Operasi Eagle Pull, 12 April 1975: Evakuasi Terakhir Dari Phnom Penh Sebelum Masuknya Gerilyawan Khmer Merah

Operasi Eagle Pull adalah evakuasi militer Amerika Serikat melalui udara di Phnom Penh, Ibu Kota Kamboja, pada tanggal 12 April 1975. Pada awal bulan April 1975, kota Phnom Penh, adalah salah satu benteng pertahanan terakhir yang tersisa dari Republik Khmer, yang dikepung oleh Khmer Merah dari berbagai penjuru. Pada saat itu keberlangsungan kehidupan di kota itu sepenuhnya bergantung pada pasokan udara melalui Bandar Udara Pochentong. Dengan kemenangan Khmer Merah yang sudah mendekat, pemerintah AS membuat rencana darurat untuk melakukan evakuasi warga negara AS dan sekutu Kambojanya dengan menggunakan helikopter untuk kemudian dibawa ke kapal-kapal yang berlayar di Teluk Thailand. Operasi Eagle Pull dilaksanakan pada pagi hari tanggal 12 April 1975 dan merupakan operasi militer taktis yang sukses dilaksanakan tanpa adanya korban jiwa. Lima hari kemudian Republik Khmer jatuh dan Khmer Merah menduduki Phnom Penh.

Five days after Operation Eagle Pull, the dramatic evacuation of Americans, the U.S.-backed government fell as communist Khmer Rouge guerrillas stormed into Phnom Penh. Ambassador Dean steps off an HMH-462 CH-53 at U-Tapao on the afternoon of 12 April.

PENGEPUNGAN PHNOM PENH

Pada awal tahun 1975, Republik Khmer, sebuah pemerintahan militer yang didukung  oleh Amerika Serikat, hanya menguasai daerah Ibu Kota Phnom Penh dan serangkaian kota di sepanjang Sungai Mekong yang menyediakan rute pasokan penting untuk makanan dan munisi yang datang dari wilayah Vietnam Selatan. Pihak gerilyawan Komunis Khmer Merah telah menguasai 80% wilayah Kamboja, meski hanya berkuasa atas 20% populasi di negara itu. Sebagai bagian dari serangan musim kemarau pada tahun 1975, Khmer Merah memperbaharui serangan mereka ke arah Phnom Penh, dengan memutuskan untuk memotong rute pasokan penting dari Vietnam Selatan yang melewati Sungai Mekong. Pada tanggal 12 Januari 1975, Khmer Merah menyerang kota Neak Luong, sebuah pos pertahanan defensif Khmer National Armed Forces (FANK) di tepi sungai Mekong. Pada tanggal 27 Januari, tujuh kapal dengan tertatih-tatih berhasil masuk Phnom Penh, mereka adalah yang tersisa dari konvoi 16-kapal yang diserang sepanjang jalur sejauh 100 kilometer (62 mil) perjalanan dari perbatasan Vietnam Selatan. Dalam perang di Kamboja pihak Khmer Merah biasa menempatkan senapan mesin berat caliber 12.7 mm dan regu-regu pembawa peluncur roket RPG di sepanjang tepian Sungai Mekong untuk menggasak kapal-kapal pembawa pasokan logistik bagi pemerintah Kamboja. Pada tanggal 3 Februari sebuah konvoi menuju hilir menghantam ranjau-ranjau laut yang diletakkan oleh gerilyawan Khmer Merah di Phu My sekitar 74 kilometer (46 mil) dari Phnom Penh. Cabang angkatan laut dari FANK, yakni Angkatan Laut Nasional Khmer (MNK), memiliki kemampuan menyapu ranjau, tetapi karena kontrol Khmer Merah di wilayah itu, upaya penyisiran ranjau sungai tidak mungkin dilakukan atau mereka harus membayar mahal jika berani melakukannya. Sejauh ini MNK telah kehilangan hampir seperempat dari armada kapalnya, sementara 70 persen pelautnya telah terbunuh atau terluka.

Jalur transport sungai dari Saigon menuju Phnom Penh.
Tentara Kamboja, menjaga tepian sungai Mekong pada tahun 1974. Jalur Mekong merupakan jalur sungai strategis yg amat penting bagi kelangsungan hidup republik Kamboja, karena digunakan sebagai jalur suplai makanan dan amunisi dari Saigon, Vietnam Selatan menuju ke ibukota Phnom Penh.
Pada awal tahun 1975, kekuasaan Republik Kamboja terus berkurang, sementara ibukota Phnom Penh terkepung oleh Khmer Merah dari segala penjuru.

Pada tanggal 17 Februari, Republik Khmer telah meninggalkan semua upaya untuk membuka kembali jalur pasokan Sungai Mekong. Untuk selanjutnya, semua pasokan menuju ke Phnom Penh harus diangkut melalui udara ke Bandar Udara Pochentong. Melihat hal ini, Amerika Serikat dengan cepat memobilisasi pengangkutan makanan, bahan bakar dan amunisi ke Phnom Penh, akan tetapi karena dukungan AS untuk Republik Khmer telah dibatasi oleh peraturan Case-Church Amandment (efektif sejak bulan Juni 1973), BirdAir, sebuah perusahaan swasta dikontrak oleh Pemerintah AS, untuk mengontrol “airlift” dengan armada campuran pesawat-pesawat C-130 Hercules dan DC-8, yang terbang sebanyak 20 kali sehari ke Pochentong. Pada tanggal 5 Maret, artileri Khmer Merah di Toul Leap, barat laut Phnom Penh, menembaki Pochentong Airport, akan tetapi pasukan FANK berhasil merebut kembali Toul Leap pada tanggal 15 Maret dan menghentikan penembakan artileri lebih lanjut. Meski demikian pasukan Khmer Merah terus mendekat dari arah utara dan barat kota dan dengan segera bisa kembali menembaki Pochentong lagi. Pada tanggal 22 Maret, roket menghantam dua pesawat pembawa pasokan, sehingga memaksa Kedutaan AS untuk mengumumkan pada tanggal 23 Maret penangguhan pengangkutan udara lanjutan sampai situasi keamanan membaik. Pihak Kedutaan Besar, kemudian menyadari bahwa Republik Khmer akan segera runtuh jika pasokan dihentikan, dan dengan segera membatalkan penangguhan pada tanggal 24 Maret serta meningkatkan jumlah pesawat yang tersedia untuk melakukan pengangkutan udara. Pada tanggal 1 April, Gerilyawan Khmer Merah menyerbu Neak Luong dan Ban-am, posisi pertahanan FANK terakhir yang tersisa di tepi Sungai Mekong. Pasukan Komunis sekarang dapat memusatkan semua kekuatan mereka ke kota Phnom Penh. Sementara itu Perdana Menteri Lon Nol mengundurkan diri hari itu juga dan pergi ke pengasingan, dengan ini keruntuhan Republik Khmer sudah dekat.

PERENCANAAN

Rencana evakuasi dari Phnom Penh telah dikembangkan dan disempurnakan oleh Militer AS jika sewaktu-waktu pasukan Khmer Merah mendekati Phnom Penh. Rencana itu ternyata sudah mulai dibuat sejak tanggal 13 April tahun 1973. Pada tanggal 27 Juni 1973, Angkatan Udara Ketujuh menerbitkan Rencana Kontinjensi 5060C “Eagle Pull” yang mencakup evakuasi kota Phnom Penh. Conplan 5060C itu memiliki tiga opsi, sebagai berikut:  

Opsi 1: evakuasi personel Kedutaan, warga AS dan orang-orang Kamboja yang dipilih dengan menggunakan angkutan udara sipil biasa atau sewaan dari Bandara Pochentong.

Opsi 2: jika serangan Khmer Merah membuat penerbangan sipil dari Bandara Pochentong tidak dapat dilakukan, polisi keamanan dari Skuadron Polisi Keamanan ke-56 di Pangkalan Angkatan Udara Kerajaan Thailand Nakhon Phanom akan diterbangkan untuk memberikan pengamanan bagi evakuasi sekitar 600 personil Kedutaan, warga negara AS dan orang Kamboja yang terpilih dengan diangkut dengan menggunakan pesawat sayap tetap USAF (dan helikopter CH-53 dan HH-53 jika diperlukan).

Opsi 3: jika Pochentong aksesnya tertutup karena kemacetan, Skuadron Polisi Keamanan ke-56 akan mendarat di zona pendaratan (LZ) di pusat Phnom Penh (dan kota-kota lain jika diperlukan) untuk digunakan oleh helikopter CH-53 dari Skuadron Operasi Khusus ke-21 dan helicopter HH- 53 dari 40th Aerospace Rescue and Recovery Squadron, sementara misi udara akan dilakukan oleh pesawat C-130 King dari 56th Aerospace Rescue and Recovery Squadron.

HH-53 Super Jolly Green Giant dipilih sebagai armada helikopter angkut dalam Operasi Eagle Pull selain karena memiliki lapisan armor yang cukup juga memiliki perangkat pengisian bahan bakar di udara sehingga mampu beroperasi dalam jarak jauh.
CH-53 C juga dipilih karena memiliki tanki bahan bakar eksternal dan punya daya angkut besar.
Helikopter medium type CH-46 Sea Knight USMC dicoret dari armada evakuasi karena tidak memiliki jangkauan cukup untuk pulang pergi.

Opsi 3 kemudian direvisi dengan menggunakan helikopter USMC bersama dengan helikopter USAF dan pesawat C-130 yang berbasis di Thailand, sementara untuk pengamanan di darat akan dilakukan oleh marinir menggantikan rencana penggunaan polisi keamanan angkatan udara. Lokasi LZ diputuskan harus bersebelahan dengan Kedutaan Besar AS di Phnom Penh, untuk mempercepat proses dan memperkecil risiko selama evakuasi. Helikopter berat HH-53 Jolly Green Giant dipilih karena memiliki lapisan armor yang lebih kuat dibanding CH-53 dan memiliki perangkat pengisian bahan bakar di udara, sementara CH-53 seri C milik USAF dilengkapi dengan tangki bahan bakar eksternal sehingga memiliki jarak jangkau lebih jauh dari seri sebelumnya. Opsi penggunaan helicopter yang lebih kecil, seperti helicopter medium CH-46 dikesampingkan karena keterbatasan kapasitas bahan bakarnya tidak akan memampukan helikopter melakukan perjalanan pulang pergi dari lokasi yang direncanakan.

HMH-462 helicopters and Operation Eagle Pull evacuation fleet

Pada tanggal 6 Januari 1975, CINCPAC (komando wilayah Pasifik) AL Amerika menempatkan Unit Amfibi Marinir ke-31 dalam kondisi siaga 96 jam dan memindahkan armada evakuasi ke posisi di luar Kampong Som (sebelumnya Sihanoukville) di Teluk Thailand untuk persiapan pelaksanaan Operasi Eagle Pull. Pada 6 Februari waktu reaksi dikurangi menjadi 48 jam, yang berarti bahwa armada evakuasi harus berada dalam radius jelajah 48 jam dari Kampong Som. Waktu reaksi makin dikurangi pada tanggal 28 Februari hingga 24 jam, yang secara efektif berarti bahwa armada harus segera berada di wilayah Teluk Thailand. Pada tanggal 21 Maret, pihak Kedutaan Amerika memperkirakan bahwa akan ada 3.600 pengungsi, jauh melebihi perkiraan awal sekitar 400 orang. Hal ini mengharuskan dilakukannya pengembangan rencana evakuasi baru dimana pihak Marinir akan mengamankan Bandara Pochentong, sementara helikopter akan membawa pengungsi yang akan dievakuasi, dari pusat Phnom Penh ke Pochentong dari mana mereka akan diterbangkan dengan pesawat C-130 ke Thailand. Namun, rencana ini dengan cepat berubah karena pesawat C-130 yang datang membawa pasokan ke Pochentong digunakan untuk evakuasi pada perjalanan pulangnya, sehingga mengurangi jumlah pengungsi yang perlu dipindahkan dalam evakuasi akhir.

Tim Komando evakuasi yang bertugas memandu proses pengangkutan pengungsi.

Pada tanggal 3 April, dengan semakin memburuknya pertahanan di sekitar Phnom Penh, Duta Besar John Gunther Dean meminta pengiriman Tim yang terdiri dari 10-orang untuk mengkoordinasikan Operasi Eagle Pull, yang kemudian mendarat di Bandara Pochentong dengan pesawat BirdAir C-130. Tim ini kemudian mengawasi evakuasi lebih dari 750 orang kamboja selama 7 hari kedepan, dengan menggunakan pesawat, evakuasi berlangsung ditengah hujan tembakan sekitar 80-90 peluru artileri 105 mm dan tembakan roket 107 mm setiap harinya. Pada tanggal 10 April tembakan artileri Khmer Merah telah menjadi begitu intens, sehingga evakuasi dengan menggunakan pesawat biasa harus diakhiri. Kelompok komando  evakuasi kemudian mengalihkan perhatiannya dengan mulai memilih zona pendaratan helikopter untuk evakuasi. Ketika Khmer Merah menguasai tepi timur Sungai Mekong di seberang Phnom Penh, tim ini kemudian memilih LZ Hotel, sebuah lapangan sepak bola sekitar 900 meter (3.000 kaki) di timur laut kedutaan. Tersembunyi dari arah sungai oleh sederetan bangunan apartemen, LZ ini relatif aman dari ancaman tembakan langsung senjata musuh, menjadikannya sebagai lokasi teraman untuk digunakan sebagai tempat. Staf kedutaan siap berangkat pada tanggal 11 April, tetapi evakuasi lalu ditunda hingga keesokan harinya untuk memungkinkan USS Hancock bergabung dengan armada evakuasi di Kampung Som.

ARMADA EVAKUASI

Pada tanggal 3 Maret 1975 Amphibious Ready Group Alpha (Kelompok Tugas 76.4), dan Unit Amfibi Laut 31 (Kelompok Tugas 79,4) mulai menempati lokasi yang ditunjuk di luar Kampong Som di Teluk Thailand, armada laut tersebut terdiri dari:

Task Group 76.4 (Movement Transport Group Alpha)

USS Okinawa yang membawa kesatuan HMH-462 terdiri dari armada helikopter sebanyak 14 CH-53, 3 CH-46, 4 AH-1J, dan 2 UH-1E

USS Vancouver

USS Thomaston

Kapal-kapal escort yang siap memberi dukungan tembakan pengawalan, dan pertahanan wilayah:

USS Edson

USS Henry B. Wilson

USS Knox

USS Kirk

Armada evakuasi: USS Okinawa
Armada Evakuasi: USS Edson
Armada evakuasi: USS Kirk
Armada evakuasi: USS Henry B Wilson
Armada Evakuasi: USS Knox
Armada Evakuasi: USS Thomaston

Pada tanggal 17 Maret, Kepala Staf Gabungan, khawatir bahwa satu skuadron helikopter Marinir tidak cukup untuk evakuasi, memerintahkan agar USS Hancock menurunkan semua armada pesawat sayap tetapnya dan segera berlayar ke Pearl Harbor. Pada 26 Maret Helikopter Pengangkut dari  HMH-463 yang terdiri dari helikopter 25 helikopter CH-53, CH-46, AH-1J dan UH-1E mulai hinggap di USS Hancock dan melanjutkan pelayaran ke Subic Bay. Setelah mengambil lebih banyak helikopter di Subic Bay, USS Hancock untuk sementara ditugaskan ke Amphibious Ready Group Bravo, yang ada di lepas pantai Vung Tau, Vietnam Selatan, tetapi pada tanggal 11 April ia bergabung dengan Amphibious Ready Group Alpha di Teluk Thailand. Kontingen evakuasi laut ini terdiri dari satu tim pendarat batalyon, Batalion ke-2, Marinir ke-4 (2/4). Dikarenakan Khmer Merah tidak memiliki angkatan udara dan hanya memiliki kemampuan anti-pesawat yang terbatas, sehingga air cover dari angkatan laut tidak diperlukan, tetapi evakuasi akan didukung oleh pesawat-pesawat USAF yang berbasis di Thailand. Karena diduga Khmer Merah mungkin memiliki rudal anti pesawat SA-7 yang dapat diluncurkan dari bahu, maka helikopter yang digunakan untuk evakuasi diberi cat yang mengurangi deteksi infra merah dan dilengkapi dengan dispenser suar ALE-29.

EVAKUASI

Pada sore hari tanggal 11 April 1975, MAU ke-31 menerima perintah untuk melaksanakan Operasi Eagle Pull. Pada pukul 06:00 tanggal 12 April, 12 helikopter CH-53 dari HMH-462 diluncurkan dari dek USS Okinawa dan kemudian dengan Interval 10 menit berangkat lagi untuk membawa personel satuan marinir mereka. Unsur-unsur dari kompi F dan H, serta grup komando evakuasi mulai berangkat dari USS Okinawa, sementara unsur-unsur kompi G menaiki helikopter mereka di USS Vancouver, memberikan total pasukan keamanan darat yang dikerahkan sebanyak 360 Marinir. Ketika helikopter selesai memuat marinir, mereka kemudian membentuk kelompok-kelompok masing-masing tiga helikopter. Pukul 07.30 Duta Besar memberi tahu Kepala Negara Kamboja, Perdana Menteri Long Boret (yang baru saja pulang dari kunjungan di Indonesia), dan para pemimpin Kamboja lainnya termasuk Pangeran Sisowath Sirik Matak, bahwa personel AS akan secara resmi meninggalkan negara itu dalam beberapa jam ke depan dan bertanya apakah ada diantara mereka yang ingin ikut dievakuasi, jika ada yang ingin di evakuasi mereka harus berada di kedutaan pada pukul 09:30. Semua menolak kecuali Saukham Khoy, penerus Lon Nol sebagai Presiden Republik Khmer, yang pergi tanpa memberitahu rekan-rekan pemimpin lainnya. Pangeran Sirik Matak, mantan Perdana Menteri dan tokoh utama di belakang pembentukan Republik Khmer, yang mengkudeta Pangeran Sihanouk 5 tahun sebelumnya menolak tawaran evakuasi dan mengatakan kepada Duta Besar Dean bahwa “Saya telah melakukan kesalahan ini karena mempercayai Anda, orang Amerika.” Saat-saat kritis ini merupakan masa-masa yang paling tragis dalam kehidupan Duta Besar Dean, yang akan terus diingat hingga masa tuanya. Dalam kenangannya kemudian, Dubes Dean merasa gagal dalam menjalankan tugasnya di Kamboja dan dalam upaya mengevakuasi sebanyak mungkin orang Kamboja dari petaka. Namun para pengamat menilai bahwa Dean dalam menjalankan tugasnya tidak pernah mendapatkan cukup dukungan dari Presiden Nixon dan Kissinger, yang ingin agar Amerika segera angkat kaki dari Indochina.

Armada Helikopter diatas USS Okinawa.
General Saukham Khoy, acting President of the Khmer Republic (1975). Saukham ikut evakuasi tanpa memberi tahu koleganya, nyawanya selamat. Saukham menggantikan Jenderal Lon Nol yang mengungsi ke Indonesia atas undangan Presiden Soeharto.
Sisowath Sirik Matak, menumpahkan kekecewaannya karena mempercayai Amerika dengan menolak untuk dievakuasi. Sirik matak dieksekusi oleh Khmer Merah dengan tembakan di perut dan dibiarkan hingga mati 3 hari kemudian.

Kembali ke jalannya evakuasi, 10 orang dari komando evakuasi melanjutkan untuk mengendarai kendaraan ke LZ Hotel, dan dengan sengaja merusak kendaraan mereka untuk memblokir akses kendaraan dari setiap bagian kota, selain dari jalan dari Kedutaan menuju LZ. Kelompok komando kemudian melanjutkan untuk melakukan kontak dengan King Bird, pesawat HC-130 dari 56th Aerospace Rescue and Recovery Squadron, yang mengorbit, dan akan mengontrol proses pendaratan helikopter. Pada pukul 07:43 kelompok helikopter pertama melintasi garis pantai Kamboja dan sekitar satu jam kemudian, setelah melintasi 160 kilometer (99 mil) dari wilayah penuh musuh, gelombang awal helikopter evakuasi mendarat di LZ Hotel dan Marinir dengan cepat membentuk garis pertahanan. Kerumunan besar orang Kamboja segera berkumpul, mereka lebih sekedar ingin tahu daripada ingin ikut campur, beberapa bersorak dan melambai-lambaikan tangan, seolah mereka tidak menyadari malapetaka apa yang akan mereka alami kemudian. Kebanyakan dari warga Kamboja umumnya berpikir dan berharap bahwa dengan kemenangan Khmer Merah, mereka akan dapat kembali ke kehidupan normal.

Map of Operation Eagle Pull evacuation sites showing the Embassy and LZ Hotel
Helikopter HH-53 di LZ Hotel
U.S. Marines of BLT 2/4 deploy at “LZ Hotel”. Sikorsky CH-53 Sea Stallions of Heavy Marine Helicopter Squadron HMH-463 from the U.S. Navy aircraft carrier USS Hancock (CVA-19) are overhead.

Setelah membangun pertahanan perimeter, para marinir mulai menghalangi kerumunan massa  yang mendekat untuk menjaga LZ tetap aman dan kemudian mulai memindahkan kelompok-kelompok pengungsi ke helikopter CH-53 yang menunggu. Karena LZ Hotel hanya dapat menampung tiga helicopter CH-53 setiap saat, penerbangan yang tiba setelah armada pertama harus didaratkan di Point Oscar, sekitar 50 kilometer (31 mil) selatan Phnom Penh sampai dipanggil kembali oleh “King Bird”. Evakuasi berjalan dengan lancar meskipun jumlah pengungsi secara substansial kurang dari yang diperkirakan. Perkiraan terakhir menunjukkan akan ada 590 pengungsi, 146 warga negara AS dan 444 warga Kamboja dan warga negara lain. HMH-462 kemudian hanya mengevakuasi 84 warga negara AS dan 205 warga Kamboja dan warga negara lainnya. Pada pukul 09:45, Kedutaan Besar AS di kamboja ditutup, Dubes John Gunther Dean pergi dievakuasi dengan membawa bungkusan plastik yang berisi bendera Amerika yang dikibarkan di kedubes. Kemudian tidak akan ada lagi hubungan diplomatik antara AS dan Kamboja sampai hubungan dibuka kembali pada tanggal 11 November 1991. Pada pukul 10:41 semua pengungsi termasuk Duta Besar Dean dan Presiden Saukham Khoy telah diangkut oleh helikopter dari HMH-462. Helikopter HMH-463 yang beroperasi dari USS Hancock kemudian mulai mendarat untuk mengekstraksi pasukan keamanan darat.

U.S. Marines come under Khmer Rouge fire while they were on the ground near the U.S. embassy during Operation Eagle Pull which evacuated American and embassy personnel in Phnom Penh, Cambodia, on April 12, 1975.
Marinir Amerika berjaga di sekitar kota Phnom Penh, pagi hari 12 April 1975 jelang Operasi Eagle Pull.
U.S. Ambassador to Cambodia John Gunther Dean carries the American flag from the U.S. Embassy in Cambodia as he arrives at Utapao Air Force Base in Thailand following the evacuation from Phnom Penh by helicopter and aircraft carrier.
Phnom Penh dari jendela helikopter Amerika selama Operasi Eagle Pull.

Satu jam kemudian, sekitar pukul 10:50, tembakan roket 107 mm mulai berjatuhan di sekitar LZ Hotel. Kurang dari 10 menit kemudian, LZ juga menerima tembakan mortir 82 mm. Segera setelah tembakan Khmer Merah dimulai, para pengendali udara di zona itu memberi tahu Pesawat Pengendali Udara Garis Depan Angkatan Udara (FAC)  yang terbang diatas Phnom Penh dari Skuadron Dukungan Udara Taktis ke-23, yang menggunakan pesawat OV-10 Bronco. Bronco FAC ini  segera terbang rendah melewati tepi timur Mekong, tetapi tidak bisa melihat asal tembakan artileri musuh di wilayah itu. Pada 10:59, elemen terakhir dari Batalion ke-2 Marinir ke-4 meninggalkan zona tersebut dan helikopter marinir terakhir mendarat di USS Okinawa pada pukul 12:15. Pada pukul 11:15, dua Heli Super Jolly Green Giants HH-53 USAF, dari 40th Aerospace Rescue and Recovery Squadron, sesuai jadwal, mengekstraksi Tim Komando evakuasi Eagle Pull. Tembakan senjata api ringan selama proses ekstraksi akhir awalnya hanya menyebabkan kerusakan minimal pesawat, tapi peluru senapan mesin 12,7 milimeter (0,50 inci) menghantam rotor ekor helikopter kedua saat terbang keluar dari zona itu. Meskipun helikopter mengalami getaran berat selama terbang, namun akhirnya berhasil kembali ke Pangkalan Udara Ubon di Thailand. Pada pukul 14:50 sebuah helicopter CH-53 dari HMH-462 diluncurkan dari USS Okinawa untuk membawa Duta Besar Dean ke Pangkalan Udara U-Tapao di Thailand. Pada tanggal 13 April, para pengungsi diterbangkan ke Pangkalan Udara U-Tapao di Thailand dengan helikopter HMH-462 dan Amphibious Ready Group Alpha melanjutkan pelayaran mereka ke Laut Cina Selatan untuk bertemu dengan Satuan Tugas 76 dan bersiap untuk melaksanakan Operasi Frequent Wind, yakni operasi evakuasi dari Saigon.

KISAH AKHIR

Henry Kissinger mencatat dalam memoarnya tentang Perang Vietnam bahwa Administrasi Pemerintahan Ford tercengang dan merasa malu oleh fakta bahwa pejabat tinggi Kamboja menolak meninggalkan negara itu. Mereka ini, termasuk Perdana menteri Long Boret dan Lon Non, saudara Perdana Menteri, keduanya sebelumnya telah ada dalam daftar target eksekusi Khmer Merah. Pada tanggal 17 April 1975, gerilyawan Khmer Merah memasuki Phnom Penh dan mengakhiri Perang Sipil Kamboja. Long Boret, Lon Non dan pejabat tinggi lainnya dari Pemerintah Republik Khmer dieksekusi di Circle Sportif, sementara pasukan FANK di kota Phnom Penh dilucuti, dibawa ke Stadion Olympic dan dieksekusi. Kemudian tidak lama setelah menguasai kota, Khmer Merah memerintahkan semua warga Phnom Penh untuk meninggalkan kota dibawah ancaman senjata menuju ke kawasan pedesaan dengan alasan kota Phnom Penh akan dibom oleh pesawat-pesawat B-52 Amerika. Kamboja kini memasuki masa kegelapannya, dimana dalam prosesnya 2 juta orang (sekitar 1 dari 4 orang populasi kamboja saat itu) akan meninggal dunia karena aksi brutal Khmer Merah. Di pihak lain, untuk Batalyon ke-2 Marinir ke-4 dan Amfibi Group Ready Alpha, Operasi Eagle Pull berfungsi sebagai gladi resik skala kecil untuk Operasi Frequent Wind yang lebih kompleks dan dilaksanakan 17 hari kemudian di Saigon. Operasi Eagle Pull kemudian memang ditakdirkan  untuk menjadi momen yang terlupakan ditutupi oleh liputan luas proses evakuasi di Saigon yang ikonik kurang lebih 2 minggu setelah evakuasi di Phnom Penh. Suatu kenyataan tragis yang pararel dengan nasib Kamboja yang turut tersapu oleh tragedi yang mengguncang tetangganya, Vietnam.

Warga Kamboja berkerumun menyaksikan proses evakuasi dengan penuh keheranan.
Gerilya Khmer merayakan kemenangan mereka masuk kota Phnom Penh dengan Jeep Ford M151 MUTT rampasan.
Perdana Menteri Long Boret menolak ikut evakuasi Amerika, meski sudah masuk Death List Khmer Merah. Saat Khmer Merah masuk Phnom Penh, dia dieksekusi bersama beberapa pejabat Kamboja lainnya.
Khmer Merah yang garang segera memerintahkan evakuasi seluruh warga kota Phnom Penh segera setelah mereka masuk kota.
Dubes John Gunther Dean, memperlihatkan bendera Amerika yang dia bawa sejak evakuasi di Phnom Penh.

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

https://en.wikipedia.org/wiki/Operation_Eagle_Pull 

https://www.mca-marines.org/gazette/1976/05/operation-eagle-pull

https://thediplomat.com/2015/04/remembering-the-fall-of-phnom-penh/

http://www.nydailynews.com/news/world/u-s-abandoned-cambodia-1975-pullout-ex-ambassador-article-1.2180529

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *