Operasi Attain Document III, 1986: Kemenangan Laut AL Amerika di Lepas Pantai Libya

Dua pertempuran laut terbesar di era pasca-Perang Dunia II terjadi pada 1980-an. Yang pertama adalah saat Inggris berperang melawan Argentina di Kepulauan Falkland dari 2 April hingga 14 Juni 1982, dimana Inggris pada akhirnya mendapatkan kembali kendali atas wilayahnya yang sempat direbut Argentina. Pertempuran laut kedua adalah saat Operasi “Praying Mantis”, dimana Amerika Serikat bertempur melawan Iran di Selat Hormuz, sebagai puncak dari serangan yang terjadi bertahun-tahun atas kapal-kapal dagang di Teluk Persia selama Perang Iran-Irak dan serangan yang terhadap kapal-kapal AS yang melindungi lalu lintas laut disitu. Amerika Serikat mengalahkan Iran dalam pertempuran laut terbesarnya sejak Perang Dunia II. Kedua pertempuran itu penting karena menunjukkan kecanggihan teknologi Angkatan Laut pada masanya dan fakta bahwa keduanya merupakan pertempuran laut besar terakhir dalam sejarah. Sejak 1970-an dan seterusnya, kapal perang menjadi semakin mematikan dan canggih, dengan rudal menggantikan meriam sebagai senjata utama. Kemajuan teknologi ini terjadi pada era di mana kekuatan laut cenderung memainkan peran pendukung dalam perang, yang sejak saar itu terutama dilakukan di udara dan di darat. Meskipun sebagian besar orang mungkin telah melupakan atau malah sama sekali tidak mengatahuinya, sebenarnya ada pertempuran laut lain yang kurang dikenal yang terjadi antara tahun 1982 dan 1988 yang juga menunjukkan berbagai kemampuan yang bisa dipertontonkan oleh angkatan laut yang paling kuat dan canggih pada saat itu.

Pertempuran laut di Falkland 1982 adalah salah satu pertempuran laut besar terbesar terakhir dalam sejarah.

Latar Belakang

Setelah mulai menjabat pada tahun 1981, pemerintahan Reagan segera mengambil sikap konfrontatif terhadap rezim Muammar Gaddafi, antara lain karena dukungannya terhadap terorisme internasional. Sikap baru ini “menghasilkan” penembakan dua jet tempur Su-22 Libya di Teluk Sidra oleh dua F-14 AL AS pada Agustus 1981. Perang rahasia dan proksi antara kedua negara segera pecah dan dijawab oleh Gaddafi dengan gelombang terorisme yang disponsorinya sepanjang dekade ini. Pada tahun 1986, ketegangan AS-Libya mencapai puncaknya setelah pembajakan pesawat TWA nomor 847 pada 14 Juni 1985, dan serangan di bandara Roma dan Wina pada 27 Desember tahun yang sama. AS mengklaim bahwa pemimpin Libya Muammar Gaddafi terlibat melalui dukungannya terhadap tersangka pelaku, teroris Palestina, Abu Nidal ditambah dengan perselisihan yang terus-menerus mengenai Teluk Sidra. Sejak 1973, Gaddafi mengklaim seluruh Teluk sebagai perairan teritorial Libya, sebuah pernyataan yang sangat ditentang AS sejak awal pemerintahan Reagan.

Kampanye teror yang disinyalir didukung oleh Libya menjadi dasar bagi Amerika untuk “memberi pelajaran” kepada Gaddafi.

Kampanye teror terus-menerus yang berasal dari Tripoli menuntut tanggapan terbuka dan Amerika Serikat sekali lagi memilih untuk melawan dengan paksa, klaim Libya atas Teluk Sidra sebagai miliknya. Seperti yang telah dilakukan beberapa kali dalam lima tahun sebelumnya, Pres. Ronald Reagan memerintahkan latihan kebebasan bernavigasi yang baru, atau FoN (Freedom of Navigation), di daerah itu – dan kali ini dengan kekuatan yang lebih besar. Pada bulan Maret 1986, Satuan Tugas Angkatan Laut AS, Task Force 60 yang terdiri dari tiga kapal induk – USS America (CV-66), USS Coral Sea (CV-43) dan USS Saratoga (CV-60); lima kapal penjelajah, enam fregat, 12 kapal perusak, 250 pesawat terbang dan 27.000 personel yang melakukan tiga operasi kapal induk di dekat teluk. USS Detroit, USS Savannah, dan USS Mount Baker adalah kapal yang membawa bahan bakar, amunisi, dan perlengkapan tempur (makanan dan persediaan) yang memasok gugus tugas yang beroperasi di Laut Mediterania di lepas pantai Libya. Mereka ditugaskan melakukan bagian ketiga dari serangkaian operasi FoN. Dua yang pertama, dilakukan pada 26–30 Januari 1986 (Attain Document I) dan 12–15 Februari 1986 (Attain Document II) tanpa insiden. Namun pada Operasi Attain Document III ceritanya akan lain.

 USS Coral Sea and her battle group in May 1986. U.S. Navy photos.

Attain Document III

FoN ketiga tahun 1986 dijadwalkan berlangsung antara 23 Maret dan 1 April, termasuk didalamnya adalah operasi darurat – Operasi Prairie Fire. Dengan pertempuran yang diperkirakan pada akhirnya akan terjadi dengan ketegangan yang meningkat, Gedung Putih memberi wewenang kepada Gugus Tugas 60, alias “Battle Force Zulu,” yang kini ada di bawah komando komandan Armada Ke-6, Vice Admiral Frank B. Kelso, untuk melakukan serangan preemptive dan serangan balasan jika Libya dipandang melakukan agresi. Prairie Fire sendiri direncanakan dalam tiga tahap. Tahap pertama, seperti yang dijelaskan oleh Joseph Stanik dalam bukunya “El Dorado Canyon: Reagan’s Undeclared War With Qaddafi”, akan menempatkan Satuan Tugas 60 dalam “kondisi tempur penuh, yang membebaskan mereka menggunakan semua senjata untuk pertahanan satuan tugas dan memungkinkan mereka untuk melakukan serangan pendahuluan atas target udara, kapal dan fasilitas pantai Libya. ” Tahap kedua akan melibatkan serangan terhadap target militer dan teroris, jika serangan Libya mengakibatkan korban di pihak Amerika. Sementara tahap ketiga adalah serangan habis-habisan terhadap Libya yang meliputi serangan terhadap target ekonomi, termasuk industri perminyakan Libya, untuk secara langsung menghancurkan rezim Gaddafi.

Garis ‘Kematian’ yang digembar-gemborkan Gaddafi di Teluk Sidra

Sementara Kelso dan Satuan Tugas 60 diberikan tingkat kebebasan yang tinggi untuk melakukan operasi, termasuk aturan penggunaan kekuatan yang longgar, untuk merespon sesuatu yang lebih besar daripada daripada tindakan pembelaan diri diperlukan persetujuan presiden. Ketika tanggal 23 Maret mendekat, baik pemerintahan Reagan dan anggota dari Satuan Tugas 60 dipenuhi dengan sikap berjaga-jaga. Retorika keras dan aksi terorisme yang terus meningkat selama bertahun-tahun di tangan rezim Gaddafi tampaknya telah membuka jalan menuju perang. Meskipun tidak disebutkan sebagai tujuan utama dari operasi Attain Document, Gedung Putih berharap untuk dapat memprovokasi tindakan bermusuhan dari Libya, agar dapat melegitimasi tindakan militer yang akan mengganggu kestabilan rezim Gaddafi dan, mungkin, memicu perubahan rezim di Tripoli. Mengharapkan adanya pertempuran udara-ke-udara, pilot pesawat tempur di atas kapal induk bahkan telah mempersiapkan decall “kill marking” jika mereka berhasil menembak jatuh pesawat Libya! Seperti yang diingat oleh David ‘Hey Joe’ Parsons dalam buku Tom Cooper, Albert Grandolini, dan Arnaud Delalande, Libyan Air Wars Part 2: 1985-1986:

“MiG dan pesawat tempur Libya lainnya sangat aktif menantang skuadron F-14 USS Saratoga (VF-74 dan VF-103) sehingga kami yakin bahwa kami akan mengalami hal yang sama ketika kami tiba di USS America pada bulan Maret. Kami sangat yakin bahwa pertempuran udara akan pecah, sehingga saya merancang skema “kill marking” (lingkaran hijau dan warna hitam dari masing-masing tipe pesawat) dan membuat siluet dari kardus untuk semua tipe pesawat tempur yang digunakan Libya. ”

Libya pada masanya memiliki salah satu aset udara terkuat di kawasan Mediterania dengan diperkuat ratusan MiG dan Sukhoi buatan Russia hingga Mirage berbagai tipe buatan Prancis

MiG-25 Foxbat vs F-14 Tomcat

Segera setelah Pentagon mengumumkan Operasi Attain Document III, LAAF malah menyebarkan sebagian besar pesawat Mirage, MiG-21 dan MiG-23 ke pangkalan-pangkalan udara di bagian tengah Libya yang cukup jauh dari jangkauan kekuatan udara gugus tugas Amerika. Misalnya, hanya satu dari tiga skuadron MiG-23 yang biasanya berbasis di Pangkalan Udara Benina, di luar Benghazi yang masih tersisa di pangkalan itu: dua lainnya dievakuasi ke Libya selatan. Alasan pasti dari keputusan ini masih belum diketahui, tetapi tampaknya Gaddafi dan komandan militernya memperkirakan serangan AS akan terjadi di pangkalan-pangkalan udara Libya di dekat garis pantai. Keputusan mereka sangat ironis mengingat LAAF memiliki tidak kurang dari sebelas pangkalan udara yang modern di sepanjang pantai Mediterania.

Mengetahui Armada Amerika akan melaksanakan FoN, AU Libya memindahkan armada pesawat tempurnya ke wilayah pedalaman.

Pada 22 Maret, Laksamana Kelso memberikan kontrol taktis operasi untuk Laksamana Muda David E. Jeremiah, Komandan Cruiser-Destroyer Group Eight, yang ada di kapal USS Saratoga. Tiga kapal induk, ditambah 20 kapal perang permukaan dan kapal bendera Armada Keenam, bersama dengan tiga wing udara yang memiliki kekuatan 250 pesawat, siap untuk bertugas. Pukul 1:00 A.M. hari berikutnya, Attain Document III dimulai. Sepanjang hari, Satuan Tugas 60 beroperasi di sebelah utara 32 derajat, 50 menit dari garis lintang utara, yang sering disebut sebagai “Garis Kematian,” sebagaimana dinamai oleh Gaddafi, namun tidak ada reaksi dari Libya. Malam itu, pada pukul 8:15 malam, pesawat-pesawat tempur F-14A Tomcat dari USS America dan Saratoga melintasi Garis Kematian dan menjalankan misi patroli udara-tempur di Teluk, hanya 60 mil dari pantai Libya. Beberapa jam setelah penyusupan, Libya akhirnya merespons. Radar kendali tembak Square Pair dari sistem rudal permukaan-ke-udara SA-5 buatan Uni Soviet yang baru saja diaktifkan segera melakukan penguncian atas pesawat-pesawat yang berpatroli di Teluk Sidra. SA-5 adalah rudal besar sepanjang 35 kaki (10,8 meter) dengan ketinggian efektif 1.000-66.000 kaki (sekitar 20.000 meter), punya kecepatan Mach 4 dan radar pelacak semi aktif dengan jangkauan 160 NM, rudal ini punya hulu ledak seberat 478 pon (217 kg). Radar penembakan SA-5 dapat dengan mudah melacak target hingga 170 mil (250 km lebih). Seluruh Gugus Tugas mempersiapkan diri untuk menghadapi peluncuran SAM, namun yang dikhawatirkan tidak terjadi. Setidaknya, belum.

Saat Operasi Attain Document III dilancarkan diketahui pertahanan udara Libya telah dilengkapi dengan Sistem SAM jarak jauh SA-5 Gammon.

Gugus Tugas 60 terus memprovokasi. Pada siang hari, 24 Maret, sebuah kelompok kapal perang yang dipimpin oleh kapal penjelajah system Aegis berpeluru kendali terbaru, USS Ticonderoga dan kapal perusak USS Scott dan Caron ikut melintasi Garis Kematian di bawah perlindungan pesawat-pesawat Tomcat yang menerbangkan misi CAP, beserta Corsair dan Intruders yang menerbangkan misi SuCAP. Di antara dari F-14 yang melintasi ‘Garis Kematian’ untuk mendukung SAG adalah Tomcat yang diterbangkan oleh Wakil Komandan VF-33, Lieutenant Commander Michael ‘Smiles’ Bucchi, dengan RIO Lieutenant Commander Ken `Heimy ‘Heimgartner. Pilot lain dari unit mereka mengingat tentang misi mereka:

Saat Operasi Attain Document III dilancarkan skuadron udara VF-33 dari USS America telah dilengkapi dengan F-14 yang memiliki kamera video TCS untuk mengidentifikasi pesawat lawan dari jarak jauh.

“Smile dan Heimy sudah menjadi legenda di antara para kru Tomcat. Selama misi itu, mereka menerbangkan pesawat yang dilengkapi dengan TCS (Television Camera Set). TCS adalah kamera video yang stabil dengan lensa teleskopik yang dipasang di bawah hidung Tomcat, yang memungkinkan mereka mengidentifikasi secara visual pesawat seperti MiG-25 dalam cuaca cerah dari jarak puluhan kilometer jauhnya. TCS benar-benar baru dan sangat mahal, dan dalam skuadron kami dari tiga pesawat hanya satu yang dilengkapi perangkat ini (kami mendapatkan lebih banyak perangkat ini ketika Saratoga meninggalkan laut Mediterania). Begitulah keadaannya pada saat itu: tidak ada cukup perlengkapan untuk menjalankan tugas – dan ini terjadi selama ‘periode pembangunan (militer)’ di tahun-tahun Pemerintahan Reagan.

Kapal induk konvensional USS America (CV-66)

“Smiles and Heimy menerbangkan F-14A nomor seri 161142 modex AB200, yang merupakan pesawat terbaik di skuadron dan dilengkapi dengan TCS. Wingman mereka menerbangkan Tomcat nomor seri 159021 modex AB206 yang merupakan jet tua yang menghabiskan sebagian besar pelayaran di hanggar bersama-sama ‘senior’ lainnya, 159010 / AB207, pesawat itu tidak memiliki TCS. “

Berlawanan dengan praktik biasa di Angkatan Udara A.S., di mana beban persenjataan semua pesawat yang ditugaskan ditentukan secara de-fakto dari atas, komandan tinggi AL AS menyerahkan keputusan ke masing-masing skuadron untuk menentukan persenjataan yang akan mereka bawa. Parsons menjelaskan:

AL Amerika memberi cukup kebebasan kepada komandan skuadron di lapangan untuk menentukan sendiri muatan senjata yang akan dibawa masing-masing pesawat tempurnya.

“Di antara kru F-14 yang berada di atas USS America, ada beberapa perbedaan dalam hal muatan senjata yang mereka bawa. Di VF-102, kami lebih suka mempersenjatai Tomcat kami hanya dengan Sparrow (AIM-7-Rudal jarak menengah) dan Sidewinder (AIM-9-Rudal jarak pendek). Kami memperkirakan akan menerbangkan misi pengawalan dan terlibat dalam dogfight dan oleh karenanya kami ingin pesawat kami seringan mungkin. Sementara itu VF-33 memilih konfigurasi 2/2/2 sebagai gantinya, yang terdiri dari: dua Sidewinders, dua Sparrows dan dua rudal Phoenix jarak jauh (AIM-54). Mereka ingin menggunakan rudal Phoenix yang paling mereka banggakan jika ada kesempatan, bahkan hal ini akan menambah bobot terbang pesawat mereka. ”

Awak skuadron VF-33 di USS America amat ingin sekali menggunakan rudal udara ke udara jarak jauh AIM-54 Phoenix dalam pertempuran udara sesungguhnya meski dengan membawa Phoenix yang berat dibawah badan pesawat akan memberi penalty pada bobot tempur pesawat saat melakukan dogfight.

Setelah diprovokasi terus menerus, Libya akhirnya mengambil tindakan. Dua pencegat MiG-25PDS “Foxbat-E” buatan Rusia lepas landas dari Pangkalan Udara Benina dengan perintah untuk menembak jatuh setiap penyusup udara di Teluk Sidra. Dipandu untuk melakukan intersepsi terkontrol dari darat, kedua Foxbats diarahkan untuk menghadapi musuh terdekat – dua F-14A milik VF-33 yang terbang dari USS America yang dipimpin Bucchi. Pendekatan keduanya segera dideteksi oleh pesawat peringatan dini E-2C Hawkeye yang segera memperingatkan kedua Tomcat.

Seperti yang diingat oleh mantan pilot LAAF MiG-25 Ali Thani, yang terlibat dalam pencegatan itu:

“Saya tidak berharap kami akan berhasil menjalankan perintah, tetapi bertekad untuk melaksanakannya. Kami naik ke ketinggian 6.000 m (19.685 kaki). GCI mengarahkan kami sekitar 30 km dari target terdekat dan kemudian memerintahkan saya untuk mengaktifkan radar saya, mendapatkan target dan melepaskan tembakan. Ini adalah pertemuan pertama saya dengan Tomcat dan saya memperkirakan mereka dipersenjatai dengan rudal Phoenix. Untuk alasan ini, saya memutuskan untuk tidak mengunci dan menembakkan salah satu rudal jarak menengah R-40RD (AA-6 Acrid) saya, tetapi sebaliknya saya ingin mendekat dan menunggu kesempatan untuk menembakkan rudal jarak dekat R-60MK (AA-8 Aphid) saya … Sambil mendekat, kami bermanuver seperti itu sering sebelumnya: setiap kali mereka berpaling ke satu sisi, GCI mengarahkan kami. Hal ini diulangi beberapa kali sampai kami semakin dekat dan saya berbelok langsung ke salah satu Tomcats, mencoba mengunci dengan rudal, tapi tidak berhasil karena Tomcat menghilang dari pandangan saya terlalu cepat. “

A Libyan MIG-25 FOXBAT A aircraft with 2 AA-6 ACRID air-to-air missiles photographed by a US Navy aircraft over the Southern Mediterranian. (Photo by Time Life Pictures/US Navy/DOD/The LIFE Picture Collection via Getty Images)

Sementara itu dipersenjatai dengan rudal udara-ke-udara jarak jauh AIM-54 Phoenix yang dipandu radar, F-14 mencari kesempatan untuk menggunakannya melawan MiG musuh untuk pertama kalinya. Untuk menetralisirnya, seperti diungkap diatas, pilot Libya menggunakan kecepatan superior dari MiG-25 untuk mendekat dan menembak Tomcat dengan rudal jarak pendek. Meskipun menunjukkan niat bermusuhan yang jelas, Kelso belum mengubah ROE/Rule Of Engagement – pesawat Amerika tidak boleh menembak kecuali ditembak lebih dulu. Sebagai hasilnya, Tomcats Bucchi dan wingman nya tidak punya pilihan selain bermanuver menghindari penembakan dari Foxbat. Beberapa menit adu manuver terjadi. Akhirnya, F-14 mendapatkan kesempatan, seperti yang dijelaskan oleh Tom Cooper dalam bukunya yang kaya detail tentang pertempuran. “Berbalik, kedua Tomcats menarik MiG ke ketinggian sekitar 5.000 kaki (1.524 meter), di mana Tomcat akan menikmati keuntungan besar karena kemampuan manuvernya yang lebih superior, dan kemudian mengambil posisi di belakang kedua MiG Libya.”

Pertarungan antara F-14A Tomcat dari USS America melawan MiG-25 Foxbat E AU Libya tidak menghasilkan pemenang karena pihak AL AS terlambat memberikan keputusan

Melaporkan tentang “adanya aksi dan niat bermusuhan yang berlebihan” kepada pengontrol udara mereka, F-14 meminta izin untuk menembak. Tomcat mengunci MiG Libya dengan radar dan menyiapkan rudal jarak pendek berpemandu inframerah AIM-9L Sidewinder untuk menembak kedua “bandit” itu. Waktu berlalu, namun tidak ada jawaban. Sementara itu, pesawat Libya (yang dipimpin Thani) melakukan manuver mengelak, tetapi kedua Tomcat Angkatan Laut mengikuti mereka. Kejadian ini direkam pada Sistem Kamera Televisi F-14 yang cukup baru waktu itu. Sekali lagi, awak F-14 meminta izin untuk menembak. Tiba-tiba, kedua Foxbat itu menemukan jalan keluar, dengan menyalakan afterburner, mereka, kabur ke selatan, lagi-lagi dengan memanfaatkan kecepatan superior mereka untuk mengalahkan F-14 dalam adu sprint. Akhirnya, komandan perang udara di atas USS America memerintahkan kedua Tomcat untuk “menembak jatuh keparat-keparat itu.” Sayangnya, saat itu F-14 juga telah meninggalkan medan pertempuran dan sedang menuju sebuah tanker untuk mengisi kembali cadangan bahan bakar mereka yang sangat menipis. Menjelang akhir kontak udara ini, sepasang F-14, juga dari USS America, tetapi diterbangkan oleh squadron VF-102, tiba di lokasi untuk melakukan misi CAP mereka di Teluk Sidra. Pada 1:52 P.M, salah satu Tomcat mendeteksi adanya kontak di radar. Menganggapnya sebagai fighter Libya, F-14 mengunci dan bersiap untuk menembak, hanya untuk melihat adanya peningkatan kecepatan dari Mach 1, Mach 2, lalu Mach 3, dan mereka melihat jejak mesin jet yang melesat secara vertikal di langit sore hari.

Konflik terbuka: debut HARM dan Harpoon

Laporan kru F-14 dikonfirmasi bahwa Libya telah menembakkan dua rudal SA-5 SAM. Meskipun tidak ada pesawat A.S. yang ditembak jatuh, Libya kini jelas telah melakukan tindakan permusuhan secara terbuka terhadap pasukan A.S, menuntut respon hukuman. Libya, pada kenyataannya, telah mengunci ke pesawat AS dengan radar Pair Square SA-5 sebelum menembak, Kelso mengirimkan pesan prioritas FLASH ke gugus tugas dan mengaktifkan rencana kontingensi Prairie Fire, dan mengotorisasi setiap kekuatan untuk menghancurkan objek musuh yang tidak bersahabat di Teluk Sidra. Pertarungan sudah dibuka dan kekuatan penuh dari Armada Keenam A.S. akan dilepaskan untuk menghajar militer Libya. Prioritas pertama adalah menyerang situs SA-5 yang meluncurkan rudal. Saat senja, pesawat serang A-7E Corsair II diluncurkan untuk menghancurkan situs SAM di kota Sirte dengan Rudal Anti-Radiasi Berkecepatan Tinggi (HARM), yang dirancang khusus untuk menghancurkan pertahanan udara dengan “mencium” emisi yang dilepaskan oleh radar mereka. Namun, serangan itu gagal, seketika situs SAM Libya menembakkan SA-5 lagi ke arah A-7, untungnya meleset. Misi itu dibatalkan, dan Jeremiah memerintahkan semua pesawat Amerika mundur keluar dari Garis Kematian. Orang-orang Libya menembakkan beberapa SAM lagi, yang semuanya meleset dari target mereka karena keterampilan manuver pilot Amerika dan Electronic Counter-Measures yang sangat baik dari pesawat EA-6B Prowler.

A-7E Corsair II AL AS beberapa kali sukses membungkam situs radar Libya dengan menggunakan rudal AGM-88 HARM yang saat itu masih baru operasional

VA-34 meluncurkan dua pesawat A-6E, masing-masing dipersenjatai dengan satu rudal AGM-84 Harpoon dan dua Bom Cluster Rockeye MK-20, untuk melakukan misi Anti-Surface Warfare (ASUW). Sekitar setengah jam dalam penerbangan, Blue Blaster Intruder diarahkan oleh pesawat E-2C Early Warning Command and Control dari CVW-1 ke arah suatu objek di lautan. Dengan menggunakan A-6E TRAM (Target Recognition dan Attack Multi-sensor) dan Forward Looking Infra-Red (FLIR), mereka mampu mengidentifikasinya sebagai kapal patroli kelas La Combattante II-G Fast Attack dan melaporkan posisinya. Saat itu hanya beberapa waktu setelah pukul 8:00 malam, kapal cepat berudal kelas La Combattante, bernama “Waheed” itu terdeteksi berlayar menuju SAG Amerika yang dipimpin oleh kapal penjelajah Ticonderoga. Dipersenjatai dengan empat rudal jelajah anti-kapal (kemungkinan type Otomat buatan Italia), “Waheed” menjadi prioritas tinggi yang diputuskan untuk segera dieliminasi. Surface Combat Air Patrol yang terdiri dari empat Penyerang A-6E, dua di antaranya berasal dari VA-34 di luar Amerika dan dua lainnya dari VA-85 dari Saratoga, diarahkan untuk menangani “Waheed”. Pesawat penyerang VA-34 dipersenjatai dengan rudal anti-kapal AGM-84A Harpoon sementara dua lainnya dipersenjatai bom kluster Rockeye. Ketika memverifikasi dengan USS Saratoga apakah mereka memang memiliki izin mengeksekusi target, jawaban yang mereka terima adalah, “Smoke‘ em. “

Kapal Cepat bersenjata rudal La Combattante II FAC

Pada 8:17 malam, Intruder dari skuadron “Blue Blasters” masing-masing menembakkan satu Harpoon ke Waheed dari jarak 16 mil. Setiap Harpoon mengenai target dan kapal berudal itu tidak sempat mengelak. “Waheed” telah menjadi korban pertama dari rudal Harpoon dalam pertempuran yang sebenarnya. Sementara itu Intruder dari Skuadron “Black Falcons” menghabisi kapal Libya itu dengan bom cluster mereka, mengirim Waheed ke dasar laut bersama banyak krunya. Hari berikutnya, sebuah kapal tanker minyak Spanyol menyelamatkan 16 awak kapal yang selamat. Mendekati pukul 9.00 P.M, situs SAM di Sirte mengaktifkan kembali radarnya, bersiap untuk menargetkan jet Amerika sekali lagi. Tetapi Amerika Serikat hanya dapat dihentikan satu kali, kali ini dua A-7E dari VA-81 USS Saratoga mendekati situs SAM dan mereka berfungsi sebagai pengalih perhatian untuk radar Pair Square Square. Sebelum SAM dapat ditembakkan, dua A-7E dari VA-83, yang juga dari Saratoga, masing-masing menembakkan AGM-88A HARM. Satu rudal mengenai targetnya dan menghancurkan radar Pair Square, lagi-lagi ini merupakan debut rudal baru Amerika lainnya di medan pertempuran sesungguhnya.

Debut rudal Harpoon dalam medan pertempuran berakhir manis dalam mengandaskan kapal cepat berudal AL Libya
Korvet rudal kelas Nanuchka II

Angkatan Laut Libya terus melakukan mengirimkan kapal perangnya ke Teluk Sidra. Kali ini Korvet rudal kelas Nanuchka II “Ean Mara” buatan Soviet berangkat dari Benghazi dan menuju ke arah barat. Keberadaan kapal ini menjadi ancaman bagi USS Yorktown, kapal penjelajah kelas Ticonderoga lainnya, karena membawa empat rudal anti-kapal Styx buatan Soviet, untuk mengatasinya dua A-6 dari VA-85 menghujani “Ean Mara” dengan bom cluster. Meski rusak parah, korvet Libya ini selamat dengan menggunakan kapal dagang terdekat sebagai perisai, mencegah Intruder menggunakan rudal Harpoon untuk menghabisinya. “Ean Mara” akhirnya berhasil kembali ke Benghazi keesokan paginya. Drama belum berakhir, “legenda” Operasi Prairie Fire tidak akan lengkap tanpa adanya unsur misteri. Dua pertempuran berikutnya yang terjadi sekitar tengah malam tetap tidak dapat dijelaskan hingga hari ini.

Korvet rudal kelas Nanuchka II milik Libya yang terbakar

Target “hantu”

Selama lebih dari dua jam, F-14 dari VF-33 yang melaksanakan misi CAP di Teluk Sidra barat melaporkan mereka menerima tembakan artileri anti-pesawat atau tembakan senjata ringan dan mengindikasikan mereka dilacak oleh radar musuh. Kapal penjelajah berpeluru kendali USS Richmond K. Turner menjawab ancaman itu, pada pukul 11:50 siang, menembakkan Harpoon pada jarak 50 mil ke arah apa yang diperkirakan sebagai kapal kelas La Combattante II lain di sekitar area CAP dan, menurut ke radar Turner, tembakan mereka mengenai target. Namun, pesawat Hawkeye AEW yang mengorbit melacak jatuhnya rudal, tidak mendeteksi adanya target pada saat ledakan terjadi. Surface Combat Air Patrol yang terdiri dari pesawat A-6 dikirimkan ke daerah itu untuk memverifikasi lokasi target secara visual, tetapi mereka juga tidak menemukan apa pun. Sementara rongsokan mengambang yang ditemukan juga tidak menjelaskan adanya indikasi penggunaan perangkat sensor pelacak seperti dilaporkan oleh F-14.

F-14 Tomcat dari Skuadron VF-33 Starfighter dan KA-6D Intruder dari Skuadron VA-34 Blue Blaster bersiap take off dari Kapal Induk USS America (CV-66) tanggal 17 April 1986.

Sementara itu, kapal penjelajah USS Yorktown sedang melacak keberadaan kapal permukaan kecil 40 mil jauhnya dengan radar AN / SPY-1A, dari sistem Aegis berteknologi tinggi. Pada jarak 25 mil, target juga terdeteksi pada air tracking radar AN / SPS-49 dan SuCAP dikirim untuk memverifikasi objek tersebut sebagai kapal permukaan. Namun, SuCAP tidak menemukan apa pun. Beberapa menit setelah tengah malam, target yang sama muncul beralih ke Battle Force Zulu dan secara dramatis meningkatkan kecepatannya menjadi 40 knot. Yorktown menganggapnya sebagai sebuah permukaan berkecepatan tinggi sedang berupaya melakukan serangan terhadap gugus tugas. Target itu sudah dekat dari kapal induk USS Coral Sea, yang sedang melakukan pengisian dengan kapal pendukung tempur USS Detroit. Kedua kapal itu sedang dalam posisi “sitting duck”. Kedua kapal segera memisahkan diri dengan cepat dan para awaknya disiagakan dalam kondisi siap tempur untuk menghadapi kapal musuh. Dalam memenuhi tanggung jawabnya untuk melindungi gugus tempur, Yorktown menembakkan dua Harpoon ketika target berada di jarak 11 mil. Operator Sonar melaporkan 2 suara menghantam target. Pesawat dikirim untuk memberikan konfirmasi visual mengenai target yang dihancurkan, tetapi tidak menemukan kapal maupun reruntuhan.

USS Yorktown (CG-48) Cruiser baru Amerika dari kelas Ticonderaga.

Crew Yorktown bersikeras mereka telah menghancurkan sebuah korvet kelas Assad buatan Italia. Tetapi intelijen Angkatan Laut AS kemudian mengkonfirmasi bahwa semua kapal perang Libya masih utuh – korvet kelas Assad yang menurut Yorktown telah dihancurkan adalah salah satunya. Juga patut dicatat bahwa kontak senjata yang aneh ini adalah satu-satunya yang terjadi di utara Garis Kematian, jauh kea rah Laut Mediterania dan jauh dari lepas pantai Libya. Hal ini menimbulkan pertanyaan apakah kapal perang Libya yang bertipe pertahanan pantai berani berlayar sejauh itu sendirian untuk menghadapi lawan yang jauh lebih unggul. Investigasi atas data yang direkam oleh sensor Yorktown kemudian mengungkapkan bahwa telah terjadi salah identifikasi dari target udara namun diidentifikasikan sebagai target permukaan. Namun identitas dari target udara itu tetap tidak diketahui.

Pertempuran berlanjut

Selama insiden yang membingungkan ini, radar Pair Square di Sirte telah pulih dari serangan sebelumnya dan berfungsi kembali. Pada pukul 12.47 A.M tanggal 25 Maret, A-7 dari VA-83 dari USS Saratoga menembakkan sepasang HARM ke radar itu dan membuatnya tidak berfungsi lagi. Keberhasilan serangan itu dimungkinkan dengan menggunakan taktik pengalih perhatian yang sama dengan yang digunakan dalam serangan sebelumnya. Radar Square Pair Libya tidak akan aktif lagi selama sisa pertempuran. Ketika fajar tanggal 25 Maret mendekat, keadaan menjadi sunyi di Teluk Sidra. Keheningan itu dipecahkan oleh berhasil dideteksinya sebuah kapal perang Libya yang berlayar kearah barat laut dengan kecepatan 25 knot langsung dari Benghazi. Diidentifikasi sebagai kapal cepat rudal kelas La Combattante II-G lainnya, dua A-6 yang dipersenjatai dengan bom cluster diarahkan untuk melakukan intervensi. Ketika A-6 skuadron VA-55 dari USS Coral Sea, mengeksekusi serangan mereka, mereka secara positif mengidentifikasi target sebagai La Combattante, tetapi sebaliknya adalah korvet kelas Nanuchka II, yang dipersenjatai dengan rudal SAM SA-N-4. Kedua A-6 segera menjauh dari jangkauan mematikan SA-N-4!

Rudal SA-N-4 Gecko

Meskipun bom cluster mencatat hit, namun korvet bernama “Ean Zaquit” itu, tampaknya masih bisa beroperasi. Intruder dari VA-55 itu kemudian mempersilahkan kepada dua Intruder dari VA-85 yang dipersenjatai dengan rudal Harpoon menyelesaikan tugasnya. Setelah menerima izin dari komandan  di atas USS Saratoga, salah satu dari A-6 Skuadron VA-85 menembakkan Harpoon, yang menghantam tepat ke “Ean Zaquit” yang rusak parah. Pesawat-pesawat VA-55, yang masih dipersenjatai dengan Rockeye, menukik kembali dan menjatuhkan dua bom cluster ke kapal perang yang hancur, menenggelamkan “Ean Zaquit” seluruhnya. Libya menghentikan semua tantangan terhadap Satuan Tugas 60 setelah penghancuran Ean Zaquit. Selama dua hari berikutnya, Armada Keenam bebas beroperasi di Teluk Sidra, dengan pesawat-pesawat tempur A.S. mampu terbang hingga ke pantai Libya tanpa memicu reaksi bermusuhan.

Attain Document III berakhir

Ketiga kapal induk AL AS tidak menghentikan aktivitasnya, mereka mempertahankan operasi penerbangan level yang sama dengan saat mereka memulai. Sementara itu, SAG yang dipimpin Ticonderoga berlayar ada yang berani menantang di dalam Teluk Sidra. Akhirnya, Menteri Pertahanan Caspar Weinberger memerintahkan Kelso untuk menghentikan Operasi Attain Document III pada 27 Maret. Beberapa pihak, seperti Menteri Negara George Schultz dan Menteri Angkatan Laut John Lehman, kecewa dengan keputusan ini, mereka percaya bahwa AS melewatkan kesempatan emas untuk menghancurkan rezim Gaddafi. Tetapi baik Weinberger maupun Reagan, yang lebih bisa menahan diri menyadari sentimen publik dan merasakan bahwa sebuah pesan yang kuat dan meyakinkan telah dikirimkan ke Gaddafi. Sebaliknya Gaddafi tidak setuju dengan pandangan Amerika dan menyinggung bahwa penarikan Satuan Tugas 60 adalah bukti kemenangan ada di pihaknya. Apakah keputusan untuk menghentikan Operasi Attain Document III dua hari lebih cepat dari jadwal seharunya adalah sebuah keputusan yang bijaksana atau tidak itu adalah masalah politis, yang pasti Operasi itu sukses secara operasional dan taktis. Secara operasional, Satuan Tugas 60 menunjukkan keunggulan organisasi dan kesiapan untuk bertempurnya.

Catatan-catatan

Dari Gedung Putih hingga kokpit pesawat tempur, pihak Amerika telah menunjukkan kepemimpinan, manajemen, dan profesionalisme tingkat tinggi, yang terbukti berfungsi secara lewat otoritas dan kebebasan yang diberikan kepada komandan tempur di lapangan dengan tanpa melewatkan detail manajemen mikronya. Secara taktik, militer Amerika Serikat membuktikan sekali lagi bahwa mereka adalah yang terdepan dalam teknologi dan kompetensi di laut dan di udara. Militer Libya kehilangan satu korvet, satu kapal patroli, dan sedikitnya 35 personel tewas, sementara dua kapal perang dan beberapa lokasi SAM lainnya mengalami kerusakan, sementara mereka sendiri tidak berhasil membuat kerugian pada pihak musuh. Diperkirakan lima hingga 12 SAM diluncurkan oleh Libya, tetapi tidak satupun dari mereka yang bisa menjatuhkan pesawat Amerika.

F / A-18 Hornet memulai debut tempurnya di Libya tahun 1986
Sama seperti Hornet SH-60B Seahawk juga memulai debut tempurnya dalam misi di Libya 1986

Selain system senjata yang sudah ada, seperti penyerang A-6 dan interceptor F-14, sistem senjata baru, seperti sistem Aegis, pesawat tempur multiperan F / A-18A Hornet, rudal HARM dan Harpoon, dan bahkan helicopter serbaguna SH-60B Seahawk Light Airborne Multi-Purpose System Mk. III , semuanya melakukan debut pertempuran dan tampil mengesankan. Secara keseluruhan, Amerika mengalahkan Libya dalam segala hal. Meskipun Gaddafi memegang posisi underdog, kekuatan militernya bisa ditaklukkan oleh senjata-senjata superior dan keterampilan berperang dari pihak Amerika.

Meskipun pihak Amerika keluar sebagai pemenang, namun ada beberapa catatan penting yang masih perlu diperbaiki baik dari sisi taktikal, teknologi dan pengambilan keputusan, khususnya di pihak AL Amerika. Berikut adalah beberapa catatan negative di pihak Amerika yang perlu diperhatikan:

  1. Case saat F-14 Tomcat sudah mengunci MiG-25 Foxbat Libya, namun tidak ada respon apakah target harus dihancurkan atau tidak. Saat request disetujui, semuanya sudah terlambat. Dalam hal ini komandan tempur gugus tugas Amerika seharusnya bisa mengambil keputusan cepat dan kalau perlu mengubah ROE yang ada, karena jika dalam kondisi perang sesungguhnya, posisi Tomcat bisa jadi tidak menguntungkan jika saja skill pilot tidak cukup bagus dan pihak Libya lebih dulu meluncurkan serangan mendadak dan kabur dengan memanfaatkan kecepatan superior fighter mereka.
  2. Problem teknologi Aegis yang masih baru muncul saat radar radar AN / SPY-1A dan air tracking radar AN / SPS-49 gagal mengidentifikasi target udara yang disangka merupakan target kapal permukaan, eksekusi baru dilakukan di jarak yang amat dekat, yakni 11 mil. Hal ini tentu membahayakan armada kapal induk AL Amerika, jika saja serangan betul-betul dilakukan oleh pihak lawan, misalnya dengan menembakkan rudal jelajah atas kapal induk Coral Sea yang sedang melakukan replenish. Yang lebih mengkhawatirkan, saat itu mereka baru berhadapan dengan Libya dan bukan negara selevel Soviet.
  3. Kebijakan menghancurkan target kapal permukaan dengan menggunakan munisi Cluster sepertinya perlu dievaluasi kembali, seperti case penenggelaman “Ean Zaquit” yang ternyata dipersenjatai dengan rudal anti pesawat SA-N-4. Dalam case seperti ini menembakkan rudal Harpoon sepertinya merupakan opsi yang lebih bijaksana.

Gaddafi belum kapok dan masih perlu diberi pelajaran

Lewat Operasi Operasi El Dorado Canyon yang nyaris membunuhnya, Gaddafi akhirnya diberi pelajaran.

Tetapi, meskipun Operasi Prairie Fire terhitung sukses, namun kurang dari sebulan kemudian oleh kisahnya “ditenggelamkan” oleh Operasi El Dorado Canyon. Belum kapok, Gaddafi menanggapi kekalahannya di Teluk Sidra dengan melakukan terror pemboman terhadap sebuah klub malam di Berlin Barat, yang menewaskan tiga orang, seorang diantaranya adalah tentara Amerika. AS kemudian meluncurkan serangan pertamanya ke tanah Libya. Pembom F-111 Aardvark milik AU AS terbang dari Inggris, yang bersama dengan Wing Udara AL AS di Mediterania, menyerang instalasi militer, sebuah kamp pelatihan teroris dan juga nyaris membunuh Gaddafi sendiri. Permusuhan langsung mereda sesudahnya, tetapi sekali lagi terjadi pada Januari 1989. Seolah-olah ditakdirkan untuk mengakhiri dengan jalan yang sama saat konflik Amerika-Libya dimulai, dua pesawat tempur MiG-23 Flogger Libya ditembak jatuh, lagi-lagi oleh F-14 Tomcat, di Teluk Sidra. Amerika Serikat kemudian tidak akan berperang lagi di Libya sampai April 2011, ketika kekuatan udara dan laut Amerika dan sekutu mendukung penggulingan rezim Gaddafi oleh pasukan pemberontak selama Arab Spring. Prairie Fire, bersama dengan Praying Mantis dua tahun kemudian, akan menjadi pertempuran laut besar terakhir dalam sejarah Amerika dan dunia.

Diterjemahkan dan dilengkapi kembali dari:

‘Smoke ‘Em’ by Edward Chang, 5 December 2017

https://warisboring.com/smoke-em/

F-14 vs MiG-25: When US Navy Tomcats outmanouvred Gaddafi’s Foxbats over the Gulf of Sidra by Dario Leone, 19 Juni 2019

https://theaviationgeekclub.com/f-14-vs-mig-25-when-u-s-navy-tomcats-outmanoeuvred-gaddafis-foxbats-over-the-gulf-of-sidra/

A6 IN ACTION / THE SINKING OF A LIBYAN LA COMBATTANTE FAST PATROL BOAT

VA-34 BLUE BLASTERS

https://www.intruderassociation.org/a6_COMBATTANTE.asp

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *