Perang Ogaden 1977: Duel udara F-5 Tiger II vs MiG-21 Fishbed di Tanduk Afrika

Mana yang lebih baik? Northrop F-5E Tiger II atau Mikoyan i Gurevich MiG-21? Ada banyak sekali diskusi tentang pertanyaan ini dan, mungkin, setidaknya akan ada banyak jawaban. Lebih dari 15.000 unit dari dua pesawat tempur yang murah, ringan, mudah dirawat, dan dioperasikan ini telah diproduksi dan, seiring berjalannya waktu, keduanya telah bertugas di lebih dari 60 angkatan udara yang berbeda – beberapa di antaranya bahkan pernah mengoperasikan keduanya (termasuk Indonesia di 2 era yang berbeda). Cerita yang banyak beredar adalah bahwa mereka tidak pernah bertemu dalam pertempuran dan dengan demikian pertanyaan pamungkas tentang keunggulan diantara keduanya tetap tidak terjawab. Namun sebenarnya, keduanya memang pernah bentrok – dan tidak hanya sekali, termasuk dalam perang antara Iran-Iraq pada tahun 1980-1988. Memang, pertempuran pertama mereka yang ternyata terbukti menentukan hasil dari konflik terjadi di kawasan Tanduk Afrika dan telah lama terlupakan.

F-5E Tiger II milik AU Iran dan MiG-21 milik AU Irak dalam Perang Iran-Irak (1980-1988). Seperti juga di Timur Tengah, duel keduanya di kawasan Tanduk Afrika, menarik perhatian para pengamat yang penasaran mengenai mana yang lebih unggul dari keduanya. (Sumber: Pinterest)

Latar belakang

Dibentuk dengan bantuan Inggris dan Swedia pada tahun 1940-an dan 50-an, AU Ethiopia kemudian menerima banyak dukungan dari A.S mulai tahun 1960-an. Negara ini telah menerima bantuan militer Barat selama beberapa dekade, dimana  Angkatan Udara nya (‘Ye Ityopia Yesterday Hayl’) sempat menerima 36 F-86F dan 4 bomber Canberra B Mk.52 (B.2). Mereka kemudian berkembang menjadi kekuatan militer yang kecil tapi elit, dikelola oleh personil yang terpilih dan dilatih dengan cermat dan intensif – di dalam dan di luar negeri. AU Ethiopia tidak memiliki puluhan pesawat. Kekuatan mereka berpusat pada masing-masing sekitar selusin pesawat tempur North American F-86 Sabre dan Northrop F-5A Freedom Fighter. Evaluasi pengadaan Northrop F-5A untuk menambah/mengganti pesawat terbang Sabre dimulai pada akhir tahun 1962, ketika sebuah tim pergi ke Washington untuk menegosiasikan pembelian pesawat tempur baru. Persetujuan untuk memasok Freedom Fighter baru diberikan sekitar pertengahan Juni 1964, setelah adanya perjanjian bantuan persenjataan yang ditandatangani pada November 1963 antara Republik Somalia (yang mengklaim daerah Ethiopia di wilayah Ogaden sebagai miliknya) dengan Uni Soviet.

Para pilot Ethiopia berfoto di samping Pesawat Tempur North American F-86F Sabre, generasi jet tempur pertama AU Ethiopia (‘Ye Ityopia Yesterday Hayl’) . Pada awalnya, AU Ethiopia mendapat banyak dukungan dari negara-negara barat. (Sumber: https://www.tesfanews.net/)
EtAF membeli empat pembom Canberra B.Mk.2 (serialled 351, 352, 353, dan 354) dari Inggris pada tahun 1968. Pada saat Perang Ogaden, hanya dua yang tetap utuh, dan keduanya dilaporkan hancur di daratan oleh serangan udara Somalia. (BAe/http://www.acig.org/)

Pada tahun 1963, Somalia menolak proposal yang mereka sebut sebagai sebagai “terlalu kecil dan terlalu membatasi” dari bantuan militer AS-Italia, dan mulai meminta senjata dari Uni Soviet. Koneksi dengan segera Moskow dibuat dan segera setelah itu menghasilkan kesepakatan pinjaman dari Soviet senilai $ 35 juta dengan tujuan meningkatkan kemampuan 20.000 tentara Somalia. Soviet segera mulai memasok pesawat buatan mereka ke Somalia, termasuk yang pertama datang adalah 40 MiG-17 dan MiG-15UTI, tiga pesawat angkut Antonov An-24 dan tiga An-2. Selain pesawat, Soviet juga mengirimkan beberapa bateral rudal SAM SA-2, dan membangun beberapa lapangan terbang baru, termasuk di Mogadishu, Hargeisa, Baidoa, dan Kismayu. Dalam perkembangannya, Jenderal Mohamed Siad Barre telah mengambil alih kekuasaan di Somalia pada 15 Oktober 1969 melalui kudeta, dan ia juga mendeklarasikan berdirinya negara sosialis pimpinannya. Pada 1974 ia menandatangani perjanjian kerja sama dengan Uni Soviet, yang meningkatkan bantuan militer ke Somalia. Sekitar 2.000 penasihat Soviet dan 50 asal Kuba datang untuk mempersiapkan pilot dan spesialis Somalia, sambil mengatur kembali angkatan bersenjata mereka, membangun kembali pangkalan udara mereka. Di Soviet, 590 penerbang Somalia disiapkan. Pada tahun 1974, AU Somalia menerima kiriman pertama dari total 40 MiG-21MF dan MiG-21UMs, sekitar sepuluh Il-28, dan beberapa helikopter Mi-8. Namun, militer Somalia tidak pernah mampu menjaga atau mempertahankan semua pesawatnya, dan pada tahun 1977 hanya sekitar 30 MiG-21, mungkin sepuluh MiG-17 dan segelintir Mi-8 tetap beroperasi, sebagian besar ditempatkan di Mogadishu. AU Somalia memiliki sekitar 1.750 personel pada saat itu. Pada 1977 Somali Aeronautical Corps (SAC)/ ‘Aeronautico della Somalia’, setidaknya memiliki lebih dari 50 jet tempur yang beroperasi (sekitar 35 unit MiG-21 dan 15 MiG-17), 10 helikopter Mi-8, dan peralatan lainnya. Pangkalan udara utamanya adalah Mogadishu, selain Hargeysa, Kismayu, dan Baidoa. Perjanjian antara Somalia-Soviet itu yang mencakup banyak pengiriman senjata ini jelas berpotensi memberikan keunggulan udara bagi Somalia yang mengancam Ethiopia.

MiG-15 UTI AU Somalia tahun 1969 (Sumber: http://www.clavework-graphics.co.uk/)
MiG-17 Fresco AU Somalia tahun 1977 (Sumber: https://www.deviantart.com/)
Kehadiran MiG-21 MF Fishbed pada tahun 1974 di tangan AU Somalia, membuat AU Ethiopia segera memperkuat diri. (Sumber: https://mareeg.com/)

Menanggapi situasi panas di kawasan tanduk Afrika ini, sebuah Skuadron yang terdiri dari 10 unit Northrop F-5A dan 2 Northrop F-5B dijanjikan oleh AS di bawah Program Bantuan Militer. Para Pilot North American F-86F Sabre Ethiopia yang sangat berpengalaman memulai pelatihan menggunakan Freedom Fighter pada tahun 1965 bersama Skuadron Pelatihan Kru Tempur ke-4441 di Williams AFB pada tahun 1965; mereka menerima pelatihan terbang sekitar 15 jam pada Northrop F-5B yang berkursi dua dan 25 jam pada Northrop F-5A yang berkursi tunggal dengan berbagai teknik tempur. Dua instuktor juga dilatih, bersama dengan personel pemeliharaan. Tim Pelatihan Mobile USAF juga dikirimkan ke Debre Zeit AB. Periode pengiriman menurut salahsatu sumber adalah sebagai berikut: penyerahan 2 pesawat kursi tunggal pertama pada 20-04-66 di Mc Clellan AFB, diikuti oleh 3 lainnya pada 18-05-66, 2 pada 24-07-66 dan 1 pada 25-07-66, dengan total 8 unit F-5A diserahkan; yang kemudian diikuti pada tahun 1967 dan pada tahun 1968 masing-masing dengan 2 pesawat berkursi tunggal. Satu F-5A hilang tak lama setelah pengiriman, yang kemudian digantikan oleh satu unit baru yang diserahkan di McConnel AFB pada 17-06-68. Dua pesawat kursi ganda diserahkan pada tahun 1966. Sedikit berbeda dengan data resmi USAF yang mencatat pengiriman sebagai berikut: 7 unit kursi tunggal/ganda dikirimkan selama Tahun Anggaran 1966, 3 unit kursi tunggal selama 1967 dan jumlah yang sama pada 1968. Pesawat-pesawat ini ditugaskan ke Skuadron Tempur ke-5 yang berpangkalan di Harar-Debre Zeit AB, yang sebelumnya mengoperasikan F-86F. Sampai saat itu tidak ada rudal udara-ke-udara Sidewinder yang diberikan ke Ethiopia.

Pada 1974, setidaknya tiga F-5A – termasuk contoh ini – ditransfer dari Iran ke Ethiopia. Ironisnya, beberapa F-5A Ethiopia – mungkin juga termasuk contoh ini – dijual kembali ke Iran, pada tahun 1985. (grafis oleh Tom Cooper; Foto: koleksi Tom Cooper/ https://web.archive.org/)
Pilot terlatih dari Skuadron ke-5, angkatan udara Ethiopia, di depan salah satu tunggangan mereka. Berdiri, kiri ke kanan – Fikur Maru, Ashenafi Gebre Tsadik, Belay Teklehaimnot, Techane Mesfin, Berhanu Wubneh dan Techale Zewdie. Berlutut, dari kiri ke kanan – Girma Workagexehu, Estifanos Mekonnen, Addis Tedla dan Ambachew Wube. Hampir semuanya menerbangkan sorti tempur selama perang Ogaden, dan beberapa mencetak kill atas MiG. (Sumber: https://medium.com/)

Tidak ada perubahan dalam armada F-5 sampai revolusi militer menggulingkan Kaisar Haile Selassié pada bulan April 1974. Bantuan militer AS tetap berlanjut hampir tanpa gangguan, bahkan setelah pemerintah baru (DERG) secara resmi menyatakan dirinya berideologi Marxis pada 20-12-74. Karena kepentingan strategis Amerika di Ethiopia, mereka bahkan mengesahkan transfer 4 pesawat Northrop F-5A dari Iran pada tahun 1974 ke Ethiopia. Sumber lain menyebutkan bahwa Iran mengirim, di bawah Program Bantuan Militer, pada tahun 1973/1974 setidaknya 7 Northrop F-5A (sumber lain hanya menyebutkan 5) dan 1 Northrop F-5B, sedangkan AS memasok 3 Northrop F-5A dan 2 Northrop F-5B yang baru. Selama 1974 Somalia menandatangani Perjanjian Persahabatan dan Kerjasama dengan Uni Soviet yang mulai memberikan pesawat tempur MiG-21 (andalan AU negara-negara sahabat Soviet) tak lama kemudian, yang sepenuhnya mengubah keseimbangan persenjataan di kawasan itu. Dengan tambahan kekuatan baru, Operasi gerilya Somalia yang intensif kemudian dimulai secara serentak di wilayah Ogaden. Karena pada tahun 1974, hubungan Ethiopia-AS masih cukup baik, Addis Ababa berani meminta dikirimkan pesawat tempur McDonnell Douglas F-4 Phantom, tetapi Washington kemudian menawarkan 16 Northrop F-5E Tiger II, sebagai gantinya, yang dipersenjatai dengan rudal udara-ke-udara AIM-9 Sidewinder dan pengoperasiannya didukung oleh 2 situs radar Westinghouse AN/TPS-43D serta pesawat anti gerilya A-37 Dragonfly masuk dalam paket penawaran.

Kehadiran F-5E Tiger II dengan dipadu pilot mereka yang terlatih membuat AU Ethiopia percaya diri mampu menandingi AU Somalia yang lebih superior dalam hal jumlah armada udara. (Sumber: https://forum.largescaleplanes.com/)

Akan tetapi pemerintah AS pada awalnya tidak sepenuhnya mendukung permintaan pembelian senjata Ethiopia tersebut, dan menyarankan untuk mentransfer pada tahun 1975 campuran 8 Northrop F-5A (bekas pesawat AU Vietnam Selatan) dan 4 F-5E baru ditambah 8 unit A-37. Etiopia menyatakan ketidakpuasan mereka dan tawaran kedua diajukan awal 1975 untuk penjualan, di bawah kredit Foreign Military Sales sebesar USD 25 juta, untuk 16 Northrop F-5E baru (sebelumnya direncanakan untuk dijual ke Mesir) ditambah rudal AIM-9B Sidewinder, pengiriman dijadwalkan akan dimulai pada bulan November 1975. Tawaran ini diterima dan 8 Tiger II pertama segera dikirimkan ke Ethiopia akhir tahun 1975 (satu sumber menyatakan kedatangan di Addis Ababa adalah pada 14-04-76 yang tampaknya tepat). Dua pilot Northrop F-5E pertama memulai konversi akhir tahun 1975 di Williams AFB untuk kursus pertempuran selama 48 jam dan menyelesaikan konversi mereka pada tahun 1976. Pelatihan pertempuran udara dimasukkan dalam pelatihan yang memakan waktu total 48 jam, sedangkan dua pilot pertama yang dilatih di Ethiopia ditraining di Debre Zeit AFB pada tahun 1976; kemudian setelah ada cukup banyak pilot yang dikonversi ke pesawat Tiger, mereka kemudian membentuk 9th Fighter Interceptor Sqn.

Kedatangan F-5E AU Ethiopia juga didampingi oleh rudal udara ke udara jarak pendek AIM-9 Sidewinder yang akhirnya dijual Amerika ke Ethiopia, meski negeri ini jatub ke penguasa beraliran Marxist. (Sumber: https://www.wikiwand.com/)

Suku cadang yang cukup telah dikirimkan untuk menjaga semua pesawat tempur ini beroperasi selama beberapa tahun. Orang-orang Etiopia juga telah belajar bagaimana menjaga mereka agar pesawat-pesawat mereka tetap beroperasi dalam pertempuran dan bagaimana untuk mendapatkan suku cadang tambahan di pasar gelap. Sebagian besar Tiger II dipindahkan ke Dire Dawa untuk suatu periode di awal Perang Ogaden. Salah satu dari pesawat ini rusak dan tidak dapat diperbaiki pada awal 1977 selama serangan Somalia di pangkalan setelah itu semua ditarik ke Debre Zeit AB (Addis Ababa), Skuadron pesawat tempur Tiger II Ethiopia bolak-balik antara dua pangkalan setiap pagi dan kembali di malam hari, bersama dengan Northrop F- 5A. Pada bulan Juli 1977, Skuadron ke-5 memiliki 2 Northrop F-5B, 15 Northrop F-5A plus satu dimodifikasi untuk membawa camera dan terdapat 15 pilot. F-5A Freedom Fighter diterbangkan selama perang hanya sebagai pembom-tempur, sementara F-5E Tiger II diterbangkan untuk menerbangkan misi supremasi udara. Ketegangan antara AS dan Ethiopia meningkat pada tahun 1976; yang mana hak itu memuncak dengan penandatanganan perjanjian pasokan senjata lebih dari USD 100 juta dengan Uni Soviet pada Desember 1976, yang mencakup penjualan pesawat tempur Mikoyan-Gurevitch MiG-17 dan MiG-21, dan penghentian kerja sama militer dengan AS pada April 1977. Pengiriman suku cadang dan Tiger II tambahan (termasuk A-37 Dragonfly yang belum dikirim) diblokir oleh Amerika dan pesawat pesanan Ethiopia sisanya dialihkan ke Yaman (ada juga yang mengatakan dikirim ke pangkalan udara Clark di Filipina sebagai pesawat agresor).

Duel Tiger vs Fishbed

Pada 1977, pesawat AU Ethiopia, terutama yang berasal dari AS, kesiapannya berada di bawah 30% karena kurangnya suku cadang, pembersihan politik, dan pembelotan personel dan awak pesawat asal Eritrea (saat itu masih menjadi bagian dari Ethiopia). Dua pilot membelot ke Kassala (Sudan) dengan pesawat Northrop F-5A mereka, pesawat itu kemudian dikembalikan ke Ethiopia. Pada pertengahan 1977 Angkatan Udara Ethiopia setidaknya diatas kertas memiliki sekitar 35 jet tempur yang masih beroperasi, termasuk 16 pesawat tempur F-5A/B/ E, 3 pembom Canberra dan beberapa pesawat tempur F-86. Mereka ditempatkan pada Pangkalan Udara Debre Zeyit (pangkalan terbesar, dekat Addis Ababa), Asmara, Bahir Dar, Azezo, Goba, Dire Dawa, Jijiga, dan Mekele. Pertengahan 1970-an melihat Ethiopia jatuh ke dalam kekacauan politik. Sebuah kudeta militer berhasil melenyapkan Kaisar Heile Selassie, yang merupakan sekutu dekat Amerika Serikat, pada 1974. Perebutan kekuasaan berdarah kemudian mengamuk di antara berbagai kelompok di Addis Ababa selama tiga tahun ke depan. Ketidakpuasan besar-besaran dan pemberontakan skala kecil di negara bagian Ethiopia di Eritrea, Ogaden dan Tigray kemudian meletus menjadi perang habis-habisan, dan pemberontak maju dengan cepat. Ethiopia tampaknya berada diambang kehancuran, dimana aparat militer dan keamanannya dalam keadaan kacau dan tidak mampu mempertahankan kedaulatan negara. Pada saat-saat seperti inilah pemerintah Somalia, yang dipimpin oleh Mayjen Siad Barre, melihat peluang untuk mewujudkan tujuan politiknya yang sudah lama ada, yakni pembebasan semua “wilayah Somalia yang diduduki secara ilegal.”.

Beberapa Mi-8 yang tersedia untuk SAC pada tahun 1977 diketahui telah digunakan untuk keperluan transportasi dan penghubung selama tahap awal Perang Ogaden. Akan tetapi apakah mereka menerbangkan sorti di luar perbatasan dipertanyakan, mengingat superioritas udara Ethiopia atas medan perang. (Sumber: grafis oleh Tom Cooper/ https://web.archive.org/)

Rencana perang Somalia relatif sederhana dan sepemahaman dengan pemikiran para penasihat Soviet yang berbasis di Somalia, bahwa militer Ethiopia akan cepat runtuh di bawah tekanan. Setelah persiapan yang ekstensif dan mobilisasi seluruh elemen militernya, Somalia menyerbu pada tanggal 13 Juli 1977, pasukan daratnya didukung oleh total sekitar 25 MiG-17 dan 29 MiG-21, yang semuanya pilotnya dilatih di Uni Soviet. Keberhasilan awal kemudian mengkonfirmasi penilaian-penilaian mereka sebelum perang. Dalam dua minggu, unit-unit mekanik pasukan Somalia menyerbu garnisun Ethiopia di Gode, menembak jatuh satu pesawat tempur F-5E Ethiopia dengan rudal yang ditembakkan dari bahu, SA-7 Grail dan membom lapangan udara Harar dan menghancurkan Douglas DC-3 milik Ethiopian Airlines. Sepasang MiG-17 menembak jatuh sebuah pesawat transport Douglas C-47 dari angkatan udara Ethiopia. Di tengah kekacauan –  Ethiopia dan Somalia memutuskan hubungan diplomatik mereka pada awal 1977 – pemerintah di Addis Ababa lambat untuk memahami apa yang sedang terjadi di Ogaden. Militer mengumumkan mobilisasi umum tetapi ini membutuhkan waktu berminggu-minggu untuk menyelesaikannya. Beberapa unit pasukan yang dikerahkan di Ogaden menemukan diri mereka terisolasi dan jauh di belakang garis musuh. Inilah yang menjadi alasan C-47 bisa disergap dalam kondisi sendirian oleh MiG-MiG Somalia.

Tentara Somalia mengerumuni tank buatan Soviet T-54 di garis depan selama perang Ogaden melawan Ethiopia. (Sumber: Getty Images/ https://www.rbth.com/)

Namun, bertentangan dengan harapan Somalia dan Soviet, pilot mereka tidak berdiam diri selama bulan-bulan sebelum invasi Somalia. Menyusul laporan intelijen tentang pembangunan kekuatan militer Somalia di sepanjang perbatasan, angkatan udara menjalankan serangkaian latihan tempur udara intensif. Salah satu situs radsr AN/TPS-43 berada di posisi ketinggian di Karamara Pass dan F-5E mulai menerbangkan patroli udara tempur. Pertarungan udara antara F-5E yang diterbangkan pilot-pilot Ethiopia dan MiG-21 yang diterbangkan pilot-pilot Somalia dengan demikian tidak dapat dihindari. Bentrokan pertama terjadi pada sore hari tanggal 24 Juli 1977, ketika dua Tiger II mencegat sepasang MiG-21 yang hendak mengejar pesawat angkut Ethiopia lainnya. Dengan dipandu secara cermat oleh kontrol darat, pesawat nomor dua dari formasi Ethiopia, yang dipiloti oleh Bezabih Petros, berhasil mencetak kemenangan yang benar-benar bersejarah – “kill” pertama yang berhasil dikonfirmasi bagi angkatan udara Ethiopia, dan yang pertama untuk F-5E dalam pertempuran udara melawan MiG -21.

Bezabih Petros mencetak kemenangan bersejarah dalam menembak jatuh MiG-21 pertama dalam perang Ogaden – dan dengan demikian yang pertama dalam pertempuran udara antara F-5E Tiger II buatan AS dan MiG-21 buatan Soviet. (Sumber: https://medium.com/)

Hanya sehari kemudian, Lagesse Teferra berhasil mencatat namanya dalam peristiwa yang akhirnya terbukti sebagai pertempuran udara terbesar dalam perang Ogaden. Saat memimpin trio F-5E, ia mencegat sebuah formasi empat unit MiG-21 yang menyediakan perlindungan bagi empat MiG-17. Kemunculan Tiger II Ethiopia menyebabkan dua MiG-21 Somalia – termasuk satu yang diterbangkan oleh komandan pangkalan udara Hargheisa, Kolonel Mussa – bertabrakan. Lagesse kemudian menembak jatuh yang MiG ketiga dengan tembakan kanon. Wingman nya Bacha Hunde dan Afework Kidanu kemudian menghabisi pesawat Somalia keempat. Akhirnya, Lagesse menyerang pesawat-pesawat MiG-17 yang kehilangan pelindungnya dan menembak jatuh dua diantaranya dengan rudal AIM-9 Sidewinder.

Lagesse Tefera – pilot tempur F-5E Ethiopia dengan skor tertinggi dengan total empat kill yang terkonfirmasi atas namanya – menunjukkan matangnya pelatihan pilot tempur oleh instruktur asal Amerika Serikat. Tragisnya, dia ditembak jatuh oleh pertahanan udara Somalia pada 1 September 1978 dan menghabiskan 10 tahun di penjara Somalia. (Sumber: https://medium.com/)

Pada 26 Juli, Lagesse Tefera dan Bezabih Petros mencegat sepasang MiG-21 lain yang mendekati pangkalan udara Ethiopia di Dire Dawa. Kali ini, Bezabih berhasil merusak sebuah MiG dengan rudal Sidewinder dan Lagesse menghabisinya dengan tembakan kanon 20 milimeternya. Tiga hari kemudian, Bacha Hunde mencetak kemenangan pertamanya – dan satu-satunya – yang terkonfirmasi dalam perang. Keberhasilan ini memungkinkan penerbang Ethiopia untuk menghancurkan banyak satuan pasokan musuh dan dengan demikian secara signifikan berkontribusi pada kemenangan selama pertempuran memperebutkan Dire Dawa, yang mengakhiri kemajuan pergerakan pasukan Somalia ke Ogaden pada pertengahan Agustus 1977. Dalam bentrokan ini, Afework Kidanu menembak jatuh satu MiG-21 pada tanggal 19 Agustus. Ashenafi Gebre Tsadik menjatuhkan lagi sebuah MiG-21 dua hari kemudian. Ashenafi dan Lagesse mencetak dua “kill” terakhir selama pertempuran udara terakhir perang Ogaden pada 1 September 1977, dengan menghancurkan sepasang MiG-21 lainnya.

Aftermath

Dengan ini, angkatan udara Somalia sudah hancur. Meskipun terus beroperasi di atas Ogaden, mereka tidak pernah pulih dari kerugian besar yang mereka derita. Pada gilirannya, setelah mendapatkan keunggulan udara, Ethiopia mengirimkan angkatan udara mereka untuk melakukan kampanye serangan sistematis terhadap sistem pasokan Somalia. Dalam waktu kurang dari sebulan, tentara Somalia di Ethiopia telah mengalami kekurangan hampir dalam segala hal – amunisi, makanan, bahan bakar dan bahkan tank dan kendaraan pengangkut – dan tidak dapat maju lagi. F-5E Ethiopia dengan demikian membantu Ethiopia mendapatkan kemenangan menentukan dalam perang Ogaden – dan membeli banyak waktu bagi para politisi di Addis Ababa untuk mendapatkan dukungan Kuba dan kemudian Soviet, yang memungkinkan militer Ethiopia melancarkan serangan balasan dan mengusir orang-orang Somalia keluar dari Wilayah Ogaden di awal April 1978.

Peta Area konflik di Ogaden tahun 1977-1978. (Sumber: http://www.urrib2000.narod.ru/)
Lawan utama F-5E Ethiopia, MiG-21MF milik Somalia, seperti yang terlihat ditinggalkan di Mogadishu International setelah area ini diduduki oleh pasukan AS pada tahun 1992. Meskipun secara umum memikili kemampuan yang mirip dengan F-5E, dan bahkan lebih unggul dalam beberapa aspek, tetapi MiG-21 akhirnya terbukti tidak cocok ketika diterbangkan oleh pilot tidak terlatih baik. (Sumber: Koleksi foto Claudio Toselli/ https://medium.com/)

Pertempuran berakhir pada bulan April 1978. Data kerugian yang ditimbulkan selama perang sebagian besar dibesar-besarkan oleh kedua negara, Somalia mengklaim telah menembak jatuh setidaknya 8 F-5A, 1 F-5B dan 3 F-5E; sementara Ethiopia mengklaim bahwa F-5  nya telah menembak jatuh 13 MiG-21 (delapan berhasil dikonfirmasi), 1 MiG-17 (berhasil dikonfirmasi) dengan kerugian hanya 2 F-5. Klaim-klaim orang Somalia ini nampaknya kontradiktif dengan adanya tawaran untuk penjualan pesawat tempur buatan Northrop itu ke Somalia kemudian (tidak pernah terealisasi). Analisis pasca perang yang dibuat buat oleh semua pihak yang mengamati memberikan gambaran jelas. Tidak hanya bahwa dalam perang di Kawasan Tanduk Afrika itu F-5E terbukti lebih unggul dari MiG-21 (setidaknya dibandingkan tipe yang digunakan Somalia) – tidak dalam kecepatan, tetapi tentu dalam hal manuver di ketinggian rendah dan menengah, dan dalam hal daya tahan dan persenjataan, disamping MiG-21 dinilai memiliki jangkauan yang terhitung pendek. Pelatihan yang lebih baik dari awak pesawat Ethiopia, yang tampaknya lebih suka F-5 yang lebih gesit daripada MiG yang lebih berat, telah menunjukkan manfaatnya. Para pilot Nortrop F-5A sebelumnya dilatih untuk mensimulasikan MIG-17, dan Northrop F-5E untuk mensimulasikan MiG-21, sebagai bagian dari training. Kredit khusus juga patut diberikan pada pelatihan yang diberikan kepada orang Etiopia oleh para penasihat AS mereka yang terbukti memiliki kualitas yang jauh lebih unggul dan jauh lebih realistis daripada yang diberikan kepada orang Somalia oleh instruktur Soviet mereka. Setelah perang di Ogaden, beberapa simulasi pertempuran dilakukan di Addis Ababa, di mana MiG-21 Kuba yang dipiloti oleh Letnan Kolonel José Febles dan Luis Quiñones kalah dari F-5 Ethiopia. Namun, duel yang sama antara  MiG-21 vs F-5 di USSR, menunjukkan bahwa di antara pilot dengan persiapan serupa, hasilnya sangat tergantung pada ketinggian dan kecepatan yang disimulasikan pada latihan seperti itu, karena masing-masing pesawat tempur ini dirancang dengan parameter penerbangan yang berbeda, MiG-21 pada kecepatan rendah dan ketinggian rendah bisa jadi kurang bisa bermanuver dibanding F-5, tapi berbeda pada saat digunakan pada kecepatan dan ketinggian yang lebih tinggi, yang bisa dikata mirip dengan perbandingan karakteristik dari pesawat tempur barat-timur era Perang Korea, dimana MiG-15 memiliki kemampuan tempur yang lebih unggul dari F-86 Sabre di ketinggian, demikian pula sebaliknya.

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

Which is Better, the F-5E Tiger II or the MiG-21? By Tom Cooper, 8 August 2018

The Northrop F-5 Enthusiast Page

https://www.the-northrop-f-5-enthusiast-page.info/AirForces/EthiopiaAF.html

The Cuban Air Force in the Ogaden War (Etiophia) by Ruben Urribarres

http://www.urrib2000.narod.ru/Etiopia-e.html

Ogaden War, 1977-1978 By Tom Cooper, with additional details from Gianfranco Lanini; Sep 2, 2003, 10:52

https://web.archive.org/web/20070107093450/http://www.acig.org/artman/publish/article_188.shtml

One thought on “Perang Ogaden 1977: Duel udara F-5 Tiger II vs MiG-21 Fishbed di Tanduk Afrika

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *