MIM-23 HAWK, Sistem Rudal Pertahanan Udara Jarak Menengah Yang Telah Berusia 60 Tahun dan Masih Tetap Diandalkan Hingga Kini

Sistem Pertahanan Udara Hawk adalah sebuah sistem rudal anti-pesawat udara jarak menengah pertama yang digunakan oleh Angkatan Darat A.S., dan merupakan sistem SAM tertua yang masih digunakan oleh angkatan bersenjata A.S. hingga akhir tahun 1990-an. MIM-23 Hawk dibuat oleh Raytheon, perusahaan spesialis memproduksi rudal dari Amerika Serikat. Ada yang mengatakan bahwa kata HAWK sendiri berasal dari akronim Homing All the Way Killer. Akronim ini sesuai dengan kenyataan, bahwa meski pada awalnya pembuatan sistem rudal MIM-23 Hawk adalah untuk menghancurkan pesawat, tetapi pada akhirnya sistem ini dikembangkan dan diadaptasi untuk melawan berbagai ancaman serangan udara. Dengan tidak banyaknya produk rudal pertahanan udara jarak menengah yang dibuat oleh Amerika dibanding lawannya, Soviet dan dengan fakta bahwa hingga kini, sistem rudal ini juga masih banyak diandalkan oleh negara-negara lain, hal ini menunjukkan betapa baiknya desain dan kapabilitas dari sistem rudal yang telah berusia lebih dari 60 tahun ini.

Rudal MIM-23 Hawk Romania ditembakkan dari Area Pelatihan di Capu Midia, Rumania, 19 Juli 2017. Latihan ini merupakan bagian dari “Tobruq Legacy”, latihan pertahanan udara tempat AS dan Sekutu NATO nya serta mitra-mitranya berkumpul untuk meningkatkan kesiapan pertahanan udara di Eropa Timur dengan pelatihan bersama dan berbagi teknik dan strategi. Setelah Perang Dingin berakhir, Sistem Rudal Hawk digunakan juga oleh negara-negara eks Blok Timur, seperti Rumania (Pasukan A.S. Foto oleh Pfc. Nicholas Vidro)

DESAIN SISTEM

Sistem pertahanan udara MIM-23 HAWK dikembangkan pada masa-masa awal keberadaan Surface to Air Missiles (Rudal Udara ke Permukaan) mulai digelarnya sistem senjata ini dalam Angkatan Bersenjata di dunia. Program ini dimulai pada tahun 1952 ketika Angkatan Darat AS tertarik pada sistem rudal yang bisa menjangkau target pada ketinggian rendah hingga menengah dengan menggunakan panduan radar semi-aktif, sebuah metode panduan peluru kendali yang relatif baru pada saat itu, sistem ini kemudian diberi nama SAM-A-18 HAWK (Homing All the Way Killer). Setelah dua tahun kompetisi berjalan (pada Juli 1954), Angkatan Darat AS memberikan kontrak untuk pembuatan sistem peluncur, radar, panduan dan kontrol penembakan pada Northrop, sementara desain rudal yang sebenarnya dikerjakan oleh Raytheon. Uji coba pertama peluncuran rudal uji XSAM-A-18 sukses dilaksanakan pada bulan Juni 1956. Pada bulan Juli 1957 pengembangan MIM-23 telah selesai dikerjakan dan masalah reliabilitas kecil pada mesin aerojetnya berhasil diselesaikan. Pada saat itu, Hawk telah dirancang ulang sebagai Guided Missile, Aerial Intercept, XM3 (and XM3E1). Sistem rudal ini dioperasikan oleh Angkatan Darat AS pada tahun 1959 dan USMC pada tahun 1960, yang mengoperasikan sistem M3. Sistem Rudal Hawk kemudian digunakan secara luas oleh banyak negara-negara NATO dan negara-negara lain, sementara itu rudal ini juga dibuat dengan lisensi di Eropa Barat dan Jepang. Ada dua versi rudal untuk pelatihan dari rudal Hawk versi awal, yang diberi kode sebagai XM16 dan XM18. Pada bulan Juni 1963, semua rudal Hawk didesain ulang dalam seri yang diberi kode MIM-23. HAWK adalah sistem pertahanan udara unik dalam hal jumlah radar yang dipakai, dimana bisa sebanyak 6 radar digunakan dalam beberapa kasus, namun radar yang diperlukan untuk mengoperasikan sistem HAWK sebenarnys ada 3, yakni (pulse acquisition radar), CWAR (continuous wave acquisition radar) and the HPIR (high power illuminator radar). Rudal ini dipandu oleh radar pencari semi-aktif C-CW (Continuous Wave) X-band, dan memiliki jangkauan efektif 2-25 km (1,25-15 mil). Namun, sistem HAWK versi awal ini tidak seluruhnya sempurna. Dengan kompleksitas sistem yang tinggi, HAWK mengalami waktu kegagalan rata-rata yang tinggi (Mean time between failures/MTOF) yakni sebesar per 43 jam pengoperasian. 

Sebuah rudal XM3E1 (MIM-23A) Hawk Angkatan Darat A.S. menghancurkan Jet tempur Lockheed QF-80 Target Drone sekitar tahun 1958. (Sumber:https://commons.wikimedia.org/)

Karena kegagalan ini dan buruknya kinerja HAWK dalam menembak jatuh sasaran di ketinggian rendah, kemudian mendorong untuk segera dilakukan pengembangan peningkatan sistem di semua bidang guna meningkatkan kapabilitas dari sistem HAWK. Program ini kemudian diberi penamaan I-HAWK (Improved-HAWK), yang mulai dikerjakan pada tahun 1964. Dalam Sistem I-Hawk MTOF nya kemudian meningkatkan menjadi antara 130 dan 170 jam. Versi Hawk yang dikembangkan lebih lanjut malah bisa mencapai angka antara 300 dan 400 jam. I-HAWK tidak hanya meningkatkan jeda MTOF tetapi juga secara drastis meningkatkan kinerja sistem dalam tujuan utama dari sistem ini, yakni untuk menghancurkan pesawat, termasuk diantaranya penambahan koordinator informasi terpusat yang bertugas untuk melakukan pemrosesan data digital atas target, perintah penembakan, dan evaluasi penyergapan. HAWK asli mengalami kesulitan mengakuisisi target pada ketinggian rendah karena buruknya kemampuan untuk melakukan filtering target yang terbang mengikuti kontur tanah dari radar AN / MPQ-35 C Pulse Acquisition Radar (PAR) yang berfungsi untuk mendeteksi ancaman di ketinggian menengah dan tinggi serta radar AN / MPQ-34 Continuous Wave Acquisition Radar (CWAR) yang digunakan untuk mendeteksi ancaman di ketinggian rendah. Kedua radar ini kemudian digantikan oleh radar AN / MPQ-40 PAR dan AN / MPQ-48 CWAR. Sementara itu ditambahkan perangkat AN / MPQ-33 (atau -39) HPI (High-Power Illuminator) digunakan untuk melacak target yang ditentukan dan memberikan iluminator target untuk sistem penjejak rudal, dan AN / MPQ-37 ROR (Range Only Radar) yang merupakan radar pulse K-band yang  ditugaskan untuk menyediakan data jangkauan ketika radar lainnya macet oleh tindakan balasan dari pihak lawan. ROR mengurangi kerentanan gangguan dengan mengirimkan data hanya saat target telah ditentukan. HAWK terus ditingkatkan lebih lanjut tetapi peningkatan ini belum mencakup dalam fitur BMS (Boost Sustain Motor, yang meningkatkan kinerja penerbangan dari sistem rudalnya); upgrade ini baru muncul pada fase peningkatan HAWK fase I, II dan III, juga pada HAWK XXI. Sistem I-HAWK ini disebut mulai beroperasi pada tahun 1971, dan pada tahun 1978 semua unit Rudal Hawk A.S. telah dikonversi ke standar baru ini. Media militer Jane’s lalu melaporkan bahwa probabilitas perkenaan dari tembakan tunggal sistem rudal Hawk asli yang sebelumnya ada di kisaran 0,56; dalam sistem I-Hawk kemudian meningkatkan menjadi 0,85.

MIM 23-B Improved Hawk Surface-to-air missile milik Yunani. (Sumber:https://www.redstar.gr/)

Pada tahun 1977, Angkatan Darat AS memulai program multi-fase Hawk PIP (Product Improvement Plan/Rencana Peningkatan Produk), yang terutama dimaksudkan untuk meningkatkan dan mengupgrade perangkat pendukung sisem rudal Hawk. PIP Tahap I melibatkan penggantian CWAR dengan radar AN / MPQ-55 Improved CWAR (ICWAR), dan peningkatan konfigurasi PAR AN / MPQ-50 menjadi Peningkatan PAR (IPAR) dengan penambahan MTI digital (Moving Target Indikator/Indikator Target Bergerak). Sistem PIP Tahap I pertama kali diluncurkan pada tahun 1979. Sementara PIP Tahap II, dikembangkan dari tahun 1978 dan mulai dioperasikan antara tahun tahun 1983 dan 1986, telah meningkatkan AN / MPQ-46 HPI ke standar AN / MPQ-57 dengan mengganti beberapa sistem elektronik tabung dengan solid-state modern sirkuit, serta menambahkan perangkat TAS (Tracking Adjunct System). TAS, yang diberi OD-179 / TVY, adalah sistem pelacakan elektro-optik (TV) untuk meningkatkan pengoperasian dan meningkatkan ketahanan sistem Hawk dalam lingkungan ECM tinggi. Sementara itu pengembangan PIP Tahap III dimulai pada tahun 1983, dan pertama kali dioperasikan oleh pasukan AS pada tahun 1989. Fase III adalah peningkatan besar yang secara signifikan meningkatkan perangkat keras dan perangkat lunak komputer untuk sebagian besar komponen (CWAR baru tipe AN / MPQ-62 ditambahkan), ditambahkan kemampuan deteksi target pemindaian tunggal, dan memutakhirkan sistem HPI ke standar AN / MPQ-61 dengan menambahkan sistem Low-Altitude Simultanous Hawk Engagement (LASHE). LASHE memungkinkan sistem Hawk untuk melawan serangan bertipe saturasi, dengan secara simultan mencegat beberapa target yang terbang di ketinggian rendah. Untuk memberikan pemahaman dasar, deteksi target pindai tunggal adalah proses yang sangat mirip dengan sistem TWS/Tracked While Scan radar di pesawat tempur. Tracked While Scan (TWS) adalah mode operasi radar di mana radar mengalokasikan sebagian dari kekuatannya untuk melacak beberapa target sementara sebagian dari kekuatannya dialokasikan untuk memindai target yang dipilih. Tidak seperti mode pelacakan umumnya, ketika radar mengarahkan semua kekuatan untuk melacak target yang berhasil diperoleh. Dalam mode TWS, radar memiliki kemungkinan untuk memperoleh target tambahan serta memberikan pandangan menyeluruh tentang wilayah udara dan membantu mempertahankan situational awareness yang lebih baik. Sementara itu penjejak ROR tidak lagi digunakan oleh unit Hawk Fase III ini. Sebenarmya fase IV dari upgrade rudal ini sempat direncanakan dengan fokus perbaikan pada hal-hal berikut: anti-radiation missile decoys, peningkatan motor rudal, radar CW baru, peningkatan perangkat komando dan kontrol, radar akuisisi gelombang kontinu mobilitas tinggi untuk meningkatkan deteksi terhadap penerbangan UAV kecil dan peningkatan pada sistem ATBM. Fase ini tidak pernah selesai dikerjakan, karena baik Angkatan Darat dan Korps Marinir AS telah memutuskan untuk mempensiunkan sistem MIM-23 Hawk.

M727 SP Hawk. (Sumber: Reddit)

Unit Angkatan Darat aktif terakhir yang menggunakan sistem Hawk dinonaktifkan pada tahun 1994, dan unit Garda Nasional Angkatan Darat, terakhir menggunakan sistem Hawk pada periode 1996/97. Hawk telah diganti dalam layanan Angkatan Darat A.S. oleh sistem rudal MIM-104 Patriot dan FIM-92 Stinger (dan sistem berbasis Stinger seperti Avenger) untuk masing-masing sebagai rudal pertahanan udara jarak menengah dan pendek. Rudal MIM-23K dan radar AN / TPS-59 (V) 3 beroperasi dengan unit USMC sejak 1995 dan seterusnya. Mulai tahun 1998/99, USMC mulai menghapus penggunaan sistem rudal Hawk dan menggantikannya dengan FIM-92 Stinger (konsekuensinya hal ini meninggalkan celah dalam kemampuan pertahanan udara jarak menengah USMC). Tipikal penggelaran Baterai Rudal Pertahanan Udara HAWK biasanya terdiri dari 1 PAR Radar, 1 CWAR Radar, 2 radar HPIR, 1 ROR Radar, 1 Pusat Koordinasi Informasi ICC, satu Pusat Kontrol Baterai BCC, satu Pusat Komando Kontrol Penembakan Assa AFCC, satu Posko Peleton PCP, dua seksi kontrol peluncur dan enam unit peluncur M192 dengan total 18 rudal siap tembak. Sementara itu Baterai HAWK Fase III terdiri dari satu radar PAR, satu radar CWAR, 2 radar HIPIR, satu Pusat Distribusi Penembakan FDC, satu Perangkat Identifikasi IFF, dan enam DLN: Digital Launchers dengan 18 rudal. Sistem Rudal MIM-23 Hawk dapat diangkut oleh pesawat angkut C-130 / C-141 / C-5 dan helikopter angkut berat. Satu Batalyon Rudal Antipesawat Udara Ringan ada pada tiap satuan Marine Air Control Group di setiap Marine Air Wing (dua aktif, satu cadangan). Di Angkatan Darat AS, 4 unit baterai ditugaskan untuk setiap batalion Hawk. Setiap baterai Hawk terdiri dari dua Assault Fire Unit (AFU), dan setiap unit  membutuhkan sekitar 105 personel. Pada tahun 2002/2003 Angkatan Darat berencana untuk tetap menyimpan 19 baterai (63 AFU) dalam jangka waktu yang belum ditentukan di lapangan. Sementara itu diperkirakan terdapat sekitar 450 peluncur Hawk yang masih ditempatkan di Eropa Tengah.

Skema Standar Unit Baterai Rudal MIM-23 Hawk. (Sumber: https://www.armyrecognition.com/)

Komponen dari Sistem Rudal Hawk itu sendiri, terdiri dari:

PAR Pulse Acquisition Radar AN/MPQ-50

PAR adalah perangkat utama untuk mendeteksi pesawat terbang yang terbang di ketinggian tinggi bagi baterai rudal Hawk. Frekuensi C-band memungkinkan radar untuk bekerja dalam segala cuaca. Radar ini menggabungkan MTI digital untuk memberikan deteksi target sensitif di area dengan kontur daratan yang bergelombang. PAR juga mencakup beberapa fitur ECCM dan menggunakan metode off the air tuning pada transmitter-nya. Dalam konfigurasi Hawk Fase III perangkat PAR tidak dimodifikasi.

PAR Pulse Acquisition Radar AN/MPQ-50. (Sumber:https://www.armyrecognition.com/)

Sementara itu jarak jangkau deteksi dari AN/MPQ-50 (menurut sumber Janes) adalah sebagai berikut:

  • 104 km (65 mi) (PRF tinggi) hingga 96 km (60 mi) (PRF rendah) untuk mendeteksi target ukuran 3 m2 (32 sq ft). 
  • 98 km (61 mi) (PRF tinggi) hingga 90 km (56 mi) (PRF rendah) untuk mendeteksi target ukuran 2,4 m2 (26 sq ft).
  • 79 km (49 mi) (PRF tinggi) hingga 72 km (45 mi) (PRF rendah) untuk mendeteksi target ukuran 1 m2 (11 kaki persegi).

Continuous Wave Acquisition Radar (CWAR)

Sistem gelombang berkelanjutan X Band dari radar AN / MPQ-55 ini digunakan untuk mendeteksi target. Unit ini dipasang di trailer mobile nya sendiri. Unit ini memperoleh target melalui sapuan deteksi 360 derajat sambil memberikan informasi kecepatan target radial dan data mentah jaraknya.

AN / MPQ-55 Continuous Wave Acquisition Radar (CWAR). (Sumber:https://www.hawkies.de/)

HPIR High Power Illuminating Radar

Radar AN / MPQ-46 High Power Illuminator (HPIR) versi awal hanya memiliki dua tipe antena besar berdampingan, satu untuk mengirim dan satu untuk menerima. HPIR secara otomatis mendapatkan dan melacak data target yang ditentukan dalam hal azimuth, elevasi dan jarak. Perangkat ini juga berfungsi sebagai unit penghubung yang memasok data sudut peluncuran azimuth dan elevasi rudal yang dihitung oleh Pemroses Data Otomatis (ADP) di Pusat Koordinasi Informasi (ICC) untuk dikirimkan ke IBCC atau Pos Komando Peleton (IPCP) yang bisa mengontrol hingga tiga peluncur sekaligus.

AN / MPQ-46 High Power Illuminator (HPIR). (Sumber:https://www.radartutorial.eu/)

ROR Range Only Radar

Pulse Radar (AN / MPQ-37 atau AN / MPQ-51 pada Fase II) akan secara otomatis mulai beroperasi jika radar HPIR tidak dapat menentukan jarak target, biasanya karena gangguan dari pihak eksternal. ROR sulit diganggu karena beroperasi hanya sebentar selama mendeteksi target, dan hanya dalam kondisi adanya jamming.

AN / MPQ-51 ROR Range Only Radar. (Sumber:https://www.armyrecognition.com/)

Jangkauan radar ini adalah

  • 83 km (52 mi) untuk mendeteksi target ukuran 3 m2 (32 sq ft).
  • 78 km (48 mi) untuk mendeteksi target ukuran 2.4 m2 (26 sq ft).
  • 63 km (39 mi) untuk mendeteksi target ukuran 1 m2 (11 sq ft).

BCC (Battery Control Central)

BCC menyediakan fasilitas untuk menghubungkan operator dengan perangkatnya. Tactical Control Officer (TCO) bertanggung jawab atas semua operasi BCC dan mempertahankan kontrol taktis atas semua urutan proses operasi. TCO memonitor semua fungsi dan memiliki wewenang dan fasilitas untuk memungkinkan atau mencegah peluncuran rudal atau mengubah prioritas yang telah ditetapkan. Asisten kontrol taktis membantu TCO dalam mendeteksi, mengidentifikasi, mengevaluasi, dan mengkoordinasi dengan komando yang lebih tinggi. Konsol kontrol taktis memberi kedua operator BCC ini informasi yang diperlukan mengenai target serta informasi status baterai dan kontrol yang diperlukan.

BCC Battery Control Central. (Sumber:https://www.armyrecognition.com/)

ICC (Information Coordination Central)

ICC adalah pusat pemrosesan data kontrol penembakan dan komunikasi operasional untuk seluruh baterai rudal. ICC ini memberikan reaksi cepat dan konsisten dalam menghadapi beberapa target kritis. Deteksi otomatis, urutan ancaman, IFF (Identification Friend atau Foe Transceiver) yang diikuti oleh pemilihan target otomatis dan fungsi peluncuran disediakan oleh ICC. ICC berisi  perangkat ADP (Pengolah Data Otomatis), IFF, dan peralatan terminal baterai dan peralatan komunikasi. ADP terdiri dari Pemroses Data Elektronik (EDP) dan unit Take-Off Data (DTO). DTO membentuk sistem penghubung antara peralatan sistem lainnya dan EDP. EDP adalah komputer digital serba guna untuk militer, yang telah disesuaikan dengan peran ini.

ICC (Information Coordination Central). (Sumber:https://www.armyrecognition.com/)

Platoon Command Post (PCP)

PCP digunakan sebagai pusat kendali penembakan dan pos komando untuk AFU (Assault Fire Unit). Dimana PCP juga dapat digunakan untuk mengganti peran ICC. PCP menyediakan pemrosesan target manual dan otomatis, IFF, intra-unit, intra-baterai dan komunikasi pos komando pertahanan udara serta peralatan kontrol penembakan untuk tiga awak. PCP pada dasarnya adalah ICC dengan tampilan taktis dan konsol kontrol, sebuah unit pusat komunikasi, panel indikator status dan prosesor data otomatis. Layar taktis dan konsol kontrol penembakan menyediakan sistem penghubung antara crew dan perangkatnya untuk AFP (Assault Fire Platoon).

Platoon Command Post (PCP). (Sumber:http://www.scalemodeler.co.za/)

M192 Launcher unit (LCHR)

Perangkat LCHR menyediakan hingga tiga rudal siap tembak dan hanya diaktifkan pada saat dimulainya siklus penembakan. Ketika tombol penembakan diaktifkan di BCC atau PCP, beberapa fungsi peluncuran muncul secara bersamaan: peluncur bergerak ke sudut azimuth dan ketinggian yang telah ditentukan, daya listrik disuplai untuk mengaktifkan gyro rudal, sistem elektronik dan hidrolik, peluncur mengaktifkan motor rudal dan kemudian meluncurkan rudal. Peluncur ini dilengkapi dengan perangkat elektronik dan sensor yang memungkinkannya melakukan penembakan dari semua tipe instalasi rudal.

M192 Launcher unit (LCHR). (Sumber:https://www.armyrecognition.com/)

Rudal

Sistem rudal HAWK menggunakan rudal tipe MIM-23. Sama seperti radar, rudal yang digunakan telah melalui banyak pembaharuan selama pengoperasiannya. HAWK awalnya menggunakan unit rudal tipe MIM-23A. Rudal ini menggunakan roket pendorong tipe Aerojet General M22E8 dual-thrust (boost/sustain) dengan motor menggunakan propellan padat yang memiliki fungsi pendorong dan kemudian fungsi mempertahankan fase penerbangan. M22E8 memiliki waktu bakar 25 hingga 32 detik. Hawk versi awal dipersenjatai dengan hulu ledak fragmentasi-seberat 54 kg (119 lb), yang dilengkapi dengan fuze baik tipe impact maupun radar proximity fuze. HAWK dengan fitur BMS adalah rudal MIM-23B yang menggunakan motor baru. Motor M112 yang digunakan tetap mempertahankan motor dua tahap tetapi menyempurnakan penggunaan daya dorongnya. Tahap boost sekarang hanya berlangsung 5 detik dan mempercepat akselerasi MIM-23 ke kecepatan maksimum jauh lebih cepat daripada booster M22E8. Fase penerbangannya sekarang berlangsung sampai 21 detik. Orang yang teliti mungkin telah mendapati fakta bahwa waktu terbang motor M112 lebih pendek dari M22E8, namun mengapa M112 dinilai lebih baik? Alasan dari peningkatan kinerja motor baru ini adalah bahwa M112 menghasilkan daya dorong yang jauh lebih besar dibandingkan dengan M22E8, yang memungkinkan kecepatan rudal dalam menghancurkan target ditingkatkan. Rudal ini memiliki wujud badan berbentuk silinder yang ramping dan memiliki empat sayap delta berpotongan chord yang menonjol yang membantu kontrol penerbangan. Secara teknis MIM-23B memiliki jangkauan efektif yang lebih jauh dari versi sebelumnya hingga jarak 1,5-40 km (5000 kaki – 25 mil) di ketinggian  2,5-20 km sementara di ketinggian rendah jangkauannya mulai dari 8200 kaki – 12,4 mil (19,96 km) dan ketinggian terbang minimum targetnya adalah 60 m (200 kaki). MIM-23B memiliki hulu ledak fragmentasi seberat 75Kg yang cukup besar untuk sebuah rudal berukuran sedang. Terdapat juga versi untuk tujuan pelatihan yang diberi kode MTM-23B I-HAWK. Sementara itu XMEM-23B adalah varian dengan peralatan telemetri lengkap untuk keperluan pengujian dan evaluasi. Rudal Hawk dimuat dan diluncurkan dari format peluncur tiga-rudal tipe M192. Pada tahun 1967, Angkatan Darat AS menguji sistem Hawk (“SP-HAWK”) berpenggerak sendiri, yang memasang peluncur pada kendaraan M727 (versi angkut dari M548 yang dimodifikasi) dengan sistem roda rantai. Unit Hawk pertama dilengkapi dengan SP-HAWK pada tahun 1969, tetapi sistem ini tidak lagi beroperasi.

Tampilan Rudal MIM-23 yang familiar. (Sumber:http://jcammo.com/)

Rudal MIM-23B Hawk juga ditingkatkan secara paralel dengan peningkatan lewat program PIP. MIM-23C, diperkenalkan sekitar tahun 1982, dengan telah meningkatkan kemampuan ECCM dari sistem rudal ini. Perangkat pod ECM terbaru Soviet (waktu itu) seperti tipe SPS-141 yang dapat dipasang pada Pesawat Serang Su-22 Fitter, dikabarkan terbukti cukup efektif digunakan selama Perang Iran-Irak, Rudal MIM-23C dan E lalu dibuay untuk memperbaiki kemampuan rudal Hawk dalam menghadapi tantangan semacam ini. MIM-23D yang mirip dengan MIM-23C, digambarkan sebagai “MIM-23C yang ditingkatkan”, tetapi ini hanyalah ungkapan standar yang digunakan untuk versi berikutnya dan dapat berarti apa saja, termasuk model non-taktis yang digunakan untuk pelatihan langsung. Model uji dan evaluasi MIM-23C / D yang dilengkapi dengan telemetri kemudian disebut MEM-23C. MIM-23E dan MIM-23F, yang diperkenalkan pada tahun 1990, masing-masing merupakan pengembangan dari MIM-23C dan MIM-23D, dengan bagian panduan yang ditingkatkan untuk menyerang target yang terbang rendah dalam lingkungan elektronik yang sangat kacau / multi-jamming. MEM-23D adalah model uji dan evaluasi yang dilengkapi telemetri dari MIM-23E / F. MIM-23G dan MIM-23H adalah varian dari MIM-23E dan MIM-23F, masing-masing, dengan menggunakan tipe body rudal yang baru. Rudal uji dan evaluasi yang sesuai dengan tipe ini adalah seri MEM-23E. Sebuah rudal Hawk yang dimodifikasi dikabarkan berhasil mencegat sebuah rudal yang disimulasikan sebagai rudal balistik Soviet pada bulan April 1989. Dalam simulasi itu radar dari sistem rudal Patriot berhasil mendeteksi rudal balistik yang masuk dan data tersebut kemudian dikomunikasikan secara elektronik ke unit rudal HAWK yang memungkinkan iluminator MIM-23 untuk melacak target dan menembakkan rudalnya. Target dalam tes ini dihancurkan pada ketinggian di atas 7.625 meter (25.000 kaki). Pada tahun 1991, USMC berhasil menguji penggunaan sistem radar jarak jauh taktis Lockheed Martin AN / TPS-59 yang dimodifikasi untuk mencari dan melacak Theatre Ballistic Missiles (TBM) bersama dengan unit kontrol penembakan Hawk. Radar AN / TPS-59 (V) 3 dapat melacak target hingga jarak 475 km (295 mil) dan ketinggian 150 km (90 mil). Meskipun tidak ada uji penembakan yang sebenarnya dilakukan, tes ini mendorong USMC untuk meningkatkan unit Hawknya dengan kemampuan anti-TBM/lawan rudal balistik. Rudal MIM-23G / H Hawk kemudian ditingkatkan menjadi konfigurasi Enhanced Lethality Missile, yang masing-masing dirancang sebagai MIM-23K dan MIM-23J (perhatikan huruf sufiks “terbalik”). Untuk meningkatkan tingkat kehancuran dari hulu ledak rudal terhadap rudal balistik, hulu ledak rudal kemudian dirancang ulang untuk menghasilkan fragmen yang sedikit lebih besar, berbobot sekitar 35 gram, yang masing-masing seukuran proyektil 12,7 mm. MIM-23J / K memiliki hulu ledak fragmentasi dan sirkuit peledakan baru untuk membuatnya efektif melawan rudal balistik, dan pada tahun 1994, beberapa uji penyergapan melawan rudal balistik jarak pendek MGM-52 Lance berhasil dilakukan. Rudal MIM-23L dan MIM-23M masing-masing memiliki sirkuit peledakan seperti MIM-23K dan MIM-23J yang baru, tetapi tidak memiliki hulu ledak baru seperti versi terbaru itu. Model uji dan evaluasi yang dilengkapi telemetri dari rudal MIM-23J / K / L / M kemudian disebut MEM-23F. Angkatan Darat AS juga menggunakan rudal MIM-23K untuk periode yang singkat, tetapi tidak dalam menjalankan peran anti-TBM

CARA MENAKLUKKAN DAN MENGHANCURKAN SISTEM MIM-23B BMS 

MIM-23 adalah rudal yang sangat lincah bermanuver dan unik karena permukaan sayap kontrolnya yang sangat besar. Namun, tidak seperti sistem rudal terbaru yang dirancang untuk menghadapi ancaman tingkat tinggi seperti sistem MIM-104 Patriot dan SA-11/17 BUK, MIM-23 dapat dikalahkan secara kinetik. Untuk melakukan ini, saat rudal terbang menuju pesawat anda, lakukan manuver  drastis ke bawah dengan G force tinggi untuk memotong jalur lintasan rudal. Manuver ini akan memaksa rudal untuk menghantam tanah atau untuk melampaui lintasan terbang pesawat anda. Ketahuilah bahwa manuver ini harus dilakukan tepat ketika rudal mulai mengarah ke pesawat Anda dengan menggunakan panduannya sendiri atau beberapa detik dari titik hantam rudal (yang terakhir secara signifikan lebih berbahaya dan dirancang untuk memaksa  penggunaan manuver overshoot sebagai upaya terakhir). Sementara itu jika faktor kinetik dianggap tidak memungkinkan, maka kelemahan MIM-23 pada ketinggian rendah dapat dieksploitasi dengan terbang lebih rendah dari ketinggian 190 kaki (57,92 meter). Terbang pada ketinggian ini akan membantu menyembunyikan pesawat dengan memanfaatkan lekuk kontur tanah dan mencegah HAWK melacak dan menembak pesawat anda. Sebagai alternatif, memanfaatkan kontur medan dapat digunakan untuk melewati sistem deteksi MIM-23 atau mendekati jarak jangkauan senjata anda untuk melakukan serangan pada target. Karena sistem HAWK cukup reliable – meskipun dibatasi oleh jangkauannya yang lebih pendek dibandingkan sistem lainnya – maka disarankan untuk menghadapi sistem HAWK dengan menggunakan amunisi standoff seperti SDB (Small Diameter Bomb macam GBU-39) atau JSOW (Joint Stand Of Weapon macam AGM-154). Jika amunisi ini tidak tersedia untuk Anda maka serangan ketinggian rendah dengan memanfaatkan kontur medan untuk menghindari sistem deteksi HAWK bisa digunakan. Perlu diketahui bahwa baterai pertahanan HAWK sering dijaga oleh sistem pertahanan jarak pendek (SHORAD) yang sangat efektif seperti rudal Stinger. Karena itu disarankan untuk menggunakan bom kluster atau bom seri ‘Mark’ (MK-8X) konvensional, atau menggunakan rudal AGM-65D Maverick dari jarak yang cukup aman untuk menghancurkannya. Saat menghadapi sistem MIM-23, target utama yang harus dihancurkan adalah sistem radar AN / MPQ-46 HPIR. Jika radar ini berhasil dihancurkan, rudal MIM-23 tidak dapat menerima informasi peluncuran dan tidak dapat ditembakkan. Setelah radar dibereskan sistem peluncur rudal dan sistem pelindung SHORAD nya harus turut dihancurkan untuk sepenuhnya menetralkan sistem pertahanan udara ini.

Untuk menghancurkan situs rudal Hawk disarankan untuk menggunakan senjata tipe stand off seperti JSOW. (Sumber:https://www.quora.com/)

KARIR OPERASIONAL

MIM-23 Hawk pertama kali memasuki layanan operasional di Angkatan Darat AS pada tahun 1959 sebagai salah satu sistem rudal permukaan ke udara pertama di dunia, dan dikembangkan sebagai tandem yang lebih modern dan lebih ringan dari sistem rudal MIM-14 Nike Hercules yang dapat dipersenjatai hulu ledak nuklir dan dikerahkan untuk melengkapi pertumbuhan jumlah udara ke udara yang sudah mulai digunakan oleh Angkatan Udara AS. Hawk hingga kini tetap menjadi salah satu sistem pertahanan udara paling banyak diproduksi yang pernah dirancang Barat bersama dengan sistem MIIM-104 Patriot dan FIM-92 Stinger yang mulai beroperasi pada awal 1980-an. Disamping itu sistem Hawk telah banyak diekspor ke lebih dari dua puluh klien produk pertahanan Amerika – menjadikannya sebagai sistem non-Soviet yang paling banyak digunakan  dalam Perang Dingin. Pada tahun 1959 anggota NATO, yakni Italia, Jerman, Belanda, Prancis, Belgia dan AS menandatangani Nota Kesepahaman untuk produksi bersama sistem Hawk di Eropa. Pada tahun 1968, ijin produksi juga diberikan kepada negara-negara di Asia (Jepang, Israel) dan negara-negara lain dari Eropa (Swedia, Spanyol, Denmark, dan Yunani). Pada saat yang sama AS memulai pengiriman ke Taiwan dan Korea Selatan. Pada tahap ini, MIM-23 Hawk telah menjadi bintang dalam industri Rudal Permukaan ke Udara. Hawk mulai beroperasi tak lama setelah Soviet mengeluarkan sistem rudal S-25 (SA-1 Guild) dan S-75  (SA-2 Guideline) pada tahun 1955 dan 1957 – yang pertama secara eksklusif diperuntukkan bagi pertahanan udara kota Moskow dan Pyongyang sementara yang terakhir dikerahkan secara luas dan juga diekspor secara luas ke lebih dari 35 klien. MIM-23 dan S-75 agak sebanding dalam peran mereka, meskipun sistem Amerika lebih mobile sementara rekan Soviet-nya jauh lebih cepat, lebih jauh jarak jangkauannya dan mampu mencapai ketinggian lebih tinggi dengan muatan hampir tiga kali lipat lebih besar. Baik Hawk dan S-75 telah dimodernisasi secara luas dalam kurun waktu pengoperasiannya, dan sementara keduanya telah dihapus dari dinas layanan oleh negara produsennya tak lama setelah berakhirnya Perang Dingin, namun keduanya tetap secara luas masih digunakan di seluruh dunia, oleh negara-negara pembelinya. 

Rudal Nike Hercules. MIM-23 Hawk pada awalnya dimaksudkan sebagai pelengkap dari Sistem Rudal MIM-14 Nike Hercules, yang lebih kompleks dan berjangkauan lebih jauh. (Sumber:https://en.wikipedia.org/)
SA-1 Guild dalam Paraade. MIM-23 Hawk muncul tidak lama setelah Soviet mengeluarkan rudal SAM tipe SA-1 Guild, yang kemudian menjadi sistem rudal eksklusif yang digunakan oleh Soviet dan Korea Utara. (Sumber:https://partisan1943.tumblr.com/)
Sistem Rudal SA-2 Guideline asal Soviet. Soviet diketahui lebih produktif dalam mendesain berbagai tipe Rudal Pertahanan Udara. (Sumber: Pinterest)

Sejarah panjang pengoperasian dan penggunaan MIM-23 yang luas menyebabkannya digunakan dalam sejumlah konflik mulai dari akhir tahun 1960-an – sebagai sistem rudal yang digunakan Militer AS dalam Perang Vietnam, di mana Korps Marinir mengerahkan baterai pertamanya ke Vietnam pada awal tahun 1965 untuk melindungi fasilitas Amerika di pangkalan udara Danang. Hawk di Vietnam tidak mencatat satupun kill atas pesawat musuh, karena pihak Vietnam Utara nyaris tidak pernah mengerahkan kekuatan udaranya di medan Vietnam Selatan. Sementara itu dalam Perang Teluk sistem rudal Hawk dikerahkan sebagai pelengkap dari baterai rudal Patriot yang lebih jauh jangkauannya. Dari bulan Oktober-November 1962, dalam Krisis Rudal Kuba yang menyadarkan kerentanan wilayah AS dan pasukan darat sekutu terhadap serangan udara lawan telah memaksa militer AS untuk membeli dan meningkatkan produksi rudal Hawk- menjadi sekitar tiga rudal per hari. Meskipun sejauh ini sebagai operator terbesar, Militer AS jarang menembakkan rudal Hawk dalam pertempuran namun sistem rudal ini terutama beraksi ketika dikerahkan oleh negara-negara sekutu Amerika – seperti militer Iran mantan sekutu sebelum tahun 1979. Iran kemudian sangat bergantung pada sistem rudal MIM-23 dalam Perang Iran-Irak tahun 1980-an. Sama seperti rudal udara ke udara AIM-54 Phoenix Amerika, yang digunakan selama konflik ini di tangan Iran, kiprah tempur dari sistem Hawk dibuktikan selama perang ini, dengan MIM-23 Hawk setidaknya menghancurkan 40 pesawat Irak. Pada 12 Februari 1986, 9 pesawat Irak jatuh oleh baterai rudal Hawk dekat al-Faw di Irak selatan selama Operasi Dawn 8. Di antara pesawat itu adalah Su-22 dan MiG-23. Selain itu, situs-situs Hawk Iran juga tercatat menembak jatuh 3 F-14 Tomcat dan 1 F-5 Tiger II milik Iran sendiri. Kuwait juga menembak jatuh setidaknya sebuah F-5 Iran. Namun, keterbatasan pada kecepatan dan ketinggian maksimum dari sistem ini, berarti bahwa MIM-23 itu hampir dipastikan tidak efektif digunakan menghadapi pesawat serang MiG-25RB yang mampu terbang cepat milik Irak.

Marinir dari 1st LAAM (Light Antiaircraft Missile) Battalion berdiri di sebelah rudal HAWK surface-to-air guided missiles di situs rudal yang menghadap ke Da Nang Airbase (Vietnam Selatan) dari barat. (Sumber:https://commons.wikimedia.org/)

Pada 7 September 1987, Resimen Pertahanan Udara ke-403 Angkatan Darat Prancis di Chad menembak jatuh sebuah Tu-22B Libya pada misi pemboman dengan MIM-23B selama perang Chad-Libya. Dalam peristiwa ini dengan situasi geografisnya, hanya beberapa mil dari perbatasan. Serangan Libya yang dimulai dari luar wilayah Chad telah menyebabkan operator Prancis hanya punya sedikit waktu untuk menembak jatuh pesawat Libya. Intersepsi berlangsung nyaris vertikal dari posisi baterai. Puing-puing dan bom yang tidak meledak dari Tu-22 menghujani posisi mereka tetapi untungnya tidak melukai siapa pun. Sementara itu Pada tanggal 2 Agustus 1990, Rudal Hawk Kuwait yang melawan invasi Irak pada diklaim telah menembak jatuh hingga 14 pesawat Irak. Namun hanya dua kill yang telah diverifikasi, yakni atas masing-masing sebuah MiG-23BN dan Su-22. Sebagai tanggapan, sebuah Su-22 Irak dari Skuadron No.109 lalu menembakkan satu rudal anti-radar Kh-25MP terhadap baterai Hawk di Pulau Failaka. Hal ini kemudian memaksa radar Hawk untuk dimatikan. Para crew nya lalu ditangkap oleh pasukan khusus Irak. Pasukan Irak saat itu sempat merebut empat atau lima baterai Hawk milik Kuwait.

F-14 Tomcat Iran terlihat menggotong Rudal Hawk yang dimodifikasi. (Sumber:Pinterest)

Sementara itu pada awal 1963, sebuah tim Israel yang dipimpin oleh haed dari departemen udara IAF, pergi ke AS untuk mempelajari tentang sistem rudal Hawk, dan membuat perencanaan untuk pengirimannya ke Israel. Tim tersebut terdiri dari pilot, teknisi dan beberapa personel lainnya. Setelah 6 bulan pelatihan, tim ini melakukan uji peluncuran yang kemudian dinyatakan sukses. Pada bulan Maret 1965, tim kembali ke Israel dengan baterai HAWK pertama mereka. Sistem rudal HAWK (homing all the way killer) adalah sistem senjata modern Israel pertama yang diperoleh dari AS. Keberadaam sistem Anti-pesawat yang modern ini, sebenarnya merupakan alasan utama dari perpindahan unit Anti-pesawat udara dari korps Artileri ke Angkatan Udara. Persetujuan untuk pembelian sistem rudal HAWK diberikan lewat pertemuan pribadi antara P.M Israel. David Ben-gurion dan presiden Amerika John F. Kennedy. Ben-gurion bersikeras bahwa Israel saat itu terancam oleh tetangga-tetangganya Arabnya yang terus melakukan pembangunan militer secara konstan. Aksi pertempuran pertama dari sistem MIM-23 terjadi selama Perang Enam Hari saat itu sistem ini malah menembak jatuh jet tempur ringan MD-450 buatan Prancis milik Israel. Meski perkenalan awalnya tidak menyenangkan namun sistem ini akan membuktikan kehandalannya dalam konflik selanjutnya. Dalam Perang Atrisi (1967-1970), baterai HAWK dikerahkan di Sinai untuk memperkuat pertahanan yang ada disana. Pada tanggal 21 Maret 1969, kill pertama sistem HAWK pada pesawat musuh dibukukan. Sebelum tengah hari Baterai HAWK baru, yang ditempatkan di Baluza, utara kota Kantara di wilayah Sinai, lewat asisten pengontrol bernama Yariv Geva, mendeteksi sebuah pesawat tempur MiG-21 Mesir yang lepas landas dari bandara Port-said. Geva menyalakan sirene dan menempatkan baterai dalam kondisi siaga. Pengendalinya, Yair Tamir, melacak pesawat di radar, yang sedang dalam penerbangannya dari utara ke selatan di sepanjang kanal Suez, dan ketika MiG-21 keluar jalur mengarah menuju baterai HAWK, sebuah rudal diluncurkan dan menjatuhkan pesawat itu. Rudal itu kemudian tercatat menjatuhkan antara delapan hingga sepuluh jet Arab dalam Perang Atrisi yang berlangsung sesudahnya, termasuk dalam korbannya adalah pesawat tempur MiG-17, pesawat serang Su-7 dan mungkin sebuah pembom Il-28. Dalam perang Yom-Kippur, baterai HAWK telah menembak jatuh 24 pesawat, dan dalam perang Libanon 1982, satu kill tambahan dikreditkan ke sistem rudal ini.

Angkatan Bersenjata Israel termasuk pihak yang cukup eksetensif dalam menggunakan Sistem Rudal Hawk. (Sumber:https://www.wikiwand.com/)
Sistem Rudal Hawk memiliki keterbatasan serius dalam menghadapi ancaman Pesawat tempur cepat seperti Pembom Intai MiG-25 RB Foxbat. (Sumber:https://militarywatchmagazine.com/)

Namun bagaimanapun sistem pertahanan udara milik Israel ini sangat tidak sebanding dengan kepunyaan lawan-lawan Arab mereka, yang menggunakan sistem pertahanan udara berlapis-lapis yang terdiri dari sistem rudal S-75, S-125 dan 2K12 KuB – yang terakhir jauh lebih canggih dan mobile daripada Hawk. Keterbatasan sistem Hawk mungkin paling baik ditunjukkan sesaat sebelum pecahnya Perang Yom Kippur, ketika Soviet mengoperasikan pesawat pengintai MiG-25R Foxbats yang melakukan beberapa penerbangan pengintaian atas Sinai yang dikuasai Israel – dengan kecepatan Mach 3,2 dan ketinggian 24 km yang membuat jet ini benar-benar kebal terhadap serangan beberapa rudal Hawk dan rudal AIM-7 Sparrow yang ditembakkan dari pesawat tempur F-4E Phantom. Untuk diketahui agar rudal mampu mencegat pesawat yang berkecepatan Mach 3, idealnya rudal tersebut harus mampu terbang dengan kecepatan setidaknya 5 Mach, sayangnya Hawk hanya berkecepatan Mach 2.4, yang membuatnya sepenuhnya tidak efektif melawan Foxbat. Meski demikian menurut Israel, Sistem HAWK memiliki beberapa keunggulan dibandingkan sistem rudal Patriot, seperti mampu melakukan pendeteksian, penjejakan dan peluncuran dalam coverage 360 derajat, dan secara efisien mampu menangani target yang terbang rendah dan dekat, serta pada berbagai situasi (sesuai syarat dan ketentuan yang sudah diuraikan diatas tentunya). Sistem ini juga unggul dalam sistemnya yang kompak dan relatif mudah dikerahkan di medan yang sulit, serta biayanya yang terhitung lebih murah telah memungkinkan untuk melengkapi sejumlah baterai dalam jumlah relatif besar dibanding sistem Rudal Patriot yang lebih kompleks dan mahal. Pada bulan september 1998, Israel mengupgrade baterai HAWK pertama dengan evolusi terbarunya – PIP-3 (proyek peningkatan produk). Pada bulan april 1999, baterai PIP-3 pertama mulai beroperasi. Tujuan proyek ini adalah untuk menyesuaikan sistem HAWK yang ada agar bisa beradaptasi terhadap ancaman dan teknologi abad ke-21. Peningkatan utama dari sistem PIP-3 adalah teknologi interface antara manusia dengan perangkat komputer yang canggih, yang memungkinkan, antara lain, memberikan distribusi peran yang lebih baik. Selain itu, sistem PIP-3 yang baru menggunakan trailer kontrol yang sepenuhnya terkomputerisasi, serupa dengan yang dipasang di sistem Patriot. Konektivitas ke sistem Patriot juga merupakan salah satu tujuan proyek PIP-3. Semua baterai HAWK Israel saat ini telah dikonversi ke versi PIP-3. Sejak pengerahannya pada tahun 1965, sistem HAWK tercatat telah berhasil menembak jatuh 36 pesawat terbang dan helikopter, yang terjadi selama Perang Atrisi, perang Yom Kippur dan perang tahun 1982.

Sampai kini Israel tercatat masih mengandalkan Sistem Rudal Hawk, setelah mengoperasikannya lebih dari 50 tahun. (Sumber:https://web.archive.org/)

Sejak awal pengoperasiannya, sistem MIM-23 telah dimodernisasi secara luas. MIM-23B yang mulai beroperasi sejak dari tahun 1971 berukuran 5cm lebih pendek dari pendahulunya, tetapi memiliki hulu ledak yang hampir 50% lebih berat hingga bobot 75kg dan motor serta propelan yang lebih baik. Sistem ini kemudian memiliki ketinggian jangkauan maksimum yang meningkat dari 11.000 menjadi 18.000 km dan begitu pula jarak jangkauannya meningkat dari 25 km menjadi 35 km – yang meski masih jauh lebih rendah dari sistem S-75 Soviet, namun Hawk jauh lebih layak digunakan untuk menghadapi ancaman berbagai pesawat tempur pada masanya. Varian-varian selanjutnya mengintegrasikan peningkatan kecil sebagai tanggapan terhadap kemampuan bertahan yang lebih baik dari pesawat Soviet – yaitu di bidang peperangan elektronik. MIM-23C/D yang mulai beroperasi pada tahun 1982 terintegrasi dengan sistem counter peperangan elektronik baru, sedangkan MIM-23E/F yang beroperasi dari tahun 1990 mengintegrasikan kemampuan multi jamming tingkat rendah yang terintegrasi. Varian yang diproduksi pada batch tahun 1990-an mengalami perubahan kecil pada hulu ledak dan sistem peledaknya. Sementara itu perubahan desain dari rudal MIM-23B era tahun 1971, yang sebelumnya memiliki peningkatan yang signifikan atas pendahulunya, relatif kecil.

Lamanya usia pakai, menunjukkan baiknya desain dari Sistem Rudal Hawk. (Sumber:https://web.archive.org/)

Sekitar 40.000 rudal Hawk dari berbagai model diproduksi selama sekitar 40 tahun, dengan jenis rudal ini masih diproduksi hingga kini di Iran lewat varian Shahin, dengan varian yang lebih maju yang dikenal sebagai Mersad memasuki produksi massal dari 2010. kemampuan dari sistem Iran ini, dan apakah mereka memiliki peningkatan kemampuan yang cukup besar dibanding MIM-23B, tidak diketahui. Iran juga dilaporkan telah mengintegrasikan sejumlah teknologi MIM-23 ke dalam rudal udara-ke-udara Fakour-90 yang baru – sebuah turunan yang ditingkatkan dari sistem rudal udara ke udara AIM-54. Israel juga menggunakan varian Hawk-nya sendiri, memodifikasi sistem yang diterima dari Amerika Serikat dengan sistem TV elektro-optik Super Eye, sensor untuk deteksi yang lebih kuat dan rentang identifikasi yang lebih lama, serta ketinggian intersepsi maksimum yang lebih tinggi. Meski sejumlah peningkatan telah dilakukan, namun tidak ada pihak yang berhasil mengubah kelemahan Hawk yang paling signifikan – yakni kecepatannya yang relatif rendah dibanding standar rudal modern. Sementara Hawk masih mempertahankan kecepatan yang secara realistis masih mampu mencegat jet yang lebih lambat seperti F-35, F-18E dan JF-17 – semua punya kecepatan puncak rata-rata Mach 1.6 – sebagian besar jet Rusia dan Cina yang modern telah dirancang untuk terbang melebihi kecepatan Mach 2.2, yang dikombinasikan dengan sistem peperangan elektronik modern dan kemampuan manuver yang tinggi. Hawk yang tidak pernah dirancang untuk melawan target seperti ini, tentunya membuat kelangsungan desain dari rudal yang sudah semakin tua ini lantas dipertanyakan. Hal ini nampaknya tepat mengingat bahwa rudal permukaan ke udara yang digunakan sekarang seperti rudal 40N6E yang digunakan oleh sistem S-400 Rusia mampu terbang dengan kecepatan lebih dari Mach 10. Sementara itu meskipun Hawk telah dihapus dari dinas operasional Militer AS dan banyak operator sekutu utamanya seperti Jerman, rudal ini tetap memainkan peran penting dalam jaringan pertahanan udara negara-negara seperti Taiwan, Korea Selatan, Singapura, Israel, Mesir, Iran, Turki, Emirat Arab, Arab Saudi, Bahrain, Yordania, Yunani, Spanyol, dan Rumania.

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

Surface to Air Missile: MIM-23B (HAWK) by Figmo42

America’s MIM-23 Air Defence System Still in Service 60 Years Later; How Viable is the Hawk Today?

https://militarywatchmagazine.com/article/america-s-mim-23-air-defence-system-still-in-service-60-years-later-how-viable-is-the-hawk-today

Raytheon SAM-A-18/M3/MIM-23 Hawk

http://www.designation-systems.info/dusrm/m-23.html

HAWK MIM-23 low to medium altitude ground-to-air missile system

https://www.armyrecognition.com/united_states_american_missile_system_vehicle_uk/hawk_mim-23_low_medium_altitude_ground_to_air_missile_technical_data_sheet_specifications_pictures.html

HAWK

https://web.archive.org/web/20051125121834/http://www.israeli-weapons.com/weapons/missile_systems/surface_missiles/hawk/Hawk.htm

MIM-23 Hawk Missile

https://www.copybook.com/fact-files/mim-23-hawk-missile

MIM-23A HAWK/MIM-23B Improved HAWK – Archived 2/2003

https://www.forecastinternational.com/archive/disp_old_pdf.cfm?ARC_ID=1090

https://en.m.wikipedia.org/wiki/MIM-23_Hawk

One thought on “MIM-23 HAWK, Sistem Rudal Pertahanan Udara Jarak Menengah Yang Telah Berusia 60 Tahun dan Masih Tetap Diandalkan Hingga Kini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *