Perang Chechnya I (1994-1996), Titik Nadir Militer Russia Pasca Perang Dingin

“Kamu telah menang … kita telah mengalahkan rezim Dudayev yang memberontak.” Presiden Yeltsin, berbicara kepada tentara Rusia di Grozny 28 Mei 1996. 

“Dengan mengeluarkan dekrit tentang penarikan pasukan (untuk dua brigade Rusia yang tersisa), Yeltsin menandatangani pernyataan menyerah.” Artikel surat kabar Rusia, 27 November 1996.

Ketika pasukan Rusia memasuki Republik Chechnya Ichkeria yang memberontak pada bulan Desember 1994, rezim Yeltsin yakin bahwa konflik Rusia-Chechnya akan berakhir dengan kemenangan cepat Rusia dan pemulihan teritorial Federasi Rusia. Namun, perang, yang kemudian dikenal sebagai Perang Chechnya Pertama ini kemudian berlangsung selama hampir dua tahun, berakhir dengan kemenangan militan Chechnya, dan menyebabkan kematian sekitar 50.000 orang Chechen dan sekitar 6.000 tentara Rusia. Setelah kampanye awal yang berlangsung antara tahun 1994-1995, yang memuncak dalam Pertempuran Grozny, pasukan federal Rusia berusaha untuk menguasai wilayah pegunungan Chechnya tetapi direpotkan oleh perang gerilya yang dilancarkan pejuang Chechnya meskipun pihak Rusia memiliki keunggulan besar dalam bidang senjata, personel, artileri, kendaraan tempur, serangan udara dan dukungan udara. Akibat demoralisasi yang meluas pada pasukan federal dan oposisi yang hampir universal di publik Rusia terhadap konflik itu membuat pemerintahan Boris Yeltsin mengumumkan gencatan senjata dengan pihak pejuang Chechen pada tahun 1996 dan menandatangani perjanjian damai setahun kemudian.

Prajurit muda Russia di tengah reruntuhan kota Grozny. (Sumber: https://northcaucasusland.wordpress.com/)

LATAR BELAKANG

Empat puluh tahun setelah muncul sebagai pemenang dalam Perang Dunia II, tentara Soviet yang besar dan bersenjata lengkap mendominasi sebagian besar wilayah Asia dan Eropa Timur. Beberapa analis militer menganggapnya hampir tidak terkalahkan. Bahkan setelah Uni Soviet runtuh pada awal 1990-an, pasukan Federasi Rusia dengan bangga mengambil pamor sebagai pewaris dari Tentara Merah Soviet. Meski mereka tidak dapat dikatakan modern, tapi bagi orang luar, tentara Rusia tampaknya masih menunjukkan daya tahan dan kekuatan yang luar biasa. Namun, ketika abad ke-20 hampir berakhir, ilusi superioritas Rusia memudar dalam badai perang yang melanda kota bernama Grozny, ibukota Republik Chechnya yang kecil di Kaukasia. Dalam bahasa Rusia, Grozny berarti “menakutkan” atau “mengancam.” Dari bulan Desember 1994 hingga Agustus 1996 kota ini menghidupkan reputasi sesuai dengan namanya. Terjepit di antara laut Hitam dan Kaspia, berada di wilayah selatan Rusia dan di sebelah utara dari Turki dan Iran, wilayah Kaukasus memiliki sejarah yang bermasalah. Pada zaman kuno pasukan Romawi dan Persia bersaing untuk merebut kontrol di wilayah ini. Belakangan Kaukasus juga menjadi perbatasan dalam pertarungan berkelanjutan antara kerajaan-kerajaan Islam dan Kristen. Orang-orang Persia, Bizantium, Turki Utsmani, dan Rusia yang semuanya bertempur memperebutkan desa-desa dan jalur-jalur gunungnya, sementara pada abad ke-20 wilayah itu merupakan medan perang penting dalam Perang Dunia I. Salah satu konsekuensi dari tarik ulur yang terus-menerus di daerah ini adalah konvergensi penduduknya yang beragam dimana kekerasan telah menjadi ciri budaya yang sudah berurat berakar, seperti karakter yang dimiliki oleh orang-orang di kawasan Balkan. Pasukan Bolshevik memasuki wilayah tersebut setelah Revolusi Rusia tahun 1917. Di antara orang-orang yang mereka jumpai adalah orang-orang Chechen — kelompok etnis Muslim Sunni yang kerap gelisah, suka perang, dan sebagian besar mendiami wilayah seluas 6.680 mil persegi. Wilayah Ossetia Utara, Dagestan, dan Ingushetia berbatasan dengan Chechnya di tiga sisi, dengan wilayah Georgia di selatan. Kondisi geografis Chechnya bervariasi antara yang sebagian besar merupakan daerah terbuka, dataran rendah di utara dan pegunungan di selatan, yang terbagi oleh Sungai Terek. Didirikan pada tahun 1818 sebagai pos terdepan tentara Rusia, Grozny kira-kira terletak di tengah-tengah republik ini, dengan berada di selatan Sungai Terek dan tepat di utara pegunungan berhutan, yang berada di atas ketinggian 14.000 kaki.

Chechnya merupakan wilayah kecil di tengah Federasi Russia yang tidak memiliki akses laut. (Sumber: Pinterest)
Kebencian terhadap Russia membuat banyak orang Chechen menjadi kolaborator NAZI selama Perang Dunia II. (Sumber: https://www.quora.com/)
Selepas Perang Dunia II, seluruh populasi etnis Chechen dideportasi ke Siberia dan baru diperbolehkan kembali ke Chechnya selepas Stalin meninggal di tahun 1960-an. (Sumber: https://www.quora.com/)

Selama Perang Saudara Rusia (1917-20), orang-orang Chechnya menyatakan Kemerdekaan mereka dan mendirikan negara “demokrasi teokratik” pada tahun 1918. Namun, pada tahun 1921, Tentara Merah menduduki kembali wilayah itu, dan kaum Bolshevik mengumumkan pembentukan Republik Otonomi Sosialis Soviet Checheno-Ingush di wilayah Chechnya. Meski demikian, Pasukan Soviet harus berperang dalam beberapa kampanye militer untuk mengamankan Chechnya pada tahun 1920-an dan 1930-an tetapi tidak pernah sepenuhnya berhasil menaklukkan seluruh wilayah ini. Pemerintahan Soviet berkuasa secara brutal di Chechnya, dimana hal ini turut menjelaskan mengapa terjadi tidak kurang dari enam pemberontakan bersenjata di wilayah itu antara tahun 1922 dan 1941, hingga kemudian pecah Perang Dunia II. Dalam Perang Dunia II di Front Timur, Pasukan Jerman bergerak masuk hingga ke Grozny pada musim panas 1942. Banyak orang Chechen membantu Jerman, dimana hal ini kemudian mendorong diktator Soviet Joseph Stalin untuk membalas dendam pada tahun 1944 dengan secara paksa memindahkan seluruh penduduk Chechnya (yang jumlahnya lebih dari 400.000) ke Kazakhstan. Diperkirakan bahwa 30-40% dari populasi Chechnya meninggal baik selama transit atau dalam kondisi brutal selama menjalani pengasingan paksa. Orang-orang Chechen kembali setelah kematian Stalin, saat pemimpin baru Uni Soviet Nikita Khrushchev mengubah kebijakan Stalin pada pertengahan tahun 1950-an, tetapi ingatan pahit mereka terhadap kesewenang-wenangan Pemerintah Soviet di masa lalu tetaplah ada. Pada musim gugur 1991, gerakan-gerakan kemerdekaan yang berhasil berkembang di Negara-negara Baltik Lithuania, Latvia dan Estonia mengilhami republik-republik lain dan daerah-daerah otonom dari Uni Soviet untuk mencari kebebasan. Republik Chechnya di Ichkeria mendeklarasikan kemerdekaannya pada bulan November 1991 di bawah mantan Jenderal Angkatan Udara Soviet (kemudian Presiden), Dzhokhar Dudayev, dan Uni Soviet kemudian bubar pada bulan berikutnya. Pada saat itu, Presiden Rusia Boris Yeltsin, yang teralihkan perhatiannya pada masalah-masalah lain, tidak bisa berbuat banyak untuk mempertahankan wilayah Kaukasus, termasuk Chechnya. Situasi terus memburuk, dimana dengan menggunakan berbagai cara, orang-orang Chechnya berhasil memperoleh sebagian besar bekas peralatan militer Soviet yang telah ditempatkan di wilayah mereka dan mulai bisa menciptakan kekuatan militer yang efektif. Kondisi ini memungkinkan Dudayev untuk tetap menjadi penguasa de facto Republik Chechen Ichkeria yang baru diproklamirkan sampai tahun 1994.

PERSIAPAN PERANG

Terlepas dari kemerdekaannya secara de facto, republik Chechnya yang masih muda gagal membangun pemerintahan atau ekonominya secara fungsional. Sebaliknya, para panglima perang memerintah secara lokal dari hasil korupsi, penculikan, perdagangan narkoba dan penjualan senjata. Hanya kebencian umum terhadap Rusia lah yang menyatukan faksi-faksi ini. Meskipun menghormati Islam sebagai simbol perlawanan nasional, banyak orang Chechen pada dasarnya sekuler. Pada musim semi tahun 1994, pemerintah Rusia berusaha untuk menegaskan kembali kendali mereka atas wilayah Chechnya. Yeltsin pertama-tama berusaha untuk mengacaukan pemerintahan Dudayev dan memulihkan kendali melalui kaum loyalis Chechnya yang pro-Rusia. Pejabat pemerintah Rusia juga menuduh Dudayev telah menciptakan negara para kriminal dan, kemudian bekerja secara sembunyi-sembunyi dalam membantu kaum oposisi Chechnya, serta mendesak rakyat Chechnya untuk menggulingkannya. Pada musim semi tahun 1993, sentimen anti-Dudayev telah menjadi begitu kuat di republik itu sehingga Dudayev memutuskan untuk melarang semua partai politik, menutup parlemen, dan bahkan menggunakan tank melawan para pemrotes yang keluar ke jalan-jalan Grozny pada bulan Juni 1993. Pertempuran di Chechnya berlanjut sepanjang musim gugur antara pasukan yang setia kepada Dudayev dan oposisi yang didukung Rusia. Rusia akhirnya terpaksa memasok tank dengan kru asal Rusia untuk membantu kaum oposisi. Namun upaya rahasia ini gagal dan segera dipublikasikan secara luas. Menyadari bahwa “proxy” mereka di Chechnya tidak dapat mengalahkan Dudayev (dan untuk menghindari tuduhan keterlibatan Rusia dalam upaya yang gagal), para menteri Rusia meyakinkan Presiden Yeltsin untuk mengerahkan pasukan reguler Rusia secara terbuka ke Chechnya. Pada pertengahan November, Dudayev sendiri telah merasakan bahwa Yeltsin mulai secara serius mempertimbangkan untuk menggunakan kekuatan militer untuk menggusurnya dari jabatan, jadi dia melakukan beberapa upaya untuk kembali berunding dengan Rusia. Namun, Dewan Keamanan Rusia telah memutuskan untuk menyerang Chechnya, dan Yeltsin mengeluarkan dekrit rahasia yang menyetujui penggunaan kekuatan militer langsung terhadap republik yang memberontak itu. Pada 11 Desember 1994, setelah usaha sebelumnya gagal, pemerintah Rusia memutuskan untuk campur tangan melalui serangan militer secara langsung. Sekitar 40.000 tentara Rusia memasuki Chechnya pada musim gugur tahun itu, yang kemudian segera bekerja sama dengan kaum loyalis lokal. Meskipun tampak kuat, tentara Rusia tahun 1994 hanyalah bayangan masa lalu dari kejayaan era Soviet. Secara keseluruhan tentara mereka hanya menerima sepertiga dari dana yang dibutuhkan untuk mengoperasikan personel, pasokan dan peralatan mereka secara penuh. Bayaran untuk prajurit dan perwira kerap terlambat; ada kelangkaan personel perwira junior dan bagian lainnya; sementara peralatan mereka memiliki kualitas beragam dan selalu kurang; dengan pelatihan yang tidak memadai; dan moral di antara wajib militer serta sukarelawan sama-sama buruk.

Dibawah kepemimpinan Dzhokhar Dudayev, bekas Jenderal Angkatan Udara Soviet, Chechnya menyatakan kemerdekaannya pada bulan November 1991. (Sumber: https://alchetron.com/)

Masalah yang dihadapi bertambah rumit, ketika pasukan Rusia melaporkan tidak dengan melewati struktur komando tunggal tetapi ke banyak kementerian; dengan demikian pasukan yang menyerang Chechnya termasuk berasal dari Kementerian Pertahanan (Kementerian Pertahanan), Kementerian Dalam Negeri (MVD), pasukan keamanan khusus (Spetsnaz) dan pasukan lainnya. Biasanya, mereka tidak memiliki pelatihan atau disposisi untuk bekerja bersama atau berkoordinasi dengan unit lapis baja atau unit udara. Peralatan komunikasi yang mereka gunakan sering tidak kompatibel atau tidak berfungsi, membuat operasi gabungan bersenjata menjadi tidak memungkinkan. Unit-unit sering kali terpaksa menggunakan isyarat secara terbuka untuk mencari bantuan. Hal ini memberikan peluang bagi orang-orang Chechen untuk menyadap dan membuat tipuan yang segera dieksploatasi secara luas. Mungkin kelemahan terbesar tentara Rusia pada saat invasi ke Chechnya adalah bahwa mereka benar-benar tidak siap dalam melakukan perang kota. Selama Perang Dunia II, Tentara Merah telah mengalami pertempuran kota yang hebat dan ekstensif di tempat-tempat seperti Stalingrad, Budapest dan Berlin. Namun, pada periode pascaperang, para ahli taktik mereka secara perlahan-lahan melupakan pelajaran dari pengalaman-pengalaman itu, dan pada 1980-an pelatihan militer Soviet tidak lagi memasukkan teknik perang kota ke dalam pengajaran. Sebaliknya, para ahli taktik perang Soviet, dan kemudian, Federasi Rusia menginstruksikan para perwira mereka untuk melewati kota-kota yang dipertahankan dengan baik. Mereka yang terlihat dipertahankan dengan lemah akan diserang; dengan tank-tank akan masuk dalam formasi untuk mengintimidasi warga sipil, yang kemudian akan diikuti oleh unit infantri mekanik dan unit infanteri biasa untuk membangun dan mempertahankan kontrol mereka atas kota-kota yang mereka masuki. 

Selepas runtuhnya Uni Soviet, kualitas personel militer Russia terus menurun. Para Prajurit yang dikirim berperang di Chechnya kekurangan latihan dan pengalaman tempur. (Sumber: https://northcaucasusland.wordpress.com/)
Pasukan Russia yang dikirim ke Chechnya benar-benar tidak siap dalam menghadapi tantangan perang kota. Mereka dikumpulkan dengan tergesa-gesa dari berbagai daerah sebelum dikirimkan ke medan perang, hal ini nantinya akan berdampak buruk pada saat pertempuran. (Sumber: https://militaryimages.net/)

Setelah sebelumnya mengandalkan langkah-langkah klandestin untuk menyingkirkan Dudayev, perencanaan terperinci untuk operasi militer konvensional berskala luas oleh pasukan Russia tidak juga dimulai sampai dua minggu sebelum dimulainya operasi militer ke Chechnya. Kondisi serba tergesa-gesa ini kemudian nantinya terbukti mengakibatkan kebingungan yang cukup besar dalam rantai komando dan kontrol militer Rusia selama konflik 21 bulan di Chechnya. Tidak mengherankan, unit-unit yang dikerahkan tidak siap untuk berperang. Kurangnya persiapan ini mengakibatkan pukulan berat diderita Pasukan Rusia, sehingga pada awal Januari 1995 “tentara Russia nyaris memberontak, dengan hampir menolak untuk mematuhi perintah konyol para komandannya dan pemerintah di Moskow”. Seperti yang kemudian dibuktikan, Pasukan Rusia tidak pernah sepenuhnya pulih dari awal yang tidak menguntungkan ini. Yang semakin memperburuk adalah kurangnya persiapan dan kondisi menyedihkan dari militer Rusia. Sejak penarikan pasukan Soviet dari Eropa Timur pada tahun 1989, Soviet, dan kemudian pasukan militer Rusia telah mengalami kekurangan anggaran dan perubahan yang setengah-setengah, sehingga mengakibatkan hanya sebagian kecil unit yang siap tempur. (Perlu diingat juga bahwa banyak masalah dalam militer mereka yang terungkap selama perang di Afghanistan belum juga diatasi, tetapi malah terus semakin memburuk). Menurut salah satu sumber, “sejak saat angkatan bersenjata Rusia dibentuk (tahun 1992), tidak ada satupun latihan taktis menembak dilakukan baik di level resimen, brigade atau tingkat divisi. Beberapa batalion kekuatannya bahkan hanya 55-60% dari seharusnya. Sementara itu untuk membentuk pasukan invasi ke Chechnya, brigade dan satuan ukuran kompi dikerahkan dari seluruh Rusia. Alih-alih mengambil waktu untuk membentuk, melatih dan melengkapi unit-unit komposit ini menjadi pasukan yang siap tempur, pihak Russia buru-buru mengumpulkan dan memerintahkan mereka untuk bergerak menuju Chehnya. Selain masalah kurangnya persiapan ini, ada alasan hukum dan moral yang menghambat pelaksanaan misi para prajurit ini. Salah satu isi pada sumpah militer Rusia (yang ditandatangani oleh Presiden Yeltsin pada bulan Januari 1992), meminta setiap rekrutan baru bersumpah untuk tidak “menggunakan senjata melawan rakyat mereka sendiri”. Orang-orang Chechnya sementara itu masih menjadi bagian dari Federasi Rusia, dan karenanya, menggunakan kekuatan militer terhadap rakyat Chechnya, sebenarnya, ilegal.

Meski menghadapi penentangan di dalam negeri, namun Presiden Boris Yeltsin dengan didorong oleh beberapa penasehatnya mengambil keputusan untuk melakukan intervensi militer ke Chechnya. (Sumber: https://nasional.kompas.com/)

Keputusan intervensi militer Russia ke Chechnya sebenarnya bukan berarti tanpa mendapat perlawanan dari dalam pemerintah Russia sendiri. Sebelum serangan Rusia terhadap Chechnya, sejumlah pejabat pemerintah dan orang-orang yang bekerja di Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan keraguan serius tentang kebijaksanaan dari invasi ke Chechnya dan mempertanyakan kesiapan perencanaan strategi perang Rusia. Misalnya, Sergei Yushenkov, Ketua Komite Pertahanan Negara di Duma (Dewan Perwakilan di Russia) pada waktu itu, secara aktif mencoba untuk mencegah invasi setelah upaya kudeta Rusia yang gagal pada bulan November 1994. Jenderal Gromov, wakil Menteri Pertahanan, juga menentang invasi dan mengecam Menteri Pertahanan Rusia Grachev karena harapannya yang tidak realistis dan kurangnya persiapan perang di pihak Russia. Pada bulan Desember 1994, kurangnya pelatihan dan keadaan buruk tentara Rusia telah menjadi titik pertikaian serius di antara para profesional militer Rusia sehingga lebih dari 550 perwira dari semua jajaran diyakini telah didisiplinkan, dipecat, atau telah meninggalkan pasukan Rusia secara sukarela karena oposisi mereka terhadap kampanye militer di Chechnya yang akan dilancarkan. Namun demikian, permohonan para perwira akan tambahan waktu ekstra dan pelatihan sebagian besar diabaikan oleh para pemimpin Rusia

Banyak dari para petempur Chechen adalah veteran dari tentara Soviet, oleh karenanya mereka banyak tahu tentang taktik dan kelemahan dari doktrin militer Soviet yang banyak diadopsi oleh tentara Russia. (Sumber: Pinterest)

Sementara itu, disisi lain, banyak petempur Chechnya adalah veteran di Tentara Merah. Namun, tidak seperti orang Rusia, mereka berhasil melampaui pembatasan pelatihan Soviet di era Perang Dingin dan dipersiapkan secara khusus untuk melakukan pertempuran perkotaan. Dengan memanfaatkan pengetahuan terperinci mereka tentang tempat-tempat seperti Grozny, mereka menghabiskan waktu berbulan-bulan mempelajari kemungkinan rute yang akan digunakan oleh pihak musuh dan mempersiapkan dengan cermat untuk mempertahankannya. Unit-unit bebas yang terdiri dari 50 hingga 60 orang ditugaskan di sebuah sektor tertentu yang menjadi tanggung jawab mereka, di mana mereka mempersiapkan berbagai jebakan dan zona tembak. Mereka juga menetapkan rute-rute untuk pergerakan dan komunikasi, baik di atas maupun di bawah tanah. Seperti yang kemudian akan dibuktikan dalam berbagai peristiwa, taktik mereka terbukti efektif. Petempur Chechen juga tidak kekurangan persenjataan. Saat itu sehabis Soviet runtuh, wilayah Kaukasus dibanjiri oleh senjata. Pada tahun 1995, misalnya, koresponden Amerika Thomas Goltz bertemu dengan ”seorang saudagar muda, yang mengayunkan granat tangan di jari-jarinya, [yang] kemudian menawari saya bom dengan harga sekitar $ 3 masing-masing. Senapan Kalashnikov dijual seharga sekitar $ 200 sebuah, dengan opsi tambahan amunisi. Jika saya ingin mengambil kendaraan pengangkut personel lapis baja delapan roda buatan Soviet, kendaraan itu akan dihargai $ 5.000. ” Meskipun mereka terutama menggunakan senjata ringan, termasuk RPG dan granat, milisi Chechnya juga dilengkapi dengan beberapa tank T-62 dan T-72, senjata anti-tank, rudal permukaan-ke-udara dan bahkan peluncur roket multilaras BM-21 Grad. Perlengkapan ini kebanyakan berasal dari peralatan yang ditinggalkan oleh Tentara Rusia mereka meninggalkan wilayah itu pada awal tahun 1990-an. Orang-orang Chechen juga berimprovisasi, dengan menempatkan senjata-senjata antitank di mobil-mobil yang dimodifikasi dan memasang senjata-senjata anti-pesawat terbang di atas truk. Sementara itu, Angkatan udara Chechnya, sepertinya telah dihancurkan pada awal invasi dan tidak berperan dalam pertempuran berikutnya. 

Pasukan Russia berpose didepan peluncur roket multilaras BM 21 Grad yang dirampas dari gerilyawan Chechnya. (Sumber: https://militaryimages.net/)

Menteri Pertahanan Rusia Pavel Grachev merencanakan untuk menduduki Grozny dalam tiga tahap. Dari 29 November hingga 6 Desember 1994, pasukan Rusia akan mendesak masuk ke Chechnya dari barat, utara dan timur, bergerak secara bersamaan untuk masuk ke ibukotanya. Kemudian dari tanggal 7 hingga 9 Desember mereka akan mengepung kota dan mengisolasinya dari pedesaan. Serangan yang sebenarnya akan dimulai pada tanggal 10 Desember dan akan berlangsung selama beberapa hari. Grachev — mengandalkan “loyalis” Chechen dan pengintaian udara, meskipun tanpa sarana untuk melihat ke dalam blok-blok apartemen besar yang dibangun pada era Soviet yang mendominasi kota — mengasumsikan Grozny lemah pertahanannya. Tank-tank yang bergerak dalam formasi, pikirnya, sudah cukup untuk mengintimidasi orang-orang Chechen. Untuk membangun kontrol atas ibukota Chechnya, pasukan Russia hanya akan menguasai gedung-gedung pemerintah dan pusat komunikasi utama serta membangun garis pertahanan disekitar itu. Rusia berpegang teguh pada rencana ini meskipun ada tanda-tanda peringatan bahwa rencana operasi mereka memiliki kelemahan serius. 

JALANNYA SERANGAN DAN MACETNYA PERANG

Jadwal serangan dengan cepat berubah di lapangan. Pasukan Rusia baru bergerak setelah terlambat selama 12 hari dan menemui perlawanan berat di wilayah utara Terek. Pada tanggal 11 Desember 1994, pasukan Rusia memasuki Chechnya dari tiga arah. Formasi Utara Rusia bergerak dari Mozdok di Ossetia Utara, tempat markas pusat operasional Rusia berada. Sementara Formasi Barat melintasi Ingushetia dari Vladikavkaz, dan Formasi Timur mulai bergerak maju dari Dagestan. Tujuan utama invasi adalah untuk mengambil kendali atas daerah-daerah terpencil Chechnya, yang akan memungkinkan pasukan federal untuk bergerak maju memasuki Chechnya menuju Grozny, ibukota Chechnya dan jantung perlawanan kaum pemberontak. Ketika tentara Rusia dari Formasi Utara memasuki Chechnya, mereka tidak menghadapi banyak perlawanan dari penduduk setempat karena bagian wilayah utara republik itu secara historis lebih reseptif terhadap pemerintahan Rusia dan didominasi oleh saingan Dudayev. Namun, Formasi Timur dan Barat mendapat perlawanan sengit dari penduduk setempat. Yang mengejutkan pemerintah federal, masuknya pasukan Rusia mengubah situasi politik di Chechnya timur dan barat, dimana pemerintah Dudayev mendapat dukungan  tambahan dari rakyat setempat. Setelah pasukan federal menyeberangi perbatasan Chechnya, banyak penduduk setempat mulai memberikan dukungan kepada para pemimpin Chechnya, termasuk Dudayev dengan didorong oleh semangat mempertahankan tanah air mereka, sehingga ratusan warga sipil Chechnya, termasuk wanita dan anak-anak, menghalangi pergerakan pasukan Rusia dan bertempur dengan sengit selayaknya melawan penjajah. Selain itu, karena pasukan Rusia mulai menyerang warga sipil dan membombardir gedung-gedung yang tidak memiliki nilai militer, jumlah korban di antara orang-orang Chechen meroket, yang membuat penduduk setempat semakin gencar melawan tentara Rusia dan meningkatkan kemampuan Dudayev untuk merekrut para pejuang. Tidak mengherankan, perlawanan dari penduduk setempat ini secara signifikan memperlambat operasi militer pasukan Rusia, dan pasukan Rusia pertama tidak berhasil sampai ke Grozny hingga 20 Desember, lebih dari seminggu daripada yang telah direncanakan sebelumnya.

Serangan Russia ke Chechnya pada akhir tahun 1994 dilakukan dengan serangan dari 3 arah secara bersamaan. (Sumber: Pinterest)

Serangan pendadakan oleh pejuang Chechnya juga memperlambat arus transport tentara Russia dan menghambat komunikasi dan logistik. Pada pertengahan Desember, empat tim tempur Rusia — yang terdiri dari sekitar 200 kendaraan lapis baja dan 6.000 prajurit infanteri — bergerak menuju Grozny dengan tujuan utama menguasai istana kepresidenan Dudayev. Namun, upaya pengepungan itu tidak berjalan sesuai rencana, dan Rusia gagal mengisolasi Grozny, sehingga memungkinkan pergerakan petempur dan dukungan logistik Chechnya bergerak bebas keluar masuk kota. Akhirnya, pada Malam Tahun Baru, Grachev meluncurkan serangan habis-habisan di pusat kota, yang didahului dengan serangan udara. Dari utara 81st Guards Motor Rifle Regiment mempelopori gerak maju menuju stasiun kereta api pusat dan istana presiden. Dipimpin oleh tank dan APC, satuan ini awalnya bergerak dengan cepat, menghadapi sedikit perlawanan. Tapi jam 1 malam gerak maju mereka tiba-tiba berakhir. Tembakan dari ruang bawah tanah dan lantai atas gedung-gedung tinggi — posisi menembak yang sebagian besar tidak dapat dijangkau oleh senjata utama tank-tank Rusia — petempur Chechnya melumpuhkan kendaraan di bagian depan dan belakang formasi dan menghancurkan sisanya dengan RPG dan bahkan bom Molotov. Kemudian mereka beralih ke pasukan infanteri pendukungnya. Pasukan Rusia yang panik, membalas tembakan dengan sembarangan atau berjongkok di belakang atau samping APC mereka hanya untuk dihancurkan berkeping-keping. Tembakan salah sasaran dari rekan sendiri juga merenggut sejumlah besar pasukan Rusia. Peristiwa serupa terjadi di bagian-bagian lain kota ketika petempur Chechnya yang bertahan menghentikan atau menghancurkan formasi-formasi lain dari Grachev. 

Petempur Chechen yang menguasai detail kota Grozny benar-benar menyulitkan pasukan Russia. Mereka dapat saja menyerang secara tiba-tiba dari balik bangunan, ruang bawah tanah dan lantai atas apartemen kota. (Sumber: https://northcaucasusland.wordpress.com/)

Serangan Rusia berlanjut selama minggu-minggu berikutnya, tetapi umumnya memiliki hasil yang serupa. Orang-orang Chechen telah menyiapkan zona pertahanan dalam lingkaran yang terpusat di sekitar pusat kota. Bangunan-bangunan yang ada di sekitar menjadi titik-titik pertahanan kuat, jebakan maut untuk satuan infanteri dan lapis baja Rusia yang dirancang dengan membuat medan menembak yang saling berkaitan satu sama lain. Pasukan Chechen yang didukung oleh penembak jitu “meneror” konsentrasi pasukan Rusia dari jarak dekat, sehingga menyulitkan pasukan Grachev untuk membalas dengan tembakan artileri atau roket tanpa mengenai kawan sendiri. Veteran Chechen dari Tentara Merah, yang paham dengan titik-titik lemah tank-tank Rusia, seperti T-72 dan T-80 dan kendaraan lapis baja seperti BMP-1 serta APC BTR-70, mampu melumpuhkan kendaraan-kendaraan musuh dengan relatif mudah. Para prajurit infanteri Rusia kerap meminta bantuan serangan udara ketika cuaca memungkinkan dan berhasil membangun komunikasi udara-darat, tetapi blok-blok apartemen buatan Soviet yang tampak sama dari udara, membingungkan para pilot, yang membunuhi rekan-rekan mereka sesering ketika mereka membunuh orang-orang Chechen. Sementara itu, para pihak yang bertahan mengeksploitasi keunggulan mobilitas mereka untuk menghantam pasukan Rusia dari berbagai arah dan kemudian menyelinap di sepanjang rute pelarian yang telah disiapkan lebih dulu. Para petempur Chechen dengan baik memanfaatkan pengenalan mereka akan medan, mereka misalnya, menurunkan rambu-rambu jalan dan menempatkannya kembali di tempat-tempat yang menyesatkan untuk membingungkan tentara Rusia yang sering kali tidak memiliki peta kota yang memadai.

Kendaraan lapis baja BMP-2 Russia hancur di jalanan Grozny. (Sumber: https://militaryimages.net/)
Tentara Russia dalam tawanan Chechnya di Grozny, Januari 1995. (Sumber: https://www.nytimes.com/)

Orang-orang Chechen juga menyadari daya tembak tentara Rusia yang luar biasa, sehingga para pemberontak menghindari untuk menempatkan sebagian besar kekuatan tempur mereka di posisi diam. Sebaliknya, mereka sering menggunakan taktik “hantam lari” dan pindah dari satu kendaraan ke kendaraan lain untuk menembakkan granat berpeluncur roket ke tank-tank Rusia dan kendaraan pengangkut personel berlapis baja. Pada akhirnya, ratusan tentara Rusia terjebak di jalan-jalan Grozny karena kurangnya persiapan Rusia untuk perang kota. Setelah kepemimpinan militer Rusia menyadari bahwa pasukan federal tidak dapat menguasai kota, mereka kemudian beralih pada penggunaan senjata berat secara besar-besaran, yang melibatkan penembakan dan pemboman Grozny dan kota-kota besar Chechnya lainnya. Dimulai pada akhir Desember 1994, setelah perlawanan besar Chechnya, terjadi pemboman besar-besaran dari udara dan artileri di ibukota Chechnya, Grozny, yang mengakibatkan hilangnya banyak nyawa sipil dan ratusan ribu orang yang mengungsi. Serangan udara berlanjut hingga bulan Desember dan hingga Januari, menyebabkan kerusakan yang luas dan korban sipil yang banyak. Menurut laporan pers, ada hingga 4.000 ledakan per jam di puncak kampanye militer musim dingin terhadap Groznyy. Di luar sejumlah besar warga sipil yang terluka dan terbunuh, sebagian besar bangunan tempat tinggal dan umum di Grozny, termasuk rumah sakit dan panti asuhan, dihancurkan. Tindakan-tindakan ini dikecam sebagai pelanggaran besar hak asasi manusia oleh Sergey Kovalev, Komisaris Hak Asasi Manusia Presiden Yeltsin, dan oleh LSM hak asasi manusia. Sebagai akibat dari pengeboman udara yang intens, hampir semua pusat kota Chechnya dilenyapkan, yang mengakibatkan puluhan ribu korban di pihak sipil dan ratusan ribu pengungsi. Tidak mengherankan, penggunaan kekuatan luar biasa oleh Rusia dan kekerasan tanpa pandang bulu hanya membuat penduduk lokal semakin marah, sehingga pemboman atas Grozny malah meningkatkan jumlah pemberontak. Pemerintah Rusia mengumumkan pada 28 Desember bahwa pasukan darat Rusia telah memulai operasi untuk “membebaskan” Grozny dengan menguasai satu demi satu distrik dan melucuti senjata “kelompok bersenjata ilegal.” Menanggapi ini Pendukung Dudayev bersumpah untuk terus melawan dan beralih ke perang gerilya.

MASALAH DALAM MILITER RUSSIA

Di tengah pertempuran, masalah dalam militer Russia mulai terkuak, seperti yang telat disinggung sebelumnya, pasukan yang dikirim ke Chechnya dalam banyak kasus baru saja bergabung dalam dinas wajib militer mereka. Akibatnya, mereka hanya melewati setengah dari apa yang dalam tentara Amerika anggap sebagai pelatihan dasar militer. Sementara itu, karena perencana militer Rusia ingin menyimpan “peralatan bagus” mereka – 6.000 tank yang mereka anggap layak tempur melawan kekuatan militer Barat – peralatan tempur model lama ditarik keluar dari gudang penyimpanan dan dibagikan kepada pasukan invasi, termasuk tank lawas tipe T-62. Beberapa awak tank juga dilatih menggunakan tank apa pun yang diberikan pada mereka, dan bahkan tanker yang terlatih ditugaskan untuk menggunakan tank yang berbeda dari yang biasa mereka gunakan. Pengemudi T-72 yang terlatih berakhir dengan menggunakan tank T-80BV, sementara awak tank T-80 di tank T-72A. Awak tank yang berasal dari tempat yang berbeda-beda dilemparkan ke medan tempur dengan awak tank lainnya dan harus berlatih membiasakan diri satu sama lain selama perjalanan menuju ke Grozny. Semua ini diperparah oleh dua kesalahan besar. Pertama, semua unit yang ditugaskan terbiasa dalam pola-pola hubungan di masa damai, bukan di masa perang. Di bawah peraturan masa perang, semua pasukan di daerah tertentu ada dibawah komandan yang ditunjuk. Di masa damai, mereka masih bertanggung jawab terhadap rantai komando mereka sendiri. Hal ini terjadi dengan unit VDV yang dikirim serta unit Pasukan Internal MVD, yang mencakup sekitar 40 persen dari pasukan yang dikerahkan (15.000 dari 38.000). Kedua, komandan Distrik Militer Kaukasus Utara mengatur operasi di Chechnya layaknya front era Soviet dengan terlalu banyak birokrasi komando bagi pasukan yang dikerahkan. Hasilnya adalah bencana yang tidak tanggung-tanggung, yang terlihat jelas pada peristiwa hancurnya Brigade Bermotor Independen ke-131 “Maykop” dan Resimen Pengawal Senapan Bermotor ke-81 pada Malam Tahun Baru 1994-95.

Tank T-80BV pasukan Russia hancur di Chechnya. Dalam Perang Chechnya pertama banyak awak tank Russia yang terpaksa mengemudikan tank yang bukan merupakan tank yang biasa mereka gunakan dalam latihan. (Sumber: https://militaryimages.net/)
Turret Tank T-80BV dan rongsokan kendaraan lapis baja BTR milik tentara Russia. Dalam perang Chechnya pertama banyak tank milik pasukan Russia yang belum dilengkapi dengan lapisan pelindung armor reaktif, akibatnya mereka dengan mudah dilumpuhkan oleh senjata anti tank pejuang Chechnya. (Sumber: https://militaryimages.net/)

Soviet memiliki sistem konservasi dan logistik jangka panjang yang sangat baik, tetapi mengandalkan persiapan dan penyimpanan peralatan di tingkat depo dengan awak yang terampil untuk bisa bekerja dengan baik. Inilah sebabnya mengapa pada tahun 1991 Letnan Jenderal Dmitry Volkogonov mencatat bahwa Uni Soviet, pada saat runtuhnya, diatas kertas memiliki 77.000 tank, meskipun terpencar di berbagai negara bagian dalam dinas aktif atau dalam perbaikan. Pada saat pecahnya Soviet, sebagian besar pabrik perbaikan – yang bertanggungjawab dalam memperbaiki dan melakukan penyimpanan – jatuh ke tangan Belarusia dan Ukraina. Ketika personel terampil jauh berkurang, banyak kendaraan harus disimpan dan dirawat oleh personel reguler. Personel ini tidak terlatih dalam mempersiapkan kendaraan dengan tepat, dan sebagai akibatnya, ketika tank-tank ditarik keluar dari penyimpanan, banyak dari mereka gagal dioperasikan dalam waktu hampir bersamaan. Kolonel Jenderal Sergey Mayev, kepala Direktorat Tank dan Otomotif Angkatan Darat Rusia, (GABTU), menyatakan dalam beberapa kesempatan bahwa hal ini adalah alasan utama kegagalan dan masalah mereka. Tank-tank yang seharusnya membutuhkan waktu enam jam untuk siap tempur kini membutuhkan waktu hingga tujuh sampai sembilan hari, dan sering mengalami kegagalan sistem tak lama setelah itu (sistim pendinginan menjadi masalah utama pada tank T-72 dan kendaraan tempur BMP). Baterai yang tidak disimpan dengan benar – kelemahan utama lain dari tank era Soviet, karena tidak ada cukup dari mereka untuk dirotasi dan disimpan dengan tepat – juga dapat mati dengan cepat, memaksa pasukan untuk menggantinya segera dalam kondisi yang sangat sulit. Tank T-80BV yang digunakan oleh Brigade “Maykop” tidak memiliki pelat pelindung peledak reaktif pada lapisan baja mereka (sebenarnya hanya perisai pelindung dari pelat peledak  tipe 4S20), dan sebagai hasilnya tank mereka tidak mampu melawan tim antitank Chechen yang terampil menembaki mereka dari atas bangunan. Gambar tank T-80BV, dengan beberapa kotak armor masih terlihat di glacisnya, dalam kondisi hancur total di dekat stasiun kereta api di Grozny menjelaskan betapa sia-sianya serangan oleh pasukan dan unit ini. Apakah lapisan armor reaktif tank itu dicuri –– atau tidak dipasang karena tidak ada yang berpikir untuk melakukan itu – tidak ada siapa pun yang tahu. Kendaraan itu juga menggunakan bahan bakar untuk “Musim Dingin”, dengan semburan naphtha ditambahkan untuk memudahkan proses starter mesin, menyebabkan bahan bakar diesel lebih mudah meledak ketika terkena proyektil HEAT yang ditembakkan petempur Chechen.

FASE TEROR

Teror juga berperan dalam taktik Chechnya. Para pejuang Chechnya secara luas menggunakan metode-metode klasik seperti memasang jebakan pada tentara Rusia yang mati dan tembakan sniper mereka lebih bermaksud melukai daripada membunuh, sehingga mampu memikat target tambahan ke dalam zona membunuh. Pejuang Chechnya juga dengan mudah bergabung dengan penduduk sipil, dan upaya Rusia untuk memisahkan pejuang dari warga sipil dalam apa yang disebut sebagai “kamp penyaringan” merupakan bencana yang merusak hubungan masyarakat dan sama sekali tidak efektif. Orang-orang Chechen juga menempatkan titik-titik pertahanan di gedung-gedung yang diduduki warga sipil untuk menarik tembakan dari pihak Rusia dan mengeksploitasi timbulnya korban sipil guna tujuan propaganda. Tidak seperti kebanyakan perwira Rusia, pejuang Chechnya berusaha menarik perhatian media Barat dan bekerja sama dengan penuh semangat dengan berbagai koresponden perang untuk membangun simpati guna memperkuat tujuan mereka. Sementara itu setelah diuji dengan pertempuran tanpa henti, pihak Rusia akhirnya mempelajari kembali pelajaran kunci mengenai perang kota. Para komandan membebastugaskan perwira lapangan yang tidak kompeten dan mengganti formasi MVD dengan pasukan Kementerian Pertahanan yang lebih efisien. Bala bantuan yang terlatih lebih baik dari unit infantri laut, Airborne dan Spetsnaz meningkatkan jumlah pasukan di Grozny menjadi 30.000 orang pada awal 1995. Rusia menguasai kembali malam dengan menggunakan perangkat komunikasi dan peralatan penglihatan malam yang efektif, sementara mereka membutakan musuh dengan lampu sorot dan munisi fosfor putih. Para penembak jitu Rusia juga mulai membuat dampak, dan unit kecil menunjukkan taktik yang lebih fleksibel; alih-alih mencoba mengendalikan seluruh kota, mereka bergerak maju dari ruang ke ruang, bangunan demi bangunan. Senjata yang disukai untuk menghadapi titik kuat pertahanan pejuang Chechnya adalah dengan menggunakan proyektil roket pembakar Shmel (“Bumblebee”). 

Aksi brutal pasukan Russia yang tidak menghiraukan korban di pihak sipil dan kehancuran kota Grozny, justru makin memperkuat dukungan rakyat sipil pada pejuang Chechnya. (Sumber: https://www.nytimes.com/)

Namun, tidak semua improvisasi Rusia membuahkan hasil. Usaha-usaha dalam menerjunkan pasukan serbu perkotaan gaya Perang Dunia II tidak terlalu berhasil karena kurangnya waktu untuk pelatihan khusus. Tank masih berjuang melawan titik-titik kuat pertahanan Chechnya dan taktik mobile mereka. Helikopter menyerang emplasemen bangunan lantai atas dengan hasil yang baik tetapi rentan terhadap tembakan darat. Seperti yang sering terjadi dalam peperangan modern, prajurit yang bertempur di darat membuat propaganda yang menarik dari penghancuran pesawat terbang bersayap dan helikopter musuh yang mereka rekam. Pasukan Rusia mengusir komando Chechnya dari istana presiden pada pertengahan Januari dan membuat kemajuan yang lambat tapi konstan menuju pusat kota. Pertempuran untuk merebut ibukota Chechnya berlangsung selama beberapa minggu, dan pasukan Rusia akhirnya berhasil mengambil alih kendali Istana Kepresidenan di Grozny pada tanggal 19 Januari 1995. Hari berikutnya, pasukan Rusia mengibarkan bendera federal di atas Istana, yang mengingatkan kembali memori saat Tentara Merah menguasai Reichstag di Berlin pada akhir Perang Dunia Kedua. Tetapi keberhasilan ini membuahkan kepercayaan diri yang berlebihan. Tak lama kemudian, Pada bulan Maret, karena percaya bahwa Grozny sudah ada di tangan mereka, tentara menyerahkan kendali Grozny ke pasukan Kementrian dalam negeri Rusia, juga dikenal sebagai MVD, yang ditugaskan untuk melucuti semua formasi ilegal, menjaga instalasi kota penting, mengawal konvoi bantuan kemanusiaan, dan menjaga ketertiban umum di kota. Pihak Rusia menarik pasukan MoD (Kementrian Pertahanan) dan mengirim mereka untuk berperang di pegunungan selatan, menggantikan mereka dengan pasukan MVD yang lebih rendah kualitasnya. Pada saat yang sama, orang-orang Chechen membawa perang ke level baru. Pada pertengahan Juni, separatis Chechnya Shamil Basayev, menyatakan, “Kami tidak akan duduk di sini di Chechnya dan dimusnahkan,” ia kemudian menyerang kota Budennovsk di Rusia dan mengambil 1.500 sandera di rumah sakit. Upaya penyelamatan oleh pasukan Spetsnaz Rusia gagal total, dan menewaskan 150 warga sipil. Perdana Menteri Rusia Viktor Chernomyrdin memperoleh pembebasan para sandera dengan imbalan pasukan Basayev dapat mundur dengan aman dan janji penangguhan semua operasi ofensif Rusia di Chechnya. Chernomyrdin menyebut kesepakatan itu “pertama kalinya dalam sejarah Rusia bahwa menyelamatkan nyawa telah ditempatkan di atas kepentingan negara,” namun hal ini hampir tidak dapat menyembunyikan penghinaan yang dialami pemerintah Yeltsin bahkan apa yang terjadi di Budennovsk malah makin menguatkan semangat teroris Chechen. 

Shamil Basayev, salah satu pemimpin pemberontak Chechnya yang tidak segan-segan melakukan aksi terorisme atas penduduk sipil Russia untuk mematahkan semangat Pemerintah Russia dalam memerangi pejuang Chechen. (Sumber: https://www.economist.com/)
Dalam peristiwa penyanderaan di Rumah Sakit Budennovsk, 150 warga sipil menjadi korban saat pasukan Spetnaz melancarkan aksi pembebasan yang gagal. (Sumber: https://www.rferl.org/)

Pada Januari 1996, 200 pasukan separatis Chechnya lainnya melintasi perbatasan ke Dagestan, menyerang sebuah pangkalan helikopter Rusia di Kizlyar, kemudian merebut rumah sakit kota dan mengambil 2.000 sandera. Yeltsin memerintahkan untuk dilakukan negosiasi segera, menjanjikan jalan keluar yang aman bagi separatis kembali ke Chechnya — tetapi kali ini dia tidak berniat menepati janjinya. Tidak lama setelah orang-orang Chechen meninggalkan Kizlyar dalam sebuah formasi bus dengan 150 sandera, pasukan Rusia mencegat konvoi dan menuntut orang-orang Chechen untuk menyerah. Sebagai gantinya, separatis membawa sandera mereka ke desa terdekat Pervomayskoye dan membentuk posisi pertahanan. Lima hari kemudian pasukan Rusia melancarkan serangan tanpa ampun di desa itu dengan tank, helikopter, dan roket, dengan sedikit memperhatikan keselamatan sandera atau warga sipil. Tentara Rusia ”menang” —membunuh banyak orang Chechen dan memaksa yang lain melarikan diri — tetapi meratakan desa itu dalam prosesnya. Di Chechnya, negosiasi damai gagal, dan perang pun berlanjut. Dengan bantuan loyalis Chechnya, Rusia berupaya membangun pemerintahan lokal yang stabil, dengan keberhasilan yang beragam. Pejuang Chechnya mempertahankan kendali atas pegunungan selatan, menyerbu Grozny dan meningkatkan serangan teroris. Kekejaman pihak Rusia terhadap warga sipil Chechnya juga membuat ketegangan tetap tinggi. Pada Maret 1996 Basayev dengan terang-terangan masuk ke Grozny bersama ratusan pejuang Chechen dengan kereta yang mereka rampas, aksi ini membuat pasukan MVD panik. Dia (Basayev) baru menarik diri hanya setelah menimbulkan ratusan korban dan merampas sejumlah senjata dan amunisi. Sementara itu, meski kehilangan ibukota Chechnya, perlawanan terhadap pasukan Rusia terus berlanjut selama dua tahun. Pada bulan Maret 1996, pemberontak Chechnya berusaha merebut kembali Grozny, tetapi pasukan Rusia berhasil mempertahankan kota. Sebulan kemudian, pihak berwenang Rusia mendapat kesuksesan lain setelah mereka melacak telepon satelit Dudayev dan membunuhnya dalam serangan rudal pada tanggal 21 April (dilaporkan dengan bantuan intelijen AS), namun hal ini tidak banyak berdampak pada pertempuran secara keseluruhan. Dudayev berusia 52 tahun saat tewas akibat serangan Russia.

MUNDURNYA RUSSIA DAN PERDAMAIAN SEMU

Sementara itu semangat di antara pasukan Rusia menurun dengan cepat di tengah kekalahan, kesengsaraan, korupsi, dan penyalahgunaan narkoba serta alkohol. Dalam memoar perang pribadinya, Arkady Babchenko mengklaim telah mengalami lebih banyak kesengsaraan di tangan rekan-rekannya daripada yang dia alami dari bangsa Chechen. “Saya dipukuli oleh semua orang, dari prajurit hingga wakil komandan resimen,” tulisnya. “Satu-satunya orang yang tidak memukulku adalah seorang jenderal, mungkin karena ia tidak berada di resimen kita.” Pada musim panas 1996, empat belas anggota kompi itu telah pergi AWOL (desersi): “personel wajib militer muda melarikan diri berbondong-bondong, langsung dari tempat tidur mereka ke padang rumput, tanpa alas kaki dan hanya menggunakan celana panjang tidurnya, karena tidak mampu menahan siksaan pada malam hari lagi.” Bahkan letnannya pun pergi. Para ibu Rusia memprotes secara terbuka agar perang itu segera diakhiri, dan dukungan publik bagi Yeltsin anjlok hingga ke titik nol. 

Helikopter Mi-8 Russia dijatuhkan oleh pejuang Chechen dekat Grozny tahun 1994. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)
Alexander Lebed mewakili pemerintah Russia menandatangani perjanjian damai dengan Aslan Maskhadov untuk mengakhiri Perang Chechnya Pertama pada 30 Agustus 1996. (Sumber: https://militaryimages.net/)

Sementara itu merasa momen telah datang untuk menyerang, Basayev dan komandan Chechnya lainnya memimpin serangan terhadap Grozny pada bulan Agustus 1996. Unit-unit kecil menyusup ke  dalam kota dan kemudian berpisah untuk memblokir jalan-jalan masuk, merebut target kunci seperti stasiun kereta api. Diperkirakan 7.000 pasukan MVD di Grozny mengundurkan diri ke dalam bunker atau melarikan diri. Bala bantuan dari Kementrian pertahanan dikembalikan ke level seperti 1994, yang ironisnya mengulangi kesalahan lama dalam upaya mereka untuk merebut kembali kota. Pada 11 Agustus mereka telah mendesak masuk ke pusat kota tetapi dengan memakan 2.000 korban. Pihak Rusia sudah tidak tahan lagi. Gencatan senjata pada tanggal 22 Agustus secara efektif mengakhiri konflik, dengan Rusia berjanji untuk menarik diri dari republik Chechnya pada akhir tahun dan akhirnya mengakui kemerdekaannya. Pemerintah Rusia menyelesaikan operasi militer dua tahun mereka dengan penandatanganan perjanjian Khasavyurt pada 30 Agustus 1996, yang memungkinkan pemilihan presiden dan parlemen di Chechnya. Moskow juga mengakui pemenang pemilihan presiden, Aslan Maskhadov, yang sebelumnya bekerja sebagai Kepala Staf Dudayev dan menjadi komandan pasukan Chechnya setelah pembunuhan Dudayev. Pada Maret 1997, Maskhadov bertemu dengan Yeltsin untuk menandatangani perjanjian yang akan memastikan bahwa kedua belah pihak hanya akan mencari solusi damai untuk setiap sengketa yang berpotensi timbul antara Rusia dan Republik Chechnya.

DAMPAK DAN KONDISI CHECHNYA KINI

Perang Chechnya Pertama yang berlangsung antara tahun 1994-96 pertama-pertama dan terutama adalah tragedi kemanusiaan, yang merenggut nyawa sekitar 50.000 hingga 80.000 orang Chechen — mungkin lebih — dan menciptakan ratusan ribu pengungsi. Para pejabat Rusia mengakui adanya 24.000 korban di pihak militer tetapi mungkin mereka menderita dua kali lipat lebih banyak dari jumlah itu. Sementara itu Grozny menjadi kota yang hancur. Chechnya, secara teknis “bebas merdeka,” tapi benar-benar miskin dan segera berubah menjadi negeri para bandit dan menjadi surga bagi para ekstrimis. Terhina karena kehilangan ke republik kecilnya, banyak orang Rusia mendambakan pembalasan. Jatuhnya Yeltsin dan kebangkitan rezim otoriter dari Vladimir Putin mendorong dituntutnya pembalasan ke Chechnya. Dan sementara para pemimpin militer tidak dapat mengembalikan kembali keperkasaan mesin perang Rusia yang sudah tua dan lamban dalam semalam, mereka setidaknya dapat dan memang belajar dari kesalahan mereka sebelumnya. Ketika perang pecah lagi pada tahun 1999, orang-orang Chechnya sekali lagi menimbulkan korban yang menakutkan, tetapi orang-orang Rusia telah bertekad untuk kembali dan tidak pergi lagi. Pada bulan September 1999, pasukan federal Rusia bergerak untuk mengambil alih alih wilayah Chechnya sekali lagi setelah gerilyawan Chechnya mencoba menyerang Dagestan, wilayah federal Rusia dan tetangga timur dari Chechnya. Perang kedua Rusia dengan Chechnya berlangsung selama hampir sepuluh tahun.

Pada tahun 1999 pasukan Russia kembali menginvasi Chechnya, namun kali ini mereka tidak berencana mundur lagi. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

Pada tahun 2000, Presiden Rusia yang baru, Vladimir Putin mulai meningkatkan koordinasi antara pasukan dari berbagai kementerian dan memerintahkan pelatihan ulang pasukan khusus, yang menyiapkan pasukan Rusia untuk pertempuran di gunung dan perkotaan. Selain itu, pasukan federal mulai melakukan latihan operasi bersama, dan rezim Putin juga belajar bagaimana mengendalikan narasi media dan menciptakan rencana strategis dan kohesif untuk mengalahkan pemberontakan. Pihak berwenang Rusia juga mulai mengandalkan proxy di Chechnya, lewat Akhmad Kadyrov dan paramiliter kadyrovtsy-nya, yang mendirikan basis kekuatan dalam struktur klan Chechnya dan dengan terampil menciptakan perpecahan tajam dalam masyarakat Chechnya, yang memungkinkan mereka mengurangi tingkat dukungan lokal untuk para pemberontak. Meskipun Perang Chechnya Kedua berakhir dengan kemenangan Rusia, status politik Republik Chechnya tetap suram. Republik Chechnya saat ini diperintah oleh Ramzan Kadyrov, putra Akhmad Kadyrov, dan salah satu sekutu terbesar Putin yang tidak stabil. Dalam dekade terakhir, Kadyrov menciptakan ‘negara di dalam negara’ di republik federasi Russia, dan Chechnya, yang sepenuhnya dikendalikan oleh Kadyrov dan aparat keamanannya sendiri. Tidak seperti pemimpin distrik regional lainnya, Kadyrov juga memiliki pengaruh politik yang belum pernah terjadi sebelumnya di negara ini, dan dia tidak takut untuk memamerkan hubungan istimewanya dengan Putin kepada otoritas federal lainnya.

Kini Chechnya dipimpin oleh Ramzan Kadyrov yang nyentrik dan Pro Russia. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

Hubungan dekat antara Putin dan Kadyrov telah memungkinkan Rusia untuk mempertahankan kontrolnya atas republik itu sejak akhir Perang Chechnya Kedua. Namun, wilayah itu tetap sangat fluktuatif karena stabilitas politik Chechnya sepenuhnya bergantung pada kemauan dua orang, yakni Putin dan Kadyrov, yang kesetiaannya satu sama lain ditentukan oleh ambisi politik mereka dan kesediaan Putin untuk membiarkan pola pemerintahan Kadyrov yang tidak umum. Yang lebih penting lagi, wilayah itu tetap tidak stabil karena otoritas federal hampir tidak pernah membahas akar penyebab yang menyebabkan bangkitnya pemberontakan Chechen. Di masa kini, otoritas Chechnya meniru taktik para pejabat federal selama era Soviet dan mengandalkan penindasan dan hukuman sewenang-wenang untuk mengendalikan warganya. Selain itu, Moskow terus mengabaikan ketimpangan ekonomi, korupsi yang meluas, dan infrastruktur sosial yang buruk di republik Chechnya. Oleh karena itu, dukungan Moskow yang hampir tanpa syarat untuk Kadyrov dapat menjadi bumerang dalam jangka panjang, terutama jika otoritas federal gagal untuk mengintegrasikan Chechnya ke dalam ruang konstitusional Rusia dan menolak untuk meminta pertanggungjawaban Kadyrov atas pengabaiannya sepenuhnya terhadap hak asasi manusia dan hukum federal Rusia di Chechnya.

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

Taming Chechnya by Edward G. Lengel

Insurgency in the North Caucasus: Lessons of the First Chechen War by Elina Driscoll

https://smallwarsjournal.com/jrnl/art/insurgency-north-caucasus-lessons-first-chechen-war

Why the Russian Military Failed in Chechnya, December, 1996; By MAJ Raymond C. Finch, III

https://web.archive.org/web/20070928120605/http://www.amina.com/article/whyrus_failed.html#13a

First Chechnya War – 1994-1996

https://www.globalsecurity.org/military/world/war/chechnya1.htm

The Battle Of Grozny And The First Chechen War; January 04, 2020 08:57 GMT

https://www.rferl.org/a/russia-grozny-battle-chechen-war-1994-1995/30359837.html

https://en.m.wikipedia.org/wiki/First_Chechen_War

7 thoughts on “Perang Chechnya I (1994-1996), Titik Nadir Militer Russia Pasca Perang Dingin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *