Pertempuran Imphal (8 Maret – 3 Juli 1944): Pertarungan Menentukan Melawan Jepang Di Gerbang India

Menjelang akhir tahun 1943, dengan arah perang telah berbalik melawan Jepang di udara, di laut, dan di pulau-pulau Pasifik, para perencana perang di Imperial GHQ Tokyo mencari sesuatu yang akan memberi Jepang kemenangan yang spektakuler. Mereka lalu menemukannya dalam rencana yang diajukan oleh Letnan Jenderal Renya Mutaguchi (1888-1966), “pemenang Pertempuran Singapura” dan komandan Angkatan Darat ke-15 di Burma, serta veteran perang di medan China. Rencana itu adalah serangan terhadap posisi Inggris di timur laut India. Sementara itu setelah pulih dari gerak mundur mereka sejauh 900 mil dari Rangoon ke perbatasan timur laut India pada paruh pertama tahun 1942, Inggris telah membangun pasukan mereka di sebelah barat Sungai Chindwin di negara bagian Manipur, India untuk melakukan serangan balik dan merebut kembali Burma. Dalam persiapannya, ribuan pekerja India telah dikirim ke Dataran Imphal seluas 600 mil persegi, dari mana serangan akan dilancarkan, untuk membangun jalan, lapangan terbang, rumah sakit, dan bengkel. Sejumlah besar senjata, amunisi, dan bahan makanan transportasi serta segala macam perbekalan juga telah ditimbun. Jenderal Mutaguchi, menyadari apa yang sedang terjadi, berencana untuk mencegah serangan balasan Inggris dengan serangannya sendiri. Dia berencana akan meluncurkan Angkatan Darat ke-15nya di seberang Chindwin untuk merebut semua jalur transportasi, senjata, dan perbekalan yang dia butuhkan dari Inggris. Setelah berhasil, dia kemudian akan maju lebih jauh ke India di mana, dengan bantuan sebuah divisi dari Tentara Nasional India (INA), dia akan memicu pemberontakan rakyat India melawan raja Inggris. Imperial GHQ menyetujui rencana tersebut dan memberinya nama kode U-Go. Selain itu, GHQ menyetujui serangan pengalihan terhadap Inggris di wilayah pesisir Arakan di selatan Imphal. Dengan nama kode Ha-Go, serangan ini akan terjadi sebelum U-Go dan bermaksud untuk menarik pasukan cadangan Inggris ke Arakan dan menjauh dari posisi penyeberangan Mutaguchi di Chindwin.

Letnan Jenderal Renya Mutaguchi, Komandan Divisi Infanteri ke-18 Jepang yang mendarat di Kota Bahru pada tanggal 8 Desember 1941. Di sini terlihat bersama seorang wartawan militer di Burma ketika Letjen Mutaguchi kemudian dipromosikan menjadi komando Angkatan Darat ke-15 IJA. (Sumber: S.L.Mayer “The Japanese War Machine.”/https://id.pinterest.com/)
Letnan Jenderal William “Bill” Slim (1891-1970), Komandan Angkatan Darat ke-14 Inggris di Medan Burma-India. (Sumber: https://collection.nam.ac.uk/)
Admiral Lord Louis Mountbatten (kedua kiri) dengan perwira militer seniornya di Burma, Februari 1944. (Sumber: https://www.nam.ac.uk/)

Di sebelah barat Chindwin, komandan Angkatan Darat ke-14 Inggris, Letnan Jenderal William “Bill” Slim (1891-1970), menyadari bahwa serangan Jepang akan datang. Dia tahu dari sinyal yang disadap bahwa Tentara Jepang di Burma kekurangan perbekalan, dan dengan informasi adanya perbekalan di Dataran Imphal menyiratkan bahwa, dalam serangan apa pun, tujuannya adalah merebut instalasi administratif dan timbunan perbekalannya. Karena informasi yang dikumpulkan oleh agen-agen di Burma, pengawasan udara, dan patroli, dia mampu memprediksi sebagian besar gerakan ofensif Jepang. Oleh karena itu Slim memutuskan untuk tidak melakukan serangan balasan ke wilayah Burma, dan memilih untuk menunggu serangan Jepang dan bertempur dalam pertempuran yang menentukan di Dataran Imphal. Di sana dia akan memiliki perbekalan yang selalu tersedia, ditambah ruang untuk menggunakan keunggulannya dalam hal satuan lapis baja dan pesawat terbang. Sebaliknya, orang Jepang, yang berada di ujung jalur pasokan mereka yang panjang dan bertempur di wilayah musuh, tidak akan memiliki keuntungan seperti itu. Sikap Slim ini sejalan dengan dengan keputusan Admiral Mountbatten. Sebelumnya pada bulan November 1943, fase baru perang di Timur Jauh telah dimulai dengan pembentukan Komando Asia Tenggara (SEAC) di bawah pimpinan Laksamana Lord Louis Mountbatten. SEAC menggantikan Komando India yang mengendalikan operasi militer di wilayah itu. Di bawah kepemimpinannya, jalannya strategi perang di pihak Inggris memiliki energi dan arah yang baru. Sebelumnya, pasukan Inggris selalu memilih mundur ketika tentara Jepang berhasil memutus jalur komunikasi mereka, dan operasi militer mereka praktis terhenti selama musim hujan. Sekarang, kebijakan yang digariskan Mountbatten adalah agar pasukan persemakmuran Inggris tetap bertahan teguh saat diserang dan bergantung pada pasokan udara ketika dikepung, serta siap berjuang di tengah kondisi yang paling keras. Sementara itu di Arakan, Operasi Ha-Go menjadi kejutan bagi dua divisi Inggris di front itu, yakni Divisi India ke-5 dan ke-7. Dini hari pada tanggal 4 Februari 1944, Divisi ke-55 pimpinan Letnan Jenderal Tadashi Hanaya, yang dipelopori oleh 6.000 pasukan elit dari Grup Infanteri divisi, menyerang Divisi India ke-7 dekat ujung timur Celah Ngakyedauk. Rencana Hanaya adalah untuk mengepung divisi ke-7, mengisolasinya dari yang divisi ke-5 dan memusnahkannya, lalu melanjutkan untuk memusnahkan yang divisi ke-5 sendiri. Namun, tujuan pertamanya adalah merebut “Admin Box” beserta perbekalan dan amunisinya yang penting, yang terletak lima mil di utara Celah Ngakyedauk di Sinzweya. 

“ADMIN BOX” 

Admin Box sendiri berada pada wilayah sawah kering seluas setengah mil persegi dengan bukit di tengah setinggi sekitar 150 kaki, dikelilingi kawat dan ranjau, dengan semak, hutan, dan perbukitan. Pada pagi hari penyerangan, satu-satunya pasukan tempur di Box adalah Batalyon ke-2, Resimen Yorkshire Barat (hampir sebagian besar brigade di Divisi India memiliki setidaknya satu batalion pasukan Inggris), satu batalion Gurkha, dan dua skuadron tank dari unit Dragoons ke-25. Ada juga enam baterai meriam dari berbagai kaliber. Mayoritas dari 8.000 prajurit di dalam Box adalah pekerja India, pegawai administrasi, dan lainnya yang disebut “odds and sods” yang ditugaskan untuk menjaga perbekalan. Serangan terhadap Box dimulai dengan pemboman tak terduga dari senjata artileri yang ditembakkan dari hutan dan bukit sekitarnya. Segera setelah pemboman, infanteri Jepang melancarkan serangan yang fanatik. Jalinan kawat berduri dan ranjau memperlambat penyerangan Jepang, sementara personel “odds and sods” menyambar senjata apa pun yang bisa mereka gunakan untuk bergabung dengan prajurit West Yorkshires dan Gurkha di perimeter pertahanan. Artileri, juga, dengan cepat beraksi, menembak sasaran di tempat terbuka. 

Peta Pertempuran di Admin Box. (Sumber: https://weaponsandwarfare.com/)
Pasukan Sikh dari Divisi Infanteri India ke-7 menjaga pos pengamatan di daerah Ngakyedauk Pass di Arakan, Burma, Februari 1944. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

Serangan itu akhirnya bisa dihentikan dan Tentara Jepang dihalau kembali ke hutan. Taktik pengeboman artileri yang kemudian diikuti dengan serangan frontal ini berlanjut selama 14 hari siang dan malam berikutnya. Beberapa serangan yang berhasil menembus masuk ke dalam Box, mengakibatkan pertarungan tangan kosong. Pada suatu kesempatan, ratusan tentara Jepang yang berteriak menembus Box dan menyerang menuju rumah sakit dimana mereka membantai mereka yang sakit dan terluka. Mereka menggunakan staf rumah sakit dan pasien luka-luka yang masih bisa berjalan sebagai tameng manusia, kemudian menembak mereka dan melanjutkan pertempuran. Para dokter dipaksa untuk merawat orang Jepang yang terluka dan kemudian ditembak. Akhirnya semua orang Jepang yang menyusup ke dalam Box terbunuh, banyak dengan bayonet dan ‘kukris’ Gurkha (pisau kecil berbentuk melengkung yang diasah di bagian dalam dan digunakan dengan efek yang mematikan oleh tentara Nepal yang tangguh). Tidak ada bagian dari Box yang aman dari tembakan langsung atau tidak langsung. Yang terluka, terbaring di tandu atau menunggu perawatan, sering mendapat luka-luka lagi. Pada malam tanggal 9/10 Februari, sebuah peluru Jepang meledakkan di tempat penyimpanan amunisi utama. Yang kemudian meledak dengan cara spektakuler, cahayanya begitu kuat hingga mengungkapkan banyak posisi artileri Jepang. Senjata-senjata ini lalu dengan cepat menjadi sasaran dan dilumpuhkan dengan tembakan artileri balasan. Pada tanggal 18 Februari, tentara Jepang mulai menghilang ketika bala bantuan Inggris, dari Divisi ke-26 dan 36, mulai bergerak masuk.

OPERASI HA-GO SUDAH TERLAMBAT DARI JADWAL

Pada saat itu Operasi Ha-Go sudah sangat terlambat dari jadwal. Jenderal Hanaya, alih-alih melanjutkan serangannya ke Admin Box, seharusnya melewatinya dan mencoba merebut perbekalan di tempat lain. Saat itu, 5.000 pasukannya telah terbaring mati di dalam dan sekitar Box dengan jumlah yang tidak diketahui di hutan dan di bukit-bukit sekitarnya. Meski demikian tujuan serangan pengalihan Jepang telah tercapai — mereka berhasil menarik enam divisi cadangan Inggris ke Area Arakan. Satuan Cadangan ini berasal dari India. Di sisi lain, Jenderal Slim tetap tidak tertipu oleh tipuan Jepang dan memilih tidak menarik pasukan dari front di Sungai Chindwin. Slim berasumsi dari data intelijennya bahwa Jepang tidak akan menyeberangi Sungai Chindwin sebelum pertengahan bulan Maret, jadi pada bulan Februari dia mulai mengevakuasi ribuan personel non-tempur— warga sipil, buruh India, dan personel pangkalan. Meskipun prediksinya tentang gerakan Jepang sebagian besar terbukti benar, dia tidak mengantisipasi bahwa serangan mereka akan datang secepat itu. Bagian depan Sungai Chindwin sepanjang 200 mil dilindungi oleh Korps IV Angkatan Darat ke-14 Slim. Korps IV terdiri dari tiga divisi dan dipimpin oleh Letjen. George Scoones (1893-1975), yang bermarkas di Imphal. Imphal sendiri terdiri dari hamparan pemukiman, pasar, dan kuil berlapis emas dengan istana maharaja di bagian tengah dan bungalow Komisaris Inggris dan komunitas kecil Eropa di area pinggiran. Sebagian besar front disana hanya dilindungi oleh pos pengamatan dan patroli dengan dua divisi yang ditempatkan di sekitar dua jalan yang mengarah dari Chindwin ke Dataran Imphal.

Letnan Jenderal Tadashi Hanaya, komandan Divisi ke-55 Jepang. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)
Pasokan udara ke Divisi Afrika Barat ke-81 di Arakan, 1944. (Sumber: https://www.nam.ac.uk/)

Divisi India ke-17, dipimpin oleh Mayor Jenderal “Punch” Cowan, berada di selatan, di sekitar Tiddim pada bagian permulaan jalan yang cukup bagus sepanjang 120 mil yang mengarah ke utara ke Imphal. Jalan lain membentang ke timur dari Tiddim ke Kalewa di Chindwin. Seratus mil di sebelah timur laut Divisi India ke-17 adalah Divisi India ke-20 yang dikomandoi oleh Mayor Jenderal Douglas Gracey, yang ditempatkan antara Sittaung di Chindwin dan Tamu menuju ujung selatan Lembah Kabaw, yang menjaga satu-satunya jalan lain dari Chindwin ke Dataran Imphal. Divisi ketiga dari Korps IV, adalah Divisi India ke-23 yang dipimpin oleh Mayor Jenderal Ouvry Roberts, ditempatkan di Imphal. Pihak Intelijen Inggris percaya bahwa serangan Jepang di Chindwin akan berkonsentrasi pada dua jalan menuju Imphal. Para komandan dari Divisi India ke-17 dan ke-20 lalu diperintahkan untuk mundur ke dataran Imphal ketika arah dan kekuatan serangan Jepang berhasil dikonfirmasi, sehingga menarik pasukan Jepang maju ke dataran bersama mereka.

MUTAGUCHI MENCOBA MENYERANG JENDERAL SLIM

Di markas besarnya di Maymyo, sebuah markas di bukit 200 mil sebelah timur Chindwin, Jenderal Mutaguchi memerintahkan Operasi U-Go untuk dimulai pada malam tanggal 7/8 Maret, sekitar 10 hari sebelum tanggal yang diperkirakan Jenderal Slim. Malam itu Divisi ke-33 pimpinan Mayjen Yanagida menyeberangi Chindwin selebar 500 yard di Kalewa di bagian selatan front menggunakan kedua rakit yang penuh sesak yang ditarik di sepanjang tali yang diikat ke masing-masing tepi sungai dan titian yang bertumpu pada perahu-perahu kecil yang diayunkan arus lalu diikat ke pohon di tepi seberang. Seluruh divisi melintasi sungai tanpa terdeteksi, kemudian dibagi menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama, dipimpin oleh Mayor Jenderal Yamamoto, dengan sebagian besar persenjataan dan artileri dari Angkatan Darat ke-15, bergerak ke utara ke atas Lembah Kabaw sampai pada tanggal 11 Maret, berhasil mencapai Maw di sisi sayap dari Divisi India ke-20. Kelompok kedua, lebih jauh ke selatan, menuju Yazagyo dan Tongzang, sedangkan kelompok ketiga berpindah ke selatan dan  kemudian ke barat melewati pegunungan melalui Fort White. Separuh dari kelompok ini kemudian menuju ke Tiddim dan Tongzang dengan tujuan bergabung dengan kelompok kedua dalam memblokir setiap jalur mundur Divisi India ke-17 di sepanjang jalan Tiddim-Imphal. 

Tentara Jepang melintasi Sungai Chindwin. (Sumber: https://id.pinterest.com/)

Separuh lainnya dari kelompok ketiga ditempatkan di Milestone 100, yang tidak kelihatan di perbukitan yang tertutup hutan. Misi mereka adalah memblokir jalan antara posisi Divisi India ke-17 dan Imphal, menjaga jalan agar tetap terbuka untuk kelompok-kelompok lain dengan meninggalkan pasukan pemblokir untuk menahan Divisi ke-17 di tempatnya, dan kemudian bergerak dengan secepatnya menuju ke Imphal. Di utara titik penyeberangan Divisi ke-33, Divisi ke-15 Mutaguchi, yang dipimpin oleh Mayor Jenderal Yamauchi, menyeberangi sungai beberapa mil di utara Thaungdut pada malam tanggal 15/16 Maret. Divisi tersebut kemudian dibagi menjadi dua barisan, satu bergerak ke selatan untuk bergabung dengan kelompok pertama pimpinan Yamamoto, yang memiliki satuan lapis baja dan artileri. Misi mereka adalah menahan Divisi India ke-20 pimpinan Gracey. Kelompok lainnya kemudian akan menyusuri jalan setapak menuju perbukitan menuju Ukhrul dengan tujuan memotong jalan Kohima-Imphal di Kanglatongbi. Pada tanggal 15 Maret, Admiral Mountbatten, komandan tertinggi Pasukan Sekutu di Asia Tenggara, telah memperingatkan kepala staffnya bahwa jalan menuju Imphal terancam diputus musuh dan garnisun disana harus disuplai dengan melewati udara, dan oleh karenanya diperlukan lebih banyak pesawat. Kepala Staff Mountbatten setuju, namun sayangnya tidak ada pesawat yang dapat dikirimkan saat itu. Satu-satunya solusi adalah meminta bantuan Amerika untuk meminjamkan 20 pesawat Curtiss C-46 Commando dan 70 pesawat Dakota C-47 dari armada angkut yang biasa ke China. Meski pesawat-pesawat Curtiss Commando dapat dipakai hingga bulan Mei, namun setelah itu tidak ada lagi pesawat yang boleh dialihkan dari rute ke China. Untuk mengatasi masalah ini maka diputuskan untuk meminjam 64 pesawat Amerika dan 25 pesawat RAF dari medan Timur Tengah. Armada udara ini nantinya akan terbukti vital bagi pertahanan Imphal.

Pesawat angkut Curtiss C-46 Commando melintasi pegunungan Himalaya dalam mensuplai pasukan China Nasionalis. Untuk mendukung satuan-satuannya yang terkepung di Imphal, Inggris berupaya meminjam pesawat-pesawat angkut dari Amerika. (Sumber: http://wp.scn.ru/)

TENTARA JEPANG BERPUTAR-PUTAR SETELAH MEREBUT DEPOT INGGRIS

Pada malam yang sama Divisi ke-15 melintasi Chindwin, Divisi ke-31 Mutaguchi, yang dipimpin oleh Letnan Jenderal Kotokui Sato (1893-1959), melintasi hulu sungai antara desa Homalin dan Tamanthi. Mereka kemudian dibagi menjadi tiga kelompok untuk memungkinkan mereka bergerak melewati jalur pegunungan sempit yang hampir tidak mungkin dilewati sebelum mereka bisa mencapai Kohima. Di luar Kohima terletak jalur rel di Dimapur dengan tempat penyimpanan besar yang mengalirkan semua pasokan dan bala bantuan Inggris dari India. Wilayah antara Chindwin dan Kohima begitu sulit dilewati sehingga Jenderal Slim dan Scoones percaya bahwa serangan Jepang ke arah itu tidak dapat dilakukan dengan kekuatan lebih dari kekuatan setingkat brigade. Oleh karena itu, Dimapur tidak benar-benar dilindungi. Ketika Scoones mendengar bahwa serangan Jepang telah dimulai lebih awal dari yang dia atau Slim perkirakan dan berlangsung jauh lebih cepat dan dengan kekuatan yang lebih besar dari yang diantisipasi, dia segera memerintahkan dua komandan divisi terdepannya — Cowan dari Divisi India ke-17 di Tiddim dan Gracey dari Divisi India ke-20 di sekitar Tamu — untuk memulai penarikan pasukan mereka ke Dataran Imphal. Pada saat yang sama dia mengirim dua brigade dari Divisi India ke-23, cadangannya di jalan antara Imphal-Tiddim dengan perintah untuk tetap membuka jalan bagi Divisi ke-17. 

Letnan Jenderal Kotokui Sato, komandan Divisi ke-31 Jepang. (Sumber: https://www.armedconflicts.com/)
Gerak maju pasukan Jepang dan gerak mundur pasukan Inggris Maret-April 1944. (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/)

Cowan, saat menerima perintah tersebut, menunda satu hari untuk menunggu kembalinya beberapa unitnya yang tersebar. Saat kegelapan turun pada tanggal 14 Maret, dia akhirnya membawa Divisi ke-17 dalam perjalanan menuju Imphal. Ada sekitar 16.000 orang, 2.500 kendaraan, dan 3.500 bagal yang tersebar di sepanjang beberapa mil jalan yang melintasi hutan dan di antara bukit-bukit yang penuh dengan kemungkinan posisi penyergapan. Pada tanggal 18 Maret, Jepang merebut depot pasokan di Milestone 109 tidak jauh dari Tongzang dan pergi berpesta minum rum, bir, dan minuman keras buatan Inggris lainnya dari toko kantin dan melahap makanan asing yang mereka temukan. Kurangnya disiplin ini memungkinkan Divisi India ke-17 untuk melewati Sungai Manipur dan meledakkan jembatan di belakang mereka. Divisi India ke-17 sebagian besar terdiri dari prajurit Gurkha yang tangguh dan terlatih. Dibantu oleh tank medium Sherman dan Grant, mereka dengan cepat berhasil melewati tiga penghalang jalan Jepang dan membuat beberapa upaya penyergapan Jepang gagal. Setelah penghalang jalan keempat dihancurkan, komandan divisi Jepang, Yanagida, hampir kehabisan perbekalan dan menderita kerugian besar, menjadi sangat tertekan. Dia memberi informasi pada Mutaguchi, yang menyiratkan bahwa posisinya sudah tidak ada harapan. Mutaguchi lalu menggantinya sebagai komandan Divisi 33. Divisi India ke-17 melakukan penarikan mundur 120 mil ke Imphal, di mana banyak pertempuran terjadi — beberapa dengan didukung oleh artileri, tank, dan pesawat tempur serta pembom tempur RAF — yang berlangsung  selama tiga minggu dan memakan korban 1.700 korban personel divisi. Dua brigade dari Divisi India ke-23 dikirim untuk membantu mereka dan mengambil alih pertempuran melawan Jepang.

MEMELOPORI GERAKAN “BERPAWAI KE DELHI”

Di timur laut Divisi India ke-17, Gracey membawa Divisi India ke-20-nya bergerak ke Dataran Imphal dengan membawa semua perbekalan yang memungkinkan. Dalam bahaya dikepung dan dipotong oleh satuan Divisi ke-15 Yamauchi yang turun dari utara dan satuan Divisi ke-33 Yanagida yang berputar-putar dari selatan, Divisi India ke-20 bertempur dalam banyak pertarungan yang brutal saat mereka mundur kembali ke Palel. Pada satu titik, satu detasemen kuat pasukan Jepang mencoba mendekati jembatan penting di Sibong yang dijaga oleh Pasukan Gurkha. Detasemen itu memiliki 40 tentara, semuanya setinggi enam kaki dan bertubuh kekar, masing-masing membawa beban 100 pon bahan peledak yang dimaksudkan untuk meledakkan jembatan. Para prajurit Gurkha menghentikan mereka dengan membakar semak belukar dengan menambahkan bom mortir fosfor. Hanya satu atau dua orang dari detasemen itu yang selamat aksi Gurkha itu dengan kemudian menghilang kembali ke dalam hutan. Sementara itu, Gracey tidak berniat untuk membiarkan tentara Jepang berada dalam jarak jangkauan meriam dari Palel di mana terdapat lapangan udara penting yang menjadi tempat basis pesawat tempur RAF dan skuadron pesawat angkut. 

Letnan Jenderal Geoffry Scoones, komandan Korps IV. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)
Mayor Jenderal Douglas Gracey, Komandan Divisi India ke-20. (Sumber: https://www.quora.com/)

Jika Jepang berhasil merebut Palel dan tempat penimbunan perbekalan di dekatnya, mereka akan memiliki titik pijak awal utama untuk menyerbu Dataran Imphal. Jadi Gracey mundur perlahan, bertempur di sepanjang jalan, menuju ke Bukit Shenam 10 mil tenggara Palel. Di sana divisinya mengambil posisi di Shenam dan perbukitan yang tertutup hutan di sekitarnya, yang disebut sebagai “Saddle”. Di sepanjang melewati perbukitan terdapat jalan dan trek yang berkelok-kelok ke dataran. Di Saddle, Divisi India ke-20 akan mempertahankan diri. Mungkin yang paling berbahaya dari tiga serangan Jepang melintasi Chindwin adalah yang dari arah utara, dimana Divisi ke-31 Jenderal Sato bergerak menuju Kohima dan Dimapur. Divisi tersebut adalah salah satu yang terkuat di Angkatan Darat Jepang dengan “kekuatan bayonet” sebesar 20.000 orang. Pasukan ini berasal dari wilayah utara Jepang dan memiliki pengalaman enam tahun bertempur di China. Mereka sangat termotivasi dan agresif, untuk menjadi ujung tombak “Pawai ke Delhi”.

MEDAN BERAT MENGHAMBAT GERAK MAJU HOPE THOMPSON

Wilayah yang mereka jelajahi bagaimanapun, sangat mengerikan. Di peta jarak dari Chindwin ke Kohima adalah 74 mil, tetapi medan yang ada memaksa divisi tersebut untuk berjalan sejauh 200 mil. Mereka membawa serta senjata mereka, beberapa diseret oleh sejumlah awak, beberapa ditaruh pada hewan pengangkut, termasuk ratusan lembu yang juga akan menjadi ransum daging untuk pasukan. Meski para perwira perbekalannya menyatakan bahwa pengiriman bekal ulang bagi pasukan ekspedisi Jepang tidaklah memungkinkan karena beratnya medan, namun Mutaguchi tetap memerintahkan operasi dimulai. Mutaguchi sendiri lebih menyukai perbekalan yang bisa “berjalan sendiri”, maka dari itu pasukannya bergerak ke India sambil membawa serta hewan ternak yang mereka rampasi dari warga sipil Burma. Setiap divisi diperintahkan untuk membawa 10.000 hewan ternak mulai dari biri-biri hingga kambing dan ternak lainnya. Sementara itu, di Kohima sekumpulan pasukan dari berbagai unit — prajurit asal Assam, Resimen Burma, beberapa Gurkha dan Nepal — telah berkumpul dan menggali pertahanan. Satu-satunya pasukan Inggris lainnya di daerah itu adalah Brigade Parasut India ke-50, yang terdiri dari satu Batalyon Inggris, satu Gurkha, dan satu India. Brigade itu dipimpin oleh Brigadir “Tim” Hope-Thomson yang berusia 32 tahun, yang mengambil alih pimpinan ketika satuan ini dibentuk dua tahun sebelumnya. Batalyon asal Inggris kemudian dikirim ke Timur Tengah dan diganti dengan batalion infanteri India. Brigade yang tersebar luas sedang melakukan latihan di daerah Ukhrul dan tidak menyadari kemajuan pasukan Jepang ketika Hope-Thomson menerima peringatan bahwa pasukan Jepang yang kuat hanya berjarak beberapa mil dan datang dengan cepat. Hope-Thompson kemudian berhasil membawa sebagian besar brigade, bersama dengan dua baterai artileri gunung dan ambulans lapangan, bersama-sama ke dalam perimeter sempit di sekitar desa bukit Sangshak. 

Peta Pertempuran di Sangshak. (Sumber: https://www.cambridge.org/)

Selama penarikan mundur ke Sangshak, salah satu kompi pasukan terjun payung dikepung dan hampir disapu bersih oleh banyak tentara Jepang. Pasukan para yang tersisa, dalam upaya untuk melepaskan diri dari kepungan, melakukan serangan terakhir dan pengamat-pengamat Jepang melihat orang terakhir dari satuan itu yang masih berdiri, seorang perwira Inggris, menembak dirinya sendiri untuk mati bersama tentaranya. Hope-Thomson mengirim pesan lewat radio ke divisi dan markas korps untuk mendapat perlengkapan pertahanan, terutama kawat berduri dan ranjau, tetapi tidak menerima apa pun. Dengan tidak adanya alat untuk menggali parit di tanah berbatu dan diperintahkan untuk menahan posisi hingga orang terakhir guna mengulur waktu untuk persiapan pertahanan Kohima, Brigade Parasut India ke-50 bersiap untuk menahan serangan Jepang sebaik mungkin. Tentara Jepang dengan cepat mengepung mereka dan selama lima hari siang dan malam 2.000 tentara yang terkonsentrasi di dalam perimeter berukuran 600-kali-300-yard mengalami pemboman, penyerangan terus-menerus, dan serangan bunuh diri dari pasukan yang empat kali lebih besar dari jumlah mereka. Kondisi di dalam perimeter dengan cepat menjadi mengerikan. Orang mati — baik manusia maupun hewan pengangkut — membusuk di bawah sinar matahari. Lalat berkerumun di atas segalanya dan semua orang, dan hanya ada sedikit air. Anggota Staf Ambulans Lapangan India ke-80 membuat banyak pengorbanan , sering kali melindungi mereka yang terluka dari luka lebih lanjut dengan menggunakan tubuh mereka sendiri.

TIGA DARI LIMA ORANG TIDAK BISA BERJALAN 

Pada hari kelima, tanggal 26 Maret, 18 dari 25 perwira Inggris di brigade itu telah tewas dan lima lainnya luka-luka. Para komandan dari kedua baterai artileri sudah gugur. Lima ratus orang masih hidup, tetapi hanya 300 yang masih bisa berjalan. Menjelang malam brigade itu diperintahkan untuk berjuang keluar mendobrak kepungan. Malam itu, di bawah perlindungan tembakan artileri dan senapan mesin, semua yang terluka kecuali yang diambang kematian dibawa ke perbukitan dan ke Imphal. Kelompok selatan dari Divisi ke-31 Sato telah ditahan di Sangshak. Kelompok tengah bergerak menuju ke Jessami, yang ditempati oleh satu batalion Resimen Assam, sementara kelompok utara dikirim  langsung ke Kohima. Begitu niat Jepang menjadi jelas, semua detasemen terpencil sekutu diperintahkan mundur untuk mempertahankan Kohima. Kohima, adalah garnisun bukit di punggung bukit setinggi sekitar 5.000 kaki, merupakan pusat administrasi Nagaland. Terdapat barak untuk detasemen Assam Rifles, penjara, rumah sakit, dan kamp bala bantuan bagi tentara yang kembali dari cuti atau saat keluar dari rumah sakit dan menunggu perintah mereka. Di situ ada juga Kediaman Komisaris Distrik, dengan taman bertingkat dan lapangan tenis, yang memiliki pemandangan indah ke jalan yang dilalui bala bantuan dan perbekalan untuk mencapai Imphal dari ujung kereta api di Dimapur. 

Kavaleri Jepang, beberapa tanpa tunggangan, melintasi jalan berdebu selama perjalanan mereka menuju koshima dan Imphal pada tahun 1944. Kerugian di antara kuda-kuda itu diperkirakan lebih dari dua pertiga. (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/)
Kolonel Hugh Richards, komandan garnisun Kohima, 1944. (Sumber: https://www.nam.ac.uk/)

Di ujung utara lerengnya terdapat desa Naga yang besar. Saat Jepang mendekat, pasukan pertahanan awalnya terdiri dari Resimen Assam, Assam Rifles, Resimen Burma, Gurkha, dan lainnya yang dengan tergesa-gesa mempersiapkan pertahanan, tetapi tidak ada markas besar untuk mengoordinasikan mereka. Ada juga sekitar 1.500 warga sipil, termasuk penduduk desa Naga, di dalam dan sekitar kota kecil itu. (Penduduk desa Naga terbukti sangat membantu pasukan, sebagai pengumpul intelijen dan sebagai pengangkut barang — pria dan wanita — membawa amunisi dan perbekalan lainnya ke atas lereng curam untuk pasukan dan membawa yang terluka.) Dari Dimapur ke Kohima untuk meningkatkan pertahanan dikirimkan Brigade Infanteri India ke-161, tetapi tertahan oleh penghalang jalan di Zubza. Pasukan Sato telah mencapai jarak jauh hingga melampaui sisi Dimapur. Pada tanggal 5 April, batalion Inggris dari brigade, Royal West Kents ke-4, menerobos ke Kohima sebelum Jepang bisa memotong jalan lebih dekat ke kota dan menduduki bagian utara. Komandan mereka, Kolonel Hugh Richards, mengambil alih komando keseluruhan garnisun Kohima. Keesokan harinya, sebuah kompi dari 5/7 rajput masuk ke Kohima, tetapi brigade lainnya tidak dapat menerobos dan mengambil posisi di sekitar Jotsoma tiga mil di sebelah barat. Bersama mereka terdapat tiga baterai howitzer gunung kaliber 3,7 inci yang akan memainkan peran yang tak ternilai dalam pertempuran.

PENGEPUNGAN DI JAIL HILL

Ketika pasukan Jepang yang terdepan mencapai Kohima pada pagi hari tanggal 5 April, mereka menyapu sekitar desa Naga ke Jail Hill, dan pengepungan pun dimulai. Malam berikutnya, dengan diperkuat karena lebih banyak divisi tiba, mereka bertempur di dalam perimeter pertahanan dan merebut dua posisi yang dikenal sebagai DIS (Detail Issue Section) dan FSD (Field Supply Depot). Keesokan paginya Royal West Kents melakukan serangan balik dan memusnahkan para penyerbu. Kemudian semakin banyak orang Jepang datang pada hari-hari berikutnya dan serangan terhadap posisi pertahanan sekutu berlangsung terus menerus. Saat itulah howitzer kaliber 3,7 inci di Jotsoma memberikan bantuan mereka yang tak ternilai. Pada jarak rata-rata 3.700 yard, mereka menghancurkan formasi-formasi Jepang dengan tembakan yang sangat akurat. Pertempuran berlanjut siang dan malam. Lance Corp. John Harman dari Royal West Kents, dengan satuannya ditembakki oleh tembakan senjata mesin dari jarak 50 yard, berlari ke depan dan menghabisi kru senjata musuh dengan granat, lalu membawa senapan mesin itu kembali ke anak buahnya. Tak lama kemudian, dia menyerang pos senapan mesin lain dan membunuh kru-nya dengan senapan dan bayonetnya. Ketika dia kembali ke anak buahnya, dia terluka parah oleh senapan mesin lainnya. Tepat sebelum dia meninggal, dia berkata, “Saya mendapatkan banyak musuh; ini sepadan.” Sementara itu, Korps XXXIII Letnan Jenderal Montague Stopford yang seluruhnya berkebangsaan Inggris tiba di ujung jalur kereta api di Dimapur pada awal April dari India selatan dan bergerak menuju ke Kohima. Segera mereka menghadapi penghalang jalan Jepang di Zubza. Di sini Batalyon ke-1 Cameron Highlanders menyerang dan menghancurkannya dengan bantuan meriam dan tank yang dibawa ke atas lereng yang curam. Selama pertempuran beberapa personel Highlanders menyaksikan salah satu sersan mayor mereka dan seorang perwira Jepang terlibat dalam pertempuran satu lawan satu. Sersan mayor itu memenangkan perkelahian dan kembali dengan membawa pedang perwira Jepang sebagai kenang-kenangan.

Letnan Jenderal Sir Montagu Stopford. (Sumber: https://www.nam.ac.uk/)
Pasukan Inggris menjaga beberapa pos terdepan yang berlokasi strategis untuk memperlambat serangan Jepang ke India. Mempertahankan kendali atas Kohima telah menghancurkan serangan Jepang dan menorehkan aksi Heroik dari Pasukan Persemakmuran Inggris. (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/)
Area Pertempuran Kohima dari udara. (Sumber: http://www.strangehistory.net/)

IMPHAL DIBAWAH SERANGAN BERAT

Melewati Jotsoma, Brigade ke-6 dari Divisi ke-2 melaju ke Kohima. Batalyon ke-1, dari Royal Berkshires kemudian melakukan kontak dengan Royal West Kents, menggantikan posisi mereka. Salah satu prajurit yang baru tiba menggambarkan kejadian itu: “Orang mati terbaring tanpa dikubur. Pasukan kecil yang kotor dan berjanggut menatap kosong ke arah pasukan yang menggantikan mereka, banyak yang terlalu linglung untuk menyadari bahwa mereka telah diselamatkan dan terlalu lelah untuk mempercayai mata mereka yang kurang tidur. ” Selama dua minggu Royal West Kents telah melawan resimen demi resimen dari hampir sebuah divisi penuh Jepang yang telah meluncurkan 25 serangan infanteri skala penuh yang didukung oleh artileri dan mortir. Tiga belas perwira batalion dan 201 orang tewas, dengan sebagian besar lainnya terluka. Lebih dari 400 prajurit lainnya yang mempertahankan garnisun juga tewas, tetapi pertempuran Kohima masih jauh dari selesai. Dengan jalan pintas antara Kohima dan Imphal, serta Imphal sendiri sekarang juga sedang dikepung. Satu-satunya hubungan dengan dunia luar adalah melalui udara. Imphal terletak di tengah Dataran Imphal yang berukuran 30 kali 20 mil dan dikelilingi oleh bukit-bukit tinggi yang tertutup hutan, puncaknya memberikan pemandangan dataran di bawahnya yang sangat indah. Dari beberapa puncak, jaraknya hanya lima mil ke markas Jenderal Scoones dan kira-kira berjarak sama dengan lapangan terbang utama yang tahan cuaca di dataran itu. Dari puncak ini, para pengamat Jepang dapat mengarahkan tembakan artileri ke Imphal dan lapangan terbang. Dua brigade dari Divisi India ke-5 sekarang menguasai sektor utara dataran; pada awal April, RAF dan USAAF telah mengangkut divisi itu dari Arakan untuk bergabung dengan Korps IV. Sementara itu Brigade ketiga dari Divisi India ke-5 telah dikirim untuk membantu Kohima. 

Pasukan Persemakmuran Inggris berulang kali menghadapi serangan frontal dari tentara Jepang selama Pertempuran Imphal. (Sumber: https://nwobhmjp.tumblr.com/)
Tank M3 Lee melintasi sungai di utara Imphal. Meski di medan perang Eropa sudah termasuk ketinggalan jaman, tapi tank M3 buatan Amerika masih memegang peran penting dalam Pertempuran di Medan India-Burma. (Sumber: https://www.reddit.com/)

Di Timur Laut Imphal, Jepang merebut dataran tinggi Nungshigum, yang puncak tertingginya berdiri 1.500 kaki di atas dataran, dan mereka menggali pertahanan disana. Beberapa serangan dilakukan pada jalur satu-satunya menuju ke puncak, sebuah medan yang curam menuju ke lereng puncak, tetapi semuanya gagal. Dini hari tanggal 13 April artileri membombardir posisi Jepang dan pengebom tukik ikut menyerang. Satu batalion Dogras, dengan didukung oleh tank M-3 Lee/Grant (tank buatan Amerika yang telah ketinggalan jaman di medan Eropa, namun masih bertaji di medan Asia) dari Carabiniers (Pengawal Dragoon ke-3), kemudian bergerak perlahan ke atas lereng bukit yang sangat sempit — hanya satu tank lebarnya. Saat tank-tank itu merangkak naik ke puncak, mereka diserang tembakan yang semakin besar. Komandan tank sampai harus berdiri di palka terbuka untuk memandu pengemudi dan pada saat yang sama melawan tentara Jepang yang membawa bahan peledak yang berulang kali melemparkan diri ke tank atau naik ke dek mesin untuk melumpuhkan mereka atau membunuh awaknya. Jauh sebelum tank mendekati puncak, semua komandan tank sudah gugur. Tetapi yang lain terus menggantikannya dan serangan terus berlanjut.

DIVISI KE-20 GRACEY MASIH TERTUNDA 

Saat semua perwira telah terbunuh, Sersan. Mayor Walter Craddock mengambil alih komando Skuadron tank. Didukung oleh Subedar (Kapten) Ranbir Singh dan Dogras-nya, mereka bergerak ke puncak Nungshigum dan membunuh semua orang Jepang di atasnya dan lerengnya. Pasukan India ke-5 kemudian mengalihkan perhatian mereka ke puncak lainnya dan ke Mapao Spur, dari mana orang-orang Jepang bisa melihat ke dataran rendah. Mereka mengusir tentara Jepang dari puncak ini dalam pertempuran yang kejam dan melelahkan. Tentara Jepang, seperti biasa, bertahan dengan baik dan bertempur sampai mati. Korban di kedua pihak sangat berat. Dua puluh lima mil di sebelah tenggara Imphal, Divisi India ke-20 Gracey sedang bertempur dalam pertempuran terisolasi di dalam dan di sekitar Shenam Saddle. Pertempuran itu berkecamuk di daerah perbukitan yang hancur seluas 12 mil persegi yang memiliki banyak jurang yang dalam dan anak sungai. Divisi tersebut menguasai jalan dan lintasan yang menuju ke dataran dan menjaga tentara Jepang tetap diluar jangkauan meriam mereka yang bisa menembaki lapangan terbang dan gudang perbekalan di Palel. Pada awal April, Grup Infanteri Mayor Jenderal Yamamoto dari Divisi ke-33, yang didukung dengan baik oleh artileri, telah berusaha keras untuk menghantam Palel dan selama seminggu pertempuran kedua pihak ada dalam posisi seimbang. Tetapi pasukan India ke-20 hanya maju satu mil atau lebih saat melancarkan serangkaian serangan ke puncak bukit lainnya, dan pertempuran itu berjalan maju mundur. Yamamoto melemparkan batalion-batalionnya melawan posisi Inggris dan beberapa perbukitan berhasil direbut untuk kemudian direbut kembali oleh lawannya, dengan penembakan, pemboman, dan tembakan gencar yang mengikis perbukitan yang tertutup tumbuhan. Puncak dan lereng bukit yang lebih tinggi digunakan sebagai titik pengamatan saat pertempuran — baik aksi besar maupun kecil — yang berlanjut di lereng, di jurang, dan di jalan serta jalan kecil antara batalion, kompi, dan peleton kedua belah pihak. Saat bulan April berganti Mei, terdapat 3 fakta yang dihadapi komandan Inggris, yakni: sampai pertempuran Kohima bisa dimenangkan, Imphal tidak bisa dibebaskan dari kepungan, dan kecuali Imphal bisa dibebaskan pada saat musim penghujan datang di bulan Mei, maka makin sukar untuk dapat mempertahankan kedudukan Korps ke-IV disitu, meski mereka memiliki dukungan pesawat pinjaman dari Amerika. Faktanya kepala Staff Mountbatten, Letnan Jenderal Sir Henry Pownall, memperingatkan atasannya bahwa keseluruhan Korps kemungkinan harus menyerah. Situasi jelas tidak menyenangkan, dimana hingga saat itu pasukan sekutu terus-terusan dipukul oleh militer Jepang di medan Burma.

Pasukan Divisi ke-23 memeriksa persenjataan Jepang yang dirampas, Imphal, 1944. (Sumber: https://www.nam.ac.uk/)
Sappers and Miners memperbaiki Palel-Tamu Road, Imphal, 1944. (Sumber: https://www.nam.ac.uk/)

ORANG-ORANG JEPANG MENGARAHKAN PANDANGAN KE JEMBATAN YANG ADA DI SILCHAR TRACK

Di sektor ini Tentara Jepang membawa Brigade Gandhi dari Tentara Nasional India, “Jif” (Pasukan Jepang-India), begitu mereka dipanggil. Pada malam tanggal 2/3 Mei, sebuah batalion Jif, yang telah diamati, melancarkan serangan yang langsung menuju posisi penyergapan yang dibuat oleh pasukan India dan Gurkha. Jif menderita banyak korban. Hanya sedikit tahanan ditangkap meskipun Jenderal Slim telah memerintahkan bahwa personel Jif harus diperlakukan lebih manusiawi — sebelumnya mereka kerap ditembak sebagai pengkhianat. Pada pertengahan Mei, komandan Korps IV, Scoones memutuskan bahwa pasukan Divisi India ke-20, yang telah bertempur tanpa henti selama lebih dari enam minggu dan menderita banyak korban, dapat melakukan “pergantian melalui udara”. Dia mengirim Divisi India ke-23 untuk menggantikan mereka. Dua brigade dari Divisi ke-20 bergerak ke utara ke jalan Ukhrul untuk menghadapi Divisi Jepang ke-15 sedangkan brigade ketiga pergi ke barat ke Bishenpur di jalan Tiddim-Imphal. Divisi India ke-23 yang relatif segar langsung menyerang, dimana hal itu berjalan baik sampai Juni sebelum tekanan Jepang mereda. Di sisi barat dataran, dua satuan dari Divisi ke-33 Jenderal Yanagida telah mendesak ke jalan dari Tiddim menuju Imphal. 

Memeriksa meriam yang ditinggalkan Jepang di Jalan Tiddim, Imphal, 1944. (Sumber: https://www.nam.ac.uk/)

Pada malam tanggal 14/15 April di dekat Potsangbam di selatan Bishenpur, satu kelompok memisahkan diri dan bergerak ke arah barat, menuju jembatan gantung sepanjang 300 kaki di atas ngarai yang dalam di jalur Silchar, sementara kelompok lainnya melakukan perjalanan yang mantap untuk merebut Bishenpur, di mana jalur Silchar bergabung dengan jalan menuju Imphal. Jalur Silchar, yang beberapa bulan sebelumnya telah ditingkatkan dari jalan setapak menjadi jalan yang bisa dilewati jip, adalah — dengan jalur rel di Dimapur — salah satu dari hanya dua jalur darat menuju ke India. Jepang bertekad untuk memotongnya dengan menghancurkan jembatan gantung itu. Tiga tentara Jepang berhasil mencapai jembatan dan meledakkannya, mereka bunuh diri dalam prosesnya. Setelah pulih dari pertempuran panjang saat menarik diri dari Tiddim, Divisi India ke-17 sekarang kembali ke Bishenpur untuk menghadapi Divisi ke-33 Jepang lagi. Kedua pihak bertemu di desa Ningthoukhong dan Potsangbam dalam pertempuran yang dengan cepat menjadi pertempuran lokal kecil dan pertarungan tangan kosong dengan bayonet dan kukri. Korban di kedua pihak cukup banyak, terutama di antara perwira Inggris dari unit India dan Gurkha (sebagaimana mereka dalam semua aksi sebelumnya) karena orang-orang ini dengan mudah diidentifikasi oleh tentara Jepang dari jarak dekat.

PENYAKIT MELANDA BATALION-BATALION KEDUA PIHAK

Di sebelah utara, di Kohima, dua kompi dari Batalyon ke-2 Durham Light Infantry bergabung dengan Royal Berkshires ke-1 di lereng Summerhouse Hill. Setelah menggali pertahanan dengan baik, mereka menangkis serangan Jepang di tempat yang mereka gambarkan sebagai rumah pekuburan dengan ratusan orang Inggris, India, Gurkha, dan Jepang yang tewas tergeletak di sekitarnya dan mulai membusuk. Puluhan bangkai keledai yang membengkak semakin menambah kengerian. Posisi Inggris di atas bukit dipisahkan dari lereng bukit berbentuk pelana oleh ngarai yang ditanami dengan tongkat punji (tongkat bambu yang sangat tajam ditanam mengarah ke tanah) dan disapu oleh tembakan musuh. Mereka juga diamati dari puncak setinggi 100 meter yang dikenal sebagai Kuki Picquet tempat penembak jitu Jepang beroperasi. Pada tanggal 22 April, Batalyon ke-1 Royal Welsh Fusiliers bergabung dengan Berkshires dan Durhams di Summerhouse Hill. Mereka menyerang Kuki Picquet, tetapi dipukul mundur dengan korban besar. Keesokan paginya pasukan Jepang menyerang menyusul pemboman artileri dan peluncur granat. Maju bahu-membahu, gelombang pertama mengenakan masker gas dan melemparkan granat fosfor. Saat mereka ditembak jatuh, mereka digantikan oleh gelombang lain yang melemparkan granat fragmentasi. Jepang menerobos garis Inggris, tetapi Inggris mundur, dan membentuk kembali pertahanan di sekitar markas besar kompi, dan memukul mundur serangan itu. Pada jam 4 pagi, tentara Inggris melakukan serangan balik, dan menyingkirkan tentara Jepang dari bukit itu. 

Peta Pertempuran Imphal. (Sumber: https://www.forces-war-records.co.uk/)
Pasukan Gurkha membersihkan posisi musuh di bukit ‘Scraggy’ dekat Imphal, April 1944. (Sumber: https://www.nam.ac.uk/)
Anggota dari Gurkha Rifle ke-10 yang beristirahat setelah menguasai ‘Scraggy Hill’, Imphal, 1944. (Sumber: https://www.nam.ac.uk/)

Ketika lebih banyak batalion dari Divisi ke-2 Inggris mencapai Kohima dan lebih banyak lagi prajurit dari Divisi ke-31 Sato dikerahkan di sekitarnya, ruang untuk bertempur segera menyusut. Kedua belah pihak mencoba melakukan gerakan melingkar di medan yang sangat sulit di sekitar kota kecil itu. Medannya begitu sulit sehingga kecepatan pergerakan yang bisa dicapai adalah satu mil per hari, dan pertempuran itu semakin berlarut menjadi banyak pertempuran kecil yang mematikan. Ketika musim hujan tiba pada tanggal 27 April, pergerakan menjadi lebih sulit, tetapi pertempuran terus berlanjut meskipun penyakit diare, disentri, dan beri-beri yang meluas. Sementara itu, pertempuran berlanjut siang dan malam di lereng tengah Kohima dan di lereng serta puncak lainnya. Di Garrison Hill, Durham Light Infantry melawan sebuah serangan malam yang menyebabkan kerugian besar bagi pihak Jepang sehingga Jenderal Sato memerintahkan penghentian serangan malam selanjutnya. Pada akhir April, satu batalion Resimen Dorset mulai bertempur menuju bungalo Komisaris Distrik. Orang Jepang menggali pertahanan dengan kuat di bungalo, di teras sekitarnya, dan di bawah tangki air besar. Satuan Dorsets mencapai tepi lapangan tenis di mana hanya 25 yard jarak memisahkan mereka dari tentara Jepang.

“PERTEMPURAN LAPANGAN TENIS” DIMULAI 

Bergerak sembarangan di siang hari berarti mencari kematian seketika, jadi pertempuran harus dilakukan pada malam hari. Selama dua minggu, tentara Inggris dari Resimen Dorset dengan sepatu olahraga hitam atau bertelanjang kaki bertempur dalam kegelapan menggunakan granat dan senjata ringan, bayonet, kukri, dalam pertempuran yang kemudian dikenal sebagai “Pertempuran Lapangan Tenis”. Kemudian pada pertengahan bulan Mei, satu tank Inggris dibawa ke atas di belakang bungalo dan mulai meledakkan bunker dan pertahanan Jepang. Lebih banyak tank dan tentara tiba dan mereka memulai pertarungan untuk memperebutkan punggung bukit melawan keberanian dan keganasan tentara Jepang yang hampir tidak bisa dipercaya, yang selalu berjuang sampai mati. Lereng Bukit Kohima akhirnya dibersihkan oleh kombinasi pasukan, tank, artileri, dan serangan udara, tetapi pertempuran berlanjut hingga awal Juni ketika sisa-sisa  tentara dari Divisi ke-31 yang tadinya kuat mulai mundur ke timur laut di sepanjang jalur hutan menuju Ukhrul. 

Lokasi Pertempuran Lapangan Tenis di Kohima. (Sumber: http://www.strangehistory.net/)
Pertempuran di Lapangan Tenis. (Sumber: http://www.strangehistory.net/)

Dari “20.000 bayonet” Jepang yang telah melintasi Chindwin tiga bulan sebelumnya, hanya dua atau tiga ribu yang masih bertahan untuk menyeberangi sungai. Jadi korban di divisi ini mencapai 90 persen. Kesalahan yang dibuat oleh komandan mereka Jenderal Sato adalah saat mengepung Kohima. Begitu dia menyadari bahwa dia menghadapi garnisun yang gigih bertahan, dia seharusnya meninggalkan pasukan penahan dan terus bergerak ke Dimapur. Dia bisa dengan mudah kemudian merebutnya  pada saat itu, dimana hal ini akan menjadi bencana bagi Inggris. Di sebelah tenggara, di jalan menuju Tiddim, Divisi India ke-23 melancarkan serangan demi serangan ke Divisi ke-15 Jepang dalam cuaca monsun yang mengerikan hingga bulan Juni. Jepang menderita korban berat dan akhirnya mulai mundur menuju Chindwin. Salah satu aksi terakhir mereka adalah upaya penyerangan yang dilakukan oleh sebuah detasemen kecil yang menembus pertahanan lapangan udara Palel dan meledakkan sejumlah pesawat yang diparkir. Itu adalah tindakan yang berani, tindakan yang membawa kekaguman yang tidak menyenangkan dari lawan mereka, tapi itu adalah aksi terakhir mereka. Pada tanggal  31 Mei, Letnan Jenderal Kotoku Sato memerintahkan divisi ke-31 untuk memulai gerak mundur, dengan meninggalkan wakilnya Miyazaki untuk memimpin satuan pengaman di garis belakang. Perintah Sato ini tanpa mendapat ijin dari Mutaguchi, hal ini adalah sebuah insiden yang langka dalam sejarah militer Jepang, dimana seorang Komandan Divisi berani memerintahkan gerak mundur tanpa mendapat persetujuan dari atasannya. Namun Sato sudah muak dengan pengabaian permintaan bala bantuan dan suplai ulang dari Mutahuchi setelah 3 bulan pertempuran. Gerak mundur tentara Jepang kini telah dimulai, dengan Divisi India berusaha mengejarnya, dan membunuh sebanyak mungkin orang Jepang. Pada tanggal 6 Juni muncul berita di radio tentang pendaratan di Normandia, Kohima akhirnya juga berhasil dibebaskan, kemenangan besar pertama pasukan sekutu di India berhasil didapatkan. Namun masih membutuhkan 16 hari lagi sampai jalan menuju Imphal berhasil dibuka. Pada tanggal 22 Juni, Miyazaki tinggal memiliki 400 prajurit yang masih bisa bertempur, sehingga ia memutuskan untuk mundur ke Chindwin.

GERAK MUNDUR JEPANG KE CHINDWIN

Pada tanggal 22 Juni, tank Korps XXXIII yang turun dari Kohima bertemu dengan elemen-elemen dari Divisi India ke-5, mendobrak pengepungan Imphal. Di selatan, di sekitar Bishenpur dan jalur Silchar, beberapa pertempuran paling kejam dalam kampanye ini telah terjadi saat Divisi ke-33 Jepang mencoba untuk menerobos ke Imphal. Kerugian Divisi ke-33 sangat besar, tetapi tentaranya terus menyerang sampai musim semi benar-benar menghentikan pasokan mereka. Mutaguchi kemudian memerintahkan divisi tersebut untuk menghentikan usahanya untuk menerobos dan mundur. Sisa-sisa Divisi ke-15 dan 31 Jepang berkumpul kembali di dalam dan sekitar Ukhrul untuk serangan terakhir, tetapi selama hari-hari pertama bulan Juli Divisi India ke-23 memukul mereka dengan keras dan menyebabkan kerugian parah di pihak mereka. Para penyintas lalu mulai mundur ke Chindwin, dikejar Divisi ke-23 sejauh Tamu di ujung Lembah Kabaw. Di sini, Divisi Afrika Timur ke-11 yang baru tiba mengambil alih pengejaran menuruni lembah. Mundurnya tentara Jepang ke Chindwin adalah mimpi buruk bagi pasukan Jepang, dan sedikit lebih baik bagi pasukan Inggris yang terlibat dalam pengejaran. Kabut di lereng bukit mencegah atau menghalangi pasokan lewat udara dan hujan monsun telah menyapu jalan dan mengubah jalur menjadi tanah longsor. Pasokan sering kali tidak dapat sampai ke pasukan dan mereka mulai kelaparan. Segala jenis penyakit tropis merajalela, menambah penderitaan bagi mereka yang terluka. Pembawa tandu membawa mereka selama berhari-hari melewati medan yang mengerikan, setiap pembawa tandu membawa serta sekop untuk menguburkan mereka yang tewas dalam perjalanan. Gajah digunakan jika memungkinkan untuk membawa yang terluka, tetapi paling cepat mereka hanya bisa bergerak tiga mil dalam 16 jam. Saat gerak mundur berlangsung dengan kecepatan laksana siput, para pengejar melihat semakin banyak mayat tentara Jepang yang meninggal karena penyakit, kelaparan, atau luka. Namun, banyak yang masih bisa berdiri dan bertempur, menunggu untuk bisa melakukan penyergapan dengan granat atau peluru untuk membawa salah satu musuh bersama mereka ketika mereka mati. Sekitar 85.000 hingga 90.000 tentara Jepang telah menyeberangi Sungai Chindwin pada bulan Maret. Korban mereka dalam pertempuran selama empat bulan itu adalah sekitar 60.000, dengan mungkin 20.000 lainnya tewas selama gerak mundur mereka. Dalam perjalanan mundur, tentara Jepang dipukul dengan berbagai penyakit di tengah musim hujan terparah dalam 30 tahun. Beberapa diserang binatang buas, sementara yang lain menjadi korban kanibalisme karena ketiadaan makanan. Menurut dokumenter yang dibuat oleh kantor berita NHK, diperkirakan 60% korban tewas tentara Jepang didapat saat gerak mundur mereka, yang juga tidak kunjung usai hingga 6 bulan setelah pertempuran berakhir. 30% ironisnya berguguran di tepian Sungai Chindwin. Tentara ke-15 Metaguchi nyaris hancur. Sementara itu kerugian di pihak India-Gurkha-Inggris kurang dari 20.000, lebih rendah dibandingkan dengan kerugian yang diderita Jepang karena faktor pelayanan medis mereka yang bagus dan bisa melakukan evakuasi udara ke rumah sakit.

Foto ini menunjukkan pasukan Inggris maju untuk membuka jalan Imphal-Kohima. Jalan berhasil dibuka sebagai hasil dari pertempuran keras yang dilakukan Angkatan Darat ke-14; Pasukan Inggris yang membersihkan Jepang dari Kohima dan mendesak ke selatan, sementara prajurit-prajurit dari divisi India bergerak ke utara untuk menekan musuh. (Sumber: AP/https://www.washingtonpost.com/)
Orang-orang dari Resimen West Yorkshire dan Gurkha Rifle ke-10 maju di sepanjang jalan Imphal-Kohima di belakang tank Lee/Grant. Juli 1944. (Kredit foto: Imperial War Museum/https://www.amusingplanet.com/)
Sebuah C-47 Dakota menjatuhkan perbekalan di Palel, 1944. Peran kekuatan udara amat vital bagi kemenangan sekutu di Imphal. (Sumber: https://www.nam.ac.uk/)

Kekuatan udara juga sangat berperan dalam kemenangan sekutu. Pesawat-pesawat RAF dan USAAF menerbangkan ribuan sortie untuk mendukung pasukan, membawa bala bantuan, menjatuhkan pasokan, dan mengevakuasi yang sakit dan terluka. Keunggulan logistik dan komunikasi Sekutu adalah kunci kemenangan di Imphal. Mereka tidak hanya memampukan pengerahan bala bantuan secara cepat dari Dimapur, tetapi juga bisa mengangkut Divisi India ke-5 dan perlengkapannya dari Arakan ke Imphal hanya dalam dua hari. Selama pertempuran, Angkatan Udara Kerajaan Inggris menerbangkan hampir 19.000 ton pasokan dan lebih dari 12.000 orang, serta mengevakuasi sekitar 13.000 korban. Menurut catatan, selama pertempuran Inggris dapat mensuplai tentaranya sebanyak 250 ton perbekalan perharinya. Sebuah catatan yang cukup impresif bagi pertempuran dengan skala yang lebih kecil dari pertempuran Stalingrad, dimana di Stalingrad, Luftwaffe tidak mampu mengirimkan pasukan 500 ton perhari bagi Angkatan Darat ke-6 nya. Dengan pasokan udara terus menerus, garnisun sekutu mampu membalas serangan Jepang dalam pertempuran jarak dekat yang sengit sampai pasukan bantuan bisa mencapai mereka. Tank dan artileri juga merupakan faktor penting lainnya. Tetapi puncak kesuksesan terletak pada semangat yang tak tergoyahkan dan kualitas tempur dari batalion India dan Gurkha serta perwira Inggris mereka dan rekan-rekan resimen Inggris mereka. Mereka bertarung dan bertahan lebih lama dibanding musuh tangguh mereka yang keberanian dan ketahanannya akan lama mereka ingat dan hormati. Menurut Jenderal Slim, komandan Tentara Ke-14, Imphal dan Kohima adalah kemenangan menentukan pertama dalam Kampanye Militer di Burma. Setelah pertempuran Imphal dan Kohima, tentara ke-14 Inggris bukan lagi sekedar mengusir musuh yang menyerang, namun mereka kini ada dalam posisi ofensif mengejar musuh yang mundur dan memburu kehancuran mereka, sebuah titik balik menuju kemenangan dan upaya membebaskan wilayah Burma yang telah mereka tinggalkan ke tangan Jepang 2 tahun sebelumnya sudah dimulai.

PENILAIAN SEJARAH

Imphal-Kohima adalah salah satu kekalahan terbesar yang pernah diderita Tentara Jepang. Setelah pertempuran ini Mutaguchi dibebastugaskan, dipanggil kembali ke Tokyo, dan akhirnya dipaksa pensiun pada bulan Desember 1944. Pada bulan yang sama, Slim, Scoones dan Stopford dianugerahi gelar bangsawan oleh raja muda India, Lord Wavell, dalam sebuah upacara di Imphal. Setelah kemenangan bertahan mereka, Inggris merencanakan serangan baru yang bertujuan untuk membersihkan pasukan Jepang yang terakhir dari Burma utara dan membawa mereka ke selatan menuju Mandalay dan Meiktila. Dengan bertempur selama musim hujan dan disuplai melalui udara, pasukan Angkatan Darat Keempat Belas kini telah menyeberangi Sungai Chindwin. Korps ke-15 merebut Akyab di Arakan, sementara Korps ke-4 dan ke-32 mampu membuat tempat berpijak di seberang Sungai Irrawaddy. Setelah pertempuran sengit, Meiktila dan Mandalay berhasil direbut pada bulan Maret 1945. Rute selatan ke Rangoon sekarang telah terbuka. Korps ke-4 hanya berjarak 30 mil (48km) dari kota ketika kota itu akhirnya direbut dengan operasi gabungan udara dan laut pada awal Mei. Setelah itu tentara Jepang berhasil sepenuhnya diusir dari Burma. Kini Makam Perang Persemakmuran di Imphal berisi 1.600 kuburan, dengan yang di Kohima menampung 1.420. Ada juga beberapa monumen untuk memperingati unit Inggris dan India yang bertempur di Kohima, serta Kohima Cremation Memorial untuk memperingati 917 orang Hindu dan Sikh yang terbunuh di sana. Pemakaman Perang Kohima terletak di lereng Bukit Garrison dan juga berisi tugu peringatan British 2nd Division. Prasasti yang terakhir menjadi terkenal sebagai ‘Kohima Epitaph’.

Infanteri India dari Korps IV bergerak menuju Meiktila, 1945. Setelah Pertempuran Imphal-Kohima, arah peperangan di medan Burma berbalik menguntungkan sekutu. (Sumber: https://www.nam.ac.uk/)
Divisi India ke-17 selama penyerangan di Rangoon, 1945. (Sumber: https://www.nam.ac.uk/)
“Kohima Epitaph”. Penghormatan yang indah untuk para prajurit yang mengorbankan nyawa mereka dalam Pertempuran Kohima dibangun ulang di Memorial Kohima, di York, Inggris. (Kredit foto: Lawrence / Flickr/https://www.amusingplanet.com/)
Pemakaman Perang di Kohima. (Sumber: https://www.amusingplanet.com/)

Dalam beberapa tahun terakhir, pertempuran Imphal dan Kohima telah terpilih sebagai pertempuran terbesar yang pernah dilakukan Inggris oleh Museum Perang Nasional, mengalahkan Waterloo dan pendaratan Normandia. Namun, meski para pengamat mengakui nilai penting dari pertempuran ini, namun pertempuran ini tidak terlihat begitu penting dalam catatan sejarah Perang Dunia II. Sebaliknya, malah kerap dilupakan di memori banyak orang-orang, jarang diajarkan di sekolah-sekolah di seluruh dunia. Kurangnya pengakuan ini mencerminkan persepsi internasional tentang wilayah tempat pertempuran itu terjadi. Tentara kolonial Inggris yang bertempur di sana, Angkatan Darat ke-14, dijuluki sebagai “Tentara yang Terlupakan”, dan teater China-Burma-India sendiri sering disebut sebagai “medan perang yang terlupakan”. Kurangnya pengakuan di Barat ini nampaknya disengaja. Bagaimanapun, Imphal dan Kohima adalah kemenangan imperium kolonial Inggris. Peristiwa itu adalah pengingat yang tidak menyenangkan bahwa faktanya tentara Inggris di Asia adalah tentara kolonial dan Inggris berperang di India karena itu adalah koloninya. India sendiri setelah Merdeka juga telah melupakan pertempuran itu. Hal ini juga disengaja, karena India memiliki hubungan ambivalen berkaitan dengan Perang Dunia II, yang memisahkan beberapa tokoh gerakan kemerdekaannya: beberapa diam (sering di penjara) sementara yang lain bersekutu dengan Jepang. Selain itu, fakta bahwa tentara kolonial Inggris adalah tentara multietnis, termasuk tentara India, Nepal, dan Afrika, hal ini dianggap tidak sesuai dengan program pembangunan identitas nasional India sendiri setelah kemerdekaannya pada tahun 1947.

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

Imphal: Battle Royale at the Gateway to India By John Brown

Battles of Imphal and Kohima

https://www.nam.ac.uk/explore/battle-imphal

Why have we forgotten one of WWII’s most important battles? By Lydia Walker; June 22, 2019 at 6:00 AM EDT

https://www.google.com/amp/s/www.washingtonpost.com/outlook/2019/06/22/why-have-we-forgotten-one-wwiis-most-important-battles/%3FoutputType%3Damp

“Mountbatten” War Leader Book No. 6 Ballantine’s Illustrated History of the Violent Century By Arthur Swinson; p 103, p 105, p 107; 1971

Defeat into Victory by Field Marshal Sir William Slim; p 346-347; Originally published 1956, paperback 1986

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *