Operasi Lea, 7 Oktober – 8 November 1947: Saat Prancis gagal menangkap Ho Chi Minh dan menghentikan perang

Operasi Léa adalah operasi militer Prancis yang dilaksanakan antara 7 Oktober dan 8 November 1947 selama Perang Indocina Pertama. Operasi ini adalah bagian dari upaya Jenderal Perancis,Valluy untuk menghancurkan pasukan Việt Minh. Menurut rencana Pasukan Payung akan ditugaskan untuk menangkap para pemimpin Việt Minh sementara tiga satuan Perancis akan ditugaskan untuk menyerang langsung ke wilayah “jantung” perlawanan Việt Minh. Singkatnya lewat Operasi Lea ini, para petinggi militer Prancis ingin menyelesaikan peperangan di Indochina dalam satu pukulan yang menentukan. Serangan parasut yang dilakukan benar-benar mengejutkan Việt Minh, dan hampir saja berhasil menangkap Ho Chi Minh dan Jenderal Giap. Tetapi keterkejutan Việt Minh tidak berlangsung lama, dimana mereka segera pulih dan mulai menyergap tiga satuan Prancis yang dikirimkan. Operasi kemudian segera dihentikan dan pasukan Prancis mundur kembali ke dataran rendah pada 22 Desember 1947. Meski operasi ini dapat dikatakan memberi Prancis kemenangan taktis, karena berhasil menimbulkan kerugian besar pada Việt Minh, tetapi secara strategis operasi ini tidak menentukan, karena gagal menangkap para pentolan Việt Minh, atau secara serius melumpuhkan kekuatan militernya.

Penangkapan Ho Chi Minh dan Vo Nguyen Giap menjadi sasaran utama Prancis dalam Operasi Lea. (Sumber: https://vietnamwar-1966.tumblr.com/)

Latar Belakang

Setelah permusuhan pecah dengan Việt Minh pada tanggal 19 Desember 1946, pasukan Perancis telah membuat kemajuan yang signifikan dengan merebut kota Haiphong, Hanoi, Lạng Sơn, Cao Bằng dan sebagian besar wilayah barat dan selatan Tonkin, yang merupakan benteng dari gerakan Việt Minh. Alasan utama dari gerak maju yang cepat dari pasukan Prancis adalah karena mereka memiliki keunggulan daya tembak, dukungan dari angkatan laut dan udara. Kekuatan utama pasukan Việt Minh hampir terkepung oleh Prancis di bagian timur Tonkin pada saat itu. Sementara itu selama bulan April 1947, Ho Chi Minh melakukan upaya terakhir untuk mencapai gencatan senjata dan melanjutkan negosiasi kemerdekaan dengan pemerintah Prancis yang telah dimulai sejak tahun 1946. Di momen seperti itu, pihak Prancis yang ada diatas angin hanya mau menuntut penyerahannya, karena posisi pasukan Việt Minh tampaknya sudah tidak ada harapan.

Pada 23 November 1946, AL Prancis membombardir kota pelabuhan Haiphong yang menyebabkan 6.000 warga sipil Vietnam meninggal. Aksi ini menjadi salah satu katalisator pecahnya konflik terbuka antara Việt Minh dan Prancis dalam Perang Indochina Pertama. (Sumber: http://thegeblogspot.com/2011rmansmakegoodstuff./)

Pada tanggal 26 April, Ho secara resmi menolak tawaran Prancis dengan berkata: “Di Uni Prancis tidak ada tempat untuk pengecut. dan aku akan menjadi salah satunya, jika aku mau menerima (usulan) ini.” Selama musim semi dan musim panas, Prancis menyerang pangkalan pasukan Việt Minh di Tonkin tetapi tidak dapat memaksa mereka maju ke medan perang; Việt Minh selalu kembali ketika tentara Prancis berpindah tempat. Komando tertinggi Prancis di Indocina saat itu di bawah Jenderal Jean-Étienne Valluy menyadari bahwa taktik serangan kecil untuk menemukan markas besar Việt Minh tidak akan pernah mengarah pada berakhirnya perang. Sementara itu dari departemen intelijen mereka, mereka mendapat beberapa informasi bahwa lokasi markas besar Việt Minh berada di kota Bắc Kạn, dalam wilayah yang kerap dikenal sebagai Viet Bac. Dari informasi itu, Prancis berencana untuk menangkap Ho Chi Minh dan para staf Việt Minh-nya dan kemudian menghancurkan kekuatan militer utama Việt Minh untuk mendapatkan kemenangan yang menentukan atas gerakan kemerdekaan Vietnam.

Pada April 1947, Ho Chi Minh menghadiri perundingan terakhirnya dengan pihak Prancis untuk menghentikan konflik di Indochina sekaligus mengusahakan kemerdekaan Vietnam, namun perundingan ini gagal. (Sumber: https://www.cvce.eu/)

Operasi Léa, demikian operasi ini diberi nama, adalah sebuah serangan gabungan yang melibatkan sekitar 15.000 orang prajurit di bawah komando Jenderal Raoul Salan. Tujuan utama dari operasi ini, seperti yang telah disinggung diatas adalah untuk menangkap para pemimpin politik-militer Vietnam dan menghancurkan kekuatan militer mereka di daerah pangkalan mereka sendiri, sebuah wilayah segitiga di sekitar Tonkin utara yang lebih dikenal sebagai Viet Bac. Rencana itu bukannya tanpa keberanian. Pada tahap awal pasukan payung berukuran setengah brigade dibawah pimpinan Letnan Kolonel Sauvagnac (kemudian dikenal sebagai “Groupment S”) akan diterjunkan langsung ke wilayah pemukiman utama di Bac Kan, Cho Don, dan Cho Moi. Pada saat yang sama, pasukan gabungan yang lebih kuat dari unsur infantri (3 batalion), lapis baja (3 batalion), dan artileri (3 batalion) yang diperkuat dengan pasukan zeni serta transport (1 batalion) dibawah pimpinan Kolonel Beauffre (kemudian dikenal sebagai “Groupment B”) akan melakukan perjalanan sepanjang jalur rute kolonial 4 (RC4), jalan utama dari Lang Son ke Cao Bang yang kira-kira sejajar dengan perbatasan Cina, sebelum kemudian menuju barat daya untuk mendukung misi pasukan payung. Sementara itu, pasukan amfibi akan melakukan perjalanan ke Sungai Merah untuk memberikan dukungan dari arah selatan. Kekuatan ini masih didukung dengan satuan Grup Pesawat Tempur ke-4 yang dilengkapi dengan Pesawat-pesawat tempur Spitfire Mk.IX, bersama dengan pesawat angkut trimotor Ju-52 buatan Jerman dan pesawat transport C-47 dari Amerika serta pesawat penghubung Morane buatan Prancis. Disamping itu pesawat-pesawat amfibi Catalina buatan Amerika juga akan membantu misi pengintaian jarak jauh.

Meski dengan perlengkapan yang berasal dari berbagai negara seperti parasut Amerika dan pesawat angkut Jerman, namun Pasukan payung Prancis senantiasa menjadi ujung tombak dalam setiap Operasi militer di Indochina. (Sumber: Pinterest)
Pesawat tempur Spitfire buatan Inggris dilibatkan Prancis untuk mendukung Operasi Lea. (Sumber: http://wp.scn.ru/)
Untuk menerjunkan pasukan payung, AU Prancis masih menggunakan pesawat angkut buatan Jerman era PD II Junker Ju-52 bersama dengan pesawat C-47 Amerika. ( https://www.wikiwand.com/en/Junkers_Ju_52)
Pesawat amfibi Catalina memberikan dukungan pengintaian jarak jauh dalam Operasi Lea. (Sumber: http://www.frenchwings.net/indochina/)

Jalannya Operasi

Operasi Léa dimulai pada tanggal 7 Oktober, dengan penerjunan 1.137 pasukan payung di area Bắc Kạn, Cho Moi, dan Cho Don. Pasukan payung dengan cepat mengambil kendali atas kota tetapi gagal menangkap Ho Chi Minh dan para pemimpin Vietnam lainnya (mirip Operasi Rösselsprung tahun 1944 saat Pasukan Payung Jerman mencoba menangkap Joseph Broz Tito waktu Perang Dunia II). Meskipun rencana akan adanya serbuan pasukan payung di hari pertama telah diketahui oleh jaringan intelijen Việt Minh sejak tanggak 5 Oktober, namun informasi ini baru mencapai markas besar mereka di Bac Kan hanya beberapa menit sebelum pasukan terjun payung pertama mendarat. Ho Chi Minh dan Jenderal Giap berhasil kabur dan bersembunyi di dalam lubang yang dikamuflase dengan baik tepat pada saat pasukan Prancis menyergap markas besarnya, dan mengacak-acak semak-semak diatas kepala mereka. Pasukan payung Prancis hanya berhasil menemukan sebuah surat yang belum ditandatangani oleh Ho Chi Minh diatas meja dan menangkap seorang menteri Việt Minh bersama dengan advisor asal Jepang dan instruktur ex Nazi Jerman (Menurut Bernard Fall dalam bukunya “Street Without Joy”, orang Jerman ini adalah bagian dari tim misi kerjasama dengan Jepang saat Perang Dunia II dan memilih bekerjasama dengan Việt Minh, seperti rekan-rekan Jepang nya daripada menyerahkan diri ke pihak sekutu dengan kemungkinan dihadapkan ke pengadilan sebagai penjahat perang). Pada saat yang sama depot perbekalan penting juga jatuh ke tangan pasukan Prancis, bersama dengan 200 orang tawanan asal Prancis dan Vietnam yang dibawa bersama oleh orang-orang komunis saat mereka meninggalkan Hanoi, Desember 1946.

Saat Pasukan Payung Prancis menyerbu markas Ho Chi Minh di Bac Kan, mereka hanya menemukan surat yang belum ditandatangani oleh Ho, sementara Ho sendiri dan Jenderal Giap berhasil kabur beberapa menit sebelum tentara Prancis pertama mendarat. (Sumber: https://en.nhandan.org.vn/)

Namun buruan utama mereka yakni Ho dan pemimpin senior Việt Minh lainnya, terutama Jenderal Giap berhasil lolos (persis seperti Tito yang berhasil lolos saat disergap pasukan payung Jerman!). Bagi Prancis, serangan mengejutkan lawan di menit-menit awal terbukti menjadi titik puncak dari sebuah operasi militer mereka yang dengan cepat melambat temponya. Tindakan berani mereka mengangkut sekitar 1.000 penerjun payung dan menerjunkan mereka ke wilayah Viet Bac ternyatavmemerlukan waktu perjalanan selama beberapa jam dan itu tidak bisa dilakukan hanya sekali jalan. Kehilangan kesempatan untuk menangkap pimpinan Việt Minh, pasukan payung Prancis malah menemukan diri mereka harus berjuang untuk bertahan hidup ketika pasukan Việt Minh melakukan serangan balik dan mengepung mereka, saat pada hari berikutnya Ho dan kawan-kawannya berhasil mengumpulkan pasukan Việt Minh dan menyerang pasukan payung Prancis dalam pertempuran mati-matian selama 2 hari.

Gagal menangkap Ho Chi Minh, pasukan payung Prancis malah mendapati diri terkepung oleh 40.000 Việt Minh yang tersebar di sekitar kawasan Viet Bac. (Sumber: https://www.picbear.org/)

Sementara itu sepuluh batalion pasukan Prancis (sekitar 15.000 orang) yang tergabung dalam “Groupment B” mulai bergerak pada waktu yang sama dari kota Lạng Sơn ke Cao Bằng di utara dan kemudian turun melalui Nguyen Binh ke Bắc Kạn, pertama-tama untuk memutus jalur pasokan ke pasukan Việt Minh dari Cina. Tujuan kedua kemudian mereka adalah mengepung pasukan Việt Minh dan menghancurkan mereka dalam pertempuran. Pasukan penyerang Prancis dari arah utara segera mengalami kemacetan karena sergapan, jembatan yang diledakkan, pohon tumbang, dan jalanan yang dihancurkan. Apa yang dihadapi pasukan infanteri ini adalah gambaran dari sebuah divisi infanteri yang gerakannya dibatasi oleh lebatnya hutan dan jalanan sempit yang memaksa mereka bertempur dalam kelompok-kelompok kecil. Sebuah regu infanteri yang didukung oleh 1-2 tank kemudian akan memimpin pergerakan dari satuan yang terdiri dari ribuan prajurit.

Jalanan yang sempit dan buruk membuat pergerakan pasukan infanteri Prancis yang dilindungi tank menjadi melambat. (Sumber: https://www.gettyimages.com/)

Saat muncul tembakan dari sekelompok kecil Việt Minh, maka sebuah regu akan dikirimkan keluar dari jalanan dengan didukung tembakan kanon dan senapan mesin tank untuk mengeliminasi kelompok kecil Việt Minh yang menyerang. Ketika sudah tidak ada lagi tembakan, tentara Prancis akan segera kembali ke jalan dan bergerak lagi, namun waktu yang hilang sudah tidak dapat digantikan lagi. Setelah beberapa ratus meter atau mil, hal serupa akan diulang lagi. Pada saat yang sama, kelompok Việt Minh lain mungkin sudah meledakkan jembatan yang ada didepan dan memaksa pasukan Prancis berenang atau memasang jembatan darurat. Tertunda oleh jalanan yang buruk, ranjau, dan penyergapan yang berlangsung sepanjang rute 140 km, Pasukan Prancis yang dipimpin oleh Motorized Morrocan Colonial Infantry Regiment (RICM) butuh waktu sampai 13 Oktober untuk bisa mencapai pinggiran Bac Kạn yakni di Phu Thong Hoa, tempat dimana pasukan Việt Minh memutuskan untuk bertahan dan melakukan perlawanan keras sambil berharap, dapat menahan pasukan-pasukan kolonial Prancis keturunan Maroko itu sementara mereka menghancurkan kelompok pasukan payung Prancis satu demi satu. Setelah 3 hari pertempuran sengit pasukan RICM Prancis akhirnya bisa menerobos masuk pada tanggal 16 Oktober dan membebaskan para penerjun payung Letkol Sauvagnac yang telah terkepung selama 9 hari.

Serdadu Prancis keturunan Maroko menjadi salah satu unit utama yang diterjunkan dalam Operasi Lea. (Sumber: https://www.moroccoworldnews.com/)
Unit serbu sungai semacam ini yang gagal dalam berperan signifikan saat Operasi Lea karena hambatan yang dialami dalam mengarungi sungai. Unit Pasukan “Groupment C” terpaksa didaratkan di Tuyen Quang sebelum dapat mencapai wilayah target Operasi. (Sumber: https://commons.wikimedia.org/)

Empat batalion pasukan sungai “Groupment C” yang terdiri dari 2 batalion infanteri dengan diperkuat oleh unit-unit komando dan berangkat pada tanggal 9 Oktober dengan menggunakan kapal-kapal LCT AL Prancis seharusnya menyerang sungai Clear dan Gam di selatan ternyata mengalami begitu banyak penundaan sehingga mereka tidak dapat memainkan bagian yang penting dalam pertempuran. Mereka terpaksa mendarat di Tuyen Quang dan berjalan kaki untuk mencapai target operasi mereka. Namun sebelum mereka sempat merampungkan gerakan menjepit. Pasukan Việt Minh telah menghentikan kontak dengan pasukan Prancis yang menyerang dari arah utara dan kemudian kabur ke arah barat daya. Pada 19 Oktober saat Groupment C dan B bertemu di Chiem Hoa, 120 mil masuk di wilayah Việt Minh, secara strategis Operasi Lea sudah gagal mencapai targetnya. Pasukan Prancis tidak berhasil menghancurkan pasukan Việt Minh dimana sebagian besar dari 40.000 gerilyawan berhasil melarikan diri melalui celah diantara garis pertahanan Prancis (suatu hal yang akan sering berulang di Indochina hingga saat perang melawan Amerika), termasuk Ho Chi Minh dan stafnya dengan Jenderal Võ Nguyên Giáp. Pada tanggal 8 November 1947, operasi Lea secara resmi dihentikan, pada saat itu Prancis mengklaim telah berhasil menimbulkan 9.000 korban di pihak Việt Minh.

Gerakan militer Prancis dalam Operasi Lea. (Sumber: https://en.wikipedia.org)

Akibat-akibat, alasan dan pelajaran

Prancis setelah gagal menghancurkan pasukan Việt Minh melalui pukulan-pukulan yang menentukan dalam Operasi Léa, kemudian melancarkan Operasi Ceinture, yang berlangsung dari 20 November-22 Desember 1947. Operasi Ceinture (belt) dimaksudkan untuk membersihkan wilayah antara Hanoi, Thai Nguyen, dan Tuyen Quang dari infiltrasi Viet-Minh. Dalam Operasi ini Prancis menggunakan 18 batalyon pasukan payung dan 18 kapal pendarat angkatan laut untuk melawan satuan reguler Việt Minh yang terbaik, yakni Resimen ke-112 (kemudian menjadi inti dari Divisi tentara rakyat ke-304 Viet-Minh) dan Brigade Doc Lap (kemudian menjadi bagian dari divisi ke-308), namun sebagian besar pasukan Việt Minh (lagi-lagi) mampu lolos dari jerat pasukan Prancis, dengan meninggalkan senjata-senjata mereka. Total yang mati dan terluka di pihak Việt Minh, menurut Bernard Fall mencapai 9.500 orang, namun ia menyatakan bahwa sebagian dari mereka kemungkinan adalah non-kombatan. Di pihak lain sebuah operasi yang lebih kecil yang dijalankan oleh 2 batalion gunung suku T’ai yang beroperasi di wilayah mereka sendiri berhasil membersihkan Việt Minh (yang sudah berdiam di tempat itu selama 5 tahun) dari wilayah pegunungan T’ai yang berada diantara sungai hitam dan sungai merah. Sebuah pelajaran berharga mengenai efektifitas satuan kecil dibanding satuan besar konvensional dalam menangani perang gerilya. Namun sayangnya kisah sukses ini tertutupi oleh gerutu suara roda rantai tank dan raungan pesawat Spitfire yang lebih dipilih oleh pasukan Prancis untuk menjadi tulang punggung gerak ofensif mereka.

Pasukan Prancis menguasai sebuah desa di Thai Nguyen selama Operasi Ceinture. Meski seperti Operasi Lea yang sukses secara taktis, namun dalam operasi semacam ini, Pasukan Prancis gagal memerangkap pasukan Việt Minh, yang dengan mudah kabur menembus penjagaan tentara Prancis. (Sumber: Pinterest)

Sementara itu, Komando tertinggi Prancis mengubah taktik mereka lagi. Karena alasan keuangan dan ekonomi, Prancis tidak dapat mengirim lebih banyak pasukan lagi ke Indocina. Prancis kemudian mulai membangun pos-pos di jalan-jalan utama (Route Coloniale 4 dan Route Coloniale 3), untuk membatasi pergerakan Việt Minh di timur laut Tonkin, tetapi atas upaya ini Việt Minh tetap dapat dengan mudah dapat menyelinap melalui garis pengaman dan terus memperkuat diri mereka sendiri dengan bantuan yang mengalir melewati perbatasan dari Cina. Hal ini pada akhirnya akan membawa perang dari kebuntuan menuju kemenangan pertama Việt Minh pada tahun 1949-1950.

Secara militer, menurut penulis Philip Davidson dalam bukunya “Vietnam at War: The History, 1946–1975”, Jenderal Valluy telah membuat beberapa kesalahan fatal diantaranya 3 yang paling utama adalah sebagai berikut:

  1. Operasi gabungan udara dan perairan seperti Operasi Lea, tidak cocok diterapkan di tempat dan lawan yang ada di Vietnam. Operasi yang lebih mirip dengan serbuan sekutu di Normandia dan Operasi Market Garden semacam ini lebih cocok dilakukan di wilayah Eropa dimana dukungan infrastruktur jalanan dan dukungan warga sekitar memampukan operasi dan pergeseran pasukan dilakukan dalam waktu relatif singkat. Di Vietnam, dukungan warga nyaris tidak mereka dapatkan secara signifikan, sementara jaringan jalanan yang buruk dan topografi yang berat malah menjadi bagian pertahanan yang hebat bagi Việt Minh yang bertahan di Viet Bac. Dan yang pasti, Việt Minh bukanlah tentara Jerman yang punya “code of conduct” ala militer Eropa.
  2. Valluy salah dalam memperhitungkan kekuatan lawan, ia awalnya mengira bahwa kekuatan Việt Minh paling besar adalah sekitar 5.000 pasukan gerilya yang tidak terlatih dan dipersenjatai dengan buruk. Faktanya, pasukan Prancis mendapati dirinya terkepung 50.000 pasukan Việt Minh yang terlatih dan memiliki semangat tempur tinggi.
  3. Wilayah Operasi yang menjadi target Operasi terlalu luas dibanding dengan jumlah pasukan yang dilibatkan dengan musuh yang kekuatannya jauh berlipat (dari sisi personel). Viet Bac sendiri memiliki luasan seperti segitiga yang berukuran 100 x 100 mil dengan dilindungi hutan lebat dan barisan pegunungan.
Medan yang banyak dipenuhi oleh perbukitan dan hutan lebat membuat gerakan satuan mekanis Prancis gagal memperoleh keunggulan mobilitas dan daya tembak yang seharusnya menjadi keunggulan mereka. (Sumber: https://safefordemocracy.com/)

Meski demikian untuk lebih adil kita harus melihat lagi beberapa alasan mengapa Jenderal Valluy mengambil keputusan untuk segera memerintahkan dimulainya Operasi Lea. Pada saat itu ribuan mil jauhnya dari Indochina, pecah Pemberontakan besar di Madagaskar, yang dimulai pada bulan Maret 1947, yang mengakibatkan dialihkannya segera sebuah divisi pasukan kolonial (sekitar 15.000 pasukan dibutuhkan di Madagaskar) yang rencananya akan dikirimkan ke Indocina. Bahkan sebelum peristiwa ini, tampak jelas bahwa pemerintah di Paris – terutama harus diingat, waktu itu Prancis dalam proses rekonstruksi sehabis Perang Dunia II dan komitmen mereka untuk mempertahankan jajahan-jajahan mereka di seberang lautan adalah hal yang mahal – ingin mengurangi jumlah pasukan di Indochina, dan bukan menambahnya. Dan tidak seperti dalam perang di Aljazair yang akan menyusul, di Indochina penggunaan wajib militer untuk meningkatkan jumlah pasukan tidak dianggap sebagai opsi yang dipertimbangkan. Pemerintahan Prancis ingin mengurangi jumlah pasukan di Indochina dari 115.000 personil menjadi cuma 90.000. Mengingat kemungkinan adanya kendala di masa depan dimana jumlah pasukan di Indochina kemungkinan akan dikurangi, maka Valluy berpandangan bahwa adalah lebih baik jika dia menghantam kekuatan militer Việt Minh dengan aksi yang keras, cepat dan menentukan. Menurut Fredrik Logevall, Operasi Léa adalah ‘hampir pasti’ merupakan aksi militer terbesar dalam sejarah perang kolonial Prancis di Indochina hingga saat itu.

Pada tahun 1947 pecah pemberontakan di Madagascar, yang membagi konsentrasi Prancis untuk mempertahankan kekuasaan di tanah jajahannya di seberang lautan. Hal ini mendesak petinggi militer Prancis untuk segera mengambil tindakan cepat untuk menghentikan peperangan di Indochina. (Sumber: https://libcom.org/library/1947-malagasay-uprising)

Bagi Prancis, setelah Operasi Lea dan Ceinture, upaya mereka untuk mencari pertempuran besar melawan Việt Minh, dimana mereka mampu menaklukkan pasukan komunis dengan keunggulan senjata mereka telah dimulai. Butuh waktu 7 tahun lagi bagi mereka untuk dapat benar-benar mendapatkan pertempuran besar dan menentukan melawan Việt Minh, yakni saat mereka akan bertempur di kawasan lembah pegunungan kecil dekat perbatasan Laos, yang dikenal oleh orang-orang Vietnam sebagai daerah bernama Dien Bien Phu. Namun sayangnya waktu itu mereka gagal untuk selama-lamanya!

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

Street Without Joy: From the Indo-China war to the war in VIET-NAM by Bernard B Fall, 1961 chapter I “How War Came” page 28-31

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Operation_Lea

Vietnam at War: The History, 1946–1975 by Philip Davidson, 1988

https://books.google.co.id/books?id=seXWfsD46QQC&printsec=frontcover&dq=Vietnam+at+War+Davidson&hl=en&sa=X&ei=ZcznVPnsC4XUmAXRhoGoBw&redir_esc=y#v=onepage&q=Vietnam%20at%20War%20Davidson&f=true

Forgotten Battles: Operation Léa, Oct-Nov 1947: A wild gamble at finishing the Indochina War?

https://www.google.com/amp/s/defenceindepth.co/2014/11/27/operation-lea-oct-nov-1947-a-wild-gamble-at-finishing-the-indochina-war/amp/

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Operation_Ceinture

3 thoughts on “Operasi Lea, 7 Oktober – 8 November 1947: Saat Prancis gagal menangkap Ho Chi Minh dan menghentikan perang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *