Ofensif Brusilov (4 Juni – 10 Agustus 1916), Salah Satu Serangan Terbesar dan Paling Signifikan dalam Perang Dunia I

Ofensif Brusilov, (4 Juni – 10 Agustus 1916), adalah serangan terbesar Rusia selama Perang Dunia I dan menjadi salah satu yang paling mematikan dan signifikan dalam sejarah. Dalam serangan itu, akhirnya Rusia bisa membuktikan bahwa mereka memiliki juga komandan yang cakap, dalam diri Jenderal Aleksey Brusilov, dan dalam ofensif ini ia telah menyebabkan kekalahan pada pasukan Austro-Hungaria dari mana kekaisaran mereka tidak akan pernah pulih setelah kekalahan ini. Namun, serangan itu harus dibayar dengan harga yang mahal dalam hal jumlah korban, dan kemudian terbukti bahwa Rusia kekurangan sumber daya untuk mengeksploitasi atau mengulangi keberhasilan ini. Pukulan itu, dimulai pada tanggal 4 Juni 1916, dengan efek mengejutkan Austria yang tidak bisa menpercayai bahwa Rusia mampu melakukan serangan besar dan akurat. Pasukan pembuka Rusia dengan cepat memimpin serangan yang berhasil mematahkan garis pertahanan Austria pada hari pertama. Segera setelah itu militer Austria runtuh, dan banyak unit-unit etnik Slav, yang tidak memiliki kecintaan terhadap dinasti Hapsburg, melakukan desersi secara massal. Begitu banyak senjata-senjata Austria berhasil direbut dalam serangan itu, sehingga pabrik-pabrik senjata Rusia kemudian dikonversi untuk membuat peluru bagi senjata-senjata rampasan ini. Ketika pasukan Rusia mendesak ke Pegunungan Carpathian, tampaknya Austria-Hongaria akan segera runtuh, dan untuk mencegahnya kaisar dinasti Hapsburg dipaksa untuk meminta bantuan kepada Jerman. Sayangnya, Komandan Rusia di wilayah utara tidak mempertahankan tekanan terhadap posisi Jerman, seperti yang diharapkan oleh Brusilov, sehingga Jerman dapat mengirim bantuan yang dengan segera menstabilkan front. Namun, bagaimanapun hasil akhirnya, pukulan terhadap prestise dinasti Hapsburg tidak dapat diantisipasi, terutama di antara kalangan minoritas Slav, dan Jerman terpaksa untuk mengalihkan sebagian kekuatannya yang krusial dari Front Barat ke Timur. Secara total, serangan ini memakan korban 2 juta orang dari kedua belah pihak.

Pasukan Russia dalam sebuah latihan perang, jelang pecahnya Perang Dunia I. Dalam Perang Dunia I Russia kerap dianggap sebagai pihak yang menjadi pelengkap derita, namun faktanya dari merekalah lahir ofensif militer yang kerap dianggap paling signifikan dalam Perang Dunia I. (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/)

LATAR BELAKANG

Komando tertinggi Angkatan Darat Kekaisaran Rusia, yang dikenal sebagai Stavka, bertemu pada 14 April 1916, di Mogilev, Belarusia untuk membahas kemungkinan tindakan ofensif terhadap Jerman dan sekutu Austro-Hungaria mereka di Front Timur. Kepala Staf Umum Stavka, Jenderal Mikhail Alekseyev, adalah pembicara utama dalam pertemuan itu. Di antara pejabat tinggi lainnya yang menghadiri pertemuan itu adalah Jenderal Dmitri Shuvaev, menteri perang Rusia; Grand Duke Sergei Mikhailovich, inspektur jenderal artileri; dan Laksamana A.I Ruskin, kepala staf angkatan laut. Tsar Nicholas II juga hadir, tidak hanya sebagai raja dan otokrat, tetapi juga sebagai komandan tertinggi semua kecabangan angkatan bersenjata Rusia. Banyak yang secara pribadi menganggap penunjukan dirinya sendiri sebagai komandan tertinggi adalah laksana bencana yang tidak ada habisnya, seperti yang terjadi setelah serangkaian kekalahan Rusia di tangan Jerman. Nicholas tidak memiliki pengalaman militer atau pelatihan dalam perang, dan citra militernya terbatas pada mengenakan seragam yang semarak dan menerima penghormatan dalam parade. Nicholas mengetuai pertemuan ini tetapi hanya sedikit bicara dan tetap begitu pasif sehingga tampaknya tidak seorangpun yang mengetahui apa yang dipikirkannya. Orang yang paling penting dalam pertemuan itu adalah tiga komandan di garis depan, karena merekalah yang akan ditugaskan untuk mewujudkan perintah Stavka di lapangan. Mereka bertiga adalah Jenderal Aleksei Kuropatkin, yang memimpin Front Utara, Jenderal Aleksei Evert, yang memimpin Front Barat Laut, dan Jenderal Aleksei Brusilov, yang memimpin Front Barat Daya. 

Di Mogilev, Kepala Staf Jenderal Mikhail Alekseyev (atas, kanan) memberi pengarahan kepada Tsar Nicholas II (tengah) tentang informasi pasukan musuh di Front Timur. (Sumber: http://ww1blog.osborneink.com/)

Suasana di ruangan penuh dengan pesimisme dan kesuraman, meskipun tidak ada satupun yang mau Rusia menyerah kepada Jerman. Sejak pecahnya perang pada tahun 1914, Rusia dengan “sukarela” berkorban atas nama solidaritas Sekutu. Pada bulan Agustus 1914, Rusia telah memutuskan menyerang Jerman sebelum waktunya mereka selesai memobilisasi pasukan sepenuhnya demi membantu Perancis yang sangat tertekan di Front Barat. Sekutu-sekutu Gallic mereka semuanya memohon pada mereka untuk melakukannya, dan Rusia mematuhi anjuran invasi mereka yang terburu-buru di Prusia Timur. Akibatnya, Jerman terpaksa memindahkan pasukan ke Timur, hal ini menjadi faktor utama mereka dikalahkan di Marne dan bagaimana ofensif mereka di Front Barat terhenti. Rusia akhirnya telah membantu menyelamatkan Prancis, tetapi dengan biaya yang mengerikan. Rusia benar-benar dikalahkan di Tannenberg pada bulan Agustus, dan dengan beberapa perkiraan disebutkan menderita 100.000 korban. Yang lebih buruk kemudian mengikuti. Jerman meluncurkan Serangan Gorlice-Tarnow pada tahun 1915, memaksa Rusia memasuki apa yang kemudian disebut sebagai “Gerak Mundur Besar.” Warsawa jatuh, dan Wilayah Rusia  di Polandia diduduki oleh pasukan Jerman. Dalam kampanye militer Gorlice tahun 1915 itu, Russia setelah mengorbankan satu juta tentaranya yang terbunuh atau terluka dan tiga perempat juta tawanan Russia ditangkap oleh musuh dalam waktu hanya tiga bulan. Selama kampanye itu, lima satuan tentara (Army) Rusia dipaksa mundur. Seiring berlalunya minggu demi minggu, dan kekalahan demi kekalahan yang mereka derita, sepertinya tidak ada yang bisa memperlambat kemajuan penyerbu Jerman, kecuali kondisi topografi yang mereka lalui. Pasukan Kekaisaran Rusia, yang babak belur dan berlumuran darah, meski demikian tetap optimis ketika mereka berjalan dengan susah payah ke arah timur. Banyak dari mereka — berasal dari prajurit petani yang buta huruf — merasa nyaman dengan taktik tradisional Rusia yang menukar ruang dengan waktu. Pada tahun 1812, Napoleon terpancing masuk ke pedalaman Rusia yang luas, yang kemudian menanam benih-benih kehancurannya di kemudian hari. “Gerak mundur akan berlanjut sejauh – dan sampai – seperlunya,” kata Nicholas kepada duta besar Prancis. “Orang-orang Rusia masih punya semangat yang sama seperti pada tahun 1812.” Sebuah lelucon Rusia mengatakan bahwa tentara tsar akan mundur ke Ural, di perbatasan Eropa dan Asia. Pada saat itu, jauhnya jarak dan  pertempuran akan menggerus kekuatan pasukan musuh masing-masing hingga menyisakan masing-masing satu orang. Orang Austria (sekutu Jerman) akan menyerah, sesuai dengan kebiasaan, dan orang Jerman itu sendiri akan terbunuh. Disamping itu sesuai dengan hasil dari sebuah konferensi Sekutu di Chantilly pada bulan Desember 1915, anggota sekutu sepakat bahwa serangan akan diluncurkan di front Prancis, Italia, dan Rusia. Tujuannya adalah untuk menjaga agar kekuatan Kekuatan Sentral tetap tersebar, dan demikian tidak menjadi terlalu kuat di satu sektor.

Pasukan Russia dihalau oleh satuan kavaleri Jerman. Sejak pecahnya perang tahun 1914, pasukan Russia terus-menerus menuai bencana dalam kampanye militernya, karena buruknya kepemimpinan dan kurang siapnya perlengkapan mereka dalam perang. (Sumber: http://www.metropostcard.com/)

Namun demikian, rasa lelah dan betapa sia-sianya perang mulai meresap ke dalam jiwa orang-orang Rusia. Tahun 1914 jelas bukanlah seperti tahun 1812, akan dibutuhkan “lebih banyak musim dingin” Rusia untuk mengalahkan pasukan Jerman dan mitra junior mereka Austria. Kekuatan Sentral saat itu telah menimbulkan dua juta korban pada pihak tentara Rusia, meskipun Rusia belum juga kalah dalam perang itu. “Beruang Rusia telah lolos dari cengkeraman kami, tidak diragukan lagi ia mengalami pendarahan dari beberapa luka, tetapi masih belum mati,” kata Marsekal Jerman Paul von Hindenburg. Pertemuan di Mogilev telah dipengaruhi oleh berbagai peristiwa buruk di masa lalu ini. Mood saat itu suram, dan mungkin ada rasa déjà vu ketika Jenderal Alekseyev mengatakan bahwa Rusia telah sepakat untuk melakukan ofensif musim semi, sebagian besar untuk mendukung gerak maju pasukan Inggris di Somme yang dijadwalkan akan dilaksanakan pada musim panas 1916. Aksi Inggris ini juga dilatarbelakangi oleh apa yang dialami oleh kota benteng Verdun, Prancis, yang dikepung oleh Jerman pada bulan Februari 1916. Prancis yang kepayahan memohon kepada Sekutu lainnya, Inggris dan Rusia, untuk melancarkan serangan di daerah lain guna memaksa dialihkannya sumber daya Jerman dan perhatian mereka dari pertempuran di Verdun. Russia sama-sama memiliki kewajiban “moral” yang sama dengan Inggris, namun Ofensif mereka itu akan dibatasi dan hanya melibatkan Front Utara dan Barat Laut. Stavka telah membayangkan untuk melancarkan serangan dua cabang di sepanjang Sungai Divna, tetapi Jenderal Evert dan Kuropatkin, yang akan melaksanakan rencana itu, dengan keras menolak. Mereka menunjukkan bahwa hampir sebulan sebelum ofensif, sebuah serangan di sekitar Danau Narotch telah gagal. Tidak kurang dari 300.000 orang Rusia tidak bisa mengalahkan tidak lebih dari 50.000 orang Jerman, dan upaya itu berantakan di lautan lumpur, darah, dan suhu yang membeku. Rusia telah menderita lebih dari 100.000 korban, termasuk 10.000 yang meninggal karena paparan udara dingin.

RENCANA BRUSILOV 

Meski demikian, Alekseyev menepis keberatan mereka. Sementara ia memang mengakui bahwa kerugian Rusia sangat besar, ia mengamati bahwa ada sebanyak 800.000 pasukan baru yang akan mengisi kerugian yang sebelumnya diderita. Hal ini dipandangnya akan memberikan Rusia pasukan yang lebih dari cukup untuk melancarkan serangan baru. Evert dan Kuropatkin sebenarnya tidak yakin, tetapi akhirnya mereka dengan enggan menyetujui serangan terbatas itu. Jenderal Aleksei Brusilov kemudian berbicara. Seorang botak tua yang telah berusia antara 60 sampai 70 tahun, dengan mata yang tajam dan kumis yang panjang dan tipis, yang masih tampak seperti personel kavaleri yang gagah seperti dulu ia demikian. Dia terakhir kali bertugas aktif di medan pertempuran adalah saat Perang Rusia-Turki tahun 1877-1878 di mana dia bertugas dengan terhormat. Empat dekade adalah waktu yang lama untuk absen dari medan perang, tetapi ia menebusnya dengan pikiran yang terbuka dan rasa ingin tahu yang menunjukkan kecemerlangan jika bukan kejeniusannya. Brusilov telah mempelajari teknik perang Eropa Barat dan tahu bagaimana menyesuaikannya dengan iklim, geografi, dan bahkan budaya yang berbeda. “Saya mengusulkan agar kita melancarkan serangan di Front Barat Daya untuk mendukung rencana itu,” kata Brusilov. “Kami memiliki keunggulan numerik atas Kekuatan Sentral (disitu); mengapa tidak menggunakannya untuk keuntungan kita, dan menyerang di semua lini secara bersamaan? Saya hanya meminta izin langsung untuk menyerang musuh di depan saya pada saat yang sama dengan rekan-rekan saya. ” Setelah Brusilov selesai bicara, ada keheningan di ruangan. Dia telah mengusulkan serangan yang akan membentang jauhnya ratusan mil, dan sebagian besar perwira di sekitar ruangan memiliki sedikit kepercayaan bahwa Angkatan Darat Kekaisaran Rusia dapat melakukan serangan skala besar seperti itu. Namun Brusilov punya pendapat lain. Dengan persiapan yang cermat, persenjataan yang cukup, dan perubahan taktik, ia yakin Rusia dapat mencapai terobosan dan paling tidak mampu membuat Austria-Hongaria tersingkir dari perang.

Jenderal Aleksei Brusilov. (Sumber: https://www.britannica.com/)

Brusilov tahu bahwa kekalahan mengerikan yang dialami Rusia di tangan Jerman bukanlah kesalahan tentara Rusia biasa. Tentara Rusia sebagian besar terdiri dari para petani wajib militer, yang nenek moyang langsungnya adalah laksana budak yang tertindas. Mereka tabah, keras kepala, pemberani, dan bisa menanggung kesusahan dan luka yang mungkin akan melemahkan atau membunuh seorang prajurit asal Barat. Memang para petani itu buta huruf, tetapi mereka tidak perlu bisa membaca dan menulis untuk melakukan serangan yang berhasil. Bagi jutaan pria yang menjadi prajurit Russia, hanya dibutuhkan iman yang dalam dan patuh pada Kekristenan Ortodoks. Dan setelah Tuhan, iman mereka ada pada Tsar, yang akan membawa mereka kepada kemenangan melawan penjajah Teutonik. Alekseyev mencoba menghalangi pemikiran Brusilov, dengan mengatakan ia tidak dapat mengharapkan dukungan artileri dan tentu saja tidak akan ada bala bantuan. Brusilov kemudian mengatakan bahwa dia menyadari hal itu dan masih ingin melanjutkan rencana ofensifnya. Alekseyev, menyerah, dan memberikan persetujuan atas rencana Brusilov dengan beberapa persyaratan. Setelah pertemuan itu, Jenderal Nicolai Ivanov, mantan komandan Front Barat Daya dan pada waktu itu seorang ajudan Tsar Nicholas, melakukan upaya terakhir untuk menghentikan rencana Brusilov dengan mengajukannya langsung ke Tsar Nicholas, yang seperti biasanya ragu-ragu untuk mengambil keputusan tentang hal-hal seperti itu, menolak untuk campur tangan. “Saya rasa tidak pantas bagi saya untuk mengubah keputusan Dewan Perang,” kata Nicholas. “Ikutilah langkah Alekseyev.” 

PERSIAPAN

Rusia memulai perang pada tahun 1914 dengan belum diperlengkapi dengan baik untuk konflik perang modern. Negara ini masih berkembang, dengan revolusi industrinya yang masih dalam fase remaja, sementara perang modern menuntut kemampuan produksi massal. Pada saat itu, pabrik-pabrik Rusia hanya mampu memproduksi 1.300 butir peluru meriam per hari, yang artinya berjumlah 35.000 per bulan, sementara artileri Rusia menggunakan 45.000 peluru per hari. Tentara Rusia melengkapi pasukan infantrinya dengan senapan Mosin model 1891 kaliber 7.62 mm. Senapan itu adalah senjata yang memadai, tetapi tingkat produksinya tidak cukup pada tahun pertama perang. Beberapa orang yang direkrut benar-benar dikirim ke garis depan tanpa senjata dengan asumsi bahwa mereka mungkin dapat mengambil senjata dari kawannya yang tewas atau terluka. Pada awal 1916 situasinya telah membaik. Pabrik-pabrik Rusia mampu memproduksi 100.000 senapan sebulan. Senjata tambahan juga diperoleh dari Sekutu mereka. Meskipun masih ada kekurangan, Brusilov yakin bahwa dengan perencanaan yang tepat akan dapat menetralisir masalah yang ada. Menurut Brusilov, selama ini serangan artileri sesaat sebelum serangan cenderung terlalu lama. Hal ini memungkinkan pihak musuh untuk mengetahui dengan tepat di mana serangan akan dilakukan. Dengan pengetahuan seperti itu, musuh dapat memindahkan pasukan cadangan ke tempat yang terancam serangan musuh. Berdasarkan pemikiran ini, Brusilov bermaksud memerintahkan rentetan tembakan artileri yang lebih pendek untuk membingungkan musuh. Para komandan Austria akan terus dibiarkan menebak-nebak apa arti sebenarnya dari tembakan artileri singkat itu. Di satu sisi, itu mungkin berarti akan terjadi serangan besar. Di sisi lain, itu mungkin juga hanya pengalihan untuk mengalihkan perhatian dari serangan besar di beberapa titik lainnya. 

Senapan Mosin Nagant model 1891, senapan standar infanteri Russia dalam Perang Dunia I. Mosin Nagant adalah senapan yang bagus, namun sayangnya kapasitas produksi Russia tidak mencukupi di awal perang. (Sumber: https://www.rockislandauction.com/)

Tindakan ofensif dalam Perang Dunia I sangat terobsesi dengan konsep menusuk garis pertahanan musuh untuk menghasilkan terobosan besar yang akan menghasilkan kemenangan. Secara konvensional, itu berarti menyerang pada satu titik sempit dan spesifik pada garis parit pertahanan musuh, dan kemudian mengerahkan sebanyak mungkin pasukan cadangan yang dimiliki sekali sebuah terobosan tercapai. Brusilov tidak sepenuhnya meninggalkan konsep ini, hanya memodifikasi dan memperluasnya. Tidak akan hanya ada satu serangan spesifik, tetapi empat — satu untuk setiap tentara Rusia setingkat satuan Army di bawah komandonya. Terlebih lagi, serangan ini akan diluncurkan secara bersamaan. “Saya menganggap sangat penting untuk melancarkan serangan di banyak titik yang berbeda,” kata Brusilov. Brusilov bukanlah Jenderal hebat kalau ia tidak teliti. Untungnya dia dikaruniai dengan perhatiannya yang cermat pada detail. Tampaknya tidak ada satupun yang luput dari perhatiannya. Unit artileri Rusia ditugaskan untuk tujuan khusus yang ingin mereka capai. Meriam-meriam ringan pertama-tama akan meledakkan lubang-lubang pada kawat berduri yang ada di depan posisi Austria. Brusilov mengharuskan setidaknya ada dua lubang yang diciptakan dalam serangan itu, keduanya berukuran sekitar 14 kaki. Setelah tugas itu selesai, artileri akan beralih untuk menetralkan semua meriam Austria di posisi terdepan. Pasukan Rusia tahu persis di mana penempatan meriam-meriam tentara Hapsburg dari hasil kombinasi interogasi tahanan dan pengintaian lewat udara.

Posisi pertahanan Austro Hongaria vs Russia jelang ofensif Brusilov. Ofensif Brusilov dilancarkan di sudut bawah sebelah kanan. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

Brusilov menetapkan bahwa serangan harus terdiri dari setidaknya empat gelombang. Gelombang pertama akan dipersenjatai dengan senapan dan granat tangan. Tugasnya adalah mengambil alih garis parit pertama Austria dan menetralkan semua meriam Austria yang lolos dari pemboman Rusia. Gelombang kedua akan mengikuti yang pertama, bergerak maju 200 langkah di belakang. Gelombang kedua dipercayakan dengan penugasan yang paling penting, yaitu merebut baris kedua parit Austria. “Kami menilai bahwa lawan kami biasanya menempatkan kekuatan pertahanannya di baris kedua, dan oleh karena itu pasukan yang ditempatkan di garis pertama hanya berfungsi untuk memusatkan tembakan musuh,” kata Brusilov. Dengan demikian, sangatlah penting untuk menguasai lini kedua secepat mungkin. Garis pertahanan kedua adalah tulang punggung dari sistem pertahanan Austria. Setelah garis pertahanan kedua bisa dikuasai, Brusilov yakin garis pertahanan yang tersisa akan lebih mudah dikuasai. Setelah itu, gelombang ketiga pasukan Rusia akan menyebar dan mengeksploitasi kesuksesan yang telah dibuat. Pasukan Russia kemudian akan memajukan senapan mesin mereka untuk mencegah segala upaya pasukan musuh untuk memperbaiki lubang di garis pertahanan mereka. Sementara itu Gelombang keempat akan terdiri dari pasukan kavaleri ringan, seperti Cossack yang ditakuti. Penunggang kuda yang ahli ini akan bergerak jauh ke garis belakang musuh.

Dalam rencana Brusilov, Pasukan berkuda Kavaleri Cossack akan menjadi tulang punggung serangan eksploatasi setelah garis pertahanan Austro Hongaria tertembus. (Sumber: https://en.topwar.ru/)

Brusilov mengeluarkan arahan kepada komandan bawahannya pada tanggal 19 April 1916, yang merinci konsep dan metodenya dan bagaimana rencana itu akan dilaksanakan. Dia berencana untuk meluncurkan ofensif di sepanjang 250 mil dari Front Barat Daya Rusia, yang membentang dari perbatasan Rumania di selatan hingga Sungai Styr di utara. Itu adalah rencana serangan yang ambisius. Pasukan yang menyerang memiliki dua target utama: Lutsk dan Kovel, keduanya adalah tempat persimpangan jalur kereta api yang penting. Selain itu, empat komandan satuan “Army”nya akan dibebaskan untuk memilih posisi terdepan mana yang ingin mereka serang. Brusilov menetapkan bahwa segmen yang dipilih idealnya harus memiliki lebar sembilan hingga 12 mil; namun, jika perlu lebarnya paling tidak minimal enam mil atau maksimum 18 mil. Sementara itu terdapat faktor lain yang menguntungkan Brusilov, dimana hal itu adalah sesuatu yang tidak bisa diukur dengan jumlah personel dan persenjataan. Faktor itu adalah sikap meremehkan yang dimiliki oleh pihak Jerman dan Austria terhadap musuh-musuh Rusia mereka. Hanya dua hari sebelum Brusilov melancarkan serangannya, Kolonel Paulus von Stoltzmann, kepala staf Jenderal Alexander von Linsingen, menampik asumsi tentang kemungkinan adanya serangan Rusia. “Rusia kekurangan personel yang memadai, mengandalkan taktik yang bodoh, dan dengan demikian sama sekali tidak memiliki peluang untuk sukses,” katanya. Perhatian Austria terhadap Italia dan Front Italia juga memainkan peran dalam membuat Wina tidak siap. Jenderal Conrad von Hotzendorff, kepala staf umum Austria, menganggap Rusia sebagai buluh yang telah patah, yang memang masih mampu melakukan beberapa pertempuran tetapi tidak lagi menjadi ancaman yang patut diperhitungkan. Sebagai gantinya, mereka memusatkan perhatiannya pada perbatasan antara Italia Utara dengan Kekaisaran Austro-Hungaria di mana Italia dan Austria terkunci dalam pertempuran berdarah di dataran tinggi di pegunungan dan lembah Alpen. 

Jenderal Conrad von Hotzendorff, kepala staf umum Austria, menganggap Rusia sebagai buluh yang telah patah, yang memang masih mampu melakukan beberapa pertempuran tetapi tidak lagi menjadi ancaman yang patut diperhitungkan. Sikapnya ini akan terbukti menjadi blunder yang mendorong runtuhnya kekuasaan Austro Hongaria. (Sumber: Pinterest)

Italia adalah sekutu Austria, tetapi ketika perang pecah, negara itu menyatakan netralitasnya. Setelah serangkaian negosiasi kompleks, Italia bergabung dengan Sekutu pada tahun 1915, berharap pada akhirnya akan mendapat bagian dari Tyrol dan wilayah di pantai Dalmatian. Hal ini membuat Hotzendorff dan kebanyakan orang Austria lainnya marah. Baginya, seperti orang Austria lainnya, ini adalah pengkhianatan, dan dia terobsesi untuk menghukum negara yang di matanya tampak begitu banyak tipu dayanya. Obsesi terhadap Italia ini berbuah pahit bagi Kekaisaran Austro-Hongaria. Kombinasi dari sikap meremehkan terhadap Rusia dan keinginan mereka untuk membalas dendam terhadap Italia menciptakan kondisi yang kemungkinan akan membawa Austria-Hongaria ke jurang kehancuran total. Hotzendorff memperparah masalah dengan mentransfer unit yang sudah teruji dalam pertempuran di Front Timur ke Front Tyrolean (Italia) dan menggantinya dengan batalion-batalion yang kemampuannya lebih rendah. Terlebih lagi, ia mentransfer hampir semua artileri berat Austria, sekitar 15 baterai, ke Tyrol. Angkatan Darat Kekaisaran Austro-Hungaria adalah cerminan dari kekaisaran pada umumnya, kekuatan ini terdori dari berbagai bangsa di mana sebanyak 15 bahasa digunakan disana. Bahasa persatuan dari angkatan bersenjata kekaisaran adalah bahasa Jerman; namun diluar itu, rata-rata prajurit Kekaisaran Hapsburg berbicara dalam bahasa aslinya. Pada 1916 korps perwira Austro-Hungaria telah berkurang 50 persen sebagai akibat dari korban yang timbul sejak awal perang. Banyak dari mereka adalah para perwira praperang yang telah secara sukarela mempelajari bahasa pasukan dari etnis yang dikomandoinya, namun pada pertengahan perang sebagian dari mereka sudah tidak ada. 

Sifat multikultur dari militer Austro-Hongaria ditunjukkan dalam foto ini, terlihat sukarelawan Albania melewati sebuah barisan pasukan infanteri Austria. (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/)

Meski demikian pihak Austria senang, bahkan puas, terhadap pengaturan pertahanan mereka di Front Timur. Mereka telah membangun pertahanan berlapis yang tangguh di wilayah sekitar Lutsk yang menggambarkan contoh yang baik tentang pertahanan yang akan dihadapi oleh pasukan Rusia. Pertahanan berlapis di sektor ini terdiri dari tiga baris parit yang sangat dibentengi kuat. Sabuk kawat berduri selebar 40 kaki berdiri di depan posisi Austria. Para jenderal Austria telah menempatkan sebagian besar pasukan infantri mereka di parit di belakangnya tempat mereka dilindungi dalam galian-gorong beton bertulang besar. Langkah-langkah ini diambil untuk memastikan bahwa artileri Rusia tidak akan menimbulkan korban serius pada pasukan infanteri mereka yang rentan. Austria menempatkan artileri medan mereka di belakang baris parit pertama. Garis parit pertama, yang berbatasan dengan tanah tak bertuan di antara kedua pasukan yang berhadapan, dilindungi dengan tanggul tanah yang diselingi oleh pertahanan beton untuk senapan mesin. Artileri lapangan terletak di belakang baris parit pertama. Artileri lapangan harus berada dalam jarak 3.000 yard dari garis pertama parit Rusia agar efektif. Pasukan Austria juga menjalani kehidupan yang menyenangkan di garis depan, dengan semua kenyamanan di dekatnya. Para prajurit memiliki toko roti, pabrik sosis, dan peralatan untuk memotong dan mengasapi daging. Mereka bahkan menanam kebun sayur dan menanam gandum sendiri. Untuk meminimalkan kelelahan karena mengangkut, mereka menggunakan anjing untuk menarik gerobak tempat mereka dapat meletakkan senjata dan perbekalan mereka. Dengan demikian, pertahanan Front Timur Austria direncanakan dan dirancang dengan baik. ”Mereka dibangun dengan indah dari kayu-kayu besar, beton, dan tanah,” kata seorang pengamat. “Di beberapa tempat, rel baja telah disemen pada tempatnya sebagai perlindungan terhadap tembakan meriam.” 

Tentara Austro-Hongaria menjaga sarang senapan mesin yang mengawasi sebuah front di medan Eropa Timur tahun 1916. (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/)

Sementara itu Front Barat Daya Rusia terdiri dari empat satuan setingkat Army: Army Kedelapan pimpinan Jenderal Alexsei Kaledin, Army Kesebelas pimpinan Jenderal Vladimir Sakharov, Army Ketujuh pimpinan Jenderal Jenderal Dmitri Scherbatschev, dan Army Kesembilan pimpinan Jenderal Platon Letschitski. Keseluruhan kekuatan pasukan ini adalah sebanyak 40 Divisi Infanteri dan 15 Divisi Kavaleri. Menghadapi ini Kekuatan Sentral memiliki dua kelompok tentara utama di Front Timur: Grup Tentara Linsingen dan Grup Tentara Bohm-Ermolli. Tentara Keempat pimpinan Archduke Joseph Ferdinand, yang secara teknis merupakan bagian dari Grup Linsingen, mempertahankan daerah tepat di sebelah selatan Rawa-rawa Pripet. Dalam serangan yang akan datang, Rusia akan melakukan beberapa serangan terberat mereka terhadap satuan tentara ini. Grup Tentara Bohm-Ermilli terdiri dari dua satuan setingkat Army : Yang Pertama dan Yang Kedua. Tentara Pertama dari Jenderal Paul Puhallo von Brlog mempertahankan posisi di sebelah kanan langsung dari satuan Tentara Keempat. Sebaliknya, Tentara Austro-Hongaria Kedua mempertahankan garis depan antara Dubno dan satu titik di utara jalur kereta api Tarnopol-Lemberg. Front Kekuatan Sentral diperkuat juga oleh Angkatan Darat Ketujuh Jenderal Karl von Pfanzer-Baltin dan Tentara Selatan dari Jenderal Karl von Bothmer, yang terakhir diduga menjadi fondasi dari Kekuatan Sentral di ujung selatan. Brusilov menyadari bahwa dengan hanya memiliki superioritas numerik pasukan sebanyak 132.000 personel yang diposisikan di sepanjang seluruh front, ia tidak memiliki keunggulan signifikan di sektor-sektor utama ofensif utama, oleh karenanya ia perlu membuat perencanaan matang untuk mengkompensasi kelemahan ini, yang nanti akan terbukti ketika serangan dibuka.

OFENSIF BRUSILOV

Ofensif Brusilov yang hebat dimulai pukul 4 pagi pada tanggal 4 Juni 1916. Tentara Kedelapan Rusia pimpinan Jenderal Kaledin di sayap kanan Brusilov di Volhynia menunjukkan kesan yang baik di tahap awal serangan. Tentara Kedelapan yang terdiri dari Korps Kedelapan, Tiga Puluh Sembilan, dan Empat Puluh. Ketiga korps menurunkan kekuatan gabungan yang terdiri dari 100 batalion. Tentara Kedelapan dikerahkan di garis depan yang panjangnya sekitar 30 mil untuk maju menuju Lutsk, yang merupakan tujuan utamanya. Lawan mereka adalah Tentara Keempat Archduke Ferdinand. Artileri Kaledin membuka serangan pada waktu yang telah ditentukan. Tidak kurang dari 420 artileri berat dan howitzer menghantam parit pertahanan Austria dengan akurasi luar biasa. Hujan peluru artileri menghancurkan jaringan parit dan mengubur pasukan Austria yang tidak cukup beruntung di sekitarnya, serangan hebat ini mengubah sektor yang sebelumnya tenang menjadi malapetaka. Peluru-peluru artileri lainnya melubangi tanah menjadi kawah-kawah besar, dan mengirimkan partikel tanah halus berpasir ke langit dalam wujud awan besar. Setelah lima jam, meriam-meriam itu diam. Pada saat itu, infanteri Rusia yang berseragam coklat mulai maju terus ke depan. Serangan utama Tentara Kedelapan Rusia dipimpin oleh Divisi Infanteri Cadangan ke-102 dan Divisi Senapan ke-2. Para prajurit Russia sangat ingin memerangi musuh setelah berminggu-minggu menjalani pelatihan. 

Serangan Ofensif Brusilov, Juni 1916 benar-benar mengejutkan Aliansi Sentral, yang memaksa Jerman untuk memindahkan pasukannya di Front Barat. (Sumber: http://www.metropostcard.com/)

Ketika pasukan Austria yang kebingungan beralih kembali ke parit pertama setelah penembakan, dan mengintip ke depan ke tanah tak bertuan, mereka memperkirakan akan melihat serangan yang biasanya terjadi selama dua tahun pertama perang. Garis panjang pasukan infanteri Rusia akan bergerak di kejauhan, garis-garis cokelat yang awalnya tidak jelas di cakrawala secara bertahap akan berubah menjadi garis-garis tentara Rusia, dengan bayonet terpasang, maju berlari. Ribuan orang Rusia akan berteriak “Urrah!” di tengah hiruk-pikuk pertempuran akan ditebang habis oleh tembakan senapan mesin Austria. Selama gerak maju mereka yang jauh dan berbahaya, infanteri Rusia akan berada dalam jangkauan senapan mesin musuh sepanjang waktu. Tapi kali ini, seolah-olah seperti sihir, tentara Rusia sudah ada di jarak yang lebih dekat. Di sinilah terlihat perencanaan Rusia yang teliti mulai membuahkan hasil. Dengan tidak diketahui oleh pihak Austria pada minggu-minggu sebelumnya, tentara Rusia telah menggali terowongan dekat dengan garis pertahanan musuh. Rusia membuat banyak sekali gua buatan manusia yang mampu menampung 1.000 orang. Beberapa pintu masuk terowongan jaraknya hanya 50 langkah dari parit pertama Austria. Secara umum jarak antara ujung terowongan ini dan garis depan pasukan Hapsburg adalah antara 70 dan 100 meter, suatu jarak yang dapat dilewati cuma beberapa detik saja bagi prajurit infanteri yang berlari menyerbu. Lebih buruk lagi, Austria menemukan bahwa tanah berpasir halus yang telah dihamburkan oleh pengeboman sebelumnya telah menyumbat mekanisme sebagian senapan mesin mereka, membuat mereka tidak bisa dioperasikan. Banyak artileri Austria juga terganggu oleh debu, dan kru-nya berusaha mati-matian untuk membersihkan meriamnya namun kemudian segera melarikan diri sebelum disapu oleh gelombang serangan Rusia. Ketika mereka muncul dari bunker-bunker bawah tanah mereka, tentara Rusia disambut oleh para pendeta Ortodoks berjanggut yang membawa simbol-simbol dan spanduk keagamaan. Berkat-berkat itu memperkuat iman religius yang sudah dalam dimiliki oleh prajurit Rusia pada Tuhan dan Tsar mereka. Semangat “Bozhe, Tsarya Kharani” (“Tuhan Selamatkan Tsar”) meresap di semua kepangkatan. 

Pasukan Russia berdoa sebelum berangkat ke medan perang. Prinsip hidup mereka amat dipengaruhi oleh ketaatan Iman mereka kepada Tuhan dan kepada Tsar. (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/)

Markas besar Tentara Keempat Austria terletak di Stavok, sebuah kota kecil dekat garis depan. Melihat apa yang terjadi, staf kantor pusat segera melompat ke dalam kendaraan mereka dan bergegas untuk menghindari penangkapan. Meninggalkan rasa malunya, Archduke Joseph Ferdinand melarikan diri dari sektor tersebut ketika tentara Rusia semakin dekat dengan Lutsk. Dalam gerak mundur ini, seseorang berhasil mendapatkan bendera resimen Angkatan Darat Keempat. Bendera berwarna-warni ini dihiasi dengan elang berkepala hitam dari dinasti Hapsburg. Prajurit ini mengibarkannya untuk mengumpulkan para prajurit. Hebatnya, ia berhasil mengumpulkan segelintir prajurit Austria, dan mereka bertempur dengan hebat sampai mereka tersapu oleh gerak maju gelombang tentara Rusia. Kini pasukan Rusia telah merebut ketiga jalur parit Austria hingga malam tiba. Tentara Hapsburg yang mengalami demoralisasi sepenuhnya telah mundur. Dalam dua parit pertama, tiga perempat korban Hapsburg berasal dari tembakan meriam atau artileri; di garis parit ketiga, prajurit mereka menyerah begitu saja. Pada tanggal 6 Juni, orang Austria telah didesak hingga ke belakang Sungai Styr, dan beberapa hari kemudian Lutsk, salah satu tujuan utama serangan Rusia, telah jatuh ke tangan pasukan Tsar. Dalam dua hari pertama pasukan Rusia telah merebut 77 meriam dan menangkap 50.000 prajurit Austria. Akibatnya yang yang menyusul kemudian, Jenderal Brusilov mampu mencapai salah satu tujuan utamanya — yakni pihak lawan akhirnya mengerahkan satuan cadangannya dengan cepat ke dalam pertempuran, sementara artileri Rusia menghancurkan parit terdepan yang dipenuhi pasukan Habsburg di mana dua pertiga pasukan yang bertahan dikerahkan. Hasilnya adalah tingkat korban yang mengerikan di pihak Austro-Hongaria, yang menghasilkan kejutan psikologis di antara pasukan dan komandannya. Kerugian yang mereka derita, hingga mencapai lebih dari 50 persen, adalah dikarenakan kurangnya artileri berat, infanteri, dan koordinasi keduanya serta karena penghancuran meriam-meriam artileri selama rentetan serangan artileri Russia. Tentara Keempat Habsburg mengorbankan 54 persen pasukannya dalam serangan awal; Angkatan Darat Ketujuh menderita kerugian 58 persen. Pada tanggal 4 Juni, Tentara Keempat Habsburg, yang awalnya terdiri dari 117.800 prajurit; empat hari kemudian jumlahnya tinggal 35.000. Dengan turut memperhitungkan pasukan bantuan yang ditambahkan ke tentara selama pertempuran, jumlah korbannya berjumlah hingga 89.700. Contoh kerugian di tingkat divisi adalah sebagai berikut: Pada tanggal 4 Juni, Divisi Infantri 70 Honvéd memiliki pasukan sebanyak 14.000; pada 8 Juni jumlahnya hanya 4.000. Sementara itu, Divisi Infanteri ke-2 pada tanggal 4 Juni berjumlah 13.100, sedangkan pada tanggal 8 Juni, jumlahnya tinggal 1.500 orang. Bahkan setelah mereka mendapatkan 3.000 pasukan pengganti, pada 20 Juni divisi itu hanya berjumlah 4.000. Tetapi keberhasilan Ofensif Brusilov hanya bisa sejauh ini. Memang, kesuksesannya juga masih tergantung pada aksi yang dilakukan oleh rekan-rekannya di Front Utara dan Barat Laut. Jenderal Evert dari Front Barat Laut, tidak pernah menjadi pendukung antusias dari rencana Brusilov, menolak untuk meluncurkan serangannya sendiri. Penundaan itu membahayakan ofensif Rusia, tetapi tampaknya tidak ada yang bisa mendesak Evert bergerak lebih cepat. Dia akhirnya melancarkan serangan terlambat pada tanggal 18 Juni, hampir dua minggu setelah Brusilov membuka serangan!

DARI KEMENANGAN MENUJU BENCANA

Evert seolah-olah ada di pihak poros, karena penundaan yang dia lakukan telah memungkinkan komando tinggi Jerman untuk mengirimkan bala bantuan ke daerah yang terancam. Pada tanggal 15 Juni, Conrad von Hotzendorff dari Austria mengatakan kepada mitranya dari Jerman, Erich von Falkenhayn, bahwa mereka sedang menghadapi krisis terbesar mereka sejauh ini dalam perang — sebuah fakta yang membuat Falkenhayn, yang sebelumnya optimis akan menerima penyerahan Prancis yang akan segera terjadi di Verdun, benar-benar terkejut. Dihadapkan dengan kepanikan Austria dalam menghadapi Rusia, ia dipaksa untuk melepaskan empat divisi Jerman dari wilayah barat, kelemahan inilah yang turut memungkinkan serangan balik Prancis yang sukses di Verdun pada tanggal 23 Juni, hanya sehari sebelum pemboman artileri Inggris awal dimulai di Somme. Sementara itu, Erick von Falkenhayn juga menyarankan rekannya dari Austria, Conrad von Hotzendorff, untuk segera memindahkan pasukan dari Front Italia ke Front Timur. Orang Jerman itu mungkin merasa kecolongan, tetapi suasana hatinya yang muram dengan cepat menghilang. Marsekal Lapangan Paul von Hindenburg, yang memimpin pasukan Jerman di Front Timur, menggunakan kereta api dengan lebih efisien untuk mempercepat pengiriman bala bantuan Jerman ke front yang terancam. Tentara Jerman di Front Timur juga terbukti jauh lebih sulit dikalahkan daripada sekutu Austria mereka. Tentara Jerman mungkin adalah yang terbaik di Eropa ketika konflik dimulai pada tahun 1914, dan meskipun telah menderita banyak korban di Front Timur dan Barat, mereka masih merupakan musuh yang tangguh. Tentara Jerman terlatih, disiplin, dan dipimpin oleh para profesional yang dijiwai dengan tradisi militer bagus yang telah dimulai sejak abad ke-18 oleh Frederick the Great. Tentara Jerman juga secara etnis homogen, secara fundamental memiliki bahasa dan budaya dasar yang sama. Para komandan Jerman tidak perlu khawatir tentang adanya etnis minoritas dalam pasukannya yang akan mencoba desersi begitu mereka memiliki kesempatan. Tentara Selatan Jerman pimpinan Jenderal Felix Ludwig Von Bothmer mampu memperlambat gerak maju Brusilov, demikian juga pasukan Jenderal Alexander von Linsingen tepat di sekitar Kovel. Tentara Jerman bertempur dengan baik. Ketika mereka harus mundur, mereka melakukannya dengan disiplin tinggi. Moral mereka jauh lebih baik daripada pasukan Hapsburg yang hancur. Pada pertengahan Juli, Angkatan Darat Austria telah menjadi begitu hancur oleh Serangan Brusilov sehingga mereka menyerahkan perencanaan strategis militernya kepada Jerman. Sejak saat itu, semua keputusan strategis di Front Timur berasal dari Jerman. 

Kiri: rencana ofensif Brusilov di bulan Mei 1916, sementara kanan: adalah garis depan setelah ofensif Brusilov berakhir di bulan September 1916. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

Rusia telah mendapatkan keuntungan besar, dan pada saat itu akan lebih bijaksana bagi mereka untuk mengkonsolidasikan wilayah teritorial yang telah mereka rebut dan bersiap diri untuk menghadapi serangan balasan Jerman yang tak terhindarkan. Sementara itu, gerak maju Rusia di sektor selatan Kovel terhenti. Tetapi atasan Brusilov menekannya untuk terus melanjutkan gerak majunya. Mereka percaya bahwa jika Brusilov meneruskan serangannya, dia mungkin akan berhasil memaksa Austria-Hongaria keluar dari perang. Itu adalah yang wajar. Rusia percaya bahwa dalam satu serangan lagi, mereka mungkin mencapai kemenangan atas Austria. Fase kedua Ofensif Brusilov dimulai pada 28 Juli dan berlanjut hingga bulan September. Sekali lagi Angkatan Darat Rusia menikmati periode awal serangan mereka dengan kesuksesan. Pada awal September, pasukan Brusilov telah maju rata-rata 60 mil ke wilayah musuh. Di beberapa lokasi mereka bahkan berhasil maju hingga 100 mil. Hampir semua wilayah Bukovina berhasil direbut, dan juga wilayah Galicia yang cukup besar. Selama gerak maju yang mengesankan ini, Rusia telah menangkap 350.000 tahanan Austria, 400 senjata artileri, dan 1.300 senapan mesin. Namun, akhirnya, serangan Rusia mengendur. Perlawanan Jerman berangsur-angsur menguat, dan terus menjaga momentum membuatnya semakin sulit bagi pasukan Rusia untuk tetap bisa disuplai logistik jauh di dalam di wilayah musuh. Hal ini dikkarenakan jalur kereta api di Eropa Timur tidak sebaik seperti di Eropa Barat. Pada dasarnya, Rusia menggunakan metode transportasi dari Era Napoleon. Stanley Washburn, seorang koresponden perang yang meliput Serangan Brusilov, memberikan gambaran grafis tentang arus logistik yang dikerahkan. “Bermil-mil kereta gerobak petani yang membawa makanan, roti besar, diikuti oleh empat kereta kuda yang membawa tumpukan tinggi bagasi anggota resimen dan staf,” tulis Washburn. “Mereka, pada gilirannya, menepi untuk membiarkan perangkat telegraf lapangan lewat … Mungkin di belakang mereka terdapat sebuah barisan panjang gerobak roda dua, dengan dua kuda yang membawa amunisi senjata kecil melewati dengan bersusah payah di atas jalanan berbatu-batu yang kasar.” Kemudian, derap langkah kuda dan derik suara roda-roda ini harus memberi jalan kepada barisan panjang pasukan berpakaian cokelat yang berbaris maju ke garis depan. Gerobak harus menepi ke sisi jalan untuk membiarkan pasukan infanteri lewat, batalion demi batalyon dari orang-orang yang kakinya yang menendang-nendang menendang awan debu yang mengepul. Memang, Washburn mencatat bahwa wajah para prajurit yang kecokelatan telah menjadi “abu-abu oleh debu putih halus di jalanan.” Kondisi kering itu cukup buruk, tetapi jalanan bisa berubah menjadi seperti sup kental ketika dihantam badai petir dengam tiba-tiba. Washburn beruntung karena dia tidak berjalan kaki (suatu kelangkaan langka di Front Timur), tetapi mengendarai sebuah mobil, namun bahkan mengendarai sebuah mobil juga bisa mendapat masalah. Selama badai petir di malam hari, reporter ini mengalami pengalaman buruk. “Dalam dua menit kami berkubang dalam lumpur sedalam enam inci, dengan roda berputar dan mengisap ban memenuhi udara dengan bau karet yang sangat panas,” kenangnya. “Satu saat sekeliling akan diterangi oleh kilatan petir, dan berikutnya, setengah dibutakan oleh cahaya petir, kita akan menatap dalam kegelapan.” 

Pada akhir musim panas tahun 1916, ofensif Brusilov telah kehilangan momentumnya sementara korban di pihak Russia semakin menggunung dan perlawanan pasukan Blok Sentral pimpinan Jerman makin menguat. (Sumber: http://www.metropostcard.com/)

Sementara itu didorong oleh keberhasilan Rusia, Rumania akhirnya memasuki perang pada bulan Agustus yang sama. Tetapi bergabungnya mereka dengan Sekutu terbukti menjadi bencana bagi orang-orang Rumania dan Rusia. Romania berharap bisa mendapat bagian rampasan wilayah ketika Austria runtuh, khususnya wilayah Transylvania. Sayangnya bagi orang-orang Rumania, Jerman telah lama mengantisipasi langkah seperti itu dan telah merencanakan untuk menghadapinya. Orang-orang Rumania awalnya menyerbu Transylvania dan menduduki hampir semua wilayah itu, tetapi kemenangan mereka hanya singkat. Dalam serangkaian serangan yang cermat, tentara Jerman mengirim Tentara Rumania yang tidak siap kembali ke wilayah perbatasannya sendiri; tentara Rumania tidak tahu apa yang menimpa mereka. Setelah “menabur angin”, orang-orang Rumania “menuai angin puyuh”. Jerman menginvasi Rumania, mengalahkan tentaranya dan menduduki seluruh negeri itu. Sisa-sisa pasukan Rumania berhasil mundur ke Moldavia, tetapi beberapa negara telah dikalahkan Jerman secepat Rumania. Bencana itu juga memberi Rusia problem tambahan. Sejak saat itu, front Rusia dengan Blok Sentral menjadi lebih panjang. Sementara itu, Stavka menambahkan dua pasukan baru ke dalam komando Brusilov. Mereka adalah Tentara Ketiga dan Tentara Pengawal Rusia. Pasukan Pengawal termasuk yang satuan paling elit di Angkatan Darat Kekaisaran Rusia. Preobazhensky dan Semenovsky Guard memiliki sejarah yang mengesankan yang dimulai sejak formasi mereka dibentuk oleh Tsar Peter the Great pada abad ke-17. Pasukan Pengawal ini diperintahkan untuk merebut Kovel. Di atas kertas, setidaknya, sepertinya para prajurit elit ini, yang jumlahnya 60.000, akan dapat memenuhi tugas mereka. Sayangnya, sudah menjadi tradisi bagi satuan-satuan Pengawal untuk dipimpin oleh bangsawan; memang, bahkan keluarga Romanov sendiri biasanya sempat bertugas di pasukan Pengawal. Nicholas sendiri telah bertugas di pasukan Pengawal ketika dia mewarisi takhta dua dekade sebelumnya. Tetapi sebagian besar keturunan darah biru ini tidak begitu tertarik pada kehidupan nyata tentara, meskipun ada beberapa pengecualian. Bagi banyak perwira satuan Pengawal, kehidupan di militer terutama adalah waktu untuk minum-minum, bersosialisasi, dan main perempuan. Jenderal Vladimir Bezobrazov, seorang veteran dari tentara tsar sendiri, menyatakan bahwa satuan Pengawal hanya boleh “diperintahkan oleh orang-orang dari kelas mereka.” Dia juga tercatat mengatakan bahwa pasukan Pengawal tidak pernah mundur di medan perang. 

Rumania yang bertindak “bodoh” malah cari masalah dengan ikut menyatakan perang terhadap Blok Sentral dengan berakibat dipukul mundurnya mereka oleh pasukan Jerman. (Sumber: http://www.metropostcard.com/)

Sikap romantis semacam ini mungkin akan berhasil pada abad-abad sebelumnya, tetapi itu semangat semacam ini tidaklah tepat diaplikasikan dalam Perang Dunia I yang penuh darah. Jerman tidak memiliki ilusi romantis di Kovel seperti beberapa pemimpin Russia, dan mereka tahu cara terbaik menggunakan medan di sekitar mereka. Sebuah dataran rendah dengan terdapat satu rawa yang luas didekatnya. Ada tiga jalan lintasan diatas tanah berawa, masing-masing dipenuhi dengan titik-titik sarang senapan mesin Jerman. Pasukan yang menyerang harus melewati hujan tembakan – badai timah panas yang begitu kuat sehingga tidak ada yang mungkin bertahan. Meskipun Rusia mungkin bisa melakukan serangan dari sayap, tapi manuver semacam itu adalah proses yang memakan waktu; selain itu, aksi semacam ini dianggap terlalu pengecut untuk pasukan Pengawal kelas atas. Grand Duke Paul Romanov, paman tsar dan komandan Garda, memberikan persetujuannya atas serangan itu. Para Pengawal akan menyerang di sepanjang masing-masing dari tiga jalan lintas. Hasilnya bisa ditebak mengerikan. Pasukan terbaik Angkatan Darat Kekaisaran Rusia dikorbankan sia-sia dalam serangkaian serangan yang mahal dan cepat. Beberapa Pasukan Pengawal melompat dari jalan setapak dan masuk ke dalam rawa-rawa, mencari perlindungan dari hujan peluru. Tetapi banyak yang memilih opsi itu dengan cepat tersedot ke bawah air oleh semacam pasir hisap. Beberapa berhasil menyeberangi rawa-rawa busuk hanya untuk diberondong oleh tembakan senapan Jerman. Beberapa Pasukan Pengawal yang selamat entah bagaimana berhasil menyeberang dan membangun tempat berpijak di sisi Kovel. Upaya mengirim satuan kavaleri menyeberang untuk memperbesar pijakan mereka gagal karena pasukan kavaleri, yang terkejut oleh pembantaian yang dialami pasukan infanteri, dengan datar menolak untuk bergerak maju. Tanpa dukungan, kelangsungan tempat berpijak itu jelas akan menemui kegagalan. Para penyintas terpaksa untuk meninggalkan wilayah yang berhasil mereka peroleh dengan susah payah dan mundur kembali ke jalan masuk ke titik awal mereka. 

DAMPAK MENGHANCURKAN BAGI RUSSIA

Pasukan elit ini sangat menderita. Untuk semua maksud dan tujuan militernya, resimen-resimen Pengawal ini begitu hancur sehingga praktis sudah tidak ada lagi sebagai sebuah unit militer. Mereka menderita tingkat korban hingga 70 persen. Bahkan Tsar Nicholas terkejut karena keadaannya yang begitu buruk. Bezobrazov “memerintahkan pasukannya bergerak maju melintasi rawa-rawa yang diketahui tak tertembus,” tulis Nicholas kepada istrinya. “Sikap keras kepalanya … (telah) membiarkan Pasukan Pengawal dibantai.” Bezobrazov kemudian dibebastugaskan dari komandonya, tetapi kerusakan sudah terjadi. Pasukan Pengawal adalah satuan “praetorians” dari kekuatan monarki yang siap membela kekuasaan keluarga Romanov pada saat kesulitan. Tapi sekarang pasukan ini telah dibantai sia-sia. Mereka yang selamat dari peristiwa pahit itu pulang dengan menyimpan kebencian besar. Ketika Revolusi Rusia pecah pada tahun 1917, Satuan Pengawal memberontak dan bergabung dengan gerakan revolusi. Sementara itu setelah bencana terjadi, Serangan Rusia mulai kehilangan tenaganya, dan lebih buruknya lagi bahwa kini tidak ada lagi komandan tertinggi yang memimpin dan mengoordinasikan gerakan tentara dan memberikan arahan dengan terus mengawasi perkembangan strategis dan taktis. Tsar Nicholas, panglima tertinggi resminya, benar-benar tidak memenuhi syarat untuk jabatan tinggi yang didudukinya. Dia telah mengambil kendali militer atas desakan Tsarina Alexandra, yang memiliki fantasi yang tidak realistis atas suaminya sebagai “komandan perang.” Nicholas menyetujui serangan itu, tetapi kemudian dia mundur ke semacam sikap apatis. Tsar, yang telah mengambil wewenang lebih dari yang bisa ditanggungnya, telah kelelahan dan, beberapa percaya, dia ada di ambang gangguan saraf. Dia semakin bersikap aneh. “Brusilov tegas dan tenang,” kata Nicholas, kemudian ia menambahkan, “Kemarin saya menemukan dua akasia di taman.”, demikian katanya di satu waktu. Parahnya ia mengambil beberapa campuran henbane dan hashish dalam minuman teh untuk menenangkan sarafnya. 

Jelang pecahnya revolusi Oktober 1917, Tsar Nicholas II semakin kehilangan kendali atas pemerintahan dan tentaranya. (Sumber: https://www.thetimes.co.uk/)

Lebih buruk lagi, setidaknya dari sudut pandang kendali dinasti Romanov, Nicholas berada di markas Stavka, sekitar 500 mil dari ibukota di St. Petersburg. Itu berarti bahwa Alexandra berkuasa di ibukota, dan penunjukannya sebagai penguasa yang tidak resmi adalah bencana yang tidak ada bandingannya. Dia secara emosional tidak stabil, memilih menteri atas nasihat dari Rasputin tokoh mistikus yang tidak punya reputasi baik. Pada 20 September serangan Brusilov telah kehabisan momentumnya. Rusia telah mencapai beberapa kesuksesan luar biasa, namun dengan biaya yang mengerikan. Dalam Ofensif Brusilov, Rusia menderita setidaknya 500.000 orang terbunuh, terluka, atau ditangkap. Beberapa sumber menyebutkan kerugian Rusia hingga satu juta orang. Sebagai perbandingan, Austria kehilangan lebih dari 1,5 juta personel. Dalam tiga tahun perang di Front Timur, kerugian Rusia telah menjadi suatu bencana besar. Baik militer Rusia maupun orang-orang Rusia telah mencapai batas apa yang dapat mereka tahan. Tahun berikutnya mereka akan membuang rantai otokrasi dan bangkit dalam pemberontakan melawan dinasti Romanov. Sementara itu di sisi lain, meskipun kekacauan dan revolusi akhirnya menghancurkan Rusia pada tahun 1917, serta memecah belah pasukannya dan menyebabkan mereka keluar dari perang — sebuah fakta yang menyebabkan keberhasilan Serangan Brusilov sebagian besar terlupakan — serangan Brusilov secara permanen berhasil mengamankan lebih banyak wilayah musuh daripada serangan Sekutu lainnya di front lainnya. Selain itu, Austria-Hongaria yang dilemahkan secara permanen tidak pernah lagi memainkan peran penting dalam perang. Pasukannya hanya dikerahkan untuk menjaga parit pertahanan melawan Italia yang lebih lemah, dan Jerman dibiarkan bertarung sendirian selama dua tahun terakhir Perang Dunia I. Di dalam negeri Russia pada tahun 1917, orang-orang Rusia telah mencapai titik puncak kejenuhannya terhadap perang, moral Tentara Rusia telah hancur, dan tak lama kemudian, kereta yang membawa Vladimir Ilyich Lenin akan berangkat dari Stasiun Finlandia….kembali ke Russia untuk membawa negeri itu pada sebuah revolusi di bulan Oktober yang tidak hanya akan mengubah sejarah Russia tapi juga sejarah dunia.

Revolusi Oktober 1917, tidak hanya membawa keruntuhan Dinasti Romanov yang merenggut nyawa Tsar sendiri, namun juga membawa bangkitnya komunis dan mengubah jalannya sejarah dunia. (Sumber: https://www.geopolitica.ru/)

Brusilov sendiri masih tetap bisa mempertahankan karier militernya, meski tidak pernah bisa lagi menduduki jabatan setinggi yang ia miliki di tahun 1916. Pihak Bolshevik, menutup mata dengan sikap Brusilov di masa silam yang kerap menekan aktivitas-aktivitas revolusioner dalam militer Tsar. Bagaimanapun mereka tidak dapat melupakan begitu saja, kegemilangan Brusilov dalam karier militernya. Selain itu, meski Brusilov bukanlah golongan Bolshevik, namun ia sudah lama tidak cocok dengan sikap otoriter dan cara-cara Kekaisaran dalam menangani peperangan. Brusilov kemudian secara resmi bergabung dengan tentara merah pada tahun 1919, sebagai Komisaris Rakyat urusan Peperangan. Pada tahun 1920 ia naik pangkat menjadi Ketua Komite Khusus yang mengomandani seluruh tentara Russia, dimana di waktu itu sedang terlibat dalam Perang Saudara dan Perang lawan Polandia. Meski dia sempat bertugas dibawah Kerensky, bagaimanapun karir Brusilov unik, dia menjadi segelintir Jenderal rezim lama Tsar, yang bisa tetap survive di era Komunis berkuasa. Pada akhir perang saudara, ia sudah berusia 69 tahun, tapi rezim Bolshevik mempertahankannya sebagai inspektur Satuan Kavaleri Tentara Merah, sebuah posisi yang dinilai penting mengingat peran kavaleri dalam kemenangan mereka selama Perang Saudara dan diharapkan demikan di masa depan. Pada tahun 1924 di usia 71, Brusilov pensiun, dan meninggal di Moskow tanggal 17 Maret 1926. Brusilov dimakamkan di biara Novo-Devichi di Moskow

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

Brusilov’s WWI Breakthrough on the Eastern Front By Eric Niderost

Brusilov Offensive, WORLD WAR I [1916] WRITTEN BY: John Swift; LAST UPDATED: May 28, 2020

https://www.britannica.com/event/Brusilov-Offensive-1916

1916, June 04; Brusilov Offensive begins

https://www.google.com/amp/s/www.history.com/.amp/this-day-in-history/brusilov-offensive-begins

The Brusilov Offensive

https://www.google.com/amp/s/schoolshistory.org.uk/topics/world-history/first-world-war/the-brusilov-offensive/%3Famp

BATTLE MAPS: The Brusilov Offensive,1916 by Dr Simon Innes-Robbins

Austria ‐Hungary and the Brusilov Offensive of 1916 by Graydon A. Tunstall; First published: 26 February 2008

https://onlinelibrary.wiley.com/doi/full/10.1111/j.1540-6563.2008.00202.x

Charpatian Disaster, death of an army by Geoffrey Jukes-1971; Ballantine Book, Page 159

One thought on “Ofensif Brusilov (4 Juni – 10 Agustus 1916), Salah Satu Serangan Terbesar dan Paling Signifikan dalam Perang Dunia I

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *