Operation Boomerang: B-29 Super Fortress Over Palembang, August 10th, 1944

Berdasarkan konferensi Kairo (22-26 November 1943), Pengolahan minyak di Palembang ditetapkan sebagai salah satu target utama sekutu dalam melumpuhkan kekuatan Jepang. Para perencana perang sekutu percaya bahwa penghancuran fasilitas ini, yang dilaporkan memproduksi 22% bahan bakar minyak Jepang dan 78% dari bahan bakar pesawatnya, akan mampu melumpuhkan operasi tempur musuh.

Locations of B-29 bomber bases in India and Ceylon and the main targets they attacked in South East Asia

Untuk dapat mencapai Palembang, satuan 20th Bomber Command harus terbang dari pangkalan RAF di Ceylon (Srilanka) dan menempuh jarak ekstrem – sekitar 1.900 mil. Pada awalnya Amerika yang berkonsultasi dengan Inggris berencana untuk memperpanjang landasan pacu dari pangkalan udara yang sudah ada, namun akhirnya diputuskan bahwa mereka akan menggunakan satu landasan udara di China Bay, yang terletak di pesisir timur pulau.

Brigadir Jenderal Laverne G Saunders, penanggung jawab Operasi Boomerang. Seorang pilot B-17 yang memimpin operasi tempur di Guadalcanal, ia kemudian diberi tugas untuk untuk memimpin progran training awak pesawat B-29. Saunders turut menerbangkan satu dari 2 B-29 pertama melintasi pegunungan Himalaya (sering disebut “The Hump”) dari India ke pangkalan udara Kwanghan di Chengdu.

Pekerjaan dimulai di pangkalan China Bay sejak musim semi 1944. Pada saat fasilitas pendukung hampir komplit, 20th Air Force menetapkan tanggal 15 Agustus 1944 sebagai deadline akhir untuk melakukan operasi. Brigadir Jenderal Laverne Saunders memilih tanggal 10 Agustus sebagai hari-H operasi dan mulai menempatkan 56 bomber di pangkalan Ceylon pada tanggal 9. Penyerangan ke Palembang diputuskan akan dilakukan di malam hari, dengan beberapa B-29 ditugaskan secara terpisah untuk melepas ranjau di sepanjang sungai Musi, tempat dimana biasanya BBM dari kilang minyak Palembang dikapalkan menuju ke Jepang. Operasi ini kemudian diberi kode “Operasi Boomerang”.

Bomber B-29

Pada sore hari 10 Agustus 1944, B-29 pertama lepas landas dari landasan China Bay untuk memulai penerbangan panjang 3.800 mil pulang pergi. Sebuah B-29 segera kembali setelah take-off dengan kebocoran di mesin, untuk diperbaiki dan kemudian terbang lagi. Palembang berada dibawah lapisan tipis awan dan hanya nampak sedikit cahaya di sekitarnya saat 31 buah B-29 mencapai area yang dituju di kilang minyak Pladju dan menjatuhkan muatannya dengan panduan radar atau kontak visual menembus lapisan awan.

An aerial photo of part of the Pladjoe refinery taken on an unknown date.

Dari 15 pesawat gagal mencapai Palembang, tiga pesawat menyerang target alternatif. Sepasang pesawat B-29 mengebom kota minyak Pangkalanbrandan di Sumatra utara dan yang lainnya menghantam lapangan udara di dekat kota Djambi. 8 pesawat juga menjatuhkan 16 ranjau kedalam sungai Musi. Selama serangan B-29 melihat ada 37 pesawat Jepang, dan untuk pertama kalinya menghadapi roket darat ke udara musuh namun tidak menderita kerugian satupun. Meski demikian sebuah pesawat jatuh ke laut sekitar 90 mil (140 km) dari China Bay dalam perjalanan kembali ke Ceylon. Tim penyelamat berhasil menemukan semua crew dengan hanya perkecualian satu orang.

Hasil serangan atas Palembang, seperti serangan-serangan B-29 sebelumnya, terhitung buruk. Foto-foto yang diambil dari kilang Pladjoe pada 19 September menunjukkan bahwa hanya satu bangunan yang pasti hancur dalam serangan itu, sementara beberapa lainnya dikategorikan sebagai “kemungkinan”. Operasi penyebaran ranjau memperoleh hasil yang lebih baik, karena mampu menenggelamkan tiga kapal, merusak dua kapal lain dan mencegah minyak diangkut melalui Sungai Moesi selama sebulan.

THE ATTACK ON PALEMBANG, JANUARY 1945

Bahkan sebelum foto udara yang membuktikan hal tersebut diterima, Jenderal Saunders merekomendasikan ke Washington, dimana kemudian mereka setuju, untuk mencoret Ceylon sebagai pangkalan udara bagi serangan B-29 di masa mendatang. Dengan demikian, tidak ada lagi serangan B-29 yang diluncurkan dari China Bay dan satu-satunya keuntungan dari operasi yang pernah dilakukan disitu adalah para crew Bomber B-29 Super Fortress, yang masih terhitung baru memperoleh pengalaman terbang dalam jarak jangkau ekstrem.

Dikutip dari:

Ballantine war book series, B29: The Superfortress, Carl Berger-1970

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Operation_Boomerang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *