Pertempuran Mortain (7-13 Agustus 1944): Aksi Pasukan Amerika Menghadang Pasukan Jerman di Normandia Yang Jauh Lebih Besar

Untuk kali ini, pesan ULTRA datang terlambat. Biasanya, mesin decoding dan kriptografer Inggris yang bekerja keras di Bletchley Park memiliki banyak pesan dari Angkatan Darat Jerman yang masuk lewat mereka, tetapi pada hari-hari pertama di bulan Agustus 1944, divisi panzer Jerman berangkat bertempur dengan mode radio silent (mematikan perangkat radio mereka), yang meski menunjukkan bahwa mereka akan pergi ke menyerang, tapi tidak menjelaskan ke arah mana serangan itu dilakukan. Kemudian Jerman bebas menjalankan rencananya. Pada tanggal 6 Agustus, Divisi Panzer ke-2 tiba-tiba memecah keheningan radio dan meminta dukungan pesawat-pesawat tempur malam untuk mendukung penyerangan malam itu di suatu daerah yang terbentang dari St. Clement ke St. Hilaire dan kemudian mereka meminta lebih banyak lagi pesawat tempur di kemudian hari. Sebuah pesan lanjutan mengatakan bahwa Divisi Panzer SS ke-2 “Das Reich” akan bergerak ke barat pada pukul 8:30 malam menuju Mortain dan akan membutuhkan pesawat-pesawat pembom Luftwaffe untuk menekan posisi artileri Amerika yang ada didepan mereka. Segera setelah pesan itu diterjemahkan, mereka yang ada di Bletchley mengirimkan peringatan tersebut kepada Letnan Jenderal Omar N. Bradley, komandan Grup Angkatan Darat ke-12 AS, yang akan menghadapi serangan ini di Prancis. Hasil dari pesan itu ada dua. Pada pukul 4 pagi tanggal 7 Agustus, Bradley dan komandan seniornya telah memiliki gambaran lengkap tentang serangan balik Jerman di Normandia, dengan nama sandi “Operasi Lüttich”. Yang kedua, gambaran lengkap itu toh tidak penting-penting sekali. Orang-orang Amerika yang bertahan sudah pernah merasakan aksi serangan pasukan Adolf Hitler, dan Operasi ini kemudian jadi satu-satunya yang akan dia luncurkan di Normandia. Operasi ini sedari awal sudah menjadi operasi yang salah arah, yang pasti akan membawa malapetaka bagi Jerman.

Serangan Jerman di Mortain, 7 Agustus 1944. Sedari awal serangan ini sudah mendapat penentangan dari Jenderal-jenderal Jerman, yang skeptis dengan potensi keberhasilan operasi militer ini. (Sumber: https://www.ddayhistorian.com/)

LATAR BELAKANG 

Operasi Lüttich lahir ditengah kekacauan militer yang diakibatkan oleh peristiwa-peristiwa berikut ini: kekalahan Jerman dalam Operasi Cobra yang dilancarkan Amerika, dan gerak mundur dari pantai Normandia pada bulan Juli, serta kekacauan politik dari upaya orang-orang Jerman yang gagal membunuh Hitler pada bulan yang sama. Hitler, yang menderita luka fisik yang serius dan trauma mental akibat bom yang meledak di dekat kakinya, saat itu juga tengah menghadapi bencana baik di medan perang maupun di bidang diplomatik. Pasukan Soviet sedang menuju Polandia dan Balkan. Sementara negara-negara boneka Jerman sedang mencari jalan keluar dari perang. Semangat didalam negeri Jerman juga tenggelam di bawah pemboman hebat dan korban yang terus bertambah. Pukulan terakhir mulai berdatangan dengan hadirnya invasi Sekutu di Normandia pada tanggal 6 Juni. Pasukan Inggris dan Kanada kemudian mengalahkan pasukan panzer Jerman dalam pertempuran atrisi di dekat Caen di timur, sementara pasukan mekanis Amerika di bawah Letnan Jenderal George S. Patton yang gigih membuka “lubang” menembus garis pertahanan Jerman di Coutances di sebelah barat dan menyerbu jalan-jalan pedalaman Prancis, bergerak ke barat ke Brittany dan timur menuju Argentan untuk mengepung Tentara Ketujuh Jerman. Jika Patton dari selatan dan Inggris dari utara bisa mengepung habis Tentara Ketujuh, maka pertahanan Jerman di Prancis akan runtuh, dan beberapa divisi panser yang paling tangguh — hampir tidak mungkin diganti pada saat ini — akan hilang.

Setelah mendobrak kebuntuan lewat Operasi Cobra, pasukan sekutu segera menyebar ke segala penjuru untuk menekan dan mengepung posisi pasukan Jerman yang terdesak. (Sumber: https://history.army.mil/)

Untuk mencegah hal ini, Hitler memerintahkan dilancarkan aksi favoritnya terhadap serangan musuh, yakni: serangan balik panzer besar-besaran untuk menghentikan gerakan Amerika dengan memotong jalur suplai, yang membuat pasukan Patton rentan terhadap ancaman isolasi dan kehancuran. Rencana Hitler ini sungguh berani, dengan meminta Angkatan Darat Ketujuh, di bawah pimpinan Letnan Jenderal SS, Paul Hausser, untuk meluncurkan empat divisi panzer, dua di antaranya adalah unit elit SS, dan divisi panzergrenadier SS bergerak menembus pada bagian tengah garis tipis pertahanan Amerika dan berkendara di jalanan kota persimpangan Avranches tempat wilayah Normandia bertemu dengan Brittany, memotong semua jalan, dan “mencekik” jalur perbekalan pasukan Amerika. Rencana operasi tersebut dinamai “Lüttich” untuk menghormati nama Jerman untuk kota Liege di Belgia, yang telah direbut pasukan Kaisar Wilhelm II 30 tahun sebelumnya yang hampir pada hari itu juga, untuk menyiapkan serangan yang mendesak pasukan Prancis kembali ke Paris. Satu-satunya masalah dalam rencana besar Hitler ini justru datang dari para jenderal yang dia tugaskan untuk melaksanakan misi ini. Para perwira Jerman yang mencoba membunuh Hitler dan mengakhiri perang dengan cepat tidak hanya gagal mencapai target mereka, tetapi juga memancing pembalasan kejam dari Gestapo. Lebih dari 5.000 perwira Jerman, beberapa diantaranya setinggi pangkat field marshal, ditangkap dan dijadikan sasaran pengadilan pertunjukan yang memalukan dan penyiksaan yang mengerikan. Di antara mereka yang berada di bawah pengawasan Gestapo adalah komandan Jerman tertinggi di wilayah Barat, yakni Field Marshall Gunther von Kluge, yang dikenal di pihak Angkatan Darat sebagai “Hans yang Cerdas”, sebuah plesetan atas namanya yang berarti “pintar” dan dalam bahasa Jerman disebut “kluge.” Dia dicurigai menjanjikan kepada para komplotan anti Hitler untuk memanfaatkan pangkat dan posisinya yang tinggi guna menjadi utusan perdamaian bagi Inggris dan Amerika. 

Field Marshall Günther von Kluge. Sebelum Operasi Luttich dilancarkan, Kluge sudah dicurigai sebagai salah satu anggota komplotan yang ingin membunuh Hitler. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)
Jenderal SS, Paul Hausser, komandan Angkatan Darat ke-7 Jerman di Normandia. (Sumber: https://simple.wikipedia.org/)

Meskipun demikian, Kluge adalah orang yang memiliki tanggung jawab dan ada di tempat itu, sehingga seharusnya dia yang harus memimpin penyerangan. Masalahnya, Kluge tidak punya banyak hal untuk bisa melaksanakan pekerjaannya. Tentara Ketujuh khususnya telah mengalami bencana. Kebanyakan alat transport Jerman terdiri dari kuda, sepeda, dan bahkan harus berjalan kaki. Sebagian besar divisi panzer Jerman telah dihancurkan oleh serangan tak henti-hentinya dari pesawat pembom tempur dan tank Sekutu, dimana mereka kehilangan 750 dari 1.400 tank yang dikirimkan untuk bertempur. Lagipula tank-tank yang dibutuhkan untuk operasi ini harus diambil dari unit-unit yang sudah menggunakannya di garis depan masing-masing dan dengan tekanan Sekutu yang konstan di sepanjang front Jerman, hal ini hanya akan semakin melemahkan front Jerman di mana-mana dan menyebabkan lebih banyak lubang di garis depan mereka. Meskipun demikian, Hitler menolak untuk mengubah perintahnya dan pasukan tank yang diperlukan ditarik dari front Anglo / Kanada dan dikirim ke barat menuju Mortain. Seperti yang telah diramalkan oleh para Jenderal Hitler, penarikan satuan lapis baja Jerman dari sisi timur Normandia di garis depan ini segera mempercepat dimulainya ofensif pasukan Kanada ke selatan untuk bergabung dengan dengan pasukan Amerika. Terhubungnya kedua pasukan ini akhirnya akan menutup celah antara dua Tentara Sekutu dan menghasilkan daerah yang dikenal dengan Kantong Falaise, dimana banyak Tentara Jerman yang terjebak di sana. Sementara itu pengeboman terus menerus pihak sekutu  juga telah merusak jalur perbekalan dan moral Tentara Jerman. Jalur suplai yang lemah berarti hanya ada sedikit tenaga personel pengganti, dan akibatnya juru masak, tukang roti, dan petugas administrasi lainnya harus ditempatkan di depan sebagai pasukan infanteri. Mereka-mereka ini terbukti gagal total dalam menjalankan tugasnya. Sementara itu Pilot-pilot Luftwaffe yang terbang ke langit mendapati diri mereka diserang oleh sejumlah besar pesawat tempur Supermarine Spitfire Inggris dan North American P-51 Mustang asal Amerika. Disamping itu ketegangan antara prajurit garis keras Nazi (yang dilengkapi dengan lebih baik) Waffen SS dan Wehrmacht tetap intens, meskipun keduanya mengalami mimpi buruk pertempuran yang sama. Bagaimanapun, pada tanggal 31 Juli, Hitler memerintahkan Wakil Kepala Staf Jenderal Walter Warlimont untuk pergi sendiri ke markas Kluge di istana Duke de la Rouchefoucauld di La Roche-Guyon di Prancis dan memberi tahu Kluge tentang rencana tersebut.

Mayor Jenderal Clarence Huebner, komandan Divisi Infanteri ke-1 yang pertama kali merebut wilayah Mortain. (Sumber: https://www.geni.com/)

Bertindak sebagai mata dan telinga pribadi Hitler di markas Kluge, Warlimont tiba pada tanggal 2 Agustus untuk mengetahui bahwa situasinya sedang berantakan. Kluge telah merencanakan serangan baliknya sendiri, tetapi gagal karena kemajuan Patton ke arah timur, selatan dari Mortain. Divisi Infanteri ke-79 Amerika sedang menuju Laval, sedangkan Divisi Infanteri ke-90 melaju di Mayenne. Di sebelah timur dari area serangan yang direncanakan kearah Mortain, sementara Letnan Jenderal Courtney Hodges maju bersama Angkatan Darat Pertama AS, dan komandan Korps VII Letnan Jenderal J. Lawton Collins telah memerintahkan Divisi Infanteri ke-1 pimpinan Mayor Jenderal Clarence Huebner untuk merebut kota dan posisi dominan di atasnya yang disebut sebagai Bukit 314. Bukit itu biasanya menjadi daya tarik wisata bagi para pendaki, yang menikmati celah yang mengarah ke pemandangan sejauh 18 mil ke segala arah, hingga Avranches di barat. Diingatkan untuk bisa merebut tempat yang tinggi, Huebner dengan singkat berkata, “Joe, saya sudah mendapatkannya.” Dengan itu, Collins memutuskan untuk menggantikan Divisi Infanteri ke-1, unit veteran di medan tempur Afrika Utara, Sisilia, dan D-Day, dengan Divisi Infanteri ke-30, yang akan ganti menguasai daerah tersebut sementara “Big Red One” menuju ke Mayenne. Divisi Infanteri ke-30 “Old Hickory” adalah sebuah unit Garda Nasional, yang pasukannya berasal dari North Carolina, South Carolina, dan Tennessee. Dipimpin oleh Mayor Jenderal Leland Hobbs, tiga resimen dari divisi ini adalah penerus dari batalyon pasukan Konfederasi yang bertempur di Gettysburg dan Cold Harbor selama Perang Saudara Amerika, 80 tahun sebelumnya. Lebih penting lagi, Divisi ke-30 telah mengalami pertempuran sengit dalam Operasi Cobra, bahkan dibom secara tidak sengaja oleh Angkatan Udara Kedelapan AS. 

Batalion Tank Destroyer ke-823 dari Divisi Infanteri ke-30 di dekat Mortain, Prancis. Divisi ke-30, ditugaskan untuk menggantikan Divisi ke-1 jelang serangan Jerman ke Mortain. (Sumber: https://www.fayobserver.com/)

Sekarang, setelah menonton pertunjukan USO bersama aktor Edward G. Robinson, pasukan asal Tennessee dan Carolina itu mulai menggantikan “Big Red One” di posisinya di timur dan utara Mortain, sebuah kota kecil dengan 1.300 penduduk yang tujuan utamanya disitu adalah tinggal di dekat pusat jaringan jalan raya. Resimen Infantri ke-117 dari divisi tersebut mengambil alih pertahanan di desa St. Barthélémy, sebuah kota kecil di utara Mortain, sedang Resimen ke-120 mengambil alih Bukit 314 dan puncak lainnya di dekatnya, sementara Resimen ke-119 dijadikan sebagai unit cadangan. Komandan dari Resimen ke-120, Kolonel Hammond Birks, berkata kepada ajudannya, “Kota ini ‘terbuka lebar’. Hotel-hotelnya penuh. Tempat ini seharusnya bisa menjadi tempat yang sangat baik untuk istirahat dan relaksasi “. Tetapi seorang perwira dari Divisi infanteri ke-1 memperingatkan Birks, “Bukit 314 adalah kunci ke seluruh wilayah. Dalam keadaan darurat, bukit ini harus dipertahankan dengan segala cara. ” Birks lalu menyerahkan tugas itu ke Batalyon ke-2 di bawah pimpinan Letkol Eads Hardaway, sambil memberi tahu Hardaway, “Jika ada masalah yang berkembang, itu akan datang dari arah itu. Tempatkan penghalang jalan pada setiap jalur masuk ke posisi Batalyon ke-2. ” Orang-orang Amerika itu melakukannya tetapi mereka segera menemukan masalah lain. Posisi yang sebelumnya digunakan oleh Divisi Infanteri ke-1 tidak dipersiapkan dengan baik. Beberapa lubang perlindungannya hanya sedalam 18 inci. Jaringan telepon harus dipasang kembali, dan tidak ada waktu untuk menyebarkan ladang ranjau. Di pihak Jerman, Von Kluge, bersama dengan Jenderal Paul Hausser, komandan Angkatan Darat ke-7, kemudian menyusun rincian operasi penyerangan yang diminta Hitler. Hitler menuntut agar delapan divisi lapis baja dilibatkan dalam serangan itu, tetapi von Kluge hanya berhasil menyatukan empat divisi (total hanya ada 300 tank), yaitu: SS Panzerdivisionen ke-2 dan ke-116 serta divisi Panzer ke-1 dan ke-2. Tank-tank ini didukung oleh unit-unit infanteri (dua divisi dan lima brigade gabungan) dan artileri. Luftwaffe sendiri berdasar perintah Hitler diminta untuk mengerahkan hampir 1.000 pesawat tempur guna mendukung serangan.

JERMAN MENYERANG

Sementara itu, pasukan infanteri dan tank Jerman berkumpul di garis keberangkatan mereka, dimana mereka melakukannya pada malam hari untuk menghindari serangan pesawat pembom tempur Sekutu. Meski begitu, ada yang salah. Komandan Korps Panzer XLVII Jenderal Hans von Funck tidak menyukai komandan SS-nya, Hausser, dan keduanya tidak bekerja sama dengan baik. Funck juga tidak cocok dengan komandan Divisi Panzer ke-116, Letnan Jenderal Gerhard Graf von Schwerin. Divisi Panzer ke-2 dan Divisi Panzer SS ke-1 dan ke-2 hanya menerjunkan 75 tank Mark IV, 70 tank Mark V Panther, dan 32 senjata self-propelled, jika digabungkan. Divisi Panzer ke-2 kemudian ditempatkan di kanan, sementara Divisi Panzer SS ke-2 dan Panzergrenadier SS ke-17 di sebelah kiri, serta Divisi Panzer SS ke-1 di tengah. Divisi Panzer ke-116, yang ada di ujung kanan, lalu akan bergabung dalam serangan secepat mungkin. Perpindahan Divisi Panzer SS ke-1 sempat tertunda ketika pesawat pembom tempur Hawker Typhoon Inggris menghantam tank terdepan di jalur yang sempit, dan menahan gerak laju seluruh pasukan. Hal ini menyebabkan divisi membutuhkan waktu sepanjang pagi pada tanggal 6 untuk menyelesaikan gerakannya. Meskipun demikian, pada pukul 2 pagi tanggal 7 Agustus, Operasi Lüttich berlanjut dalam kegelapan dan kabut dini hari dengan serangan panzer Jerman menyerang dengan gaya blitzkrieg terbaiknya untuk melawan Divisi Infanteri ke-30 Amerika. Ketika pertempuran dimulai pada tanggal 7 Agustus 1944, sekitar 12.000 tentara Amerika dari Divisi Infanteri ke-30 akan berhadapan dengan beberapa divisi elit Panzer Nazi, dengan lebih dari 300 tank dan diperkirakan 80.000 tentara. “Tidak ada pasukan Jerman yang menyerang dalam ukuran seperti itu di tempat lain melawan satu divisi Amerika,” kata sejarawan Robert Baumer, yang telah menulis buku tentang aksi unit tersebut dalam Perang Dunia II.

Tank Panther Jerman. Untuk mendukung Operasi Luttich, Hitler mengumpulkan sejumlah tank di sepanjang garis depan Jerman, yang pada akhirnya malah turut melemahkan pertahanan Jerman di Normandia. (Sumber: https://www.thoughtco.com/)

Sementara itu, untuk menjaga kejutan, Jerman tidak memulai serangan dengan rentetan tembakan artileri. Jerman berencana untuk mengepung Mortain dan memotongnya, menjebak Resimen Infanteri ke-120 Amerika dari belakang. Dengan menggunakan taktik infiltrasi di beberapa tempat dan keganasan serangan pasukan SS di tempat lain. Sebuah grup tempur dari satuan SS, Kampfgruppe Fick, menyerang Hill 314 secara langsung, meneriakkan “Heil Hitler” saat mereka menyerang di bawah perlindungan tembakan senapan mesin pendukung. Kompi G dari Resimen ke-120 Amerika lalu membalas dengan tembakan yang ganas, menahan mereka, tetapi pasukan Jerman menyerbu markas Kompi H. Lebih banyak lagi pasukan Jerman yang menyerang Batalyon ke-2 Resimen ke-120, memaksa Birks untuk mengerahkan pasukan cadangannya, Kompi C, untuk membantu mempertahankan Mortain dan Hill 314. Kompi ke-2/120 dan satu dari kompi ke-3 / ke-120 pada akhirnya akan mempertahankan tempat itu. Sementara itu di Mortain, Hardaway membentuk tim markasnya untuk mempertahankan posisi markas di Hotel de la Poste. Bahkan dalak kondisi itu, operator radio harus meninggalkan perangkat komunikasi mereka dan mengambil senapan. Sersan Robert Bondurant, yang bertugas sebagai operator, memberi tahu Birks tentang krisis yang mereka alami. “Pertahankan kota dengan segala cara,” perintah Birks. ‘Tetap di pos Anda.” Bondurant pun melakukannya. Saat fajar berkabut mendekat, pasukan Jerman mulai menembaki Mortain. GI (sebutan tentara Amerika) di lubang-lubang perlindungan di pemakaman utara kota melihat ledakan meledak di depan mata mereka dan merobohkan batu-batu nisan. Kompi C lalu bergerak maju dan melawan pasukan SS dalam kegelapan.

Jenderal Gerhard Graf von Schwerin (kiri), yang memimpin Divisi ke-116 “Greyhound” Jerman selama Operasi Lüttich. Jenderal Hans von Funck (tengah), komandan Korps Panzer XLVII Jerman, tidak menyukai Schwerin dan menuduhnya melalaikan tugasnya. Letnan Amerika Robert Weiss (kanan) mempertaruhkan nyawanya untuk memberikan koordinat yang akurat untuk tembakan artileri selama Operasi Lüttich. (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/)

Gerakan Divisi Panzer SS ke-2 saat itu diarahkan oleh dua orang Prancis yang bersimpati kepada Hitler. Mereka menuju ke penghalang jalan yang dipertahankan oleh satuan kompi A / 120, di mana tiga GI menghadapi orang-orang Prancis itu. Para pengkhianat itu menjelaskan bahwa mereka sedang memandu kendaraan yang “hilang” kembali ke jalur Amerika. Selama perdebatan, kru senapan mesin Jerman masuk ke lapangan di belakang pagar. Sesampai di sana, mereka melepaskan tembakan, yang menewaskan orang-orang Amerika itu. Sebagai balasan orang Amerika sisanya membunuh para pengkhianat Prancis itu, tetapi kerusakan telah terjadi — penembak senapan mesin Jerman telah membuka penghalang jalan, dan tank-tank itu menyerbu, menerobos posisi Kompi A dan menuju ke Kompi B. Tim komando dari kompi B / 120 melihat pasukan Jerman datang, dan Sersan Satu Reginald Maybe menyerahkan sebuah bazooka kepada komandan kompinya, Letnan Murray Pulver, yang segera berjongkok di balik dinding batu dan menembak tank Mark IV Jerman dari jarak 10 yard. Peluru Bazooka itu menghantam turret tank, mengguncangnya hingga berhenti. Mesinnya terus berjalan, tetapi ledakan itu membunuh atau melukai semua orang di dalam tank. Pasukan SS tidak menyerah. Selusin tentara SS menyerang sambil berteriak, “Amerikaner Kamerad,” sambil meminta mereka untuk menyerah. Pulver lalu menembakkan senapan karabinnya ke arah para penyerang, dan anak buahnya melakukan hal yang sama, menjatuhkan sebagian besar tentara Jerman itu ke tanah. Orang-orang Amerika tidak menderita korban, tetapi Pulver mengira dia tidak bisa menahan lebih lama lagi dan memilih mundur. Bagaimanapun, dia dan rekan-rekannya telah mendapatkan beberapa waktu bagi pasukan kompi B / 120 untuk membentuk garis pertahanan baru. 

Dalam menyerang posisi Amerika di Mortain, pasukan Jerman turut mengerahkan senjata peluncur roket multilaras Nebelwerfer. (Sumber: https://www.pinterest.dk/)

Melalui kabut, serangan Jerman terus berlanjut, sekarang dengan didukung oleh artileri, termasuk roket Nebelwerfer mereka, yang dikenal oleh orang Amerika sebagai “Screaming Meemies” karena suaranya yang menakutkan. Tank dan pasukan infanteri Jerman melaju langsung ke arah Mortain. Sekelompok prajurit SS menyerang baterai Artileri Lapangan ke-197 dan pergi menggunakan jip dengan radio, peta, dan mesin pengkodean. Sebuah panzer menembak truk dan meledakkan amunisi yang dibawanya sebelum mundur, krunya takut dengan adanya tim bazoka Amerika yang mungkin memanfaatkan kabut untuk menembak ke sisi tank Jerman itu. Secara bertahap, Pasukan Jerman mulai menguasai Mortain lewat pertempuran sengit, membersihkan gedung-gedung dari orang-orang Amerika yang terpencar dari unitnya. Sementara itu di markas besarnya, komandan batalyon ke-2 / 120, Kolonel Hardaway, memperingatkan Birks bahwa dia harus menghentikan sementara operasinya. Orang-orang SS ternyata sedang memeriksa kendaraan Amerika yang hancur di luar gedungnya. Orang-orang SS menarik tentara Amerika yang terluka keluar dari gedung-gedung yang rusak dan menyuruh para tahanan duduk di tengah jalan — para GI khawatir orang-orang SS ini akan membantai mereka seperti yang telah mereka lakukan terhadap ratusan warga sipil Prancis di Oradour-sur-Glane. Sersan Robert Bondurant, yang menjaga panel teleponnya hingga terakhir, mengenang, “Saya pikir mereka akan menembak kita. Sebaliknya, mereka mengantar kami kembali ke pusat bantuan. Yang terluka tergeletak disana ada di mana-mana, baik orang Jerman maupun Amerika. ”

SERANGAN KE ARAH MORTAIN

Sementara itu, sebagian besar dari Batalion ke-2 / 120th masih bertahan di Hill 214, belum menyadari bahwa mereka sedang dikepung. Mereka sedang menghadapi serangan seorang tentara SS  pemberani yang bersenjatakan penyembur api. Seorang Amerika membunuh prajurit bersenjata penyembur api itu, tetapi orang Amerika tidak dapat membungkam tembakan artileri musuh yang datang. Lebih buruk lagi, tentara Amerika mulai kekurangan perbekalan dan amunisi, serta artileri pendukung tidak dapat menemukan target di balik kabut. Salah satu orang Amerika terakhir yang mencapai puncak bukit itu adalah Kapten Delmont Bym, memimpin Kompi H, sebuah kompi senjata berat. Bym terpana melihat orang-orang terluka tergeletak di mana-mana. “Itu adalah minggu pertamaku bertempur,” katanya kemudian. “Saya agak terkejut melihat orang-orang terluka terbaring di tempat terbuka, terkena pecahan peluru.” Dengan kepergian Hardaway dan tim komandonya, kepemimpinan pasukan Batalion ke-2/120 jatuh pada Kapten Reynold Erichson, yang memimpin Kompi F. Dia bergerak cepat, mengumpulkan sekitar 40 orang yang tersesat dan menarik semua personel kompi ke posisi pertahanan yang ada di sekeliling puncak, sepenuhnya menyadari bahwa 600 orangnya sedang menghadapi salah satu divisi panzer SS paling top Jerman, yang berjumlah setidaknya 9.000 orang. Erichson adalah petani Iowa di masa damai, yang berusia 24 tahun, dan tiga dari empat komandan kompinya tidak pernah memimpin kompi dalam pertempuran. Namun, Erichson memiliki satu kartu truf: dua perwira pengamat artileri garis depan (FOOs), sebagai mata dari unit senjata berat Divisi ke-30. Dari pos pengamatan puncak bukit mereka, Letnan Robert Weiss dan Letnan Charles Bartz memiliki posisi pengamatan terbaik ke seluruh pedesaan saat kabut menghilang dan perangkat radio bertenaga baterai untuk memanggil tembakan artileri dari Batalyon Artileri Medan ke-230. 

Untuk melawan tank-tank Jerman di Mortain, pasukan Amerika mengandalkan senjata Bazooka. (Sumber: https://id.pinterest.com/)

Di barat laut Mortain, pasukan Batalion ke-1/117, di bawah Letnan Kolonel Robert Frankland, menghadapi tank-tank dari Divisi Panzer ke-2. Perimbangan kekuatan jelas berat sebelah melawan pasukan Resimen ke-117. Sebuah Kompi, misalnya, memiliki seorang letnan baru yang memimpinnya, dan Peleton ketiganya malah tidak memiliki perwira. Kompi itu tidak memiliki bazoka dan dukungan artileri tetapi memiliki 55 personel pengganti yang baru tiba. Tank-tank Panther Divisi Panzer ke-2 menghantam pasukan resimen ke-117 dari tiga arah di St. Barthélémy, menghantam senjata antitank dan penghancur tank milik unit Tank Destroyer ke-823. Letnan George Greene, yang baru di batalion, memimpin orang-orang itu, meledakkan tank-tank Jerman yang ada di tempat terbuka dan menembakkan seluruh klip amunisi senapan mesinnya untuk memberi anak buahnya kesempatan untuk melarikan diri dari musuh. Setelah pertempuran sengit, dua tank Jerman melaju hingga dalam jarak 250 yard dari pos komando Birks. Pasukan resimen ke-117 berjuang keras — senjata dan bazoka mereka menimbulkan korban diantara pasukan infanteri dan tank Jerman — tetapi keunggulan Jerman dalam pasukan terlatih dan tank berat segera menunjukkan hasilnya. Sebuah Kompi dihancurkan dalam hitungan menit dengan hanya satu perwira dan 27 orang yang berhasil lolos dari kematian atau penangkapan. Pada tengah hari, tentara Jerman menyerang lagi, beberapa dengan mengenakan jaket GI yang dirampas untuk membingungkan pihak yang bertahan, dan akhirnya mengusir tentara Amerika dari posisinya, tetapi orang-orang Jerman telah kehilangan enam jam berharga karena aksi prajurit dari Resimen ke-117. 

SERANGAN BADAI TOPAN

Di seluruh medan pertempuran Mortain, ceritanya sama: serangan Jerman yang berlangsung keras, dengan bantuan artileri berat dan tembakan dari tank, menghadapi pertahanan Amerika yang teguh yang memperlambat gerak maju, pasukan Jerman di bawah kabut tebal, sebagian besar dari Sungai Sée. Tapi pada jam 11 pagi, elemen baru memasuki pertempuran saat kabut akhirnya menghilang, dan menyebabkan seluruh front Normandia ada di bawah langit yang cerah. Keras tapi cakap Letnan Jenderal Heinrich von Luttwittz, yang memimpin Divisi Panzer ke-2, memerintahkan pasukan pendukungnya untuk mengambil perlindungan yang ada di sekitarnya. Sementara itu di Hill 314, Weiss dan Bartz saling menyeringai lebar, melihat “barisan demi barisan kendaraan lapis baja dan pasukan musuh mengalir (ke arah mereka) dari arah timur dan timur laut”. Pasangan itu kemudian mulai meminta tembakan artileri ke posisi-posisi Jerman. Segera mereka akan mendapatkan lebih banyak dari yang mereka minta. Jenderal Bradley melihat keseriusan dan besarnya serangan balik Jerman mengajukan permintaan kepada Letjen Elwood “Pete” Quesada, komandan dari Angkatan Udara Ke-9 AS, yang memiliki pesawat-pesawat serang Republic P-47 Thunderbolt dan pesawat tempur P-51 yang telah mengganggu gerakan pasukan Jerman selama berminggu-minggu sebelumnya. Quesada segera melihat peluang itu. Dalam sebuah contoh kerja sama antar Sekutu yang luar biasa, dia menghubungi Air Vice Marshal  Sir Harry Broadhurst, yang memimpin 10 skuadron pembom tempur Hawker Typhoon yang dapat menukik dengan kecepatan 500 mil per jam dan menembakkan roket seberat 60 pon yang bahkan bisa mengubah tank Tiger sekalipun menjadi tumpukan logam tak berharga. 

Pesawat-pesawat P-47 Thunderbolt menyerang kawanan tank Jerman. Di medan tempur Normandia, pasukan Amerika tidak pernah mengalami kesulitan dalam minta bantuan dukungan udara, saat langit cerah. Serangan-serangan semacam ini menjadi momok bagi pasukan lapis baja Jerman. (Sumber: https://wallpapersafari.com/)

Kedua kekuatan udara Sekutu menyusun rencana: RAF akan menembaki kendaraan di daerah Mortain sementara pesawat Amerika akan menerbangkan misi di belakang garis depan pasukan Jerman untuk menyerang pangkalan-pangkalan Luftwaffe dan mencegat setiap pesawat Jerman yang berani terbang menjelajah ke medan perang. Komandan Wing, Charles Green memberi pengarahan kepada pilot, dengan mengenakan baju berlengan, kacamata hitam, dan syal sutra mereka, sementara personel mekanik memeriksa pesawat-pesawat Typhoon dan memanaskan mesin-mesinnya. “Inilah saat yang kita semua tunggu-tunggu, Tuan-tuan,” katanya. “Kesempatan untuk mendapatkan banyak tank Panzer di tempat terbuka. Dan, ada banyak bajingan (dibawah). ” Green lalu menunjuk ke jalan antara Mortain-Saint Barthélémy di peta besarnya dan menyuruh pilotnya untuk berkonsentrasi pada tank-tank terdepan dan menghentikan barisan mereka jalan raya. Waktu terbang menuju target adalah sekitar 15 menit. Pesawat-pesawat Typhoon akan lepas landas dengan berpasangan, menyerang secara individu, kemudian pulang dan dipersenjatai kembali serta mengisi bahan bakar untuk melakukan serangan lainnya. Dengan ini akan ada siklus serangan pesawat-pesawat Typhoon yang terus menerus di medan tempur. Selain pengarahan ini para pilot juga diperingatkan untuk berhati-hati agar tidak terjadi tabrakan di udara. Dari kokpit mereka, pilot-pilot dari Skuadron ke-245 memandang ke bawah ke kota dan desa-desa yang hancur, kendaraan yang meledak terbakar, dan asap pertempuran dari arah Hill 314. Mereka tidak kesulitan melihat barisan-barisan pasukan Jerman. Mereka terentang di sepanjang jalan yang lurus. Pilot-pilot Skuadron ke-245 lalu menukik sejajar dengan barisan pasukan Jerman dari arah belakang pada ketinggian 4.000 kaki, membayangi, dan melintas ke bawah. Para penembak dari tank-tank Jerman membuka tembakan dengan peluru anti pesawat ringan dan pelacak, sebagai satu-satunya pertahanan mereka. Kemudian pilot-pilot dari Skuadron ke-245 menyapu tank-tank itu dengan tembakan kanon kaliber 20mm dan meluncurkan roket mereka, mengikuti prosedur pelatihan “menukik … membidik… melepaskan … dan pergi!” Tembakan mereka merobek tank-tank dan kendaraan berkulit tipis dengan diiringi ledakan, memaksa mereka berhenti dan kru mereka melarikan diri ke dalam parit, tidak bisa maju. 

Selain Thunderbolt Amerika, momok lain pasukan darat Jerman di Mortain adalah pesawat-pesawat serang Hawker Typhoon dari Inggris. (Sumber: https://id.pinterest.com/)

Dalam waktu satu jam, Skuadron ke-245 kembali ke darat untuk mengisi bahan bakar dan dipersenjatai kembali, lalu lepas landas lagi. Para pilot punya banyak cerita untuk diceritakan. Serangan roket mereka menghancurkan barisan tentara Jerman. Desmond Scott, pilot asal Selandia Baru melaporkan, “Saat saya melesat ke atas barisan tentara Jerman sepanjang satu mil ini, ratusan pasukan Jerman mulai membubarkan diri dari jalan untuk berlari ke lapangan terbuka dan pagar tanaman. Tidak ada jalan keluar. Pesawat-pesawat Typhoon sudah menyerang dalam serangan mematikan di ujung lain barisan dan dalam beberapa detik seluruh bentangan jalan meledak dan berkobar di bawah aliran tembakan roket dan kanon. Gerobak-gerobak pembawa amunisi meledak seperti gunung berapi warna-warni. Sebuah tank besar berlaras panjang yang diam di sebuah ladang di dekat jalan dihantam roket dan dijungkirbalikkan ke dalam selokan. Itu adalah pemandangan yang luar biasa, asap pesawat, roket yang terbakar, dan hujan peluru pelacak berwarna. ” Serangan tersebut menciptakan kehancuran besar-besaran, mengejutkan pasukan Jerman yang ada di bawah pemboman tersebut. Warner Josupeit, seorang penembak senapan mesin Divisi Panzer SS pertama, berkata kemudian, “Para pembom tempur mengelilingi tank kami beberapa kali. Kemudian sebuah pesawat keluar dari lingkarannya, mencari sasaran dan menembak. Saat pesawat yang pertama kembali ke dalam lingkaran yang terdiri dari sekitar 20 pesawat, pesawat kedua keluar dan menembak. Masing-masing pesawat melanjutkan prosedur ini sampai mereka semua menembak. Kemudian mereka meninggalkan tempat yang mengerikan itu. Sekawanan pesawat baru muncul menggantikan mereka dan menembakkan semua roket mereka. Awan hitam asap dari minyak yang terbakar naik ke langit ke mana pun kami memandang. Mereka menandai tank-tank yang hancur. Akhirnya pesawat-pesawat Typhoon tidak dapat menemukan tank lagi sehingga mereka menyerang kami dan menghancurkan kami tanpa ampun. Roket mereka jatuh dengan raungan yang mengerikan dan meledak menjadi pecahan peluru yang besar. ” 

Sebuah Hawker Typhoon dari Royal Air Force dipersenjatai dengan roket tiga inci sebelum misi melawan aset lapis baja Jerman di Normandia. Pembom tempur Sekutu yang bebas menyerang membuat pergerakan pasukan dan tank Jerman sangat berbahaya pada siang hari. (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/)

Ketakutan dan kehancuran yang diciptakan nampaknya mempengaruhi tingkat komando Jerman yang lebih tinggi. Kepala staf Angkatan Darat Ketujuh melaporkan, “Serangan itu terhenti sejak pukul 1 siang karena operasi pesawat-pesawat pembom tempur yang berat dan kegagalan angkatan udara kami. (Komando tertinggi kami) tidak pernah mementingkan situasi di udara; yang membuat upaya pergerakan dan pengiriman perbekalan untuk operasi menjadi meragukan. ” Satu-satunya prajurit di darat yang melihat dan bersorak dalam situasi ini adalah orang-orang Amerika dari Divisi ke-30, terutama mereka yang berada di Hill 314, yang memiliki radio boks untuk meminta serangan pesawat-pesawat Typhoon, beberapa dari mereka praktis berada terbang tepat di atas posisi mereka. Sersan Wendell Westall dari Illinois melihat sebuah Typhoon melintas dan berkata kepada seorang teman, “Tentu saja, pesawat terkutuk itu hampir saja merontokkan rambutku!” Serangan udara RAF tidak juga berhenti. Kini para penembak senapan mesin tank Jerman mulai kehabisan amunisi. Angkatan Udara A.S. kemudian juga ikut serta dalam penghancuran, setelah mereka selesai membantai pesawat-pesawat tempur Luftwaffe. Ketika lebih banyak Typhoon menukik untuk menyerang, pasukan Jerman meningkatkan serangan mereka, terutama di Hill 314. Tetapi meski pertahanan pasukan Amerika di darat “tipis dan lemah”, pelindung udara dan artileri pertahanan mereka — yang dipanggil oleh Weiss dan Bartz — menghantam posisi-posisi pasukan Jerman, menjaga mereka tetap jauh dari bukit. Saat kondisi memburuk, Hobbs dan Bradley kini menyadari situasi serius di Mortain dan meminta bala bantuan untuk membantu apa yang sekarang disebut “Batalyon yang Hilang”. Meski terputus dan terkepung serta didesak kembali ke arah barat, namun pasukan AS yang bertahan tidak perlu menghancurkan seluruh pasukan Jerman yang menyerang, mereka cukup hanya menahannya cukup lama, sehingga pasukan Patton, yang sekarang berlomba menuju ke arah timur dan utara, untuk bergabung dengan pasukan Kanada yang turun dari kantong Falaise. Aksi ini nantinya akan memastikan bahwa Jermanlah yang akhirnya akan dikepung dan dipotong, dan armada lapis bajanya kemudian dapat dihancurkan dengan mudah oleh serangan udara Sekutu sampai pasukan Jerman yang tersisa memilih untuk menyerah. Strategi ini dikombinasikan dengan terhambatnya gerakan unit lapis baja Jerman karena kekurangan bahan bakar yang kritis, bersama-sama akan berkontribusi besar pada kekalahan terakhir Angkatan Darat Jerman di Prancis.

PENGEPUNGAN MORTAIN

Kembali ke medan perang, saat senja menyelimuti medan perang, Typhoon terakhir menuju ke barat, meninggalkan pemandangan horor di belakang mereka: tank-tank yang berkobar robek menjadi bentuk-bentuk yang aneh, meriam kaliber 88mm dibengkokkan dan terpelintir … orang-orang mati terbaring di sudut yang aneh … semuanya di bawah awan asap hitam dari api yang mengamuk. Dari 70 tank Jerman yang melakukan penyerangan, 40 hancur, dan beberapa yang rusak bisa diperbaiki, sebuah contoh bagus dari keterampilan tim perbaikan tank Jerman. Namun sejauh ini, Divisi Panzer ke-116 tidak tampil baik di bawah tekanan pihak Amerika. Komandan Korps Panzer XLVII, Letnan Jenderal von Funck, seorang anggota SS, menyalahkan komandan Divisi ke-116, Letnan Jenderal von Schwerin, seorang perwira Wehrmacht, atas kelambanan Divisi “Greyhound” pimpinannya, dan keduanya saling berteriak. Von Funck yang marah menuntut Kluge dan Hausser membebastugaskan von Schwerin dari komandonya, yang lalu benar-benar dilaksanakan pada pukul 4 sore. Saat fajar menyingsing di La Roche-Guyon, markas besar Kluge, Field marshal Jerman itu mempelajari peta dan membaca laporan yang menunjukkan besarnya bencana yang dihadapi dirinya. Empat dari divisi panzer terbaiknya yang dikirim untuk menyerang Mortain telah menderita korban yang sangat besar dan hampir tidak mendapatkan apapun, mereka terhenti oleh mereka yang bertahan di Hill 314 dan oleh pesawat-pesawat Typhoon RAF. Sementara itu di utara, Angkatan Darat Kanada Pertama telah melancarkan serangan malam besar-besaran di Falaise dengan mengerahkan 600 tank. Di selatan, Angkatan Darat AS Ketiga pimpinan Letnan Jenderal George Patton masih bergerak ke timur menuju Argentan, yang berarti pasukan penyerang Kluge di Mortain akan terancam dikepung. Akan tetapi jika Kluge berani membatalkan operasi, hal itu bisa membuatnya kehilangan nyawanya sendiri. 

Peta pertempuran dan pengepungan Mortain. (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/)

Serangan itu kemudian berlanjut, dengan didukung oleh keuletan orang-orang Jerman dan harapan besar Hausser. Bagaimanapun itu adalah situasi yang tidak hanya suram bagi Field marshal Kluge, tetapi juga bagi tentara Amerika yang bertahan di Hill 314 dengan gigih, yang bertahan dari pemboman dan penembakan dari pihak musuh maupun kawan sendiri, ketika beberapa pembom Luftwaffe menyelinap melewati hadangan pesawat tempur Amerika, terutama pesawat-pesawat penyerang malam. Tank Jerman yang belum tertembak menunjukkan keuletan mereka seperti biasa. Pada pukul 17.07 tanggal 7 Agustus, dua tank Jerman datang hingga dalam jarak 250 yard dari pos komando Erichson di bukit. Prajurit Joe Shipley, seorang operator telepon yang belum pernah menembakkan bazoka seumur hidupnya, meraih satu senjata itu dan melumpuhkan satu tank Jerman, yang membuat yang tank lainnya ketakutan. Seorang perwira heran atas aksi tersebut, “Dia bahkan tidak meninggalkan kursinya.” Pada tanggal 8 Agustus, Jerman mencoba menyerbu posisi Pulver dari Kompi A / 120 di Hill 285. Baterai radionya mati dan orang-orangnya saat itu kekurangan makanan dan air. Dia mengajak seorang pelari pembawa pesan dan menuju pos komando Batalyon ke-1, melalui rentetan tembakan mortir yang menggetarkan giginya dan melukai si pelari di belakang telinga. Meski begitu, keduanya berhasil mencapai posko. Komandan batalion itu kagum — dia mengira unit Pulver telah dimusnahkan seluruhnya. Pulver memberi tahu bosnya tentang situasi yang dihadapi unitnya, mengambil perbekalan, dan kembali ke bukitnya meski giginya hancur. 

Pemandangan di sekitar di Hill 314 yang strategis memantau pergerakan pasukan Jerman di sekitar Mortain. (Sumber: https://www.battleofnormandytours.com/)

Sementara itu di Hill 314, pasukan Jerman mencoba menyerang, meskipun pemboman RAF terus berlanjut, sementara pasukan Amerika lainnya pergi ke arah timur untuk membebaskan mereka yang bertahan. Sekarang, dua divisi infanteri dan dua divisi lapis baja Amerika telah bergabung dalam pertempuran bersama Divisi ke-30. Saat itu mereka yang bertahan kehabisan perbekalan, personel yang masih mampu bertempur, dan kesabaran. Karena kekurangan morfin, perban yang bersih, dan dokter, yang bisa dilakukan oleh semua petugas medis adalah meletakkan mereka yang terluka di dalam parit. Weiss mengintip melalui teropong, bertanya-tanya kapan bala bantuan akan tiba, dan melihat “satu peleton Jerman berseragam abu-abu-hijau, berkumpul di depan untuk menyerang.” Di titik ini kelangsungan hidup Batalyon yang Hilang itu bergantung pada baterai radio yang dimiliki Weiss — milik Bartz sudah mati — dan Bartz memandang wajah Weiss “yang pucat di wajahnya. Saya tidak bisa menatap matanya atau mengamati wajahnya lama-lama. ” ujarnya. Tentara Jerman kemudian menyerang, dan Weiss segera memanggil tembakan artileri. “Sekumpulan peluru dan asap yang meledak menutupi posisi pasukan infanteri Jerman, menghitamkan area di sekitar mereka. Sementara debu dan puing-puing melesat ke langit, ”kata Weiss. Serangan itu berhasil dihentikan, tetapi pihak Jerman membawa lebih banyak lagi tank dan pasukan infanteri. Sekali lagi, artileri Amerika menghentikan serangan itu. Setelah satu setengah jam, tentara Jerman mencoba taktik baru, dengan membawa meriam kaliber 88mm yang ditakuti, yang melepaskan tembakan ke arah tebing dan tonjolan bukit. Weiss melihat selongsong demi selongsong peluru artileri Jerman meledak “menjadi ratusan atau ribuan potongan dan irisan bergerigi yang bisa memotong tubuh … menggambarkan kekuatan yang tanpa ampun, dan tak terhentikan, serta kebencian yang mendalam. Pecahan besi besar membelah udara, menghancurkan batu-batu besar menjadi serpihan tajam, lalu memantul tak menentu di atas kepala kami. Kami berjongkok di balik tebing, di muka tebing ke belakang, berlindung dengan tidak nyaman. ”

Pasukan Amerika bersembunyi di balik pagar tanaman. Operasi Luttich tidak hanya dihambat oleh serangan udara bertubi-tubi pihak sekutu, namun juga karena mendapat perlawanan sengit dari prajurit Amerika yang bertahan. (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/)

Weiss terus meminta serangan balasan dan mengirim pesan dari Erichson ke Birks pada tanggal 120: “Perlu baterai radio, persediaan medis, makanan, dan amunisi. Para prajurit tetap mempertahankan posisi mereka. Pengamat garis depan Letnan Bartz dan Weiss melakukan pekerjaan yang luar biasa. Musuh telah dicegah untuk bisa mengatur satuan lapis baja dan infanteri untuk menyerang dengan kekuatan luar biasa. ” Weiss kemudian menambahkan, “Apakah kita bisa mendapatkan bala bantuan?” Sementara itu tentara Jerman terus menyerang Hill 314 pada malam 8/9 Agustus, meski tidak berhasil, telah melelahkan mereka yang bertahan. Weiss hampir tidak menghitung lagi berapa banyak misi penembakan yang dia panggil. “Saat setiap serangan musuh yang terpisah bisa digagalkan, serangan yang lain muncul,” katanya. Mereka berkumpul kembali dan kembali lagi dan lagi. Weiss terus bertanya-tanya mengapa Jerman tidak berhasil menerobos posisi mereka. Itu mungkin karena pertahanan yang kukuh serta tembakan artileri dari pihak Amerika. Sersan Luther Myers, yang mengawaki senapan mesin kaliber .30, melihat pasukan Jerman menyerangnya, sambil melemparkan granat. Sebuah granat berguling di bawah senapan mesin Myers dan meledak, membuatnya macet. Peluru pelacak terbang di semua tempat, mengenai anggota pasukannya. Myers lalu memperbaiki senjatanya dan menembakkan beberapa semburan ke arah musuh, yang melarikan diri. “Aku bisa mendapatkan semuanya,” katanya kemudian, “tapi itu tidak sepadan, tidak dengan orang-orangku sendiri yang merangkak melintasi medan tembakanku.” Perangkat radio Weiss masih berfungsi saat fajar menyingsing pada 9 Agustus. Weiss menempatkan dirinya di pos pengamatan dengan pandangan yang lebih baik dan saluran telepon ke radioman-nya, sehingga dia dapat memberitahu petugas radio apa yang sedang terjadi, dan ahli radio dapat mengirim pesan singkat untuk unit artileri Divisi ke-30. Weiss menembaki tank, pasukan bersepeda, infanteri, halftrack, dan sepeda motor. Tapi baik dia maupun siapa pun di bukit itu tidak bisa mengatasi kelaparan yang mereka derita. “Kami berlima berbagi sedikit cokelat dan satu ransum K,” kata Weiss, “(yang) biasanya dipakai untuk satu kali makan oleh satu orang.”

TAWARAN MENYERAH

Komandan artileri dari Divisi ke-30, Brigjen. Jenderal James Lewis, mengirimkan dua pesawat Piper Cub yang membawa baterai radio dan persediaan medis, dengan memerintahkan pilotnya untuk menurunkan 71 kontainer ke bukit yang terkepung itu. Satu pesawat ditembak jatuh, dan yang lainnya hampir jatuh. Sebagian besar perbekalan tidak sampai ke bukit. Angkatan Udara mencoba lagi dengan pesawat transport C-47 yang lebih andal, tetapi sebagian besar kargo malah mendarat di wilayah Jerman. Artileri Amerika kemudian mengisi senjata mereka dengan peluru kaliber besar yang penuh dengan persediaan medis dan baterai radio dan menembakkannya ke Hill 314, tetapi peluru tersebut pecah karena benturan, menghancurkan kargo yang dibawanya. Satu-satunya solusi yang tersisa kini adalah membebaskan bukit itu sendiri. Elemen dari Divisi Lapis Baja ke-2 dan ke-3 diberi tugas, dengan Satuan Tugas Lapis Baja ke-3, di bawah Letnan Kolonel Samuel Hogan, menyerang di belakang satu-satunya tank dozer yang dimiliki pasukan itu, di bawah Sersan Emmett Tripp. “Sepertinya kami awalnya bisa mengejutkan pihak Jerman,” kata Tripp kemudian. “Kami menemukan beberapa unit infanteri lawan di balik pagar tanaman dan jalan yang cekung, melenyapkan mereka dengan cukup cepat. Kemudian kami menghadapi setidaknya satu tank Tiger, ditemani oleh beberapa tank Panthers dan Mark IV. ” Orang-orang dari Divisi Panzer SS ke-2 lalu menyerang barisan pasukan Amerika dari belakang dan menghancurkan empat tank, yang dengan segera menghentikan serangan itu. Hogan kemudian memanggil bala bantuan, yang datang dibawah tembakan gencar musuh. Terguncang, mereka bersembunyi di bawah tank M4 Sherman Amerika. Pasukan SS mengirimkan sebuah batalion panzergrenadier menghadapi pasukan Hogan, dan pihak Amerika menghantam mereka dengan mortir fosfor. Setelah malam tiba, pesawat serangan malam Luftwaffe muncul dan membom pasukan mereka sendiri. Hogan merasa pemandangan itu “sangat menyenangkan”. 

Pesawat-pesawat angkut C-47 mencoba memasok perbekalan bagi batalion Amerika yang terkepung, namun sebagian besar malah jatuh di wilayah Jerman. (Sumber: http://old.quartermasterfoundation.org/)

Meski pasukan Jerman tidak dapat menyerang lebih jauh karena pemboman RAF, namun mereka jelas tahu bagaimana cara mempertahankan posisi yang telah mereka ambil alih. Tapi mereka masih bertekad untuk merebut Hill 314. Di atas ketinggian, Weiss melihat adanya konvoi truk menuju ke arah mereka, yang menurunkan lebih banyak pasukan infanteri. Mereka membentuk garis pertempuran. Weiss lalu meminta misi penembakan dengan setiap baterai yang bisa dia gunakan. Dalam sekejap, enam baterai meriam kaliber 105mm dan kaliber 155mm lainnya meledakkan para penyerang. “Dampak kuat dari semua senjata yang ditembakkan bersama-sama  ini mencerai beraikan pasukan infanteri musuh dan melukai mereka dengan parah,” kata Weiss. Pihak Jerman lalu membalas dengan tembakan artileri mereka sendiri, yang mengguncang tanah di bawah posisi pasukan Amerika. Seiring berlalunya hari, Weiss dan pasukan Amerika lainnya melihat kendaraan Jerman menuju ke arah timur penuh dengan personelnya yang terluka. Kemudian pada pukul 6 sore, dua tentara Jerman, mengibarkan bendera putih, berjalan ke posisi Amerika dan berbicara dengan Letnan Elmer Rohmiller. Salah satu orang Jerman itu ternyata adalah seorang perwira SS yang menawarkan persyaratan penyerahan yang terhormat. Pasukan Nazi mengagumi determinasi prajurit-prajurit Amerika, tetapi situasi mereka dianggap sudah tidak ada harapan lagi. Jika orang-orang Amerika mendengarkan saran mereka, maka orang-orang yang terluka akan dirawat dengan baik. Jika tidak, maka pada jam 8 malam orang Amerika akan “hancur berkeping-keping”. 

Dalam pertempuran Mortain, pasukan Amerika praktis cukup bertahan di lokasi-lokasi strategis sekitar Mortain, utamanya bukit 314, sambil menunggu dibebaskan oleh pasukan darat Amerika lainnya. Tawaran menyerah dari Jerman segera ditolak mentah-mentah. (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/)

Rohmiller sebenarnya ingin memberitahu orang-orang Jerman itu untuk “pergi ke neraka”, tetapi ia juga berpikir bahwa dia harus meneruskan proposal tersebut ke komandannya. Dia kemudian menutup mata pasangan itu dan membawa mereka ke Letnan Erichson dan Letnan Ralph Kerley, yang memimpin Kompi E. Ketika perwira SS mencapai pasangan itu, mereka memberi hormat dan berkata, “Saya datang untuk meminta penyerahan Anda… dan menawarkan Anda dan orang-orang Anda pengawalan yang aman turun dari bukit ini. Anda tentu saja menyadari bahwa posisi Anda di sini tidak ada harapan. ” Beberapa GI yang terluka di dekat pos komando mendengar ini dan berteriak, “Jangan menyerah!” “Seperti yang Anda dengar,” kata Erichson, “orang-orang saya siap untuk menolak hal itu.” Orang Jerman itu yang memiliki arogansi umumnya pasukan SS dan berkata, “Mereka bodoh; kamu tidak. Sebagai komandan mereka, itu adalah tugasmu … ” Aku sadar akan tugasku, potong Erichson. Apakah ada hal lain yang ingin kau katakan? “Hanya ini. Jika Anda tidak menyerah pada pukul 8 malam hari ini, batalion Anda akan dimusnahkan. ” Erichson dengan tegas menolak permintaan menyerah itu. Orang-orang Jerman itu kemudian pergi. Orang Amerika di atas bukit lalu menunggu pemboman Pihak Jerman saat matahari tenggelam di belakang mereka. Sementara itu, Weiss mengatur posisi tembakan artileri untuk bersiap melawan serangan malam dari pihak Jerman yang diperkirakan akan datang. Jam delapan malam datang dan pergi, tetapi pasukan Jerman tidak juga menyerang. Akhirnya, di tengah malam, orang-orang  Amerika mendengar gemuruh khas tank Jerman menuju salah satu penghalang jalan mereka, dan tank itu berhenti 50 meter dari puncak punggung bukit. Tank Jerman menembakkan beberapa peluru di atas kepala tentara Amerika, lalu turretnya terbuka dan seorang Jerman berhelm berteriak, “Menyerah atau mati!”

MENDOBRAK KEPUNGAN MORTAIN

Weiss menatap ke punggung bukit. Senapan prajurit-prajurit Amerika sudah siap. Anehnya, seorang GI menjatuhkan senapannya, berlari ke lereng bukit, dan naik ke atas tank. Tidak ada tembakan. Selain itu tidak ada orang lain lagi yang menyerah. Tank itu kemudian pergi dengan tawanannya satu-satunya. Matahari terbit pada tanggal 10 Agustus mendapati bahwa orang-orang Amerika masih mempertahankan Hill 314 dan pasukan bantuan terus bergerak ke arah mereka. Divisi Infanteri ke-35,  “Black Hawk” pasukan Garda Nasional dari Illinois dan Missouri, bergerak maju hingga satu mil dari Hill 314 pada akhir hari tanggal 10 Agustus. Di sebelah barat, pasukan Amerika hampir merebut kembali St. Barthélémy, dan prajurit GI lainnya beringsut kembali ke Mortain. Yang terpenting, Tentara Ketiga pimpinan Patton dan Korps II Kanada telah menciptakan pengepungan raksasa di sekitar pasukan Jerman yang menyerang. Jika hal ini terus berlanjut, pasukan Jerman akan terjebak dalam kantong pengepungan raksasa. Bradley sendiri menyadari situasinya, berkata kepada tamunya, Menteri Keuangan AS Henry Morgenthau, “Ini adalah kesempatan yang datang kepada seorang komandan tidak lebih dari sekali dalam satu abad. Kami akan menghancurkan seluruh pasukan musuh. ” Bahkan Hitler dan Kluge kini mulai menyadari situasinya. Jika Kluge tidak bisa mencegah penjepitan musuh, ini akan menjadi kekalahan yang tidak bisa diperbaiki. Sejauh ini Jerman telah kehilangan sekitar 60 persen kekuatan lapis baja mereka di Normandia dan tidak dapat menggantinya. Hitler yang muram dengan enggan akhirnya menyetujui permintaan Kluge untuk mundur dari Mortain. Tak satu pun dari keputusan tingkat tinggi ini memengaruhi pertahanan di Hill 314. Pasukan Amerika masih bertahan, mengandalkan diri mereka pada keberanian, rumor mereka akan dibebaskan dari pengepungan, dan pemandangan pasukan Jerman bergerak mundur. Meski begitu, pasukan Jerman terus menekan pasukan Amerika yang bertahan dengan tembakan artileri dan mortir. “Kami tidak bisa melihat kapan ini akan berakhir. Radio kami menjadi sangat lemah. Ketika mereka berhenti beroperasi, alat pertahanan utama kami akan hilang, ”kata Weiss. 

Komunikasi radio memegang peran kunci dalam pertahanan Amerika di Mortain. (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/)
Tentara dari Divisi Panzer ke-2 Jerman menggunakan senjata antitank mereka yang disamarkan selama Operasi Lüttich. (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/)

Tapi sementara tentara Jerman terus menembaki Hill 314, pasukan Amerika terus mendekat dari segala arah. Tiga mil ke arah utara, Letnan Donald Harrison, seorang alumnus ROTC Ohio State, mengatakan kepada Kopral Robert Baldridge untuk meminta misi penembakan pada kendaraan yang bergerak melalui persimpangan di utara Hill 314. Tembakan kedua segera meledakkan gerakan kendaraan-kendaraan Jerman dan mengirim pasukan nya berhamburan, yang segera memulai pembantaian yang berlanjut sepanjang hari. Di pos pengamatannya, Weiss mendengar lagi gemuruh tank melaju di Bel Air Road menuju penghalang jalan utama pasukan Amerika. Prajurit Thomas Street berada di bawah penghalang jalan dengan ketakutan, tetapi temannya di sebelahnya mulai berteriak, ‘Mereka datang untuk menjemput kita! Mereka datang untuk menjemput kita! ” Street memegang erat temannya untuk menenangkannya, tetapi bagi Street kedengarannya seperti orang Jerman sedang menuju ke timur mundur. Street benar. Saat matahari terbit pada 12 Agustus, Weiss dibangunkan oleh asisten utamanya, Sersan John Corn. Weiss yang kurus, kotor, dan berjanggut segera menemukan energi untuk keluar dari lubang perlindungannya, berjalan 40 yard ke punggung bukit, dan mulai mencari sasaran. Pada saat itu, sebuah peluru Jerman meledak di lubang perlindungan Weiss, menewaskan dua orang dan melukai Corn. Pada pukul 9:45 Corn sudah mati. “Di dalam diri saya, ada kebencian, kemarahan, dan kesedihan mengalir bersamaan. Saya menginginkan kekuatan yang tidak saya miliki. Saya ingin menghancurkan tank, truk, pasukan (Jerman) yang saya lihat sekarang melarikan diri. ” Di bawah, keinginan Weiss terkabul. Prajurit-prajurit dari Divisi Infanteri ke-35 akhirnya mendaki Bukit 314 menghadapi aksi perlawanan penundaan khas Jerman: penembak jitu, jebakan, tembakan senapan mesin sesekali, sampai artileri Jerman menembakkan peluru terakhir mereka sebelum mundur. Menjelang tengah hari, Letnan Homer Kurtz memimpin rombongan pengintai dari Kompi G, Resimen Infanteri 320 ke atas dan bertemu dengan Letnan Ronal Woody. “Seorang pria datang dan menanyakan dimana komandan kompi kami,” kata Woody kemudian. “Sial, pangkatku tersematkan di dalam kerah bajuku dan aku tampak seperti ragamuffin.” Woody memberi tahu Kurtz bahwa dia adalah komandan kompi. Kurtz lalu menegakkan tubuh dan berkata, “Kami membebaskan Anda, Pak.” Woody tersenyum dan berkata, “Baiklah!” 

PENUTUP

Di bawah, Street dan teman-temannya melihat adanya pasukan yang bergerak masuk dan bersiap untuk menembak sampai mereka menyadari bahwa pasukan itu adalah orang-orang Amerika. Street berjabat tangan dengan para penyelamatnya dan akhirnya melihat sekeliling ke bukit yang hancur. Mereka juga melihat pemandangan yang lebih mengesankan: ambulans, truk penuh dengan ransum K, dan fotografer pers. Kompi Street, F Company, telah menderita korban hampir 100 persen — hanya delapan orang yang bisa lolos dari kematian, luka, atau penahanan. Meski demikian, Weiss tidak dibebaskan sampai sore hari. Dia dan dua orangnya yang masih hidup terlalu lelah untuk merasa senang. Mereka mengemasi radio dan peralatan mereka dan naik ke jip mereka, yang secara ajaib mereka selamat dari seluruh pertempuran. “Saya menjatuhkan diri ke tempat duduk saya, kelelahan, karena semua kekuatan dan emosi kami telah diperas. Kami berkendara dengan sedih kembali ke B Battery, masing-masing dari kami terbungkus dalam pikirannya sendiri. Kami kehilangan sesuatu, meninggalkannya di atas bukit, ”katanya kemudian. Dia benar. Dari 700 orang yang bertempur di Hill 314, hanya 357 yang bisa lolos. Sisanya tewas, terluka, dan ditangkap. Divisi ke-30 secara keseluruhan menderita 1.800 korban jiwa. Tetapi pihak Jerman telah menderita ribuan korban lainnya, bersama dengan kehilangan lebih banyak kendaraan yang tak tergantikan. Tim perbaikan Amerika mengangkut lebih dari 100 tank Jerman yang ditinggalkan. Serangan besar yang dirancang untuk memotong gerak maju Amerika sekarang malah menjadi laksana perangkap tikus, dan yang bisa dilakukan Jerman hanyalah berjuang untuk melepaskan pasukan mereka yang terperangkap. Melihat ke bawah pada 40 kendaraan Jerman yang hancur, Birks berkata, “Itu adalah pemandangan terbaik yang pernah saya lihat dalam perang.”

Pasukan Jerman tergeletak di samping kendaraan Halftrack. Kekuatan udara dan artileri Amerika memegang peran kunci dalam menghambat dan membinasakan pasukan mekanis Jerman selama Pertempuran Mortain. (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/)

Faktanya ada banyak prestasi hebat dalam pertempuran itu. Batalyon yang Hilang itu kemudian menerima penghargaan Presidential Unit Citation atas aksi pertahannya, sementara semua peluang kemenangan Jerman di Normandia kini telah hilang, dan kerja sama Inggris-Amerika berada dalam kondisi terbaiknya. Pada tanggal 17 Maret 2020, Presiden Donald J. Trump mengumumkan bahwa Angkatan Darat AS akan memberikan penghargaan Presidential Unit Citation kepada Divisi Infanteri ke-30, sebagai pengakuan atas aksi heroiknya di Battle of Mortain, Prancis, 7-12 Agustus 1944. Sementara itu, kisah ini belum berakhir, tentu saja. Di Rastenberg di Prusia Timur, Warlimont memberi tahu Hitler tentang kegagalan Operasi Lüttich. Hitler mendengarkan dengan tenang selama satu jam lalu berkata, “Kluge melakukannya dengan sengaja. Dia melakukannya untuk membuktikan bahwa tidak mungkin melaksanakan perintah saya. ” Kluge lalu akan bunuh diri empat hari kemudian. Sementara itu hal lainnya terjadi di Hill 314. Wartawan Associated Press William Smith White mengabarkan bahwa ketika perwira SS meminta Kerley untuk menyerah, orang Amerika itu berujar, “Saya akan menyerah ketika semua peluru kami telah ditembakkan dan setiap bayonet kami menempel di perut orang-orang Jerman, ”dan melaporkannya seperti itu. Birks yang heran memberi selamat kepada Kerley di mimbar dan bertanya apakah dia benar-benar mengatakan itu. Kerley berdehem dan berkata, “Tidak, Pak. Saya tidak terlalu dramatis. Apa yang sebenarnya saya katakan singkat, langsung ke sasaran, dan sangat tidak pantas ditulis. ” “Nah katakan padanya,” jawab Birks.

Prajurit dari Divisi Infanteri ke-30 di Malmedy, 29 Desember 1944. Pada tanggal 17 Maret 2020, Presiden Donald J. Trump mengumumkan bahwa Angkatan Darat AS akan memberikan penghargaan Presidential Unit Citation kepada Divisi Infanteri ke-30, sebagai pengakuan atas aksi heroiknya di Battle of Mortain, Prancis, 7-12 Agustus 1944. (Sumber: https://www.pinterest.dk/)

Sementara itu secara keseluruhan, korban manusia dan material dari operasi Lüttich ini sangat berat, baik di pihak Jerman maupun di pihak Amerika. Serangan ini, yang berlangsung kurang dari seminggu, hanya menguntungkan pihak penyerang selama dua belas jam pertama serangan itu. Kerugian yang diderita Jerman sangat tinggi pada hari pertama sehingga mereka tidak dapat meluncurkan kembali operasi lain setelahnya. Dari 300 tank yang dikerahkan, hampir 150 dihancurkan oleh Sekutu dari tanggal 7 hingga 8 Agustus saja. Meski penumpukan pasukan tank mengganggu pasukan darat AS dan kemungkinan besar bisa melintasi garis depan mereka seperti yang telah kita lihat dalam operasi Lüttich, superioritas udara Sekutu sekali lagi mampu mengakhiri serangan lapis baja musuh. Para jenderal Jerman yang terlibat di medan tempur Normandia tahu kondisi tidak menguntungkan mereka, sejak awal Agustus 1944, dan sangat meragukan strategi Hitler. Mereka hampir semua yakin bahwa penarikan mundur strategis ke sisi lain sungai Seine diperlukan dan tidak mendukung sepenuhnya serangan balik Hitler itu, seperti yang ditunjukkan dalam perilaku Jenderal von Schwerin selama Operasi Lüttich. Serangan ini, pada akhirnya memungkinkan pihak Sekutu untuk secara bertahap mengepung pasukan lawan karena Angkatan Darat AS ke-3 pimpinan Patton kemudian bisa merebut Le Mans pada tanggal 9 Agustus dan Jenderal Bradley segera menyadari bahwa sebuah jebakan sedang dibentuk di sekitar Angkatan Darat Jerman ke-7: Hari-hari berikutnya Pertempuran Normandia didedikasikan untuk penutupan jebakan ini di daerah Falaise (lewat operasi Tractable, tanggal 14 Agustus 1944). Divisi ke-30 sendiri, kemudian akan menghabiskan 282 hari dalam pertempuran yang hampir konstan. Lebih dari 3.400 anggotanya tewas, dan hampir 13.000 lainnya luka-luka. Dan atas aksi keberanian “Old Hickory”, personel divisi ini mendapatkan berbagai penghargaan, termasuk enam Medali Medal Of Honor, 65 medali Distinguished Service Crosses dan lebih dari 1.700 medali Silver Star. Para pimpinan Angkatan Darat juga sangat memuji kiprah Divisi Infanteri ke-30 setelah perang. Kolonel S.L.A. Marshall, kepala sejarawan dari Jenderal Eisenhower, bahkan menyebutnya sebagai divisi infanteri terbaik di medan Perang Eropa.

Pasukan Amerika di Mortain, Agustus 1944. (Sumber: https://www.battleofnormandytours.com/)
Kota Mortain saat ini. (Sumber: https://www.ddayhistorian.com/)

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

Hitler’s Bold Attack at Mortain By David H. Lippman

Operation Lüttich: the German Counter-attack

https://www.battleofnormandytours.com/op-luttich-the-german-counter-attack.html

Operation Lüttich, 7 – 13 August 1944

https://www.dday-overlord.com/en/battle-of-normandy/german-operations/luttich

The 30th Infantry Division’s Heroic Stand at Mortain, August 1944 by Edward G. Lengel

https://www.nationalww2museum.org/war/articles/30th-infantry-division-battle-mortain

Mortain: A forgotten battle and a modern-day fight By Drew Brooks; Posted Nov 10, 2018 at 5:38 PM

https://www.google.com/amp/s/www.fayobserver.com/news/20181110/mortain-forgotten-battle-and-modern-day-fight%3Ftemplate%3Dampart

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Operation_L%C3%BCttich

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *