Operasi Delaware (19 April – 17 May 1968): Misi Menyerang Sarang Pasukan Vietnam Utara di Lembah “Maut” A Shau

Mungkin tidak ada medan pertempuran lain di Vietnam yang mendefinisikan tipe “perang atrisi” lebih baik daripada Lembah A Shau, yang ada di bagian paling utara Wilayah Vietnam Selatan. Sebagai dataran lembah selebar satu mil, dan sepanjang 25 mil yang membentang dari utara-selatan di sepanjang perbatasan Laos. A Shau adalah “gerbang masuk” ke Vietnam Selatan bagi Jalur Ho Chi Minh Trail saat melewati Zona Demiliterisasi yang membagi dua Vietnam Utara dan Selatan. Dihuni oleh sekitar 20.000 tentara Komunis pada tahun 1967 dan dengan perbekalan perang yang sangat besar, A Shau adalah laksana duri yang menyakitkan di pihak Vietnam Selatan dan sekutunya. Pasukan komunis diketahui telah menggunakan medan pegunungan terjal yang mengelilingi lembah untuk melancarkan serangan melawan setiap posisi utama pasukan sekutu di selatan selama Serangan Tet tahun 1968. Dalam bukunya “Hamburger Hill”, Samuel Zaffiri menulis bahwa Jenderal William C.Westmoreland, komandan Pasukan AS di Vietnam Selatan, marah karena pers telah secara luas menggambarkan Tet sebagai kemenangan bagi pihak Komunis, meskipun dalam serangan itu Viet Cong dihancurkan sebagai sebuah kekuatan tempur. Tetapi Tentara Vietnam Utara, yang berada di kamp-kamp hutan di sepanjang perbatasan Kamboja dan Laos, tetap bertahan. Dari markas NVA itulah gerilyawan VC telah mendapatkan senjata dan amunisi yang mereka gunakan untuk serangan Tet. 

Lembah A Shau yang strategis sebagai “gerbang masuk” pasukan komunis dari Ho Chi Minh Trail menuju ke wilayah Vietnam Selatan. Dalam Perang Vietnam beberapa pertempuran sengit terjadi di lembah ini. (Sumber: https://app.emaze.com/)

LATAR BELAKANG

Saat menjelang malam tanggal 9 April 1968, tim patroli pengintai jarak jauh (LRRP, kerap dibaca sebagai “Lurp”) Sersan Doug Parkinson bergegas naik helikopter UH-1 Huey. Mereka baru saja mendaki Gunung Dong Tri di luar pangkalan tempur Marinir di Khe Sanh untuk mencari musuh. Meskipun mereka tidak pernah melihat musuh, peluru artileri nyasar kerap hampir membunuh mereka semua, dan harimau Bengala mengintai mereka selama beberapa malam. Kemudian, dengan B-52 bersiap untuk mengebom posisi mereka dalam persiapan sebelum pasukan Marinir menyerbu ke gunung, mereka hampir berjarak 1.000 kaki saja dari kematian mereka saat helikopter buru-buru mengekstraksi mereka dengan tali darurat panjang yang dikenal sebagai “rig McGuire”. Saat Parkinson memandang melalui debu pada lusinan helikopter yang lepas landas, dia berkata, “So much for Khe Sanh, lads….I’d say we got off easy!” Tetapi tim patroli pengintai jarak jauh Parkinson dari Kompi E, Infanteri ke-52, yang dikomandani oleh Kapten Michael Gooding, kemudian akan segera menemukan dirinya di tengah salah satu operasi mobil udara paling berani dalam perang, yakni serangan serbu udara ke Lembah A Shau, tempat perlindungan musuh yang paling tangguh di Vietnam Selatan. Kompi E akan memainkan peran kunci dalam membangun pertahanan di lembah — dan akan membayar mahal dalam menyelesaikan misinya.

Lembah A Shau yang “legendaris” di tahun 1969. (Sumber: http://www.alphatroopalumni.com/)

NVA sebelumnya telah merebut Lembah A Shau, yang berada di I Corps Tactical Zone (ICTZ), hanya 30 mil di selatan pangkalan tempur Khe Sanh dan 45 mil sebelah barat kota Hue, pada bulan Maret 1966 setelah menyerbu kamp Pasukan Khusus yang terisolasi di sana. Sebagai lembah berpenduduk jarang, yang dibelah secara memanjang oleh Route 548, lembah itu telah dibentengi oleh pasukan Vietnam Utara dengan bunker dan terowongan bawah tanah dan dipertahankan oleh kanon-kanon anti-pesawat kaliber 37mm yang kuat, beberapa di antaranya dikendalikan dengan radar. Mereka juga memiliki kanon kaliber 23 mm berlaras ganda yang mampu menembak cepat, senapan mesin berat kaliber 12,7 mm, dan bahkan tank. Karena kekuatan mereka yang besar di darat, orang Vietnam Utara pada dasarnya dibiarkan sendirian berdiam di sana dalam jangka waktu lama, kecuali untuk diserang dengan pesawat jet, tetapi mengingat medan yang didominasi pegunungan — sering kali diselimuti oleh awan dan rentan terhadap perubahan cuaca yang tiba-tiba dan keras — serangan udara hanya sedikit dilakukan. Jenderal Westmoreland yakin bahwa lembah itu harus dihantam, dan dihantam dengan keras, dan pada bulan Januari 1968 dia memerintahkan Divisi Kavaleri ke-1 (Airmobile) untuk bergerak ke utara dari Dataran Tinggi Tengah untuk mendukung pasukan Marinir yang ada di sana. Jenderal Earle Wheeler, kepala staf Angkatan Darat AS dan ketua Kepala Staf Gabungan, mendukung strategi Westmoreland. Divisi tersebut, dengan kekuatan 20.000 orang, memiliki daya tembak paling banyak dan, dilengkapi dengan hampir 500 helikopter, lima kali lipat kemampuan udaranya dari unit seukuran divisi mana pun di Vietnam. Westmoreland percaya bahwa jika ada yang bisa mematahkan cengkeraman musuh di lembah A-Shau, itu adalah Divisi Kavaleri Udara pertama. Dan dia benar. Pasukan Kavaleri Udara berhasil memukul mundur tiga resimen yang mencoba memperkuat dan memasok kembali rekan-rekan mereka yang ada di Hue pada saat Serangan Tet tahun 1968. Kemudian, pada tanggal 31 Januari, satuan ini melancarkan serangan di sebelah barat Kota Quang Tri, menghancurkan pasukan musuh yang mengepung pangkalan Marinir di Khe Sanh. 

Untuk memperkuat pertahanan pasukan NVA yang bertahan di Lembah A Shau, pasukan komunis menempatkan banyak senjata anti pesawat, termasuk meriam kaliber 37 mm seperti yang ada pada gambar. (Sumber: https://www.historynet.com/)
Armada helikopter UH-1 Huey dari pasukan Kavaleri Udara Ke-1 di Vietnam. Kavaleri udara ke-1 diketahui memiliki armada helikopter terbanyak di tingkat kesatuannya dibanding kesatuan setara di Vietnam, yakni dilengkapi kurang lebih 500 helikopter berbagai jenis. (Sumber: https://id.pinterest.com/)

Jenderal William Westmoreland percaya bahwa banyak liputan pers tentang Operasi Pegasus sebelumnya telah memberi pasukan NVA cukup banyak informasi tentang disposisi dan pergerakan pasukan AS, sehingga dia memutuskan untuk mengembargo berita tentang operasi yang akan dilakukannya mendatang selama mungkin. Selain untuk meningkatkan keamanan bagi pasukannya, embargo tersebut juga untuk menjaga kemungkinan bocornya informasi operasi yang mencakup penyusupan pasukan pengintai seukuran batalion ke wilayah Laos pada titik di atas tempat di lembah tersebut yang memasuki Vietnam Selatan. Westmoreland memberitahu koresponden di Saigon kemudian pada tanggal 26 April bahwa dia memberlakukan embargo yang diperpanjang dalam operasi itu. Namun menyusul laporan oleh kolumnis sindikasi Joseph Alsop di Hong Kong dan perwira Vietnam Selatan yang mengumumkan bahwa unit mereka terlibat dalam operasi militer di Lembah A Shau, MACV mencabut embargo pers setelah 8 hari operasi berlangsung. Pada saat itu menjelang operasi, Mike D Sheperd adalah seorang reporter untuk Unit Berita Radio Tempur Angkatan Udara Ketujuh di Da Nang. Sheperd sering terbang ke zona tempur yang “panas” untuk mewawancarai pasukan darat tentang pentingnya misi pasokan ulang yang dilakukan Angkatan Udara dan dukungan udara taktis. Hasil wawancaranya kemudian akan dikirim ke departemen media Komando Bantuan Militer, Vietnam (MACV), organisasi yang bertanggung jawab atas pasukan tempur AS, dan didistribusikan ke stasiun radio serta outlet asal orang yang diwawancarai tinggal, yakni seperti Voice of America dan Radio Free Europe.

Jenderal Westmoreland untuk menghindari kebocoran informasi, sengaja menerapkan embargo pers menjelang serangan pasukan Amerika ke Lembah A Shau, namun embargo ini tidak bertahan lama. (Sumber: https://www.imdb.com/)

Sheperd sebelumnya telah terbang ke Khe Sanh untuk meliput pengepungan tersebut. Yang paling Sheperd ingat di Khe Sanh adalah keberadaan puing-puing pesawat kargo Lockheed C-130 Hercules yang terbakar dan dibiarkan ada di sepanjang landasan — pemandangan yang mengganggu mengingat dia juga diterbangkan dengan salah satu pesawat tipe itu. Keberadaan puing-puing Hercules itu juga jadi salah satu kontroversi dari liputan pengepungan Khe Sanh. Dimana karena satu dan lain hal, tidak dapat dibersihkan, sehingga reruntuhan pesawat itu ada di sana selama pengepungan. Sialnya para reporter kerap menyampaikan berita didepan reruntuhan itu dengan sudut pengambilan yang berbeda-beda sehingga bisa menimbulkan interpretasi bahwa pesawat yang hancur adalah pesawat yang berbeda-beda. Jelas hal ini tidak menguntungkan citra militer Amerika yang sedang mati-matian meredam ofensif pihak komunis. Sementara itu kembali ke kisah Sheperd, ketika ia mendaftar di Angkatan Udara pada tahun 1966, ia terpilih untuk pergi ke Sekolah Jurnalisme Angkatan Bersenjata di Fort Benjamin Harrison di Indianapolis, dan dari kelas yang terdiri dari 50 orang, Sheperd adalah satu-satunya yang ditugaskan ke Vietnam. 

Pesawat Hercules yang terbakar dalam pengepungan di Khe Sanh. (Sumber: https://www.baaa-acro.com/)

Pada awal April 1968, Tentara Vietnam Utara (NVA) baru saja mengalami dua kekalahan paling dahsyat dalam perang: Serangan Tet dan pengepungan Khe Sanh, yang menelan korban lebih dari 50.000, tetapi mereka masih saja mengalir ke wilayah Vietnam Selatan bagian utara. Divisi Air Cav ke-1 sedang berhadapan langsung dengan pasukan NVA di Khe Sanh ketika komandannya, Mayor Jenderal John J. Tolson, meluncurkan rencana untuk melancarkan Operasi Delaware, yakni serbuan udara besar-besaran ke Lembah A Shau. Tolson berharap untuk dapat mengalahkan pasukan NVA di sana sebelum musim hujan datang menghambat dukungan udara dan upaya membawa masuk pasukannya. Dalam Operasi Delaware ini dua brigade — total sekitar 11.000 orang dan 300 helikopter — akan menyerang ujung utara lembah sepanjang 25 mil dan bergerak menuju ke selatan, sementara brigade lain akan tetap di Khe Sanh, melanjutkan pertempuran dari sana ke arah perbatasan Laos. Karena komunikasi satelit adalah kunci dari operasi, sebuah puncak gunung di A Shau harus diamankan untuk difungsikan sebagai stasiun radio relai bagi pasukan –– yang akan menyelinap masuk jauh tersembunyi ke balik pegunungan yang menjulang –– untuk berkomunikasi dengan Camp Evans di dekat pantai atau dengan pesawat yang mendekat. Di sisi timur, di tengah lembah, terdapat tempat yang sempurna, yakni bukit Dong Re Lao setinggi 4.878 kaki. Markas besar Amerika menjulukinya “Signal Hill.” Karena misi tersebut membutuhkan orang-orang terlatih khusus yang dapat melakukan rappeling dengan tali dari helikopter, membersihkan zona pendaratan dengan bahan peledak, dan mempertahankan daerah itu tanpa dukungan artileri, “Lurps” adalah pilihan yang logis. Akibatnya, tugas mengamankan Signal Hill jatuh ke tangan unit Parkinson, dari Peleton ke-2, Kompi E, Infanteri ke-52, pimpinan Letnan Joe Dilger,

Mayor Jenderal John J. Tolson (tengah), komandan Operasi Delaware. (Sumber: https://www.armedconflicts.com/)

OPERASI DELAWARE DIMULAI

Pada hari Jumat, tanggal 19 April, di fajar yang tenang dan cerah, operasi penyerangan dimulai. Peleton Lurp yang terdiri dari 30 orang berkumpul dengan beberapa pasukan zeni dan petugas sinyal di Camp Evans, menunggu penerbangan mereka ke Signal Hill, yang 19 mil jauhnya. Personel pasukan mendengar gemuruh lima helikopter ‘slick’ (pengangkut) dari Batalyon Helikopter Serbu ke-227 mendekat. Dengan banyak unit lain meminta pengangkutan, sementara banyak di antaranya sedang menjalani perbaikan atau masih di Khe Sanh, maka tidak ada cukup helikopter yang tersedia untuk membawa seluruh peleton, jadi tim Parkinson disuruh menunggu. Helikopter-helikopter itu kemudian mendarat, dan personel yang lainnya naik ke atas, membawa peralatan yang berat. Helikoter-helikopter slick lalu naik ke langit biru cerah dan menghilang di barat, mencapai puncak Signal Hill setinggi satu mil sekitar 20 menit kemudian. Kekuatan kecil helikopter itu didampingi oleh dua helikopter bersenjata (gunship). Helikopter-helikopter slicks datang untuk melayang 100 kaki di atas hutan lebat, dan orang-orang, yang dipimpin oleh Letnan Dilger, mulai turun untuk membersihkan zona pendaratan. Tetapi dalam atmosfer tipis di ketinggian itu, mesin helikopter hanya memiliki lebih sedikit oksigen untuk menghimpun tenaga, dan rotornya lebih sedikit menghirup udara. Beberapa detik setelah Sersan Larry Curtis dan asisten ketua timnya, Kopral Bill Hand, melompat dari skid, helikopter mereka kehilangan kendali saat mereka masih 50 kaki di udara.

Signal Hill, posisi strategis yang harus direbut di dekat lembah A Shau untuk mendukung Operasi Delaware. Misi ini diserahkan pada satu pleton pasukan LRRP. (Sumber: https://www.pinterest.ph/)

Curtis dan Hand menghantam tanah tetapi berhasil membebaskan diri dari perangkat rappel mereka dan keluar dari jalur helikopter saat ia meluncur melalui kanopi dan menabrak dasar hutan. Dampaknya membuat awak dan sisa orang di helikopter pingsan. Curtis menderita gegar otak dan terjepit saat helikopter terguling ke samping. Saat dia berbaring berjuang untuk membebaskan diri, mesin helikopter berputar dengan kecepatan penuh dan mulai mengeluarkan bahan bakar. Meskipun terjadi kekacauan awal, Letnan Dilger memerintahkan mereka yang masih melakukan rappelling untuk mengambil peti berisi bahan peledak dan perlengkapan yang masih tergantung dan kemudian membuat garis pertahanan di sekitar puncak gunung. Setelah pasukan berhasil diturunkan, keempat helikopter yang masih di udara dengan cepat terbang untuk menghindari masalah yang sama lebih lanjut, dan Kopral Hand dan yang lainnya sekarang akhirnya bisa melakukan penyelamatan meski terlambat. Setelah membawa Curtis keluar dari bawah skid dan memindahkan yang terluka di atas reruntuhan ke tempat yang aman, mereka memulai tugas yang melelahkan untuk membersihkan LZ, menggunakan gergaji mesin, parang, dan bahan peledak berbentuk tabung panjang yang disebut torpedo bangalore. Di sana, di tengah-tengah wilayah musuh, pekerjaan penyusupan dan pembersihan tidak luput dari perhatian musuh, dan segera pasukan kecil itu bertempur melawan lebih dari sekadar kondisi alam.

Peta Operasi Delaware 19 April-17 Mei 1968. (Sumber: https://www.historynet.com/)

Sementara itu di tempat lain, pasukan serbuan utama juga memulai operasi pada tanggal 19 April, Batalyon ke-1, Resimen Kavaleri ke-7, Brigade ke-3, menyerang zona pendaratan di Landing Zones Tiger (16.352 ° LU 107.109 ° BT) dan Vicki (16.373 ° LU 107.136 ° BT) di dekat kamp Pasukan Khusus Vietnam Selatan yang ditinggalkan dan sebuah lapangan terbang tua Prancis di A Luoi, di ujung barat laut Lembah A Shau. Sedang personel pasukan Divisi Lintas Udara ke-101 bergerak ke barat dari Firebase Bastogne di sepanjang Rute 547, Batalyon 1, Resimen Infantri 327 bergerak ke barat daya untuk bertemu dengan Batalyon ke-2, Infanteri 327 yang telah mendarat dengan helikopter di persimpangan Rute 547 dan Rute 547A, untuk membentuk Firebase Veghel. Namun, tembakan antipesawat dan senapan mesin yang intens di tengah lembah, memaksa Tolson pada menit-menit terakhir untuk memilih zona pendaratan baru di jalan besar buatan pasukan Vietnam Utara yang menghubungkan lembah bagian utara dengan wilayah Laos. Batalyon ke-1 memasuki ujung barat laut lembah. Meskipun pengangkutan helikopter pertama berhasil mendarat dengan selamat di samping jalan, upaya-upaya berikutnya menghadapi tembakan hebat. Senjata anti-pesawat NVA dan senjata kaliber 37mm diketahui dapat meledakkan helikopter atau jet dari atas langit pada ketinggian 25.000 kaki. Dalam hitungan jam, penembak musuh telah menembak jatuh 10 helikopter dan merusak 23 lainnya, menurut Zaffiri di buku “Hamburger Hill” sebagian besar pasukan Batalyon ke-1 berhasil mendarat, tetapi segera ditekan oleh tembakan NVA dan dibebani oleh sejumlah besar korban tewas dan terluka. Di sekeliling mereka terdapat kumpulan besar helikopter yang terbakar dengan baling-baling yang berputar dalam bentuk yang aneh. Sementara itu pasukan Batalyon ke-5 Kavaleri ke-7 mulai berdatangan dan mendapat serangan dari artileri NVA tepat di seberang perbatasan di Laos. 

Pasukan Divisi Kavaleri ke-1, mengatur pertahanan perimeter zona pendaratan, selama Operasi Delaware / Lam Son 216. (Sumber: https://www.flickr.com/)
Helikopter Chinook menurunkan meriam-meriam artileri bersama dengan paket-paket amunisinya. Selama perang telah menjadi taktik standar dalam misi-misi besar pasukan Amerika untuk segera membuat pangkalan tembak untuk mendukung operasi pasukan darat lebih lanjut. (Sumber: https://www.militaryimages.net/)

Setelah beberapa jam, Batalyon ke-1 berhasil mengkonsolidasikan posisinya dan mampu membuat pangkalan tembak artileri di dasar lembah. Dalam cuaca buruk, pasukan zeni dengan gergaji mesin bekerja dengan cepat menebangi pohon, dan prajurit infanteri dengan parang membacoki bambu dan rumput gajah, membersihkan zona tembak. Kemudian helikopter angkut berat Boeing CH-47 Chinook tiba, mengangkut dan menurunkan meriam-meriam howitzer kaliber 105 mm, dan palet-palet besar amunisi artileri dengan sling. Aksi ini dengan cepat memposisikan senjata-senjata artileri pada tempatnya dan beberapa menit kemudian mulai menembaki balik para penembak NVA di pegunungan. Keesokan paginya, Batalyon ke-1 menyerang ke arah tenggara menuju landasan udara di A Luoi, dan Batalyon ke-5 bergerak ke jalan raya menuju Laos. Batalyon ke-1 menghadapi perlawanan keras. Para penembak jitu bertengger tinggi di puncak pohon, bersembunyi di gua-gua atau bersarang di balik batu besar untuk menjatuhkan prajurit-prajurit Amerika satu per satu. Sementara itu helikopter-helikopter terus mengalir keluar masuk lembah untuk mengevakuasi mereka yang terluka dan gugur. Banyak helikopter medevac yang sarat dengan mereka yang terluka ditembaki di udara atau karena begitu penuh dengan peluru sehingga mereka terpaksa mendarat di darat. Cuaca buruk terus memburuk pada tanggal 21 April. Untuk menjaga pasokan bagi pasukan di darat, pilot-pilot helikopter menjalankan misi ditengah kabut, mendarat dan lepas landas hanya dengan menggunakan panduan instrumen  helikopter mereka. Keesokan harinya badai petir dahsyat mengguncang lembah. Hujan deras mengubah dasar lembah menjadi rawa lumpur, dan operasi melambat hingga seolah “berjalan merangkak”. 

MENGAMANKAN SIGNAL HILL

Di “Signal Hill” tanggal 20 April, pada pagi masih belum ada tempat terbuka yang memadai untuk mendaratkan helikopter, jadi Sersan Curtis yang terluka harus dievakuasi dengan rig McGuire. Saat pasukan penyerang bekerja keras untuk membersihkan LZ, tentara NVA melakukan pendakian yang panjang dan sulit dari dasar lembah, dan mencapai puncak gunung pada siang hari. Tersembunyi oleh dedaunan lebat dan puing-puing yang tertiup angin, dan dengan suara mendekat mereka yang diselimuti oleh hiruk pikuk bahan peledak dan gergaji mesin, mereka menjelajahi perimeter sesuka hati, menembaki peleton Dilger, yang masih berjuang untuk membuat tempat terbuka. Tidak dapat melihat penembak jitu, pasukan penyerang melemparkan granat ke lereng dan menembakkan senjata mereka ke sasaran yang dicurigai, menjaga musuh tidak mendekat. Saat pertempuran dengan musuh yang tak terlihat ini berlarut-larut, para personel LRRP menyerang ke depan melalui lumpur, puing-puing, dan tembakan penembak jitu yang mematikan untuk menyelamatkan rekan-rekan mereka yang terluka dan sekarat dan membawa mereka ke puncak dan tempat perlindungan bekas kawah bom. Mereka membutuhkan diberikan plasma expander untuk menggantikan darah yang hilang, perban plastik yang dibungkus kain untuk menutupi luka di dada, atau suntikan morfin untuk mengurangi rasa sakit. Operator Radio membuat panggilan yang putus asa ke Camp Evans agar helikopter mengevakuasi yang terluka, tetapi dengan beberapa gelombang helikopter masih melakukan serangan jauh ke utara ke lembah, dan hampir selusin ditembak jatuh pada hari pertama operasi, tidak ada helikopter yang tersedia untuk dikirimkan ke Signal Hill. Menjelang sore, LZ yang bisa berfungsi akhirnya berhasil dibersihkan, tetapi dengan biaya yang mahal. Penembak jitu musuh telah membunuh Kopral Dick Turbitt dan Pfc. Bob Noto, sementara Sersan. William Lambert dan personel zeni tempur Pfc. James MacManus terluka parah, dan Kopral Roy Beer kritis. Letnan Dilger ditembak di dada dan hampir mati. Saat pertempuran berkecamuk jauh ke utara di lembah, Sersan Lambert — yang hanya satu hari sebelum menyelesaikan tur dua tahunnya — bertahan hidup selama enam jam sebelum meninggal dalam pelukan rekan-rekannya. Segera setelah Lambert meninggal, sebuah helikopter Huey sendirian mendekat dari utara untuk mengevakuasi mereka yang terluka dan awak pesawat yang terdampar di Signal Hill. Mereka yang sudah gugur harus menunggu untuk bisa dievakuasi.

Saat korban berjatuhan, helikopter Medevac segera dipanggil untuk mengevakuasi para korban. Beberapa operasi berjalan dengan lancar, namun banyak juga yang dilakukan dalam tembakan gencar dari pasukan musuh. (Sumber: https://usastruck.com/)

Keesokan paginya, Minggu, tanggal 21 April, sebuah helikopter medevac, yang sudah dijejali prajurit infanteri yang terluka dan pilot terluka bakar parah dari sebuah helikopter yang jatuh, mendarat di Signal Hill untuk mengevakuasi Kopral Hand, yang kondisinya memburuk. Dia dimasukkan ke dalam tandu, di bawah pilot yang terbakar dan berteriak-teriak. Saat helikopter medevac lepas landas, orang-orang di bawah dapat mendengar pria yang mengalami luka bakar itu memohon dalam kesakitan, “Tembak aku! Seseorang, demi Tuhan, tolong tembak aku! Kira-kira pada waktu itu, tim enam orang dan Sersan Parkinson pimpinan Kapten Gooding tiba. Saat itu belum ada patroli yang dilakukan untuk membersihkan puncak gunung daro penembak jitu, jadi Kapten Gooding memerintahkan Parkinson untuk segera melakukan patroli di sekitar puncak. Setelah Parkinson memberi tahu semua orang di LZ tentang rute keberangkatan yang telah direncanakan, timnya memanggul perlengkapan mereka dan menyelinap melalui lumpur ke sisi barat gunung, di mana mereka sampai ke helikopter yang jatuh yang tergeletak miring di tanggul yang curam. Kemudian, melewati posisi tempur musuh di mana selongsong peluru dan dua granat masih tertinggal, mereka bergerak melalui cabang-cabang dan pepohonan tertutup lumpur padat, yang terpotong-potong akibat ledakan saat membersihkan LZ. Setelah melalui tumpukan puing yang tebal, mereka memasuki hutan perawan yang lebat yang diselimuti kabut tebal— awan terlihat mengelilingi puncak. Dengan menguatkan pijakan kaki mereka pada akar pohon dan batang pakis besar, mereka meraba-raba dari tangkai ke daun untuk menjaga keseimbangan, dengan jarak pandang yang terbatas kepada orang-orang yang berada tepat di depan dan di belakang mereka. Tiba-tiba, setelah satu jam pendakian yang lambat, melelahkan, namun tanpa gangguan ini, seorang prajurit NVA berdiri dan memanggil pengintai di depan Parkinson — seorang asli Montagnard bernama Dish — mengira dia adalah sesama prajurit NVA. Seketika menyadari kesalahannya, prajurit NVA itu berdiri kaget, dengan lengan di samping, mulut dan mata terbuka, ketika Dish dan Parkinson mengangkat senapan mereka dan menembaknya.

Sosok pasukan LRRP di Vietnam tahun 1969. (Sumber: https://id.pinterest.com/)

Tim Parkinson melakukan patroli lain di sekitar puncak, sementara dengan LZ sekarang sudah bisa beroperasi, ratusan helikopter pengintai, slick, gunships, dan CH-47 Chinook berbondong-bondong datang dari arah timur, sarat dengan pasukan. Mencapai puncak gunung yang telah diamankan pasukan Lurps, mereka diturunkan dan masuk ke dalam lembah untuk mencari dan menghancurkan pasukan musuh dengan kekuatan udara dan serangan infanteri yang luar biasa. Saat pertempuran besar dan kecil berkecamuk semakin jauh ke selatan, peluru-peluru pelacak (tracer) terlihat terbang di udara. Efektivitas tembakan antipesawat musuh terlihat jelas karena beberapa helikopter CH-54 Skycrane yang sangat besar dapat terlihat dari Signal Hill, kembali ke Camp Evans dengan satu atau dua helikopter hancur digantung di bawah mereka. Selama operasi, serangan udara dari pesawat-pesawat jet sering datang. Saat cuaca cerah, mereka menyerang posisi musuh di lembah dan lereng gunung, kadang-kadang mendesing tepat di atas kepala Lurps. Bom yang dijatuhkan pesawat-pesawat itu, bersama dengan peluru-peluru dari deretan meriam artileri, segera mengubah lembah hijau yang subur dan lereng bukit menjadi dataran yang dipenuhi kawah-kawah bekas bom. Menyaksikan semuanya dari puncak signal hill, personel Lurps dapat melihat dari bermil-mil di udara sejuk dan tipis, kapal-kapal perang yang berlayar 30 mil di timur Laut Cina Selatan hingga pegunungan hijau yang menjulang tinggi di Laos yang (seharusnya) netral, tujuh mil jauhnya.

Signal Hill. Cpt. Michael Gooding di sebelah kiri dekat radio. (Sumber: https://www.robertankony.com/)
Sgt. Douglas Parkinson di Signal Hill. (Sumber: https://www.robertankony.com/)
Helikopter kedua yang jatuh di Signal Hill yang menewaskan satu orang dan melukai dua orang lainnya. (Sumber: https://military.wikia.org/)

Serangan pembom-pembom B-52 dalam misi Arc Light diluncurkan beberapa kali setiap malam. Sel yang terdiri dari tiga pembom akan mendekati dari utara di sepanjang lembah pada ketinggian 30.000 kaki, dengan masing-masing pesawat membawa 84 bom berbobot 500 pon di dalam badan pesawat, dan 24 bom berbobot 750 pon di bawah sayap. Para pembom dapat dengan mudah dikenali dari lampu yang menyala, formasi V, dan dengung samar dari mesin mereka, tetapi pada saat musuh dapat mengidentifikasinya, mereka sudah terlambat untuk bisa lari. Ketika para pembom mencapai lembah, awan di bawah posisi puncak signal hill tiba-tiba mulai berkedip oranye terang saat tiga baris pembom bergabung untuk menjatuhkan bom terus menerus di dasar lembah dengan kecepatan 500 mil per jam. Dalam beberapa detik bumi bergetar di bawah kaki signal hill, diikuti oleh suara gemuruh dalam yang terdengar seolah-olah lembah itu sendiri sedang mengerang kesakitan. Pada hari-hari berikutnya, sebuah baterai artileri diangkut melalui udara di atas Signal Hill untuk mendukung pasukan infanteri di dasar lembah, dan sebuah helikopter lainnya jatuh di puncak gunung, baling-balingnya nyaris mengenai dua personel Lurps tetapi mematahkan kaki seorang prajurit dan menghancurkan yang lain.

Helikopter CH-54 Skycrane yang turut dilibatkan dalam Operasi Delaware. Skycrane beberapa kali digunakan untuk mengangkut helikopter-helikopter yang ditembak jatuh musuh. (Sumber: https://ar.pinterest.com/)
Armada B-52 turut digunakan dalam mendukung Operasi Delaware dengan melumatkan posisi-posisi musuh yang dicurigai. (Sumber: https://medium.com/)

OPERASI LANJUTAN

Di tempat lain, pasukan Air Cav masih membuat kemajuan. Pada tanggal 20 April Brigade ke-3, Kavaleri ke-1 terus dikerahkan, saat Batalyon 1, Resimen Kavaleri ke-7 bergerak ke tenggara sementara Batalyon ke-5, Kavaleri ke-7 bergerak untuk memblokir Rute 548 ke arah Laos. Kavaleri Batalyon ke-2 dari pasukan Kavaleri ke-7 mendarat lebih jauh ke bawah lembah. Saat Batalyon Lintas Udara ARVN ke-6 mendarat dengan helikopter di zona pendaratan 1/327 mereka segera diserang oleh pasukan PAVN. Di zona pendaratan asli di lembah utara, Brigade ke-3 terus membawa masuk perbekalan, dan prajurit artileri terus menjaga meriamnya “tetap panas”, menembakkan peluru ke posisi-posisi senjata musuh di pegunungan. Pada saat yang sama, Batalyon ke-1 dengan mantap melewati lumpur setinggi pergelangan kaki menuju A Luoi. Saat Operasi Delaware berlanjut, helikopter tidak bisa memenuhi kecepatan pemenuhan kebutuhan Brigade ke-3 di dasar lembah. Tolson tahu dia harus membawa amunisi dan peralatan yang lebih banyak, dan itu berarti dia perlu membuka kembali landasan udara A Luoi sehingga Angkatan Udara dapat mengatur zona penerjunan bagi pesawat-pesawat C-130 mereka. Pada tanggal 21 April unit Kavaleri terus bergerak maju lebih jauh ke dasar lembah, sementara Batalyon ke-2, Resimen Infantri 502 mendarat di dekat Firebase Veghel untuk mendukung satuan 1/327 dan Pasukan Lintas Udara ARVN ke-6. Hujan berhenti sekitar tanggal 23 April. Pada tanggal 24 April Batalyon 2 April, Kavaleri ke-8 mendarat 2 km di selatan Lapangan Udara A Lưới yang ditinggalkan untuk melancarkan serangan utama merebut dan mendirikan pangkalan di landasan udara.

Landasan darurat A Lưới di Lembah A Shâu. (Sumber: http://www.vnwarstories.com/)

Di sana Pasukan Kavaleri menemukan jaringan komunikasi dan banyak gudang pasokan musuh di daerah tersebut termasuk 3 senjata anti-pesawat kaliber 37mm. Batalyon ke-1 berhasil mencapai A Luoi, dan Tolson memanggil Batalyon ke-2 Kavaleri ke-7, Brigade ke-3. Brigade ke-1 Air Cav ke-1 untuk mendarat pada tanggal 25 April dan mengamankan landasan pacu. Detasemen zeni lalu tiba dan bekerja sepanjang malam hingga keesokan harinya untuk mempersiapkan bekas landasan pacu Prancis yang sudah tua agar bisa menerima pesawat kargo Angkatan Udara untuk pertama kalinya dalam dua tahun. Pada tanggal 25 April itu Letnan Satu James M. Sprayberry memimpin patroli dari Kompi D, Batalyon ke-5, Kavaleri ke-7 untuk menyelamatkan orang-orang yang terluka dan terputus dari kompi lainnya. Sprayberry secara pribadi membunuh 12 tentara PAVN dan menghancurkan 2 sarang senapan mesin, dia kemudian dipromosikan menjadi Kapten dan dianugerahi Medal of Honor atas aksinya. Sementara itu cuaca semakin buruk pada pagi hari tanggal 26, ketika helikopter-helikopter Chinook Angkatan Darat membawa tim pengawas angkutan udara Angkatan Udara ke A Luoi guna mendirikan zona penerjunan yang berdekatan dengan landasan pacu sampai lapangan udara dapat disiapkan untuk pendaratan. Dua belas misi C-130 Angkatan Udara akan memulai penurunan pasokan. Tiga C-130A dan lima C-130E akan dimuat di Cam Ranh, dan empat C-130B akan terbang dari Bien Hoa dekat Saigon. Pada siang hari, masing-masing dari 12 C-130 telah melakukan pengedropan, sementara beberapa telah melakukan pengedropan kedua dan beberapa sedang berada di darat di Da Nang untuk mengisi bahan bakar dan memuat ulang untuk misi kedua. 

Pengedropan di lembah A Shau dengan ditandai asap berwarna putih selama Operasi Delaware. (Sumber: http://www.vnwarstories.com/)

Dengan awan tebal menggantung rendah di, penerbangan dengan helikopter sulit dilakukan, tetapi lebih berbahaya lagi bagi pesawat kargo C-130 yang lamban. Pesawat-pesawat itu akan mendekat dari barat laut, terbang ke tengah lembah ke zona pengedropan dan kemudian terbang lagi dengan melakukan belokan ke kanan untuk mendaki, menurut laporan oleh Sam McGowan dalam “Trash Haulers: The Story of the C-130”. Dalam 5 mil di sebelah selatan landasan udara adalah puncak setinggi 6.800 kaki. Medan di utara naik sekitar 5.800 kaki, dan segera di barat laut landasan pacu itu naik hingga ketinggian 4.000 kaki. Mereka tidak bisa turun secara tiba-tiba melalui awan mendung seperti helikopter. Mereka harus masuk di bawahnya dan kemudian meluncur sejauh bermil-mil di atas tanah sebelum mereka mendarat, sementara penembak musuh menembaki mereka di sepanjang jalan. Menjelang sore, C-130 Angkatan Udara dijadwalkan untuk mulai mendarat dan mengirimkan ratusan ton material yang dibutuhkan pasukan AS saat mereka melanjutkan operasi di Lembah A Shau. Ini adalah operasi besar Angkatan Udara, dan Sheperd diperintahkan untuk berada di pesawat kargo pertama yang mendarat di landasan udara A Luoi sehingga ia dapat mewawancarai pasukan Kavaleri pertama tentang pentingnya misi pasokan ulang Angkatan Udara dan dukungan udara taktis. Sheperd meninggalkan Da Nang sekitar tengah hari untuk menaiki pesawat C-130B nomor 60-0298, tetapi dalam perjalanan ke terminal ia menyadari bahwa ia telah melupakan formulir izin wawancara personel kampung halaman, yang harus ditandatangani oleh tentara yang diwawancarai untuk memberi dia izin guna menggunakan nama mereka dalam siaran radio. Sheperd kembali ke kantor untuk mengambilnya dan ketinggalan pesawat. Sersan Joe Olexa, bos Sheperd, mengatakan kepadanya untuk naik C-130 berikutnya, yang akan berangkat beberapa jam lagi.

Foto C-130B Hercules menjelang jatuh ditembak artileri pertahanan udara NVA di lembah A Shau, 26 April 1966. (Sumber: http://www.vnwarstories.com/)
Hercules menjadi bola api raksasa saat menghantam tanah. (Sumber: http://www.vnwarstories.com/)

Sheperd lalu menerima kabar di Da Nang dua jam kemudian bahwa pesawat pertama yang dijadwalkan mendarat di Lembah A Shau — yang ia lewatkan — telah ditembak jatuh. Keenam awak dan dua fotografer tempur Angkatan Udara, yang juga dikirim untuk mendokumentasikan misi tersebut, tewas. Dari jumlah itu hanya 5 orang yang mayatnya dapat diselamatkan. Sekitar jam 3 sore, Sheperd naik C-130 lainnya menuju A Shau. Saat pesawat turun tajam ke lembah, secara berkala terlihat melalui lubang kaca kadang-kadang terlihat mendung, mau tidak mau Sheperd memikirkan penerbangan malang yang ia lewatkan hanya beberapa menit dan sangat lega ketika bisa mendarat dengan selamat. Hal itu memberinya ledakan energi, dan ia segera pergi mencari prajurit Air Cav pertama untuk diwawancarai. Sheperd menemukan seseorang sedang duduk di bunker memegang cermin kecil sambil mencukur dengan air dari helmnya. Sheperd mengejutkannya saat mendekat, menyebabkan prajurit itu melukai dagunya. “Sial,” katanya. “Maaf teman.” Sheperd memperkenalkan diri dan bertanya, “Apakah Anda tertarik direkam wawancara untuk stasiun radio di kampung halaman Anda?” “Tentu.” Segera setelah Sheperd meletakkan mikrofon ke depan mulut prajurit itu, dia mulai berbicara dengan bebas tentang C-130 yang telah ditembak jatuh. Dia mengatakan bahwa Air Cav ke-1 telah melakukan serangan terhadap posisi musuh di Gunung Ap Bia yang telah menjatuhkan pesawat Hercules itu, dan setelah beberapa jam pertempuran jarak dekat mereka berhasil merebut senjata/senjata anti-pesawat lawan. “Kalau tidak,” katanya, “pesawat yang Anda pakai hari ini mungkin telah ditembak jatuh juga.” Sheperd tidak pernah menceritakan pengalaman pribadinya pada prajurit itu, tetapi jika tidak karena beberapa dokumen yang terlupakan, ia akan ada dalam C-130 yang jatuh itu.

Truk buatan Russia yang dirampas kompi 1/8 Cav. (Sumber: http://www.vnwarstories.com/)

Selanjutnya, Sheperd mencari seorang perwira yang mungkin memberikan perspektif keseluruhan tentang Operasi Delaware. Kavaleri ke-1 — dengan bantuan dari Divisi Lintas Udara ke-101, Brigade Infanteri Ringan ke-196, dan pasukan Republik Vietnam — telah berhasil merebut kembali lembah tersebut. Sheperd kemudian berbicara dengan seseorang yang lebih dari bersedia untuk berbicara tentang operasi tersebut, yakni Kapten Rod Grannemann dari New Haven, Missouri, komandan Kompi D, Batalyon ke-2, Kavaleri ke-8, unit Air Cav pertama lainnya yang terlibat dalam Operasi Delaware. “Kami telah cukup berhasil dalam merampas beberapa perbekalan musuh, mungkin juga telah menemukan gudang senjata dan senjata terbesar dalam Perang Vietnam (sejauh ini),” katanya, mengacu pada spekulasi bahwa NVA telah menimbun senjata di Lembah A Shau untuk sebuah invasi terencana ke Selatan. “Timbunan senjata itu terdiri dari lebih dari 1.500 senapan, 20 atau 30 jenis amunisi, beberapa senjata anti-pesawat 37mm.” Pasukan Kavaleri ke-1 juga menemukan makanan, pakaian, obat-obatan, tempat penyimpanan bahan bakar, dan armada kecil truk buatan Soviet. Grannemann menambahkan bahwa “sekitar setengah dari senapan itu buatan Soviet.” Sementara itu sejumlah prajurit NVA yang tangguh yang masih di A Shau bertahan dengan kuat, dan upaya untuk mengusir mereka membutuhkan upaya yang terkoordinasi erat antara kekuatan udara taktis, pasukan infanteri, dan artileri. “Kinerja tim di Lembah A Shau ini mungkin yang terbaik yang pernah saya lihat dalam tur saya di Vietnam,” kata Grannemann. “Dukungan dari kekuatan udara taktis, dukungan tembakan jarak dekat yang kami dapatkan dari artileri organik kami sendiri, ditambah misi pasokan ulang yang dijatuhkan oleh armada C-130 benar-benar membuat kami tetap bisa bertahan di sini. Sebagian besar amunisi artileri datang melalui pengedropan dari udara. ” 

Pesawat-pesawat F-100 Super Sabre memberikan dukungan udara bagi pergerakan pasukan selama Operasi Delaware dalam menghantam posisi-posisi pasukan musuh. (Sumber: https://pixels.com/)

Dia menjelaskan rencana yang digunakan untuk membasmi pasukan musuh dengan korban minimal dan merebut senjata-senjata berat yang mereka jaga. “Awalnya, tentu saja, kami mengandalkan artileri kami,” kata Grannemann, “karena mereka benar-benar responsif — 30 detik hingga satu menit kami dapat menembakkan artileri di luar sana. Tapi tentu saja artileri ringan, kaliber 105 hingga kaliber 155 yang kami operasikan bersama kami di lembah ini, tidak dapat menembus struktur bunker pertahanan yang telah dibuat pihak musuh di sekitar tempat ini. ” Untuk menyelesaikan pekerjaan ini, dibutuhkan pesawat tempur yang membawa bom berbobot 500-, 750- dan 2.000-pon, katanya, menambahkan, “Orang-orang ini sangat luar biasa dalam memberikan dukungan mereka. Mereka menjatuhkannya tepat di tempat yang kita inginkan… dan sebagai hasilnya korban bisa dikurangi hingga jumlah yang sangat, sangat minimum. ” Jika pasukan Kavaleri ke-1 bertemu dengan kekuatan musuh yang besar, mereka akan mundur, memanggil lebih banyak serangan udara dan kemudian masuk kembali dan mencoba merebut wilayah itu, kata Grannemann. Misalnya, ketika menghadapi senjata berat dan timbunan senjata yang dijaga dengan ketat oleh pasukan musuh jadi “kami mendapat bantuan serangan udara demi serangan udara di sana yang dijalankan oleh pesawat-pesawat tempur F-100 dan F-4C,” katanya. “Orang-orang ini benar-benar menjatuhkan ‘muatannya’ tepat di tempat yang kami inginkan, dan ketika kami kembali ke sana sekitar empat hari kemudian kami tidak menemui perlawanan sama sekali.” 

Anggota Batalyon ke-2 Kavaleri ke-7 beristirahat setelah membongkar peralatan di Zona Pendaratan Pepper sambil menunggu helikopter transport yang akan membawa mereka kembali ke Camp Evans, 11 Mei 1968. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Grannemann kemudian melihat ke deretan salib kayu berwarna putih darurat yang melambangkan pasukan kavaleri yang gugur dari kompinya, dan dia menyatakan kekagumannya pada semangat korps mereka yang telah melakukan Operasi Delaware, bertentangan dengan apa yang dikatakan para pakar tentang moral rendah pejuang Amerika, terutama setelah Serangan Tet, yang mereka anggap sebagai kemenangan moral bagi pasukan Komunis. “Saya seorang prajurit artileri tua, dan saya dipindahkan ke satuan infanteri sekitar tujuh bulan yang lalu,” lanjut Grannemann. “Sejak saya menjadi komandan kompi, rasa hormat saya pada ‘Joe Snuffy,’ para PFC dengan senapannya (tumbuh), orang-orang (ini) yang benar-benar menanggung beban perang dan paling banyak memakan korban, telah menumbuhkan sesuatu yang luar biasa kuat. Orang-orang ini pergi ke sana dan bekerja keras sepanjang hari, hari demi hari, hari demi hari, mereka mempertaruhkan nyawanya 24 jam sehari. ” Dia melanjutkan: “Saya punya anak di kompi saya dari setiap lapisan masyarakat di Amerika Serikat. Saya punya anak yang tidak bisa membaca atau menulis, saya punya beberapa anak kaya, saya punya beberapa hippies, Anda tahu, cinta bebas dan tipe masyarakat bebas dari California, tetapi dalam hal kerja tim, orang-orang ini hanya memikirkan satu hal dan itu adalah untuk menyelesaikan misi kompi dan keluar dari semua ini hidup-hidup. ” Saat malam tiba, bersama dengan lebih banyak hujan, Sheperd meringkuk di tanah untuk tidur di luar bunker yang sudah terisi penuh. Ini adalah pertama kalinya ia kedinginan di Vietnam. Di tengah malam seseorang meletakkan jas hujan di atasnya, dan Sheperd bisa tidur nyenyak.

Pasukan Amerika mengevakuasi rekannya dalam Operasi Delaware. (Sumber: https://app.emaze.com/)

Keesokan paginya, suhu udara turun kembali ketika hujan berhenti sejenak, dan Sheperd terbang keluar lembah dengan helikopter ke Da Nang. Pesawat kargo pertama, C-7 Caribou, kemudian mendarat di A Lưới pada tanggal 2 Mei. Setelah perbaikan lebih lanjut pada lapangan terbang, C-130 Hercules lainnya mendarat pada tanggal 4 Mei. Saat Divisi Kavaleri ke-1 terus menyapu ke selatan melalui lembah, mereka terhubung dengan unit sekutu lainnya yang berfungsi sebagai pasukan pemblokiran dan menemukan sejumlah besar senjata, kendaraan, amunisi, dan beras. Cuaca lalu membaik selama beberapa hari ke depan, memungkinkan 100 pengedropan udara dilakukan. Kemudian pada tanggal 9 Mei, hujan lebat disertai guntur dan kilat kembali terjadi, memaksa Tolson menghentikan sementara operasi pasukannya di lembah tersebut. Pasukannya berdiam di bawah perlindungan apa pun yang dapat mereka temukan, dan landasan udara A Luoi perlahan mulai “terhanyut” di tengah hujan lebat. Para personel zeni bekerja dengan keras untuk menjaga agar landasan tetap terbuka, tetapi itu adalah pekerjaan yang mustahil. Pada tanggal 10 Mei, setelah hujan lebat seharian, Tolson mengakhiri Operasi Delaware dan memerintahkan penarikan mundur pasukannya. Proses ekstraksi pasukan AS dan ARVN dimulai pada tanggal 10 Mei. Pada tanggal 12 Mei Kavaleri 1/12 terhubung dengan pasukan Airborne ARVN yang bergerak di sepanjang Rute 547. Operasi secara resmi dihentikan pada tanggal 17 Mei.

PENILAIAN

Personel Lurps telah mempertahankan signal hill jauh di atas lautan awan yang luas selama hampir tiga minggu, menyediakan pangkalan pendukung penembakan yang vital dan situs relai radio bagi pasukan di dasar lembah untuk berkomunikasi dengan Camp Evans dan dengan pesawat-pesawat pendukung yang mendekat. Aksi mereka telah menyelamatkan banyak nyawa pasukan Amerika dan membantu memastikan keberhasilan Operasi Delaware dengan memungkinkan serangan udara dan awak di darat saling berkoordinasi, serangan artileri dapat datang tepat waktu, dan dilaksanakannya operasi penyelamatan dari udara bagi pasukan infanteri dan awak pesawat yang terluka. Sementara itu meskipun Westmoreland menganggap operasi itu berhasil, beberapa orang mungkin mempertanyakan kebijaksanaan melancarkan serangan yang membutuhkan dukungan udara substansial pada permulaan musim hujan ketika pendaratan pesawat kargo melalui langit mendung ke landasan udara dari tanah akan sulit dilakukan. Mungkin pikirnya bahwa pasukan Air Cav ke-1, dengan kemampuannya untuk melakukan serangan kilat, dapat menyelesaikan pekerjaannya sebelum musim hujan datang — dan sebagian besar pasukannya benar-benar melakukannya.

April / Mei 1968, A Shau Valley – Senjata anti-pesawat 37mm dan truk milik pasukan komunis yang berhasil dirampas selama Operasi Delaware. (Sumber: https://www.militaryimages.net/)

Pihak NVA kehilangan lebih dari 800 orang tewas, sebuah tank PT-76, 70 truk, dua buldoser, senjata penyembur api, ribuan senapan dan senapan mesin, dan puluhan meriam antipesawat (diantaranya setidaknya 315 senapan K-44 buatan Soviet, sebuah peluncur mortir 60 mm, 36 pendeteksi ranjau buatan Soviet, 60 senjata flame-throwers, 200+ chicom protective masks, 225 pon peralatan medis, 600 roket kaliber 122 mm, 100 pon dinamit, 6 ton of beras, 60 kotak berisi daging kaleng, 70 peluru anti pesawat kaliber 37 mm dan 3 peluncur roket B-40). Pihak musuh juga kehilangan berton-ton amunisi, bahan peledak, persediaan medis, bahan makanan, dan dokumen. Tetapi di pihak Amerika dan sekutunya mereka menderita 130 anggotanya gugur dari total 142 kematian diantara tentara AS dan Vietnam Selatan dalam operasi itu, serta 530 lainnya luka-luka. Meskipun ratusan serangan B-52 dan serangan udara dari jet diluncurkan untuk menghancurkan jaringan sistem antipesawat musuh yang paling canggih yang pernah terlihat di wilayah Vietnam Selatan, namun kerugian helikopter yang mereka derita berjumlah hingga dua lusin Huey, dua Chinook dan satu Sikorsky CH-54 Skycrane, sedangkan satu pesawat angkut C-130 Hercules juga berhasil ditembak jatuh. Banyak yang lain rusak atau hancur akibat kecelakaan. Cuaca buruk menambah kerugian dengan menyebabkan penundaan pergerakan pasukan, yang memungkinkan sejumlah besar pasukan NVA melarikan diri ke tempat yang aman di Laos. Meski demikian dapat dikatakan bahwa Operasi Delaware mampu membuat musuh mundur cukup banyak di Lembah A Shau sehingga pasukan Amerika dan Vietnam Selatan mampu mengalahkan mereka di sana hampir satu tahun kemudian dalam pertempuran berdarah dan banyak memakan korban di Ap Bia, yang kemudian dikenal sebagai bukit Hamburger Hill.

Pasukan Kavaleri Udara dalam Operasi Delaware. Strategi perang atrisi dalam Operasi ini kemudian diperdebatkan apakah bijaksana untuk dilakukan. (Sumber: https://www.militaryimages.net/)

Sementara itu seminggu setelah meninggalkan A Shau (setelah Operasi Delaware), asisten ketua tim Sersan Parkinson, Bob Whitten, tewas dalam penugasan. Tiga personel Lurps lainnya dari pasukan penyerang Signal Hill juga tewas, dan Sersan Curtis kehilangan satu mata dalam ledakan granat. Sersan Parkinson akhirnya kembali ke Amerika dan bekerja sebagai spesialis ikan dan satwa liar, Letnan Dilger pulih dari lukanya dan menjadi anggota Pasukan Khusus, Kapten Gooding dipromosikan menjadi mayor dan ditugaskan ke Komando Peperangan Khusus, dan Kompi E, Infanteri ke-52 (LRP), yang dibentuk ulang sebagai Kompi H, Infanteri ke-75 (Ranger). Mayor Jenderal Tolson, kemudian menyimpulkan mengapa begitu banyak pasukan NVA dapat melarikan diri ke tempat yang aman di Laos meskipun ia memiliki kekuatan mobil udara besar dalam divisinya, dengan mengatakan: “Menurut catatan Prancis lama, bulan April seharusnya menjadi bulan terbaik dalam hal cuaca di Lembah A Shau. Ternyata, bulan Mei cuacanya jauh lebih baik –– tetapi Anda tidak mungkin memprediksi semuanya. ” Pelajaran itu lalu digunakan dengan baik-baik oleh Divisi Lintas Udara ke-101. Pada bulan Mei 1969, mereka menyerbu Gunung Dong Ap Bia, yang dikenal sebagai Hamburger Hill, di seberang lembah dari Signal Hill. NVA kalah juga dalam pertempuran itu, namun mereka kembali untuk merebut lembah A Shau setelahnya, yang memicu kritikan terhadap taktik tempur pasukan Amerika. Namun di satu sisi jelas bahwa sekutu tidak memiliki cukup personel untuk mengamankan semua wilayah perbatasan terpencil di Vietnam Selatan –– yang dua kali lebih panjang dari parit di Prancis selama Perang Dunia I, yang diawaki oleh jutaan pasukan. Bahkan dengan batasan itu, divisi kavaleri pertama dan 101st Airborne menunjukkan bahwa sebuah unit tempur tidak perlu bermarkas di daerah pedalaman untuk bisa beroperasi dan menghancurkan pasukan musuh di tempat seperti itu. Seperti yang dikatakan, Mayor Jenderal John Wright, komandan Divisi Lintas Udara ke-101 setelah kemenangan yang mahal di Hamburger Hill, berpendapat bahwa tidak ada yang bisa diperoleh dengan menduduki bukit dan menempatkan batalion-batalionnya dalam peran bertahan. Dia kemudian memerintahkan pasukan AS untuk mundur, dan NVA kembali menempati Ap Bia sekali lagi.  Perang berlarut yang membuat frustrasi terus berlanjut di Lembah A Shau. Dan masalah serta dilema yang berputar serta berulang tanpa ada solusi pasti itu terus berlanjut di Vietnam hingga pasukan Amerika pergi tahun 1973.

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

A Valley Soaked in Rain & Blood by Mike D. Shepherd

Operation Delaware by Robert C. Ankony, PhD, is a sociologist and the author of Lurps: A Ranger’s Diary of Tet, Khe Sanh, A Shau, and Quang Tri, revised ed. (Lanham, MD: Hamilton Books, 2009)

https://www.robertankony.com/publications/operation-delaware

A Shau Valley Operation Delaware

https://www.c1-8cav68.org/ashauvalley.html

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Operation_Delaware

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *