Pertempuran Mukden, 20 Februari – 10 Maret 1905, Pertempuran Terbesar Dalam Sejarah Sebelum Perang Dunia I

Pertempuran Mukden (奉天 会 戦, Hōten kaisen), adalah salah satu pertempuran darat terbesar yang pernah dilakukan sebelum Perang Dunia I dan pertempuran darat besar terakhir dan paling menentukan dalam Perang Rusia-Jepang. Pertempuran ini terjadi dari tanggal 20 Februari sampai 10 Maret 1905 antara tentara Jepang dan Rusia di dekat kota Mukden di Manchuria. Kota itu sekarang bernama Shenyang, ibu kota provinsi Liaoning di Cina. Saat itu, Pasukan Rusia, yang berjumlah lebih dari 340.000 orang, di bawah pimpinan Jenderal Alexei Nikolajevich Kuropatkin, bertempur melawan pasukan Tentara Kekaisaran Jepang yang berjumlah lebih dari 270.000 personel, yang dipimpin oleh Marsekal Marquess Ōyama Iwao. Dengan melibatkan total 610.000 prajurit dan menyebabkan 164.000 korban diantara para pasukan kombatan, pertempuran itu adalah pertempuran darat terbesar sejak pertempuran sejak Pertempuran Leipzig tahun 1813 dan pertempuran terbesar di era modern yang terjadi sebelum Perang Dunia I, dan mungkin menjadi pertempuran terbesar dalam sejarah dunia hingga saat itu. Skala pertempuran khususnya dalam jumlah persenjataan yang digunakan, belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah dunia. Pihak Jepang sendiri menembakkan sekitar 20,11 juta peluru senapan dan senapan mesin dan 279.394 peluru artileri hanya dalam waktu sepuluh hari pertempuran (Rusia sendiri menembakkan lebih banyak), menyamai konsumsi amunisi tentara Jerman di seluruh Perang Perancis-Prusia yang berlangsung selama 191 hari. Jatuhnya kota Mukden, mengakhiri kebijakan ekspansionisme Rusia awal abad ke-20 di wilayah Timur Jauh. Pertempuran laut Tsushima yang berlangsung kemudian akan memaksa Russia untuk melakukan negosiasi damai dengan Jepang.

Pertempuran Mukden tahun 1905 antara Russia dan Jepang adalah pertempuran modern terbesar dalam sejarah sebelum pecahnya Perang Dunia I. (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/)

LATAR BELAKANG

Bulan Januari hingga Februari tahun 1905 adalah bulan-bulan kritis bagi kekaisaran Rusia dan Jepang, yang terjebak dalam perang di Asia Timur yang tidak dapat dipertahankan lebih lama lagi oleh keduanya. Kekaisaran Rusia yang sangat besar, yang dianggap oleh sebagian besar pengamat secara militer jauh lebih unggul daripada saingannya di Asia itu, gagal menaklukkan Jepang dengan cepat. Sekarang Rusia juga sedang menghadapi kekacauan domestik yang meningkat di dalam negeri, yang mengancam tidak hanya akan menggagalkan upaya perang mereka tetapi mungkin juga bisa menggulingkan monarki itu sendiri. Sementara itu, Jepang, yang jauh lebih kecil dari musuhnya, dengan cepat kehabisan tenaga dan sumber daya. Dengan keputusasaan terus berlanjut, Jepang berharap untuk bisa mencapai kemenangan yang menentukan. Ini adalah perlombaan melawan waktu bagi kedua kekaisaran — perlombaan yang hanya bisa dimenangkan oleh salah satu dari mereka. Masing-masing akan berusaha melakukannya di wilayah Manchuria yang beku dan terpencil. Tahun itu dimulai dengan kemenangan bagi Jepang, tetapi kemenangan itu masih jauh dari pukulan menentukan yang dicari Jepang. Namun, keberhasilan perebutan Port Arthur membebaskan banyak pasukan berharga yang dapat digunakan untuk melakukan serangan yang menentukan di Manchuria, di mana tentara Jepang yang besar bertahan menghadap Rusia di sepanjang Sungai Sha Ho di selatan desa Mukden. Situasinya tegang. Dipisahkan hanya beberapa ratus yard, pasukan lawan memegang erat posisi pertahanan mereka. Namun meski keduanya nampak bersikap bertahan, keduanya punya rencana ambisius dalam menyerang. Field Marshal Oyama Iwao hanya sedang menunggu kedatangan Jenderal Nogi Maresuke dari Port Arthur sebelum meluncurkan serangan yang dirancang dengan hati-hati yang dia harapkan akan bisa memenangkan dan mengakhiri perang.

Perang Russia-Jepang yang berlangsung antara tahun 1904-1905 adalah sebuah bentrokan antara 2 kekaisaran dalam memperebutkan pengaruh di wilayah Timur Jauh. (Sumber: https://id.pinterest.com/)

Lawan Rusia-nya, Jenderal Alexei Kuropatkin, telah memutuskan untuk melakukan serangan sebelum jatuhnya Port Arthur. Direbutnya pelabuhan itu hanya memaksanya untuk mempercepat rencananya untuk mendahului kedatangan pasukan Nogi. Tetapi tentara Rusia membutuhkan lebih banyak waktu untuk bersiap. Kuropatkin baru saja memperoleh pangkat komando tertinggi dan, meskipun dikagumi oleh tentaranya, belum mendapatkan kepercayaan dari para perwiranya. Semangat tentara Russia juga ada di titik yang rendah. Karena luasnya Siberia, perbekalan baru datang setelah diangkut baik dengan kereta api melalui jalur tunggal sejauh ribuan mil atau setelah diangkut dengan berlayar dari belahan bumi lainnya. Pakaian musim dingin yang cocok digunakan baru saja mencapai pasukannya sebulan sebelumnya. Yang memperburuk masalah adalah komando tentara yang terbagi. Tokoh yang dituding paling memecah belah adalah calon politikus Jenderal Oscar Kazimirovich Grippenberg. Setibanya di Manchuria, Grippenberg membual, “Jika ada di antara kalian yang mundur, saya akan membunuhmu. Jika aku mundur, bunuh aku. ” Faktanya dia tidak berniat mendukung keberanian seperti itu dengan patuh membantu Kuropatkin. Prioritas pertama Kuropatkin adalah memperlambat, jika tidak mencegah sepenuhnya, kedatangan pasukan Nogi. Sementara Rusia terus menerima bala bantuan, kualitas mereka tidak sebanding dengan veteran tentara Nogi di Port Arthur. Untuk mencapai tujuannya, Kuropatkin memilih untuk mengambil keuntungan dari keunggulan pasukan kavaleri Rusia dengan melancarkan serangan berkuda di belakang garis pertahanan musuh untuk memutuskan jalur kereta yang dikendalikan Jepang yang membentang ke utara dari Port Arthur. Jika semua berjalan sesuai rencana, serangan Rusia berikutnya akan memiliki peluang sukses yang sangat besar. 

Jenderal Alexei Kuropatkin, komandan tertinggi Pasukan Darat Russia di Manchuria dalam Pertempuran Mukden. (Sumber: https://www.britannica.com/)

Pada tanggal 8 Januari, 7.500 personel kavaleri Rusia dan pengintai yang ditempatkan di bawah pimpinan Pavel Ivanovich Mishchenko berangkat untuk melakukan penyerangan. Hal itu terbukti telah menjadi bencana sejak awal. Kemajuan yang diperoleh satuan kavaleri Russia sangat lambat ketika tentara Rusia terhenti pada beberapa garnisun Jepang di sepanjang rute mereka dan berhenti tanpa tujuan untuk menyerang mereka. Unsur kejutan pun hilang. Setelah mencapai target utamanya di Stasiun Inkou, Mishchenko hanya mampu melakukan serangan artileri singkat sebelum bala bantuan Jepang yang besar memaksanya untuk mencoba melakukan serangan frontal cepat. Pasukan Jepang dengan mudah memukul mundur serangan itu, dan dengan posisi mereka yang sekarang tidak dapat dipertahankan, Tentara Rusia mundur. Penyerangan Mishchenko tidak menghasilkan apa-apa kecuali untuk membuktikan bahwa Pasukan Nogi belum terhubung dengan Pasukan Oyama. Hanya ada kerusakan kecil pada jalur komunikasi Jepang, yang semuanya dapat diperbaiki dalam hitungan jam. Mengutip pendapat seorang pengamat Rusia yang apatis, “Hasil yang dicapai oleh detasemen Russia tidak memperkuat harapan kami.” Nyatanya, penyerbuan itu hanya membuat Oyama semakin waspada, mendorongnya untuk mendesak Nogi agar bergegas maju ke garis depan. 

Jenderal Maresuke Nogi. (Sumber: http://www.oldtokyo.com/)

Nogi belum tiba di tempat ketika Kuropatkin melancarkan serangan besar Rusia pada 25 Januari. Pilihan strategi Kuropatkin sangat kontroversial bagi para perwiranya. Banyak yang ingin mencoba serangan mengapit daripada melakukan serangan frontal yang tumpul. Pemimpin di antara para penentang Kuropatkin adalah Grippenberg, yang telah memperdebatkan sudut pandang ini selama berminggu-minggu. Kuropatkin tidak mau mendengarnya, takut bahwa kebutuhan untuk melindungi sayapnya hanya akan menguras cadangan pasukannya. Setelah idenya ditolak, Grippenberg dengan cemberut menyatakan bahwa akan lebih baik jika tentara Rusia mundur seluruhnya saja. Jelas saja, nasihat ini pun ditolak, namun cukup menebar pesimisme di kalangan pimpinan. Jenderal Nikolai Petrovich Linevich, yang memimpin Tentara Manchuria Pertama, mengatakan hanya bahwa hanya ada “sedikit harapan untuk sukses”. Rusia dengan cepat menuai bencana. Ironisnya, fase awal penyerangan telah dipercayakan kepada jenderal yang paling menentang operasi tersebut — yakni Grippenberg. Gerakan sembrono di sepanjang bulan yang dilakukan oleh Pasukan Manchuria Kedua saat menuju ke posisi serangannya membuat pihak Jepang waspada terhadap rencana strategi Rusia jauh sebelum serangan dimulai. Selain itu, sekelompok jenderal pimpinan Kuropatkin, yang telah dikirim oleh Czar Nicholas II dan penasihatnya di St. Petersburg alih-alih dipilih secara pribadi oleh Kuropatkin, gagal mengoordinasikan upaya mereka dengan baik. Badai salju yang membutakan dan suhu 25 derajat di bawah nol juga sangat memperburuk situasi.

Jenderal Oscar Kazimirovich Grippenberg yang kerap berseberangan pendapat dengan Jenderal Kuropatkin. (Sumber: https://ja.wikipedia.org/)

Kegagalan yang diakibatkan hal diatas kemudian dikenal sebagai Pertempuran Sandepu. Jepang, yang sudah mengetahui rencana dari strategi Rusia, lebih jauh terbantu ketika Grippenberg secara prematur melancarkan serangannya dari sebelah sayap kanan Rusia. Dengan melakukan itu, dia gagal mengoordinasikan serangan dengan pasukan Jenderal Alexander Vasilyevich Kaulbars dan, akibatnya, maju terlalu dalam dan terisolasi. Dua barisan dari pasukan Tentara Manchuria Kedua juga menyerang target yang salah, yang sama sekali tidak ada tentara musuh, sedangkan artileri secara keliru membombardir Heikoutai daripada Sandepu. Terlepas dari kesalahan, Rusia berhasil mendapatkan beberapa wilayah, tetapi Kuropatkin tiba-tiba menjadi bimbang dan menolak untuk melibatkan satuan cadangannya. Serangan balik dari pihak Jepang dengan cepat merebut semua wilayah yang sudah Rusia dapatkan. Pada tanggal 28 Januari, Kuropatkin membatalkan serangan yang masih baru saja diluncurkan itu. Segera, argumen sengit meletus tentang siapa yang bertanggung jawab atas 14.000 tentara Rusia yang menjadi korban dalam bencana itu. Adalah tidak mungkin “bermimpi bisa sukses setelah kedatangan Nogi,” demikian keluh Grippenberg untuk membenarkan tindakannya yang terlalu dini itu. Dia menuding kegagalan Kuropatkin untuk sepenuhnya mengerahkan pasukan cadangan sebagai penyebab utama dari kekalahan tersebut. Tidak mengherankan, jika Kuropatkin, kemudian menuduh balik bahwa pengerahan kekuatan Grippenberg yang canggung dan serangannya yang prematur, sebagai kesalahan komandan Angkatan Darat Manchuria Kedua itu yang menyebabkan kegagalan tentara Russia. Tidak mau disalahkan, Grippenberg kemudian mengaku sakit dan mengajukan petisi untuk mengijinkannya pergi memulihkan diri, yang mana ijin tersebut segera diberikan oleh St. Petersburg. Dia kemudian akan menjelaskan kepada tsar langsung bahwa Kuropatkin-lah penyebab masalah yang sebenarnya. Kuropatkin, sementara itu, marah dengan perlakuan lunak pemerintah terhadap Grippenberg dan bagaimana dia ditinggalkan sendiri dengan pasukan yang sangat terguncang oleh kekalahan dan kepemimpinan yang tidak padu. 

Jenderal Pavel Ivanovich Mishchenko yang memimpin serangan kavaleri Russia yang gagal dalam Pertempuran Sandepu. (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/)

Setelah pertempuran di Sandepu, tentara Rusia mundur ke utara tidak jauh dari Mukden. Di sana, dengan garis depan yang membentang lebih dari 90 mil, Pasukan Rusia menggali pertahanan. Meskipun mengambil posisi bertahan, Kuropatkin tetap berkomitmen untuk mencapai kemenangan di Manchuria melalui tindakan ofensif. Bagaimana tepatnya serangan seperti itu akan dilakukan setelah kekalahan baru itu masih jauh dari jelas. Oyama sendiri, juga, punya rencana untuk menyelesaikan urusan di Manchuria dengan melakukan serangan. Tekanan padanya sangat besar. Meskipun mendapat banyak kemenangan, Jepang telah mencapai batas kapasitas perangnya. Semua sumber dayanya untuk operasi darat sekarang dikumpulkan di Manchuria. Pukulan yang menentukan untuk mengakhiri perang dengan kemenangan mutlak diperlukan sebelum waktu berbalik melawannya. Pukulan itu harus segera dilakukan, tegas para pemimpin Jepang, dengan sambil terus-menerus mengulangi pernyataan tentang perlunya mencapai apa yang disebut “Sedan yang Kedua”. Untuk membantunya dalam tujuan ambisius mengulangi kemenangan Jerman atas Prancis dalam Perang Prancis-Prusia tiga dekade sebelumnya, Oyama memiliki beberapa peralatan baru yang dia miliki. Setelah melewati perjalanan yang melelahkan melalui kondisi musim dingin yang mengerikan, Tentara Ketiga Nogi akhirnya berhasil mencapai garis depan, dengan membawa serta senjata pengepungan besar-besaran yang secara efektif mengurangi kemampuan pertahanan di Port Arthur. Bala bantuan baru dari Jepang, mungkin yang terakhir bisa diberikan juga sedang dalam perjalanan, berbaris dari tenggara di bawah pimpinan Jenderal Kawamura Kageaki. Tidak mau membuang waktu lagi. Oyama memutuskan bahwa jika dia ingin sukses, penting baginya untuk menyerang sebelum musim semi yang akan datang mencairkan banyak sungai di daerah itu dan memberi Rusia pertahanan alami tambahan. 

Lukisan Pertempuran Sedan; bagian dari Perang Perancis Prusia (1870-71) yang menghasilkan Penyatuan Jerman dan perebutan wilayah Alsace-Lorraine oleh Jerman. Pertempuran yang menentukan seperti inilah yang diincar Jepang dalam Pertempuran di Manchuria 1904-1905. (Sumber: https://www.sutori.com/)

Secara kebetulan, baik Rusia maupun Jepang telah menyelesaikan rencana ofensif mereka pada tanggal 19 Februari. Rencana Kuropatkin identik dengan yang dia rencanakan di Sandepu. Dia bermaksud untuk memulai pertempuran dengan melempar pasukan di sayap kanannya menyerang ke posisi kiri musuh, meskipun kali ini dia akan mencoba untuk mengepung lawannya daripada hanya menyerang dari arah depan. Tapi strategi Kuropatkin didasarkan pada data intelijen yang sangat salah. Meskipun dia menyadari kehadiran Nogi dan kedatangan Kawamura, dia salah menilai penempatan mereka di garis depan dan kekuatan masing-masing dari pasukan lawannya. Berhadapan dengan divisi veteran Nogi di sisi kanan pasukan Jepang, komandan Rusia secara keliru menganggap bahwa seluruh Tentara Ketiga Jepang ada di sebelah kanan. Faktanya, Tentara Ketiga berada di sebelah kiri bersembunyi di belakang Tentara Kedua, sama sekali tidak terdeteksi oleh pengintaian Rusia yang buruk. Lebih buruk lagi, Kuropatkin benar-benar salah menilai ukuran kekuatan Kawamura di sisi timur. Dianggap sebagai Tentara Kelima atau Tentara Yalu, kekuatan Kawamura sama sekali bukanlah satuan setingkat “Army”, tetapi hanyalah sebuah divisi dan beberapa pasukan cadangan. Gambaran palsu itu adalah tipuan yang dirancang dengan brilian untuk mendorong orang-orang Rusia agar percaya bahwa Jepang memiliki lebih banyak tentara di Mukden daripada yang sebenarnya. Informasi intelijen Oyama, ternyata, sedikit lebih baik. Seperti musuh bebuyutannya, Oyama tidak tahu bahwa lawannya sedang mempersiapkan serangan dalam waktu dekat, meskipun pengerahan pasukan Rusia yang terdeteksi menunjukkan hal yang sama. Sebaliknya, komandan Jepang mempercayai kemampuannya untuk bergerak lebih cepat daripada musuhnya dan, berdasarkan pengalaman sebelumnya, berasumsi bahwa rencana serangannya yang rumit akan secara efektif membuat bingung struktur komando Rusia, sehingga akan menyebabkannya runtuh sepenuhnya. 

“UNTUK MENYELESAIKAN MASALAH PEPERANGAN” 

Untuk mencapai kemenangan yang menentukan, Oyama merencanakan pengepungan ganda yang berisiko tinggi dan besar-besaran melawan tentara Rusia yang lebih banyak jumlahnya. Gerakan tersebut akan dilakukan melalui serangkaian aksi militer yang sengaja dirancang untuk menyamarkan niat sebenarnya. Pertama, dia akan memancing orang Rusia di sebelah timur, dengan menggunakan kekuatan Kawamura untuk mempermainkan ketakutan Kuropatkin yang tidak realistis bahwa pihak Jepang bermaksud menyerbu ke pelabuhan Vladivostok. Sementara itu, bagian pusat dari pasukan Jepang yang melemah akan mempertahankan ofensif yang konsisten meski umumnya lemah untuk menarik musuh menjauh dari area target sebenarnya di sebelah barat. Di sana Nogi akan menyerang, mengepung sayap kanan Rusia yang kekuatannya telah terkuras dan membuka kontak dengan pasukan Kawamura yang bergerak dari arah barat untuk menyelesaikan pengepungan dan menghancurkan tentara Rusia. Bagian tengah dan kanan adalah umpan sedangkan sebelah kiri pasukan Jepang adalah palunya. Meskipun sangat percaya diri, Oyama tidak memiliki gambaran tentang kelemahan pasukannya sendiri. Pada pertemuan dewan perang di Liaoyang pada tanggal 20 Februari, dia menekankan perlunya melakukan upaya pengejaran yang lebih baik daripada yang diperlihatkan dalam perang sebelumnya. Sadar akan situasi kekuatan Jepang secara keseluruhan, Oyama menginstruksikan para jenderalnya: “Tujuan pertempuran ini adalah untuk menyelesaikan masalah perang ini. Karena itu, pertanyaannya bukanlah tentang menduduki titik-titik tertentu atau merebut bidang wilayah musuh. Namun pada dasarnya musuh harus mendapatkan pukulan keras. ” Saat dia mengucapkan kata-kata itu, pertempuran awal di sebelah timur sudah dimulai. Oyama memiliki pekerjaan yang sukar untuknya. Tentara Jepang berjumlah sekitar 207.000 orang dibandingkan dengan 276.000 tentara Rusia. Jepang juga menghadapi kekurangan dalam hal satuan artileri dan kavaleri, dengan memiliki 1.000 senjata artileri dibanding 1.200 di pihak Rusia dan hanya memiliki 7.350 prajurit kavaleri yang menghadapi 16.000 prajurit kavaleri di pihak musuh. Meski demikian, Jepang memiliki keunggulan besar dalam persenjataan senapan mesin, dimana mereka memiliki sekitar 250 pucuk dibanding 54 di pihak Rusia. 

Jenderal Ōyama Iwao, komandan pasukan darat Jepang di Manchuria dalam Perang melawan Russia tahun 1905. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

Tentara Rusia ditempatkan dari barat ke timur dalam barisan yang tipis, dengan sedikit cadangan yang ditempatkan di tengah. Pertahanannya di sepanjang garis cukup tangguh, namun tidak ada pemusatan kekuatan yang dapat memberi pukulan menentukan sehingga banyak komandan mempertanyakan seluruh strategi berpikiran ofensif Kuropatkin. Yang mempertahankan sayap kanan Pasukan Russia adalah Tentara Manchuria Kedua, yang ditempatkan di antara Sungai Hun dan rel kereta api yang mengarah ke utara ke Mukden. Kaulbar sejak itu telah menggantikan Grippenberg sebagai komandannya. Sementara itu, yang menggantikan Kaulbar di tengah sebagai komandan Tentara Manchuria Ketiga adalah A.A. Bilderling, yang kekuatannya ditempatkan berada di antara rel kereta api dan Bukit Putilov. Di timur, “Serigala Siberia” Linevich mempertahankan komando Pasukan Manchuria Pertama, sementara di sebelah kirinya, di antara perbukitan terjal di sayap timur jauh, terdapat dua pertiga kekuatan kavaleri di bawah Jenderal Paul von Rennenkampf. Pada tahap awal pertempuran, Tentara Ketiga Nogi masih bersembunyi di belakang Tentara Kedua Jepang yang dipimpin oleh Oku Yasukata, tapi saat rencana Oyama dimulai, mereka akan mengambil tempat yang ada di dataran di sayap paling kiri. Banyak di antara komandan Jepang menahan napas. Mereka sudah lama takut Nogi menjadi tidak kompeten, dan Oyama membutuhkan semua upaya untuk mempertahankannya dalam garis komando. Tepat di sebelah kanan Oku adalah Nozu Michitsura, memimpin Tentara Keempat Jepang, sedangkan di sebelah kanan Nozu adalah Tentara Pertama Jepang di bawah pimpinan Kuroki Tamemoto. Adalah merupakan tanggung jawab Kuroki untuk mendukung Tentara Kelima Kawamura di tahap awal pertempuran yang mengecoh. 

Jelang pertempuran Mukden, pihak Jepang kalah jumlah personel dan persenjataan dibanding pihak Russia, kecuali pada persenjataan senapan mesin. (Sumber: https://www.gettyimages.com/)

Tahap awal pertempuran dimulai pada tanggal 23 Februari. Dengan pertambangan Fushun sebagai sasaran tujuannya, serangan Kawamura menghadapi sayap kiri Rusia dimulai dengan cemerlang, dengan cepat melewati pos terdepan musuh dan mengancam posisi sayap. Tapi medannya sulit dan cuacanya buruk, dan kecepatan Kawamura segera melambat. Pihak Rusia memiliki keunggulan jumlah yang cukup besar di timur di belakang parit pertahanan, dan mereka menggunakan kekuatan mereka untuk menghentikan para prajurit Jepang veteran Port Arthur. Namun demikian, Kuropatkin gugup, yang kemudian memicu hiruk pikuk aktivitas di belakang garis pertahanan Rusia saat pasukan dari barat dengan panik dipindahkan ke timur. Meskipun Oyama sama sekali tidak menyadari mengapa demikian, strateginya bekerja dengan sangat baik. Unit-unit Rusia berlomba melintasi garis depan, menipiskan pertahanan mereka di dataran untuk membuang energi mereka di wilayah pegunungan, yang sebenarnya hanya membutuhkan unit yang jauh lebih sedikit untuk membuat penghalang yang efektif. Proses kontraproduktif itu benar-benar melelahkan ribuan tentara Rusia. Banyak unit melakukan perjalanan lebih dari 50 mil, hanya untuk dipaksa melakukan perjalanan pulang kembali, sehingga membuat mereka hampir seluruhnya tidak berguna karena kelelahan. Ketika Kuropatkin memerintahkan Divisi Siberia Pertama untuk memisahkan diri dari Tentara Manchuria Kedua dan berbaris ke arah timur, dia secara efektif mengakhiri segala kemungkinan untuk meluncurkan serangan yang direncanakannya sendiri. Pembatalan resmi datang tak lama kemudian. 

Pertarungan brutal dengan ayunan pedang terjadi antara kavaleri Rusia dan Jepang pada awal kampanye Mukden. Rusia kemudian gagal memutuskan jalur kereta api Jepang ke Port Arthur. (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/)

Besarnya bala bantuan Rusia menghentikan gerakan Kawamura. Dengan keunggulan numerikal dua banding satu, Linevich melakukan serangan balik dengan satuan kavaleri Rennenkampf, tetapi para penyerang dengan cepat mengalami kesulitan yang sama yang telah menghambat pasukan Jepang, dan serangan itu tidak menghasilkan apa-apa. Keesokan harinya, dengan menerobos badai salju yang membutakan, Tentara Yalu menyerang lagi, kali ini dipimpin oleh Divisi Kobi Pertama. Dilindungi dengan tembakan artileri, Pasukan Jepang menembus ke dasar perbukitan tempat pertahanan Rusia berada. Hanya kawat berduri lah yang mencegah kemajuan mereka lebih lanjut. Sedikitnya keberhasilan Jepang disebabkan langsung oleh aktivitas pertempuran di bagian tengah. Untuk mendukung Kawamura, Tentara Pertama Jepang melancarkan pemboman pada posisi Rusia di perbukitan Deniken dan Beresnev. Setelah sejumlah serangan brutal, Jepang berhasil merebut puncaknya. Pasukan Jepang selanjutnya berpindah untuk bisa terhubung dengan Kawamura, tetapi perlawanan Rusia yang kukuh menghentikan harapan mereka untuk menyatukan front. Pada tanggal 27 Februari, Nozu, dengan bersenjatakan howitzer kaliber 11 inci yang dibawa Nogi dari Port Arthur, memulai serangan tanpa ampun di perbukitan Putilov dan Novgorod. Meskipun korban hanya sedikit, tembakan howitzer menghujani posisi Rusia, menyebabkan banyak penderitaan dan membuat seorang perwira yang terguncang putus asa, berpendapat “Tidak mungkin untuk mempertahankan garis depan sekarang.” Tapi prajurit di bagian pusatnya bertahan. Masalah sebenarnya berada jauh di barat, di mana situasinya ditakdirkan untuk menjadi jauh berbeda.

Dalam Pertempuran Mukden, pasukan Jepang membawa juga meriam howitzer kelas berat kaliber 11 inchi untuk menghantam posisi-posisi Russia. (Sumber: https://www.britannica.com/)
Jenderal Linevitch menginspeksi pertahanan Rusia. (Sumber: https://www.accessible-archives.com/)

Meskipun beberapa komandan Rusia sudah lama takut akan serangan di sisi kiri mereka, namun peringatan mereka tidak diindahkan. Serangan besar-besaran terhadap perbukitan Putilov dan Novgorod meyakinkan Kuropatkin bahwa serangah utama Jepang masih ditujukan ke bagian tengah Tentara Russia. Ketika serangan yang sebenarnya terjadi, dia benar-benar terkejut. Saat itu, lebih dari 40 batalion dan 100 meriam telah dipindahkan dari kanan dan tengah tentara Rusia ke sebelah kiri. Ketika Kaulbars menghadapi serangan utama musuh, dia telah kehilangan banyak pasukan terbaiknya. Konsekuensi bencana dari pemindahan pasukan ini segera dirasakan. Di saat pihak Rusia tidak mendeteksi keberadaannya selama beberapa waktu, Nogi mengirimkan Tentara Ketiga Jepang untuk melawan bagian sayap kanan Rusia bersamaan dengan pemboman artileri di bagian tengah. Tentara Jepang dengan gerakan yang menipu mampu menyembunyikan infanteri mereka di balik manuver pasukan kavaleri selama fase awal serangan. Ketika Satuan Cossack di bawah Jenderal M.I. Grekov bertemu dengan prajurit pertama Jepang, mereka tidak tahu bahwa mereka sedang menghadapi kekuatan penuh dari pasukan Nogi. Terlepas dari itu, setelah menunjukkan perlawanan singkat, Pasukan Cossack mundur. Sekarang sepenuhnya tanpa hambatan, kemajuan pasukan Jepang mendapatkan momentum. Keesokan harinya, para penyerang hampir mengepung posisi sayap kanan Rusia. Keberhasilan Nogi tidak kecil karena serangannya dibarengi dengan pemboman artileri besar-besaran satuan Jepang lainnya, kali ini dilakukan oleh satuan Oku terhadap pasukan Kaulbar. Tujuan Oku adalah untuk mengalihkan perhatian para prajurit Kaulbar sementara Nogi menyelesaikan pengepungannya. Seperti di sektor lain, serangan itu tidak banyak merusak pertahahanan Rusia, tetapi cukup meyakinkan Kuropatkin bahwa bahaya sebenarnya ada di sebelah kanannya. Sayangnya bagi Rusia, kesadaran itu tidak mengurangi kebingungan dalam rantai komando mereka. Berbagai perintah kontradiktif mengalir bolak-balik, mengirim bermacan unit ke segala arah saat para jenderal berjuang untuk memahami situasi yang berubah dengan cepat. 

Tentara Jepang di parit pertahanan di luar kota Mukden. (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/)

Tentara Ketiga Jepang maju hampir tanpa hambatan selama tiga hari sampai badai salju akhirnya memaksanya untuk melambat pada 2 Maret. Sehari sebelumnya, posisi sayap Nogi telah terbuka untuk sementara saat menduduki kota Hsinmintun, tetapi pasukan Rusia tidak dalam posisi untuk melakukan serangan balik. Sementara itu, pihak Jepang mulai menunjukkan kelemahan. Kurangnya persediaan dan peta yang tidak memadai dikombinasikan dengan cuaca berbahaya mulai merusak momentum serangan mereka. Kemudian, juga, musuh mereka akhirnya mulai menunjukkan kemampuan tempurnya. Meskipun Rusia gagal memanfaatkan peluang apa pun untuk mengganggu pergerakan pasukan Nogi, namun mereka berhasil mengubah lini depan mereka dengan baik. Tidak seperti pasukan kavaleri, infanteri Rusia bertempur dengan berani, bahkan meski komandannya yang kebingungan tidak banyak membantu tujuan mereka. Anak buah Kaulbar berhasil menahan serangan Oku, meskipun serangan ini terbatas dan hanya dimaksudkan untuk mengalihkan perhatian dari sayap. Namun demikian, Kaulbar dan Bilderling, perlahan mulai memahami posisi genting mereka, mereka mulai panik dan memerintahkan sebagian besar perbekalan mereka ditarik ke Mukden. Bantuan, bagaimanapun, lambat laun sedang dalam perjalanan. Sementara itu, Kuropatkin telah mengumpulkan pasukan cadangan yang cukup pada tanggal 2 Maret untuk melakukan serangan balik terhadap Nogi, dimana mereka memiliki peluang untuk membalikkan keadaan. Dia memerintahkan Kaulbar untuk membentuk dua satuan dan menyerang ke barat di sisi Nogi. Sementara M.V. Launitz, yang masih tersisa ditugaskan untuk memimpin barisan depan Tentara Manchuria Kedua di seberang posisi Oku, dan diperintahkan untuk melepas tenaga tambahan dengan mengurangi barisannya lewat penarikan yang hati-hati ke arah Sungai Hun. Setelah melawati beberapa kesulitan, hal ini tercapai, tetapi tidak banyak berpengaruh pada hasil serangan balik Kaulbar. Faktanya, Kaulbar hampir tidak memiliki kesempatan. Saat satuan pertama, yang dipimpin oleh Jenderal D.A. Topornin, menghadapi perlawanan keras, Kaulbar dengan panik memerintahkannya untuk menghentikan serangan itu. Hal ini meninggalkan satuan kedua di bawah Jenderal Alexander Birger seluruhnya dalam kesulitan. Percaya bahwa dia terputus dari satuan utama Russia, Birger akhirnya juga mundur. 

Pertempuran Mukden tahun 1905 adalah pertempuran berdarah yang memakan korban besar di pihak Russia dan Jepang. Pertempuran seringkali dilakukan dalam jarak dekat. (Sumber: https://id.pinterest.com/)

Pada tanggal 4 Maret, Kuropatkin memerintahkan Launitz untuk menyerang balik Oku sebagai persiapan untuk upaya baru melawan Nogi. Jepang, bagaimanapun, tidak tertipu karena Rusia tidak berusaha membuat tipu muslihat apapun lebih jauh ke arah timur. Kuropatkin berharap untuk mendapat keberuntungan yang lebih baik untuk kedua kalinya berkat kembalinya Divisi Siberia Pertama ke dalam komando pimpinan Kaulbar. Selain itu, selama 24 jam sebelumnya, pergerakan Nogi ke arah utara telah memperpanjang garis pertahanan Jepang dengan buruk, membuatnya rentan terhadap serangan balik yang kuat. Menjelang malam, Tentara Ketiga Jepang tiba di barat Mukden. Jika Rusia ingin menghindari kekalahan, waktu untuk mengambil tindakan tegas telah tiba. Kaulbar melancarkan serangan balik keesokan paginya. Serangan pertama dipimpin oleh Konstantin Tserpitski, yang dengan berani memberi tahu tentaranya saat mereka berangkat: “Anak-anak, Rusia selalu menaklukkan lawanya. Kita akan menaklukkan sekarang. Maju dan sapu orang pagan Jepang ini ke neraka. Tidak akan ada gerak mundur. ” Serangan yang lebih berat, bagaimanapun, dilakukan oleh A.A. Grengross di ujung utara. Dengan Satuan Siberia Pertamadi bawah komandonya, Grengross diperintahkan untuk menyerang posisi sayap Nogi yang terbuka, yang jika berhasil akan menghancurkan strategi Jepang. Sekali lagi, kekacauan pada tingkat komando berlanjut sepanjang hari itu. Pada awal operasi, Kaulbars mengubah rencana secara misterius dengan mentransfer satuan-satuan dari Grengross untuk mendukung Tserpitski. Jadi, seluruh strategi dikompromikan. Grengross dan Satuan Siberia Pertama yang kelelahan diminta bertahan hingga akhir. Lebih buruk lagi, satuan utara, alih-alih menghantam sisi Nogi, malah bergerak langsung menghadapi ujung tombak Tentara Ketiga Jepang itu sendiri dan nyaris mengalami pengepungan. Dengan segala sesuatu yang berantakan di sekitarnya, Kaulbar memerintahkan penarikan diri pasukan Russia. Kuropatkin yang marah mengarahkan semua rasa frustrasinya pada komandan sayap kanannya yang terkepung. “perlu dipertanyakan kepada komandan Angkatan Darat Kedua apakah dia benar-benar bertarung dengan pasukannya,” kata Kurpatkin dengan mencemooh, “dan bukan dengan beberapa prajurit pemberani sementara sisa pasukannya hanya menonton.” 

PENARIKAN MUNDUR PASUKAN RUSSIA

Dari berbagai sisi, Rusia memang kurang beruntung. Kuropatkin, meskipun tidak mau meninggalkan pertarungan melawan pasukan Jepang, hanya melihat sedikit jalan lain yang bisa dia lakukan selain melakukan penarikan mundur secara tertib ke belakang Sungai Hun. Bilderling kemudian diperintahkan untuk bergabung dengan Kaulbar dalam upaya itu sementara Linevich ditugaskan bertahan dalam upaya putus asa untuk mencegah bergabungnya pasukan Kuroki dan Kawamura. Sejauh ini, Tentara Manchuria Pertama telah menggunakan medan itu untuk keuntungan mereka dengan baik dalam menghentikan pergerakan pasukan Kawamura. Di lain sisi Oyama bertekad untuk membawa Tentara Kelima bergerak lagi dan mengarahkan Kuroki untuk membantunya. Dengan diperkuat oleh fakta penarikan sebagian Pasukan Rusia, tentara Jepang dengan keras memperbarui serangan mereka di sepanjang garis pertempuran. Pada tanggal 6 Maret, Oku melancarkan serangan besar-besaran terhadap Tentara Manchuria Kedua yang selanjutnya membuktikan kebenaran keputusan Kuropatkin untuk membangun kembali dirinya di belakang Hun. Di timur, Linevich tidak lagi mampu mencegah penguatan Kuroki atas Kawamura dan pasukan Jepang secara bertahap mulai mendesak pasukan Rusia mundur dari perbukitan. Kuropatkin kemudian memerintahkan Linevich untuk mundur juga. Namun, seperti biasa, medan pertempuran paling kritis adalah wilayah barat. Pada tanggal 7 Maret, Nogi telah membuat kemajuan besar dan hampir memotong jalur kereta api di utara Mukden, yang akan memutuskan komunikasi pasukan Rusia. Itu adalah ancaman mengerikan yang tidak bisa diabaikan Kuropatkin. Dia beruntung telah memerintahkan penarikan pasukannya tepat waktu, karena hal itu memungkinkannya untuk sekarang bereaksi secara efektif. Setelah memperpendek garis pertahanannya, Kuropatkin mampu memanfaatkan kelebihan jumlah personel yang dibebaskannya dari pertahanan sebelumnya untuk memperpanjang posisi sayap kanannya di sepanjang jalur rel utara Mukden dan berhasil memblokir serangan Nogi.

Artileri Russia di Mukden yang berhawa dingin menggigit. (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/)

Terlepas dari keberhasilan yang terbatas ini, kesatuan tentara Rusia mulai goyah. Sebagian besar tidak menyadari apa yang terjadi di medan barat, Bilderling dan Linevich kecewa dengan perintah mundur Kuropatkin. Sementara itu, kekacauan merajalela di garis belakang. Disiplin merosot karena banyak tentara yang dalam keadaan mabuk. Yang paling kritis dari semuanya, kebingungan dan kondisi yang sangat padat membuat pemindahan unit yang terorganisir hampir tidak mungkin, menghilangkan setiap opsi kecuali mundur total. Tampaknya asumsi Oyama sebelumnya tentang musuhnya terbukti akurat. Oyama melancarkan serangan terakhirnya melawan pasukan Rusia pada hari berikutnya di sepanjang garis depan. “Saya bermaksud untuk mengejar mereka dengan sungguh-sungguh dan mengubah gerak mundurnya musuh menjadi kekalahan,” katanya. Oku, Nozu, dan Kuroki kemudian juga maju ke tengah, menembus garis pertahanan baru Rusia, dan mengancam akan memotong pasukan Kuropatkin menjadi dua. Pada tengah hari tanggal 9 Maret, Tentara Pertama Jepang, di timur Mukden, berhasil memutuskan komunikasi antara Tentara Manchuria Pertama dan pasukan Rusia lainnya. Sementara itu di bagian barat, Nogi akhirnya berhasil menerobos, menghancurkan jalur kereta api di utara Mukden dan bergerak ke timur untuk bergabung dengan Kawamura dalam upaya untuk menjebak seluruh pasukan musuh. Skenario Sedan Kedua yang awalnya sulit diwujudkan, tiba-tiba menjadi sebuah kemungkinan yang bisa terjadi. 

Jenderal Kuropatkin, Komandan Pasukan Russia, di Stasiun Kereta Api di Mukden sedang mengarahkan Pasukan (1) dengan ditemani Raja Muda Cina (2). (Sumber: https://www.accessible-archives.com/)

Selama hampir dua hari, Kuropatkin bertekad untuk tetap bertahan, tetapi pada sore hari tanggal 9 Maret terlihat jelas bahwa jika tentaranya tidak segera mundur, maka pasukan itu akan dikepung dan dihancurkan. Pada pukul 18:45 dia mengeluarkan perintah untuk melakukan penarikan mundur seluruh pasukannya 40 mil ke utara ke Tiehling. Kurang dari dua jam kemudian, dengan perintah yang telah ditandatangani, tentara Rusia mulai mundur di tengah badai debu besar yang berlangsung hingga sepanjang hari berikutnya. Cuaca yang ganas, meski menghalangi gerak mundur pasukan dan semakin menambah kebingungan, ternyata juga berperan banyak dalam menyelamatkan pasukan yang telah dikalahkan itu dimana secara kebetulan cuaca yang brutal turut memperlambat jepitan pasukan Jepang. Sebelum mundur, Tentara Rusia dengan panik bekerja sedapat mungkin untuk menghancurkan apa pun yang dapat berguna bagi pihak musuh, termasuk perbekalan mereka di Mukden dan jembatan rel di atas sungai Hun. Sekarang pasukan Jepang yang ada di tengah sedang bergerak maju dengan cepat mengejar mereka. Situasi di area garis belakang penuh dengan kepanikan ketika tentara Rusia yang melarikan diri dan kereta bagasi menyumbat jalur rute pelarian yang menyempit, sementara badai debu secara drastis mengurangi jarak pandang. Ketika Kaulbar mendengar seorang perwira menanyakan tentang keberadaan Resimen ke-7, jenderal yang putus asa itu, dengan lengan di gendongan karena patah tulang selangka, kehilangan kesabaran. Resimen ke-7? serunya. “Saya tidak tahu apa yang terjadi dengan seluruh pasukan saya dan dia bertanya di mana Resimen ke-7 saya!”

Pasukan Russia mundur ke perbatasan setelah Pertempuran Mukden. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

AKHIR PERANG

Pasukan Penjaga di garis belakang melakukan tindakan yang berani meski banyak memakan korban untuk menyelamatkan sisa pasukan, bahkan mereka terpaksa meninggalkan sebagian besar prajurit yang terluka dalam prosesnya. Pada tanggal 12 Maret, sebagian besar tentara Rusia sudah bebas dari bahaya. Setelah gagal menutup kepungan dengan tepat waktu, pihak Jepang terpaksa berpuas diri dengan kemenangan yang tanggung dan keberhasilan merebut Mukden. Terlalu lelah untuk mengejar, mereka berhenti, membiarkan lawan mereka yang dikalahkan mundur dengan aman ke Tiehling. Meskipun mereka meninggalkan medan pertempuran setelah hampir dihancurkan, pada akhirnya Rusia berhasil menyelamatkan dirinya dari kekalahan total. Kekalahan mereka memang menelan korban hingga sekitar 70.000 tewas, terluka atau hilang, bersama dengan 20.000 lainnya ditangkap. Sementara itu, bagi Jepang Kemenangan yang mereka dapatkan, bagaimanapun, harus dibayar mahal Jepang, dengan menderita hampir 16.000 prajurit tewas dan 60.000 luka-luka. Kerugian tersebut, meskipun benar-benar mengerikan, adalah kerugian yang dapat diserap oleh Kekaisaran Rusia — setidaknya secara militer. Sebaliknya, kerugian Jepang sangat besar. Dengan sumber daya manusia dan material yang berkurang dengan cepat, kemenangan seperti Mukden terasa lebih seperti kekalahan. Setelah gagal mencapai pukulan yang menentukan, upaya perang Jepang nyaris menuju ke tepi jurang kegagalan. Dibutuhkan keajaiban yang sama sekali berbeda di luar Manchuria jika mereka ingin menang. Ternyata, Jepang tidak hanya mendapatkan satu keajaiban, melainkan dua. Saat pertempuran di Manchuria berkecamuk, revolusi mengguncang St. Petersburg, secara kritis hal ini merusak upaya perang Rusia dan mengancam monarki Romanov sendiri. Empat bulan kemudian, angkatan laut Jepang menyelesaikan di laut apa yang tidak bisa dilakukan tentara di darat, yakni menghancurkan armada Rusia di Selat Tsushima. Dalam sekejap, keunggulan sumber daya manusia Rusia di Manchuria tidak ada artinya lagi. Tsar yang putus asa memilih untuk berdamai — betapapun memalukannya hal itu. Sementara itu, dengan ini semua maksud dan tujuan dari Perang Rusia-Jepang berakhir.

Kekalahan armada Russia dalam Pertempuran Tsushima, Mei 1905 menjadi penutup Perang Russia-Jepang, yang menegaskan kebangkitan militer Jepang dan menurunnya kekuasaan Tsar Russia. (Sumber: https://www.rbth.com/)

Kemenangan Jepang ini mengejutkan kekuatan kekaisaran di negara-negara Eropa, karena mereka tidak mengira bahwa meskipun Rusia memiliki lebih banyak tenaga dan material, Jepang terbukti mampu membuat kewalahan pihak Russia selama pertempuran. Pertempuran Mukden tersebut juga menjadi bukti bahwa orang Eropa bukannya tidak terkalahkan dan bahkan bisa kalah telak dalam pertempuran. Dua jenderal Rusia, Aleksandr Samsonov dan Paul von Rennenkampf, komandan masa depan dari dua pasukan Russia kemudian akan terlibat dalam Pertempuran Tannenberg yang bahkan mengalami bencana yang lebih besar dalam Perang Dunia I dibanding kekalahan Russia di Mukden, uniknya mereka yang saling membenci dalam pertempuran semakin memperparah keadaan ketika von Rennenkampf, komandan sayap kiri Rusia selama pertempuran tersebut, dituduh oleh Samsonov gagal membantunya selama pertempuran, dan Samsonov kemudian secara terbuka mengeluh terhadap von Rennenkampf, suatu masalah klasik yang telah mengemuka di militer Russia seperti dalam Pertempuran Mukden seperti Kuropatkin yang kerap berseberangan dengan Jenderal-jenderalnya. Tapi berita kekalahan di Mukden ini lebih mengejutkan bagi Tsar Nicholas II ketika berita kekalahan Russia dalam pertempuran melawan Jepang mencapai istana di St. Petersburg; pertempuran itu membuktikan kepada mereka bahwa sebuah kerajaan Asia yang relatif kecil, seperti Jepang, dapat mengalahkan kerajaan Eropa yang kuat dan besar. Pemerintah tsar merasa kesal atas ketidakmampuan dan kecanggungan para komandan mereka selama pertempuran, dan pemerintah sangat frustrasi karena terpaksa kembali menggeser kebijakan imperialisnya ke wilayah Balkan setelah perang, yang akhirnya malah menjadi pendahulu dari Perang Dunia Pertama.

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

Bloodbath at Mukden: Imperial Russia and Japan Collide By Louis Ciotola

Battle of Mukden

https://www.storiespreschool.com/russo-japanese_war_battle15.html

Russia’s Bloody Retreat from Mukden By Bob Lester

https://www.google.com/amp/s/www.accessible-archives.com/2016/03/bloody-retreat-from-mukden/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *