Pertempuran Karameh 21 Maret 1968: Kegagalan Israel menangkap Yasser Arafat dan naiknya pamor Faksi Fatah Palestina

Pertempuran Karameh (bahasa Arab: معركة الكرامة) adalah pertempuran selama 15 jam antara Angkatan Bersenjata Israel (IDF) dan pasukan gabungan Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) dan Angkatan Bersenjata Yordania (JAF) di kota Yordania, Karameh pada 21 Maret 1968, selama periode Perang Atrisi (periode ketegangan militer antara Israel dan negara-negara Arab setelah Perang 6 hari 1967 hingga sebelum perang Yom Kippur 1973). Operasi militer itu direncanakan oleh Israel sebagai salah satu dari dua serangan bersamaan di kamp-kamp PLO, satu di Karameh dan satu di desa jauh Safi – nama sandi masing-masing Operasi Inferno/Tofet (bahasa Ibrani: מבצע תופת) dan Operasi Asuta (מבצע אסותא)— tetapi kemudian Operasi Tofet berubah menjadi pertempuran skala penuh.

Yasser Arafat, target utama Israel dalam Operasi Tofet, 21 Maret 1968. (Sumber: https://mydailykvetch.blogspot.com/)

Operasi Karameh pada bulan Maret 1968 ini adalah operasi di masa damai terbesar dan paling ambisius dari Angkatan Pertahanan Israel. Operasi itu menyebabkan korban yang dinilai besar di pihak Israel, yang termasuk diantaranya 30 prajurit tewas, beberapa di antara mereka dinyatakan hilang dan baru dinyatakan gugur bertahun-tahun kemudian. Selain itu juga 96 lainnya terluka, sebuah pesawat tempur juga jatuh, dan beberapa kendaraan tempur dihancurkan oleh artileri Yordania. Kendaraan yang rusak ini ditinggalkan di medan tempur dan kemudian ditampilkan sebagai trophy perang di parade kemenangan Yordania di Amman. Sasaran utama operasi itu, Yasser Arafat, yang dengan mengeksploitasi kekacauan ditengah serangan Israel, berhasil melarikan diri dari lokasi dan terus memimpin Organisasi Pembebasan Palestina dalam pertempuran berkepanjangan dengan Israel dari wilayah Yordania dan Libanon. Meskipun fakta-fakta umumnya sudah diketahui publik, tapi detailnya tetap disembunyikan. Israel juga tidak pernah membuat komisi penyelidikan resmi.

Latar belakang dan persiapan Israel

Haim Bar-Lev menjadi kepala staf IDF pada 1 Januari 1968. Dia telah menjadi komandan batalion pada Perang Kemerdekaan Israel pada tahun 1948, kemudian menjadi seorang komandan brigade pada tahun 1956, seorang komandan Korps Lapis Baja, kepala cabang operasi Staf Umum, dan akhirnya sebagai wakil kepala staf dalam Perang Enam Hari 1967. Dia adalah satu-satunya kepala staf sebelum Dan Halutz yang mencapai jabatan itu tanpa pengalaman sebagai kepala salah satu komando regional IDF. Kepemimpinan politik Israel pada saat itu terpecah menjadi beberapa faksi. Waktu itu Perdana Menteri Levi Eshkol berasal dari Partai Mapai, yang saat itu bersekutu dengan partai Buruh, saingannya, Menteri Pertahanan Moshe Dayan, memimpin partai Rafi. Dayan saat itu juga secara ilegal menggali di situs arkeologi dan, dan dalam salah satu aksinya dalam penggalian gua di Mishmar Hashiva, menjelang Operasi Karameh, malah terluka dan harus dirawat di rumah sakit. Sementara selama periode ini juga, Israel diganggu oleh serangan teror dan serangan dari Yordania. Pada akhir Januari, kapal selam Dakar, dengan 69 orang awak, dilaporkan hilang dan 8 Maret kemudian menjadi ditetapkan sebagai hari berkabung nasional setelah para pelaut yang hilang secara resmi dinyatakan sebagai korban hilang setelah beberapa misi pencarian yang sia-sia. Jelas tahun 1968 bukanlah tahun yang tenang bagi Israel,

Dari kiri ke kanan: Kepala Staff AB Israel Haim Bar-Lev, PM Levi Eshkol, dan Mayor Jenderal Uzi Narkiss. (Sumber: https://www.haaretz.com/)

Sementara itu kelompok-kelompok Palestina biasa melakukan beberapa serangan terhadap sasaran-sasaran Israel baik dari wilayah Tepi Barat dan Yordania sejak sebelum Perang Enam Hari, beberapa di antaranya menyebabkan Israel melakukan pembalasan. Menyusul direbutnya Tepi Barat dari Yordania pada Perang Enam Hari Juni 1967, Israel menghancurkan jaringan kelompok Fatah Palestina yang ada di sana. Pada awal 1968, gerilyawan Fatah mulai menyerang Israel dari pangkalan-pangkalan di sisi sungai Yordania. Sebagian besar serangan ini berhasil diblokir oleh IDF. Kadang-kadang, unit infanteri dan artileri Angkatan Darat Yordania memberi bantuan kepada pasukan Fatah dengan tembakan perlindungan, yang kemudian beberapa kali mengarahkan keduanya ke pertempuran terbuka. Pada 14-15 Februari, mortir Yordania menghantam beberapa permukiman Israel di Beit Shean Valley dan Jordan Valley. Artileri dan pasukan udara Israel segera membalas menyerang pangkalan dan baterai artileri Yordania, serta Kanal Ghor Timur yang dibiayai Amerika (sekarang dikenal sebagai Kanal Raja Abdullah). Akibatnya, ribuan petani Yordania melarikan diri ke timur, dan sebagai gantinya fedayeen (orang-orang yang rela berkorban demi kepentingan Palestina) masuk ke lembah Yordan menggantikan mereka.

Wilayah Israel setelah Perang 6 hari tahun 1967. (Sumber: http://www.passia.org/)

Berdasar gencatan senjata yang disponsori dan diatur Amerika, Raja Hussein kemudian menyatakan ia akan mencegah kelompok-kelompok ini menggunakan Yordania sebagai pangkalan serangan ke Israel. Pada bulan Februari, Raja Hussein mengirim dua puluh kendaraan penuh prajurit dan polisi untuk memerintahkan satu unit pasukan Fatah (Faksi Perlawanan Palestina) meninggalkan kota Karameh. Ketika tiba, pasukan Yordania menemukan dirinya dikelilingi oleh orang-orang yang memegang senapan mesin; komandannya berkata, “Anda punya waktu tiga menit untuk memutuskan apakah Anda pergi atau mati”. Mereka mundur. Pada bulan Maret, beberapa ratus warga sipil tinggal di kamp, bersama dengan sekitar 900 gerilyawan, sebagian besar dari faksi Fatah, dan pemimpin PLO Yasser Arafat, mendirikan markas besarnya di sana. Pada 18 Maret, di dekat Beer Ora di Gurun Arava selatan, dekat perbatasan Yordania, sebuah bus yang membawa siswa dari Lapangan Tenis Herzliya Tel Aviv melindas ranjau darat. Seorang guru dan seorang dokter terbunuh dan 28 siswa terluka. Ini adalah operasi teror Fatah ke-38 dalam waktu kurang dari tiga bulan. Malam itu, kabinet Israel menyetujui serangan untuk dilakukan serangan pembalasan. AS berusaha mencegahnya dengan meneruskan pesan kepada Israel dari Raja Hussein. Perdana Menteri Israel Levi Eshkol memanggil kabinet untuk konseling lebih lanjut; hanya pemimpin Partai Agama Nasional Haim-Moshe Shapira yang secara vokal menentang serangan itu, sementara Menteri Pendidikan Zalman Aran juga menentangnya tetapi tetap diam.

Fedayeen Palestina di Amman, Yordania tahun 1970. Lambat laun keberadaan petempur Palestina di Yordania dianggap sebagai duri dalam daging bukan cuma oleh Israel namun juga Yordania sendiri yang punya banyak penduduk keturunan Palestina. (Sumber: https://birdinflight.com/)

Juru bicara pemerintah dan IDF mengatakan Israel akan segera membalas. Bar-Lev mendorong pemerintah untuk tidak menunggu sampai Yordania dan PLO membatalkan status darurat mereka dan kembali ke keadaan normal. Dua hari kemudian, IDF meluncurkan dua operasi secara bersamaan: Operasi Asuta, dilakukan oleh Komando Selatan di Arava Yordania, dan Operasi Karameh (pada saat itu dikenal sebagai Operasi Tofet), yang dilakukan oleh Komando Pusat. IDF menyatakan bahwa tujuan mereka adalah untuk menghancurkan kamp fedayeen di Karameh, dan untuk menangkap Yasser Arafat, pemimpin PLO, sebagai pembalasan. Disamping itu, Israel juga ingin menghukum Yordania karena dianggap mendukung operasi fedayeen. Di operasi Tofet, markas Arafat di Karameh diserang, hanya beberapa kilometer di sebelah timur Sungai Jordan. Menurut laporan IDF, dua tahun sebelumnya, pada bulan Juli 1966, ketika Tepi Barat masih di bawah kendali Yordania, IDF melakukan latihan militer yang berfokus pada menyeberangi wilayah Yordania di wilayah Lembah Utara. Pada tanggal 16 Oktober 1967, Kepala Staf Yitzhak Rabin diberi rancangan rencana operasional untuk Asuta dan Tofet, yang keduanya dimaksudkan sebagai tindakan balasan darurat di Lembah Yordan bagian timur. Pada 13 Desember, tanggung jawab untuk pelaksanaan Operasi Karameh, yang dijadwalkan dilaksanakan malam berikutnya, ditempatkan di tangan Brigade 35 dari Pasukan Paratroop dan pasukan operasi khusus Sayeret Matkal. Operasi kemudian dibatalkan, dan dijadwalkan ulang pada 12 Maret dan kemudian dibatalkan lagi. Menurut salah satu dokumen, salah satu sumber intelijen Israel adalah mantan anggota Fatah, dengan nama sandi “Grotius,” yang menjadi “informan dinas keamanan Shin Bet” dan yang “akrab dengan kondisi pangkalan di Karameh dan sekitarnya.”

Pasukan Sayeret Matkal dalam latihan. (Sumber: http://www.yossigino.com/)

Grotius tiba di Yordania pada malam sebelum Perang Enam Hari sebagai anggota batalion komando ke-421 Tentara Pembebasan Palestina. Setelah meninggalkan batalionnya, dia berlatih di Suriah di kamp Hama dan menyelinap ke Tepi Barat. Pada malam Operasi Karameh, Bar-Lev menekankan kepada para prajurit Komando Selatan: “Tidak ada satupun anak, orang tua, atau wanita yang boleh terbunuh. Hal yang paling penting adalah bahwa kita mencapai tujuan itu. Sebuah front tidak boleh dibuka jika suara ledakan terdengar. Ini bukan film koboi Wild-West, jika mereka mulai membuat gerakan berbahaya, baru anda boleh menembaknya. ” Bar-Lev berusia 43 pada saat itu; sementara Dayan berusia 52 tahun. Mungkin itu sebabnya Bar-Lev menginstruksikan pasukan sebelum Operasi Karameh untuk “tidak mengganggu warga sipil, kecuali ada seorang lelaki tua berusia 60 tahun mengambil senapan dan mulai menembak.” Dia mengatakan kepada Komando Pusat bahwa ada kemungkinan pasti bahwa operasi itu akan berubah menjadi pertempuran terbuka. “Jika itu terjadi, kita harus segera keluar, tetapi yang paling penting adalah kemenangan kita harus berlangsung cepat dan dengan sedikit korban.” Jika dalam operasi seperti ini IDF menimbulkan banyak korban, seluruh upaya akan sia-sia, katanya. “Kamu harus tegas dan cermat dalam menggerakkan formasi tempur. Satu-satunya yang akan tetap ada di kendaraan lapis baja adalah komandan, yang akan memantau operasi. Haruskah pesawat kita melakukan misi melawan tank dan artileri Yordania? Pada prinsipnya, jawabannya adalah tidak. Jika ada satu pesawat kita yang jatuh, operasi ini akan bernilai nol. “

Karameh yang ada di perbatasan Yordania (Sumber: https://www.researchgate.net/)

Perintah untuk Operasi Karameh menyatakan: “Komando Pusat merupakan penanggung jawab operasi, misi adalah untuk membunuh dan menangkap personil Fatah di distrik Karameh, sebagai bagian dari aksi menampilkan kehadiran IDF di wilayah itu dan akan mundur ketika diperintahkan untuk melakukannya.” Sebagai operasi yang dilaksanakan di siang hari, para perencana berpikir, bahwa hal itu akan mendorong orang-orang Fatah di Karameh langsung berhadapan dengan pasukan darat yang akan dibawa masuk oleh helikopter dan akan memblokir semua rute pelarian. Catatan akhir dari perintah tersebut menetapkan: “Dalam keadaan apa pun perempuan dan anak-anak tidak boleh dilukai. Perempuan dan anak-anak akan diungsikan ke lokasi pusat dan tindakan tegas harus memastikan bahwa tidak akan ada bahaya yang menimpa mereka. Pria yang membawa senjata harus dibunuh. Pasukan Israel tidak akan mengenakan seragam kamuflase (yang biasa dikenakan oleh personel Fatah”). Perencanaan itu didasarkan pada asumsi bahwa tentara Yordania “akan berperilaku sesuai dengan yang dilakukannya dalam Perang Enam Hari, setidaknya setelah penerobosan awal. Intervensinya tidak akan terlalu serius; namun, jika mereka terbukti serius, angkatan udara akan menghancurkan artileri dan pasukan darat akan menghancurkan tank-tank musuh. “

Mayor Jenderal Shmuel “Gorodish” Gonen (Sumber: https://www.amazon.com/)

Pada bulan Maret 1968, Asher Porat adalah kepala dokter Brigade ke-7, sebuah brigade lapis baja. Sebagai seorang dokter, yang lebih tua dari petugas staf lainnya, ia dekat dengan Mayor Jenderal Shmuel “Gorodish” Gonen, yang akan memimpin Komando Selatan pada Perang Yom Kippur Oktober 1973. Menurut rencana operasi, sebuah kompi lapis baja dari Brigade ke-7 akan menghadapi seluruh brigade Yordania. Porat, seorang veteran Perang Enam Hari, menulis dalam bukunya bahwa ia kagum bahwa, mengingat perbedaan antara Israel dan pasukan Yordania yang jauh lebih besar, Gorodish menolak untuk menerima dukungan artileri. “Aku tidak ingin dikatakan sesudahnya bahwa kita memenangkan pertempuran berkat artileri dan bukan tank,” adalah jawaban Gorodish. “Selama pertempuran, Gorodish akan melakukan hal yang mustahil untuk menyelamatkan dan mengevakuasi yang terluka,” tulis Porat. “Tapi aku lebih memilih tidak ada tindakan kepahlawanan penyelamatan di bawah tembakan gencar musuh dan lebih memilih memastikan bahwa tidak akan ada korban sama sekali. Dan (saat itu) di mana Komando Pusat? Di mana Staf Umum?”

Kolonel Rafael “Raful” Eitan (Sumber: https://alchetron.com/)

Bersama dengan Gonen dalam operasi adalah veteran berpengalaman lainnya dari masa perang tahun 1948, 1956 dan 1967, Kolonel Rafael “Raful” Eitan. Dia juga seorang komandan brigade. Eitan memimpin Brigade ke-80, Brigade Lembah Jordan. Porat mendengar seorang komandan batalion tank, Letnan Kolonel Uri Bar-On, memperingatkan Eitan bahwa “tanah di sisi Yordania dari Lembah Jordan mungkin banjir atau menjadi rawa karena hujan atau irigasi. Tubuh Raful menjadi sangat tegang, dan, dengan tatapan tegas di matanya, ia berbicara dengan nada agresif kepada Bar-On: “Mengapa Anda begitu berpengetahuan tentang medan di seberang sungai Yordan?” Bar-On menjawab bahwa, sebagai seorang anak, dulu dia naik sepedanya dari Yerusalem ke Jericho dan kemudian di Lembah Yordan, jadi ia sangat akrab dengan daerah Israel dan Yordania di Lembah Yordan. ” Eitan sangat marah. “Kamu masih kecil dulu dan sekarang kamu juga masih kecil,” katanya kepada Bar-On. Eitan mengatakan bahwa jika Bar-On mengulangi peringatannya itu selama diskusi di Komando Pusat, “Anda akan menakut-nakuti semuanya dan anggota Komando Pusat yang lemah. Dan ada banyak orang seperti itu di Komando Pusat yang mungkin akan menunda atau membatalkan operasi. Saya pikir Anda harus tutup mulut. ” Bar-On tidak mundur: “Rawa bisa menimbulkan masalah nyata. Tank-tank akan terbenam di lumpur. Hal ini harus dipertimbangkan dengan serius.” Eitan mengekspresikan rasa tidak suka dengan gerakan tangannya. Di Karameh, Porat akan mengalami pengalaman luar biasa; dimana dia kehilangan lengan kirinya, setelah menyelamatkan beberapa prajurit yang terluka, dan menerima Medali Keberanian. Setelah keluar militer sebagai kolonel, ia menjadi direktur Rumah Sakit Meir di Kfar Sava.

Menjelang Pertempuran

Pada 4 Maret, intelijen Yordania mulai mendeteksi aktivitas Israel di dekat perbatasan, ketika pasukan IDF mulai berkonsentrasi di dekat Jembatan Allenby (sekarang dikenal sebagai Jembatan King Hussein) dan Jembatan Damia (sekarang dikenal sebagai Jembatan Adam). Militer Yordania memerintahkan Divisi Infanteri ke-1 untuk mengambil posisi di dekat jembatan dan di sekitar Karameh. Pada 17 Maret, Dayan memperingatkan bahwa fedayeen sedang bersiap untuk melakukan “gelombang teror baru,” dimana Israel akan mengambil langkah-langkah perlawanan jika Raja Hussein dari Yordania tidak bisa melakukan apa-apa. Eshkol mengulangi pesan itu di Knesset, dan pada hari yang sama, Duta Besar Israel Yosef Tekoah mengajukan dua keluhan dengan PBB terhadap apa yang disebutnya “tindakan agresi pihak Arab yang berulang-ulang.” Pada tanggal 20 Maret, Yordania telah mengidentifikasi bagian-bagian dari Brigade Lapis Baja ke-7 Israel, Brigade Lapis Baja ke-60, Brigade Paratroop ke-35, Brigade Infanteri ke-80, batalion zeni tempur dan lima batalion artileri ada di antara jembatan Allenby dan Damia. Orang Yordania mengasumsikan bahwa pihak Israel sedang merencanakan serangan menyerbu Amman, sebagai antisipasi AD Yordania mengambil posisi di dekat jembatan, dengan mengerahkan Brigade Lapis Baja ke-60 bergabung dengan Divisi Infanteri ke-1. Yordania juga menambahkan sejumlah besar unit mobil lapis baja, antitank, dan artileri ke Divisi Infanteri ke-1. Total daya tembaknya Pasukan Yordania di tempat itu adalah terdiri dari 105 tank Patton dan 88 senjata artileri. Divisi-divisi infanteri dikerahkan di dekat jembatan, masing-masing dengan sebuah kompi tank. Artileri itu sebagian besar dikerahkan di pegunungan Yordan yang lebih tinggi menghadap Karameh yang memperoleh keuntungan topologis.

Pihak Israel tidak menyangka kalau AD Yordania akan memberikan perlawanan sengit, termasuk dengan menggunakan tank-tank M-48 Patton. (Sumber: Pinterest)
Gerilya PFLP di tahun 1969. Berbeda dengan Fatah, di Karameh, PFLP memilih untuk mundur saat menghadapi serangan Israel. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

Sementara itu Pasukan Israel hanya terdiri dari satu brigade lapis baja, satu brigade infantri, satu batalyon pasukan payung, satu batalion teknik dan lima batalion artileri. Unit-unit ini dibagi menjadi empat satuan tugas. Yang terbesar direncanakan menyeberangi Jembatan Allenby dan mencapai Karameh dari arah selatan; yang kedua menyeberangi Jembatan Damiyah, dan mencapai Karameh dari utara, sehingga menghasilkan gerakan menjepit. Sementara itu, pasukan terjun payung akan diangkut oleh helikopter ke kota sementara pasukan keempat akan melakukan serangan pengalih perhatian di Jembatan Raja Abdullah untuk menarik pasukan Yordania dari Karameh dan untuk menutupi maksud utama serangan. Sebelum serangan itu, Angkatan Udara Israel (IAF) akan menjatuhkan selebaran yang memberi tahu tentara Yordania bahwa Israel tidak punya niat untuk melawan mereka, dan bahwa mereka tidak boleh ikut campur; selebaran tersebut nyatanya tidak diindahkan. Majalah Time melaporkan bahwa fedayeen telah diperingatkan sebelumnya oleh intelijen Mesir, dan sebagian besar dari 2.000 komando Arab yang menggunakan wilayah Karameh sebagai markas pelatihan telah ditarik kembali ke bukit-bukit di sekitarnya untuk menembaki tentara Israel. Di pihak Palestina, komandan PFLP Ahmad Za‘rur dan Ahmad Jibril yang lebih suka mengadopsi taktik gerilya standar memilih mundur ke timur saat menghadapi kekuatan musuh yang begitu besar. Namun, pemimpin Fatah Yaser Arafat mendesak agar para fedayeen tetap bertahan dan berjuang untuk mengirimkan pesan ke orang orang Arab bahwa mereka bersedia dan berani melawan Israel. PFLP memang menarik pasukannya, tetapi sekitar 200 pejuang dari Fatah, Pasukan Pembebasan Rakyat, dan Tentara Pembebasan Palestina tetap menghadapi serangan itu. Sekitar 200 gerilyawan itu tetap tinggal untuk mempertahankan kota. Kemudian, wakil Arafat, Abu Iyad, mengklaim dalam memoarnya bahwa ia dan Arafat telah diberi tahu tentang serangan Israel oleh para perwira Yordania, yang mengetahuinya dari CIA (mengenai alasannya akan dijelaskan di tulisan dibawah).

Jalannya Pertempuran

Pada pukul 5:30 pagi pada 21 Maret, pasukan Israel menyerang secara bersamaan di tiga jembatan. Pasukan Zeni tempur membangun jembatan ponton di utara dan pasukan Israel mulai menyeberangi sungai. Ujung tombak Israel bergerak melintasi Jembatan Allenby dan maju menuju Shunat Nimreen. Pada pukul 6:30 pagi, helikopter-helikopter Israel mulai mendaratkan sebagian besar batalion penerjun payung di utara Karameh. Sebuah pesawat Israel seharusnya menjatuhkan selebaran yang ditujukan kepada Fatah, setelah pasukan terjun payung mengepung kota itu; Namun, karena kondisi cuaca yang sulit, helikopter yang menerbangkan pasukan terjun payung tiba terlambat dua puluh menit yang kemudian segera menghadapi perlawanan pasukan komando Fatah dan tentara reguler Yordania yang didukung oleh artileri Yordania, pasukan terjun payung Israel itu menderita kerugian besar. Ketika satuan tugas selatan memulai perjalanan mereka ke utara menuju Karameh, mereka menghadapi brigade infanteri Yordania yang didukung oleh kendaraan tempur lapis baja, artileri dan senjata antitank. Angkatan Udara Israel meluncurkan serangan udara, tetapi hanya mampu menimbulkan kerusakan kecil pada pertahanan kuat Yordania. Bertempur dari posisi mereka yang sudah berkubu kuat, para prajurit Yordania memukul mundur beberapa serangan Israel.

Sikorsky CH-34 Israel. Saat Operasi di Karameh, helikopter-helikopter Israel terlambat dalam menerjunkan pasukan payung karena kendala cuaca. (Sumber: https://www.wikiwand.com/)

Di selatan, penembakan artileri Yordania mencegah Israel mendirikan jembatan ponton lain di jembatan Abdullah, yang segera menghentikan kemajuan Israel di sana. Setelah melintasi Jembatan Allenby, Brigade Lapis Baja ke-7 menyebar ke tiga arah dari Shuna: Satu atau lebih kompi melaju ke utara ke Karameh. Satu batalion infantri dan satu batalion tank bergerak ke timur untuk memblokir jalan Salt. Dan satu batalion infantri lainnya bergerak ke selatan untuk membantu pasukan yang mencoba menerobos Jembatan Abdullah. Sementara itu, kekuatan yang melintasi Jembatan Damia menempatkan dirinya di tepi timur. Pasukan Zeni mulai membangun jembatan baru, dan pasukan itu bergerak ke timur ke persimpangan Musri. Setelah menguasai Musri, mereka menuju selatan ke Karameh namun dipukul mundur oleh brigade utara dari Divisi ke-1 Yordania.

Posisi Pasukan Israel yang menyerbu dan pertahanan Pasukan Yordania di Pertempuran Karameh. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)
Jembatan Damia (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Pasukan yang bergerak ke arah Karameh melalui jembatan Allenby menerobos dan melanjutkan perjalanan ke kota, tiba hanya beberapa saat sebelum jam 7:00. Pada jam 8:00 pasukan Israel telah menguasai kota, yang ternyata telah menjadi basis PLO yang lebih besar dari yang diperkirakan orang Israel. Bersama dengan pasukan terjun payung, pasukan Israel ini terlibat dalam pertempuran sengit melawan brigade tengah divisi ke-1 Yordania dan sejumlah pejuang Fatah. Beberapa penerjun payung dan satuan lapis baja bergerak ke utara untuk beroperasi di kamp Fatah. Para penerjun payung menghancurkan sebagian besar kamp; banyak orang Palestina, termasuk Arafat sendiri, melarikan diri ke arah timur. Sisa pasukan Israel yang bergerak dari Jembatan Allenby diblokir di timur dan selatan Shuna, oleh elemen brigade tengah dan selatan Divisi ke-1 Yordania dan oleh batalion tank dari Salt. Sebuah pasukan kecil infanteri dan lapis baja Israel, di sisi kanan pasukan Israel yang menyerbu dari selatan, berusaha melindungi pasukan di Jembatan Allenby dari serangan pasukan Yordania yang dikerahkan di dekat jembatan Raja Abdullah. Orang-orang Yordania menyerang dengan beberapa kendaraan lapis baja, tetapi orang Israel melakukan perlawanan, dan pertempuran itu berubah menjadi buntu. Sebuah pasukan besar infanteri dan lapis baja Israel pergi ke timur untuk memblokir jalan dari Salt ke jembatan Allenby, dan mereka segera bertemu dengan Brigade Lapis Baja ke-60 Yordania yang mencoba bergabung dengan pasukan pertahanan Karameh. Dalam pertempuran yang terjadi, orang-orang Yordania kehilangan delapan tank Patton tanpa menghancurkan satupun tank Israel, lalu mundur ke bukit untuk bertahan dan terus menembaki pasukan Israel. Angkatan Udara Israel melancarkan serangan udara terhadap posisi kendaraan lapis baja dan artileri Yordania, tetapi tidak dapat menghentikan penembakan tersebut. Dalam dua jam berikutnya, tembakan artileri Israel dan serangan udara diluncurkan terhadap pertahanan Yordania di jalan Musri-Karameh, jalan Salt, dan sebelah timur Jembatan Abdullah. Israel juga mengkonsolidasikan kedudukan mereka di Karameh dengan melakukan serangan udara dan artileri, dan mulai menghancurkan kamp musuh. Sebanyak 175 rumah diledakkan disana.

Pasukan Israel saat menyerbu pemukiman di Karameh (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Sementara itu, Operasi Asuta dilancarkan untuk menyerang beberapa pangkalan gerilya yang lebih kecil di selatan Laut Mati, dekat Safi, tempat bus sekolah menabrak ranjau. Pangkalan-pangkalan itu diserbu oleh pasukan darat Israel dengan dukungan serangan udara jarak dekat. Sekitar 20 tentara dan polisi Yordania serta 20 pejuang Fatah terbunuh, dan 27 lainnya ditawan, sementara Israel tidak menderita satupun korban. Frustrasi dengan harapan mereka untuk menjebak seluruh pasukan PLO gagal, Israel segera menarik diri, tetapi mereka juga harus berjuang untuk kembali ke wilayah Israel. Pada jam 11:00 tentara Israel mulai mundur, dengan helikopter Sikorsky H-34 mengevakuasi pasukan. Karena adanya perintah untuk menyelamatkan sebanyak mungkin kendaraan dari medan perang, mereka baru menyelesaikan penarikannya pada pukul 20:40. Mereka juga telah merencanakan penyelamatan untuk dua tanknya yang tertinggal di wilayah Yordania, tetapi kemudian membatalkan rencana tersebut karena tidak memungkinkan. Pertempuran Karameh sudah berakhir.

Artileri Pasukan Yordania dalam Pertempuran Karameh. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Korban-korban dan kerugian

Perkiraan korban dalam pertempuran singkat ini bervariasi:

  • Israel: Chaim Herzog dan Kenneth Pollack memperkirakan 28 orang tewas dan 69 orang terluka; Shabtai Teveth memberikan angka 32 orang terbunuh dan 70 lainnya luka-luka dari kekuatan 1.000 tentara yang dikerahkan. Sementara Benny Morris menulis bahwa Israel kehilangan 33 orang tewas dan 161 terluka. 27 tank Israel rusak oleh artileri Yordania, 4 di antaranya tertinggal, dua halftrack, enam kendaraan lapis baja dan sebuah pesawat Dassault Ouragan, meskipun pilotnya berhasil terjun payung ke tempat aman. Sebuah Mirage juga dikabarkan crash.
  • Yordania: Zeev Maoz dan Benny Morris menyebutkan 84 tentara Yordania yang terbunuh dan 250 lainnya terluka. Empat ditangkap. Sementara 30 tank nya rusak. Perkiraan lain mengklaim 40 tewas dan 108 terluka.
  • PLO: Herzog menyebutkan 200 tewas, 150 ditangkap; menurut Morris: 156 tewas, 141 ditangkap; Pollack: 100 tewas, 100 terluka, 120–150 ditangkap. Menurut Morris, 20 gerilyawan PLO lainnya terbunuh dan 27 lainnya ditangkap selama Operasi Asuta. Teveth menyatakan 170 terbunuh dan 130 ditawan
Dalam Pertempuran Karameh sebuah Pesawat tempur Dassault Ouragan Israel hancur. (Sumber: Pinterest)

Evaluasi dan Pelajaran dari Pertempuran Karameh bagi pihak Israel

Seminggu setelah Operasi Karameh, penyelidikan Staf Umum dilakukan. Sebenarnya, itu adalah pertemuan para peserta operasi, yang diadakan di asrama tentara Beit Hahayal di Tel Aviv. Jumat itu, para komandan dan staf staf dipanggil untuk menangani sebuah insiden di Israel utara. Pada sore hari, Bar-Lev menyuruh mereka yang terlibat untuk bergegas berbicara; dia tidak ingin kepala militer rabi, Shlomo Goren, menuduh para peserta “melakukan penodaan hari Sabat oleh para petugas negara.” Pada pertemuan itu, kepala Intelijen Militer, Mayjen Aharon Yariv, mengatakan bahwa seminggu sebelum operasi, MI telah dengan hati-hati menganalisis semua skenario yang mungkin tentang apa yang mungkin dilakukan musuh. “Rincian yang tersedia bagi kami berasal dari dua sumber: anggota Fatah, yang adalah tahanan kami dan yang diinterogasi, dan agen rahasia,” kata Yariv. “Kedua sumber ini dapat menyediakan banyak informasi, tetapi masalahnya adalah mereka tidak selalu akurat. Mereka belum menerima pelatihan khusus dalam menganalisis foto udara dan mereka kesulitan mengidentifikasi target dalam foto tersebut.”

Mayor Jenderal Aharon Yariv (Sumber: https://www.gettyimages.com/)

Kolonel Asher Levy, kepala staf Komando Selatan, bertanggung jawab atas Operasi Asuta. Sayeret Shaked, pasukan elit operasi khusus, melakukan misi menyerang pangkalan Fatah di kantor polisi Safi di Yordania dalam upaya untuk mengisolasi wilayah Eilat-Aqaba. Misi itu selesai sesuai rencana tanpa ada korban. Levy menunjukkan bahwa “secara tegas ditentukan bahwa hanya anggota Fatah yang membawa senjata dan melakukan perlawanan dengan senjata api yang akan dibunuh. Anggota Fatah yang telah menjatuhkan senjata mereka, dan juga warga sipil, tidak akan diapa-apakan. Untungnya, kecuali untuk seorang tua Arab yang secara tidak sengaja tertabrak tank karena dia tidak bisa dilihat, tidak ada warga sipil yang terluka. ” Di daerah di bawah yurisdiksi Komando Pusat, di Lembah Yordan, tentara Yordania menempatkan sebuah divisi di seberang pasukan IDF; divisi itu terdiri dari empat brigade, satu batalion tank Patton dan 10 baterai artileri. Tidak jauh dari situ ada satuan tentara Irak. Menurut Yariv, “Selama beberapa hari terakhir, sebelum operasi, dari informasi yang diterima terdapat penguatan signifikan personil Fatah di Karameh; laporan menyebutkan tentang ratusan anggota Fatah. Setelah itu, muncul informasi adanya bala bantuan tidak dalam jumlah ratusan, tetapi jauh lebih banyak, karena laporan itu belum termasuk penduduk muda dari desa yang direkrut secara paksa. ” Seorang karyawan Israel dari kedutaan asing – mungkin Amerika – tiba-tiba dipanggil untuk tugas cadangan militer, dan dengan cara ini atasannya menerima konfirmasi bahwa sebuah operasi militer akan segera dilakukan Israel. Informasi itu dikirim dari Tel Aviv ke CIA dan kemudian ke Raja Hussein di Yordania, yang meneruskannya ke Arafat. Di masa depan, Yariv menyarankan, bahwa seorang Israel yang bekerja untuk kedutaan asing tidak boleh dipanggil “ketika hanya diperlukan 1.500 atau 1.800 tentara cadangan,” berbeda dengan saat situasi perang, di mana ada panggilan umum untuk semua personel cadangan.

Personel Pasukan cadangan Israel dalam Perang Yom Kippur 1973. Pertempuran Karameh memberi pelajaran bagi Israel untuk tidak terlalu mudah mengaktifkan personel militer cadangan untuk operasi-operasi kecil di masa damai. (Sumber: https://www.timesofisrael.com/)

Sebuah peringatan kepada Yordania untuk tidak melakukan intervensi, yang disampaikan oleh CIA, kemudian malah memberikan peringatan lebih lanjut kepada Arafat dan mendorong tentara Yordania untuk melakukan intervensi. Ketika helikopter-helikopter yang membawa pasukan pemblokiran mengalami kesulitan melintasi Bukit Yudea, selebaran-selebaran yang dimaksudkan untuk mendorong para gerilyawan agar melarikan diri didistribusikan terlalu dini di Karameh. Dalam selebaran, Bar-Lev mencatat, “Siapa pun yang memiliki kendaraan, termasuk teman kami Abu Amar (Arafat), harus segera masuk ke kendaraan dan pergi.” Pertempuran menjadi berat dan berlangsung lebih dari 14 jam. Kendaraan lapis baja yang tertembak di timur Jordan dan akhirnya ditinggalkan di lapangan termasuk tiga tank Centurion, salah satunya terbakar; sebuah tank Sherman juga terbakar; serta dua APC, sebuah truk dan sebuah jip, yang semuanya juga dimusnahkan. Enam tank lainnya, meski terkena tembakan keras, berhadil diselamatkan. Sementara itu dua puluh delapan tank Yordania hancur. Tentara Yordania dan PLO bersama-sama keluar dari Pertempuran Karameh dengan menderita 196 orang tewas, 90 di antaranya bersenjata, dan 132 personel ditangkap oleh Israel.

Tank Centurion Israel yang hancur dalam Pertempuran Karameh. (Sumber: https://commons.wikimedia.org/)

Klimaks operasi itu adalah penghancuran dua tank Israel. Menurut Shmuel Gonen, “Kepala staf menghubungi saya dan bertanya kepada saya melalui radio tentang nasib dua tank itu. Saya mengatakan kepadanya bahwa satu-satunya cara mereka bisa diselamatkan adalah dengan menguasai seluruh area. Saya masih berpegang pada pendapat itu. Saya mengatakan bahwa untuk menyelamatkan mereka, saya akan memerlukan batalion tank lain. Akhirnya diputuskan untuk tidak melakukan operasi penyelamatan. “Secara pribadi, saya bersyukur atas keputusan itu; kita akan berakhir dengan lebih banyak korban jika operasi penyelamatan dipaksakan. Tank yang memimpin tertembak tiga kali. Kita bisa saja menembak dan membakarnya, tetapi kita tidak melakukannya karena kita takut bahwa semua atau beberapa anggota kru masih ada di dalamnya, dan mungkin mereka masih hidup. Dari 44 tank dan tiga tank bantuan yang kami gunakan, 27 terkena tembakan dan tiga lainnya terpaksa ditinggalkan di medan tempur. Angkatan udara tidak (berhasil) membungkam artileri, yang kemudian melumpuhkan tank kami. Banyak korban juga yang disebabkan oleh artileri. Saya kemudian diberitahu bahwa sulit untuk membungkam artileri. Saya tidak tahu mengapa; padahal pesawat Piper menemukan di mana baterai artileri musuh berada. “

Pasukan Yordania berlatih dekat perbatasan Israel jelang pecahnya perang 6 hari tahun 1967. Di pertempuran Karameh setahun kemudian performa dan respon Pasukan Yordania mengejutkan militer Israel. (Sumber: https://sputniknews.com/)

Menurut komandan Brigade ke-35, Dani Matt: “Kami diberitahu bahwa Karameh adalah sebuah desa kecil, tetapi ada 5.000 rumah di sana. Tempat itu adalah kota yang cukup besar. Misi ini adalah untuk secara bersamaan merebut kendali atas area-area kunci tertentu untuk mencegah orang-orang melarikan diri Karameh, serta target yang ditetapkan, seperti rumah Abu Amar. Mereka memiliki peringatan awal 23 menit. Di beberapa tempat, helikopter mendarat hanya beberapa meter dari orang-orang Arab. Mereka bertempur sampai mati, melemparkan granat tangan ke dalam APC. ” Komandan pasukan payung yang pasukannya ambil bagian dalam pertempuran sengit termasuk Matan Vilnai, yang memimpin Sayeret Matkal, dan Amnon Lipkin-Shahak, yang memimpin satuan kendaraan lapis baja ringan Duchifat. “Jika saja seseorang memberi satu atau dua loudspeaker kepada Matan, kita akan menderita lebih sedikit korban,” kata seorang mayor jenderal kemudian. Menurut Letnan Kolonel Arik Regev, kepala cabang operasi Komando Pusat, “Mungkin saya membuat kesalahan dalam hidup saya, tetapi saya tidak mau menutup-nutupi. Kita tidak membayangkan bahwa Tentara Yordania akan bertempur seperti itu. Aku tidak percaya bahwa komandan Brigade ke-7 berpikir bahwa akan begitu banyak tanknya yang tertembak. Saya juga yakin tidak ada yang berpikir bahwa musuh akan merespon dengan tembakan artileri. Anda diizinkan untuk membuat kesalahan dalam menilai suatu situasi tetapi, menurut saya, ada saat ketika penilaian bisa diubah – ketika kami melihat bahwa keadaan tidak berubah seperti yang kami pikirkan dan bahwa orang-orang Yordania tidak melarikan diri ke Amman. Seandainya kami berpikir bahwa tentara Yordania akan bertindak seperti itu, saya yakin angkatan udara akan menyerangnya terlebih dahulu. “

Pemukiman di Karameh hancur setelah pertempuran (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Komandannya, Mayor Jenderal Uzi Narkis, kepala Komando Pusat, mencoba melukiskan gambaran yang lebih cerah: “Tujuan Staf Umum dalam Operasi Tofet kurang lebih tercapai, menurut saya. Seperti dalam operasi apa pun, kami bisa saja membuat kesalahan. Tidak ada dari kita yang tahu situasi di lapangan. ” Narkis mengeluh tentang kehadiran komandan senior yang ingin tahu yang merupakan tamu tak diundang; mereka duduk rapat dengan anggota-anggota pos komandonya dan siku mereka menutupi peta pertempuran. Selama bertahun-tahun, masyarakat tidak disadarkan akan fakta bahwa Narkis telah gagal di Karameh dan bahwa, setelah operasi, ia diberhentikan sebagai kepala Komando Pusat. Komandan pasukan artileri, Mayjen Israel Tal, dipanggil untuk menyelamatkan pasukan yang bisa diselamatkan. Bar-Lev menyimpulkan: “Gambarannya adalah seperti ini, markas pusat Fatah ditemukan tiga setengah kilometer dari perbatasan. Ketika sungai Yordan surut, mereka merencanakan serangan teror besar-besaran. Pertanyaan yang kami hadapi adalah: Apa yang harus kita lakukan? Kita punya empat pilihan. Opsi pertama adalah menghentikan mereka di perbatasan. Jangan lupa bahwa kita sudah sukses di daerah itu. Tapi dalam beberapa minggu terakhir, 24 orang telah terbunuh di perbatasan sebagai akibat infiltrasi melalui Sungai Jordan, 11 di antaranya adalah warga sipil, dan 86 lainnya luka-luka. Pilihan kedua adalah memukul mereka dengan bom dan mortir, tetapi mereka telah menggali tempat perlindungan dalam-dalam dan tidak akan menderita banyak korban. Opsi ketiga adalah melakukan serangan malam hari. Sasaran Fatah sudah dipersiapkan dengan baik untuk serangan malam dan mereka telah menyiapkan serangan sampai ke sungai Yordan. Tetapi tidak ada jaminan bahwa kami akan bisa menangkap atau membunuh banyak dari mereka, dan kami sendiri kemungkinan akan membayar harga yang mahal.

Prajurit Yordania memeriksa perlengkapan tentara Israel yang ditinggalkan. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

“Opsi keempat adalah serangan di siang hari di mana kami akan menguasai daerah itu dan mengisolasi dan membunuh para gerilyawan. Opsi itu tidak dipilih setelah insiden bus yang membawa siswa-siswa sekolah menengah itu; direkomendasikan seminggu atau lebih sebelum kejadian, IDF merencanakan dan membuat persiapan untuk pertempuran dan siap berperang seminggu sebelum operasi. “Apakah harga yang kita bayar sepadan dengan apa yang kita raih? Itu pertanyaan sulit untuk dijawab. Mustahil untuk berspekulasi apa yang bisa dilakukan oleh 300 atau lebih anggota Fatah itu seandainya operasi ini tidak dilakukan. Tapi apa yang secara alami terjadi dalam pertempuran selama masa perang seharusnya tidak terjadi dalam pertempuran di masa damai – ketika Anda punya waktu untuk merencanakan, memeriksa, melakukan patroli, melakukan serangan mendadak dan memfoto. Pasukan lapis baja pergi terlalu jauh ke depan. Tujuannya di sini bukan untuk merebut perbentengan atau untuk melumpuhkan. Beberapa tank; tujuannya adalah untuk mengamankan area operasi. (Dan ini menyebabkan masalah) Kemudian harus menyelamatkan sebuah tank, di mana tidak jelas apakah salah satu anggota kru masih di dalam, dan jika demikian, apakah dia masih hidup dan berapa banyak korban lagi yang diperlukan setelah kami telah kehilangan 17 tentara. “

Raja Husein dari Yordania memeriksa Tank Centurion Israel yang hancur terbakar di Karameh, 22 Maret 1968. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Kesimpulan terakhir Bar-Lev: “Misi ini sukses dilaksanakan, tetapi dengan adanya beberapa yang tidak sesuai rencana dan kegagalan yang tidak akan saya izinkan terjadi dalam sebuah operasi militer di masa damai. Terlalu banyak rasa percaya diri dan terlalu banyak sikap melecehkan terhadap kemampuan musuh. Gambaran global, strategis dan operasional tidak berlaku untuk setiap pertempuran. (Dalam operas ini) rincian detail tidak dipertimbangkan dan analisisnya tidak menyeluruh. Hal-hal yang dapat kita terima ketika IDF berperang tidak dapat ditoleransi ketika 1.300 atau 3.000 tentara mengambil bagian dalam operasi keamanan rutin, bahkan yang berskala besar di masa damai. “Pukulan yang diberikan operasi ini kepada musuh dan kontribusi yang dibuatnya terhadap citra IDF di mata publik tidaklah sebanding …. Fakta bahwa (meski) pesawat telah menyerang (posisi) artileri, namun mereka tetap terus menembak, dan fakta bahwa peralatan IDF terpaksa ditinggalkan di Yordania menggambarkan IDF sebagai tentara yang belum bisa menghilangkan titik lemahnya. Itu malah akhirnya menyemangati pihak musuh. ” Kesimpulan semoga tidak harus banyak diperbarui untuk menyesuaikannya dengan lawan Israel di masa modern seperti Hizbullah dan Libanon, atau Hamas dan Gaza, menggantikan Fatah dan Karameh.

Sudut pandang Palestina

Dari sudut pandang Palestina, meskipun secara taktis kemenangan militer menjadi milik Israel, dalam arti bahwa Israel mencapai tujuan mereka menghancurkan basis fedayeen di Karameh dan menimbulkan korban 10 kali lebih besar di pihak Arab, namun pertempuran Karameh dianggap oleh banyak orang sebagai kemunduran di pihak Israel dan kemenangan moral, untuk dunia Arab dan khususnya untuk Palestina. Ini menandai pertama kalinya sejak Perang Juni 1967 bahwa pasukan Israel yang begitu besar telah dikerahkan melintasi perbatasan 1967, dan fakta bahwa pasukan itu menderita sejumlah kerugian besar (dan tak terduga) sedikit banyak meningkatkan moral di seluruh dunia Arab, yang masih belum pulih dari kekalahan 1967. Hal ini turut memperkuat tekad mereka untuk tidak berkompromi dengan Israel dan terus melawan hingga Perang Yom Kippur tahun 1973. Meskipun tentara, tank, dan artileri Yordania memainkan peran utama dalam pertempuran itu, pihak Fatah segera memanfaatkan pertempuran itu untuk menggambarkannya sebagai contoh ketabahan dan keberanian pejuang Palestina: dengan bersenjata ringan, prajurit fedayeen berperang melawan tentara Israel yang perkasa dan menimbulkan kerugian besar (meski kebenaran klaim ini patut diragukan mengingat besarnya peran pihak Yordania). Yasser Arafat, pemimpin Fatah, yang pasukannya menanggung beban paling berat dari pertempuran itu, mengatakan: “Apa yang kami lakukan telah membuat dunia … menyadari bahwa Palestina bukan lagi sejumlah pengungsi biasa, tetapi sebuah bangsa yang mampu memegang kendali nasib mereka sendiri dan berada dalam posisi untuk menentukan masa depan mereka sendiri. ” Seorang diplomat Israel, Gideon Rafael mengakui: “Operasi itu memberi dorongan besar bagi organisasi Fatah-nya Yasser Arafat dan menempatkan masalah Palestina ke dalam agenda internasional, tidak lagi hanya sebagai masalah kemanusiaan bagi para pengungsi yang tidak memiliki tempat tinggal, tetapi sebagai klaim atas status negara Palestina.”

Pertempuran Karameh menaikkan pamor Faksi Fatah pimpinan Yasser Arafat dan mengangkat isu Palestina di dunia internasional.

Akan tetapi, secara militer, Karameh adalah akhir dari strategi Arafat untuk menempatkan pangkalan gerilya di Yordania untuk melakukan serangan terhadap Israel. Meskipun demikian, dimensi kerugian yang ditimbulkan pada orang Israel memungkinkan orang-orang Palestina untuk menyatakan pertempuran itu sebagai kemenangan Palestina pertama atas unit tentara reguler Israel. Begitu tersentuh oleh kemenangan itu, Raja Hussein sampai menyatakan bahwa: “Kita semua adalah fedayeen!” Gengsi fedayeen di Timur Tengah segera naik, dan ribuan pemuda mengajukan diri untuk bergabung dengan gerakan perlawanan Palestina. Fatah melaporkan bahwa 5.000 sukarelawan mendaftar untuk bergabung dalam waktu 48 jam setelah pertempuran. Gengsi para pejuang yang meningkat, dan itu tampak jelas empat bulan kemudian, pada bulan Juli 1968, ketika Dewan Nasional Palestina — “parlemen di pengasingan” PLO – memberikan lebih dari sepertiga kursi untuk perwakilan Fatah. Pertumbuhan besar pasukan Palestina di Yordania setelah pertempuran, dan keyakinan bahwa “kemenangan” telah memberi kepemimpinan organisasi gerilya Palestina yang ada di tangan Yaser Arafat, mengilhami serangan lebih lanjut oleh fedayeen yang berbasis di Yordania terhadap posisi Israel. Hal ini jelas mendorong serangan Israel lebih lanjut dan menunjukkan bahwa pihak Palestina tidak tunduk pada otoritas rezim Yordania, atau bahkan dicurigai akan memberontak secara terbuka terhadapnya. Pada akhirnya, perkembangan ini menyebabkan pertempuran sengit antara fedayeen dan tentara Yordania pada September 1970, yang dikenal sebagai peristiwa Black September, pada saat organisasi gerilya Palestina menjadi lebih kuat dari sebelumnya dan dianggap rezim Yordania mulai mengancam pemerintahan mereka.

Aksi terorisme dan pembajakan pesawat oleh beberapa gerilya Palestina setelah pertempuran Karameh justru pada akhirnya mengurangi simpati warga dunia atas aspirasi perjuangan Rakyat Palestina. (Sumber: https://birdinflight.com/)

Memang pertempuran Karameh telah meningkatkan pamor Fedayeen dan simpati internasional. Namun, tragisnya, tidak semua kepemimpinan Palestina memiliki pendapat yang sama mengenai taktik perjuangan diplomasi. Tak lama setelah Karameh, kelompok-kelompok radikal Palestina mulai meluncurkan kampanye pembajakan pesawat yang sangat dipublikasikan dan serangan teroris tingkat tinggi lainnya yang memiliki efek mengalihkan perhatian dari keuntungan yang sebelumnya mereka peroleh di PBB. Alih-alih diakui dalam imajinasi publik sebagai bangsa yang memiliki hak dan kepribadian baru. Karena aksi-aksi tidak simpatik itu, mereka tidak lagi dipandang sebagai pengungsi tunawisma atau pejuang kemerdekaan tetapi sebagai teroris yang haus darah. Barulah pada tahun 1988, ketika Arafat dengan tegas mengecam cara-cara teror, orang-orang Palestina mulai mendapatkan kembali keuntungan politik yang mereka peroleh di Karameh.

Tanggapan-tanggapan lain

Raja Hussein begitu tergerak hatinya atas hasil pertempuran Karameh hingga menyatakan: “Kita semua adalah fedayeen!” (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Setelah Pertempuran Karameh, Israel sangat dikutuk oleh opini dunia. Duta Besar AS untuk PBB, Arthur Goldberg, mengatakan “Kami percaya bahwa serangan militer seperti yang baru saja terjadi, merupakan tindakan diluar proporsi terhadap tindakan kekerasan yang mendahuluinya, sangat disesalkan.” Duta Besar AS untuk Israel, Walworth Barbour, malah bersikap lebih jauh dengan mengatakan bahwa dalam waktu dua puluh tahun, seorang sejarawan akan menuliskan hari itu sebagai awal dari kehancuran Israel. Menteri Luar Negeri Israel, Abba Eban melaporkan pernyataan Dubes AS itu ke kabinet, namun Menachem Begin mengatakan bahwa ucapan seperti itu tidak boleh dikutip dalam rapat kabinet. Yordania mengklaim telah memenangkan pertempuran dan berhasil menghentikan serangan Israel ke Provinsi Balqa yang bermaksud untuk menduduki wilayah itu dan mengubahnya menjadi zona penyangga keamanan, yang juga berfungsi sebagai hukuman, karena dukungan Yordania untuk PLO. Meskipun Palestina tidak menang sendirian, Raja Hussein membiarkan orang-orang Palestina memperoleh pujian. Irak dan Suriah kemudian menawarkan program pelatihan untuk beberapa ribu gerilyawan. Negara-negara Teluk Persia, yang dipimpin oleh Kuwait, mengumpulkan uang untuk mereka melalui pajak 5% dari gaji puluhan ribu pekerja Palestina yang tinggal di sana, dan upaya pengumpulan dana di Lebanon mengumpulkan dana $ 500.000 dari Beirut saja. Organisasi-organisasi perlawanan Palestina mulai memberikan jaminan dukungan seumur hidup bagi semua keluarga gerilyawan yang terbunuh dalam aksinya. Dalam setahun setelah pertempuran, Fatah memiliki cabang di sekitar delapan puluh negara. Kemudian, Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa mengeluarkan resolusi 248 yang mengutuk serangan Israel di wilayah Yordania dan pelanggaran garis gencatan senjata, dan merujuk pada resolusi 237 yang mengingatkan Israel untuk memastikan keselamatan warga sipil di wilayah militer. Resolusi itu menegaskan bahwa pembalasan tidak dapat ditoleransi dan bahwa pengulangan pelanggaran seperti itu akan memaksa Dewan Keamanan untuk mengambil langkah lebih lanjut.

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

Debacle in the Desert by Amir Oren, 13.05.2011

https://www.haaretz.com/1.5011697

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Battle_of_Karameh

Battle of al-Karama A Triggering Moment For the Palestinian Resistance

https://www.paljourneys.org/en/timeline/highlight/165/battle-al-karama

Battle of Karameh Establishes Claim of Palestinian Statehood By Donald Neff

https://www.wrmea.org/1998-march/middle-east-history-it-happened-in-march.html

4 thoughts on “Pertempuran Karameh 21 Maret 1968: Kegagalan Israel menangkap Yasser Arafat dan naiknya pamor Faksi Fatah Palestina

    • 6 August 2020 at 10:47 pm
      Permalink

      Tks, I really appreciate if you can share this blog to the others

      Reply
  • 12 October 2020 at 4:02 pm
    Permalink

    Very educative post, learned a lot from this article. So glad I found your blog, and was
    able to learn new things. Keep posting informative
    articles, it is really valuable.
    Best regards,
    Thompson Zacho

    Reply
    • 12 October 2020 at 4:34 pm
      Permalink

      Tks, I really appreciate if you can share this blog to the others

      Best Regard,
      Victor Sanjaya

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *