Operation Gift, 28 Desember 1968: Serbuan Israel ke Bandara Beirut Sebagai Balasan atas Aksi Terorisme Terhadap Maskapainya

Pada tanggal 28 Desember 1968, sebuah satuan serbu udara dengan enam helikopter Aerospatiale SA 321K Super Frelon yang sarat dengan pasukan khusus komando dengan tujuh helikopter Bell 205 sebagai pengawal lepas landas dari lapangan terbang Israel di Ramat David, yang terletak di tenggara Haifa dan terbang menuju ke utara. Target satuan serbu udara Israel malam itu adalah Bandara Internasional Beirut. Operation Gift, demikian nama sandi untuk serangan yang dilakukan oleh Pasukan Komando dari Satuan Pertahanan Israel (IDF) di Bandara Beirut, merupakan sebuah tanggapan atas berbagai serangan teror terhadap maskapai penerbangan nasional Israel, El Al. Dalam penyerbuan tersebut, pasukan khusus IDF menghancurkan banyak pesawat milik berbagai maskapai penerbangan Arab; meski demikian tidak ada korban jiwa yang dilaporkan. Operasi ini dimaksudkan untuk memberi pesan kepada negara-negara Arab untuk lebih tegas dan tidak memberi ruang kepada kelompok-kelompok teroris yang menyerang target-target warga dan kepentingan Israel. Meski sukses, operasi ini kemudian akan mempengaruhi hubungan Israel dengan negara-negara sahabatnya dan negara-negara Arab yang memusuhi mereka.

Formasi helikopter Super Frelon dalam sebuah operasi di Mesir tahun 1968. Pada tanggal 28 Desember tahun itu, 6 helikopter serupa melakukan serangan yang berani atas Bandara Beirut sebagai balasan atas serangan teroris pada maskapai El Al milik Israel. (Sumber: http://fly.historicwings.com/)

LATAR BELAKANG 

Pesawat El Al Flight 426 setelah dikembalikan ke Israel. Pembajakan atas Flight 426 pada tanggal 22 Juli 1968 adalah yang pertama kali dialami maskapai itu dan menurut BBC menjadi kasus pembajakan terlama dalam sejarah. (Sumber: https://www.slideshare.net/)

Pada tanggal 22 Juli 1968, sekelompok teroris membajak sebuah pesawat El Al dalam perjalanannya dari Israel ke Roma, dan memaksa pilotnya untuk mendarat di Algiers, di mana situasi tegang segera mengikuti kemudian dan para penumpang disandera selama 39 hari sebelum akhirnya dibebaskan. Peristiwa pembajakan ini adalah yang pertama dihadapi oleh maskapai Isrsel itu. Sekitar empat bulan kemudian, pada sore hari tanggal 26 November, dua teroris yang telah tiba di Athena dari Bandara Beirut, menembaki sebuah pesawat El Al Flight 253 dengan 41 penumpang yang sedang memanasi mesin sebelum lepas landas dari Bandara Athena. Akibatnya, seorang warga negara Israel tewas, seorang pramugari terluka, dan pesawat rusak dengan salah satu mesinnya terbakar. Berkat intervensi cepat dari penjaga-penjaga keamanan Israel, yang berhasil menangkap para teroris, tragedi yang lebih besar dapat dihindari. Para teroris itu kemudian diserahkan ke pihak otoritas Yunani. Salah seorang teroris, Mahmoud Mohammed Issa Mohammad, dijatuhi hukuman 17 tahun 5 bulan penjara. Namun dia kemudian dibebaskan setelah menjalani hukuman kurang dari 4 bulan. Pihak otoritas Yunani membebaskannya setelah kelompok teroris Palestina lainnya membajak sebuah pesawat Yunani dan menuntut pembebasan tersangka teroris yang ditahan Yunani. Selanjutnya, Mahmoud Mohammed Issa Mohammad berhasil menyembunyikan masa lalunya sebagai teroris dan beremigrasi ke Kanada. Setelah pihak berwenang Kanada mengetahui kejahatannya, proses ekstradisi yang berlarut-larut akhirnya mencapai puncak dengan ekstradisinya ke Lebanon pada tahun 2013. Sementara itu setelah insiden pembajakan, Juru bicara Front Rakyat untuk Pembebasan Palestina (PFLP), yang bermarkas di Beirut, mengumumkan bahwa operasi itu dilakukan oleh organisasinya. Beirut, saat itu merupakan pusat terorisme di kawasan Arab. Sebagai tanggapan, IDF memutuskan untuk menyerang pesawat milik maskapai penerbangan Arab, yang berada di Bandara Beirut dalam sebuah operasi komando lintas udara. Operasi penghukuman ini adalah sebagai peringatan bagi negara-negara Arab yang dianggap Israel membiarkan para teroris beroperasi dari wilayah-wilayah mereka dan tidak bertindak apa-apa.

Sebagian dari kerusakan yang diakibatkan serangan pada jet Boeing 707 El Al Flight 253 di Bandara Athena, 26 Desember 1968. (Sumber Foto: El Al/https://israeled.org/)

SASARAN 

Bandara Internasional Beirut terletak kira-kira 90 km (55 mil) di utara Rosh-Hanikra, di perbatasan Israel-Lebanon. Terletak di selatan kota Beirut, dan kira-kira dua km ke arah timur dari laut. Bandara ini terdiri dari dua landasan pacu yang saling bersilangan seperti gunting, ke arah utara-selatan. Di antara dua jalur itu terdapat terminal penumpang dan di depannya, sebuah area terbuka. Di ujung timur laut dan barat daya landasan pacu, terdapat hanggar, area parkir dan tempat perawatan pesawat. Di selatan terminal terdapat paviliun layanan siaga darurat bandara, tempat pemadam kebakaran dan pos pertolongan pertama berada. Di bandara itu sendiri hanya ada sekitar 90 petugas keamanan yang bersenjatakan pistol. Mereka bekerja dalam tiga shift. Sebuah kompi komando Angkatan Darat Lebanon yang bisa dikerahkan berada tiga kilometer dari bandara, siap siaga dalam waktu lima menit. Polisi militer dan Polisi Lebanon di daerah Beirut dapat tiba di bandara dalam waktu setengah jam, dan Unit Polisi dengan Mobil Lapis Baja dan pasukan militer lainnya dapat tiba dalam waktu satu jam setelah menerima perintah. Pasukan udara dan laut Israel tidak mengharapkan adanya aktivitas tanggapan dari pihak angkatan laut dan udara Lebanon, mereka juga tidak mengharapkan bahwa aktivitas serbuan udara yang dilancarkan akan terdeteksi oleh radar Lebanon.

Bandara Internasional Beirut-Lebanon pada tahun 1960an. Karena pemerintah Lebanon dianggap tidak bertindak apa-apa pada kelompok yang mengakui menjadi pelaku aksi teror terhadap maskapai Israel, maka pemerintah Israel memutuskan untuk melakukan aksi pembalasan yang menargetkan Bandara Beirut. (Sumber: https://id.pinterest.com/)

PERENCANAAN DAN PERSIAPAN

Perencanaan untuk “Operation Gift” (atau “Tshura” dalam bahasa Yahudi) dimulai setelah pembajakan pesawat pada tanggal 22 Juli. Niat awalnya adalah untuk membajak pesawat di Beirut dan menggunakannya sebagai sarana barter dengan pihak teroris. Karena rencana dasarnya sudah ada, perintah kemudian dikirim ke bagian Operasi Staf Umum IDF segera setelah serangan pesawat di Athena, untuk merevisi rencana kontingensi Operation Gift untuk yang mana kemungkinan misinya adalah menghancurkan dan tidak membajak pesawat (Mereka menyadari bahwa melakukan pembajakan sendiri malah akan menciptakan masalah moral dan etika yang serius bagi negara itu – bagaimana mungkin sebuah negara bisa melakukan penyanderaan? Demikian pemikiran waras mereka menyimpulkan). Perintah serupa lalu dikeluarkan untuk Angkatan Udara Israel, yang pesawatnya segera disiagakan dan kesiapannya ditingkatkan. Dua hari kemudian, pada hari Sabtu, tanggal 28 Desember, satuan tugas operasional berkumpul di Pangkalan Udara Ramat-David, sudah dalam keadaan terlatih dan siap beraksi, serangan balasan telah disetujui untuk segera dieksekusi, hanya dalam 36 jam setelah apa yang terjadi di Athena.  Sebuah air-head didirikan di Bandara Betzet untuk memungkinkan helikopter mendarat di sana jika mereka kehabisan bahan bakar, untuk mengisi ulang bahan bakar mereka. Misi yang diketahui oleh setiap anggota satuan tugas yang berasal dari pasukan khusus Sayeret Matkal dengan jelas adalah, sebagai berikut: Menyabotase sebanyak mungkin pesawat milik maskapai penerbangan negara-negara Arab di Bandara Internasional Beirut, sambil menghindari bahaya timbulnya korban warga sipil dan kerusakan pesawat milik maskapai lain; merusak instalasi, dan jika jumlah pesawat (hanya) sedikit – untuk menyabotase pesawat militer yang mungkin berada di wilayah militer bandara.

Brigjen. Jenderal Rafael Eitan, “Raful” yang ditugaskan untuk mengomandoi seluruh serangan pasukan khusus Israel atas Bandara Beirut. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

Secara lebih detail rencana operasionalnya adalah sebagai berikut: 

  • Bandara ini akan dibagi menjadi tiga sektor operasional utama, yakni: sektor timur, sektor barat dan sektor area terminal. Setiap sektor memiliki kekuatan 20-22 personel komando. Mereka semua dikomandoi grup komando garis depan yang dikepalai oleh Kepala Penerjun payung dan Perwira Infanteri, Brigjen. Jenderal Rafael Eitan, “Raful”. Grup komando garis depan terdiri dari 12 personel, termasuk Kepala Cabang Operasi Staf Umum, Kolonel Chaim Nadel, yang merupakan wakil komandan operasi. 
  • Sebuah pasukan yang terdiri dari 22 personel dari unit elit yang ada di bawah komando Letnan Kolonel Uzi Yairi, yang merupakan komandan Sayeret Matkal sendiri (“Uzi Force”, diberi nama sesuai nama komandannya) diperintahkan untuk mendarat dengan helikopter SA-321K Super-Frelon buatan Prancis di tepi barat laut landasan pacu. Mereka akan bertugas untuk menyabotase pesawat di bagian barat bandara hingga ke perbatasan sektor operasi pasukan, di sudut barat laut terminal penumpang. Pasukan tersebut kemudian melanjutkan ke titik evakuasi “London” yang berada di persimpangan dua landasan pacu.
  • Sementara itu pasukan kedua dari unit itu, yang terdiri dari 20 orang di bawah komando Wakil Komandan Mat’kal, Mayor Manchem Digli (“Digli Force”), diperintahkan untuk mendarat dengsn Super-Frelon lainnya di selatan area gedung utama, dan untuk menyabotase pesawat yang ada di sana. Pasukan itu kemudian juga diperintahkan untuk menuju titik evakuasi “London” setelah menyelesaikan misi mereka. Mereka akan bersiap, dan jika evakuasi akhirnya diputuskan akan dilakukan melalui laut, mereka akan mengamankan titik penjemputan di tepi pantai. 
  • Pasukan ketiga, terdiri dari 22 personel dari Kompi Pengintaian Brigade ke-35, yang dipimpin oleh komandan kompi, Kapten Gabi Negbi (“Negbi Force”), diperintahkan untuk mendarat dengan Super-Frelon di tepi utara landasan pacu timur dan menyabotase pesawat yang terletak dari titik itu ke selatan ke batas sektornya, terminal penumpang, dan kemudian pergi dengan cara yang sama seperti dua pasukan lainnya.
  • Komandan Skuadron Helikopter, Letkol Eliezer “Cheetah” Cohen, yang berada di dalam helikopter ringan Bell 205 bersama dengan seorang perwira Paratroop, seorang ahli bedah penerbangan dan mekanik penerbangan, diperintahkan untuk memblokir daerah operasi ke arah timur dan utara dari udara.
Helikopter terberat milik Israel saat itu SA-321K Super-Frelon buatan Sud Aviation (kini Aérospatiale) Prancis dikerahkan untuk membawa pasukan komando Israel ke Bandara Beirut. (Sumber: https://www.sky-high.co.il/)
7 unit helikopter Bell 205 buatan Amerika dikerahkan untuk mendukung Operasi Gift. (Sumber: http://edokunscalemodelingpage.blogspot.com/)

Diputuskan bahwa sabotase pesawat milik negara-negara Arab akan dilakukan dengan dua peledak, satu akan ditempatkan di roda pendaratan di bawah hidung pesawat dan yang kedua, yang akan ditempatkan di roda pendaratan salah satu sayap. Penempatan semacam ini akan melumpuhkan pesawat dan membuatnya terbakar. Setiap pesawat akan dipersiapkan untuk diledakan secara terpisah, meskipun dimungkinkan untuk menghubungkan peledak melalui sakelar, dan untuk meledakkan beberapa pesawat secara bersamaan, namun hal ini tergantung pada kondisi di landasan dan dapat dipastikan bahwa pesawat non-Arab tidak akan disana tidak rusak. Sementara itu proses evakuasi akan dilakukan melalui salah satu dari beberapa alternatif berikut sesuai dengan kondisi di lapangan: 

  • Dari titik persimpangan dua landasan pacu, diberi nama kode “London”, tempat pasukan berkumpul setelah menyelesaikan misi mereka. Tiga helikopter Super-Frelon akan ditugaskan untuk mengevakuasi pasukan. 
  • Dari sebuah posisi di pantai, yang diberi nama kode “Roma”. Evakuasi ini akan dilakukan oleh kapal cepat rudal milik Angkatan Laut Israel dan komando angkatan laut. 
  • Dari landasan utama bandara, dengan dua pesawat Nord Noratlas yang akan mendarat di sana.

Jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, pasukan tersebut akan dievakuasi oleh komando angkatan laut atau dengan dukungan 36 tentara dari batalion pasukan khusus, yang bersiap untuk diterbangkan dari Pangkalan Udara Ramat-David ke Bandara Beirut. Keseluruhan operasi diperkirakan berlangsung selama 30 menit sejak dari pendaratan helikopter pertama hingga lepas landasnya helikopter terakhir ke Israel. Jam “H”, yang telah ditetapkan adalah pukul 22.00 pada tanggal 28 Desember, namun kemudian dimajukan tiga perempat jam menyusul update intelijen yang tiba pada hari Sabtu sore, 28 Desember, sehingga jumlah pesawat pada pukul 21:15 akan lebih besar dari itu tiga perempat jam kemudian.

Rencana serangan Operasi Gift. (Sumber: https://www.jewishvirtuallibrary.org/)

PERAN ANGKATAN UDARA & LAUT

Rencana operasi memerlukan enam helikopter Super-Frelon dan dua helikopter tambahan sebagai cadangan, untuk mendaratkan pasukan di tiga lokasi berbeda dan mengevakuasi mereka dari titik evakuasi. Tujuh helikopter Bell (dan satu lagi sebagai cadangan) turut dikerahkan: lima untuk bertugas sebagai penyelamat atau pasukan evakuasi, satu untuk grup komando garis depan, dan satu lagi untuk patroli dan komunikasi. Empat pesawat Nord Noratlas (dan satu tambahan sebagai cadangan) juga dikerahkan: dua untuk mengevakuasi pasukan, dan dua tambahan untuk menjatuhkan suar cahaya, komunikasi, dan penyelamatan laut. Dua pesawat Boeing 707 akan berfungsi sebagai pesawat relay komunikasi antara Brigjen Eitan dan Menteri Pertahanan Jenderal Moshe Dayan dengan perangkat radio VHF/UHF. Sedangkan Dua pesawat serang skyhawk dan empat Vautour sebagai cadangan untuk melepas suar penerangan dan melakukan serangan, jika diperlukan. Menurut rencana pihak Angkatan Laut, akan menyiapkan dua kapal cepat Torpedo, empat kapal cepat rudal kelas Saar dan tiga belas perahu karet serta pasukan komando angkatan laut yang siap siaga jika operasi penyelamatan gabungan angkatan laut-udara diperlukan. Pasukan angkatan laut diperintahkan untuk berkumpul pada jam “H” enam mil laut dari “Titik Pantai Roma” dan pada “H” + tiga puluh menit, separuh dari pasukan akan ditempatkan sekitar 1.500 meter dari garis pantai. Kapal-kapal cepat Torpedo harus siaga 12 mil laut di lepas pantai. Satu di seberang Tirus dan yang kedua di seberang Sidon. Angkatan laut harus bisa mencapai tujuan mereka dengan berlayar ke utara dua puluh lima mil di sebelah barat pantai, kemudian mencapai titik dua puluh mil dari tujuan mereka dan kemudian mendekati perlahan ke pantai. Perjalanan dari pelabuhan Haifa ke tujuan itu memakan waktu sekitar tiga setengah jam. 

2 Pesawat serang A-4 Skyhawk diperintahkan untuk terbang diatas Beirut untuk siap sewaktu-waktu membantu serangan jika dibutuhkan. (Sumber: https://weaponsandwarfare.com/)
Menemani pesawat-pesawat Skyhawk, 4 pesawat multiguna Vautour dikirimkan untuk memberikan penerangan dan membantu serangan jika diperlukan. (Sumber: https://id.pinterest.com/)
Pesawat angkut Nord Noratlas turut dipersiapkan Israel sebagai sarana evakuasi cadangan. (Sumber: http://www.airvectors.net/)
Kapal cepat AL Israel menjadi sarana evakuasi terakhir yang dilibatkan jika alternatif lain gagal dilakukan. (Sumber: https://archive.hnsa.org/)

OPERASI 

Menjelang hari “H” komandan AB Israel, Letjen Bar Lev terpaksa menolak usulan pihak AU untuk mengadakan pemotretan udara guna memperoleh data situasi terakhir sasaran. Ia khawatir pihak Lebanon curiga sehingga unsur pendadakan operasi hilang. Akibat pilihan tersebut Brigjen Eitan dan anak buahnya terpaksa mengandalkan data yang terkumpul sebulan sebelumnya. Agar anak buahnya tidak salah sasaran, selain mewajibkan seluruh pasukan untuk menghapalkannya, Brigjen Eitan juga membekali anak buahnya dengan kartu kecil bergambar sejumlah logo perusahaan penerbangan yang diincar. Eitan beralasan, dalam situasi tegang dan kacau akibat dikejar waktu yang sempit, anak buahnya bisa saja melakukan “kekhilafan” yang berakibat fatal bagi negaranya. Sedapat mungkin hal ini harus dicegah. Gladi resik operasi dilakukan pada hari “H” sejak pagi hingga petang tanpa hanti bertempat di Bandara Lod yang saat ini dinamakan Ben Gurion. Banyak pihak menentang pilihan lokasi ini karena khawatir rahasia operation Gift bakal bocor ke masyarakat sebelum waktunya. Namun Brigjen Eitan tetap berkeras dengan pilihannya. Ia beralasan cara ini lebih praktis dan dapat disamarkan seolah kegiatan latihan anti terror rutin. Usai mandi keringat selama 10 jam, saat matahari terbenam seluruh anggota pasukan diistirahatkan dengan Brigjen Eitan segera melaporkan kesiapan pasukannya kepada Letjen Bar Lev. Tepat pukul 20.00 Brigjen Eitan melakukan inspeksi terakhir menjelang keberangkatan. Seluruh anggota pasukan berseragam tempur lengkap dengan baret merahnya. Mereka menenteng senapan serbu buatan Soviet AK-47 kaliber 7,62 mm dan menggendong ransel hijau penuh bahan peledak. AK-47 dipilih karena jarak tembak efektifnya lebih baik dibanding pistol mitraliur Uzi kaliber 9 mm. Tetapi bentuknya lebih ringkas dibandingkan senapan standar AB Israel kala itu, FN FAL kaliber 7,62 mm buatan Belgia. Plus, pasukan lawan juga kemungkinan mempergunakannya, sehingga jika harus tertahan di lokasi serangan, mereka bisa menggunakan magazine dan amunisi dari pihak lawan. Selain mengucapkan selamat jalan, Brigjen Eitan juga berujar, “Selalu pakai otakmu dan jaga diri baik-baik. Aku tak mau menyanyikan Radish untuk kalian!” Radish adalah lagu pengiring upacara kematian orang Yahudi.

Pasukan IDF Israel dengan varian senapan AK-47. AK-47 dipilih satuan Sayeret Matkal dalam serangan ke bandara Beirut karena alasan teknis dan praktis. (Sumber: https://www.pinterest.ca/)

Helikopter-helikopter yang melakukan serbuan lepas landas dari Pangkalan Udara Ramat David pada pukul 20:37. Waktu yang diperhitungkan untuk mencapai target adalah 45 menit untuk helikopter Super Frelon dan 53 menit untuk helikopter-helikopter Bell. Mereka terbang secara berkelompok sekitar dua belas kilometer kearah barat Rosh Hanikra sebagai titik temu dan dari sana mendekati pantai terbang ke arah utara. Ketika mereka mendekati bandara, helikopter turun ke ketinggian 200 – 300 kaki (sekitar 100an meter), dan pada pukul 21:18, tiga Super Frelon mulai mendarat dengan interval beberapa menit. Pada menit “H” + 5, grup komando  dengan helikopter Bell mendarat dan Bell kedua melayang di atas, di seberang bandara internasional dalam misi patroli dan pemblokiran. Letnan Kolonel Eliezer (Cheetah) Cohen yang ada di kendali helikopter Bell bertanggung jawab untuk melaksanakan misi pemblokiran. Pada lintasan pertama dan keduanya, dia akan menjatuhkan 95 granat asap dan dua puluh flare asap yang menciptakan tabir asap tebal di perimeter timur dan utara lapangan terbang. Helikopter ini kemudian menjatuhkan paku di jalanan menuju bandara. Aksi ini berhasil menghentikan enam mobil yang sedang melaju ke bandara. Kendaraan-kendaraan yang ada di bandara mencoba melarikan diri ke utara ke kota Beirut dan kendaraan polisi dan pemadam kebakaran yang melakukan perjalanan ke bandara malag menciptakan kemacetan lalu lintas yang dengan sendirinya merupakan sebuah pemblokiran yang efektif. Selain itu, helikopter Cheetah melepaskan tembakan peringatan ke kendaraan yang mencoba memasuki bandara. Ketika Cheetah melihat apa yang tampak seperti truk militer yang mencoba memasuki bandara dengan melewati kemacetan lalu lintas, dia melepaskan tembakan ke arahnya dan kendaraan itu berhenti. Didukung oleh helikopter yang melakukan pemblokiran, pasukan Uzi-Digli-Negbi melanjutkan misi mereka.

Letnan Kolonel Eliezer (Cheetah) Cohen yang menerbangkan helikopter Bell 205 untuk melakukan aksi pemblokiran selama Operasi Gift. (Sumber: https://www.facebook.com/)

Satuan Uzi yang mendarat sesuai rencana di tepi utara landasan pacu barat, menemukan tiga kelompok pesawat: yang pertama terdiri dari lima pesawat, yang kedua terdiri dari dua hingga tiga pesawat, dan yang ketiga terdiri dari tiga pesawat. Karena pesawat dari kelompok pesawat yang terakhir berada di dekat satu sama lain, satuan ini memutuskan untuk meledakkannya secara kolektif. Masing-masing pesawat dapat jatah lima kilogram bahak peledak. Satuan Uzi kemudian mengamankan daerah tersebut dan mulai memasang bahan peledak dari utara ke selatan dan mulai meledakkan setiap pesawat satu per satu. Mereka menghindari memasuki area militer bandara dimana lampunya padam segera setelah pasukan mendarat. Dengan demikian, pasukan tersebut tidak menyabot sejumlah pesawat yang sedang menjalani perbaikan di sana. Secara total, satuan ini menghancurkan empat pesawat di kelompok pertama sementara yang kelima, sebuah pesawat tua “Dakota” sengaja dibiarkan. Sementara itu kelompok pesawat kedua sama sekali tidak tersentuh, sedangkan kelompok ketiga hancur total. Secara total, enam pesawat jet dihancurkan. Saat para pasukan sedang memasang bahan peledak, sebuah kendaraan mendekati lokasi kejadian. LTC Uzi kemudian melepaskan beberapa tembakan peringatan dan kendaraan itu menghilang. Tembakan peringatan juga dilepaskan di atas kepala pekerja yang mendekati dan segera melarikan diri dari area sesuai perintah LTC Uzi. Satuan ini tidak menghadapi hambatan saat menuju titik evakuasi. 

Letnan Kolonel Uzi Yairi (tengah), komandan Sayeret Matkal yang memimpin Satuan uzi dalam Operasi Gift. (Sumber: https://www.ynetnews.com/)

Di tempat lain satuan Digli yang mendarat di selatan area terbuka, bergerak ke utara dari sana dan personel mereka melintasi gedung layanan darurat bandara. Satuan ini menemukan empat pesawat di area yang cukup terang. Mereka secara positif mengidentifikasi tiga diantaranya sebagai pesawat milik Lebanon. Namun, yang keempat sulit diidentifikasi. Satuan ini kemudian memutuskan untuk menangani tiga pesawat yang bisa diidentifikasi secara positif dan menghancurkan ketiganya. Dua regu diperintahkan untuk mendekati dua pesawat, memasang bahan peledak dan ketika mereka berteriak “siap”, kemudian mereka segera menerima perintah untuk mengoperasikan perangkat peledak, sembari bergerak mundur agar tidak terluka akibat ledakan. Kemudian, satu regu tambahan dikirim ke pesawat ketiga. Selama operasi, tembakan ringan sempat diarahkan ke regu itu dari gedung penumpang. Dua regu yang tersisa lalu melepaskan tembakan peringatan ke gedung, agar tidak melukai warga sipil. Ini memungkinkan regu pertama untuk menyabotase pesawat ketiga. Setelah selesai, seperti satuan Uzi, satuan ini kemudian berpindah ke titik evakuasi.

Pesawat-pesawat terbakar di Bandara Beirut selama Operasi Gift. (Sumber: http://fly.historicwings.com/)

Sementara itu satuan Negbi mendarat di titik yang ditentukan dan dari sana bergerak ke selatan melalui jalur timur. Pasukan pendahulu melaporkan keberadaan semua pesawat Lebanon yang ditemuinya, setelah itu tim penghancur dikirim ke sana. Empat pesawat berhasil diidentifikasi, salah satunya ditemukan di dalam hanggar. Kapten Negbi bermaksud menghancurkan keempat pesawat secara bersamaan, itulah sebabnya dia menunggu sampai semua perangkat peledak dipasang. Dia kemudian memberi perintah untuk meledakkan pesawat. Namun, perintah yang dikeluarkan megafon tidak terdengar di dalam hanggar. Hanya ketika anggota regu menyadari anggota pasukan lainnya sedang bergerak mundur, barulah mereka meledakkan perangkat dan beranjak pergi. Ternyata, pesawat yang ada di hanggar tidak meledak. Namun untuk menghindari masalah lebih lanjut, satuan ini memutuskan mundur ke selatan menuju tempat instalasi bahan bakar bandara yang berada di belakang dan timur gedung penumpang. Para personel kemudian meminta ijin untuk diperbolehkan menyabotase depot bahan bakar tetapi ditolak oleh grup komando garis depan. Oleh karena itu, satuan tersebut lalu melanjutkan ke titik evakuasi. Karena pasukan Negbi yang pertama mencapai titik evakuasi, pihaknya menyiapkan dua trapeze sebagai tanda helikopter mengevakuasi. Pukul 21.47, helikopter pertama mendarat untuk mengevakuasi pasukan, dan lima belas menit kemudian, helikopter terakhir lepas landas dari Bandara Internasional Beirut dalam perjalanan ke selatan menuju ke Israel. Operasi ini memakan waktu hanya 29 menit, semenit lebih cepat dari yang direncanakan. Di laut tengah, Satuan Angkatan laut yang meninggalkan pelabuhan Haifa pada jam “H” -tiga setengah jam berlayar ke utara menuju Sidon. Dalam perjalanan tersebut mereka terpaksa mengembalikan salah satu kapal torpedo (yang seharusnya ditempatkan di seberang Tyre) karena kerusakan motor di kapal. Satuan ini (dengan pengecualian satu kapal torpedo yang ditempatkan di antara Tyre dan Sidon) berlayar dengan tenang 1,5 Km di lepas Pantai Beirut dan mengamati kehancuran pesawat di bandara. Setelah mendapat laporan bahwa satuan khusus angkatan darat berhasil dievakuasi dengan selamat, satuan angkatan laut kembali ke Pangkalan Angkatan Laut di Haifa.

HASIL AKHIR DAN DAMPAKNYA 

Pada akhirnya, operasi itu berakhir hampir tanpa cacat. Pasukan Komando Angkatan Laut Israel telah bergerak dengan perahu karet ke dalam jarak 1.500 meter dari pantai di titik evakuasi alternatif jika bandara tidak dapat diamankan untuk pelaksanaan evakuasi. Sementara pesawat Nord sebagai rencana evakuasi sekunder telah terbang diatas tidak pernah dibutuhkan. Pesawat-pesawat Skyhawk dan Vautour yang mengorbit lebih tinggi di atas, tidak pernah diminta untuk berpartisipasi dan menekan intervensi militer pihak lawan yang lebih serius. Sebanyak 14 pesawat milik Lebanese airlines, Middle East Airlines (MEA), Air Libea (Lebanese International Airways) dan Trans-Mediterranean Airlines hancur. Dari 14 pesawat yang hancur, 8 (1 Vickers VC-10 yang disewa dari Ghana Airways, 1 Boeing 707-320C, 2  unit Caravelle VIN, 3 Comet 4C dan 1 Vickers Viscount) adalah milik MEA, yang 30% sahamnya dimiliki oleh Air France, 5% oleh individu asal Lebanon dan 65% oleh Intra Investment Company. Intra adalah perusahaan antar pemerintah yang dibentuk oleh pemerintah Kuwait, Qatar, Lebanon, dan Amerika. Pihak AS diwakili oleh Commodity Credit Corporation, yang berhutang uang pada Intra Bank, pendahulu dari Intra Company, untuk penjualan gandum. Lebanon International Airways menderita 4 pesawat yang hancur (2 tipe Douglas DC-7 dan 2 Convair 990 Coronado) yang 58% sahamnya dimiliki oleh Amerika. Sementara Trans-Mediterranean Airways yang kehilangan 2 pesawat (1 Douglas DC-4 dan 1 Douglas DC-6) adalah milik individu asal Lebanon. Diperkirakan kerusakan yang ditimbulkan adalah senilai 42 – 44 juta dolar (menurut nilai tahun 1968, tentunya), di mana perusahaan asuransi asal Inggris awalnya setuju untuk mengganti $ 18 juta, mengabaikan klausul polis asuransi yang tidak mencakup kerugian akibat tindakan peperangan. Bagi Air Libea, itu adalah akhir dari bisnis mereka, dimana setelah tidak dapat pulih secara finansial karena hampir sebagian besar armadanya hancur akibat serangan Israel, mereka bangkrut, dan kemudian diambil alih oleh Middle East Airlines Air Liban. Untuk MEA, mereka tetap bertahan, tetapi sektor penerbangan komersial Lebanon sendiri diperkirakan mengalami kemunduran selama beberapa dekade. Tidak ada korban jiwa di kedua pihak yang dilaporkan jatuh selama operasi berlangsung. Pada akhirnya, Israel telah mengingatkan dunia bahwa negara mana pun yang mendukung teroris akan menanggung akibatnya. Akan tetapi bahkan hingga hari ini, pesan itu baik kepada kelompok teroris maupun pemerintah yang mendukungnya selalu gagal untuk mengindahkan. Sementara itu serangan ini sendiri mendapat kecaman keras dari AS, yang menyatakan bahwa tidak ada yang bisa membuktikan bahwa otoritas Lebanon ada hubungannya dengan serangan yang terjadi pada El Al Flight 253.

Hasil serangan Operasi Gift, 14 pesawat milik maskapai negara-negara Arab hancur. (Sumber: https://www.hobbymiliter.com/)
Rongsokan pesawat Boeing 707 milik Middle East Airlines (MEA) yang 30% sahamnya milik Maskapai Air France Prancis. Kerusakan-kerusakan ini menimbulkan kemarahan dari pihak Prancis. (Sumber: https://twitter.com/)

Disamping Amerika, kecaman dan aksi balasan yang lebih merugikan Israel muncul dari pihak Prancis, yang merasa jengah, dirugikan (seperti kepemilikan Air France atas sebagian bisnis maskapai yang pesawatnya turut hancur) dan merasa dipermalukan atas aksi komando Israel tersebut. Pihak Prancis kemudian melancarkan embargo militer secara total pada pihak Israel, termasuk pada orderan yang sudah dibayarkan. Pihak Kementerian Luar Negeri Israel pada tanggal 8 Januari 1969 secara tidak resmi menyatakan embargo total Pemerintah Prancis atas pengiriman senjata dan suku cadang militer ke Israel, yang diumumkan pada hari sebelumnya, sebagai upaya untuk merusak kemampuan pertahanan Israel dan memenangkan dukungan negara-negara Arab. Satu sumber otoritatif mengatakan pendirian Prancis “sekarang telah mendekati sikap permusuhan terbuka terhadap Israel dan pada gilirannya mendorong permusuhan lebih lanjut dari negara-negara Arab.” Kementerian Pertahanan Prancis juga diam atas keputusan Presiden de Gaulle untuk melarang pengiriman helikopter, suku cadang dan pesawat pengebom tempur Mirage V buatan Prancis, yang rencananya akan menjadi tulang punggung Angkatan Udara Israel bersama Mirage III yang sudah dimiliki sebelumnya. Embargo, yang dimulai 4 Januari, juga berlaku untuk amunisi dan “peralatan angkatan laut tertentu”. Embargo pengiriman Mirage sebelumnya telah diberlakukan oleh Presiden Charles de Gaulle setelah Perang Enam Hari bulan Juni 1967, dan 50 Mirage yang dibeli dan dibayar oleh Israel lebih dari setahun sebelumnya masih ditahan di Prancis. Seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri Prancis mengatakan tindakan itu diambil sebagai “peringatan kepada Israel mengingat tindakan agresif Israel, terutama serangan baru-baru ini (28 Desember) di Bandara Internasional Beirut.” Juru bicara itu mengatakan larangan itu diperintahkan karena serangan balasan “mengancam akan memperbesar wilayah konflik (di timur tengah).” Seperti yang telah dijelaskan diatas, serangan di Beirut, menyusul serangan teroris Arab, pasukan komando Israel menghancurkan 14 pesawat komersial termasuk beberapa antaranya, di mana Prancis dilaporkan memiliki investasi sebesar 30 persen. Di pihak Israel, menanggapi memburuknya hubungan dengan Prancis, sejak embargo diberlakukan pada 50 Mirage tahun 1968, Israel telah mencari sumber pasokan alternatif. Beberapa jet pembom tempur F-4 Phantom kemudian disepakati akan dijual ke Israel oleh Amerika Serikat, dan akan dikirim pada tahun 1969. 

Pesawat tempur Dassault Mirage 5. Buntut serangan Israel, Prancis memutuskan untuk mengembargo penjualan 50 unit pesawat Mirage 5 yang telah dibayar lunas Israel. Menanggapi embargo ini, Israel berpaling ke Amerika yang bersedia menjual pesawat-pesawat tempur F-4 Phantom mereka. (Sumber: https://www.dassault-aviation.com/)

Sementara itu ketika kisah penyerbuan itu mereda, ada sebuah cerita yang dikenal luas di kalangan pasukan khusus Israel tentang komandan mereka, Rafael Eitan (biasa dikenal sebagai “Raful”, kemudian dia menjadi kepala IDF, posisi yang dia pegang selama Lebanon Perang 1982). Ceritanya adalah, ketika tembakan senjata kecil berhenti datang dari gedung terminal, Eitan masuk gedung untuk menilai situasinya. Melihat kekacauan dan tidak ada satpam, dia berjalan ke kedai kopi, memesan kopi, meminumnya dengan cepat dan meninggalkan tip dalam uang syikal Israel di konter sebelum melanjutkan ke titik evakuasi. Sementara cerita seperti itu mungkin terdengar sulit dipercaya bagi pembaca modern, kita harus ingat bahwa saat itu adalah tahun 1968, dimana Israel begitu percaya diri dan merasa tak terkalahkan setelah perang tahun 1967, yang membawa kekalahan total bagi pasukan Arab. Apa yang sebenarnya terjadi saat itu? Ya, mungkin kisah tambahan ini sekedar anekdot saja, seperti kebiasaan militer Israel yang kerap memunculkan kisah yang mengolok-olok performa medioker militer negara-negara Arab, seperti kisah seorang Jenderal Mesir yang kesulitan mendarat setelah pangkalan-pangkalannya dihancurkan AU Israel pada hari-hari pertama perang 6 hari tahun 1967….atau mungkin bisa saja kisah itu benar-benar terjadi? Who knows?

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

Israel’s Wars & Operations: Operation Gift (December 28-29, 1968)

https://www.jewishvirtuallibrary.org/operation-gift

OPERATION GIFT POSTED BY HW ON 28 DEC 2012

http://fly.historicwings.com/2012/12/operation-gift/

OPERATION GIFT, Pembalasan Israel Atas Serangan Pada Maskapainya By Hanung Jati Purbakusuma; June 20, 2017

See French Embargo on War Materiel As Move to Weaken Israel, Win Arab Favor; January 8, 1969 5:00 am

https://www.google.com/amp/s/www.jta.org/1969/01/08/archive/see-french-embargo-on-war-materiel-as-move-to-weaken-israel-win-arab-favor/amp

https://en.m.wikipedia.org/wiki/1968_Israeli_raid_on_Lebanon

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Lebanese_International_Airwayshttps://en.m.wikipedia.org/wiki/El_Al_Flight_253_attack

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *