Operasi Isotope, 8 Mei 1972: Saat 4 calon Perdana Menteri terlibat Operasi Pembebasan Pembajakan Pesawat

Pada awal 1970-an, organisasi-organisasi teroris Palestina, bersumpah untuk memulihkan kehormatan mereka yang hilang karena kemenangan gemilang Israel dalam Perang Enam Hari tahun 1967. Untuk mencapai tujuannya mereka mulai menargetkan warga Israel dalam serangan-serangan mereka di seluruh dunia. Salah satu serangan terjadi pada pesawat penumpang yang dijadwalkan terbang dari Wina ke Tel Aviv yang dioperasikan oleh pesawat maskapai nasional Belgia, Sabena. Pihak Israel kemudian melancarkan sebuah operasi komando untuk membebaskan para sandera maskapai Belgia itu. Meskipun itu bukan pembajakan pertama kali sebuah pesawat yang dilakukan oleh teroris Palestina – dua lainnya sempat dilakukan, yang pertama berhasil pada tahun 1968 dan yang kedua pada tahun 1969 digagalkan hanya dengan pemikiran cepat dari pilot Israel yang membawa pesawatnya menukik tiba-tiba, membuat para teroris kehilangan keseimbangan dan memungkinkan para penumpang untuk melumpuhkan mereka. Pembajakan Sabena adalah yang pertama di mana pasukan Israel mampu melakukan operasi penyelamatan dengan sukses.

Peledakan pesawat penumpang yang dibajak teroris Palestina di Dawson Field, Zarqa-Yordania, 6-13 September 1970. Dekade 1970-an dunia penerbangan banyak dikejutkan oleh aksi pembajakan yang mengatasnamakan perjuangan bagi Bangsa Palestina. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

Pembajakan

Theresa Halsa, seorang perawat keturunan Arab kelahiran Israel merupakan satu-satunya survivor dari pembajak pesawat itu. Halsa berasal dari keluarga Kristen Arab dan lulus dari sekolah Israel di Acre. Dia mengatakan dia ingin bergabung dengan Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) karena meningkatnya permusuhan antara orang-orang Yahudi dan orang-orang Arab di dalam dan di luar Israel. Enam bulan sebelum pembajakan, dia menyeberangi perbatasan Israel-Lebanon dan mengambil bagian dalam pelatihan di sebuah kamp di dekat Beirut, belajar bagaimana menggunakan pistol, sabuk peledak dan granat. Di awal tahun 1972, dia dan tiga anggota Palestina lainnya dari kelompok Black September dipilih untuk membajak penerbangan pesawat Sabena nomor penerbangan 571. Keempatnya, Ali Taha Abu Snina, Abed al-Aziz Atrash, Rima Tannous dan Halsa hanya bertemu sehari sebelum mereka membajak penerbangan Sabena 571, dan menyamar sebagai dua pasangan muda. Mereka terbang dari Libanon dengan paspor palsu ke Roma, di mana mereka diberi paspor Italia palsu, sebelum terbang ke Frankfurt, lalu Brussel, di mana mereka dari sana naik pesawat 571 dengan lebih banyak paspor palsu (kali ini paspor milik Israel), pada tahap pertama perjalanan ke Israel.

Theresa Halsa (Kanan) dan Rima Tannous (kiri) saat disidang di Lod 14 Agustus 1972 (Sumber: https://www.theguardian.com/)
Ali Hassan Salameh pimpinan kelompok teroris “Black September” (Sumber: http://www.gopbriefingroom.com/)

Pada 8 Mei 1972, empat teroris yang berasal dari kelompok teroris “Black September” Palestina di bawah arahan Ali Hassan Salameh itu, menaiki pesawat Boeing 707 Sabena 571 di Wina, Austria bersama dengan 97 penumpang dan sejumlah kecil kru. Mereka dipersenjatai dengan dua pistol, dua granat tangan dan dua ikat pinggang berisi bahan peledak. Kira-kira dua puluh menit setelah lepas landas, para teroris bergegas menuju ke kokpit untuk mengambil alih kendali pesawat. Kapten Reginald Levy, berusaha menenangkan para penumpang, dengan mengatakan kepada mereka “seperti yang anda lihat, kami punya teman di atas pesawat” dan mulai berbicara tentang berbagai topik yang tidak terkait untuk mengalihkan fokus mereka terhadap pembajakan pesawat. Kapten Levy cukup cerdik untuk tidak mengungkapkan kepada para pembajak bahwa istrinya, Dora Shawcross Levy, adalah salah satu penumpang. Dia berencana untuk makan romantis bersama istrinya untuk merayakan ulang tahunnya yang ke-50 di Tel Aviv, dan kembali keesokan paginya. Para teroris, seperti yang telah mereka lakukan di masa lalu dan yang akan terus mereka lakukan dalam pembajakan pesawat di masa depan, memisahkan para penumpang Yahudi dan Israel dari non-Yahudi. Theresa Halsa, yang masih berusia 18 tahun pada saat pembajakan, mengatakan dalam sebuah wawancara beberapa tahun kemudian, “Saya benar-benar ingin meledakkan pesawat. Itulah yang sebenarnya.”

Reginald Levi, pilot Sabena berfoto didepan pesawat yang dibajak pada tahun 1965. (Sumber: https://www.historyanswers.co.uk/)

Pesan & Negosiasi

Tak lama setelah para teroris mengambil kendali pesawat, mereka menuntut agar Kapten Levy mempertahankan jalur penerbangan dan mendarat di Bandara Lod (sekarang bandara Ben Gurion) di luar Tel Aviv. Disini saat melihat para teroris saling memeluk dan menangis sambil mengucapkan selamat tinggal serta tidak memperhatikan dirinya, Levy masih mampu mengirim sinyal marabahaya rahasia ke pihak Israel yang segera diterima oleh Menteri Pertahanan Moshe Dayan. Setelah mendarat di Tel Aviv, para membajak mengumumkan permintaan pembebasan 317 gerilya Palestina dari tahanan Israel, atau mereka akan meledakkan pesawat dan membunuh semua orang di dalamnya. Segera, Dayan dan Shimon Peres (Menteri Transportasi) hadir untuk mulai bernegosiasi dengan para teroris sementara secara bersamaan mulai merencanakan operasi penyelamatan. Juga bersama Dayan hari itu adalah kepala Komando Selatan IDF, Ariel Sharon. Dapat dikatakan, bahwa empat dari lima perdana menteri Israel terakhir – Netanyahu, Sharon, Barak, Peres – akan memainkan beberapa peran dalam operasi tersebut. Sementara itu, agen-agen Israel dengan menggunakan kegelapan malam merayap di bawah pesawat untuk mengempesi ban dan melepaskan peralatan hidrolik pesawat, sehingga mencegah teroris lepas landas lagi.

Moshe Dayan (tengah) menjadi Menteri Pertahanan saat maskapai Sebena dibajak, Mei 1972 (Sumber: https://israeled.org/)
Shimon Peres (kiri) sebagai Menteri Transportasi dan Ariel Sharon (kanan) sebagai Komandan Wilayah Selatan IDF saat pembajakan berlangsung. Di masa depan keduanya akan menjadi Perdana Menteri Israel di 2 periode yang berbeda. (Sumber: https://www.washingtonpost.com/)

Atas permintaan para pembajak, tim Palang Merah Internasional dipanggil untuk membawa pesan antara pesawat dengan Menteri Pertahanan Moshe Dayan yang hadir langsung di bandara Lod. Setelah menyampaikan tuntutan mereka, para pembajak terkejut ketika mengetahui bahwa mereka tidak bisa pergi lagi. Pada titik ini, ketika para teroris akhirnya menyadari bahwa mereka tidak bisa lepas landas. Kapten Levy mengatakan bahwa ia mulai berbicara dengan mereka tentang “segala sesuatu, mulai dari navigasi hingga ke seks” untuk menenangkan mereka dan tidak membuat keputusan gegabah. Kapten Levy kemudian dikirim keluar dari pesawat untuk menunjukkan sampel bahan peledak teroris ke pihak Israel untuk meyakinkan mereka tentang ancaman mereka yang tidak main-main. Menurut pejabat keamanan Israel, Levy selain membawa pesan para pembajak juga mendeskripsikan penampilan para pembajak, posisi mereka di pesawat, tas hitam tempat menyimpan bahan peledak para teroris dan memberi informasi bahwa tidak ada kursi yang menghalangi pintu keluar darurat.

Tentara Israel berpatroli di pesawat Sabena setelah mendarat di Bandara Lod. (Sumber: https://www.theguardian.com/world/)

Jalannya Operasi

Pada 9 Mei, Dayan memerintahkan dimulainya operasi penyelamatan yang diberi kode “Operasi Isotope”. Menurut Kapten Levy, tipu muslihat yang dimainkan pihak Israel bekerja dengan baik karena para pembajak mudah tertipu. Sementara Dayan menunjukkan dari jarak jauh kepada para pembajak sekelompok tawanan Palestina palsu sedang menaiki pesawat lain di bandara yang konon berbahan bakar dan siap berangkat ke Kairo sesuai dengan tuntutan teroris, ia juga berjanji akan mengirim sekelompok teknisi ke pesawat mereka untuk memperbaiki masalah kerusakan pesawat, mengisi bahan bakar dan mensuplai logistik pesawat sehingga memungkinkan mereka lepas landas lagi. Sekitar jam 4 sore itu (hampir 24 jam setelah pesawat Belgia itu mendarat di Lod), sebuah tim yang terdiri dari 16 pasukan komando dari unit pasukan khusus elit Israel, Sayeret Matkal, yang dipimpin oleh Perdana Menteri di masa depan, Ehud Barak (dan anggotanya termasuk Perdana Menteri Israel di masa depan, Benjamin Netanyahu, sebagai salah satu komandan Tim) naik 2 truk menuju ke tempat dimana pesawat diparkir. Barak saat itu merupakan komandan satuan khusus itu sendiri. Para prajurit Komando berpakaian overall pekerja berwarna putih datang dengan menyamar sebagai teknisi yang dijanjikan pihak Israel dengan tenang mendekati pesawat yang dibajak. Para “teknisi” itu sempat berhenti sebelum benar-benar mencapai pesawat dan teroris yang sangat gugup dan gelisah mengatakan kepada Flight Engineer untuk turun dan mengawasi perbaikan. Setelah itu dengan cepat mereka mendekati pesawat. Para prajurit dibagi menjadi lima tim, yang menerobos masuk ke pesawat melalui lima pintu yang ada di pesawat – pintu utama, pintu belakang, pintu darurat dan dua pintu di sayap pesawat – segera menyerbu dengan senapan SMG Uzi. Para penumpang sempat melihat melihat sosok tinggi pemimpin komando Israel (Barak?!) dan telah mendengarnya berkata dengan suara yang sangat tenang, ‘Merunduklah. Semuanya akan baik-baik saja.’ Menurut saksi lain, pemimpin teroris segera keluar dari kokpit, menembakkan revolvernya dan pemimpin pasukan Israel dengan tenang menembaknya tepat di antara kedua matanya. Dalam waktu singkat Komando Israel telah membunuh dua pembajak laki-laki dan menangkap dua pembajak perempuan. Dalam upaya penyelamatan, dua penumpang terluka, salah satunya, Miriam Anderson yang berusia 22 tahun menderita luka-luka yang fatal yang meninggal beberapa jam kemudian.

Pasukan Komando Israel pimpinan Ehud Barak menyerbu pesawat Sabena dengan menyamar sebagai teknisi pesawat. (Sumber: https://www.jewishvirtuallibrary.org/)
Ehud Barak (tinggi, berpakaian putih sebelah kiri) setelah membebaskan pesawat Sebena. (Sumber: https://www.timesofisrael.com/)
Theresa Halsa (salah satu pembajak) yang berlumuran darah meninggalkan pesawat Sabena, 9 Mei 1972. (Sumber: https://www.theguardian.com/)

Menurut sebuah film tentang operasi itu, Netanyahu meraih rambut Khalsa, menarik wig-nya dan bertanya di mana bahan peledak yang dipasang di pesawat itu dalam bahasa Inggris. “Marko Ashkenazi, yang merasa tahu bagaimana menangani situasi dengan lebih baik, mendekatinya dengan senjata yang penuh berisi peluru dan mengokangnya untuk menakutinya,” kata Netanyahu saat pemutaran perdana film tentang peristiwa ini tahun 2015. Ketika Ashkenazi menampar Khalsa, senjata yang dipegangnya meletus, dan sebuah peluru menembus badan teroris dan mengenai bisep Netanyahu, menjadikannya satu-satunya prajurit komando yang terluka dalam operasi itu. Menurut Netanyahu, operasi didalam kabin pesawat hanya memakan waktu sekitar 90 detik. Setelah tembak menembak usai, penumpang yang menangis dan anggota kru pesawat menyelinap keluar dari pintu darurat di sayap dan diangkut ke terminal menuju ke pelukan para kerabat yang gembira. Beberapa hari kemudian, Perdana Menteri Golda Meir mengadakan makan malam untuk mereka yang terlibat dalam operasi penyelamatan. Dia mencium Kapten Levy dan berkata, “Kami mencintaimu.” Untuk membalas kritikan bahwa operasi itu telah membahayakan orang-orang yang tidak bersalah, dia berkata, “Ketika ancaman pemerasan seperti ini berhasil, itu hanya akan mengundang lebih banyak pemerasan lagi yang menyusul.”

Aftermath

Dua teroris wanita yang masih hidup kemudian dihukum di pengadilan Israel dan dijatuhi hukuman penjara seumur hidup tetapi semuanya dibebaskan bertahun-tahun kemudian dalam perjanjian pertukaran tahanan setelah Perang Lebanon 1982. Teroris pertama dibebaskan pada tahun 1979, sementara yang terakhir dibebaskan pada tahun 1983. Theresa Halsa yang ditanyai apakah dia siap mati? “Tentu saja. Semua orang yang terlibat dalam operasi siap mati, ”katanya dari rumahnya di Amman, Yordania baru-baru ini. Apakah Halsa menyesal atas keterlibatannya dalam pembajakan pesawat Sabena? “Iya. Saya berharap kami benar-benar meledakkan pesawat itu. ”Mengapa? “Saya pikir orang Eropa dan Amerika memandang Israel dengan dua mata. Sedang dengan orang-orang Arab, mereka hanya melihat sebelah mata. ” Halsa dijatuhi hukuman 220 tahun penjara karena terlibat dalam pembajakan penerbangan Sabena 571 – hukuman seumur hidup bagi masing-masing sandera dalam penerbangan. “Pihak berwenang Israel ingin menghancurkan kami, untuk mematahkan karakter kami, untuk mematahkan semangat rakyat Palestina, dengan memberi kami hukuman yang panjang ini,” kata Halsa. “Tetapi mereka tidak bisa melakukannya.” Pada bulan November 1983, sebagai bagian dari pertukaran tahanan antara PLO dan Israel setelah perang Lebanon pertama tahun 1982, ia dibebaskan dan sekarang tinggal di Yordania. “Saya tidak ingin pergi (dari Israel)” kata Halsa. “Itu dipaksakan pada saya. Sekarang saya sangat bahagia di Yordania. “Kini di pertengahan usia 60-an, dia sudah menikah, memiliki dua putra dan putri dan bekerja sebagai seorang perawat orang-orang cacat.

Rima Tannous (left) and Theresa Halsa of the Black September Organization, a Palestinian terrorist group, pictured standing in the dock of an Israeli military court in Tzrifin, Israel in August 1972 to face four charges arising from their part in the hijacking of Sabena Flight 571 on 8th May. (Photo by Rolls Press/Popperfoto via Getty Images/Getty Images)

Halsa merupakan satu-satunya survivor dari 4 pembajak pesawat Sabena itu. Kelompok teroris mereka, “Black September,” yang dibentuk dua tahun sebelumnya, kemudian segera dimonitor ketat oleh pihak internasional setelah aksi pembajakan itu. Kelompok “Black September” dinamai untuk memperingati kematian dan pengusiran ribuan warga Palestina dari Yordania (oleh pemerintah Kerajaan itu) pada September 1970. Akhir tahun itu, pada musim gugur 1972, anggota “Black September” menyusup ke kampung atlet di venue Olimpiade Munich dan menewaskan 11 atlet dan pelatih Israel. Selama tahun-tahun berikutnya, Israel berhasil memburu para pemimpin organisasi, yang berpuncak pada Operasi “Spring Of Youth” yang sukses di mana pasukan komando Israel menyerbu markas mereka di Beirut. Ali Hassan Salameh, yang merencanakan operasi Sabena dan juga Pembantaian Munich, terbunuh oleh bom mobil Israel di Beirut pada 1979. Sayeret Matkal dan unit pasukan khusus Israel lainnya dengan cepat beradaptasi dengan taktik baru terorisme dan segera menjadi salah satu unit kontra-teror terbaik di dunia. Simon Peres, yang bertugas sebagai menteri transportasi pada tahun 1972, saat pembajakan terjadi mengatakan, “Sabena bukan keajaiban. Dengan (kualitas) prajurit (Sayeret Matkal) seperti itu, anda dapat membuat keajaiban dan tipu daya. Saya salut pada pada mereka.” Sementara itu Halsa, si pembajak punya pendapat sendiri mengenai aksi komando Israel itu, dia berpendapat bahwa orang-orang Israel sangat beruntung bisa sukses “Mereka pikir mereka sangat pintar. Tapi mereka tidak sepintar yang mereka kira. Mereka beruntung. Peristiwa itu bisa saja menjadi sesuatu yang jauh lebih buruk bagi mereka.” Pesawat yang dibajak itu sendiri kemudian kembali ke dioperasikan oleh maskapai Sabena dan kemudian dibeli oleh Israel Aircraft Industries yang akhirnya menjualnya ke Angkatan Udara Israel di mana ia berfungsi sebagai pesawat mata-mata selama beberapa tahun kedepan.

Reginald Levy, pilot keturunan Yahudi Inggris bekas pilot RAF saat Perang Dunia II. Tindakannya saat pembajakan pesawat banyak dipuji oleh pihak Israel. (Sumber: https://www.nytimes.com/)

Reginald Levy si kapten pesawat Sabena 571 lahir di Blackpool, Inggris, pada 8 Mei 1922, putra dari Cyril dan Ann Constant Levy, seorang keturunan Yahudi. Kapten Levy bergabung dengan Angkatan Udara Kerajaan Inggris ketika dia berusia 18 tahun, menerbangkan misi pemboman di Jerman dan dianugerahi Medali Distinguished Flying Cross pada tahun 1944 dan ikut serta dalam peristiwa Berlin Airlift selepas perang, bergabung dengan Sabena pada tahun 1952. Dia pensiun pada tahun 1982 dan meninggal, karena serangan jantung, di sebuah rumah sakit dekat rumahnya di Dover pada 1 Agustus 2010, ia meninggal pada usia 88 tahun.

Benjamin Netanyahu dengan tangan masih dibebat berjabat tangan dengan Presiden Israel, Zalman Shazar saat perayaan kesuksesan operasi pembebasan pesawat Sabena. (Sumber: https://www.timesofisrael.com/)

Netanyahu kemudian mengatakan bahwa operasi penyelamatan ini, serta misi penyelamatan di Entebbe empat tahun kemudian di mana saudara lelakinya Yonatan (Yoni) meninggal, memiliki dampak besar dalam mengakhiri teror pembajakan yang mengganggu industri penerbangan internasional pada tahun 1970-an. “Pelajaran penting” dari era Israel di masa itu, kata Netanyahu adalah “Bukan sekedar keahlian militer, tapi tekad dan keberanian Israel untuk melawan mereka yang menggunakan cara-cara terorisme untuk mencapai tujuan mereka.” Aktor Avi Kornik memerankan Netanyahu dalam film dramatisasi tentang kejadian itu. “Lelaki ini agak kurus. Saya tidak gemuk, tetapi saya – bagaimana Anda mengatakannya? – ‘besar, ‘” kata Netanyahu bercanda dengan wartawan dalam sebuah acara premier film tersebut. Tetapi istrinya, Sara Netanyahu, dengan cepat menyatakan bahwa peran Benjamin Netanyahu hampir jatuh ke orang lain – yakni putra mereka. Namun putranya, Avner Netanyahu, yang bergabung dengan tentara beberapa waktu sebelumnya, menolak peran itu, kata ibunya. “Aku tidak akan memerankan ayahku. Saya adalah saya, ”Sara Netanyahu mengutip ucapannya. Setelah pemutaran perdana film itu di Israel, Netanyahu ingat saat terbaring terluka di landasan pacu setelah baku tembak: “Saya mengenali saudara saya Yoni (yang datang).” Yoni Netanyahu pada waktu itu adalah sama-sama prajurit komando seperti dirinya dan kecewa karena tidak ikut serta dalam Operasi Isotop. “Dia berlari ke saya, wajahnya sangat khawatir. Dia mendekat. Dia melihatku berbaring di sana dengan baju putihku berlumuran darah. Dalam beberapa saat (setelah menyadari bahwa luka saudaranya hanya luka kecil), wajahnya berubah dan dia berkata: ‘Kamu tahu, aku sudah mengatakan kepadamu bahwa kamu seharusnya tidak pergi!’ ”Yoni akan gugur dalam tugas empat tahun kemudian, sebagai satu-satunya prajurit komando Israel yang tewas selama Operasi Entebbe untuk membebaskan sandera Israel yang ditahan oleh pejuang PLO di Uganda. Netanyahu yang kini (masih) menjabat sebagai PM Israel kemudian menjadi PM Israel terlama (per 2 Februari 2020: 13 tahun 326 hari) dalam sejarah melampaui PM pertama Israel yang legendaris, Ben Gurion.

PM Benjamin Netanyahu (kanan) dan eks Perdana Menteri Israel, Ehud Barak (kiri) saat menonton premier dokumenter Operasi Isotope di Jerusalem Cinema City, 11 Agustus 2015. (Sumber: https://www.timesofisrael.com/)

Sementara itu menurut Ehud Barak, dalam menjawab sebuah pertanyaan, mengatakan apakah pengalaman Sabena tidak muncul di pemikiran ketika kedua orang itu (Barak & Netanyahu) membahas pertukaran tahanan Gilad Shalit sekitar 40 tahun kemudian dengan 1.027 tawanan Palestina, ketika itu Netanyahu adalah perdana menteri dan Barak menjadi menteri pertahanannya. “Aku tidak memikirkan Sabena,” kata Barak ketika membahas pertimbangan tentang pertukaran tahanan untuk Shalit. “Saya melihat ke depan, bukan ke belakang; Saya memikirkan masalah yang ada di hadapan kita. ” Barak mengatakan bahwa jika Israel memiliki informasi yang cukup tentang keberadaan Shalit, rencana dapat disusun dan operasi penyelamatan mungkin dilakukan, namun sayangnya informasi semacam itu tidak ada saat itu. Operasi penyelamatan Sabena terjadi selama periode ketika kebijakan Israel adalah bahwa tidak akan ada negosiasi dengan teroris yang menahan sandera. Ehud Barak kemudian akan menjadi PM Israel yang ke-10 menjabat pada 6 Juli 1999 – 7 Maret 2001. Salah satu kebijakannya yang terkenal saat menjabat adalah menarik pasukan Israel dari wilayah pendudukannya di Libanon Selatan tahun 2000, mengakhiri 18 tahun pendudukan yang memakan banyak korban.

Poster film Sabena Hijacking: My Version (2015) (Sumber: Youtube)

Peristiwa pembajakan pesawat Sabena faktanya tidak sama sekali menghentikan aksi terorisme yang menarget sasaran Israel. Hanya tiga minggu setelah pembajakan yang gagal pada Penerbangan 571 itu, bandara Lod mengalami serangan yang lebih berdarah: 24 orang tewas dan 80 lainnya terluka ketika tiga anggota Tentara Merah Jepang, yang telah direkrut oleh kelompok Palestina, Front Populer untuk Pembebasan Operasi Eksternal Palestina, menembakkan senapan mesin ke area kedatangan penumpang. 4 tahun kemudian, sebuah pesawat Airbus A300 Air France dengan 248 penumpang dibajak oleh dua anggota Front Populer untuk Pembebasan Palestina – Operasi Eksternal (PFLP-EO) di bawah pimpinan Wadie Haddad (yang sebelumnya memisahkan diri dari PFLP George Habash), dan dua anggota Sel Revolusioner asal Jerman. Dalam operasi komando yang dilakukan Israel, 102 penumpang Israel yang masih ditahan teroris berhasil dibebaskan sementara 3 lainnya tewas dalam operasi. Film doku-drama “Sabena Hijacking-My Version” (2015) setidaknya membuka sudut pandang mengenai era itu. “Pada masa itu,” kata sang sutradara, Nati Dinnar, “orang akan membajak pesawat karena mereka percaya bahwa dengan itu mereka bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan.” “Sekarang tidak ada yang akan membajak pesawat seperti itu. Sebaliknya, mereka akan menabrakkannya ke menara kembar atau meledakkannya di atas Sinai, ”kata Dinnar. “Semua orang tahu bahwa para negosiator tidak akan menyerah, seperti yang mereka lakukan di masa lalu, tetapi mengulur waktu. Jadi pembajakan pesawat kini kemungkinan tidak akan berhasil mendapatkan apa yang mereka mau. “

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

Israel’s Wars & Operations: Operation Isotope (May 8, 1972)

https://www.jewishvirtuallibrary.org/operation-isotope

NETANYAHU: I PULLED OFF HER WIG AND DEMANDED TO KNOW WHERE THE EXPLOSIVES WERE By HERB KEINON; August 13, 2015

https://www.google.com/amp/s/m.jpost.com/Arab-Israeli-Conflict/Netanyahu-I-pulled-off-her-wig-and-demanded-to-know-where-the-explosives-were-411988/amp

Operation Isotope (1972)

Sabena Flight 571 Hijacking

https://www.idf.il/en/minisites/wars-and-operations/sabena-flight-571-hijacking-1972/

Four hijackers and three Israeli PMs: the incredible story of Sabena flight 571 by Stuart Jeffries; Wed 11 Nov 2015 17.37 GMT

https://www.theguardian.com/world/2015/nov/11/sabena-flight-571-hijack-plane-black-september-film

Reginald Levy Is Dead at 88; Hailed as a Hero in a ’72 Hijacking By Dennis Hevesi; Aug. 4, 2010

https://www.nytimes.com/2010/08/05/world/europe/05levy.html

Hijacked by Black September: Sabena Flight 571

https://www.historyanswers.co.uk/history-of-war/hijacked-by-black-september-the-pilot-remembers-sabena-flight-572/

When the prime ministers took down the hijackers By JUDAH ARI GROSS; 13 Aug 2015, 11:59 am

https://www.timesofisrael.com/when-the-prime-ministers-took-down-the-hijackers/

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Sabena_Flight_571

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Operation_Entebbe

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Gilad_Shalit

3 thoughts on “Operasi Isotope, 8 Mei 1972: Saat 4 calon Perdana Menteri terlibat Operasi Pembebasan Pembajakan Pesawat

  • 15 June 2020 at 9:22 pm
    Permalink

    I really love your website.. Pleasant colors & theme. Did you build this website yourself? Please reply back as I’m hoping to create my very own blog and would like to know where you got this from or what the theme is named. Many thanks!

    Reply
    • 16 June 2020 at 7:21 am
      Permalink

      The theme is “colormag”

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *