Penyerbuan di Corinth : kegagalan Strategis Jerman

Pada bulan Maret 1941 atas perintah Churchill, Inggris mengirimkan pasukan Commenwealth nya ke Yunani, untuk membantu pasukan Yunani dari serbuan pasukan Jerman-Italia (sebagai akibat “petualangan gegabah” Mussolini Oktober 1940). Sampai tanggal 24 April 1941 kekuatan pasukan Commenwealth (Inggris, Australia, Palestina, dan Siprus) mencapai lebih dari 62.000 prajurit, yang terdiri dari Divisi ke 6 Australia, Divisi ke 2 New Zealand, dan Brigade lapis baja ke 1 Inggris, yang dipimpin oleh Letnan Jenderal Sir Henry Maitland Wilson (dikenal juga sebagai W Force).

Letnan Jenderal Sir Henry Maitland Wilson

Pada pertengahan April telah nampak bahwa pasukan sekutu tidak akan mampu menahan serbuan pasukan Jerman-Italia yang berkekuatan jauh lebih besar, sehingga pada tanggal 21 April diputuskan bahwa pasukan sekutu harus dievakuasi ke Mesir dan Kreta, apabila tidak ingin “disapu” oleh pasukan Axis. Komando tertinggi Inggris menetapkan waktunya adalah tanggal 28-29 April malam hari. Pantai2 yang akan dijadikan sasaran embarkasi adalah Kalamata, Monemvasia, Nauplia, Porto Rafti, dan Rafina. Inggris memilih daratan Poleponessos dengan alasan jarak daratan yang jauh dari pergerakan pasukan musuh (lihat peta) dan strategis jika dipandang dari sudut militer. Jalan untuk mencapai Poleponessos harus melewati Jembatan yang membentang diatas kanal Corinth-Isthmus.

Disposisi militer di Kanal Corinth, April 1941

Isthmus lebarnya hanya 3 mil tepotong oleh jembatan dengan lebar 80 kaki dan dalamnya hanya 9 kaki juga dapat dilalui oleh kapal berkapasitas 5.000 ton, juga terdapat jalan raya dan jembatan kereta api. Komando Inggris menempatkan pasukan2 yang cukup kuat di sana, kesatuan tersebut dengan kode “Isthmus Force” bermarkas di Corinth. Pasukan ini terdiri dari dua kesatuan dari divisi Infantri, dua batalion tank, tank2 ringan, unit2 pesawat udara dan kesatuan2 anti pesawat. Ternyata rencana Inggris ini sudah diketahui oleh pihak Jerman. Maka Jerman menyiapkan konsep operasi serangan oleh pasukan payung.

Pasukan artileri Australia setelah pengunduran dari area Vevi.

Rencana Jerman adalah sebagai berikut: pesawat2 peluncur mengangkut tim para teknisi dan akan didaratkan di ujung utara dan selatan dari jembatan untuk memgamankan peledak yang dipasang di jembatan, satu batalyon pasukan payung akan terjun di kedua sisi kanal untuk membereskan musuh, sementara Luftwaffe akan menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan dan suplai untuk operasi penerjunan. Tugas diberikan pada Resimen payung kedua dengan komandannya Kolonel Sturm. Resimen ini terdiri dari : staf resimen, batalyon pertama dan kedua, sebuah detasemen penghubung, sebuah kompi teknisi, sebuah kompi medis dan sebuah batere artileri akan diterjunkan dengan payung, kecuali dua buah seksi yang akan diterjunkan dengan pesawat peluncur. Operasi dilaksanakan pada pagi buta 25 April.

A view of the Corinth Canal taken by a Fallschirmjager in 1941.
The parachutists rushing onto bridge.

Diawali dengan pemboman ketinggian sedang, yang segera disambut oleh tembakan2 meriam anti pesawat Inggris. Lalu 100 buah pesawat melakukan pemboman di tempat-tempat yang telah ditentukan hanya dalam waktu setengah jam. Tak lama kemudian muncul dari arah teluk Corinth, gelombang2 pesawat angkut yang terbang sangat rendah dan pararel dengan kanal dalam kelompok tiga2. Pada ketinggian beberapa ratus kaki pasukan2 payung terjun bersama kontainer2 berisi peralatan yang diterjunkan dari pesawat udara bagian tengah. Batalyon kesatu di utara dan batalyon kedua di selatan dengan cepat mengamankan kedua sisi jembatan. Dalam beberapa menit pertama te;ah diduduki jembatan dan para teknisi menyerbu dan bermaksud mengamankan bahan2 peledak yang ditempel di jembatan. Tetapi dua orang kapten tentara Inggris, yang bersembunyi dan berbaring di kejauhan dengan kamuflase telah lebih dulu meledakkan jembatan dengan jalan menembak dari jauh bahan peledak yang ada di jembatan. Jembatan itu meledak hebat hancur bersama beberapa pasukan payung Jerman.

Jembatan meledak bersama beberapa pasukan payung Jerman

Beberapa jam kemudian pesawat2 udara jerman mulai mengadakan pendaratan. Korban di kedua belah pihak cukup banyak. Dari grup udara Jerman sebanyak 63 orang tewas, 158 luka2 dan 16 hilang. Pasukan Inggris yang ditawan sebanyak 1000 orang, sementara di pihak Yunani 1500 personel ditawan bersama sejumlah besar perlengkapan. Akan tetapi induk pasukan sekutu berhasil lolos, sebelum Jerman berhasil menguasai selat teluk Corinth dan membuat Jembatan darurat. Pada tanggal 29 April pasukan Jerman menyerbu mengejar pasukan sekutu, akan tetapi telah sangat terlambat untuk menghentikan evakuasi pasukan utama sekutu. Pada tanggal 30 April, evakuasi hampir sebanyak 50.000 pasukan Commenwealth telah berhasil dilaksanakan. Jerman “hanya” berhasil menenggelamkan 26 kapal pengangkut pasukan dan menangkap kira2 8000 prajurit sekutu.

Gerak maju pasukan Jerman dan gerak mundur pasukan Commonwealth di Yunani

Mungkin jika kita melihat sekilas pihak Jerman tidak bisa dikatakan gagal total, sebab secara taktis mereka memenangkan pertempuran di medan Yunani, akan tetapi jika kita melihat efek yang timbul setelah peristiwa ini, kita akan mengetahui bahwa Jerman telah membiarkan sebuah “kesempatan” untuk menghindari bencana di masa mendatang lewat begitu saja. Seperti telah disebutkan pada awal bahwa tujuan utama evakuasi pasukan Commenwealth adalah Mesir dan pulau Kreta. Pada tanggal 20 Mei 1941 Jerman meluncurkan operasi Unternehmen Merkur (Operasi Merkury) lewat udara atas pulau Kreta, dan kita ketahui mereka mengalami pertempuran berat dan berdarah-darah (meski akhirnya berhasil merebut Kreta) melawan pasukan sekutu, yang kekuatan utamanya adalah pasukan2 Commenwealth yang dievakuasi dari teluk Corinth sebulan sebelumnya!!!!!

Tentara Yunani mundur di bulan April 1941.

Dikutip dan ditambahkan kembali dari :

Rubrik Liku-liku perang, majalah Sinar Harapan Minggu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *