Pertempuran Hoa Binh (10 November 1951-25 Februari 1952): Adu Kuat Prancis vs Vietminh memperebutkan Rute Kolonial 6

Pertempuran Hòa Bình adalah pertempuran yang terjadi selama Perang Indocina Pertama. Pertempuran ini terjadi dari tanggal 10 November 1951 hingga 25 Februari 1952, ketika pasukan Uni Perancis berusaha untuk memancing pasukan Việt Minh keluar ke tempat terbuka dan memaksanya berperang dengan cara-cara yang diinginkan oleh pihak Prancis. Pertempuran ini juga menandai akhir dari kepemimpinan Jenderal Jean de Lattre de Tassigny, yang terkenal karena mampu mengangkat moral militer Prancis yang telah bertarung dalam perang berlarut sejak mereka masuk kembali di Indochina sehabis Perang Dunia II berakhir. Kampanye militer di Hoa Binh meski lebih banyak memakan korban di pihak Việt Minh, dibanding yang diderita oleh pihak Prancis, namun tidak dapat dipandang sebagai kemenangan taktis maupun strategis bagi Prancis. Di sisi Prancis, pertempuran ini seperti pertempuran-pertempuran sebelumnya tidak juga membawa mereka lebih dekat pada kemenangan, malahan lewat rangkaian pertempuran ini, Việt Minh lebih banyak memetik pelajaran yang nantinya akan mereka terapkan dalam mengalahkan Prancis di Dien Bien Phu 2 tahun kemudian.

6 Tahun bertempur melawan Vietminh, pada akhir tahun 1951, kedudukan Prancis di Indochina masih tidak menentu. (Sumber: https://alchetron.com/)

LATAR BELAKANG

Pada akhir tahun 1951, tentara Prancis telah pulih dari bencana mereka di sepanjang jalur Rute Kolonial 4 saat musim gugur sebelumnya. Korps Tempur baru Vietminh yang telah diperkuat pimpinan Jenderal Giap telah dihentikan di depan pintu Hanoi pada Pertempuran Dong Trieu pada Maret 1951. Pada Mei 1951, pergerakannya ke Delta Sungai Merah melalui Sungai Day dihentikan selama pertempuran keras di Ninh Binh, Yen Phuc dan Thai Binh. Kemudian, pada bulan Oktober 1951, Vietminh untuk sementara waktu juga berhasil diusir dari dataran tinggi Sungai Hitam di Nghia Lo setelah operasi penerjunan pasukan payung berani di belakang posisi pasukan Vietminh. Dalam setahun, tentara Prancis telah berubah dari awalnya dipenuhi kepanikan karena kekalahan yang tampaknya mendekat, kini mereka seakan melihat adanya “cahaya di ujung terowongan” (masa depan yang penuh harapan). Arsitek dari kemenangan-kemenangan ini adalah Jenderal Jean de Lattre de Tassigny, seorang perwira kavaleri dengan latar belakang berasal dari kaum bangsawan yang telah meninggalkan kudanya bersama satuan Dragoon ke-12 karena bertempur di parit bersama dengan satuan infantri pada hari-hari paling gelap selama Perang Dunia I. De Lattre kemudian pergi bertugas di Maroko dan telah mengomandani Tentara Pertama Prancis dari selatan Prancis ke sungai Rhine dan Danube selama Perang Dunia II. Dia arogan, sombong, dan sering tidak adil kepada bawahannya, tetapi dia telah bersedia meninggalkan kehidupan nyaman di Prancis dan menolak penugasan di NATO untuk mempertaruhkan reputasinya di Indocina, dalam perang yang mana banyak perwira senior tidak ingin ditugaskan. 

Jenderal Jean de Lattre de Tassigny, kepemimpinannya mampu mengangkat moral Pasukan Prancis di Indochina. (Sumber: https://www.pandaw.com/)

Meski de Lattre adalah teror bagi para perwira staf dan komandan garnisun-garnisun kecil, tapi ia memiliki rasa hormat yang besar pada para letnan dan kapten yang bertempur. Sementara markasnya ada di Saigon, ia secara pribadi memimpin pertahanan di sekitar Hanoi, dan pertempuran di Sungai Day, yang membuat putra satu-satunya terbunuh, saat memimpin pasukan Vietnam di sebuah tanjung yang mengawasi sungai di Ninh Binh. Tujuan Prancis di Indocina pada tahun 1951 adalah membawa Vietnam sebagai negara merdeka di dalam lingkup Uni Prancis dan membentuk tentara nasional Vietnam yang mampu mempertahankan dirinya sendiri. Setelah serangkaian kemenangan defensif selama bulan-bulan awal tahun 1951, komando Prancis di bawah pimpinan de Lattre berusaha untuk kembali menyerang. Setelah pertempuran Dong Trieu, de Lattre sudah menyiapkan cetak biru taktik yang dapat membawa kemenangan bagi Prancis dengan mengakhiri pola-pola operasi reaktif dan kembali ke taktik perang ofensif yang akan membangun kembali posisi militer Prancis dan otoritas nasional Vietnam di wilayah yang disengketakan dan dikuasai musuh. Tempat uji coba dari strategi ofensifnya adalah di Hoa Binh. De Lattre telah membuat keputusan itu setibanya kembali di Saigon dari tur marathon nya di Amerika Serikat dan Prancis pada bulan Oktober 1951. Dia telah sakit sejak kematian putranya, tetapi telah berusaha mengabaikan rasa sakitnya hingga menjadi kesedihan, tertekan, dan kelelahan. Dia sekarang telah mengetahui bahwa dia menderita kanker.

Jenderal de Lattre dan putra satu-satunya Bernard. Dalam pertempuran Sungai Day, Bernard gugur dalam mempertahankan kota Ninh Binh. Kematian Bernard, sangat memukul de Lattre yang kemudian larut dalam kesedihan. (Sumber: twitter)

Ketika ia mengirim prajuritnya ke dalam kampanye militer yang mungkin tidak bisa ia lihat hasilnya, ia memanggil komandan-komandannya dan berbicara dengan mereka masing-masing secara terpisah. Mereka semua sepakat. Data Intelijen mencatat bahwa Vietminh sedang mempersiapkan serangan lain di kawasan Delta. Ini adalah waktunya untuk melakukan ofensif dan memaksa musuh untuk bereaksi. Hoa Binh akan cocok dengan hal itu. Hoa Binh (nama itu berarti ‘perdamaian’ dalam bahasa Vietnam) adalah ibu kota minoritas suku Muong. Unik di antara minoritas dataran tinggi Vietnam, Muong secara ras identik dengan penduduk dataran rendah Vietnam, tetapi pada tahun 1951 kelompok ini masih mempertahankan beberapa organisasi suku dan budaya yang menjadi ciri khas Vietnam Utara sebelum kedatangan peradaban Cina. Terletak sekitar 62 kilometer barat daya Hanoi, Hoa Binh ada di tepi barat Sungai Hitam, tempat ia berbelok ke utara untuk bergabung dengan Sungai Merah di atas kawasan Son Tay. Dengan kapal, kota ini terletak 134 kilometer di atas sungai Merah dan Hitam, melewati Son Tay, Viet Tri, La Phu (di masa modern dikenal sebagai La Hao-Phu An), dan Rocher Notre-Dame (sekarang Cho Che). Sebagian besar dari jarak ini aman dilewati oleh pasukan sungai, kecuali 21 kilometer terakhir antara Rocher Notre-Dame dan Hoa Binh di bawah pemandangan pegunungan yang menjulang dan jalur sempit hutan litoral, yang kadang-kadang dipatahkan oleh tebing atau singkapan. Melalui jalan darat, Hoa Binh hanya berjarak 67 kilometer dari peta dari Hanoi melalui Rute Kolonial 6. 35 kilometer pertama menuju ke Xuan Mai; dari sana melewati jalan berliku-liku di bawah pegunungan Vietnam dan Cham selama 31 kilometer – seluruh jalur itu penuh dengan belokan – sampailah di Sungai Hitam tepat di bawah Hoa Binh di Ben Ngoc. Pada tahun 1946, Prancis telah merebut kembali Hoa Binh lewat penerjunan pasukan payung, tetapi mereka telah meninggalkannya pada bulan Oktober 1950 dalam kepanikan menyusul kemenangan pasukan Giap di Rute Kolonial 4. 

Lokasi Hoa Binh dinilai strategis karena selain menjadi pintu gerbang ke Hanoi, juga memiliki akses ke Vietnam tengah dan selatan. (Sumber: https://www.vjv.com/)

Sedari awal, kampanye militer di Hoa Binh bagi Prancis memiliki 2 tujuan utama, baik secara militer maupun politis. Secara taktis militer Hoa Binh merupakan jalur utama bagi Vietminh untuk menyalurkan bantuan dan peralatan bagi pertahanan kuat mereka di Thanh Hoa, Vietnam Tengah, dimana Divisi ke-320 Vietminh berada, yang saat itu praktis terisolasi. Selain itu penguasaan atas Hoa Binh akan memperkuat jalinan persekutuan Prancos dengan Suku Muong, dimana hingga saat itu dua batalion asal suku ini bertempur di pihak Prancis, sementara ribuan warganya mengungsi di kawasan Delta Sungai Merah. Hoa Binh kebetulan juga merupakan kota utama Suku Muong, secara psikologis hal ini amat penting. Sementara itu dari sisi politik, Prancis sedang amat membutuhkan kemenangan militer untuk mengalihkan perhatian atas masalah internal yang mereka alami, disamping kemenangan tersebut dapat menarik minat Amerika untuk lebih banyak memberikan bantuan militer untuk Prancis, saat mereka menghadapi jalan buntu dalam Perang Korea yang sedang berlangsung. Sebaliknya itu di pihak lawan, kontrol atas Hoa Binh memungkinkan Giap untuk memperoleh tiga keuntungan. Pertama, dia bisa memindahkan pasukan tanpa hambatan dari daerah pusat kekuatan mereka dari dataran tinggi Tonkin, melalui lembah sungai Boi atau Chu, ke daerah hilir delta Sungai Merah dekat Ninh Binh. Kedua, dengan melakukan perjalanan menyusuri hulu lembah Sungai Boi, pasukannya bisa berbelok ke utara ke Cho Ben, yang mana dengan demikian mereka akan mampu mengancam Hanoi dari arah selatan. Dan yang terakhir, hal itu memungkinkan para ahli logistiknya mengirimkan aliran senjata dan amunisi dengan tanpa hambatan dari depot-depot Vietminh ke pasukannya di Vietnam tengah bagian utara. Demikianlah nilai penting dari Hoa Binh, oleh karenanya de Lattre tidak ragu bahwa Giap akan bertarung untuk mempertahankannya. Dengan mengambil alih kota itu, de Lattre akan memaksa Giap untuk bertempur melawan pasukan payung, pasukan sungai dan Grup Mobile barunya, yang memiliki daya tembak dan mobilitas untuk menghancurkan pasukan reguler Giap. Setelah mereka berhasil menguasainya, wilayah itu akan diserahkan kepada pasukan garnisun pimpinan Prancis dan, pada akhirnya nanti pada tentara Vietnam yang saat itu masih dalam masa pertumbuhan.

SERANGAN AWAL PRANCIS

Fase pertama kampanye memperebutkan Hoa Binh, lewat Operasi Tulipe, dimulai pada tanggal 10 November 1951, untuk merebut Cho Ben Pass dan memperluas kendali militer Prancis di luar Rute 21 (yang disebut juga sebagai “Route des Concessions”). Sementara Satuan Tugas lapis baja Utara pimpinan Kolonel de Castries menyerang dari arah selatan untuk mengamankan koridor Rute 21 di Cho Ben, elemen-elemen dasar dari Satuan Tugas Tengah pimpinan Kolonel Clements menyerang wilayah barat dari daerah Nam Duong di sepanjang Sungai Day, dan terhubung dengan Batalyon 1 pasukan payung Legiun Asing (BEP ke-1), yang telah diterjunkan ke sawah yang banjir di sebelah Cho Ben pukul 0910 pagi itu. Berkaitan dengan misi penerjunan pasukan, operasi di Hoa Binh menandakan operasi terakhir, dimana Prancis menggunakan pesawat angkut bermesin tiga Junker Ju-52 (kemudian akan digantikan oleh pesawat angkut C-47 dan C-119 buatan Amerika). Bersamaan dengan serangan ini, operasi pendukung dilakukan juga oleh gugus tugas lain di daerah selatan dan timur Cho Ben. Pasukan Vietminh meninggalkan Cho Ben setelah melakukan perlawanan singkat, tetapi pertempuran di sepanjang Rute Kolonial 21 terbukti lebih sulit, yang melibatkan dua batalion Resimen 64, tiga kompi dari Batalyon Regional 164, dan pasukan lokal Vietminh. Keunggulan udara Prancis, dalam hal mobilitas dan daya tembak memberi mereka keuntungan. Pada pukul 1430 sore itu, Batalyon Parasut Kolonial ke-1 (1st BPC), Commando Vandenberghe, dan elemen-elemen lain yang melekat pada Mobile Group 2 telah melewati garis-garis pertahanan BEP ke-1 untuk mencapai tujuan mereka, dua kilometer di utara Cho Ben. Dengan terciptanya pijakan Prancis di dataran tinggi Muong, de Lattre kemudian beralih ke Fase II. 

Fase awal kampanye militer di Hoa Binh (Operasi Tulipe) pada tanggal 10 November 1951 menandai penggunaan terakhir pesawat angkut era Perang Dunia II, Junker Ju-52 (versi Prancis dikenal sebagai AAC-1 Toucan). (Sumber: http://wp.scn.ru/)

Selama Perang Dunia II, de Lattre telah dikritik karena terlalu kaku dalam gaya komandonya. Namun apapun kesalahan de Lattre sebagai komandan pasukan lapangan dalam Perang Dunia II, pada tahun 1951, ketidakfleksibel-an memimpin bukan lagi menjadi kelemahan de Lattre. Menyusul direbutnya Cho Ben, ia merestrukturisasi pasukannya menjadi tiga kelompok operasional dan menyuruh mereka mengambil alih Hoa Binh melalui darat, udara dan sungai. Grup Operasional Utara dibangun di sekitar Grup Mobile 7 pimpinan Kolonel Dodelier dan unit serangan sungai. Enam batalyon infantri, tiga artileri, dan satu batalyon Zeni ditambah satu skuadron kavaleri lapis baja akan menyapu wilayah selatan dari muara Sungai Hitam sampai sejauh Tu Vu, dimana jalur sungai ke Hoa Binh didominasi oleh pegunungan. Grup Operasional Selatan, di bawah pimpinan Kolonel Paris de Bollardiere, akan mendorong batalion suku Muong pimpinan Kolonel Vanuxem dari Grup Mobile 3 ke arah barat di sepanjang Rute Kolonial 6 untuk bergabung dengan satu gugus tugas pasukan terjun payung yang terdiri dari tiga batalion yang telah diterjunkan ke Hoa Binh. Penghubungan antara dua gerakan penjepit ini akan dilakukan oleh Mobile Group 2, yang untuk sementara dikurangi kekuatannya menjadi dua batalyon infanteri dan satu batalion artileri, yang beroperasi sebagai kelompok penghubung operasional.

Jenderal Raoul Salan, komandan pasukan Angkatan Darat Prancis di seluruh Vietnam, yang melakukan kontrol harian atas operasi militer ofensif ke Hoa Binh. (Sumber: https://www.famousfix.com/)

Jenderal Raoul Salan, komandan pasukan Angkatan Darat Prancis di seluruh Vietnam, melakukan kontrol harian atas ofensif ini, sementara Jenderal Gonzales de Linares berfungsi sebagai komandan pasukan darat di Vietnam Utara. Atas perintah Salan, pasukan sungai dan darat memulai pergerakan mereka pada tanggal 13 November. Menjelang malam, Grup Operasional Utara telah bergerak maju sejauh Dan The dan persimpangan Ap Da Chong di sepanjang Sungai Hitam, tetapi kelompok penghubung Clement terjebak di deretan pepohonan yang lebat Kemudian, pada jam-jam awal tanggal 14 November, Kelompok Operasional Vanuxem di Selatan mencapai Kem Pass di Rute Kolonial 6. Kabut menutupi Sungai Hitam dekat Hoa Binh pagi itu, tetapi pada pukul 1230 cuaca sudah dinilai cukup untuk menerjunkan Batalion Parasut Kolonial ke-2 (BPC ke-2), peleton zeni udara, bagian artileri udara, dan satuan staf pertempuran pasukan terjun payung kecil. Batalion Parasut Kolonial ke-1 (BPC ke-1) terjun pada pukul 1410, diikuti oleh Batalyon Parasut Kolonial ke-7 (BPC ke-7) pada pukul 1730. Para penerjun payung merebut sasaran mereka dengan hampir tanpa perlawanan. Empat pasukan terjun payung terluka oleh ranjau, dan satu hilang dalam aksi, dengan tiga tentara Vietminh berhasil ditangkap. Sementara itu, elemen-elemen dasar dari Operational Group South, dengan Mobile Group 3 sebagai pemimpinnya, terus membersihkan pasukan Vietminh dari Rute Kolonial 6 sementara dua batalion zeni bersiap memperbaiki jalan di belakang mereka. Menjelang malam, pasukan Muong pimpinan Vanongsem telah bergerak keluar dari hutan dan turun ke Hoa Binh, di mana mereka menyeberangi Sungai Hitam untuk bergabung dengan pasukan terjun payung. Hoa Binh secara resmi berhasil dibebaskan. 

Patroli sungai Prancis di Sungai Hitam, selama kampanye militer di Hoa Binh. (Sumber: Pinterest)

Pada tanggal 19 November, Jenderal de Lattre sendiri terbang untuk menerima penghormatan dari pasukannya yang menang dan untuk memberikan dua perwira pasukan payung Legiun itu penghargaan. Total korban Perancis dalam merebut Cho Ben dan Hoa Binh adalah delapan tewas dan sembilan luka-luka dibanding 608 yang diperkirakan tewas di pihak musuh. Pada tanggal 22 November, operasi secara resmi berakhir. Sementara sisa pasukan payung kembali ke Hanoi, Pasukan Para Kolonial 1 tetap berada di belakang untuk menjaga persimpangan jalan Ap Da Chong. Meski de Lattre berhasil mengambil inisiatif, dia tidak menipu dirinya sendiri dengan berpikir bahwa dia telah mendapat kemenangan dengan mudah. Mengantisipasi pertempuran keras di masa mendatang, ia membagi daerah itu menjadi tiga sektor, semuanya dijaga dengan pasukan elit: sektor Rute Kolonial 6, yang dijaga oleh Mobile Group 2 Clements, mencakup daerah kritis di sepanjang jalan dari Xuan Mai ke Xom Pheo; sektor Sungai Hitam, yang dijagai oleh Dodelier’s Mobile Group 7, memegang titik-titik penting antara La Phu dan Tu Vu; sementara itu sektor Hoa Binh, terstruktur di sekitar Mobile Group 3 Vanuxem, yang mempertahankan kota, lapangan terbang, dan titik penyeberangan feri. Sektor Black River dan Rute Kolonial 6 masing-masing terdiri dari sejumlah pos-pos berkekuatan setingkat kompi, didukung oleh artileri dan pasukan mobil, yang misinya adalah menjaga jalur komunikasi tetap terbuka. Misi sektor Hoa Binh adalah untuk membangun dan mempertahankan pusat pertahanan yang dibentengi di kedua sisi Sungai Hitam dan pertahanan garis depan di cekungan Hoa Binh, dengan menggunakan lapangan udara Hoa Binh sebagai pusat pertahanan mereka. Pasukan yang ada di Hoa Binh termasuk Batalion ke-3, Demi Brigade-Legiun Asing ke-13 (DBLE ke-3/13) di selatan, dan the 2nd Colonial Paratroop Battalion (BPC ke-2) sebagai pasukan cadangan. Mobile Group 3, yang terdiri dari batalion Muong ke-1 dan ke-2 serta satu peleton pembawa senjata otomatis, bergerak di seluruh sektor, dengan menerima dukungan dari satu pleton tank ringan Chaffee (M-24), tiga baterai artileri kaliber 105mm, dan sebuah kompi zeni.

SERANGAN BALIK VIETMINH 

Sementara itu, direbutnya Hoa Binh memang tidak menggagalkan rencana Vietminh untuk melancarkan serangkaian serangan di delta Sungai Merah, tetapi hal itu setidaknya memaksa Giap untuk menarik sebagian pasukannya untuk menghadapi ancaman baru Prancis ini. Vietminh memiliki lima divisi pada akhir tahun 1951, yang tertua diantaranya hanya baru berusia satu tahun. Pada tanggal 21 November, Giap memerintahkan Divisi ke-304, yang dipimpin oleh Kolonel Hoang Minh Thao, dan Divisi ke-312, di bawah pimpinan Kolonel Le Trong Tan, untuk bergerak menyerang Hoa Binh. Meski baru lahir, kedua divisi sudah berpengalaman. Divisi 304 telah bertempur dalam pertempuran Sungai Day di sekitar Ninh Binh di mana putra de Lattre terbunuh, sementara gerakan Divisi ke-312 diperlambat oleh Batalion Suku Thai ke-3, yang telah pindah ke wilayah belakang divisi pada tanggal 7 November. Sebuah serangan oleh Resimen ke-165 pada tanggal 24 November telah memotong Batalion Thai ke-3, mengepung dua kompi dan elemen komando dalam cekungan Lag Mange, sementara sisanya berhasil melarikan diri ke garnisun pasukan kawan. Resimen ke-165 menekan serangan mereka ke depresi Lag Mange, tetapi harus mengalihkan sebagian pasukannya untuk menghadapi Pasukan Para Kolonial ke-7, yang telah terjun sekitar 35 kilometer jauhnya untuk menyelamatkan orang Thai. Pasukan Para dan Thai bergabung pada tanggal 30 November, setelah itu Resimen ke-165 Vietminh memutuskan kontak dan pindah untuk bergabung kembali dengan divisi mereka dekat Hoa Binh.

Jenderal Vietminh, Vo Nguyen Giap. Giap yang menyadari nilai penting Hoa Binh tidak membiarkan begitu saja pasukan Prancis menguasai kawasan itu. (Sumber: https://id.wikipedia.org/)

Giap pertama-tama memilih untuk menantang Pasukan Prancis di sepanjang Sungai Hitam, di mana tujuh pangkalan Prancis terpencar di tepi sungai yang mencapai selatan dari Sungai Merah. La Phu, paling utara, terletak di tepi barat, diikuti oleh Dan The, Ap Da Chong, Xom Bu, Ap Phu To, dan Rocher Notre-Dame di timur, dan akhirnya Tu Vu, di seberang Rocher Notre-Dame di sebelah Barat. Mengingat luasnya rangkaian gunung yang mengawasi hilir sungai dari barat, strategi di pihak Prancis adalah untuk mengendalikan Sungai Hitam didasarkan dengan mengendalikan tepi timur dan tepian barat yang kritis di Tu Vu. Dari posisi-posisi itu, artileri dan udara Prancis dapat diarahkan melawan pasukan Vietminh yang mengancam jalur pasokan sungai. Masalah mereka adalah bahwa medan yang mendominasi tepi timur antara Dan The dan Rocher Notre-Dame hanya sedikit lebih berbahaya bagi pasukan yang bertahan daripada yang terletak di seberang sungai. Dari Dan The ke Ap Da Chong, hutan Ba Trai dan medan berkontur membentang ke timur menuju Yen Khoi dan Yen Cu. Di selatan jalan Yen Cu – Ap Da Chong, Gunung Ba Vi dan puncak terdekat menjulang hingga ketinggian 4.252 kaki. Di antara mereka dan sebuah bukit tepat di timur Rocher Notre-Dame yang menjulang setinggi 2.326 kaki, terbentang cekungan Xom Sui. Di selatan Rocher Notre-Dame, jalur sempit rawa, gundukan pasir dan sawah, yang dipotong oleh sungai, menonjol beberapa kilometer ke timur untuk menyatu dengan hutan hingga mendekati Gunung Cham, dari mana mereka masuk ke sektor Rute Kolonial 6 dan menanjak hingga ketinggian 1.332 kaki. Berada di seberang Sungai Hitam, Dodelier’s Mobile Group 7 yang memiliki empat batalyon infanteri berjaga di Rocher Notre-Dame, Tu Vu, Dan The dan La Phu, dengan didukung oleh pasukan terjun payung Kolonial 1 yang bertindak sebagai cadangan sektor di wilayah Ap Da Chong. 

Peta counter attack Vietminh di Hoa Binh. (Sumber: Street Without Joy: From the Indo-China war to the war in VIET-NAM)

Pada tanggal 4 Desember, elemen-elemen dari Divisi Kolonel Thao dan Tan telah pindah ke posisi dari mana mereka dapat memotong posisi BPC pertama di Ap Da Chong. Para perwira Vietminh yang ditangkap mengatakan kepada pihak Prancis bahwa langkah pertama mereka adalah mengisolasi Ap Da Chong, setelah itu mereka akan menyerang jalur komunikasi dan titik kuat pertahanan Prancis. Dua resimen dari Divisi ke-312, yang diidentifikasi di daerah timur Rocher Notre-Dame, menambah keyakinan terhadap ancaman ini. Kehadiran Vietminh yang meningkat di daerah itu mendorong Grup Dodelier untuk memperkuat Thu Phap dengan unsur-unsur dari BPC ke-1 sambil meluncurkan serangan yang menghancurkan untuk meredakan ancaman terhadap Rocher Notre-Dame. Grup Mobile 4 Kolonel Thomazo melakukan serangan ini pada tanggal 9 Desember 1951, bersama dengan pasukan di sektor itu dan BPC ke-7 pimpinan Mayor Moulie. Grup mereka ditugaskan untuk membersihkan lereng selatan Gunung Ba Vi dan rute antara Chai Koai dan Thuy Co. Pada tanggal 10 Desember, pasukan Thomazo mendesak masuk dari Van Mong dan Yen Le untuk menembus daerah dekat Gunung Ba Vi. Serangan ini, bagaimanapun, mengalami kemacetan saat menembus medan yang berat, dan membutuhkan bantuan dari grup Satuan Tugas Utara untuk bisa melakukan serangan utama. Sementara itu Batalion Parasut Kolonial 1 pimpinan Mayor Moretti, bergerak ke timur, dengan cepat menuju ke posisi empat hingga lima batalion dari Resimen 209 Vietminh di cekungan Xom Sui. Pertempuran itu terbukti ganas dan tak lama berselang segera berubah menjadi pertempuran jarak dekat. Hanya dengan bantuan dukungan udara jarak dekat dari pesawat-pesawat pembom-tempur yang memungkinkan pasukan Para Kolonial ke-1 memutuskan kontak dengan musuh. Resimen ke-209 terpaksa menarik kembali unit-unitnya sebagai pengakuan atas keunggulan udara Prancis, tetapi BPC pertama hanya dapat menemukan 15 mayat pasukan musuh. Delapan puluh tujuh personel para hilang dalam pertempuran tersebut. Pengorbanan mereka memaksa Kolonel Tan untuk membatalkan serangannya terhadap Rocher Notre-Dame. 

Seperti dalam sebagian besar kampanye militer Prancis selama Perang Indochina I, pasukan payung Prancis senantiasa menjadi satuan andalan dalam melakukan ofensif ke posisi-posisi kuat Vietminh. (Sumber: https://imgur.com/)

Namun, Vietminh sesuai rencana telah melakukan serangan secara serentak terhadap Rocher Notre-Dame dan Tu Vu, dan bagian terakhir dari rencana itu belum juga diluncurkan. Mortir berat menghujani Tu Vu pukul 2130 malam itu, diikuti oleh serangan ala gelombang manusia. Pasukan Vietminh bergerak maju menghantam pagar kawat berduri ditengah hujan peluru yang ditembakkan pasukan Prancis, tanpa menghiraukan banyak korban yang berjatuhan. Gelombang demi gelombang pasukan Vietminh terus menyerang sambil berteriak “Tien Len!” (Maju!). Di bawah kerlip penerangan dari flare parasut, dua kompi “tirailleurs” Maroko dan satu peleton tank memukul mundur gelombang demi gelombang serangan Vietminh. Menjelang pukul 0340 pada pagi hari tanggal 11 Desember, unsur-unsur dari Resimen 88 Vietminh telah menembus batas dalam pertahanan Prancis. Di bawah perlindungan tank-tank, yang semuanya akan hancur dalam pertempuran berikutnya, orang-orang Maroko menarik diri ke dataran pasir di tengah sungai sementara tiga baterai artileri dari Rocher Notre-Dame menembaki pos mereka. Saat matahari terbit apa yang masih tersisa dari Resimen 88 menarik diri, menyisakan 250 mayat rekan-rekannya di kawat perimeter pertahanan dan 150 mayat lainnya tersebar di seluruh area. Sementara itu serangan yang lebih kecil terhadap firebase baterai artileri tunggal di Xom Bu juga berhasil dihalau. Pada tanggal 11 dan 12 Desember, ketika Mobile Group 4 beringsut menuju Rocher Notre-Dame, Vietminh mengubah strategi mereka. Alih-alih melanjutkan serangan terhadap titik pertahanan kuat Prancis, dengan banyak posisi pertahanan, artileri dan dukungan udara, mereka memutuskan untuk menyerang jalur komunikasi Prancis, dimana mereka bebas memilih medan di mana mereka akan menyerang pasukan Prancis. Untuk tujuan ini, Tan memerintahkan Resimen ke-165 dan 209 untuk menyusup ke posisi di Ba Trai dan daerah utara Ba Vi. Mobile Group 4 Thomazo segera berhadapan dengan elemen-elemen berat Vietminh yang menguasai serangkaian posisi di sepanjang jalan antara Yen Chu dan Ap Da Chong. Seperti di Xom Bui, Pasukan Prancis meminta dukungan serangan udara jarak dekat, tetapi kali ini pasukan Vietminh tetap bertahan.

Dalam perang frontal dimana pasukan Vietminh kerap melakukan serangan dengan taktik “human wave”, tidak ada yang bisa dilakukan pasukan Prancis selain melakukan perlawanan mati-matian mempertahankan pos-pos statis mereka. (Sumber: https://www.akg-images.com/)

Sebuah serangan yang dilakukan oleh pasukan kolonial ke-5 (BPC ke-5), di bawah pimpinan Mayor Orsini, dengan didukung oleh satu skuadron tank Sherman dari Resimen Tank Kolonial Timur Jauh (RBCEO) juga gagal mengusir mereka. Menjelang malam tanggal 12 Desember, jalan itu tetap terhalang. Thomazo memerintahkan Orsini untuk menarik BPC ke-5 kembali, tetapi memutuskan kontak dengan Vietminh ternyata sulit. Satu batalion dari Resimen ke-165 menjebak satu kompi dalam sebuah serangan, menewaskan 34 pasukan terjun payung dan melukai 66 lainnya. Tiga orang yang tewas adalah pemimpin pleton. Pada tanggal 13 dan 14 Desember, tekanan dari Divisi ke-312 Vietminh berkurang. Thomazo menarik Mobile Group 4 kembali dari Rocher Notre-Dame dan maju ke utara untuk membersihkan wilayah Trung Ha-Yen Khoi sementara komando tinggi Prancis memperkuat sektor Sungai Hitam Dodelier dengan Mobile Group 1, Armored Subgroup 1, 1st Foreign Legion Paratroops, dan Batalion Tank ke-1 RBCEO. Bersama dengan Mobile Group 4 pimpinan Thomazo, pasukan-pasukan ini akan melakukan operasi gabungan yang dirancang untuk membersihkan Divisi ke-312 dari wilayah Ba Trai dan dari lereng barat gunung Ba Vi. Kolonel Dodelier memutuskan untuk memfokuskan upaya awalnya pada pembersihan pasukan Vietminh di hutan Ba Trai. Untuk melakukan itu, pasukannya perlu mencapai Ap Da Chong sambil mempertahankan kontrol jalan antara Yen Cu dan Ap Da Chong. Hal ini akan memotong jalur mundur Divisi ke-312 melintasi Sungai Hitam atau selatan ke daerah Gunung Ba Vi. Untuk memblokir jalur pelarian utara, dia menugaskan Armored Subgroup 1, yang diperkuat dengan batalion dari Mobile Group 4, untuk memblokir posisi di jalan antara Cam Dai dan Dan The. Tugas mengendalikan jalan antara Yen Cu dan Ap Da Chong ditugaskan ke Satuan Tugas penerjun payung di bawah pimpinan Letnan Kolonel Ducournau yang terdiri dari BEP ke-1, BPC ke-5, dan satu peleton tank dari Batalyon 1, RBCEO. Para prajurit asal Afrika Utara dari Grup Mobile 1 pimpinan Kolonel Edom harus membersihkan jalan di sepanjang rute timur ke Ba Trai. Pasukan pemblokiran utara dan selatan mengambil posisi awal mereka pada tanggal 15 Desember. Ketika Grup Mobile Edom membersihkan akses masuk timur ke hutan Ba Trai, unit itu segera berhadapan dengan unsur-unsur dari Divisi ke-312 dekat Xom Doi. Personel asal Afrika Utara mendesak pasukan Vietminh, hanya untuk berhadapan dengan mereka lagi di Bukit 116, satu kilometer barat laut Xom Doi. Divisi 312 bertempur dengan baik, tetapi daya tembak dan dukungan udara Pasukan Prancis yang unggul menentukan hasil pertempuran hari itu. Pada malam itu, Mobile Group 1 telah mengambil posisi di ketinggian.

Dalam operasi-operasi militernya di Indochina, Prancis turut melibatkan juga personel mereka yang berasal dari Afrika Utara, seperti asal Maroko dan Aljazair. (Sumber: Pinterest)

Unsur-unsur dari sektor di Sungai Hitam mendesak maju untuk mencapai bukit-bukit yang menghadap ke Sungai Hitam, sementara pasukan payung Ducournau bergerak ke barat di jalan menuju Ap Da Chong. Menjelang malam, pasukan terjun payung berhasil menguasai jalan. Dalam satu baku tembak, yang melibatkan dukungan udara dan artileri, menyebabkan seorang prajurit Prancis tewas dan 26 lainnya cedera. Gerakan-gerakan Vietminh sepanjang malam membawa pihak Intelijen Prancis untuk percaya bahwa Divisi ke-312 telah mundur di sebelah barat Sungai Hitam. Dengan hutan Ba Trai untuk sementara waktu bisa dibersihkan dan pasukan Prancis yang bertugas melakukan pemblokiran telah ada di posisinya, Dodelier mengalihkan perhatiannya ke daerah lereng barat Ba Vi, tempat pasukan Vietminh masih bisa mengancam Rocher Notre-Dame. Pada tanggal 17 Desember, Prancis meluncurkan serangan penjepit lainnya. Kali ini satuan tugas yang terdiri dari BEP ke-1, Batalion ke-2, Tirailleurs ke-6 Maroko (RTM 2/6), dan Batalion ke-2, Tirailleurs Aljazair ke-1 (RTA ke-2), melancarkan serangan dari barat Gunung Ba Vi untuk membersihkan cekungan Lang Gy. sementara Batalion Parasut Legiun Asing ke-2 (2nd BEP) bergerak ke selatan dari jalan Ap Da Chong-Yen Cu untuk membersihkan ketinggian di bawah perlindungan Batalion 3, Tirailleurs ke-4 Maroko (RTM 3/4) dan BPC ke-5. Pertemuan antara dua gugus tugas berlangsung tanpa hambatan pada pukul 1500, membuat BEP 1, BPC 5, dan 3/4 RTM bisa mengendalikan jalan ke Ap Da Chong. Sementara BEP ke-2 mengambil posisi di Bukit 564, Grup Mobile Edom, bersama dengan Armored Subgroup 1, ditarik dari sektor ini. Tugas Dodelier yang tersisa adalah untuk membangun kembali kontak dengan titik-titik pertahanan di selatan, yang telah terputus sejak tanggal 11 Desember. Sekali lagi, Dodelier memanggil satuan airborne pimpinan Kolonel Ducournau. Untuk menyelesaikan misi itu, Ducournau menambahkan dua Batalyon Parasut Legiun Asing ke satuan Para Kolonial ke-5, Satuan Maroko dari RTM 3/4, dan Satuan Komando Prancis-Vietnam ke-35. Pada tanggal 19 Desember, dengan BEP pertama berangkat dari Ap Da Chong dan BEP ke-2 dari Bukit 564, satuan tugas menyapu ke arah selatan untuk bisa terhubung dengan Rocher Notre-Dame. Perlawanan dari pihak Vietminh sangat ringan. Kedua BEP melanjutkan gerakan dengan melakukan pengintaian yang berlangsung hingga ke cekungan Xom Sui pada tanggal 20 Desember, dimana mereka menemukan mayat-mayat yang ditinggalkan oleh satuan Para Kolonial ke-1 sekitar 10 hari sebelumnya. Dengan area yang telah dibersihkan untuk sementara waktu, orang Prancis menganggap bahwa pertempuran untuk memperebutkan Sungai Hitam telah berakhir. Unit staf tempur satuan tugas airborne, RTM 3/4, BEP ke-2, dan BPC ke-1 dikembalikan ke Hanoi sebagai satuan cadangan umum.

Peta serangan atas garis pertahanan pasukan Prancis di Tu Vu. (Sumber: Street Without Joy: From the Indo-China war to the war in VIET-NAM)

Sementara itu Giap malah memerintahkan Divisi ke-308 dibawah pimpinan Kolonel Vuong Thua Vu ke Sungai Hitam untuk meringankan beban Divisi ke-312 pimpinan Tan. Pada tanggal 21 Desember, Resimen ke-102 dan 36 telah berpindah kembali ke hutan Ba Trai. Pada jam 11.00 pada tanggal 21 Desember, Satuan Commando ke-35 Prancis menemukan sebuah bivak Vietminh di selatan jalan Yen Cu – Ap Da Chong. Satu jam kemudian, patroli dari BPC ke-5 berhadapan dengan sebuah kompi yang didukung oleh senjata berat di Bukit 82. Di bawah tembakan keras, pasukan para berhasil memutuskan kontak, tetapi mereka kembali bertempur pada pukul 1700, yang mana membutuhkan dukungan udara untuk bisa memutuskan kontak dengan musuh dan menarik diri. Pada tanggal 22 Desember, baik Commando ke-35 dan BPC ke-5 menghadapi serangan berat musuh di Bukit 564 dan 82 dan hampir kewalahan. Sementara itu sebuah patroli pengintaian disergap di sebelah timur Luing Phu dan Tach Xa, dan legiuner dari BEP 1 jatuh ke dalam penyergapan sekitar tiga kilometer selatan Xom Bu. BEP membutuhkan dua peleton tank Sherman dan dukungan serangan udara dari pesawat pembom-tempur untuk bisa memutuskan kontak. Dalam menghadapi ancaman baru ini, Jenderal Salan memperkuat sektor Sungai Hitam dengan staf gugus tugas airborne, BEP ke-2, Batalion Parasut Vietnam ke-1 (BPVN Pertama), Grup Mobile 1 Edom, dan Grup dua baterai artileri tambahan. BPVN ke-1 menerjunkan satu kompi ke Rocher Notre-Dame pada 23 Desember, diikuti oleh sisa batalion di bawah komando Kapten Depont di Ap Phu Tho pada 24 Desember. Pada tanggal 24 Desember, satuan tugas airborne, yang terdiri dari satuan Paratroop Kolonial ke-5, BEP ke-1 dan ke-2, Tirailleur Aljazair 2/1 dan dua peleton tank Sherman, diperintahkan untuk melakukan serangan balik terhadap Resimen ke-102 dan 36 Vietminh dan mengusir mereka dari sektor tersebut. Untuk melakukan itu, mereka merencanakan gerakan penjepit oleh dua BEP di sekitar Bukit 82 sedangkan BPC ke-5 melindunginya dari arah tenggara. BEP ke-1 hanya menemui sedikit kesulitan, tetapi BEP ke-2 mengalami perlawanan musuh yang berat di Bukit 61 dan kemudian tepat di bawah Bukit 57. Di bawah tekanan Vietminh, BEP ke-2 terdesak ke timur. Ketika Batalyon 2/1 Aljazair pindah untuk memperkuat mereka, mereka dipukul pada bagian sayapnya. Pasukan Vietminh kemudian menerobos ke jalan yang membentang dari Yen Cu ke Cam Dai. Sementara BEP ke-2 berkumpul kembali di Bukit 61 di bawah dukungan serangan udara jarak dekat, prajurit-prajurit Aljazair berkumpul kembali ke Yen Cu. Pertempuran itu menelan korban 2 personel BEP ke-2 terbunuh dan 31 terluka, sementara terhitung 300 personel Vietminh tewas. Dalam menghadapi perlawanan terus-menerus dari Vietminh, menjadi jelas bahwa serangan besar diperlukan. Dodelier memerintahkan unitnya untuk mempertahankan posisi mereka sementara dia meluncurkan unit pengintaian Vietnam Utara yang dipimpin perwira Perancis (Pasukan Komando-Angkatan Darat Daerah Vietnam Utara) ke daerah Ba Vi dan Ba Trai. Dari tanggal 25 Desember 1951 hingga 3 Januari 1952, pasukan komando bertempur melawan berbagai unit Divisi ke-308 Vietminh di hutan Ba Tai. Pasukan Vietminh dihantam dengan artileri dan dukungan serangan udara jarak dekat, sementara pihak Prancis mempersiapkan pasukan mereka dan membuat rencana untuk melakukan serangan pendahuluan yang dirancang untuk menarik kekuatan pasukan Vietminh yang dapat memperkuat sektor tersebut. 

Dalam kampanye militer di Hoa Binh, pasukan Prancis turut mengerahkan juga tank-tank medium M-4 Sherman buatan AS selain tank ringan M-24 Chaffee. (Sumber: Pinterest)

Operasi Nenuphar dimulai pada tanggal 4 dan 5 Januari 1952, dengan mengerahkan gugus tugas Airborne Ducournau, Edom’s Mobile Group 1, dan Thomazo’s Mobile Group 4. Seperti pengulangan operasi sebelumnya, para penerjun payung mengambil posisi pemblokiran antara Yen Cu dan Ap Da Chong sementara Mobile Group 4 menyerang ke selatan arah Ngoc Nhi. Mobile Group 1 mendukung manuver ini dengan melakukan serangan pengalihan terhadap Tach Xa, dan pada tanggal 6 Januari, staf satuan Airborne, Kolonel de Rocquigny dari Hanoi, dengan didukung oleh pasukan Para Kolonial ke-1, meluncurkan operasi tipuan ke arah depot pusat operasi Viet Minh di Viet Tri dengan harapan dapat memaksa satuan Cadangan Vietminh untuk berkumpul di sekitar Phu Lu. Operasi Nenuphar memberikan pasukan Perancis keberhasilan taktis tambahan di hutan Ba Trai, tetapi pasukan Vietminh tetap kuat bercokol di daerah itu. Yang sebenarnya terjadi adalah bahwa strategi Vietminh di Sungai Hitam membuat sektor ini tidak bisa dipertahankan lagi. Konvoi merasa lebih sulit untuk menerobos ke Hoa Binh, yang merupakan urat nadi dari garnisun di Sungai Hitam. Salan hanya bisa berharap bahwa korban yang ditimbulkan di pihak Vietminh akan memberikan pasukannya kelonggaran waktu untuk merebut kembali dan mempertahankan daerah-daerah itu begitu musuh telah mundur. Salan sebenarnya telah bertugas sebagai komandan tertinggi sejak tanggal 20 November, karena de Lattre telah kembali ke Prancis untuk menjalani operasi kanker. Operasi Violette yang kemudian dilancarkan oleh karena itu dapat disebut sebagai operasi ofensif. Dari tanggal 7 hingga 9 Januari, pasukan Prancis akan terus berusaha untuk menghancurkan pasukan Vietminh yang membuat pertahanan di lereng Ba Vi, sementara garnisun di Rocher Notre-Dame, Bukit 30, Xom Bu dan Ap Da Chong ditarik mundur diam-diam. Sektor Sungai Hitam dengan basis-basis yang tersisa kemudian akan ditata ulang dan ditempatkan di bawah kendali sektor Son Tay.

Pasukan Prancis di tengah pertempuran Hoa Binh. (Sumber: http://foreignlegion.info/)

Pada tanggal 7 Januari, sementara BEP ke-1 dan ke-2, BPC ke-5, dan Tirailleur Aljazair ke-4/7 mengamankan jalan antara hutan Ba Trai dan Gunung Ba Vi, Tirailleurs Maroko 2/1 dan 2/6, Tirailleurs 2/1 Aljazair dan BPVN 1 pimpinan Mayor Rieu menyerang pasukan Vietminh yang bertahan di Ba Vi. Menjelang malam tanggal 7 Januari, garnisun Rocher Notre-Dame dan Hill 30 telah berkumpul kembali di Yen Cu. Pada 8 Januari, garnisun Xom Bu dan Ap Da Chong bergabung dengan mereka. Pada 9 Januari, pasukan pelindung ditarik, dan pada tanggal 10 Januari operasi dinyatakan sukses. Namun, banyak letnan dan kapten yang bertempur dalam kampanye itu melihatnya secara berbeda. Mereka telah memenangkan setiap pertempuran, tetapi itu semua hanya karena mereka mampu menarik diri atau memposisikan ulang untuk menghindari korban yang lebih besar. Sekarang Sungai Hitam tidak lagi menjadi pilihan untuk dapat memperkuat Hoa Binh. Intinya, Prancis telah meninggalkan semua pos di sepanjang sungai yang mengalir antara Xom Pheo dan Dan The. Berita tentang kematian Jenderal de Lattre de Tassigny di rumah sakit militer Neuilly di Perancis pada tanggal 11 Januari hanya memperdalam perasaan sedih mereka. Setelah kemenangannya di sepanjang hulu Sungai Hitam, Giap mengalihkan perhatiannya ke Rute Kolonial 6 dan meyakini bahwa Hoa Binh akan jatuh sebelum Tahun Baru Imlek. Baik Hoa Binh maupun Route 6 tidak tenang selama pertempuran di Sungai Hitam, tetapi aksi di Vietminh hanya terbatas pada serangan yang mengganggu terhadap garnisun yang terisolasi dan penyergapan terhadap konvoi-konvoi Prancis. Hal ini berubah pada bulan Januari 1952, ketika Divisi 312 dikerahkan kembali ke Rute Kolonial 6 dan Giap mengirim bala bantuan baru untuk melengkapi kembali personel Divisi ke-304 dan 308. 

TARIK ULUR DAN PENARIKAN MUNDUR PASUKAN PRANCIS

Rute Kolonial 6 diawali dari Hanoi menuju ke barat, tempat perjalanan masih aman sampai mencapai Xuan Mai. Dari Xuan Mai jalan melintasi dataran tinggi berhutan lebat bersilangan dengan banyak jurang curam yang dipotong oleh aliran sungai sampai tepat di sebelah barat Mo Thon, di mana ia memotong melalui bukit batu kapur yang diisi dengan lembah tidak beraturan dan tebing yang curam. Dari Dong Ben, Rute 6 memotong melalui lembah-lembah sempit yang didominasi oleh sisi-sisi curam yang ditutupi dengan vegetasi lebat, hingga muncul untuk berjalan paralel dengan Sungai Hitam antara Xom Pheo dan Ben Ngoc. Di Ben Ngoc, konvoi diangkut dengan kapal ferry melintasi Sungai Hitam ke Hoa Binh. Sektor Rute Kolonial 6 memiliki markas pusat di Ao Trach. Elemen-elemen dari Batalion ke-3, Tirailleurs Maroko ke-1 (RTM 3/1), Batalion ke-3, 13th Foreign Legion Demi-Brigade (DBLE ke-3 / ke-13), Tabor ke-1, Batalyon Parasut Kolonial ke-8 (BPC ke-8), dan Commando 19 menempati pos-pos yang tersebar di seluruh sektor, sementara cadangan mobile yang terdiri dari Resimen Kavaleri Kolonial Pertama (1st RCC), Resimen Spahi ke-8 Aljazair (RSA ke-8), dan satu peleton pembawa senjata otomatis dari Resimen Infanteri Kolonial Maroko (RICM) kerap berpindah antara pos-pos tersebut. Setelah menguasai Hoa Binh, patroli Prancis terus memperluas kehadiran mereka di seluruh daerah Suku Muong. Dengan berkonsentrasi pada sektor Sungai Hitam, Giap membiarkan pihak Prancis memiliki ilusi bahwa mereka bebas bergerak, yang kadang-kadang disergap oleh pasukan lokal atau regional Vietminh. Pada tanggal 2 Desember, konvoi amunisi 40 truk disergap di dekat Dong Ben. Pasukan Prancis berhasil mengusir penyerang mereka, tetapi mereka kehilangan setengah dari konvoi. Hal yang sama terjadi pada tanggal 7 Desember, ketika sebuah kompi disergap di Lang Mo. 20 mayat Vietminh ditemukan. Namun pada tanggal 13 Desember, sebuah kompi dari BPC ke-2 dihantam dengan keras, dan kehilangan delapan personel pasukan payung yang tewas, 19 luka-luka dan dua hilang dalam pertempuran. Sebuah konvoi kendaraan diserang di sebelah barat Ao Trach pada 15 Desember, tetapi sekali lagi orang-orang Vietminh itu berhasil dipukul mundur. Penyergapan di sungai tanggal 22 Desember dekat Lac Son di sektor Rute Kolonial 6 di sepanjang Sungai Hitam terbukti sama seriusnya. Angkatan Laut kehilangan sebuah kapal pendarat lapis baja dan tiga kapal patroli. 

Konvoi Prancis di jalur antara Hoa Binh ke Long Phu Long. Konvoi semacam ini aman rawan sergapan dari pasukan Vietminh di sepanjang rute yang mereka lewati. (Sumber: https://www.flickr.com/)

Pada akhir Desember, pihak Intelijen Prancis mencatat adanya tanda-tanda meningkatnya personel Vietminh reguler di daerah tersebut. Resimen ke-66 diidentifikasi ada di sebelah utara Rute 6, dengan Resimen ke-9 di sebelah timur. Kemudian berbagai elemen dari divisi ke-308 dan 312 ditempatkan sepanjang rute 6. Pada tanggal 30 Desember, pos di Trung Du diserang di tengah malam. Setelah pertempuran malam yang panjang, Resimen ke-9 menarik diri, meninggalkan 160 mayat di kawat berduri dengan korban empat tentara Prancis terbunuh dan 31 terluka. Kemudian pada tanggal 7 Januari, Divisi ke-308 mengirimkan empat batalionnya melawan DBLE 3/13 di Xom Pheo sementara serangan pengalihan dijalankan terhadap Trung Du, Dong Ben dan An Lap. Pertempuran berlangsung dari tengah malam hingga pukul 06.00 pagi berikutnya. Pasukan Legionnaires di Xom Pheo menghitung lebih dari 800 orang Vietminh tewas di depan posisi mereka. Pada malam yang sama, para penyusup Vietminh menginfiltrasi pertahanan di Hoa Binh untuk menghancurkan dua buah meriam howitzer kaliber 105mm, mendorong diterjunkannya pasukan payung dari satuan BPC ke-2 untuk memperkuat kamp pada tanggal 8 Januari. Tidak seperti penerjunan sebelumnya, pesawat-pesawat transport berhadapan dengan tembakan anti-pesawat di baik di Hoa Binh dan maupun di Xom Pheo, di mana penerjunan pasokan terjadi. Delapan pesawat tertembak dan empat diantaranya jatuh. Hoa Binh tampak seperti benteng yang terkepung. Pada tanggal 8 Januari, orang-orang Vietminh mengancam posisi para legiuner di Xom Pheo dan menyerang Dong Ben. Mereka berhasil diusir kembali, tetapi pada tanggal 9 Januari pasukan utama Vietminh telah menggali pertahanan di ketinggian yang menghadap Kem Pass dan rute-rute yang mengarah dari Ao Trach. Pada malam hari tanggal 9 Januari, Divisi ke-304 dan Resimen ke-88 dari Divisi ke-308 meluncurkan serangan terhadap semua pos Prancis di sektor dan kemudian mundur untuk memotong jalan. Pada tanggal 11 Januari, Rute Kolonial 6 telah ditutup. Prancis kembali mengandalkan pasokan udara, sementara bala bantuan ditarik dari daerah lain untuk mengusir Divisi-divisi Giap dari Rute Kolonial 6. Dengan kematian de Lattre (dia secara anumerta dinaikkan pangkatnya menjadi marshal Perancis) dan pengangkatan Salan menjadi panglima tertinggi, tanggung jawab untuk kampanye Hoa Binh sekarang terletak pada Jenderal Gonzales de Linares, seorang prajurit tua yang dihormati oleh para perwira junior dan NCO Korps Ekspedisi Prancis. Mengingat keterbatasan kekuatan yang tersedia baginya dan adanya kebutuhan di tempat lain, de Linares hanya bisa melihat satu cara untuk merebut kembali Rute Kolonial 6, dan itu adalah dengan maju sedikit demi sedikit, dari timur ke barat, membersihkan setiap subsektor saat ia bergerak maju. 

Peta serangan Vietminh atas pertahanan Prancis di Xom Pheo. (Sumber: Street Without Joy: From the Indo-China war to the war in VIET-NAM)

Fase Satu, pembukaan jalan antara Xuan Mai dan Ao Trach, dimulai pada tanggal 10 Januari 1952, dengan mengumpulkan BEP 1 dan 2 dan 2/1 RTM di Xuan Mai. Sementara itu Pasukan Vietminh terdiri dari unsur-unsur resimen ke-9 dan ke-57 di sebelah barat dan timur Kem Pass, dengan kemungkinan perkuatan dari unsur-unsur Divisi ke-308. Pada tanggal 11 Januari, di bawah Kolonel de Rocquigny, satuan tugas ini telah membersihkan sejauh Mo Thon dengan bantuan pasukan dari sektor Chuc Son. Dari Mo Thon, de Rocquigny memerintahkan BEP ke-1 untuk bergerak ke wilayah Suc Sich sementara BEP ke-2 bergerak menuju Hill 202 dan 2/1 Maroko maju di sepanjang Rute 6. Vegetasi yang tebal mencegah BEP ke-2 maju sesuai jadwal, tetapi 1 BEP berhasil membersihkan sisi utara jalan, memungkinkan satuan 2/1 Maroko untuk mencapai Bukit 54 pada pukul 1730 tanpa menghadapi perlawanan musuh yang serius. Sementara kelompok de Rocquigny bergerak ke barat, dua kompi dari BPC ke-8 dan kompi dari 3/1 Maroko bergerak ke timur untuk bergabung dengan mereka dari Ao Thach. Ketika mereka bergerak melalui Kem Pass, mereka dihantam oleh Resimen ke-57 dan diusir kembali dengan menderita korban 25 tewas dan 25 terluka. De Rocquigny kemudian diperkuat dengan satuan Para Kolonial ke-7 (BPC ke-7) dan Baterai ke-2, Artileri ke-64, di Xuan Mai sementara BEP ke-1 menggali  pertahanan di ketinggian sebelah utara Mo Son, 2/1 Maroko di Suc Sich dan 2 BEP di Mo Thon dan Hillock 125. Pada tanggal 12 Januari, ketika gugus tugas de Rocqigny membersihkan kedua sisi jalan dari Bai Lang dan Grup B yang baru dibentuk (Batalion Maroko ke-3/1, BEP ke-2 dan Komando 5 dan 7) memberikan perlindungan di sepanjang rute dari Mo Thon ke Bukit 54, BPC ke-7 bertemu dengan dua batalion Vietminh di Bukit 202. Setelah pertempuran sengit, mereka dipaksa untuk menggali pertahanan malam itu. Ketika kegelapan turun, mereka diserang dengan serangan berat di sisi barat dan selatan mereka. Terlepas dari keputusasaan situasi yang tampak, korban yang diderita ringan. Para penerjun payung kehilangan dua orang tewas dan 11 lainnya luka-luka sementara 119 personel Vietminh tewas di medan perang. Pada 13 Januari, BEP ke-2 memperkuat BPC ke-7 di Hill 202, sementara elemen mobile Prancis bergerak maju di sepanjang jalan menuju Ao Trach. Dengan bagian jalan ini berhasil dibersihkan, de Rocquigny menyerahkan kendali atas BEP ke-1 ke 2nd Armored Subgroup untuk mengawasi subsektor di Ao Trach. Bagian terpanjang dari jalan sekarang telah dibersihkan, tetapi medan yang paling berat ada di depan. Membersihkan pasukan Vietminh yang bertahan di antara Dong Ben dan Xom Pheo membutuhkan beberapa tahap untuk menyelesaikannya. Langkah pertama adalah membangun kembali komunikasi di jalan antara Ao Trach dan Xom Pheo dengan mengendalikan ketinggian di depresi Dong Ben, Hillock 4 dan tebing batu yang dikenal sebagai Quarry Heights, semua dipertahankan dengan kuat oleh pasukan Vietminh. Antara tanggal 14 dan 17 Januari, Kolonel Gilles mereorganisasi pertahanan sektornya untuk melepaskan lebih banyak unitnya untuk melakukan operasi mobile. Mobile Group 1, yang sekarang dipimpin oleh Kolonel de Castries, akan mengamankan jalan antara Xuan Mai dan Bai Lang, pasukan terjun payung pimpinan de Rocquigny mengamankan antara Bai Lang dan Kem Pass, dan pasukan sektor Rute 6 mengamankan antara Kem Pass dan Ao Trach. 

Kolonel de Castries, komandan Mobile Group 1 di kampanye militer di Hoa Binh. Pada tahun 1954, de Castries kemudian akan dikenal sebagai komandan pasukan Prancis yang menyerah di Dien Bien Phu. (Sumber: https://alchetron.com/)

Pada tanggal 18 Januari, serangan oleh BEP ke-1, BPC ke-8, batalyon Maroko ke-2 / ke-1, sebuah kompi (Goum) dari Tabor ke-1, dan Kompi zeni ke-19 dihentikan total di hillock 4. Ketika BEP ke-1 bergerak maju di sayap kanan, mereka diserang dengan keras oleh Vietminh, mereka kehilangan 15 orang tewas, 2 hilang dan 48 luka-luka. Goum ke-60 dari Tabor ke-1 mencoba untuk memperkuat legiuner tetapi ditembaki di bawah tebing kapur sedangkan BPC ke-8 bertempur melawan pasukan Viet Minh yang besar di Dong Giang di sisi kiri garis depan pasukan Prancis. Dalam menghadapi meningkatnya jumlah korban, de Rocquigny memerintahkan semua unit untuk mundur dan menggali pertahanan. Dua hari kemudian, dengan diperkuat oleh BPC ke-7 dan tembakan artileri besar-besaran, ia memperbarui serangannya. BPC ke-7 berhasil merebut sasaran pukul 1340. Perhatian Prancis sekarang beralih ke Quarry Heights dan Ba Xet spur, yang mengawasi dataran Dong Ben. Di sini mereka berharap dapat menarik pasukan Vietminh ke dalam serangkaian serangan untuk melemahkan pasukan mereka. Pada tanggal 21 Januari, Prancis dengan telah membuat posisi yang kuat antara Ao Trach dan hillock 4, dan pada 22 Januari, mengirimkan BPC ke-8, yang diperkuat oleh satu pleton tank Chaffee, untuk memancing pasukan Vietminh untuk menyerang. Vietminh bertahan terhadap serangan satgas BPC ke-8 di sebelah timur Quarry Heights, memberikan satuan artileri dan dukungan udara jarak dekat Prancis kesempatan untuk menimbulkan korban besar. Setelah itu, gugus tugas mundur ke Ao Trach. 

Meski kerap menelan korban jauh lebih besar, namun prajurit Vietminh tidak pernah gentar untuk senantiasa menyerang posisi-posisi kuat pasukan Prancis. (Sumber: https://www.amazon.es/)

Pada tanggal 23 Januari, Kolonel de Rocquigny mengatur ulang pasukannya untuk menyusun kembali unit-unit mobile nyq. 2/1st Moroccan Tirailleurs menggantikan pasukan terjun payung, yang kemudian bersiap untuk melakukan serangan ke wilayah Quarry Heights untuk menyapu pasukan musuh dari daerah itu dan membangun sebuah pos terdepan. Pada pagi hari tanggal 24 Januari, pasukan payung meluncurkan serangan mereka. Paratroop Kolonial ke-7 dan ke-8 maju di kedua sisi Rute Kolonial 6 sementara personel legiun dari BEP ke-1 berjalan di sepanjang jalan itu sendiri. Pada pukul 1400, ketika BEP mendekati Jembatan 15, Resimen ke-66 Vietminh menghantam BEP 1 dengan serangan cepat. Para Legiuner dan pasukan reguler Vietminh segera bertarung dalam pertempuran jarak dekat, membatasi tembakan artileri Prancis ke satuan bala bantuan Vietminh yang bergerak dari utara dan barat daya. Serangan Resimen ke-66 berhasil dipukul mundur, tetapi mereka tetap sangat kuat membangun jaringan pertahanan di Quarry Heights. Ketika menjadi jelas bahwa dia tidak bisa merebut Quarry Heights sebelum malam tiba, de Rocquigny memilih untuk menarik pasukannya kembali sementara korban masih ringan dan bersiap untuk melakukan serangan balik. Dia telah kehilangan sekitar lima orang yang terbunuh dan 33 luka-luka untuk sekitar 800 korban di pihak Vietminh. Kolonel Gilles, yang memimpin sektor itu, memerintahkan pasukannya sendiri untuk memberikan pertolongan di tempat bersama dengan pasukan payung de Rocquigny ketika ia juga menerima Mobile Group 1 dan Tirailleurs Aljazair 2/1 sebagai bala bantuan untuk melakukan serangan skala besar guna merebut dan mempertahankan area di sekitar Quarry Heights. Operation Melinite, pada tanggal 28 dan 29 Januari, berhasil melakukan hal itu. Batalion 2/1 Aljazair merebut Quarry Heights, sementara RTA 4/7 mencapai Ba Xet. Tidak lama kemudian RTA ke-4/7 dipukul mundur oleh serangan balik Vietminh yang gigih, tetapi Batalion Aljazair 2/1 bertahan di Quarry Heights meskipun menghadapi serangan dari sebuah batalion asal Resimen ke-9 Vietminh. Penguasaan atas Quarry Heights seharusnya memberikan keunggulan taktis kepada pihak Prancis dalam mengendalikan Rute Kolonial 6. Tetapi sementara para personel zeni dan infanteri Prancis mulai bekerja membersihkan pohon dan menyapu dari kedua sisi jalan raya, Giap memposisikan pasukannya untuk melakukan serangkaian serangan baru terhadap posisi Prancis. Pada tanggal 30 Januari 1952, Vietminh kembali melakukan ofensif di seluruh sektor Rute Kolonial 6. Pertempuran yang terberat ada di Suc Sich, di mana dua batalion Vietminh mencoba menyerbu Kompi ke-16 dari satuan Paratroop Kolonial ke-8. Dengan korban empat pasukan terjun payung yang terbunuh dan 17 luka-luka, pasukan para membunuh 101 Viet Minh dan menangkap 14 lainnya sebelum mengusir sisanya. Sekali lagi, artileri Prancis dan dukungan serangan udara jarak dekat terbukti sangat penting. 

KESIMPULAN

Meskipun Prancis sekarang berhasil mengontrol Rute Kolonial 6 dan masih menguasai Hoa Binh, Salan akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa hal itu sia-sia. Sementara Sungai Hitam secara umum masih dikuasai Perancis, namun konvoi perairan tidak bisa lagi menggunakannya, dan butuh waktu 20 hari untuk bisa membuka 40 kilometer ruas jalan dari Rute Kolonial 6. Lebih buruk lagi, ongkos untuk menjaga agar jalan tetap terbuka jauh lebih mahal daripada nilai jalan itu sendiri. Kontrol Prancis sejati hanya diperpanjang dari Hanoi hingga Xuan Mai. Dari Don Goi barat ke Hoa Binh, pos-pos Prancis membentuk serangkaian pertahanan terisolasi di wilayah yang tidak bersahabat. Sementara Vietminh tidak bisa bergerak bebas melewati jalan yang dikontrol Prancis, mereka masih bisa bergerak di sekitar mereka, dan penguasaan atas posisi itu telah mengikat lebih dari 20.000 personel di pihak Prancis. Seandainya tentara lokal Vietnam berkembang lebih awal, Salan mungkin memiliki tenaga yang dia butuhkan. Tetapi dengan keadaan tentara yang masih muda pada tahun 1952, ia harus bergantung pada legiuner, pasukan payung, infanteri kolonial, dan satuan asal Afrika Utara. Semua ini untuk menjaga agar jalur komunikasi tetap terbuka. Rute Kolonial 4 telah menunjukkan bahaya dari situasi itu, dan Salan membutuhkan pasukan elitnya untuk mempertahankan Delta Tonkin. Ketika Intelijen Prancis melaporkan pada pertengahan Januari bahwa Giap untuk sementara menarik divisi 304, 308, dan 312 untuk menjalani istirahat dan melakukan perkuatan kembali sebelum melakukan ofensif terhadap Hoa Binh dan bahwa divisi ke-316 dan 320 mulai menyusup ke delta Sungai Merah, Salan memutuskan untuk mengurangi kerugiannya dan melakukan penarikan mundur pasukannya. Pada tanggal 5 Februari 1952, dia memerintahkan stafnya untuk menyiapkan rencana evakuasi Hoa Binh, yang diselesaikan antara tanggal 14 dan 25 Februari 1952. 

Pasukan Prancis mundur dari Hoa Binh. Setelah menimbang untung ruginya, akhirnya pasukan Prancis memutuskan mundur dari Hoa Binh dan fokus untuk memperkuat pertahanan di Delta Sungai Merah. (Sumber: http://www.tac-team.dk/)

Operasi evakuasi di Hoa Binh diberi nama “Operasi Amaranth” yang melibatkan 3 tahap penarikan mundur di sepanjang jalur Rute 6 dan Sungai Hitam. Pada tanggal 22 Februari 1952 pukul 1900, dengan berbagai jenis kapal, Pasukan Prancis menyeberangkan lebih dari 200 truk bermuatan amunisi, peralatan dan makanan. Sementara itu 600 porter membawa perbekalan untuk pasukan tempur, dan ribuan warga sipil Suku Muong. Pada pukul 0600, keesokan harinya, pasukan tempur mulai menyeberangi Sungai Hitam dan mundur ke Xom Pheo dengan dilindungi oleh artileri dan pesawat-pesawat pembom tempur. Lebih dari 30.000 peluru artileri ditembakkan ke posisi-posisi yang diduga diduduki oleh musuh antara tanggal 22-24. Nampaknya pihak Vietminh tidak mengantisipasi hal ini, reaksi mereka baru muncul belakangan. Mulai saat itu gerak mundur pasukan Prancis berubah menjadi pertempuran berkelanjutan dimana setiap unit mempertahankan pos mereka hingga saat-saat terakhir untuk memungkinkan rekan-rekan mereka mundur ke pos berikitnya. Hal yang sama juga terjadi di sepanjang perlintasan Sungai Hitam. Akhirnya pada tanggal 25 Februari 1952, elemen terakhir dari Brigade ke-13 Legiun Asing Prancis melintasi Sungai Hitam, untuk kemudian memperkuat garis pertahanan di Xuan-Mai, Delta Sungai Merah. Pada umumnya, selama proses evakuasi, terdapat kondisi tipikal seperti satu kompi dihancurkan disini, sebuah batalion dihantam disana, sementara sebuah konvoi truk dihancurkan dalam serangan di tempat lainnya.

Beratnya medan dan sergapan Vietminh senantiasa membuat proses evakuasi pasukan Prancis dalam Perang Indochina I memakan banyak korban besar. (Sumber: https://imgur.com/)

Dari tanggal 10 November 1951, hingga 25 Februari 1952, kampanye militer di Hoa Binh telah memakan korban pasukan Perancis sebanyak 436 tewas, 458 hilang dalam tugas, dan 2.060 terluka. Sedangkan Vietminh kehilangan 3.455 orang terbunuh, 307 ditawan dan lebih dari 7.000 terluka. Kedua belah pihak akan kehilangan lebih banyak korban dalam pertempuran selanjutnya, tetapi Hoa Binh adalah salah satu pertempuran sia-sia dalam Perang Indocina Pertama. Seperti komandan Amerika yang datang setelah mereka, Prancis telah melakukan serangkaian aksi militer yang pencapaiannya kurang lebih sesuai seperti rencana. Namun Hoa Binh tetaplah sebuah “kekalahan”. Prancis telah berangkat untuk menyerang, tetapi pada akhirnya dipaksa bertahan. Mereka berniat untuk menarik pasukan Vietminh ke dalam pertempuran sesuai dengan persyaratan mereka, namun akhirnya Prancis harus melawan Vietminh dengan cara-cara musuhnya. Meskipun ada banyak korban, Vietminh tetap kembali pada posisi. Keberhasilan taktis Prancis juga sedikit banyak karena dukungan serangan udara jarak dekat yang mereka miliki. Bahkan cuaca, meskipun terkadang terbatas, pada umumnya menguntungkan pasukan Uni Prancis. Pelajaran itu jelas ada di sana untuk bisa dilihat semua orang. Jika saja cuaca berubah menjadi buruk, dan jika Prancis bergerak di luar garis batas kemampuan satuan udaranya, maka pasukan Vietminh akan dapat mengatasi keunggulan Prancis dalam hal fleksibilitas, koordinasi dan sarana dukungan tembakan mereka. Baik Salan dan Giap, serta staf mereka, harus memperhatikan hal ini. Salan, pada akhirnya, kembali mengusir unit-unit Vietminh di delta Sungai Merah dan melakukan kampanye serupa di Na San. Giap kemudian merespons, tetapi Salan cukup bijaksana untuk lebih dahulu mundur sebelum cuaca berbalik merugikannya. Tetapi kemudian Salan dan stafnya akan meninggalkan Indocina, untuk digantikan oleh Jenderal Henri Navarre dan personel-personel baru, yang banyak dari mereka belum mempelajari pelajaran dari Kampanye di Hoa Binh. Memang, pada saat menyinggung pertempuran Dien Bien Phu, sebagian besar komandan dan staf yang benar-benar mengingat pelajaran di Hoa Binh semuanya ada di pihak Vietminh!

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

The Hoa Binh Campaign by Lt. Col. Darragh and and was originally published in the October 1998 issue of Vietnam magazine.

Street Without Joy: From the Indo-China war to the war in VIET-NAM by Bernard B Fall, 1961 chapter I “Set Piece Battle-I” page 47-60

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Battle_of_H%C3%B2a_B%C3%ACnh

8 thoughts on “Pertempuran Hoa Binh (10 November 1951-25 Februari 1952): Adu Kuat Prancis vs Vietminh memperebutkan Rute Kolonial 6

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *