Penangkapan kapal mata-mata USS Pueblo oleh Korea Utara, 23 Januari 1968

Di Pyongyang, Pemerintah Korea Utara mempertontonkan dan menyimpan “trophi kemenangan yang didapat pada tahun 1968. Di tepi Sungai Botong, di samping Museum Kemenangan Perang Pyongyang tertambat USS Pueblo (AGER-2). USS Pueblo adalah kapal angkatan laut Amerika tertua kedua yang masih bertugas, dan satu-satunya yang ditahan oleh negara lain. Insiden ketika Korea Utara menangkap Pueblo bersama 83 awak krunya, membunuh satu dari mereka dan melukai banyak lainnya, terjadi pada tanggal 23 Januari 1968, seminggu sebelum dimulainya Serangan Tet di Vietnam. Pejabat AS percaya pada saat itu Korea Utara bertindak atas instruksi dari Uni Soviet (meskipun ini kemudian diketahui bahwa hal ini tidak benar beberapa tahun kemudian) dan pada saat itu ketegangan akibat Perang Dingin mencapai titik tertinggi sejak Krisis Rudal Kuba Yang terjadi lima tahun sebelumnya.

The USS Pueblo in Pyongyang, on display as a floating museum since 2013.

Kru tersebut ditahan selama 11 bulan perundingan antara AS dan Korea Utara dan mereka dibuat kelaparan dan disiksa saat berada di dalam penahanan. Banyak orang yang membaca kisah ini mungkin belum cukup umur atau lahir untuk mengingat kejadian seperti Krisis Misil Kuba atau bahkan Krisis Penyanderaan di Iran (1979-81). Bagi mereka yang masih terlalu muda, untuk mengetahui betapa tingginya intensitas tekanan dan betapa gentingnya situasi saat itu sebaiknya mengetahui fakta bahwa Presiden Lyndon B. Johnson secara resmi disarankan untuk menuntut Korea Utara agar segera mengembalikan para sandera di bawah ancaman Serangan Nuklir. Kiamat mungkin tidak sedekat saat kapal-kapal Rusia mendekat dan mendekati blokade AS di sekitar Kuba tahun 1962, akan tetapi jari-jari tangan yang gugup benar-benar sempat memikirkan untuk menekan tombol nuklir tersebut

Misi USS Pueblo

Pueblo tidak benar-benar mengambil garis pelayaran yang dekat dengan perairan Timur Korea Utara. Kapal itu adalah kapal Auxiliary General Environmental Research(AGER) milik Amerika di bawah program yang dijalankan oleh Naval Security Group dan National Security Agency. Dipimpin oleh Komandan Lloyd M. Bucher, awak Pueblo ada di sana untuk mengumpulkan data intelijen dan sinyal intelijen dari wilayah Korea Utara. Menurut pejabat AS, komandan dan awak kapal Pueblo, dan catatan dari pihak Angkatan Laut Amerika, Pueblo berjarak 15,4 mil laut dari pantai Korea pada tanggal 20 Januari, saat sebuah kapal selam Korea Utara yang memburu melintas di dekatnya. Dua hari kemudian, mereka kembali didekati, kali ini oleh dua kapal pukat ikan Korea Utara.

Kapal mata-mata USS Pueblo.

Penting diketahui juga guna memahami ketegangan di seputar insiden ini adalah pada tanggal 22 bulan itu terdapat usaha pembunuhan yang gagal terhadap Presiden Korea Selatan Park Chung-hee, dimana awak kapal Pueblo tidak mendapat informasi tentang hal ini. Tiga puluh satu orang Korea Utara telah melintasi perbatasan dan mencoba menyusup ke “Gedung Biru” tempat presiden tinggal, namun usaha ini digagalkan serta hampir semua penyusup terbunuh atau ditangkap.

Kim Shin Jo, survivor tentara Korea Utara yg tersisa dari penyerbuan komando Korea Utara di gedung biru untuk membunuh Presiden Korea Selatan, Park Chung Hee.

Penangkapan

Keesokan harinya, pada tanggal 23, Pueblo didekati oleh kapal selam Korea Utara lainnya, dimana perwiranya menananyakan asal negara pemilik Pueblo. Ketika bendera AS Pueblo dinaikkan, dia diperintahkan untuk tetap pada tempatnya atau akan ditembak. Komandan Bucher mencoba untuk bermanuver membawa kapal kabur, dalam upaya untuk mengulur waktu sembari meminta bantuan dari kekuatan AS lainnya, mereka mencoba menghancurkan segala informasi sensitif yang ada di kapal. Namun kapal itu kecepatannya lambat, dan kapal Korea Utara itu segera diperkuat dengan pesawat tempur MiG-21 yang hadir ditempat itu. Bantuan Amerika tidak pernah datang

Meskipun Pueblo memiliki beberapa persenjataan ringan, Bucher tahu bahwa baku tembak bukanlah pilihan bijaksana. Menurut Perwira Operasi Pueblo , Skip Schumacher, kondisi saat itu adalah sebagai berikut: ” PUEBLO tidak memiliki perlindungan armor apapun; persenjataannya terdiri dari 10 senapan semi-otomatis Browning, beberapa pistol kaliber .45 dan dua senapan mesin kaliber .50 yang dibungkus terpal beku di halauan dan buritan. Dengan persenjataan ini mereka harus untuk melawan 4 kapal torpedo, 2 kapal selam pemburi dan pesawat jet MiG. Peluang untuk menang jelas yang tidak terlalu bagus “

U.S. Army Cargo Vessel FP-344 (1944). Transferred to the Navy in 1966, she became USS Pueblo (AGER-2)

Saat Pueblo mencoba melarikan diri, dia segera ditembak, tanpa tembakan peringatan. Seorang awak tewas dan 18 lainnya cedera dalam serangan tersebut. Bucher memutuskan menghentikan pelarian dan memilih menyerah untuk menyelamatkan sisa krunya. Schumacher juga menyadari kerentanan kapal itu dan tahu bahwa Korea Utara mengakhiri sikap kucing-kucingan selama ini dan menggantikan sikap pasifnya dengan tindakan agresif yang nyata.

Lokasi USS Pueblo saat ditangkap Korea Utara.

Meskipun Pueblo selalu berada di luar batas 12 mil laut yang disahkan oleh Hukum Internasional yang memisahkan kedaulatan nasional dan perairan internasional, Korea Utara bersikeras (dan terus meyakininya hingga kini) bahwa kedaulatan wilayah perariran mereka meluas sampai 50 mil laut dan dalam sudut pandang mereka ini Pueblo telah melakukan pelanggaran. Namun demikian, baru setelah Bucher menyerah dan Pueblo dikawal masuk ke jarak 12 mil tersebut, kapal ini dinaiki oleh sejumlah perwira Korea Utara dan kru kapal tersebut ditahan.

Crew ditahan

Rezim Korea Utara, seperti sekarang, senantiasa mengandalkan mesin propaganda mereka untuk menanamkan peraturan mereka di benak rakyat dan negara-negara lain. Para tawanan dipaksa berpose dalam foto-foto untuk propaganda ini, orang-orang Amerika difoto satu persatu, mereka berpose dengan memberi isyarat “jari tengah” mereka, dan mengatakan kepada penahan mereka pada saat itu adalah bahwa hal itu adalah isyarat keberuntungan orang Hawaii. Ketika orang Korea Utara mengetahui arti sebenarnya dari ejekan mereka, penyiksaan dan upaya membuat kelaparan para awak kapal meningkat. Melalui penahanan yang berlangsung hampir setahun, serta lewat perundingan yang lamban dan menegangkan dilakukan antara pejabat Korea Utara dan AS di Panmunjom, desa dimana perundingan gencatan senjata yang mengakhiri Perang Korea ditandatangani pada tahun 1953. Perbedaan budaya dan ideologis diantara keduanya membuat perundingan berjalan alot.

Insiden “Jari Tengah”: North Korean Propaganda Photograph of prisoners of USS Pueblo. Photo and explanation from the Time article that blew the Hawaiian Good Luck Sign secret. The sailors were flipping the middle finger, as a way to covertly protest their captivity in North Korea, and the propaganda on their treatment and guilt. The North Koreans for months photographed them without knowing the real meaning of flipping the middle finger, while the sailors explained that the sign meant good luck in Hawaii.

Adanya tekanan tambahan dari orang-orang Korea Selatan yang sangat marah dengan orang-orang Amerika karena lebih memusatkan perhatian pada kru mereka daripada pada usaha mengecam dan meminta pertanggungjawaban atas upaya pembunuhan yang terang-terangan dan kurang ajar yang dilakukan Korea Utara terhadap pemimpin Korea Selatan pada tanggal 22 Januari. Mereka bersikeras untuk menjadi bagian dari tim negosiasi. Kemarahan dan permusuhan antara Utara dan Selatan pada waktu itu mendekati titik didih, dengan AS tentunya berada dalam posisi yang sangat sulit.

Crew Dibebaskan

Pada akhirnya, Mayor Jenderal Angkatan Darat AS Gilbert H. Woodward menandatangani permintaan maaf penuh atas tindakan Pueblo memata-matai negara mereka dan sebuah janji bahwa hal itu tidak akan terulang lagi, Korea Utara membebaskan 82 kru yang tersisa ke DMZ dan menyerahkan mereka kepada pihak. Permintaan maaf dan janji itu dengan cepat kemudian ditarik kembali.

Para awak USS Pueblo melintasi DMZ Korea saat dibebaskan 23 Desember 1968.

Pada tahun-tahun berikutnya, komandan dan awak kapal Pueblo terbebas dari ancaman pengadilan militer (karena menyerah tanpa perlawanan dan gagal merusak peralatan elektronik kapal). Sekretaris Angkatan Laut John Chafee menyatakan bahwa kru telah melalui cukup banyak penderitaan dalam tawanan musuh. Korea Utara dan Soviet dapat mengcopy teknologi perangkat komunikasi Pueblo, yang memberi mereka pemgetahuan berharga tentang sistem komunikasi Angkatan Laut Amerika Serikat sampai akhir 1980an. Para kru juga harus menunggu bertahun-tahun sampai diakui jasanya oleh pemerintah AS dan diberi penghargaan atas peran mereka dimasa lampau

Crew of USS Pueblo upon release on 23 December 1968.
Lloyd M Bucher memperoleh medali Purple Heart.

Diterjemahkan dan dilengkapi kembali dari:

https://m.warhistoryonline.com/cold-war/uss-pueblo-spy-ship-norh-koreacaptured-m.html?fbclid=IwAR3xcM7UyrfquLJOIq1KB8dnXcQncWpFKYv8BWdUHUvlfTXQRQQTub7vbt0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *