Pertempuran LZ Peanuts (4-5 Mei 1968): Neraka Diatas Bukit Tanpa Nama

Pada jam-jam subuh tanggal 5 Mei 1968 kecuali serangga yang terus-menerus terbang mondar-mandir, lanskap di sekitar di sebelah barat Khe Sanh sangat sunyi. Di lembah dataran yang kerap banjir yang meliuk dari Khe Sanh ke Kamp Pasukan Khusus Lang Vei di sebelah barat, Rute 9 tidak menunjukkan adanya tanda-tanda aktivitas manusia yang signifikan. Namun pada saat fajar menyingsing hari itu, puluhan mayat Tentara Vietnam Utara yang hancur dan sisa-sisa pertempuran telah berserakan di lereng LZ Peanuts. Zona Pendaratan itu tetap berada di tangan tentara Amerika, tetapi harus dibayar dengan biaya nyawa manusia yang signifikan di kedua belah pihak. Namun ironisnya pertempuran ini kemudian tidak banyak membantu dalam mempertahankan LZ Peanuts, karena tidak lama setelahnya tentara Amerika meninggalkan zona pendaratan itu untuk bertempur di tempat lain. Sejarah hanya mengingat Pertempuran di LZ Peanuts sebagai salah satu pertempuran di bukit tanpa nama yang dijalani oleh pasukan Kavaleri Angkatan Darat AS yang tengah sibuk bertempur di berbagai wilayah berbahaya di Vietnam pada masa-masa yang paling genting. Namun bagi sebagian besar dari mereka yang selamat dari pertempuran ini, pertempuran untuk mempertahankan LZ Peanuts adalah salah satu momen yang paling signifikan yang mereka alami selama masa penugasan di Vietnam. Teror pertempuran, pengalaman dan persaudaraan diantara mereka, serta ingatan akan rekan-rekan mereka yang gugur akan senantiasa diingat sepanjang hidup mereka.

Dalam Perang Vietnam Tentara Amerika kerap bertempur mempertahankan bukit-bukit tanpa nama, salah satunya adalah LZ Peanuts. Tampak pada gambar adalah sisi barat bunker LZ Peanuts dekat dengan baterai artileri. (Sumber: courtesy of Jannete Chevorney/https://m.facebook.com/)

LATAR BELAKANG

Pada bulan Mei 1968, dua pos kecil Amerika yang berada jauh di dalam wilayah musuh adalah pertahanan yang tersisa dari kekuatan besar Divisi Kavaleri ke-1 (Airmobile) yang baru saja terlibat dalam salah satu pertempuran terbesar dalam perang Vietnam. Divisi tersebut hadir selama Operasi Pegasus pada awal bulan April untuk mematahkan pengepungan Pasukan Angkatan Darat Vietnam Utara (NVA) atas pangkalan Marinir di Khe Sanh, yang telah diserang dan dikepung sejak tanggal 21 Januari 1968. Setelah pasukan bantuan mencapai pangkalan Marinir yang terkepung pada tanggal 8 April, sebagian besar pasukan divisi Kavaleri ke-1 bergerak ke selatan ke Lembah A Shau. Tapi dua batalyon dan unit artileri yang berasal dari Brigade ke-2 divisi itu tetap tinggal di zona pendaratan Snapper dan Peanuts untuk mendukung resimen Marinir yang telah membangun kembali kendali mereka atas pangkalan di Khe Sanh dan melakukan serangan terhadap pasukan NVA yang ada di perbukitan sekitarnya. Tak lama kemudian, mereka yang terluka dan mati dari kedua pihak akan bertebaran di sekitar Landing Zone Peanuts dalam salah satu pertempuran terberat yang pernah dialami oleh banyak pasukan kavaleri udara Amerika. Pada pertengahan April, pasukan dari Batalyon ke-1, Resimen Kavaleri ke-5, telah diangkut dengan helikopter ke bukit berbentuk T, yang diberi nama LZ Peanuts, untuk melindungi jalur masuk dari arah barat ke Khe Sanh. Di sebelah timur bukit terdapat beberapa ribu meter dataran terbuka. Di selatan terdapat Rute 9 dan kamp Pasukan Khusus di Lang Vei yang sempat dikuasai musuh sekitar 2½ bulan sebelumnya. Sementara di sebelah barat adalah Laos dan Jalur Ho Chi Minh. Pasukan komunis di sana nampaknya ingin menyerang Khe Sanh lagi, tetapi untuk itu pertama-tama mereka harus memusnahkan LZ Peanuts.

Pasukan Kavaleri ke-1 di LZ Stud, area persiapan untuk Operasi Pegasus, 4 April 1968, tepat sebulan sebelum pecah pertempuran di LZ Peanuts. Operasi Pegasus berhasil mematahkan kepungan atas markas Marinir di Khe Sanh yang telah berlangsung sejak bulan Januari 1968. (Sumber: https://www.flickr.com/)
Prajurit yang dihadapi oleh Pasukan Kavaleri ke-1 (dan Marinir) Amerika di wilayah Korps I, bukanlah sekedar gerilyawan Vietcong, akan tetapi juga pasukan reguler Vietnam Utara (NVA) yang sangat terlatih dan bersenjata lengkap. (Sumber: https://id.pinterest.com/)

Tidak seperti pejuang gerilya Vietcong berbaju piyama yang ditemui lebih jauh ke selatan di Dataran Tinggi Tengah, kedekatan lokasi LZ Peanuts dengan Laos dan Zona Demiliterisasi berarti bahwa pasukan Kavaleri Ke-1 AS akan kerap berhadapan dengan Tentara Reguler Vietnam Utara yang terlatih dengan baik. Prajurit Bobby Kronenburg dari New York menggambarkan pasukan NVA sebagai “terlatih dengan baik, bersenjata lengkap, berseragam, membawa ransel penuh beras dan secara fisik lebih besar dari VC.” Dengan bersembunyi di Laos, musuh relatif aman, dan setiap saat dapat keluar dari bunker tersembunyi mereka untuk melontarkan mortir ke Zona Pendaratan yang tidak siaga. Mungkin yang paling menakutkan, adalah meriam NVA kaliber 152 mm, yang tersembunyi dengan baik di puncak sentinel Pegunungan Co Roc-Laos, dan tiba-tiba bisa menembakkan rentetan peluru artileri tanpa henti ke Zona Pendaratan atau pasukan yang bertahan terlalu lama di satu tempat. Ini adalah wilayah Zona Taktis Korps I Vietnam pada tahun 1968; tempat penuh musuh, dan sangat berbahaya. Seperti yang dinyatakan secara akurat dalam Kutipan Presidential Unit Citation untuk Divisi Kavaleri ke-1, yang bertempur di I Corp  “(pasukan kavaleri ke-1) menghadapi kondisi yang sulit dan berbahaya seperti yang dialami oleh pasukan Angkatan Darat AS dalam perang ini atau perang manapun”.

Dari arah Laos yang cukup aman, pasukan NVA dengan mudah menembakkan meriam-meriam kaliber 152 mm mereka (D20 Howitzer) ke posisi-posisi pasukan Amerika di sekitar Khe Sanh. (Sumber: https://id.pinterest.com/)
Beberapa hari sebelum pertempuran, sebuah helikopter CH-46 Sea Knight milik Marinir mengirimkan amunisi ke lereng posisi artileri di LZ Peanuts. (Sumber: Mike Kern/https://www.historynet.com/)

Sementara itu Pasukan dari Batalyon ke-1/Kavaleri ke-5, telah membangun posisi pertahanan di sekitar seluruh perimeter zona pendaratan dan membentengi tempat tinggal mereka yang berjarak satu dengan yang lain. Dengan menggunakan selongsong peluru artileri yang diisi dengan tanah, tempat tinggal mereka akan dibangun sebagian di atas dan sebagian di bawah tanah. Mereka memasang kawat berduri melingkar di beberapa area perimeter dan memotong rumput gajah di sekitar bunker untuk menyediakan medan tembak yang lapang. Membentang dari area utama LZ Peanuts adalah sebidang tanah sempit yang dipasangi dengan howitzer kaliber 105 mm dan bunker artileri di Baterai A, Batalyon 1, Resimen Artileri ke-77, Divisi Kavaleri ke-1. Segera setelah howitzer ditarik dengan susah payah, dan dipasang ke tempatnya, helikopter CH-46 Sea Knight milik Marinir akan mulai mengirimkan amunisi ke baterai artileri itu. Mengingat volume penembakan masing-masing baterai, maka dibutuhkan pasokan yang berkelanjutan untuk memenuhi kebutuhan unit-unit artileri itu. Dari landasan pendaratan kecil di lereng bukit itu, amunisi akan ditimbun sedikit di atas lereng antara meriam nomor satu dan dua. Segera, pasokan melebihi permintaan dan persediaan bubuk mesiu dan peluru yang signifikan mulai menumpuk. Akhirnya, lebih dari 2000 butir amunisi howitzer akan disimpan di lokasi terpusat seperti ini. 

Lokasi Artileri di LZ Peanuts. (Sumber: Photo By Sgt. Douglas McPhee/https://m.facebook.com/)

“MEMPERSIAPKAN PERTEMPURAN”

Pada tanggal 4 Mei 1968, LZ Peanuts telah ditempati selama hampir dua minggu. Pada titik ini, lokasi yang dulu tenang dan bersih sekarang menjadi penuh kotoran yang dihasilkan manusia. Dengan kurangnya sanitasi, bukit tersebut dapat (seperti yang dijelaskan oleh Sersan Doug McPhee) “dideteksi oleh NVA melalui indra penciumannya daripada dengan mengamati peta”. Ransum C-ration kosong, selongsong artileri dan lain sebagainya mengisi kawah terbuka bekas bom di bukit, bau busuk dari tubuh yang belum mandi ada dimana-mana, dan kabut yang mudah terdeteksi hasil dari “pembakaran kotoran manusia” bisa dilihat dan juga tercium dari kejauhan. Demikian pula, berbagai aktivitas manusia diatasnya menyebabkan gumpalan tanah merah menjadi debu merah halus, menciptakan aerosol disekitarnya bercampur dengan sisa dioksin yang menyebar ke udara dengan setiap kali ada helikopter yang datang. Pada pagi tanggal 4 Mei Unsur-unsur peleton kedua Kompi Alpha 1/5 Kavaleri akan meninggalkan perimeter LZ Peanuts saat matahari terbit untuk menyelidiki aktivitas musuh di LZ Boots yang baru saja ditinggalkan. Kompi Bravo dan Charlie 1/5 Kavaleri pindah dari Pangkalan Operasi garis depan mereka untuk melakukan operasi di Wilayah Lang Vei. Sementara itu Kompi Delta akan beroperasi di dekat LZ Butcher. Pada pagi hari, Kompi Charlie telah menemukan adanya tanda-tanda aktivitas musuh yang di atas rata-rata di daerah operasi di sebelah barat LZ Peanuts. Peringatan pertama bagi prajurit Amerika di LZ Peanuts datang pada pukul 8:30 dengan serangan artileri pertama masuk dari arah Barat. Sekitar pukul 14.00 peluru kedua mendarat di dekat Baterai meriam, gagal mencapai target yang dimaksudkan yakni tempat penimbunan amunisi. Seorang tamtama dari Kompi A dan dua tentara (Blackhat) dari peleton ke-227 dari Kompi Pathfinder Grup Penerbangan ke-11 terluka parah dan harus dievakuasi. Sementara itu, Letnan Ted Cattron dari Unit Pathfinder Peleton ke-228 duduk di dekat LZ Snapper. Merenungkan berita tentang adanya dua korban “Blackhat” di LZ Peanuts di dekatnya, Cattron kemudian menyaksikan pemimpin peleton dari Peleton ke-227 berjalan ke arahnya dan berkata, “Ted, aku hanya memiliki Kopral Lewis Payton yang tersisa di LZ Peanuts. Karena dia sudah mendekati waktu pulang (ke Amerika menyelesaikan penugasannya), apakah kamu tidak keberatan pergi ke sana dan menggantikannya? Ini akan membantuku? ” Karena waktu itu pembicaraan di antara para perwira menunjukkan bahwa Operasi Scotland II akan segera berakhir dan lalu lintas udara akan banyak dilakukan di LZ Peanuts, Letnan Cattron setuju untuk pergi ke bukit di seberang lembah ke LZ Peanuts. Melompat ke helikopter di LZ Snapper di dekatnya, Letnan Cattron akan terbang ke LZ Peanuts untuk mengambil peran sebagai “Petugas Pengontrol LZ Peanuts”. 

Markas batalion di LZ Peanuts termasuk tenda segi delapan yang merupakan markas Letkol Zeke Jordan. (Sumber: Bennie Koon/https://www.historynet.com/)

Pada sore hari Kompi Charlie dari Kavaleri 1/5 mulai menghadapi perlawanan musuh yang semakin intensif beberapa kilometer di sebelah Barat LZ Peanuts. Aksi tersebut dimulai dengan tembakan penembak jitu yang intensif selama beberapa jam berikutnya oleh NVA yang “berada di posisi yang luar biasa baiknya” yang kemudian diikuti dengan tembakan senjata ringan dan tas peledak yang dilemparkan ke Kompi itu. Kompi Bravo lalu dikirim ke tempat itu untuk membantu, tetapi banyak korban telah berjatuhan. Ketika Letnan Brown berputar-putar di atas helikopter Komando dan Kontrol Kompi dengan Komandan Batalyon, dia mendengar berita yang mengejutkan; tersiar kabar bahwa di antara tiga orang yang tewas dan enam yang terluka adalah seorang teman dan mentornya, Sersan Satu Robert Fowler. Setelah mengalami tiga korban luka tambahan, Kompi Charlie mundur dan memanggil dukungan Aerial Rocket Artillery (ARA) dari LZ Stud. Selama satu jam berikutnya, aktivitas di LZ Peanuts agak tenang. Letnan Maynard sibuk mempersiapkan laporan situasi di FDC. Sementara itu, Letnan Cattron mulai mengisi kotak amunisi untuk menambah pengamanan di bunker kecilnya di dekat meriam nomor satu.

Serangan artileri NVA tanggal 4 Mei 1968. (Sumber: https://m.facebook.com/)
Peluru artileri NVA tepat menghantam timbunan amunisi di LZ Peanuts, sore hari tanggal 4 Mei 1968. (Sumber: Photo By Mike Kern/https://m.facebook.com/)
Helikopter CH-47 Chinook dengan membawa air coba membantu memadamkan api di LZ Peanuts, 4 Mei 1968. (Sumber: Photo By Mike Kern/https://m.facebook.com/)

Sekitar pukul 16.30 pada tanggal 4 Mei 1968 — hanya sekitar dua minggu setelah pasukan tiba di LZ Peanuts — tiga peluru artileri kaliber 122 mm musuh mendarat di perimeter. Setelah beberapa kali gagal, NVA akhirnya Berhasil menyesuaikan koordinatnya dengan tepat pada sasaran saat satu peluru mendarat tepat di area depot amunisi yang sekarang berisi lebih dari 2000 butir amunisi howitzer 105 mm. Ledakan itu membuat prajurit-prajurit Amerika berebut untuk berlindung. Dari pos pengamatan persembunyian tidak jauh dari sana, seorang pengamat garis depan tanpa nama dari Divisi “Besi” ke-308 Vietnam Utara melihat kepulan asap putih yang dia lihat datang dari Pangkalan Amerika di utara Rute 9. Dia jelas telah melakukan pekerjaannya dengan baik. Pada penghujung hari, LZ Peanuts telah diserang dengan 21 peluru artileri, yang menewaskan dua prajurit dan membawa 10 lainnya terpaksa meninggalkan pertempuran, termasuk Kapten Baterai A. Ron Weiss. Sementara itu dengan komandan baterai diistirahatkan dan tempat penimbunan amunisi yang tertembak masih meledak, para prajurit artileri yang telah berkurang jumlahnya meninggalkan posisi mereka di punggung bukit yang sempit dan bergeser ke lubang perlindungan di puncak bukit utama, sementara meninggalkan enam baterai howitzer kaliber 105 mm mereka. Menjelang malam, Letnan Kolonel Zeke Jordan, di pusat operasi dari Batalyon 1, Kavaleri ke-5 di LZ Peanuts, menyadari bahwa bukitnya telah menjadi target dari tentara NVA yang berbasis di lokasi yang berjarak 31/2 mil barat daya di Laos. Lebih buruk lagi, Jordan sekarang tidak memiliki howitzer yang siap diawaki di puncak bukit dan hanya memiliki satu kompi infanteri, Alpha Company, yang kekurangan personel, untuk menyediakan pengamanan di perimeter. Awalnya LZ Peanuts dirancang untuk dilengkapi baterai howitzer-howitzer kaliber 155 dan 105 mm sementara sebagai pengamanan ditempatkan setidaknya tiga kompi infanteri. Kini hanya ada sekitar 150 prajurit yang masih menjaga LZ Peanuts, sementara 300 atau lebih prajurit Vietnam Utara dari Resimen ke-66/Divisi NVA 304 — dua kompi infanteri NVA dan satu kompi sapper (pasukan komando elit) — tersebar dan bersembunyi di sisi zona pendaratan di puncak bukit dan di area mereka menyiapkan serangan di lembah bawahnya. 

LZ PEANUTS DIBAWAH SERANGAN

Beberapa saat setelah tengah malam pada tanggal 5 Mei, para sappers secara perlahan mulai merangkak keatas bukit dari berbagai sisi. Misi mereka adalah untuk meledakkan dan membuat celah lebar di perimeter LZ Peanuts sehingga pasukan NVA reguler, yang berlari di belakang mereka, dapat bergegas untuk melakukan serangan jarak dekat. Dengan hanya mengenakan celana kain dan diolesi jelaga hitam, para personel sappers menyusuri rumput gajah tebal yang mengiris kulit mereka. Mereka mengangkut tas berisi bahan peledak dan membawa senapan serbu AK-47 dengan popor lipat. Meskipun beberapa membawa persediaan medis, sebagian besar tahu pendakian mereka ke puncak bukit kemungkinan besar akan menjadi perjalanan satu arah. Tepat sebelum jam 2 pagi, Spcs. David Hosu dan Thomas Mullins dari Regu Pertama, Peleton 1, Kompi Alpha duduk di bunker bawah tanah mereka dibawah bukit, sekitar 200 meter di luar perimeter LZ Peanuts, di mana mereka sedang bertugas di pos pengamatan mereka, bersama dengan Prajurit. Britton Kaur, Terry Misener, Jackie Lee Riley dan Don Collier. Kaur dan Misener telah bertengger di atas pos sebagai pengintai, dan sudah waktunya bagi mereka untuk digantikan oleh Hosu dan Mullins. Kaur menjulurkan kepalanya di celah di dinding karung pasir untuk memastikan mereka bangun. “Baiklah, sial, aku sudah bangun,” desis Hosu yang kesal. Tiba-tiba dua peluru suar menyala tepat di luar perimeter, menerangi sosok Kaur dan Misener di luar bunker. Kedua pria itu segera mengambil granat dari jaket antipeluru mereka, menarik pin dan melemparkan bahan peledak ke arah peluru suar itu. Ledakan itu diiringi dengan teriakan pasukan musuh. Suara yang dihasilkan menunjukkan bahwa suar tersebut tidak tersandung oleh sesuatu seperti babi atau harimau tetapi seseorang yang sedang menyelidiki garis perimeter mereka. Ledakan lain kemudian terjadi sejauh 10 kaki di depan Kaur dan Misner. 

Perimeter dekat baterai artileri LZ Peanuts, diperkirakan disinilah lokasi serangan utama NVA dilakukan pada tanggal 5 Mei 1968. (Sumber: Photo By Mike Kern/https://m.facebook.com/)

“Siapa yang melempar granat itu?” Kaur berteriak. “Granat apa?” jawab seseorang di dalam bunker. Menyadari betapa dekatnya penyerang itu, Kaur mengambil radio PRC-25 di dalam bunker untuk menghubungi Kapten George Kish di pos Kompi Alpha, sekitar 350 yard dari Landing Zone (LZ). “Foggy Day Six, this is Foggy Day One One. We have definite movement out here. I think they’re trying to get inside the perimeter,” kata Kaur mencoba menjelaskan bahwa musuh mencoba masuk ke dalam perimeter. Sementara Kaur berbicara dengan menggunakan headset, Hosu mengambil peluncur granat M-79 dan keluar dari bunker, diikuti oleh Mullins dengan senapan M-16. Sementara itu, Riley dan Collier, yang masih berada di dalam bunker, mulai melepas bagian-bagian tembok untuk menciptakan titik pengamatan yang lebih baik. Don Collier melirik arlojinya yang menunjukkan pukul 2:17 pagi. Saat dia melakukannya, perhatiannya tertuju pada lereng sampingnya agak ke kiri di mana ia melihat tembakan senjata kecil dan ledakan mulai meningkat di punggung bukit tempat baterai howitzer ditempatkan. Selama beberapa menit, kedua belah pihak saling bertukar granat dan muatan peledak. Kemudian, tiba-tiba seperti saat dimulai, aksi musuh mereda di pos pengamatan itu. Tapi tembakan senjata kecil dan ledakan meningkat di punggung bukit yang lebih tinggi di belakang mereka — LZ Peanuts sedang diserang. Komandan Batalyon Jordan menyampaikan pesan penting ke markas Brigade ke-2 di LZ Snapper, tepat di seberang lembah: “LZ Peanuts is sitrep (Situation Report) red. Saya katakan lagi, LZ Peanuts is sitrep red, “kode untuk Situation Report Red, digunakan untuk menunjukkan bahwa sebuah pangkalan sedang diserang langsung oleh musuh. Jordan mengatakan bahwa musuh sudah berada di dalam area pagar kawat berduri, menyerang dengan tas peledak dan senjata ringan di perimeter timur, timur laut dan barat daya. Selama beberapa jam berikutnya, gelombang satuan sapper dan tentara NVA terus menyerang di sekitar perimeter.

Satuan Sapper NVA. (Sumber: https://www.reddit.com/)
Umumnya Sapper NVA saat menyerang hanya mengenakan celana pendek saja dan tubuhnya dilumuri dengan jelaga hitam. (Sumber: https://id.pinterest.com/)
Type 56-1, AK-47 versi China yang kemungkinan digunakan oleh pasukan sapper NVA saat menyerang LZ Peanuts, 5 Mei 1968. (Sumber: http://www.zib-militaria.de/)

Prajurit Spesialis Dennis Kellen duduk di dalam bunkernya dengan waspada terhadap ledakan jerat flare yang meledak di depan posisinya dengan peleton ke-4 Kompi Alpha. Beberapa saat kemudian, orang yang tidak dikenal berlari dengan cepat dan berkata, “Kita nyaris dikuasai!” Dengan Letnan pengganti mereka yang baru menyusul seratus meter jauhnya dan di luar jangkauan pendengaran, peleton ke-4 mulai bertindak berdasarkan naluri. Ketika ada perintah dari Kapten Kish untuk mulai menembakkan flare penerangan, sekitar dua puluh orang dari peleton mortir Kompi Alpha mulai menyerbu bunker mereka seperti semut yang gundukannya baru saja ditendang. Kellen mengambil senapan shotgun 12-gauge-nya dan bergegas menuju lubang mortir dengan menyadari bahwa mortir yang menembakkan flare penerangan akan menjadi target akuisisi yang mudah dikenali musuh. Meskipun tindakan semacam ini telah dilakukan berulang-ulang selama beberapa minggu terakhir, aksi ini tidak pernah dilakukan di bawah tembakan gencar atau pada malam hari. Dengan peluru meluncur di udara, mortir dari peleton ke-4 mulai menghujani LZ dengan munisi flare yang segera menerangi malam. Spesialis Kellen sedang membungkuk saat mencoba mencoba memasang peluru iluminasi, ketika dia mendongak dan melihat sesosok bergerak ke arahnya. Belum bisa membedakan antara teman dari musuh, dia tetap menunduk rendah dengan tangannya menggenggam erat-erat shotgun 12-gauge nya dan membiarkan sosok tersebut lewat. Saat iluminasi menerangi langit, perut Kellen hampir melompat keluar dari mulutnya karena dia segera mengenali sosok yang baru saja menyelinap darinya sebagai prajurit sapper musuh. Kellen berpikir sendiri bahwa kini jaraknya sudah terlalu jauh untuk bisa ditembak dengan shotgun nya. Setelah dengan cepat menilai bahwa sapper itu sudah menjauh, Kellen sekali lagi memasang munisi iluminasi. Sekarang selalu waspada terhadap kemungkinan kehadiran musuh, dia akan sering melirik. Namun, karena terlalu lama mengandalkan peruntungannya, Kellen mendongak untuk terakhir kalinya tepat ketika sebuah roket B-40 melesai di samping telinganya. Ketika dia bangun dia dalam keadaan tengkurap, kepalanya berdenging karena gegar otak. Terdengar suara “Bangun bangun, garis perimeter kita (telah) ditembus”.

Posisi LZ Paenuts dan area sekitarnya, 5 Mei 1968. (Sumber: https://www.scribd.com/)

Sementara itu, Letnan Satu Mike Maynard, yang telah mengambil alih posisi Weiss dan menjadi penjabat komandan artileri LZ Peanuts, berdiri di luar bunkernya dan menghubungi LZ Snapper lewat radio. Maynard meminta unit artileri di sana — Baterai A, Batalyon ke-1, Resimen Artileri Medan ke-30, Divisi Kavaleri ke-1 — untuk menembakkan peluru suar penerangan di atas zona pendaratan yang dikepung sehingga para prajurit yang mempertahankan pangkalan dapat melihat musuh yang menyerang. Di batas selatan, Prajurit. Scott Thompson dari Peleton Pertama, Kompi Alpha berada di bunkernya ketika peluru suar iluminasi yang ditembakkan dari LZ Snapper meledak di langit di atas Peanuts dan menerangi posisi-posisi NVA di bawahnya. Di sebelah kirinya, suara tembakan di dekat howitzer semakin keras. Di sebelah kanannya, Sersan Staf. Carlyle Guenther memerintahkan penembak senapan mesin M60 untuk menembakkan peluru dengan pelacak warna merah di atas bukit. Ketika Thompson mengintip dari celah bunkernya ke dalam kegelapan total, semburan cahaya dari suar iluminasi mengungkapkan seorang pria yang nyaris telanjang bergerak dengan berlari berjongkok ke atas bukit, melewati posisinya. Luar biasa, Thompson bertanya-tanya bagaimana musuhnya bisa masuk ke perimeternya. Dia keluar dari bunkernya dan mengarahkan M16-nya ke prajurit sapper yang lewat. Sebelum dia sempat menembak, ledakan kecil yang mendesis mendarat di kakinya. Secara naluriah, Thompson melompat lebih dulu ke dalam parit yang berisi kotoran manusia, dan peledak itu meledak di atasnya. Dia berguling, dan peledak lain mendarat di dadanya. Thompson dengan tergesa-gesa melompat keluar dari parit dan meluncur dengan wajah terlebih dulu ke tanah saat bahan peledak kedua meledak, melemparkan kotoran dan kotoran manusia ke mana-mana. Setelah memaksakan diri, dia mulai memeriksa M16-nya. Kemudian sesuatu yang keras menghantamnya di antara bahu. Peledak ketiga baru saja dilemparkan padanya. Thompson berguling kembali ke tempat yang relatif aman dari celah parit bau yang baru saja dia tinggalkan. 

Scott Thompson yang terluka pada musim panas tahun 1968. Thompson adalah survivor dalam pertempuran di LZ Peanuts. (Sumber: https://m.facebook.com/)

Prajurit Michael Huff dari Peleton ke-3/Kompi Alpha berhasil mencapai perimeter dekat Thompson saat peledak musuh meledak di mana-mana. Salah satu ledakan untuk sementara waktu melumpuhkan Huff dan membuatnya pingsan. Dia terbangun di lubang perlindungan dengan sepotong daging seukuran bola bisbol hilang dari lehernya. Tentara NVA berdiri dan berbicara di atas lubang perlindungan, tidak menyadari bahwa dia masih hidup. Setelah kesadaran penuhnya kembali, Huff meraih peluncur granat M79, mengarahkannya ke antara tulang belikat tentara NVA yang mundur dan menekan pelatuknya. Sementara itu, Komandan artileri Maynard, membawa radio seberat 25 pon, sedang menuju Sersan Satu. Charles Marshall di pusat pengarah penembakan di LZ Peanut, yang telah biasa mengontrol penembakan baterai artileri sebelum ledakan penimbunan amunisi mengakhiri aktivitas di sana. Saat Maynard berlari, tembakan senjata kecil melesat di udara, dan satu peluru mengenai radionya, hampir memaksa letnan untuk menjatuhkannya saat dia terhuyung mundur kebelakang. “Sialan, mereka mengenai radionya!” pikirnya, tidak menyadari bahwa bongkahan logam yang dibawanya baru saja menyelamatkannya dari luka yang mengerikan. 

Lokasi artileri NVA di sekitar Rute 9, Khe Sanh tahun 1968. (Sumber: https://m.facebook.com/)

Ketika Maynard menemukan Marshall, dia bertanya apakah sersan itu memiliki radio lain yang dapat digunakan untuk meminta tembakan flare untuk penerangan jika diperlukan. “Tidak, Pak,” jawab Marshall, tetapi menambahkan bahwa Letnan Satu Ed Cattron, yang ada di bawah bukit, mungkin memilikinya. Maynard memutuskan untuk lari ke posisi Cattron. Meringkuk dengan cemas di dekat pusat pengarah penembakan yang sekarang sudah tidak berfungsi, Maynard menunggu tembakan flare penerang berikutnya yang ditembakkan dari LZ Snapper. Setelah kilatan cahaya muncul, dia segera berlari 50 yard ke bunker Cattron, sambil berteriak “kawan, kawan”. Saat dia meluncur ke dalam bunker, Maynard yang kehabisan napas hanya bisa berkata, “Saya dengar Anda memiliki radio ekstra.” Alih-alih menjawab, Cattron menunjuk ke posisi howitzer yang ditinggalkan Maynard. “Saya pikir ada [NVA] reguler di luar sana,” semburnya. Kedua perwira tersebut menyaksikan lusinan tentara NVA berseragam mengerumuni lubang-lubang senjata artileri yang kosong. “Mereka tidak tahu kami telah mengosongkan perimeter kita,” kata Cattron. “Buka kotak itu dan mulailah melempar granat itu ke luar sana.” Di atas bukit, Jordan yang berada di luar pusat operasi batalion sedang dirawat karena luka kaki ketika Letnan Satu Charles Brown mendekatinya. “Kol. Jordan, perimeter kami di dekat baterai artileri ditembus musuh, ”kata Brown dengan panik. Aku akan mencoba mendapatkan beberapa orang dan mencoba menutup lubang itu.” Menerima anggukan setuju, Brown berbalik dan menuju ke pusat pengarah tembakan. 

Scott Thompson dengan senapan M-16 dan tas amunisi. Thompson wafat sekitar bulan Oktober 2018 karena serangan jantung. (Sumber: https://m.facebook.com/)

Bergegas menuruni lereng, Brown melewati beberapa tentara, sambil mengangkat satu tangan, ia mengarahkan mereka ke arah pasukan NVA yang menembus perimeter. Mereka menerobos ke bawah sana, teriaknya. “Tutup lubangnya!” Brown naik ke atas atap pusat pengarah tembakan, menghadap ke posisi baterai yang ditinggalkan, dan melihat musuh bergerak cepat ke atas bukit. Saat dia mengarahkan anak buahnya ke posisi menembak, sepotong logam tajam mengenai lengannya yang terulur. Brown jatuh berlutut, tetapi dengan cepat meraih lukanya, menenangkan diri dan terus memerintahkan anak buahnya, mengirim mereka ke berbagai posisi untuk melindungi dan mengetatkan perimeter pangkalan yang hampir runtuh. Di seluruh LZ Peanuts, prajurit yang lain melakukan tindakan  yang serupa untuk menghentikan kemajuan NVA. Guenther sedang mengoordinasikan penyesuaian perimeter barat ketika sebuah peluru menembus dada sersan staf itu. Dia berlutut, menundukkan kepala, dan mati. Sementara itu, Brown terus berlari di antara pusat operasi batalion dan perimeter yang menghadap ke baterai yang ditinggalkan. Pada salah satu perjalanannya ke perimeter, dia bertemu dengan seorang sapper NVA. Keduanya lalu bergumul ke tanah, menggaruk dan mencakar satu sama lain saat mereka berguling menuruni bukit. Brown, mantan pegulat saat SMA, berhasil mengangkat tangannya ke wajah sapper itu dan memasukkan ibu jarinya ke mata pria itu. Sapper itu menjerit kesakitan dan melepaskan diri dari cengkeraman orang Amerika itu, melarikan diri ke dalam kegelapan. 

Bangalore Torpedo dan tas peledak yang biasa digunakan tim sapper NVA untuk menyerang perimeter pertahanan pos-pos terpencil Amerika dalam Perang Vietnam. (Sumber: https://m.facebook.com/)

Brown melanjutkan perjalanannya ke bunker Cattron yang menghadap ke baterai artileri dan meminta laporan situasi. Cattron mengatakan tentara reguler Vietnam Utara dan para sappernya bergerak bebas melewati baterai artileri, mencoba menghancurkan howitzer yang ada. “Tidak ada pasukan kawan antara kami dan mereka,” tambahnya. Saat itu kira-kira jam 4 pagi, hanya satu jam sebelum matahari terbit. Tiba-tiba tembakan senjata kecil yang sudah berat itu semakin intensif. “Mereka membuat serangan lagi!” Brown berteriak. Cattron menunjukkan tentara musuh yang bersembunyi di balik jip sekitar 50 yard jauhnya. Menyadari perlunya tindakan segera, Brown dan Cattron menyerang jip itu. Dengan berteriak, menembakkan M-16 mereka dan melemparkan granat, sementara muatan peledak dilemparkan ke arah mereka, mereka mencapai jarak 50 yard hanya dalam beberapa detik. Setelah beberapa menit pertarungan jarak dekat yang intens, Cattron meneriaki Brown untuk mundur ke bunker. “Saya (akan) memanggil dukungan Blue Max,” katanya, mengacu pada julukan helikopter bersenjata roket dari Resimen Artileri Lapangan ke-20 (Roket Udara), Divisi Kavaleri ke-1. Cattron merebut PRC-25 yang tersisa dan mengirim pesan radio ke petugas penghubung dukungan tembakan ke LZ Peanuts, Kapten Duke Wheeler dari Batalyon 1, Artileri 77. “Saya membutuhkan dukungan Blue Max segera di sisi timur dengan baterai artileri di atasnya,” kata Cattron. “Saat Anda masuk dari utara, Anda akan melihat barisan jip dan trailer. Gunakan jip sebagai penanda Anda dan turunilah bukit ke arah tenggara. Banyak musuh ada di seluruh punggung bukit itu. ”

Dari kiri ke kanan: tidak diketahui, Letnan Jim Hackett dan Letnat Charles Brown. (Sumber: https://m.facebook.com/)
Peluncur roket B-40 yang kerap digunakan NVA. (Sumber: https://m.facebook.com/)

Dengan fajar hari masih 30 menit lagi, perwira artileri Letnan Satu Jim Harris di LZ Snapper menghubungi komandan baterai Maynard lewat radio di Peanuts dengan berita menyedihkan: “Kami kehabisan peluru suar. Apakah Anda mengerti? ” Sekitar pukul 4:30 pagi, kru di LZ Snapper menembakkan peluru suar terakhir mereka dan menyaksikannya melayang melintasi lembah sampai jatuh. Harris menghembuskan napas dan menundukkan kepalanya dengan putus asa. Kemudian dia mendengar dengungan mesin pesawat di kejauhan. Melalui radio terdengar panggilan: “Peanuts Control, Peanuts Control, Ini Spooky. Kami siap sedia. Di mana Anda membutuhkan kami? ” Pesawat Gunship Mesin ganda milik Angkatan Udara, Douglas AC-47 Spooky tiba di atas mereka. Pesawat ini bisa menjatuhkan peluru suar MK-24 yang kuat cahayanya — masing-masing mampu menghasilkan cahaya iluminasi cemerlang hingga selama tiga menit — dan dilengkapi dengan tiga minigun kaliber 7,62 mm, yang masing-masing mampu menembakkan 6.000 peluru per menit. Sementara suar yang dilepaskan AC-47 menerangi gerombolan tentara Vietnam Utara yang menyerang, minigun mematikan pesawat itu segera menghancurkan para penyerang. Pada reuni tahun 2005, Harris mengenang saat-saat dramatis ketika Spooky tiba: “Tidak ada naskah (film) Hollywood yang bisa ditulis secara lebih dramatis (dari ini),” katanya. “Saat itu juga… Spooky menerangi langit ! Raungan yang meledak diatas LZ Snapper seperti Lapangan Lambeau [kandang bagi Tim Green Bay Packers] pada hari Minggu sore di bulan Oktober. ”

Pada saat paling kritis, hadirlah AC-47 Spooky, yang membantu pertahanan LZ Peanuts dan mengusir para penyerang NVA. (Sumber: https://id.pinterest.com/)
Pada bagian sisi badan AC-47 Gunship terdapat minigun kaliber 7.62 mm, yang masing-masing mampu menembakkan 6.000 peluru per menit. (Sumber: https://id.pinterest.com/)

PERTEMPURAN UNTUK DILUPAKAN

Saat sinar matahari mencapai LZ Peanuts, suara pertempuran sudah berkurang dan kepala-kepala mereka yang penasaran mulai bermunculan dari balik dinding yang hancur akibat ledakan dan lubang perlindungan untuk mengamati sisa-sisa pertempuran yang berserakan di bukit. Keenam prajurit di pos pengamatan yang dalam posisi berbahaya yang terbuka di luar LZ Peanuts memeriksa posisi mereka dan dengan sungguh-sungguh mendaki kembali ke atas bukit. Tujuh dari 11 jerat suar mereka telah dipicu oleh gerakan musuh, dan hanya ada satu granat tersisa di antara mereka. Prajurit-prajurit Kompi Alpha lainnya memulai tugas mengerikan untuk mencari mayat dan mengumpulkan senjata. Kurang tidur dan kecapekan setelah malamnya melewati pertempuran sengit, sebagian besar pasukan sudah ada pada ujung batas kemampuan mereka. Pada pukul 7 pagi, mereka telah menemukan 30 mayat prajurit Vietnam Utara di dalam dan sekitar pangkalan, banyak jejak darah ke segala arah (menandakan korban bisa jadi lebih besar karena NVA biasa membawa serta mereka yang tewas dan terluka pada saat mundur) dan banyak senjata, termasuk 15 senapan serbu AK-47, tiga peluncur roket B-40, radio dan banyak tas peledak serta granat. Jelas bahwa serangan terhadap LZ Peanuts adalah serangan yang terkoordinasi dengan baik yang kemungkinan membutuhkan waktu berminggu-minggu untuk dipersiapkan. Saat pasukan darat melanjutkan operasi pembersihan di sekeliling zona pendaratan, sejumlah helikopter medis melakukan beberapa penerbangan untuk mengevakuasi dua lusin orang yang terluka. Luka-luka tersebut termasuk luka bakar, gendang telinga pecah, luka bahu, kaki patah, luka tembak dan luka bayonet. Banyak prajurit infanteri dengan luka “relatif kecil” memilih untuk tetap bersama rekan-rekan mereka di pangkalan. Para prajurit yang terluka diangkat dari bukit pada pukul 6:30 pagi, dan tugas memindahkan korban tewas pun menyusul. Ketika Wheeler, petugas penghubung bantuan tembakan, diangkut dengan helikopter, dia melihat ke bawah melalui pintu helikopter yang terbuka dan melihat sebelas mayat prajurit Amerika yang tertutup ponco di dekat helipad. Dua jam kemudian, prajurit infanteri yang tersisa dari Batalyon ke-1 mengetahui bahwa mereka akan diterbangkan dari zona pendaratan itu, hal ini kemudian diikuti dengan penghancuran howitzer-howitzer yang ditinggalkan. 

Pagi hari 5 Mei 1968, prajurit dari kompi Alpha, dari atas bukit menyaksikan tembak menembak intensif di dekat hutan. (Sumber: https://www.historynet.com/)
Sapper NVA yang gugur tersebar di sekitar LZ Peanuts, pagi hari 5 Mei 1968. (Sumber: https://m.facebook.com/)
Sisa-sisa kehancuran di LZ Peanuts, 5 Mei 1968. (Sumber: https://m.facebook.com/)

Pada tanggal 6 Mei, prajurit-prajurit Amerika telah menghancurkan bunker mereka dengan bantuan Bangalore Torpedo dan meninggalkan LZ Peanuts masuk ke dalam hutan. Dua hari kemudian, sebagian besar prajurit dari Brigade ke-2/Divisi Kavaleri ke-1 diangkut dengan helikopter ke lokasi (Dong Ha) sekitar 30 mil timur laut LZ Peanuts dan 5 mil selatan Zona Demiliterisasi untuk berpartisipasi dalam operasi gabungan dengan pasukan Marinir. Meskipun pertempuran mempertahankan LZ Peanuts telah dimenangkan, pertempuran untuk Divisi Kavaleri ke-1 masih akan terus berlanjut. Pertempuran LZ Peanuts kemudian akan menghiasi beberapa halaman laporan pertempuran, namun dengan cepat menghilang ditengah serentetan pertempuran berbahaya yang tak terhitung jumlahnya di tempat-tempat lainnya di Vietnam pada tahun 1968. Hanya dalam lebih waktu 30 hari di Musim Semi 1968, sebuah bukit sederhana yang hanya beberapa kilometer dari perbatasan Laos dan DMZ dan disebut LZ Peanuts menyaksikan jatuhnya hampir lima puluh korban Amerika dan (kemungkinan besar) jumlah yang sama korban di pihak Vietnam Utara. Pada dini hari tanggal 5 Mei 1968, para pemuda dari dua pasukan yang berlawanan bertempur sekuat tenaga untuk mengalahkan satu sama lain. Seperti yang sering terjadi di Vietnam, bukit itu ditinggalkan dua hari kemudian. Saat ini, bukit tersebut telah kembali ke asalnya sebagai tanah yang subur. Namun, bagi para prajurit yang selamat dari pertempuran di atas bukit bernama LZ Peanuts di bulan Mei 1968, bau mesiu, teriakan orang yang terluka, dan kehilangan teman akan selalu diingat sepanjang hidup mereka.

Berita mengenai pertempuran di LZ Peanuts. (Sumber: https://m.facebook.com/)
LZ Peanuts kini, yang menjadi tujuan wisata sejarah perang di wilayah eks Korps I. (Sumber: https://namwartravel.com/)

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

Hell on a Hilltop in Vietnam By John McGuire; December 2018

Charlie Troop 1st Squadron 9th Cavalry Regiment; Sitrep: RED-West of Khe Sanh by John McGuire; January 20, 2019

https://patrickbieneman.com/category/lz-peanut-by-john-mcguire/

LZ Peanuts

https://m.facebook.com/pages/category/Non-Governmental-Organization–NGO-/Landing-Zone-Peanuts-1st-Cavalry-May-1968-1379448538740157/

One thought on “Pertempuran LZ Peanuts (4-5 Mei 1968): Neraka Diatas Bukit Tanpa Nama

  • 12 February 2021 at 5:26 pm
    Permalink

    I intuit that you may be trying to avoid bad feeling with this topic, but please understand that the jucier thoughts will promote good debate when approached respectfully..and it is your site so let your content set the tone here!

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *