Perang 27 Hari di Afghanistan, 2001: Perangnya CIA Dan Pasukan Khusus

Serangan-serangan teroris terhadap target-target di Amerika pada 11 September 2001 telah membangunkan negara itu dari kebiasaan “tidur” mereka dimasa damai. Orang-orang Amerika secara tradisional lebih banyak menghabiskan sebagian besar waktu mereka untuk mengejar tujuan pribadi, dengan versi mereka masing-masing akan apa yang disebut sebagai impian Amerika. Secara militer, Amerika juga punya kebiasaan mengurangi posturnya secara drastis di masa damai. Tetapi bagi banyak orang, peristiwa 11 September kemudian dengan cepat menyadarkan diri mereka, akan adanya ancaman yang selama ini bisa mereka abaikan karena skalanya yang tidak besar, yakni: Ancaman Terorisme! Ketika bangsa itu berduka, sama seperti serangan Jepang di Pearl Harbor, 60 tahun sebelumnya, telah membangkitkan kemarahan dan patriotisme bangsa ini yang menuntut keadilan. Namun berbeda dengan Jepang yang merupakan sebuah negara yang jelas, berdaulat, punya pemerintahan resmi sehingga keadilan itu lebih mudah untuk “dituntut”, misalnya dengan suatu pernyataan perang terbuka. Pada tahun 2001, mereka berhadapan dengan lawan yang berbeda dan tidak jelas. Teroris tidak punya kedaulatan, pemerintahan, dan wilayah yang pasti untuk diperangi, disinilah letak masalahnya. Meski demikian, jelas ada sesuatu yang harus dilakukan dan ada pihak yang harus dimintai pertanggungjawaban dan dihajar untuk melampiaskan kemarahan dan duka Bangsa Amerika ini. Sebagai ujung tombak dari aksi balasan ini, angkatan bersenjata AS bersiap untuk memulai jenis perang baru, yakni: perang melawan terorisme! Suatu perang yang kemudian akan terbukti menjadi perang terlama dan salah satu yang paling kontroversial dalam sejarah Amerika ini. Dalam waktu singkat secara bertahap, semua elemen kekuatan nasional difokuskan pada upaya-upaya intelijen, diplomasi, kesehatan masyarakat, keamanan, dan bahkan dalam bidang keuangan dan ekonomi untuk mempersiapkan perang mereka. Tujuan pertama dari perang baru ini adalah menemukan siapa teroris itu, di mana mereka dilatih, siapa yang melatih mereka, dan di mana mereka tinggal, sehingga Amerika dapat menghancurkan mereka dan infrastruktur mereka. Para pemimpin Amerika Serikat memutuskan bahwa mereka perlu untuk “mengeringkan rawa-rawa” dimana para teroris itu tinggal. Dan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini dengan cepat muncul: rawa terburuk yang menampung para teroris Al Qaeda yang dituding mendalangi aksi teror atas Amerika itu ada di Afghanistan!

Serangan Teroris di Amerika pada 11 September 2001 telah membangkitkan amarah bangsa Amerika kepada pihak-pihak yang mereka tuding ada dibalik aksi teror yang memakan ribuan nyawa itu. Dalam waktu singkat, Amerika mengarahkan pandangan mereka kepada Afghanistan yang dinilai melindungi kelompok teroris al-Qaeda. (Sumber: https://www.latimes.com/)

CIA AKAN PERGI BERPERANG

Saat senja pada tanggal 19 September 2001, delapan hari setelah serangan 11 September oleh kelompok teroris al-Qaeda, yang menewaskan hampir 3.000 orang, lima warga sipil Amerika setengah baya naik ke atas pesawat kargo militer di pangkalan udara AS di Maryland. Pakaian mereka menunjukkan bahwa mereka sedang akan melakukan perjalanan berburu atau berkemah, tetapi isi tas mereka menunjukkan hal yang berbeda. Di dalam tas mereka terdapat peta, telepon satelit, peralatan komunikasi rahasia, generator portabel, persediaan medis, dan — yang lebih mengerikan — terdapat beberapa senapan serbu AK-47 buatan Rusia. Mereka juga membawa tiga kotak besar yang bobotnya 45 pound: semuanya adalah uang tiga juta dolar dalam uang kertas pecahan $ 100.

Gary Schroen, operator veteran CIA yang terlibat langsung dalam misi Amerika untuk membentuk jaringan kerjasama aliansi Anti Taliban setelah serangan 11 September 2001. (Photo by Alex Wong/Getty Images/ https://www.gettyimages.com/)

Dipimpin oleh veteran yang telah bekerja selama 30 tahun, Gary Schroen, tim CIA akan bekerja dengan Gugus Tugas Dagger (Belati) yang direncanakan menjadi ujung tombak respons AS terhadap aksi serangan teroris 9/11. Apa misi utama dari Gugus Tugas Dagger ini? Misi mereka ada 2, yakni menyingkirkan pemerintah Taliban yang memberi perlindungan al-Qaeda di Afghanistan dan kemudian membuka jalan bagi masuknya pasukan konvensional ke Afghanistan. Schroen, yang berusia 59 tahun, dan beberapa pemimpin tim CIA lainnya akan memiliki tugas yang menantang, yakni membujuk pemberontak Aliansi Utara Afghanistan untuk melakukan serangan habis-habisan terhadap Taliban. Selain bantuan keuangan, Amerika Serikat juga menawarkan bantuan sekitar 400 pesawat serta beberapa detasemen Pasukan Khusus AS untuk mengarahkan serangan udara Amerika terhadap posisi-posisi Taliban. Operasi ini jelas bukanlah kehadiran militer asing pertama ke salah satu wilayah yang paling tandus dan diperebutkan di dunia itu. Alexander Agung di tahun 330 SM, telah menaklukkan, kehilangan pijakan, dan kemudian mundur dari sana. Inggris juga sempat menjalani ratusan pertempuran yang tidak menentukan di Afghanistan sepanjang abad ke-19 dan ke-20, dengan hasil yang mengecewakan. Dan yang terakhir Uni Soviet menginvasi negeri ini pada tahun 1979, hanya untuk mundur dengan malu satu dekade kemudian, sebagai korban dari para mujahidin keras kepala, yang melawan pasukan Soviet itu selama tahun 1980-an.

Konvoi pasukan Soviet melambai ke kerumunan selama penarikan mundur dari Afghanistan pada 15 Mei 1988. Berkaca pada pengalaman buruk Soviet menjalankan perang konvensional di Afghanista, Amerika berencana masuk ke negeri penuh konflik itu dengan pendekatan yang berbeda. (RICHARD ELLIS/REUTERS/https://www.theatlantic.com/)

Sudah akrab dengan kisah-kisah kegagalan banyak militer asing di Afghanistan ini, orang Amerika pada akhirnya mengambil pendekatan yang berbeda: Daripada mengandalkan kekuatan militer mereka sendiri, mereka memilih untuk mendukung dan mempengaruhi pasukan pemberontak lokal yang sudah memerangi pemerintah Taliban selama ini. Aliansi Utara — yang terdiri atas 15.000 petempur yang sebagian besar berasal dari tiga kelompok minoritas etnoreligius, suku Tajik, Uzbek, dan Hazara — telah lama terlibat dalam perjuangan melawan 45.000 petempur Taliban dan beberapa ribu sekutu asing Taliban lainnya, yang telah merebut kekuasaan di Afghanistan pada tahun 1996. Taliban sendiri sebagian besar terdiri dari militan asal kelompok etnis yang paling besar di Afghanistan, yakni etnis Pashtun. Tetapi komandan-komandan mereka — termasuk banyak pria yang berkaitan dengan al-Qaeda — diisi dengan personel rekrutan asing dari Pakistan, Chechnya, Uzbekistan, dan berbagai negara Arab. Pada saat World Trade Center diserang dan dihancurkan, Taliban, dengan keunggulan jumlah personel dan peralatan tempur telah mendesak pasukan Aliansi Utara ke sudut timur laut Afghanistan, dengan tank, artileri, dan senjata berat lainnya yang lebih banyak dan lebih baik. Saat itu kekuatan Aliansi Utara cuma bisa menguasai 15% dari wilayah Afghanistan, namun mereka memiliki satu kelebihan dibanding orang-orang Amerika, yakni mereka telah mengenal medan dan musuh Taliban mereka.

Persebaran etnik Afghanistan yang beragam dan terpecah-pecah membuat Amerika harus ekstra hati-hati dalam membentuk aliansi dengan pihak pemberontak Anti Taliban yang mayoritas berasal dari etnik minoritas Uzbek-Tajik-Hazara. (Sumber:http://www.history.army.mil/)
Jelang masuknya Amerika ke Afghanistan pada Oktober 2001, pihak Aliansi Utara hanya menguasai 15% wilayah di ujung utara Afghanistan. (Sumber: https://www.washingtonpost.com/)

Dengan perkembangan situasi semacam ini, CIA harus bisa meyakinkan komandan Aliansi, yang merupakan veteran perang melawan Soviet, bahwa pesawat dan beberapa Pasukan Khusus A.S. akan sanggup menggantikan kelemahan mereka dalam hal jumlah dan persenjataan yang mereka miliki. Menurut perhitungan mereka sendiri, CIA memperkirakan bahwa keberhasilan misi, jika mungkin, akan memakan waktu setidaknya enam bulan. “Mereka (Aliansi Utara) adalah orang-orang yang sering bertarung di antara mereka sendiri,” kata pemimpin Satuan Tugas Dagger, Kolonel John Mulholland, “dan mereka agak sukar untuk bersatu untuk berperang melawan penjajah dari luar.” Agen-agen CIA, sebelumnya telah bekerja secara diam-diam di Afghanistan selama hampir dua tahun sebelum peristiwa 9/11 terjadi, dengan memberikan bantuan material dan keuangan sebagai bagian dari upaya badan intelijen AS itu untuk melemahkan Taliban setelah peristiwa pemboman berdarah tahun 1998 yang dilakukan oleh Al-Qaeda terhadap dua kedutaan AS di Afrika. Sehari setelah serangan 9/11, George Tenet, direktur Badan Intelijen Pusat, mengusulkan Satuan Tugas Dagger untuk membantu Aliansi Utara menggulingkan Taliban. Mereka berencana untuk segera melakukan kontak dengan tiga pemimpin faksi Aliansi Utara yang paling kuat, yakni Jenderal Abdul Rashid Dostum, Mullah Daoud, dan Fahim Khan. Presiden George W. Bush dengan cepat menyetujui dan menugaskan kendali operasi militer di Afghanistan kepada Jenderal Tommy Franks, yang tanggung jawab komandonya mencakup wilayah Afghanistan. Frank memang menyukai jenis aksi kombinasi CIA – Pasukan Khusus ini. Penelitiannya tentang pengalaman Uni Soviet di Afghanistan telah meyakinkannya bahwa mengirimkan sejumlah besar pasukan darat konvensional hampir pasti akan mengarah pada perang yang berkepanjangan, korban besar, dan kemungkinan kekalahan. Memanfaatkan dan mendukung perjuangan Aliansi Utara melawan Taliban akan menempatkan sebagian besar tugas pertempuran darat ke tangan tentara Afghanistan, bukan Amerika.

Amerika menyukai ide untuk mengirimkan satuan kecil pasukan khusus yang bisa memanggil kekuatan udara Amerika yang menyertai kelompok petempur Afghanistan ketimbang menggelar tentara konvensional seperti Soviet saat masuk Afghanistan tahun 1979. (Sumber: https://www.stripes.com/)

Sebenarnya tidak ada yang baru di sini. Intervensi militer AS yang menggunakan pendekatan dengan menampilkan operasi gabungan Pasukan Khusus dan CIA telah muncul sekitar setengah abad, dimana Pasukan Khusus sangat ahli dalam mengarahkan dan membantu pasukan lokal non reguler. Yang mungkin paling terkenal, adalah apa yang terjadi sekitar 40 tahun sebelumnya, dimana mereka tinggal dan bekerja sama dengan suku-suku minoritas— seperti Hmong dari Laos dan Rhade, Mnnong, dan Nung di Vietnam Selatan — untuk melakukan penyerangan dan penyergapan terhadap unit-unit Angkatan Darat Vietnam Utara dan Vietcong. Kondisi di Afghanistan waktu itu sudah ideal untuk strategi semacam itu, dimana orang-orang Afghanistan sudah memberontak melawan pemerintah Taliban. Orang-orang di sana semakin menentang kebijakan wajib militer bagi pria muda; larangan menonton TV, film, dan musik; pembatasan cara berpakaian yang ketat; dan degradasi derajat wanita Afghanistan yang dijalankan oleh Taliban.

Ide mengirimkan pasukan khusus untuk bertempur bersama milisi lokal bukanlah hal baru, hal itu sudah dipraktekkan Amerika di Vietnam pada tahun 1960an. (Sumber: https://www.historyonthenet.com/)

MASUK KE AFGHANISTAN

Schroen dan orang-orangnya mulai memasuki negara itu pada tanggal 26 September 2001 dengan menggunakan helikopter Mi-17 yang diawaki oleh awak CIA, yang kemudian mendarat di Lembah Panjshir di Afghanistan utara-tengah sekitar 60 mil timur laut dari Kabul. Schroen cocok untuk misi satuan tugas Dagger. Sebagai seorang prajurit mata-mata tanpa basa-basi yang dibesarkan di kota St. Louis yang keras, ia pernah bertugas di Pakistan dan memantau dengan cermat peristiwa-peristiwa di Afghanistan dan Iran pada tahun 1980-an dan 1990-an. Dia sudah terbiasa menangani tentara Asia Selatan dan panglima perangnya, serta dalam melacak pemimpin al-Qaeda, Osama bin Laden. Tim CIA, disambut dengan hangat oleh para pemimpin Aliansi Utara. Mereka kemudian mendirikan markas di sebelah tempat penimbunan amunisi di kompleks yang dijaga ketat. Schroen segera mulai mengumpulkan dukungan dari Aliansi Utara untuk menghancurkan Taliban. Pada saat malam dia tiba, dia memberikan $ 500.000 kepada pimpinan Aliansi untuk membiayai operasinya dan untuk mendukung beberapa pejuang dan keluarga mereka selama masa kampanye militer mendatang.

Anggota paramiliter CIA didalam kabin helikopter Mi-17 selama misi menjelang masuknya Amerika Afghanistan pada akhir September 2001 (Foto CIA/ https://www.militarytimes.com/)

Uang itu diterima oleh utusan Aliansi yang berkunjung dengan cara yang aneh tetapi sesuai kebiasaan: Dengan sedikit diskusi dia hanya mengambil paket uang dan segera pergi. Sikap orang-orang Afghanistan yang disengaja ini tampaknya  memang telah diperhitungkan untuk menunjukkan sedikit minat orang Afghanistan pada uang tunai, meskipun itu sebenarnya merupakan insentif yang kuat. Schroen juga mulai melakukan pembayaran bulanan kepada komandan unit Aliansi untuk mendapatkan jalur independen pengaruh A.S. ke beberapa panglima perang Afghanistan. Apa yang dilakukan ini berasal dari buku pedoman CIA: Selama 1980-an, para pemimpin utama mujahidin telah dibayar sebanyak $ 50.000 per bulan. Pada 27 September, Schroen bertemu dengan Jenderal Mohammed Fahim, seorang Tajik yang keras kepala yang merupakan kepala militer resmi Aliansi Utara. Setelah diskusi panjang tentang peran Pasukan Khusus dalam mengarahkan serangan udara dan kesepakatan tentang strategi yang akan digunakan, Schroen kemudian memberi Fahim uang satu juta dolar. Pembayaran seperti itu bisa dianggap sebagai suap, tetapi uang tunai itu juga bisa digunakan untuk merekrut tentara dan membeli senjata, amunisi, bahan bakar, kendaraan — bahkan pembelotan dari unit-unit Taliban.

Jenderal Mohammed Fahim, komandan militer Aliansi Utara. (Photo by Bernard Bisson/Sygma via Getty Images/ https://www.gettyimages.fi/)

Minggu berikutnya, tim Schroen mulai mengunjungi unit-unit Aliansi Utara, di mana mereka juga mulai mencari posisi-posisi Taliban, menulis laporan intelijen, dan mencatat koordinat Global Positioning System (GPS) dari target dimana musuh diperkirakan berada. Ketika operasi berlangsung, Schroen memberi tahu Mulholland tentang permintaan pihak Aliansi: Para pemimpinnya menginginkan para prajurit Pasukan Khusus untuk mengenakan pakaian seperti orang lokal untuk menyembunyikan kehadiran orang-orang asing ini. Masalah ini kemudian dibawa ke Jenderal Frank, yang merupakan seorang pemimpin militer pragmatis yang kolot. “Ini adalah masalah yang menjengkelkan,” tulisnya kemudian. “Tentara Amerika yang berperang tanpa mengenakan seragam mungkin tidak akan diperlakukan sebagai tawanan perang jika ditangkap, tetapi akan dieksekusi layaknya mata-mata. Di sisi lain, setiap personel Baret Hijau yang ditangkap kemungkinan tetap akan dieksekusi terlepas dari apa yang mereka kenakan. Kompromi akhirnya mengharuskan personel-personel kita untuk mengenakan setidaknya ‘satu item yang jelas’ dari seragam reguler mereka — bisa kemeja, jaket atau celana panjang [Seragam Kamuflase Gurun] sudah cukup. Hal ini cukup menggambarkan anehnya perang ini. ”

Jenderal Tommy Franks, komandan Amerika wilayah Afghanistan bersikeras agar prajurit pasukan khusus Amerika tetap mengenakan seragam tempur di Afghanistan. (Sumber: https://weaponsandwarfare.com/)
Kompromi akhirnya dicapai dengan membolehkan personel pasukan khusus setidaknya menggunakan satu item militer resmi, bisa kemeja, jaket atau celana panjang Seragam Kamuflase Gurun. (Sumber:Pinterest)

Sementara itu, unit-unit militer AS dan sekutu mulai berdatangan ke pangkalan-pangkalan di utara dan timur Afghanistan. Batalion 1 dari Infanteri ke-87, Divisi Gunung ke-10 (Ringan) salah satu unit tempur konvensional yang akan berusaha menstabilkan Afghanistan setelah Taliban diusir, telah mendarat di negara tetangga, Uzbekistan. Pada akhirnya, pasukan dari 31 negara akan terlibat di Afghanistan, tetapi selama Oktober dan November 2001, hanya beberapa anggota Resimen SAS Inggris ke-22 yang akan bergabung dengan unit pasukan darat Amerika disana. Sementara itu sebagai tambahan bagi gugus tugas Mulholland, tim CIA kedua telah tiba dan bersiap untuk memasuki kawasan Mazar-e-Sharif di Afghanistan utara untuk mendukung kekuatan pemimpin Aliansi asal suku Uzbek, Jenderal Abdul Rashid Dostum. Dan unit pendahulu dari Grup Pasukan Khusus ke-5 Grup (Airborne) asal Fort Campbell, pimpinan Kolonel Mulholland, yang menjadi elemen inti dari Gugus Tugas Dagger, telah terbang dari Kentucky ke pangkalan udara bekas Soviet dekat Karshi Kandabad (K2) di Uzbekistan. Para petugas logistik yang pertama kali tiba menemukan bangunan-bangunan tua di pangkalan itu dengan cat yang mengelupas dan jendela-jendela pecah. Peralatan tua Soviet yang rusak berserakan di sekitar pangkalan. Hampir semua peralatan yang dibutuhkan pasukan AS harus diterbangkan langsung dari Eropa. Hingga tanggal 6 Oktober, sebuah pesawat angkut C-17 Globemaster III akan mendarat setiap dua jam di K2, serta meningkatkan populasi pangkalan dalam waktu satu minggu dari seratus menjadi dua ribu personel.

Foto udara Pangkalan Udara bekas militer Soviet di Karshi Kandabad, Uzbekistan. (Sumber: https://arsof-history.org/)

Di Uzbekistan, Mulholland dengan cepat mengatur beberapa detasemen operasional (ODA/Operational Detachment-Alpha) yang beranggotakan 12 orang untuk dikerahkan ke Afghanistan utara. Unit-unit ini sama baiknya atau malah lebih baik daripada unit lain yang pernah digelar oleh Pasukan Khusus Amerika. Orang-orang ini cerdas dan terlatih baik, dengan rata-rata punya pengalaman 10 tahun bertugas di militer; masing-masing memiliki kualifikasi sebagai penerjun payung. Banyak dari mereka adalah veteran Perang Teluk. Meskipun ODA biasanya dipimpin oleh seorang kapten, Mulholland kadang-kadang mengizinkan sersan kepala yang cakap atau Warrant Officer untuk memegang komando. Setiap detasemen ditambah dengan satu atau dua pengendali tempur Operasi Khusus Angkatan Udara AS dengan dibekali perangkat komunikasi satelit langsung ke unit serangan udara. Unit ini juga dilengkapi dengan perangkat penjejak laser, AN/PEQ-1 SOF Laser Marker (SOFLAM) Pasukan Khusus untuk “menandai” target potensial bagi serangan udara yang dipandu dengan penjejak laser. Sementara itu konsep operasi yang akan dilaksanakan di Afghanistan oleh tim ini secara garis besar adalah mendaratkan tim pertama ke daerah Mazar-e Sharif dan Bagram-Kabul, diikuti dalam waktu yang hampir bersamaan dengan penyusupan ke wilayah Kondoz-Taloqan. Setelah daerah-daerah ini diamankan, rencananya adalah memindahkan tim untuk membebaskan Kandahar, yang merupakan pusat gerakan Taliban. Kemudian fokus akan bergeser ke area konsentrasi musuh di Pegunungan Tora Bora. Namun, para pemimpin Task Force Dagger menyadari bahwa keberhasilan apa pun yang mereka capai pada akhirnya dapat menyebabkan pecahnya pertempuran-pertempuran kecil melawan pasukan musuh di daerah-daerah yang bahkan bisa lebih terpencil lagi.

AN/PEQ-1 SOF Laser Marker (SOFLAM) perangkat penjejak laser yang digunakan Pasukan Khusus Amerika di Afghanistan. (Sumber: https://www.military.com/)

KOMBINASI DARAT-UDARA YANG MEMATIKAN DALAM PERANG MODERN

Pada tanggal 7 Oktober, Jenderal Tommy Frank meluncurkan serangan terbuka AS yang pertama terhadap rezim Taliban dengan kampanye pengeboman udara selama dua minggu. Sasaran serangan, termasuk diantaranya kamp pelatihan Al-Qaeda dan lokasi-lokasi yang sering dikunjungi oleh bin Laden, radar milik Taliban dan sistem pertahanan udara Taliban yang memiliki rudal permukaan-ke-udara SA-3 buatan Rusia, bangunan tempat perbaikan tank, fasilitas pendukung kendaraan, dan struktur komunikasi. Pesawat B-52 terbang dari Diego Garcia di Samudra Hindia dan lapangan terbang di Arab Saudi dan Kuwait. Sementara itu pembom siluman B-2 terbang pulang pergi dari Pangkalan Angkatan Udara Whiteman di Missouri. Rudal Tomahawk, pesawat-pesawat tempur F/A-18, dan F-14 diluncurkan dari kapal selam dan kapal induk USS Enterprise dan Carl Vinson. Aksi udara ini juga didukung oleh penggunaan tempur pertama kalinya dari pesawat udara tak berawak Global Hawk, penggunaan operasional pertama rudal Hellfire yang diluncurkan oleh pesawat tak berawak Predator, dan penggunaan munisi Joint Direct Attack Munitions (JDAM) yang sangat akurat, yakni sebuah bom “bodoh” yang dibuat menjadi “bom pintar” ”Dengan tambahan kit sistem panduan. Sebagian besar rudal permukaan ke udara SA-2 dan SA-3 Taliban yang ketinggalan zaman, serta radar dan unit komandonya, dihancurkan pada malam pertama serangan bersama dengan armada udara kecil milik Taliban, yang terdiri dari jet tempur MIG-21 dan Su-22. Tetapi serangan itu, yang dilakukan untuk menghindari korban sipil, dilakukan dari ketinggian untuk menghindari ancaman sengatan rudal panggul semacam Stinger dan SA-7, serta tidak memiliki pemandu sasaran di darat dan akibatnya serangan ini tidak secara serius melemahkan kekuatan darat Taliban.

Sebuah pembom B-52 menjatuhkan bom curah di Afghanistan selama invasi AS pada 7 Oktober 2001. (Sumber: Reuters/Angkatan Udara AS/ https://www.businessinsider.sg/)

Pada malam 19 Oktober, dua detasemen A yang pertama Kolonel Mulholland terbang ke Afghanistan dengan menggunakan helikopter MH-47E (Chinook yang dimodifikasi), penerbangan ini dilakukan pada malam hari, melewati pegunungan setinggi 16.000 kaki dengan menembus awan, hujan, dan bahkan badai pasir yang secara dramatis membatasi jarak pandang. Dengan visibilitas nyaris nol, dua MH-60L Black Hawks yang rencananya menyediakan pengawalan bersenjata terpaksa harus berbalik ke pangkalan. Setelah menjalani penerbangan berat selama 2,5 jam, Chinook itu akhirnya berhasil mendarat di Landing Zone Albatross pada pukul 2:00 A.M. Begitu pintu belakang Chinook turun, selusin operator dari ODA 595, masing-masing dibebani oleh lebih dari seratus pon perlengkapan, segera berlari melalui awan debu yang dihasilkan oleh rotor kembar helikopter dan mengambil posisi siap tempur. Mendekati mereka dari kegelapan adalah sekelompok orang Afghanistan yang mengenakan turban dan dipersenjatai dengan AK-47 dan granat berpeluncur roket. Jari-jari operator SF otomatis berada pada pemicu senapan M-4 karabin yang mereka bawa. “Mereka seperti orang-orang pasir dari film ‘Star Wars’ sedang mendatangimu,” kata perwira tim. Untungnya, orang-orang asing itu adalah teman. Mereka adalah perwakilan dari Aliansi Utara dan tugas mereka adalah memandu tim baru ini ke sebuah kompleks kecil dari bangunan batu bata lumpur tempat, dimana mereka akan tidur malam itu di kandang ternak.

Helikopter MH-47E Chinook digunakan untuk menyusupkan Tim ODA 595 ke Landing Zone Albatross pada pukul 2:00 A.M, 19 Oktober 2001. (Sumber: https://www.flickr.com/)

Kapten Mark Nutsch dengan tim ODA 595 dan tim CIA Alpha 60 ini bertemu di area Daria-Suf Valley, daerah 60 mil di selatan Mazar-e-Sharif, di bagian utara negara itu. Pasukan Nutsch dengan cepat bergabung dengan pasukan Aliansi Utara yang jumlahnya sangat sedikit yang dikomandani oleh Jenderal Dostum yang penuh warna. Dostum adalah orang keturunan Uzbekistan yang tinggi dengan rambut beruban yang dipotong pendek, Dostum adalah seorang panglima perang yang kejam dan licik dengan sejarah sering berganti pihak. Tapi dia bisa mengerahkan hingga 20.000 tentara keturunan Uzbekistan, banyak dari mereka berkuda, layaknya keturunan prajurit berkuda Jenghis Khan. Sementara bagian dari tim ODA 595 tetap tinggal untuk mengoordinasikan pasokan udara untuk pasukan Dostum yang kurang perlengkapan, enam operator SF yang dipimpin oleh Kapten Nutsch sendiri, pergi bersama Dostum dengan berkendara dengan kuda poni kecil yang tangguh. Dibesarkan di sebuah peternakan sapi di Kansas dan telah ikut berkompetisi dalam rodeo di perguruan tinggi, Nutsch yang berambut pirang adalah seorang penunggang kuda yang mahir. Tetapi sebagian besar anak buahnya belum pernah naik kuda sebelumnya, mereka harus segera beradaptasi dengan cepat. Uniknya, mereka dapat dikatakan adalah prajurit pertama AS yang akan berangkat berperang dengan berkuda setelah lebih dari delapan puluh tahun terakhir kali tentara AS berkuda ke medan perang. Dua hari setelah mendarat, pada hari Minggu, 21 Oktober, ODA 595 meluncurkan serangan pertamanya yang berkoordinasi dengan pasukan Dostum dengan menggunakan senjata yang di luar imajinasi generasi kavaleri sebelumnya. Dengan menggunakan GPS mereka, tim mengidentifikasi posisi bunker Taliban dari jauh dan mengirimkan lewat radio, koordinat sasaran ke pembom B-52 yang terbang dua puluh ribu kaki di atas kepala. Hanya jejak contrail putih yang terlihat di langit biru ketika bom yang diarahkan satelit mulai turun menghujani posisi Taliban.

Mark Nutsch (tengah) dan Jenderal Dostum (kiri) di Afghanistan. (Sumber: https://patriotoutfitthailand.com/)

Di selatan, ODA 555 mendarat di Lembah Panjshir dan bertemu dengan tim Gary Schroen. Detasemen ini akan segera bergabung dengan Jenderal Bismullah Khan, orang Afghanistan yang memimpin Aliansi di Front Kabul dari markas besarnya di dekat Bagram, sekitar 60 mil sebelah utara Kabul. Sesuai dengan doktrin perang mereka yang tidak konvensional, detasemen-detasemen ini akan tinggal bersama para pejuang Afghanistan dan berusaha untuk mendapatkan kepercayaan mereka. Efektivitas dari kekuatan udara A.S. amat membantu memenangkan kepercayaan dari tentara lokal ini. Pada perjalanan menjelajahi front Kabul, anggota ODA 555 memperbaiki menara kontrol yang rusak di Bagram. Ketika para perwira Jenderal Bismullah menunjuk beberapa posisi Taliban di kejauhan, orang-orang Amerika segera memanggil pesawat-pesawat dukungan udara-jarak dekar  yang membawa bom-bom berpemandu laser, yang dipandu oleh penjejak laser yang dioperasikan dengan baterai seberat 12 pon, dan segera menghancurkan posisi-posisi Taliban. Para perwira aliansi segera bersorak ketika mereka melihat posisi yang lama dipertahankan musuh menghilang dalam ledakan puing-puing yang beterbangan dan awan debu. “Mereka bahagia sekali,” kenang seorang sersan A.S. “Makan menjadi jauh lebih enak hari itu.”

MENUJU MAZAR-E-SHARIF BERSAMA JENDERAL DOSTUM

Ketika ODA Mulholland menyusup ke Afghanistan utara, tim CIA dan agen Afghanistan mereka menyuap pejabat Taliban agar membebaskan beberapa tahanan Eropa yang ditahan oleh pemerintah Taliban di Kabul. Orang-orang CIA juga menggandakan upaya untuk membantu operator penyadapan radio Aliansi Utara yang memantau komunikasi Taliban, mengumpulkan informasi politik tentang tokoh dan pemimpin Taliban dan Aliansi, dan meneruskannya ke Washington. Sementara itu, Jenderal Dostum dan unit Uzbek-nya bergerak menuju Mazar-e-Sharif, mereka menikmati kesuksesan secara militer untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, sebagian besar berkat dukungan udara dari A.S. Dari tanggal 19 hingga 24 Oktober, tim Pasukan Khusus ODA 595, dipecah menjadi 2 elemen yang beroperasi secara terpisah. Satu elemen, Tim Alpha, menunggang kuda ke utara ke pegunungan dekat Keshendeh Bala bersama dengan Jenderal Dostum untuk membantunya merencanakan serangan terhadap Mazar-e Sharif. Sementara elemen Bravo, bergerak ke selatan ke Pegunungan Alma Tak di dekatnya untuk menyerang Taliban di Lembah Darya Suf selatan. Dostum menuju ke Mazar-e-Sharif dengan disertai pasukan ODA 595 yang dipimpin oleh Kapten Nutsch dengan menunggangi kuda-kuda Uzbek. Jika berhasil merebut kota Mazar-e-Sharif, yang telah berada di bawah kontrol pemerintahan Taliban, hal ini akan memberikan pengaruh secara militer, psikologis dan politik yang penting bagi kampanye militer yang dipimpin Amerika untuk mengusir Taliban dari kekuasaan dan membawa Osama bin Laden ke pengadilan. Tetapi karena kota ini terpisah dari pusat-pusat populasi di selatan Afghanistan oleh adanya gunung-gunung yang hampir tidak bisa dilewati, jatuhnya Mazar-i-Sharif tidak akan dengan cepat menyebabkan keruntuhan kekuasaan Taliban. Mazar-i-Sharif adalah kota paling penting di Afghanistan utara, yang memiliki dua bandara dan koneksi jalan ke perbatasan Uzbekistan. Mengontrol kota ini akan memberikan kekuatan bagi pihak oposisi serta unit-unit darat Amerika, sementara pesawat-pesawat Amerika dapat menggunakannya sebagai pangkalan aju di Afghanistan yang berguna bagi rute pasokan militer.

Tentara pasukan khusus AS menunggang kuda saat mereka bekerja sama dengan anggota Aliansi Utara di Afghanistan selama Operasi Enduring Freedom. Foto ini dirilis pada 16 November 2001. (Foto oleh Departemen Pertahanan AS/Getty Images/ https://www.gettyimages.com/)
Mazar-e-Sharif, kota di ujung utara Afghanistan dekat perbatasan Uzbekistan. (Sumber: http://edition.cnn.com/)

Tim Alpha dengan cepat mulai membantu Dostum secara langsung dengan memanggil dukungan udara jarak dekat (CAS) dari pembom B-1 dan B-52 serta pembom tempur F-14/15/16, dan 18 milik AU dan AL Amerika untuk menyerang posisi-posisi Taliban. Pada awalnya, bagaimanapun, tim ini tidak diizinkan untuk bergerak maju cukup dekat ke posisi Taliban untuk mendapat posisi pengamatan paling efektif; Dostum takut mereka akan terbunuh atau ditangkap. Menurut salah satu pengamat dari Pasukan Khusus, pada beberapa kesempatan Dostum mengatakan kepada pemimpin tim bahwa “500 prajurit saya boleh terbunuh, tetapi tidak ada satu pun dari orang Amerika yang boleh terluka, atau kalau tidak anda sebaiknya pergi saja.” Akibatnya, tim harus memanggil serangan CAS dari jarak delapan hingga sepuluh kilometer dari target, mengamati wilayah seberang ngarai Darya Suf dengan kondisi cuaca yang sering menghambat jarak pandang. Hal ini mempersulit untuk mendapatkan informasi target secara visual bahkan dengan teropong dan Spotting Scope. Akhirnya, kepercayaan dari Dostum bisa diperoleh karena menjadi jelas bahwa tim Amerika bisa mengurus keselamatan diri mereka sendiri. Mereka sekarang bisa memilih pos pengamatan (OP) mereka sendiri. Walau seringkali mengabaikan unsur bahaya, orang-orang dari Tim Alpha dengan cepat menjadi lebih efektif menjalankan tugasnya. Dalam satu periode selama delapan belas jam mereka bisa menghancurkan lebih dari dua puluh kendaraan lapis baja dan dua puluh kendaraan pendukung dengan menggunakan dukungan serangan udara jarak dekat. Dari tunggangan yang dikendarai, mereka mengirimkan arahan melalui radio ke kru udara, dan menaklukkan Taliban yang bertahan dengan pemboman yang tepat sasaran. Kehadiran bom-bom Amerika meningkatkan moral anak buah Dostum dan merupakan pukulan besar bagi Taliban. Dostum kemudian mengambil walkie-talkie yang disetel ke frekuensi musuh dan memberi tahu komandan Taliban yang menghadapinya, “Ini adalah Jenderal Dostum yang berbicara. Saya di sini, dan saya telah membawa (serta) orang Amerika. ” Dalam beberapa hari, pesawat-pesawat Amerika menghancurkan lebih dari 105 kendaraan lapis baja Taliban (termasuk Tank T-55 dan kendaraan lapis baja BMP) dan kendaraan pendukung, 12 pos komando, dan sebuah bunker penyimpanan amunisi besar. Serangan udara dengan cepat diikuti oleh segerombolan kavaleri etnik Uzbek yang bersenjata AK-47, sering dengan dipimpin oleh Dostum sendiri, berlari kencang dan “berteriak untuk menakut-nakuti Taliban,” menurut Nutsch.

Tank T-54 Taliban yang hancur. Dalam Operasi Enduring Freedom banyak kendaaan lapis baja Taliban yang hancur karena serangan udara yang diarahkan oleh tim Pasukan Khusus Amerika. (Sumber:Pinterest)

Laporan lapangan Nutsch, yang pertama tiba di Pentagon, mengejutkan banyak pejabat, yang tidak tahu bahwa pasukan Pasukan Khusus sedang menunggang kuda menuju medan pertempuran. “Saya menasihati seorang prajurit tentang cara terbaik menggunakan infantri ringan dan kavaleri kuda,” tulis Nutsch, “dalam serangan terhadap tank-tank Taliban, mortir, artileri, pengangkut personel lapis baja dan senapan mesin — sebuah taktik yang saya pikir sudah ketinggalan zaman, dengan adanya penemuan senapan mesin gatling. ” Pada tanggal 23 Oktober, pasukan Taliban menghentikan pasukan Dostum, sekitar 24 mil di selatan Mazar. Tapi mereka akhirnya memberi jalan saat menyaksikan serbuan kavaleri gerilya Uzbek. Pasukan Kavaleri berkuda ini didukung oleh senapan mesin berat, artileri, dan infanteri pada sayap-sayapnya. Sementara itu, elemen Bravo dari tim, yang juga menunggang kuda, bergerak ke selatan ke pegunungan Alma Tak untuk bergabung dengan salah satu komandan bawahan Dostum di selatan Darya Suf Valley dan mencegah musuh membantu rekan-rekannya di utara. Mereka akan terus menyerang dan menghancurkan pasukan Taliban di gunung-gunung ini sampai tanggal 7 November, dimana menghancurkan lebih dari enam puluh lima kendaraan musuh, dua belas posisi bunker komando, dan bunker penyimpanan amunisi musuh yang besar. Apa yang dikerjakan oleh Tim Alpha dan Bravo dengan cepat mengikis posisi pertahanan Taliban. Banyak kendaraan Taliban dihancurkan, dan ratusan tentara terbunuh. Mereka yang selamat melarikan diri untuk bertahanan di utara ke Mazar-e Sharif.

Pasukan Khusus Amerika memanggil serangan udara di daerah Kunduz. (Sumber:http://www.history.army.mil)

Dalam pengejarannya, pasukan Dostum mulai melakukan serangan model kavaleri kuno hingga ke Darya Suf utara dan Lembah Balkh. Selama serangan ini, anggota tim SF beraksi di garis depan, seringkali dengan menunggang kuda, meskipun faktanya hanya satu anggota tim yang pernah menunggang kuda sebelumnya. Segera pasukan Aliansi Utara mendekati jalur berbahaya di selatan Mazar-e Sharif. Jalur itu adalah lokasi dimana terdapat penyempitan geografis alami, dimana musuh ada di sana. Pasukan Dostum tidak bisa pergi lebih jauh tanpa dukungan serangan udara besar-besaran. Bergerak melintasi medan berbahaya dengan berkuda dan berjalan kaki, elemen-elemen SF bergerak ke OP di gunung terdekat, dan pada 9 November mereka menyerang pertahanan Taliban di sisi utara celah dengan dukungan serangan udara jarak dekat. Upaya mereka menghasilkan penghancuran beberapa kendaraan, sejumlah senjata antipesawat, dan banyak konsentrasi pasukan. Datang di bawah tembakan langsung peluncur roket BM-21 musuh yang efektif pada dua kesempatan terpisah, mereka terus menyerang pasukan Taliban dengan memanggil serangan pembom B-52. Adalah bomber berat itu yang akhirnya mematahkan kekuatan utama prajurit Taliban, yang sekarang mulai bergerak mundur ke Mazar-e Sharif dan sekelilingnya. Di front utara ini, kebuntuan perang berhasil dipecahkan.

Peluncur roket multilaras BM-21 Grad milik Taliban bisa menjadi senjata yang efektif menghambat pergerakan pasukan Aliansi Utara, namun jelas bukan tandingan kombinasi Tim Pasukan Khusus dan Serangan Udara Amerika. (Sumber: https://www.pond5.com/)

Selama minggu berikutnya lima tim ODA lainnya tiba di Afghanistan dan dengan cepat bergabung dengan unit-unit Aliansi Utara mereka. Detasemen 553 bergabung dengan unit Hazara pimpinan Karim Khalili di barat Bagram. Detasemen ODA 585, berada 40 mil timur laut Konduz di ujung utara Afghanistan, mengoordinasikan kampanye pemboman sistematis yang dirancang untuk melumpuhkan Taliban secara mental dan fisik, yang memungkinkan pasukan Jenderal Bariulla Khan untuk maju. Detasemen 534 dikerahkan untuk membantu para pejuang  pimpinan Atta Mohammed dalam perjalanan mereka menuju Mazar-e-Sharif. Kapten Patrick O`Hara dari ODA 586, berpasangan dengan pasukan Jenderal Daoud Khan (serta Detasemen 594 menemani pasukan komandan Aliansi, Jenderal Fahim) bergerak terus menuju Konduz dari tenggara dalam yang digambarkan oleh O’Hara aktivitas hari demi hari adalah “mengebom gunung, lalu menembakinya dengan artileri, lalu mengambil alih gunung itu.” Selama serangan ini, O’Hara melaporkan hancurnya 51 truk Taliban, 44 bunker, 12 tank, dan 4 bunker amunisi, serta kematian sekitar 2.000 personel Taliban. Lewat penyadapan radio, CIA mengungkapkan kepanikan yang terjadi di kalangan Taliban. Dalam satu contoh, setelah kehilangan 300 orang dalam serangan udara, hal ini kemudian memprovokasi pemerintah Kabul untuk mengerahkan kekuatan cadangan 700 orang ke utara untuk memperkuat pertahanan mereka yang mulai goyah.

Pemboman terus menerus dari pihak Amerika dengan cepat menggoyahkan kekuatan militer Taliban yang selama itu menikmati keunggulan jumlah personel dan peralatan tempur dibanding pihak Aliansi Utara. (Sumber: https://theduran.com/)

Hasil bagus yang diluar perkiraan ini telah mengejutkan Pentagon. Mereka awalnya meragukan apakah kekuatan beberapa lusin pasukan komando yang didukung oleh beberapa ratus pesawat benar-benar bisa mengubah jalannya perang di Afghanistan yang telah buntu selama bertahun-tahun? Bahkan komandan A.S. sendiri tidak terlalu optimis. Mereka memperkirakan bahwa akan butuh persiapan berbulan-bulan sebelum Aliansi Utara dapat melakukan serangan besar di musim semi dan bahwa Kabul mungkin belum akan jatuh setidaknya dalam waktu satu tahun. “Mereka pikir mereka akan membiarkan Pasukan Khusus masuk dan bekerja disana selama beberapa bulan,” kenang seorang perwira yang ditugaskan di Komando Pusat, “dan kemudian pertempuran sesungguhnya akan terjadi saat Pasukan Divisi Lintas Udara 101 dan 82 tiba (di Afghanistan).” Lagipula pada saat itu, kurangnya laporan progres di medan pertempuran, telah mengakibatkan beberapa pers mulai berspekulasi memunculkan momok ketakutan tentang nasib seperti Perang Vietnam yang buntu. Sementara itu menciptakan “Vietnam yang lain” adalah keinginan terindah dari Osama bin Laden dan para pemimpin al Qaeda lainnya. Dengan menyerang New York dan Washington, mereka berharap untuk menarik satu-satunya negara adikuasa dunia ke dalam rawa-rawa yang akan menghasilkan kemenangan bagi pejuang militan Afghanistan menyamai kemenangan mereka atas Uni Soviet pada  tahun 1980-an. Mereka (al Qaeda, Taliban, dan juga pers) tidak memperhitungkan perbedaan besar antara angkatan bersenjata Soviet, era tahun 1980, dan angkatan bersenjata AS di tahun 2001. Yang utama, Soviet menggunakan perangkat berteknologi rendah konvensional (dibanding era abad ke-21), sedangkan Amerika menggunakan perlengkapan dengan teknologi terbaru di Era Informasi. Transformasi itu dipamerkan dengan baik di Afghanistan. … dengan hadirnya bom JDAM, pesawat tanpa awak Predator, Global Hawks, dan berbagai UAV lainnya yang memiliki peran penting. Tetapi mungkin perubahan yang paling penting sejak era Perang Teluk 1991 ini kurang begitu terlihat dan diketahui orang awam, dimana semua peralatan tempur itu terintegrasi digital dengan jaringan sistem tempur lainnya, yang memadukan informasi, kecepatan reaksi, daya tembak dan munisi yang presisi untuk menyerang posisi-posisi musuh dari jarak jauh.

MEREBUT KABUL DARI TALIBAN

Sementara itu, meski kesuksesan total di front utara masih harus menunggu dua minggu lagi, namun tanda-tanda kemenangan telah datang pada malam 10 November, ketika Jenderal Dostum dengan bangga berkendara ke Mazar-e-Sharif, kota yang telah ia perjuangkan untuk direbut kembali selama bertahun-tahun. “Saat itu seperti adegan yang muncul pada film Perang Dunia II,” kata salah seorang prajurit Pasukan Khusus. “Jalanan, tepi jalan, bahkan di luar kota, dipenuhi orang-orang yang bersorak dan bertepuk tangan.” Pasukan Dostum menangkap hampir 3.000 tahanan, sementara ribuan pejuang Taliban dan petempur asing lainnya melarikan diri ke selatan menuju Kabul atau ke timur menuju Konduz. Pemerintahanan represif Taliban telah berakhir di Mazar-e-Sharif.

Tentara Pasukan Khusus Amerika Serikat dengan pejuang Aliansi Utara di Mazar-i-Sharif pada 10 November 2001. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

Pada hari yang sama, ODA 585, unit yang mendukung pasukan Bariulla Khan di ujung utara, mulai menggunakan pos pengamatan di puncak gunung untuk mengarahkan pemboman udara yang menghancurkan pasukan musuh yang ada di sayap kanan Bariulla, satu mil di selatan perbatasan Tajikistan. Orang-orang Amerika memiliki pandangan yang jelas, 800 yard di depan mereka, membentang sekitar sepanjang satu mil posisi Taliban dan al-Qaeda di mana para pejuang Arab, Chechnya, dan Taliban telah membentuk pertahanan. Gelombang demi gelombang serangan udara dari pesawat-pesawat F/A-18, B-52, dan B-1 yang penuh dengan muatan bom terus menerus sepanjang hari mengebom posisi  Taliban. Satu pesawat menjatuhkan BLU-82, bom mematikan seberat 7,5 ton yang begitu besar sehingga harus diangkut dan diluncurkan dengan pesawat kargo C-130 yang dimodifikasi. Meluncurkan dari belakang pesawat, bom itu melayang tergantung di bawah parasut kargo yang besar. Ledakan bom itu menciptakan awan berbentuk jamur dan gelombang ledakan yang bisa membunuh manusia dalam radius dua mil jauhnya. Di akhir hari, hanya ada sedikit pejuang musuh selamat.

Bom BLU-82 Daissy Cutter yang dijatuhkan pada posisi Taliban. (Sumber: https://www.tonyrogers.com/)

Kesuksesan yang dinikmati oleh para pemimpin Aliansi di front utara Afghanistan menjadi perhatian para jenderal Aliansi di Front Kabul selatan, yang tidak menikmati banyak dukungan udara. Pemerintah Pakistan, yang menyediakan pangkalan untuk operasi militer A.S., selama ini mendukung etnik Pashtun di Afghanistan selatan, yang sesekali merupakan saingan dari Aliansi Utara Tajik-Uzbekistan-Hazara di Utara. Jenderal Frank kemudian meyakinkan orang-orang Pakistan bahwa meski ia memilih untuk membebaskan Afghanistan utara terlebih dahulu, namun ia berjanji akan memberikan Hamid Karzai, seorang Pashtun yang dipilih sendiri oleh Amerika Serikat dan Pakistan, cukup waktu untuk mengatur unit-unit tempur anti-Taliban di Afghanistan selatan. Frank lalu meminta agar para pemimpin Aliansi menunda gerak maju mereka ke ibu kota Kabul. Sekarang, tanpa dukungan udara yang memadai untuk melancarkan serangan yang menjanjikan di depan Kabul, para pemimpin Aliansi khawatir kebuntuan melawan Taliban di front selatan akan terus berlanjut, bahkan jika pemimpin asal etnik Pashtun yang disukai secara politik, Hamid Karzai berhasil merebut Kabul. Mereka juga khawatir dengan perkembangan baru-baru ini, dimana CIA melaporkan bahwa sekitar 500 sukarelawan Muslim asing terus datang dari Pakistan setiap harinya untuk bergabung dengan Taliban dan unit-unit tempur al-Qaeda di sepanjang Front Kabul. Bahkan tim Pasukan Khusus juga tidak begitu optimis. “Mereka (Aliansi Utara) kalah jumlah dan senjata di medan tempur darat,” kenang sersan Angkatan Udara Calvin Markham, seorang veteran combat controller berpengalaman 16 tahun yang menyertai ODA 555. “Saya mulai meragukan jumlah dukungan udara jarak dekat yang akan kami dapatkan.”

Kekhawatiran pihak Aliansi Utara dengan semakin lamanya Kabul dikuasai adalah aliran sukarelawan asing al-Qaeda yang terus mengalir dari Perbatasan Pakistan setiap harinya. (Sumber: https://www.timesofisrael.com/)

Tetapi apa yang tidak diketahui oleh para pemimpin Amerika dan Aliansi adalah bahwa tim ODA 555 telah menggunakan secara bijaksana sedikit serangan udara yang dialokasikan kepada mereka, dengan berhasil merusak moral dan kekuatan musuh di sepanjang Front Kabul. Front itu tidak menampilkan pertempuran yang cair dengan banyak manuver, yang mana hal ini berarti bahwa koordinat GPS target relatif mudah untuk ditentukan. Akibatnya, lebih banyak bom berpemandu GPS yang digunakan, senjata ini lebih efektif daripada amunisi yang diarahkan laser, yang terkadang dikaburkan oleh debu, kabut, dan asap. Pemboman presisi di Front Kabul mendorong petempur Taliban untuk mengambil tindakan putus asa. Pada tanggal 7 November, pejuang Aliansi Utara menghubungi seorang komandan Taliban, yang lelah dengan serangan udara mematikan pihak Amerika, dan ingin membelot, namun sayangnya prajurit yang dipimpinnya termasuk 20 orang anggota al-Qaeda fanatik dari negara-negara Arab. Dua pemimpin Afghanistan yang saling berhadapan itu akhirnya mencapai kata sepakat. Pada jam yang disepakati, penembakan terdengar dari parit pertahanan Taliban. Beberapa menit kemudian, 730 pejuang Afghanistan maju, dengan tangan terangkat ke udara. Di belakang mereka terdapat mayat-mayat orang Arab yang dieksekusi.

Pasukan Aliansi Utara memasuki kota Kabul, 13 November 2001. (Sumber: https://stock.adobe.com/)

Aliansi Utara memperoleh kemenangan besar pada 11 November ketika Taloqan, kota timur laut lainnya, jatuh. Aliansi melaporkan telah menangkap 3.000 pejuang Taliban lainnya. Serangan udara yang dialokasikan untuk Front Kabul kemudian meningkat secara dramatis dan  Pasukan Khusus di sana dengan antusias mulai mengarahkan serangan udara, untuk menghantam benteng, tank, bunker, artileri, dan personel pasukan musuh dengan efisiensi layaknya mesin. Keesokan harinya Jenderal Fahim memulai gerak maju besar menuju Kabul dengan disertai 20 tank, 20 kendaraan pengangkut personel lapis baja, 50 artileri, dan 12.000 tentara. Dia menghadapi sekitar 10.000 pejuang Taliban dan asing dengan sekitar 50 tank dan kendaraan pengangkut personel lapis baja. Fahim berangsur-angsur mengatasi perlawanan dan kemudian maju dengan cepat ketika mereka yang bertahan mendengar desas-desus bahwa para birokrat Taliban yang ketakutan telah melarikan diri dari kantor mereka di kota. Selama 48 jam berikutnya, dengan Taliban mundur dengan cepat, pasukan Fahim, yang didukung oleh serangan udara, membuat kemajuan yang mantap melindas perlawanan yang sebagian besar dilakukan oleh para pejuang asing. Desakan AS untuk menunggu pasukan pembebasan Pashtun diabaikan, disusul oleh berbagai peristiwa yang kemudian terjadi dengan cepat. Pasukan Jenderal Bismullah Khan akhirnya memasuki jalan-jalan Kabul, dan Aliansi Utara mengambil alih kantor-kantor pemerintah. Pada tanggal 14 November, kontrol Taliban atas Afghanistan bisa dikatakan berakhir dengan dikuasainya Kabul oleh Aliansi Utara.

MENGAMANKAN KANDAHAR

Setelah keberhasilan taktis di Afghanistan utara, Kandahar, yang ada jauh di selatan, kemudiam menjadi tujuan AS berikutnya. Para perencana militer Amerika khawatir bahwa Kandahar akan menjadi kota yang paling sulit diambil alih. Kota ini letaknya jauh dari markas Aliansi Utara di utara, penduduknya memiliki ragam etnis yang berbeda, yakni dari etnis Pashtun, bukan orang Tajik atau Uzbek yang mendominasi Aliansi Utara, dan kota ini merupakan pusat spiritual dan politik dari gerakan Taliban. Dengan sedikit pemimpin oposisi atau pasukan di daerah itu yang bisa digunakan, perebutan kota itu mungkin akan memakan waktu berbulan-bulan, atau bahkan bisa ditunda hingga musim semi. Namun, dua elemen SF yang terpisah berhasil menyusup ke wilayah tersebut dan mendekati kota dari utara dan selatan, dengan para komandan lokal di sekitar mendukung mereka. Tim Pasukan Khusus pertama dikirimkan ke utara Kandahar, dekat desa Tarin Kowt, pada tanggal 14 November. Di sana, mereka bertemu dengan Hamid Karzai dan sejumlah kecil pengikutnya. Karzai, seorang pemimpin suku Pashtun yang karismatik yang lahir di dekat Kandahar, merupakan sosok pro-barat dan anti-Taliban, suatu kombinasi yang langka di Afghanistan. Karena itu, ia sangat penting bagi rencana AS untuk membentuk front anti-Taliban di wilayah tersebut. Namun, dia nyaris saja tidak selamat dalam pertempuran pertama dengan musuh. Pada 16 November, dalam waktu dua hari setelah kedatangan mereka, tim SF harus bertindak cepat untuk menyelamatkan kelompok perlawanan Karzai.

Hamid Karzai, salah satu pemimpin asal etnik Pashtun yang anti Taliban dan Pro Barat. (Sumber: http://act.rootsaction.org/)

Khawatir akan potensi kekuatan Karzai, para pemimpin Taliban telah memindahkan sekitar 500 tentara ke utara dari Kandahar untuk menghancurkan kekuatan Karzai. Sebagai tanggapan, Karzai mengerahkan pasukannya yang kecil di dekat desa Tarin Kowt, tetapi ia sangat bergantung pada sekutu barunya dari Amerika untuk bisa memberikan dukungan serangan udara jarak dekat. Ketika pesawat-pesawat AS menyerang konvoi Taliban yang mendekat dengan dipandu oleh tim-tim SF di darat, para pejuang oposisi Afghanistan menyerang dan menghalau serangan Taliban. Petempur Taliban, yang tampaknya terpana oleh serangan udara itu, kemudian mundur dengan berantakan.  Setelah mendapatkan sedikit ruang untuk bernapas, tim SF mulai bekerja lebih dekat dengan pasukan kecil Karzai untuk memperlengkapi, melatih, dan mempersiapkannya untuk bergerak ke selatan. Merasa bahwa kecepatan itu penting, Karzai setuju untuk pindah ke Kandahar sesegera mungkin. Oleh karena itu, pasukan Afganistannya yang kecil, yang awalnya kurang dari tiga puluh lima pendukung, pada akhirnya tumbuh menjadi “kelompok bersenjata” yang berjumlah hampir 800 orang – mulai bergerak ke tenggara sekitar 30 November dari Tarin Kowt, melalui jalan-jalan sempit sepanjang apa yang sebenarnya merupakan jalan kambing, menuju desa Petaw.

Team A dengan Karzai pada November 2001. (Sumber: COURTESY OF GIL DAN SHERRY MAGALLANES/ https://www.stripes.com/)

Pasukan Karzai dengan cepat mengusir pasukan kecil tentara Taliban yang menguasai desa dekat ujung timur sebuah jembatan, tetapi mereka tidak dapat merebut jembatan yang dipertahankan dengan baik itu sendirian. Pada pagi hari tanggal 4 Desember pasukan Karzai memulai persiapan untuk serangan habis-habisan untuk mengambil  alih jembatan. Setelah koordinasi terakhir dengan orang-orang Afghanistan, gabungan Pasukan Khusus Amerika dan gerilya Afghanistan itu dimuat ke truk pickup dan pergi ke medan perang. Setiap pickup penuh dengan sekelompok pejuang Afghanistan dengan bermacam-macam senjata (senapan mesin, AK-47, dan RPG) yang tergantung di belakang punggung. Beberapa senjata yang dilayani kru terpasang di kendaraan, membuat konvoi terlihat seperti, menurut kata seorang pengamat SF, kombinasi sirkus keliling dan gerombolan pemberontak Somalia. Tim Pasukan Khusus kemudian mengarahkan serangan udara ke punggung bukit yang dikuasai musuh di seberang mereka, tetapi musuh merespons dengan tembakan berat dan akurat pada pasukan penyerang dan lagi-lagi mencoba serangan balik. Di bawah panduan SF, orang-orang Afghanistan menembak langsung para penyerang dan mengusir mereka kembali. Tiga kali tentara Taliban yang gigih berusaha menyeberang, tetapi setiap kali tembakan pasukan Karzai memukul balik mereka. Sementara itu, tim SF di punggung bukit terus memanggil serangan udara ke posisi musuh. Seorang prajurit SF terluka; tetapi setelah gagal mengusir pasukan gabungan SF/Afghanistan, Taliban akhirnya menarik diri. Malam itu Taliban menarik mundur beberapa kilometer; keesokan paginya pasukan Karzai merebut jembatan dan mendirikan pijakan di sisi lain.

AFGHANISTAN – 11 DESEMBER: Tentara Pasukan Khusus A.S. Memasuki tempat tinggal Mullah Omar. Pemimpin Taliban ini sudah melarikan diri dari Kandahar (Foto oleh Patrick AVENTURIER/Gamma-Rapho via Getty Images/ https://www.gettyimages.com/)

Pada hari berikutnya, 5 Desember, upaya A.S. mengalami kemunduran serius. Sementara Pasukan Khusus mengamati operasi dari punggungan dekat jembatan dan memanggil dukungan udara dekat, sebuah bom Joint Direct Attack (JDAM) seberat 2.000 pound mendarat di tengah posisi personel SF. Tiga orang Amerika terbunuh dan lusinan terluka, bersama dengan banyak sekutu Afghanistan mereka. Namun misi terus berjalan terlepas dari tragedi itu. Ketika tim SF pulih dari kecelakaan bom itu, negosiator Karzai telah menyelesaikan kesepakatan penyerahan pasukan Taliban di seberang sungai dan untuk menyerahkan seluruh kota Kandahar. Pada tanggal 6 Desember pasukan sekutu menguasai kota Kandahar. Dengan berhasil dikuasainya Kabul dan Kandahar serta dihancurkannya perlawanan terorganisir terakhir di Tora Bora, Afghanistan sekarang benar-benar sudah berhasil dibebaskan. Hanya butuh waktu kurang dari total enam puluh hari (27 hari untuk menguasai Kabul) operasi militer yang terkonsentrasi dan hanya beberapa ratus prajurit yang dilibatkan untuk merebut negeri itu dari tangan Taliban dan sekutu-sekutu terorisnya.

PERANG YANG TIDAK KUNJUNG USAI

Menggulingkan rezim Taliban yang tidak populer membuka jalan bagi pasukan konvensional Amerika untuk melanjutkan perang. Bahkan, beberapa hari sebelumnya, ketika Gary Schroen dan tim CIA-nya terbang pulang, sebuah kompi infanteri Divisi Gunung ke-10 AS diam-diam menduduki lapangan terbang di Mazar-e-Sharif. Kemudian, pada tanggal 25 November, Marinir A.S. melakukan pendaratan tanpa perlawan di lapangan terbang di Afghanistan selatan. Tugas baru Jenderal Franks adalah menciptakan keamanan untuk mendukung pemerintah Afghanistan yang baru, yang tidak toleran terhadap terorisme internasional dan mampu mempertahankan diri, upaya ini sampai sekarang masih berlangsung saat ini, hampir 19 tahun setelah perang dimulai

Pada tanggal 29 Februari 2020, perwakilan Amerika dan Taliban menandatangani perjanjian damai terbatas untuk mengakhiri konflik di Afghanistan yang sudah berlangsung hampir 19 tahun. (Photo by KARIM JAAFAR / AFP) (Photo by KARIM JAAFAR/AFP via Getty Images)

Hanya dalam 27 hari, mulai dari 19 Oktober hingga 14 November 2001, Aliansi Utara — dengan bantuan sekitar 90 prajurit Pasukan Khusus dan pengontrol Angkatan Udara AS, 25 personel CIA, dana operasional $ 18 juta dan rata-rata 100 sorti dukungan udara setiap hari — berhasil menjatuhkan rezim Taliban yang telah mencengkeramkan kekuasaan penuh teror di Afghanistan sejak tahun 1996. Enam provinsi Afghanistan berhasil dibebaskan, bersama dengan tiga kota besar. Banyak dari kemampuan tempur al-Qaeda dihancurkan atau dilumpuhkan. Dua belas orang Amerika terbunuh dalam Operasi Enduring Freedom pada musim gugur 2001 itu, dimana hanya satu (perwira CIA Mike Spann) yang tewas karena musuh, sementara Taliban dan al-Qaeda menderita sekitar 10.000 personel tewas dalam pertempuran; beberapa ribu pejuang lainnya ditangkap. Keberhasilan kerjasama Mulholland dan Schroen dengan organisasi unik mereka memberikan contoh yang sangat dibutuhkan tentang bagaimana mencapai hasil militer yang besar dapat dicapai dengan tenaga dan biaya yang minim dalam hal nyawa dan peralatan. Namun, keberhasilan utama dari Gugus Tugas Dagger adalah bahwa Amerika Serikat — dalam jangka pendek — berhasil lolos dari nasib yang dialami seperti pasukan invasi asing lainnya dan meraih kemenangan cepat di sebuah negara dengan reputasi 2.500 tahun sebagai “kuburan banyak Imperium. ” Pilihan menggunakan tim Pasukan Khusus- CIA untuk mempersiapkan jalan bagi pasukan konvensional AS memastikan bahwa mereka tidak akan dilihat sebagai tentara penyerbu tetapi sebagai perpanjangan dari koalisi militer yang sudah mapan. Jika pasukan Amerika tiba di Afghanistan dalam keadaan yang berbeda, mereka kemungkinan akan menghadapi perlawanan yang panjang dan berdarah melawan sebagian besar, atau mungkin bahkan seluruh suku Afghanistan.

Konsep pertempuran modern yang mengandalkan teknologi informasi dan munisi presisi yang dikirimkan oleh pesawat udara dipraktekkan dengan baik dalam Operasi Enduring Freedom tahun 2001 di Afghanistan. Teknologi tinggi mengeleminasi kebutuhan penggelaran pasukan darat berjumlah besar. (U.S. Air Force photo by Staff Sgt. Michael B. Keller/ https://www.afcent.af.mil/)

Namun ini hanyalah babak pembuka saja dari petualangan Amerika di Afghanistan. Hampir 19 tahun setelah Kabul dibebaskan, Afghanistan masih belum menjadi negara yang stabil. Pemberontakan oleh sisa-sisa Taliban masih berlangsung, bahkan Taliban mulai bertumbuh kekuatannya. Pada 29 Februari 2020 lalu perwakilan Amerika menandatangani perjanjian damai terbatas dengan wakil Taliban, namun dalam beberapa hari kesepakatan ini kembali simpang siur karena masalah soal pertukaran tawanan perang. Namun hal ini adalah lebih ke masalah politik yang rumit. Banyak orang kemudian menganggap kegagalan Amerika dalam menundukkan Taliban sepenuhnya dan menciptakan stabilitas politik di Afghanistan disamakan sebagai kegagalan militer Amerika di Afghanistan dan menunjukkan kehebatan petempur Taliban. Ini adalah pendapat yang tidak tepat dan terlalu menyederhanakan masalah. Secara militer cara berperang Amerika seperti yang dikisahkan dalam kisah diatas tidak ada yang salah, yakni dengan menggunakan keunggulan udara dan sejumlah kecil personel militer, mereka berhasil menghancurkan satuan konvensional yang lebih besar baik dari sisi personel maupun perlengkapan tempur, dengan korban minimal. Semua militer di dunia juga berharap bisa punya fasilitas kekuatan udara semacam itu, hal itu juga bukanlah sebuah aib atau suatu hal yang memalukan, ketika suatu militer mampu mendapatkannya, bahkan begitulah seharusnya konsep perang modern dijalankan. Dalam perang selama 2 bulan di akhir tahun 2001 itu, meskipun militer Amerika hanya mengerahkan personel yang jumlahnya sedikit dan tidak memiliki kendaraan lapis baja atau artileri, namun Pasukan Khusus Amerika di Afghanistan, dalam batasan tertentu, merupakan pasukan infanteri yang paling kuat dalam sejarah karena mereka bertempur bukan dengan senjata yang dibawa mereka, yang mana jangkauan dan kekuatannya sangat terbatas, tetapi dengan menggunakan pelacak GPS, radio satelit, laptop, dan laser-designator yang dapat memanggil serangan udara dengan hanya cukup menekan tombol. Sementara itu 60 persen dari semua amunisi yang digunakan Amerika di Afghanistan, merupakan munisi berpemandu yang presisi – enam kali lipat lebih besar dari yang digunakan dalam Perang Teluk 1991. Namun jelas memenangkan pertempuran amat berbeda dengan memenangkan peperangan itu sendiri. Orang yang belajar dan mengamati sejarah harusnya tahu perbedaan diantara keduanya.

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

The 27-Day War by Rod Paschall

The United States Army in Afghanistan
Operation ENDURING FREEDOM
October 2001-March 2003

https://history.army.mil/html/books/070/70-83/cmhPub_70-83.pdf

Armed Forces Journal: Special forces and horses; November 1, 2006

21st Century Horse Soldiers – Special Operations Forces and Operation Enduring Freedom BY DWIGHT JON ZIMMERMAN – SEPTEMBER 16, 2011

Task Force Dagger – Operation Enduring Freedom

https://www.americanspecialops.com/operations/sof-afghanistan/task-force-dagger.php

The Battle for Mazar-i-Sharif; Nov. 10, 2001

https://www.nytimes.com/2001/11/10/opinion/the-battle-for-mazar-i-sharif.html

https://en.m.wikipedia.org/wiki/United_States_invasion_of_Afghanistan

4 thoughts on “Perang 27 Hari di Afghanistan, 2001: Perangnya CIA Dan Pasukan Khusus

  • 16 June 2020 at 6:27 pm
    Permalink

    I absolutely love your website.. Great colors & theme. Did you make this website yourself? Please reply back as I’m trying to create my own personal site and would love to learn where you got this from or just what the theme is called. Thank you!

    Reply
    • 16 June 2020 at 6:31 pm
      Permalink

      the theme is colormag

      Reply
  • 21 July 2020 at 2:49 am
    Permalink

    https://waterfallmagazine.com
    Great site you have here but I was wondering if you knew of any forums that cover the
    same topics talked about here? I’d really love to be a part of group where I can get advice from other experienced people that share the same interest.
    If you have any suggestions, please let me know.
    Thank you!

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *