Operasi Jaywick & Operasi Rimau (1943-1944): Aksi Berani Komando Australia Menyerang Target Jepang Di Pelabuhan Singapura

Pada malam tanggal 26 September 1943, orang-orang dari Unit Khusus “Z Special Unit”, asal Australia yang sangat rahasia, mengayuh tiga kano lipat, melakukan serangan yang berani dan berhasil terhadap kapal musuh di Pelabuhan Singapura yang diduduki Jepang. Mereka telah berlayar 3.960 km dari Exmouth, Australia Barat, jauh ke dalam wilayah musuh dengan kapal penangkap ikan asal Jepang, yang diberi nama “Krait”. Berikut adalah kisah tentang Krait, orang-orang yang terlibat dalam Operation Jaywick (nama kode operasi serangan yang berani itu) dan Operasi Rimau yang mengikuti beberapa bulan kemudian, serta kisah tentang pembalasan kolektif Jepang terhadap penduduk Singapura setelah kedua serangan tersebut.

Plakat memperingati “Operasi Rimau” di Rockingham, Western Australia. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

LATAR BELAKANG

Pada tahun 1941, pulau koloni kosmopolitan Inggris di Singapura adalah pelabuhan yang sibuk di tengah persimpangan jalur perdagangan internasional dan kunci dari pertahanan Inggris untuk melawan agresi Jepang yang membayangi Pasifik jelang akhir tahun itu. Dijuluki sebagai ‘Gibraltar di Timur’, pulau itu dipertahankan oleh pasukan Inggris, Australia, India, dan Malaya, dengan dilengkapi baterai meriam laut berbasis darat kaliber 15 inci (380 mm), dan pangkalan Angkatan Laut Kerajaan yang bermarkas disitu. Menjelang serangan Jepang ke Selatan, AL Kerajaan Inggris juga telah mengirimkan kapal tempur HMS Prince Of Wales dan Battlecruiser HMS Repulse untuk memperkuat kekuatan laut sekutu di kawasan itu. Beberapa jam setelah pesawat Jepang membom Pearl Harbor pada bulan Desember 1941, pasukan Jepang mendarat di utara Malaya dan mulai bergerak ke selatan menuju Singapura. Pada 8 Desember – sehari setelah Jepang menyerang Amerika Serikat di Pearl Harbor – Inggris, Australia dan sekutunya menyatakan perang terhadap Jepang. Dalam beberapa hari, Kekaisaran Tentara Jepang telah secara simultan menginvasi Hong Kong, Thailand dan Malaya, serta memulai gerak maju tanpa henti ke selatan ke Singapura.

Pengeboman Jepang atas Singapura. Setelah pecahnya perang tanggal 7 Desember 1941, mesin perang Jepang segera merambah ke Asia Tenggara, Kota Pelabuhan Singapura yang strategis adalah salah satu tujuan utama Jepang dalam serangannya ke selatan itu. (Sumber: https://www.sea.museum/)

Di Singapura, Kapten Ivan Lyon dari satuan Gordon Highlanders, seorang perwira intelijen di markas besar Angkatan Darat Inggris, diperintahkan ke pulau Sumatra di Hindia Belanda untuk mengatur rute melintasi pulau yang dapat digunakan oleh militer, idenya adalah jika benteng ” tak tertembus ”Singapura dikepung berkepanjangan oleh Jepang, pasukan dari India dapat mendarat di pantai barat Sumatera di Padang dan mengambil rute yang ditetapkan oleh Lyon ke pantai timur di mana mereka akan dekat dengan Singapura untuk melakukan operasi membantu pertahanan Singapura. Namun, berbagai peristiwa kemudian berlangsung dengan cepat, Singapura menyerah pada 15 Februari 1942, dan para pengungsi yang melarikan diri dari Malaya dan Singapura menggunakan rute dengan arah sebaliknya melintasi pulau itu. 

Kapten Ivan Lyon dari satuan Gordon Highlanders, Angkatan Darat Inggris. (Sumber: https://www.awm.gov.au/)

Pertempuran memperebutkan Singapura berlangsung selama satu minggu. Pada saat Inggris menyerah tanggal 15 Februari 1942, terdapat sekitar 80.000 tentara Inggris, India dan Australia yang ditangkap sebagai tawanan perang (POW), bergabung dengan 50.000 tentara Sekutu yang telah ditangkap sebelumnya selama Kampanye Militer Jepang di Semenanjung Malaya. Pendudukan Jepang di Singapura yang mengikuti kemudian, memperlihatkan tindakan penindasan brutal terhadap warga sipil yang dicurigai memiliki sentimen anti-Jepang. Selama dua minggu sejak tanggal 18 Februari, komunitas Tionghoa menjadi sasaran dan secara sistematis dibersihkan dari elemen ‘yang dianggap bermusuhan’ di Sook Ching. Aksi ini melibatkan tindakan ‘pembersihan besar-besaran’, dimana lebih dari 6.000 orang etnik Tionghoa dieksekusi dalam peristiwa yang dikenal sebagai Pembantaian Sook Ching. Dalam sentimen pendudukan semacam inilah, maka muncul suatu kondisi dimana, pihak Jepang hampir selalu akan melakukan pembalasan kolektif kepada penduduk lokal, setiap kali terdapat serangan yang merugikan kepentingan mereka di Singapura.

Kemenangan Jepang di Singapura segera diwarnai oleh aksi kebrutalan dan kekejaman dari tentaranya dalam peristiwa yang dikenal sebagai Pembantaian Sook Ching. (Sumber: https://localnewsingapore.com/)

OPERASI JAYWICK: MERANCANG SERANGAN KOMANDO KE SINGAPURA 

Bill Reynolds adalah seorang Australia yang pernah bertugas di kapal perusak dalam Perang Dunia I dan pernah tinggal di Burma, Malaya, dan Hindia Belanda selama 20 tahun terakhir. Hampir berusia 50 tahun, ia menjadi sukarelawan di markas besar angkatan laut Inggris di Singapura dan diberi komando atas kapal Kofuku Maru, sebuah kapal berlambung kayu jati yang dibangun di Jepang pada tahun 1935. Panjang kapal itu adalah 21,5 meter (70 kaki 8 inci), memiliki lebar maksimum 3,7 meter (12 kaki) dan kedalaman hanya 2,3 meter (7 kaki 6 inci), serta seberat 68 ton, dimana kapal ini dirampas oleh kapal perang HMAS Goulburn milik Inggris ketika perang dimulai tanggal 11 Desember 1941. Dia kemudian menemukan setengah lusin orang Tionghoa yang bersedia menjadi awak kapal dan mulai menjemput pengungsi — Inggris, Tionghoa, Melayu, dan lainnya — dari pulau-pulau di sekitar Singapura tempat mereka terdampar ketika kapal-kapal yang coba mereka gunakan untuk melarikan diri dibom dan diberondong oleh pesawat Jepang. Dia menjejalkan 50 atau lebih orang ke Kofuku Maru dan, kadang-kadang menarik kapal rusak yang penuh dengan pengungsi, dan membawa mereka ke Sumatra. Di sanalah dia bertemu dengan Ivan Lyon, dan di sana jugalah Lyon pertama kali mendapat ide untuk menyerang Singapura. Mendengarkan Reynolds, yang telah mengoperasikan Kofuku Maru di sekitar Singapura selama dua minggu di mana dia telah menyelamatkan sekitar 1.100 orang yang dipindahkannya ke Sumatera sebelum Singapura jatuh, dia mungkin bertanya pada dirinya sendiri mengapa dia, Lyon, tidak bisa kembali ke perairan Singapura dalam sebuah misi yang dirancang untuk menimbulkan masalah bagi Jepang? 

Kapal Kofuku Maru yang namanya diubah menjadi “Krait”. (Sumber: https://asecretwar.com/)

Pada awal Maret, dengan Malaya dan Singapura telah jatuh ke tangan Jepang, Hindia Belanda diserbu, dan kini pasukan Jepang telah mendekat, Lyon menyeberangi pulau Sumatera, memimpin perahu nelayan lokal dengan membawa 15 orang Eropa, satu orang Cina, dan satu orang Melayu diatas kapal, memasang layar yang compang-camping dan berlayar ke Samudera Hindia hanya dengan hanya membawa kompas prismatik, robekan halaman dari panduan berlayar, dan arlojinya untuk bernavigasi. Tetapi dia adalah seorang pelaut perahu kecil yang berpengalaman dan, oleh karenanya mereka berhasil selamat dari ancaman berondongan pesawat Jepang, badai, periode tenang yang mematikan, dan panas yang membakar. Mereka akhirnya berhasil mencapai Ceylon (sekarang Sri Lanka) sejauh 1.700 mil, 52 hari kemudian. Selanjutnya, di Delhi, India, Lyon mengetahui bahwa Bill Reynolds telah berlayar dengan Kofuku Maru sampai ke India dan sekarang berada di Bombay. Saat itulah gagasan yang berkecamuk di benaknya terkristalisasi — yakni dengan menggunakan Kofuku Maru, kapal penangkap ikan Jepang yang tidak bisa dibedakan dari ratusan kapal lain yang digunakan di perairan Asia, untuk menyerang kapal dan instalasi Jepang di pelabuhan Singapura. Dia membuat sketsa rencana dan membawanya ke markas SOE (Special Operations Executive) India di mana rencana itu segera disetujui. Namun karena buruknya keamanan di India dan kuatnya kewaspadaan AL Jepang di Samudera Hindia mendekati Singapura, SOE meminta unit operasi klandestin Australia SRD (Services Reconnaissance Department) untuk memberikan pelatihan, melengkapi dan meluncurkan misi Lyon dari Australia. Lyon mengganti nama Kofuku Maru menjadi “Krait”, sesuai nama ular Asia sepanjang enam inci dengan racun yang dapat melumpuhkan saraf yang dapat membunuh dalam hitungan menit dan memberi nama sandi untuk operasinya, “Jaywick” menurut nama deodoran kuat Jay Wick yang digunakan secara luas di Malaya dan Singapura.

NASIB BILL REYNOLD & PEMBENTUKAN TIM OPERASI JAYWICK 

Pada bulan Januari 1943, Krait bergabung dengan 14 personel yang telah dilatih untuk Operasi Jaywick secara rahasia selama tiga bulan di Refuge Bay yang terpencil di Sungai Hawkesbury di New South Wales. Di sana mereka belajar bagaimana bertarung, membunuh, melakukan sabotase dan bertahan hidup. Bill Reynold mencoba dua kali untuk membawa Krait ke Australia, tetapi setiap kali kapal tuanya rusak. Dalam perjalanan ke utara dari Sydney, mesin buatan Jerman milik Krait mati di dekat Pulau Fraser dan ditarik ke Townsville untuk menunggu penggantinya dikirim dari Tasmania. Karena problem ini kelayakan misi tersebut sempat diragukan. Sementara tim Jaywick menunggu dan melanjutkan pelatihan komando mereka, orang-orang dari Unit Khusus Z di Cairns yang dipimpin oleh Lt Samuel Carey melakukan serangan tiruan di Pelabuhan Townsville pada tanggal 23 Juni 1943, memasang ranjau tempel tiruan ke 15 kapal, mengejutkan personel Angkatan Laut dan membuktikan bahwa Operasi Jaywick bisa bekerja dengan baik. Pada saat itu Lyon, sekarang telah berpangkat Major, juga menjalani pelatihan intensif untuk bisa menggunakan kano dan bernavigasi malam serta melakukan pergerakan di laut dan darat, selain mempertajam keterampilan mereka dengan berbagai senjata dan bahan peledak serta dalam pertarungan tanpa bersenjata. Setelah tiga bulan, tim tersebut pindah ke utara ke ZES (Z Experimental Station) dekat Cairns di pantai utara jauh dari Queensland untuk menunggu datangnya Krait sambil melanjutkan pelatihan mereka yang intensif. Di sana Bill Reynolds meninggalkannya. Sebagai seorang warga sipil berusia 51 tahun, dia pergi ke Melbourne, Victoria, di mana dia bergabung dengan clandestine civilian Bureau of Economic Warfare. Karena lancar berbahasa Melayu dan dengan pemahaman bahasa Cina yang baik, ia didaratkan oleh kapal selam Amerika Tuna di Selat Makasar untuk mengambil informasi dari agen rahasia keturunan Tiongkok tetapi dikhianati oleh penduduk setempat yang menyerahkannya kepada Jepang. Setelah berbulan-bulan dipenjara di Surabaya, Pulau Jawa, ia dijatuhi hukuman mati. Reynolds yang jangkung dan kurus menolak untuk berlutut saat akan dipenggal dengan pedang oleh algojo yang bertubuh kecil yang dengan kebingungan harus memanggil beberapa tentara untuk membentuk regu tembak. 

Awak Krait dan personel Operasi JAYWICK. Kiri ke kanan (Depan): LEUT Ted Carse, LEUT Donald Davidson, MAJ Ivan Lyon, MAJ Jock Campbell (tidak menemani ekspedisi), LT Robert Page; (Tengah): CPL Andrew Crilly, LS Kevin Cain, LS James McDowell, L.TEL Horrie Young, AB Walter Falls, CPL Ron Morris; (Belakang): ABs Moss Berryman, Frederic Marsh, Arthur Jones dan Andrew Huston. (Sumber: https://www.navy.gov.au/)
Detail Penampang Krait. (Sumber: https://asecretwar.com/)
Enam anggota tim Unit Z berpose untuk fotografer di luar tenda di kamp pelatihan mereka: Mayor Ivan Lyon berdiri kedua dari kiri; J.P McDowell berada di urutan kedua dari kanan; Mayor J.A. “Jock” Campbell ada di paling kanan. (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/)

Sementara itu, Lyon menemukan mesin pengganti untuk Krait di Hobart, Tasmania, dan mengirimkannya ke Townsville untuk dipasang. Ketika pertama kali diambil alih, Krait didukung dengan mesin empat silinder Deutz tetapi kemudian dilengkapi dengan mesin Gardiner Diesel 6L3 dengan kekuatan sekitar 103 hp. Kecepatan tertingginya sekitar 6 1/2 knot dan jangkauannya 8000 mil. Demi memudahkan dan menghemat ruang, dia membatalkan bagian dari rencananya untuk menghancurkan instalasi pelabuhan di Singapura dan berkonsentrasi pada kapal-kapal yang ada di sana. Meski begitu, ketika Krait yang berukuran 70 kali 11 kaki berlayar dari Cairns, ia dilengkapi dengan persediaan dan peralatan untuk beroperasi selama enam bulan. Dengan bahan bakar solar, minyak tanah, kano, senjata, bahan peledak, peralatan, suku cadang, dan perlengkapan radio, hanya ada sedikit cukup ruang tersisa bagi anggota tim untuk tidur beberapa kali di tempat tidur gantung yang digantung di tempat yang masih kosong. Anggota Tim Lyon termasuk Donald Davidson, orang kedua dalam urutan komando, anggota Angkatan Laut Kerajaan Inggris, merupakan seorang Inggris yang tangguh dan banyak akal yang telah menghabiskan waktu bertahun-tahun di pedalaman Australia dan hutan-hutan di Asia Tenggara dan telah ditugaskan di Angkatan Laut di Singapura meski tanpa memiliki pengalaman angkatan laut sebelumnya; Letnan Bob Page, asal Angkatan Darat Australia, mantan mahasiswa kedokteran tahun ketiga yang telah meninggalkan studinya di universitas untuk menjalankan operasi-operasi khusus; Letnan Ted Carse, asal Angkatan Laut Australia, seorang navigator, yang bersumpah tidak akan minum alkohol selama operasi ini; Stoker Paddy McDowell, asal Angkatan Laut Kerajaan Inggris, ahli mesin kapal dan veteran Perang Dunia I; Kopral Taffy Morris, seorang tenaga medis Angkatan Darat Inggris yang melarikan diri dari Sumatera bersama Lyon; Kopral Andrew Crilley, seorang anggota zeni Angkatan Darat Australia yang telah mengajukan diri untuk menjadi juru masak agar bisa dipilih untuk tim; Telegrafis Horrie Young, asal Angkatan Laut Australia; dan enam pelaut muda Angkatan Laut Australia yang belum pernah melaut — Wally Falls, Freddie Marsh, Cobber Cain, Andrew Huston, Arthur Jones, dan Mostyn Berryman. Semuanya adalah sukarelawan dari Unit Khusus Z, yang biasa disebut Z Force. Unit Khusus Z (juga dikenal sebagai ‘Z Force’), merupakan unit spesialis pengintaian dan sabotase yang dibentuk oleh perwira Eksekutif Operasi Khusus (SOE) Inggris yang lolos saat jatuhnya Singapura. Meskipun didominasi oleh orang Australia, Unit Khusus Z Force juga terdiri dari warga negara Inggris, Belanda, Selandia Baru, Timor, dan Indonesia (Hindia Belanda). Pada tanggal 9 Agustus 1943, mereka meninggalkan Cairns dalam perjalanan 2.400 mil dari wilayah sekitar utara Australia ke Teluk Exmouth di Australia Barat. Di sana, awak kapal bagian reparasi dari kapal selam Amerika, USS Chanticleer, melakukan beberapa pekerjaan perbaikan yang sangat baik atas Krait dengan nyaris menolak untuk percaya bahwa “peti mati” itu telah berhasil berlayar jarak jauh dari Cairns. Mereka menyiapkan pemasangan 150 pon bahan peledak plastik, yang mana suatu saat bisa dengan mudah diledakkan jika kapal itu ditangkap musuh. “

“ITU ADALAH PELABUHAN SINGAPURA” 

Pada tanggal 2 September, Krait meninggalkan Teluk Exmouth menuju utara dengan melewati badai ganas yang tak terduga. Sangat kelebihan beban dan berat di lautan terbuka, dia terus menerus terhanyut di tengah lautan. Gelombang besar mengancam akan menenggelamkannya, dan sebuah lubang harus dipotong di sisinya untuk melepaskan air laut dalam jumlah besar yang masuk ke kapal. Pada hari kedua, badai mereda dan Lyon memanggil tim bersama-sama dan memberi tahu mereka tentang tujuan mereka, mengakhiri spekulasi panjang yang berkembang diantara mereka. “Itu adalah pelabuhan Singapura,” katanya, dan pengumumannya hanya menghasilkan satu komentar yang mengecewakan. “Saya pikir itu adalah Tokyo. Jika saya tahu bukan (Tokyo), saya tidak akan ikut, “kata seorang awak kapal. Lyon memberi tahu anggota tim tentang rencana operasi tersebut. Krait akan menurunkan tim penyerang beranggotakan enam orang di salah satu pulau sedekat mungkin dengan pelabuhan Singapura dari mana mereka akan melakukan penyerangan dengan tiga kano sementara Krait akan bersembunyi di antara pulau-pulau dan kembali untuk menjemput mereka setelah operasi. Dia menyebut enam orang yang akan melakukan serangan itu, dengan mengabaikan protes dan kutukan dari orang-orang yang harus tetap tinggal di Krait, dan menetapkan aturan. Bendera Jepang akan dikibarkan setiap saat; dimana mereka berharap untuk bisa lolos sebagai nelayan lokal, wajah dan tubuh mereka akan diwarnai cokelat menggunakan kosmetik “Helena Rubinstein’, dan sarung gaya Melayu akan dikenakan; tidak ada sampah yang dibuang sembarangan yang mungkin bisa mengidentifikasi mereka jika ditemukan; tidak ada lampu yang boleh dinyalakan di malam hari. Jika memungkinkan, kru sedapat mungkin akan bersembunyi di bawah dek.

Anggota Z Force berfoto selama Operasi Jaywick. (Sumber: https://www.sea.museum/)

“TERIMA KASIH TUHAN, KAMI BARU SAJA MELEWATI LOMBOK” 

Pada tanggal 8 September, para penyerang berada lebih dari 700 mil di utara Australia dan terlihat dari kejauhan Gunung Agung, gunung keramat setinggi 10.000 kaki di Bali, dan Gunung Rinjani setinggi 12.000 kaki di dekat pulau Lombok. Malam itu mereka mengarahkan kapal mereka antara kedua pulau di Selat Lombok sepanjang 25 mil, berharap perahu nelayan mereka yang mengibarkan bendera Jepang tidak akan dicurigai dan berhasil melewatinya saat fajar. Tapi mereka segera menemui masalah. Selat itu adalah serupa labirin dengan arus yang sangat kuat dan pasang surut tinggi. Mereka begitu kuat sehingga pada suatu waktu pada malam hari kapal tim penyerang tidak maju sama sekali selama dua jam saat Krait harus melawan arus secepat kecepatannya sendiri yang mencapai 6 1/2 knot. Dalam waktu enam jam, dia hanya berjalan setengah mil sebelum air pasang berubah dan arus mengalir bersama mereka. Saat fajar menyingsing mereka masih berada di tengah selat dengan pantai Bali di satu sisi dan tenda serta gubuk kamp militer Jepang di sebuah pulau di sisi lain. 

Krait berlayar menuju Singapura. (Sumber: https://www.sea.museum/)

Namun, mereka tidak dicurigai dan pada pukul 10 pagi itu navigator Ted Carse sudah bisa menulis di log-nya: “Terima kasih Tuhan kita baru saja melewati Lombok….” Mereka sekarang berada di Laut Jawa. Menjauhi jalur laut dan di antara pulau-pulau dan beting, mereka hanya melihat dua tiang kapal tradisional Makasar dan sebuah pesawat Jepang pada hari pertama mereka di Laut Jawa. Pada detik itu mereka mendengar di radio bahwa Italia telah menyerah dan mereka merayakan kabar itu dengan bersulang mug minuman cokelat. Pulau Massalembo dilalui dalam kegelapan pada pagi hari tanggal 10 September 1943, dan dari situ mereka menuju ke Tanjung Sambar, kemudian menuju ke Gugusan Karimata, di lepas pantai barat daya Kalimantan Belanda. Pulau-pulau ini dicapai saat fajar pada tanggal 14 September 1943 dan ‘Krait’ berada di antara banyak kapal dan kapal penangkap ikan. Dari situ mereka menuju ke Selat Temiang. Pada malam hari mereka telah dekat dengan pantai Kalimantan, dan keesokan harinya kawanan kupu-kupu mengikuti mereka bermil-mil. Mereka mulai melihat semakin banyak kapal-kapal kecil dan kapal dagang saat mereka terus ke Laut Cina Selatan. Di deretan ribuan pulau yang mengarah ke Singapura, Lyon memutuskan bahwa Krait tidak boleh menunggu di antara pulau-pulau itu sementara penyerangan terjadi di pelabuhan karena akan sulit untuk bersembunyi di antara mereka selama pencarian yang pasti akan terjadi setelah serangan itu. Krait akan berlayar di dekat pantai Kalimantan dan kembali untuk mengumpulkan tim penyerang setelah operasi. 

MENEMUKAN TITIK PENJEMPUTAN YANG IDEAL 

Pada malam tanggal 16 September, para penyerang berlabuh di pantai di pulau Pompong, dimana Davidson, Cain, dan Jones pergi ke darat untuk mengubur kaleng-kaleng air dan perbekalan darurat. Pada malam hari mereka mendengarkan deru mesin saat pesawat amfibi Jepang dinyalakan mesinnya di pangkalan di dekat Pulau Chempa dan menyaksikan sorotan lampu sorot di langit. Hari berikutnya mereka mencari pulau yang cocok dari mana serangan itu bisa diluncurkan. Beberapa kali mereka bersiaga ketika perahu motor Jepang mendekat dan sesekali berkeringat dingin ketika mereka melewati tempat pengamatan Jepang. Akhirnya, Lyon memutuskan salah satu pulau yang telah mereka lihat sebelumnya, dan mereka kembali ke sana, kerlap-kerlip lampu Singapura menghiasi langit di belakang mereka. 

Rute Australia-Singapura yang dilewati oleh kapal Krait dalam Operasi “Jaywick”. (Sumber: https://www.flickr.com/)

Dalam angin kencang dan laut yang kasar, mereka berlabuh di pantai di Pulau Pandjang pada pukul 02:00 tanggal 18 September dan menumpuk perlengkapan untuk tim penyerang di dek. Suara mesin kuat kapal patroli datang dari dekat dalam kegelapan, dan mereka menunggu dalam keadaan diam sampai menghilang. Kapal itu kembali, tapi dari posisi yang lebih jauh. Satu jam setelah tengah malam angin mereda, dan mereka berhasil meluncurkan sampan. Davidson dan Jones mendayung ke darat dan mencari tanda-tanda tempat tinggal di pulau itu tetapi tidak dapat menemukannya. Perlengkapan yang dibawa ke darat adalah kano, ranjau tempel, makanan dan air, senjata dan amunisi, pakaian, peralatan medis, dan sekantong gulden emas Belanda. Kapal patroli Jepang, yang mesinnya sudah mereka dengar sebelumnya, sekali lagi lewat sangat dekat. Lyon mengadakan pertemuan tim. Diputuskan bahwa pulau ini, Pulau Pandjang, berada 30 mil dari Singapura, terlalu dekat sebagai titik penjemputan setelah penyerangan, bahwa 12 hari harus disediakan untuk penyerangan, dan bahwa tim penyerang harus dijemput di Pulau Pompong — 50 mil dari Singapura — tempat mereka mengubur perbekalan darurat. Penjemputan akan dilakukan pada tengah malam tanggal 1 Oktober. Jika tim penyerang tidak ditemukan, Krait akan kembali 48 jam kemudian. 

NYARIS DIPERGOKI SAMPAN JEPANG 

Pada pukul 4 pagi, tim penyerang — Mayor Lyon, Letnan Davidson dan Page, dan Seamen Falls, Jones dan Huston — saling berjabat tangan satu dengan yang lain dan mendayung ke daratan. Krait berlabuh dan pindah dalam kegelapan untuk berlayar tanpa tujuan di sepanjang pantai Kalimantan dan di Laut Cina selama dua minggu yang membosankan. Para kru menghabiskan waktunya sebaik mungkin, mendengarkan radio sepanjang malam untuk memantau berita mengenai operasi, sembari dengan tidak sabar menunggu siang dan malam yang panjang sampai mereka bisa berlayar kembali untuk pertemuan. Di Pulau Panjang, tim penyerang menemukan mereka kecapekan setelah sekian lama terkurung di Selat. Mereka menyeret peralatan mereka ke darat dan menyembunyikannya serta menghabiskan waktu dua hari berikutnya untuk berlatih, dengan satu orang yang tetap berjaga untuk memperingatkan ketika ada pesawat mendekat atau kapal atau perahu sedang melewati pulau. Setelah gelap pada malam kedua tanggal 20 September, mereka membawa kano dan peralatan mereka kembali ke pantai. Sampan-sampan itu panjangnya 17 kaki dan, diisi dengan dua orang, dengan membawa ranjau tempel, senjata, peralatan, makanan dan air untuk perbekalan seminggu, beratnya hampir sepertiga dari satu ton. 

Dari kejauhan Krait tidak ubahnya kapal nelayan biasa yang tidak mencurigakan. (Sumber: https://asecretwar.com/)

Mereka membawanya ke laut dan menunggu, masing-masing pria mengenakan setelan sutra Japara hitam dan sepatu olahraga hitam, wajah dan tangan mereka dihitamkan, pistol dan pisau diikat, kompas dan kotak P3K disimpan di saku ritsleting, masing-masing dengan tablet sianida yang mudah dijangkau jika dibutuhkan. Ketika kapal patroli reguler Jepang lewat, mereka akan naik ke kano dan mulai mendayung menuju Singapura, Lyon dan Huston ada di satu kapal, Davidson dan Falls di yang lain, dengan Page dan Jones di yang ketiga. Mereka mengayuh sampai tengah malam, menempuh jarak 11 mil, dan kemudian, karena kelelahan dan pegal-pegal karena pekerjaan yang tidak biasa, mereka berhenti di pulau Bulat yang kecil dan tidak berpenghuni. Mereka menurunkan kano dan membawa perlengkapan mereka ke hutan palem di semak-semak dan berbaring serta tidur sampai siang hari. Saat bangun, mereka melihat ke laut untuk menemukan sampan bermotor yang mengibarkan bendera Jepang bergerak perlahan menuju pantai, dan di pantai masih ada beberapa peralatan mereka. Dua kano hanya sebagian tersembunyi. Dengan menyiapkan pistol, sambil mengutuki diri sendiri karena kecerobohan mereka, mereka menyaksikan sampan itu berlabuh di lepas pantai. Selama satu jam berikutnya, mereka menahan napas saat para pelaut Jepang bergerak di dek sampan, tetapi tidak ada dari mereka yang memperhatikan peralatan di pantai. Ketika sampan pergi, mereka segera menyembunyikan peralatan dan sampan. 

MELEWATI SELAT BULAN

Setelah gelap, masih pegal-pegal karena pada malam sebelumnya mengayuh kano yang sempit, mereka berangkat ke Selat Bulan. Selat itu hanya selebar satu mil, dan gelombang pasang serta pusaran air di antara pulau-pulau membuat mendayung kano yang bermuatan besar menjadi sangat sulit. Mereka telah menempuh perjalanan kurang dari sembilan mil dengan mendayung sampan di antara hutan bakau Pulau Bulan sebelum fajar. Ketika fajar menyingsing, mereka mendengar suara-suara memanggil dan dapat melihat orang-orang bergerak di desa yang tidak jauh dari pulau berikutnya. Melihat sekeliling, mereka melihat lebih banyak desa menghiasi pulau-pulau kecil lainnya, dan perahu layar serta kano mulai menggunakan jalur tersebut hanya beberapa meter dari mereka. Mereka mengikat cabang-cabang bakau sebagai kamuflase, memakan sebagian ransum makanan mereka, dan berbaring di lumpur bakau yang berbau busuk untuk tidur, ketenangan mereka dipecah oleh panggilan-panggilan dari desa-desa, anjing berkelahi, dan teriakan para tukang perahu yang lewat begitu dekat sehingga layar perahu mereka menutupi matahari. Itu adalah hari yang menyedihkan. Lalat pasir menyerang mereka dalam kawanan, dan kepiting menggigit mereka saat mereka berbaring di bawah sinar matahari, tetapi pada sore hari hujan turun deras, dan mereka agak disegarkan olehnya, mereka pergi dengan kano segera setelah hari gelap.

Rute kano Tim Penyerang Operasi Jaywick. (Sumber: https://www.atspl.com.au/)

Mereka sudah keluar dari Selat Bulan pada tengah malam dan pada pukul 2 pagi, mereka bisa melihat lampu-lampu Singapura di langit — mereka terlalu rendah di air untuk melihatnya secara langsung. Mereka mendarat di Pulau Dongas pada tanggal 22 September dan menyembunyikan kano serta perlengkapan mereka. Mereka kini berada delapan mil dari target mereka dan 2.000 mil dari pangkalan mereka di Teluk Exmouth, Australia Barat. Keesokan paginya mereka memeriksa pulau itu dan menemukannya tidak berpenghuni. Dari tempat yang tinggi, dengan menggunakan teleskop, mereka menghabiskan waktu berjam-jam melihat-lihat kabut ke pelabuhan. Bagi Huston, Falls, dan Jones, Singapura hanyalah pulau lain, pulau yang akan diserang, tetapi bagi tiga personel lainnya, pulau itu memiliki hubungan emosional. Ayah Bob Page ditahan di Singapura seperti halnya saudara laki-laki Donald Davidson, dan bagi Ivan Lyon, istri dan putranya yang masih kecil ditawan disana. Mereka telah melarikan diri dari Singapura sebelum jatuh dan mencapai Ceylon. Berlayar ke Australia untuk bergabung dengan Lyon, kapal mereka tenggelam di Samudera Hindia dan mereka dibawa kembali sebagai tahanan ke Singapura. Lyon hanya tahu sejauh itu tetapi tidak tahu bahwa mereka telah dipindahkan ke kamp penjara di Jepang. Mereka bertahan di kamp tersebut hingga dibebaskan oleh pasukan Amerika saat Jepang menyerah. 

TARGET YANG TERLALU BAGUS UNTUK DILEWATKAN

Tim penyerang beristirahat di Pulau Dongas selama dua hari berikutnya dan menyaksikan jalur khusus yang dilewati oleh berbagai kapal sebagai bukti adanya ladang ranjau. Mereka mereka tidak dapat mendeteksi satu pun. Tampaknya tidak ada patroli udara atau laut secara teratur atau tindakan pengamanan pelabuhan, dan pada malam hari tidak ada pemadaman listrik di kota Singapura. Jepang hanya mengambil sedikit tindakan pencegahan; mereka jelas sangat yakin pada diri mereka sendiri. Sore kedua, konvoi 13 kapal, yang diperkirakan memiliki bobot total 65.000 ton bergerak ke Roads, posisi untuk meninggalkan pelabuhan. Itu adalah target yang terlalu bagus untuk dilewatkan, dan setelah gelap tim membawa kano mereka ke pantai dan meluncurkannya. Pada tengah malam, mereka masih dua mil dari Roads, berjuang melewati arus, ketika tiba-tiba lampu sorot menyala. Mereka tidak bergerak, pandangan mereka melayang selama setengah menit dalam keadaan silau, menunggu alarm berbunyi, dan kemudian lampu padam. Mereka memutuskan bahwa, karena arus yang deras, mereka harus menyerah untuk menghentikan misi malam ini. Mereka juga memutuskan untuk menemukan pulau lain sebelum memulai serangan. 

Pulau Subar, titik akhir sebelum penyerangan ke Pelabuhan Singapura. (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/)

Mereka meninggalkan Pulau Dongas pada malam berikutnya dan, melawan arus pasang antar pulau, mereka mencapai Pulau Subar, tujuh mil sebelah barat Dongas, tepat sebelum fajar. Subar adalah pulau berbatu, bebatuannya terlalu panas untuk disentuh, dan sangat panas sehingga tidak mungkin untuk tidur di siang hari. Orang-orang itu berbaring di atas selimut di puncak tebing di mana mereka bisa melihat ke laut 60 kaki di bawah dan menyaksikan barisan kapal, perahu, dan sampan yang lewat. Kabut panas terangkat di sore hari, dan melalui teleskop mereka memeriksa pelabuhan, memindahkan apa yang mereka lihat ke peta mereka dan merencanakan serangan mereka malam itu. Di bawah langit tanpa bulan pukul 19:20 tanggal 26 September, mereka mendayung mencari cahaya lampu di Singapura. Di pelabuhan mereka dua kali berbaring ke depan dan tidak bergerak di kano mereka sementara lampu sorot mempermainkan mereka, tetapi tidak ada alarm yang dibunyikan. Kemudian mereka berpisah, mencari target.

PEKERJAAN BAGUS DI MALAM HARI

Di sepanjang dermaga Bukum di mana laut bercahaya dengan cahaya yang dipantulkannya, Bob Page dan Arthur Jones melewati kapal angkut berukuran 5.000 ton, kemudian sebuah kapal kecil di pesisir dan sebuah kapal tanker besar yang nampak menyala di mana terdapat tukang las sedang bekerja. Page mengarahkan sasaran pada kapal barang yang diperkirakan tipe Tone Maru class. Mereka harus melintasi sebidang besar cahaya kuat sebelum mereka sampai ke bayangan kapal barang, dan ketika mata mereka menyesuaikan, mereka bergerak di sepanjang lambungnya memasang ranjau tempel di bawah garis air, waktunya untuk meledak adalah pada jam 5 pagi. Mereka menggantung di rantai jangkar, beristirahat dan makan sebatang coklat serta mendengarkan obrolan para tukang las dan pekerja lain di kapal tanker sampai, diperingatkan oleh naluri, mereka mendongak untuk melihat penjaga Jepang berseragam di atas dek di atas mereka. Tanpa bergerak, mereka mengawasinya selama beberapa menit sampai dia meludah ke laut di samping mereka dan kembali melanjutkan perjalanan. Mereka mendayung pergi. Target kedua mereka adalah kapal besar modern yang memiliki muatan cukup rendah di atas air, yang kemudian diidentifikasi sebagai Nasusan Maru. Cahaya lampu di air di sekitarnya dan titik merah dari rokok yang dihisap oleh kru di dek membuatnya menjadi target yang berbahaya, tetapi mereka mengambil risiko dan memasang ranjau. Meninggalkan kapal ini, mereka terjebak dalam arus, sebelum mereka menyadari apa yang sedang terjadi, sampan terbentur ke kemudi kapal uap bermuatan berat, yang diindentifikasi kalau tidak Yamataga Maru atau Nagano Maru. Mereka menempelkan ranjau yang tersisa di sana dan, dengan bermandikan keringat dan sangat lelah, mereka mulai mendayung ke Pulau Dongas di mana mereka akan bertemu dengan yang lain.

Dengan hati-hati dan penuh ketegangan Tim Penyerang Operasi Jaywick memasang ranjau tempel pada kapal-kapal sasaran di Pelabuhan Singapura. (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/)

Ivan Lyon dan Andrew Huston mendayung ke Examination Anchorage di mana, berbeda dengan cahaya yang mengganggu Page dan Jones, hampir gelap gulita. Berada rendah diatas air, hampir mustahil bagi mereka untuk melihat kapal di tengah kegelapan pelabuhan dan garis perbukitan di pantai. Mereka mendayung selama dua jam dan tidak dapat menemukan sebuah kapal pun sampai kemudian melihat lampu berwarna merah dan bayangan kapal tanker. Mereka mengitarinya, memperhatikan betapa rendahnya dia di atas air dan, mengetahui bahwa sulit untuk menenggelamkan sebuah kapal tanker dengan ranjau, mereka memutuskan untuk meletakkan semua yang mereka miliki padanya. Karena mereka bisa mendengar suara-suara di dek, mereka bekerja dengan lambat dan hati-hati. Mereka menempatkan tiga ranjau di atas ruang mesinnya, tiga lainnya di sekitar baling-balingnya, dan bergerak di sepanjang sisi kanan kapal. Dengan dua ranjau lagi terpasang dan yang ketika yang terakhir siap untuk dipasang, Lyon mendongak untuk melihat, 10 kaki di atasnya, kepala seorang pria keluar dari jendela kapal, wajahnya pucat di atas lambung kapal yang hitam. Pria itu mengendus dan berdehem, dan Lyon, dengan ranjau tempel di tangannya, bertanya-tanya apakah dia punya waktu untuk memasangnya. Jadi dia memasang sumbu satu menit untuk meledakkannya jika mereka ketahuan. Kepala itu kemudian menghilang, cahaya lalu muncul di jendela kapal, dan mereka menunggu pria itu kembali dengan senter untuk menyinari mereka. Ternyata dia tidak melakukannya. Lyon memasang ranjau, dan mereka mendayung pergi. 

Nasusan Maru, salah satu kapal yang diperkirakan turut rusak akibat serangan dalam Operasi Jaywick. (Sumber: http://www.combinedfleet.com/)

Sementara itu, Donald Davidson dan Wally Falls mendayung ke Pelabuhan Keppel, di mana mereka hampir tertabrak kapal feri uap. Melewati kapal Yacht, mereka bisa mendengar suara-suara orang Jepang menyanyi dengan nyaring dengan diiringi suara pesta pora lainnya. Di Empire Dock, di mana terdapat kapal-kapal, suasana sangat terang benderang dan ada begitu banyak aktivitas yang terjadi sehingga mereka terus bergerak, mengikuti tarikan arus samudra ke jantung bisnis dari Singapura. Di sini ada banyak kapal dan banyak cahaya. Mereka menyusur di samping kapal barang yang sarat muatan dan memasang tiga ranjau, lalu melanjutkan dan melakukan hal yang sama ke kapal barang kedua dan ketiga. Jam Victoria Hall berdentang pukul 1 pagi. Sudah larut. Mereka memutuskan untuk tidak kembali ke Pulau Dongas tetapi langsung menuju tempat pertemuan di Pulau Pompong. Lyon, Huston, Page, dan Jones tiba di Dongas tepat sebelum siang hari, dan setelah sembilan jam di dalam kano mereka sangat kelelahan dan pegal-pegal sehingga sulit untuk menurunkan dan menyembunyikan kano. Tapi mereka bergegas mendaki bukit dan menunggu dengan penuh harap di siang hari yang cerah. Pada pukul 5:15 mereka mendengar ledakan kecil — dan enam menit kemudian terdengar ledakan kedua. Mereka bisa mendengar suara sirene. Dalam 20 menit berikutnya mereka mendengar lima ledakan lagi. “Kerja yang bagus,” kata Jones. Sementara itu di pelabuhan, air laut membanjiri lubang menganga yang ditinggalkan oleh ranjau pada kapal-kapal yang ditempeli, dan segera kapal-kapal itu mulai miring ke satu sisi, sebelum lautan mengalir di atas kapal dan mereka terbalik menjadi api yang mendidih dengan puing-puing yang berserakan di pantai. Kerusakan akibat operasi Jaywick, berdasarkan data intelijen yang dikumpulkan setelah kembalinya tim ke Australia adalah sebagai berikut: 1 kapal kargo berbobot 3.180 ton tenggelam, kemungkinan dari kelas Yamagata Maru. Sementara yang rusak atau mungkin tenggelam adalah 1 kapal barang dari kelas Nasusan Maru. 1 kapal barang berbobot 3.802-4.070 ton, kemungkinan dari kelas Tone Maru. 1 kapal barang Taisyo Maru seberat 4.816 ton. 2 kapal kargo yang tidak teridentifikasi, masing-masing berbobot 5.000 hingga 6.000 ton. Dan yang Rusak dan Terbakar adalah 1 kapal tanker Sinkoku Maru seberat 10.020 ton (pada akhir perang, klaim tentang Sinkoku Maru, diragukan, karena catatan Jepang menunjukkan bahwa kapal ini pada hari yang sama baru saja meninggalkan Pulau Truk). Total Tonase dari kapal-kapal itu diperkirakan antara 36.843 hingga 39.111 ton.

KEMBALI KE KRAIT 

Dengan siang hari mendekat mereka dapat melihat melalui teleskop bahwa kapal-kapal sedang berpencar di pelabuhan dan menyaksikan asap mengepul dari kapal tanker yang terbakar. Sirene meraung terus menerus. Kemudian mereka melihat pesawat. Perburuan atas mereka dimulai. Kapal patroli angkatan laut dan sampan cepat bergabung dengan pesawat. Dengan satu orang berjaga, yang lainnya mencoba untuk tidur, tetapi karena kelelahan mereka hanya bisa tertidur dan terbangun karena suara mesin di atas dan di dekat mereka. Malam itu sebuah kapal patroli angkatan laut melintas perlahan hanya 50 meter dari pantai sementara para perwira memeriksa pulau melalui teropong. Ketika kapal patroli melanjutkan perjalanan dan segera setelah hari gelap, mereka meluncurkan kano dan meninggalkan pulau itu. Patroli kapal Jepang dan badai menunda mereka dan mereka mencapai Pulau Pompong pada jam 3 pagi pada tanggal 2 Oktober. Krait tidak ada di sana. Mereka merangkak dan terhuyung-huyung ke pantai, menyembunyikan kano dan peralatannya, dan tertidur. Krait telah kembali ke Pulau Pompong untuk mengadakan pertemuan. Para kru tidak mendengar berita di radio tentang penyerangan tersebut dan tidak mengetahui nasib tim penyerang. 

Anggota Tim Operasi Jaywick merayakan kesuksesan mereka. (Sumber: https://www.sea.museum/)

Dengan kemungkinan bahwa tim telah ditangkap dan penyergapan sedang menunggu di Pompong, para kru menyiapkan senjata mereka ketika Krait bergerak perlahan ke pantai pendaratan dan menjatuhkan jangkar. Saat itu jam 00:30 — mereka terlambat setengah jam. Mereka melihat gerakan di pantai, dan Davidson memanggil mereka. Beberapa menit kemudian dia dan Falls berada di atas kapal. Mereka menunggu sampai subuh dan kemudian pergi, dengan ditonton oleh Lyon, Page, Huston, dan Jones dari pantai lain. Dalam kelelahan dan kegelapan, mereka menunggu di pantai yang salah. Mereka pindah ke pantai sebelah kanan dan menunggu Krait kembali dua malam kemudian. Dia tiba tepat waktu di tengah malam. Krait melakukan perjalanan yang tenang melintasi Laut Jawa dan mendekati Selat Lombok pada sore hari tanggal 11 Oktober. Dengan kru sekali lagi menyamar, mereka memasuki selat malam itu juga. Kecuali untuk satu peristiwa menegangkan ketika kapal penyapu ranjau Jepang melewati mereka sejauh 100 yard selama delapan menit sementara perwiranya memeriksa Krait melalui teropong dari anjungan, perjalanan kembali ke Australia Barat relatif lancar. Pada 19 Oktober, mereka berlabuh di Teluk Exmouth, 47 hari dan 5.000 mil setelah menuju utara ke Singapura, dengan 33 hari di antaranya berada di perairan Jepang. 

PEMBALASAN JEPANG

Di Singapura, orang Jepang terpana dengan keberanian dan kesuksesan Operasi Jaywick. Tidak percaya bahwa itu adalah sebuah aksi komando dari pihak musuh, mereka langsung mencurigai penduduk sipil. Orang Tionghoa dan Melayu lokal, tawanan perang serta warga sipil Eropa menduduki puncak daftar tersangka. Dengan ini kemudian menyusul gelombang penangkapan, penyiksaan dan eksekusi massal. Pembalasan ini dikenal di Singapura sebagai peristiwa ‘Double Tenth’ menurut tanggal 10 Oktober, tanggal dimulainya penangkapan massal oleh Kenpeitai (polisi militer) Jepang. Penderitaan yang disebabkan bagi rakyat Singapura merupakan konsekuensi yang tidak disengaja dari Operasi Jaywick dan telah menimbulkan pertanyaan tentang pembenaran aksi komando semacam ini, terutama mengingat hasil strategisnya yang relatif terbatas. Sekutu tidak pernah mengakui keterlibatannya, mungkin untuk menjaga identitas rahasia Krait untuk misi di masa depan. Akibatnya Jepang berusaha membalas dendam pada warga sipil Singapura. 

Kiri: Choy Kuhn Heng dan Elizabeth Su-Moi Choy (Nyonya Elizabeth Choy) saat menikah pada tahun 1941. Kanan: Nyonya Choy di tahun 1950-an. (Sumber: Photo: Bridget Choy Wai Fong Collection, courtesy of National Archives of Singapore, 2007-005403-EC.)

Yong Su-Moi (Elizabeth Su-Moi Choy) (1910 – 2006) lahir di Kalimantan Utara jajahan Inggris. Dia pindah ke Singapura saat masih muda untuk bersekolah di Raffles College, dan bertemu Choy Kuhn Heng. Mereka menikah pada tahun 1941. Setelah pendudukan Jepang di Singapura, Tuan dan Nyonya Choy membuka kantin di Rumah Sakit Miyako yang menyediakan kebutuhan sehari-hari – seperti makanan dan obat – untuk pasien. Akhirnya, kantin itu juga menjadi penghubung antara narapidana di Penjara Changi dan dunia luar. Setelah insiden Double-Tenth, pihak berwenang Jepang mengetahui keterlibatan pasangan itu dalam memberikan paket, uang, dan pesan kepada tahanan di Changi. Keduanya ditangkap dan Nyonya Choy dipenjara di bekas gedung YMCA Singapura, di mana dia mengalami interogasi dan penyiksaan brutal selama 193 hari. ‘Mereka menendang Anda, mereka mencambuk Anda, mereka memukul dan melemparkan Anda dan melakukan segala macam hal… mereka memaksa Anda untuk minum air sampai air keluar dari hidung Anda… dan menginjak perut Anda dan sebagainya… tetapi yang terburuk adalah sengatan listrik di tubuh telanjang saya… sangat mengerikan ‘ kenang Elizabeth Choy, pada tahun 2005. Setelah perang, Tuan dan Nyonya Choy dianugerahi the Order of the British Empire, Order of the Star of Sarawak, Girl Guides Bronze Medal, dan Pingkat Bakti Setia, Singapore.

OPERASI RIMAU: SERANGAN KEDUA DI PELABUHAN SINGAPURA

Meskipun kehilangan Jepang dalam operasi itu, 37.000 ton, sangat kecil dibandingkan dengan, katakanlah, kapal Jepang yang ditenggelamkan oleh kapal selam Amerika, keberanian operasi itu dapat memberikan dorongan semangat bagi pihak Sekutu jika dipublikasikan dan mungkin akan menciptakan kepanikan di setiap pelabuhan Jepang di Pasifik dan Asia Tenggara. Tetapi operasi itu diklasifikasikan sangat rahasia karena pengetahuan detail operasi itu oleh Jepang dapat membahayakan operasi serupa di masa depan. Kisah operasi Jaywick terkubur dalam file hingga lama setelah perang. Tim Jaywick kembali ke Z Force, tidak mengetahui bahwa di Singapura, pihak Jepang menyalahkan para penyabot setempat atas tenggelamnya kapal-kapal mereka dan memulai penyelidikan telah mengarah ke aksi pemenjaraan, penyiksaan dan eksekusi ratusan orang Cina dan Melayu, dan beberapa orang Eropa yang ditahan di pulau itu. Ivan Lyon, yang sekarang seorang letnan kolonel, percaya bahwa Jepang tidak akan berpikir adanya serangan lain di Singapura, mengusulkan serangan kedua yang lebih besar. Dinas Operasi Khusus Inggris menyetujuinya, dan Lyon pergi ke Inggris untuk memeriksa semua bahan dan peralatan terbaru. 

Sepasang kendaraam “Sleeping Beauty” sedang diangkut dengan kapal Pom Pom selama latihan sebelum penyergapan di pelabuhan Singapura. (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/)
Sleeping Beauty saat digunakan untuk menyelam. (Sumber: https://www.navy.gov.au/)

Di sana ia memeriksa kapal selam penyebar ranjau besar, Porpoise, dan mencoba Sleeping Beauty (SB), kendaraan sepanjang 13 kaki yang dapat membawa seseorang dengan kecepatan empat setengah knot di permukaan air atau tiga setengah knot di bawah air dan memiliki jangkauan 12 mil dengan baterai yang terisi penuh. Kapal selam pelepas ranjau dan SB adalah yang dia inginkan. Dia kembali ke Australia, dan di Careening Bay dekat Fremantle di Australia Barat dia mulai memilih dan melatih sukarelawan untuk operasi yang dia beri nama sandi Rimau, kata Melayu untuk harimau. Dia memutuskan untuk menggunakan empat orang yang pernah ikut di operasi Jaywick, yakni Davidson, Page, Falls dan Huston, serta 17 pelaut dan anggota komando Inggris dan Australia lainnya. Mayor Reginald Ingleton dari Marinir Kerajaan Inggris akan pergi bersama mereka sebagai pengamat, tetapi ia dengan cepat bergabung sebagai salah satu anggota tim.

Rencananya dari Operasi Rimau adalah sebagai berikut: 

  • Mengirimkan pasukan komando ke perairan musuh dengan menggunakan kapal selam dengan 15 kano submersible bermesin satu orang yang dikenal sebagai “Sleeping Beauties” (SBs);
  • Melakukan perjalanan ke Pulau Merapas yang tidak berpenghuni di Indonesia yang akan mereka gunakan sebagai basis dan tempat perbekalan yang cukup untuk tiga bulan;
  • Menyuruh para komando menangkap perahu nelayan lokal kecil;
  • Berlayar dengan perahu menuju Pelabuhan Singapura tanpa terdeteksi, dengan menyamarkan pasukan komando sebagai penduduk setempat; 
  • Mencapai Teluk Kepala Jernih (di Kepulauan Tambelan) pada akhir tanggal 9 Oktober 1944 selama 24 jam untuk memungkinkan seorang perwira melakukan pengintaian dari Pulau Subar (“Pulau Sisters ‘);
  • Perwira itu akan menghabiskan waktu mengamati target dan kemudian bertemu dengan kapal untuk berpartisipasi dalam serangan itu.
  • Dua kano akan melakukan perjalanan ke utara ke sekitar Pulau Labon untuk mengamankan tempat persembunyian bagi kapal dan kano lainnya untuk menuju ke Subar; 
  • Setelah kegelapan, kru harus memindahkan kapal ke basis serangan di Labon
  • Menggunakan “Sleeping Beauties”, mereka akan memasang ranjau tempel ke kapal Jepang, menenggelamkan tiga puluh dari mereka, merusak tiga puluh lainnya, dan melarikan diri ke pangkalan mereka di Pulau Merapas dengan mendayung kembali dengan dua orang perahu lipat (kano yang dapat dilipat), tujuh puluh mil di sebelah timur Singapura;
  • Kembali ke tempat pertemuan dengan kapal selam pada tanggal 7/8 November 1944 di Pulau Merapas;
  • Jika kapal selam gagal melakukan kontak dengan mereka, kapal selam akan tetap berada di daerah tersebut, kembali ke titik yang ditentukan setiap malam hingga tanggal 8 Desember 1944.

MISI DIBATALKAN

Pada tanggal 11 September 1944, kapal selam Porpoise meninggalkan Careening Bay dijejali dengan 15 SB, 11 perahu tambahan (kano operasi khusus), 15 ton perbekalan, senjata, ranjau tempel, radio dan peralatan lainnya, dengan Lyon beserta 22 orang anggota timnya. Ketika tim tersebut berhasil menyusup ke belakang garis musuh, berton-ton perbekalan dipindahkan ke Pulau Merapas yang kecil dan tertutup hutan, 110 kilometer dari Singapura. Menjadi pulau paling timur yang membentuk Kepulauan Riau di Indonesia, Merapas cocok sebagai pangkalan dan titik pertemuan dengan kapal selam penyelamat, yang dijadwalkan akan datang pada tanggal 7 November malam. Di lepas pantai Kalimantan, sebuah kapal bercerobong dua bernama Mustika dirampas dan dibawa berlayar ke Pulau Pedjantan, di mana peralatan dan perbekalan tim dipindahkan ke sana. Porpoise, dengan awak kapal Mustika di atasnya, kembali ke Australia dan berjanji untuk kembali menjemput tim dalam waktu 40 hari. Porpoise tiba dengan selamat kembali di Fremantle pada tanggal 11 Oktober 1944 dan hanya empat hari kemudian Chapman, bersama dengan Kopral Ronald Croton, naik kapal selam HMS Tantalus untuk melakukan pertemuan dengan rombongan Tim Rimau pada tanggal 8 November. Tantalus, di bawah komando Letnan Komandan Hugh Mackenzie, DSO, RN, dijadwalkan untuk melakukan patroli ofensif di Laut Cina Selatan. Perintah untuk Mackenzie memberinya ruang lingkup yang luas untuk melakukan penilaiannya sendiri dalam pelaksanaan operasi. Perintahnya secara eksplisit menyatakan, ‘Komandan HMS Tantalus bertanggung jawab atas keselamatan kapal selam yang menjadi pertimbangan pertamanya dan memiliki keleluasaan untuk membatalkan atau menunda operasi kapan saja.’ Perintahnya lebih lanjut menyatakan, ‘Sesuai dengan persyaratan patroli HMS Tantalus akan meninggalkan patrolinya pada malam hari tanggal 7 November dan melanjutkan ke sekitar Pulau Merapas. ‘

Plakat peringatan kapal Mustika di Rockingham, Western Australia. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Setibanya di Merapas, Chapman dan Croton harus berangkat ke darat pada malam 8/9 November untuk melakukan kontak dengan pihak Tim Rimau sebelum kembali ke Tantalus malam berikutnya. Perintah tersebut selanjutnya menyatakan ‘Jika Tim Rimau gagal untuk melakukan pertemuan untuk embarkasi, pihak Tantalus, tidak boleh ragu untuk meninggalkan operasi atau jika mereka memiliki alasan untuk mencurigai bahwa operasi itu terganggu ‘. Mackenzie, setelah berkonsultasi dengan Chapman, memutuskan untuk tetap berpatroli dan melakukan upaya pertemuan kembali pada malam 21/22 November. Tujuan utama Tantalus adalah tindakan ofensif terhadap Jepang dan perintah kepada pihak RIMAU adalah bahwa mereka diharapkan akan dijemput kapan saja dalam waktu satu bulan dari tanggal pertemuan awal. Tantalus tiba di Merapa pada tanggal 21 November dan Chapman serta Croton mendarat sekitar pukul 02:00 pada tanggal 22 November. Mereka berjalan menuju tempat pertemuan pada malam hari dan pada cahaya pertama mulai mencari tanda-tanda keberadaan Tim Rimau. Apa yang mereka temukan tidak menggembirakan. Bukti menunjukkan bahwa Tim Rimau telah sempat berada di pulau itu, dan tampaknya pergi dengan tergesa-gesa. Chapman dan Croton menemukan tempat berlindung besar yang condong ke tempat terbuka di puncak bukit, jauh dari lokasi pangkalan aslinya, dengan bukti bahwa Tim itu ada di sana. Kaleng ransum kosong ditemukan berserakan; makanan setengah matang di ‘Commando Cookers’, api tampaknya telah dipadamkan; beberapa lembar kertas perak; karton rokok kosong; di antara barang-barang yang ditemukan. Chapman dan Croton memperkirakan bahwa tempat tersebut telah ditinggalkan sekitar dua minggu sebelumnya. Sekembalinya ke Tantalus malam itu, Chapman dan Mackenzie setuju bahwa operasi itu kemungkinan besar gagal dan tidak ada hal yang perlu dilakukan lagi di Merapas. Tantalus tiba kembali di Fremantle pada tanggal 6 Desember 1944.

Kapal Layar Mustika. (Sumber: https://www.navy.gov.au/)

Dari sini tidak ada lagi yang terdengar tentang Operasi Rimau sampai setelah perang ketika file Departemen Layanan Pengintaian dibuka bagi para peneliti dimana isinya terkait dengan informasi dari sumber lain dan laporan interogasi perwira Jepang, Kempei Tai, dan penduduk lokal Singapura dan pulau-pulau sekitarnya. Dari sana diperoleh informasi mengenai apa yang sebenarnya terjadi dalam Operasi Rimau. Setelah meninggalkan Porpoise, Lyon dan timnya berlayar dengan Mustika ke Pulau Merapas di sekitar Singapura, sebagai basis yang cocok untuk melancarkan serangan mereka, di mana tiga operator diturunkan untuk membantu Carey sebelum melanjutkan perjalanan menuju Singapura. Pada atau sekitar 6 Oktober 1944, Mustika berada di lepas pantai barat Pulau Batam (bisa jadi juga adalah pulau Bintan), dan menghadap Pelabuhan Singapura. Dalam jeda sebelum hujan dimulai dan dengan layar Mustika tergantung lemas, mereka berlayar melewati pulau kecil Kasu, sambil menunggu malam tiba dan bersiap untuk meluncurkan SB. Suatu sore,Tanpa diduga mereka tiba di sebuah desa nelayan, dengan beberapa rumah di atas tiang-tiang yang tenggelam di pasir dan lumpur. Saat mereka semakin dekat, sebuah kapal motor menghampiri mereka. Di dalamnya ada setengah lusin Polisi Air, orang Melayu yang mengenakan seragam Jepang dan kemungkinan mereka berada dibawah pengaruh Kempei Tai. Lebih dekat, jelas bagi orang Melayu itu bahwa orang-orang di atas kapal Mustika adalah orang Eropa meskipun tubuh mereka diwarnai cokelat dan mereka mengenakan sarung dan topi kuli jerami. Salah satu anggota tim yang gugup menembaki mereka, membunuh mereka semua kecuali satu yang terjun ke samping dan berenang kembali ke desa. Insiden itu terjadi di depan mata orang-orang desa. Mengetahui bahwa kapal dan pesawat bersenjata Jepang akan segera hadir, Lyon tidak punya alternatif selain membatalkan operasi tersebut. Dia memerintahkan 12 orang dari anggota tim pergi dengan enam perahu dan bersama yang lainnya membawa Mustika ke perairan yang lebih dalam di mana mereka dapat meluncurkan perahu layar dan perahu lipat yang berisi peralatan dan meledakkan Mustika dan SB.

HANCURNYA TIM LYON 

Meskipun tim tersebut terutama berkonsentrasi untuk melarikan diri, ada bukti bahwa Lyon dan beberapa orang mendayung ke Jalan di luar pelabuhan Singapura dan memasang beberapa ranjau tempel ke beberapa kapal. Lyon memerintahkan anak buahnya untuk membagi menjadi empat kelompok dan kembali ke Merapas dengan menggunakan perahu-perahu yang mereka simpan di Mustika. Grup tersebut dipimpin oleh Lyon, Davidson, Page dan Ross. Tiga kelompok segera menuju Merapas. Lyon memimpin kelompoknya ke Pelabuhan Singapura. Mereka terdiri dari Lyon sendiri dan pasukan kecil yang terdiri dari enam orang lainnya – Lieutenant Commander Donald “Davo” Davidson, Letnan Bobby Ross, Able Seaman Andrew “Happy” Huston, Kopral Clair Stewart, Kopral Archie Campbell dan Prajurit Douglas Warne. Mereka diyakini telah menenggelamkan tiga kapal dengan ranjau tempel, meski bukti yang mengonfirmasi hal ini terbatas, yang pasti ada beberapa ledakan malam itu. Percaya bahwa itu adalah hasil pekerjaan pejuang perlawanan lokal, Jepang melakukan pembalasan. Dengan dipimpin Mayor Hajime Fujita, 100 orang personel angkatan, laut dan polisi pribumi mencari para prajurit komando itu. Karena sukar menemukan, mereka melampiaskan kemarahan kepada penduduk lokal, akibatnya beberapa kepala orang Cina dan Melayu yang terpenggal segera muncul di tiang-tiang di sekitar kota pelabuhan itu. Baru setelah berita insiden di Kasu mencapai markas Kempei Tai barulah perburuan atas tim Rimau dimulai, dan saat itu mereka telah tersebar di antara pulau-pulau. Mereka diburu selama berminggu-minggu. Dalam bentrokan dengan tentara Jepang di Pulau Soreh, Donald Davidson dan Archie Campbell keduanya terluka parah. Ketika Jepang mundur menunggu bala bantuan, kedua pria yang terluka itu diberi suntikan morfin dan dimasukkan ke dalam perahu. Mereka mendayung menuju Pulau Tapai sementara Lyon dan dua lainnya tetap tinggal untuk menahan tentara Jepang dan memberi mereka awal yang baik. 

Pulau Merapas yang digunakan sebagai titik peluncuran serangan Operasi Rimau. (Sumber: https://www.navyhistory.org.au/)
Tempat anggota Z Force menyembunyikan kano dua orang yang digunakan untuk melakukan serangan ke Pelabuhan Singapura. (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/)

Lebih dari seratus bala bantuan tiba, dan Lyon, Letnan Bobbie Ross, serta Kopral Clair Stewart menahan mereka hampir sepanjang malam dengan senjata Sten dan granat, menewaskan 44 orang dan melukai 20 lainnya. Menjelang fajar, Lyon dan kemudian Ross terbunuh oleh granat Jepang. Stewart, terluka, menghindari tentara Jepang tetapi kemudian ditangkap. Dia disiksa tetapi menolak untuk mengatakan apapun tentang operasi tersebut. Davidson dan Campbell mencapai Pulau Tapai di mana, dalam kesakitan karena luka mereka dan tidak dapat pergi lebih jauh, mereka menelan tablet sianida. Anggota tim lainnya terbunuh, meninggal karena luka-luka atau ditangkap, beberapa setelah mencapai ketahanan yang luar biasa. Dua ditangkap di Jawa di mana salah satu dari mereka meninggal setelah diinokulasi dengan obat-obatan dalam percobaan medis yang dilakukan oleh dokter Jepang. Dua lainnya, yang berasal dari pasukan komando Australia, Warrant Officer Jeffrey Willersdorf dan Kopral Hugo Pace, dengan perahu nelayan kolek kecil berlayar dari pulau ke pulau sejauh 2.000 mil di sepanjang pantai Sumatra, Jawa, Bali, Lombok, dan Flores ke Pulau Romang di dekat Timor tempat mereka dikhianati dan diserahkan ke pihak Jepang. Mereka dibawa ke Dili, Timor, di mana mereka meninggal karena penyiksaan, kelaparan, dan penyakit.

10 TAHANAN DIEKSEKUSI 

Secara keseluruhan, 10 orang dari anggota tim dibawa sebagai tahanan ke Singapura. Orang Jepang menganggap mereka prajurit dengan semangat Bushido, yang telah bertempur dan ditangkap, bukan menyerah. Mereka memperlakukan mereka dengan hormat. Mereka diinterogasi berulang kali tetapi tidak diperlakukan dengan buruk meskipun mereka menolak untuk menceritakan sesuatu yang sangat penting tentang operasi tersebut. Pada akhir Mei 1945, seorang komandan baru Jepang di Singapura memerintahkan agar mereka diadili di pengadilan militer. Pengadilan militer yang diadakan pada awal Juli, tampaknya melawan tentangan keras dari banyak pihak militer Jepang. Tim tersebut dituduh terlibat dalam operasi rahasia, tidak mengenakan seragam militer lengkap, dan mengibarkan bendera Jepang untuk membingungkan musuh. Mereka dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman mati. 

Memorial Operasi Rimau di Pemakaman Perang, Kranji-Singapura. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)
MV Krait yang telah direstorasi di Museum Bahari Nasional di Sydney. (Sumber: https://www.sea.museum/)

Pada tanggal 7 Juli, mereka dibawa ke sebuah bukit di luar Singapura di mana mereka saling berbicara, mengisap rokok terakhir, dan berjabat tangan. Mereka kemudian secara seremonial dieksekusi dengan pedang dalam tradisi prajurit, tubuh mereka jatuh ke kuburan yang disiapkan untuk mereka. Setelah perang, 10 mayat digali dan, bersama dengan mayat orang-orang yang tewas di pulau-pulau dekat Singapura, termasuk Ivan Lyon, dimakamkan di pemakaman perang Kranji di Pulau Singapura. Setelah Operasi Jaywick, Krait beroperasi pada beberapa misi rahasia di barat laut Australia dan hadir ketika Jepang menyerah di Ambon pada tanggal 12 September 1945. Pada tahun 1957, para veteran Z Force menemukan Krait, yang hampir seperti kapal rongsok, sedang mengangkut kayu di pantai Kalimantan. Dia dibawa kembali ke Australia, diperbaiki, dan sekarang ada di Museum Bahari Nasional di Sydney.

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

Australian Raiders & The Assault On Singapore Harbor By John Brown

Krait and Operation JAYWICK by Petar Djokovic

https://www.navy.gov.au/history/feature-histories/krait-and-operation-jaywick

Operation Jaywick by Richard Wood; 25 Sep 2018

https://www.sea.museum/2019/01/09/operation-jaywick

OPERATION JAYWICK AND HMAS KRAIT

Operation Rimau 1944 – Search For Grave Sites 1984

https://www.navyhistory.org.au/tag/operation-jaywick/

OPERATION JAYWICK: SPECIAL OPERATIONS AUSTRALIA (SOA) by Mike Perry; May 13, 2012

https://sofrep.com/news/operation-jaywick/

Operation Jaywick

https://asecretwar.com/operation-jaywick

Operation RIMAU: The tragic sequel to JAYWICK by Petar Djokovic

https://www.navy.gov.au/history/feature-histories/operation-rimau-tragic-sequel-jaywick

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Operation_Jaywick

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Operation_Rimau

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *