 24 April, Bay, yang ditugaskan sebagai pemimpin penerbangan, diarahkan dari lapangan terbang Kien An. Misi penerbangannya adalah untuk mencegat serangan udara Angkatan Laut Amerika Serikat di dermaga Haiphong. Bay mendekati sebuah F-8 Crusader yang yang dikemudikan oleh Letnan Cdr. E.J. Tucker, dan menembaknya. Tucker eject tetapi kemudian dia meninggal dalam penahanan Vietnam Utara. F-4 yang mengawal kemudian menyerang balik flight pimpinan Bay. F-4 menembakkan beberapa Sidewinder ke Bay, tetapi dengan peringatan wingman-nya, ia mampu menghindari mereka semua. Bay kemudian mampu bermanuver ke posisi menembak yang baik di mana ia kemudian menjatuhkan salah satu pesawat Amerika yang menyerang. Namun, awak F-4 itu, Letnan Cdr. C.E. Southwick dan Ens. J.W. Land percaya bahwa mereka telah ditembak jatuh oleh AAA bukan oleh pesawat MiG. Hari berikutnya Bay dan flightnya mampu menjatuhkan dua Skyhawks A-4 Amerika. Satu A-4 ditembak jatuh oleh Bay sendiri sementara yang lain ditembak jatuh oleh wingman-nya.

Nguyen Van Bay dan rekannya Le Xuan Di menceritakan proses penyerangan kapal2 Amerika di lepas pantai Vietnam.
MiG-17 Fresco yang digunakan oleh Bay dalam menyerang USS Oklahoma City.

Pada tahun 1971 Bay dan rekan pilotnya Le Xuan Di dilatih dalam melakukan serangan anti-kapal oleh para penasihat Kuba. Pada tanggal 19 April 1972, dua orang dari Resimen Tempur 923 menerbangkan MiG-17 mereka, masing-masing dipersenjatai dengan dua bom 500 lb, menuju laut lepas dalam misi yang kemudian dikenal sebagai Pertempuran Đồng Hới. Le Xuan Di memimpin penerbangan untuk menyerang kapal perusak AS USS Higbee, sementara Nguyen Van Bay menyerang kapal penjelajah ringan USS USS Oklahoma City, yang telah menembaki sasaran di Vinh City. Dua bom Bay hanya menyebabkan sedikit kerusakan pada Oklahoma City, yang mungkin karena ledakan “near miss”, sementara Di mampu menjatuhkan bom langsung pada turret meriam 5 ” destroyer Higbee dengan salah satu dari dua bom 500 lb-nya. Ini adalah serangan udara pertama yang berhasil dilakukan oleh jet tempur Vietnam Utara pada kapal-kapal perang Angkatan Laut AS yang sedang aktif terlibat dalam pertempuran. USS Sterett, yang menyediakan pengawalan untuk kapal perang yang rusak, dilaporkan menghancurkan sebuah pesawat MiG musuh. Setelah serangan awal, USS Sterett menembakkan rudal RIM-2 Terrier-nya dan menghancurkan rudal “Styx” SS-N-2 . Rudal itu diduga telah diluncurkan dari kapal patroli Vietnam Utara.

USS Higbee sedang diperbaiki di Subic paska serangan Vietnam Utara

Penghargaan dan pengakuan

Bay dianugerahi Hero’s Medal of the Vietnamese People’s Army karena keterampilan dan keberaniannya yang luar biasa dalam pertempuran, dan karena kepemimpinannya yang hebat dalam pertempuran. Kemenangannya menjadi berita utama. Dia menjadi terkenal dan sempat menjadi Favorit dari Ho Chi Minh, ia makan malam secara teratur dengan pemimpinnya itu dan tidak boleh terbang lagi, pada awalnya sementara dan kemudian secara permanen, tanpa alasan selain untuk melindungi nilainya sebagai simbol kemenangan. Dari 16 pilot VPAF yang mendapat status ace, hanya tiga, termasuk Bay dan Luu Huy Chao, yang menerbangkan MiG-17. 13 lainnya menerbangkan model MiG-21 yang lebih baru, pesawat sayap delta yang dilengkapi dengan radar dan rudal pencari panas dan dianggap cukup sebanding dengan F-4 dan F-8 dalam kemampuan manuver dan akselerasi. MiG-17 tua buatan 1950-an sulit dikendalikan dalam manuver roll dan pitch pada kecepatan tinggi. Pesawat itu tidak memiliki radar dan tidak memiliki rudal (kecuali varian akhirnya). Pesawat itu dipersenjatai dengan satu meriam 37-mm dan dua meriam 23-mm. Alat bidiknya tidak memiliki radar pengukur jarak; itu sebabnya Bay harus mengawasi peluru tracer dan menyesuaikan bidikannya. Keunggulan MiG-17 adalah visibilitas yang baik dan kecepatan belok yang luar biasa, tetapi pesawat ini kalah jumlah oleh Phantom, Crusaders, dan Thunderchiefs AS yang lebih modern. Orang-orang Amerika mengklaim menembak jatuh sekitar 195 MiG antara 17 Juni 1965, dan 12 Januari 1973. Bagi seorang pilot MiG, bisa bertahan hidup selama hampir delapan tahun perang adalah prestasi yang luar biasa.

Hanya ada 3 pilot MiG-17 Fresco diantara belasan Ace Vietnam Utara. Mayoritas Ace VPAF menggunakan MiG-21 Fishbed.

Bersama bekas “musuhnya”

Selepas perang Nguyen Van Bay menghadiri beberapa reuni yang diadakan baik di San Diego-Amerika dan di Vietnam sendiri dengan pilot-pilot Amerika yang dulu merupakan bekas musuhnya. Dalam reuni dimana kadang kata-kata pembukanya adalah “kamu dulu menembak jatuh pesawat saya”, suasana yang terjalin adalah suasana persahatan dan bukan kebencian, dimana mereka yang mengalami pahit manis peperangan sudah lama “mengubur” sikap permusuhan mereka. “Kami berteman sekarang,” kata Nguyen Van Bay, melalui seorang penerjemah. “Pilot Amerika diperintahkan ke sana, dikirim ke sana untuk membela negara mereka. Jika kami tidak menembak mereka, mereka akan menembak kami. Kami melakukan pekerjaan kami. Itu masa lalu. Sekarang kami berteman. “Penerima Navy Cross, dekorasi militer tertinggi kedua di Amerika, Kapten Ensch mengatakan bahwa kedua delegasi mungkin merasa lebih mudah untuk berdamai dengan masa lalu karena mereka adalah penerbang, dimana pertempuran udara meski sama-sama menimbulkan ketakutan, namun mereka masih jauh dari kengerian dan kebrutalan perang yang sering muncul dalam pertempuran darat. Kolonel Bay yang dipuji tinggi di Hanoi sebagai ace Vietnam Utara pertama, mengatakan ketenaran hanya menempati urutan kedua hari ini, karena mereka ingin berdamai dengan Amerika. “Saya percaya orang Amerika adalah orang baik,” katanya. “Tapi aku punya perasaan tidak enak pada para pemimpinmu, yang memimpin negerimu berperang. Presiden (Lyndon) Johnson dan (Richard) Nixon mengatakan bahwa mereka akan membawa Vietnam Utara ‘ke Zaman Batu.”

Van Bay adalah contoh Veteran Vietnam Utara yang mengedepankan rekonsiliasi dan persahabatan dengan bekas musuhnya asal Amerika.

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

Nguyen Van Bay and the Aces From the North By Ralph Wetterhahn-Air & Space Magazine, November 2000

https://www.airspacemag.com/military-aviation/nguyen-van-bay-and-the-aces-from-the-north-1606486/?all

Nguyen Van Bay – a hero as I know by Ho Tinh Tam; September 24, 2019

https://en.qdnd.vn/military/war-files/nguyen-van-bay-a-hero-as-i-know-509819

Vietnam war hero who downed 7 enemy planes dies

https://www.google.com/amp/s/ampe.vnexpress.net/news/news/vietnam-war-hero-who-downed-7-enemy-planes-dies-3985862.html

Once enemies, American and Vietnamese aviators meet to talk about their dogfights By CARL PRINE; SEP. 21, 2017

https://www.google.com/amp/s/www.sandiegouniontribune.com/military/sd-me-vietnam-dogfights-20170921-story.html%3F_amp%3Dtrue

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Nguy%E1%BB%85n_V%C4%83n_B%E1%BA%A3y

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Post%E2%80%93World_War_II_air-to-air_combat_losses

10 thoughts on “Mengenang Nguyen Van Bay, Ace Vietnam Utara yang bersahaja

  • 5 January 2020 at 4:51 pm
    Permalink

    Hi, i feel that i saw you visited my web site thus i got here to 搟go back the favor?I’m attempting to find things to improve my site!I assume its ok to use some of your concepts!!

    Reply
    • 5 January 2020 at 10:33 pm
      Permalink

      Tks

      Reply
  • 19 March 2020 at 10:31 am
    Permalink

    Aku harap bisa membaca lebih banyak artikel seperti ini! terima kasih

    Reply
  • 28 March 2020 at 11:23 am
    Permalink

    keren, artikel ini sangat bagus. gua jadi belajar banyak hal dari blog ini. lanjutkan!!!

    Reply
  • 8 August 2020 at 2:45 am
    Permalink

    I simply want to mention I am all new to weblog and seriously enjoyed your blog site. Probably I’m planning to bookmark your website . You definitely have tremendous well written articles. Thanks for revealing your blog.

    Reply
  • 25 September 2020 at 2:24 pm
    Permalink

    thank you for the information provided, very interesting, good luck always, greetings

    Reply
    • 25 September 2020 at 2:38 pm
      Permalink

      Tks, I really appreciate if you can share this blog to the others

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *