“MiG-19 Farmer: Good Dogfighter, Deadly but troublesome and Forgotten”

Pada awal 1950-an, ketika 2 negara adidaya dunia menyadari bahwa Perang Dingin tidak dapat dihindari, Amerika Serikat dan Uni Soviet mulai bersaing untuk mendapatkan supremasi teknologi militer. Kedua belah pihak saling bersaing untuk membuat pesawat tempur paling canggih. Serangkaian seri pesawat tempur karya biro desain MiG Uni Soviet – dinamai sesuai dengan nama pendirinya Mikoyan-Gurevich – telah diperkenalkan sejak jaman Perang Dunia 2 (ingat karya MiG-3) yang kemudian terus beradaptasi untuk memenuhi tantangan dalam perang di Korea, dan kemudian Vietnam.

MiG-19 in Tiraspol.

Ketika nama “MiG” disebutkan, nama MiG-15 dan MiG-21 yang legendaris kemungkinan merupakan nama yang pertama kali terlintas bagi siapapun yang akrab dengan jet tempur buatan biro desain Mikoyan-Gurevich yang buatannya hampir selalu identik dengan kekuatan udara Pakta Warsawa selama Perang Dingin. MiG-15 membangun reputasi Mikoyan-Gurevich untuk memproduksi pesawat tempur jet yang tangguh yang terbukti dalam Perang Korea sebagai lawan abadi dari F-86 Sabre Amerika dan MiG-21, dengan diproduksi hampir 11.500 buah dan banyak yang masih aktif dalam dinas militer setelah 50 tahun diperkenalkan, memperkuat reputasi itu. MiG-19, yang memiliki nama kode NATO “Farmer”, mengalami ketidakberuntungan karena berada di antara MiG-17 (keturunan MiG-15) dan MiG-21. Didahului oleh legenda dan diikuti oleh pesawat yang merepresentasikan “MiG” selama beberapa dekade, hampir tidak mengejutkan jika MiG-19 kadang-kadang diabaikan ketika berbicara tentang pesawat Mikoyan-Gurevich.

MiG-19S at the National Museum of the United States Air Force in Dayton, Ohio.

MiG-19 tidak hanya dibayangi oleh rekan-rekan MiG lainnya yang lebih dikenal; tetapi juga disaingi oleh turunan tipe pesawat yang sama buatan Cina yang diproduksi lebih banyak, Shenyang J-6. Banyak negara menggunakan versi yang dibangun Shenyang bersama MiG-19 asli Soviet dan China terus melanjutkan produksi J-6 lama setelah MiG-19 terakhir dibuat oleh pabrikan Soviet dan hal ini memastikan bahwa variasi Shenyang akan memiliki umur yang lebih panjang daripada versi aslinya. Sebanyak 2.172 pesawat dibuat dengan spesifikasi MiG-19 original oleh bekas Uni Soviet dan Cekoslowakia, sedangkan setidaknya 3.000 pesawat dari keluarga J-6 diketahui telah dibuat di China.

Varian trainer JJ-6 AU Pakistan.

Desain dan Pengembangan

Setelah MiG-15 dan 17 dioperasikan secara intensif, Uni Soviet menyadari bahwa pesawat tempur berikutnya yang akan dibuat haruslah memiliki kemampuan terbang supersonik. Setelah mengeluarkan banyak prototipe dan usaha, MiG-19 dinilai mampu memenuhi peran yang diinginkan sedari awal sebagai pesawat tempur supersonik Soviet yang pertama.

Egyptian Air Force personnel inspect an Egyptian F-6.

Mikoyan-Gurevich, selama beberapa waktu bekerja merancang desain pesawat yang bisa terbang supersonik dan sekaligus cocok untuk diproduksi massal. Kendala utama adalah bukan pada mendesain pesawat, cukup banyak desain dan komponen yang diambil dari tipe pesawat MiG-17 yang sudah ada sebelumnya, namun lebih pada menemukan mesin yang cukup membawa pesawat melalui penghalang suara di penerbangan kecepatan tinggi yakni pada kecepatan supersonic. Mikoyan-Gurevich telah menghasilkan serangkaian prototipe, beberapa di antaranya bisa mendekati kecepatan supersonik, sebelum mereka menemukan kombinasi yang tepat dari pesawat dan mesin, pesawat ini kemudian diputuskan akan menggunakan mesin ganda. Tidak seperti MiG-15 dan MiG-17 bermesin tunggal sebelumnya, MiG-19 menampilkan konfigurasi mesin turbojet ganda yang dipasang berdampingan untuk meningkatkan daya dorong dan jangkauan serta keamanan. Mesin yang menjadi pilihan adalah turbojet Mikulin AM-5 series (non-afterburning) yang masing-masing menghasilkan daya dorong 4.400 pon. Mesin ini nantinya akan berevolusi menjadi seri mesin Tumansky RD-9.

Cutaway Tumansky RD-9B engine at Brno in 2013.

Para desainer akhirnya menghadirkan sebuah prototipe SM-9/1 pada tahun 1953. SM-9/1, yang menampilkan sejumlah modifikasi yang mencakup bagian ekor yang dirancang ulang dan sedang dipasang kembali dengan mesin yang sesuai dalam bentuk sepasang mesin turbojet Tumansky RD-9B, diluncurkan pertama kali pada Januari 1954 dan disetujui untuk diproduksi bulan berikutnya. Pengujian pabrik terhadap pesawat baru berlangsung hingga September. Beberapa masalah yang berkaitan dengan stabilitas dan responsifitas SM-9/1 dalam penerbangan supersonik dan potensi tangki bahan bakar yang terletak di antara mesin yang meledak di tengah penerbangan membuat varian awal MiG-19 ini kurang populer.

Detail exhaust MiG-19 AU Cekoslovakia.

Modifikasi lebih lanjut memunculkan SM-9/2, modifikasi prototipe inilah yang pada akhirnya menjadi dasar desain pesawat MiG-19 yang diproduksi. Prototipe kedua, SM-9/2, melakukan penerbangan pertamanya pada Juli 1952. Prototype Ini menggunakan kursi lontar yang lebih kuat dan persenjataan baru — dua meriam 30 mm. Meriam dipindahkan dari intake engine ke pangkal sayap untuk mencegah gas hasil penembakan mempengaruhi kinerja mesin. Penambahan spesifikasi dibuat untuk memungkinkan pesawat membawa dua tanki bahan bakar cadangan 760 liter atau bom 250kg. Jarak jangkauan telah ditingkatkan hingga lebih dari 1.000 mil, dan ketinggian operasional telah meningkat hingga 52.000 kaki. Pesawat ini dilengkapi dengan radar pengukur jarak tembak SRD-1 Radial M dan radio altimeter RV-2. Pesawat tempur yang dihasilkan memiliki kemampuan pendakian yang jauh lebih unggul daripada MiG-17F, tetapi tidak stabil dan radius beloknya 200 meter lebih besar. Otoritas angkatan udara Soviet menemukan hal itu tidak dapat diterima dan menuntut pengembangan lebih lanjut. Meskipun demikian, mereka memerintahkannya untuk diproduksi. Unit MiG-19 operasional pertama dibentuk pada tahun 1955

The Nudelman-Richter NR-30 Canon.

Saat kemampuan aerobatic yang bagus dan kecepatan terbang dari MiG-19 pada akhirnya membuatnya cukup populer di antara mereka yang menerbangkannya, MiG-19 adalah pesawat yang cukup menuntut untuk pilot dan kru terlatih untuk menerbangkan dan melakukan pemeliharaan. Tipikal pesawat tempur Soviet pada masanya, MiG-19 tidak memiliki varian dua kursi khusus untuk tugas pelatihan, hal ini membuat transisi pilot ke jenis ini cukup sulit. Kecepatan pendaratan yang sangat tinggi dan kecenderungan untuk spin pada saat terbang menyebabkan sejumlah kecelakaan selama bertahun-tahun digunakan. Ketika rem udara digunakan pada kecepatan tinggi, hidung pesawat bisa naik yang berujung stall dan memberikan tekanan gaya gravitasi yang berat pada pilot. MiG-19 terus menjadi pesawat yang berbahaya, menderita tingkat kecelakaan tertinggi dari setiap pesawat yang dioperasikan Soviet. Tekanan kokpitnya cenderung bisa tidak berfungsi tanpa peringatan, memaksa pilot untuk turun dengan cepat. Ada beberapa masalah lain yang mengganggu type ini selama masa operasionalnya, dan yang lebih repot adalah sulit untuk mengajari pilot untuk menangani beberapa bahaya semacam ini karena Soviet tidak pernah membuat versi latih dengan dua pilot untuk fungsi pelatihan bagi MiG-19, seperti yang sudah disinggung diatas.

Kokpit jadul MiG-19, tidak jauh beda dengan layout pesawat tempur era PD II.

Sejarah mencatat bahwa MiG-19 dikenal tidak hanya sebagai jet tempur pertama di blok Pakta Warsawa yang mampu terbang supersonic saat terbang mendatar, tetapi juga jet tempur supersonic pertama di dunia yang disetujui untu diproduksi massal. Untuk jelasnya, perlu dicatat bahwa walau North American F-100 Super Sabre adalah jet tempur operasional pertama di dunia yang mampu mencapai kecepatan supersonic saat terbang mendatar, namun MiG-19 lebih dulu mendapat persetujuan untuk diproduksi massal sebelum rekan Amerika-nya melakukannya. Sementara F-100 mengalahkan MiG-19 dalam hal pertama kali operasional, namun pesawat ini mengalami sejumlah besar kecelakaan karena masalah stabilitas di tahun-tahun awal operasionalnya, sebuah problem yang tidak jauh beda dari yang dialami oleh MiG-19.

Varian utama

Versi produksi awal ditetapkan sebagai “MiG-19” dan diberi nama sandi NATO “Farmer” sesuai dengan nama pesawat tempur Soviet yang dimulai dengan huruf “F”: “Fagot”, “Fresco”, “Fishbed” dll. Versi awal ini dipersenjatai dengan 3 kanon seri Nudelman NR-23 kaliber 23mm sebagai standar persenjataan tetap.

A close up at the NR-30 cannon and its cartridges displayed at the Egyptian Military museum.

Versi yang dilengkapi dengan radar muncul pada tahun 1955 sebagai MiG-19P (“Farmer-B”) dan bersamaan dengan itu persenjataannya direvisi dengan hanya membawa 2 kanon NR-23 23mm. Model dilengkapi dengan radar RP-1 “Izumrud” yang dipasang di hidung dan dilengkapi dengan sayap stabilizer ekor yang bisa digerakkan serta penambahan unit rem udara ketiga yang ditambahkan di bagian ekor. Kemampuan menggotong dan meluncurkan roket juga ditambahkan, sehingga varian ini dapat membawa rudal K-13 (AA-2 “Atoll”) sebagai Rudal Udara-ke-Udara (AAM).

GDR MiG-17PF Fresco D (Equipped with Izumrud radar and armed with three NR-23 cannons as main armament. Also equipped with the afterburning VK-1F engine).

Versi produksi berikutnya memiliki radar Izumrud RP-5 yang telah ditingkatkan kemampuannya, dengan jangkauan yang lebih besar dan keandalan yang lebih baik. Sejumlah MiG-19P dilengkapi dengan ground control datalink Gorizont-1, yang memberikan informasi panduan untuk mengarahkan pesawat tempur ke target, dan tipe ini kemudian diberi nama “MiG-19PG”. Rudal AAM yang kemudian dipandang sebagai senjata untuk pertempuran tempur di masa depan pada pertengahan 1950-an, oleh karenanya pada varian MiG-19P berpeluru kendali udara ke udara mulai dibuat. Dua dari prototipe MiG-19P dimodifikasi untuk percobaan, dan varian baru mulai beroperasi pada tahun 1957 sebagai “MiG-19PM”. Varian ini diberi nama pelaporan NATO “Farmer-E” – karena sepertinya tidak ada “Farmer-D”. MiG-19PM sangat mirip dengan MiG-19P, kecuali bahwa persenjataan meriam telah dihapus sama sekali, untuk kemudian digantikan oleh empat rudal berpemandu radar K-5M / RS-2 / AA-1 Alkali. Radar Izumrud RP-1 ditingkatkan ke varian PR-2U, yang memberikan kemampuan kontrol AAM. MiG-19PM bahkan lebih tidak disukai daripada MiG-19P, karena rudal-rudalnya yang besar mengurangi kinerja secara substansial, dan K-5M AAM tidak dapat dinilai reliable.

Rudal AA-1 Alkali berdampingan dengan rudal AA-2 Atoll dibawah sayap MiG-19 AU Vietnam di Museum AU Hanoi.

MiG-19S (“Farmer-C”) hadir pada tahun 1956 dengan peralatan navigasi “Svod” sebagai standar dan dipersenjatai dengan meriam NR-30 3 x 30mm sambil mampu membawa pod roket dan persenjataan bom konvensional untuk fungsi serang ringan. Dengan Performa kecepatan maksimum 902 mil per jam, jangkauan feri hingga 1.370 mil dan terbang hingga ketinggian 58.700 kaki. Rate of climb tercatat 35.000 kaki per menit – menjadikannya sebagai penyergap yang bagus dan mematikan.

MiG-19 membawa 4 rudal AA-1 Alkali (Kaliningrad K-5).

Versi penyergap untuk ketinggian tinggi muncul pada versi MiG-19SU dimana model ini dimaksudkan untuk melawan ancaman yang ditimbulkan oleh pesawat mata-mata Lockheed U-2. Pesawat itu adalah pelanggar reguler di atas udara Uni Soviet, dan sampai rudal dan radar pertahanan udara Soviet dapat mengejar pesawat yang terbang tinggi itu, pesawat penyergap lah yang harus menjalankan tugasnya. Untuk memungkinkan waktu respons yang cepat dan waktu terbang ke ketinggian yang dibutuhkan, MiG-19SU membawa booster roket untuk memberi daya dorong tambahan. Namun desain menunjukkan terlalu banyak masalah selama pengujian sehingga upaya yang dilakukan nampaknya sia-sia, hal ini kemudian terbukti saat MiG-19 gagal menyergap U-2.

Operasional dan karir tempur

MiG-19 terlibat dalam banyak penyergapan pesawat barat yang terbang terlalu dekat dengan wilayah udara Pakta Warsawa selama Perang Dingin. Perjumpaan pertama yang didokumentasikan antara pesawat Pakta Warsawa dan pesawat mata-mata rahasia Amerika, Lockheed U-2 terjadi pada tahun 1957 ketika seorang pilot MiG-19 melihat U-2 tetapi tidak bisa cukup dekat untuk menembaknya.

Ilustrasi MiG-19 menembak jatuh RB-47H (53-4281) dari 55th SRW yang terbang diatas wilayah udara internasional pada 1 Juli 1960.

MiG-19 mulai terkenal pada 1 Juli 1960 ketika menembak jatuh pesawat bomber Boeing B-47 Amerika di wilayah udara internasional di atas Kutub Utara. Aksi Ini memicu insiden internasional tetapi juga membuktikan bahwa pesawat itu mampu memenuhi peran yang dimaksudkan. Pesawat ini berhasil menghancurkan B-47, type pesawat yang biasa digunakan untuk pengintaian dan mata-mata.

RB-47, varian mata-mata bomber Stratojet.

Meskipun B-47 hanya memiliki penembak belakang, namun aksi itu menunjukkan bahwa MiG-19 mampu memenuhi tugasnya sebagai pesawat anti-pengintaian dan kecepatan yang dimilikinya turut membantu dalam menjalankan tugasnya. Aksi tersebut bukan satu-satunya insiden internasional yang dipicu oleh MiG-19, karena empat tahun kemudian sebuah pesawat MiG-19 menembak jatuh pesawat T-39 Sabreline Angkatan Udara Amerika Serikat yang digunakan sebagai pesawat latih.

A U.S. Navy North American CT-39E Sabreliner

Meskipun Sabreliner tidak bersenjata, ia telah keluar jalur ke wilayah udara Jerman Timur sebelum ditembak jatuh dan tidak menanggapi peringatan yang diberikan lewat frekuensi radio Amerika. Meskipun MiG-19 telah menunjukkan bahwa ia cukup responsif dan cukup cepat untuk digunakan dalam sistem pertahanan melawan ancaman mata-mata, namun ia harus mampu membuktikan dirinya dalam pertempuran nyata.

MiG-19 AU Korut yang dibawa membelot Kolonel Le Chul Su pada tahun 1996, kini Le berdinas di AU Korsel.

Dalam Perang Vietnam, pasukan Vietnam Utara menggunakan MiG-19 dan turunannya. MiG-21 meskipun lebih terkenal, dan disegani, pada tahun 1969 Vietnam Utara menyadari bahwa mereka tidak cukup banyak Fishbed untuk mengisi skuadron-skuadron angkatan udara yang direncanakan untuk diperluas. Akibatnya, mereka harus mengimpor tipe MiG-19 buatan China yang disebut Shenyang F-6. Pilot tidak memiliki banyak kesulitan untuk beralih ke MiG-19 dari MiG-17 dan MiG-21 karena banyak diantara mereka sudah berlatih di Uni Soviet. Penggunaan MiG-19 ini memiliki hasil yang beragam di Vietnam tetapi terlibat dalam beberapa kemenangan yang cukup signifikan.

MiG-19 di Museum AU Vietnam Utara.

Misi sukses pertama MiG-19 melawan pesawat A.S. datang pada tahun 1965 ketika beehadapan dengan F-104C Starfighter. Pada kesempatan itu, MiG dapat memberondong pesawat AS dan pesawat Amerika itu jatuh sebelum dapat melakukan serangan balik. Pada akhir perang, MiG-19 dan turunannya memiliki catatan enam “kill” terhadap pesawat Amerika, termasuk atas pesawat A-6 Intruders dan Phantom II. Seorang pilot AS mengatakan bahwa Farmer (kode NATO dari MiG-19) adalah “seperti MiG-17, itu bisa dengan mudah mengalahkan kemampuan berkelit Phantom … dan bisa mengimbangi akselerasi F-4”. Satu-satunya persenjataan yang dimiliki MiG-19 adalah tiga meriam kaliber 30mm, tetapi mereka menyebabkan lebih banyak kerusakan dan bisa menembakkan amunisi lebih cepat daripada pesawat-pesawat Amerika yang mereka hadapi, membuat mereka sangat mematikan dalam pertempuran jarak dekat.

MiG-19 mendarat dengan bantuan parasut pengereman.

Laporan tentang total kill dan loss dari MiG-19 bervariasi tergantung pada sumbernya, orang-orang Amerika mengklaim bahwa MiG-19 lebih banyak ditembak jatuh oleh pilot AS daripada jumlah Pesawat A.S yang ditembak jatuh oleh MiG-19, sedangkan sumber Rusia dan Cina mengklaim sebaliknya.

Pada tahun 1962, MiG-19 Mesir melihat beberapa aksi dalam menjalankan peran serangan darat selama perang saudara di Yaman yang terjadi pada awal 1960-an. Pertempuran udara pertama yang dilaporkan di Timur Tengah yang melibatkan MiG-19 terjadi pada 29 November 1966 ketika Jet tempur Angkatan Udara Israel (IAF) Dassault Mirage III menembak jatuh dua MiG-19 Mesir yang mencoba mencegat pesawat pengintaian Israel Piper J-3 Cub di wilayah udara Israel. MiG pertama dihancurkan dengan rudal berpemandu radar R.530 yang ditembakkan kurang dari satu mil jauhnya, mengawali debut “kill” pertama untuk rudal buatan Prancis itu. MiG-19 kedua dijatuhkan dengan tembakan meriam.

Mirage III Israel tertangkap kamera kanon MiG-19 yang menembaknya jatuh.

Sekitar 80 MiG-19 beroperasi dengan Mesir selama Perang Enam Hari pada bulan Juni 1967, tetapi lebih dari setengahnya dihancurkan di darat selama serangan udara pembukaan (Operasi Fokus) Israel. Pilot Israel, bagaimanapun, mendapati bahwa MiG-19 adalah musuh yang berpotensi dan berbahaya karena kinerjanya, kemampuan manuvernya, dan persenjataan beratnya (3 kanon umumnya).

Setelah perang, orang-orang Mesir menyusun kembali pesawat MiG-19 yang masih tersisa dan menugaskan mereka untuk tugas-tugas pertahanan udara di interior Mesir. Uni Soviet tidak memasok Mesir dengan pengganti MiG-19 yang hancur dalam Perang Enam Hari, tetapi Mesir mungkin telah menerima beberapa jenis serupa dari Suriah dan Irak, sehingga pada akhir 1968 ada 80 lebih MiG-19 yang beroperasi dengan Angkatan Udara Mesir. Pesawat ini juga melihat pertempuran selama Perang Atrisi; dalam satu pertempuran pada 19 Mei 1969, sebuah pesawat MiG-19 menghadapi dua Mirage Israel, menembak jatuh satu diantaranya dengan tembakan kanon sementara yang Mirage lainnya melarikan diri. Mesir memiliki sekitar 60 MiG-19 operasional selama Perang Yom Kippur tahun 1973 di mana mereka bertugas sebagai pesawat dukungan udara jarak dekat.

Egyptian Air Force personnel inspect an Egyptian F-6.

Versi F-6 Cina menjadi bagian dari Angkatan Udara Pakistan (PAF) pada tahun 1970. Tiga skuadron F-6 yang operasional digunakan secara luas dan efektif melawan Angkatan Udara India serta memberikan dukungan darat kepada Angkatan Darat Pakistan. F-6 milik Pakistan mencetak beberapa kill atas musuh dengan menggunakan rudal Aim-9B Sidewinder buatan Amerika, yang dimodifikasi untuk dapat dibawa di pylon sayapnya.

Nasib MiG-19 kini

Saat ini MiG-19 sering diabaikan dan kurang begitu dikenal dibandingkan dengan MiG-15/17/21, tetapi MiG-19 memiliki tempat yang penting dalam sejarah kedirgantaraan Soviet sebagai pesawat tempur supersonik pertama mereka. Seperti banyak tipe-tipe MiG yang sudah ketinggalan zaman, MiG-19 masih terlihat berdinas dalam angkatan udara kelas dua dari negara-negara berkembang, khususnya di Korea Utara, Pakistan, beberapa negara Afrika, dan beberapa negara Timur Tengah.

MiG-19 anggota Pakta Warsawa

Bahkan hari ini, sejumlah kecil masih digunakan di Korea Utara (pada tahun 1990-an sebuah MiG-19 tua milik AU Korut dibawa pilotnya membelot ke Korsel), Myanmar, Iran, dan Tanzania. Setelah problem yang terus-menerus menghinggapi MiG-19 terlihat jelas, Soviet kemudian segera mulai memproduksi penggantinya, MiG-21 yang jauh lebih terkenal. MiG-19 memang pesawat yang memiliki cacat serius, tetapi tetap terhitung mampu memenuhi tujuannya sebagai solusi sementara untuk menghadapi kemajuan teknologi pesawat tempur di negara-negara Barat.

MiG-19 negara Asia-Afrika

OPERATOR: Afghanistan; Albania; Bangladesh; Bulgaria; Cambodia; China; Cuba; Czechoslovakia; East Germany; Egypt; Hungary; Indonesia; Iraq; North Korea; North Vietnam; Pakistan; Poland; Romania; Somalia; Soviet Union; Sudan; Syria; Tanzania; Vietnam; Zambia

Cutaway dari MiG-19/Shenyang J-6.

MiG-19 “Farmer” General characteristics:

• Crew: 1
• Length: 12.54 m (41 ft 2 in) with pitot probe retracted; 14.64 m (48.0 ft) with pitot probe extended
• Wingspan: 9 m (29 ft 6 in)
• Height: 3.88 m (12 ft 9 in)
• Wing area: 25 m2 (270 sq ft)
• Airfoil: root: TsAGI SR-12S (8.74%) ; tip: TsAGI SR-7S (8%)[29]
• Empty weight: 5,172 kg (11,402 lb) 
• Gross weight: 7,560 kg (16,667 lb)
• Max takeoff weight: 8,832 kg (19,471 lb) with 2 × 760 l (170 imp gal; 200 US gal) drop tanks and two rocket pods
• Fuel capacity: 1,800 l (480 US gal; 400 imp gal) internal
• Powerplant: 2 × Tumansky RD-9B afterburning turbojet engines, 25.5 kN (5,700 lbf) thrust each dry, 31.8 kN (7,100 lbf) with afterburner


Performance


• Maximum speed: 1,452 km/h (902 mph; 784 kn) at 10,000 m (33,000 ft)
• Maximum speed: Mach 1.22
• Range: 1,390 km (864 mi; 751 nmi)
• Ferry range: 2,200 km (1,367 mi; 1,188 nmi) with 2 × 760 l (200 US gal; 170 imp gal) drop tanks at 14,000 m (46,000 ft)
• Service ceiling: 17,500 m (57,400 ft)
• Rate of climb: 177.8 m/s (35,000 ft/min)


Armament


• Guns: 3 × 30 mm Nudelman-Rikhter NR-30 autocannon (75 rounds for wing-root guns, 55 rounds for the fuselage gun)
• Hardpoints: 4 pylons in total, 2 for drop fuel tanks only, 2 for weapons, with a capacity of up to 500 kg (1,100 lb) of stores with provisions to carry combinations of:
◦ Rockets: 2 × 32-round ORO-57K rocket pods (4 from 1957)
◦ Bombs: 2 x FAB-250

Diterjemahkan dan dilengkapi kembali dari:

https://m.warhistoryonline.com/instant-articles/mig-19.html

https://pickledwings.wordpress.com/mikoyan-gurevich-mig-19…/

https://www.historynet.com/mig-19-serve-north-vietnamese.htm

https://www.militaryfactory.com/aircraft/detail.asp…

http://www.airvectors.net/avmig15_3.html

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Mikoyan-Gurevich_MiG-19

2 thoughts on ““MiG-19 Farmer: Good Dogfighter, Deadly but troublesome and Forgotten”

  • 28 October 2020 at 3:00 am
    Permalink

    angkat juga dong tentang bagaimana angkatan udara Mesir bisa mengusir serangan udara Israel di perang 6 hari…

    Reply
    • 28 October 2020 at 5:52 am
      Permalink

      Dalam sejarahnya perang 6 hari yang menang ya Israel, nggak ada episode AU Mesir mengusir serangan udara Israel

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *