Pahit Manis Kiprah Jet Tempur MiG-23 “Flogger” dalam Angkatan Udara Suriah (1973 – Sekarang)

Hanya sedikit pesawat tempur, terutama yang bertenaga jet, pernah dibuat dalam jumlah besar dan dalam waktu singkat seperti Mikoyan-Gurevich MiG-23, sementara nyaris tidak ada tipe pesawat lain yang mencirikan pendekatan Soviet terhadap konsep pesawat tempur taktis seperti tipe ini, yang kemudian dikenal sebagai “Flogger “oleh pihak barat. Begitu juga secara konsep MiG-23 kerap disalahpahami oleh banyak pihak. Dihadapkan dengan perkembangan pesawat tempur Barat yang unggul secara teknologi selama tahun 1960-an, Soviet tidak berencana membuat pesawat tempur yang lebih baik bermanuver saat mendesain Flogger, tetapi mereka menginginkan sebuah pesawat tempur yang kuat dan cepat, yang akan memiliki kemampuan untuk menerima atau menolak tantangan untuk bertempur dengan memanfaatkan kecepatannya yang lebih tinggi, sementara pada saat yang sama pesawat tersebut dibuat dengan cukup sederhana untuk bisa dibuat dalam jumlah besar, serta untuk bisa dipelihara dan dioperasikan dalam kondisi yang berat. Akibatnya, MiG-23 menjadi lebih cepat saat terbang mendatar dan saat berakselerasi, serta juga memiliki jangkauan yang jauh lebih baik daripada MiG-21 “Fishbed” yang lebih dulu ada, meskipun tidak lebih baik dalam bermanuver. Sebagian besar dari persyaratan ini dapat dipenuhi dengan pilihan badan pesawat yang dibuat sangat ramping, ditambah dengan sudut sayap yang mampu diatur sesuai dengan karakter penerbangan, dimana chord akan meningkat saat sayap bergerak mundur, sehingga mengurangi rasio ketebalan terhadap chord. Sayap seperti itu menghasilkan lebih banyak daya angkat pada kecepatan rendah, sekaligus menghasilkan lebih sedikit gaya hambat pada kecepatan tinggi. Selain itu, saat trailing edge sayap MiG-23 ditarik kembali ke badan pesawat dengan kecepatan tinggi, beban sayap meningkat, drag berkurang, dan terbang pada kecepatan tinggi di ketinggian rendah menjadi lebih nyaman untuk dilakukan. Oleh karena itu, MiG-23, yang sayapnya hanya dapat ditarik pada tiga posisi (sudut 16 °, 45 ° dan 72 °) untuk menjaga konstruksinya tetap sederhana dan murah, mampu beroperasi pada kecepatan yang sangat tinggi pada ketinggian rendah pada jarak lebih jauh dari pesawat-pesawat tempur sebelumnya. Konfigurasi ini juga menawarkan sebuah platform senjata yang stabil dengan kemampuan membawa senjata yang cukup, tetapi kemampuan manuvernya – yang dapat dicapai dengan konstruksi yang jauh lebih kompleks dan mahal – jelas dikorbankan, dan karakteristiknya digambarkan sebagai paduan antara F-104 Starfighter dan non-slated F-4 Phantom.

Anak “tiri’ keluarga MiG. MiG-23 Flogger sering dianggap sebagai varian MiG yang kurang sukses, namun pandangan ini tidaklah seluruhnya benar. (Sumber: http://soviethammer.blogspot.com/)
Gambar 3 sisi dari MiG-23. Dengan konfigurasi saya ayun sederhana, MiG-23 mampu memiliki akselerasi di ketinggian rendah yang lebih baik dari pesawat-pesawat semasanya. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Dengan semua kemampuan desain yang telah disebutkan diatas – termasuk kapasitas produksinya – , telah menghasilkan berbagai varian dari MiG-23, yang kemudian menjadi jet tempur taktis terpenting di banyak angkatan udara yang merupakan klien Soviet selama periode tahun 1970-an dan sebagian besar tahun 1980-an. Hal ini kemudian menyebabkan penggunaan MiG-23 yang sangat intensif dalam banyak perang kecil – yang kerap disebut sebagai perang “lokal” -, di mana beberapa di antaranya mempertemukan Flogger dengan pesawat-pesawat paling modern dari negara-negara Barat. Namun demikian, sayangnya hampir tidak ada yang bisa diketahui tentang pengalaman operasional MiG-23 pada berbagai angkatan udara yang mengoperasikannya, kecuali beberapa detail kecil tentang bentrokan antara kekuatan udara Israel dan Suriah di Lebanon, antara tahun 1981 dan 1985, yang semuanya umumnya berasal dari sumber-sumber Israel. Laporan-laporan ini menunjukkan, bahwa MiG-23 di dinas operasional Suriah telah menderita kerugian besar tanpa mendapat keuntungan yang berarti, dan bahwa Soviet benar-benar telah salah dalam merumuskan persyaratan pesawat tempur taktis mereka – dan terlebih lagi pada sistem persenjataannya – yang jelas bukan tandingan dari pesawat-pesawat tempur barat. Namun, jika dilihat lebih dekat, hal ini tidak sepenuhnya benar. Sebaliknya: hanya karena pengembangan pesawat tempur barat yang jauh lebih kuat, kompleks, dan jauh lebih mahal – namun tidak ada yang diproduksi atau dibeli dalam jumlah dan dalam waktu singkat seperti MiG-23 – serta keengganan dan ketidakmampuan Soviet untuk memasok sekutu mereka dengan versi terbaik yang tersedia dari tipe ini pada saat ini dibutuhkan, telah menyebabkan MiG-23 dianggap sebagai “underdog”. 

MASALAH SURIAH

Jauh sebelum Soviet memiliki kesempatan untuk menggunakan MiG-23 mereka dalam dinas operasional yang intensif, type ini  telah menjalani pengoperasian perdana di Timur Tengah. Negara pertama yang meminta dikirimkan MiG-23 ke angkatan udaranya adalah Mesir, yakni pada tahun 1970. Namun, pada saat itu, Flogger bahkan belum masuk lini produksi, dan permintaan ini dengan cepat ditolak oleh Soviet, yang baru menggelar MiG- 23M pada tahun 1972. Setelah adanya permintaan tambahan dari Mesir dan Irak, pada awal tahun 1973, versi ekspor pertama yang kemampuannya telah diturunkan, MiG-23MS, yang dilengkapi dengan sistem persenjataan seperti MiG-21MF yang lebih kuno dan mesin turbojet R-27F2M-200, mulai dikembangkan. Menariknya, negara yang pertama kali dipasok tipe ini justru malah Suriah, di mana dua buah MiG-23MS dan dua buah MiG-23UB yang bertempat duduk ganda dikirim dalam peti pada tanggal 14 Oktober 1973 di atas dua pesawat angkut An-12B, yang mendarat di Pangkalan Udara al-Mazzah. Tapi, sebelum keempat pesawat ini dapat dirakit, diuji terbang dan awaknya siap untuk bertempur, perang Yom Kippur dengan Israel – secara resmi – telah berakhir. Meskipun ada kebutuhan mendesak untuk segera mengintegrasikan pesawat baru ini ke dalam dinas operasional, orang-orang Suriah mendapati bahwa pesawat itu jauh lebih membutuhkan pilot yang memiliki skill untuk bisa menerbangkan dan mengoperasikannya dibanding dengan apa yang telah dipromosikan oleh pihak Soviet, dan proses konversi ke tipe ini ternyata berlangsung lebih lama dari yang diperkirakan. Varian ekspor awal juga tidak memiliki banyak “perangkat pendukung cadangan” di radar mereka, yang membuat mereka rentan terhadap electronic countermeasures (ECM), dimana Israel justru sangat ahli di bidang ini. Selama awal tahun 1974, beberapa MiG-23MS Suriah hilang dalam beberapa kecelakaan yang berbeda, dan pada bulan April, Squadron SyAAF pertama, yang berbasis di Dmeyr AB, masih belum sepenuhnya siap tempur, karena hanya memiliki delapan MiG-23MS yang masih bisa beroperasi. Secara tidak sengaja, bagaimanapun, salah satu pesawat dan pilot dari unit ini segera terlibat dalam pertempuran, dan mencetak kill pertama nya dengan tipe pesawat tersebut. 

Sama seperti penggelaran MiG-23MS SyAAF yang tidak juga selesai pada awal tahun 1974, demikian juga pertempuran setelah Perang Yom Kippur / Ramadan 1973, masih terus berlangsung di sepanjang garis depan di Golan, terutama di sekitar Mt. Jebel Sheikh (lebih dikenal sebagai Gunung Hermon oleh Israel), dalam apa yang oleh orang-orang Suriah kini disebut sebagai Perang Attrisi. Pada tanggal 13 April 1974, setelah hampir 100 hari pertukaran artileri terus menerus dan pertempuran kecil di sepanjang garis depan di Golan, untuk mengantisipasi kemungkinan dilakukannya “Serangan Gabungan” melawan Israel, yang tampaknya sedang direncanakan untuk dilakukan oleh Suriah, Irak dan Libya, helikopter-helikopter Suriah mengirimkan pasukan-pasukan komando untuk menyerang pos pengamatan Israel di Mt. Jebel Sheikh. Hal ini segera memicu serangkaian bentrokan senjata berat selama seminggu baik di udara maupun di darat, di mana kedua belah pihak telah kehilangan sejumlah pesawat tempur akibat pertempuran udara dan tembakan senjata antipesawat dari darat. Situasi begitu tegang, sehingga perang baru nampaknya akan segera terjadi, terutama setelah pada tanggal 18 April 1974, IDF / AF mulai melancarkan serangkaian serangan terhadap situs SAM Suriah di daerah sekitar Mt. Jebel Sheikh. Serangan ini dilanjutkan keesokan harinya dan pada sore harinya, ketika Kapten al-Masry (sekarang pensiunan Letjen) sedang terbang dengan MiG-23MS miliknya dalam rangka melaksanakan uji terbang senjata di barat laut Damaskus. Dia melanjutkan ceritanya mengenai apa yang terjadi kemudian:

Rekonstruksi MiG-23MS yang diterbangkan oleh Mayor El al-Masry, pada tanggal 19 April 1974. Pesawat tersebut digunakan untuk menembak jatuh dua Phantom IDF / AF F-4E, tetapi pesawat ini turut hancur dari misi tersebut. (Sumber: All pictures and artworks by Tom Cooper/http://www.acig.org/)

“Pada saat itu, MiG-23 adalah pesawat tempur paling modern di jajaran Angkatan Udara kami, tetapi kami hanya memiliki delapan pesawat tipe ini. Pada hari itu saya sedang terbang dalam misi tunggal ketika saya melihat tujuh hingga delapan pesawat tempur Phantom musuh di depan saya – dalam satu formasi. Saya tidak pernah melihat delapan pesawat musuh dalam satu formasi sebelumnya dan tidak pernah bertemu dengan begitu banyak pesawat Israel sekaligus sebelumnya. Saya mencoba menghubungi komando di darat melalui radio, tetapi ada gangguan jamming yang sangat berat. Saya mencoba frekuensi sekunder, tetapi juga macet. Jadi saya beralih ke frekuensi terbuka dan mengirimkan permintaan bantuan dengan menjelaskan keseluruhan situasi. Lalu saya bertempur melawan musuh yang saya hadapi. Saya tidak punya banyak pilihan: mereka akan menyerang saya dengan cara apa pun, jadi saya menyerang mereka terlebih dahulu. ” Terbang di ketinggian rendah, Kapten al-Masry mempercepat pesawatnya untuk mengimbangi formasi musuh, dan kemudian berbalik sekencang mungkin dan berguling tepat di belakang formasi pesawat Israel: “Saya menembakkan tiga rudal, dua di antaranya menghantam dua pesawat musuh dan saya melihat mereka terbakar.”, Kapten al-Masry melanjutkan ceritanya. Sisa pesawat Israel lainnya segera menyebar ke berbagai arah yang berbeda, dan pesawat Suriah itu mencoba berbalik ke belakang Phantom yang terdekat mencoba untuk menembaknya dengan kanon. Phantom yang ada di depan Kapten al-Masry melakukan break ke kiri, tetapi, saat bermanuver di belakang target, pesawat al-Masry bergetar karena tembakan telak: “Ketika saya sedang bermanuver, mencoba untuk dapat mengunci salah satu Phantom yang tersisa, saya terkena hantaman rudal. Itu adalah situasi yang mengerikan: pesawat saya terbakar dan saya tidak tahu harus berbuat apa. Saya mengucapkan doa terakhir saya dan tiba-tiba pesawat saya pecah menjadi dua bagian. “

Pesawat tempur F-4E Phantom AU Israel. Pesawat setipe dikabarkan menjadi korban perdana dari MiG-23 Flogger AU Suriah pada bulan April 1974, hanya beberapa bulan setelah perang Yom Kippur berakhir. (Sumber: http://edokunscalemodelingpage.blogspot.com/)

Kapten al-Masry tidak dapat bermanuver lagi ketika rudal lain menghantam MiG-nya (analisis selanjutnya dari pertempuran itu menyimpulkan bahwa MiG-23MS miliknya ditembak jatuh oleh dua SA-6 yang ditembakkan dari situs SAM Suriah di dekatnya) yang menyebabkannya pecah menjadi dua bagian besar dan jatuh ke tanah. Hingga hari ini, dia tidak dapat mengingat dengan jelas bagaimana dia bisa selamat dari misi ini: “Saya jatuh ke tanah bersama dengan pesawat yang jatuh, tetapi segera diselamatkan. Saya terluka sangat parah di bahu dan dada, dan baru terbangun dari koma satu bulan kemudian.” Atas keberhasilannya dalam pertempuran itu, dan jatuhnya dua pesawat Phantom F-4E (hingga hari ini, IDF / AF hanya mengkonfirmasi hilangnya satu Phantom pada hari itu; pilotnya, Kapten Yigal Stavi, terbunuh; sementara WSO-nya, Benny Kiriyati, ditangkap oleh Suriah; Phantom lainnya tampaknya telah hilang juga, tetapi awaknya berhasil diselamatkan), al-Masry kemudian dipromosikan ke pangkat Letnan Kolonel dan dianugerahi dengan Medali “Pahlawan Republik” oleh Jenderal Mustafa Tlas (belakangan menjadi Menteri Pertahanan Suriah). Namun, dia tidak pernah bisa terbang lagi: luka-lukanya membuat dia tidak bisa melewati tes yang ketat ketika dia mencoba untuk memenuhi kualifikasi sebagai pilot tempur beberapa tahun kemudian. Mayor al-Masry tetap bertugas bersama SyAAF hingga tahun 1980-an, saat ia dipromosikan ke pangkat Letjen. Namun, pilot lain dari keluarganya yang juga menerbangkan pesawat MiG-23, kemudian menjadi komandan unit MiG-29 fulcrum pertama Suriah.

Pesawat tempur MiG-23 Flogger (atas) dan MiG-25 Foxbat (bawah). Kemauan Soviet untuk mengekspor MiG-23MF dan MiG-25PD ke Suriah merupakan sebuah terobosan besar karena saat itu Uni Soviet telah menunjukkan kesiapannya untuk mengirimkan sistem senjata canggih yang dilengkapi dengan standar yang sama seperti yang digunakan oleh militernya sendiri untuk negara sahabat di luar Eropa. (Sumber: https://theaviationgeekclub.com/)

Berlawanan dengan al-Masry, karir MiG-23 dengan SyAAF terus berlanjut dengan perkembangan yang cepat, dan selama tahun 1974, terdapat tambahan 24 MiG-23MS, serta sejumlah MiG-23BN, versi pesawat serang yang baru, telah dikirim ke al-Mazzah AB, dekat Damaskus. Keduanya berdinas dengan Skuadron 695 dan 698 yang ditempatkan di an-Nasiriyah. Setelah total 54 MiG-23MS dikirimkan pada tahun 1974, Skuadron ke-54 dan ke-77 menyelesaikan konversi mereka ke pesawat tipe ini, dan kemudian Skuadron ke-678 dan ke-697 mengikutinya. Akuisisi pesawat tambahan dari Uni Soviet dihentikan pada tahun 1975 karena perbedaan pandangan politik antara Damaskus dan Moskow. Pada tahun 1976, setelah sebuah pesawat penumpang Suriah ditembak oleh senjata peluncur granat, Suriah membawa pasukannya masuk ke Lebanon. Misi tempur mulai dijalankan oleh MiG-23 Suriah di Libanon. Sementara itu pada tanggal 14 Juni 1976, seorang pilot Suriah Letnan Mahmud Muslikh Yassin membajak sebuah MiG-23MS dan membawanya ke Irak. Pada akhir 1970-an, pemberontakan yang ditandai dengan puluhan pembunuhan pejabat pemerintah dan perwira militer terjadi di Suriah. Pada tahun 1978, Ikhwanul Muslimin Suriah bergabung dalam pemberontakan bersenjata. Khawatir dengan ketidakstabilan pemerintahan Presiden Hafez al-Assad, Moskow memutuskan untuk mulai kembali menyediakan senjata dan bantuan militer. Pada bulan April tahun yang sama, kesepakatan senjata baru ditandatangani, termasuk pengiriman pesawat pencegat MiG-23MF dan MiG-25PD yang canggih. Seperti yang dikisahkan oleh Tom Cooper & Sergio Santana dalam buku mereka “Lebanese Civil War Volume 1: Palestinian Diaspora, Syrian and Israeli Interventions, 1970-1978”, meskipun pesawat yang dikirim ke Suriah merupakan pesawat bekas pakai yang diremajakan, dari MiG-23M dan MiG-25 bekas dari  satuan VVS atau PVO, namun perjanjian Soviet untuk mengekspor MiG-23MF dan MiG-25PD ke Suriah adalah sebuah terobosan besar: karena saat itu Uni Soviet telah menunjukkan kesiapannya untuk mengirimkan sistem senjata canggih yang dilengkapi dengan standar yang sama seperti yang digunakan oleh militernya sendiri untuk negara sahabat di luar Eropa. Pengiriman MiG-23MF ini kemudian digunakan untuk melengkapi dua skuadron lainnya. Sementara itu pada tahun 1978 Angkatan Udara Israel juga diperkuat secara kualitatif dengan pasokan pesawat tempur baru seperti F-15, F-16 dan pesawat pengintai radar jarak jauh (EWS) E-2C “Hawkeye”. Dengan perembangan ini, dengan ditambah bahwa penempatan radar stasioner di wilayah Lebanon membutuhkan waktu, para penasehat Soviet menyarankan pihak Syria untuk menahan diri sama sekali dari terbang di wilayah selatan negara itu, terutama karena Angkatan Udara Suriah tidak memiliki pesawat tempur yang dapat bermanuver, dengan dilengkapi radar yang kuat dan rudal jarak menengah untuk menandingi Israel.

F-15 AU Israel dengan beberapa tanda kemenangan udara di bagian atas hidungnya. Kehadiran MiG-23MF dan MiG-25PD di AU Suriah bertepatan dengan kedatangan F-15A pertama yang dimiliki oleh AU Israel. (Sumber: https://warisboring.com/)
E-2C Hawkeye AU Israel. Kehadiran F-15 dan F-16 di AU Israel juga dilengkapi kedatangan pesawat peringatan dingin Hawkeye, dimana untuk peralatan ini, AU Suriah tidak memiliki perangkat yang setara. (Sumber: http://wp.scn.ru/)
MiG-23MF AU Cekoslovakia. MiG-23MF yang diterima AU Suriah menurut beberapa sumber berasal dari pesawat bekas pakai AU Soviet. Meski bukan pesawat produksi baru, namun versi MF sedikit banyak setara dengan versi asli yang digunakan oleh Soviet. (Sumber: https://id.pinterest.com/)

MiG-23MF pada dasarnya sama dengan tipe MiG-23M: meskipun dilengkapi dengan sistem yang dinamai S-23E, namun sistem persenjataannya sama dengan S-23 pada model aslinya, dan persenjataan utama terdiri dari rudal R-23  (AA-7 Apex) MRAAM yang dioperasikan oleh Uni Soviet. Rudal ini hanya dapat digunakan terhadap target yang sedang terbang pada ketinggian di atas 1.000 meter (3.280 kaki), tetapi memiliki jangkauan efektif antara 15 km (8 nm; untuk varian IR, R-23T) dan 25 kilometer (13.5 nm; varian SARH, R-23R, kode ASCC AA-7A Apex-A). Inti dari sistem senjata S-23E adalah radar Sapfir-23D-III – radar pulse analog. Radar ini menggunakan teknik yang agak tidak dapat diandalkan untuk mendeteksi objek yang terbang rendah di atas tanah: berkat sekitar 40 filter analog yang dibuat untuk menekan ground clutter, ia hanya mampu memproyeksikan pantulan radar dari target bergerak pada sight ASP-23D di kokpit. Tentu saja, dalam mode look-down, atau jenis pertempuran mengejar pesawat lawan, kemampuan Sapfir-23D-III sangat terbatas, dengan hanya memiliki jangkauan deteksi masing-masing sekitar 10-20 kilometer (5.3-10.6nm). Perangkat ini sudah dikenal tidak dapat diandalkan dan kemampuannya sangat bergantung pada fine-tuning komputer analog AVM-23-nya. Selain itu, radar ini terbukti efektif hanya di medan yang relatif datar. Namun, dengan memiliki jangkauan deteksi maksimum sekitar 45km (24nm) untuk target seukuran pesawat tempur di ketinggian sedang atau tinggi, dikombinasikan dengan rudal R-23, dan jika digunakan dengan dukungan penuh dari IADS yang dikembangkan dengan baik – seperti yang sudah ada di Suriah, MiG-23MF diharapkan untuk dapat membuktikan setidaknya setara dengan F-15A / B Eagle Israel, dan lebih unggul dari pesawat tempur Mirage dan Kfir. Konon, pelatihan konversi pilot Suriah dan pengiriman MiG-23MF oleh Soviet agak lambat. Skuadron No. 67 secara resmi dinyatakan mengoperasikan jenis ini baru pada bulan Mei 1981, sekitar setahun sebelum pecahnya konflik besar dengan Israel di Libanon.

PERTEMPURAN UDARA DIATAS LIBANON

Setelah babak terakhir dari Perang Yom Kippur / Perang Ramadhan dengan pasti ditutup oleh gencatan senjata yang disepakati di front Golan, pada bulan April 1974, yang kemudian diikuti oleh jeda yang lebih lama dalam perang konstan antara Israel dan Suriah hingga tahun 1979 dan 1980, ketika sebuah seri pertempuran baru berkembang, ketika SyAAF mencoba untuk mengganggu misi pengintaian dan pengeboman Israel yang sering dilakukan terhadap posisi-posisi PLO di Lebanon. SyAAF relatif lambat dalam memperkenalkan MiG-23MS selama pertempuran di Lebanon, alih-alih mengirimkan Flogger, mereka malah mengirimkan MiG-21. Namun, ketika kerugian yang diderita mulai meningkat, situasinya berubah, dan segera GCI Suriah mencari target yang sesuai untuk menggelar kembali MiG-23MS dalam pertempuran. Menurut data Israel, pada tanggal 21 April 1982 pesawat tempur F-16A Israel menembak jatuh dua pesawat MiG-23 Suriah. Mengenai tipe pesawatnya, apakah versi pesawat tempur atau pembom, serta nasib pilotnya tidak dijelaskan. Aksi pertama dari MiG-23MS di Lebanon terjadi pada sore hari tanggal 26 April 1981, ketika sebuah formasi pesawat Israel membom posisi-posisi PLO di kota Sidon, Lebanon selatan. Dua MiG-23MS, yang sedang berada terbang di ketinggian rendah di Lebanon utara, diarahkan untuk mencegat formasi pesawat Israel, dan mereka berhasil menembak jatuh dua buah A-4 Skyhawks. Setelah bentrokan ini dan beberapa bentrokan lainnya, situasi di Lebanon menjadi sangat tegang, tetapi untuk saat ini, Israel lebih sibuk dengan persiapan operasi mereka dalam menyerang reaktor nuklir Irak di Tuweitha, yang dilancarkan pada bulan Juni 1981 (lebih dikenal sebagai Operasi Babilon atau Operasi Opera), dan kesempatan berikutnya untuk MiG-23MS Suriah terlibat pertempuran udara melawan pesawat tempur Israel muncul hanya setelah dimulainya invasi Israel ke Lebanon selatan, lewat operasi “Perdamaian untuk Galilea”, yang dimulai pada tanggal 6 Juni 1982. 

Invasi Israel ke Libanon tahun 1982 membuka kembali kesempatan bagi AU Suriah untuk menunjukkan kemampuannya menantang hegemomi kekuatan udara Israel. (Sumber: http://lebanon82.tripod.com/)

Awalnya, Israel mencoba menghindari pertempuran apa pun dengan pihak Suriah, dan IDF / AF berkonsentrasi lebih untuk mendukung pasukan darat dalam perjalanan mereka menuju Beirut. Namun, SyAAF jelas tidak akan duduk diam dan hanya memantau saja karena formasi lapis baja Israel jelas mengancam untuk melewati posisi sayap konsentrasi pasukan Suriah di Lembah Bekaa, disamping operasi pengintaian yang dilancarkan IDF / AF akan bisa mendapatkan gambaran yang jelas tentang posisi sistem rudal pertahanan udara (SAM) Suriah. Karena itu, segera setelah dimulainya operasi militer oleh pihak Israel, pesawat pencegat Suriah pertama kali muncul di langit Lebanon. Namun demikian, sementara pesawat-pesawat MiG-23MF Suriah telah berhasil menembak jatuh sebuah drone recce BQM-34 Israel (MiG-23 menembak dengan rudal R-23 dari jarak 11 km), mereka juga berhasil menghindari formasi empat pesawat tempur F-15 Israel yang kemudian menembakkan banyak rudal Sparrow ke arah mereka pada tanggal 6 Juni. Kemudian, MiG-23MF Suriah melakukan dua serangan lagi rudal R-23 pada UAV Israel, tetapi pada dua kali kesempatan ini mereka tidak berhasil. Dalam misi itu, mereka juga mengklaim telah menembak jatuh satu pesawat F-16. Keesokan harinya, armada MiG-23MS ditahan dan tidak ikut serta dalam pertempuran apa pun pada awalnya. Tiga hari setelah invasi Israel ke Lebanon, situasinya berubah total, karena bentrokan frontal dengan pasukan Suriah yang ditempatkan di Lembah Bekaa dan sekitar Beirut menjadi tidak terhindarkan. Untuk membangun superioritas udara di atas medan perang, pada sore hari tanggal 9 Juni 1982, mulai pukul 14:14, IDF / AF melaksanakan operasi serangan mereka yang terkenal terhadap situs-situs SAM di Lebanon timur, dengan mengerahkan 26 pesawat F-4E untuk menyerang radar Suriah dengan rudal anti-radar AGM-78 Standard ARM / Purple Fist dan AGM-45 Shrike. Sebanyak 19 radar diklaim berhasil dihancurkan atau dinetralkan dalam gelombang pertama serangan dan salah satu konsekuensi yang jelas adalah, bahwa dalam pertempuran berikutnya, yang dilancarkan oleh gelombang kedua pesawat-pesawat Israel, termasuk total terdapat 92 pesawat A-4 Skyhawk, F -4E Phantom, dan Kfir, yang dikawal oleh pesawat-pesawat tempur F-15 dan F-16, keduanya stasiun rudal SAM Suriah dan tidak kurang dari 54 pesawat pencegat MiG-21 dan MiG-23 Suriah yang dikirim untuk menghentikan mereka dibiarkan dalam keadaan “buta”.

Bagian dari situs SAM SA-6 Suriah yang dibangun di dekat jalan raya Beirut-Damaskus, dan menghadap ke Lembah Bekaa, pada awal tahun 1982. Pada hari-hari pertama invasi Israel ke Libanon situs-situs radar dan SAM Suriah di lembah Bekaa dibungkam oleh serangan presisi dari AU Israel. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)
Drone BQM-34 Firebee. Pada tanggal 6 Juni 1982, 1 unit Firebee berhasil dijatuhkan sebuah MiG-23MF AU Suriah dengan rudal AA-7 Apex dari jarak 11 km. (Sumber: https://www.deviantart.com/)
Rudal jarak menengah R-23/AA-7 Apex. (Sumber: http://www.leteckemotory.cz/)

Dengan radar mereka diposisikan di luar Lebanon, Suriah dipaksa untuk memandu pesawat tempur mereka menggunakan sistem jarak jauh yang ditempatkan di dalam wilayah Suriah, dan diganggu oleh adanya pegunungan di antaranya. Namun, sistem ini di-jamming oleh Israel, utamanya yang diganggu adalah sistem komunikasi antara pilot Suriah dan stasiun GCI mereka, sementara – dengan dipandu oleh pesaawat peringatan dini Grumman E-2C Hawkeye – pesawat-pesawat pencegat Israel menunggu untuk melakukan penyergapan di ketinggian rendah antara perbukitan Lebanon. Dalam pertempuran berikutnya, beberapa skuadron pesawat MiG-21 Suriah berhasil dihancurkan. Sementara itu pilot-pilot pesawat MiG-23MS Suriah hanya memainkan peran sekunder, dan telah mengklaim hanya satu pesawat F-4E Phantom Israel yang ditembak jatuh oleh rudal R-3S (AA-2 Atoll) yang ditembakkan oleh dua pesawat Flogger, sementara dua di antaranya juga ditembak jatuh, dengan kehilangan satu. pilot, Lt. Sofi. Sebaliknya, pilot-pilot MiG-23MF Suriah mengklaim total tiga kemenangan udara, dengan menelan korban tiga pesawat, sementara semua pilot bisa melompat keluar pesawat dengan selamat. 

F-16 Israel mengejar pesawat yang kemungkinan besar adalah MiG-21 Fishbed AU Suriah. Dalam perang udara diatas Libanon tahun 1982, AU Israel relatif cukup menguasai udara di medan pertempuran karena keunggulan teknologi dan taktik yang mereka miliki. (Sumber: https://theaviationgeekclub.com/)

Pertempuran udara-ke-udara berikut yang terjadi di Lebanon antara tanggal 9 dan 11 Juni 1982, yang adalah termasuk salah satu yang terbesar yang pernah melibatkan jet-jet tempur, karena kemudian SyAAF mulai menerbangkan misi udara-ke-darat juga. Awalnya pasukan penyerang berukuran skuadron, yang dikawal oleh setidaknya satu skuadron pesawat pencegat, dikirimkan dengan para pilot pesawat pencegat diperintahkan untuk melakukan yang terbaik guna menjaga agar pesawat pencegat Israel tidak mengganggu pesawat-pesawat penyerang. Kolonel K. H. (*namanya dirahasiakan) seorang pilot MiG-23 yang telah menerbangkan 13 misi tempur di Lebanon pada bulan Juni 1982, menjelaskan situasinya:

“Kami terus menerus didorong untuk mengejar pesawat-pesawat musuh oleh petugas-petugas kontrol di darat, meskipun kami tidak dalam situasi terbaik. Musuh menggunakan situasi ini untuk mendapatkan keuntungan dan menyiapkan banyak penyergapan dengan beberapa pesawat tempur akan memancing kami ke zona penyergapan yang lain. Ketika mendekat hingga jarak 10-15 kilometer dari pesawat musuh, radar kami akan menjadi hitam dan kami akan kehilangan semua cara untuk mendeteksinya. Gangguan berat tidak terkonsentrasi pada radar kami saja, tetapi juga pada komunikasi kami dengan petugas kontrol darat. Tentu saja, tetap ada cara untuk mengatasi situasi itu. Salah satunya adalah agar banyak formasi pesawat masuk secara bersamaan, atau dalam gelombang satu di belakang yang lain. Dengan cara ini gelombang-gelombang yang datang selanjutnya masih memiliki kemampuan untuk menggunakan radar mereka dan menembak musuh saat mereka sibuk menghadapi pesawat-pesawat gelombang pertama. Namun taktik ini terbukti sangat mahal, dan selalu menimbulkan kerugian di pihak kami. Banyak pilot kami tidak berpengalaman; mereka selalu mematuhi perintah apa pun dari GCI, dan ini menyebabkan banyak dari mereka menuju kematian. Saya mengikuti saran dari pilot yang lebih tua untuk tidak selalu melakukan apa yang diperintahkan, dan ini menyelamatkan nyawa saya. Saya menggunakan taktik yang terpercaya dan ini membuat musuh marah. Saya akan mendekat dengan kecepatan tinggi, tetapi sebelum memasuki jangkauan rudal jarak menengah Sparrows mereka, saya akan berbalik dan kemudian melakukannya lagi dan lagi, sampai mereka mulai menembakkan rudal-rudal mereka bahkan saat di luar jarak jangkauan maksimumnya. Saya pernah menghindari tembakan empat rudal Sparrow dengan cara ini. Baru setelah itu saya akan mencoba mendekati mereka hingga jangkauan rudal saya, biasanya hal ini akan menyebabkan mereka berbalik dan mencoba menghindar. Dengan cara itu misi berhasil saya selesaikan dan pesawat-pesawat pembom yang saya kawal aman untuk menyerang.”

F-15 AU Israel mengejar MiG-23 AU Suriah. Di Libanon banyak pilot-pilot muda Suriah yang kurang berpengalaman harus menghadapi pesawat-pesawat dan pilot-pilot Israel yang lebih superior. (Sumber: http://rickherterart.com/)

Pada tanggal 10 Juni, tidak diketahui apakah pesawat-pesawat MiG-23MS SyAAF masih menerbangkan misi serangan di atas Lebanon. Setelah dua hari pertama pertempuran udara-ke-udara besar-besaran, menjadi jelas bagi orang-orang Suriah, bahwa pesawat-pesawat tempur Israel yang ditempatkan dengan baik telah berhasil beberapa kali untuk menghancurkan pengawalan formasi pembom Suriah. Dalam beberapa kasus, situasinya sangat buruk, sehingga yang terbaik yang bisa dilakukan beberapa pilot Suriah adalah menyeret formasi pesawat Israel ke dalam perangkap sistem SAM mereka, seperti yang dijelaskan oleh Kolonel H ini: “Selama misi-misi terakhir saya, saya mengembangkan taktik saya sedikit berbeda. Saya berhasil dua kali memancing pesawat-pesawat F-15 musuh untuk disergap oleh sistem SAM. Pertama kali mereka tidak terkena, tetapi untuk kedua kalinya sebuah Eagle tertembak dan saya diberi tahu bahwa pesawat itu jatuh. Saya kemudian mendapat banyak pujian untuk itu. ” Pada tanggal 11 Juni, SyAAF mengubah taktiknya sekali lagi, dengan mulai mengirim dua formasi besar – masing-masing terdiri dari pesawat-pesawat pembom tempur berkekuatan sekitar satu skuadron dengan pengawalan pesawat pencegat dari skuadron lain. Beberapa kali, pesawat-pesawat MiG-25 juga dikerahkan dengan kecepatan dan terbang di ketinggian yang tinggi, untuk memancing pesawat-pesawat Israel menjauh dari para penyerang yang mengikuti terbang di ketinggian rendah. Nampaknya hal ini cukup mengubah situasi, dimana sekarang pesawat pencegat Suriah akan membuat pesawat-pesawat tempur Israel sibuk, dan, bahkan jika gelombang pesawat penyerang pertama harus membatalkan misi, atau menderita kerugian karena pesawat-pesawat Israel, gelombang kedua yang mengikuti di belakang biasanya akan bisa memanfaatkan kekacauan ini. 

MiG-23 AU Suriah. Meski bukan hal yang mudah, namun Flogger-Flogger milik Suriah masih mampu menembusi beberapa formasi pesawat-pesawat tempur Israel di Libanon tahun 1982. (Sumber: https://mikoyanmig29.wixsite.com/)
Reruntuhan MiG-23 Suriah di Libanon tahun 1982. (Sumber: https://mikoyanmig29.wixsite.com/)

Rupanya, taktik ini memungkinkan setidaknya dua formasi Su-22 yang lebih besar untuk menerobos dan menghantam situs SAM MIM-23 Hawk Israel, serta menyebabkan kerusakan parah pada salah satu brigade lapis baja yang bertempur melawan Divisi Lapis Baja ke-3 Suriah dekat Jalan Beirut-Damascus. Suriah juga menggunakan pesawat-pesawat pembom tempur MiG-23BN untuk menyerang sasaran darat. Pada tanggal 9 Juni, empat MiG-23BN Suriah mengebom pusat komando Israel di Samakiyah. Sementara pada tanggal 11 Juni, sepasang MiG-23BN Suriah mengebom pos komando Letnan Kolonel Efroni – komandan Batalyon ke-362 yang dikepung di Sultan-Yakub. Kerugian MiG versi serang darat dalam perang pada tahun 1982 dilaporkan berjumlah 14 pesawat pembom tempur MiG-23BN. Selain itu, selama pertempuran di mana pesawat-pesawat F-15 dan F-16 dari IDF / AF dan sistem SAM Israel mengklaim menembak jatuh antara lima sampai tujuh Su-22, dua pilot MiG-23MS tampaknya berhasil menggunakan kekacauan itu untuk melepaskan diri dan mengejutkan sebuah Formasi Israel yang masuk. Kapten Abdul Wahhab al-Kherat dan salah satu pilot dari keluarga bernama al-Zoa’ masing-masing mengklaim menembak jatuh satu F-4E menggunakan rudal R-3S. Menurut sumber Suriah, kedua pilot MiG-23 tersebut kemudian ditembak jatuh oleh F-15 Israel, tetapi mereka berhasil melontarkan diri dengan aman dan berjalan kembali ke posisi pertahanan pasukan Suriah. Mantan pilot SyAAF lainnya, Kapten D, kemudian menjelaskan: “Tanpa diragukan, kami melakukan banyak kesalahan pada tahun 1982, dan banyak pilot kami yang lebih muda dan kurang berpengalaman membayarnya dengan nyawa mereka. Tetapi Israel tidak pernah memiliki kendali penuh atas langit di Lebanon, dan banyak pilot Suriah mengembangkan taktik mereka dalam pertempuran. Jamming berat dan perencanaan yang baik yang diterapkan oleh pihak Israel menyebabkan banyak masalah bagi kami, tetapi SyAAF tidak hancur total, atau dinetralkan, dan tetap aktif sampai gencatan senjata pada siang hari tanggal 11 Juni. ” Secara total, selama pertempuran di Lebanon, antara bulan April 1981 dan Juni 1982, SyAAF MiG-23MS mengklaim dua kemenangan udara dan kehilangan empat pesawat dan satu pilot. Menurut sumber Suriah, SyAAF kehilangan total 85 pesawat antara tanggal 6 dan 11 Juni 1982, bersama dengan 27 pilot tewas dan delapan terluka, dan sebagai gantinya mereka menyebabkan kerugian 21 pesawat dan helikopter Israel; sebaliknya, sumber-sumber Israel menyangkal adanya kerugian dalam pertempuran udara, sementara klaim udara-ke-udara mereka yang dipublikasikan bervariasi antara 82 : 0 dan 85: 0.

Meski cukup banyak menjatuhkan MiG-23 Flogger, namun menurut pilot-pilot Israel sendiri, MiG-23 adalah pesawat yang sangat bagus. Hanya karena pilot-pilot Suriah yang kurang berpengalaman saja yang membuat performanya terkesan buruk. (Sumber: https://mikoyanmig29.wixsite.com/)

Sejarawan Rusia, Vladimir Ilyin menulis bahwa Suriah kehilangan enam MiG-23MF, empat MiG-23MS dan beberapa MiG-23BN pada bulan Juni 1982. Satu lagi pesawat tempur MiG-23 hilang di bulan Juli. Israel juga mengklaim bahwa mereka menembak jatuh dua MiG-23 lainnya pada tahun 1985, yang kemudian dibantah oleh Suriah. Secara keseluruhan, 11-13 varian pesawat tempur MiG-23 Suriah hilang dalam pertempuran udara dari tahun 1982 hingga tahun 1985. Menurut data Soviet dan Rusia, tujuh pesawat Israel (lima F-16 dan dua F-4) dan satu pesawat tak berawak BQM-34 ditembak jatuh selama perang Lebanon dalam pertempuran udara dengan pesawat tempur MiG-23MS dan MiG-23MF, dengan Syria sendiri kehilangan 10 pesawat mereka. Namun, beberapa klaim tidak memungkinkan untuk secara meyakinkan dikonfirmasi (hilangnya “BQM-34” memang telah dikonfirmasi oleh Israel). Semua lima kemenangan yang diklaim pilot-pilot Suriah juga dihitung berdasarkan laporan mereka sendiri (“Menurut laporan para pilot, lima pesawat musuh ditembak jatuh …”), sementara tidak ada tidak ada bukti dokumenter tentang kemenangan yang dinyatakan, yakni berupa puing-puing pesawat yang jatuh. Selain itu juga tidak ada pilot Israel yang berhasil ditangkap oleh pihak Suriah. Secara keseluruhan tidak ada catatan udara yang mengkonfirmasi kemenangan yang diumumkan pihak Suriah, karena tidak ada satupun dari MiG-23, yang diklaim telah menjatuhkan pesawat Israel, kembali ke pangkalan. Apapun itu, jelas kekuatan udara Israel ada di posisi yang unggul secara telak dalam pertempuran udara diatas Libanon, meski nampaknya agak mustahil mereka tidak menderita kerugian sama sekali. Sementara itu dalam mengevaluasi performa MiG-23, salah satu “perwira Israel” yang ingin namanya tidak disebutkan, dalam sebuah wawancara dengan majalah Flight International mengatakan: “Pendapat saya … adalah bahwa: pesawat Soviet sangat bagus, dilihat dari apa yang kita ketahui tentang kemampuannya dan apa yang kami lihat, namun, pilot Suriah sering melakukan hal-hal yang tidak dibutuhkan, dan tidak melakukan tindakan yang tepat saat diperlukan.

PEMBELOTAN MIG-23 SYRIA

Sementara itu setelah penantian selama 23 tahun, Angkatan Udara Israel (IAF) mendapat kesempatan untuk melakukan evaluasi teknik secara rinci lainnya terhadap pesawat tempur garis depan negara Arab. Seperti halnya pada kasus pesawat MiG-21, pesawat tempur MiG-23 juga datang lewat aksi pembelotan, meskipun kali ini berbeda dengan pada MiG-21 yang membelot setelah melewati proses spionase, MiG-23 datang lewat aksi pembelotan yang mengejutkan bagi Israel. Pada tanggal 11 Oktober 1989, Mayor Adel Bassciii (atau Basaam) dari Angkatan Udara Suriah menerbangkan sebuah MiG-23MLD ‘Flogger-G’ miliknya ke Israel dan meminta suaka politik disana. Bassem, dengan pesawat nomor 2786, memimpin penerbangan pelatihan yang terdiri dari dua pesawat. Terbang sejajar dengan perbatasan di Golan, Mayor Bassem tiba-tiba memisahkan diri, turun dengan cepat, dan melaju menuju ke Israel. Meskipun penerbangan kedua pesawat Suriah dipantau di radar pertahanan udara IAF, Bassem turun ke ketinggian 90-150 kaki (25-45m) di mana radar pelacakan jetnya kehilangan jejak. Dia dengan cepat melintasi perbatasan dengan menggunakan afterburner, pada kecepatan 550kts. Menuju lapangan terbang di utara Megiddo, (saat itu adalah bandara sipil), dia segera mendarat. Seluruh kejadian itu hanya memakan waktu tujuh menit. Tindakan pembelotan Bassem dimotivasi oleh ketidakpuasan atas posisinya di Suriah. Seperti yang dijelaskan oleh Bill Norton dalam bukunya “Air War On The Edge: A History of the Israel Air Force and its aircraft since 1947”, meskipun IAF senang bisa mendapatkan pesawat MiG, mereka agak malu karena jet musuh telah mampu terbang melintasi perbatasan dan mendarat sama sekali tanpa hambatan. “Hadiah” bagi IAF ini kemudian dipindahkan untuk alasan keamanan ke Tel Nof. MiG-23 Bassem sendiri tiba tanpa membawa senjata kecuali untuk peluru kanon. Ia memiliki unit dispenser suar Suriah yang dipasang di pangkal ekor. 

MiG-23 AU Suriah yang dibawa kabur ke Lapangan Udara Megiddo. (Sumber: https://theaviationgeekclub.com/)
Setelah melakukan beberapa kali pengujian, MiG-23 yang dibawa kabur ke Israel dipindahkan ke Museum IAF di Hatzerim. (Sumber: https://theaviationgeekclub.com/)

IAF lalu memulai pemeriksaannya dengan bantuan Mayor Bassem yang, sayangnya, hanya datang membawa catatan dokumen ceklist. Teknisi, insinyur, dan pilot uji coba dari Pusat Uji Penerbangan IAF akhirnya merasa cukup percaya diri untuk bisa melakukan penerbangan evaluasi pertama dari beberapa yang mereka lakukan, dan pesawat bisa kembali mengudara pada tanggal 29 Januari 1990. Komandan dan kepala pilot Penerbangan Test Center, Letnan Kolonel Ofer Safra, mendapat kehormatan untuk melakukan penerbangan itu dan semua penerbangan lanjutannya. Lewat Program pengujian yang komprehensif telah mengungkapkan kinerja dari pesawat itu dan sistemnya, serta kerentanannya. Uji coba yang dilakukan termasuk latihan tempur udara melawan pesawat garis depan IAF. Israel terkesan dengan daya dorong dan akselerasi yang berlebihan dari MiG-23. Jet itu sederhana dan avioniknya mudah digunakan. Proses pendaratannya tidak menimbulkan banyak masalah. Sementara itu sisi negatifnya terdapat pada tata letak kokpit yang cukup buruk, visibilitas ke belakang yang buruk (kokpit dan kacanya cukup sempit), dan stick force-nya selama melakukan manuver pertempuran udara sangat melelahkan, menimbulkan getaran yang berlebihan. Secara keseluruhan, MiG-23 sebanding dengan F-4 Phantom kecuali untuk sistem radar yang lebih canggih. IAF menggunakan MiG-23 sampai paruh pertama tahun 1993 dan menerbangkannya dalam 12 atau 18 kali kesempatan. Orang-orang Amerika mungkin juga mendapat kesempatan untuk mengevaluasi pesawat tersebut. MiG ini kemudian dipinjamkan ke Israel Aircraft Industries (IAI) untuk digunakan dalam pengembangan perbaikan berbagai sistem yang potensial. Upgrade tersebut kemudian akan ditawarkan ke pasar negara berkembang di Eropa Timur. Ketika IAI selesai dengan evaluasinya, MiG  itu lalu dipindahkan ke Museum IAF di Hatzerim pada pertengahan tahun 1990-an. Israel menempatkan tanda nasional mereka di atas lingkaran Suriah di bagian hidung pesawat, tetapi  di bagian sayapnya dipasang di samping penanda Suriah. Selain menambahkan beberapa cat di sana-sini, bagian lain dan tanda-tanda lainnya dibiarkan tidak berubah. Ketika jet ini ditambahkan ke koleksi Museum IAF, MiG-23 itu menampilkan lencana MANAT [# 109] dan Unit 22 [# 123], Unit Pemeliharaan Pusat IAF, dan stensil yang mencatat penerbangan yang sempat dilakukan oleh IAF.

FLOGGER SYRIA ERA TAHUN 2000-SEKARANG

Pada akhir bulan April 2002, sebuah MiG-23ML Suriah menembak jatuh sebuah UAV Israel dengan rudal udara-ke-udara di dekat As-Suwayda. Sebuah pesawat ex/MiG-23MS Angkatan Udara Suriah kemudian menjadi ikon dalam Pengepungan Pangkalan Udara Abu al-Duhur, saat pada tanggal 7 Maret 2012, pemberontak Suriah menggunakan peluru kendali anti-tank 9K115-2 Metis-M untuk menghantam MiG yang terlantar disana. Kemudian, pada bulan Maret 2013 mereka masuk ke pangkalan, dan menunjukkan MiG yang sudah tidak terawat dan rusak itu. Akhirnya, pada Mei 2013, Angkatan Udara Suriah mengebomnya untuk menghancurkan bangkai pesawat itu. Beberapa MiG-23BN Suriah tercatat mengebom kota Aleppo pada tanggal 24 Juli 2012, serta menandai penggunaan pertama dari pesawat tempur untuk misi pemboman dalam perang saudara Suriah. Sementara itu pada tanggal 13 Agustus 2012, sebuah MiG-23BN Suriah dilaporkan ditembak jatuh oleh pasukan pemberontak Tentara Pembebasan Suriah di dekat Deir ez-Zor, meskipun pemerintah Suriah mengklaim bahwa pesawat itu jatuh karena masalah teknis. Sejak saat itu, MiG-23 Angkatan Udara Suriah bersama dengan jet tempur Angkatan Udara Suriah lainnya secara teratur terlihat melakukan serangan terhadap posisi-posisi pemberontak Suriah, yang sebagai balasan mengklaim bahwa berbagai pesawat MiG ditembak jatuh atau dihancurkan di darat pada kesempatan yang berbeda-beda. Pada tanggal 23 Maret 2014, satu MiG-23 milik Suriah ditembak jatuh setelah terkena rudal AIM-9 Sidewinder yang ditembakkan oleh sebuah F-16 Turki di sekitar kota Kessab, Suriah. Pilotnya berhasil keluar dengan selamat dan ditemukan oleh pasukan kawan. Sumber-sumber Turki mengatakan, pesawat itu telah melanggar wilayah udara Turki dan jatuh setelah mendapat beberapa peringatan radio saat mendekati perbatasan Turki. MiG-23 Suriah lainnya dilaporkan kembali ke Suriah setelah masuk tanpa izin ke wilayah udara Turki. Pada tanggal 15 Juni 2017, satu UAV Selex ES Falco Yordania ditembak jatuh oleh MiG-23MLD Suriah di sekitar kota Derra, Suriah. Pada tanggal 16 Juni, UAV Selex ES Falco lain ditembak jatuh oleh MiG-23ML, keduanya menembak menggunakan rudal R-24R. Pada tanggal 9 September 2020, sebuah MiG-23 Suriah jatuh di wilayah Provinsi Deir ez-Zor tanpa diketahui informasi tentang nasib pilotnya. Hingga kini dalam Perang Saudara yang masih berlangsung di Suriah, diketahui setidaknya 17 pesawat MiG-23 Flogger hancur karena berbagai sebab.

Beberapa MiG-23 sampai kini masih bertugas dalam AU Suriah, sebagian dijatuhkan kaum pemberontak dalam Perang Saudara yang masih berlangsung hingga sekarang. (Sumber: https://theaviationgeekclub.com/)

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

Early MiG-23M/MS Floggers in Action By Tom Cooper; Sep 26, 2003, 09:35

https://web.archive.org/web/20060613024359/http://www.acig.org/artman/publish/article_273.shtml

FLOGGERS IN ACTION: EARLY MIG-23S IN OPERATIONAL SERVICE

https://testpilot.ru/review/war/mig23.htm

Of Floggers and Foxbats: the story of Syrian MiG-23s and MiG-25s, the fighter jets that were never able to match Israeli F-15s by Dario Leone, 21 Mei 2020

How the defection to Israel of a Syrian Air Force MiG-23-pilot embarrassed the IAF by Dario Leone; Sep 24, 2018

https://www.google.com/amp/s/theaviationgeekclub.com/how-the-defection-to-israel-of-a-syrian-air-force-mig-23-pilot-embarrassed-the-iaf/

https://mikoyanmig29.wixsite.com/mig-23flogger/combat-record-over-lebanon

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Mikoyan-Gurevich_MiG-23

https://en.m.wikipedia.org/wiki/List_of_aviation_shootdowns_and_accidents_during_the_Syrian_Civil_War

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *