Piasecki H-21 si “Pisang Terbang”: Dibuat Untuk Iklim Arktik Bertempur di Belantara Vietnam

Dalam hal tipe-tipe pesawat yang digunakan dalam perang di Vietnam, Perang Vietnam adalah perpaduan antara teknologi lama dan yang baru. Sementara pada awal tahun 1960an Amerika Serikat mengerahkan beberapa pesawat jet paling canggih pada saat itu, seperti F-4 Phantom, namun sebagian besar helikopter yang digunakan di Vietnam masih menggunakan mesin piston yang mulai ketinggalan jaman. Saat itu pengembangan Helikopter bermesin turbin gas memang sudah dimulai, tetapi sementara helikopter tipe baru itu belum diproduksi massal, militer Amerika harus menggunakan tipe-tipe helikopter bermesin piston yang sudah ada saat itu. Oleh karenanya, pada masa-masa itu Piasecki (nantinya Vertol) H-21, bersama dengan Sikorsky H-34 yang sudah beredar kemudian menjadi andalan pasukan serbu udara Angkatan Darat AS. H-21 memiliki desain unik yang menampilkan dua rotor utama dalam format tandem. Karena dua set bilah rotor tumpang tindih, badan pesawat dibuat miring ke atas di bagian belakang, sehingga unit rotor belakang memiliki posisi lebih tinggi daripada yang di depan. Karena bentuk badan pesawat yang aneh itu, H-21 kadang-kadang disebut sebagai “pisang terbang”.

Piasecki H-21 Shawnee/Workhorse alias si “Pisang Terbang” (Sumber: Pinterest)

LATAR BELAKANG DESAIN & SPESIFIKASI UMUM

Helikopter rotor tandem Piasecki H-21 lahir sebagai turunan dari produk Piasecki yang dimulai dengan desain helikopter HRP-1. HRP-1 yang sama-sama menggunakan sistem rotor tandem pertama kali terbang pada tahun 1945 sebelum akhirnya diadopsi oleh Angkatan Laut Amerika Serikat, Korps Marinir dan Satuan Penjaga Pantai. Dua puluh delapan prototype sempat diselesaikan dengan yang pertama masuk dinas operasional mulai dikirimkan pada tahun 1947. Dari desain ini, H-21 pada akhir 1940-an, dikembangkan dengan prospek untuk digunakan sebagai helikopter penyelamatan di cuaca dingin, seperti iklim Arktik. H-21 memiliki fitur musim dingin yang memungkinkan dioperasi pada suhu serendah -65 ° F (-54 ° C), dan dapat secara rutin dipertahankan di lingkungan cuaca dingin yang parah. Menanggapi persyaratan dari Angkatan Udara AS (USAF), Piasecki kemudian mengambil desain PD-17 dan meningkatkannya untuk menghasilkan desain “XH-21 (PD-22)”, yang kemudian menjadi dasar helikopter yang nantinya menjadi tipe definitif H-21. Prototipe XH-21 awalnya terbang pada 11 April 1952, dan diikuti pesanan USAF untuk 18 helikopter “YH-21” untuk evaluasi. Angkatan Udara Amerika Serikat yang puas dengan performa YH-21, kemudian memesan 32 helikopter jenis dan memperkenalkannya sebagai H-21 “Workhorse”. Karena bentuknya yang unik, H-21 – dan pendahulunya – diberi julukan lain, yakni “Pisang Terbang”. Penerbangan pertama dilakukan pada bulan April 1952, desainnya dibuat oleh Frank Piasecki sendiri.

H-21 pengembangannya didasarkan pada produk Piasecki sebelumnya, yakni HRP-1. (Sumber: https://www.airvectors.net/)

H-21 walau didasarkan pada desain HRP-1 tetapi memasukkan elemen yang lebih modern ke dalam konstruksinya untuk mendapatkan body yang lebih kuat. Kokpitnya didominasi oleh kaca untuk memberi penglihatan yang sangat baik bagi para kru dan diposisikan di ujung depan pesawat. Badan pesawat ditarik menurun ke bawah, memberikan penampilan “hidung” kokpit yang mendongak dan mengarahkan ujung ekor ke atas juga – memberikan H-21 tampilan yang paling unik seperti lengkungan pisang. Pada titik terendah badan pesawat terdapat kaki pendaratan utama tetap (beroda) di kedua sisinya sementara kaki beroda juga ditempatkan dibawah hidung, dengan format seperti Tricycle. Setiap rotor utama terdiri dari tiga bilah dan konstruksi melandai dari pusat badan pesawat memastikan bahwa kedua bilah rotor utama tidak saling berbenturan pada satu titik – sehingga mengurangi kemungkinan terjadinya kecelakaan fatal. Rotasi kedua rotor yang berlawanan ditujukan untuk mengurangi torsi  dan memaksimalkan kontrol/stabilitas penerbangan. Terdapat sirip ekor vertikal ganda yang terletak di luar posisi rotor utama belakang. Kapasitas internal, H-21 yang diawaki oleh dua orang di kokpit, teorinya mampu menampung  hingga 20 pasukan tempur dengan peralatan lengkap atau dua belas tandu medis dengan staf medis yang menyertainya (meski pada prakteknya, jumlah yang diangkut menyesuaikan kondisi di lapangan). H-21 menggunakan mesin radial Curtis-Wright R-1820-103 “Cyclone” berpendingin udara supercharged dengan kekuatan 1.425 tenaga kuda. Dengan rotor nya, panjang keseluruhan H-21 adalah 86 kaki, 4 inci (26,314 meter) dan tingginya 15 kaki, 9 inci (4,801 meter). Rotor berdiameter 44 kaki (13,411 meter) dan panjang badan pesawat 52 kaki, 7 inci (16,027 meter). Berat kosongnya adalah 8.950 pound (4.059,7 kilogram) dan berat lepas landas maksimum adalah 15.200 pound (6.894,6 kilogram). Untuk model terakhir CH-21C memiliki kecepatan maksimum 127 mil per jam (204 kilometer per jam) dan jangkauan 265 mil (427 kilometer). Ketinggian jelajahnya adalah 19.200 kaki (5.852,2 meter).

H-21 didesain sebagai helikopter angkut medium yang mampu membawa 22 personel infantry bersenjata lengkap. (Sumber: https://www.flickr.com/)
Kokpit dan kontrol penerbangan dari H-21. (Sumber: http://www.aviation-history.com/)

Dibanding dengan helikopter modern saat ini yang bermesin turbin dan memiliki sistem kontrol penerbangannya telah disederhanakan, Piasecki H-21 sulit untuk diterbangkan, sulit dirawat, tidak cocok digunakan di cuaca panas, rentan tembakan dari darat dan tentunya terhitung ketinggalan jaman. Baik H-21 dan H-34 yang menjadi mayoritas  helikopter yang digunakan di Vietnam, ditenagai oleh mesin radial Wright R-1820, jenis yang sama yang digunakan oleh pembom B-17 era Perang Dunia II. Agaknya, kenapa mesin Wright dipilih untuk digunakan adalah karena saat itu terdapat begitu banyak mesin ini yang tersedia, tetapi H-21 jelas membutuhkan tenaga yang jauh lebih besar daripada B-17 untuk bisa lepas landas dan terbang. Hal ini tentunya yang menciptakan masalah tambahan pada mesin yang tidak dibuat untuk memenuhi tuntutan semacam itu, lebih-lebih lagi B-17 bermesin 4 sedangkan H-21 cuma bermesin tunggal. Akibatnya, hanya beberapa mesin yang bisa bertahan lebih dari 400 jam operasional. Robert J. Brandt yang menerbangkan H-21 sebagai Letnan Satu dengan Kompi Helikopter Transportasi ke-33 dan sekaligus memimpin detasemen pemeliharaan selama tur penugasannya di Vietnam tahun 1962 – 1963, menjelaskan bahwa kelemahan sebenarnya CH-21 adalah pada mesinnya itu sendiri. Brandt menjelaskan: “CH-21 adalah helikopter yang sangat andal; namun, helikopter itu tidak dirancang untuk diterbangkan pada RPM tinggi dan tekanan berlipat ganda selama penerbangan, seperti layaknya pesawat reguler.” “Di pesawat bersayap tetap, anda menggunakan tenaga mesin penuh pada lepas landas dan menanjak, dan kemudian melambat kembali selama penerbangan; di helikopter, mesin selalu digunakan hingga batas kekuatannya sepanjang waktu, sehingga cepat aus. ” Tidak mengherankan, jika pengoperasian CH-21 dalam kondisi panas dan berdebu yang umum ditemukan di Vietnam memerlukan perbaikan mesin setelah hanya 150 jam penggunaan. Beberapa pilot membenci H-21 karena mereka kesulitan mengendalikan kedua baling-balingnya — mereka menyebutnya sebagai “binatang buas.” Tetapi mereka yang menerbangkannya dengan baik sangat menyukainya. Secara keseluruhan, sikap lebih dipengaruhi oleh kesukaan masing-masing. Hanya 707 unit yang dibuat hingga tahun 1959, ketika produksi helikopter ini berakhir, dibandingkan dengan jumlah Bell UH-1 “Hueys,” yang total diproduksi 16.500 unit, angka produksi H-21 terhitung kecil.

H-21 menggunakan mesin radial Curtis-Wright R-1820-103 “Cyclone”, sebuah derivatif mesin dari mesin yang umumnya digunakan pada pesawat-pesawat era Perang Dunia II, termasuk bomber B-17 “Flying Fortress”. (Sumber: http://ch-21c.blogspot.com/)

H-21A varian definitif pertama dari H-21 adalah tipe helikopter untuk misi Pencarian dan Penyelamatan (SAR) yang awalnya digunakan oleh USAF, tipe ini ditenagai oleh mesin Curtis-Wright R-1820-102 yang berkekuatan 1250hp. Seluruhnya dibuat 32 unit untuk AU Amerika dan 6 untuk AU Kanada, yang kemudian diikuti oleh “H-21B” yang dikembangkan menjadi helikopter transport serbu yang dibuat sekitar 163 unit. Tipe B menggunakan mesin model Wright 103 dengan kekuatan 1.425 tenaga kuda untuk meningkatkan kinerja helikopter secara keseluruhan. Mesin Wright R-1820-103 memberi kekuatan 1.275 tenaga kuda pada 2.500 rpm dan 1.425 tenaga kuda pada 2.700 rpm, pada saat lepas landas. Mesin ini memiliki rasio kompresi 6.80: 1 dan membutuhkan 100/130 bahan bakar. Mesinnya berukuran 4 kaki, 0,50 inci (1.232 meter) panjangnya, dengan diameter 4 kaki, 6,95 inci (1,396 meter), dan beratnya 1.350 pound (612 kilogram). Wright membuat 971 unit mesin R-1820-103 dari November 1950 hingga 1957. Selain itu, bilah rotor utama mengalami peningkatan pada diameternya dengan bilah tersebut memanjang sekitar enam inci. Tipe B juga memiliki beberapa lapisan baja untuk menambah proteksi, sistem autopilot, dan kemampuan untuk dipasangi dengan dua tangki bahan bakar eksternal. Royal Canadian Air Force (RCAF) segera bergabung dengan USAF dalam mengoperasikan seri H-21 (baik model A dan B). Pada awal 1950-an, USMC berminat pada H-21 dan beberapa model H-21A digunakan untuk evaluasi, namun mereka akhirnya tidak pernah mengadopsi heli ini. Selama tahun 1957, sebuah H-21B tiba dan digunakan sebagai helikopter penarik beban. Tipe B juga dibeli oleh pasukan bela diri Jepang dan AL Prancis masing-masing 10 unit. H-21C adalah sebutan untuk heli ini yang digunakan Angkatan Darat Amerika Serikat dengan mengusung nama “Shawnee” dan menggunakan mesin Wright 103. Tipe ini kemudian diberi kode ulang sebagai model “CH-21”. Produksi H-21 berlangsung dari tahun 1952 hingga 1959 dan dinas operasionalnya digunakan sampai tahun 1967. Pada prinsipnya tipe C mirip dengan H-21B, tetapi memiliki kapasitas angkut pasukan yang lebih besar, ditambah adanya kait di perut yang bisa membawa beban hingga 1.800 kilogram (4.000 pon). H-21C pertama kali terbang pada musim semi 1954, dengan Angkatan Darat memperoleh 188; beberapa sumber juga mengklaim Angkatan Darat juga mewarisi beberapa H-21B dari Angkatan Udara, dan memodifikasinya ke standar H-21C. Di luar Amerika Serikat, Kanada, Prancis dan Jepang, operator lain dari helikopter ini termasuk Jerman Barat dan Swedia. Sementara itu New York Airways mengoperasikan versi sipil helikopter ini lewat beberapa model yang dirancang khusus dengan mempertimbangkan kemampuan mengangkut penumpangnya.

Vertol CH-127 Workhorse milik Kanada (Serial No. 9591) dan (Serial No. 9592), di Greenwood, Nova Scotia. (Sumber: http://silverhawkauthor.com/)

Prancis menggunakan tipe H-21C mereka  selama Perang Aljazair (1954-1962) sebagai helikopter transport dan menjalankan peran tempur. Beberapa H-21 dipersenjatai dengan peluncur roket dan senapan mesin yang ditembakkan ke depan dan beberapa bahkan memiliki rak untuk muatan bom yang cukup berat. Tetapi, meskipun sangat baik sebagai helikopter pengangkat beban, H-21 tidak memiliki kemampuan manuver dan spesifkasi yang diperlukan untuk digunakan melaksanakan misi ofensif. Sebagian besar dilengkapi dengan senjata kaliber 12,7 atau 20 mm yang dipasang di pintu untuk pertahanan diri saja. Meskipun modifikasi ini kurang sukses, namun inisiasi Prancis ini menjadi tonggak awal dari penggunaan helikopter bersenjata yang muncul belakangan. H-21 Amerika juga dikerahkan selama Perang Vietnam (1955-1975) mulai Desember 1961 dan helikopter ini biasanya dipersenjatai dengan senapan mesin kaliber 7,62mm dan 12,7mm untuk tujuan pertahanan yang dioperasikan oleh crew yang terlatih. Bagaimanapun Shawnee seperti pengalaman yang dialami Prancis tidak pernah cocok sebagai helikopter bersenjata di mana ia mudah lumpuh ditembak, karena sistem listrik dan hidroliknya mudah rusak; Pasukan Angkatan Darat di Vietnam menyebut Shawnee sebagai “kecelakaan yang menunggu tempat terjadi”, dan konon rumornya sebuah heli ini lumpuh karena kena tombak! Karena dirancang untuk dioperasikan di cuaca dingin, helikopter ini kurang bertenaga digunakan di iklim “panas dan tinggi”. Kehadiran dan pengalaman penggunaan H-21 kemudian menandai berakhirnya desain Helikopter besar bertenaga piston. Penugasan mereka dalam konflik ini relatif singkat karena perannya di medan perang kemudian digantikan oleh Bell UH-1 “Huey” dan helikopter Boeing CH-47 “Chinook” yang baru, serta CH-46 “Sea Knight” (USMC/Marinir). Huey unggul dalam peran penyerangan/tempur sementara yang Chinook dan Sea Knight melanjutkan tradisi konfigurasi rotor-tandem dari H-21 untuk menjalankan peran angkut menengah/berat. Pengoperasian H-21 dalam perang Vietnam mulai berkurang dari tahun 1964 dan seterusnya. Helikopter H-21C milik AD AS menjadi helikopter Amerika pertama yang terbang melintasi negara itu secara non stop pada 24 Agustus 1954. Pengisian bahan bakar di udara telah memungkinkan penerbangan ini dilakukan. Pada tahun 1959, Vertol Aircraft mengakuisisi Piasecki, yang kemudian menjadi perusahaan Boeing Vertol. Versi angkut berat dari H-21 sempat dirancang, namun proyek ini tidak ada kelanjutannya, karena Boeing Vertol kemudian memfokuskan diri pada pengembangannya seri CH-46 dan CH-47.

CH-21 milik Prancis dalam Perang di Aljazair tahun 1958. Meski kurang sukses, namun penggunaan CH-21 di Aljazair sebagai helikopter bersenjata membuka jalan lahirnya helikopter gunship di masa mendatang. (Sumber: Pinterest)
H-21 milik Prancis yang dipasangi dengan peluncur roket. (Sumber: Pinterest)

KARIR TEMPUR DI VIETNAM

Ketika John F. Kennedy terpilih sebagai presiden pada tahun 1960, ia dihadapkan dengan banyak masalah tentang Vietnam. Penasihat militernya di Saigon meminta dikirimi pasukan tempur Amerika dan penambahan besar dalam dukungan satuan penerbangan. Walau  presiden Kennedy enggan mengirimkan pasukan tempur reguler, namun dia memberi wewenang tim Pasukan Khusus A.S. untuk ditempatkan secara strategis di seluruh Vietnam Selatan. Tetapi baru pada pertengahan 1961 Kennedy menyetujui peningkatan kekuatan satuan penerbangan. Penambahan ini datang dalam bentuk satu skuadron helikopter Korps Marinir yang menerbangkan helikopter Sikorsky H-34 dan lima kompi transport Angkatan Darat yang menerbangkan helikopter tipe Piasecki H-21. Karena umumnya helikopter Angkatan Darat dinamai sesuai dengan suku-suku Indian, helikopter itu secara resmi diberi nama H-21 Shawnee, tetapi karena bentuk badannya, helikopter ini lebih sering disebut sebagai “Pisang Terbang.” Dua kompi H-21 pertama, yakni satuan ke-57 dan ke-8, tiba di Vietnam pada akhir Desember 1961. Selama sembilan bulan berikutnya, kompi ke-3, ke-93 dan ke-81 tiba, dan pada bulan Oktober 1962 kelima kompi tersebut telah beroperasi penuh. Pada saat itu sekitar 11.000 personel Amerika sudah berada di Vietnam, termasuk para penasihat, crew unit penerbangan, Pasukan Khusus dan personel di Komando Bantuan Militer, Vietnam, atau MACV, organisasi yang bertanggung jawab atas semua pasukan tempur A.S. Saat itu terdapat peningkatan 9.000 orang dalam kurun waktu dua tahun, tapi itu semua baru permulaan. Pada 1968, akan terdapat lebih dari 535.000 tentara Amerika yang ditempatkan di Vietnam.

Helikopter H-21 dan crew nya termasuk personel Angkatan Darat Amerika yang pertama dikirimkan ke Vietnam pada bulan Desember 1961. (Sumber: https://bananahelicopter.files.wordpress.com/)

Sebuah Kompi helikopter transportasi standar biasanya terdiri dari sekitar 155 personel. Perwira komandan (Mayor), perwira eksekutif (kapten), sersan pertama dan dua staff membentuk satuan markas kompi. Terdapat dua peleton penerbangan, satu peleton perawatan dan satu peleton servis, semua dipimpin oleh personel berpangkat kapten. Setiap kompi memiliki 18 helikopter. Jika kelima kompi berada pada kekuatan penuh, akan ada 90 H-21 di seluruh Vietnam Selatan. Tetapi kompi-kompi itu jarang berada dalam kekuatan penuh, terutama di kru penerbangan, dan kadang-kadang tidak ada pilot yang cukup untuk menerbangkan semua helikopter yang tersedia untuk mengangkut pasukan. Misi kompi H-21 seringkali tergantung pada lokasi dimana mereka ditugaskan di Vietnam. Misalnya, yang Kompi ke-81, yang beroperasi di Dataran Tinggi Tengah, melakukan lebih banyak penerbangan melewati gunung daripada unit yang ditempatkan di kawasan delta Sungai Mekong. Mengangkut pasukan, memberikan dukungan untuk Pasukan Khusus dan misi pasokan mencatat sebagian besar waktu penerbangan dari satuan-satuan ini. Kompi ke-81 rata-rata setidaknya melakukan satu kali pengangkutan pasukan per minggu. Tetapi unit-unit yang melayani Angkatan Darat Republik Vietnam di delta mengalami peningkatan misi secara signifikan, rata-rata dua atau tiga kali per minggu untuk mengangkut pasukan ARVN. Kelima kompi itu terbang mendekati atau melebihi 1.000 jam per bulannya. Mempertimbangkan kondisi yang kurang sempurna untuk menjalankan pekerjaan pemeliharaan, bisa mencapai banyak jam terbang dari bulan ke bulan benar-benar merupakan pencapaian yang luar biasa. Banyak pilot telah menerbangkan helikopter ini selama bertahun-tahun, dan sebagian besar kepala kru adalah veteran berpengalaman dengan pengoperasian H-21 sedari awal. Kombinasi pengalaman, kerja keras, dan kebanggaan unit ini memungkinkan helikopter dengan teknologi yang sudah ketinggalan jaman ini melampaui ekspektasi awalnya.

Pasukan Vietnam Selatan, satu dengan terompet terikat di ranselnya, berbaris naik helikopter CH-21 “Pisang Terbang”, Maret 1963. Mengangkut pasukan Vietnam Selatan ke medan pertempuran merupakan salah satu misi utama dari satuan helikopter H-21 AD AS. (Foto AP / Horst Faas/ https://www.historynet.com/)

Di awal perang, misi pengangkutan pasukan biasa disebut hanya sebagai, misi pengangkutan saja. Namun setelah ribuan helikopter yang lebih modern tiba untuk menggantikan Flying Banana, misi pengangkutan pasukan dikenal dengan sebutan “serbu tempur.” “Pickup” diganti namanya menjadi “ekstraksi,” dan “drop-off” disebut “penyisipan.” Terbang sedikit diatas pepohonan adalah “NOE” (Nap On Earth/Terbang menyusuri daratan). Nama-nama unik ini sebenarnya mendeskripsikan hal-hal yang sebenarnya  sudah sering mereka lakukan. Tetapi tahun-tahun berikutnya memang terlihat perbedaan substansial dalam jenis pasukan yang diangkut ke medan perang dan jumlah helikopter yang digunakan. Dalam operasi awalnya, kompi H-21 terutama membawa tentara ARVN dan sekitar 10 helikopter akan berpartisipasi dalam penerjunan pasukan. Menyusul peningkatan besar pengiriman pasukan AS yang dimulai pada tahun 1965, helikopter-helikopter itu menerbangkan utamanya tentara Amerika, dan jumlah helikopter Huey yang digunakan bisa lebih dari 60 unit.

Bagi awak H-21, waktu yang dihabiskan di Landing Zone sangatlah krusial, semakin panjang waktu mendarat semakin besar bahaya yang dihadapi. (Sumber: https://www.thisdayinaviation.com/)

Beberapa pertimbangan menentukan jumlah pasukan yang dibawa per helikopter. Dengan cuaca yang baik, H-21 pada penerbangan awal mungkin membawa 12 hingga 14 tentara ARVN. Pada pengangkutan berikutnya, lebih banyak personel yang bisa dibawa karena berat bahan bakar helikopter telah berkurang. Awak penerbangan selalu lebih suka memulai terbang dengan membawa 12 personel atau lebih sedikit pasukan karena jumlah yang lebih besar akan membutuhkan lebih banyak waktu di zona pendaratan, membuat helikopter terkena lebih banyak tembakan musuh. Tetap di darat terlalu lama berbahaya, dan lebih dari 15 detik sudah dianggap terlalu lama. Di zona pendaratan yang “panas”, pasukan Vietnam terkadang lambat turun dari helikopter karena mereka takut, dan kadang-kadang perlu mendorong satu atau dua personel keluar dari pintu. Pengangkutan pasukan biasanya dilakukan dari landasan tanah -hanya ada sedikit landasan beton saat itu. H-21 biasanya tiba di titik penjemputan dua jam sebelumnya untuk mengisi bahan bakar dan menerima pengarahan misi. Ditugaskan ke masing-masing kompi adalah sebuah pesawat pengamatan dua kursi bermesin tunggal, Cessna L-19 Bird Dog. Sebelum pasukan diangkut, Bird Dog akan melakukan penerbangan pengintaian tinggi di atas zona pendaratan untuk memberikan rincian penting tentang ukuran dan bentuknya. Selama misi, L-19 akan terbang di atas H-21, memberikan informasi dan pengarahan — penting untuk penerbangan karena terbang dalam formasi rapat sedikit diatas puncak pohon, bukan waktu yang tepat untuk membaca peta.

Pesawat Pengamatan L-19 Bird Dog merupakan rekan H-21 dalam menjalankan misi transport ke medan tempur. L-19 menjadi “mata” bagi armada transport untuk memantau situasi di Zona Pendaratan. (Sumber: http://webdoc.sub.gwdg.de/)

Pengangkutan pasukan yang dilakukan dengan baik adalah pengangkutan yang tanpa banyak komunikasi. Pemimpin penerbangan melakukan pembicaraan hanya jika perlu. Pentingnya pemimpin penerbangan yang baik tidak bisa selalu ditekankan. Karena dia tidak hanya mengatur jalannya penerbangan tetapi juga harus cukup terampil untuk mengatur kecepatan terbang yang konstan dari helikopter yang dikemudikannya. Perubahan kecepatan yang tiba-tiba atau tidak menentu akan mengganggu penerbangan, menyebabkan beberapa pesawat dibelakang harus menyesuaikan peningkatan kecepatan atau penurunan kecepatan terbang untuk mempertahankan formasi. Pesawat belakang mungkin merasa perlu untuk terbang melebihi kecepatan 90 knot. Ini dikenal sebagai efek “akordeon”. Ketika pesawat dipisahkan oleh jarak hanya sedikit lebih besar dari rotor helikopter, pemimpin penerbangan harus benar-benar terbang dengan sempurna. Tidak semua pilot yang baik bisa menjadi pemimpin penerbangan yang baik.

Para Crew H-21 harus membiasakan diri untuk terbang dan mendarat dengan formasi rapat. (Sumber: https://www.aerotime.aero/)

Dalam briefing misi, semua pilot menyinkronkan jam tangan mereka sebelum menyalakan mesin dan melakukan pemeriksaan sebelum lepas landas secara bersamaan. Setelah pengecekan, mereka akan menyalakan lampu pendaratan. Ketika pemimpin penerbangan melihat bahwa semua lampu pendaratan menyala, ia mengumumkan “flight up” dan mulai menghitung mundur untuk lepas landas. Selama musim kemarau ketika landasan udara sangat berdebu, helikopter lepas landas sekaligus dua, bukan terbang bersamaan seluruh flight. Helikopter pemimpin akan naik pada ketinggian yang ditentukan sambil mempertahankan kecepatan 60 knot, dan ketika pesawat terakhir dalam penerbangan mengumumkan, “The flight is formed,” pemimpin penerbangan akan meningkatkan kecepatannya menjadi 80 knot, yang dianggap sebagai kecepatan formasi terbaik. Untuk mencegah tembakan senjata ringan saat dalam perjalanan, penerbangan biasanya dilakukan sekitar 2.500 kaki di atas tanah sebelum turun untuk terbang 15 hingga 20 kilometer terakhir di ketinggian puncak pohon, yang meredam suara dan membantu mencapai kejutan. Untuk sebagian besar masa perang, itu adalah prosedur standar untuk mendarat di zona pendaratan dengan serangan udara lebih dulu dilakukan sebelum kedatangan penerbangan helikopter angkut, dan merupakan tanggung jawab pesawat pengintai Bird Dog untuk menghentikan serangan udara sekitar tiga menit sebelum helikopter angkut mendarat. Pesawat-pesawat North American T-28 Trojan yang diterbangkan oleh pilot-pilot Vietnam digunakan untuk serangan udara selama periode H-21 digunakan dalam perang, dan mereka umumnya melakukan pekerjaan yang sangat baik. Tetapi beberapa pejabat di MACV percaya bahwa serangan udara di zona pendaratan menghilangkan unsur kejutan, sehingga memberikan waktu bagi Viet Cong untuk melarikan diri. Mungkin hal ini ada benarnya. Banyak pengangkutan pasukan serbu udara berakhir agak anti-klimaks karena VC telah meninggalkan daerah itu, dan zona pendaratan menjadi sunyi.

Serangan udara biasa dilakukan sebelum pendaratan pasukan di Zona Pendaratan dimulai untuk melemahkan musuh di sekitar tempat pendaratan, meski hal ini tidak selalu efektif. (Sumber:Pinterest)

Tidak pernah suasana diam itu melebihi garis pepohon (tempat dimana musuh bersembunyi) saat pendaratan, ketika kepala kru dan penembak pintu melepaskan tembakan dengan senapan mesin mereka ke arah pepohonan. Suara bising yang tiba-tiba akan selalu menyebabkan setiap personel meringkukkan diri di kursi. Serangan terhadap helikopter – walaupun tidak tentu – biasanya terjadi ketika helikopter meninggalkan lokasi setelah menurunkan pasukan. Serangan itu umumnya ditujukan pada bagian belakang helikopter tempat dimana gunner helikopter dan intalasi utama mesin H-21 berada, yang kemudian membuat para kru percaya bahwa tembakan bisa jadi berasal dari simpatisan Viet Cong yang telah menyusup ke unit ARVN. Mudah bagi penyusup untuk menembak pesawat tanpa diketahui karena semua pasukan di tempat itu menembak setelah mendarat. Pada serangan serbu helikopter pertama tanggal 12 Januari 1962 yang diberi nama “Operation Chopper”, sekitar 33 helikopter Angkatan Darat Amerika Serikat CH-21C Shawnee dari Kompi Transportasi ke-8 dan ke-57 mengangkut 1.036 tentara Angkatan Darat Republik Vietnam (ARVN) ke dalam pertempuran melawan sebuah kubu pemberontak Việt cộng (Front Pembebasan Nasional), sekitar 10 mil (16,1 kilometer) di barat Saigon. Zona pendaratan berukuran 150 yard x 300 yard dan dikelilingi oleh pohon-pohon tinggi. Setidaknya 6 Viet Cong berhasil ditewaskan dan Pasukan payung Vietnam Selatan juga berhasil merebut pemancar radio bawah tanah milik gerilya komunis. VC terkejut dan kalah telak, tetapi mereka mendapatkan pengalaman tempur yang berharga yang kemudian mereka gunakan dengan efek besar terhadap pasukan Amerika. Operasi ini menandai era baru mobilitas udara untuk Angkatan Darat A.S., yang perlahan-lahan berkembang sebagai sebuah konsep sejak Angkatan Darat membentuk dua belas batalion helikopter pada tahun 1952 sebagai hasil dari Perang Korea. Batalion baru ini pada akhirnya nanti akan membentuk semacam kavaleri udara modern untuk Angkatan Darat.

Penerbangan biasanya dilakukan sekitar 2.500 kaki di atas tanah sebelum turun untuk terbang 15 hingga 20 kilometer terakhir di ketinggian puncak pohon, yang meredam suara dan membantu mencapai kejutan. (Sumber: https://www.historynet.com/)

Meskipun para pejabat MACV khawatir bahwa serangan udara akan memberi peringatan pasukan musuh akan kedatangan helikopter, awak helikopter menganggap serangan itu merupakan dukungan penting bagi pendaratan pasukan. Bagaimanapun ada indikasi pada bulan Desember 1962 dan awal Januari 1963, bahwa Viet Cong tidak lagi akan kabur ketika pasukan ARVN tiba, tetapi malah akan tetap tinggal dan bertempur. Perubahan taktik musuh itu pertama kali terlihat pada tanggal 22 Desember 1962, ketika kompi ke-81 dan ke-8 melakukan upaya besar mengangkut pasukan dari Tuy Hoa, sebuah lapangan terbang di pantai di bagian tengah Vietnam Selatan. Setiap kompi harus menyediakan 15 helikopter untuk mengangkut tiga batalyon ARVN ke daerah pegunungan di utara Tuy Hoa. Pada briefing misi yang diadakan tiga hari sebelumnya, MACV mengumumkan bahwa tidak akan ada serangan udara sebelum pendaratan. Pemimpin penerbangan berdiri dan keberatan tetapi disuruh tetap duduk. Keputusan itu sudah final. Pada hari misi, 22 Desember, tidak ada serangan udara sebelum pengangkutan pertama, yang terdiri dari 29 helikopter (bukan 30 seperti yang direncanakan karena ada helikopter yang mengalami masalah mekanis), meninggalkan Tuy Hoa. Ketika penerbangan melintasi garis pohon dan bersiap untuk mendarat, Viet Cong melepaskan tembakan. Banyak pesawat segera menerima beberapa tembakan. Beberapa tentara ARVN terbunuh segera setelah mereka keluar dari helikopter — bahkan sebelum mereka bisa keluar dari zona pendaratan. Untuk kru helikopter, 15 detik di tanah tampak seperti waktu yang sangat lama. Mereka memiliki kemampuan terbatas untuk merespons serangan itu karena hanya helikopter terluar dari formasi penerbangan yang dapat membalas tembakan tanpa mengenai helikopter lain. Untungnya, semua helikopter bisa lepas landas, kecuali satu helikopter yang dengan tanki minyaknya tertembak kehilangan semua tekanan minyak dan terpaksa melakukan pendaratan darurat sebelum bisa mencapai Tuy Hoa. Sebelum mereka melakukan penerbangan yang kedua dan ketiga, komandan penerbangan, Mayor George W. Aldridge, merekomendasikan untuk menghentikan operasi dan mengevaluasi situasi. Musuh telah menembaki dan mengenai 22 helikopter. Seorang pilot terluka parah, dan dua awaknya terluka. Dua belas helikopter rusak terlalu parah untuk bisa menerbangkan pengangkutan selanjutnya atau bahkan bisa kembali tanpa perbaikan. Diputuskan bahwa pengangkutan kedua dan ketiga untuk menyelesaikan misi akan tetap dilakukan dengan menggunakan 17 pesawat yang membawa sebanyak mungkin tentara tambahan. Ini, tentu saja, meningkatkan waktu yang dibutuhkan di lokasi pendaratan dan kemungkinan terpapar tembakan musuh. Syukurlah, pendaratan itu kemudian berjalan lancar.

Prajurit Vietnam Selatan berlari menuju helikopter H-21 di Zona Penjemputan. (Sumber: https://www.thisdayinaviation.com/)
Helikopter H-21 dilumpuhkan Vietcong di Pertempuran Ap Bac, 2 Januari 1963. (Sumber: https://no.wikipedia.org/)

Dalam beberapa hari MACV mengeluarkan arahan bahwa tidak ada penambahan pasukan akan dilakukan tanpa serangan udara sebelumnya. Sedikit terlambat, tapi setidaknya sebuah pelajaran bisa dipetik. Meskipun demikian meski telah dilakukan serangan udara, tidak berarti bisa mengusir Vietcong, dalam serbuan helikopter yang disertai pendaratan di Ap Bac, sekitar 45 mil barat daya Saigon, pada 2 Januari 1963, pasukan penyerbu menjumpai Viet Cong yang tetap bertempur di Zona pendaratan. Kali ini lima helikopter (tipe H-21), termasuk helikopter bersenjata (Huey), ditembak jatuh atau dilumpuhkan di zona pendaratan. Beberapa tentara ARVN terbunuh, tetapi sebagian besar bersembunyi di balik tanggul sawah dan tidak melakukan apa pun untuk menekan tembakan VC. Kendaraan pengangkut personel lapis baja dengan senapan mesin kaliber .50 tersedia, tetapi komandan ARVN menolak untuk memanggil pasukan itu bahkan untuk menyelamatkan rekan-rekannya sendiri. Sama buruknya, dukungan udara kemudian tidak tersedia karena komunikasi yang buruk dan kurangnya koordinasi. Viet Cong, yang mengalami sedikit atau bahkan nyaris tidak ada perlawanan, mampu mempertahankan posisi mereka sampai gelap dan kemudian menghilang begitu saja. Ap Bac jelas mengungkapkan beberapa kelemahan kepemimpinan yang serius pada perwira senior ARVN. Belakangan, Ap Bac menjadi salah satu faktor utama dalam keputusan untuk mendorong pengiriman pasukan tempur Amerika ke Vietnam. Setelah Ap Bac, misi pengangkutan pasukan berkurang, dan sebagian besar penerbangan adalah untuk misi dukungan dan pasokan. Di Dataran Tinggi Tengah, misalnya, Kompi ke-81 memiliki empat tim Pasukan Khusus yang harus didukung. Tim-tim itu begitu jauh di dalam hutan sehingga helikopter pada dasarnya adalah satu-satunya penghubung mereka dengan peradaban. Bekerja sama dengan tim, kru helikopter mengembangkan persahabatan yang kuat dengan mereka — dan sesekali permintaan untuk membawakan beberapa krat bir tidak menjadi masalah. Melihat langsung bagaimana Pasukan Khusus bekerja, kru penerbangan dapat menghargai cara tim-tim itu mengubah orang-orang Montagnard (orang-orang pegunungan) menjadi unit tempur yang disiplin sambil meningkatkan taraf kehidupan mereka dengan perawatan kesehatan, sanitasi, dan teknik pertanian modern. Orang Montagnard dikenal setia, tak kenal takut, dan bersemangat untuk melawan Viet Cong. Pada tahun 1962, pemerintah Vietnam Selatan melembagakan Program Desa Strategis untuk mengkonsolidasikan orang-orang Montagnard ke dalam dusun berbenteng untuk melindungi mereka dari serangan dan menolak akses Viet Cong ke sumber daya manusia, sumber makanan dan tempat untuk tinggal atau bersembunyi. Sejak awal program mengalami masalah yang signifikan, terutama karena programnya kurang dipahami dan tidak dikelola dengan baik. Program ini memaksa suku-suku yang tidak cocok untuk hidup bersama, merampas kemerdekaan mereka yang berharga, dan yang paling buruk, kompleks itu dikontrol dan dijaga oleh orang Vietnam, yang dibenci orang Montagnard, demikian pula sebaliknya.

Sebagai elemen perlindungan H-21 dilengkapi dengan penembak di pintu samping. (Sumber: http://www.combatreform.org/)

Program itu hampir pasti gagal, tetapi program itu membuat helikopter-helikopter sibuk mengangkut babi, ayam, berton-ton beras dan ratusan tempayan saus ikan fermentasi yang disebut nuoc mam — makanan pokok Montagnard. Kargo babi dan ayam menyebabkan bau yang tidak enak di pesawat, tetapi ketika tempayan nuoc mam yang rapuh pecah, itu akan menciptakan bau yang bisa membuat mata meneteskan air mata. Beberapa kru terkadang terpaksa menggunakan masker gas. Untuk menjaga agar desa-desa Montagnard bisa tetap dipasok, dua, tiga atau lebih helikopter kadang-kadang bekerja empat hingga lima hari seminggu, dan jam terbang yang dibutuhkan untuk program itu mengurangi ketersediaan pesawat untuk pengangkutan pasukan tempur. Namun, bagaimanapun “Pisang Terbang” memberikan kontribusi yang kuat untuk sebuah program yang punya keberhasilan yang terbatas. Mulai akhir 1963, Bell UH-1  Huey mulai menggantikan Pisang Terbang. Waktunya tepat karena H-21 telah menunjukkan usia mereka: kelelahan  pada logam body menyebabkan keretakan, suku cadang mulai sulit didapat dan kebijakan kanibalisasi menjadi aturan, bukan pilihan lagi. Dua helikopter benar-benar jatuh dari langit saat terbang, dengan hasil yang menghancurkan. Tidak diketahuinya penyebab kecelakaan ini menjadi pukulan moral bagi para crew. Kemudian kegembiraan atas hadirnya helikopter baru segera berubah menjadi kekecewaan. UH-1B adalah helikopter yang lebih kecil dibanding H-21. Alih-alih mengangkut 12 atau 14 pasukan seperti H-21, Huey cukup sempit untuk bisa membawa enam atau tujuh personel. Beban seberat 3.000 pon, mudah diangkat oleh H-21, namun tidak mungkin untuk UH-1B. Kru penerbangan segera berkata, “Kembalikan Pisang kami.” Diperlukan hingga dua tahun sebelum model “D” Huey tiba dengan mesin yang cukup kuat untuk mendekati, meski tetap belum bisa menyamai kekuatan H-21. Ketika Huey menggantikan Flying Pisang, “helikopter-helikopter tua” itu diterbangkan ke Saigon untuk diangkut kembali ke Amerika. Sekitar akhir 1964 atau awal 1965 mereka meninggalkan Saigon dengan kapal, tetapi kapan dan di mana mereka tiba di Amerika Serikat tidak benar-benar bisa dipastikan. Di Saigon tidak ada parade, tidak ada band penyambut, tidak ada pidato meriah untuk menghormati Pisang Terbang atas layanan mereka di Vietnam — sebuah layanan yang luar biasa, mengingat mereka sudah tua ketika mereka tiba, sulit untuk dirawat, sulit untuk terbang, dan tidak cocok untuk lingkungan tempat mereka beroperasi. Namun, mereka dengan prestasi membanggakan telah membuka jalan bagi ribuan helikopter modern yang kemudian tiba untuk mengubah mobilitas udara selamanya.

https://www.youtube.com/watch?v=krfCNmxiOSY
Operasi dan Taktik UH-1 dan H-21 dalam Perang Vietnam.

General characteristics

  • Crew: 3–5 (Pilot, co-pilot, crew chief and one or two gunners in Vietnam)
  • Capacity:
    • 20 troops or
    • 12 stretchers
  • Length: 52 ft 6 in (16.01 m)
  • Rotor diameter: 44 ft 0 in (13.41 m)
  • Height: 15 ft 9 in (4.80 m)
  • Disc area: 3,041 ft2 (282.6 m2)
  • Empty weight: 8,950 lb (4,058 kg)
  • Loaded weight: 15,200 lb (6,893 kg)
  • Max. takeoff weight: 15,200 lb (6,893 kg)
  • Powerplant: 1 × Wright R-1820-103 radial engine, 1,425 hp (1,063 kW) driving 2 rotors

Performance

Armament

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

Soaring Over Vietnam in the Flying Banana by Thomas R. Messick

First published in Vietnam Magazine’s April 2016 issue.

https://www.historynet.com/the-flying-banana.htm

Piasecki H-21 Workhorse

Cargo /Passenger Transport Tandem-Rotor Helicopter

https://www.militaryfactory.com/aircraft/detail.asp?aircraft_id=727

Piasecki Helicopters v1.0.2 / 01 sep 19 / greg goebel

https://www.airvectors.net/avpiaski.html

Helicopter Work Horse The Piasecki H-21 by Scott Schwartz

http://www.aviation-history.com/piasecki/h21.htm

Piasecki CH-21C Shawnee by Bryan R. Swopes, 2019

https://www.thisdayinaviation.com/tag/piasecki-ch-21c-shawnee/

COIN: French Counter-Insurgency Aircraft, 1946-1965

http://worldatwar.net/chandelle/v3/v3n1/frcoin.html

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Operation_Chopper_(Vietnam)

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Piasecki_H-21

One thought on “Piasecki H-21 si “Pisang Terbang”: Dibuat Untuk Iklim Arktik Bertempur di Belantara Vietnam

  • 28 June 2020 at 7:21 pm
    Permalink

    As a Newbie, I am always searching online for articles that can aid me. Thank you

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *