Okinawa 7 April 1945: Yamato tenggelam!

Pada tanggal 6 April, ia meninggalkan Tokuyama pada laut dalam Jepang. Eskadernya terdiri dari kapal tempur Yamato, dibawah komando Laksamana Madya Ariga, penjelajah ringan Yahagi dan delapan perusak. Angkatan laut Jepang masih memiliki beberapa kapal yang utuh, seperti Battleship Hyuga dan Ise, yang berhasil lolos dari pertempuran laut di Leyte, tetapi karena kekurangan bahan bakar kapal-kapal itu tidak boleh ambil bagian dalam kampanye Okinawa. 2.500 ton bahan bakar yang dapat dibawa Yamato tidak cukup untuk membuat kapal ini kembali ke pangkalan. Kapal ini berlayar pergi bagai kamikaze raksasa di laut.

Yamato dalam pelayaran Trial di Bungo Strait 20 Oktober 1941

Pukul 20.00, kapal-kapal Jepang berangkat lewat mulut laut dalam sebelah timur, terusan Bungo. Pada 7 April, pukul 04.00, mereka mengitari ujung Kyushu dan membuat tikungan lebar ke arah barat untuk melakukan surprise attack terhadap musuh. Tetapi pada saat meninggalkan selat mereka kepergok kapal-kapal selam USS Hackleback dan Threadfin pada pukul 06.00 lagi-lagi mereka terlihat oleh sebuah pesawat pengintai armada kapal induk amerika. Laksamana Mitscher memerintahkan Laksamana Deyo dengan enam kapal tempur, tujuh penjelajah dan 21 perusak untuk menentukan posisi di antara eskader Jepang dan armada invasi. Kepada kapal-kapal induk satuan tugas 58, yang menjelajahi sebelah timur Okinawa, ia memberikan perintah untuk melakukan serangan. Beberapa ratus pesawat pembom, pesawat torpedo dan pemburu tinggal landas secara bergelombang menghadapi musuh.

Deskripsi wujud IJN Yamato

Pukul 12.41, Yamato pertama kali terkena dua bom pada buritannya. Empat menit kemudian sebuah torpedo menghantam lambung kiri. Kapal itu tetap pada kecepatan 22 knot, namun setelah tiga perempat jam raksasa itu dihantam lima torpedo sekaligus pada lambung kirinya. Pukul 14.02, tiga bom jatuh pada bagian tengah kapal itu, yang kemudian disusul dengan hantaman empat atau lima torpedo pada bagian lambung kapal. Alangkah kuatnya. Namun kapal itu terlalu banyak menerima hantaman. Kecepatannya menurun hanya menjadi 12 knot. Ketika kapal itu menimbulkan kemiringan 38 derajat, Laksamana Ito secara seremonial mengucapkan selamat tinggal kepada para staffnya dan mengunci diri dalam kabinnya. Beberapa menit kemudian yamato meledak disusul asap tebal dan jilatan api yang tinggi. Dari 2.767 awaknya, 23 perwira dan 246 anak buahnya dapat diselamatkan. Yahagi dan empat perusak lainnya mengalami nasib yang sama, dimana setelah itu kerugian jiwa pihak Jepang meningkat hingga 3.665 orang tewas. Kerugian yang diterima oleh AL Amerika adalah 12 pilot dan 10 pesawat.

Yamato dalam diserang
Rute pelayaran terakhir Yamato
U.S. aircraft, such as this Curtiss SB2C-3 Helldiver, begin their attacks on Yamato (center left). A Japanese destroyer is in the center right of the picture.

Serangan Kamikaze

Pada hari-hari selanjutnya, serangan -serangan kamikaze ditingkatkan, senjata bunuh diri Baka muncul dalam penenggelaman kapal perusak USS Mannert L Abele. Baka /Ohka merupakan bom berawak yang dapat dikemudikan dan dibawa ke dekat sasaran dengan diangkut dibawah perut pesawat pembom bermesin dua Betty. Dengan tenaga roket bom berawak ini dapat meningkatkan kecepatan tukiknya hingga 800 km/jam. Dalam suasana keputusasaan ini, masih ada pula pembom konvensional. Tiga puluh kapal Amerika berhasil ditenggelamkan (utamanya kapal-kapal kecil, diantaranya 15 kapal amfibi dan 12 perusak) dan 350 lainnya mengalami kerusakan, diantaranya USS Enterprise, sang veteran perang Pasific.

Di suasana putus asa Jepang mengandalkan senjata-senjata bunuh diri seperti Ohka

Patriotisme fanatik dan semangat perang menyebabkan banyak sukarelawan mengajukan diri untuk tugas kamikaze, tetapi mereka mengalami kekurangan pesawat daripada awaknya. Pada ofensif kedua, tanggal 12 April, tidak lebih dari 85 kamikaze yang terlibat, setelah itu jumlahnya terus menurun, sehingga pada serangan-serangan terakhirnya hanya menyertakan tidak lebih dari empat puluh pesawat. Selama kampanye Okinawa kira-kira 1.900 kamikaze mengorbankan nyawa, tanpa dapat mencapai hasil yang barangkali dapat dicapai pilot-pilot yang terlatih baik. Dalam total, kekuatan udara Jepang dalam pertempuran di kepulauan Ryukyu kehilangan 7.800 pesawat, yang hancur karena pertempuran udara atau dihancurkan di darat.

Di Okinawa Jepang melancarkan serangan Kamikaze terdahsyat dalam perang

Pertempuran Darat

Di darat, Korps ke-3 mencapai titik utara dari pulau itu pada 4 April. Mereka berhasil menguasai Ie Shima, dimana wartawan perang terkenal, Ernie Pyle menemui ajalnya. Setelah mengisolasi semenanjung otobu, satu persatu tentara Jepang yang bertahan dapat dilumpuhkan.

Di Okinawa Wartawan Perang terkenal, Ernie Pyle gugur

Di selatan, pertempuran dilanjutkan. Daerah yang terpotong oleh jurang-jurang, berbukit-bukit dan dipertahankan secara kuat itu memungkinkan perlawanan pihak yang bertahan, tetapi Ushijima tidak menghendaki perlawanan pasif; ia cukup ambisius untuk mendesak musuh di okinawa. Pada 4 Mei 1945 ia mengirimkan divisi infanteri ke 24 yang dicadangkannya untuk melakukan penyerangan dalam rangka ofensif balasan, namun ia terlalu memaksakan kekuatannya dan pada hari berikutnya ia mesti menghentikan serangan itu. Amerika melakukan tekanan dengan menggunakan artileri yang ditempatkan di sekitar Shimu. Akibat penembakan yang tidak ada hentinya dengan artileri berat daerah itu hampir menyerupai permukaan bulan, penuh dengan lubang dan kawah bom. Hujan tropis membanjiri lubang-lubang dan kawah-kawah itu, membuat para prajurit meninggalkan kubu-kubunya, serta mebasahi tumpukan perbekalan. Dalam berbagai serangan, musuh (Amerika) dapat merebut Sugar Hill, Half Moon Hill, Wana Ridge (jadi ingat COD World of War) dan Conical hill, perbukitan Shimu dan akhirnya Shimu sendiri.

Okinawa adalah medan yang berat dan brutal bagi para GI, namun lebih banyak orang berbicara mengenai Iwo Jima meski korban di Okinawa lebih besar.

Pada 27 Mei Ushijima memutuskan untuk menyerahkan Naha, tetapi meyakinkan Tokyo dengan jaminan bahwa pasukan XXXII masih utuh seluruhnya dan bahwa pertempuran terus dilanjutkan tanpa pengurangan kekuatan (bandingkan karakternya dengan Kuribayashi, komandan Iwo Jima, yang lebih realistis). Penduduk Jepang di Okinawa turut ambil bagian. Sebuah korps yang terdiri dari 1.500 siswa sekolah menengah didirikan dengan mendapat dukungan dari batalyon yang terdiri dari 600 siswi, yang semuanya menyatakan siap sedia untuk mengorbankan jiwa untuk mempertahankan Okinawa. Keadaan serba kekurangan dan kerasnya pemboman di daerah-daerah yang padat penduduknya membuat mereka enggan untuk terus hidup. Bunuh diri secara kolektif mewarnai situasi pada saat itu.

Dalam suasana putus asa Jepang turut mengerahkan tentara anak-anak di Okinawa

Fase akhir pertempuran

Pada tanggal 4 Juni, pasukan XXXII tinggal 30.000 orang, tetapi mereka sebagian besar terdiri dari prajurit dari intendans dan pasukan milisi. Mereka kehilangan empat satuan senjata beratnya. Pasukan Amerika meratakan desa-desa dengan tanah, membuat lalu lintas melalui jalan-jalan menjadi tidak memungkinkan dan memburu pasukan perlawanan Jepang ke gua-gua serta menghabisi mereka di situ dengan penyembur api (Flame thrower). Pada 18 juni, jenderal Simon Bolivar Buckner terbunuh oleh satu dari granat-granat terakhir Jepang di pos komandi artileri.

Komandan Tentara Ke-10, Jenderal Simon Bolivar Bucker Jr menjadi korban dari granat-granat terakhir Jepang

Empat hari kemudian, seluruh pesisir telah jatuh ke tangan Amerika. Pasukan Jepang masih memberi perlawanan hanya pada tempat-tempat yang terisolir. Pada salah satu kubu perlawanan ini, di lokasi yang diduduki oleh Resimen Infanteri ke-32 Amerika, Jenderal Isamu Cho dan Ushijima secara resmi melakukan harakiri. Cho menulis kalimat-kalimat untuk nisannya sendiri sebagai berikut: “Isamu Cho, letnan Jenderal Angkatan Darat Kekaisaran Jepang. Umur: 51 tahun. Saya mati tanpa sesal, tanpa malu, dan tanpa salah”.

Mitsuru Ushijima
Isamu Cho

Pasukan Amerika dapat menawan banyak tentara Jepang, yaitu 7.400 orang, karena berbagai kelompok mendengar peringatan amerika dalam bahasa Jepang lewat pengeras suara untuk memilih hidup daripada mati. Pihak Jepang menderita sekitar 131.000 korban tewas, di antaranya 42,000 penduduk sipil. Pasukan dari US Army dan USMC kehilangan 7.213 korban tewas. Masih ditambah lagi dengan 4.907 korban tewas atau hilang dalam jajaran angkatan laut. Opini publik Amerika menganggap jumlah korban manusia ini terlalu tinggi dan lagi-lagi bermunculan kritik-kritik seperti hal nya ketika serbuan ke Iwo Jima.

DEFENSE DEPT PHOTO (MARINE CORPS) 123171
Marinir Amerika di Shuri Castle, Okinawa

Iwo Jima dan Okinawa menempatkan Amerika secara langsung pada pertanyaan – pertanyaan yang menakutkan: berapa banyak nyawa manusia harus dikorbankan untuk menaklukkan Jepang? Menurut perhitungan yang masuk akal, Jepang sudah kalah. Angkatan lautnya sudah hancur, kekuatan udaranya lemah. Akibat blokade, bahan baku untuk industri habis, sementara kelaparan massal mengancam, produksi perang menurun drastis. Pesawat-pesawat pembom B 29 menyulut kebakaran di kota-kota dan dengan kejatuhan Iwo Jima dan Okinawa, pesawat-pesawat pembom menengah akan dapat menyertai pesawat-pesawat Super Fortress itu dalam misi-misinya.

Akan tetapi tidak adil rasanya jika kita hanya melontarkan pertanyaan berlangsungnya perang antara kedua pihak hanya kepada sisi Amerika saja, pertanyaan serupa harus ditanyakan pula kepada: pemerintah Jepang dan Kaisar Jepang khususnya: berapa berapa banyak nyawa manusia harus dikorbankan sebelum mereka mau menyatakan menyerah kalah dalam perang ini?

Padahal sejak jatuhnya Saipan 1944, yang diikuti penggantian Tojo oleh kabinet Koiso, apalagi yang perlu mereka tunggu? Berturut-turut Jepang dipukul mundur hingga perang semakin mendekati tanah Jepang. Pada kenyataannya tidak ada satupun pejabat dan kaisar sendiri yang berani meminta perang diakhiri, dimana semua itu harus dibayar olah tentara dan rakyat jepang sendiri dengan memperpanjang peperangan hampir selama setahun.

Disadur dan ditambahkan dari:

Kampanye Okinawa: Pertaruhan Semi Final Amerika-Jepang Dalam Perang Pasific, Anto Dwiastoro Slamet, Majalah TSM no 61 Juli 1992

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *