Peran Kekuatan Udara Dalam Konflik Di Yaman, Ajang Perebutan Pengaruh Berbagai Negara Dalam Perang Dingin (1945-1990)

Pada akhir abad ke-19, bagian selatan Semenanjung Arab berada di bawah pengaruh Inggris, dan pada tahun 1937 pelabuhan Aden dan sekitarnya yang telah berusia 5.000 tahun dinyatakan sebagai Koloni Inggris. Inggris menggunakan Aden (dan lapangan terbang lamanya di Sheikh Othman) sebagai basis dari mana mereka untuk mengendalikan akses ke Samudra Hindia, dan jalur masuk dari selatan ke Suez. Kendati demikian, kendali mereka di wilayah pedesaan di sekitar Aden relatif lemah (terutama karena medannya yang berat), dan untuk mengatasinya mereka mengandalkan bantuan RAF. Sementara itu di sebelah utara Aden, Kerajaan Yaman berkembang, diperintah oleh Imam Ahmad, di mana situasinya relatif tenang. Setelah 1945, Inggris telah membangun lapangan terbang baru di Khormaksar (masih dekat Aden), dan mulai menyebarkan pengaruhnya lebih dalam ke Semenanjung Arab, sementara pasukan lokal mereka diperkuat oleh pesawat yang lebih modern (Sqn RAF ke-8 mendapatkan armada pesawat tempur Tempest VI), agar lebih mampu bereaksi terhadap pemberontakan lokal yang sering terjadi. Selama tahun-tahun berikutnya, Tempest dari Sqn ke-8 digunakan dalam pertempuran di dekat Jebel Jihaf, dan al-Hussein, di mana pemberontak anti-Inggris berkonsentrasi untuk menyerang rute komersial lokal – terutama di sekitar Thumier (utara Aden). Pada tahun 1947, Sqn ke-8 diperkuat oleh kedatangan pembom Lincoln dari Sqn ke-101. Pertempuran sporadis terus berlanjut hingga 1952, ketika Sqn ke-8 dilengkapi kembali dengan jet tempur Vampire FB.9, dan Sqn ke-32 dipindah dari markas RAF Deverosoir, di Mesir, dan ditempatkan di Khormaksar. Bersamaan dengan itu, juga beberapa jalur pendaratan yang lebih kecil dibangun, jauh dari Aden, untuk memungkinkan pasukan darat dipasok dari udara.

Pelabuhan dan Kota Aden tahun 1960an. (Sumber: http://www.acig.org/)

MENYEBARNYA PEPERANGAN DI ADEN

Tetapi, perkembangan gerakan anti-Inggris tidak dapat dihentikan, dan pertempuran menyebar, terutama setelah tahun 1954, Kerajaan Yaman mulai mendukung beberapa fraksi yang berbeda di Aden. Sementara itu contoh paling baik tentang penggunaan kekuatan udara pada saat itu muncul pada bulan Mei 1954, ketika unit yang lebih besar dari pasukan Levite Protektorat Aden (“APL”; pasukan kolonial yang bertanggung jawab untuk pertahanan Aden), dikepung di Robat. Inggris saat itu telah membangun sebuah pos pengendali garis depan untuk operasi RAF di wilayah itu, dan menggunakan pesawat transport Valetta milik mereka untuk memasok unit APL, sementara pesawat tempur Vampire membom para pemberontak. Pilot vampir tampaknya memiliki masalah besar selama pertempuran di daerah ini, karena pemberontak sering bersembunyi di perbentengan lama, yang dibangun tinggi di atas puncak gunung, yang memiliki dinding yang sangat tebal: kadang-kadang benteng-benteng ini tidak dapat dihancurkan bahkan setelah menggunakan roket anti-tank yang terarah atau bom berat. Pada tahun 1955, RAF membentuk rangkaian pos-pos pengendali darat seperti itu, dan Sqn ke-8 dilengkapi kembali, kali ini dengan meghadirkan pembom-pembom tempur  Venom FB.Mk.4. Pada bulan Juli tahun yang sama, pesawat-pesawat ini digunakan secara luas untuk mendukung operasi di mana Robat akhirnya berhasil direbut kembali oleh Inggris. Pada saat yang sama, beberapa helikopter Sycamore pertama dikerahkan ke Khormaksar, di mana mereka akan digunakan untuk memasok unit yang dikerahkan ke garis depan, dan untuk misi CASEVAC (misi evakuasi medis).

Yaman tahun 1962-1967. (Sumber: https://www.edmaps.com/)
Pesawat transport Vickers Valetta yang sering digunakan RAF untuk memasok wilayah protektorat mereka di Aden. (Sumber: https://abpic.co.uk/)

Pada tahun 1956, RAF juga mulai menggunakan pesawat pengamat ringan Twin Pioneer untuk memantau pergerakan para pemberontak, dan pada tahun 1957 empat pesawat pengintai Meteor FR.Mk.9 ditempatkan di Khormaksar, sementara pembom-pembom tua Lincoln digantikan oleh Shackleton, yang menerbangkan sorti tempur mereka menyerang para pemberontak di Ghaniyah. Di daerah yang sama, RAF juga kehilangan pesawat tempur pertamanya, Venom FB.Mk.4, yang jatuh saat serangan terhadap artileri  pihak Yaman, pada Juli 1958. Pada bulan berikutnya, RAF akhirnya dipaksa untuk menambah unit lain ke wing udara mereka di Khormaksar, yaitu Sqn RRAF ke-2 (Royal Rhodesian AF), yang dilengkapi dengan Vampire F.Mk.9. Selanjutnya, aset RAF in situ berada di bawah kendali “Angkatan Udara Timur Tengah” (AFME) yang baru didirikan, yang merupakan bagian dari Komando Timur Tengah saat itu, yang bertanggung jawab atas pertahanan di Afrika Timur, Aden, Teluk Persia, dan Samudra Hindia. Di panggung politik, pada tahun 1959, Inggris mengorganisir Federasi Aden Emirates, dalam upaya untuk meningkatkan kekuatan otoritas lokal yang setia pada mereka. Namun, situasinya tetap tidak membaik, dan pada tahun 1960, kapal induk AL Inggris dikerahkan dari Aden untuk pertama kalinya. Yang pertama tiba adalah HMS Centaur, dengan pesawat-pesawat Sea Venom nya dari skuadron NAS 891 – yang digunakan sebagai pembom tempur – ambil bagian dalam operasi “Damen”. Sementara itu RAF memperluas lapangan terbang kecil di Riyan menjadi pangkalan udara, dan pada  bulan Juli 1960 menempatkan beberapa pesawat tempur Hunter dari Sqn ke-208 untuk pertama kalinya di sana. Pesawat-pesawat tempur ini dipergunakan secara luas selama pertempuran melawan para pemberontak di bagian timur protektorat Aden, di bulan yang sama. Pada tahun 1962, Inggris juga mencoba membangun pangkalan udara lain di Hilvan. Tapi, di daerah itu sebuah Shackleton rusak berat oleh tembakan dari darat, dan sebuah DHC Beaver mendarat darurat, jadi ide ini akhirnya dibatalkan. Akibatnya adalah bahwa penggunaan kapal Induk RN sebagai pendukung serangan udara semakin ditingkatkan. 

Pangkalan RAF di Khormaksar, Yaman. (Sumber: https://www.pprune.org/)

INTERVENSI MESIR 

Sementara itu, orang-orang Mesir mulai turun tangan di Yaman Utara. Mesir juga mendukung para pembangkang Aden dalam melawan Inggris sejak pertengahan 1950-an, dan pada 26 September 1962, sebuah kudeta yang diorganisir oleh orang-orang Mesir menggulingkan Imam al-Badr (putra Imam Ahmad yang meninggal dua minggu sebelumnya) di Sana’a dan mendirikan negara Republik Arab Yaman (Yaman Utara). Bagi Presiden Nasser, kudeta di Yaman adalah kesempatan sempurna baginya untuk mendemonstrasikan komitmennya pada Pan Arabisme dan menggunakan militernya untuk memenuhi ambisi internasionalnya. Kudeta ini didukung oleh pendaratan 150 pasukan payung Mesir di Hodeida AB. Mereka membentuk pangkalan aju dan kemudian membantu membawa seorang tokoh republik, al-Sallal ke tampuk kekuasaan dengan mengalahkan para penjaga kerajaan, dalam beberapa hari 5.000 tentara Mesir sudah ada di Yaman untuk mendukung rezim baru. Sementara itu Imam al-Badr melarikan diri ke bukit-bukit Yaman timur, dan kemudian ke Arab Saudi, dari mana ia mengatur pemberontakan melawan rezim baru. Di satu sisi, Saudi mendukung kaum Royalis (pembela Kerajaan Yaman) karena mereka khawatir dan tidak suka dengan Nasser dan ide-ide sosialisnya yang bisa mengancam rezim Kerajaan Saudi sendiri, oleh karenanya, mereka mulai mendukung kaum Royalis dengan uang, senjata dan perlindungan. Sebagai reaksi, al-Sallal – setelah mendeklarasikan negara baru – “Republik Yaman” – meminta bantuan orang Mesir, dan Mesir yang lebih dari senang mengirim kontingen yang cukup besar – termasuk pesawat tempur dan transport dari UARAF (sebutan EAF/AU Mesir saat itu, dan digantikan baru pada tahun 1968) – ke Yaman. UARAF dengan cepat mulai menggunakan pembom Tu-16 yang berbasis di Asswan untuk melakukan serangan terhadap pangkalan pemberontak kaum Royalis di Yaman selatan dan timur, dan markas besar pemberontak di Saada. Juga setidaknya satu skuadron pembom jet Il-28 ditempatkan di Sana’a, di mana lapangan terbang yang ada diperbesar dan diperkuat oleh insinyur Mesir (yang juga membangun pangkalan udara baru di Taiz dan Hodeida). Sementara itu, pasukan Mesir mendarat di beberapa titik di sepanjang pantai dan mulai memperbesar pangkalan mereka. Dengan pasukan Mesir dikerahkan dengan baik di sekitar bagian paling penting dari Republik Yaman, al-Sallal merasa cukup kuat untuk mengklaim juga wilayah Arab Saudi selatan, dan seluruh Semenanjung Arab selatan – termasuk Aden – sebagai bagian dari Yaman, dan sikapnya ini pada gilirannya menyebabkan MiG-15 dan MiG-17 UARAF terbang mendukung operasi, dan bahkan menyokokong para pemberontak yang berperang melawan Inggris di Aden. 

Pemimpin kaum Royalis Yaman, Pangeran Imam Al-Badr di luar guanya di Jabal Sheda. Bersamanya adalah sepupunya, Pangeran Hassan bin Hussein. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)
Presiden Gamal Nasser dari Mesir (kanan) dengan Abdullah al-Sallal (kiri) Presiden Republik Arab Yaman yang memimpin kudeta menurunkan keluarga kerajaan Yaman. (Sumber: Universal History Archive/Universal Images Group via Getty Images/https://www.gettyimages.ie/)

Inggris bereaksi dengan cepat, RAF mengerahkan Sqn ke-208 dan Sqn ke-8 ke Khormaksar, yang keduanya dilengkapi dengan pesawat tempur Hawker Hunter. Pangkalan RAF di Khormaksar sekarang menjadi terlalu sempit (harus diingat juga, bahwa semua pesawat Inggris yang sedang dalam perjalanan ke Teluk Persia, Samudra Hindia, dan Timur Jauh mendarat juga di sini), sehingga pangkalan utama lain harus dibangun, di Beihan. Karena jangkauan radar yang buruk, Hunter dari Sqn ke-8 dan ke-208 harus menerbangkan misi CAP (patroli udara tempur) secara konstan di sepanjang perbatasan dengan Yaman, dan kemudian juga beberapa pesawat pengintai PR-Canberra dari Sqn ke-13 dan ke-58 dikerahkan ke Khormaksar, mereka ini menerbangkan sejumlah sorti pengintaian di atas Yaman, untuk memungkinkan AFME dan Komando ME untuk melacak penyebaran pasukan Mesir. Pada saat itu, Mesir telah memiliki 30.000 prajurit, dengan didukung sekitar 100 pesawat tempur dan pembom MiG-15, MiG-17, dan Il-28 yang ditempatkan di berbagai lapangan udara yang berbeda di Yaman. Bersama dengan orang-orang Mesir, beberapa instruktur Soviet yang pertama juga tiba di Yaman. Pada November 1962, orang Mesir meningkatkan eskalasi dengan mendaratkan 240 personel pasukan payung di Sirwah, untuk mendukung pasukan republik dalam memerangi pasukan pemberontak di daerah itu. Bersamaan dengan itu, brigade lapis baja Mesir bergerak di sepanjang jalan menuju Sirwa, dan serangan itu berakhir dengan berhasil direbutnya Saada. Al-Badr dan para pendukungnya pertama-tama melarikan diri ke timur, tetapi kemudian balik kembali untuk memotong satu-satunya jalan menuju Saada, sehingga mengisolasi garnisun Mesir dan Republik dan menempatkan Saada di bawah pengepungan.

EAF/UARAF dengan cepat mengerahkan sejumlah besar pesawat tempur MiG-17 ke Yaman, pada tahun 1962. Pada tahun-tahun berikutnya pesawat ini digunakan secara ekstensif dalam pertempuran melawan pasukan Royalis, tetapi juga digunakan untuk menyerang target di dalam koloni Inggris Aden, juga di dalam Arab Saudi. (Sumber: oleh Tom Cooper/http://www.acig.org/)

Inggris enggan untuk terlibat langsung dalam konflik di Yaman, sebagai gantinya, sepasukan bekas personel SAS – diperkuat oleh beberapa mercenaries Prancis – dikirimkan ke Beihan, dari mana mereka kemudian bergerak ke Yaman, untuk membuat saluran komunikasi langsung ke al-Badr dan membantu mendukungnya dengan senjata dan amunisi. Dalam upaya mereka untuk berjuang membebaskan Saada, orang-orang Mesir segera mulai menggunakan senjata kimia, termasuk bom yang diisi dengan gas mustard. Namun, sasaran pertama serangan semacam itu adalah warga sipil: desa el-Kawna, misalnya, diserang bom kimia yang dijatuhkan dari pesawat tempur MiG-17 dan beberapa ratus orang dilaporkan terbunuh. Hal ini membuat marah, termasuk Shah Reza Pakhlavi dari Iran, beberapa pesawat angkut – terutama DC-3 / C-47 Dakota dan kemudian juga dari C-130B Hercules – Angkatan Udara Kekaisaran Iran (IIAF) digunakan untuk menerbangkan misi pasokan untuk pasukan al-Badr. Untuk menerbangkan bantuan ini, mereka jelas menggunakan wilayah udara Saudi. Keterlibatan Iran di bagian Semenanjung Arab ini tidak pernah membesar, Iran baru akan menjadi jauh lebih aktif hanya setelah Inggris keluar, pada tahun 1971.

Pasukan Royalis Yaman mencoba untuk mengusir serangan lapis baja Mesir menggunakan senapan recoilles 106mm (Mesir menggunakan tank T-34 di Yaman). (Sumber: Koleksi Tom Cooper/http://www.acig.org/)

FEDERASI ARAB SELATAN 

Pada tahun 1963 Inggris berupaya melakukan segala yang mungkin untuk memperbaiki situasi di Aden dan pertahanan melawan serangan Yaman Utara dan Mesir. Koloni Aden kemudian direorganisasi menjadi Federasi Arab Selatan (FSA), yang diberi semacam otonomi dan dapat membentuk angkatan bersenjata sendiri, tetapi tetap berada di bawah kekuasaan Inggris. Namun, ini tidak cukup untuk memadamkan keinginan penduduk setempat untuk mendapatkan kemerdekaan, atau untuk menyelesaikan perbedaan antara suku-suku di wilayah Aden dan Yaman. Akibatnya, pasukan Inggris yang ditempatkan di Aden semakin di bawah tekanan, dan berulang kali mengalami serangan teroris baru terhadap instalasi mereka. Dalam keadaan ini RAF di Aden semakin diperkuat, terutama dengan pesawat tempur pengintai Hunter FR.Mk.10 dan helikopter transport Belvedere dari Sqn No. 26, keduanya berbasis di Khormaksar, yang merupakan salah satu lapangan terbang tersibuk di dunia. RAF secara mengejutkan diperkuat pada Desember 1963, ketika sebuah pesawat transport Il-14 Angkatan Udara Yaman mendarat di Lodar karena kesalahan navigasi, dan dirampas. Inggris lalu menguji pesawat ini selama beberapa waktu dan kemudian menggunakannya dalam dinas operasional RAF. Sementara itu, Yaman Utara menjadi semakin agresif, yang pada gilirannya memaksa Inggris untuk meningkatkan dukungan mereka untuk para pembangkang terhadap rezim di Sana’a. Setelah kelompok tentara bayaran tambahan dan senjata terbukti tidak memadai, dan unit-unit militer FSA yang baru terbentuk terbukti tidak mampu mengatasi masalah, Inggris menyiapkan operasi mereka sendiri. 

Pesawat tempur Hunter dari Skuadron RAF yang tidak diketahui terlihat saat meluncur di landasan Khormaksar, yang merupakan salah satu lapangan terbang tersibuk di seluruh kerajaan Inggris, pada tahun 1960-an. (Sumber: Koleksi Tom Cooper/http://www.acig.org/)

Pada 4 Januari 1963 mereka mengerahkan tiga batalion, didukung oleh artileri, kendaraan lapis baja, dan RAF dalam Operasi Nutknacker. Pasukan ini pertama-tama maju ke Wadi Rabwa, markas teroris terdekat, dan kemudian menempatkan tempat itu di bawah tembakan artileri. Helikopter Wessex HU.Mk.5 dari skuadron NAS 815, yang dikerahkan dari kapal induk komando, HMS Centaur ke Khormaksar – digunakan untuk mengerahkan satu batalion ke Wadi terdekat, dan dari sana sebuah serangan dimulai, didukung oleh pembom tempur tempur Hunter dan pembom Shackleton. Wadi Rabwa jatuh, dan pada bulan Februari Inggris bahkan berhasil mengamankan jalan dari tempat itu ke Aden. Namun, jalur komunikasi mereka mendapat serangan hebat dan akhirnya Inggris harus menyerah ketika menjadi jelas bahwa mereka tidak dapat mengamankan Wadi Rabwa. Sebaliknya, mereka hanya memperkuat garnisun di Thumier. Namun, pihak Yaman Utara dan Mesir telah menyiapkan serangan mereka ke FSA, dalam mengurangi tekanan pada para pejuang lokal sekutu mereka. Pada 13 Maret 1963 mereka memulai serangan besar-besaran terhadap pos perbatasan di Beihan, dengan dukungan dari helikopter dan pesawat tempur MiG-17. Pada gilirannya, pada tanggal 28 Maret delapan Hunter RAF membom Fort Harib di Yaman, menyebabkan kerusakan parah. Sama seperti operasi sebelumnya terhadap Wadi Rabwa, serangan terhadap Fort Harib hanya membawa hasil minimal – jika ada, dan menjadi jelas bahwa operasi yang jauh lebih besar diperlukan untuk mengubah situasi. 

Pasukan Inggris membersihkan ranjau dari jalan, dengan dilindungi oleh dua mobil lapis baja Ferret dan sebuah pesawat patroli Beaver AL.1. (Sumber: Koleksi Tom Cooper/http://www.acig.org/)

Akibatnya, selama bulan April, sebuah gugus tugas baru diorganisasikan di Aden, yang terdiri dari Commando Royal Marines ke-45, sebuah kompi dari satuan Para ke-3, dua batalyon infanteri, beberapa mobil lapis baja, beberapa artileri dan pasukan zeni, serta satu skuadron SAS, yang akan didukung oleh beberapa helikopter Scout dan Sioux. Pada tanggal 29 April, sekelompok operator SAS dikerahkan dengan helikopter di Cap Badge Hill, di mana mereka akan menandai zona penerjunan untuk 120 pasukan payung. Namun, begitu SAS mendarat, mereka diserang dengan gencar oleh para gerilyawan, dan harus meminta bantuan dari Pesawat-pesawat Hunter RAF dari Sqn No. 43 dan 208. Pada jam-jam berikutnya pilot RAF menembakkan lebih dari 7.000 peluru kanon 30mm mereka, yang akhirnya memungkinkan personel SAS untuk mundur dari posisi mereka yang terbuka, namun penerjunan dari udara oleh pasukan payung dibatalkan, dan operator SAS masih terperangkap. Pada hari berikutnya, pasukan komando Marinir maju di sepanjang Wadi Rabwa, tetapi dihentikan oleh beberapa penyergapan: kurangnya dukungan dari pasukan payung yang seharusnya akan menyerang posisi musuh dari belakang, menyebabkan marinir tidak dapat melanjutkan kemajuan gerakan mereka. Namun demikian, sementara itu Inggris berhasil membawa senjata-senjata artileri mereka ke posisi di mana mereka dapat menjangkau Cap Badge. Penembakan hebat dan serangan lanjutan dari Hunter akhirnya memungkinkan Marinir untuk merebut bukit pada malam hari hingga 5 Mei. Bersamaan dengan itu, sebuah kompi dari pasukan Para ke-3 maju di Thumier, tanpa dukungan artileri dan bergerak di medan yang sangat sulit, mereka hanya dapat mengandalkan dukungan pesawat pembom dan pesawat angkut RAF. Karena itu, helikopter-helikopter Belvedere, Scout, dan Beaver menjadi sangat sibuk dalam mengirimkan suplai, sementara pesawat-pesawat Hunter menghancurkan posisi musuh satu demi satu di depan mereka. Begitu Thumier diamankan, enam helikopter Wessex dari skuadron NAS 815 ditempatkan di sana. Namun, butuh beberapa hari bagi Inggris untuk memperpanjang landasan pacu setempat sehingga pesawat transport Beverley dapat mendarat di sana juga. 

Pasukan SAS Inggris di Aden. (Sumber: https://sofrep.com/)

Ketika Marinir dan pasukan payung Inggris terlibat dalam serangkaian pertempuran dengan para gerilyawan, Inggris juga mengerahkan seluruh Brigade ke-39 dengan beberapa Tank Centurion dari Irlandia Utara ke Aden. Bersama dengan Marinir, SAS dan pasukan para, unit ini adalah untuk ambil bagian dalam operasi berikutnya, dilanjutkan dengan serangan besar pesawat Hunter dan Shackleton terhadap Mt. Bakri dan Wadi Misrah. Pada tanggal 18 Mei Para ke-3 maju ke arah ini dan mencapai Qudishi hanya dengan menghadapi perlawanan kecil. Mengingat situasi tersebut, Inggris memutuskan untuk melanjutkan gerakan lebih jauh ke selatan. Dalam serangan berulang kali, pesawat-pesawat Hunter menghantam pemberontak dengan keras, menyebabkan banyak kerugian, dan kemudian beberapa gugus tugas dibentuk, masing-masing terdiri dari tiga helikopter Scout, beberapa Wessex dan hingga 20 personel Para atau komando Marinir. Didukung oleh Pesawat Hunter dan Scout tambahan, pada hari-hari berikutnya satuan tugas tersebut dikerahkan untuk merebut Wadi Misrah dan Wadi Dhubsan, pada 4 Juni. Pada hari-hari berikutnya Inggris dan unit-unit FSA yang sudah terhubung akhirnya mencapai posisi di mana mereka dapat maju di Jebel Huriyah. Para pemberontak melakukan serangan balasan di Wadi Misrah, memukul salah satu unit FSA di sayap, tetapi Hunter RAF sekali lagi menyelamatkan hari itu dengan sejumlah serangan yang sangat tepat, dan pada 8 Juni daerah itu akhirnya diamankan. Menghadapi kerugian besar, para pemberontak mundur, dan, setelah mengerahkan MBT Centurion ke daerah itu, pada malam hingga tanggal 11 Juni Inggris menyerang Huriyah. Medan perang secara efektif diterangi oleh peluru suar yang dijatuhkan dari pesawat-pesawat Shackleton dan serangan itu menjadi sangat efektif. Huriyah jatuh pada pagi berikutnya, tetapi daerah sekitarnya tidak bisa diamankan sampai bulan November, ketika – terutama karena serangan udara RAF yang hampir berkelanjutan – panglima perang lokal menawarkan gencatan senjata. Pada saat itu, wing Hunter RAF di Khormaksar telah menerbangkan lebih dari 1.000 sorti tempur, dan menghabiskan 2.508 roket serta 183.000 peluru kaliber 30mm. Beberapa lusin sorti tempur diterbangkan juga oleh pembom-tempur Buccaneer dari  kapal induk HMS Eagle, sementara helikopter-helikopter Angkatan Laut Kerajaan menjadi tidak tergantikan dalam mendukung pasukan di medan tempur. Pesawat Transport dan helikopter RAF bahkan lebih aktif, tidak kurang dari 20.000 sorti berhasil dicatat, yang sebagian besar berlangsung dalam waktu hanya 20 menit. Angka-angka ini menggambarkan betapa kerasnya pertempuran dan intensitas operasi saat itu. 

Helikopter transport berotor ganda Bristol Belvedere, menjadi tulang punggung armada helikopter transport Inggris selama Krisis di Aden. (Sumber: twitter)

SERANGAN MESIR 

Sementara itu, saat CIA mengetahui tentang upaya Inggris untuk mendukung para pembangkang di Yaman. Almarhum Presiden Kennedy berusaha memberitahu London untuk menghentikan kegiatan ini, tetapi setelah kematiannya situasinya berubah dan tak lama kemudian Amerika Serikat juga terlibat secara tidak langsung, terutama pada tahun 1964 saat orang-orang Mesir telah menempatkan 40.000 prajurit di negara itu dan Badr memerlukan semua bantuan yang dia bisa mendapatkan. Karena para pembangkang sekarang menerima pengiriman senjata dan pasokan dalam jumlah besar (bahkan dengan cara klandestin) dari Inggris melalui Djibouti, pada Oktober 1964, tentara Mesir dan militer Yaman berupaya melakukan serangan terhadap Haradh. Namun upaya ini, dihentikan karena unit lapis baja Mesir menderita kerugian besar saat maju di daerah pegunungan. Pada Juli 1964, Inggris telah mengumumkan niat mereka untuk menarik kembali dari semua  kepemilikan mereka di sebelah timur Suez pada tahun 1968. Keputusan ini memiliki dampak yang buruk bagi banyak negara dalam 30 tahun berikutnya, tetapi terutama bagi FSA dan Aden, di mana Inggris berniat untuk tetap mempertahankan basis operasi kecil. Orang Mesir dan pemberontak di FSA (salah) memahami keputusan ini sebagai tanda-tanda dari kelemahan Inggris, dan dalam minggu-minggu dan bulan-bulan berikutnya pasukan dan fasilitas Inggris di mana-mana di FSA berulang kali diserang. Situasi membaik hanya di Yaman Utara, di mana kaum Royalis melakukan serangan balasan di daerah Haradh, menempatkan beberapa garnisun Mesir di bawah pengepungan. Ketika Angkatan Darat Mesir berusaha menerobos untuk mengepung pasukannya, pasukan itu menderita kerugian besar dan beberapa konvoi pasokan hancur total. Akhirnya tiba saatnya bagi UARAF untuk mengurus pasokan garnisun yang terkepung dari udara.

Kerusakan akibat pemboman Mesir atas Desa Marib. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)
Pasukan Royalist merebut kendaraan lapis baja BTR-40 milik Mesir dekat Haradh. (Sumber:https://en.m.wikipedia.org/)
Ofensif Messir dalam Perang Saudara di Yaman. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Pada tahun 1965, orang-orang Mesir di Yaman putus asa: bahkan ketika mereka perlahan-lahan mempelajari banyak pelajaran menyakitkan dari peperangan COIN (anti gerilya), mereka tidak dapat mengendalikan situasi, sementara perang telah memakan korban terlalu banyak orang dan peralatan mereka. Pada akhirnya, Presiden Nasser menawarkan untuk menandatangani perjanjian dengan Raja Saudi, yang menurutnya kedua belah pihak akan berjanji untuk berhenti mendukung kelompok oposisi satu sama lain. Menurut perjanjian ini, orang Mesir juga tidak lagi melakukan serangan terhadap sasaran di wilayah Saudi, sedangkan Saudi akan berhenti mendukung Badr. Pada gilirannya, orang-orang Mesir berjanji akan keluar dari Yaman pada bulan September 1966. Untuk mengendalikan kedua belah pihak, PBB diminta untuk mengerahkan pengamat ke daerah-daerah perbatasan: mereka tiba di Yaman dan Arab Saudi dengan beberapa pesawat transport DHC Caribou dan Otter. Namun, ketika Nasser mengetahui tentang keputusan Inggris untuk menarik diri dari FSA, ia mengubah keputusannya. Perjanjian tentang plebisit di Yaman menjadi batal demi hukum dan tiba-tiba jumlah pasukan Mesir di Yaman meningkat, pertama menjadi 50.000, dan kemudian menjadi 70.000. UARAF diperkuat dan sekarang sering menggunakan pembom Tu-16 dan Il-28 untuk menyerang wilayah Jizan dan Najrab. Dalam satu kasus, MiG-17 – dilaporkan diterbangkan oleh pilot Rusia – bahkan menyerang lapangan udara Khamis Mushayt, jauh di dalam Arab Saudi, menembaki beberapa bangunan terisolasi yang sialnya termasuk rumah jaga, di mana sejumlah personil Angkatan Darat Arab Saudi tewas. 

BALA BANTUAN UNTUK RSAF 

Bersamaan dengan operasi skala besar mereka di FSA timur dan selatan, Inggris juga sibuk mendukung para pembangkang Yaman. Bantuan senjata untuk mereka dibeli bahkan dari Bulgaria, dan terutama diangkut ke Yaman timur oleh DC-4 dari Rhodesian Air Services Ltd. Pengiriman senjata dan pasokan untuk para pembangkang sangat penting juga untuk pertahanan Arab Saudi, sebagai negara besar tidak memiliki militer efektif pada saat itu, yang tentunya tidak akan dapat bertahan dari invasi yang didukung Mesir. Orang-orang Mesir lalu secara teratur,menyerang pangkalan pembangkang di wilayah Saudi. Tidak butuh waktu lebih lama sampai MiG-17 dan Il-28 EAF juga menerbangkan beberapa serangan terhadap kota-kota kecil Zahran dan Najran, sekitar 10nm (16km) dari perbatasan Yaman, masing-masing. Saudi hanya memiliki satu lapangan terbang di daerah itu, yaitu di Khamis Mushayt, yang sekitar 54nm (87km) dari titik terdekat di perbatasan Yaman, tetapi tidak kurang dari 54 dan 90nm (87 dan 145km) dari dua kota yang terancam hancur itu. Pada saat itu, Khamis adalah pangkalan yang sangat buruk: dibangun sebagai lapangan udara bantu di wilayah yang letaknya tidak kurang dari 2.134 m di atas permukaan laut, di ujung tebing curam, sekarang harus diperluas dengan cepat di tengah medan vulkanik dan berat serta terisolasi dari seluruh area. Landasan pacu kemudian diperpanjang menjadi 3.000 m, tetapi berada pada sudut yang tepat ke arah angin yang berlaku, yang mengarah pada pemanjangan jalur take-off dan landing run yang berlebihan, akibatnya keausan ban dan rem, kemudian akan menjadi faktor penting yang menyebabkan masalah besar pengoperasian pesawat terbang di wilayah ini. Meskipun demikian, Khamis menjadi fokus  dari keputusan untuk memperkuat Angkatan Udara Kerajaan Saudi dan melengkapinya dengan jet tempur yang lebih baik. Pada saat itu RSAF sudah dilengkapi dengan 12 Jet tempur North American F-86F Sabre, yang dioperasikan oleh Skuadron No.5, dan sepuluh pesawat latih Lockheed T-33A, yang dioperasikan dengan Skuadron No.15, yang keduanya berpangkalan di Dhahran. Semua pesawat ini telah dimiliki Arab Saudi sejak akhir 1953, bersama dengan enam Pesawat Angkut Fairchild C-123 Provider, beberapa C-47 (sudah dikirim sejak 1940-an dan awal 1950-an), dan dua C-54, yang semuanya dioperasikan oleh

Pilot dari Skuadron No.6 RSAF bersiap “terbang” di salah satu pesawat tempur Hunter yang menjadi tulang punggung unit ini pada tahun 1967, dan juga untuk beberapa waktu setelah Pesawat tempur Lightning tiba. Mengoperasikan Hunter dan Ligntning di Khamis adalah tanggung jawab Airwork Services Ltd, yang banyak mempekerjakan orang asing, utamanya asal Inggris. (Sumber: koleksi Tom Cooper/http://www.acig.org/)

No. 4. RSAF pada saat itu adalah – terlepas dari upaya besar Saudi – tidak lebih dari unit kecil USAF dan RAF. Namun demikian, sejak tahun 1962, sebuah kelompok studi yang dipimpin oleh Putra Mahkota Faisal, yang secara keseluruhan berwenang atas angkatan udara Arab Saudi dan dirinya sendiri merupakan seorang pilot berkualifikasi, telah mengidentifikasikan kebutuhan RSAF di masa depan, termasuk peralatan utama dan persyaratan pelatihan. Saudi menyimpulkan bahwa untuk pertahanan negara mereka, mereka harus memperoleh pesawat tempur supersonik, bersenjata rudal, dan dilengkapi radar, radar pertahanan udara modern, dan pesawat tempur dengan kemampuan serangan darat – bersama dengan pesawat angkut modern. Setelah mengevaluasi Dassault Mirage III, Lockheed F-104 Starfighter, Northrop F-5 Freedom Fighter, dan BAC Lightning, dan beberapa negosiasi tambahan antara AS dan Inggris, solusi sementara segera diselesaikan. Kontrak yang ditandatangani pada Januari 1966 antara Konsorsium Pertahanan Arab Saudi, British Aircraft Corporation, AEI dan Airwork Limited (UK), senilai $ 154 juta, yang termasuk pembelian enam pesawat tempur BAC Lightnings (empat kursi tunggal dan dua kursi ganda) dan baterai delapan peluncur untuk 37 rudal SAM Thunderbird I. Selain itu, jaringan pertahanan udara yang komprehensif, termasuk pembelian lebih banyak pesawat (diantaranya 22 penyergap BAC Lightning F.Mk.53 dan sejumlah pesawat serang Strikemasters), rudal, radar, dan semua sistem tambahan menyusul dibeli juga. Kesepakatan ini sebenarnya dibuat untuk memungkinkan Inggris mendapatkan uang untuk membiayai pesanan mereka untuk 50 pembom  tempur General Dynamics F-111 dari AS. Pesawat pertama yang dikirim ke Saudi adalah bekas RAF, sementara rudal Thunderbirds adalah belas AD Inggris, dan kesepakatan ini diberi nama sandi “Magic Carpet”. 

Rudal Pertahanan Udara Jarak Menengah Thunderbird yang turut dibeli Arab Saudi dari Inggris bersama dengan Pesawat tempur Lightning. (Sumber: Pinterest)

MASALAH MESIR & KEPERGIAN INGGRIS

Tidak dapat mencapai keberhasilan yang signifikan di Yaman, orang Mesir memulai kembali menggunakan senjata kimia. Dilaporkan, penggunaan ini terjadi dengan semacam perjanjian – atau bahkan bantuan langsung – dari USSR, yang memutuskan untuk menggunakan kesempatan tersebut untuk menguji senjata spesifik generasi baru mereka. Karena itu dimungkinkan bahwa beberapa misi berikut bahkan diterbangkan oleh personil Soviet sendiri, maka ketepatan serangan ini menjadi sangat baik. Serangan pertama dengan senjata kimia dilakukan pada 5 Januari 1967 terhadap desa el-Kitaf. Dua MiG-17 bertindak sebagai penanda sasaran, menjatuhkan bom asap: asap itu digunakan untuk mengenali arah angin. Tidak kurang dari sembilan Il-28 kemudian menjatuhkan bom 250kg yang diisi dengan gas VR-55 atau yang lainnya dari Generasi III. Ada juga kemungkinan bahwa T-Toxin yang digunakan, dicampur dengan gas Phosgene atau Mustard. Hampir 200 warga sipil tewas dalam serangan ini. Dalam serangan berikutnya – yang menewaskan 195 warga sipil terjadi pada bulan Februari – pesawat Mesir secara teratur menjatuhkan bom napalm setelah serangan gas, dilaporkan untuk menghancurkan barang bukti. Dalam satu kasus, pada tanggal 10 Mei 1967, beberapa bom kimia gagal meledak: ketika orang-orang Yaman berusaha mengambilnya untuk mengamankan barang bukti, orang Mesir menyerang lagi – juga dengan artileri – dan menghancurkan semuanya. Hanya tujuh hari kemudian serangan kimia yang paling ganas dilakukan, menewaskan 550 orang. Pemerintah Mesir kemudian membantah telah menggunakan gas beracun, dan mengklaim bahwa Inggris dan AS menggunakan laporan tersebut sebagai bentuk perang psikologis melawan Mesir. Pada 12 Februari 1967, mereka mengatakan akan menyambut penyelidikan PBB. Namun pada tanggal 1 Maret, Sekjen PBB, U Thant mengatakan bahwa dia “tidak berdaya” untuk menangani masalah ini. Apa pun jenis senjata kimia yang digunakan, dapat dipastikan bahwa perkembangan ini sudah cukup untuk membuat semua tentara bayaran Inggris dan Prancis untuk meninggalkan negara itu. Baik pejabat London maupun Washington tidak melakukan apa pun terhadap serangan-serangan ini – terutama karena hampir pada saat bersamaan AS juga menggunakan zat kimia di Vietnam, meskipun saat itu bukan disebut sebagai senjata kimia.

Mesir ditengarai telah menggunakan senjata kimia dalam perang di Yaman, yang banyak memakan korban sipil. (Sumber: https://medium.com/)
Situasi di Yaman Utara tahun 1967. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)
Setelah 22 tahun berkutat di Aden, Inggris memutuskan untuk pergi pada tahun 1967. (Sumber: https://www.iwm.org.uk/)
Setelah memakan puluhan ribu korban dalam waktu 5 tahun, akhirnya Mesir pun secara bertahap mengikuti jejak Inggri dengan mundur dari Yaman (Sumber: https://www.abc.net.au/)

Sementara itu, meskipun Operasi Magic Carpet terus memperoleh kemajuan, dengan Pesawat-pesawat Hunter RSAF dari Sqn No. 6 menerbangkan patroli reguler di sepanjang perbatasan, mereka tidak pernah berencana untuk beroperasi di luar wilayah Yaman. Benar saja, kehadiran mereka sudah cukup, hanya ada beberapa penyusup udara Mesir yang tampaknya tertarik untuk menguji pertahanan lawannya, bahkan meski Inggris dan Saudi tidak memiliki jangkauan radar yang efektif untuk mendeteksi musuh di ketinggian rendah. Alih-alih, satu-satunya pesawat yang datang ke Khamis adalah pesawat transport C-130 Hercules RSAF, yang membawa sebagian besar perbekalan dan surat, dan sesekali DC-6 PanAm atau TWA. Pada musim semi 1967 London mengulangi niatnya untuk mengosongkan pangkalan di Aden, dan memberi FSA kemerdekaan. Itu adalah pertanda untuk lebih banyak masalah, meski demikian semua pasukan Inggris yang tersisa di Aden ditarik sepenuhnya. Namun demikian, pada Juni 1967, orang Mesir juga menderita kekalahan besar dalam Perang Enam Hari melawan Israel: salah satu keputusan pertama setelahnya adalah mereka segera menarik semua pasukan yang tersisa dari Yaman. Nasser setuju untuk menarik diri dari Yaman dengan imbalan bantuan keuangan besar-besaran dari Saudi untuk memperbaiki kehancuran militer Mesir akibat peperangan dengan Israel. Arab Saudi, Libya, dan Kuwait setuju untuk memberikan subsidi tahunan sebesar $ 266 juta kepada Mesir, di mana $ 154 juta harus dibayarkan oleh Arab Saudi. Dalam petualangannya di Yaman dari tahun 1962-1967, 26.000 tentara Mesir tewas. Sebaliknya, selama 22 tahun keadaan darurat dan perang di Aden, Inggris – terlepas dari pertempuran yang tak terhitung jumlahnya, baku tembak dan seluruh pertempuran, bom mobil dan semua jenis serangan teroris lainnya – kehilangan hanya 90 orang tewas dan 510 orang terluka. Pengalaman Inggris di Aden menunjukkan banyaknya masalah yang dihadapi oleh kekuatan militer konvensional saat berhadapan dengan gerilyawan yang didukung oleh pihak luar. Namun, secara bersamaan, pengalaman di Aden menunjukkan apa yang mungkin dicapai oleh suatu pasukan keamanan dan militer yang kecil dan terlatih dapat menghadapi tantangan yang ada. Bagi Mesir, Yaman adalah mimpi buruk. Pada musim semi 1967, presiden Mesir, Gamal Abdel Nasser, menyatakan penyesalannya kepada duta besar A.S. di Kairo bahwa perang di Yaman telah menjadi “Vietnam.” baginya. Dia kemudian menjelaskan kepada seorang sejarawan Mesir bagaimana konflik itu bisa lepas kendali: “Saya mengirim satu kompi ke Yaman dan akhirnya memperkuatnya hingga menjadi 70.000 tentara.” Selama perang lima tahun, dari tahun 1962 hingga 1967, Nasser kehilangan puluhan ribu orang, menghamburkan miliaran dolar, dan menempatkan dirinya sendiri tersudut secara diplomatik, dimana satu-satunya jalan keluar baginya adalah dengan mengobarkan perang melawan Israel. Ironisnya 48 tahun kemudian Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi, kembali mengirim pasukan darat Mesir ke Yaman untuk mendukung intervensi militer Saudi dalam melawan Pemberontak Houthi yang disokong Iran di sana.

KEHADIRAN SOVIET 

Setelah penarikan Inggris dari Aden, dan Mesir dari Yaman, Federasi Arab Selatan berhenti mendukung kaum royalis Yaman, sebaliknya mereka mulai mendapatkan dukungan dari Iran dan Arab Saudi. Untuk membuat masalah menjadi lebih rumit, kaum republiken di Sana’a juga terpecah. Pada bulan November 1967, saat melakukan kunjungannya di Kairo, presiden dicopot dari jabatannya: rezim baru segera meminta bantuan kepada Uni Soviet, yang secara bersamaan mulai mendukung pemerintah baru di Federasi Arab Selatan, sementara itu dinamai kembali sebagai Republik Demokratik Rakyat Yaman (PDRY) – tetapi biasanya dikenal sebagai Yaman Selatan. Sebagai pengakuan atas pentingnya daerah itu untuk keperluannya dalam Perang Dingin, Soviet lebih dari senang untuk membangun sejumlah besar instruktur dan mengirim sekitar 30 pesawat taktis di Yaman. Grup Soviet pertama tiba di daerah yang sekarang menjadi Yaman Utara pada akhir November 1967, dan ketika mereka melakukan penerbangan sosialisasi sektor pertama mereka dengan MiG-17 Yaman, terjadi beberapa pelanggaran perbatasan, mengakibatkan beberapa Hunter RSAF dari Khamis Mushayt melakukan penyergapan berkali-kali. Yang menarik, pada sekitar waktu inilah pilot mereka akhirnya diberikan izin untuk menembak, salah satu pilot Saudi yang baru saja bergabung dengan unit dengan cepat mengambil keuntungan dari situasi ini, untuk menunjukkan dirinya cukup siap, dia segera menyerang pedesaan segera setelah take off … menembaki lapangan terbang dan kamp tentara di dekatnya dengan peluru kanon 30mm tanpa peringatan sebelumnya, sebelum wingman asal Inggris memperingatkannya untuk menghentikan praktik ini. Untung saja tidak ada yang terluka … Sementara itu, kaum Royalis di Yaman Utara tidak diam saja, dengan meningkatnya dukungan dari Arab Saudi dan Iran, mereka sekarang diberi senjata dan amunisi yang lebih baik daripada sebelumnya; pada bulan Desember saja mereka menembak jatuh dua MiG Yaman. Salah satu pilot yang tertembak diidentifikasi secara positif sebagai orang Rusia, yang akhirnya memberikan bukti bahwa “penasihat” Soviet sekarang aktif bergabung dengan Angkatan Udara Republik Yaman, jelas mereka sekarang menggantikan posisi Mesir. 

Peta Yaman tahun 1967-1990 saat negeri ini terpecah menjadi dua: Yaman Utara dan Yaman Selatan. (Sumber: https://www.edmaps.com/)

Pada 9 Januari 1968, sekelompok jenderal Saudi mengunjungi Khamis untuk memeriksa lapangan terbang dan fasilitas lokal. Mereka diterbangkan dengan C-130 yang dikawal oleh dua Hunter selama 160 kilometer terakhir, situasinya menjadi tegang saat itu. Setelah pemeriksaan lapangan terbang dan peralatan, perintah diberikan bagi mereka untuk bersiap penuh pada waktu fajar hingga dua hari berikutnya, karena meningkatnya ketegangan di sepanjang perbatasan. Hal ini meningkatkan moral pilot-pilot Inggris dan Pakistan (yang memperkuat AU Saudi), dimana kemudian akhirnya mereka ada kemungkinan beraksi. Pada 13 Januari, para pilot kembali dipanggil untuk bersiap di kokpit, karena sebuah pesawat Yaman terbang di atas pelabuhan Jizan, dekat perbatasan. Sebuah Lightning dikirim dalam sebuah patroli di atas area itu, dan sebuah Hunter mengikuti, tetapi tanpa hasil apa pun. Pada sekitar waktu ini kemungkinan untuk melakukan serangan terhadap lapangan udara Yaman di dekatnya dibahas, tetapi – bertentangan dengan beberapa rumor yang muncul kemudian di media – tidak ada penyerangan yang pernah diterbangkan, bahkan meski Saudi pada satu titik pernah menawarkan kepada kaum Royalis untuk mendukung mereka dengan serangan udara menggunakan pesawat-pesawat Lightning. Namun demikian, aktivitas di perbatasan menyebabkan Skuadron No.6 sekarang menyiapkan dua pilot dari pesawat Hunter dan Lightning untuk senantiasa siaga di dari fajar hingga petang setiap hari hingga akhir Januari 1968. Akhirnya, pada akhir bulan yang sama, Komandan Skuadron No.6 memerintahkan para pilot agar siaga 24 jam: tidak untuk mempertahankan Khamis Mushayt, tetapi untuk bersiap-siap mengevakuasi pesawat mereka jika daerah tersebut terancam! Karena perintah ini, maka tidak ada penerbangan sampai 4 Februari, ketika ketegangan mereda hingga tahapan bahwa program terbang “rutin” dilanjutkan selama beberapa hari – setidaknya sampai unit itu kehabisan suku cadang. Pada titik ini, para pilot Skuadron No.6 tidak terbang lebih dari sepuluh jam sebulan, yang hanya sepertiga dari kondisi semula dan hampir tidak cukup bagi mereka untuk tetap beroperasi. Ini tidak menjadi masalah lagi, maka pada tanggal 31 Maret 1968 saat kontrak Magic Carpet berakhir, tenaga administrasi dan teknis Pakistan datang untuk mengambil alih posisi-posisi dari pihak Inggris 

Salah satu dari empat Lightning F. MK2 bekas RAF yang diperoleh oleh RSAF sebagai pesawat interim untuk Skuadron No.6 yang baru, seperti terlihat sedang berpatroli di dekat perbatasan ke Yaman. Perhatikan rudal udara-ke-udara Firestreak di bawah kokpit. (Sumber: Koleksi Tom Cooper/http://www.acig.org/)

Mempertahankan pesawat-pesawat Hunter tua terbukti terlalu sukar dilakukan teknisi Pakistan saat itu, akibatnya beberapa teknisi dipertahankan untuk membuat mereka tetap beroperasi sampai mereka diterbangkan ke Yordania, membantu menggantikan kerugian pesawat-pesawat RJAF yang hancur dalam Perang Enam Hari. Sementara itu, di tempat yang sekarang menjadi Yaman Selatan, jelas bahwa sesuatu harus dilakukan dengan cepat untuk membuat angkatan udara lokal bisa beroperasi kembali. Pemerintah di Aden meminta bantuan asing, Mesir menjadi negara pertama yang merespons. Seorang pilot EAF yang terluka selama Perang Enam Hari adalah salah satu penasihat asing pertama yang tiba, tetapi ia juga segera pergi, setelah beberapa “ketidaksepakatan” dengan komandan PDRYAF (AU Yaman Selatan). Aljazair juga menyediakan satu pilot helikopter, tetapi ia merusak dua helikopter Sioux dan segera pergi juga. Akhirnya, Yugoslavia menyediakan sekelompok pilot dan hanya dengan inilah yang memungkinkan PDRYAF untuk mulai kembali beroperasi normal. Orang-orang Yugoslavia mahir dalam menggunakan pesawat buatan AS / Inggris seperti juga pesawat Soviet, dan segera setelah mereka tiba, angkatan udara yang masih muda ini kembali ke udara melawan pemberontak dan mendukung pasukan darat. Selama operasi ini, pada tahun 1968, dua helikopter Sioux diketahui telah jatuh, satu karena terbang terlalu tinggi di atas pegunungan di utara Aden. Yang ketiga ditembak jatuh, mengakibatkan kematian seorang pilot Yugoslavia. Sebuah pesawat transport Beaver rusak dalam pendaratan darurat yang disebabkan oleh kegagalan mesin, dan sebuah C-47 juga diketahui telah ditembak jatuh. Pesawat itu sebenarnya rusak parah saat digunakan menerbangkan sortie pasokan, dan kru Bulgaria yang menerbangkannya jatuh saat mendekati Ataq. Akhirnya, salah satu Jet Provosts rusak karena terbang melalui puing-puing roket yang ditembakkannya sendiri – setelah terbang di bawah ketinggian aman, sementara yang lain rusak berat oleh tembakan darat. Pada tahun 1968 juga orang-orang Rusia pertama tiba, bersama dengan membawa beberapa MiG-15, yang dikirim dengan beberapa kali angkutan menggunakan pesawat An-12. Peralatan Soviet sekarang mulai menjadi andalan Angkatan Udara Yaman Selatan. 

KLAIM KUBA 

Sebagian besar pertempuran di Yaman Utara selama 1968 dan 1969, bagaimanapun, terjadi di darat dan dalam bentuk pertempuran kecil – banyak dari mereka bertempur di perbatasan ke Arab Saudi. Serangkaian pertempuran ini yang dimulai pada Agustus 1969 memuncak pada bulan Desember, ketika pesawat/pesawat Lightning dari Sqn No.6 RSAF menerbangkan serangkaian serangan terhadap berbagai posisi perbatasan Yaman. Selama aksi ini mereka didukung oleh pesawat-pesawat F-86F Sabre; saat mereka dikembalikan ke Dhahran, Sqn No.6 dan Lightning-nya tetap di Khamis, yang kemudian dikembangkan menjadi instalasi besar yang signifikan secara strategis. Setidaknya satu pesawat tempur Saudi diklaim ditembak jatuh ketika berpartisipasi dalam misi ini. Sumber-sumber spesifik mengklaim bahwa Lightning ini dihancurkan dalam pertempuran udara dengan MiG-21 yang diterbangkan oleh pilot Kuba. Namun, tidak ada bukti terkonfirmasi untuk klaim tersebut. Skuadron No.6 RSAF memang menderita beberapa kerugian selama periode waktu ini – tetapi tidak disebabkan oleh pihak Yaman. Pada tahun 1968, sebuah Lightning hancur ketika seorang pilot Saudi mencoba untuk mendaratkannya di Khamis dengan satu mesin setelah mengalami kerusakan sistem bahan bakar. Lightning RSAF lain dari unit ini hilang di Inggris, ketika seorang pilot uji coba BAC yang baru dikonversi melakukan pendaratan darurat dalam kondisi angin yang kuat. Yang terakhir sebuah Hunter jatuh setelah menerbangkan serangkaian penerbangan spektakuler di ketinggian rendah di atas lapangan udara Taif pada tanggal yang tidak diketahui. Selain itu tidak ada kerugian lain yang diketahui terjadi sekitar periode waktu itu bagi Arab Saudi – terutama dalam Skuadron No.6.

Pesawat tempur Lightning terlihat saat terbang di atas lanskap tandus daerah Khamis Mushayt. (Sumber: Koleksi Tom Cooper/http://www.acig.org/)

Sebaliknya, meskipun ada masalah yang hampir permanen dengan pasokan suku cadang, pilot unit ini tidak pernah mengeluh tentang serangkaian masalah mekanis, bahkan meski Saudi tidak dianggap sepenuhnya memenuhi syarat menggunakan Lightning hingga tahun 1970-an. Alasan yang umum adalah karena pusat operasi RSAF setempat, terus terlambat untuk menerbangkan pesawat tempurnya ketika mereka dibutuhkan. Di sisi lain, selain Soviet, Irak juga mulai mendukung Partai Republik di Yaman, terutama dengan mengirimkan senjata. Dalam sebuah insiden, sebuah pesawat angkut An-12B Irak yang sedang terbang mengirimkan senjata kemudian dicegat oleh pesawat-pesawat Lightning pada Januari 1970 dan dipaksa untuk mendarat di Arab Saudi. Sementara itu Saudi juga mendukung orang-orang pelarian dari Yaman selatan, yang pada gilirannya menyebabkan sejumlah insiden perbatasan. Sovietlah yang membantu menstabilkan situasi dan mengakhiri perang di Yaman, namun minat utama mereka adalah untuk membangun dasar yang kuat untuk pengaruh mereka di daerah itu. Setelah dua tahun negosiasi, pada bulan April 1970, Partai Republik dan kaum Royalis membentuk pemerintahan koalisi dan negara itu direformasi menjadi Republik Arab Yaman (Yaman Utara). 

MIG UNTUK SEMUA PIHAK 

Angkatan Udara Republik Arab Yaman (YARAF) awalnya sangat kecil yang mulai menerima pesawat pertamanya dari Mesir. Pada tahun 1957, Cekoslowakia kemudian memasok beberapa pesawat pembom tempur Il-10 Sturmovik lama, tetapi YARAF baru dapat disebut berkembang hanya setelah Yaman bergabung dengan Republik Arab Bersatu (Negara gabungan Arab dan Syria), pada tahun 1962. Sejak itu Mesir dan Suriah menjadi pemasok utama yang lalu digantikan oleh USSR, pada tahun 1967. Sedikit yang diketahui tentang pengembangan YARAF di tahun-tahun berikutnya, kecuali bahwa mereka mengoperasikan pesawat-pesawat MiG-17 dan kemudian juga menerima sejumlah MiG-21PF selama akhir 1960-an. Tambahan MiG-21 dipasok pada awal 1970-an, tetapi kemudian Sana’a mendekati Arab Saudi dan beberapa negara Barat untuk mendapatkan bantuan, yang mengakibatkan putusnya sementara hubungan dengan Moskow. AS dan Saudi sangat berhati-hati dalam memasok senjata ke Yaman Utara. Baru pada tahun 1978, empat F-5B bekas RSAF pertama dikirim. Namun demikian, pada tahun-tahun berikutnya, uang Saudi dan pemerintahan baru di Washington memungkinkan mereka untuk melakukan pembelian 12 pesawat tempur F-5E dan dua pesawat angkut C-130H. Setelah pengiriman, pesawat ini diurus oleh tim personel kontrak asal Taiwan, yang juga bertanggung jawab untuk pelatihan pilot YARAF.

Pada tahun 1968 Inggris memasok setidaknya dua sampai delapan Provost Jet T.Mk.52 ke Angkatan Udara Yaman Selatan. Foto diatas adalah pesawat berseri “101”, terlihat di Khormaksar pada tahun itu. Hebatnya, pilot pertama Angkatan Udara Yaman Selatan praktis menjalankan sendiri seluruh Angkatan Udara Yaman Selatan selama hampir satu tahun. tahun – dan untuk ini ia menerima pembayaran tidak lebih dari GBP 44 sebulan!. (Sumber: http://www.acig.org/)
Dalam upaya untuk membawa rezim di Sana’a (Yaman Utara) lebih dekat ke Barat, pada akhir 1970-an Arab Saudi membiayai akuisisi dua pesawat angkut Hercules C-130H untuk YARAF (AU Yaman Utara). Nasib akhirnya dari pesawat ini tetap tidak diketahui, tetapi diragukan bahwa masih ada yang masih beroperasi sampai hari ini. (Sumber: Lockheed-Martin via Tom Cooper/http://www.acig.org/)
Yaman Selatan memperoleh sejumlah kecil pembom Il-28 dari Uni Soviet pada tahun 1970. Sebagian besar di antaranya sudah tidak beroperasi hanya dalam waktu beberapa tahun. (Sumber: Koleksi Tom Cooper/http://www.acig.org/)

Sementara itu, PDRYAF (AU Yaman Selatan) perlahan-lahan berkembang menjadi kekuatan yang dapat diperhitungkan, dari awalnya hanya diperkuat seorang pilot dan penasihat asing, akhirnya membuahkan hasil dalam bentuk peningkatan jumlah pilot baru yang memenuhi syarat. Selama akhir tahun 1960-an Soviet juga perlahan-lahan meningkatkan jumlah MiG-17 yang tersedia, yang diterbangkan oleh pilot Kuba. Pada tahun 1970 Inggris memasok empat pesawat BAC Strikemaster Mk.81 ke Yaman, tetapi ini menjadi akuisisi terakhir pesawat asal barat oleh PDRYAF. Dari tahun 1971, Uni Soviet dan Bulgaria mulai mengirimkan batch MiG-21F-13, dan kemudian juga Su-20M pertama. Pada akhir tahun itu, PDRYAF memiliki skuadron lengkap masing-masing dilengkapi MiG-17 dan MiG-21, unit lain dilengkapi dengan pembom tempur Su-20M dan Il-28, dan beberapa helikopter Mi-4 yang ditempatkan di Aden. Namun, sebagian besar masih diterbangkan oleh personel Kuba dan Soviet. Selama pertengahan 1970-an, cukup banyak Su-20M dan Su-22M yang dipasok untuk membentuk dua skuadron, dan kemudian Soviet mulai mengirimkan sejumlah helikopter tempur Mi-24, serta pesawat transport An-26. Selain itu, pesawat-pesawat MiG-23BN dan MiG-25R Soviet turut berbasis di Aden dan di Pulau Sokotra. 

PENYATUAN YAMAN

Menariknya, terlepas dari kenyataan bahwa Uni Soviet berpengaruh dalam mendukung negosiasi yang mengakhiri perang di Yaman Utara, dan kemudian juga mulai bekerja pada proses penyatuan baik – Yaman Utara dan Selatan -, namun begitu mereka bisa hadir di Yaman Selatan, mereka mulai mendukung pemberontakan di Dhofar, di Oman barat. Kedua proses tersebut terbukti sedikit terlalu berat untuk Uni Soviet pada waktu itu, para pemberontak di Dhofar dikalahkan dan tidak lagi menjadi faktor signifikan sejak tahun 1977. Perbedaan antara Yaman Utara dan Selatan sedemikian rupa sehingga terjadi perang singkat antara kedua negara pada tanggal 25 Februari 1979. Yaman Selatan menyerbu Utara, dan pasukannya merebut Qatabah, tetapi setelah adanya mediasi dari Suriah dan Irak, terjadi gencatan senjata dan militer Yaman Selatan mundur pada 13 Maret.

MiG-21MF milik PDRYAF (AU Yaman Selatan) ini dicegat dan difoto oleh pesawat tempur F-14A AL Amerika pada awal 1980an. Sayangnya, sedikit yang diketahui tentang kedua Angkatan Udara Yaman pada saat itu, sehingga pangkalan maupun unit yang mengoperasikan pesawat ini tidak diketahui. (Sumber: karya Tom Cooper/http://www.acig.org/)
MiG-21 milik AU Yaman Selatan di Aden tahun 1984, kebanyakan dari pesawat ini hancur dalam perang saudara tahun 1984. (Sumber: http://www.acig.org/)

Segera setelah pengalaman negatif ini, Sana’a kembali meminta bantuan dari Moskow dan dalam beberapa bulan sepuluh pesawat tempur MiG-21 baru dan sekitar 20 pembom tempur Su-22 dikirimkan ke Sana’a. Namun karena kurangnya dana, tenaga terlatih dan fasilitas pendukung, sebagian besar pesawat-pesawat ini sudah tidak lagi beroperasi pada awal 1980. Terlepas dari pengalaman yang amat buruk, sejak dari tahun 1979, Soviet tidak pernah menyerah dalam upaya mereka untuk menyatukan Yaman Utara dan Selatan. Upaya baru mereka menghasilkan membuahkan kesepakatan baru pada tahun 1981. Namun situasi pada saat itu sedemikian rupa sehingga meski ada dua kali lebih banyak instruktur Soviet di Utara, tetapi jauh lebih banyak bantuan dikirim ke Selatan, yang juga dianggap lebih penting secara strategis. Fakta ini menyebabkan pertengkaran baru antara Sana’a dan Aden, serta Moskow. Berkali-kali, terlepas dari semua upaya untuk menyatukan kedua negara, keduanya terus mengoperasikan pasukan militer yang terpisah – dan juga dua angkatan udara yang berbeda. Situasi ekonomi yang buruk dari kedua Yaman akhirnya memaksa Aden untuk mendekati kekuatan Barat untuk membantu dalam upaya meningkatkan penelitian dan eksploitasi minyak. Soviet tidak siap untuk mentolerir perkembangan seperti itu dan pada 13 Januari 1986 bagian dari Partai Sosialis yang berkuasa di Yaman Selatan mencoba melakukan kudeta. Tentara dan polisi tetap loyal kepada pemerintah lama dan melawan, akhirnya memaksa pemberontak kembali ke kedua pangkalan di Aden dan al-Halt. Akhirnya, Moskow menyadari bahwa mereka bisa kalah dalam situasi ini dan memerintahkan unit-unit lokalnya untuk mendukung pasukan pemerintah, sehingga pesawat-pesawat MiG-23BN Soviet dikerahkan dalam pertempuran melawan kudeta yang (awalnya) didukung Soviet. Akhirnya, hampir 75% kekuatan PDRYAF hancur dalam pertempuran, termasuk dua MiG-21 yang ditembak jatuh di atas Zinjibar saat mendukung upaya kudeta, termasuk 15 helikopter tempur Mi-25, yang jika dikirim beberapa bulan kemudian, seharusnya bisa lolos tanpa kerusakan andai disembunyikan tepat waktu. Meski demikian, setelah itu rezim di Aden kembali menjadi sekutu dekat Soviet, dan hal ini menghasilkan pengiriman senjata dan amunisi tambahan. Selain itu, sekarang Soviet mulai menempatkan pesawat Il-38 ASW (anti kapal selam) mereka di Aden, dan jumlah instruktur Soviet, Kuba, Korea Utara, dan Jerman Timur meningkat menjadi hampir 40.000 personel. Soviet juga membangun fasilitas angkatan laut yang signifikan dan lapangan terbang di Pulau Sokotra dari mana mereka berusaha mengendalikan seluruh Samudra Hindia bagian barat, serta Laut Merah yang ada di selatan jalur menuju ke Suez, serta pangkalan AS di Mesir selatan dan Oman.

Reunifikasi Yaman tahun 1990, Ali Saleh mengangkat bendera Yaman, di belakangnya Ali Salem al Beidh, keduanya menjadi Kepala Negara dan Pemimpin Pemerintahan Yaman bersatu. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)
Peta Yaman Bersatu, 1990-2015. (Sumber: https://www.edmaps.com/)

PDRYAF sepenuhnya dibangun kembali seiring berjalannya waktu; karena dengan kehilangan sejumlah besar pilot terlatih selama pemberontakan pada tahun 1986 kru baru harus dilatih. Namun, karena angkatan udara kecil tidak memiliki pesawat latih, sebagian besar pilot masa depan mereka harus dilatih di luar negeri. Pelatihan di dalam negeri sebagian besar diselenggarakan oleh personel Soviet dan Kuba, yang terakhir adalah yang paling bertanggung jawab atas penerbangan dan pelatihan pilot Yaman dalam menggunakan pesawat pembom tempur Su-22M dan Su-22M-3K. Sementara itu, pada bulan Mei 1988, kedua pemerintah Yaman Utara dan Selatan mencapai kesepakatan untuk mengurangi ketegangan, termasuk perjanjian untuk memperbaharui perundingan tentang penyatuan, untuk membangun area eksplorasi minyak bersama di sepanjang perbatasan mereka yang belum ditentukan, yang sekarang disebut Daerah Investasi Bersama, oleh Perusahaan Minyak Hunt dan Exxon. Pada bulan yang sama, mereka membentuk Perusahaan Yaman untuk Investasi dalam bidang Sumber Daya Mineral dan Minyak (YCIMOR). Pada bulan November 1989, Ali Abdullah Saleh dari Yaman Utara dan Ali Salim al-Beidh dari Yaman Selatan bersama-sama menerima rancangan konstitusi yang awalnya disusun pada tahun 1981, yang mencakup perbatasan demiliterisasi dan jalur perbatasan oleh Yaman berdasarkan satu-satunya kartu identifikasi nasional dan ibu kota ditentukan ada di Sana’a. Republik Yaman bersatu akhirnya dideklarasikan pada tanggal 22 Mei 1990. Ali Abdullah Saleh dari utara menjadi Kepala Negara, dan Ali Salim al-Beidh dari selatan menjadi Kepala Pemerintahan. Demikianlah, setelah melalui proses yang panjang dan berliku selama puluhan tahun, sebuah Yaman bersatu berhasil didirikan. Namun hal ini terbukti tidak menjadi akhir dari pertikaian di Yaman. Negeri ini masih didera berbagai friksi dan keinginan sebagian tokoh Yaman Selatan untuk membentuk negara sendiri. Dan kini seperti dimasa lalu, negeri ini kembali menderita perang saudara, yang ironisnya seperti dulu, melibatkan banyak negara-negara asing (termasuk nama-nama lama seperti Arab Saudi, Mesir dan Iran) dengan berbagai kepentingannya. Entah sampai kapan konflik di Yaman ini akan berakhir, tidak seorangpun tahu…..

Tentara Yaman bersiap menghadapi pemberontak Houthi, 6 November 2009. Kini negeri ini kembali koyak oleh Perang Saudara yang ironisnya kembali melibatkan banyak kekuatan asing. (Sumber: https://www.spiegel.de/)
Peta kekuasaan pihak-pihak yang bertikai di Yaman, per Desember 2019. (Sumber: https://www.bbc.com/)

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

South Arabia and Yemen, 1945-1995 By Tom Cooper; Sep 9, 2003, 05:43

https://web.archive.org/web/20060613022814/http://www.acig.org/artman/publish/article_204.shtml

Arabs at War, Military Effectiveness, 1948-1991 p 48 & 56 by Kenneth M. Pollack; 2002

Egypt’s Vietnam: Lessons from the last time Cairo waded into war in Yemen.

BY JESSE FERRIS, APRIL 3, 2015, 4:23 PM

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Yemeni_unification

https://en.m.wikipedia.org/wiki/North_Yemen_Civil_War

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *