Pertempuran Guningtou 25-27 Oktober 1949: Gagalnya invasi RRC yang menyelamatkan Taiwan

Pada Oktober 1949, pemerintah Republik Tiongkok (China Nasionalis) menghadapi krisis terbesar dalam sejarahnya. Setelah empat tahun perang saudara yang berdarah, pasukan Nasionalis yang dipimpin oleh Generalissimo Chiang Kai-shek sekarang dalam gerak mundur total, ketika pasukan Komunis di bawah Mao Zedong menyapu wilayah selatan tanpa bisa ditahan lagi. Pada saat Mao mendeklarasikan Republik Rakyat Tiongkok (China Komunis) di Beijing pada 1 Oktober 1949, tentara Komunis telah menaklukkan sebagian besar wilayah Cina, termasuk semua kota besar. Hanya masalah waktu saja sebelum mereka menyerbu kantong-kantong Nasionalis terakhir yang tersisa di sudut barat laut dan tenggara China daratan. Untuk memastikan kelangsungan rezimnya, Chiang Kai-shek menarik pasukannya ke pulau Taiwan, mempersiapkannya sebagai benteng pertahanan terakhir. Pihak Nasionalis juga membentengi beberapa kelompok pulau strategis di lepas pantai tenggara Cina, termasuk pulau Hainan, Zhoushan, Matsu dan Kinmen, yang lebih dikenal di Barat sebagai Quemoy. Kepulauan Kinmen, sebuah kelompok kepulauan, yang termasuk dua pulau kecil dan 13 pulau yang lebih kecil, terletak sekitar enam mil di lepas pantai Cina daratan, tepat di seberang kota pelabuhan Xiamen (juga dikenal sebagai Amoy), yang merupakan pintu masuk ke Teluk Xiamen. Yang terbesar dari dua pulau itu, disebut sebagai Greater Kinmen atau Kinmen saja, sebuah daratan berbentuk seluas sekitar 100 mil persegi, yang adalah rumah bagi sekitar 30.000 orang pada tahun 1949. Bagian timur pulau bergunung-gunung, sedangkan bagian barat adalah umumnya datar dan dikelilingi oleh bermil-mil pantai yang cocok untuk pendaratan amfibi.

Pada bulan Oktober 1949, pasukan komunis China (PLA) telah mendesak ke arah selatan dan mengusir tentara Nasionalis China ke Kepulauan Taiwan/Formosa. (Sumber: https://upload.wikimedia.org/)

“GERBANG EMAS”

Dalam bahasa Cina, “Kinmen” berarti “Gerbang Emas,” sebuah nama yang sesuai untuk gugusan pulau-pulau itu. Xiamen adalah pelabuhan utama yang terdekat ke Taiwan, tetapi Kinmen adalah kunci di wilayah tersebut, sebagai pintu gerbang ke Teluk Xiamen dan akhirnya ke Taiwan sendiri, sekitar 100 mil jauhnya. Selama kaum Nasionalis mampu mempertahankan Kinmen, mereka dapat menutup akses pelabuhan dan menangkal penggunaannya oleh pihak Komunis dalam setiap upaya invasi ke Taiwan. Jika kaum Nasionalis kehilangan Kinmen, Taiwan tidak hanya akan segera terancam, tetapi stabilitas politik rezim yang sedang mengalami demoralisasi secara keseluruhan (setelah kekalahan di China daratan) akan ikut terancam. Pada awal Oktober 1949, pertahanan pihak Nasionalis di wilayah Xiamen ada di bawah Komando Pasifikasi Fuzhou. Kedua pasukannya dipimpin oleh Jenderal T’ang En-po, seorang veteran perang melawan Jepang dan Komunis. Tentara ke-8, di bawah pimpinan Letnan Jenderal Liu Ju-ming yang loyal tetapi kemampuannya mediocre, bertugas mempertahankan Zhangzhou dan Pulau Xiamen dengan enam divisi tentara yang berjumlah sekitar 30.000 orang. Sementara itu Tentara ke-22, yang dipimpin oleh Letnan Jenderal Li Liang-jung yang lebih cakap, menguasai pulau-pulau Kinmen, dengan 17.000 orang dari tiga divisi infanteri yang kurang kuat, ditambah unit-unit pendukung dan batalion tank ringan yang ditempatkan di pulau Greater Kinmen. 3.000 personel lainnya ditempatkan di Kinmen kecil.

Tentara China Nasionalis menaiki kapal mundur ke Taiwan, 1949. (Sumber: http://www.taipeitimes.com/)

Ketika tentara Komunis maju tanpa henti melalui Fujian dan mendekati Xiamen, Chiang Kai-shek memerintahkan pulau-pulau pesisir diperkuat dengan mengorbankan wilayah daratan yang tersisa. Tentara Nasionalis ke-12 yang dibangun kembali, di bawah Letnan Jenderal Hu Lien, diarahkan untuk memindahkan markas besarnya dan dua dari tiga korpsnya, yang berjumlah 40.000 orang, dari wilayah Chaozhou-Shantou provinsi Guangdong ke Kepulauan Kinmen. Korps XVIII, di bawah Mayor Jenderal Kao K’uei-yuan, mencapai Kinmen dengan tiga divisi pada tanggal 9 Oktober. Beberapa hari kemudian, Korps ke-19 di bawah Mayor Jenderal Liu Yun-han mengikuti, tiba dari Kinmen pada tanggal 23 Oktober untuk mulai menurunkan pasukannya di pantai paling selatan. Sementara itu Angkatan Udara Cina Nasionalis berpatroli di garis pantai tenggara daratan, siap menenggelamkan kapal atau kapal sipil apa pun yang dapat digunakan untuk operasi amfibi.

“MENCUCI TAIWAN DENGAN DARAH”

Selama musim panas dan musim gugur 1949, Tentara Lapangan ke-3 Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok (PLA)/Tentara Merah Komunis China menyapu wilayah selatan dari Sungai Yangzi melalui provinsi-provinsi di kawasan pesisir. Memimpin gerak maju ke Fujian adalah Tentara ke-10 PLA, yang terdiri dari Korps XXIX dan XXXI, dengan sembilan divisi berjumlah 158.000 pasukan yang berpengalaman tempur di bawah komandan, Jenderal Ye Fei. Pada pertengahan Oktober, Angkatan Darat ke-10 telah merebut sebagian besar kota-kota besar di Fujian dan siap untuk merebut Xiamen dan pulau-pulau di teluk sebagai langkah pertama menuju tahapan “mencuci Taiwan dengan darah,” sebuah retorika Komunis di waktu itu yang memberi peringatan akurat mengenai pulau itu jika sampai jatuh ke tangan komunis. Karena medan di mana ia akan beroperasi, Angkatan Darat ke-10 menjadi satuan PLA yang ditunjuk untuk menjadi ahli dalam perang amfibi. Karena tidak punya pengalaman di bidang itu, bawahan Ye Fei harus menyesuaikan teknik yang dipraktikkan dengan baik untuk menyeberangi sungai dan hambatan air lainnya dan menerapkannya pada rencana perebutan pulau di lepas pantai. Karena PLA masih didominasi pasukan infanteri ringan dengan sedikit aset angkatan laut atau udara, militer Komunis terpaksa berimprovisasi. Operasi mereka akan menggunakan sejumlah kapal sipil setempat dan kapal penangkap ikan tipe apapun yang bisa mereka pakai.

Unit Tentara Lapangan ke-3 Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok (PLA) melatih pendaratan amfibi di sepanjang pantai Cina tenggara sebelum invasi Kinmen dengan kapal-kapal nelayan sederhana. (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/)

Tentara ke-10 Ye Fei memulai kampanye militer di wilayah pesisir pada pertengahan September dengan berhasil merebut Pulau Pingtan di lepas pantai dekat Fuzhou. Lima resimen menyeberangi teluk dengan ratusan kapal nelayan dan menyerang pulau itu dalam menghadapi ancaman topan yang akan datang. Mereka berhasil menaklukkan pasukan Nasionalis yang terdiri atas 7.000 personel dengan relatif mudah. Terlepas dari keterbatasan dan kerentanan dari moda transportasi primitif yang mereka gunakan dan ditambah ancaman cuaca lokal dan kondisi laut yang tidak bersahabat, tentara Komunis terus menang karena perlawanan Nasionalis yang secara konsisten tidak efektif. Pada 15 Oktober, Korps Ye Fei ke-XXIX dan XXXI mengambil Zhangzhou dan menyerang pulau Xiamen yang dipertahankan dengan kuat. Dua hari kemudian pulau dan pelabuhan vitalnya jatuh setelah pertempuran singkat tapi berat. Dari Tentara Nasionalis ke-8 yang bertahan, hanya komandannya dan 4.000 pasukan yang berhasil melarikan diri. Ketika pulau-pulau kecil dekat Dadeng dan Xiaodeng juga diambil, Ye Fei dan bawahannya yakin bahwa Kepulauan Kinmen akan jatuh dengan mudah.

PENDARATAN AMFIBI YANG BERESIKO

Perwira yang ditugaskan misi mengambil Kinmen, Wakil Komandan Korps XXVIII Xiao Feng, tidak begitu optimis. Korps-nya telah menemui kesulitan besar dalam menemukan cukup kapal penangkap ikan dan kru lokal untuk membentuk armada transportasi darurat, yang akhirnya berjumlah 320 sebagian besar kapal layar kayu dari berbagai ukuran. Dalam rencana akhir, tiga resimen dengan hampir 9.000 tentara akan menyeberang Teluk Xiamen di malam hari dan mendarat di pantai antara Guningtou dan Lungkou. Kekuatan dari gelombang pertama akan merebut dataran tinggi pesisir dan membentuk tempat berpijak yang dapat dipertahankan sebelum maju ke arah selatan. Sementara itu, diharapkan akan ada cukup banyak kapal pengangkut yang selamat (dari kerusakan pertempuran) untuk kembali dan mengambil pasukan tambahan dari Korps ke-XXVIII dan XXIX dalam gelombang berikutnya. 85 meriam artileri Angkatan Darat ke-10 yang tersedia, termasuk howitzer kaliber 75mm dan 105mm, akan memberikan dukungan tembakan. Bagaimanapun itu adalah rencana yang sangat berisiko. Setelah banyak keterlambatan dan beberapa penundaan, serangan amfibi akhirnya dijadwalkan untuk dilakukan pada malam tanggal 24 Oktober.

Untuk mendukung Operasi Pendaratan di Kinmen, satuan artileri PLA akan memberi dukungan tembakan lewat howitzer kaliber 75 dan 105 mm. Tidak sedikit dari meriam-meriam ini merupakan rampasan dari tentara nasionalis selama perang saudara. (Sumber: http://www.commonprogram.science/)

Dalam kampanye-kampanye Perang Sipil Cina sebelumnya, kaum Komunis sering menang sebagian besar karena informasi luas yang mereka peroleh melalui jaringan mata-mata dan simpatisan yang rumit di jajaran pihak Nasionalis. Namun dalam kasus ini, jaringan semacam itu bisa mereka kembangkan di Kinmen, memaksa komandan PLA untuk mengandalkan informasi dari transmisi radio musuh yang berhasil disadap. Meskipun mereka sadar bahwa Tentara ke-12 Nasionalis pimpinan Hu Lien mungkin telah dikirim ke Kinmen, pihak Komunis hanya bisa menduga-duga tentang keberadaannya saat ini, dengan mengabaikan tanda-tanda bahwa beberapa unit Tentara ke-12 sudah ada di pulau itu. Bertekad untuk memenangkan perlombaan melawan waktu serta meremehkan kekuatan musuhnya, Ye Fei mendesak bawahannya untuk mempercepat persiapan dan menyerang sesegera mungkin. Selama ini Pasukannya secara konsisten telah mengalahkan pasukan Nasionalis yang jumlahnya lebih besar, dan dia hanya punya sedikit alasan untuk percaya bahwa kali ini akan berbeda. Tetapi dalam kasus ini pihak Komunis benar-benar meremehkan musuh mereka.

Poster propaganda tentara PLA mengorbankan diri dengan memegang tas peledak. Sebuah gambaran ideal dari dari sosok PLA yang diharapkan mampu untuk menggulung tentara KMT yang lari terbirit-birit ke Taiwan. Sepanjang perang saudara memang PLA mayoritas mengungguli tentara KMT, namun dalam Pertempuran Guningtou, PLA salah perhitungan dengan meremehkan tekad dan kemampuan tempur tentara KMT. (Sumber: Pinterest)

Di Kinmen, tempat invasi yang paling mungkin terletak di sepanjang 10 mil dari pantai di pantai barat laut dari Guningtou di barat ke Lungkou di dekat pusat. Desa-desa ini dipertahankan oleh dua resimen infantri elit pimpinan Mayor Jenderal Cheng Kuo yang personelnya dibawah kekuatan normal, yakni Ch’ing-nian-chün ke-201, atau Divisi Youth Army. Sebagai cadangan di dekatnya ada Divisi ke 118 pimpinan Kolonel Li Shu-lan dari Tentara Darat ke-12 (Korps ke-XVIII) dan Batalion Tank ke-1 (Batalion 1, Resimen Tank ke-3) yang dikomandoi oleh Letnan Kolonel Ch’en Chen-wei, dengan 22 tank M5A1 Stuart, tank ringan buatan Amerika, diorganisasikan menjadi dua kompi tank. Hingga Oktober, pasukan ROC telah meletakkan 7.455 ranjau darat, dan membangun sekitar 200 bunker tanah di tepi pantai Kinmen. Sementara itu pihak Komunis memperkirakan hanya ada 12.000 pasukan Nasionalis di Kinmen, tetapi mereka ini adalah sisa-sisa kesatuan yang selamat dari kekalahan yang menghancurkan di Cina tengah, bersama dengan rekrutan baru dari desa-desa di Sichaun dan Taiwan — suatu hal yang “remeh” untuk ribuan veteran perang di pihak Mao. PLA kemudian mengumpulkan 19.000 pasukan di China daratan dan Pulau Dadeng untuk serangan itu. Pasukan ini termasuk tiga resimen dari Divisi Ke-42, dan tiga resimen lainnya yang terpisah dari Divisi ke-84, 85, dan 87. Resimen-resimen yang dilibatkan termasuk Resimen ke-244, 246, 251, dan 253. Pasukan ini siap berlayar ke pantai Longkou sekitar jam 18.00 malam. Pukul 23.00 pada tanggal 24 Oktober, tiga resimen PLA yang berangkat dari Sungai Lianhe, Daxu, dan Houcun mengarungi laut dengan kapal layar berkecepatan tinggi. Besarnya layar besar dengan karung-karung pasir di bagian depan telah mengambil setengah tempat yang bisa digunakan oleh setengah kompi pasukan.

AWAK TANK VETERAN DI KINMEN

Batalion Tank ke-1 Tentara Nasionalis Tiongkok asalnya dapat dirunut dari First Provisional Tank Group (Cina-Amerika), yang dibentuk di Ramgarh, India, pada tahun 1943. Selama 1944-1945, mereka telah memberikan dukungan lapis baja bagi pasukan gabungan Cina-Amerika yang maju melalui utara Burma membersihkan rute pasokan melalui Jalan Ledo ke Cina (Burma Road) yang legendaris. Setelah perang, personel Tiongkok dari Group Tank ini membentuk inti dari pasukan lapis baja Tentara Nasionalis, yang akhirnya diperluas menjadi tiga resimen tank dan dilengkapi dengan campuran kendaraan buatan Amerika, Jepang, dan kendaraan yang lebih tua untuk digunakan dalam perang sipil melawan Komunis Tiongkok. Tidak seperti kebanyakan pasukan Nasionalis lainnya yang bertahan, awak tank ini adalah prajurit veteran, yang selamat dari banyak kampanye militer dan terlatih dalam memberikan dukungan kepada pasukan infantri. Namun, sepanjang perang saudara, potensi tempur besar dari pasukan lapis baja telah disia-siakan oleh masalah kepemimpinan yang buruk dan masalah pasokan. Awak tank nasionalis jarang mampu memberikan pukulan signifikan terhadap pasukan Komunis, meskipun PLA kekurangan tank atau senjata antitank dalam jumlah yang signifikan. Pada Desember 1948, selama Kampanye Huai-Hai yang menentukan di mana kaum Nasionalis kehilangan lima satuan Army dan lebih dari setengah juta prajurit, para awak tank itu sebagian dikepung di dekat desa Shuangduiji di Provinsi Anhui. Mereka nyaris tidak berhasil melarikan diri dalam pelarian putus asa yang dipimpin oleh deputy Army commander saat itu Jenderal Hu Lien, tetapi akhirnya mereka berhasil lolos meski telah kehilangan semua kendaraan mereka selama proses pengunduran.

T-26 M1935, bersama dengan dua T-26 lainnya, dan dua M3A3 Stuarts selama persiapan gerak mundur KMT ke Formosa (Taiwan), di Shanghai, akhir 1949. Selama ini satuan lapis baja KMT tidak digunakan maksimal dalam bertempur melawan PLA karena lemahnya kepemimpinan dan kelangkaan pasokan suku cadang. (Sumber: https://tanks-encyclopedia.com/)

Orang-orang dari Batalion Tank ke-1 ditarik ke Taiwan untuk diperbaiki dan dilatih ulang. Mereka menghabiskan musim semi dan musim panas berikutnya untuk mengoperasikan tank pengganti sebelum mereka dipindahtugaskan ke Kinmen pada bulan September 1949 sebagai salah satu dari sedikit unit tank yang siap tempur dari Tentara Nasionalis. Sore hari tanggal 24 Oktober, mereka terlibat dalam latihan anti-invasi garnisun Nasionalis di Kinmen. Di antara para peserta adalah tiga tank dari Peleton Ke-1, Kompi Tank ke-3, yang dipimpin oleh Letnan Satu Yang Chan. Tepat sebelum senja, peleton itu akan kembali ke bivak kompi di Tingpao ketika tank milik Yang, No. 66, terjebak di sepetak pasir lembut di pantai utara Lungkou. Upaya berulang-ulang untuk membebaskan tank itu sia-sia. Yang kemudian memerintahkan salah satu tank Stuart lainnya untuk memasang kabel penarik dan menyeret tanknya keluar dari pasir, tetapi tank kedua merusak salah satu trek. Kru tank memperbaiki trek dan mengulangi proses tersebut beberapa kali, tetapi tank No. 66 masih tetap terjebak di pasir. Akhirnya, Yang menuju ke Tingpao untuk mendapatkan bantuan. Dia kembali ke lokasi perbaikan pada jam 3 pagi, membawa trek baru dan beberapa ransum sisa. Sementara para prajurit makan, mereka membahas bagaimana cara membebaskan tank yang terjebak itu.

SEMUA KENDARAAN SIAGA

Awak-awak tank itu masih berada di pantai, menikmati makanan ringan, tiba-tiba pantai diterangi oleh tiga sinyal suar yang menembus malam tanpa bulan ketika tiga ribu pasukan dari resimen infanteri PLA ke-244 mengerumuni pantai dengan kapal-kapal kayu sekitar pukul 04.00. Baterai artileri komunis di pantai seberang menembaki Kinmen, dan rentetan peluru jatuh di dekat peleton tank, menghamburkan pecahan peluru di udara. Setelah 10 menit penembakan, tembakan berhenti, dan awak-awak tank itu bisa mendengar suara berisik dari orang-orang yang mendarat. Di garis pantai di depan mereka, sekitar 3.000 pasukan musuh dari Resimen ke-244 PLA, Divisi ke-82, yang dipimpin oleh Komandan Resimen, Xing Yongsheng, mulai melompat keluar dari puluhan kapal kayu dan berjuang melalui ombak menuju pantai. “Semua kendaraan siaga!” Yang berteriak lewat radio. “Segera berkumpul di sekitar Tank Nomor 66 dan menghadap garis pantai, dalam formasi garis pleton-sejajar.” Setelah dua tank Stuart lainnya berbaris di sekelilingnya, ia memerintahkan seluruh peleton melepaskan tembakan. Awak-awak tank yang tertegun itu kemudian melepaskan tembakan dengan kanon tiga kanon 37mm tank-tank mereka dan sembilan senapan mesin. Perahu kayu terbakar ketika tank dan pasukan dari Youth Army di bunker terdekat melepaskan tembakan pertama dari pertempuran. Selama satu jam berikutnya mereka terus menembak dengan menggunakan senapan mesin, mortir dan artileri, menumbangkan puluhan pasukan Komunis yang menyerbu pantai dan melawan serangan musuh yang berulang-ulang dengan granat atau demolition charge. Bagian intelijen dari Angkatan Darat Kesepuluh PLA, yang kekurangan informan di pulau itu, telah salah perhitungan — ada tujuh belas ribu pasukan Nasionalis dari Tentara Ke-12 di Kinmen dan tiga ribu lainnya di Kinmen Kecil di dekatnya. Mereka telah menyiapkan di pantai-pantai di Kinmen barat laut dengan lebih dari tujuh ribu ranjau darat, dua ratus bunker dan ratusan rintangan pantai untuk melawan kapal pendarat. Sementara itu tank-tank Stuart pihak Nasionalis meski “cuma” dibekali kanon kecil kaliber 37mm yang tidak berguna jika digunakan melawan tank berat dengan lapis baja tebal, namun lebih dari cukup untuk melawan pasukan infanteri yang minim senjata anti tank, seperti penyerbu PLA di Kinmen ini. Pasukan pendaratan PLA, pada gilirannya, mendapat dukungan tembakan hanya dari delapan howitzer kaliber 75-dan 105-milimeter yang menembak melintasi perairan dari daratan China. Namun, karena baterai howitzer tidak dapat berkomunikasi dengan infanteri PLA, mereka dipaksa untuk berhenti menembak begitu pasukan PLA mendirikan pijakan di pantai.

Peta invasi tentara PLA ke Puilau Kinmen, 25 Oktober 1949. (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/)
Tank M5 Stuart KMT di medan tempur Burma tahun 1944. Tank ringan ini memang kurang cocok untuk digunakan melawan tank berat berlapis baja tebal, namun lebih dari cukup untuk melawan pasukan infanteri seperti tentara PLA yang mendarat di Kinmen 25 Oktober 1949. (Sumber: Reddit)

Dalam takdir yang aneh, kerusakan kendaraan dari satuan tank itu telah menempatkan peleton tank di tempat yang tepat untuk menghalangi pasukan penyerang PLA dari tujuannya utamanya: kota Qionglin di tengah pulau, posisi tinggi kunci dari Gunung Taiwu. Jika Komunis merebut daerah itu, mereka bisa memotong pertahanan pulau menjadi dua. Ketika pasukan pertahanan Kinmen bersiaga, Jenderal T’ang En-po memerintahkan rencana kontra-invasi diberlakukan. Pada gilirannya, komandan Angkatan Darat ke-22, Letjen Li Liang-jung, memerintahkan Ch’en untuk mengirim sisa Kompi Tank ke-3 pimpinan Kapten Chou Ming-ch’in untuk ikut menyerang, bahkan meski mereka harus meraba-raba jalan melalui kegelapan. Empat tank yang tersedia dari Kompi ke-3 Chou dan pasukan Divisi ke-118 Nasionalis berangkat pada malam hari, bertemu dengan pasukan PLA yang telah mencapai Bukit Guanyinting. Satu Stuart terkena tembakan cepat dari peluru bazooka PLA, merusak salah satu dari dua mesinnya. Tank yang pincang mampu berjalan kembali ke pangkalan. Dalam menghadapi perlawanan musuh yang keras, Chou memanggil Peleton ke-1 Yang Chan masuk ke medan pertempuran. Yang menurut dan memimpin dua Stuart yang masih bisa digerakkan dari peletonnya ke dalam serangan itu. Sementara itu, awak tank No. 66 yang tidak bisa digerakkan dan sekitar 200 pasukan Youth Army tetap bertahan, melawan tentara Komunis dalam pertempuran jarak dekat. Karena tank No. 66 menghadap kearah daratan membelakangi pantai, pengemudi, Tseng Shao-lin dan anggota kru lainnya melepas dan memasang senapan mesin lambung tank di tanggul pasir dan melawan pasukan PLA dalam tembak-menembak yang hebat. Selama pertempuran, hujan peluru menewaskan Tseng — korban pertama yang diderita oleh unit tank.

PASUKAN PLA TERJEBAK DI PANTAI

Lebih jauh ke barat, Resimen ke-251 PLA, dipimpin oleh Liu Tianxiang, dan Resimen ke-253, dipimpin oleh Xu Bo, telah mendarat di sektor antara Huwei dan Guningtou. Group transportasi PLA, tersebar akibat angin dan ombak, telah menderita kerugian besar selama perjalanan mereka melintasi teluk dan karena kapal-kapal angkut mereka tidak memiliki perangkat radio komunikasi, banyak dari kapal itu hilang pada malam hari dan mendarat ke arah barat. Namun demikian, mereka mampu menaklukkan posisi defensif garis depan dari Divisi Youth Army ke-201 dan mendesak ke dalam, mengambil kota Guningtou dan Linkou. Pasukan Komunis segera menggali pertahanan dalam-dalam, dan segera berada di bawah serangan tanpa henti oleh tank-tank dan infanteri Nasionalis. Di barat, pasukan PLA mencapai wilayah selatan sejauh Bukit 132 sebelum mereka dipukul kembali oleh bala bantuan tentara Nasionalis. Tiga kelompok penyerang resimen PLA dipaksa beroperasi secara independen. Tidak ada staf komando tingkat tinggi atau senior yang hadir untuk mengoordinasikan gerakan mereka. Kebingungan memerintah di wilayah pijakan pantai mengakibatkan unit-unit menjadi benar-benar berantakan. Yang utama, kaum Komunis gagal untuk secara akurat menentukan kondisi pasang surut lokal di sekitar perairan Kinmen. Untuk mencapai kejutan dan meminimalkan paparan tembakan musuh selama serangan itu, Xiao Feng telah menjadwalkan pendaratan saat air pasang. Beberapa jam kemudian air pasang surut dengan cepat sebelum PLA dapat mengatur kapal-kapal transport improvisasi mereka untuk menurunkan muatan. Beberapa pasukan PLA yang malang harus berenang lebih dari 650 yard ke pantai, di bawah tembakan gencar tentara Nasionalis.

Tentara PLA yang mendarat di Kinmen segera mendapat sambutan hangat dari pertahanan tentara KMT yang kuat, sementara kapal-kapal pendarat mereka terbakar oleh tembakan artileri dan tank dari unsur-unsur bantuan KMT. Sumber: Pinterest)

Pasukan ROC/Republic Of China lagi-lagi mendapatkan keberuntungan berikutnya saat kapten kapal LST-400 “Chung Lung”, sebuah kapal pendaratan tank dari Angkatan Laut Nasionalis, sedang terlibat dalam kegiatan penyelundupan minyak kacang tanah rahasia antara Kinmen dan Taiwan. Karena adanya keterlambatan dalam menerima pengiriman ilegal terbaru, Chung Lung berlabuh di dekatnya pada malam serangan. Didampingi oleh kapal Nasionalis kedua, mereka menemukan puluhan sampan PLA terjebak di pantai. 16 senjata anti pesawat kaliber 40 dan 20 milimeter dari kapal pendarat Nasionalis itu mulai menghancurkan banyak kapal PLA yang tak berdaya, yang sangat dibutuhkan untuk mendaratkan gelombang kedua infanteri PLA. Akibatnya tidak hanya pasukan PLA yang telah mendarat tidak akan mendapat bala bantuan seperti yang direncanakan, tetapi pasukan gelombang pertama malah terjebak di pulau itu bahkan tanpa prospek untuk melarikan diri.

“…MUSUH PASTI LEBIH DARI SEPULUH RIBU!”

Pada saat yang sama anggota Kompi Tank ke-3 berjuang untuk keselamatan nyawa masing-masing di pantai utara Lungkou, unit saudaranya, 1st Tank Company, berdiam di Shamei ke arah timur laut. Wakil komandan pleton Letnan Dua Mu Chü-liang adalah petugas jaga yang bertugas ketika peluru artileri musuh pertama mulai jatuh. Mu memberi tahu komandan kompinya, Kapten Hu K’e-hua, dan kru dari tujuh tank yang tersedia segera siap untuk bergerak. Mereka tetap siaga sampai subuh, ketika Hu akhirnya menerima perintah untuk pergi ke Qionglin, di mana mereka akan bergabung dengan infanteri dari Divisi ke-118. Ketika mereka sampai di desa, satu tank harus ditinggalkan karena masalah mesin, dan tidak ada pasukan infanteri kawan yang muncul untuk menemani mereka, jadi Hu memutuskan untuk berjalan mengikuti suara pertempuran. Melaju di sepanjang jalan pantai, tank-tank ini mencapai pantai musuh pukul 6:30 pagi, di mana mereka melihat lebih dari 100 kapal kayu yang terdampar. Hu melaporkan kepada atasannya, “Dengan banyak kapal di sana, saya pikir musuh mestinya berjumlah lebih dari sepuluh ribu!” Setelah menerima perintah untuk menghancurkan musuh di mana pun mereka ditemui, Hu memimpin 1st Tank Company menyusuri pantai yang dikuasai musuh. Menghadapi sedikit perlawanan, enam tank Stuart menyerang pasukan musuh yang mereka temui. Karena mereka tidak memiliki pengawalan infanteri, para awak tank maju dengan hati-hati pada awalnya, menjaga jarak dan baru maju ke depan hanya setelah mereka benar-benar menembaki posisi musuh.

Tentara KMT dengan didukung tank-tank ringan bergerak maju mendesak tentara PLA dari pantai Kinmen. (Sumber: Pinterest)

Mu dan kru tank No. 22 menembak tanpa berhenti pada pasukan musuh yang tampaknya ada di sekitar mereka. Dalam prosesnya, baterai usang dari tank habis, dan pada pukul 6:50 kendaraan terhenti, kehilangan semua daya listrik — bahkan untuk radio. Dengan senapan mesin ringan Thompson dan bendera sinyal di tangan, Mu membuka pintu palka untuk menghubungi tank-tank lain untuk meminta bantuan. Dia melihat lusinan pasukan musuh yang kelelahan meringkuk di parit di dekatnya, tidak memberikan perlawanan. Mengacungkan senjatanya, Mu berteriak pada pasukan musuh di dekatnya untuk meletakkan senjata mereka dan menuju ke belakang. Hampir 80 orang Komunis menyerah dan digiring ke Qionglin. Sementara tank lain membantu mengisi ulang baterai No. 22, Mu mengetahui mengapa ada sedikit tembakan musuh yang mengejutkan. Setelah memeriksa senjata musuh yang dibuang, ia menemukan bahwa mereka tidak dapat dioperasikan karena terpapar air laut dan pasir. Sekitar pukul 7 pagi, Hu memimpin empat tank ke garis pantai dan meledakkan armada transportasi musuh yang terdampar. Peluru berpeledak tinggi membuat kapal kayu terbakar, membakar musuh yang terluka yang telah berlindung di dalamnya. Tank-tank itu kemudian melanjutkan perjalanan ke utara menuju Guanyinting, di mana mereka menemukan ratusan pasukan PLA bersembunyi di lubang perlindungan yang dangkal atau parit tentara Nasionalis yang ditinggalkan. Tank-tank Nasionalis melaju ke depan, bermanuver untuk mengacaukan posisi musuh, dan melepaskan semburan tembakan meriam dan senapan mesin, menebarkan ratusan serpihan baja melewati barisan musuh. Tidak dapat membawa beberapa tim bazoka yang masih hidup, pasukan PLA dari Resimen ke-244 dan ke-251 hanya bisa merespons dengan tembakan senjata ringan atau serangan granat yang tidak efektif. Segera, mereka ditembaki dengan gencar dan dipaksa untuk mundur. Dalam prosesnya, markas Resimen ke-244 direbut dan komandan resimen, Xing Yongsheng terluka parah dan ditangkap.

2.000 TERBUNUH, 2.400 DITANGKAP

Satu jam kemudian, infantri Nasionalis dari Divisi ke-118 akhirnya berhasil menyusul tank-tank itu, mengambil ratusan tahanan. Keempat tank Stuart melanjutkan gerak maju mereka ke barat, meledakkan posisi musuh dan kapal kayu yang terdampar. Pada pukul 11:30, Kompi Tank ke-1 telah menghabiskan sebagian besar bahan bakarnya dan amunisinya dan terpaksa kembali ke Shamei untuk mengisi kembali persediaan. Pasukan lain dari Divisi Nasionalis ke-18 tiba dengan kekuatan untuk mengkonsolidasikan wilayah yang berhasil direbut awak tank. Sementara itu, ke selatan, Kompi Tank ke-3 melaju ke barat melewati Bukit Guanyinting dan bertempur melawan pasukan Komunis di Anchi bersama dengan pasukan dari Divisi ke-118. Dalam kurun waktu beberapa jam, kaum Nasionalis menangkap sekitar 2.400 tahanan dan membebaskan beberapa ratus pasukan Youth Army Nasionalis yang telah berhasil ditawan oleh pasukan Komunis selama serbuan awal. Lebih dari 2.000 mayat musuh terbaring berserakan di antara rongsokan kapal yang rusak dan terbakar di pantai antara Lungkou dan Guningtou. Beberapa dekade kemudian, Mu Chü-liang akan menulis, “Dalam lusinan pertempuran yang telah saya alami, saya tidak pernah menyaksikan tontonan yang mengerikan seperti ini.”

Sebuah lukisan yang berbau propaganda menunjukkan tentara PLA yang lesu menyerah kepada tentara KMT di Pertempuran Guningtou. (Sumber: Reddit)

Sekarang kaum Nasionalis beranjak menyerang pijakan tentara Komunis di Guningtou. Unit-unit dari empat divisi Angkatan Darat ke-12, beberapa di antaranya baru saja tiba di pulau itu, maju menuju desa kunci Lintsuo. Di sana, pasukan PLA veteran telah mengkonsolidasikan pertahanan mereka, menggali di antara rumah-rumah bata di desa. Senapan mesin dan mortir yang ditempatkan dengan baik menimbulkan korban yang mengerikan di antara infanteri Nasionalis, menewaskan seorang kolonel resimen dan seorang komandan batalion. Infanteri yang tidak berpengalaman tidak pernah bertempur bersama tank dan koordinasinya buruk. Namun kaum Nasionalis dengan keras kepala mengulangi serangan mereka. Tank-tank itu kembali membuktikan nilainya, bertindak sebagai pillbox bergerak dan menghancurkan titik kuat pertahanan musuh.

MENGHANCURKAN PERLAWANAN PLA YANG MASIH TERSISA

Pada akhir 25 Oktober, pasukan Nasionalis telah mengepung rapat Guningtou dan menghancurkan armada transportasi Komunis yang terdampar di pantai. Pasukan invasi PLA telah kehilangan lebih dari setengah kekuatannya, dan kehabisan amunisi dan persediaan. Namun tentara Komunis masih bertekad untuk bertahan, dengan harapan bala bantuan akan tiba. Mereka semakin bersemangat ketika Korps XXVIII pada jam 3:00 tanggal 27 Oktober, mendaratkan ratusan orang di dekat Guningtou, dan berhasil bergabung dengan pasukan yang mempertahankan kota setelah pertempuran sengit. Namun, ini adalah satu-satunya bala bantuan Komunis yang tiba untuk memperkuat gelombang pertama yang terkepung. Kekuatan udara dan laut Republik Tiongkok segera membuat jalur perlintasan dari China daratan menjadi tidak mungkin bagi beberapa kapal PLA yang tersisa untuk berlayar ke Kinmen. Hari berikutnya, tank-tank Nasionalis melanjutkan peran dukungan infantri mereka, menjadi ujung tombak serangan infanteri berulang-ulang terhadap garis pertahanan defensif Komunis di sekitar Guningtou. Itu bukan tugas yang mudah. Pasukan PLA menjadi mahir bersembunyi di posisi mereka, membiarkan tank bergerak maju sebelum muncul untuk melepaskan tembakan dahsyat pada infanteri yang mengikuti di belakang. Serangan demi serangan berhasil dipatahkan. Pertempuran jalanan yang berdarah terjadi di Lintsuo, dan rumah-rumah serta bangunan-bangunannya yang hancur berpindah tangan beberapa kali. Akhirnya, keunggulan jumlah ditambah dengan gempuran oleh pesawat pembom menengah B-25 dari udara menentukan hasil pertempuran. Dengan tidak adanya prospek bala bantuan Komunis tambahan, hasil pertempuran sekarang sudah dapat dipastikan, Pasukan PLA diusir ke luar kota pada sore hari tanggal 26, dan tentara PLA yang masih selamat menyerah setelah melakukan perlawanan singkat di pantai pada pukul 10:00 pagi keesokan paginya.

Pasukan KMT menggempur pertahanan terakhir tentara PLA di desa Lintsuo. (Sumber: Pinterest)

Karena Kinmen dinilai sangat penting bagi kelangsungan hidup rezim Nasionalis, sejumlah pemimpin senior pemerintah datang ke pulau kecil itu untuk melihat sendiri bahwa situasinya telah stabil. Chiang Ching-kuo, putra tertua pemimpin Nasionalis dan pemecah masalah terkemuka, terbang ke Kinmen untuk melakukan kunjungan khusus ke pos komando Batalyon Tank ke-1 di Qionglin untuk memberi selamat kepada para awak tank dan memberikan hadiah-hadiah. Komandan Angkatan Darat ke-12 yang populer, Letnan Jenderal Hu Lien, juga tiba di Qionglin sore itu untuk mengunjungi para awak tank. Pada pagi hari tanggal 27 Oktober, pasukan Nasionalis memulai upaya terakhir mereka untuk membersihkan posisi Komunis yang tersisa di Guningtou, dengan gerak maju serentak dari selatan dan timur. Menjelang sore, kaum Nasionalis menduduki kembali Guningtou. Perlawanan terorganisir pihak komunis berakhir dengan penangkapan 900 personel sisa pasukan PLA yang melarikan diri dari pantai dan bergerak ke utara. Selama beberapa minggu berikutnya, puluhan pasukan PLA yang berhasil ditangkap dikumpulkan di sekitar pulau. Komandan resimen PLA, Xing, Liu, dan Xu ditangkap, dipenjara di Taiwan, dan kemudian dieksekusi; Komandan Resimen 246 Sun Yunxiu bunuh diri. Secara keseluruhan, 5.175 tentara Komunis dipenjarakan dari total 9.086 orang yang telah memulai invasi. Sekitar 3.000 tahanan ini dipulangkan kembali ke China daratan pada tahun 1950 setelah mereka menolak untuk membelot ke pihak Nasionalis. Selama dekade Revolusi Kebudayaan, mereka yang kembali dituduh oleh Pengawal Merah setempat sebagai “Pengkhianat”, “Menyerah pada musuh” dan menerima hujatan lainnya, serta kritik yang kejam, baru sampai era reformasi baru-baru ini dimana China mulai membuka diri status mereka mulai direhabilitasi dan mendapat kompensasi sejumlah kecil uang, suatu yang tentunya tidak sebanding dengan bagaimana mereka telah kehilangan masa muda mereka dan penghinaan yang mereka terima selama berpuluh tahun. Namun, lebih dari 2.000 rekan-rekan mereka yang memilih tinggal di Taiwan bergabung kembali dengan Tentara Nasionalis. Selain itu, keempat komandan Tentara Komunis, kecuali komandan Sun Yuxiu, yang menembak diri mereka sendiri di bawah tebing Beishan di Guningtou, dan komisaris resimen ke-251 Tian Zhichun ditangkap. Komandan resimen ke-244, Xing Yongsheng terluka parah dan meninggal, komandan resimen ke-253 Xu Bo sempat bersembunyi di Gunung Taiwu selama sebulan, sampai saat keluar larut malam untuk menggali ubi, ia ditangkap.

KINMEN DAN MATSU: MENGAMANKAN TAIWAN DARI INVASI KOMUNIS

Pertempuran mempertahankan Kinmen terbukti menjadi salah satu peristiwa penting dalam Perang Saudara Cina. Bagi Chiang Kai-shek dan kaum Nasionalis, kemenangan itu telah mengamankan benteng terakhir mereka di Taiwan dari invasi Komunis dan memperkuat perjuangan mereka setelah serangkaian kekalahan pada tahun sebelumnya. Terlepas dari kenyataan bahwa musuh mereka telah salah perhitungan dengan meluncurkan serangan amfibi terhadap musuh yang unggul secara numerik dan memiliki satuan lapis baja, udara, dan dukungan angkatan laut, kemenangan diperoleh dengan harga yang mahal. Selama 56 jam dari apa yang kemudian disebut Nasionalis sebagai “Kemenangan Hebat di Guningtou,” pihak nasionalis telah kehilangan 1.267 orang tewas dan 1.982 terluka dalam pertempuran jarak dekat yang ganas. Awak-awak tank itu, yang berperan penting dalam meraih kemenangan, kehilangan dua orang tewas dan tujuh orang terluka. Kepahlawanan mereka kemudian diakui pada tanggal 5 November, ketika komandan pasukan berkuda Kinmen yang baru, Hu Lien, menganugerahkan kepada orang-orang dari Batalyon ke-1, Resimen Tank ke-3, dengan nama panggilan kehormatan, “the Bears of Kinmen.”

Tahanan Komunis Tiongkok digeledah oleh pasukan Nasionalis setelah pertempuran sengit di Pulau Kinmen. Sekitar 5.175 tahanan PLA berhasil ditangkap. Sekitar 3.000 kemudian dipulangkan ke China daratan pada tahun 1950. (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/)

Kekalahan di Kinmen merupakan kejutan besar bagi Mao Zedong dan komandan militernya. Menyadari bahwa sikap terlalu percaya diri mereka telah menyebabkan bencana, pihak Komunis kemudian mengambil pendekatan yang lebih sistematis terhadap pelaksanaan rencana operasi amfibi mereka di masa depan. Selama beberapa tahun berikutnya, PLA memperbaiki tekniknya dan berhasil mengusir kaum Nasionalis dari pos-pos terdepan mereka di pulau-pulau pesisir. Seperti pada invasi berikutnya ke Pulau Hainan pada tahun 1950, meskipun bukan tanpa problem, Operasi militer PLA berakhir dengan kemenangan yang menentukan, dan pada tahun 1956 Angkatan Laut dan Angkatan Udara PLA telah menunjukkan peningkatan daya tembak, perencanaan, dan kapasitas logistik yang luar biasa dalam merebut Kepulauan Yijiangshan yang dibentengi. Namun, ketidakmampuan mereka untuk mengambil alih Kinmen dan Matsu menghambat segala upaya invasi terhadap Taiwan. Berubah menjadi benteng pulau yang tak tertembus, Kinmen dan Matsu memainkan peran penting di garis depan Perang Dingin, yang berakibat Kinmen menjadi sasaran pemboman artileri penghukuman selama dekade 1950-an ketika Komunis berusaha (tetapi gagal) mengusir garnisun Nasionalis di pulau itu. Pada tahun 1958, pemboman Kinmen hampir memicu konflik nuklir antara Komunis China dan Amerika Serikat, dan masalah ini dengan hangat dibahas selama debat pemilihan presiden Kennedy-Nixon yang terkenal pada tahun 1960. Meskipun ketegangan di Selat Taiwan telah berkurang sehingga kedua pulau menjadi tempat wisata yang populer dan personel garnisun Kinmen dan Matsu berkurang, namun keduanya tetap secara simbolis menjadi bukti kewaspadaan terhadap kemungkinan ancaman dari China Komunis.

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

Battle of Guningtou: The Republic of China Fights For Survival by Edward F. Chen

Taiwan’s Tanks Managed to Do What Hitler’s Mighty Panzers Failed to Do at Normandy by Sebastien Roblin, February 26, 2017

https://nationalinterest.org/blog/the-buzz/taiwans-tanks-managed-do-what-hitlers-mighty-panzers-failed-19584

Review of the Battle of Guningtou; Author: Laona Source: one world military network Category: KMT File Date: 2002.10.08

https://web.archive.org/web/20040608064047/http://seehi.fayay.com/matr/show.php?id=250

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Battle_of_Guningtou

Gallery: The Battle That Saved Taiwan

One thought on “Pertempuran Guningtou 25-27 Oktober 1949: Gagalnya invasi RRC yang menyelamatkan Taiwan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *