Operasi Medusa (2-17 September 2006): Zona Maut Pasukan Kanada Di Kandahar-Afghanistan

Pada tahun 2013, militer Kanada telah terlibat dalam 14 operasi militer di seluruh dunia. Meskipun sebagian besar dari mereka bersama misi pasukan PBB, namun tentara Kanada tercatat telah bertugas selama lebih dari 10 tahun di sekitar wilayah Kandahar, Afghanistan di mana pertempuran hampir terjadi setiap hari. Pasukan Kanada juga tercatat berpartisipasi dalam hampir semua misi penjaga perdamaian PBB sejak tahun 1970-an, menjadikan mereka salah satu kontributor terbesar bagi upaya penjaga perdamaian di Dunia. Kanada juga turut terlibat dalam Perang Teluk pertama. Sementara itu misi Kanada di Kandahar adalah salah satu operasi terpenting yang dilakukan dan bahkan dipimpin mereka di era modern. Dari tahun 2006 hingga 2011, pasukan Kanada bertahan dengan teguh dan menimbulkan banyak korban di pihak Taliban. Dari berbagai laporan, pihak Taliban secara terbuka mengatakan bahwa orang-orang Kanada adalah petempur yang sangat baik dan mereka menghormatinya. Meski demikian, penugasan pasukan Kanada di Kandahar terbukti bukanlah misi yang mudah, dan bahkan diliputi dengan banyak kontroversi serta menelan banyak korban diantara mereka, berikut adalah salah satu kisah diantaranya.

Lukisan Pasukan Kanada sedang berpatroli di Provinsi Kandahar, Afghanistan. Sejak tahun 1970an, pasukan Kanada menjadi salah satu kontributor terbesar pasukan perdamaian PBB. Di Afghanistan, mereka tergabung dalam satuan NATO. (Sumber: Keith Mac Innis/https://valourcanada.ca/)

LATAR BELAKANG

Tepat setelah jam 1 siang pada tanggal 15 Januari 2006, sebuah konvoi yang membawa anggota Tim Rekonstruksi Provinsi Asal Kanada (PRT) memasuki Kandahar melalui gerbang kembarnya, yang dikenal sebagai “Lengkungan Emas”. Lima kendaraan melewati pos pemeriksaan, melambat untuk melewati bundaran, lalu menambah kecepatan. Mereka hanya beberapa menit dari Camp Nathan Smith yang relatif aman, pangkalan PRT di provinsi selatan Afghanistan yang dikenal bergolak. Saat konvoi melewati pangkalan taksi, sebuah minivan Toyota berwarna perak mengayun di samping kendaraan ringan Mercedes-Benz G-Wagon yang membawa diplomat veteran Kanada Glyn Berry. Sesaat kemudian Toyota itu meledak, melemparkan kendaraan Berry ke udara. Mercedes G-Wagon berputar beberapa kali sebelum jatuh kembali ke bumi, mendarat di sisinya dalam reruntuhan yang terbakar. Tiga tentara terbaring terluka. Berry sudah tewas. Kanada kini telah menderita korban kematian pertamanya yang akan mengawali tahun yang berlumuran darah. 

Pemakaman diplomat veteran Kanada, Glyn Berry, yang tewas akibat serangan bom bunuh diri di Kandarah, 15 Januari 2006. Kematian diplomat Kanada ini membuka tahun berdarah bagi militer Kanada di Afghanistan. (Sumber: https://www.huffingtonpost.ca/)
Kota Kandahar yang menjadi jantung perlawanan gerilyawan Taliban. (Sumber: https://legacy.lib.utexas.edu/)

Personel militer Kanada pertama kali dikerahkan ke Afghanistan pada akhir tahun 2001, dan selama empat tahun berikutnya (“hanya”) delapan tentara yang tewas — empat yang pertama tewas sekaligus dalam insiden salah tembak yang melibatkan pesawat tempur F-16 Amerika. Korban secara keseluruhan diantara mereka hingga saat itu relatif sangat ringan, mengingat operasi ekstensif yang dilakukan pasukan Kanada di Afghanistan timur, terutama di Provinsi Paktika. Pada musim semi 2005 Menteri Pertahanan Bill Graham mengumumkan di Parlemen bahwa Kanada akan memindahkan operasi militernya ke provinsi Kandahar, tempat kelahiran dan jantung pemberontakan Taliban. Perpindahan ke selatan ini akan membawa pasukan Kanada ke wilayah Afghanistan yang setara dengan “Wild West” dan akhirnya akan melibatkan mereka dalam Pertempuran Panjwai Pertama dan Kedua. Pertempuran itu terjadi pada paruh pertama bulan September 2006, yang menjadi operasi tempur paling signifikan yang dilakukan NATO hingga saat itu. Jenderal Rick Hillier, Kepala Staf Pertahanan, memerintahkan Batalyon ke-1, Infanteri Ringan Kanada (1 PPCLI) Putri Patricia, untuk menjadi inti dari Satgas Orion. Pada tanggal 3 Agustus, unit tersebut terlibat dalam pertempuran terbesarnya di Afghanistan. Pusat lokasi dari pertempuran itu adalah pada gedung sekolah berwarna putih di sebuah kompleks bernama Bayanzi, di sisi utara Sungai Arghandab di seberang Panjwai. Satuan “Princess Pats” kehilangan empat orang tewas dan 11 luka-luka dalam operasi ini. Enam hari kemudian 1 PPCLI digantikan oleh grup tempur yang dibangun di sekitar Batalyon ke-1, Resimen Kerajaan Kanada (1 RCR), yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Omer Lavoie. Pada tanggal 22 Agustus seorang pengebom bunuh diri membunuh Kopral David Braun dari 2 RCR. Hal ini menandai pengenalan yang tidak menyenangkan dari unit ini di Kandahar.

Anggota Infanteri Ringan Kanada Putri Patricia (atas) pertama kali menyaksikan pertempuran di Bayanzi pada tahun 2006. Pasukan Resimen Kerajaan Kanada kemudian segera menggantikan mereka. (Sumber: Departemen Pertahanan Nasional Kanada/https://www.historynet.com/)

Pasukan RCR biasa berkendara di atas kendaraan tempur infanteri tipe LAV III. LAV III yang beroda delapan dilengkapi dengan turret dua orang, dipersenjatai dengan kanon kaliber 25 mm tipe M242 Bushmaster dan senapan mesin koaksial kaliber 7,62 mm, dengan ditambah senapan mesin kaliber 5,56 mm yang dipasang di atas turret. Kendaraan tersebut dapat mengangkut hingga tujuh prajurit infanteri, dan tiga awaknya dapat memberikan dukungan tembakan yang substansial setelah penumpangnya diturunkan. Pasukan tersebut juga menggunakan kendaraan Mercedes G-Wagon, untuk tugas-tugas pengintaian dan penghubung, serta dapat menggunakan baterai meriam howitzer M777 kaliber 155 mm yang baru diperoleh dan satu pasukan kendaraan pengintai LAV II Coyote. Grup tempur baru Kanada ini membutuhkan waktu untuk menilai kondisi medan dan gerilyawan Taliban lawannya, akhirnya memutuskan untuk melancarkan operasi, dengan nama Operasi Medusa, yang akan dimulai pada tanggal 2 September. Operasi Medusa kemudian akan menjadi pertempuran terbesar di Afghanistan sejak tahun 2002, dan dimaksudkan untuk membersihkan distrik Panjwai dari ratusan, bahkan mungkin ribuan, petempur Taliban yang menguasai distrik itu. Panjwai juga merupakan tempat kelahiran Mullah Omar, pemimpin spiritual Taliban, dan menjadi saksi lahirnya gerakan Taliban pada pertengahan tahun 1990-an. Kanada akan memimpin pertempuran Panjwaii kedua yang melibatkan tentara asal Amerika Serikat, Inggris, Belanda, Denmark dan Tentara Nasional Afghanistan dengan perkiraan total sekitar 1.400 tentara yang dilibatkan di darat. Pihak Kanada sendiri menyumbang sekitar 1.050 tentara dan beberapa personel SOF diantaranya.

Kendaraan tempur LAV III milik AD Kanada di Afghanistan di pangkalan operasi garis depan dekat Panjwaii, Afghanistan saat matahari terbit pada tanggal 26 November 2006. setelah Operasi Medusa berhasil mengusir Taliban di bulan September. (Sumber: https://www.rcinet.ca/)
Kendaraan Pengintai LAV II Coyote. (Sumber: https://tanks-encyclopedia.com/)
Kendaraan Mercedes G-Wagon Kanada di Afghanistan. (Sumber: https://www.pinterest.ca/)

Tentara Belanda dan Denmark yang dilibatkan dalam operasi itu tidak diterjunkan secara langsung, namun lebih sebagai pendukung. Howitzer Berpenggerak Mandiri PzH 2000 buatan Jerman milik pasukan Belanda misalnya, yang diposisikan bersama dengan dengan satuan howitzer Kanada tipe M777 asal Echo Battery (2RCHA) melakukan debut tempurnya dengan Angkatan Darat Belanda sebagai pendukung tembakan. Di sisi lain, pihak Taliban yang dihadapi diyakini berjumlah sekitar 1.200 personel. Operasi Medusa adalah operasi tempur darat NATO pertama dalam sejarah, dan merupakan ofensif militer Kanada terbesar sejak Perang Korea. Tanggung jawab utama pada Operasi Medusa jatuh pada kompi RCR Bravo dan Charles. Charles akan ditugaskan untuk menduduki Ma’sum Ghar, dataran tinggi di barat daya Panjwai, sementara Bravo bergerak ke posisi pemblokiran beberapa mil di utara Arghandab, sebuah sungai kecil. Pasukan Amerika, NATO dan Afghanistan lalu akan menutupi sisi timur dan barat. Kompi Charles kemudian akan bergerak ke utara ke tepi Arghandab, tapi tidak lebih jauh dari itu. Sungai kecil itu adalah garis batas pemboman. Rencananya, Letnan Kolonel Lavoie kemudian menjelaskan, adalah “untuk menyerang musuh selama tiga hari ke depan untuk melakukan ofensif dengan terutama dengan dukungan udara, serta artileri dan tembakan langsung … sebelum kami benar-benar melepas kekuatan utama untuk menyerang.” Saat itu dan hanya setelah itu, Kompi Charles akan bergerak ke utara melintasi sungai langsung menuju ke jantung pertahanan Taliban. Rencana operasional itu biasa saja, tetapi berusaha memaksimalkan aset dan keunggulan daya tembak pihak NATO. 

Unit howitzer ringan kaliber 155 mm M777 milik AD Kanada di Afghanistan. (Sumber: https://id.pinterest.com/)
Operasi Medusa juga menjadi debut tempur dari howitzer berpenggerak mandiri PzH 2000 buatan Jerman milik AD Belanda. (Sumber: https://tanks-encyclopedia.com/)

OPERASI MEDUSA

Serangan udara dimulai pada tanggal 2 September sementara pasukan darat menempatkan diri mereka pada posisi menjepit, di utara dan selatan Distrik Panjwayi. Serangan udara ini, dalam dua hari pertama, membunuh sekitar 200 petempur Taliban dan polisi-polisi Afghanistan menangkap 80 lainnya, sementara 180 lainnya kabur dari distrik itu. Sayangnya, Operasi Medusa mulai mendapat kendala, atau lebih tepatnya berubah, hanya dalam beberapa jam. Mengalami bencana, lalu dirundung oleh kesialan, hal itu menandai awal yang buruk. Saat orang-orang Kanada menduduki Ma’sum Ghar pada tanggal 2 September, sebuah kecelakaan mengerikan menimpa kontingen Inggris. Sebuah pesawat pengintai elektronik Hawker Siddeley Nimrod MR2 milik RAF yang akan memantau pertempuran itu terbakar dalam penerbangannya dan jatuh 10 mil di luar Kandahar, menewaskan semua 14 penumpang yang ada di dalamnya. Itu adalah kehilangan nyawa personel militer Inggris yang terburuk dalam satu hari yang pernah diderita oleh militer Inggris sejak Perang Falkland tahun 1982. Pihak Inggris menyatakan hal itu murni kecelakaan dan bukan karena aksi dari pihak musuh. Keesokan paginya Kompi Charles pindah dari Ma’sum Ghar ke dusun Panjwai, di tepi selatan Arghandab. Bendungan di hulu sungai telah dihancurkan, dan mengembalikan ritme sungai seperti dulu dengan banjir dan kekeringan musiman. Sementara buldoser lapis baja mulai membuka jalur akses untuk dilewati kendaraan-kendaraan LAV, komandan Kompi Charles Mayor Matthew Sprague melakukan transit cepat di dataran banjir. Di seberang sungai terdapat dusun Bayanzi, yang dikenal menjadi titik kuat pertahanan Taliban, yang berpusat di gedung sekolah berwarna putih tempat para personel dari satuan Putri Patricia mengalami bencana sebelumnya. 

Pesawat pengintai elektronik Hawker Siddeley Nimrod MR2 milik Inggris mengalami kecelakaan pada tanggal 2 September 2006 yang menewaskan 14 awaknya. Kecelakaan ini menjadi awal yang pahit bagi Operasi Medusa. (Sumber: https://en.wikinews.org/)

Kembali ke grup kompi penyerang di Ma’sum Ghar, Sprague dikunjungi oleh atasannya, Brigadir. Jenderal David Fraser, Komandan Brigade Multinasional (MNB) Komando Daerah Selatan asal Kanada. Pada saat yang sama RCR mengambil alih tugas dari satuan Princess Pats, pihak Amerika Serikat menyerahkannya kepemimpinan militer di Afghanistan kepada Pasukan Bantuan Keamanan Internasional (ISAF) yang dipimpin oleh NATO. Itu adalah momen bersejarah, dan akan menjadi penugasan terbesar dalam sejarah NATO. Fraser dan Lavoie pasti menyadari reputasi tentara Kanada sedang dipertaruhkan. Medusa adalah operasi yang didominasi oleh pasukan Kanada, diawasi di tingkat NATO oleh orang Kanada lainnya dan dilancarkan di medan perang yang telah diperebutkan oleh pihak Kanada selama misi rotasi mereka sebelumnya. Tekanan terus berlanjut untuk segera bisa mencapai hasil yang cepat dan positif. Lavoie terkejut dengan hasil perundingannya dengan Fraser. Jenderal itu memerintahkan penyerangan segera melintasi Arghandab ke arah Bayanzi, dengan menargetkan “Objective Rugby”, yakni gedung sekolah berwarna putih. Terlepas dari rencana penembakan, Fraser memerintahkan Lavoie untuk mendorong peleton pengamannya melintasi sungai dan menyuruh prajurit-prajuritnya membangun pertahanan disitu, dan mereka benar-benar melakukannya. Ketika Lavoie kembali keberatan dengan posisi mereka yang terbuka, Fraser segera mengalah, memerintahkan mereka untuk kembali saat malam tiba. Kemudian, di tengah malam, Fraser tiba-tiba memerintahkan Lavoie untuk melakukan serangan besar-besaran saat fajar. Keunggulan NATO yang luar biasa, bahkan absolut, dalam hal artileri dan aset udara tidak akan digunakan seperti yang direncanakan. Kompi Charles seharusnya akan mendapat dukungan selama penyerangan, tetapi rencana “tiga hari dukungan udara ofensif, serta artileri dan tembakan langsung” telah lenyap. Dengan cepat Fraser telah membatalkan tiga hari persiapan ofensifnya untuk mendukung apa yang pada dasarnya adalah sebuah serangan pasukan kavaleri. 

Brig. General David Fraser asal Kanada. Keputusan kontroversialnya untuk menyerang tanpa banyak menggunakan dukungan udara, menimbulkan kerugian awal bagi pasukan Kanada saat membuka operasi. (Sumber: Photo by Rick Madonik/Toronto Star via Getty Images/https://www.gettyimages.com/)

Tepat setelah jam 6 pagi pada tanggal 3 September barisan terdepan berangkat. Peleton Charles ‘7 dan 8 yang didampingi adalah para personel pasukan zeni, tentara Tentara Nasional Afghanistan dan para pelatih Amerika mereka, serta markas taktis dan pengontrol udara garis depan. Kelompok itu berhenti tepat setelah melewati tepi utara sungai, mengambil posisi di tempat terbuka yang dibatasi oleh ladang tanaman ganja yang tinggi. Tidak ada aktivitas yang jelas di gedung-gedung di depan mereka, tetapi indra perasa mereka serasa kesemutan. “Orang-orang saling memandang satu sama lain,” kenang Letnan Jeremy Hiltz, yang memimpin Peleton ke-8. Itulah yang dirasakan saat itu. Sprague, juga, mengira segalanya sejauh ini terlalu mudah. Dia mengirim Peleton ke-8, turun dari kendaraannya, untuk mengatasi kompleks di sisi kiri, sementara pasukan ANA (Afghanistan) bergerak ke utara untuk mengawasi jalan utama. Pleton ke-7 yang tersisa berlari lurus ke tengah menuju gedung sekolah. Kapten Derek Wessan memerintahkan kendaraan-kendaraan LAV-nya untuk masuk ke garis pertempuran — dari arah kiri, datang Bravo, Alpha dan Charles (tanda panggil 3-1), dengan pasukan zeni-nya di LAV Echo (3-2) di sebelah kanan — diikuti oleh G- Wagon (3-1W). Diperintahkan untuk maju dalam jarak 30 yard dari gedung sekolah, mereka meninggalkan sungai dan berjalan melalui ladang mariyuana. Di belakang mereka, Sprague, di LAV 3-9, berhenti di atas tepi sungai untuk mengamati pergerakan maju pasukan dan siap menembakkan kanon kaliber 25 mm jika diperlukan. 

Kendaraan tempur LAV III milik Kanada. Pihak Taliban sengaja menahan tembakan hingga kendaraan-kendaraan LAV Kanada mendekat, sebelum melancarkan serangan jebakan. (Sumber: https://valourcanada.ca/)

Semburan cahaya berwarna terang menyeruak di tengah fajar yang mulai tiba saat artileri dan dukungan udara Kanada dimulai. Dengan menerapkan disiplin menembak yang mengejutkan, pihak Taliban menunggu sampai kendaraan-kendaraan LAV berhenti di depan gedung sekolah sebelum menyerang. “(Setelah itu) Seluruh area baru meledak,” kenang Master Cpl. Allan Johnson, yang memimpin 3-1 Alpha. “Kami ditembaki setidaknya dari dua sisi, mungkin tiga (sisi), dengan semua (senjata) yang mereka miliki.” Sgt. Scott Fawcett, mencondongkan badan keluar palka belakang LAV 3-1 Charlie, menyaksikan dengan takjub saat peluru musuh menghantam turret Echo 3-2 ke atas langit, yang langsung membunuh seketika Sgt. Shane Stachnik, melukai awak lain dan tampaknya membuat mesin LAV nampak tidak berfungsi. Bersamaan dengan itu, sebuah RPG menghantam bagian depan kendaraan G-Wagon, menyemprotkan pecahan peluru ke atas penumpangnya dan menewaskan perwira peleton, Rick Nolan. “Segala sesuatu yang ada di dunia ini menyerang kita,” kenang Kopral Richard Furoy, yang duduk di belakang Nolan, “dan kemudian, whoomph, G-Wagon seketika menjadi hitam.” Furoy dan seorang penerjemah Afghanistan di sampingnya terluka parah, tetapi yang luar biasa, Kopral Sean Teal pengemudi hanya tertegun. 

Dari pos pengamatan sementara yang dikelilingi tanaman ganja, dua tentara Kanada mengawasi tanda-tanda serangan yang akan datang. (Sumber: Departemen Pertahanan Nasional Kanada/https://www.historynet.com/)

Melompat dari 3-1 Charlie, Sersan. Fawcett meraih Cpl. Jason Funnel dan Pvt. Mike O’Rourke dan berlari menuju G-Wagon yang membara. Menjaga badannya tetap rendah melalui tempat terbuka, mereka bisa mendengar suara peluru meledak di atas kepala saat pucuk tanaman mariyuana menghujani mereka. Fawcett dan Teal membalas tembakan, sementara O’Rourke dan Funnel memberikan pertolongan pertama dan menuju ke belakang bersama yang terluka. Tembakan yang perlindungan tiba-tiba berhenti ketika kanon LAV 3-1 Bravo macet. Mengabaikan peluru-peluru musuh yang berdatangan, Master Cpl. Sean Niefer memunculkan dirinya sendiri setengah dari palka turret untuk melanjutkan tembakan perlindungan dengan senapan mesin pintle-mount LAV miliknya. Secara tidak terduga, mesin Echo 3-2 kembali hidup. Sprague saat itu telah mengirimkan misi penyelamatan untuk menarik kendaraan itu keluar dari zona mematikan, dan pada saat rantai derek sedang dihubungkan, pengemudi yang tertegun sadar kembali, memundurkan LAV-nya ke belakang dan keluar dari tempat itu. Sementara itu upaya untuk menyelamatkan G-Wagon terbukti sia-sia, jadi Sprague memerintahkan agar diledakkan di tempatnya. Tapi pertama-tama, Sersan. John Russell menawarkan diri untuk memimpin LAV 3-1 Bravo menuju ke G-Wagon untuk mengambil tubuh Nolan. Tidak ada ruang untuk Teal dan Fawcett, yang terjepit di belakang kendaraan yang hancur itu. Mereka tetap berada di zona mematikan untuk melindungi gerak mundur Charles sampai kehabisan amunisi, lalu berlari kembali ke posisi kompi. Saat mengemudi 3-1 Bravo keluar dari zona penyergapan, Kopral. Jason Ruffolo keluar dari jalur dan membawa LAV-nya terperosok ke selokan irigasi yang dalam, yang membuatnya tidak bisa bergerak. Ketika upaya penarikan gagal, pata kru, banyak dari mereka terluka, meninggalkan kendaraan itu dan tubuh Nolan di dalamnya. 

EVAKUASI & FRIENDLY FIRE

Di bibir sungai, dalam posisi yang terlindung oleh tanaman tinggi, mereka yang masih belum terluka mengumpulkan personel-personel yang terluka di salah satu buldoser lapis baja. Mendengar baku tembak itu, seorang petugas medis Angkatan Darat AS yang bergabung dengan pasukan Afghanistan segera datang untuk membantu. Tragisnya, dozer besar itu terhantam serangan langsung dari RPG musuh, ledakan yang dihasilkan membunuh Pvt. Will Cushley dan melukai dengan parah Warrant Officer Frank Mellish. Mellish hanya bertahan beberapa menit tetapi akhirnya meninggal juga, meskipun sudah ada upaya terbaik dari Ruffolo untuk menghentikan pendarahan. Mengingat bahwa tidak ada banyak pilihan, Sprague memerintahkan LAV dari Platoon 8 untuk mengambil tubuh Nolan, dan yang menyedihkan kompi Charles terpaksa harus mundur. Hanya sehari setelah keluar dari Ma’sum Ghar, orang-orang itu harus kembali ke garis start. Namun, nasib sial belum juga pergi dari kompi itu. Keesokan paginya, tragedi terjadi lagi ketika orang-orang itu sedang membersihkan peralatan mereka, membakar sampah, dan bersiap untuk berpindah. Seorang pilot pesawat serang A-10 Thunderbolt II milik Angkatan Udara AS kehilangan kesadaran situasionalnya dan melepaskan tembakan kanon Gatling ke pasukan Kanada yang berkumpul di sekitar api. “Kami mendengar suara gerungan dari kanon,” Sersan. Brent Crellin mengenang, “dan kemudian kami merasa mual.” Mantan atlet atletik dan Olimpiade Pvt. Mark Anthony Graham tewas, sedangkan Sprague dan lebih dari 30 lainnya luka-luka. Markas taktis dan Peleton ke-8 telah dibuat berantakan. Kompi Charles kini tanpa pemimpin, telah berkurang personelnya, dan tidak lagi efektif untuk bertempur. Ketika pasukan Kanada memulihkan diri dari kecelakaan tragis ini, artileri Kanada dan Belanda serta kekuatan udara NATO melanjutkan serangan mereka. Artileri Kanada dan Belanda serta serangan udara NATO menewaskan sedikitnya 51 “suspect” militan Taliban. Mayor Scott Lundy mengatakan sebelumnya bahwa sekitar 700 militan “terperangkap” di daerah yang mencakup beberapa ratus mil persegi di distrik Panjwayi dan Zhari, beberapa di kompleks berbenteng, yang lain bergerak di tempat terbuka. Juga pada hari keempat, laporan pertama tentang korban sipil muncul dengan beberapa pihak mengatakan bahwa setidaknya 10 warga sipil dari keluarga yang sama tewas dalam pemboman sejak dimulainya operasi.

A-10 Thunderbolt II menembakkan kanon gatling. Malang bagi pasukan Kanada sebuah pesawat serang A-10 Thunderbolt II milik Amerika melakukan kesalahan dengan menembaki pasukan Kanada yang menewaskan Pvt. Mark Anthony Graham dan melukai 30 lainnya. (Sumber: https://www.youtube.com/)

OPERASI LANJUTAN

Pada tanggal 6 September, orang-orang yang selamat dari kompi Charles telah kembali ke Ma’sum Ghar, bergabung dengan unit Royal Canadian Dragoons yang hampir seukuran kompi, sebuah kompi senapan Amerika, dan markas besar taktis yang dipimpin oleh Kolonel Angkatan Darat AS, Steve Williams. Bersama-sama mereka membentuk Satgas Grizzly. Williams diperintahkan untuk mendesak ke arah sungai tetapi tidak lebih jauh dari situ, sesuai dengan rencana awal. Upaya serangan utama harus dilakukan dari arah utara. Serangan  pada tanggal 6 September oleh 1 RCR’s Bravo Company dibantu oleh Kompi A Divisi Gunung ke-10 A.S., Batalyon ke-2, Resimen Infantri ke-4, yang mengendarai Humvee. Pada hari kelima serangan artileri Kanada dan Belanda dan NATO terus menghantam posisi Taliban dan menewaskan 40 petempur lainnya yang mencoba menerobos garis depan NATO dan melarikan diri. Pengamat garis depan melaporkan bahwa para petempur Taliban yang tersisa telah bercokol dan siap untuk bertempur. Sementara itu lima tentara terluka dalam serangan mortir atas sebuah patroli Kanada. Dua hari berikutnya terjadi jeda dalam pertempuran. Tapi itu pertempuran berkobar lagi pada tanggal 8 September 2006. Dalam pertempuran darat pada tanggal 8 dan 9 September, 40 petempur Taliban lainnya dan seorang tentara Amerika tewas. “Kami menyerang dengan semua aset yang kami miliki mulai dari tembakan langsung hingga artileri dan serangan udara,” kata seorang perwira ISAF yang dipimpin oleh NATO. Tiga posisi pemberontak, sebuah pabrik pembuatan bom, dan gudang senjata dihancurkan, serta pasukan ISAF menduduki sebagian distrik Panjwayi dan Zhari. “Pasukan Afghanistan dan ISAF telah membuka kembali Highway 1 untuk lalu lintas sipil dan akan mempertahankan kehadiran patroli untuk memastikan warga sipil dapat melakukan perjalanan di rute tersebut dengan keamanan yang ditingkatkan,” kata pihak ISAF. Selama empat hari kedua unit itu mendesak tanpa banyak perlawanan ke arah selatan. Pada akhir tanggal 9 September 2006 pertempuran dimulai lagi dan berlangsung sampai tanggal 10 pagi. Pihak NATO mengatakan 94 militan tewas di Panjwayi dan distrik tetangganya, Zhari. Di akhir tanggal 10 September, pasukan pemberontak Taliban melancarkan serangan balik yang menyebabkan terbunuhnya 92 militan lainnya, banyak diantaranya yang menjadi mangsa empuk penembak jitu Kanada yang ditempatkan di perbukitan. Pada tanggal 11 September, Fraser memerintahkan pasukannya di sisi selatan Arghandab, termasuk sisa-sisa Kompi Charles, untuk menyeberangi sungai. Pada saat itu para pejuang Taliban telah pergi dan sedang berkonsentrasi di Provinsi Farah, jauh di arah barat. 

Tentara dari Kompi Alpha sedang melakukan operasi militer sebagai bagian dari Operasi Medusa di Kandahar, Afghanistan pada tanggal 14 September 2006. (Sumber: Sersan Lou Penney / Departemen Pertahanan Nasional/https://www.macleans.ca/)

Empat hari berikutnya hampir tidak ada pertempuran dengan pihak NATO yang melaporkan bahwa gerilyawan Taliban telah melarikan diri. Pasukan NATO, bagaimanapun, menemukan sejumlah besar jebakan yang ditinggalkan oleh Taliban. Pada 14 September, di hari ke-11 operasi, pasukan mulai bergerak maju ke daerah Pashmula yang dikuasai Taliban. Beberapa jam kemudian bukti kehadiran Taliban mulai meningkat, dengan ditemukannya: 50 kilogram (110 lb) nitrogen, lusinan baterai, granat berpeluncur roket, amunisi, terowongan dan bunker. Sementara itu, hubungan pihak Taliban dengan peredaran narkoba terlihat jelas di kompleks tersebut. Tentara NATO dan Afghanistan harus memeriksa setiap bangunan dan menjelajahi setiap inci tanah sebelum berita kemenangan dapat diumumkan dan penduduk sipil diizinkan untuk kembali ke rumah mereka. “Kewaspadaan adalah yang utama pada hari-hari ini,” kata Mayor Geoff Abthorpe, OC dari Bravo Company, Rabu saat hari dimulai. “Slow is smooth, and smooth is fast.” Saat pasukan NATO terus bergerak maju, mereka sedang mencari keberadaan gerilyawan Taliban. Para pemberontak sebelumnya telah menunjukkan perlawanan yang lebih kuat dari yang diperkirakan, tetapi sekarang tampaknya mereka telah melarikan diri dari benteng pertahanan mereka, yang oleh beberapa pihak dicurigai sebagai tempat yang akan berfungsi sebagai pertahanan terakhir mereka. Banyak tentara Kanada yang bersemangat disamping gelisah karena mereka khawatir pihak Taliban berhasil melarikan diri untuk bertempur di lain hari. Tetapi pada penghujung hari, seorang penerjemah Afghanistan bersama pasukan Kanada melaporkan bahwa dia mendengar obrolan radio dari pihak Taliban, dan bahwa mereka membicarakan tentang berkumpul bersama di satu tempat untuk bertahan dan bertempur. Tapi pihak Taliban ternyata tidak bertahan. Sebaliknya sekitar 400 Taliban bersenjata berat menyeberang ke provinsi Farah barat, dan mengambil kendali distrik Gulistan setelah mengusir polisi dan membakar markas distrik dan klinik lokal pada 14 September 2006.

Terusir dari Distrik Panjwayi karena Operasi Medusa, pasukan Taliban hanya berpindah ke distrik Gulistan, untuk melawan di lain hari. (Sumber: https://www.nytimes.com/)

Pada minggu, tanggal 17 September, operasi resmi dinyatakan selesai. Jenderal David Richards, komandan pasukan NATO Inggris di Afghanistan, menyatakan Medusa sebagai operasi yang “sukses yang signifikan”. Selama 15 hari pertempuran, pihak Taliban telah dihantam dengan keras dan terpaksa melarikan diri. Pada saat Operasi Medusa berakhir, total 28 tentara koalisi tewas; 12 di antaranya adalah tentara Kanada dari Batalyon ke-1 Grup Tempur Resimen Kerajaan Kanada. Ditambah 14 tentara Inggris yang tewas dalam kecelakaan pesawat Nimrod (bukan akibat aksi musuh), serta 1 tentara Amerika (Sersan Kelas 1 Micheal T. Fuga, yang merupakan mentor ANA) dan 1 tentara Belanda. Sementara itu di pihak Taliban, 512 petempurnya tewas dan 136 lainnya ditangkap, dengan total korban 648. Dengan jumlah itu rata-rata 32 Taliban terbunuh dan 3,5 lainnya ditangkap per harinya. Lebih penting lagi, menurut NATO, Taliban telah kehilangan wilayah basis esensial, yang memungkinkan mereka untuk mengancam Kandahar. Kisah kemenangan itu adalah catatan resmi pihak NATO — dan mereka meyakini itu. Berbulan-bulan setelah berakhirnya Operasi Medusa, berbagai penghargaan militer diberikan kepada tentara Angkatan Darat Kanada, serta seorang tentara Amerika yang bertugas bersama pasukan Kanada, atas keberanian dan dedikasi mereka untuk bertugas selama pelaksanaan Operasi Medusa. Seorang prajurit akan dianugerahi Star of Military Valor, penghargaan militer tertinggi kedua untuk keberanian di Kanada; enam tentara dianugerahi medali tertinggi ketiga Kanada untuk keberanian, Medal of Military Valor; dan seorang tentara mendapat medali mentioned in dispatches selama operasi berlangsung. Demikian pula, komandan Satuan Tugas Grizzly, seorang kolonel National Guard Angkatan Darat Amerika, dianugerahi Canada’s Meritorious Service Medal atas arahan dan profesionalismenya saat memimpin aksi satuan tugasnya selama Operasi itu.

KISAH PENUTUP

Sementara pihak NATO mengklaim kemenangan, pihak Taliban memiliki pemikiran lain. Keesokan harinya, dalam balasan yang nampaknya disengaja, seorang pembom bunuh diri dengan menggunakan sepeda di Panjwai mendekati ke patroli pasukan Kanada dan meledakkan rompi bom-nya, menewaskan dirinya sendiri dan empat tentara. Saat operasi militer terus berlangsung, dalam serangan lain oleh pihak Taliban, pada periode yang sama, empat tentara Amerika dan empat tentara Inggris tewas bersama dengan puluhan tentara dan polisi Afghanistan, serta puluhan warga sipil. Operasi militer dalam Operasi Medusa tidak berhenti pada tanggal 17 September. Tanggal tujuh belas adalah tanggal berakhirnya pertempuran besar dalam operasi tersebut. Setelah itu, fase operasi Medusa berikutnya dimulai dengan dilaksanakannya kegiatan rekonstruksi infrastruktur dan jalan raya, dikombinasikan dengan upaya untuk membantu masyarakat lokal kembali ke rumah dan menghubungkan ekonomi antar daerah di seluruh negeri. Meski mengalami kekalahan besar di medan perang, pihak Taliban tetap mempertahankan kehadiran mereka di provinsi Kandahar dan tidak kehilangan keinginan mereka untuk berperang.

Tentara dari Kompi Bravo kembali ke Kendaraan Lapis Baja Ringan mereka setelah membersihkan beberapa bangunan di distrik Panjwai di Provinsi Kandahar untuk mendukung Operasi Medusa pada tahun 2006. Hanya sehari setelah pihak NATO menyatakan kesuksesan Operasi Medusa, bom bunuh diri Taliban menewaskan 4 prajurit Kanada. (Sumber: https://www.hilltimes.com/)

Pada tanggal 6 Oktober 2006, komandan anonim dari lima negara NATO, menuntut pemerintah mereka untuk “bersikap keras” terhadap Pakistan atas dugaan dukungan dan perlindungan Interservices Intelligence (ISI)/dinas intelijen Pakistan yang diberikan kepada pihak Taliban selama operasi Medusa. Meskipun operasi tempur telah berakhir, namun pertempuran sengit terus berlanjut di daerah tersebut. Pada minggu terakhir bulan Oktober 2006, puluhan warga sipil dilaporkan tewas dalam operasi ISAF. Seorang anggota dewan lokal menyatakan, “Pemerintah dan pasukan koalisi mengatakan kepada banyak keluarga bahwa tidak ada lagi Taliban di daerah itu. Jika tidak ada Taliban, lalu mengapa mereka membom daerah itu?” Pada awal pertempuran, pihak NATO mengatakan tidak ada laporan tentang korban sipil, meskipun banyak senjata yang digunakan. Juru bicara Kementerian Pertahanan Afghanistan Jenderal Zahir Azimi, mengutip laporan pihak intelijen, mengatakan bahwa 89 “suspect” militan Taliban dan sejumlah warga sipil yang tidak diketahui pasti jumlahnya telah tewas selama dua hari pertama pertempuran di distrik Panjwayi. Dikatakan bahwa konfirmasi independen atas laporan korban tidak segera bisa dilakukan, karena pemerintah telah memerintahkan semua kendaraan keluar dari jalan menuju Panjwayi selama operasi berlangsung. Pernyataan NATO mengatakan pasukannya melaporkan puluhan gerilyawan tewas selama hari pertama operasi. Dikatakan lebih banyak lagi yang terluka, dan sejumlah besar ditangkap. Sementara itu aksi militer yang keras telah membawa risiko kematian pada warga sipil. Selain luka fisik, banyak tentara Koalisi juga menderita masalah mental. 

Salah satu bagian menyedihkan dari konflik berkepanjangan di Afghanistan adalah timbulnya korban di pihak sipil akibat aksi militer pihak-pihak yang bertikai. (Sumber: https://unama.unmissions.org/)

Beberapa bulan setelah Operasi Medusa, kekhawatiran pihak Afghanistan dan internasional atas jumlah warga sipil yang tewas dalam serangan itu meningkat. Secara khusus, pada bulan Oktober, penyelidikan NATO terhadap serangan udara menemukan bahwa 31 warga sipil tewas, termasuk dua puluh orang dari satu keluarga besar. Pada tanggal 3 Januari 2007, seorang juru bicara NATO mengakui bahwa “Satu-satunya kesalahan yang kami lakukan – dan kami berusaha keras untuk memperbaikinya tahun depan – adalah membunuh warga sipil yang tidak bersalah.” Operasi militer lanjutan, yang diberi nama Operasi Falcon Summit, umumnya tidak melibatkan senjata berat seperti dalam Operasi Medusa, melainkan menggunakan unit infanteri kecil yang menggeledah desa-desa mau bekerja sama dengan tetua suku. Sementara itu kembali ke Operasi Medusa, terbukti, bahwa pihak Taliban masih menyengat hanya sehari setelah mereka “dikalahkan”. Dalam sebuah wawancara dengan sejarawan Kolonel Bernd Horn sebulan setelah Operasi Medusa, Fraser degan berani secara halus memuji kemampuan bertempurnya sendiri. “Itu adalah perasaan yang biasa muncul dalam pertempuran,” katanya, “ketika kamu menghadapi musuh. Itu adalah sesuatu yang tidak dapat Anda ajarkan — Anda hanya perlu tahu kapan harus mendesak. ” sementara itu anggota kompi Charles mungkin bertanya-tanya mengapa indra keenam komandannya itu “mendadak hilang” pada tanggal 3 September ketika dia menangguhkan pemboman awal yang direncanakan dan memerintahkan mereka bergerak untuk maju. Itu adalah kesalahan pertama Fraser. Yang kedua ia mengirim kompi yang sama yang babak belur itu kembali ke pertempuran pada tanggal 6 September, meskipun telah mengalami insiden salah tembak yang mengerikan.

Pada saat Kanada menarik diri dari Afghanistan pada 2011, 158 personel militernya telah tewas. (Sumber: Departemen Pertahanan Nasional Kanada/https://www.historynet.com/)

Belasan tahun setelah pertempuran, pendapat Fraser tentang dirinya sendiri semakin berkembang. Pada 2018 ia menerbitkan memoar berjudul Operasi Medusa. Subjudulnya — Pertempuran Keras yang Menyelamatkan Afghanistan Dari Taliban — sudah cukup menjelaskan pandangannya. Buku ini juga sangat tidak akurat. Sehari setelah komandan Kanada menyatakan musuh telah dikalahkan, pihak Taliban membunuh empat prajurit infanteri. Tiga lainnya akan mati di Panjwai sebelum akhir tahun. Bahkan ketika Fraser merilis memoarnya, majalah berita Kanada Maclean’s menggarisbawahi keraguan dari klaim kemenangannya: Kebun buah-buahan dan ladang pertanian yang indah di sepanjang Sungai Arghandab — yang seharusnya penuh dengan para pekerja — malah menjadi perlindungan bagi penembak jitu Taliban.… Tentara Kanada terus berjatuhan tewas dalam penyergapan dan serangan bunuh diri. Konvoi dan patroli jalan kaki secara teratur diserang bom yang dipasang di pinggir jalan yang ditanam semalam sebelumnya oleh pentolan Taliban setempat. Korban tewas terus meningkat, dan pada saat tentara Kanada pergi pada tahun 2011, korban yang mereka derita telah mencapai 158 orang.

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

Kandahar Kill Zone by Bob Gordon, August 2019

OPERATION MEDUSA 2006, CANADIAN-LED OFFENSIVE IN AFGHANISTAN by Jonathan Wade; Dec 15, 2013

https://sofrep.com/news/operation-medusa-2006-canadian-led-offensive-afghanistan/

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Operation_Medusa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *