Operasi Karbala 4 & 5, Pertempuran Terbesar dalam Perang Iran-Irak

Pada tahun 1986, untuk mengusir Iran dari semenanjung Al Faw yang strategis, Irak memutuskan untuk terus menyerang. Mereka merebut kota Mehran pada bulan Mei, hanya untuk kehilangan lagi pada bulan Juli 1986. Dalam sisa tahun 1986, dunia hanya menyaksikan serangan-serangan kecil-kecilan oleh kedua belah pihak, sementara itu Iran telah mengerahkan hampir 500.000 prajurit untuk “ofensif terakhir” yang mereka janjikan, namun tidak kunjung dilakukan. Tetapi Irak, untuk pertama kalinya sejak pecahnya perang, memulai lagi kampanye serangan udara pada bulan Juli. Serangan besar-besaran di Pulau Khark memaksa Iran untuk bergantung pada instalasi militer mereka yang lebih jauh ke selatan di Teluk, di Pulau Sirri dan Pulau Larak. Setelah itu, jet Irak, yang terbang mengisi bahan bakar di udara atau menggunakan pangkalan militer Saudi, mulai menyerang Sirri dan Larak. Kedua pihak yang berperang juga menyerang 111 kapal dari negara-negara netral di Teluk pada tahun 1986. Sementara itu, untuk membantu mempertahankan diri, Irak telah membangun benteng yang mengesankan di sepanjang garis depan sepanjang 1.200 kilometer. Irak memberikan perhatian khusus pada kota selatan Basra, tempat bunker beratap beton, posisi tank dan artileri, ladang ranjau, dan bentangan kawat berduri, dimana semuanya terlindung oleh danau yang dibanjiri secara artifisial, sepanjang 30 kilometer dan lebar 1.800 meter, dibangun. Sebagian besar mereka yang berkunjung ke daerah itu mengakui efektif teknik tempur Irak yang mampu membangun penghalang-penghalang semacam ini. Pada akhir 1986, muncul rumor akan adanya ofensif Iran yang terakhir terhadap Basra. Iran bersiap untuk memecah kebuntuan perang yang telah berjalan 6 tahun.

Tentara Iran di Khuzestan saat Perang Iran-Irak. Memasuki tahun ke-6 peperangan di tahun 1986, kondisi di garis depan kedua negara tidak banyak berubah dan menjadi buntu kecuali makin bertambahnya korban diantara kedua pihak. (Sumber:https://medium.com/war-is-boring/)

LATAR BELAKANG

Pada pertengahan Perang Iran-Irak – salah satu konflik paling mematikan di abad ke-20 – Baghdad memiliki akses senjata canggih dari Timur dan Barat. Dalam hal daya tembak militer modern, Irak memiliki keuntungan yang jelas dalam hal ini dibandingkan dengan Iran. Untuk menghadapi ini, Iran hanya bisa mengandalkan sejumlah besar senjata berat yang lebih tua dan para jenderal yang loyal untuk terus mengerahkan gelombang demi gelombang prajurit infanteri dalam serangan-serangan frontal ke posisi-posisi Irak. Iran diawal perang memang memiliki sejumlah besar stok senjata canggih buatan barat warisan Shah Iran, namun kebanyakan senjata ini sudah dihabiskan, hancur, atau tidak bisa digunakan karena kelangkaan suku cadang, sementara senjata impor mereka dari China dan Korea Utara, kualitas dan teknologinya termasuk ketinggalan jaman. Para komandan Teheran untuk menambah semangat para prajuritnya juga menebarkan propaganda agama, dimana negara menekankan banyak alasan-alasan spiritual untuk menggerakkan rakyat mendukung mereka menuju kemenangan dalam medan perang.

Qassim Soleymani muda dan sosok yang kemungkinan besar adalah kakeknya saat Perang Iran-Irak. Saat perang Soleymani adalah salah satu perwira muda cemerlang dalam AB Iran. Tahun 2020, Soleymani yang telah menjadi jenderal berpengaruh di Iran dibunuh oleh serangan Drone Amerika di Irak. (Sumber:https://www.quora.com/)

Qassim Soleymani, yang pada awal tahun 2020 adalah kepala Pasukan Quds dan agen top Iran di Suriah dan Irak, sebelum dibunuh Amerika dengan drone awal tahun ini, adalah salah satu komandan muda militer Iran pada saat Perang melawan Irak. Pada akhir tahun 1986, Soleymani mengirim ribuan pasukan darat ke medan tempur, dan akhirnya berhasil merebut beberapa wilayah. Pertempuran — yang kemudian disebut sebagai Operasi Karbala-5 — adalah yang terbesar selama perang itu. Tetapi ketika dia mengingat kembali pertempuran itu, sang jenderal tidak secara akurat menggambarkan peran kecil dari artileri dan roket yang mendukung serangannya. “Lagi pula, Tuhan — bukan senjata — yang membuat kesuksesan mungkin terjadi, bukan?” itulah cara pandang dia yang sesuai dengan karakteristik komandan-komandan militer Iran di masa itu.

Selama Perang Iran-Irak, untuk mengatasi perbedaan kualitas dan kuantitas persenjataan dengan musuhnya, militer Iran menghembuskan propaganda-propaganda dengan dasar keagamaan untuk memompa semangat tentara-tentaranya. Sayangnya hal ini kemudian menyebabkan jatuhnya banyak korban personel di pihak Iran karena lemahnya taktik dan persenjataan yang mereka miliki. (Sumber:https://www.armyweb.cz/)

Seperti yang sudah disinggung tadi, dalam perang di tahun 1980-an, Irak memiliki keunggulan yang pasti dalam hal senjata modern dan berteknologi tinggi. Baghdad menurunkan jet tempur Mirage F1 untuk melawan F-14 Tomcat Iran yang banyak menebar maut diawal pecahnya perang. Sementara itu, Irak juga menggunakan rudal anti-tank Milan untuk menghancurkan tank-tank Iran warisan Shah. Di pihak lain, Irak telah menerjunkan ribuan tank T-72 melawan tank-tank lama Iran semacam Chieftain, M-47/48/60 dengan sukses. Adanya sanksi pembelian senjata yang diterapkan, berarti bahwa Teheran tidak dapat membeli senjata baik dari Washington atau Moskow. Pada tahun 1986, Soleymani adalah komandan Divisi ke-48 dari Korps Pengawal Revolusi Iran selama serangan “Karbala”. Tujuan dari operasi ini adalah untuk merebut kota pelabuhan Irak selatan di Basra. Antara Basra dan divisi Soleymani, Irak telah membangun serangkaian benteng yang sangat kompleks. Mengambil alih Basra akan menjadi tantangan operasional dan taktis yang sangat besar. Orang Irak pertama-tama menggali parit dangkal dan mengisinya dengan kawat berduri, drum-drum minyak bakar, dan ranjau yang bertujuan untuk memperlambat gerak maju pasukan infanteri Iran. Parit-parit yang dibangun sengaja dibuat untuk mengarahkan para penyerang ke posisi-posisi Irak, yang telah diatur dalam pertahanan dengan bentuk segitiga sama sisi.

Untuk menandingi F-14 Tomcat Iran, Irak mengimpor Mirage F-1 dari Prancis. Posisi Iran semakin tidak menguntungkan saat mereka mendapat embargo dari Amerika dan Soviet, sehingga peralatan tempur mereka banyak yang tidak dapat digunakan karena kelangkaan suku cadang. (Sumber:https://toylandhobbymodelingmagazine.press/)
Di darat pasukan Irak didukung oleh ribuan tank T-72 untuk menghadapi tank M-47/48/60 Iran yang lebih tua. (Sumber:https://www.deviantart.com/)

Di sepanjang setiap kaki segitiga itu, orang-orang Irak membangun tanggul sepanjang 250 meter. Pasukan-pasukan rezim Baghdad menempatkan dua tank T-72 dan satu meriam anti-pesawat ZSU-23–4 di dalam setiap segitiga. Karena tidak memiliki kendaraan, pasukan Soleymani harus menyerang benteng-benteng Irak ini dengan berjalan kaki. Upaya pertama untuk merebut posisi Irak, dalam Operasi Karbala-4, gagal total pada Desember 1986. Operasi ini diluncurkan setelah kegagalan sebelumnya pada Operasi Karbala-2 dan Operasi Karbala-3 untuk mendesak mundur garis pertahanan Irak dan merebut wilayah Irak. Pada Operasi Karbala 4, pihak Iran mempunyai tujuan untuk memberi pasukan Iran pijakan di sepanjang jalur air Arvand Roud di Iran barat daya. Pasukan Iran melakukan serangan di seberang jalur air itu di sekitar Shatt al Arab. Begitu bisa menyeberang, pasukan Iran akan melakukan ofensif dan bergerak maju ke kota pelabuhan Basra. Serangan itu akan diluncurkan menuju Pulau Umm ar-Rasas di Shatt al Arab. Untuk menghadapi serbuan pasukan Iran, pihak Irak membangun 5 ring pertahanan, yang didukung oleh saluran air alami seperti Shatt-al-Arab, dan juga jalur air buatan manusia, seperti Fish Lake dan Sungai Jasim, bersama dengan penghalang buatan manusia. Fish Lake dipenuhi dengan ranjau, kawat berduri di bawah air, elektroda, dan berbagai sensor. Selain itu, di belakang setiap jalur air dan garis pertahanan ada artileri yang dipandu radar, pesawat serang darat, dan helikopter tempur; semua mampu menembakkan gas beracun selain amunisi konvensional.

Benteng pertahanan pasukan Irak didukung dengan berbagai kendaraan lapis baja dan artileri yang melimpah dibanding Iran. (Sumber: Pinterest)

OPERASI KARBALA 4

Operasi Karbala 4 dimulai pada 24 Desember 1986 pada malam Natal dengan pasukan katak elit Pasdaran menyeberangi danau menggunakan speedboat karet untuk melancarkan serangan mendadak ke Pulau Umm ar-Rasas. Setelah mendarat, operator lampu sorot Irak ternyata berhasil menemukan pasukan katak Iran itu di tengah kegelapan. Orang-orang Iran sekarang benar-benar dalam posisi terbuka. Penembak senapan mesin Irak dengan segera menghujani mereka dengan tembakan senapan mesin, yang menewaskan hampir semua kecuali sedikit pasukan Iran. Pagi berikutnya, 60.000 pasukan Pasdaran dan Basiji Iran menyeberangi Shatt al-Arab di utara dan selatan Khorramshahr dengan perahu-perahu kecil dan kendaraan bermotor, menggunakan kegelapan fajar untuk menyembunyikan gerakan mereka. Dengan segera, pasukan Iran menemui pertahanan Irak yang menunggu mereka di garis pantai pulau itu. Kelemahan utama pihak Iran adalah kurangnya dukungan artileri atau malah tidak ada sama sekali untuk digunakan melawan pertahanan pasukan Irak. Namun orang-orang Iran dengan cepat menyerbu Umm ar-Rasas dan pulau-pulau lainnya, dan mereka menyeberanginya menggunakan jembatan ponton. Tetapi ketika mereka mencoba untuk bergerak di jalan di sepanjang jalur air untuk mengepung Basra dari selatan, mereka diserang tembakan gencar Irak.

Peta Operasi Karbala 4, 25-27 Desember 1986. (Sumber:https://en.m.wikipedia.org/)
Pasukan katak Iran yang berhasil ditangkap hidup-hidup oleh tentara Irak. Banyak dari pasukan katak Iran yang ditangkap pada Operasi Karbala-4 dibunuh Irak dengan cara dikubur hidup-hidup. (Sumber:https://www.documentingreality.com/)

Dua atau tiga jam setelah dimulainya operasi, Irak mulai melakukan serangan udara. Pasukan Irak mengganggu operasi itu dengan serangan yang merusak, dimana dalam serangan pendahuluan, menembaki titik-titik berkumpul pasukan Iran. Meski demikian orang-orang Iran tetap menyerang, dan pasukan Irak mundur kembali. Sebelum Iran dapat menstabilkan posisi baru mereka, orang-orang Irak membombardir mereka dengan artileri dan melakukan serangan balik. Pertempuran berlangsung selama tiga hari, di mana pasukan Iran dihantam oleh pertahanan pasukan Irak. Tentara Irak menggunakan artileri, pesawat terbang, dan senapan mesin yang ditembakkan dari pertahanan yang sudah disiapkan. Tentara Iran yang tewas berjumlah ribuan. Dalam 36 jam pertempuran, 12.000 orang Iran telah meninggal dan luka-luka, termasuk 175 penyelam, Teheran kemudian membatalkan operasi. Korban di pihak Irak adalah seperenam dari korban Iran, yakni sekitar 2.000 orang. Ketika Iran menarik mundur pasukannya, keesokan harinya Irak membom seluruh area itu. Orang-orang Iran kemudian menyadari bahwa orang-orang Irak telah mengetahui rencana Operasi Karbala 4, sehingga mereka telah mempersiapkan diri dengan baik. Iran mengklaim pertahanan Irak mendapat banyak manfaat dari laporan intelijen yang disediakan AS yang memberikan rincian rencana dan persiapan Iran, sehingga memungkinkan Irak untuk mengoordinasikan pertahanan yang efektif tepat di mana serangan itu terjadi. Kekejaman sempat dilakukan oleh pasukan Irak atas pasukan Iran yang ditangkap, termasuk dengan mengubur hidup-hidup penyelam Iran yang kemudian dijadikan film oleh Iran pada tahun 2015, dengan judul “175 Divers”. Beberapa mayat penyelam Iran ditemukan tanpa adanya luka, dan kemudian disadari bahwa mereka telah dikubur hidup-hidup dengan tangan terikat. Sementara itu Orang-orang Irak merayakan kemenangan, dan Saddam memberi medali dan promosi kepada pasukannya. Ada spekulasi kemudian yang menyatakan bahwa kemungkinan besar Operasi itu dimaksudkan sebagai serangan pengalihan sebelum dilaksanakan Operasi Karbala-5 yang akan datang (meskipun mungkin operasi Karbala 5 memang dirancang setelah kegagalan Karbala 4). Isu spekulasi tentang pengalihan ini kemudian dibantah baru-baru ini oleh pihak Iran.

OPERASI KARBALA 5

Untuk operasi selanjutnya, kegagalan tidak boleh lagi terjadi, terutama bagi pasukan yang mengklaim mendapat bantuan dari Tuhan. Iran mengumpulkan setidaknya 300.000 prajurit, lima kali lebih banyak dari jumlah yang dikerahkan dalam operasi Karbala-4. Hanya dalam waktu dua minggu setelah kegagalan di Karbala-4, pasukan Iran kembali menyerang Irak. Serangan ini — yang dikenal sebagai Karbala-5 — mampu mengejutkan Irak dan menjadi paling besar dah paling membahayakan kota Basra sejak tahun 1982. Pertempuran berlangsung selama 50 hari di lumpur dan pasir. Operasi Karbala-5 yang sering disebut juga sebagai “Pengepungan Basra” dimulai tengah malam 8 Januari 1987, ketika sebuah pasukan penyerang berkekuatan 35.000 prajurit infanteri Pengawal Revolusi menyeberangi Danau Ikan, sementara empat divisi Iran menyerang di pantai selatan danau, yang kemudian berhasil mengalahkan pasukan Irak dan merebut Duaiji, sebuah saluran irigasi. Mereka menggunakan pijakan di Duaiji sebagai batu loncatan untuk merebut kembali kota Shalamcheh yang sebelumnya menjadi milik Iran. Antara tanggal 9-10 Januari, Iran menerobos garis pertahanan pertama dan kedua Basra di selatan Danau Ikan dengan menggunakan tank. Iran dengan cepat memperkuat pasukan mereka dengan 60.000 tentara dan mulai membersihkan sisa-sisa tentara Irak di daerah tersebut. Namun serangan Iran kemudian terhenti karena kurangnya aset transportasi yang mengurangi mobilitas mereka. Iran hanya bisa mengandalkan serangan gelombang manusia dalam melawan lapis demi lapis pertahanan Irak.

Peta Operasi Karbala-5. (Sumber:https://en.m.wikipedia.org/)

Pada awal 9 Januari, Irak memulai serangan balasan, yang didukung oleh pesawat serang Su-25 dan pada tanggal 10 Januari Irak mengerahkan setiap senjata berat yang tersedia dalam upaya untuk mengusir pasukan Iran. Dalam beberapa hari Irak bisa mengerahkan hingga 500 sortie serangan udara dalam sehari. Meskipun kalah jumlah 10:1 di udara, pertahanan udara Iran berhasil menjatuhkan banyak pesawat Irak (total 45 jet tempur), yang kemudian memungkinkan Iran untuk memberikan dukungan udara jarak dekat bagi pasukan daratnya dengan angkatan udara mereka yang lebih kecil, yang juga terbukti lebih unggul dalam pertempuran udara. Banyaknya kerugian di udara ini menyebabkan Irak untuk sementara waktu berhenti memberikan dukungan udara bagi pasukan darat mereka. Tank-tank Irak berserakan di tanah rawa karena dihancurkan oleh helikopter Cobra dan pasukan komando anti-tank Iran yang dilengkapi dengan rudal anti tank TOW. Kemudian dalam pertempuran, setelah pasukan darat mereka mengalami kerugian besar karena kurangnya dukungan udara, pesawat Irak kembali ke medan perang sekali lagi, menghadapi pasukan Iran.

Untuk menghambat serangan Iran, Irak mengerahkan pesawat-pesawat serang seperti Su-25 Frogfoot. (Sumber:http://wp.scn.ru/)

Meskipun secara taktik infanteri Iran unggul, tapi dalamnya pertahanan Irak berhasil mencegah Iran mencapai kemenangan. Pada tanggal 19-24 Januari, Iran melancarkan ofensif infantri lagi, yang berhasil memutus garis ketiga dan mengusir tentara Irak melintasi sungai Jasim. Pertempuran kemudian berkembang menjadi adu kecepatan antar pihak yang bisa membawa bala bantuan lebih banyak. Pada tanggal 29 Januari, Iran meluncurkan serangan baru dari barat sungai Jasim dan berhasil menerobos garis keempat pertahanan Irak. Mereka sekarang berada dalam jarak  hanya 12 km (7,5 mil) dari kota. Pada titik ini, pertempuran menjadi buntu. Rekaman siaran TV Iran saat itu menunjukkan pasukan Iran telah ada di pinggiran Basra tetapi mereka tidak bisa bergerak lebih jauh lagi. Kerugian Iran begitu parah sehingga Irak bisa melakukan ofensif dan mendesak pasukan Iran kembali ke daerah Shalamjah. Pertempuran terus berlanjut dimana 30.000 tentara Iran masih mempertahankan posisi di sekitar Danau Ikan. Pertempuran yang buntu kemudian berubah menjadi perang parit, di mana tidak ada pihak yang bisa mengusir satu sama lain. Iran menyerang beberapa kali lagi tetapi tidak berhasil.

Seperti serangan-serangan sebelumnya, meski Operasi Karbala-5 berhasil merebut beberapa wilayah Irak, namun tentara Iran menderita puluhan ribu korban selama pertempuran. (Sumber: Reddit)

Karbala-5 secara resmi berakhir pada akhir Februari tetapi pertempuran dan pengepungan Basra terus berlanjut. Di antara mereka yang terbunuh dalam Operasi Karbala 5 adalah komandan Iran ,Hossein Kharrazi. Sekitar 65.000 tentara Iran dan 20.000 tentara Irak menjadi korban karena Operasi Karbala-5. Kota Basra sebagian besar dihancurkan, dan pasukan Irak telah menderita banyak kerugian materi. Pertempuran yang terjadi selama operasi ini adalah yang terberat dan paling berdarah selama perang, dengan daerah di sekitar Shalamcheh dikenal sebagai “Somme-nya Perang Iran-Irak”. Pada satu titik, situasinya telah memburuk sampai-sampai Saddam memerintahkan beberapa perwiranya untuk dieksekusi. Dengan pesawat-pesawat Iran bertempur di Basra, pihak Irak membom rute pasokan Iran dengan senjata kimia, serta kota-kota Iran dengan bom konvensional, termasuk Teheran, Isfahan dan Qom. Diyakini bahwa sekitar 3.000 warga sipil Iran terbunuh dalam serangan-serangan ini. Iran membalas dengan menembakkan sebelas rudal jarak jauh ke kota-kota Irak, yang menimbulkan korban besar di kalangan warga sipil dan menewaskan sedikitnya 300 orang.

KLAIM VS FAKTA

Iran gagal merebut Basra, tetapi berhasil merebut dan mempertahankan beberapa wilayah. Antara 86.000 dan 100.000 tentara Iran menjadi korban (tewas atau luka-luka) selama serangan Karbala 4 dan 5. Dalam sebuah wawancara yang jarang dilakukan untuk sebuah film dokumenter Iran, Soleymani menceritakan momen penting dari operasi tersebut. “Itu adalah hari yang sulit,” kata Soleymani. “Pada hari ketiga, Irak mengerahkan semua yang mereka miliki, mulai dari artileri Katyusha dan tank. Helikopter mereka menjepit kami dan menembak langsung ke jalur serangan kami dari arah belakang kami. ” “Mereka melancarkan serangan balik besar-besaran,” lanjutnya. “Pada pukul dua atau tiga malam, garis pertempuran kami mulai runtuh, mereka berhasil merebut sebagian posisi kami. [Komandan divisi] Morteza Ghorbani mulai menulis surat wasiatnya … kami pikir kami sudah selesai. ” Tetapi bagian yang paling menarik dari wawancara adalah ketika Soleymani menggambarkan keseimbangan persenjataan antara kedua belah pihak. “[Jenderal Irak] Adnan Kheyrallah bertanggung jawab untuk mengambil kembali daerah pertahanan dari kami,” kata Soleymani. “Dia adalah komandan terbaik yang mereka miliki, menurut evaluasi kami.” “Dia memiliki 300 buah artileri dan puluhan Katyusha, sementara aku dan Morteza cuma memiliki kurang dari 20 buah, tanpa amunisi yang cukup. Dia memiliki 500 tank di medan perang, sementara kami hanya punya dua. ”

Howitzer buatan Korea Utara, Koksan, milik Iran di semenanjung Faw. (Sumber:http://francona.blogspot.com/)

“Dalam sebuah laporan kepada Saddam, Kheyrallah menulis,” Saya memberi banyak tekanan pada pasukan Iran sehingga mereka harus merangkak untuk maju — dan itu benar, ”kata Soleymani. Tetapi Soleymani tidak mengungkapkan persenjataannya yang sebenarnya ia kerahkan. Pada awal perang, Iran memiliki 1.029 unit artileri canggih. Sebagian besar berasal dari AS sebelum revolusi. Iran juga memiliki sejumlah kecil howitzer D-30 dan senjata buatan Soviet lainnya. Teheran memperoleh tambahan artileri dan peluncur roket dari sekutunya. Korea Utara yang mengekspor artileri ke Iran, termasuk howitzer berpenggerak mandiri Koksan berkaliber 170 milimeter yang mengerikan berjangkauan hingga 60 kilometer (dengan booster). Teheran juga membeli peluncur roket multilaras kaliber 240-milimeter dan 333-milimeter dari Pyongyang. Roket ini memiliki jangkauan antara 42 hingga 75 kilometer, dan mampu mengirimkan hingga 250 kilogram bahan peledak tinggi atau munisi cluster anti-tank. Yang pasti, meskipun pasukan Irak memiliki persenjataan yang kualitasnya jauh lebih baik, tetapi itu tidak berarti bahwa Iran kekurangan persenjataan berat selama pertempuran untuk merebut Basra. Dan jelas kemungkinan lebih dari 20 artileri yang digunakan untuk mendukung serangan frontal Soleymani.

Iran juga memiliki sejumlah kecil Howitzer D30 buatan Soviet untuk mendukung Operasi Karbala-5, namun perannya dikecilkan demi propaganda patriotis Iran. (Sumber:http://www.trumpeter-china.com/)

Selama pertempuran, Iran mengerahkan 24 batalion artileri — tidak termasuk mortir dan peluncur roket multilaras — menurut sebuah penelitian tentang Operasi Karbala-5 yang dilakukan tahun 2008. Jenderal Yaghoob Zodhi, seorang komandan artileri Iran selama perang, menulis penelitian ini. Menurut penelitian tersebut, setiap batalion terdiri dari delapan hingga 10 buah artileri. Sekitar 179 senjata ini secara khusus mendukung divisi IRGC selama pertempuran — yang termasuk divisi pimpinan Soleymani — dan Zodhi sendiri memuji kinerja artileri IRGC dalam membantu membalikkan keadaan. Baja dan bubuk mesiu, yang sebenarnya memungkinkan kesuksesan serangan Iran tercapai— bersama dengan puluhan ribu prajurit Iran yang tewas. Tetapi Soleymani tidak  menyebutkan peran senjata dan roket ini dalam wawancaranya. Alasannya adalah karena Soleymani adalah salah satu jenderal Iran yang paling loyal — dan jenderal yang loyal biasanya mengecilkan alasan materialistis untuk kemenangan. Mitos dari rezim Iran menyatakan bahwa Tuhan lah yang membuat kemenangan itu mungkin.

Pasukan IRGC Iran dalam Perang Iran Irak. Buat Iran propaganda berbasis agama lebih penting untuk menaikkan moral dan semangat tentaranya ketimbang taktik dan peralatan militer mereka. (Sumber:https://www.offiziere.ch/)

Soleymani tidak sendirian dalam mempromosikan propaganda agama dari negara. “Dalam operasi Karbala-5, kami benar-benar melihat berkah Tuhan,” Jenderal Iran Ali Akbarnejad menceritakan. “Pada satu titik, amunisi kita hampir habis. Saya mencari kepala logistik kami, Mirza Ali — dia tertembak. ” “Pada saat ini, saya melihat Haj Qassem [Soleymani] tiba dengan motor 250 cc,” lanjut Akbarnejad. “Saya minta sepedanya dan membawa Mirza ke belakang barisan. Ketika saya kembali, saudara-saudara lain mengatakan kepada saya bahwa musuh telah menembakkan semua yang dimilikinya kepada kami, tetapi kami tidak terluka sama sekali. ” “Ketika Anda melihat ini dari sudut pandang materialistis, dengan tank dan artileri berpemandu laser, mereka tidak mungkin untuk tidak tertembak,” kata Akbarnejad. “Tapi dari sudut pandang spiritual, Tuhan ada di atas semuanya … operasi ini adalah berkah dari Tuhan.” Para jenderal Teheran percaya mereka diberkati — atau setidaknya mengaku begitu. Ketika mereka menggambarkannya, Iran dapat bertahan dari ancaman Neraka tanpa senjata kecuali dengan hanya mengandalkan iman. Tapi jangan sekali-kali menyebutkan artileri dan berapa korban yang mereka derita!

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

Karbala-5 Was Iran’s Bloodiest Battle by JASSEM AL SALAMI, 9 March 2015

https://medium.com/war-is-boring/karbala-5-was-iran-s-bloodiest-battle-f38c9431c202

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Operation_Karbala-4

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Siege_of_Basra

Iran-Iraq War – The War of Attrition, 1984-87

https://www.globalsecurity.org/military/world/war/iran-iraq-3.htm

Arabs at War, Military Effectiveness, 1948-1991 p 221-223 by Kenneth M. Pollack; 2002

Operation Karbala-4 was not a military deception: General Soleimani; December 31, 2018

https://www.tehrantimes.com/news/431354/Operation-Karbala-4-was-not-a-military-deception-General-Soleimani

Operation Karbala 5 unimaginable for Iraqis by Maryam Rajabi; 14 January 2020

http://oral-history.ir/enshow.php?page=post&id=9011

Iran buries 175 military divers killed in 1980s Iraq war by Sam Wilkin; JUNE 16, 2015/10:39 PM

https://www.reuters.com/article/us-iran-divers-idUSKBN0OW20Q20150616

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *