Metode Brutal Raymond “The Turk” Westerling: Sisi Gelap Dari Sebuah Perang Anti Gerilya

Siapa tak kenal dia? Jika tak pernah dengar sebaiknya kembali ke bangku sekolah lagi. Namanya tertulis di buku pelajaran sejarah SD, SMP juga SMA dalam salah satu episode sejarah paling kelam berkaitan dengan upaya kolonialisasi Belanda di bekas jajahannya di Hindia Belanda. Namun membicarakan Westerling bukanlah suatu yang sederhana, Kapten Belanda ini adalah salah satu instrumen pemerintahnya untuk menundukkan perlawanan kaum Republiken Indonesia yang menentang hadirnya kembali Belanda di Nusantara. Dalam sebuah perang asimetris, seperti yang dihadapi Belanda di Indonesia, tidak jauh berbeda dalam perang-perang revolusi lainnya yang dikotori oleh berbagai aksi teror dari pihak-pihak yang bertikai yang kadang masih ditambah aksi-aksi kelompok bersenjata liar yang tidak terikat dengan pemerintahan yang sah. Dalam kondisi semacam ini jelas rakyat sipil lah yang jadi korban terbesar. Pada masa-masa sulit semacam ini muncullah sosok Westerling dan pasukannya yang hadir dengan aksi-aksi anti-gerilya nya yang brutal dengan alasan untuk menegakkan stabilitas dan ketertiban administrasi pemerintahan. Metode-metode yang digunakan oleh Westerling, di satu sisi sebenarnya tidak banyak berbeda dengan yang yang digunakan pemerintah kolonial di Malaya, Indochina, dan Aljazair paska berakhirnya Perang Dunia II dalam menumpas gerakan perlawanan serta berbagai aksi anti pemberontakan lainnya di dunia.

Pimpinan DST, Kapten Raymond Pierre Paul Westerling yang kondang dengan keganasannya membantai warga sipil semasa revolusi fisik di Indonesia. Aksi Westerling menjadi salah satu ciri perang anti gerilya yang kerap terjadi dalam sejarah. (Sumber Foto: nederlandsekrijgsmacht.nl/https://historia.id/)

LATAR BELAKANG

Satu-satunya hal yang menandakan dirinya sebagai orang Belanda dari Raymond Paul Pierre Westerling adalah darahnya. Ibu kandung Westerling, Sophie Moutzou seorang Turki berdarah Yunani. Sementara ayahnya, Paul Rou Westerling mencari nafkah sebagai pedagang barang antik dan barang-barang furnitur. Lahir pada tanggal 31 Agustus 1919, di kota kuno Istanbul, tempat beberapa generasi keluarga Westerling mencari nafkah sebagai pedagang barang antik, Raymond muda menunjukkan tanda-tanda akan menjadi petualang di masa dewasa. Dalam otobiografinya tahun 1952, “Challenge to Terror”, Westerling mencatat bahwa ia menghabiskan masa kecilnya dengan menangkap ular dan kadal, berjudi dengan teman bermainnya melalui pasar para pedagang, bereksperimen dengan senjata api dan bubuk mesiu, serta membaca segala sesuatu dari “cerita bajak laut, romansa sejarah, dan petualangan Wild West” untuk cerita detektif. Sebagai seorang anak yang dewasa sebelum waktunya yang melewati sekolah formal, Westerling tumbuh dalam lingkungan kosmopolitan — ayahnya berbicara dalam bahasa Inggris, Prancis, Jerman, Italia, dan Turki, sementara ibunya berbicara bahasa Prancis bersama dengan bahasa Yunani, yang merupakan bahasa aslinya. Pada usia 18 tahun, pemuda itu telah mahir dalam semua bahasa ini. Ironisnya, satu-satunya bahasa yang tidak bisa dia ucapkan adalah bahasa Belanda, meskipun dia dan keluarganya adalah warga negara Belanda. Kehidupan Westerling berubah jauh lebih penuh petualangan pada awal 1941. Karena ingin melihat dunia dan mengalami kehidupan di luar Istanbul (Turki saat Perang Dunia II netral), dia mengunjungi Konsulat Belanda dan mendaftar di Pasukan Belanda Merdeka di pengasingan, karena Belanda sudah berada di bawah pendudukan Jerman. Ayahnya sebenarnya meragukan putranya yang keras kepala itu akan bisa menerima disiplin militer. Menjawab tantangan, Westerling (dijuluki “The Turk,” karena tempat dia dibesarkan) memutuskan untuk bisa bertempur secepatnya. Selama perang ia akan mengikuti beberapa sekolah tentara Inggris yang paling tangguh, termasuk Pusat Pelatihan Dasar Komando di Achnacarry, Skotlandia dibawah arahan William E. Fairbairn, dan bertugas dengan unit-unit tempur legendaris seperti Pasukan No. 2 (Belanda) dari satuan Komando ke-10 dan Brigade Putri Irene. Setelah dipromosikan menjadi kopral, ia menjadi instruktur untuk “Unarmed Combat” dan “Silent Killing”. Dalam waktu kurang dari satu tahun, Westerling telah menjadi instruktur untuk seluruh pasukan Komando ke-10 dan juga “Pelatihan Ketangguhan”. Atas permintaannya ia meninggalkan posisi staf Komando Inggris dan, pada bulan Desember 1943, bergabung dengan Pasukan Belanda No. 2 lamanya di India untuk Operasi di Burma. Di Ceylon dia menjalani pelatihan hutan, yang kemudian akan menjadi aset berharga untuk tugasnya di masa depan. Yang mengecewakan, Westerling tidak pernah dikirim ke garis depan.

Westerling muda (kedua dari kiri) mengikuti beberapa sekolah pelatihan tentara Inggris yang paling sulit dan bertugas dengan pasukan Komando No. 10. Meski merupakan prajurit yang kompeten dari sisi skill, namun Westerling tidak banyak mencicipi pertempuran dalam Perang Dunia II. (Sumber: https://www.historynet.com/)

Pada bulan Agustus 1945, Westerling, yang telah mempelajari bahasa Belanda saat bertugas bersama orang-orang Belanda di dinas tentara Inggris, menerima perintah untuk berlayar ke Hindia Belanda (sekarang Indonesia). Masih berseragam perwira junior Inggris, ia mengambil alih komando pasukan kecil asal Inggris-Belanda yang ditugaskan untuk menegakkan ketertiban setelah penyerahan pasukan pendudukan Jepang. Di sana, di hutan lembab Asia Tenggara, Westerling mengukuhkan namanya sebagai salah satu pasukan anti pemberontak yang paling sukses (sekaligus paling brutal) dalam sejarah modern. Pada pergantian abad ke-17 para pedagang Belanda telah mendirikan sebuah monopoli perdagangan di beberapa pulau di Indonesia, termasuk Jawa dan Sumatera yang kaya sumber daya alam. Dengan pulau-pulau ini dimasukan dalam wilayah pengaruhnya, perwakilan dari Dutch East India Co. menjual ke Eropa komoditi pala dan rempah-rempah lainnya, seperti kopi, gula, dan barang-barang lainnya yang sangat diminati di pasaran Eropa. Perdagangan intra-Asia ini terbukti sangat menguntungkan, dengan kapal-kapal Belanda mengendalikan sebagian besar rute laut utama di Laut Cina Selatan. Ibukota perusahaan dagang baru ini adalah Batavia (sekarang Jakarta), di Jawa. Di atas reruntuhan kompi kecil garnisun Muslim, orang-orang Belanda membangun kota berbenteng yang disekat-sekat dengan banyak kanal dan kemudian akan kaya dengan budaya Melayu-Belanda yang unik. Budaya China juga hadir disini, berkat datangnya ribuan imigran dari provinsi tenggara Fujian.

Balai kota di Batavia tahun 1682. Setelah datang ke wilayah yang sekarang dikenal sebagai kepulauan Indonesia, orang-orang Belanda segera membangun pos pusat perdagangan dan administrasi di kota Batavia. (Sumber: https://military.wikia.org/)

Pendiri Batavia, Jan Pieterszoon Coen, yang pernah dielu-elukan sebagai pahlawan nasional Belanda, namun dicerca di Indonesia sebagai “Penjagal di Kepulauan Banda”. Pada bulan Februari tahun 1621, misalnya, saat berusaha membalas beberapa ekspedisi yang gagal melawan kepulauan itu, Coen menyerbu pantai di Fort Nassau di Banda Neira dengan pasukan penghukuman yang terdiri dari 19 kapal, dan hampir 1.700 tentara Belanda serta sekitar 300 tentara bayaran Jepang. Setelah bertemu dengan 250 tentara dari garnisun pelabuhan, pasukan invasi Coen tanpa ampun menjarah pulau itu. Terlepas dari tindakan Coen dan tokoh-tokoh lainnya, selama berabad-abad, kekuasaan Belanda di Hindia Timur tidak melampaui wilayah Jawa dan sebagian Sumatera. Memang, kendali mereka atas semua pulau di Indonesia tidak akan selesai sampai abad ke-19. Pada saat itu, Dutch East India Co. telah lama runtuh. Hindia Timur pada masanya adalah pusat kerajaan kecil tapi kaya asal Amsterdam. Pada tahun 1905 pemerintah Belanda menunjukkan keterikatannya dengan wilayah Hindia Timur dengan mengirimkan 40 juta gulden untuk pembangunan pulau Jawa dan Madura. Belanda membangun ribuan sekolah antara tahun 1900 dan 1930. Di wilayah kepulauan itu juga terjadi perluasan jalan dan rumah sakit. Terinspirasi sebagian oleh kebijaksanaan, tetapi juga oleh gerakan nasionalis yang sedang berkembang, administrator kolonial membentuk Dewan Penasehat Rakyat (Volksraad) pada tahun 1918 untuk memberikan suara politik kepada tiga kelompok demografis terbesar — Indonesia, Cina, dan Belanda – Eurasia (campuran Belanda dan Asia). Meskipun otonomi tumbuh, bagaimanapun, semuanya tidak berjalan dengan baik. Pendatang baru Belanda, terutama mereka yang melarikan diri dari kesulitan ekonomi di Eropa, cenderung memandang Hindia Timur sebagai tempat mencari kesenangan untuk dieksploitasi demi keuntungan yang maksimum bagi mereka sendiri. Banyak yang menolak untuk berinteraksi dengan penduduk Eurasia, yang telah lama diterima sebagai bagian dari hierarki sosial. Sementara itu kelompok nasionalis lokal kini semakin mengguncang pemerintahan kolonial Amsterdam.

Lukisan pembantaian rakyat Banda tahun 1621, yang diinisiasi oleh Jan Pieterszoon Coen. Sedari awal aksi kolonialisasi Belanda di Indonesia sudah diwarnai dengan berbagai aksi brutal dan pertumpahan darah. (Sumber: http://ursramseyer.blogspot.com/)

Pada 1920-an beberapa orang Indonesia berpendidikan Belanda kembali ke Hindia Timur dengan membawa cita-cita revolusioner. Tentara Kerajaan Hindia Belanda (Koninklijk Nederlands Indisch Leger, atau KNIL) dan polisi segera menumpas pemberontakan tahun 1926 di Jawa Barat yang dilakukan oleh Partai Komunis kecil Indonesia, tetapi partai lain, seperti Partai Nasional Indonesia (Persatuan Nasional Indonesia, atau PNI) dan Perhimpunan Indonesia (PI) yang dimotori oleh para pelajar, terbukti lebih sulit untuk dihilangkan. Kelompok-kelompok seperti itu menganut paham nasionalisme sayap kiri, yang membayangkan berdirinya negara yang tersentralisasi dan sekuler. Dari jajaran partai PNI bangkit Kusno Sosrodihardjo, alias Sukarno, calon presiden Republik Indonesia. Kontrol Belanda di Hindia Timur secara efektif berakhir pada akhir musim dingin tahun 1942. Antara tanggal 28 Februari dan 1 Maret, pasukan invasi Jepang berkekuatan 34.000 orang mengalahkan kekuatan pertahanan Belanda yang terdiri dari 25.000 tentara KNIL dan unit pendukung Sekutu yang terbatas kekuatannya setelah tiga pendaratan amfibi di pulau Jawa. Tentara Jepang memiliki satuan lapis baja dan dukungan udara yang lebih baik, sementara kekuatan KNIL menderita moral pasukan yang buruk dan kemampuan logistik yang lebih buruk lagi. Ditujukan terutama untuk pengamanan internal, KNIL memiliki komposisi tentara yang terdiri dari campuran berbagai etnis yang tidak pernah berjumlah lebih dari 50.000 orang. Beberapa unit diketahui bertempur dengan baik (terutama Divisi ke-38), tetapi sebagian besar prajurit KNIL lebih memilih menyerah, dievakuasi ke Australia atau menanggalkan seragam mereka dan melebur dengan penduduk Indonesia. 

3 tokoh pergerakan Bangsa Indonesia, dari kiri ke kanan: Syahrir, Soekarno dan Hatta. Aksi-aksi perjuangan tokoh-tokoh nasionalis Indonesia inilah yang lebih sukar ditangani oleh Belanda dibanding pemberontakan partai komunis kecil yang pecah di Jawa Barat tahun 1926. (Sumber: https://www.republika.co.id/)

Tiga tahun pendudukan Jepang orang-orang Eropa, Eurasia, dan warga sipil China serta tawanan perang Belanda dan Sekutu digiring ke kamp konsentrasi yang kotor, di mana puluhan ribu orang diantaranya meninggal karena kelaparan dan penyakit tropis. Sekeras apa pun pemerintahan Jepang, keputusan Tokyo yang baru saja dikalahkan untuk membiarkan kondisi anarkis pecah di Indonesia sebelum pasukan Sekutu yang pertama bisa masuk, membuat keadaan menjadi lebih buruk. “Orang-orang Jepang,” kenang Westerling, “tidak berusaha untuk menghentikan kelompok-kelompok perampok yang terbentuk secara spontan dalam kekacauan di masa akhir perang.” Banyak tentara Jepang menjual senjata mereka kepada kelompok-kelompok bersenjata dan membiarkan mereka merampas gudang-gudang senjata mereka. Beberapa tentara Jepang juga bergabung dengan barisan pasukan pemberontak nasionalis sebagai penasihat militer mereka. Sedangkan untuk pria, wanita dan anak-anak yang ditahan di kamp konsentrasi sejak 1942, Jepang menahan mereka atau membiarkan kelompok-kelompok bersenjata berkeliaran untuk menganiaya, memperkosa dan mengeksekusi mereka dengan darah dingin. Situasinya menjadi tidak tertahankan. Jelas seseorang perlu membangun stabilitas di wilayah Hindia Timur. Sialnya, negara pertama yang ditugaskan untuk tugas itu, Inggris, tidak memiliki semangat untuk melakukan tugas itu. Setelah mendarat di beberapa pulau Indonesia pada bulan Oktober 1945, Inggris mencoba untuk melakukan gencatan senjata, menuntut milisi lokal untuk menyerahkan senjata mereka. Orang-orang Indonesia menolak, dan tak lama kemudian mereka menargetkan pembunuhan perwira-perwira Inggris. Kebuntuan akhirnya memuncak pada bulan November di wujud pecahnya Pertempuran Surabaya. Selama tiga minggu tentara Inggris berperang melawan milisi nasionalis, dimana Inggris kehilangan hampir 300 orang tentaranya, sementara orang-orang Indonesia menderita korban mencapai 6.000 orang.

Warga sipil keturunan Eropa membungkuk pada Perwira Jepang di sebuah kamp interniran. Misi membebaskan para tawanan Jepang merupakan salah satu prioritas utama tentara sekutu setelah kalahnya tentara Jepang dalam Perang Dunia II. (Sumber: https://sites.google.com/)
Mobil Brigadir Mallaby yang terbakar habis di mana dia dibunuh pada tanggal 31 Oktober 1945. Peristiwa ini memicu pecahnya pertempuran terbuka antara pasukan sekutu dan para pejuang Indonesia. (Sumber: https://www.wikiwand.com/)
Seorang tentara Inggris asal India menggunakan kendaraan lapis baja yang dimodifikasi oleh milisi nasionalis Indonesia sebagai pelindung pertahanan terhadap tembakan musuh di jalan utama di kota Surabaya, Jawa Timur pada bulan November 1945. Meski memenangkan pertempuran secara militer, namun Inggris merasa bahwa bertahan di Indonesia tidaklah menguntungkan. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

Terlepas dari kemenangan militernya, London memutuskan bahwa bertahan di Indonesia tidak sebanding dengan “biaya” yang mereka keluarkan. Namun Inggris, Australia, dan Amerika Serikat secara kolektif menolak gagasan untuk mengembalikan Indonesia kepada sekutu mereka yang dulu bernama Belanda. Hanya Prancis, yang kemudian juga mencoba untuk menegaskan kembali pemerintahan kolonial mereka di Indocina, yang mendukung klaim pemerintah Amsterdam. Pertengkaran diantara bangsa-bangsa asing ini tidak terlalu penting bagi rata-rata penduduk pulau Indonesia atau orang-orang Eropa yang tinggal di kepulaan itu, yang mana mereka lebih peduli tentang kelangsungan hidup mereka masing-masing. Mengingat tentara Inggris tidak lebih memilih untuk sekedar menjaga garnisun mereka yang tersebar luas, mereka yang berusaha untuk memadamkan kekacauan hadir dari pihak lain. Pada awal tahun 1946 tentara Belanda, banyak di antaranya adalah veteran kelompok perlawanan, bergabung dengan sisa-sisa tentara KNIL dalam upaya terakhir mereka guna menegakkan ketertiban dan mencegah orang-orang yang dicurigai komunis merebut kendali atas wilayah Hindia Timur, serta merebut bekas wilayah imperium mereka. Begitulah situasi di akhir perang ketika Westerling tiba di negeri itu. Penugasan pertama “The Turk” membutuhkan bakat operasi khususnya, atasannya menugaskannya dan pasukan tentara yang terdiri dari campuran etnik Eropa, Eurasia, dan Indonesia adalah untuk menyelamatkan tahanan yang tersisa dari kamp-kamp Jepang dan menghentikan aksi kekerasan yang merajalela. 

AKSI DI SUMATERA UTARA

Kota Medan terpilih menjadi gelanggang pertama kebuasan Westerling di Indonesia. Pada 14 September 1945, ratusan parasut tampak mengembang di langit kota Medan. Jumlahnya sekira satu kompi pasukan. Bersama mereka, didrop pula 180 pucuk senjata. Lapangan terbang Polonia, Medan, menjadi tempat para prajurit lintas udara itu mendarat. Dituturkan Letkol (Purn) Burhanuddin kepada Edisaputra dalam Sumatera dalam Perang Kemerdekaan, turunnya pasukan itu disaksikan langsung oleh banyak orang. Burhanuddin dan kawan-kawannya melihat lapangan Polonia dipenuhi oleh pasukan yang entah dari mana rimbanya itu. “Sayangnya kami tidak tahu siapa yang mendarat itu, tapi pendropan senjata secara jelas kami ketahui karena petinya pecah sewaktu jatuh ke bumi,” ujar Burhanuddin. Tercatat dalam buku “Medan Area Mengisi Proklamasi”, hasil penyusunan tim Biro Sejarah Prima, pasukan asing itu datang di bawah pimpinan Letnan Raymond Westerling. Kedatangannya telah dinanti oleh Letnan Brondgeest, seorang perwira Angkatan Laut Belanda yang memimpin Unit IV pasukan Anglo Dutch Country Section (ADCS).

Aksi pertama paling signifikan yang dikerjakan Westerling adalah dalam melaksanakan perang kontra gerilya di wilayah Sumatra Utara. (Sumber: https://historia.id/)

Keduanya berkolaborasi menegakan kekuasaan Belanda di wilayah Sumatera bagian timur yang kaya akan hasil perkebunan. Brondgeest bertugas mengurusi organisasi pemerintahan, sedang Westerling menyusun kekuatan pasukan. Dalam waktu singkat, Westerling dapat membentuk sepasukan polisi berkekuatan 200 orang. Mereka terdiri dari orang Belanda, Indo-Belanda, dan jebolan tentara Koninklijk Nederlands Indisch Leger (KNIL). Di Medan, Westerling juga menjadi kepala dinas intelijen Belanda. Ia memegang jaringan intelijen untuk setengah pulau Sumatera. Saat menjalankan tugasnya, Westerling kerap bertindak bengis. Tentang kekejamannya itu pernah diceritakan seorang opsir Inggris yang menyaksikan langsung tindakan brutal Westerling. Ketika sedang asik minum kopi di pemondokannya, Westerling memperlihatkan kepala seorang Indonesia dari dalam keranjang sampah. Dengan santai Westerling menceritakan kepala itu milik seorang “ekstrimis” Indonesia yang berhasil dihabisi setelah cukup lama dibuntuti. Westerling memburunya dengan menyamar sebagai rakyat biasa. Dengan mengenakan topeng, dia menyusup ke rumah orang Indonesia yang dianggapnya sebagai pengacau tersebut. Di sudut kamar, Westerling bersembunyi dan menunggui buronannya tadi pulang. Setibanya masuk ke kamar, si pemilik rumah membeku ketakutan. Westerling meringkusnya dan menyampaikan bahwa malam itu adalah hari terakhirnya di dunia. Sebelum dieksekusi, Westerling sempat memberi makan dan mengurungnya di kamar mandi. Jam empat pagi aku masuk ke kamar mandi dan menyuruh pengacau itu berbalik. Sekali penggal dengan pedangku aku memisahkan kepala dari badannya,” kata Westerling kepada si opsir Inggris seperti dikutip K’tut Tantri dalam bukunya “Revolusi di Nusa Damai”.

Pasukan Belanda menjaga objek-objek vital dalam Perang Kemerdekaan Indonesia. (Sumber: https://www.historynet.com/)

Aksi brutal Westerling lainnya dituturkan oleh Herman (nama belakang disamarkan), mantan anak buah Westerling dalam depot pasukan khusus (DST). Kepada Maarten Hidskes, editor televisi Belanda, Herman mengatakan Westerling lebih cenderung bekerja untuk Inggris ketimbang dinas intelijen Belanda. menurut Herman, Medan bukanlah tempat yang cocok bagi Westerling. “Tentang orang ini (Westerling) saya mendengar bahwa dialah yang telah memenggal kepala seseorang dan menaruh kepala ini di trotoar masjid Sultan Deli,” tutur Herman kepada Maarten Hidskes dalam Thuis gelooft niemand mij: Zuid-Celebes 1946—1947 (dialihbahasakan berjudul “Di Belanda tak seorang pun mempercayai saya: Korban metode Westerling di Sulawesi Selatan 1946-1947”). Anak buah Westerling sendiri juga tidak kurang brutalnya. Pada suatu hari dibawalah masuk seorang Cina yang dituduh memetakan pertahanan kamp tentara Inggris. Selama tiga hari orang Cina itu berkali-kali dibuat stres dan dihajar dengan keras, antara lain dengan tendangan di bawah lambungnya. Dokter mendiagnosis si cina malang itu dengan sejumlah luka parah. “Letnan Westerling bertanggung jawab atas pelaksanaan interogasi laki-laki cina itu dan menugaskan pelaksanaan itu ke orang-orang Inggris bawahannya,” ujar Herman. Orang-orang Inggris yang melakukan interogasi itu akhirnya dikenakan tahanan rumah. Sementara itu, Westerling dilarang memakai seragam tentara Inggris. Pada tanggal 23 Juli 1946, Westerling dipindahkan dari seksi intelijen ke satuan pasukan komando. Pemindahan itu sekaligus mengakhiri tugasnya di Medan. Selama penugasannya di Sumatra Utara ia dikenang sebagai sosok algojo yang melakukan teror pembunuhan di sekitar kota Medan.

METODE WESTERLING

Dalam disertasi Remy Limpach, De brandende kampongs van Generaal Spoor (dialihbahasakan menjadi “Kekerasan Ekstrem Belanda di Indonesia”) tindakan ekstrem dari para pejuang gerilyawan, yang mengakibatkan sedikitnya 1.000 orang Indonesia pro Belanda tewas, memicu aksi-aksi balas dendam tentara Belanda yang jauh lebih brutal. Pasukan dari 3-11-RI dan 123 prajurit Baret Hijau dari Pasukan Komando Khusus/Depot Speciale Troepen (DST) pimpinan Westerling didatangkan Panglima Tertinggi Tentara Belanda di Indonesia Letnan Jenderal S.H. Spoor atas permintaan Komandan Markas Besar Timur Raya dan Borneo (HKGOB) Kolonel Hendrik de Vries dan Residen Sulawesi Selatan C.L. Cachet. Pada tanggal 5 Desember 1946, Westerling dan Letnan Dua Jan Vermeulen beserta unit Baret Hijau pimpinannya, tiba di Sulawesi Selatan. Sebagai pasukan khusus, Westerling dan pasukannya memiliki hak yang berbeda dengan unit lainnya. Ia ada dalam perlindungan Mayor Jenderal E. Engles, Direktur DCO (Direktorat Pusat Pelatihan). Sehingga wajar jika dalam menjalankan aksinya, Westerling tidak takut kalau-kalau tindaknya terlalu berlebihan. Westerling malah memerintahkan pasukannya mengembangkan metode “penertiban” yang lebih mirip kepada aksi pembunuhan massal. “Mayor Jenderal Engles yang paham benar pendapat dan metode saya memerintahkan kepada saya untuk pergi ke sana (Sulawesi Selatan) untuk mengembalikan ketertiban. Pada waktu itu, saya tahu apa yang harus saya lakukan,” ungkap Westerling seperti dikutip Limpach.

Prajurit rekrutan lokal KNIL. (Sumber: https://www.historynet.com/)

Cara Westerling menangani mereka yang disebut “teroris” (istilahnya) sama efektifnya dengan caranya yang keras. Misalnya, dalam satu operasi, dia dan anak buahnya menyelinap ke sebuah desa dan menangkap seorang tersangka pemimpin pemberontak. Setelah menginterogasi pria itu, Westerling memenggalnya. Anak buahnya kemudian kembali ke desa dengan kepala pemberontak, yang mereka tusuk di atas galah sebagai peringatan. “Di Timur, bukan eksekusi itu sendiri yang mengesankan dan menghalangi calon pembunuh lainnya,” Westerling merefleksikan. Yang terpenting adalah metode eksekusinya. Dalam insiden lain yang lebih terkenal terjadi di sebuah klub sosial di kota Makassar, yang sekarang menjadi ibu kota provinsi Sulawesi Selatan. Setelah memperingatkan seorang mata-mata terkenal Indonesia untuk tidak mengunjungi klub tersebut, Westerling menghadapkan pria itu untuk kedua kalinya di meja kerjanya. “Apakah Anda ingat apa yang saya katakan?” tanya “the Turk”. Ketika mata-mata itu mengangguk dan dengan gugup setuju, Westerling menarik pistol dan menembak wajahnya. Pria itu jatuh ke lantai, mati. Bahkan di tengah hari-hari tergelap masa-masa pemberontakan, penduduk Indonesia dan Belanda di Hindia Timur mencap Westerling sebagai pembunuh karena pendekatan agresifnya dalam aksi kontraterorisme yang dikerjakannya. Pemerintah Republik pimpinan Sukarno mengutuknya di depan Perserikatan Bangsa-Bangsa, dengan menyampaikan tuduhan atas pembunuhan ribuan warga sipil Indonesia oleh the Turk. Sebaliknya dalam membela aksinya dalam  bukunya “Challenge to Terror”, Westerling menolak pembicaraan seperti itu dan menyebutnya sebagai “hullaballoo.” Membandingkan metodenya dalam mengeksekusi para pemimpin pemberontak dengan respons militer ala tradisional dalam menembaki atau membom desa-desa musuh, ia mengajukan pertanyaan retoris tentang metode mana yang membunuh lebih banyak orang tak berdosa. Apa pun pembenarannya, taktik unit kecil Westerling memang terbukti efektif. Berkat “metode Westerling” —campuran antara aksi kekerasan, pembunuhan terarah, dan serangan malam — DST (Depot Speciale Troepen) pimpinannya yang beranggotakan 500 personel, terdiri dari tentara KNIL dan milisi berbasis desa yang dilatih oleh Westerling, menjadi ahli dalam operasi gaya polisi yang hanya membutuhkan penggunaan artileri, kendaraan lapis baja dan perlindungan udara yang minimal. Menunjukkan semangat korps yang kuat, anak buah Westerling berbaris ke dalam hutan tanpa dukungan. Meski selalu kalah jumlah, mereka selalu menang. Sejarawan Belanda Lou de Jong berkomentar dalam tentang aksi Westerling: “Mungkin ada yang memang bersalah di antara mereka yang diindikasikan membantu pasukan Republiken atau kelompok perlawanan lainnya, tetapi pasti ada yang tidak bersalah di antara mereka. Selain itu: tidak ada dasar pembenaran untuk aksi pertumpahan darah ini – bahkan dalam keadaan perang dimana mereka tidak ada. “

Setelah menginterogasi dan mengidentifikasi tersangka pemberontak (berbaju putih), pasukan Belanda memaksa penduduk desa untuk menyaksikan eksekusi pria tersebut — taktik keras ini adalah yang biasa dilakukan oleh Westerling. (Sumber: Koninklijke Landmacht/https://www.historynet.com/)

Namun, sejak awal, politik melumpuhkan “tindakan polisionil” seperti itu. Bahkan ketika DST dan pasukan serupa berhasil melakukan berbagai tindakan kontra-pemberontakan, pemerintahan Belanda yang lemah menghadapi tekanan Inggris, Amerika dan Soviet yang meningkat untuk menyerahkan otoritasnya atas wilayah Hindia Timur. Pada tanggal 25 Maret 1947, Perjanjian Linggardjati memberikan kemerdekaan de facto wilayah pulau Jawa, Madura, dan Sumatera. Karena menurut Belanda orang-orang Republikan pimpinan Sukarno tidak mematuhi perjanjian tersebut, dan pada musim panas perang darat memanas ketika serangan pemberontak memunculkan tanggapan yang lebih berat dari pihak KNIL dan militer Belanda. Diluncurkan pada 21 Juli, “Operasi Produk” adalah ofensif perang skala besar pertama yang diluncurkan Belanda. Sebagai bagian dari operasi yang lebih luas, para administrator Belanda mengirim pasukan Westerling yang diperkuat, dan diberi nama sebagai KST (Korps Speciale Troepen), ke Sulawesi Selatan, tempat para esktrimis asal pulau Jawa telah membentuk sel-sel yang dirancang untuk menjatuhkan pemerintah pro-federalis di pulau itu. Penaklukan Westerling atas Sulawesi Selatan terbukti jauh lebih sulit daripada aksi sebelumnya di Sumatera Utara, sebagian karena kondisi geografi dan sebagian lagi karena, seperti yang ditulis sejarawan Belanda Jaap A. de Moor, “Otoritas Belanda di Sulawesi Selatan berada di ambang kehancuran mutlak. ” 

Pasukan DST yang kala dipimpin Kapten Raymond Pierre Paul Westerling melakoni pembantaian di Sulawesi Selatan. (Sumber: nationaalarchief.nl/https://historia.id/)

Aksi Westerling di Sulawesi dimulai sejak 11 Desember 1946. Desa Borong dan Batua adalah sasaran mereka. Desa Borong jadi tanggung jawab Sersan Mayor H. Dolkens dan Desa Batua menjadi tanggung jawab Sersan Mayor J. Wolff. Didampingi Sersan Mayor Uittenbogaard, Westerling menunggu di Batua. Desa-desa itu dikepung. Setiap yang hendak melarikan diri boleh dibunuh. Setelah terkepung, pagi harinya, mereka dikumpulkan ke tanah lapang. Westerling menyimpan daftar nama yang disiapkan Sersan Vermuelen. Setelah mengumpulkan orang-orang yang dituduhnya ekstrimis, Westerling akan segera mengeksekusinya di lapangan yang dipenuhi warga desa. Bagi Westerling, metode ini adalah pengadilan lapangan alias standrecht. Teror pun tercipta. Bahkan autobiografinya yang dirilis pada 1952 juga berjudul Challange to Terror. Selain Batua dan Borong, ia juga beraksi di desa-desa sekitar Makassar seperti Kalukuang, Tanjung Bunga, Jongaya, dan Polongbangkeng. Tempat yang disebut terakhir memang menjadi pusat gerilya Republik. Menurut intel Belanda, terdapat ratusan milisi bersenjata di sana. Setelah Makassar dianggap beres, daerah lain yang jauh di utara kota Makassar pun menjadi sasaran selanjutnya. Bahkan hingga ke daerah Polewali Mandar. Pasukannya tersebar dan Westerling hadir di beberapa desa. Dalam beberapa eksekusi, Westerling tak segan mengotori tangannya. Sebagai komandan, dia bisa saja ongkang-ongkang kaki dan membiarkan anak buahnya memberondongkan senapan mesin ringan ke arah target eksekusi. Namun Westerling menikmati eksekusi brutal itu dengan sesekali ikut beraksi dengan pistol colt 38. Suatu kali, Westerling unjuk kebolehan. Dia suruh sasaran pelurunya berlari. Dari jarak sekitar 30 meter, pistolnya dia arahkan ke target. Dor! Korban pun tewas. Meski brutal, namun ada satu sisi dari Westerling yang perlu dicatat, karena besar di Turki, ia menyadari signifikansi dari kepercayaan Muslim yang menjadi mayoritas di wilayah Indonesia. Seperti diceritakan di atas lewat pengalamannya di Haifa hingga Kairo, ia punya simpati dan menghormati agama yang diusung Nabi Muhammad SAW itu. “Saya sering berselisih dengan para kolega saya soal ini. Tentang menghormati agama Islam yang sangat universal di Indonesia. Salah satu aturan saya yang paling ketat adalah, tidak boleh prajurit saya menyerbu masuk masjid, meski kami punya  alasan bahwa gerombolan yang kami kejar kabur ke dalamnya,” akunya lagi dalam memoarnya. “Solusinya, saya biasanya memanggil imam masjid dan menyampaikan ketidakinginan saya untuk menggeledah masjid dan memintanya menyerahkan mereka atau senjata yang mereka sembunyikan,” imbuh Westerling. Kendati begitu, bukan berarti ia tak berlaku brutal terhadap gerilyawan muslim. Baik ketika belum lama naik pangkat dari letnan ke kapten semasa berangkat ke Sulawesi, maupun selepas kembali ke Jawa medio 1947. Ia berdalih hanya menjalani tugas “bersih-bersih” dari pemimpinnya. Ia mengaku punya kebebasan dalam menggulirkan tindakan-tindakan yang diperlukan dari para atasannya di Jakarta. “Itu masa perang dan sama sekali bukan urusan pribadi,” cetus Westerling menjawab soal pembantaiannya terhadap warga dan bangsawan Sulawesi Selatan yang mayoritas juga beragama Islam, dikutip Salim Said.

Pasukan KNIL dan tawanan asal Indonesia. (Sumber: Dok. LIPI/https://magz.tempo.co/)
Perbedaan data mengenai korban total aksi Westerling di Sulawesi Selatan. (Sumber: https://tirto.id/)

Sejak awal bulan Desember kampanyenya, “the Turk” telah menerapkan kebijakan perburuan dan eksekusi. KST biasanya akan mengepung sebuah desa sebelum fajar, mengumpulkan warganya di alun-alun desa dan menggunakan berbagai metode interogasi untuk mengidentifikasi para tersangka teroris. Mereka yang dicurigai Westerling segera ditembak didepan mata. Menurut sejarawan J.A. de Moor dalam “Westerling Oorlog”, cara yang digunakan Westerling dalam melancarkan aksinya nyaris selalu sama: mengepung dan mengunci area operasi, menggiring penduduk ke satu titik pusat, menggeledah, mengeksekusi dan terakhir membumihanguskan kampung-kampung yang dianggap sarang ekstremis. Di setiap kota yang didatangi DST selalu berakhir dengan pembunuhan-pembunuhan brutal. Meski sangat brutal, metodenya kembali terbukti efektif, dan pada bulan Maret 1947 KST telah menaklukkan wilayah Sulawesi Selatan. Diperkirakan antara 3.000 hingga 5.000 penduduk pulau tersebut tewas dalam pertempuran itu, sementara 400 lainnya dieksekusi. Dalam buku “Challenge to Terror”, Westerling mengaku telah membunuh lebih dari 100 orang secara pribadi. Pihak Republik mengklaim korban yang jatuh akibat aksi Westerling sebanyak 40.000 nyawa. Namun menurut Limpach angka yang paling rasional adalah lebih dari 3.500 orang. Angka itu sudah termasuk 500 orang yang tewas dibunuh oleh milisi pro federal: Barisan Penjaga Kampung. Soal angka 3.500 itu juga diyakini oleh sejarawan Sulawesi Selatan Letnan Kolonel Natzir Said. “Jumlah 40.000 itu fiktif dan dihembuskan untuk menyemangati pasukan sendiri dan mengundang simpati internasional,” kata Natzir dalam De Eenling. Menurut beberapa sejarawan, termasuk Natsir Said, angka yang oleh sebagian kalangan dianggap bombastis itu muncul dari tokoh DI/TII Sulawesi Selatan, Kahar Muzakkar. Kahar yang di masa revolusi sedang berjuang di Jawa sebagai bagian TNI begitu emosional hingga keluar dari mulutnya angka 40 ribu. Belakangan angka ini jadi angka yang paling sering disebut. Sejarawan Anhar Gonggong, yang ayah dan salah satu abangnya menjadi korban keganasan pasukan Westerling, menyebut jumlah korban yang tewas mencapai sekitar 10 ribu orang. “Tapi, itu memang tidak semuanya korban Westerling,” terang Anhar. Westerling sendiri sebagai pelaku utama, dalam Challenge to Terror, menyebut angka 600 orang. Anehnya, penyelidikan Angkatan Darat Republik Indonesia pada 1950-an hanya menemukan angka 1.700 korban tewas. Dari angka itu, tak semuanya korban keganasan Westerling. Begitu yang dicatat Ramadhan KH dalam buku autobiografi Alex Kawilarang, Untuk Sang Merah Putih (1988).

AKHIR KOLONIALISME BELANDA & AKSI APRA

Meskipun operasi gabungan KNIL-Belanda di Sumatera dan Jawa Timur dan Barat juga terbukti berhasil, PBB mengutuk pemerintah Belanda karena kegagalannya sendiri untuk mematuhi Perjanjian Linggadjati. Diratifikasi pada tanggal 17 Januari 1948, Perjanjian Renville mengamanatkan Belanda untuk  terus menduduki wilayah Sumatera serta Jawa Timur dan Barat sampai pemilihan nasional dapat diadakan. Sementara itu, pemberontakan terus berlanjut. Akhir dari kekuasaan militer Belanda di Hindia Belanda terjadi pada bulan Desember 1948, ketika Jenderal Simon Hendrik Spoor melancarkan “Operasi Kraai”, berhasil merebut ibukota republik di Yogyakarta dan menangkap Presiden Sukarno. Tujuan operasi itu adalah untuk memaksa kaum republiken yang gigih untuk mematuhi perjanjian sebelumnya, dan pada bulan Januari 1949 keberhasilan misi itu tampaknya jelas terlihat. Tapi para politisi di luar negeri segera menyia-nyiakan kemenangan Spoor. Sama seperti pengalaman Prancis dan Amerika di Indocina, tentara Belanda dan sekutu Indonesianya telah memenangkan pertempuran tetapi akhirnya kalah perang yang mereka jalani.   Pada tahun 1948 Westerling memutuskan untuk meninggalkan ketentaraan. Dia dibebastugaskan pada bulan November 1948. Raymond Westerling lalu menetap di Jawa Barat, menikah dan memulai sebuah perusahaan transportasi.

Westerling pada tahun 1948. Pada tahun itu juga ia meninggalkan dinas militer Belanda. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Di sini ia mengumpulkan gerakan bersenjata dari kelompok-kelompok yang menentang pengalihan kekuasaan resmi dari Belanda ke Republik Indonesia dengan tujuan untuk mempertahankan otonomi negara bagian Pasundan buatan Belanda di Jawa Barat. Sementara itu dengan dalih khawatir akan prospek hegemoni orang-orang Republik asal Jawa berkuasa di Indonesia, Westerling kemudian mempersenjatai dan melatih milisi desa untuk memukul mundur tentara republik dan kelompok-kelompok bersenjata liar. Unit-unit pertahanan diri ini, bersama dengan mantan pasukan terjun payung KNIL, berjanji setia kepada the Turk. Tentara pribadinya ini kemudian dikenal sebagai Angkatan Perang Ratu Adil (APRA), atau Legiun Ratu Adil. Nama itu berasal dari ramalan kuno Indonesia tentang seorang juru selamat orang-orang Jawa. Orang-orang Westerling menganggap pria Belanda kelahiran Turki itu sebagai Pangeran Keadilan — sebuah keyakinan yang didukung sepenuh hati oleh Westerling. Istilah “Ratu Adil” dipakai Westerling setelah seorang pribumi membawakannya buku ramalan Jaya Baya. Dalam karya yang terlahir pada abad ke-12 itu, terdapat kalimat yang menarik perhatiannya: “… Dan kemudian akan datang Ratu Adil, Pangeran Keadilan, yang akan lahir di Turki.” “Dan Anda lahir di Istanbul,” kata pribumi itu kepada Westerling. Ide pembentukan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) sendiri, tercetus saat si kapten bertugas di Jawa Barat. Dalam memoarnya, “Challenge to Terror”, Westerling mengklaim penduduk Jawa Barat, terutama koleganya, selalu memohon perlindungan dari ancaman para bandit yang berkeliaran. Keberadaan Westerling memang cukup disegani, bahkan ditakuti. Tidak ada yang berani berbuat macam-macam jika sudah menyangkut nama Westerling. “Mereka tidak akan berani menyerang desa kami jika anda melindungi kami,” kata seorang dari mereka kepada Westerling. Sebelum memutuskan membentuk organisasi pertahanan di kampung-kampung di Jawa Barat, Westerling pergi ke Jakarta untuk meminta saran Letnan Jenderal Simon H. Spoor. Ia menyebut pendirian organisasi ini penting untuk menjaga keberadaan Negara Pasundan dalam Republik Indonesia Serikat (RIS) bentukan Belanda. Meski setuju dengan ide itu, Spoor meminta mantan bawahannya itu bertanggung jawab atas segala konsekuensinya. “Itu cukup jelas bahwa saya punya persetujuan dari mantan komandan saya. Keraguan saya hilang. Pada Maret 1949 saya mulai bekerja,” ucapnya. Westerling lalu merekrut teman dan bekas anak buahnya dari Koninklijk Leger (KL) dan KNIL.

Dukungan bagi Westerling untuk mempertahankan negara federal di Indonesia hadir dalam sosok Sultan Hamid II atau Sultan Syarif Hamid Al-Qadrie, sultan ke-7 Kesultanan Qadriyah Pontianak. (Sumber: http://rickysetiawan96.blogspot.com/)

Dukungan untuk Westerling datang juga dari seorang Republik yang ingin mempertahankan kekuasannya. Adalah Sultan Hamid II atau Sultan Syarif Hamid Al-Qadrie, sultan ke-7 Kesultanan Qadriyah Pontianak. Hamid cukup dekat dengan Westerling karena kerap bertemu di sebuah cafe di Jakarta sepanjang Januari 1948. Kedekatannya dengan perwira Belanda itu bukan kali pertama, Hamid diketahui pernah aktif di KNIL berpangkat letnan dua, setelah menamatkan pendidikan di Akademi Militer Belanda (Koninklijk Militaire Academie) di Breda, Belanda, pada 1938. Pada masa pendudukan Jepang, Hamid ditahan selama tiga setengah tahun di Jakarta. Pasca kemerdekaan, ia kembali aktif di KNIL dengan pangkat kolonel. Karir militernya terus melejit. Ia diketahui pernah menjabat ajudan istimewa Ratu Kerajaan Belanda, Wilhelmina. Hamid pernah membentuk federasi bernama Daerah Istimewa Kalimantan Barat (DKIB) bersama negara-negara kerajaan se-Kalimantan Barat, yang menjalin persemakmuran dengan Kerajaan Belanda. Ia juga membentuk Bijeenkomst Voor Federaal Overleg (BFO) atau Perhimpunan Musyawarah Federal, bersama sejumlah tokoh politik negara-negara otonom di Kalimantan, Sumatera, Jawa, Sulawesi, Maluku, dan Bali. Hamid memperjuangkan sistem federal dalam berbagai perundingan, mulai dari Perundingan Malino sampai Konferensi Meja Bundar (KMB). Sultan dari Pontianak itu percaya bahwa kepulauan Melayu (Indonesia) lebih tepat menggunakan sistem federal untuk ketatanegaraannya. Namun keinginannya itu mendapat tentangan dari kaum republiken yang menginginkan sistem kesatuan atau unitarisme. Pada tanggal 22 Desember 1949, Hamid kembali bertemu Westerling. Kapten Belanda itu menyatakan keberatannya atas posisi Sukarno sebagai Presiden RIS. Ia juga mengklaim telah membentuk sebuah pasukan, APRA, berkekuatan 15.000 orang. Westerling lalu menawari Hamid komando pasukan APRA. Karena tidak yakin, Hamid akhirnya menolak tawaran itu. Namun sang sultan berubah pikiran dan menerima tawaran itu pada 10 Januari 1950. Maksud Hamid menerima tawaran jadi panglima APRA karena ingin mempertahankan sistem negara federal dari intimidasi yang ingin menghapuskan negara-negara bagian secara inkonstitusional. Tapi ada syarat yang harus dipenuhi: pasukan APRA harus terdiri dari bangsa Indonesia saja; Westerling harus memberitahukan persenjataan, kekuatan-kekuatan dan dislokasi APRA; dan dia harus mengetahui sumber keuangan untuk membiayai APRA. Belum sempat menerima pasukan APRA, Hamid mendengar kabar penyerbuan APRA di Bandung.

Pasukan pemberontak APRA di Bandung, 23 Januari 1950. (Sumber: NATIONAAL ARCHIEF BELANDA/https://www.pikiran-rakyat.com/)

Pada tanggal 23 Januari 1950, APRA melancarkan kudeta terhadap pemerintahan Sukarno. Karena beberapa perwira Belanda tidak mendukung aksi tersebut, maka operasi itu berhasil diantisipasi oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI). Meski kehilangan unsur kejutan, namun pasukan APRA yang kalah jumlah dan persenjataan itu berhasil memenangkan pertempuran di kota Bandung, merebut barak-barak Divisi Siliwangi TNI tanpa kehilangan seorang pun. Di pihak republik mungkin telah kehilangan 79 anggota TNI, tapi hanya 63 mayat yang diketahui identitasnya, antara lain tiga perwira menengah Letnan Kolonel Lembong, Mayor Djoko Soetikno, dan Mayor Sachirin; seorang kapten, 12 letnan, berikut sejumlah bintara dan prajurit. Sebanyak 16 korban tidak diketahui jati dirinya, sedangkan enam warga sipil akibat peluru nyasar. “Saya marah karena sebelum ada keberesan soal tawaran oppercommando APRA, Westerling telah bertindak sendiri. Dan saya sendiri tidak menyetujui adanya penyerbuan ke kota Bandung itu,” kata Hamid seperti dikuti Persadja dalam buku “Proses Peristiwa Sultan Hamid II”. Meski demikian alih-alih tidak setuju dengan aksi kawan Belandanya itu, Hamid memerintahkan Westerling dan rekannya, Inspektur Polisi Frans Najoan untuk menyerang sidang Dewan Menteri RIS pada 24 Januari 1950. Dalam penyerbuan itu, Hamid juga memberi instruksi agar semua menteri ditangkap, sedangkan Menteri Pertahanan Sultan Hamengku Buwono IX, Sekretaris Jenderal Ali Budiardjo dan Kepala Staf APRIS Kolonel TB Simatupang harus ditembak di tempat. Sebagai kamuflase, Hamid sendiri harus menerima luka enteng: ditembak di kaki. Setelah penyerangan, rencana Hamid selanjutnya adalah meminta persetujuan Presiden Sukarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta, supaya ia diperbolehkan membentuk kabinet baru, di mana ia akan menjadi Menteri Pertahanan. Ketika akan pergi ke tempat persidangan, Hamid berubah pikiran. Ia ingin mencabut kembali perintah penyerbuan itu. Karena tidak tahu di mana keberadaan Westerling dan Frans Najoan, keinginan Hamid itu hanya dibicarakan dengan ajudannya, Van der Heide. Serangan gagal. Sidang rupanya selesai lebih cepat dari rencana. Pasukan yang telah bersiap menyerang hanya mendapati tempat penyerbuan telah kosong. Meski begitu, Hamid tetap di tangkap pada 5 April 1950 oleh Sultan Hamengku Buwono IX atas perintah Jaksa Agung RIS Tirtawinata. Pada tanggal 8 April 1953, Mahkamah Agung menjatuhkan hukuman 10 tahun penjara dipotong masa tahanan tiga tahun. 

Pasukan APRA saat menguasai Markas Besar Divisi Siliwangi (Sumber: geheugen.delpher.nl/nl/https://historia.id/)

Pemberontakan penting yang direncanakannya Westerling di Jakarta akhirnya gagal, salah satunya juga karena mereka yang bertugas menyelundupkan senjata api ke kota berhasil digagalkan. Sementara itu kegagalan menduduki Bandung pada 23 Januari 1950 membuat prajurit APRA lari tunggang langgang ke arah Cianjur. Namun upaya menyelamatkan diri itu sia-sia karena Batalyon H Divisi Siliwangi pimpinan Mayor Sutoyo berhasil menghadang para pemberontak ini. Peristiwa perburuan itu dikisahkan Kolonel (Purn) Mochamad Rivai dalam bukunya “Tanpa Pamrih, Kupertahankan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945”. “Mereka terkepung dan kocar-kacir, bahkan sebagian nekad menerjunkan dirinya ke jurang-jurang yang ada di wilayah hutan-hutan Maleber,” ucapnya. Westerling yang sadar gerakannya telah terpatahkan, memilih melarikan diri ke Jakarta. Selama pelarian, ia didampingi pengawal setianya Pim Colsom dan dua anggota polisi Indonesia yang membelot. Sang kapten melarikan diri menggunakan tiga mobil yang ia tumpangi secara bergantian di tiap titik tertentu. “Intelijen kami mengidentifikasi mobil-mobil itu masing-masing berplat nomor wilayah Bandung dan Jakarta: D 1067, D 1373, B 16107,” ujar Rivai. Di Jakarta, Westerling hidup berpindah-pindah agar keberadaannya tidak mudah diketahui. Menurut sejarawan Salim Said, salah satu tempat yang pernah ditinggali Westerling adalah rumah milik seorang Belanda di Kebon Sirih. Awal Februari 1950, seorang pendukung Westerling dari kalangan mantan KNIL Letnan Kolonel Rappard tewas dalam suatu pengepungan oleh kesatuan Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat (APRIS) di Jakarta. Kejadian itu membuat keinginan Westerling ke luar dari Indonesia semakin besar. Maka disusunlah sebuah rencana pelarian yang melibatkan sejumlah pejabat tinggi militer dan sipil Belanda. 

Letnan J.C.Princen (tengah), pembelot asal Belanda yang turut memburu Westerling. (Sumber: https://historia.id/)

Upaya pelarian Westerling ke luar negeri itu ternyata tercium oleh intelijen APRIS. Demi mencegahnya, dibentuklah tim pemburu oleh pihak militer Indonesia Serikat yang dipimpin Mayor Brenthel Soesilo. Menurut salah satu anggota tim pemburu, Letnan J.C.Princen, Kamis, 23 Februari 1950, tim-nya menerima informasi dari agen intelijen di lapangan bahwa Westerling dengan dikawal beberapa orang bergerak ke arah Pelabuhan Tanjung Priok. “Kami lalu mengutus Letnan Supardi dan Letnan Kesuma untuk mengejar Westerling…” ujar mantan serdadu Belanda yang membelot ke pihak Republik Indonesia tersebut. Dengan menggunakan jip Willys, menjelang pukul 19.00, bergeraklah kedua prajurit APRIS tersebut ke Tanjung Priok. Benar saja, sampai di mulut pelabuhan, mobil yang ditumpangi Letnan Supardi dan Letnan Kesuma berpapasan dengan mobil Westerling. Alih-alih menghindar, Westerling yang saat itu menggunakan seragam KNIL berpangkat sersan, malah turun dari mobil dan mendekati Letnan Supardi dan Letnan Kesuma. “Orang gila itu malah mengajak kedua letnan tersebut singgah di satu bar dan minum bir…” kenang Princen.

Dengan bantuan pemerintah Belanda, Westerling berhasil kabur dari penangkapan dan pulang ke negerinya. (Sumber: https://sulsel.idntimes.com/)

Ajakan itu ditampik. Letnan Kesuma justru mengajak Westerling untuk singgah sebentar ke sebuah pos tentara APRIS di dekat pelabuhan. Westerling setuju. Namun belum 100 meter bergerak, tiba-tiba serentetan tembakan menyalak dari kendaraan Westerling dan membuat kendaraan yang ditumpangi kedua tentara APRIS itu terjungkal seketika. Setelah menembak, mobil Westerling segera dipacu ke arah pelabuhan. Sempat terjadi baku tembak antara pengawal Westerling di Pelabuhan II Tanjung Priok dengan pasukan Brenthel Soesilo. Di tengah pertempuran kecil itulah, Westerling kabur ke Singapura dengan bantuan sebuah pesawat Catalina milik Angkatan Laut Belanda. Karena masuk tanpa izin, Westerling ditahan pihak keamanan Inggris di Singapura begitu sampai. Mendengar kabar tersebut, Pemerintah RIS melayangkan permintaan kepada otoritas Singapura untuk mengekstradiksi Westerling ke Indonesia. Namun dengan alasan Westerling adalah warga negara Belanda, pengadilan Singapura tidak bisa memenuhi permintaan tersebut. Setelah dibebaskan, Westerling terbang menuju Amsterdam, Belanda melalui jalur Kairo dan London dengan membawa keluarganya. Namun di London, petugas menutup akses masuk untuknya. Kehabisan akal, ia terbang menuju Brussels, Belgia. Dikutip harian Montreal Gazette terbitan Kanada 25 Agustus 1950, Westerling tiba pada 23 Agustus 1950 dan langsung ditangkap otoritas Belgia. Menghindari kontroversi di negerinya, setelah dilepas otoritas Belgia, Westerling memilih menetap sejenak di Brussels. Setelah situasi dirasa aman, Westerling akhirnya bisa kembali ke Belanda.

BANTUAN PANGERAN BENHARD

Pada awal 1950, seperti yang sudah disinggung diatas Westerling tampil sebagai tokoh utama kudeta APRA di Bandung. Upaya menjatuhkan Pemerintah Indonesia itu menurut sejarawan senior Gerard Aalders dalam Bernhard, Zakenprins, berjalan berkat satu kekuatan besar di Belanda, yakni peran rahasia Pangeran Bernhard von Lippe-Biesterveld, suami Ratu Belanda Juliana. Sejumlah arsip Belanda, terutama buku harian Sekretaris Ratu, Gerrie van Maasdijk, menunjukkan betapa Pangeran Bernhard secara efektif berhasil memanfaatkan kedudukannya sebagai anggota keluarga kerajaan untuk mengelola kepentingan-kepentingan politik, diplomatik, dan bisnisnya. Termasuk menggandeng Westerling di dalamnya. Komplotan Bernhard-Westerling, dibantu JW Duyff –Guru Besar Fisiologi Universitas Leiden dan mantan pejuang saat pendudukan Nazi Jerman yang berambisi menjaga Hindia-Belanda tetap di bawah kuasa Negeri Belanda– mengatur penyelundupan senjata dari London dan Paris, melalui Pakistan ke Yogyakarta. Namun catatan sekretaris ratu tentang skandal senjata itu tidak dijelaskan lengkap di dalam laporan intelijen Belanda. Pihak penegak agaknya melindungi sang pangeran dengan cara tidak menguraikan secara rinci siapa saja otak aksi APRA itu. Cara tersebut dipercaya sebagai upaya menutup-nutupi peran kunci Bernhard, Duyff, dan Westerling. Peran lain Bernhard terlihat ketika menyelamatkan Westerling di tengah kegagalan aksinya. Belanda tidak ingin Westerling jatuh ke tangan pihak Indonesia dan menganggu hubungan kedua negara yang mulai berjalan. Sang pangeran memang telah lama senang dengan cara kerja Westerling. Ia secara pribadi pernah menyurati Jenderal Spoor di Jakarta agar memberikan koninkelijke onderscheiding (penghargaan kerajaan) kepada Westerling. “Menunjukkan betapa pangeran ini mengagumi perwira kontroversial yang pernah menjadi anggota staf pribadinya ini,” ujar Aalders.

Pangeran Bernhard von Lippe-Biesterveld, suami Ratu Belanda Juliana merupakan salah satu pendukung dari Westerling. (Sumber: https://jethrotull.proboards.com/)

EPILOG

Setelah menulis buku “A Challenge to Terror”, yang diakhiri dengan peringatan bahwa Uni Soviet dan China komunis memiliki agen intelijen dan teroris di Indonesia, Westerling secara tak terduga mencoba menjadi penyanyi opera, meskipun resital tunggal publiknya pada tahun 1958 dilaporkan gagal. Pernikahannya juga gagal, meskipun dia kemudian menikah lagi. Mengakhiri hari-harinya sebagai penjual buku antik di Amsterdam, Westerling meninggal karena gagal jantung pada usia 68 pada tanggal 26 November 1987. Bagi kaum kiri Belanda dan nasionalis Indonesia, Westerling adalah perwujudan dari aksi kolonialisme yang brutal. Meskipun efektif secara taktis, ia menggunakan metodenya untuk membantu upaya yang gagal dari Belanda dalam mempertahankan klaimnya atas wilayah bekas Hindia Belanda. Karena terlepas dari kecerdasan taktisnya, Republik Indonesia pimpinan Sukarno menang sebagian besar karena tekanan internasional pada Belanda. Sukarno sendiri menjabat sebagai presiden hingga tahun 1967, ketika salah satu jenderalnya, Suharto, berhasil meruntuhkan kekuasaannya dan melakukan pembersihan skala nasional terhadap orang-orang komunis yang dianggap berpihak pada Sukarno.

Dicap sebagai penjahat perang, Westerling menjalani hidupnya sebagai penjual buku Amsterdam pada akhir masa hidupnya. (Sumber: Nationaal Archief/https://www.historynet.com/)

Sementara itu butuh delapan tahun bagi Pengadilan Sipil Belanda di Den Haag mencapai keputusan soal kasus pembantaian rakyat Sulawesi Selatan oleh serdadu Belanda dalam kurun 1946-1947. Sejak kasus itu diajukan pengacara HAM Liesbeth Zegveld pada 2012, akhirnya palu para hakim di Den Haag memvonis pemerintah Belanda untuk membayar kompensasi. Keputusan pengadilan Den Haag itu keluar tak lama setelah Raja Belanda, Willem-Alexander melakukan kunjungan kenegaraan ke Indonesia pada pada 10 Maret 2020 lalu. Di hadapan Presiden RI Joko Widodo di Istana Bogor, Raja Willem-Alexander menyampaikan permintaan maafnya dalam pidato sambutannya. “Saya ingin menyampaikan rasa penyesalan dan permintaan maaf terhadap kekerasan yang berlebihan oleh pihak Belanda di tahun-tahun itu (1945-1949). Saya menyampaikannya dengan kesadaran penuh bahwa rasa sakit dan kesedihan keluarga yang terdampak masih terasa sampai hari ini,” tutur Raja Willem-Alexander dalam potongan pidatonya, dikutip laman resmi kerajaan. Terlebih pembantaian militer Belanda di masa revolusi fisik itu tak hanya terjadi di Sulawesi Selatan. Namun juga di banyak wilayah, seperti Sumatera Barat, Jawa Barat, hingga Jawa Tengah dan Yogyakarta. Westerling pribadi pun sudah mengakuinya sejak lama. Tepatnya pada 1969 kala diwawancara Stasiun TV NCRV dalam program “Altijd Wat”. Pengakuan yang baru berani ditayangkan pada 14 Agustus 2012 itu, menguraikan dengan gamblang di mana Westerling mengakui pembunuhan terhadap 3.500 jiwa tak berdosa, khusus di Sulawesi Selatan. “Saya bertanggungjawab dan bukannya prajurit yang ada di bawah saya. Perbuatan itu adalah tindakan saya pribadi. Jumlah persisnya korban bisa dibaca pada laporan patroliku,” aku Westerling dalam wawancara itu. “Saya bertanggungjawab pada perbuatan saya, tapi orang harus dapat membedakan antara kejahatan perang dengan langkah tegas, konsekuen dan adil dalam keadaan yang sangat sulit…sadisme yang tersembunyi dalam diri orang lebih cepat mekar dalam keadaan perang ketimbang dalam situasi normal,” tambahnya.

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

A Method to His Madness: Raymond Westerling in the Dutch Indies by Benjamin Welton, January 2021

Enam Hal Penting tentang Westerling Oleh: M. Fazil Pamungkas | 31 Mar 2020

https://www.google.com/amp/s/historia.id/amp/militer/articles/enam-hal-penting-tentang-westerling-Db2A9

Aksi Sadis Westerling di Medan Oleh: Martin Sitompul | 23 Jan 2020

https://historia.id/amp/militer/articles/aksi-sadis-westerling-di-medan-DB8MM

Ratu Adil dari Istanbul Oleh: Hendri F. Isnaeni | 23 Jan 2014

https://historia.id/amp/politik/articles/ratu-adil-dari-istanbul-PeVW6

Kisah Perburuan Kapten Westerling Oleh: Hendi Jo | 25 Feb 2016

https://historia.id/amp/politik/articles/kisah-perburuan-kapten-westerling-P9jQz

Keluarga Korban Westerling Menangkan Gugatan Oleh: Randy Wirayudha | 28 Mar 2020

https://historia.id/amp/militer/articles/keluarga-korban-westerling-menangkan-gugatan-PzdKE

Kekejaman Westerling Sebelum Ditimpuk Sepatu di Atas Panggung oleh: Petrik Matanasi; 26 November 2020

https://www.google.com/amp/s/amp.tirto.id/kekejaman-westerling-sebelum-ditimpuk-sepatu-di-atas-panggung-b9mo

Westerling Sang Pembantai – Mozaik Tirto Editor : Hafitz Maulana; 12 Februari 2018

https://tirto.id/westerling-sang-pembantai-mozaik-tirto-cHhl

Pandangan Westerling terhadap Islam oleh Randy Wirayudha | 31 Mar 2020

https://historia.id/agama/articles/pandangan-westerling-terhadap-islam-D84ZQ/page/1

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Raymond_Westerling

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *