Pertempuran Mempertahankan Papua (21 Januari 1942 – 22 Januari 1943): Kekalahan Pertama Pasukan Jepang di Daratan Dalam Perang Pasifik

Pada suatu hari yang terik di pertengahan bulan Januari 1942, Cornelius “Con” Page, seorang manajer perkebunan dan pengamat pantai Australia di Pulau Tabar, 20 mil di utara New Ireland melaporkan lewat radionya bahwa sebuah pesawat Jepang melewati Tabar dan sedang menuju Rabaul di pulau yang dikelola Australia, di New Britain. Beberapa hari kemudian, pada tanggal 20 Januari, ia melaporkan dua formasi pembom dan pesawat tempur Jepang, yang berjumlah 100, menuju Rabaul (Page kemudian dieksekusi oleh Jepang). Kini setelah merebut wilayah Asia Tenggara, Pertempuran untuk merebut Papua yang mengancam eksistensi Australia telah dimulai! Kampanye Papua Nugini dalam Perang Pasifik ini kemudian akan berlangsung dari bulan Januari 1942 hingga akhir perang pada Agustus 1945. Selama fase awal pada awal 1942, Kekaisaran Jepang telah menginvasi Wilayah Mandat New Guinea (pada 23 Januari) yang diperintah oleh Australia, Wilayah Australia di Papua (pada 21 Juli) dan bagian barat New Guinea (mulai 29/30 Maret), yang merupakan bagian dari Hindia Belanda. Kampanye ini pada akhirnya akan menghasilkan kekalahan telak dan kerugian besar bagi Kekaisaran Jepang. Seperti dalam sebagian besar kampanye Perang Pasifik, penyakit dan kelaparan serta medan tempur yang brutal akan merenggut nyawa lebih banyak orang Jepang daripada tindakan musuh. Sebagian besar pasukan Jepang bahkan tidak pernah melakukan kontak dengan pasukan Sekutu, dan sebagai gantinya, mereka hanya diisolasi komunikasi dan logistiknya dari markas besar mereka dan menjadi sasaran blokade efektif dari Angkatan Laut AS. Beberapa mengklaim bahwa 97% kematian Jepang dalam kampanye ini bukan berasal dari pertempuran. Menurut John Laffin, kampanye militer di Papua “bisa dibilang merupakan pertempuran paling sulit bagi pasukan Sekutu selama Perang Dunia II”. Namun pertempuran disana kemudian terbukti akan menjadi kekalahan pertama Tentara Jepang di darat dalam Perang Dunia II dan menjadi pelajaran yang bagus bagi Angkatan Darat Australia dan Amerika Serikat.

Tim senjata Bren dari Batalyon Infanteri Australia ke-2/8 mendukung serangan di Gunung Shiburangu, dekat Wewak di Papua Nugini. Kampanye militer di Papua termasuk dalam kampanye militer tersulit dalam Perang Dunia II. (Sumber: Pinterest)

“KAMI YANG AKAN MATI MEMBERI HORMAT PADAMU” 

Dua dari delapan pesawat tempur Wirraway usang dari Skuadron Angkatan Udara Australia (RAAF) No. 24 yang berbasis di Rabaul sedang melakukan terbang patroli di ketinggian 15.000 kaki di atas Rabaul ketika pesawat Jepang tiba. Mereka segera menyerang armada pembom, tetapi pesawat-pesawat tempur Zero Jepang yang jauh lebih unggul yang mengawal para pembom dengan cepat menembak jatuh mereka. Enam Wirraway yang tersisa dari skuadron lepas landas dalam sebuah upaya putus asa untuk mendapatkan ketinggian untuk menyerang armada udara Jepang. Salah satu dari mereka jatuh setelah lepas landas, pesawat tempur Zero Jepang menembak jatuh dua lainnya di atas laut, dan dua lagi mendarat darurat, penuh dengan lubang peluru. Satu pesawat yang selamat, senjatanya telah kosong, mendarat di antara bom yang jatuh ketika kota kecil dan pelabuhan itu dibom dan diberondong, demikian pula lapangan terbang, baterai pantai, dan sebuah kapal tanker minyak di pelabuhan. Hal itu terjadi kurang dari enam minggu setelah serangan Pearl Harbor dan kini serangan Jepang telah mencapai wilayah Pasifik Selatan. 

Pesawat serang darat CAC Wirraway terbang diatas Rabaul tahun 1942. Pesawat-pesawat ini gagal untuk menyerang armada kapal invasi Jepang ke Rabaul karena kegelapan malam. (Sumber: PInterest)

Komandan Wing John Lerew, komandan RAAF (AU Australia) di Rabaul, mengontak markas besarnya via radio untuk minta dikirimkan bala bantuan tempur berupa pesawat tempur yang modern. Dia lalu diberitahu, dengan menyesal, bahwa markas besar tidak dapat memasok pesawat tempur yang diminta. Malam berikutnya, dia diminta untuk menyerang dengan pesawat apa saja yang bisa dia terbangkan ke udara, konvoi kapal pengangkut Jepang yang dikawal ketat sedang menuju ke Rabaul, kapal-kapal pengangkut itu mungkin membawa pasukan invasi. Lerew memberi pesan kepada markas besar, dalam bahasa Latin — Nos morituri te salutamus, salam hormat gladiator Romawi, “Kami yang akan mati memberi hormat kepada Anda.” Dia memuat Lockheed Hudson yang tersisa dengan bom dan berangkat untuk menemukan dan menyerang armada Jepang yang mencakup dua kapal induk, empat kapal penjelajah, dan lebih dari selusin kapal perusak dan transportasi. Untungnya bagi Lerew dan krunya, malam yang gelap tiba dan, karenanya mereka tidak dapat menemukan armada Jepang dan dengan bahan bakar yang hampir habis, ia kemudian membatalkan misi.

MEMPERSIAPKAN INVASI KE PAPUA 

Pada 21 Januari, pesawat dari armada kapal induk Jepang menyerang Kavieng di New Ireland dan Lae, Salamaua, Bulolo, dan Madang di daratan utama Pulau Papua. Pada tanggal 23 Januari, 5.300 marinir dan prajurit Nankai, Pasukan Laut Selatan, mendarat di Rabaul dan dengan cepat mengalahkan garnisun Australia yang beranggotakan 1.400 orang. Dua pertiga dari orang Australia ditahan, 160 di antaranya dibantai setelah mereka meletakkan senjata, dan 400 melarikan diri dengan berjalan melewati pegunungan curam, hutan-hutan di New Britain menuju ke pantai yang berlawanan dan dievakuasi dengan kapal ke daratan Papua. Juga pada 23 Januari, Jepang mendarat di New Ireland. Di sana, garnisun kecil tentara Kompi Independen (seorang prajurit Kompi Independen setara dengan Komando Inggris) menghancurkan fasilitas dan lapangan terbang mereka, dan semua dari mereka yang menderita malaria parah, kemudian naik kapal kecil dan menuju Australia. Mereka bisa dideteksi oleh pesawat Jepang, diberondong, dan dipaksa menyerah untuk menjadi tawanan di Rabaul. 

Wilayah Papua Nugini, New Britain dan Kepulauan Solomon, lokasi pertempuran-pertempuran paling sengit dan brutal dalam Perang Pasifik, 1942-1945. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)
Pendaratan Jepang di sekitar Vulcan, Rabaul, Januari 1942. (Sumber: http://www.awmlondon.gov.au/)

Di Rabaul, komandan Jepang, Jenderal Harukichi Hyakutake, dengan cepat mulai membangun Rabaul dan daerah di sekitarnya, Semenanjung Gazelle, menjadi benteng lengkap dengan pangkalan angkatan laut dan udara serta markas besar untuk operasi di Pasifik Selatan. Dia memberi Mayor Jenderal Tomitaro Horii komando untuk memimpin armada invasi merebut Port Moresby di pantai selatan Papua dari mana operasi lintas laut lebih lanjut dapat dilakukan, yang mencakup serangan udara terhadap di Australia utara, dan mengganggu hubungan laut dan udara antara Amerika Serikat dan Australia. Rencana keseluruhan Jepang adalah untuk menguasai daerah yang akan mencakup Burma, Malaya, Hindia Belanda (Indonesia), ke Port Moresby di Papua, dan dari sana berlanjut ke Kepulauan Solomon, Kaledonia Baru, Fiji, Samoa, dan seterusnya melalui Pasifik tengah dan kembali ke Jepang. Area yang luas ini, diperkirakan, dapat diamankan dan dipertahankan dengan angkatan laut, angkatan darat, dan angkatan udara yang tersedia dan akan mampu memenuhi kebutuhan Jepang akan minyak, karet, mineral, kayu, dan sumber daya lainnya. Wilayah luas dan kaya ini akan menjadi bagian dari Lingkungan Kemakmuran Bersama Asia Timur Raya Jepang. 

Letnan Jenderal Harukichi Hyakutake, komandan Pasukan Jepang di Rabaul. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

Berada di tengah-tengah rencana Jepang ini terdapat benua Australia, yang dapat menghalangi ambisinya. Pada 19 Februari 1942, armada kapal induk Jepang melancarkan dua serangan udara ke Darwin di Wilayah Utara Australia yang menyebabkan kerusakan parah dan tenggelamnya delapan kapal di pelabuhan; serta serangan itu menewaskan 243 warga sipil tewas  – suatu tindakan yang kemudian dikenal sebagai “Pearl Harbor Australia.” Aksi ini kemudian akan diikuti oleh hampir 100 serangan udara lagi antara tahun 1942-1943. Pada awal April 1942, Amerika Serikat bertanggung jawab atas seluruh wilayah Pasifik, kecuali wilayah Sumatra di Hindia Belanda; Inggris bertanggung jawab atas Sumatra dan wilayah Samudra Hindia. Medan tempur Amerika kemudian terbagi menjadi dua –– Wilayah Pasifik Barat Daya (SWPA) yang dikomandoi Jenderal Douglas MacArthur, yang telah tiba di Australia dari Filipina, dan Pasifik Utara, Tengah dan Selatan yang dikomandani oleh Laksamana Chester Nimitz, dengan kantor pusatnya di Hawaii. Batas antara medan mereka masing-masing ada di Kepulauan Solomon, di mana ancaman Jepang akan membutuhkan respon bersama antara pasukan darat MacArthur dan pasukan angkatan laut Nimitz. Sementara itu di Rabaul dibentuk pasukan darat dan udara Jepang yang akan digunakan untuk melakukan serangan ke Port Moresby dan merebut pulau Tulagi di Solomon untuk digunakan sebagai pangkalan pesawat amfibi. Di belakang 2 grup amfibi yang direbut untuk melakukan dua invasi di tempat yang berbeda itu terdapat armada kapal induk yang siap untuk menghadapi setiap intervensi dari pihak Amerika. Mereka terdiri dari kapal induk Zuikaku dan Shokaku dan pengawal nya yang berupa kapal-kapal penjelajah dan kapal perusak.

PERTEMPURAN LAUT KARANG

Pada 3 Mei 1942, Jepang mendarat di Tulagi dan merebut pulau itu tanpa perlawanan. Hari berikutnya pesawat dari kapal induk Amerika, Yorktown, menenggelamkan kapal perusak Jepang. Kelompok kapal induk Jepang, yang dikomandoi oleh Laksamana Takeo Takagi, sekarang telah datang ke selatan, melewati sebelah timur kepulauan Solomon dan masuk ke Laut Karang, berharap untuk dapat menyerang kapal induk Amerika dari belakang. Sementara itu, kapal induk Lexington telah bergabung dengan Yorktown dan keduanya menuju ke utara untuk mencegat pasukan invasi Jepang dalam perjalanan ke Port Moresby. Pada tanggal 6 Mei, kedua kelompok kapal induk itu saling mencari satu sama lain tanpa melakukan kontak, walaupun pada satu waktu mereka hanya berjarak 70 mil. Pada tanggal 7, pesawat pengamat Jepang melaporkan menemukan kapal induk dan kapal penjelajah Amerika, dan Laksamana Takagi memerintahkan dilakukannya serangan bom terhadap mereka. Kedua kapal tenggelam, tetapi yang mereka temukan ternyata hanyalah sebuah kapal tanker dan sebuah kapal perusak kawal. Sementara itu, Yorktown yang dikomandani Laksamana Muda Frank Jack Fletcher menyerang pasukan Jepang yang menuju Port Moresby dan menenggelamkan kapal induk ringan Shoho. Tenggelamnya kapal induk ini menyebabkan Jepang menunda serangan mereka di Port Moresby, dan pasukan invasi berbalik ke Rabaul. 

“Scratch one flattop!” kapal induk Jepang, Shoho menjadi korban pengeboman tukik dan torpedo AS pada 7 Mei 1942 selama Pertempuran Laut Koral. (Sumber: lukisan minyak; oleh Robert Benney; 1942/https://www.history.navy.mil/)

Pada pagi hari tanggal 8 Mei, kedua armada kapal induk yang berlawanan bertemu di Laut Koral, di lepas pantai Queensland, Australia. Mereka sama kuatnya. Jepang memiliki 121 pesawat, Amerika 122. Kapal-kapal Pengawal mereka hampir sama dalam kekuatannya – Jepang dengan empat kapal penjelajah berat dan enam kapal perusak dan Amerika dengan lima kapal penjelajah berat dan tujuh kapal perusak. Jepang, bagaimanapun, bergerak di bawah lindungan awan sementara posisi Amerika harus beroperasi di bawah langit yang cerah. Pesawat dari kedua kekuatan kapal induk bertemu dalam pertempuran yang berlangsung sepanjang pagi. Pertempuran itu unik karena merupakan pertempuran angkatan laut berskala besar pertama yang terjadi antara pesawat dari kapal induk yang berlawanan, tanpa armada kapal yang berhadapan yang pernah memiliki kesempatan untuk saling menyerang, selain menggunakan kekuatan udara. Kapal induk Jepang Zuikaku luput dari pengamatan di atas awan, tetapi kapal induk Shokaku terkena tiga bom dan harus ditarik dari pertempuran. Di pihak Amerika, Lexington tertembak oleh dua torpedo dan dua bom, dan ledakan-ledakan internal berikutnya memaksa kapal induk tersebut harus ditinggalkannya, sebuah kapal yang sangat dicintai para pelautnya yang menyebutnya “Lady Lex.” Sebagian besar kru berhasil diselamatkan. Sementara itu Yorktown hanya terkena satu bom. Orang Amerika sedikit lebih baik dalam hal kerugian pesawat – 74 dibandingkan dengan lebih dari 80 di pihak Jepang dan 543 personel dibandingkan dengan lebih dari 1.000 orang yang diderita Jepang. Tetapi orang-orang Amerika telah kehilangan sebuah kapal induk besar sementara Jepang hanya kehilangan satu induk ringan. Namun, yang paling penting, orang-orang Jepang tidak berhasil mencapai sasaran strategisnya, yaitu merebut Port Moresby. 

GARNISUN DI MILNE BAY 

Pada sore hari, ketika ancaman terhadap Port Moresby menghilang untuk sementara. Nimitz memerintahkan armada kapal induknya untuk mundur dari Laut Karang. Jepang juga mundur, dan secara keliru percaya bahwa kedua kapal induk Amerika itu telah tenggelam. Selama periode ini, Skuadron No. 75 RAAF menerbangkan 17 pesawat tempur Curtiss Kittyhawk yang disediakan oleh Amerika dalam aksi konstan selama 44 hari untuk mempertahankan Port Moresby dari serangan udara Jepang yang bertujuan untuk menghancurkan pertahanan udara, atau, bersama Skuadron yang dipimpin Komandan Skuadron John Jackson, menyerang Lae dan lapangan udara milik Jepang lainnya. Lima puluh pesawat Jepang hancur di darat atau di udara, dan 12 pilot Australia tewas atau hilang. Jackson sendiri terbunuh pada 28 April dan, pada hari yang sama, dengan hanya tiga Kittyhawk yang masih bisa digunakan, skuadron itu digantikan sementara oleh dua skuadron pesawat tempur Bell P-39 Aircobra dari Grup No. 35, USAAF. Saudara laki-laki Jackson, Leslie menggantikannya sebagai komandan Skuadron No. 75 RAAF.

Skuadron P-40 Kittyhawk RAAF di Milne Bay, Agustus-September 1942. Dukungan udara RAAF sangat krusial dalam pertempuran di Milne Bay. (Sumber: http://tlf.dlr.det.nsw.edu.au/)

Upaya Jepang berikutnya untuk merebut Port Moresby adalah dengan serangan ganda. Satu kelompok akan bergerak dari pantai Papua utara, melintasi Pegunungan Owen Stanley, gunung terjal yang tertutup hutan, dan turun ke Port Moresby di pantai selatan. Sementara kelompok lainnya akan merebut Teluk Milne di ujung timur Papua dan menggunakannya sebagai poros untuk serangan lintas laut di sepanjang pantai selatan ke Port Moresby. Pada pertengahan Juli, Jepang mengambil langkah pertama dalam kampanye ini dengan merebut Buna dan Gona di pantai utara Papua sebagai titik tolak serangan mereka. Teluk Milne adalah teluk yang terlindung seluas 97 mil persegi (250 km2) di ujung timur Wilayah Papua (sekarang bagian dari Papua Nugini). Panjangnya 22 mil (35 km) dan selebar 10 mil (16 km), dan cukup dalam untuk bisa dimasuki kapal-kapal besar serta merupakan pelabuhan alami yang baik. Wilayah pesisir yang datar mampu didarati dari udara dengan baik, dan karenanya cocok untuk digunakan sebagai landasan udara, meskipun diselingi oleh banyak anak sungai dan rawa-rawa bakau. Karena tanah rawa dan curah hujan yang tinggi, sekitar 200 inci (5.100 mm) per tahun, daerah ini rentan terhadap penyakit malaria dan banjir. Pada saat itu terdapat tempat misionaris di sana dan beberapa perkebunan dan desa-desa yang dihuni penduduk asli. Pasukan Australia dan Amerika telah berada di sana sejak akhir Juni, membangun sebuah pangkalan udara garis depan. Setelah Buna dan Gona jatuh ke tangan Jepang, pangkalan itu diperkuat oleh Grup Brigade ke-7 Australia, yang terdiri dari tiga batalion milisi, yang dikomandoi oleh Brigadir John Field. 

Milne Bay, di “ekor” Papua. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)
Senjata anti pesawat Bofors kaliber 40 mm di Lapangan Udara Milne Bay. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Field, adalah seorang insinyur mesin dan dosen universitas sebelum perang dan telah memimpin batalion Pasukan Australia (AIF) selama kampanye di Libya. Keahlian profesionalnya sangat berharga dalam membantu mengembangkan, dari bawah ke atas, dua lapangan terbang, jalan, jembatan, fasilitas dermaga, dan sistem pertahanan. Pasukan pertama sekutu tiba di Milne Bay dari Port Moresby dengan kapal perusahaan KPM Belanda, Karsik dan Bontekoe, dikawal oleh kapal perang HMAS Warrego dan korvet HMAS Ballarat pada tanggal 25 Juni. Sekitar 29 kapal KPM telah melarikan diri ke Australia setelah jatuhnya Hindia Belanda. Mereka diawaki oleh kru Belanda dan orang-orang Jawa, dan merupakan urat nadi dari logistik garnisun di Milne Bay, mereka melakukan dua dari setiap tiga pelayaran kapal sekutu selama kampanye, sementara sisanya dilakukan oleh kapal-kapal Australia, Inggris dan AS. Lima kapal KPM akan hilang selama pertempuran di Papua. Sementara itu, Karsik berlabuh di dermaga ponton yang telah dibangun dengan tergesa-gesa dari drum bensin oleh pekerja Papua, yang telah direkrut oleh ANGAU (Australian New Guinea Administrative Unit) dan yang kemudian membantu menurunkan muatan dari kapal. Pasukan ini terdiri dari dua setengah kompi dan satu peleton senapan mesin dari Batalyon Infanteri ke-55 Brigade Infanteri ke-14, Baterai Anti-Pesawat Ringan ke-9 dengan delapan senjata anti pesawat Bofors 40 mm, sebuah peleton Batalyon Artileri Pantai AS ke-101 (Anti-Pesawat) dengan delapan senapan mesin kaliber .50, dan dua senjata anti-pesawat kaliber 3,7 inci dari Baterai Anti-Pesawat Berat ke-23. Garnisun ini diperkuat kembali pada bulan Agustus oleh veteran Brigade ke-18 AIF, yang dikomandoi oleh Brigadir George F. Wootten, yang telah bertugas dengan istimewa selama pengepungan Tobruk di Afrika Utara. Dengan bala bantuan lain sedang dalam perjalanan mereka, komando daerah tersebut diberikan kepada Mayjen Cyril Clowes, seorang perwira reguler yang telah dianugerahi Distinguished Service Order dan Military Cross dalam Perang Dunia I dan memimpin Artileri Korps Anzac selama kampanye di Yunani beberapa bulan sebelumnya. Pada akhir Agustus 1942, ia mengomandani 8.824 tentara: 7.459 orang Australia dan 1.365 orang Amerika. Mereka didukung oleh Skuadron 75 dan 76 dari RAAF yang dipimpin oleh Komandan Skuadron Leslie Jackson dan Peter Turnbull.

Mayor Jenderal Cyril Albert Clowes, komandan di Milne Bay. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

MILISI AUSTRALIA VS TANK JEPANG

Pada tanggal 25 Agustus, para pengamat pantai dan pesawat pengintai melaporkan pasukan Serbu Laut Jepang dengan armada tujuh kapal angkut berlayar ke arah Milne Bay. Ketika ini dilaporkan, Milne Bay sedang diserang dari udara, sehingga pilot RAAF tidak dapat menerbangkan pesawat mereka dari pangkalan mereka. Tapi, begitu pembom Jepang beranjak pergi, pesawat-pesawat RAAF lepas landas dan menukik ke kapal-kapal angkut musuh dengan menjatuhkan bom dan menembakkan kanon. Mereka menenggelamkan sebagian besar dari armada Jepang dan merusak yang lain, membunuh banyak pasukan di kapal-kapal angkut. Armada invasi utama Jepang tidak jauh di belakang. Mereka terdiri dari tiga kapal penjelajah dan dua kapal perusak, kapal angkut pasukan, tanker, dan kapal penyapu ranjau. Konvoi itu menyelinap ke Milne Bay malam itu dan mulai menurunkan pasukan. Untuk melindungi markas, Mayor Jenderal Clowes telah mengerahkan pasukannya sehingga para prajurit milisi yang tidak berpengalaman dapat belajar dengan para veteran AIF. Batalion AIF ke-2/10 dimasukkan di antara dua batalion milisi Brigade ke-7; mereka bertanggung jawab atas sektor timur dan bertanggung jawab atas wilayah Gili Gili. Dua batalion AIF lain dari Brigade ke-18 serta batalion milisi yang tersisa diberi tanggung jawab untuk mempertahankan sektor barat. 

Kapal tongkang kayu pendarat milik Jepang yang dirampas tentara Australia di Milne Bay. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)
Tank Type 95, Ha-Go yang turut dipergunakan Jepang dalam invasi ke Milne Bay. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Sebelum fajar pada tanggal 26 Agustus, sekitar 800 Marinir Jepang yang didukung oleh dua tank ringan Type 95 Ha-Go mendarat. Milisi Australia melawan mereka di area K.B. Mission dan Cameron’s Springs. Pasukan Australia punya kelemahan dimana mereka tidak memiliki senjata anti tank atau senapan anti tank untuk melawan tank, sehingga mereka terpaksa menggunakan “bom lengket”, namun karena hujan dan kelembaban, tidak dapat menempel pada tank. Ketika matahari terbit, mereka bisa melihat bahwa Jepang telah mendarat dan menimbun stok bahan bakar dan logistik di sepanjang pantai. Tongkang pendaratan yang kosong ditarik ke atas pantai. Melihat hal ini pesawat-pesawat Kittyhawk RAAF segera menyerang dan, ditengah badai tembakan antipesawat dari kapal-kapal Jepang dan posisi-posisi di pantai, mereka menembakki semua yang terlihat diatas pantai. Selama sisa hari itu, kedua belah pihak mengkonsolidasikan posisi mereka, dan malam itu marinir Jepang yang telah diperkuat menyerang lagi. Dalam cahaya bulan yang redup, pertempuran yang membingungkan berlangsung sampai jam 4 pagi. Marinir Jepang menggunakan taktik mengapit yang telah terbukti sangat sukses di Malaya, dengan satu kelompok mengarungi laut dalam untuk menyerang posisi Australia di satu sisi sementara kelompok lain menyerang melalui rawa-rawa bakau atau bergerak diam-diam melewati hutan dalam upaya untuk menyerang dari sisi yang lain.

PERTARUNGAN JARAK DEKAT 

Batalyon ke-61 (milisi), yang menanggung beban pertempuran sejak saat pendaratan Jepang yang pertama, hampir kehabisan tenaga pada pagi hari tanggal 27 Agustus 1942, ketika kemudian digantikan oleh batalyon AIF yang pertama. Matahari terbit menunjukkan bahwa enam kapal Jepang lainnya telah tiba di teluk, dan diperkirakan bahwa, dari suara kapal pendaratan yang terdengar pada malam hari, 2.000 atau lebih tentara Jepang telah mendarat. Lapangan udara, instalasi dermaga, dan tempat penyimpanan pasokan semuanya terletak di sekitar Gili Gili, dan Jenderal Clowes khawatir bahwa pendaratan Jepang lebih lanjut akan dilakukan di sebelah selatan Gili Gili, sebuah daerah di mana ia tidak memiliki kekuatan untuk mempertahankannya. Karena itu dia bergerak hati-hati sampai dia yakin akan niat Jepang. Jenderal MacArthur kemudian mengkritik dia karena kehati-hatiannya –– dia berpendapat bahwa Clowes seharusnya mendesak tentara Jepang kembali ke laut tanpa penundaan. 

Sebuah patroli Australia melewati dua tank ringan Jepang 95 Ha-Go yang rusak selama pertempuran di Milne Bay. Prajurit terakhir membawa senapan sub machine Thompson kaliber .45, yang dipasok oleh Amerika Serikat. (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/)

Pada sore hari tanggal 27 Agustus, Batalyon 2/10 AIF bergerak ke pertahanan di sekitar K.B. Mission. Sekitar 500 orang, mereka terakhir beraksi melawan Korps Afrika Jerman di bawah sinar matahari dan pasir dan bebatuan di Afrika Utara. Sekarang, pada jam 8:00 malam, dalam kegelapan, hujan yang menyilaukan, dan lumpur yang tebal, sambil berteriak menakuti musuh-musuh mereka, Tentara Jepang menyerang perimeter Australia. Didukung oleh tank-tank, pasukan infanteri Jepang itu dengan membuang rasa takutnya menyerang posisi-posisi Australia dan orang-orang Australia segera menemukan diri mereka bertempur dalam jarak dekat, pertempuran berubah menjadi pertarungan antar kelompok dan individu. Pada tengah malam orang Australia diperintahkan untuk mundur ke tepi barat Sungai Gama. Jepang mengejar mereka begitu dekat sehingga mereka memaksa orang-orang Australia kembali melewati sungai ke sekitar Lapangan Terbang No. 3 yang dipertahankan oleh Batalion 25 (milisi), dan di sini orang Australia berhasil menahan mereka.

MILISI AUSTRALIA BERTAHAN

Dua hari berikutnya relatif sepi kecuali saling tembak artileri dan aktivitas patroli aktif yang dilakukan oleh kedua belah pihak di sekitar Lapangan Udara No. 3. Persiapan serangan kemudian dibuat oleh Brigade ke-18 pimpinan Brigadir Wootten untuk mengusir pasukan Jepang di sepanjang pantai utara hingga sejauh K.B. Misi dan untuk membersihkan seluruh semenanjung, tetapi rencana ini dibatalkan pada 29 Agustus ketika sebuah kapal penjelajah Jepang dan sembilan kapal perusak terlihat. Keesokan harinya, kedua belah pihak terus-menerus melakukan kontak, dengan pihak Jepang berusaha untuk mengkonsolidasikan cengkeraman mereka di area lapangan terbang dan pihak Australia berusaha menahan mereka. Mereka dibantu oleh dua skuadron pesawat tempur Kittyhawk yang menerbangkan pesawat mereka hampir terus menerus, memberondong posisi Jepang dari ketinggian pucuk pohon dan bertindak sebagai artileri terbang. Mereka menyebabkan banyak korban, menahan orang-orang Jepang dengan menembaki, dan menghancurkan perbekalan serta peralatan mereka. 

Tentara Australia berpatroli di hutan berlumpur di sekitar Teluk Milne setelah invasi Jepang dipukul mundut kembali. Dalam pertempuran ini Pasukan Reguler dan milisi bekerja sama dengan baik berdampingan dalam melawan Jepang. (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/)

Pada tanggal 31 Agustus, Jepang melancarkan tiga serangan besar-besaran terhadap Batalyon ke-61 yang mempertahankan garis pertahanan timur laut, tetapi tentara milisi berhasil mengusir mereka kembali dengan meninggalkan banyak orang mati dan terluka di tanah berlumpur. Pada siang hari, Clowes yakin bahwa Jepang akan memusatkan upaya mereka di sepanjang pantai utara atau sektor timur dan dengan demikian memaksa brigade Wootten untuk segera melakukan serangan balik. Sepanjang hari para prajurit milisi berjuang melalui serangkaian penyergapan, membuktikan diri mereka lebih unggul dari tentara Jepang ketika mereka berhasil memaksa tentara Jepang mundur melalui medan berlumpur dan hutan sampai mereka akhirnya menyerbu K.B. Mission dengan serangan bayonet saat malam tiba. Di belakang, 300 orang Jepang menyerang tentara Australia yang mengambil posisi di sepanjang Sungai Gama. Menjelang senja mereka menyerbu keluar dari hutan, berteriak dan memaki. Selama dua jam terjadi pertempuran yang membingungkan dan kejam dalam hujan lebat dengan lawan merayap dan mencebur dalam lumpur yang di beberapa tempat setinggi lutut. Setelah pertempuran berat, tentara Jepang mundur. Orang-orang Australia memburu dan menghabisi mereka ketika musuh berusaha untuk mundur ke barat. 

“BERSIAP MENGHADAPI SERANGAN DARAT JEPANG DI LAPANGAN UDARA MILNE BAY” 

Clowes merasa bahwa kini adalah saat yang tepat untuk mengejar tentara Jepang yang  sedang dalam pelarian dan berencana untuk melanjutkan kemajuannya serta membersihkan sisa-sisa musuh, tetapi pada jam 9:00 pagi pada tanggal 1 September 1942, dia menerima pesan mendesak dari Jenderal MacArthur, yang kemudian akan mengkritiknya karena dianggap terlalu hati-hati. Pesan itu mengatakan: “Bersiap untuk menghadapi serangan pasukan darat Jepang di lapangan udara Milne Bay dari arah barat dan barat laut yang didukung dengan tembakan langsung dari kapal perusak yang ada di teluk. Bersiaplah. ” Semua unit sebenarnya sudah bersiap untuk mengusir serangan ini, tetapi serangan itu tidak pernah terwujud. Dua hari kemudian, pasukan Wootten melanjutkan serangan balik mereka, tetapi penundaan sebelumnya telah memungkinkan Jepang untuk mempersiapkan posisi pertahanan mereka. Orang-orang Australia harus mengusir mereka dari setiap posisi pertahanan lewat serangkaian aksi seperti yang dialami oleh Kopral J.A. French.

Pertempuran di Milne Bay, 25 Agustus – 7 September 1942. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)
Kopral John French, secara anumerta dianugerahi medali Victoria Cross atas aksinya di Milne Bay. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

French memimpin bagian pasukan yang tertahan oleh tembakan dari tiga posisi senapan mesin Jepang. Dia memerintahkan para prajuritnya untuk berlindung dan merangkak cukup dekat untuk menghancurkan dua posisi senapan mesin dengan granat, kemudian menyerbu posisi ketiga dengan menembakkan sub machine gun Thompson dari pinggul. Dia menghadapi hujan peluru. Terluka parah, namun terus bergerak dan menembak sampai dia jatuh mati di posisi itu. Kopral French telah membunuh para kru dari ketiga posisi senapan mesin, sebuah tindakan yang membantu untuk menjaga korban Australia seminimal mungkin dan sangat menentukan kesuksesan serangan itu. Dia secara anumerta lalu dianugerahi Victoria Cross. Clowes yakin pasukannya telah menghancurkan invasi Jepang, dan dia mulai melakukan operasi pembersihan. Tentara Jepang yang kelaparan dan kelelahan berjuang sampai akhir – dimana penolakan mereka untuk menyerah berarti bahwa setiap dari mereka harus dibunuh. Pihak Australia memperkirakan korban jiwa Jepang sekitar 700 hingga 750 tewas dalam aksi, sementara sumber Jepang melaporkan 625 pasukan nya tewas dalam pertempuran. Dari 1.943 tentara Jepang yang mendarat di Milne Bay, kapal-kapal dari Divisi Cruiser ke-18 Jepang berhasil mengevakuasi 1.318 personel, termasuk 311 yang terluka. Di pihak Australia, mereka menderita 373 korban, di mana 167 tewas atau hilang dalam pertempuran. Sedangkan Pasukan AS kehilangan 14 personil yang tewas dan beberapa lainnya cedera

KRITIK DARI MACARTHUR, PUJIAN DARI SLIM 

Dua minggu setelah pendaratan pertama Jepang, pertempuran di Milne Bay telah berakhir. Jepang telah menderita kekalahan yang menentukan – kekalahan pertama mereka di darat – sebagian karena kesalahan mereka dalam berasumsi bahwa Milne Bay hanya akan dipertahankan oleh dua atau tiga kompi tentara yang dikerahkan untuk melindungi lapangan udara dan berharap untuk mengatasinya dengan mudah dengan sekitar 2.000 marinir dan Tentara mereka. Jepang gagal mencapai tujuannya sebagian karena bantuan yang luar biasa dari dua skuadron RAAF di pihak Australia dan terutama karena semangat juang para prajurit milisi muda yang menghancurkan mitos tak terkalahkan dari Tentara Jepang. Tetapi Mayjen Clowes malah hanya mendapat kritik dari Panglima Tertinggi, Jenderal MacArthur – dia mengkritik cara Clowes menangani operasi di Milne Bay dan menilainya gagal dalam mengirim kembali informasi secara reguler. Padahal dapat dikatakan bahwa informasi tidak akurat yang diberikan kepada Clowes berasal dari MacArthur dan markas besarnya.

Tongkang pendaratan Jepang yang terbengkalai, penuh dengan lubang peluru dan pecahan peluru, terdampar di lepas pantai invasi Teluk Milne. Di sini orang Jepang rentetan kemenangan Jepang dalam menaklukkan Pulau-Pulau di Pasifik berhasil dihentikan. (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/)

Banyak perbedaan dan kesalahpahaman yang muncul, dan terus muncul, antara kedua pasukan yang bisa dihindari jika saja MacArthur mengizinkan adanya seorang perwira senior Australia yang berpengalaman, dalam struktur stafnya, tetapi ia tidak pernah mau melakukannya. Pertempuran di Milne Bay disambut oleh Field Marshal Viscount William Slim, yang kemudian memimpin Angkatan Darat ke-14 Inggris di Burma. Dalam bukunya Defeat into Victory, dia menyatakan, “Kami juga terbantu oleh berita yang sangat menggembirakan yang sampai ke kami, yang menjadi penambah semangat, dan sangat bermanfaat. Pada Agustus-September 1942, pasukan Australia di Milne Bay di New Guinea telah membuat Jepang mengalami kekalahan pertamanya di darat. Jika orang Australia, yang dalam kondisi sangat mirip dengan kita, telah melakukannya, kita (pasti) juga bisa. Beberapa orang mungkin lupa bahwa di antara semua Sekutu, tentara Australia yang pertama kali memecahkan mitos kehebatan Tentara Jepang; kami yang berada di Burma memiliki alasan untuk mengingatnya. ” Sebelum di Milne Bay, tentara milisi Brigade ke-7, “chokkos” – tentara cokelat, ungkapan penghinaan yang digunakan oleh beberapa veteran AIF (istilah ini pertama kali digunakan selama Perang Dunia I dalam menggambarkan tentara yang telah tiba di Mesir setelah pertempuran Gallipoli) untuk menggambarkan para prajurit dalam seragam yang “cantik” yang dianggap tidak berniat benar-benar ingin bertempur – telah mendapat pengalaman tempur pertama mereka. Lebih jauh ke barat, di “wilayah yang ditakuti” di Owen Stanley Range Papua, New Guinea, para prajurit muda dari unit milisi yang lebih kecil, Batalyon ke-39, mengenyam pengalaman tempur mereka sendiri di jalan setapak wilayah pedalaman Papua yang kemudian dikenal sebagai Jalur Kokoda. 

MEMENGGAL KEPALA DI KOKODA 

Pada 21 Juli 1942, 1.800 pasukan tempur Nankai, Satuan Laut Selatan Jepang, mendarat di pantai utara Papua di Gona dengan pasukan logistik dan pangkalan serta 1.200 penduduk asli Rabaul yang akan digunakan sebagai kuli dan buruh. Mereka tiba di Gona, dimana terdapat desa panduduk asli dan rumah Misi Anglikan serta rumah sakit. Pasukan tempur Jepang segera menusuk masuk daratan menuju ke Kokoda, sebuah pos terluar pemerintah Australia, dimana terdapat landasan udara, desa penduduk asli, dan perkebunan karet besar milik pribadi di sebuah lembah di kaki bukit Pegunungan Owen Stanley, sekitar 90 kilometer melalui udara dari Gona. Pasukan logistik dan pangkalan serta penduduk asli Rabaul mulai membangun pangkalan di Gona dan di Buna, sebuah desa penduduk asli dan pos pemerintah kecil beberapa kilometer di sepanjang pantai dari Gona. 

Foto udara yang diambil setelah pendaratan Jepang di Gona. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

Semakin banyak orang Jepang kemudian mendarat di Gona dan Buna — totalnya akan mencapai sekitar 13.500 — dan mulai mengumpulkan semua orang Barat di daerah itu. Beberapa orang yang bersembunyi di Sangara, yang dikhianati oleh orang asli Papua, menyerahkan mereka ke tangan Jepang; mereka lalu dipenggal dengan pedang di pantai Buna, di antara mereka terdapat dua bersaudara perempuan penganut Anglikan dan seorang bocah lelaki berusia tujuh tahun. Mereka yang terdiri dari pastor dan dua bersaudara perempuan dari Gona, bersembunyi di hutan, bertemu dengan lima tentara Australia dan lima penerbang Amerika dari pesawat yang jatuh. Mereka semua dikhianati dan dibunuh oleh Jepang kecuali sang Pastor, Pastor Benson, yang melarikan diri, ditangkap kembali, dan kemudian dikirim sebagai tahanan ke Rabaul. Kelompok misi lain yang terdiri dari lima pria, tiga wanita, dan seorang anak lelaki berusia enam tahun dipenggal satu per satu, anak lelaki itu menjadi yang terakhir. Tidak jauh dari sana, dua wanita dari misi itu berdiri di samping kuburan terbuka dan berulang kali dibayonet sampai mereka mati di kuburan. 

MENYERGAP JEPANG

Sementara itu Pasukan tempur Jepang bergerak di Kokoda mengambil rute yang muncul di peta mereka sebagai jalan menuju Kokoda dan ke Port Moresby di pantai selatan. Faktanya, jalan itu hanyalah sebuah jalur kecil, sebuah jalan setapak yang dimulai dari rawa-rawa yang penuh nyamuk malaria di dekat Gona, melintasi sebuah dataran rumput kunai setinggi dua meter dan ke kaki Pegunungan Owen Stanley dan lembah Kokoda. Kokoda berada 400 meter di atas permukaan laut dan dibelakangnya terdapat pegunungan yang spektakuler setinggi 2.000 meter. Pasukan tempur Jepang menemui perlawanan pertama mereka di dekat Awala ketika mereka bertemu dengan Peleton ke-11, Kompi B (milisi), Batalyon ke-39 bersama dengan seorang perwira Australia dan beberapa prajurit pribumi dari Batalyon Kepulauan Pasifik. Kalah dalam jumlah personel dan senjata, pasukan Australia dan pribumi mundur menyeberangi Sungai Kumusi di Wairopi, di mana terdapat jembatan gantung yang tergantung pada kabel kawat di seberang sungai (nama Wairopi adalah pidgin untuk “tali kawat/wire rope”). Orang-orang Australia yang mundur kemudian menghancurkan jembatan dan menyergap tentara Jepang ketika mereka mencoba menyeberangi sungai.

Tentara Australis melintas di Jembatan Wairopi. (Sumber: https://www.battletours.com/)

Ketika pasukan Jepang mulai mengepung mereka, orang-orang Australia mundur kembali ke Gorari, di mana mereka diperkuat oleh Peleton ke-12 dari Kokoda. Penyergapan terhadap tentara Jepang dilakukan lagi di Gorari Creek, tetapi pasukan Jepang terlalu kuat dan berpengalaman dalam pertempuran hutan seperti ini, sehingga orang-orang Australia mundur kembali, kini ke Oivi, di mana pertempuran sengit dimulai. Di markas Batalion ke-39 di Kokoda, Letnan Kolonel William T. Owen menghubungi via radio untuk dapat dikirimkan dua kompi batalionnya yang diterbangkan dari Port Moresby, dan ia mengirim peleton terakhirnya ke Oivi. Batalyon ke-39, adalah sebuah batalion milisi dengan sedikit pelatihan militer, telah menggali parit dan membangun perbentengan di dalam dan sekitar Port Moresby selama beberapa bulan ketika mereka diperintahkan untuk pindah ke pantai utara untuk mengawasi kemungkinan pendaratan Jepang di daerah tersebut. 

Batalion ke-39 Australia. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Kolonel Owen, dengan markas besar batalionnya dan Kompi B, telah melewati Jalur Kokoda dari Port Moresby dan mencapai Kokoda sementara yang lain masih berjuang di sepanjang jalan. Keesokan harinya, Peleton ke-16, dari Kompi D, dengan tertatih-tatih sampai ke Kokoda dan setengah anggota peletonnya diterbangkan dengan pesawat sipil. Dari ujung Port Moresby, Jalur Kokoda dimulai ketika, setelah berjalan satu mil di sebelah Sungai Goldie, muncul jalan setapak menanjak dan curam di Kisaran Imita. Setelah para prajurit mencapai puncaknya, mereka terkejut oleh beratnya pendakian dan terengah-engah untuk menemukan udara, namun ini hanyalah permulaan. Di depan mereka terentang berbagai topografi yang serupa, pegunungan yang tertutup hutan yang terus naik semakin tinggi dan terus berlanjut seperti tak berakhir. Di seluruh penjuru mata angin, lembah, celah, dan lipatan gunung terpencar dimana-mana, banyak dari mereka dipenuhi kabut. Tidak ada yang bisa mereka lakukan selain berjalan sempoyongan, jam demi jam, karena jarak tidak diukur dalam yard dan mil tetapi dalam waktu –– berapa lama sampai ke titik berikutnya, area istirahat berikutnya, lokasi perkemahan berikutnya, dan seterusnya.

Portir asal penduduk asli Papua mengangkut logistik di Jalur Kokoda. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Melalui semua itu, kira-kira ke utara, mereka bergerak ke Kokoda Trail, “jalur berdarah” yang sering disebut oleh tentara Australia. Kadang-kadang mereka melewati sisi gunung dengan angin yang kencang, kadang-kadang mereka bergerak dari batu karang ke batu karang yang lain, melewati aliran sungai pegunungan yang deras, kadang-kadang mengarungi rawa-rawa busuk hingga ke pinggang mereka, dan naik lereng hanya beberapa derajat  vertikal dan turun dalam kemiringan serupa, yang berkelok-kelok. Di sepanjang jalan terdapat ular, laba-laba, lintah, nyamuk, serangga dari segala jenis, disertai hujan lebat dan kelembaban konstan, lumpur tebal yang abadi yang lengket, malam yang dingin membeku. Penyakit segera menyebar diantara para pasukan –– disentri, malaria, tifus, goresan kecil yang dengan cepat menjadi bisul tropis. Sementara itu tentara Australia juga mendapati bahwa senapan mesin Vickers dan mortir medium yang mereka bawa terlalu berat untuk digunakan di medan seperti ini. Tanpa artileri, mortir atau senapan mesin sedang, orang-orang Australia menghadapi lawan yang dilengkapi dengan meriam gunung dan howitzer ringan yang telah dibawa pasukan Jepang melintasi pegunungan dan terbukti menjadi keuntungan yang menentukan.

KEJATUHAN KOKODA

Di Oivi, dua jam perjalanan dari Kokoda, situasinya sekarang nampak tidak ada harapan. Ketika kegelapan turun, Kapten Sam Templeton, komandan Kompi B, menyelinap ke hutan untuk menemukan beberapa bala bantuan yang berasal dari Kokoda dan memandu mereka masuk. Beberapa menit kemudian terdengar tembakan, dan kemudian sunyi. Templeton tidak pernah terlihat lagi. Merasa yakin bahwa mereka tidak akan dapat menahan serangan berat berikutnya dari Jepang, para perwira memutuskan untuk meninggalkan Oivi malam itu. Kemudian, dengan masing-masing prajurit memegang sabuk prajurit di depannya dan dipimpin oleh tentara dari penduduk asli, mereka berjalan perlahan melalui hutan gelap untuk mencapai Kokoda keesokan paginya. 

Desa dan lapangan terbang di Kokoda, Agustus 1942. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Sementara itu, Kolonel Owen, dengan kurang dari 50 orang untuk mempertahankan Kokoda, landasan udara, dan jalan setapak, telah mundur ke Deniki di mana sebuah bukit memberikan posisi pertahanan alami yang kuat. Ketika Kompi B tiba dari Oivi, Owen mengembalikan semua pasukan ke Kokoda, memberi isyarat kepada Port Moresby bahwa landasan udara terbuka, dan sekali lagi meminta bala bantuan dan perbekalan. Tetapi malam itu Jepang mengirim serangan mortir melintas di atas Sungai Mambare menuju ke Kokoda dan, di bawah lindungan tembakan senapan mesin berat, 400 tentara melancarkan serangan terhadap posisi pasukan Australia. Ketika serangan berlangsung, Jepang meningkatkan tembakan mortir dan senapan mesin dan mengirim lebih banyak pasukan; orang-orang Australia mulai kembali ke Deniki. Owen, melemparkan granat ke arah orang Jepang yang melewatinya melalui kabut malam, namun kemudian ditembak di kepalanya. Di sampingnya, Prajurit “Snowy” Parr, seorang penembak Bren, marah karena kehilangan komandan yang populer dan disegani, pergi malam itu bersama dengan rekannya, “Prajurit” Rusty “Hollow, untuk melakukan pembalasan. Mereka menemukan sekelompok 15 orang Jepang. Parr menembaki mereka dengan Bren dari jarak dekat dan membunuh mereka semua. Lalu ia dan Hollow bergabung dengan pasukan yang mundur ke Deniki.

MEMANCING KELUAR PASUKAN JEPANG

Sementara itu, Kompi C telah tiba di Deniki dan hari berikutnya Kompi A masuk. Kemudian Kompi D dan E tiba dan bersama mereka hadir CO pengganti untuk Owen, Letnan Kolonel Alan Cameron. Batalion ke-39 sekarang kembali menjadi batalion lagi, berkekuatan 480 personel, dan Cameron memutuskan untuk merebut kembali Kokoda sementara pasukan Jepang sedang menunggu bala bantuan untuk tahap selanjutnya dari serangan mereka. Sebuah serangan tipuan terhadap Kokoda dan penarikan mundur ke Deniki telah menarik pasukan Jepang untuk keluar dari Kokoda, dan komandan mereka, Letnan Kolonel Tsukamoto, mengerahkan seluruh kekuatannya dalam serangan terhadap Deniki. Sementara serangan itu terjadi, Kompi A dan D dari batalion ke-39 bergerak di belakang tentara Jepang dan berjalan ke Kokoda yang telah ditinggalkan. Mereka mengirim pesan kepada Port Moresby bahwa landasan udara sekarang terbuka lagi dan bala bantuan serta perbekalan harus dikirim sekaligus. Mereka kemudian bersiap untuk menunggu kembalinya tentara Jepang. 

Tentara Jepang melintas di Jalur Kokoda, medan berat membutuhkan peralatan ringan yang cukup partable untuk dibawa oleh prajurit. (Sumber: https://weaponsandwarfare.com/)

Mereka menunggu sepanjang hari, tetapi tidak ada bala bantuan atau perbekalan tiba. Pada akhir hari itu, orang Jepang kembali, dalam hujan lebat, dan orang-orang Australia melawan mereka sampai malam itu dan keesokan harinya. Ketika malam tiba, orang-orang Australia menempatkan korban luka mereka ke tandu sementara dan, terdapat delapan prajurit yang ada diatas tandu, membawa mereka pergi dalam kegelapan melintasi dataran tinggi dan menaiki lereng gunung, sisa dari dua kompi ada di belakang mereka. Pagi berikutnya orang-orang Australia, dari atas gunung-gunung dan masih bisa melihat Kokoda, menoleh ke belakang untuk melihat dua pesawat Sekutu menjatuhkan perbekalan di landasan udara. Jelas bantuan itu datang terlambat.

PERTEMPURAN ISURAVA 

Orang Jepang kembali ke Deniki mencari pembalasan. Selama dua hari orang-orang Australia menahan mereka, lalu, demi menghindari bahaya terkepung sama sekali, mereka mundur ke Isurava dan membentuk garis pertahanan. Letnan Kolonel Ralph Honner tiba di Isurava bersama bagian dari Batalion ke-53 (AIF) dan Brigadir Selwyn H. Porter, yang memimpin semua personel Australia dan beberapa pasukan penduduk asli yang bertugas di daerah itu. Total kekuatan mereka sekarang 45 perwira dan 584 personel lainnya. Pada saat ini, Mayor Jenderal Tomitaro Horii, komandan Nankai, tiba dengan bala bantuan di pantai Gona-Buna untuk mengambil alih komando serangan ke Port Moresby. Dia bergerak cepat ke Kokoda dengan kekuatan tempur berjumlah 10.000 orang. Pada pagi hari tanggal 26 Agustus, batalion Horii menyerbu pertahanan luar Australia dan melanjutkan serangan habis-habisan terhadap Isurava. Pada saat yang sama orang-orang Australia juga diperkuat oleh kedatangan satu kompi dari Batalyon 2/14 (AIF); sisa batalion yang lainnya mengikuti di belakang bersama dengan Batalion 2/16 (AIF). Tentara AIF ini adalah veteran perang gurun di Afrika Utara yang telah kembali ke Australia dan segera dikirim ke Port Moresby. Pada saat ini, banyak orang Australia, dari militer dan warga sipil, percaya bahwa begitu Jepang bisa menguasai Port Moresby, Australia akan diserbu.

Prajurit Batalion ke-39 Australia mundur dari Isurava. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)
Pasukan Jepang membombardir posisi Australia dengan Howitzer ringan kaliber 75 mm di Kokoda. (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/)

Serangan di Isurava berlanjut sampai tanggal 27 dan 28 Agustus dengan Jepang berusaha mengalahkan pasukan Australia dengan bergerak di sekitar lereng yang tertutup hutan. Dari markas besarnya di lereng gunung yang menghadap ke Isurava, Jenderal Horii menyaksikan pertempuran itu dan merasa kesal atas tertahannya kampanyenya untuk merebut Port Moresby. Dia memerintahkan dua batalion lagi untuk membantu dan, pada tanggal 29, lima batalion mulai menyerang secara bergelombang. Orang-orang Australia bertahan, mematahkan setiap serangan. Tetapi setiap serangan lanjutan telah membawa tentara Jepang lebih dekat sampai beberapa orang Australia harus berkelahi dengan tinju dan sepatu bot dan popor senapan. Pada satu titik, Kopral Charles McCallum, yang berdarah karena tiga luka, menahan pasukan Jepang dengan senapan sub machine Thompson yang dia tembakan dari bahu dan senapan mesin Bren yang dia tembak dari pinggul. Seorang tentara Jepang datang begitu dekat sehingga ia bisa merobek kantong amunisi di dada McCallum sebelum orang Australia itu bisa menembaknya dengan Thompson. Para prajurit Australia yang berada di dekatnya melaporkan bahwa McCallum setidaknya membunuh 40 orang Jepang dalam aksinya itu. Tidak jauh dari sana, beberapa tentara Jepang bersiap untuk melakukan serangan lain. Prajurit Bruce Kingsbury menyerbu di antara mereka dengan senjata Bren dan granat, mencerai beraikan mereka. Dia kemudian menyerang posisi senapan mesin satu demi satu, dengan menggunakan Bren dan granat, sementara beberapa rekannya mengikutinya, membunuh setiap orang Jepang yang dia lewatkan. Dalam prosesnya mereka mendesak garis pertahanan Jepang mundur 100 meter. Kingsbury, saat berlari ke arah pos senapan mesin lainnya, ditembak mati oleh penembak jitu Jepang. Untuk perannya dalam mempertahankan markas batalion, Kingsbury secara anumerta dianugerahi Victoria Cross. 

GERAK MUNDUR AUSTRALIA 

Menjelang sore, orang-orang Australia yang letih tidak bisa bertahan lebih jauh lagi, dan malam itu beberapa dari mereka mundur ke punggung gunung di belakang Isurava. Yang lain mengungsi ke beberapa gubuk penduduk asli di desa Alola, di mana yang terluka ditempatkan. Keesokan paginya, tentara Jepang, menemukan bahwa orang-orang Australia telah meninggalkan Isurava, melakukan pengejaran dan memulai hari yang mungkin merupakan pertempuran terberat di Jalur Kokoda. Pada sore hari, orang-orang Australia dipaksa keluar dari punggung bukit dan, dalam pertempuran yang ganas, mundur kembali ke Alola. Evakuasi korban luka kemudian dimulai. Yang terluka parah dinaikkan ke tandu yang terbuat dari cabang-cabang pohon dan tanaman merambat dan dibawa pergi dalam perjalanan tujuh hingga delapan hari dalam hujan dan lumpur dan melewati beberapa wilayah yang paling sulit di dunia, sementara yang terluka dan masih bisa berjalan mulai melakukannya, saling membantu sebaik mungkin. Malam itu dan sepanjang hari berikutnya orang-orang Australia yang tersisa berjuang untuk mempertahankan Alola dan memberi orang yang terluka sebanyak mungkin waktu untuk pergi, tetapi ketika malam datang mereka diusir lagi.

Medan Kokoda memang dikenal berat dengan banyak jalanan curam bersudut tinggi. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Mereka mundur ke Eora. Di Eora jalan setapak menurun 350 meter pada kemiringan 45 derajat ke sungai dan naik ke sisi lain yang curam dengan para prajurit harus memanjat lereng dengan tangan dan lutut. Sementara itu sebuah tim medis sedang bertugas di Eora, melakukan operasi atas mereka yang terluka yang didatangkan dari tempat-tempat pertempuran dengan tandu. Di bawah atap jerami tempat hujan deras turun dan di tanah berlumpur, amputasi dan perawatan dilakukan dengan bantuan lampu senter. Dokter bedah, dokter, dan asisten medis yang kelelahan bekerja sepanjang malam untuk menyelesaikan beberapa kasus terburuk, meski mengetahui, bahwa orang-orang Jepang sudah mendekat, dan akan tiba pada waktu fajar. Pada akhirnya orang-orang Australia mengumpulkan semua personel yang mungkin bisa berperang dan bersiap untuk menghadapi serangan yang mereka tahu akan segera datang. Seorang letnan kolonel bersama satuan markasnya hilang entah di mana pada malam hari. Para penyintas Batalyon ke-39 sudah tidak memiliki pakaian ganti dalam tiga minggu; mereka compang-camping, sepatu bot mereka berantakan, dan mereka banyak menderita dengan disentri dan malaria. Mereka telah bertempur siang dan malam sejak sebelum pertempuran Kokoda, dengan sangat sedikit makanan yang bisa dimakan mereka, dan mereka sekarang tidak lebih mirip “orang-orangan sawah” yang masih bergerak. 

Evakuasi korban Australia oleh portir penduduk asli di Jalur Kokoda. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Tandu-tandu dipindahkan. Di antara mereka yang terluka namun masih berjalan, terdapat seorang prajurit dengan dua luka peluru di satu kaki dan satu di kaki lainnya; dia bergerak seperti “kepiting” sepanjang jalan setapak dengan yang lain mendorongnya mendaki lereng. Seorang prajurit lain merangkak dan melompat-lompat — satu kaki telah diamputasi di bawah lutut dan lukanya itu hanya dibungkus dengan karung beras. Prajurit lain yang berjalan bersama lengannya hancur dan hanya diikat dengan bayonet. Di belakang mereka pasukan yang masih dapat bertempur mengambil posisi bertahan yang mereka tahu tidak akan bisa bertahan lama. Mereka menahan musuh selama sehari, kemudian mundur ke Myola di mana makanan dan amunisi dijatuhkan dengan pesawat. Mereka makan dengan baik, lalu menghancurkan apa yang tidak bisa mereka bawa, dan melanjutkan gerak mundur ke Kagi. Di sini mereka menikmati waktu istirahat singkat sementara orang-orang Jepang yang lapar mencari makan di antara gudang-gudang yang ditinggalkan di Myola, mengambil beras yang telah dibuang ke dalam lumpur dan kaleng-kaleng daging yang sudah berjamur dan kadaluarsa. Hingga saat itu, tentara Jepang lebih banyak membawa amunisi daripada makanan, dengan berharap dapat merebut banyak pasokan Australia, tetapi orang Australia hanya menyisakan sedikit untuk mereka.

PERTEMPURAN IORIBAIWA RIDGE

Batalion 2/27 (AIF) tiba di Kagi setelah melewati jalan setapak dari Port Moresby untuk menggantikan Batalyon ke-39; sisa-sisa pasukan batalion ke-39 menyerahkan senjata otomatis mereka pada pasukan yang baru datang dan memulai perjalanan jauh ke Port Moresby. Waktu istirahat di Kagi memungkinkan pasukan Australia untuk melepas sepatu mereka untuk pertama kalinya dalam 10 hari dan lebih banyak lagi; mereka menemukan kaki mereka, seperti yang dijelaskan oleh mereka, “seperti sarung tangan hancur.” Ketika kaus kaki dilepas, kulit mereka ikut mengelupas. Hal ini kemudian memunculkan komentar dari para pasukan, “Mengapa kita harus bertempur untuk daerah seperti ini? Kita harusnya dengan senang hati memberikannya kepada bajingan Jepang itu. ” Dari Kagi, orang-orang Australia mundur ke desa Efogi dan, dari ketinggian di atas desa, mereka memandu delapan pesawat Boston (pembom Douglas A-20 Havoc) dan empat pesawat tempur Kittyhawk untuk menyerang posisi Jepang selama beberapa jam. Aksi ini memberi mereka waktu untuk membuat pertahanan di lereng, tetapi seorang tentara Jepang dalam satu dan dua langkah berjalan dengan tenang ke arah mereka, membiarkan diri mereka ditembak mati sambil mengungkapkan posisi Australia kepada kawan-kawan di belakang mereka. Kemudian datanglah serangan gencar oleh meriam gunung, mortir, dan senapan mesin berat, bersama dengan serangan yang seringkali membawa tentara-tentara Jepang hingga jarak 15 meter saja dari posisi pertahanan Australia, sebelum mereka dapat diusir kembali. 

Lagi-lagi itu ini adalah taktik mengepung Jepang dengan keunggulan jumlah personel yang memaksa orang Australia keluar dari Efogi. Dengan tidak adanya posisi pertahanan di belakang mereka yang dapat dipertahankan melawan taktik-taktik ini, orang-orang Australia mundur kembali ke Menari dan kemudian ke Nauro, dengan senantiasa diserang di sepanjang jalan, dan kemudian ke Ioribaiwa Ridge. Di tempat itu, Brigade ke-25 veteran Afrika Utara yang dipimpin oleh Brigadir Ken Eather bersiap untuk melakukan serangan balik dan mulai mendesak Jepang kembali. Tetapi Jepang, yang sekarang sudah dekat dengan tujuan mereka, Port Moresby, dapat mendengar suara pesawat lepas landas dan mendarat di bandara kota, dengan segera menyerang Ioribaiwa Ridge. Pertempuran untuk merebut lereng gunung berlanjut hingga tanggal 15 dan 16 September, dimana Eather dan Brigade ke-25nya, yang terperangkap di dalamnya, tidak memiliki kebebasan bergerak yang diperlukan baginya untuk memulai ofensifnya. Dia meminta dan diberi izin untuk mundur ke Imita Ridge di seberang lembah. Ketika orang-orang Australia meninggalkan Ioribaiwa, orang-orang Jepang berkerumun di sana, mencari perbekalan yang ditinggalkan. Mereka begitu sibuk untuk mencari sisa-sisa perbekalan sehingga mereka gagal mengejar barisan belakang Australia; sialnya mereka cuma menemukan sangat sedikit perbekalan. Empat puluh tentara Jepang yang kelaparan datang menuruni lembah, semuanya terbunuh dalam serangan tentara Australia.

Dalam pertempuran hutan seperti di Kokoda, pertarungan kadang berlangsung dalam jarak dekat. disini reaksi dari seorang prajurit sangatlah krusial. (Sumber: Pinterest)
Anggota Peleton 9, Kompi, Batalyon Infanteri ke-2/14, beristirahat di Uberi, Jalur Kokoda, 16 Agustus 1942. Hampir sepertiga dari orang-orang dalam foto akan terbunuh dalam beberapa minggu setelah foto ini diambil. (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/)

Disinilah kemajuan Jepang mencapai batasnya. Patroli pasukan Eather sekarang mendominasi wilayah Lembah Uaule antara Ioribaiwa Ridge dan Imita Ridge yang berjarak empat kilometer. Sementara itu, Horii membawa 1.000 personel bala bantuan, memperbesar pasukannya menjadi dua brigade – sekitar 5.000 prajurit – tetapi bala bantuan, seperti pasukan yang sudah berada di punggung bukit, dalam kondisi kelaparan. Kesalahan mereka dengan berharap untuk bisa merebut pasokan Australia merupakan asumsi yang sepenuhnya tidak benar. Sehebat apapun mereka, mereka tidak mampu lagi pergi lebih jauh tanpa makanan dan istirahat, tentara Jepang lalu menggali pertahanan di Ioribaiwa Ridge dan menunggu bala bantuan segar yang dijanjikan Horii dan dengan ini, mereka bermaksud untuk melakukan serangan terakhir ke Port Moresby. 

SERANGAN BALIK DI KOKODA TRAIL 

Pada tanggal 28 September 1942, dua meriam lapangan Australia kaliber 25 pounder membuat lubang di pagar yang telah didirikan Jepang di Ioribaiwa Ridge, dan pasukan Brigade ke-25 segera menyerbu masuk dengan bayonet dan granat – serangan balasan telah dimulai. Namun, alih-alih terjadi pertempuran, yang kemudian terjadi adalah antiklimaks. Tidak ada orang Jepang yang masih hidup, hanya tinggal yang mati – ratusan mayat tentara yang telah jatuh dan meninggal karena luka dan penyakit serta kelaparan. Jauh ke timur di Kepulauan Solomon, pertempuran Guadalkanal berkecamuk, dan komando tinggi Jepang telah memutuskan untuk memberikan prioritas pertempuran itu atas serangan Horii ke Port Moresby. Bala bantuan yang dijanjikan kepada Horii dialihkan ke Guadalcanal, dan dia dikirimi pesan yang memerintahkan dia untuk kembali ke pangkalan di Gona-Buna dari mana rencananya serangan lain akan diluncurkan ke Port Moresby ketika pertempuran untuk Guadalcanal berakhir. Horii tertegun, demikian pula para perwira dan bawahannya. Tentara Jepang diperintahkan untuk mundur di hadapan musuh. Itu tidak bisa dipercaya. Tetapi pesan itu atas nama Kaisar dan Horii tidak berani tidak mematuhinya. Dia mulai segera menarik diri. 

Tentara Australia mengibarkan bendera setelah merebut kembali Kokoda, 2 November 1942. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Beberapa perwira dan prajurit menolak mundur dan memilih bertarung sampai mati daripada mundur lebih jauh. Banyak yang terluka dan sakit tetap tinggal, dengan senjata mereka siap menembak, berharap untuk bisa membawa satu atau lebih orang Australia bersama mereka ketika mereka mati. Brigade ke-25 mengejar mereka, bergerak dalam tiga cabang, satu di tengah di medan berlumpur melewati Kokoda Trail dan dua lainnya di hutan basah di kedua sisi. Mereka memeriksa setiap sisi jalan, setiap kemungkinan di mana tentara Jepang mungkin berputar untuk menyerang mereka dari belakang. Taktik ini memang memakan waktu tetapi perlu, karena mereka telah mendengar cerita kekejaman dari penduduk asli yang keluar dari hutan untuk menemui mereka. Beberapa adalah penduduk asli New Britain yang dibawa Jepang untuk bekerja sebagai kuli dan buruh. Mereka dipaksa bekerja sampai tusukan dari bayonet tidak dapat lagi mereka tahan, dan kemudian bayonet mengakhiri nyawa beberapa dari mereka. Penduduk desa di sepanjang jalan itu menceritakan kisah-kisah mengerikan tentang aksi bayonet, penembakan serta pemerkosaan terhadap wanita mereka. Mereka menemukan beberapa orang Australia, dimana satu dipenggal, sementara yang lain ada yang diikat ke pohon dan di-bayonet. 

PERTAHANAN TERAKHIR JENDERAL HORII

Brigade ke-25 bergerak melalui Nauro dan Menari, dimana berserakan mayat dan kerangka membusuk dari tentara Jepang dan Australia yang telah tewas dalam pertempuran beberapa minggu sebelumnya. Bau busuk dan kematian ada di mana-mana. Di Templeton’s Crossing pada 8 Oktober, Horii mendirikan pertahanan yang sangat kuat sehingga pihak Australia mengira musuh telah menerima bala bantuan dari pangkalan mereka Gona-Buna. Orang-orang Australia ditahan selama enam hari, dan kemudian muncul tuduhan dari Jenderal MacArthur dan yang lainnya di Australia bahwa mereka meminta bala bantuan lagi. Di sinilah mereka menemukan bahwa, apa pun bantuan yang mungkin diterima Horii, namun itu bukan makanan. Buku harian dan bukti lain yang ditemukan di tubuh orang Jepang menegaskan bahwa beberapa dari mereka telah melakukan kanibalisme. Orang-orang Australia, seperti halnya Jepang juga mengalami masalah yang sama, mereka segera kehabisan perbekalan mereka. Masing-masing prajurit telah membawa beban yang berat, dan 800 portir penduduk asli dipekerjakan untuk membawa pasokan di sepanjang jalan, tetapi diperkirakan setidaknya dibutuhkan 3.000 portir. Beberapa perbekalan dijatuhkan lewat udara, tetapi tingkat recoverynya rendah. Dan ada masalah kronis mengenai personel yang terluka dan sakit. 

Jenderal Tamitaro Horii tenggelam saat hendak menyeberangi Sungai Kumusi. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Sebuah landasan dipersiapkan di dasar danau kering di Myola untuk mengevakuasi korban melalui udara, tetapi pesawat tidak pernah datang. Beberapa pilot akhirnya mendarat untuk menunjukkan bahwa hal itu bisa dilakukan, dan mereka mengambil beberapa yang terluka, tetapi mereka yang tertinggal dan mungkin masih bisa berjalan mulai bergerak keluar. Sebuah barisan menyedihkan dari 212 korban pertempuran dan 226 orang sakit memulai perjalanan mundur ke belakang. Sementara itu, Jepang juga telah mundur dari Templeton’s Crossing ke Eora Creek untuk mendirikan di belakang tiga garis pertahanan yang dibuat oleh unit-unit cadangan dengan lubang-lubang senjata yang dipenuhi dengan senapan mesin yang berat dan ringan. Tersengat oleh tuduhan taktik yang dianggap terlalu berhati-hati dari komandan Amerika dan Australia di Australia dan Port Moresby, orang-orang Australia yang berada di jalur itu menyerbu pertahanan Jepang, dan kemajuan di Kokoda terus berlanjut. Ketika mereka tiba di Kokoda pada 2 November, mereka mendapati orang Jepang telah meninggalkannya dan mundur kembali ke benteng yang dibangun di Oivi. Di sini tentara Australia menggunakan taktik mengepung Jepang dengan kelompok-kelompok kecil bertemu dan membunuh satu sama lain di hutan lebat, dan ruang terbuka apa pun menjadi tempat pembunuhan. Meski kelelahan, tentara Jepang entah bagaimana menemukan kekuatan untuk melakukan serangan balik, dan pertempuran itu berlangsung dengan ganas. Dengan rate korban satu tentara Australia yang terbunuh untuk dua orang yang terluka adalah indikasi bagaimana pertempuran berlangsung dari jarak dekat. Kerugian Jepang sangatlah besar, tetapi beberapa lolos dari pengepungan, hanya untuk diburu dan dibunuh ketika mereka mencoba menyeberangi Sungai Kumusi. Jenderal Horii tenggelam ketika sampannya tempat dia berada tersapu ke laut dan terbalik 10 kilometer dari pantai.

PERTEMPURAN GONA

Pasukan Amerika pertama tiba di Papua pada 12 September 1942; mereka adalah Resimen ke-126 dan ke-128 pimpinan Mayjen Edwin F. Harding. Divisi Infanteri ke-32 pimpinan Harding dan ditugaskan untuk menyerang Jepang di Kokoda. Tetapi pada saat kematian Jenderal Horii, tentara Amerika, terlepas dari personel penerbang yang memberikan dukungan udara bagi pasukan darat, belum digunakan dalam pertempuran. Komunike dari MacArthur menyatakan bahwa pasukan “Sekutu” telah memenangkan kampanye panjang untuk merebut Kokoda dan sebuah laporan pers Amerika menyatakan kehadiran infanteri Amerika di daerah itu “telah mengklarifikasi misteri dari kemunduran Jepang di sepanjang Owen Stanley Range.” Hanson Baldwin, jurnalis militer Amerika yang terkenal, menyatakan di New York Times bahwa hanya karena intervensi pasukan infantri Amerika, telah menyelamatkan pasukan Australia dari kekalahan. “Tentara Amerika,” katanya, “segera dikirimkan , dan berperan penting dalam menyelamatkan hari itu. Dengan orang-orang Australia juga turut menyerang tentara Jepang, pada akhirnya mengalahkan mereka dan terus mendesak ke garis musuh sampai tentara Jepang sekarang berjuang mati-matian untuk tetap bertahan di pantai pendaratan. ” Jelas klaim ini tidak disukai orang-orang Australia.

Pasukan Amerika di Buna. (Sumber: https://vintagenewsdaily.com/)

Dengan hancurnya Jembatan Wairopi, Brigade Australia ke-16 dan ke-25 melintasi Kumusi di atas jembatan darurat yang dibuat oleh pasukan zeni dan terus menyusuri Jalur Kokoda ke rawa-rawa pantai di mana semuanya dimulai empat bulan sebelumnya. Di sini, dengan beberapa bala bantuan dan Amerika, mereka akan menghadapi pasukan Jepang di markas mereka yang dipertahankan kuat di Gona, Buna, dan Sanananda. Rencana serangan terhadap Buna sudah dibuat di markas besar MacArthur. Brigade ke-16 dan ke-25 Australia akan mendesak ke Buna, sementara satu batalion dari Resimen ke-126 Amerika akan bergerak melalui Jaure dan menyerang dari selatan, dan sisa Resimen ke-126 ditambah Resimen ke-128 akan terbang ke Wanigela dan Pongani dan menyerang dari sana. Pada saat orang-orang Australia telah menyeberangi Kumusi, orang-orang Amerika bergerak di Buna dalam tiga jalur terpisah, didukung oleh pasukan komando dan artileri Australia. Jepang saat itu telah bangkit kembali dari kekalahan mereka dan mengubah pantai pijakan mereka menjadi benteng yang akan mempertahankan cengkeraman kecil mereka di Papua. Dengan bala bantuan, mereka sekarang memiliki sekitar 9.000 tentara di tempat mereka berpijak, dan Letjen Hatazo Adachi dari Angkatan Darat ke-18 akan memegang komando keseluruhan operasi di Papua. 

Harga sebuah agresi: Sekelompok Jepang yang mati, terbunuh dalam serangan terakhir tentara Australia di Gona, 17 Desember 1942, mereka yang tewas berserak di reruntuhan tempat pembuangan amunisi mereka. (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/)

Pada pagi hari tanggal 19 November, elemen-elemen terdepan Brigade ke-25 pimpinan Brigadir Eather menyerang ke posisi Jepang di selatan desa Gona. Di belakang posisi itu terdapat pertahanan yang kuat. Orang-orang Australia menyerang pertahanan musuh dan merebut sejumlah wilayah tetapi dipaksa untuk mundur hari berikutnya dengan korban besar. Brigade itu, berkurang kekuatannya menjadi hanya 736 prajurit yang kebanyakan sakit dan kelelahan, kehilangan 204 personel lainnya karena tewas dan terluka dalam serangan itu. Mereka lalu diperkuat oleh Brigadir Ivan N. Dougherty dan Brigade ke-21 yang dipimpinnya, mereka adalah veteran kampanye militer di Libya, Yunani, dan Kreta, dan sekarang berada di antara Kokoda dan Ioribaiwa. Doughherty bertanggung jawab atas wilayah Gona. Dia dengan cepat melibatkan brigadenya dalam operasi-operasi ofensif dan, meskipun serangan pertamanya gagal, serangkaian serangan mematikan berikutnya berhasil menghancurkan tentara Jepang di posisi pertahanan mereka. Desa Gona diduduki pada 9 Desember. Garnisun Jepang yang terdiri dari 800-900 personel hampir seluruhnya musnah; brigade Australia itu menguburkan 600 mayat mereka.

SAYA INGIN KAMU MEREBUT BUNA, ATAU JANGAN KEMBALI HIDUP-HIDUP

Operasi pasukan Australia telah mengamankan sisi kiri ofensif, tetapi di sepanjang Sanananda Track dan di Buna gerakan lebih lanjut telah menjadi macet. Resimen Amerika ke-126 dan ke-128, yang maju di sepanjang dua jalur pantai dari selatan menuju Buna, hanya menghadapi perlawanan terisolasi ketika mereka mendekati garis utama Jepang, tetapi perlawanan segera menghebay. MacArthur, yang berniat bahwa dengan hadirnya orang-orang Amerika akan mempercepat kampanye, menginstruksikan komandan Australia, Jenderal Thomas Blamey, bahwa pasukan daratnya harus menyerang daerah Buna-Gona pada 21 November, dengan mengatakan: “Semua pasukan akan dikonsentrasikan ke sana dengan mengabaikan kerugian. ” 

Lieut. General Robert Eichelberger menembakkan senapan Thompson ke posisi Jepang. Eichelberger diperintahkan Jenderal MacArthur untuk bisa merebut Buna-Gona berapapun harganya. (Sumber: https://vintagenewsdaily.com/)

Harding meluncurkan pasukannya pada pagi hari 21 November, dan selama sembilan hari berikutnya ada kebingungan besar. Pasukan, yang dipimpin dengan buruk, kurang terlatih, dan telah terbiasa dengan kenyamaman sebelum kedatangan mereka di Papua, menderita korban yang buruk dalam serangan pertama mereka pada pertahanan utama Buna. MacArthur yang kecewa, lalu memanggil Letjen Robert Eichelberger, komandan Korps I Amerika; dia tiba di markas sementara MacArthur di Port Moresby pada 30 November. MacArthur mengatakan kepadanya, “Bob, aku akan memerintahkanmu ke Buna. Untuk menggantikan Harding. Saya ingin Anda menyingkirkan semua perwira yang tidak ingin bertempur. Gantikan komandan resimen dan batalion jika perlu. Kalau perlu suruh sersan untuk memimpin batalion dan kopral memimpin atas kompi-kompi – siapa pun yang dapat bertarung …. Saya ingin Anda merebut Buna, atau jangan kembali hidup-hidup, dan itu berlaku untuk Kepala Staf Anda juga. Apakah kamu mengerti?” “Ya pak.” Jawab Eichelberger.

PERTEMPURAN BUNA 

Eichelberger tiba di Buna keesokan harinya dan terkejut dengan apa yang ia temukan. Struktur komando kacau, moral pasukan rendah, dan “tidak adanya semangat pada seluruh operasi.” Dia segera membebastugaskan Harding dan dua komandan resimen dan menggantinya dengan anggota stafnya sendiri. Dia memerintahkan serangan yang akan diluncurkan dengan dukungan kendaraan lapis baja Bren Carrier Australia pada tanggal 5 Desember. Serangan itu diluncurkan di dua front, satu terhadap desa Buna, yang lain melawan pertahanan kuat di timur desa di sepanjang lapangan terbang yang dikenal sebagai New Strip. Beberapa keberhasilan dicapai di wilayah desa tetapi garnisun utama tetap bertahan dengan teguh dan pertahanan lapangan terbang tidak dapat ditembus meskipun menghadapi serangan berat Amerika. Pada 10 Desember, Pasukan Amerika telah kehilangan 1.827 orang yang terbunuh, terluka, hilang, dan sakit, dan Eichelberger mengganti Resimen ke-126 dengan Resimen ke-127. Resimen ke-127 yang baru memasuki desa Buna untuk menemukan sisa-sisa garnisun telah pergi tetapi pertahanan di landasan udara masih bertahan, dan Eichelberger bersiap untuk meluncurkan serangan lain. Dia kemudian meminta Brigade Australia ke-18 pimpinan Brigadir Wootten datang  untuk mengambil alih tanggung jawab atas sektor lapangan terbang. Brigade ini akan membawa dua pasukan tank ringan Stuart dari Resimen Lapis Baja ke-2/16 yang sangat terlatih. 

Serangan ke Buna 18-28 Desember 1942. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Wootten mengambil alih komando, termasuk tiga batalyon Amerika, pada tanggal 17 Desember. Niatnya adalah untuk merebut wilayah pemerintahan di Cape Endaiadere-New Strip-Old Strip-Buna. Tujuan pertama adalah merebut seluruh wilayah pesisir antara New Strip dan mulut Sungai Simemi, tempat Jepang bercokol dalam serangkaian titik pertahanan kuat. Masing-masing adalah benteng kecil yang disembunyikan dan disamarkan, beberapa dilindungi oleh batang-batang kelapa yang saling menyilang yang ditutupi dengan lapisan tanah setinggi enam kaki, beberapa beratap baja, dan lainnya beton. Serangan Wootten dimulai pukul 7 pagi pada tanggal 18 Desember, dengan pihak Australia mempimpin operasi di belakang tujuh tank. “Keberanian mereka yang luar biasa ketika mereka berjalan maju ke dalam hujan tembakan dan menghancurkan satu demi satu titik pertahanan Jepang telah menimbulkan kekaguman diantara orang-orang Amerika,” tulis Jenderal Eichelberger setelah perang. “Itu adalah serangan yang spektakuler dan dramatis, dan sangar berani. Dari New Strip hingga ke laut sejauh satu mil. Pasukan Amerika bergerak ke barat untuk memberi dukungan, dan tentara Amerika lainnya ditugaskan untuk melakukan tugas pembersihan. Tapi di belakang tank terdapat para veteran Australia yang baru dan bersemangat … dengan senapan Tommy gun mereka yang berayun berayun di depan mereka. “Posisi Jepang yang tersembunyi, yang bahkan lebih hebat daripada yang patroli kami perkirakan, terbakar. Ada bau berminyak dari peluru pelacak, dan tembakan senapan mesin berat dari barikade dan kubu pertahanan. Tank dan prajurit infanteri terus maju melalui pohon-pohon kelapa yang jarang dan tinggi, yang tampaknya kebal terhadap serangan yang berat. ” Pada akhir hari pertama, orang-orang Australia telah membersihkan Jepang dari posisi mereka pada garis yang membentang dari laut menuju selatan ke ujung timur New Strip, meskipun telah kehilangan sekitar sepertiga dari kekuatan serangan mereka. Tapi Wootten mempertahankan momentum operasinya, dan setiap hari maju lebih lanjut meskipun pertahanan Jepang cukup dalam.

Serangan Australia di sebuah pillbox Jepang di Giropa Point, Januari 1943. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Pada 1 Januari 1943, tiga batalyon brigade telah mencapai Giropa Point. Mereka telah menderita 863 korban, 45 persen dari total kekuatan mereka. Dalam penghitungan akhir pertempuran untuk Buna, hampir seluruh Divisi Amerika ke-32 telah terlibat dalam pertempuran, dan total kerugian Sekutu mencapai sekitar 2.870 korban pertempuran. Dari jumlah tersebut, Australia menderita 913 korban. Kerugian Jepang yang diketahui adalah 900 tewas oleh Brigade ke-18 Australia di timur Giropa Point dan 490 di desa dan markas pemerintahan setempat. Berapa banyak lagi yang terbunuh tidak diketahui. Beberapa sejarawan Amerika dan Inggris mengklaim Buna sebagai kemenangan bagi pasukan A.S., tetapi pujian atas kemenangan setidaknya harus dibagi dengan pasukan Australia. Ragu bahwa orang Amerika akan bisa mendapatkan hasil yang cepat dan menentukan dengan kekuatan mereka sendiri, intervensi pasukan Woottenlah yang mematahkan tulang punggung pertahanan Jepang di pantai. 

MENYERANG SANANANDA TRACK

Setelah sisi kiri dan kanan dari Sekutu yang bergerak maju ke pantai sekarang aman, kini perhatian terkonsentrasi pada Sanananda, di mana Jepang telah menetapkan posisi pertahanan utama mereka menguasai Jalur Sanananda di medan yang merupakan campuran rawa berat, rumput kunai, dan semak tebal. Dari pertengahan November hingga pertengahan Desember 1942, pasukan Jepang yang terdiri dari sekitar 6.000 tentara dengan keras kepala menahan serangan Brigade Australia ke-16, brigade ini telah pada tahap terakhir ketahanan fisik setelah perjuangan panjang mereka melintasi sulitnya medan di Pegunungan Owen Stanley. Ketika mereka ditarik keluar dari barisan pada bulan Desember, kekuatan tempur brigade telah berkurang menjadi hanya sekitar 50 perwira dan 488 personel lainnya. Pasukan Resimen Infantri ke-126 AS yang menggantikan mereka masih segar dan penuh percaya diri. Mereka memberi tahu orang-orang Australia, “Kamu bisa pulang sekarang. Kami di sini untuk membereskan semuanya. ” Tetapi semangat percaya diri ini segera dipatahkan oleh rawa-rawa malaria dan perlawanan Jepang yang keras. Mereka akhirnya digantikan oleh dua batalion milisi Australia dari Brigade ke-30, tetapi serangan berat batalion itu hanya mencapai keberhasilan yang terbatas, dan Mayjen George Vasey dengan enggan memutuskan dia akan menunggu sampai perlawanan di Buna dieliminasi sebelum menyelesaikan pertempuran di Sanananda. 

Front Sanananda 15-22 Januari 1943. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Ketika perlawanan di Buna dieliminasi, diputuskan bahwa pasukan Australia akan menyerang Sanananda secara frontal dari sepanjang Jalur Sanananda, sementara Amerika bergerak ke Sanananda di sepanjang pantai dari Buna. Brigade ke-18 Brigadir Wootten akan menjadi ujung tombak serangan itu. Wootten menyerang pada pagi hari tanggal 12 Januari, dengan mengirim dua batalion dalam gerakan mengapit melawan pertahanan Jepang. Hal ini menghasilkan pertempuran panjang sepanjang hari dalam panas yang menyengat dan tanah rawa yang kotor. Menjelang malam tampaknya serangan itu akan gagal, tetapi pagi berikutnya seorang tentara Jepang ditangkap. Dia mengungkapkan bahwa semua pasukan Jepang yang masih fit telah diperintahkan untuk mundur, dan hanya menyisakan orang sakit dan terluka untuk mempertahankan titik pertahanan mereka. Wootten segera menyerang. Menjelang malam pada tanggal 14 Januari, Brigade ke-18 telah merebut persimpangan jalan yang telah menunda kemajuan pasukan sekutu begitu lama, dan pasukan Australia dan Amerika terus menyerang posisi pertahanan yang tersisa sampai semua perlawanan terorganisir Jepang berhenti pada 22 Januari. 

KEKALAHAN PERTAMA JEPANG DI DARAT DALAM PERANG PASIFIK

Pertahanan di Sanananda adalah pertunjukan lain dari kegigihan tentara Jepang yang luar biasa. Mereka kehilangan sekitar 1.600 orang terbunuh dan 1.200 lainnya terluka dalam mempertahankan rawa-rawa di sekitar Sanananda, menahan pasukan Sekutu selama dua bulan, dan menimbulkan korban besar pada orang-orang Australia – 600 orang terbunuh dan 800 orang terluka – dan orang Amerika – 274 orang terbunuh dan sekitar 400 orang luka-luka. Korban sakit di kedua pasukan lebih besar dari angka-angka ini. Berakhirnya operasi Sanananda menyebabkan kekalahan besar pertama pasukan darat Jepang selama Perang Dunia II. Sekitar 20.000 tentara mereka beraksi dalam operasi di Kokoda, Milne Bay, dan Buna-Gona, dan diketahui bahwa lebih dari 13.000 dari mereka tewas dalam berbagai cara. Sekitar 2.000 diungsikan melalui laut, dan beberapa melarikan diri dari daerah pertempuran untuk bergabung dengan kawan mereka di tempat lain. Namun, sebagian besar orang Jepang yang tersisa meninggal karena luka, penyakit, dan kelaparan, dengan meninggalkan tulang-tulang mereka di gunung, rawa, dan hutan Papua. Orang-orang Australia, yang telah menanggung bagian terbesar dari pertempuran, menderita 5.689 korban pertempuran antara 22 Juli 1942, dan 22 Januari 1943, dan Amerika, selama keterlibatan mereka di sektor Buna dan Sanananda, kehilangan 2.931. 

Tentara Jepang terbunuh pada fase terakhir pertempuran di Buna, Januari 1943. Sejumlah besar mayat Jepang dan sekutu di pantai membuat Sekutu menjulukinya sebagai “Maggot Beach”. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)
Tiga GI Amerika terbaring mati di Pantai Buna. Foto ini diambil oleh George Strock pada 31 Desember 1942. Life akhirnya dapat menerbitkannya pada 20 September 1943 setelah Presiden Roosevelt mengizinkan untuk dirilis. Ini adalah foto pertama yang diterbitkan di Amerika Serikat selama Perang Dunia II yang menunjukkan tentara Amerika tewas di medan perang. Roosevelt khawatir bahwa publik Amerika semakin tidak puas dengan banyaknya korban perang. (Sumber: http://www.apimages.com/)

Selama pertempuran di Papua, Angkatan Darat Australia mengembangkan teknik kepemimpinan taktis yang sangat berguna dalam pertempuran lanjutan di Papua dan kemudian oleh Inggris di Burma. Tentara Australia menjadi ahli dalam peperangan hutan – setidaknya setara atau bahkan lebih baik daripada tentara Jepang yang telah membangun reputasi mereka nyaris layaknya manusia super. Sementara itu apakah pertempuran biadab dan korban yang sangat banyak diderita pada tahap akhir kampanye, terutama di Buna, Gona, dan Sanananda, secara strategis dapat dibenarkan, masih mungkin untuk dipertanyakan. Ada pendapat yang menyatakan bahwa garnisun Jepang sebenarnya dapat diisolasi dan dibiarkan hancur dengan sendirinya atau dikepung oleh kekuatan-kekuatan yang superior — sebuah strategi yang lalu diadopsi MacArthur kemudian dalam kampanye di Papua. Dalam bukunya, “Our Jungle Road to Tokyo”, yang ditulis pada tahun 1950, komandan Amerika, Jenderal Eichelberger menulis, “Buna … dibeli dengan harga yang mahal dalam kematian, luka, penyakit, keputusasaan, dan penderitaan manusia. Tidak ada satupun yang bertempur di sana, betapapun kerasnya ia mencoba, akan pernah bisa melupakannya. ” Dari sisi korban, ia menyimpulkan, “mendekati, persentase, kerugian terberat (Amerika) dalam pertempuran Perang Saudara.” Dia juga berkomentar, “Saya seorang pria yang cukup tidak imajinatif, tetapi Buna masih menghantui saya, dalam retrospeksi dan mimpi buruk. Selama ini, saya masih bisa mengingatnya setiap hari dan pada sebagian besar malam.” Bagi Sekutu, terdapat sejumlah pelajaran berharga tetapi mahal dalam melakukan peperangan hutan di. Sementara itu Kerugian sekutu dalam pertempuran di Buna-Gona mencapai tingkat yang lebih tinggi dari yang dialami di Guadalkanal. Untuk pertama kalinya, publik Amerika dihadapkan dengan gambar tentara Amerika yang gugur dalam pertempuran di Buna-Gona. Bagaimanapun, kemenangan di Papua telah memberi dorongan moral bagi Sekutu. Aksi mereka ini juga menghancurkan setiap kesempatan Jepang untuk menyerang Australia, meskipun komando tinggi Jepang telah sampai pada kesimpulan bahwa invasi, perebutan, dan pengepungan negara yang sedemikian besar jauh di luar kemampuan sumber daya mereka. Dan, yang penting lagi, seperti yang disebutkan oleh Field Marshal Slim, orang-orang Australia “mematahkan mitos kehebatan tentara Jepang.”

Kokoda senantiasa akan diingat oleh orang-orang Australia selayaknya Pertempuran Galipolli. Berbagai monumen dan diorama dibuat untuk menggambarkan pengorbanan tentara Australia dan beratnya medan pertempuran di Papua. Diorama jalur Kokoda ini ditampilkan dalam Museum Angkatan Darat di Fremantle, Australia Barat. (Sumber: Dokumentasi Pribadi)
Diagram kontur geografis Jalur Kokoda di Museum AD Australia, Fremantle. (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

Holding New Guinea: A First Defeat For Japan’s Land Forces by John Brown

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Battle_of_Milne_Bay

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Kokoda_Track_campaign

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Battle_of_Buna%E2%80%93Gona

https://en.m.wikipedia.org/wiki/New_Guinea_campaign

Battle for Australia Association: The Battle of Kokoda I

https://www.battleforaustralia.asn.au/BAKokodaI.php

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *