Pertempuran Belleau Wood (1-26 Juni 1918): Terbentuknya “Mitos” Legenda Marinir Amerika Dalam Perang Dunia I

Banyak sejarawan menganggap Pertempuran Belleau Wood yang berlangsung dari tanggal 1-26 Juni 1918 sebagai peristiwa yang menentukan dalam sejarah Korps Marinir AS. Pertempuran itu disebut sebagai pertempuran skala besar pertama yang dilakukan oleh Korps Marinir Amerika, dan pertempuran dalam Perang Dunia I ini kemudian juga menjadi pembuka dari berbagai pertempuran epik yang dilakukan Marinir di masa yang akan datang, mulai dari Guadalcanal dalam Perang Dunia II hingga Fallujah di Irak pada abad ke-21. Belleau Wood juga merupakan batu ujian yang membentuk mitos kepahlawanan mereka, dimana pertempuran itu dikenal sebagai pertarungan di mana Marinir — yang kalah jumlah dan kurang didukung oleh pasukan Prancis tempat mereka diperbantukan — hampir sendirian mencegah direbutnya Paris oleh tentara Jerman yang bermaksud menghancurkan Ibukota Prancis itu dalam rangka mengakhiri perang dan memaksakan perdamaian. Betapa pun besarnya korban dalam pertempuran itu, Marinir telah membuktikan secara meyakinkan bahwa mereka dapat bertempur dan mengalahkan salah satu pasukan terbaik dunia. Banyak pemimpin senior Korps selama dan setelah Perang Dunia II telah menjadi perwira junior dan NCO di Belleau Wood, dan pengalaman mereka turut membentuk etos dan prinsip-prinsip tempur Marinir Amerika hingga saat ini.

Pertempuran di Belleau Woods akan selamanya dikenang sebagai pertempuran bersejarah yang turut membentuk image Marinir Amerika hingga kini. (Sumber: https://paintingvalley.com/)

MARINIR AMERIKA JELANG PERANG DUNIA I

Pada saat Amerika masuk gelanggang Perang Dunia I pada tanggal 6 April 1917, personel Korps Marinir Amerika (yang telah berusia 142 tahun) hanya terdiri dari 511 perwira dan 13.214 prajurit. Waktu itu kemungkinan menugaskan Marinir ke Prancis nampaknya hanya memiliki peluang yang tipis, dimana jika ini terjadi akan menyebabkan slogan perekrutan Marinir “First to Fight” tidak lebih sebagai slogan kosong. Mendekati deklarasi perang, Jenderal George Barnett, komandan Korps Marinir, mendekati Menteri Angkatan Laut Josephus Daniel untuk menawarkan sebuah Brigade Marinir siap tempur kepada Menteri Peperangan Newton D. Baker. Pada awalnya Daniel enggan, karena curiga hal ini sengaja dijadikan alasan oleh Barnett untuk meningkatkan jumlah personel Marinir. Bukan rahasia lagi sejak kelahirannya, Korps Marinir sudah berulang kali diminta untuk dilebur oleh berbagai kalangan, terutama Angkatan Darat, yang kerap merasa Marinir sebagai rivalnya. Di Departemen Peperangan, Barnett, Daniel, dan Kepala Operasi Angkatan Laut William S. Benson mendapati Baker menolak keterlibatan Marinir dalam peperangan yang ia anggap “murni sebagai pertunjukan Angkatan Darat”. Ia menyinggung bahwa pasukan kecil Marinir akan menimbulkan masalah secara administratif dan logistik. Ia menunjukkan kepada Barnett bahwa dari sisi seragam dan perlengkapan, Marinir berbeda dengan pasukan darat Amerika lainnya, sementara di medan perang keseragaman perlengkapan itu amat penting. Menghadapi hal ini Barnett kemudian setuju untuk membuat beberapa perubahan yang diperlukan, sehingga pada akhirnya Baker tidak bisa lagi menolak tawarannya. Bahkan untuk memenuhi persyaratan, organisasi kontingen Marinir harus di modifikasi. Karena resimen Angkatan Darat berukuran dua kali lebih banyak dari resimen Marinir, Korps Marinir akhirnya menggabungkan 2 resimen brigadenya (Brigade ke-5 dan 6) menjadi satu resimen, yakni Resimen ke-5, dalam rangka memenuhi persyaratan resimen ala Angkatan Darat untuk bisa berangkat ke Prancis.

Tampilan seragam dan perlengkapan Marinir Amerika dalam Pertempuran Belleau Woods. Atas arahan Jenderal Pershing, Marinir diminta untuk memakai seragam yang sama dengan pasukan Angkatan Darat Amerika. (Sumber: https://id.pinterest.com/)
Seperti umumnya pasukan reguler Amerika pada masanya, pasukan marinir yang dikirim ke Prancis saat Perang Dunia I dilengkapi dengan senapan standar Springfield M1903. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

Pasukan Marinir berangkat dari New York pada bulan Juni 1917 dan sampai di St. Nazaire, Prancis pada akhir bulan itu. Pada tanggal 3 Juli seluruh resimen Marinir telah mendarat dan pada tanggal 15 Juli mereka bergabung dengan Divisi ke-1 Angkatan Darat Amerika untuk di-review oleh komandan AEF di Prancis, Jenderal John J. Pershing. Mata Pershing yang jeli, ia mencatat bahwa para personel Marinir nampak lebih terlatih dan punya penampilan militer dibanding tentara reguler Angkatan Darat kesayangannya. Meski demikian, dia akhirnya menempatkan marinir pada tugas-tugas polisi militer dan komunikasi sementara para prajurit Angkatan Darat dilatih untuk dikirim ke garis depan, bahkan ia juga meminta agar tidak ada lagi Marinir yang dikirim ke Prancis. Selain itu, Pershing meminta Marinir untuk mengganti seragam hijau mereka yang sudah tua dengan seragam berwarna olive drab milik Angkartan Darat. Dengan berat hati Marinir menurutinya sembari menambahkan lambang elang, bola dunia, dan jangkar khas Marinir pada helm mereka, untuk membedakan tampilan mereka dengan Angkatan Darat. Untuk persenjataan, senjata standar yang digunakan Marinir adalah senapan bolt action 5 peluru Springfield M1903 kaliber .30 yang sangat akurat dan telah mereka kenal sejak tahun 1906 lengkap dengan bayonet panjang tipe M1905. Dengan pelatihan yang rutin, menembak sejauh 500-1000 yard (457.2 – 914.2meter) adalah hal yang biasa bagi para marinir. Sementara untuk senjata otomatis mereka terpaksa menggunakan senapan otomatis Chauchat yang bermasalah dan senapan mesin Hotchkiss yang disediakan oleh Prancis. Marinir saat itu tidak punya mortir parit, pistol dan peluru suar, serta tidak punya cukup granat. Untungnya mereka kebagian masker gas.

LATAR BELAKANG

Sementara itu, pada dini hari tanggal 27 Mei 1918, bumi bergetar dan udara dipenuhi dengan suara gemuruh yang memekakkan telinga saat 4.000 artileri Jerman melepaskan serangan dahsyat ke garis Pertahanan Sekutu. Pasukan Inggris dan Prancis, yang bercokol di antara Soissons dan Rheims, serta menerima beban pemboman mengerikan ini, menderita korban yang besar. Penyebab utama kerugian dan kekalahan yang mereka derita ini ada di pundak satu orang, yakni: Jenderal Denis Duchene, komandan jenderal Angkatan Darat Keenam Prancis. Duchene telah melanggar perintah dari Jenderal Henri-Philippe Petain, panglima Prancis, untuk tidak menempatkan pasukan dalam jumlah besar di parit terdepan di mana mereka akan rentan terhadap serangan artileri seperti itu. Setelah serangan gas yang terjadi berikutnya, 17 divisi Jerman menembus garis pertahanan sekutu dan mengalir masuk melalui celah selebar tiga mil, serta berhasil mencapai Sungai Marne dan mengancam ibu kota Prancis, Paris untuk pertama kalinya dalam kurun waktu hampir empat tahun. Apa yang disebut sebagai Serangan Aisne itu, yang merupakan gagasan dari ahli strategi Jenderal Erich Ludendorff dari komando tinggi Jerman, tampaknya bekerja dengan sempurna. Ludendorff, seorang individu penyendiri yang digambarkan sebagai “karakter granit,” telah menerapkan strategi ketiga dari lima strategi untuk memenangkan perang sebelum pasukan Amerika yang baru tiba di Prancis dapat ditempatkan. Setelah hampir empat tahun konflik berdarah yang belum pernah terjadi sebelumnya, semua pihak telah berjuang sampai menemui jalan buntu, menghabiskan banyak tenaga dalam prosesnya.

Jenderal Ludendorff, arsitek ofensif Jerman di Front Barat tahun 1918. (Sumber: https://id.pinterest.com/)
Ofensif Jerman pada Musim Panas 1918 di Front Barat. (Sumber: https://nzhistory.govt.nz/)

Dengan penandatanganan perjanjian perdamaian terpisah antara Jerman dan Rusia, ribuan unit tambahan Jerman dapat dibebaskan dan dipindahkan ke medan operasi barat. Akan tetapi, dengan kedatangan Yanks (sebutan tentara Amerika), Ludendorff menyadari bahwa bala bantuan baru bagi musuh tersebut dapat memberi keuntungan bagi Sekutu dan memberikan kemenangan akhir bagi Amerika, Inggris, dan Prancis. Dia memutuskan untuk bertindak sebelum hal ini terjadi, dengan meluncurkan serangkaian operasi ofensif besar-besaran untuk mengakhiri dengan cepat perang yang jelas-jelas sedang berjalan lambat dan memastikan kemenangan terakhir ada di pihak Jerman. Dimulai pada tanggal 21 Maret, Jerman menyerang Tentara Ketiga dan Kelima Inggris dengan tujuan memecah belah kekuatan Inggris dan Prancis dan mendorong Inggris ke tepi laut. Jenderal Petain dari Prancis, kemudian mengirimkan semua bala bantuan Prancis yang tersedia untuk menghadapi pasukan Jerman guna memperlambat kemajuan mereka. Namun upaya itu tidak ada gunanya — raksasa Jerman itu menghancurkan pasukan Prancis dan mendesak pasukan Petain mundur ke Paris. “Rasanya seperti menjatuhkan air di atas kompor panas, mereka (dengan cepat) akan menghilang,” kata Petain setelah kehilangan pasukan-pasukannya. Mulai tanggal 27 Mei, pasukan penyerang Jerman menerobos garis Prancis di Aisne. Menyerang di daerah yang kekurangan pertahanan dan cadangan yang substansial, Pasukan Jerman memaksa Tentara Keenam Prancis mundur total. Selama tiga hari pertama penyerangan, dimana Jerman berhasil menangkap 50.000 tentara Sekutu dan 800 senjata artileri. Bergerak cepat, Tentara Jerman maju ke Sungai Marne dan berniat untuk terus maju ke arah Paris. Di Marne, mereka diblokir oleh pasukan Amerika di Chateau-Thierry dan Belleau Wood.

UNTUK MENYELAMATKAN PARIS

Untuk menyelamatkan ibu kota yang dicintainya dan memenangkan perang, Petain tidak punya alternatif selain meminta bantuan orang-orang Amerika yang belum teruji. Divisi ke-1 dan 3 dari Pasukan Ekspedisi Amerika (AEF), di bawah komando Jenderal John J. “Black Jack” Pershing, dengan cepat dikirim untuk menutup celah yang dibuat tentara Jerman tersebut. Divisi ke-1, “The Big Red One,” memukul mundur pasukan elit Jerman ke-18 di Cantigny, yang kemudian menjadi kemenangan Amerika pertama atas musuh mereka dalam Perang Dunia I, dan merebut Soissons pada bulan Juli dengan korban besar. Di tempat lain, Divisi ke-3 bertempur dalam pertempuran yang sama heroiknya di Chateau Thierry dan pertempuran sengit lainnya di sepanjang tepi Sungai Marne, membuat divisi tersebut kemudian dijuluki sebagai “Batu Karang Marne”. Sementara itu, Divisi ke-2, atau Indianhead, yang terdiri dari Resimen Angkatan Darat ke-9 dan ke-23 dan Brigade Marinir ke-5, yang terdiri dari Marinir ke-5 dan ke-6 serta Batalyon Senapan Mesin ke-6, juga diperintahkan untuk bergerak maju. Awalnya, Brigjen Charles A. Doyen dari Marinir memimpin brigade tersebut. Dia sangat disukai oleh anak buahnya dan telah melatih mereka untuk mencapai tingkat efisiensi yang tinggi. Tanpa diduga, Brigjen. James G. Harbord asal Angkatan Darat, seorang veteran Penumpasan Pemberontakan Filipina dan Ekspedisi Meksiko untuk menemukan Pancho Villa, mengambil alih unit tersebut dari Doyen. Hal itu menyebabkan beberapa orang menggerutu di satuan tersebut. Meskipun terjadi kekacauan, pasukan infanteri mulai menaiki kendaraan pada dini hari tanggal 31 Mei menuju kota Meaux, 50 mil jauhnya. Segera diketahui bahwa divisi tersebut tidak dikirim untuk memperkuat satuan Amerika lainnya, tetapi ditugaskan untuk menutup lubang yang diciptakan oleh penarikan Pasukan Prancis setelah serangan Jerman baru-baru ini. Seluruh garis pertahanan Perancis telah hancur dengan cepat, dan Divisi ke-2 diberi tugas yang tidak menyenangkan untuk menghentikan Pasukan Jerman dan membantu unit lain dalam menyelamatkan Paris.

Brigjen. James G. Harbord, Jenderal Angkatan Darat yang ditugaskan untuk memimpin pasukan marinir selama Pertempuran Belleau Woods. Penunjukan ini menimbulkan perasaan tidak enak diantara Marinir Amerika. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

KEBINGUNGAN DI DALAM KOMANDO TERTINGGI

Hubungan antara divisi Amerika dan hierarki militer Prancis sangat buruk. Perintah-perintah yang saling kontradiktif menyebabkan lokasi unit-unit dan pergerakan pasokan serta artileri, menjadi terpisah-pisah. Dalam 12 jam sebelumnya saja, divisi tersebut telah menerima empat rangkaian perintah yang saling bertentangan dari komando Prancis. Ketika mengunjungi markas Korps XXI Prancis, di mana Divisi ke-2 ditugaskan, Mayor Jenderal Omar Bundy, komandan divisi, dan Kolonel Preston Brown, kepala staf divisi, sangat marah mengetahui bahwa Prancis ingin memasukkan pasukan Amerika sedikit demi sedikit ke dalam pertempuran. Baik Bundy maupun Brown dengan tegas menentang rencana tersebut dan bersikeras bahwa pasukan mereka akan bertempur hanya setelah dukungan artileri dan senapan mesin mereka sendiri telah tiba. Ketika komandan korps Jenderal Jean-Marie Deugoutte bertanya dengan gugup apakah pasukan Amerika bisa bertahan, Brown menjawab dengan lesu: “Jenderal, mereka adalah tentara reguler Amerika. Dalam seratus lima puluh tahun mereka tidak pernah dikalahkan. Mereka akan bertahan. ” Saat para prajurit dan Marinir mendesak ke depan, mereka bertemu dengan ribuan pengungsi menyedihkan yang terjebak kemacetan di jalan saat truk-truk bermuatan pasukan berusaha melewati kerumunan warga sipil yang melarikan diri. “Ada wanita, pria tua, dan bayi, semuanya berkeliaran seperti jiwa yang tersesat dalam kekacauan dan kebingungan,” tulis Sersan Martin Gulberg dari Kompi ke-75, Batalyon 1, Marinir ke-6. “Segalanya dan semua orang sepertinya terburu-buru untuk menjauh dari garis pertempuran kecuali beberapa Marinir.” Di antara gerombolan orang itu yang linglung dan terguncang, militer Prancis mencoba melarikan diri. Saat orang-orang Amerika berbaris melewati mereka, tentara Prancis yang lelah bertempur berteriak: “La guerre est fini (Perang telah usai).” Tetapi bagi orang Amerika, perang baru saja dimulai. Bosan dengan latihan dan mempraktikkan manuver tempur terus-menerus, mereka merindukan pertempuran — dan pertempuran itulah yang akan segera mereka dapatkan. Pada tanggal 1 Juni, seluruh Divisi ke-2 telah menempati posisi bertahan yang membentang dari Vaux di tenggara sampai ke Marigny. Posisi Marinir berada di seberang jalan raya Paris-Metz, menghalangi akses masuk ke pasukan Jerman. Bagian tengah garis pertahanan itu terletak di Lucy-le-Bocage. Di sebelah kiri Marinir adalah Resimen ke-23 AS, dan di sisi kanan mereka ada Resimen ke-9. 

Pasukan Prancis dan Inggris berbaris mundur kembali melalui Passy-sur-Marne, 29 Mei 1918. Offensif Musim Panas Jerman membuat pasukan sekutu mundur di beberapa tempat. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

MUNDUR? TIDAK MUNGKIN! KAMI BARU SAJA SAMPAI DISINI”

Saat unit-unit bersiap untuk pertempuran yang akan datang, Pasukan Prancis yang tercerai-berai dari Divisi ke-43 tertatih-tatih melalui garis pertahanan mereka. Para Prajurit Divisi ke-43 gagal mempertahankan Clignon dan mundur. Beaucoup d’allemands “(Banyak Orang Jerman)!” demikian mereka akan berteriak saat mereka lewat. Ketika seorang tentara Prancis dengan tegas menasihati Kapten Lloyd W. Williams dari Kompi ke-51, Batalyon ke-2, Marinir ke-5 untuk mundur, perwira muda itu membentak, “Mundur? mana mungkin! Kami baru saja sampai di sini! ” Pada tanggal 2 Juni, Pasukan Jerman melangkah maju menuju garis pertahanan Marinir. Pertempuran sengit pun terjadi. Mayor Thomas Holcomb, komandan Batalyon ke-2, Marinir ke-6, memberi tahu komandan resimen, Kolonel Albertus W. Catlin, tentang “musuh yang menyerang di sepanjang front kita. Mereka berada sekitar seribu dua ratus meter dari posisi kita. ” Harbord segera mengira bahwa anak buah Holcomb sedang mundur dan mengambil telepon lapangan untuk menyuruhnya tetap bertahan. Holcomb memberitahu Harbord bahwa pasukannya, pada kenyataannya, tidak melepaskan posisi mereka dan menambahkan: “Ketika seragam ini berjalan, itu akan mengarah ke arah yang lain. Tidak ada yang melakukan gerak mundur. ” Seluruh Batalyon ke-2, Marinir ke-5, menduduki posisi di Les Mares Farm, hanya 30 mil dari Paris. Titik ini akan menjadi titik terdekat pasukan Angkatan Darat Jerman ke ibu kota Prancis selama pertempuran. Para marinir menggali lebih dalam ketika artileri musuh menembakkan peluru ke garis pertahanan Mereka. 

Di saat Pasukan Inggris dan Prancis mundur, pasukan Marinir Amerika ditugaskan untuk menutup “lubang’ yang dihasilkan oleh ofensif Jerman. (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/)

Seorang prajurit yang penasaran mengintip dari balik lubang perlindungan dan pecahan peluru segera memenggalnya. Beberapa Marinir lainnya dievakuasi karena guncangan mental akibat tembakan artileri musuh, penyakit yang sering terjadi selama Perang Dunia I ketika suara peluru artileri yang terus-menerus dan ledakan yang tertunda merusak sistem saraf seseorang. Beberapa tentara Prancis yang juga menderita gangguan mental terlihat di hutan terdekat, “berjalan berkeliling dengan membawa manik-manik rosario sambil berdoa.” Penyerangan yang dilakukan oleh pasukan Jerman semakin meningkat frekuensinya tetapi berhasil dipukul mundur oleh penembak senapan mesin Amerika yang menyapu barisan mereka dan melaporkan dengan bangga bahwa “orang Jerman yang mati menumpuk di lereng.” Selama beberapa hari berikutnya, Les Mares Farm akan menyaksikan pertempuran sengit antara dua musuh yang berhadapan. Daerah itu segera dijuluki “Sudut Berdarah AEF (American Expeditionary Force).”

MENAHAN PASUKAN JERMAN 

Hingga titik ini, Jerman telah menikmati kesuksesan di medan perang dengan menggilas unit-unit Prancis yang kelelahan di sepanjang jalan mereka. Sekarang, dengan Paris begitu dekat, mereka menghadapi perlawanan yang lebih berat — mereka tidak tahu pasukan apa yang mereka hadapi. Menjelang pagi pada tanggal 3 Juni, lebih banyak pasukan Jerman berkumpul untuk melakukan serangan di depan Kompi ke-75, Batalyon 1, Marinir ke-6. Mereka mulai bergerak dengan tidak banyak gangguan menuju garis-garis pertahanan “Leatherneck” (julukan lain Marinir Amerika); segera tembakan senapan dan senjata otomatis merobek barisan mereka. Sersan Gulberg kemudian menulis dalam jurnalnya: “Tiga kali mereka mencoba menerobos, tetapi tembakan kami terlalu akurat dan terlalu berat untuk mereka. Mereka sangat buruk efektifitasnya. Mereka jatuh dalam jumlah banyak, di sana di antara bunga poppy dan gandum. ” Segera, tempo penembakan meningkat dan musuh mulai melakukan tembakan artileri bertubi-tubi ke garis pertahanan Marinir. Banyak helm Jerman mulai bermunculan saat mereka maju di sepanjang bagian depan pertahanan Marinir, bayonet mereka telah disiapkan, untuk bertarung dengan para leathernecks. “Setan-setan itu datang,” teriak Kapten John Blanchfield. “Kalian telah menunggu mereka selama setahun. Sekarang ambil mereka. ” Tentara musuh mulai berjatuhan dengan cepat dan serangan itu segera gagal. Para veteran Jerman mulai mencari tempat perlindungan yang tersedia untuk menghindari tembakan akurat, sementara penembak mereka sendiri sibuk menyediakan perlindungan untuk rekan-rekan mereka. 

Dengan kemampuan menembak tepat jarak jauhnya, pasukan Marinir Amerika yang bertahan menjadi pembunuh yang mematikan bagi Pasukan Jerman yang maju menyerang. (Sumber: https://www.wearethemighty.com/)

Sebuah peleton dari Kompi ke-55, Batalyon ke-2, Marinir ke-5 mengambil posisi di rumah-rumah pertanian dan bangunan lain yang tersedia untuk mencegah musuh menembus melalui celah di sayap kanan mereka. Kemampuan menembak jitu mereka terbayar saat mereka berhasil menggagalkan upaya musuh untuk memanfaatkan lubang di perimeter mereka. Seorang perwira senior dengan tenang mondar-mandir di belakang anak buahnya, menunjukkan calon-calon target dan memberikan kata-kata penyemangat saat mereka membinasakan prajurit-prajurit Jerman. Saat kegelapan mendekat, senjata otomatis yang sangat dibutuhkan dari Batalyon Senapan Mesin ke-8, ke-15, dan ke-81 tiba dan segera dipasang pada posisinya untuk mendukung pasukan infanteri. Pada saat yang sama, Artileri Lapangan ke-12 Angkatan Darat tiba dan mendirikan emplasemen di garis depan untuk mengganggu musuh juga. Digagalkan dalam upaya mereka untuk menghancurkan garis pertahanan Amerika, Pasukan Jerman mulai menambah bala bantuan untuk meningkatkan serangan mereka untuk dapat merebut Paris dan, mudah-mudahan juga dapat mendesak dilakukannya perdamaian. Resimen ke-461 kemudian bergabung dengan Divisi ke-10 Jerman dan menduduki sudut barat daya Belleau Wood dan daerah selatan dekat Bukit 181. Musuh juga pindah ke sektor barat hutan dan mengirim patroli ke utara kota Lucy-le-Bocage. Mereka menemukan seorang Marinir yang telah tewas dan dengan cepat membawa mayatnya kembali sehingga tim intelijen mereka dapat menganalisis seragam prajurit tersebut dan mencari tahu unit apa yang mereka hadapi selama beberapa hari terakhir.

Pasukan Jerman di Front Barat jelang akhir Perang. (Sumber: https://id.pinterest.com/)

Semakin berani dalam upaya mereka untuk membuat lubang di perimeter pertahanan Amerika, Batalyon Jager ke-26 Saxon mulai mempersiapkan posisi bertahan di ladang gandum dekat Les Mares Farm. Khawatir bahwa Jerman bersiap-siap untuk melancarkan serangan habis-habisan, Kopral Francis J. Dockx dan tiga Marinir lainnya mendekati garis pertahanan musuh. Tim pengintai ini segera berhadapan dengan patroli Jerman yang terdiri dari 30 orang dengan disertai beberapa senapan mesin. Saat mereka memukul mundur pasukan Jerman, Gunnery Sergeant David L. Buford dan beberapa Marinir lainnya bergegas membantu. Buford, seorang penembak jitu, membidik dengan hati-hati dan menjatuhkan tujuh tentara musuh sebelum mereka lari. Ketika mereka menyerang senjata otomatis musuh, Dockx dan seorang prajurit leatherneck lainnya terbunuh. Hanya lima prajurit Jerman yang selamat; sisanya ditawan dan dibawa kembali untuk diinterogasi. Tempat ini adalah jarak terdekat yang dapat dicapai Jerman ke ibu kota Prancis selama seluruh pertempuran. 

LEATHERNECKS MENYERANG BELLEAU WOODS

Pada hari Rabu, tanggal 5 Juni, perintah diterima di markas besar yang memberi tahu Harbord bahwa brigade-nya akan melancarkan serangan besar keesokan paginya. Batalyon ke-1, Marinir ke-5 pimpinan Mayor Julius S. Turrill ditugaskan untuk menyerang Bukit 142, sedangkan Batalyon ke-3, Marinir ke-5, dan Batalyon ke-3, Marinir ke-6 akan menyerbu Belleau Wood. Rencana tersebut tampak luar biasa di atas kertas, tetapi ada beberapa hal penting yang tidak dibahas. Pertama, dua kompi Turrill telah diambil darinya dan pasukan dia sangat lemah. Kedua, unit Prancis yang akan berpartisipasi dalam penyerangan itu salah tempat. Juga, tidak ada yang ditugaskan melakukan pengintaian mendalam di daerah tersebut. Intelijen Prancis melaporkan bahwa wilayah itu “dipertahankan dengan ringan”. Faktanya wilayah itu sama sekali tidak dipertahankan dengan ringan — Tentara Jerman telah menggali pertahanan dan menunggu orang Amerika menyerang. Pada hari Kamis, 6 Juni, serangan itu dijadwalkan untuk diawali dengan Kompi ke-49 dari Batalyon 1, Marinir ke-5 pimpinan Letnan Pertama George W.Hamilton, di sebelah kanan berjalan di sepanjang punggung bukit dan bergerak ke selokan yang berbatasan dengan Bukit 142, yang seluruhnya tertutup dengan semak lebat dan pepohonan kecil. Kompi ke-67, yang dipimpin oleh Letnan Satu Orlando Crowther, akan maju di sebelah kiri dan pindah ke selokan untuk mengimbangi gerak maju pasukan Prancis, yang juga terlibat dalam serangan itu. Sementara itu 60 bangunan di desa Bouresches terletak di sebelah utara dengan melintasi 800 meter ladang gandum. Sejak tanggal 4 Juni, lebih dari 2.000 tentara Jerman dengan setidaknya 30 senapan mesin telah berlindung di Belleau Wood, dan 100 orang Jerman lainnya dengan setidaknya enam senapan mesin bertahan di Bouresch. Tembakan senapan mesin Jerman dari hutan dapat menyapu sebagian besar ladang gandum. Melihat ke utara dan timur dari garis keberangkatan mereka, marinir menghadapi dua rintangan sulit: maju dari pohon ke pohon dalam pertempuran jarak dekat atau melakukan perjalanan berbahaya melintasi ladang gandum hijau yang terbuka yang tingginya hampir di atas lutut.

Peta Pasukan Amerika saat melakukan serangan ke Belleau Woods. (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/)
Posisi Pasukan di Belleau Woods, 6 Juni 1918. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

Marinir selama ini menganut prinsip taktik superioritas tembakan mereka yang sangat menekankan pada keahlian menembak senapan. Taktik tersebut sesuai dengan doktrin “perang terbuka” yang didukung oleh Jenderal John J. Pershing yang memimpin AEF. Dia mengharapkan unit infanteri Amerika dapat bergerak cepat melakukan serangan agresif terhadap posisi Jerman di tempat terbuka, mengalahkan garis pertahanan mereka, dan masuk ke pedalaman di belakang garis pertahanan musuh. Taktik Amerika ini bertentangan dengan doktrin Prancis yang didasarkan pada pengalaman keras di medan perang parit, dimana mereka mengharuskan dilakukannya serangan artileri beruntun untuk melunakkan posisi pertahanan musuh dan membuka jalan bagi unit infanteri yang bergerak dibelakang. Jenderal Pershing dengan naif berasumsi bahwa AEF akan dapat berhasil dalam pertempuran menggunakan taktik unik Amerika, meskipun pertempuran berdarah selama hampir empat tahun menunjukkan keuntungan menentukan yang diberikan oleh senapan mesin dan posisi yang dipertahankan dengan baik. Para marinir yang terbiasa melakukan peperangan terbuka, berharap tembakan senapan mereka yang sangat akurat akan memberi mereka keuntungan. Ketika peluit dibunyikan sebagai tanda penyerangan, orang-orang itu melangkah maju untuk memulai penyerangan di hutan. “Udara bergetar dan terdengar dentuman-dentuman,” tulis Kapten John W. Thomason, Jr. “Sersan di samping letnan berhenti, menatapnya dengan senyuman beku dan bodoh. Sesuatu telah menhantam tempurung lutut dari lutut kanan letnan dan kakinya tertekuk di bawahnya. Dia memperhatikan, saat dia jatuh ke samping, bahwa semua anak buahnya terjungkal; ada satu orang yang berputar dua kali, dan pergi ke belakang dengan tangan terangkat. Kemudian serpihan gandum menutupinya, dan dia mendengar tangisan dan rintihan. Dia mengamati dengan rasa ingin tahu dimana ternyata dia sendirilah yang membuat keributan itu. ” Para leatherneck telah berjalan menuju siraman tembakan senapan mesin Maxim dari Kompi ke-9, ke-10, dan ke-11 dari Resimen Infantri ke-460 Jerman. Senapan Maxim yang sangat ditakuti bisa menembakkan 500 peluru per menit. Menyaksikan rekan-rekan Marinirnya dibantai, Prajurit Joseph M. Baker dari Kompi ke-67 membunuh beberapa orang Jerman dan menyerang sebuah sarang senjata seorang diri. Dia kemudian diberikan medali Distinguished Service Cross dan Navy Cross atas keberaniannya yang luar biasa di bawah api. Sementara itu melihat anak buahnya terjepit, Gunnery Sergeant Dan Daly, seorang veteran marinir tua berusia 44 tahun penerima 2 Medali Medal Of Honor dalam Pemberontakan Boxer di China tahun 1900 dan Misi di Haiti tahun 1915 berseru, “Ayo, brengsek, kau ingin hidup selamanya?” ucapannya ini kemudian membuat mereka bergerak lagi. Meskipun telah melakukan upaya terbaik mereka, keahlian menembak marinir gagal membungkam senapan mesin-senapan mesin Jerman.

Pasukan Amerika susah payah menyeberangi ladang gandum dekat Belleau Woods, Juni 1918. (Sumber: https://id.pinterest.com/)
Gunnery Sergeant Dan Daly. (Sumber: https://www.usmcu.edu/)

Meski menderita banyak korban, Marinir telah merebut tujuan awal mereka — dengan pengecualian wilayah hutan berbentuk persegi. Pertempuran berlangsung dari jarak dekat, dan mereka bertempur dengan menggunakan popor senapan, bayonet, dan tinju. Satu surat yang diambil dari mayat seorang tentara Jerman, berbunyi, “Orang-orang Amerika itu biadab. Mereka membunuh semua yang bergerak. ” Batalyon tersebut, atau yang tersisa darinya, dikonsolidasikan dan terus menangkis serangan musuh sepanjang hari. Meskipun mereka telah berhasil mengusir tentara Jerman dari bukit (nyatanya, momentum mereka telah membawa mereka ke wilayah Torcy, sebuah dusun kecil di utara Bukit 142), mereka menderita 333 orang terbunuh, terluka, dan hilang dalam prosesnya. Sore itu, Batalyon ke-3, Marinir ke-5, di bawah kepemimpinan Mayor Benjamin S. Berry, memulai gerakan mereka melintasi ladang gandum di bawah tembakan senjata musuh; tujuan mereka adalah merebut Bois de Belleau. Dalam “garis pertempuran yang hampir sempurna,” Kompi ke-45, 16, 20, dan 47 beringsut maju menuju Belleau Wood di bawah sinar matahari sore. Para prajurit infanteri segera berlari ke celah yang dibuat di wilayah Resimen Infantri Jerman ke-461. 1.141 pucuk senapan dan senapan mesin Maxim musuh, dengan medan tembak yang saling menyilang, mulai menebas Marinir dengan kecepatan yang mengkhawatirkan. Berry mengirim pesan kepada Harbord yang memberitahukan tentang peristiwa mengerikan itu: “Apa yang tersisa dari batalion itu ada di hutan dekat sini. Tidak tahu apakah mereka akan bisa bertahan atau tidak. Tingkatkan jangkauan artileri. ” Berry sendiri menderita luka yang melumpuhkannya saat peluru menembus siku kirinya dan menancap di telapak tangannya. Dia terus memimpin batalion sampai rasa sakit yang menyiksa memaksanya untuk menyerahkan komandonya kepada Kapten Henry Larsen.


HARI PERTEMPURAN TERBURUK BAGI PARA MARINIR

Sementara Marinir ke-5 bertarung melawan Jerman, Batalyon ke-3, Marinir ke-6 juga bergabung dalam pertempuran. Empat kompi berangkat untuk memukul mundur musuh di Bouresches, di sebelah kiri Jerman, dan merebut stasiun kereta yang sangat penting di sana. Sekali lagi, pertempuran itu berlangsung tanpa henti dan dilakukan dalam jarak dekat ketika para prajurit Marinir menikam, menebas, dan membuka jalan mereka melalui pertahanan Jerman yang tampaknya tidak bisa ditembus di hutan. Senapan mesin Maxim musuh menyebabkan banyak korban karena setiap posisi senjata harus disingkirkan satu per satu. Kolonel Catlin, yang memimpin Marinir ke-6, tertembak di bagian dada oleh sebuah peluru yang membuatnya berputar seperti gasing. Kapten Tribot-Laspierre, perwira penghubung Prancis di resimen, menariknya keluar dari bahaya. Saat gerak maju mereka terhenti, Harbord memanggil Batalyon ke-2, Marinir ke-6 pimpinan Mayor Thomas Holcomb, untuk merebut kota dan stasiun kereta api. Kompi ke-96 pimpinan Kapten Donald Duncan, dengan didukung oleh tiga peleton dari Kompi ke-79 pimpinan Kapten Randolph T. Zane, juga turut beraksi. Ketika para prajurit infanteri berjatuhan akibat hujan tembakan senapan mesin dan tembakan artileri Jerman, Letnan (j.g.) Weedon Osborne, seorang dokter gigi Angkatan Laut AS, berlari di antara mereka yang terluka untuk memberi mereka pertolongan pertama. Sebuah peluru artileri meledak, menewaskan Duncan dan Osborne, dan pimpinan unit itu dilanjutkan oleh Letnan James B. Robertson. Untuk teladan kepahlawanannya, Osborne dianugerahi medali Medal of Honor secara anumerta. 

Crew senapan mesin Maxim Jerman. Senapan mesin Maxim menjadi mesin pembunuh dan senjata pertahanan yang efektif di Front Barat. (Sumber: https://www.britannica.com/)
Lt. Weedon E. Osborne, atas keberaniannya dalam Pertempuran di Belleau Woods, ia dianugerahi Medali Medal Of Honor secara anumerta. (Sumber: https://www.history.navy.mil/)
Foto calon Komandan Korps Marinir Clifton B. Cates dalam Perang Dunia I. Informasi di foto itu berbunyi: “Diambil di Verdun April 1918”. (Sumber: https://www.flickr.com/)

Robertson dan Letnan Dua Clifton B. Cates, calon komandan Korps Marinir, mengumpulkan sisa-sisa unitnya dan menyerang kota kecil itu. Saat dia mendekat dalam jarak beberapa ratus yard dari dusun itu, sebutir peluru mengenai helm Cates, membuatnya pingsan. Seorang NCO senior mengambil sebotol sampanye dari tasnya dan menuangkannya ke Cates. Upaya itu menghasilkan efek yang diinginkan, dan dalam beberapa menit Cates bangkit dan kembali memimpin serangan ke Bouresches. Sekelompok kecil leatherneck mengalir ke dalam kota dan bertempur melawan tentara Jerman dalam pertempuran dari rumah ke rumah, mengusir mereka dari posisi mereka. Tembakan senapan dan pistol yang akurat berhasil membersihkan desa, kecuali stasiun kereta api. Letnan William Moore, Sersan. Mayor John Quick, dan 10 sukarelawan lainnya membawa sebuah truk dan pergi ke Lucy-le-Bocage untuk mendapatkan perbekalan. Mereka kembali dan dengan melewati berbagai rintangan kembali ke Bouresches, menghindari tembakan musuh di sepanjang jalan. Bala bantuan akhirnya berhasil datang juga, tetapi pertempuran di dalam dan sekitar desa akan berlanjut secara sporadis selama berminggu-minggu. Kontingen kecil Marinir itu tidak akan digantikan sampai tanggal 13 Juni, ketika pasukan Angkatan Darat AS akhirnya berhasil menerobos kesana. Ketika matahari terbenam pada tanggal 6 Juni, Marinir telah mengalami hari terburuk pertempuran mereka sejak awal berdirinya satuan itu pada tahun 1775. Secara keseluruhan, mereka telah menelan hampir 1.100 korban. Meskipun demikian, mereka telah mengamankan sisi sayap pasukan sekutu dan merebut Bouresches. Yang masih tersisa hanyalah merebut hutan itu sendiri — bukan tugas yang mudah, dan akan berlanjut selama berminggu-minggu setelahnya. Holcomb selanjutnya menulis kepada istrinya, tentang kondisi di Bouresches pada tanggal 9 Juni. “Aku masih hidup dan sehat. Aku bahkan tidak melepas sepatuku selama 10 hari, kecuali sekali selama sepuluh menit. Beberapa hari aku tidak memiliki makanan dan satu-satunya waktu tidurku telah direnggut selama masa-masa ini, “tulis Holcomb. “Seluruh brigade melakukan pertempuran yang luar biasa. Aksi kami telah disinggung dua kali oleh otoritas Prancis. “

MEMBERSIHKAN UJUNG SELATAN

Serangan lain terhadap hutan yang ditakuti telah direncanakan, yang masih menjadi kontroversi adalah ketika Mayor Frederick M. Wise, Jr., yang memimpin Batalyon ke-2, Marinir ke-5, mengklaim bahwa dia telah menerima izin dari Harbord untuk memulai serangan tanpa campur tangan markas brigade dalam perencanaannya. Kecuali memoar Wise, berjudul “A Marine Tells It to You”, yang ia tulis bersama Meigs O. Frost, tidak ada catatan yang menunjukkan bahwa perintah semacam itu diberikan oleh Harbord ke Wise dalam memoarnya, Wise menggambarkan percakapan yang dia klaim pernah dia lakukan dengan Harbord adalah: “Wise, Marinir Keenam telah melakukan dua serangan di Bois de Belleau,” kata Harbord. “Yang pertama telah gagal. Yang kedua hanya membuat kemajuan kecil di tepi selatan hutan. Kini giliranmu, untuk kesana. Kamu tahu kondisinya. Terserah kamu untuk membersihkannya. Silakan buat rencanamu sendiri dan lakukan pekerjaan itu. ” Apakah Harbord benar-benar mengatakan ini kepada Wise masih diperdebatkan di antara para sejarawan hingga hari ini. Terlepas dari itu, Wise kemudian mulai merumuskan serangan dan berencana membuat anak buahnya “memukul mereka (pasukan Jerman) di tempat yang tidak mereka duga.” Wise memilih untuk menembus garis belakang pasukan Jerman dan mengganggu jalur suplai mereka di bagian utara hutan. Perintah lapangan yang diterima dari markas brigade pada malam hari sepenuhnya bertentangan dengan rencana Wise dan mengarahkan batalionnya untuk menyerang musuh di sektor selatan hutan. “Saya tahu bahwa selembar kertas itu berarti kematian yang tidak perlu bagi sebagian besar batalion saya,” kata Wise. 

Pasukan Marinir menyerbu ke Belleau Woods. (Sumber: https://id.pinterest.com/)

Benar atau salah hal itu hanya membuat sedikit perbedaan bagi para marinir yang mendaki ke puncak pada pagi hari tanggal 11 Juni. Kabut tebal, ditambah dengan kegelapan dini hari, membantu menyembunyikan gerakan mereka untuk sementara waktu, tetapi segera para penembak Jerman memusatkan perhatian pada leatherneck yang mulai mendekat. Senjata otomatis menyapu gelombang marinir yang menyerang, dan erangan yang menyayat dari orang-orang yang sekarat memenuhi udara. “Kami bergerak maju dengan lambat, menjaga garis penyerangan agar tetap sempurna,” kenang Letnan Satu Samuel C. Cumming, seorang pemimpin peleton yang tergabung pada Kompi ke-51. “Orang-orang dijatuhkan seperti gandum. Sebuah ‘whiz-bang’ (peluru artileri high-explosive) menghantam sisi kanan saya, dan tim senapan otomatis yang ada di sana beberapa saat yang lalu menghilang, sementara orang-orang di kanan dan kiri tidak memiliki tangan, tanpa kaki, atau wajahnya robek. ”Meskipun kompi-kompi itu dibantai oleh tembakan senapan mesin Maxim, para prajurit infanteri marinir terus bergerak maju. Wise secara tidak sengaja mengirim pesan ke Harbord bahwa hutan itu telah direbut. Letnan William R. Matthews, perwira intelijen batalion, tidak setuju dan melakukan pengintaian pribadi ke daerah itu, dengan menghindari peluru dan artileri musuh dalam prosesnya. Dia melapor kepada Wise dan memberitahunya bahwa sayap kirinya seluruhnya masih ditangan musuh. Menolak informasi yang tidak diinginkan ini pada awalnya, Wise segera menyadari bahwa petanya, yang disediakan oleh Prancis, tidak akurat dan bahwa Matthews benar. Namun demikian, di penghujung hari, Batalyon ke-1, Marinir ke-6 telah membersihkan tepi selatan hutan, sedangkan Batalyon ke-2, Marinir ke-5 telah mengamankan pijakan di bagian utara. Pada saat yang sama, moral Jerman yang sampai sekarang tidak tergoyahkan mulai hancur. Seorang tentara Jerman kemudian menulis, “Kami mengalami hari-hari yang sangat berat dengan kematian di hadapan kami setiap jam. Di sini kami tidak punya harapan untuk bisa keluar. ” 

200 AMBULANS 

Hancur moralnya atau tidak, tentara Jerman tidak menyerah. Pada tanggal 14 Juni, mereka melepaskan gas mustard, bersama dengan rentetan tembakan artileri, ke posisi Marinir, dan mendapati banyak orang yang tidak siap. Korban besar pun berjatuhan. Batalyon ke-2, Marinir ke-6 terperangkap di tempat terbuka berusaha membebaskan anak buah Wise di dalam hutan. Satu kompi hanya memiliki selusin marinir yang tersisa — sisanya tewas, terluka, atau terkena gas. Dua hari kemudian, pasukan baru dari Divisi AS ke-7 menggantikan pasukan Marinir yang kelelahan dan berangkat untuk merebut sisa Belleau Wood. Sayangnya, para doughboy (sebutan tentara Amerika di Prancis) mengalami perlawanan keras kepala yang sama dengan yang dialami oleh leatherneck selama dua minggu terakhir. Pada tanggal 20 Juni, unsur-unsur dari Batalyon ke-1, Infanteri ke-7, dipukul mundur saat mereka mencoba untuk membersihkan posisi senapan mesin Jerman. Batalyon tersebut menderita 63 orang tewas, terluka atau hilang dalam usahanya yang gagal. Lewat pesan yang tegas, Harbord memerintahkan kepada komandan batalion, Letnan Kolonel John P. Adams, untuk merebut tempat itu, dan para marinir menyerang keesokan paginya. 

Marinir yang terluka mendapat perawatan. Pertempuran Belleau Woods tercatat sebagai pertempuran paling berdarah bagi marinir Amerika hingga saat itu. (Sumber: http://www.edwardlengel.com/)

Serangan kedua pasukan Amerika ini sangat tidak terorganisir dan segera gagal. Muak dengan kinerja unit yang tidak bersemangat, Harbord mengirim Batalyon ke-3, Marinir ke-5 pimpinan Mayor Maurice Shearer, sebagai penggantinya. (Harbord mungkin agak keras pada prajurit-prajurit itu, karena banyak dari mereka baru berada di Angkatan Darat kurang dari enam bulan, dan sebagian besar tidak memiliki pengalaman tempur.) Saat unit Marinir kembali ke posisi mereka, Harbord merencanakan serangan lain untuk membersihkan hutan yang dikuasai musuh. Pada pukul 7 malam tanggal 23 Juni, keempat kompi dari Batalyon ke-3, Marinir ke-5 menyerbu hutan dan segera bertemu dengan senapan-senapan Maxim Jerman yang kini sudah mereka kenal. Suara mengerikan dari senjata otomatis dan granat yang meledak serta teriakan orang-orang yang terluka memenuhi hutan yang tadinya tenang. Serangan itu akhirnya terhenti, dan para marinir Amerika bersiap-siap untuk membuat pertahanan malam itu. Ada begitu banyak korban sehingga membutuhkan lebih dari 200 ambulans untuk mengangkut mereka ke rumah sakit lapangan di garis belakang. Karena sangat ingin menyingkirkan pasukan Jerman dari area itu, Harbord bertemu dengan stafnya “untuk membuat serangan berikutnya yang diperlukan terhadap Belleau Wood.” Mereka memutuskan untuk melakukan serangan artileri dengan “intensitas maksimum”, yang dimulai pada pukul 3 pagi dan berlangsung hingga pukul 5 pagi, yang akan diikuti serangan oleh Batalyon ke-3, Marinir ke-5.

“ITU ADALAH PEKERJAAN BERDARAH DAN TIDAK MENYENANGKAN” 

Seperti sebelumnya, para leathernecks, dengan firasat mereka, masuk ke dalam hutan untuk bertempur dengan sekuat tenaga. Posisi-posisi senapan mesin musuh dihancurkan. Dalam sepucuk surat kepada surat kabar di kampung halamannya, Adirondack Enterprise, setelah pertempuran usai, Letnan Satu HR Long dari Batalyon Senapan Mesin ke-6 menceritakan pengalamannya selama pertempuran: “Hutan sangat lebat dan penuh bebatuan dengan celah besar, dan gua. Orang Jerman seperti juga senapan-senapan Maxim ada di mana-mana dan di bawah bebatuan, di tempat-tempat di mana kami tidak bisa meledakkan mereka dengan artileri kami. Banyak sarang senapan mesin selamat dari hujan bahan peledak tingkat tinggi dan pecahan peluru artileri, tapi hutan itu sendiri hancur. Itu adalah pekerjaan yang berdarah dan tidak menyenangkan. Marinir membuang nyawa mereka — mereka tidak bisa mundur. ” Saat momentum serangan Marinir meningkat, terbukti bahwa perlawanan Jerman dengan cepat runtuh. Menyadari hal ini, Shearer mengeluarkan pesan yang berbunyi: “Kami telah merebut hampir seluruh hutan tetapi membutuhkan bantuan untuk membersihkan dan mempertahankannya. Apakah kita bisa mendapatkannya? ” 

Pasukan Marinir Amerika kerap harus melakukan pertempuran jarak dekat dalam menaklukkan posisi-posisi Jerman. (Sumber: https://www.pinterest.es/)
Di Belleau Woods, marinir Amerika tidak hanya menghadapi banyak sarang senapan mesin tapi juga serangan gas Jerman. (Sumber: https://paintingvalley.com/)

Shearer mendapatkan yang dimintanya, dan Batalyon ke-3, Marinir ke-6 bergeser ke utara untuk bergabung dengan batalionnya dan mencegah serangan balik Jerman pada malam hari. Sebuah peleton dari Batalyon ke-2, Marinir ke-5 juga menopang pertahanan Shearer di dekat Kompi ke-16 yang nyaris habis. Sepanjang malam ada pertempuran-pertempuran yang terisolasi, tetapi pertahanan musuh utama telah dipatahkan. Ratusan orang Jerman, yang merasa bahwa ajalnya sudah dekat, melemparkan senjata mereka dan membiarkan diri ditawan oleh Marinir. Pada pagi hari tanggal 26 Juni, setelah memukul mundur beberapa serangan Jerman yang dilakukan setengah hati ke posisi mereka, para Marinir akhirnya mendesak mereka keluar dari daerah tersebut. Selama hampir sebulan, leathernecks telah melawan musuh yang gigih dan akhirnya menang. Shearer meneruskan pesan yang telah lama ditunggu-tunggu dan sudah lama ingin didengar Harbord: “(Belleau) Woods sekarang seluruhnya ada di tangan Korps Marinir AS.” Biaya untuk merebut Belleau Woods sangat mengerikan. Mereka yang meninggal, terluka, dan hilang berjumlah 9.777; dari jumlah itu, Marinir menderita 4.298 korban jiwa, hampir 55% dari total kekuatan mereka. Batalyon ke-2 Thomas Holcomb saja menderita korban yang mengejutkan sebanyak 764 personel dari 900 marinir. Pada penghujung hari pertama, Marinir telah menderita 1.087 korban tewas atau terluka, lebih banyak korban daripada yang telah dialami Korps sejauh itu dalam 143 tahun sejarahnya sejak Korps itu berdiri. Tidak ada penghitungan akurat mengenai jumlah kematian di pihak Jerman yang pernah pernah dibuat — tidak diragukan jumlahnya jauh lebih tinggi — tetapi sekitar 1.600 orang Jerman ditawan. 

ANJING SETAN

Pada tingkat strategis, sulit untuk dikatakan bahwa jatuhnya Paris akan secara otomatis menyebabkan keruntuhan Sekutu. Pada bulan Juni 1918, Angkatan Laut Kerajaan Inggris telah memberlakukan blokade selama hampir empat tahun di Jerman yang tidak akan begitu saja bisa dihentikan, meski Paris jatuh ke tangan Jerman. Warga sipil Jerman saat itu mulai kelaparan, dan jalur suplai bagi tentaranya hampir habis — fakta bahwa meski Prancis bisa menyerah pun tidak akan banyak mengubah keadaan. Dan selama pasukan Jerman masih bertahan di pantai Belgia, Inggris tidak akan berhenti berperang, dengan atau tanpa keikutsertaan Prancis. Seperti yang ditunjukkan oleh ahli strategi militer Amerika Alfred Thayer Mahan dalam bukunya pada tahun 1890, “The Influence of Sea Power Upon History”, pantai Belgia, yang mendominasi titik tersempit Selat Inggris, adalah satu bagian dari medan Kontinental Eropa yang kerap dilalui Inggris saat berperang berkali-kali di daratan Eropa. Seandainya Prancis jatuh pada tahun 1918, pasukan Amerika yang datang akan dialihkan ke Inggris dan menggunakannya sebagai pangkalan untuk menyerang Benua Eropa, seperti yang mereka akan lakukan dalam Perang Dunia II. Mitos “menyelamatkan Paris” sebagian besar berasal dari fakta bahwa Belleau Wood terletak hanya 39 mil dari “Kota Cahaya” itu dan merupakan tempat terdekat yang dicapai Jerman dari ibu kota Prancis.

Poster perekrutan marinir Amerika. Faktanya pertempuran Belleau Woods bukanlah pertempuran yang menentukan dari sisi strategis. (Sumber: https://www.pbs.org/)

Rencana tipuan pra-serangan yang rumit yang dieksekusi Jerman tentu saja dimaksudkan untuk membuat Sekutu percaya bahwa Paris adalah tujuannya, tetapi analisis yang cermat atas perintah operasi, buku harian perang, dan lalu lintas pesan Jerman — ditambah medan dan realitas operasional dan taktis di wilayah tersebut — dengan jelas menunjukkan tiga hal: Pertama, Paris bukanlah tujuan Jerman baik di bulan Mei, Juni, atau Juli 1918. Kedua, bahkan jika Jerman bermaksud merebut Paris, mereka jelas kekurangan logistik dan mobilitas untuk melakukannya. Dan ketiga, Marinir tidak menghentikan tentara Jerman untuk melaksanakan ofensif ke mana pun, faktanya Jerman sendiri telah menghentikan Operasi Blücher sehari sebelum pertempuran Belleau Wood dimulai. Pada tahun 1918, tentara Jerman memiliki dua jenis divisi standar, dan perbedaan di antara keduanya sangat penting untuk memahami pertempuran di Belleau Wood. Divisi “Penyerang” terdiri dari unit Stormtrooper yang sangat terlatih yang diperlengkapi untuk mobilitas ofensif maksimum. Sementara itu Divisi “Parit” dilatih, diperlengkapi, dan diorganisir untuk menahan dan mempertahankan sektor di garis pertahanan. Mereka tidak dilatih dalam operasi ofensif atau diperlengkapi untuk memiliki mobilitas tinggi. Kecuali diperkuat secara signifikan, divisi “parit” selama serangan besar hanya bisa tinggal di belakang divisi “penyerang”, dan baru siap untuk maju dan menempati wilayah terdepan yang berhasil dikuasai setelah momentum ofensif berhenti. Divisi ke-237 Jerman yang menghadapi pasukan Angkatan Darat dan Marinir AS di Belleau Wood adalah divisi “parit”. Pada tahun 1918, intelijen Sekutu menilai Divisi ke-237 sebagai divisi kelas empat dengan kekuatan kurang dari 10.000 tentara.

Pasukan Jerman di Parit Pertahanan Front Barat. Meski pasukan Jerman yang dihadapi marinir Amerika bukanlah pasukan penyerang, namun pasukan Jerman juga dikenal kemampuan bertahannya. (Sumber: https://id.pinterest.com/)

Namun Belleau Wood bukanlah pertempuran yang tidak penting atau tidak berguna. Meskipun Divisi ke-237 Jerman bukanlah pasukan penyerang elit, mereka telah menjalankan peran sesuai rencana, dilatih, dan diperlengkapi dengan baik. Meskipun Jerman telah membangun reputasi sebagai ahli dalam melakukan serangan, mereka juga membuktikan diri sebagai prajurit pertahanan yang paling terencana dan ulet dalam sejarah peperangan. Kebijaksanaan taktis konvensional menentukan minimal pihak penyerang harus memiliki keunggulan tiga lawan satu dalam menyerang posisi yang dipertahankan dengan baik. Bagaimanapun di Belleau Woods Marinir tidak memiliki keunggulan rasio seperti itu, dan dukungan tembakan yang mereka dapatkan tidak memadai bahkan kerap merugikan mereka sendiri. Marinir juga belum memiliki pengalaman tempur di Front Barat saat itu, sementara Divisi ke-237 telah bertempur hampir terus menerus sejak bulan Maret 1917. Dengan perhitungan taktis, pasukan Marinir seharusnya bisa dihancurkan pasukan Jerman; tapi nyatanya tidak. Setelah mengatasi rintangan yang luar biasa mereka tetap bertahan dan bisa menang, yang pada gilirannya menarik perhatian Staf Umum Jerman. Jerman telah berasumsi bahwa pasukan Amerika yang masih hijau akan membutuhkan pengalaman berbulan-bulan sebelum mereka memiliki efektivitas tempur yang dibutuhkan. Tetapi dalam pertempuran besar kedua yang dijalani tentara AS dalam Perang Dunia I, Brigade Marinir ke-5 telah membuktikan bahwa pasukan Amerika mampu belajar bertempur jauh lebih cepat daripada yang diasumsikan pihak Jerman. Pertempuran Belleau Woods juga meyakinkan bahkan para perwira Staf Umum Jerman yang paling optimis bahwa kesempatan Jerman untuk mengakhiri perang dengan cepat dengan hasil yang menguntungkan mereka mulai menipis.

Meski bukan pertempuran menentukan, namun Pertempuran Belleau Woods mampu menunjukkan bahwa Marinir Amerika dapat Bertempur dan Menang melawan Pasukan Jerman. (Sumber: https://id.pinterest.com/)

Apapun itu, karena senang ibu kota mereka telah diselamatkan dari orang-orang Hun (sebutan lain dari bangsa Jerman) yang ganas, komando tinggi Prancis memuji para Marinir dengan berbagai pujian dan penghargaan. Anggota Brigade Marinir ke-5 juga dianugerahi medali Croix de Guerre dari Prancis. Belleau Wood sendiri diberi julukan Bois de la Brigade de Marine, atau “Wood of the Marine Brigade”. Istilah “Teufel Hunden”, yang dapat diterjemahkan sebagai “anjing setan,” konon diberikan kepada Marinir oleh pasukan Jerman yang mempertahankan hutan. Banyak sejarawan meragukan bahwa musuh benar-benar memberikan julukan itu kepada Marinir, tetapi, benar atau tidak, leatherneck dengan segera menyambarnya dan menggunakannya secara berlebihan dalam upaya meningkatkan citra mereka di masyarakat dan untuk menarik lebih banyak anggota baru. Komandan Pasukan Ekspedisi Amerika, Jenderal John J. Pershing, berkomentar setelah pertempuran bahwa “Senjata paling mematikan di dunia adalah seorang Marinir Amerika Serikat dan senapannya.” Lima tahun kemudian, sebuah monumen didedikasikan untuk para korban yang tewas di lokasi pertempuran. Jenderal Harbord berbicara di acara tersebut. “Mulai hari ini dan seterusnya, seorang veteran akan datang ke sini untuk mengenang hari-hari yang penuh keberanian di bulan Juni,” katanya. “Di sini akan didirikan altar patriotisme; di sini akan diperbarui sumpah pengorbanan kepada negara. Orang-orang sebangsa kita akan menghadapi saat-saat penuh depresi, dan bahkan kegagalan, dan pada akhirnya akan mengambil keberanian baru dari tempat ini dimana perbuatan dan keberanian besar telah ditunjukkan. “

Poster perekrutan karya Charles B. Falls yang menggunakan julukan “Teufel Hunden” (Anjing Setan). (Sumber: https://id.pinterest.com/)
Belleau Wood sendiri diberi julukan Bois de la Brigade de Marine oleh pihak Prancis. (Sumber: https://www.thoughtco.com/)

Holcomb sendiri terus naik pangkat sampai diangkat menjadi komandan ketujuh belas Korps Marinir pada bulan Desember 1936. Dia memimpin Korps melalui tahun-tahun terakhir masa Depresi Besar, mengatur mobilisasi, dan memimpin dua tahun pertama Korps dalam Perang Pasifik. Saat itu, personel Korps telah berkembang dari 17.000 marinir pada tahun 1936 menjadi 385.000 pada saat Holcomb pensiun di bulan Desember 1943. Beberapa pemimpin senior Korps Marinir juga melihat bertempur di Belleau Wood, termasuk komandan masa depan mereka seperti John Lejeune, Clifton Cates, Lemuel Shepherd Jr., Wendell Neville, dan tentunya Thomas Holcomb sendiri, serta marinir yang kemudian mencapai pangkat tinggi seperti Roy Geiger, Charles Harga, Holland Smith, Keller Rockey, dan Merwin Silverthorn. Dalam satu kasus yang luar biasa, Gerald Thomas berhasil naik pangkat dari sersan di Belleau Wood pada tahun 1918 menjadi letnan jenderal dan asisten komandan Korps Marinir dari tahun 1952 hingga 1954. Kelompok Marinir ini lalu menjadi sekelompok veteran yang terkenal dengan sebutan sebagai “Old Breed” selama dekade setelah Perang Dunia I berakhir. Para perwira masa depan Marinir memperoleh banyak pelajaran penting dari bertugas di Prancis, dengan demikian mereka mengakui bahwa Korps Marinir membutuhkan pelatihan yang efektif dalam hal penggelaran senjata dan taktik yang tepat, doktrin yang relevan untuk senjata dan taktik tersebut, bagaimana mereka harus merencanakan peran operasional untuk Korps Marinir dalam konflik di masa depan, juga dalam hal pendidikan militer perwira Marinir dalam seni perang, struktur pasukan yang sesuai untuk melakukan misi tertentu, dan reorganisasi Korps Marinir AS dalam struktur yang mirip dengan Staf Umum Prancis dalam Perang Dunia I. Akibatnya, Belleau Wood tidak hanya dikenal sebagai salah satu pertempuran yang ikonik tetapi juga sebagai yang pertama dari beberapa laboratorium pembelajaran bagi para perwira Marinir Amerika yang akhirnya memimpin Korps mereka menuju kemenangan dalam Perang Dunia II.

Marinir Amerika dalam Perang Dunia II. Kesuksesan Marinir Amerika dalam menjadi pasukan penyerang yang agresif dalam Perang Dunia II, sedikit banyak dipengaruhi oleh pelajaran-pelajaran yang mereka ambil dalam Perang Dunia I. (Sumber: https://id.pinterest.com/)

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

Belleau Wood: Shrine of Great Deeds By Al Hemingway

The U.S. Marines’ Mythic Fight at Belleau Wood By David T. Zabecki 

World War I: Battle of Belleau Wood By Kennedy Hickman; Updated February 10, 2019

https://www.thoughtco.com/battle-of-belleau-wood-2361393

THE IMPORTANCE OF THE BATTLE OF BELLEAU WOOD BY DAVID JOHN ULBRICH; JUNE 4, 2018

The U.S. Marine Corps: An Illustrated History By Merrill L. Bartlett & Jack Sweetman; p 133-132; 2001

Semper Fi: The Definitive Illustrated History of the U.S. Marines by H. Avery Chenoweth and Brooke Nihart; p 122, p 128-130; 2005

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *