Perang India vs China (20 Oktober – 21 November 1962), Perang Terlupakan antara Dua Raksasa Asia

Perang Cina-India masih memiliki implikasi yang mempengaruhi bagaimana masing-masing negara memandang satu sama lain hingga hari ini. Pada tahun 1962, dua negara terpadat di dunia itu berperang satu sama lain di sepasang daerah perbatasan yang terpencil dan bergunung-gunung. Dalam waktu kurang dari sebulan, Cina mampu memberi India kekalahan dahsyat, yang memukul mundur pasukan India di semua front. Seiring dengan putusnya harapan solidaritas politik di antara negara-negara berkembang, perang ini membantu membentuk struktur politik di Asia Timur dan Tenggara selama beberapa generasi sesudahnya. Bahkan hari ini, ketika pasukan India dan Cina masih bersengketa di Dataran Tinggi Doklam, sebuah warisan perang tahun 1962 masih bergema di kedua negara.

Sengketa perbatasan antara China dan India yang belum terselesaikan, berpotensi memantik konflik di masa depan antara kedua raksasa militer Asia ini. (Sumber: https://www.oneindia.com/)

MILITER CHINA VS INDIA

Meskipun pemerintah China dan India sama-sama relatif baru (Republik Rakyat China dideklarasikan di Beijing pada tahun 1949, dua tahun setelah India memperoleh kemerdekaannya dari Inggris), angkatan bersenjata kedua negara yang berperang amat berbeda. Angkatan Darat India berkembang dengan kuat mengikuti warisan jejak militer imperium kolonial Inggris di India. Banyak satuan India telah bertempur di berbagai medan dalam Perang Dunia II, termasuk di Afrika Utara dan Burma. Kekuatan-kekuatan ini akan, dalam banyak hal, membentuk inti dari militer India yang baru, termasuk pasukan Gurkha yang terkenal itu sebagian memilih bergabung dengan militer India. Pasukan bersenjata India pasca-kemerdekaan terstruktur mengikuti model tentara kolonial Inggris di India, dan pada tahun-tahun awal sejak didirikan, sebagian besar masih mengoperasikan peralatan militer Barat. Inkarnasi Angkatan Darat India ini menunjukkan aksi pertamanya pada tahun 1947, dalam Perang Kashmir pertama, saat mereka berperang melawan rekan-rekannya dulu yang kini bergabung dengan Angkatan Darat Pakistan.

Dalam Perang China-India tahun 1962, prajurit Angkatan Darat India masih menggunakan senapan era Perang Dunia II seperti Lee Enfield dan Bren LMG. (Sumber: https://www.warhistoryonline.com/)
Pasukan Airborne China sekitar tahun 1959. Pada saat pecah Perang China-India tahun 1962, pasukan infanteri RRC telah banyak dilengkapi dengan senapan serbu modern pada masa itu, yakni varian AK-47 dan copy an Chinanya, Type 56, hal ini memberikan keuntungan dari sisi daya tembak dibanding pasukan India. (Sumber: https://www.chinadaily.com.cn/)
Pesawat tempur Hawker Hunter AU India tidak dapat berperan dalam Perang China-India tahun 1962. (Sumber: https://abpic.co.uk/)
Bomber Canberra AU India. Dari Armada Pembom, AU India jelas lebih modern dari AU China yang masih mengandalkan bomber Tu-4 teknologi Perang Dunia II. (Sumber: https://www.militaryimages.net/)
Kapal Induk India INS Vikrant. Sekali lagi dalam perang dengan China, India tidak dapat mengerahkan kekuatan AL nya yang lebih kuat dari China. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

Sementara itu dipihak lain, angkatan bersenjata Cina komunis amatlah berbeda. Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) muncul sebagai organ militer Partai Komunis Tiongkok (PKT), sebuah organisasi revolusioner dengan akar di perkotaan dan pedesaan. PLA berpengalaman hampir dua puluh tahun tanpa henti dalam operasi-operasi tempur besar setelah pembentukannya. Mereka bertempur dengan keras melawan pasukan Nasionalis Chiang Kai-shek diawal kelahirannya, kemudian melawan Tentara Kekaisaran Jepang dalam Perang Dunia II, dan akhirnya melawan pasukan koalisi PBB yang dipimpin Amerika di Korea. Perang pada tahun 1962 itu tidak melibatkan pasukan udara atau angkatan laut baik dari India maupun Cina. Hal ini menguntungkan China; Angkatan Laut India saat itu jauh lebih unggul daripada Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat, dan Angkatan Udara India, dilengkapi sebagian besar dengan pesawat-pesawat tempur buatan Inggris, semacam Hawker Hunter, Vampire, Bomber Canberra dan Prancis dari tipe Dassault Ouragan dan Mystere IV, yang relatif lebih modern, sementara PLAF masih dilengkapi dengan pesawat tempur MiG-15/17 dan bomber Tu-4 kuno hasil copy an dari B-29 era Perang Dunia II. Selain itu, PLA masih amat orthodox dengan menekankan pada taktik gerilya dan serangan konvensional pasukan darat dan belum mengembangkan kemampuan operasi gabungan darat-udara sejak berakhirnya Perang Korea. Namun, koordinasi yang buruk dari tentara India, dikombinasikan dengan medan yang terbatas, telah mencegah penggunaan pesawat tempur secara ekstensif. Terbatasnya skala konflik juga berarti bahwa angkatan laut tidak akan memainkan peran ini dalam konflik ini. Sekali lagi hal ini tidak menguntungkan India namun menguntungkan China, yang AL nya jauh lebih inferior (sejak 1961 AL India telah dilengkapi dengan kapal induk INS Vikrant). Selain itu, meski memiliki AU dan AL yang cukup modern di kawasan, namun militer India sangat kontradiktif, sebagian besar dari prajurit infanteri mereka masih berperang dengan senjata usang dari era Perang Dunia II, sebagai contoh senapan standar infanterinya masih menggunakan senapan bolt action Lee Enfield asal Inggris yang dalam sejarahnya sudah dipakai sejak Perang Dunia I dan sebagai senapan pendukungnya mereka dipersenjatai dengan Bren LMG yang telah malang melintang dalam Perang Dunia II. Sebaliknya, prajurit infanteri Tiongkok tidak hanya memiliki persenjataan yang baik dan terlatih, tetapi juga jumlahnya lebih banyak dari prajurit India. Dari senjata perorangannya mereka telah dilengkapi dengan senapan semi otomatis SKS dan versi lisensi dari AK-47, yakni senapan serbu type 56 yang jelas menawarkan firepower lebih baik dari senapan Lee Enfield India. Selain itu terdapat 80.000 personel pasukan darat Cina, selama perang yang melawan sekitar 12.000 tentara India. Dalam medan bergunung-gunung, penggunaan infanteri mekanis dengan kendaraan lapis baja serta tank juga amat terbatas. Hal ini, dikombinasikan dengan faktor-faktor lain, jelas menunjukkan bahwa keunggulan di darat ada di pihak China.

ALASAN BERPERANG 

Penyebab langsung perang itu adalah pertikaian teritorial antara India dan Cina di sepanjang perbatasan kedua negara di daerah Aksai Chin. India menegaskan bahwa wilayah itu, yang luasnya sedikit lebih besar dari Portugal, adalah bagian dari wilayah Kashmir yang dikuasai India, sedangkan Cina menyatakan bahwa wilayah itu adalah bagian dari Xinjiang. Akar perselisihan teritori itu sebenarnya bisa ditarik kembali sejak era pertengahan abad ke-19 ketika Kemaharajaan Inggris di India dan Dinasti Qing di Cina sepakat untuk membiarkan perbatasan tradisional kedua imperium,  sebagai batas antara wilayah mereka. Pada 1846, hanya bagian-bagian di dekat Karakoram Pass dan Danau Pangong yang digambarkan dengan jelas; sementara bagian lain dari perbatasan tidak secara resmi ditetapkan. Pada tahun 1865, survei yang dilakukan Inggris menempatkan batas di Jalur Johnson, yang mencakup sekitar 1/3 wilayah Aksai Chin masuk ke dalam area Kashmir. Inggris tidak berkonsultasi dengan Cina tentang garis demarkasi ini karena Beijing saat itu tidak lagi mengendalikan wilayah Xinjiang. Namun, Cina merebut kembali Xinjiang pada tahun 1878. Mereka secara bertahap mendesak ke depan, dan membuat penanda batas demarkasi di Karakoram Pass pada tahun 1892, menandai wilayah Aksai Chin sebagai bagian dari Xinjiang. Inggris sekali lagi mengusulkan perbatasan baru pada tahun 1899, yang dikenal sebagai Garis Macartney-Macdonald, yang membagi wilayah di sepanjang Pegunungan Karakoram dan memberi India sepotong area yang lebih besar. British India akan mengendalikan semua DAS Sungai Indus sementara Cina mengambil DAS dari Sungai Tarim. Ketika Inggris mengirim proposal dan peta mereka ke Beijing, Cina tidak menanggapi. Meski demikian kedua belah pihak menerima garis ini seperti apa adanya untuk sementara waktu. Pada tahun 1913, perwakilan dari Inggris, China dan Tibet menghadiri konferensi di Simla untuk membahas mengenai perbatasan antara Tibet, Cina, dan India Inggris. Sementara ketiga perwakilan memprakarsai perjanjian itu, Beijing kemudian menolak usulan batas antara wilayah Tibet Luar dan Tibet Dalam, dan tidak meratifikasinya. Rincian batas Indo-Tibet tidak diungkapkan ke China hingga saat itu. Wakil pemerintah India Inggris, Henry McMahon, yang telah menyusun proposal, memutuskan untuk mem-bypass Cina (meskipun diperintahkan untuk tidak melakukan hal itu oleh atasannya) dan menyelesaikan perbatasan secara bilateral dengan bernegosiasi langsung dengan Tibet, tanpa melibatkan China. Menurut klaim orang India kemudian, perbatasan ini melewati puncak pegunungan tertinggi Himalaya, dengan daerah selatan Himalaya secara tradisional dimasukkan sebagai wilayah India. Sementara itu kenyataannya Garis McMahon, demikian nama garis itu kerap disebut, terletak di selatan batas klaim India. Pemerintah India berpandangan bahwa Himalaya adalah batas lama dari anak benua India, dan dengan demikian harus menjadi batas modern India, sementara itu pemerintah China menganggap bahwa wilayah yang disengketakan di Himalaya secara geografis dan secara budaya merupakan bagian budaya dari Tibet sejak zaman kuno. Beberapa bulan setelah perjanjian Simla, Cina mendirikan penanda batas di selatan Garis McMahon. T. O’Callaghan, seorang pejabat di Sektor Timur Perbatasan Timur Laut, memindahkan semua penanda ini ke lokasi yang sedikit di selatan Garis McMahon, dan kemudian mengunjungi Rima untuk mengkonfirmasi dengan para pejabat Tibet bahwa tidak ada pengaruh China di daerah itu. Pemerintah India yang dikelola Inggris pada awalnya menolak Perjanjian Simla yang menganggapnya tidak sesuai dengan Konvensi Anglo-Rusia 1907, yang menetapkan bahwa tidak ada pihak yang dapat bernegosiasi dengan Tibet “kecuali melalui perantara pemerintah China”. Namun Inggris dan Rusia telah membatalkan perjanjian 1907 dengan persetujuan bersama pada 1921. Baru pada akhir 1930-an Inggris mulai menggunakan McMahon Line pada peta resmi kawasan itu. Meski demikian, Inggris dan Cina sama-sama tetap menggunakan jalur yang berbeda secara bergantian, dan tidak ada negara yang khawatir karena daerah itu sebagian besar tidak berpenghuni dan hanya berfungsi sebagai jalur perdagangan musiman. Lagipula dengan berjalannya waktu, China memiliki keprihatinan yang lebih mendesak dengan jatuhnya Kaisar terakhir mereka dan berakhirnya Dinasti Qing pada tahun 1911, yang kemudian memicu Perang Sipil Tiongkok. Inggris kemudian juga akan segera terlibat dalam Perang Dunia I. Pada 1947, ketika India memperoleh kemerdekaannya dan peta-peta negara anak benua itu ditetapkan ulang, masalah Aksai Chin tetap belum terselesaikan.

Peta ini menunjukkan klaim perbatasan India dan Cina di wilayah Aksai Chin, garis Macartney-MacDonald, Foreign Office Line, serta kemajuan pasukan China saat mereka menduduki daerah-daerah selama Perang China-India. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Garis Demarkasi antara Cina dan Tibet era kolonial itu telah membuat disposisi di sektor-sektor tertentu menjadi tidak jelas, suatu perkembangan yang tidak hanya terulang kembali dalam sejarah Tiongkok modern, tetapi juga di negara-negara berkembang, ketika negara-negara yang baru merdeka mulai ingin menunjukkan otot-otot mereka dan masalah perbatasan antar negara baru bermunculan. Banyak insiden terjadi pada tahun-tahun sebelum perang, biasanya mengakibatkan korban ringan di kedua pihak. India dengan berjalannya waktu mulai mengerahkan pasukan ke wilayah yang diklaim oleh Tiongkok, dan sebagian besar mengabaikan peringatan Cina tentang efek dari pengerahan pasukan ini, dan akibat respon penumpukan pasukan besar-besaran Tiongkok di sepanjang perbatasan. Penyebab persiapan India yang buruk dalam perang ini adalah kombinasi dari buruknya langkah politik dan pengumpulan data intelijen yang buruk; pemerintah India tidak berpikir akan adanya serangan (dan umumnya mereka lebih berfokus pada Pakistan), sementara Angkatan Darat dan Angkatan Udara India hanya memiliki sedikit peralatan pengintai untuk bisa mendeteksi dan menganalisis penumpukan kekuatan Cina di perbatasan. Sebagian besar unit India baru menyadari gerakan pasukan Cina hanya setelah mereka diserang (kadang-kadang dari belakang posisi mereka sendiri). Masalah terkait dalam perang ini adalah kekhawatiran jangka panjang Cina atas sikap India di Tibet. Pemerintah India telah mempertahankan hubungan baik mereka dengan orang-orang Tibet di pengasingan, dan telah memberikan tempat yang nyaman bagi para pemberontak Tibet. Beberapa bukti menunjukkan bahwa Nehru berharap untuk bisa tetap mempertahankan pengaruh India dalam perkembangan politik di Tibet, hal ini jelas merupakan masalah bagi Cina. Selain itu, Cina mungkin juga ingin memantapkan dirinya sebagai kekuatan yang lebih baik di kawasan itu dengan memberi India pelajaran. Sementara itu Krisis Rudal Kuba antara Amerika Serikat dan Uni Soviet menjadi pengalih perhatian (dan sama sekali tidak terduga), karena kedua negara adidaya saat itu lebih khawatir satu sama lain daripada apa yang dilakukan antara orang China dan India. Saat itu, China juga menghadapi ketidakpuasan domestik terkait dengan kegagalan besar pemerintah dalam program “Great Leap Forward”. Mao Zedong mulai kehilangan kendali atas kebijakan dalam negeri, tetapi tetap memegang kendali substansial atas kebijakan luar negeri dan militer; kemenangan cepat atas India diharapkan akan meningkatkan prestise dan kekuatannya di dalam partai PKC.

JALAN MENUJU PERANG

Dengan kemerdekaan Republik India dan pembentukan Republik Rakyat China (RRC) pada tahun 1949, salah satu kebijakan pemerintah India adalah menjaga hubungan baik dengan China. India adalah salah satu negara pertama yang memberikan pengakuan diplomatik kepada RRC yang baru dideklarasikan. Namun berdirinya Pakistan pada tahun 1947, invasi China dan aneksasi Tibet pada tahun 1950, dan pembangunan jalan oleh Cina untuk menghubungkan Xinjiang dengan Tibet melalui wilayah yang diklaim oleh India, semuanya makin memperumit masalah kedua negara. Pada tahun 1954, China dan India menyetujui Lima Prinsip Hidup Berdampingan secara Damai, di mana India mengakui kekuasaan Cina di Tibet. Pada saat inilah ketika mantan Perdana Menteri India, Jawaharlal Nehru mempromosikan slogan “Hindi-Chini bhai-bhai” (India dan China bersaudara). Pada Juli 1954, Nehru menulis sebuah memo yang mengarahkan pada revisi di peta India untuk menunjukkan batas-batas yang pasti di semua wilayah perbatasan. Setelah merdeka pada tahun 1947, pemerintah India senantiasa menggunakan Garis Johnson sebagai dasar untuk batas resmi wilayahnya di barat, termasuk di wilayah Aksai Chin. Pada 1 Juli 1954, Nehru secara definitif menyatakan posisi India, ia mengklaim bahwa Aksai Chin telah menjadi bagian dari wilayah Ladakh India selama berabad-abad, dan bahwa perbatasan (sebagaimana didefinisikan oleh Garis Johnson) tidak bisa dinegosiasikan. Menurut George N. Patterson, ketika pemerintah India akhirnya menghasilkan laporan yang merinci dugaan bukti klaim India atas daerah yang disengketakan, “kualitas bukti India sangat buruk, termasuk beberapa sumber yang memang sangat meragukan”. Pada saat itu, para pejabat China tidak mengeluarkan kecaman atas klaim Nehru atau membuat oposisi terhadap deklarasi terbuka Nehru tentang kontrol atas Aksai Chin. Pada tahun 1956, Perdana Menteri Cina Zhou Enlai menyatakan bahwa ia tidak memiliki klaim atas wilayah yang dikuasai India. Dia kemudian berpendapat bahwa Aksai Chin sudah berada di bawah yurisdiksi Tiongkok dan bahwa Garis McCartney-MacDonald adalah garis yang dapat diterima oleh Tiongkok. Zhou kemudian berargumen bahwa karena batas itu tidak ditandai dan tidak pernah ditentukan oleh perjanjian antara pemerintah China atau India, pemerintah India tidak dapat secara sepihak mendefinisikan perbatasan Aksai Chin. Perdana Menteri China, Zhou Enlai, pada November 1956, kembali mengulangi jaminan China bahwa Republik Rakyat China tidak memiliki klaim atas wilayah India, meskipun peta resmi China menunjukkan 120.000 kilometer persegi (46.000 mil persegi) wilayah yang diklaim oleh India sebagai wilayah China. Dokumen-dokumen CIA yang dibuat pada saat itu mengungkapkan bahwa Nehru telah mengabaikan perdana menteri Burma, Ba Swe ketika dia memperingatkan Nehru untuk berhati-hati ketika berurusan dengan Zhou. Mereka juga menuduh bahwa Zhou dengan sengaja memberi tahu Nehru bahwa tidak ada masalah perbatasan dengan India. Pada tahun 1956–1957, China membangun jalan melalui Aksai Chin, yang menghubungkan Xinjiang dan Tibet, yang membentang ke selatan Garis Johnson di banyak tempat. Aksai Chin mudah diakses oleh orang Cina, tetapi akses dari India, yang berarti harus melewati pegunungan Karakoram, jauh lebih sulit. Jalan itu muncul di peta Cina yang diterbitkan pada tahun 1958. 

Maju mundur sikap PM Nehru dalam berhubungan dengan China dan Tibet, membuat India tidak memiliki sikap yang tegas dan jelas menjelang pecahnya konflik dengan China. (Sumber: https://www.thehindu.com/)

Hubungan kedua negara mencapai titik nadir pada tahun 1959, ketika pemimpin spiritual dan politik Tibet, Dalai Lama, melarikan diri ke pengasingan dalam menghadapi invasi Cina. Perdana Menteri India Jawaharlal Nehru dengan enggan memberikan tempat perlindungan kepada Dalai Lama di India. Hal ini membuat Mao Zedong sangat marah dan merasa dipermalukan. Ketegangan kemudian meningkat antara kedua negara ketika Mao menyatakan bahwa pemberontakan Lhasa di Tibet disebabkan oleh orang-orang India. China saat itu merasa India adalah sebagai ancaman bagi kekuasaan mereka di Tibet, hal ini menjadi salah satu alasan paling menonjol bagi pecahnya Perang China-India. Dari tahun 1959, pertempuran perbatasan pecah di sepanjang garis yang disengketakan. Sebenarnya, sejak bulan Oktober 1959, India menyadari bahwa mereka tidak siap untuk berperang setelah bentrokan antara kedua pasukan di Kongka Pass, di mana sembilan polisi India terbunuh. India kemudian menarik kembali patroli dari daerah yang disengketakan. Pada tahun 1961, Nehru mencanangkan “Forward Policy”, di mana India mencoba membangun pos perbatasan dan berpatroli di utara posisi yang diklaim China, untuk memutus posisi China dari jalur pasokan mereka. Akhirnya terdapat 60 pos terdepan seperti itu, termasuk 43 di utara McMahon Line, yang diklaim India sebagai kedaulatan. Cina memandang ini sebagai konfirmasi lebih lanjut dari rencana ekspansionis India yang diarahkan ke Tibet. Menurut sejarah resmi India, implementasi “Forward Policy” dimaksudkan untuk memberikan bukti pendudukan India di wilayah yang sebelumnya tidak dihuni di mana pasukan China telah bergerak maju. Kaul yakin, melalui kontak dengan Intelijen India dan informasi CIA, bahwa China tidak akan bereaksi dengan menggunakan kekuatan militer. Memang, pada awalnya PLA menarik diri, tetapi akhirnya pasukan China mulai mengepung posisi India yang secara jelas merambah ke utara Garis McMahon. Hal ini menyebabkan reaksi, dengan masing-masing kekuatan berusaha untuk mengalahkan yang lain. Terlepas dari sifat perselisihan yang semakin meningkat, kedua kekuatan ini belum berhadapan secara langsung, dimana masing-masing pihak berusaha untuk saling menjepit tanpa melakukan konfrontasi langsung. Musim panas dan gugur 1962 menyaksikan semakin banyak insiden perbatasan terjadi di Aksai Chin. Pada bulan Mei, Angkatan Udara India diberitahu untuk tidak memberikan dukungan udara jarak dekat, meskipun hal ini dinilai layak dilakukan mengingat rasio yang tidak menguntungkan dari jumlah pasukan China dibanding pasukan India. Pada salah satu pertempuran di bulan Juni telah menewaskan lebih dari dua puluh prajurit China. Pada bulan Juli, India mulai mengizinkan pasukannya untuk menembak, tidak hanya untuk mempertahankan diri tetapi juga untuk mengusir Pasukan China. Pada 10 Juli 1962, sekitar 350 tentara Cina mengepung sebuah pos India di Chushul dan menggunakan pengeras suara untuk meyakinkan tentara Gurkha-India bahwa mereka seharusnya tidak berperang untuk India. Pada bulan Oktober, bahkan ketika Zhou Enlai secara pribadi meyakinkan Nehru di New Delhi bahwa China tidak menginginkan perang, Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA) berkumpul di sepanjang perbatasan. Pertempuran sengit pertama terjadi pada 10 Oktober 1962, dalam pertempuran kecil yang menewaskan 25 tentara India dan 33 tentara China. Berbagai konflik dan insiden militer antara India dan China berkobar sepanjang musim panas 1962.

PECAHNYA PERANG 

Pada tanggal 20 Oktober, akhirnya pasukan PLA meluncurkan serangan terkoordinasi di wilayah Aksai Chin yang disengketakan dari arah timur dan barat. Serangan China ini terkoordinasi tetapi terpisah jauh; medan timur berada di sepanjang Sungai Namka Chu (dekat Bhutan), dan teater barat di lembah Chip Chap, Aksai Chin (dekat Kashmir). Kedua medan ini terpisah 1000 kilometer (600 mil). Beberapa pertempuran kecil juga terjadi di Nathula Pass, yang berada di negara bagian Sikkim di India (kemudian pada tahun 1975 menjadi bagian dari protektorat India). Satuan Gurkha Rifle yang  ada di utara menjadi sasaran tembakan artileri China. Keseluruhan perang terjadi di medan yang berat, dengan ketinggian melebihi sepuluh ribu kaki. Kondisi ini memperumit masalah logistik kedua pihak, dan mencegah pengerahan perlengkapan berat atau bala bantuan dengan cepat. Namun hal ini disukai pihak China, yang telah mempersiapkan serangan mereka dengan hati-hati, dan yang memiliki banyak pengalaman dalam hal pengoperasian infanteri ringan. Pasukan China dengan cepat mengalahkan posisi terdepan pasukan India di kedua daerah tersebut. Pada tanggal 24 Oktober, 3 resimen infanteri China (dengan dukungan artileri ringan) telah membersihkan kedua daerah yang disengketakan, yang mendesak mundur pasukan India dari wilayah tersebut. Keuntungan numerik Cina sangat besar di kedua medan tempur, dengan termasuk satuan cadangan, PLA hampir memiliki keunggulan tujuh banding satu atas dibanding pasukan India. Kekuatan utama PLA Cina saat itu telah berada 16 km di selatan garis kontrol. 

Tank dari satuan East China Tank Brigade Tentara PLA bekerja sama dengan pasukan infantri untuk melancarkan serangan. (Sumber: https://www.warhistoryonline.com/)
Helikopter Mi-4 India tertembak oleh pasukan PLA. (Sumber: https://www.quora.com/)

Pasukan China mulai melancarkan serangan di tepi selatan Sungai Namka Chu pada tanggal 20 Oktober. Pasukan India kalah kuat, dengan hanya memiliki sebuah batalion yang kurang kuat yang ada di pihak mereka, sementara pasukan China memiliki tiga resimen yang ditempatkan di sisi utara sungai. Orang-orang India memperkirakan pasukan China akan menyeberang melalui salah satu dari lima jembatan di atas sungai dan karenanya mereka mempertahankan area-area penyeberangan itu. PLA melewati posisi pasukan dengan menyeberangi sungai yang dangkal. Mereka lalu dibentuk menjadi satuan-satuan setingkat batalion di sisi selatan sungai yang dikuasai India di bawah naungan kegelapan, dengan masing-masing batalion ditugaskan menghadapi kelompok-kelompok pasukan Rajput yang terpisah-pisah. Pada pukul 5:14 pagi, tembakan 150 meriam dan mortir China mulai menyerang posisi India. Secara bersamaan, pasukan China memutus saluran telepon India, mencegah tentara India untuk melakukan kontak dengan markas mereka. Sekitar pukul 6:30 pagi, infanteri China melancarkan serangan mendadak dari belakang dan memaksa orang-orang India untuk meninggalkan parit pertahanan mereka. Pasukan China menaklukkan pasukan India dalam serangkaian manuver yang mengapit di selatan Garis McMahon dan mendesak penarikan mundur mereka dari Namka Chu. Takut akan kalah terus-menerus, pasukan India mundur ke Bhutan. Karena menghormati perbatasan Bhutan Pasukan China memutuskan untuk tidak mengejar pasukan India. Pasukan India bertahan di Bhutan hingga 17 hari. Demikianlah berakhirnya Pertempuran Namka Chu. Kata ‘pertempuran’ sebenarnya sangat menyesatkan, karena pada dasarnya apa yang terjadi lebih mirip pembantaian. Dalam satu jam pertama pertempuran, Brigade ke-7 telah kehilangan sifat kohesif kesatuannya, pada dasarnya itu adalah pertempuran sepihak yang berat sebelah dengan banyak peleton India yang berjuang sampai mati, hingga orang terakhir. Batalyon Rajput ke-2 menderita korban yang mengerikan, tetapi  berjuang dengan berani dan tidak mencoreng reputasi Resimen. Dari 513 semua personelnya, 282 tewas pagi itu, 81 terluka dan ditangkap, 90 ditangkap tanpa terluka. Hanya 60 orang, sebagian besar elemen garis belakang yang berhasil lolos. Pasukan Gorkha kehilangan 80 orang tewas, 44 luka-luka dan 102 ditangkap. Total Brigade ke-7 kehilangan 493 orang pada pagi itu. Tentara China juga menderita korban yang berat. Letnan Kolonel Rikh, komandan batalyon Rajput ke-2 ditangkap dan menjadi sasaran interogasi berulang-ulang. Dia diberitahu bahwa pasukan China menderita korban besar di NEFA (North East Frontier Agency). Pada 22 Oktober, pukul 12:15, mortir PLA menembaki Walong, di jalur McMahon. Peluru suar ditembakkan oleh pasukan India pada hari berikutnya yang mengungkapkan banyak pasukan Cina memenuhi sekitar lembah. Menghadapi ini pasukan India mencoba menggunakan mortir mereka untuk melawan pasukan China, tetapi PLA merespons dengan membakar semak-semak, yang menyebabkan kebingungan di antara orang-orang India. Sekitar 400 tentara China lalu menyerang posisi India. Serangan ini awalnya bisa dihentikan oleh tembakan mortir India yang akurat. Pasukan China kemudian diperkuat dan melancarkan serangan kedua. Orang-orang India berhasil menahan mereka selama empat jam, tetapi orang-orang China menggunakan keunggulan jumlah mereka untuk menerobos pertahanan. Sebagian besar pasukan India lalu ditarik ke posisi pertahanan di Walong, sementara sebuah kompi yang didukung oleh mortir dan senapan mesin tetap di posisinya untuk melindungi gerak mundur. Di tempat lain, pasukan Cina melancarkan serangan dari tiga arah di Tawang, dimana lalu pasukan India mundur tanpa perlawanan. Selama hari-hari berikutnya, terjadi bentrokan antara patroli India dan Cina di Walong ketika kemudian pasukan Cina segera mengirimkan bala bantuan perkuatan. Pada 25 Oktober, pasukan Cina melakukan pengintaian, yang segera mendapat perlawanan dari dari satuan Sikh ke-4. Keesokan harinya, patroli dari satuan Sikh ke-4 dikepung, dan setelah tidak dapat mematahkan pengepungan, sebuah unit India dikirimkan untuk menyerang pasukan Cina dari posisi sayap, yang memungkinkan satuan Sikh yang terkepung dapat membebaskan diri. 

Komandan Batalyon 5, Rattan Singh ditangkap oleh tentara PLA. (Sumber: https://www.quora.com/)
Pasukan dari unit Sikh selama pertempuran. (Sumber: https://www.warhistoryonline.com/)

Sementara itu di front Aksai Chin, Cina sudah menguasai sebagian besar wilayah yang disengketakan sebelumnya. Pasukan China dengan cepat menyapu wilayah pasukan India yang tersisa. Pada akhir 19 Oktober, pasukan China melancarkan sejumlah serangan di seluruh medan barat. Pada 22 Oktober, semua pos di utara Chushul telah dibersihkan. Pada 20 Oktober, Cina dengan mudah mengambil Lembah Chip Chap, Lembah Galwan, dan Danau Pangong. Banyak pos terdepan dan garnisun di sepanjang front Barat tidak dapat bertahan melawan pasukan Cina di sekitarnya. Sebagian besar pasukan India yang ditempatkan di pos-pos ini melakukan perlawanan,  tetapi kemudian terbunuh atau ditawan. Dukungan India untuk pos-pos ini tidak pernah datang, sebagaimana dibuktikan oleh pos Galwan, yang telah dikepung oleh pasukan musuh pada bulan Agustus, tetapi tidak ada upaya yang dilakukan untuk meringankan beban garnisun yang terkepung. Setelah serangan 20 Oktober, tidak ada lagi perlawanan yang terdengar dari Galwan. Pada 24 Oktober, pasukan India berjuang keras untuk mempertahankan Rezang La Ridge, untuk mencegah jatuhnya landasan udara di sana ke tangan pasukan China. Setelah menyadari besarnya serangan itu, Komando Barat India menarik banyak kekuatan di pos-pos terpencil menuju ke tenggara. Daulet Beg Oldi juga dievakuasi, tetapi posisi itu di selatan garis yang klaim China dan pasukan China tidak mendekat kesana. Pasukan India kemudian ditarik untuk dikonsolidasikan dan dikumpulkan, untuk mempersiapkan diri jika Cina menyerang wilayah di selatan dari garis yang diklaim mereka. 

PERANG BERLANJUT SETELAH JEDA

Selama gencatan senjata tiga minggu, Zhou Enlai memerintahkan pasukan China untuk mempertahankan posisi mereka, sambil pada saat yang sama ia mengirim proposal perdamaian ke Nehru. Proposal China menyarankan kedua belah pihak untuk melepaskan diri dan mundur dua puluh kilometer dari posisi mereka saat ini. Nehru menjawab bahwa pasukan China harus mundur ke posisi semula, dan ia menyerukan dibentuknya zona penyangga yang lebih luas. Setelah Zhou menerima surat Nehru (yang menolak proposal Zhou), pertempuran berlanjut di medan timur pada 14 November (tepat pada hari ulang tahun Nehru), dengan India melakukan serangan terhadap Walong, yang diklaim oleh China. Serangan dilancarkan dari posisi defensif di Se La dan menimbulkan banyak korban pada pihak China. Sebagai tanggapan tentara China melanjutkan aktivitas militernya di Aksai Chin beberapa jam setelah pertempuran di Walong. Di medan timur, PLA menyerang pasukan India di dekat Se La dan Bomdi La pada tanggal 17 November. Posisi-posisi ini dipertahankan oleh Divisi Infanteri ke-4 India. Alih-alih menyerang melalui jalan darat seperti yang diperkirakan, pasukan PLA memilih melalui jalur gunung, dan serangan mereka berhasil memotong jalan utama dan mengisolasi 10.000 pasukan India. Se La ada di dataran tinggi, dan alih-alih menyerang posisi strategis ini, Tentara China merebut Thembang, yang merupakan rute pasokan penting menuju ke Se La. 

Pasukan India dengan Bren LMG (Photo by Larry Burrows/Time & Life Pictures/Getty Images/https://world.time.com/)

Di medan barat, pasukan PLA melancarkan serangan infanteri berat pada 18 November di dekat Chushul. Serangan mereka dimulai pada pukul 4:35 pagi, meskipun terdapat kabut yang meliputi sebagian besar wilayah di daerah tersebut. Pada pukul 5:45 pasukan Cina maju untuk menyerang dua peleton pasukan India di Bukit Gurung. Orang-orang India tidak tahu apa yang sedang terjadi, karena terputusnya komunikasi mereka. Ketika patroli dikirimkan, tentara Cina menyerang dengan jumlah yang lebih besar. Artileri India tidak dapat menahan kekuatan superior pasukan Cina. Pada jam 9:00 pagi, pasukan China menyerang Bukit Gurung secara langsung dan komandan-komandan India memutuskan untul mundur dari daerah tersebut dan juga dari Celah Spangur yang menghubungkan wilayah tersebut. Pada saat yang sama tentara China secara serentak menyerang Rezang La yang dipertahankan oleh 123 tentara India. Pada pukul 5:05 pagi, pasukan China melancarkan serangan mereka dengan berani. Tembakan senapan mesin medium Cina menghantam pertahanan pasukan India. Pada pukul 6:55 pagi, matahari telah terbit dan serangan tentara China terhadap peleton ke-8 dimulai secara bergelombang. Pertempuran berlanjut selama satu jam berikutnya, sampai tentara Cina memberi isyarat bahwa mereka akan menghancurkan peleton ke-7 India. Tentara India mencoba untuk menggunakan senapan mesin ringan untuk melawan senapan mesin medium pihak Cina, tetapi setelah 10 menit pertempuran berakhir. Kekurangan logistik sekali lagi merugikan pasukan India. Pasukan China memberi pasukan India yang menjadi korban sebuah pemakaman militer yang terhormat. Pertempuran antara kedua pasukan juga menyebabkan gugurnya Mayor Shaitan Singh dari Resimen Kumaon, yang berperan penting dalam pertempuran pertama di Rezang La. 

Pasukan China didepan tank Stuart buatan Amerika, selama Perang India-China, 1962. (Sumber: https://www.quora.com/)

Pasukan India terpaksa mundur ke posisi pegunungan yang tinggi. Sumber-sumber India percaya bahwa pada saat itu pasukan mereka baru saja mulai menguasai teknik pertempuran gunung dan akhirnya meminta lebih banyak pasukan. Namun pihak China kemudian memilih mengumumkan gencatan senjata, untuk mengakhiri pertumpahan darah. Pasukan India telah menderita banyak korban, dengan banyak mayat tentara India ditemukan di es, dalam kondisi beku dengan senjata di tangan. Pasukan China juga menderita banyak korban, terutama di Rezang La. Hal ini menandakan berakhirnya perang di Aksai Chin ketika pasukan China telah menguasai garis yang diklaim mereka – banyak pasukan India diperintahkan untuk menarik diri dari daerah itu. Pihak China mengklaim bahwa pasukan India ingin bertempur sampai mati. Perang berakhir dengan penarikan mereka, sehingga membatasi jumlah korban. Pada saat itu PLA menembus dekat ke pinggiran Tezpur, Assam, sebuah kota perbatasan utama hampir lima puluh kilometer (30 mil) dari perbatasan Assam-North-East Frontier Agency (NEFA). Pemerintah setempat memerintahkan evakuasi warga sipil di Tezpur ke selatan Sungai Brahmaputra, semua penjara dibuka, dan pejabat pemerintah yang tetap tinggal di belakang menghancurkan cadangan mata uang di Tezpur untuk mengantisipasi gerak maju pasukan China.

GENCATAN SENJATA

Setelah ratusan korban gugur lagi dan atas ancaman Amerika untuk campur tangan membantu India, kedua belah pihak menyatakan gencatan senjata resmi pada tanggal 19 November. Tiongkok mengumumkan bahwa mereka akan “menarik diri dari posisi mereka sekarang di utara Garis McMahon yang ilegal.” Namun pasukan yang terisolasi di pegunungan tidak mendengar tentang adanya gencatan senjata selama beberapa hari dan terlibat dalam baku tembak tambahan. PLA kemudian menarik diri dari wilayah India yang telah mereka rebut selama pertempuran, dan kembali ke posisi yang selalu dipertahankan sebagai milik Cina, mundur ke posisi 20 kilometer di utara Garis Kontrol Aktual — perbatasan yang disengketakan. Banyak orang India, panik oleh kekalahan elemen garis depan mereka di pegunungan, memperkirakan adanya invasi Cina yang lebih besar. Namun, PLA tidak memiliki kemampuan logistik yang diperlukan untuk mempertahankan gerak maju skala besar, yang akan membutuhkan dukungan satuan mekanis yang jauh lebih besar. Selain itu, Beijing tidak memiliki minat untuk menduduki sebagian besar wilayah India. Selain itu, Cina telah mencapai garis batas yang diklaimnya sehingga PLA  memilih tidak maju lagi lebih jauh, oleh karenanya pada 19 November, China mengumumkan gencatan senjata sepihak. Zhou Enlai menyatakan gencatan senjata sepihak dimulai pada tengah malam, 21 November. Deklarasi gencatan senjata Zhou lengkapnya menyatakan, “Mulai dari 21 November 1962, penjaga perbatasan China akan berhenti menembak di sepanjang seluruh perbatasan China-India. Mulai 1 Desember 1962, penjaga perbatasan China akan mundur ke posisi 20 kilometer (12 mil) di belakang garis kendali aktual yang ada antara China dan India pada 7 November 1959. Di sektor timur, meskipun penjaga perbatasan China sejauh ini telah telah bertempur di wilayah China di utara garis batas tradisional, mereka siap untuk mundur dari posisi mereka sekarang di utara Garis McMahon yang ilegal, dan menarik mundur dua puluh kilometer (12 mil) dari garis itu. Di sektor tengah dan barat, penjaga perbatasan China akan mundur dua puluh kilometer (12 mil) dari garis kendali sebenarnya.”

Setelah mencapai sebagian besar tujuannya, PM Zhou Enlai (kiri) mengumumkan gencatan senjata sepihak yang segera menurunkan tensi dan mengakhiri perang. (Sumber: https://www.rediff.com/)

Zhou pertama kali mengumumkan gencatan senjata kepada petugas perwakilan India pada 19 November (sebelum India meminta dukungan udara dari Amerika Serikat), tetapi New Delhi tidak menerimanya sampai 24 jam kemudian. Perintah pengerahan Kapal induk dibatalkan setelah gencatan senjata, dan dengan demikian, intervensi Amerika di pihak India dalam perang bisa dihindari. Pasukan India yang mundur dan tidak melakukan kontak dengan siapa pun yang mengetahui gencatan senjata, serta pasukan China di NEFA dan Aksai Chin, terlibat dalam beberapa pertempuran kecil, tetapi bagi sebagian besar pasukan di garis depan, gencatan senjata menandai berakhirnya pertempuran. Angkatan Udara Amerika Serikat menerbangkan beberapa penerbangan pasokan logistik ke India pada bulan November 1962, tetapi tidak ada pihak yang ingin melanjutkan permusuhan. 

Gadis-gadis Tibet menari dan menyanyi menghibur tawanan perang India. Dalam perang, pihak China relatif memperlakukan tawanan India dengan hormat dan baik. (Sumber: https://www.quora.com/)
Korban perang diangkut dengan menggunakan helikopter Mi-4. Bagaimanapun perang singkat antara India dan China berlangsung dengan sengit dan memakan korban ribuan orang di kedua belah pihak. (Sumber: https://www.quora.com/)

Menjelang akhir perang, India meningkatkan dukungannya bagi para pengungsi dan pihak revolusioner Tibet, beberapa dari mereka telah menetap di India, ketika mereka berperang dengan musuh yang sama di wilayah tersebut. Pemerintahan Nehru memerintahkan untuk membangkitkan “Angkatan Bersenjata Tibet” yang dilatih di India yang terdiri dari para pengungsi Tibet. Perang China-India hanya berlangsung sekitar satu bulan tetapi menewaskan 1.383 tentara India dan 722 tentara Tiongkok. Dengan tambahan 1.047 orang India dan 1.697 orang Cina terluka, dan hampir 4.000 tentara India ditangkap. Banyak korban yang disebabkan oleh kondisi iklim dan geografi yang keras di ketinggian 14.000 kaki (4.270 meter) diatas permukaan laut, dan bukan oleh tembakan musuh. Ratusan orang yang terluka di kedua pihak meninggal karena (terpaksa) dibiarkan tanpa bantuan, sebelum rekan-rekan mereka bisa mendapatkan perawatan medis untuk mereka. Pada akhirnya, China tetap memegang kendali atas wilayah Aksai Chin. Perdana Menteri Nehru dikritik di dalam negeri karena sikap pasifisnya dalam menghadapi agresi Cina, dan karena kurangnya persiapan sebelum serangan China.

AFTERMATH

Selama konflik, Nehru menulis dua surat kepada Presiden AS John F. Kennedy, ia meminta 12 skuadron jet tempur dan sistem radar modern. Jet-jet ini dipandang perlu untuk memperkuat kekuatan udara India sehingga pertempuran udara-ke-udara dapat dimulai dengan aman dari sudut pandang India (penggunaan pesawat pembom dipandang tidak bijaksana karena takut akan tindakan balasan China). Nehru juga meminta agar pesawat-pesawat ini diawaki oleh pilot Amerika sampai penerbang India yang terlatih dapat menggantinya. Permintaan ini ditolak oleh Pemerintahan Kennedy (yang saat itu sedang terlibat dalam Krisis Rudal Kuba selama sebagian besar waktu Perang China-India). Meskipun demikian, AS memberikan bantuan non-tempur kepada pasukan India dan berencana mengirim kapal induk USS Kitty Hawk ke Teluk Benggala untuk mendukung India jika terjadi perang udara. Ketika perpecahan Sino-Soviet memanas, Moskow melakukan berbagai upaya besar untuk mendukung India, terutama dengan menjual pesawat tempur MiG terbaru. AS dan Inggris menolak untuk menjual persenjataan canggih, sehingga India beralih ke Uni Soviet. India dan Uni Soviet mencapai kesepakatan pada Agustus 1962 (sebelum Krisis Rudal Kuba) untuk pembelian segera dua belas MiG-21 serta bantuan teknis Soviet dalam pembuatan pesawat ini di India. Menurut P. Ch. Chari, “Rencana India untuk memproduksi pesawat tempur yang relatif canggih ini hanya makin membuat marah Peking segera setelah penarikan teknisi Soviet dari Chinq.” Pada tahun 1964 permintaan India lebih lanjut untuk mendapatkan jet asal Amerika ditolak. Sebaliknya Moskow menawarkan pinjaman, harga murah dan bantuan teknis dalam meningkatkan industri persenjataan India. India pada 1964 adalah pembeli utama senjata buatan Soviet. Menurut diplomat India G. Parthasarathy pada tahun 1991 menyatakan, “hanya setelah kami tidak mendapat apa-apa dari AS, pasokan senjata dari Uni Soviet ke India dimulai.” Sementara itu pada tahun 1962, Presiden Pakistan, Ayub Khan memberi garansi kepada India bahwa pasukan India dapat dengan aman dipindahkan dari perbatasan Pakistan ke Himalaya, dimana Pakistan tidak akan melakukan aktivitas yang membahayakan India yang tengah berkonflik dengan China.

Krisis Rudal Kuba dan cepatnya gencatan senjata diumumkan oleh pihak China, telah mencegah rencana Amerika untuk mengerahkan kapal induk USS Kitty Hawk di teluk Benggala untuk membantu India. (Sumber: https://www.history.navy.mil/)
Keengganan pihak barat untuk mensuplai India dengan persenjataan modern lebih lanjut telah membawa India semakin dekat ke Soviet. Seperti tampak pada gambar, sepasang pesawat tempur MiG-21 milik AU India, adalah buah hubungan dekat India dengan Soviet, dimana negeri yang terakhir mengijinkan India untuk memproduksi sendiri MiG-21 untuk AU nya. (Sumber: https://www.bangalorewatchco.in/)

APA ARTINYA BAGI MASA DEPAN

Dalam jangka pendek, perang ini tidak diragukan lagi merupakan sebuah kemenangan bagi Cina, yang telah menunjukkan tidak hanya kekuatannya, tetapi juga tingkat kesabarannya. Kemenangan tersebut menegaskan kendali China atas Tibet, dan menciptakan landasan bagi hubungan yang kuat antara Pakistan dan Cina (yang terakhir memantau dengan seksama kinerja militer India selama konflik). Di pihak India, kekalahan mengejutkan itu sangat merusak pemerintah Jawaharlal Nehru, dan mungkin juga memperburuk kesehatannya; Nehru meninggal kurang dari dua tahun setelah perang berakhir. Namun menutut James Calvin, seorang analis dari Angkatan Laut AS, India memperoleh banyak manfaat dari konflik tahun 1962. Perang ini telah menyatukan negara ini tidak seperti sebelumnya. India mendapat wilayah yang diperebutkan seluas 32.000 mil persegi (8,3 juta hektar, 83.000 km2) bahkan meskipun mereka merasa bahwa NEFA adalah memang miliknya selama ini. Republik India yang baru juga telah menghindari keberpihakan internasional; dengan meminta bantuan selama perang, India menunjukkan kesediaannya untuk menerima bantuan militer dari pihak manapun. Dan, akhirnya, India mengakui kelemahan serius dalam pasukannya. Kekuatan militer mereka lalu akan meningkat lebih dari dua kali lipat dalam dua tahun kemudian dan mereka akan bekerja keras untuk menyelesaikan pelatihan militer dan masalah logistik untuk kemudian berubah menjadi tentara terbesar kedua di dunia. Upaya India untuk memperbaiki postur militernya telah secara signifikan meningkatkan kemampuan dan kesiapan pasukannya. Dan militer India tidak diragukan lagi lebih siap selama perang tahun 1965 dan 1971 saat melawan Pakistan. Bagaimanapun Perang tidak menyelesaikan masalah mendasar yang menjadi pokok pertikaian antara India dan Cina, karena New Delhi tidak pernah menyetujui kebenaran dari sikap Beijing. Segera setelah berakhirnya perang, pemerintah India mengesahkan Undang-Undang Pertahanan India pada Desember 1962, yang mengizinkan untuk dilakukannya “penangkapan dan penahanan atas setiap orang yang [diduga] berasal dari negara yang bermusuhan.” Aplikasi luas dari tindakan tersebut memungkinkan penangkapan siapa pun hanya karena memiliki nama keluarga China, leluhur China atau pasangan China. Pemerintah India memenjarakan ribuan orang China-India di sebuah kamp interniran di Deoli, Rajasthan, tempat mereka ditahan selama bertahun-tahun tanpa pengadilan. Para interniran terakhir baru dibebaskan pada tahun 1967. Ribuan orang China-India juga secara paksa dideportasi atau dipaksa untuk meninggalkan India. Hampir semua interniran dijual atau dijarah harta bendanya. Bahkan setelah pembebasan mereka, orang-orang China-India menghadapi banyak pembatasan dalam kebebasan mereka. Mereka tidak bisa bepergian dengan bebas sampai pertengahan 1990-an. 

Perang tahun 1962 telah memacu India untuk melengkapi dan melatih militernya menjadi militer modern dan kuat seperti sekarang. (Sumber: https://www.financialexpress.com/)
Rudal balistik jarak jauh Agni II milik India. India kini telah masuk dalam golongan negara elit berkekuatan nuklir yang tidak dapat dipandang sebelah mata di dunia. (Sumber: https://www.orfonline.org/)
Tidak dapat disangkal, kini militer China terus berkembang dan bergerak maju untuk menggantikan militer Russia dalam manantang dominasi militer Amerika Serikat di dunia. Dalam hal ini, India harus berusaha lebih keras lagi agar tidak tertinggal dengan China. (Sumber: https://www.taiwannews.com.tw/)
Agresifitas militer China di Kawasan, serta meningkatnya kepercayaan diri mereka, bukan tidak mungkin akan mendorong pecahnya konflik lagi dengan India di masa mendatang. (Photo credit should read ANTHONY WALLACE/AFP/Getty Images/https://foreignpolicy.com/)

Sementara itu di pihak China, perang ini setidaknya menunjukkan kekuatan Cina dan efektivitas militernya, yang pada dasarnya menutup perbatasan militer kedua negara selama lebih dari satu generasi. Meski demikian, keputusan China untuk mundur dari daerah yang mereka rebut dalam perang singkat di India bukan berarti tanpa keluhan. Para prajurit yang telah berkorban banyak tidak memahami langkah Mao, yang menggunakan militernya tidak lebih dari “pembawa pesan dan pemberi pelajaran’ bagi lawannya. Sementara itu pada tahun-tahun berikutnya Kedua belah pihak berjuang dengan masalah yang lebih penting setelah perang. Dalam empat tahun, Mao Zedong akan membawa China dalam Revolusi Kebudayaan, yang secara radikal mengurangi kesiapan militer PLA, suatu hal yang nanti akan nampak saat pecah konflik antara China dan Vietnam tahun 1979. Hubungan antara China dan Uni Soviet juga terus memburuk, hampir sampai ke titik perang pada tahun 1969. India, seperti disebutkan, menjadi semakin terlibat dalam konflik panjang dengan Pakistan, sebuah situasi yang hingga kini belum terselesaikan. Pada intinya, masalah-masalah yang sekarang ada di Dataran Tinggi Doklam pada dasarnya masih sama dengan problem yang kedua negara tinggalkan setelah perang tahun 1962. Namun, keseimbangan kekuatan mungkin telah berubah (kedua negara sekarang sama-sama memiliki senjata nuklir), seperti halnya situasi geopolitik. Semoga akal sehat akan menang, dan Beijing dan Delhi akan menghindari terulangnya peristiwa Oktober 1962. Sayangnya belakangan di tahun 2020 ini kedua negara kembali panas atas keributan kedua tentara mereka di perbatasan yang sama dengan yang diperebutkan hampir 60 tahun lalu!

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

How China Defeated India in a Terrifying 1962 War by Robert Farley, 11 Feb 2020

https://nationalinterest.org/blog/buzz/how-china-defeated-india-terrifying-1962-war-122406

The Sino-Indian War, 1962 By Kallie Szczepanski; Updated January 20, 2020

https://www.thoughtco.com/the-sino-indian-war-1962-195804

India-China War of 1962: How it started and what happened later

https://www.google.com/amp/s/www.indiatoday.in/amp/education-today/gk-current-affairs/story/india-china-war-of-1962-839077-2016-11-21

BATTLE OF NAMKA CHU, 10 OCT – 16 NOV 1962

https://web.archive.org/web/20020810075442/http://www.bharat-rakshak.com/LAND-FORCES/Army/History/1962War/Namka.html

Outnumbered & Outgunned,They Fought to The Last Man “The Demons Of IB Ridge” by Micheal Chimaobi Kalu; Feb 15, 2019

https://www.warhistoryonline.com/history/fight-to-the-death.html

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Sino-Indian_War

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *